Bagaimana Memulai Uji Regresi

Add Comment

Bagaimana Memulai Uji Regresi


nah, sobat sekalian yang telah menentukan uji apa yang akan digunakan untuk menguji hipotesa penelitian tentunya bertanya-tanya "langkah apa selanjutnya". Oh iya, buat kalian yang masih belum paham bagaimana menentukan metode pengujian hipotesa, misalkan pakai Anova kah, pakai regresi, pakai T-Tes atau pakai yang lainnya mungkin bisa membaca artikel kami yang berjudul "Bagaimana Memulai Proses Olah Data Statistik" dengan >>KLIK INI<< .

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang regresi, bagaimana memulainya. Buat kalin yang orang sosial atau ekonomi paling sering pakai uji ini. Akan tetapi, terkadang kita agak dibuat bingung, pilih regresi atau korelasi ya?? Korelasi dan regresi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Setiap regresi pasti ada korelasinya, tetapi korelasi belum tentu dilanjutkan dengan regresi. Korelasi yang tidak dilanjutkan dengan regresi, adalah korelasi antara dua variabel yang tidak mempunyai hubungan kasual/sebab akibat, atau hubungan fungsional. Untuk menetapkan kedua variabel mempunyai hubungan kusal atau tidak, maka harus didasarkan pada teori atau konsep-konsep tentang dua variabel tersebut.

Sebagai contoh kita ingin mengetahui apa hubungan antara promosi dengan penjualan, dapat dikatakan sebagai hubungan yang kausal, hubungan antara leadership dengan Employee satisfaction dapat dikatakan hubungan yang fungsional, hubungan antara jerawat pada wajah  dengan jumlah  jumlah pacar bukan merupakan hubungan kausal maupun fungsional.

Kita gunakan analisis regresi bila kita ingin mengetahui bagaimana variabal dependen/kriteria dapat diprediksikan melalui variabel independen atu variabel prediktor, secara individual. Dampak dari penggunaan analisis regresi dapat digunakan untuk memutuskan apakah naik dan menurunnya variabel dependen dapat dilakukan melalui menaikan dan menurunkan keadaan variabel independen, atau meningkatkan keadaan variabel dependen dapat dilakukan dengan meningkatkan variabel independen/dan sebaliknya.

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

EFEKTIFITAS MARKETPLACE DALAM MENINGKATKAN KONSENTRASI PEMASARAN DAN PENJUALAN PRODUK BAGI UMKM DI JAWA TIMUR

Admin Add Comment
EFEKTIFITAS MARKETPLACE DALAM MENINGKATKAN KONSENTRASI PEMASARAN DAN PENJUALAN PRODUK BAGI UMKM DI JAWA TIMUR

Kehadiran marketplace sekarang ini banyak membantu kebutuhan masyarakat. Apa saja ada di marketplace. Anda baru pindah rumah dan membutuhkan furniture penting, Anda bisa menemukan beragam variasi furnitur dengan harga yang bersaing. Tidak hanya furniture, ada pula kebutuhan primer seperti fashion, makanan hingga kebutuhan daily. Misalnya membeli tiket bioskop, membayar pulsa, bayar rekening PDAM hingga membeli pulsa. Semua itu bisa dilakukan dengan bantuan marketplace. Melihat betapa banyak aktivitas dihabiskan menggunakan marketplace sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari, inilah yang membuat marketplace ini diburu. Tidak hanya oleh pengguna tapi juga investor. Antusias masyarakat semakin meninggi karena didukung infrastruktur yang memadai dan akses yang mudah. Badan Koordiansi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan nilai investasi di sektor pasar digital pada 2017 mencapai USD 5 miliar. Hal ini menjadikan marketplace sebagai sektor ekonomi yang paling diburu saat ini (Outletz.ID, 2018).
marketplace memiliki peran sebagai pihak yang mempertemukan antara penjual dengan pembeli pada website mereka. Beberapa situs e-commerce seperti Blibli dan Blanja merupakan contoh situs yang mengkurasi penjualnya. Adapula yang bebas membuka kesempatan bagi semua orang untuk menjadi penjual, seperti elevenia, Tokopedia, dan Bukalapak. Model seperti inilah yang disebut dengan marketplace. Dengan mengusung konsep marketplace, e-commerce bisa berkembang dengan cepat. Akan tetapi konsep seperti ini juga dapat menjadi bumerang apabila tidak berhati-hati. Melihat manfaat dan keuntungannya yang luas, sudah tentu penggunaan marketplace akan banyak bermanfaat dan membantu tumbuh kembangnya pelaku usaha kecil yang memiliki produk berpotensi dan dibutuhkan oleh pasar. 

EFEKTIFITAS MARKETPLACE DALAM MENINGKATKAN KONSENTRASI PEMASARAN DAN PENJUALAN PRODUK BAGI UMKM DI JAWA TIMUR
Berubahnya perilaku berbelanja penduduk Indonesia mulai tahun 2011 hingga sekarang membuat semakin pesatnya pertumbuhan marketplace di negara Indonesia. Konsumen cenderung menyukai belanja online karena cenderung lebih praktis, modern, dapat dilakukan setiap waktu tanpa harus susah melakukan mobilitas keluar rumah ketika membutuhkan barang yang diinginkan. Sudah tentu hal ini merupakan peluang bagus bagi sebagian besar pelaku usaha kecil untuk ikut berperan aktif dalam menawarkan barang dagangan mereka menggunakan marketplace di Indonesia. Tentunya kondisi ini memberikan peluang dan keuntungan yang cukup besar bagi pelaku usaha yang ingin menjajakan barang mereka pada marketplace yang telah memiliki reputasi bagus di Indonesia. Menurut pemaparan Handayani (2017) membahas mengenai peran e-commerce yang menunjang berkemban

gnya kegiatan perdagangan secara online memlalui keputusan pembelian yang dilakukan oleh konusmen, pada kesempatan lain Majid (2017) penerapan e-commerce di Indonesia dipandang dari sudut persepsi dan kepercayaan konsumen dalam melaksanakan transaksi secaca online pada beberapa marketplace terkemuka di Indonesia. Sedangkan Harlipan (2017) mengupas melalui penelitiannya tentang perbandingan interface antara dua kekuatan marketplace Indoensia yaitu Bukalapak dan Tokopedia dalam menunjang aktivitas belanja secara online. Dan yang terkahir adalah penelitian yang dilakukan oleh Sally (2017) mengenai nilai-nilai effort expectancy, trust, dan experience dalam menunjang satisfaction dan online repurchase intention pada konsumen mobile aplikasi Shopee di kota Surabaya


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGARUH STRATEGI PEMASARAN MELALUI SOSIAL MEDIA DAN REVIEW PRODUK PADA MARKETPLACE SHOPEE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

Admin Add Comment
PENGARUH STRATEGI PEMASARAN MELALUI SOSIAL MEDIA DAN REVIEW PRODUK PADA MARKETPLACE SHOPEE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN

Perkembangan teknologi komunikasi masa kini menyuguhkan media komunikasi yang semakin variatif. Dahulu kita hanya mengenal media komunikasi seperti radio, televisi dan media cetak. sehingga dengan perkembanng zaman kebutuhan manusia akan informasi menyebabkan semakin meningkat pula perkembangan teknologi dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi. Dengan kemajuan dibidang teknologi informasi serta komunikasi sekarang ini, dunia tidak lagi mengenal batas, jarak, ruang dan waktu. ( Fitri Margaretha,2017) 

Internet terus berkembang hingga saat ini bahkan masyarakat menjadikannya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan, salah satunya yaitu kegiatan pembelian atau berbelanja barang ataupun jasa secara online, perdagangan elektronik, yang disebut juga e-commerce adalah penggunaan jaringan komunikasi dan komputer untuk melakukan proses bisnis. ( Fitri Margaretha,2017)

Dari data yang diambil dari APJII (Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia) menunjukan bahwa penggunaan internet dari tahun 2013 mengalami kenaikan yang cukup signifikan sampai saat ini dan diperkirakan akan mengalami kenaikan terus menerus.

Dari data yang diambil dari APJII (Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia) pemanfaatan internet dibidang gaya hidup sosia media menduduki peringkat pertama dengan presentase 87,13% . itu menunjukan bahwa kebanyakan masyarakat mengakses internet digunaakan untuk mengakses media sosial. Media sosial mempunyai peranan yang penting di dalam dunia bisnis khususnya dibidang pemasaran dan menjadi salah satu media yang dapat dengan sangat cepat menyebarkan sebuah informasi. 

Media sosial tidak hanya menjadi sebuah tempat untuk menunjukan diri atau mengekspresikan diri terhadap dunia luat, namun juga sebagai tempat untuk mendapatkan banyak informasi. Berbagai macam media sosial yang muncul saat ini dimanfaatkan konsumen untuk mendapatkan informasi. ( Putri, 2016 ).

Semakin meningkatnya konsumen pembeli online membuat banyak pebisnis beralih menjadi membuka bisnis online. Terhitung dari 2011 menurut data yang di keluarkan kemenkominfo yang menjelaskan bahwa indonesia saat ini menjadi salah satu raksasa bisnis online dibagian Asia Pasifik. ( Solechah, 2017). Tren pembelian online mulai diminati karena proses pembelian online tidak serumit dengan proses pembelian offline (toko). Dengan berbelanja online dapat menghemat waktu, menghemat biaya dan memudahkan kita dalam melakukan transaksi pembelian dan pembayarannya. ( Kotler dan Keller 2009) 

Generasi saat ini, yang biasa disebut sebagai generasi milenia lebih tertarik untuk melakukan pembelian melalui E-commerce. E-commerce adalah kegiatan melakukan transaksi bisnis secara online melalui media internet dan perangkatperangkat yang terintregasi dengan internet (Laudon et al, 2012). E-commerce merupakan hasil dari perkembangan tren di lingkungan masyarakat sebagai salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan cara yang lebih efektif dan efisien. ( Margaretha,2017 ) 

Menurut Bank Indonesia yang dikutip dalam situs berita CNN Indonesia, nilai transaksi e-commerce pada tahun 2014 mencapai US$2,6 miliar atau setara dengan Rp 34,9 Triliun dan diharapkan akan terus naik di tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa pasar e-commerce di Indonesia terbilang sangat prospektif, mengingat hal tersebut ditunjang oleh semakin bertumbuhnya jumlah pengguna internet aktif di Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan banyaknya situs e-commerce yang bermunculan dan terus berkembang Perkembangan e-commerce di Indonesia juga membawa dampak positif terhadap petumbuhan bisnis internet lainnya seperti sector travel, kesehatan, dan sebagainya. 

Dalam seminar yang diselanggarakan oleh Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), mengungkapkan bahwa pertumbuhan e-commerce Indonesia di tahun 2016 akan tetap menjadi primadona karena dilihat dari pasar yang menjanjikan, peningkatan jumlah pengguna internet, dan bisnis yang mudah dijalankan ( Pratiwi, 2014 ).

PENGARUH STRATEGI PEMASARAN MELALUI SOSIAL MEDIA DAN REVIEW PRODUK PADA MARKETPLACE SHOPEE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN
Di Indonesia, ada perusahaan e-commerce yang menerapkan bentuk consumer to consumer (C2C) yaitu suatu aktivitas jual beli produk atau jasa yang menyediakan Marketplace dan Mall online bagi konsumen untuk melakukan transaksi penjualan dan pembelian secara online. Pengguna dapat menampilkan barang dagangannya di situs C2C agar pengguna lainnya dapat melihat dan tertarik untuk membeli. Contoh bisnis C2C di Indonesia adalah Shopee, Elevenia, Tokopedia, Bukalapak, Carousell, dan OLX. ( Margaretha,2017 ) 

Seiring dengan maraknya pengguna internet dan aplikasi digital membuat e-commerce mulai dilirik para investor. Salah satu aplikasi Marketplace yang sedang marak digunakan adalah Shopee. Shopee adalah satu dari banyak pihak yang memanfaatkan peluang bisnis e-commerce dengan meramaikan segmen mobile Marketplace melalui aplikasi mobile mereka untuk mempermudah transaksi jual beli melalui perangkat ponsel. Secara general, Shopee sendiri memposisikan dirinya sebagai aplikasi Marketplace.( Indah, 2018)

Perusahaan Shopee juga menyediakan aplikasi yang memudahkan penggunanya untuk membeli ataupun menjual produk hanya dengan mengunggah foto dan menuliskan deskripsi produk melalui smartphone yang dimiliki. Pembeli juga dimudahkan dengan sistem pencarian produk yang lengkap dengan berbagai kategori serta trending hastag. Shopee jugamenyediakan informasi yang lengkap mengenai reputasi penjual sehingga konsumen bebas membandingkan dan memilih. ( Indah, 2018 )
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SECARA ONLINE PADA MAHASISWA UNIVERSITAS GUNADARMA

Add Comment

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SECARA ONLINE PADA MAHASISWA UNIVERSITAS GUNADARMA


Pendahuluan
Perkembangan teknologi telahmempermudah banyak hal diberbagai bidangsalah satunya pada bidang ekonomi.Dalambidang ekonomi internet menjadi salah satumedia transaksi yang mempermudah pelakuekonomi dalam menjalankan bisnis merekasehingga faktor jarak dan waktu tidak lagimenjadi suatu permasalahan.Hal tersebutmembuat banyak pelaku ekonomi mulaigencar menjadikan internet sebagai salahsatu penunjang kegiatan bisnis mereka.Selaindapat menjalin hubungan bisnis denganpelanggan secara lebih luas dan efisien,pelaku ekonomi juga dapat memangkasbiaya-biaya yang seharusnya dikeluarkan.Hal inilah yang disadari sebagai peluangyang baik dalam menawarkan barang dan jasakepada para konsumen melalui internet dalampengaksesannya.

Perkembangan teknologi internetmempermudah masyarakat untuk berbelanja.Konsumen tidak perlu lagi untuk mendatanganpusat perbelanjaan atau took untuk berbelanja,namun cukup dengan menggunakan gawai(gadget)konsumen bisa berbelanja denganmengunjungi berbagai situs web yang seringdisebut dengan online shopping. Onlineshopping membuat kita semakin mudahberbelanja tanpa menghabiskan waktu dantenaga karena kemudahan inilah membuatonline shopping semakin diminati.Melaluionline pembeli dapat melihat berbagaiproduk yang ditawarkan melalui web yangdipromosikan oleh penjual.Online shoppingmemungkinkan pembeli dan penjual untuktidak bertatap muka secara langsung, sehinggahal ini memungkinkan penjual memilikikesempatan mendapatkan pembeli dari luarnegeri.

 Sejak awal tahun 2012 perkembanganbelanja online di Indonesia berkembangdengan pesat dan cepat.Meskipun banyakyang mengatakan pembelian online sangathigh risk dalam pembayaran yang dilakukansebelum pengiriman barang, namun denganberbagai testimoni yang dimunculkan olehpihak penjual dapat meyakinkan pembeli. Kemudahan pembayaran juga sangatmemudahkan dalam berbelanja melalui onlineshop.Pembeli cukup didepan komputer ataugadget barang akan tiba sendirinya melaluijasa pengiriman. Berkembangnya e-commercebeserta kemudahan dalam pembayaranmemengaruhi keputusan pembelian onlinepada masyarakat, khususnya mahasiswa.

Ada beberapa faktor yang digunakanmahasiswa dalam melakukan pembelian secaraonline, diantaranya adalah kepercayaan, gayahidup, kemudahan dan kualitas informasi.Bertransaksi secara online memiliki kepastiandan informasi yang tidak simetris.Oleh sebabitu harus ada rasa saling percaya antara penjualdan pembeli Gefen (2002).Kepercayaankonsumen akane-commerce merupakansalah satu factor kunci melakukan kegiatanjual beli secara online Koufaris dan Sosa(2004). Kemudian kemudahan (ease of use)Davis (1989) mendefinisikan percieved easeof use sebagai keyakinan akan kemudahanpenggunaan, yaitu tingkatan dimana userpercaya bahwa teknologi/sistem tersebutdapat digunakan dengan mudah dan bebasdari masalah.Kualitas informasi (informationquality)yang didefinisikan sebagai persepsipelanggan terhadap kualitas informasi tentangproduk atau layanan yang disediakan olehsebuah website.Semakin berkualitas informasiyang diberikan kepada pembeli online, makaakan semakin tinggi minat pembeli onlineuntuk membeli produk tersebut Park dan Kim(2003)

Menurut Pavlou dan Geffen dalampenelitian Baskara dan Hariyadi (2014) faktoryang sangat penting yang bisa mempengaruhipembelian online adalah kepercayaan.Kepercayaan menjadi faktor kunci dalamsetiap transaksi jual beli secara online.Dengan adanya kepercayaan maka konsumenakan melakukan pembelian, karena pembeliansecara online sangatlah berbeda denganpembelian tradisional. Dalam pembelianonline pembeli tidak dapat menyentuh bahanpakaian dan hanya bisa melihat melaluigambar yang tersedia pada toko online.




PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN

Admin Add Comment
PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SO
CIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN


1. Latar Belakang 

Menyusul perbaikan perekonomian dalam negeri pada tahun 2010 lalu, membawa dampak positif bagi industri semen. Sebab ditengah pemulihan ekonomi, sejumlah proyek properti dan infrastruktur kembali berjalan. Secara umum produk semen di dalam negeri dikonsumsi mayoritas oleh segmen residensial, karena di Indonesia masih cenderung kalau perekonomi tumbuh, masyarakat ingin memperbaiki rumahnya. (www.datacon.co.id). 

Menurut Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono (2011), memperkirakan total penjualan semen domestik akan mencapai sekitar 45-46 juta ton di 2011, naik 15% dibanding tahun lalu. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) hingga akhir semester I 2011, Semen Gresik Group (SMGR) menjadi pemimpin pasar domestik dengan pangsa 43,2%. Semen Gresik Group mencakup PT Semen Gresik Tbk, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa. Di posisi kedua, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), produsen semen merek Tiga Roda, yang memiliki kapasitas produksi 18,6 juta ton tercatat menguasai 30,9% pasar semen domestik. Selanjutnya PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) di posisi ketiga dengan pangsa 13,6%, dimana saat ini Holcim memiliki kapasitas produksi 8,5 juta ton (duniaindustri.com). 

Mengingat besarnya kebutuhan semen di dalam negeri, perusahaan industri semen melakukan penambahan kapasitas untuk mengantisipasi permintaan yang diperkirakan akan terus meningkat seiring perekonomian yang tumbuh. Diharapkan dengan tingginya permintaan tersebut akan dapat meningkatkan pendapatan penjualan sehingga laba yang akan diperoleh perusahaan akan semakin besar. Tujuan utama dari kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba, karena laba sangat berperan dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan sesuai dengan prinsip going concern. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya dengan mengelola aktivitas bisnisnya secara efektif, efisien, dan ekonomis. 

Berikut ini tabel yang menggambarkan profitabilitas yang diperoleh perusahaan industri semen yang diukur dengan Return On Asset (ROA) dan Net Proftit Margin (NPM) dan diteliti oleh penulis dari tahun 2008 sampai dengan 2010, yaitu perusahaan industri semen yang menguasai pangsa pasar domestik dan juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) , yaitu sebagai berikut :
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat

Admin Add Comment
Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat (lengkap sampai daftar pustaka)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah kesepakatan dari World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg Afrika Selatan 2002 yang ditujukan untuk mendorong seluruh perusahaan di dunia dalam rangka terciptanya suatu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Peranan CSR dapat dipandang sebagai upaya untuk mewujudkan good corporate governance, good corporate citizenship dan good business ethics dari sebuah entitas bisnis. Sehingga perusahaan tidak cukup hanya memikirkan kepentingan shareholder (pemilik modal), tetapi juga mempunyai orientasi untuk memenuhi kepentingan seluruh stakeholders (Lihat, misalnya: Amba-Rao, 1993; Anderson, Jr., 1989; Kim, 2000; dan Raynard & Forstater, 2002).

Tanggung jawab sosial perusahaan cara yuridis telah dinyatakan sebagaimana dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas, Bab V, Pasal 74. Dalam pasal tersebut dijelaskan tanggung jawab sosial dan lingkungan dari perusahaan atas eksistensinya dalam kegiatan bisnis. Dewasa ini, menghadapi dampak globalisasi, kemajuan informasi teknologi, dan keterbukaan pasar, perusahaan harus secara serius memperhatikan CSR. 

Untuk melindungi perusahaan dari berbagai risiko tuntutan hukum, kehilangan partner bisnis maupun risiko terhadap citra perusahaan (brand risk) tidak cukup hanya taat kepada peraturan perundang-undangan. Tekanan secara nasional dan internasional sedang dan terus akan berlanjut untuk mempengaruhi perilaku bisnis korporasi. Tekanan ini datang antara lain dari para pemegang saham, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), partner bisnis (terutama dari negara yang komunitas bisnisnya peka terhadap CSR) dan advokat yang memperjuangkan kepentingan publik (public inter est lawyers).(Lihat Aupplerle, 1990; Baron, 1996; dan Drucker, 1984). Dalam hal ini CSR merupakan komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Untung, 2008:1). 

Secara implementatif, perkembangan CSR di Indonesia masih membutuhkan banyak perhatian bagi semua pihak, baik pemerintah, masyarakat luas dan perusahaan. Di antara ribuan perusahaan yang ada, diindikasikan belum semua perusahaan benar-benar menerapkan konsep CSR dalam kegiatan perusahaannya. CSR masih merupakan bagian lain dari manejemen perusahaan, sehingga keberadaannya dianggap tidak memberikan kontribusi positif terhadap kelangsungan perusahaan. Padahal sesuai dengan UU yang ada, keberadaan CSR melekat secara inherent dengan manajemen perusahaan, sehingga bidang kegiatan dalam CSR pun masih dalam kontrol manejemen perusahaan (Freemand, 1984). Lebih jauh lagi dalam lingkungan bisnis perusahaan, masyarakat di sekitar perusahaan pada dasarnya merupakan fihak yang perlu mendapatkan apresiasi. Apresiasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan hidup mereka melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh kegiatan CSR perusahaan. Hal ini karena perusahaan dan masyarakat pada dasarnya merupakan kesatuan elemen yang dapat menjaga keberlangsungan perusahaan itu sendiri. 

Hal tersebut tentunya sangat jauh dari harapan dan tujuan ideal dari peranan CSR perusahaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Menurut Kim (2000) praktek CSR perusahaan dapat diidentifikaskan dalam berbagai tujuan, yakni hukum, ekonomi, moral, dan filantropi. Namun demikian, tujuan tersebut masih dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi aktual di masyarakat terkait dengan tekanan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu tujuan CSR yang sangat urgen khususnya di negara sedang berkembang adalah peningkatan kualitas pendidikan masyarakat. Oleh karena itu penerapan CSR di Indonesia pada dasarnya dapat diarahkan pada penguatan ekonomi rakyat yang berbasis usaha kecil dan menengah serta peningkatan kualitas SDM masyarakat melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. 

PT. Batamindo Investement Cakrawala (PT. BIC) merupakan salah satu perusahaan Penanaman Modal Asing yang berlokasi di Batam, Indonesia bergerak di bidang penyediaan dan pelayanan kawasan industri secara internasional. Sejak diresmikan pada tanggal 28 Februari 1990, kini PT. BIC telah mampu menghadirkan puluhan perusahaan asing (seperti Jepang, Eropa, USA, Korea, Taiwan, dan Singapura) beroperasi di Indonesia. 

Jenis industri yang ada umumnya adalah komponen ICT, peralatan presisi, pengepakan, farmasi, pencetakan plastik dengan berbagai jenis produk. Keberadaan industri-industri tersebut telah mampu menyerap lapangan kerja domestik kurang lebih 200 ribu tenaga kerja. Sedangkan manajemen PT. BIC sendiri memiliki tenaga kerja sekitar 500 orang. Sadar akan tugas dan tanggung jawab sosial seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang, PT. BIC secara kontinyu dan terprogram telah menerapkan konsep CSR dalam implementasi manajemen usahanya. Secara garis besar, strategi pelaksanaan CSR PT. BIC mencakup beberapa wilayah yang ada di sekitar perusahaan. 

Cakupan wilayah ini dibagi ke dalam 3 ring (zona), yakni ring I meliputi daerah-daerah di sekitar perusahaan, ring II merliputi daerah-daerah di luar ring I, dan ring III meliputi daerah-daerah di luar ring I dan ring II. Strategi pengembangan berdasarkan wilayah ini juga ditunjang oleh berbagai jenis kegiatan yang sesuai dengan karakteristik kegiatan masing-masing daerah, seperti layanan publik di bidang kesehatan, keagamaan dan pendidikan. Namun demikian disadari bahwa dinamika perkembangan lingkungan perusahaan berjalan sedemikan cepat, sehingga membutuhkan berbagai inovasi dan kreasi kegiatan CSR yang mampu dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Dinamika lingkungan perusahaan tersebut seperti adanya tuntutan otonomi daerah, sehingga harapan/cita-cita kesejahteraan masyarakat menjadi semakin tinggi. Padahal kemampuan pemerintah daerah masih dibatasi oleh keterbatasan anggaran daerah untuk pembangunan secara menyeluruh. 

Di sinilah peran CSR perusahaan, khususnya PT. BIC, untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial di luar kegiatan pokok perusahaan, agar kepentingan masyarakat luas dapat terpenuhi semaksimal mungkin, sehingga kesejahteraan hidup mereka dapat mengalami kenaikan. Salah satu elemen penting dalam kesejahteraan hidup tersebut adalah adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan. Dalam hal ini peran manajemen sangat penting dalam upaya untuk memformulasikan berbagai program dan kegiatan dalam CSR PT. BIC, sehingga terjadi hubungan simbiosis mutualisme antara perusahaan dan masyarakat luas. Pada akhirnya berbagai program kegiatan dalam kegiatan CSR PT. BIC diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan sebuah kajian tentang dampak implementasi program CSR terhadap kesejahteraan hidup masyarakat.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDEKS LQ45 BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Admin Add Comment

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDEKS LQ45 BURSA EFEK INDONESIA (BEI)


PENDAHULUAN 

Dewasa ini, CSR semakin marak diterapkan oleh perusahaan diseluruh belahan dunia. Banyak perusahaan telah melaksanakan kegiatan CSR dan dengan sukarela membuat laporan dari kegiatan CSR yang telah dilakukan. Di Indonesia, praktik CSR semakin menguat terutama setelah diberlakukan UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) pasal 1 point 3 yang menyebutkan bahwa PT yang menjalakan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Implementasi atas peran tanggung jawab sosial tersebut diatur dalam pasal 74 UU Nomor 40 Tahun 2007, dan pelaksanaannya harus dilaporkan dalam laporan tahunan perusahaan (pasal 66 ayat 2c). Tanggung jawab sosial dan lingkungan juga diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal terkait dengan perusahaan yang terdaftar di pasar modal.

Namun peraturan-peraturan pemerintahan tersebut tidak memberikan pedoman khusus mengenai bagaimana dan informasi apa saja yang harus dilaporkan mengenai kegiatan CSR, sehingga pengungkapan mengenai informasi CSR di Indonesia masih dirasa kurang. Berbagai alasan perusahaan dalam melakukan pengungkapan informasi CSR secara sukarela diteliti dalam penelitian sebelumnya, diantaranya adalah karena untuk menaati peraturan yang ada, untuk memperoleh keunggulan kompetitif melalui penerapan CSR, dan memenuhi ekspektasi masyarakat, untuk melegitimasi tindakan perusahaan, dan untuk menarik investor.

Pengungkapan informasi CSR yang dilakukan oleh perusahaan akan berbeda- beda tergantung pada karakteristik dari masing-masing perusahaan. Karakteristik perusahaan merupakan ciri-ciri khusus perusahaan yang membedakannya dari perusahaan lain. Karakteristik perusahaan dapat berupa pertumbuhan perusahaan, leverage, basis perusahaan, jenis industri, serta profil dan karakteristik perusahaan lainnya. Kepemilikan saham publik (public shareholding) merupakan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik/masyarakat terhadap saham perusahaan. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh publik diduga akan memberikan pengungkapan CSR yang lebih luas dibandingkan dengan perusahaan yang sahamnya tidak dimiliki publik.

Leverage memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat diketahui tingkat resiko tak tertagihnya suatu hutang. Semakin tinggi tingkat leverage perusaahan, semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian kredit sehingga perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi. Supaya laba yang dilaporkan tinggi, maka manajer harus mengurangi biaya-biaya termasuk biaya untuk mengungkapkan CSR. 

Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki rasio likuiditas tinggi cenderung melakukan pengungkapan informasi yang lebih luas kepada pihak luar karena ingin menunjukkan bahwa perusahaan tersebut kredibel.

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Meek et. al. (1995) menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi memiliki sumber daya yang lebih banyak untuk melakukan pengungkapan lingkungan. Hubungan pertumbuhan perusahaan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat dikaitkan dengan pertimbangan investor dalam menanamkan investasinya.

KAJIAN PUSTAKA 
Teori Stakeholder 

Pendekatan stakeholder adalah keinginan untuk membangun suatu kerangka kerja yang responsif terhadap masalah yang dihadapi para manajer saat itu, yaitu perubahan lingkungan. CSR merupakan strategi perusahaan untuk memuaskan keinginan para stakeholder, semakin baik pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan maka stakeholder akan semakin terpuaskan dan akan memberikan dukungan penuh kepada perusahaan atas segala aktivitasnya yang bertujuan untuk menaikan kinerja dan mencapai laba 

Teori Agency 

Agency theory mendasarkan hubungan kontrak antar anggota-anggota dalam perusahaan, dimana prinsipal dan agen sebagai pelaku utama. Teori agensi menjelaskan hubungan antara prinsipal dengan agen. Praktik CSR dan pengungkapannya juga dikaitkan dengan agency theory Pengungkapan CSR merupakan salah satu komitmen manajemen untuk meningkatkan kinerjanya terutama dalam kinerja sosial. Dengan demikian, manajemen akan mendapatkan penilaian positif dari stakeholders.

Corporate Social Responsibility (CSR) 
Pengertian CSR Definisi CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Corporate Social Responsibility merupakan proses penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis dengan stakeholders baik secara intenal (pekerja, shareholders dan penanaman modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggotaanggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain), dimana tidak hanya terbatas pada konsep pemberian donor saja, tapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, akan tetapi merupakan hak dan kewajiban yang dimiliki bersama antar

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA OFFICIAL WEBSITE PERUSAHAAN STUDI PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk

Admin Add Comment

PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA OFFICIAL WEBSITE PERUSAHAAN STUDI PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA)


1. PENDAHULUAN 
Latar Belakang 

Perubahan tingkat kesadaran masyarakat mengenai perkembangan dunia bisnis di Indonesia, menimbulkan kesadaran baru tentang pentingnya melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR mengandung makna bahwa, seperti halnya individu, perusahaan memiliki tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi hukum, menjunjung integritas, dan tidak korup. CSR menekankan bahwa perusahaan harus mengembangkan praktik bisnis yang etis dan berkesinambungan (sustainable) secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Pengungkapan CSR perusahaan melalui berbagai macam media dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan dan juga untuk menjaga reputasi. 

Sebagian perusahaan bahkan menganggap bahwa mengomunikasikan kegiatan atau program CSR sama pentingnya dengan kegiatan CSR itu sendiri. Dengan mengomunikasikan CSR-nya, makin banyak masyarakat yang mengetahui investasi sosial perusahaan sehingga tingkat risiko perusahaan menghadapi gejolak sosial akan menurun. Jadi, melaporkan CSR kepada khalayak akan meningkatkan nilai social hedging perusahaan.

Tujuan Penelitian 
Pada penelitian ini, penulis menganalisis pengungkapan CSR oleh PT Unilever Indonesia Tbk (selanjutnya ditulis Unilever), dengan tujuan untuk melihat apakah perusahaan telah memanfaatkan official website-nya untuk mengungkapkan program CSR yang dilakukan, dari sisi tata kelola perusahaan, lingkungan, dan sosial. Pada penelitian ini hanya akan diukur Index Publisitas, yaitu kuantitas informasi CSR yang disajikan pada official website perusahaan. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesadaran dan praktek penerapan CSR pada perusahaan dalam setiap kegiatan bisnis yang dilakukannya dalam kaitannya dengan kepentingan pihakpihak lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA 

Pengertian Penerapan CSR Menurut Boone dan Kurtz (2007), pengertian tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. 

B. Tamam Achda (2007) mengartikan CSR sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terusmenerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya. 

Meskipun laba dan kesempatan kerja tetap memiliki arti penting, tetapi dewasa ini terdapat banyak faktor yang memberikan kontribusi pada penilaian kinerja sosial sebuah perusahaan, termasuk di antaranya memberikan kesempatan kerja yang sama; menghargai perbedaan budaya para karyawan; merespons masalah-masalah linghkungan hidup; menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat; dan memproduksi produk-produk bermutu tinggi yang aman untuk digunakan. 

Pentingnya Menerapkan CSR 

Substansi keberadaan CSR adalah memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Ada enam kecenderungan utama yang semakin menegaskan arti penting CSR, yaitu meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin; posisi negara yang semakin berjarak kepada rakyatnya; semakin mengemukanya arti kesinambungan; semakin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan bersifat anti-perusahaan; tren ke arah transparansi; harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi. 

Pearce (2003) melaporkan dari workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Perdagangan dan Industri UK dan diorganisir oleh Forum for the Future pada bulan Mei 2003, temuan yang menyatakan CSR bukanlah biaya bagi suatu bisnis terangkat dari adanya tumpang tindih antara perhatian manajemen lingkungan dan stakeholder dan apa yang dilihat oleh strategi bisnis modern yang berbasis sumber daya (resource-based business strategy) sebagai sumber sukses kompetitif bisnis. Workshop tersebut juga menemukan bahwa penelitian paralel pada modal intangible dan intelektual dari bisnis, termasuk kontribusi manajemen stakholder dapat membuat perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. 

Lantos (2002) menggunakan Klasifikasi Carroll (Carroll’s classification) sebagai dasar untuk melihat pelaksanaan CSR pada perusahaan, yaitu: 
  1. Tanggung jawab ekonomi: menguntungkan bagi pemegang saham, menyediakan pekerjaan yang bagus bagi pekerjanya, menghasilkan produk yang berkualitas bagi pelanggan; 
  2. Tanggung jawab hukum: mengikuti hukum dan berlaku sesuai aturan permainan; 
  3. Tanggung jawab etik: menjalankan bisnis dengan moral, mengerjakan apa yang benar, apa yang harus dan fair, dan tidak menimbulkan kerusakan; 
  4.  Tanggung jawab filantropis: memberikan kontribusi secara sukarela kepada masyarakat, memberikan waktu dan uang untuk pekerjaan yang baik. 
Dari Klasifikasi Caroll tersebut Lantos membuat klasifikasi yang berkaitan dengannya (Lantos, 2002): 
  1. Ethical CSR: secara moral memilih untuk memenuhi tanggung jawab perusahaan dari segi ekonomi, hukum, dan etika:
  2. Altruistic CSR: Memenuhi tanggung jawab filantropik perusahaan, melakukan pencegahan timbulnya kerusakan (ethical CSR) untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa memperhitungkan apakah hal itu menguntungkan perusahaan; 
  3. Strategic CSR: memenuhi tanggung jawab filantropik yang menguntungkan perusahaan melalui publikasi positif dan goodwill.




KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL, MEKANISME COORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN SUMBER DAYA ALAM DI INDONESIA

Admin Add Comment

FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL, MEKANISME COORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN SUMBER DAYA ALAM DI INDONESIA (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN)


PENDAHULUAN 
Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines yaitu juga memperhatikan masalah sosial dan lingkungan (Daniri, 2008). Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga teralienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diterbitkan dan mewajibkan perseroan yang bidang usahanya di bidang atau terkait dengan bidang sumberdaya alam untuk melaksanakan pelaporan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pelaporan tersebut merupakan pencerminan dari perlunya akuntabilitas perseroan atas pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan, sehingga para stakeholders dapat menilai pelaksanaan kegiatan tersebut. Lebih dari itu arah perubahan sosial masyarakat Indonesia yang menuntut diterapkannya prinsip Good Corporate Governance bagi para pebisnis membuat isu ini semakin relevan untuk dikaji. 

Daniri (2008) menyatakan bahwa pelaksanaan CSR di Indonesia sangat tergantung pada pimpinan puncak korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak selalu dijamin selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika pimpinan perusahaan memiliki kesadaran moral yang tinggi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang benar. Sebaliknya, jika orientasi pimpinannya hanya berkiblat pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR hanya sekadar kosmetik. Daniri (2008) menyebutkan bahwa pemahaman perusahaan tentang konsep CSR masih beragam yang salah satunya disebabkan minimnya literatur yang ada. Hal senada juga diungkapkan Miranty dalam tulisannya di majalah MIX edisi 16 Oktober 2006. Sampai saat ini, pemahaman mengenai CSR masih belum merata. Banyak perusahaan yang menjadikan karitas (charity) sebagai bentuk CSR mereka. Padahal CSR seyogyanya merupakan kebijakan strategis dengan tujuan jangka panjang dan dilaksanakan secara berkesinambungan. 

Utama (2007) mengungkapkan bahwa saat ini tingkat pelaporan dan pengungkapan CSR di Indonesia masih relatif rendah. Selain itu, apa yang dilaporkan dan diungkapkan sangat beragam, sehingga menyulitkan pembaca laporan tahunan untuk melakukan evaluasi. Pada umumnya yang diungkapkan adalah informasi yang sifatnya positif mengenai perusahaan. Laporan tersebut menjadi alat public relation perusahaan dan bukan sebagai bentuk akuntabilitas perusahaan ke publik. Dan hingga kini belum terdapat kesepakatan standar pelaporan CSR yang dapat dijadikan acuan bagi perusahaan dalam menyiapkan laporan CSR. (www.ui.edu). Syafrani (2007) menyatakan bahwa pengaturan CSR dalam pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 menimbulkan kontroversi. (www.legalitas.org). Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial di Indonesia memunculkan hasil yang beragam. Sembiring (2003) menghasilkan temuan bahwa profitabilitas tidak terbukti berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Variabel ukuran perusahaan terbukti signifikan berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 

Penelitian Sembiring (2005) menunjukkan hasil yang hampir sama. Variabel independen yang diteliti adalah profitabilitas, size, leverage, ukuran dewan komisaris dan profile. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Variabel lainnya (ukuran dewan komisaris, size, dan profile) menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Anggraini (2006) dalam penelitiannya menunjukkan hasil yang berbeda. Profitabilitas dan size perusahaan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial. Variabel prosentase kepemilikan manajemen dan tipe industri terbukti mempunyai hubungan positif signifikan. Temuan ini sejalan dengan hasil yang diperoleh Hackston dan Milne (1996) dalam Anggraini (2006) yang tidak berhasil menemukan hubungan profitabilitas dengan pengungkapan informasi sosial. Reverte (2008) serta Branco dan Rodriguez (2008) juga menemukan hasil yang sama, yaitu profitabilitas tidak terbukti signifikan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan CSR. Novita dan Djakman (2008) menemukan hasil berbeda, bahwa size perusahaan terbukti berpengaruh signifikan. Parsa dan Kouhy (2007) melakukan penelitian tentang pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan kecil dan menengah (UMKM) yang terdaftar pada Alternative Investment Market (AIM) Inggris menghasilkan temuan bahwa size brkorelasi positif terhadap pengungkapan CSR.

Penelitian tentang kaitan corporate governance dengan pengungkapan CSR dilakukan oleh Novita dan Djakman (2008) dan juga dilakukan oleh Farook dan Lanis (2005) dengan sampel bank Islam di seluruh dunia. Farook dan Lanis (2005) menemukan bahwa islamic governance (sebagai proksi corporate governance di bank Islam) terbukti berpengaruh positif secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Novita dan Djakman (2008) menemukan hasil bahwa kepemilikan institusional tidak mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Hal ini senada dengan hasil penelitian Barnae dan Rubin (2005) yang menyebutkan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki hubungan dengan pengungkapan CSR. Demikian juga dengan variabel kepemilikan asing yang tidak terbukti berpengaruh signifikan.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor – faktor fundamental dan mekanisme coorporate governance terhadap Pengungkapan Coorporate Social Responsibility perusahaan manufaktur dan SDA di Indonesia tahun 2009. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi tentang efektifitas pelaksanaan pengungkapan CSR di Indonesia setelah adanya UU no 40 tahun 2007.

KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. 
Teori Legitimacy 

Keterkaitan antara individual, organisasi, dan masyarakat dapat dipandang sebagai “social contract”, berdasarkan definisi teori ekonomi politik, stakeholder, dan legitimasi (Ramanathan, 1976; Williams, 1999; Deegan, 2002). Organisasi memainkan peranan penting dalam masyarakat dan mempunyai tanggung jawab untuk diakui keberadaannya di dalam masyarakat (Farook dan Lanis, 2005). Deegan (2007) mengutip klarifikasi dari Lindblom (1994) atas perbedaan diantara “legitimation as the process that leads an organisation being adjudged legitimate, and legitimacy as a status or condition. Richardson (1987) mendefinisikan “legitimation” sebagai proses “which create and validate the normative order of society”. (Hui dan Bowrey, 2008).

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibilities (CSR) merupakan salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan perusahaan dengan stakeholders dan disarankan bahwa CSR merupakan jalan masuk dimana beberapa organisasi menggunakannya untuk memperoleh keuntungan atau memperbaiki legitimasi (Ahmad dan Sulaiman, 2004; Campbell dkk. 2003; Lindbolm, 1994, dikutip dalam Gray dkk., 1995; O’Donovan, 2002). Deegan (2006) dan Dillard dkk. (2004) menyatakan bahwa kerangka teoritis yang menjadi kajian selama beberapa tahun untuk menjelaskan mengapa organisasi melaksanakan pelaporan sukarela terkait dengan lingkungan adalah teori legitimasi. Guthrie dan Parker (1977) menyarankan bahwa organisasi mengungkapkan kinerja lingkungan mereka dalam berbagai komponen untuk mendapatkan reaksi positif dari lingkungan dan mendapatkan legitimasi atas usaha perusahaan (Hui dan Bowrey, 2008).
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

MEDIA KARTU GAMBAR DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA ANAK

Admin Add Comment
MEDIA KARTU GAMBAR DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA ANAK

A. PENDAHULUAN 

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Tujuan dari Pendidikan Anak Usia Dini yaitu agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga anak memiliki kesiapan yang optimal dalam memasuki pendidikan dasar. Pendidikan Anak Usia Dini khususnya Taman Kanak-kanak merupakan pendidikan formal. Pendidikan Taman Kanak-kanak menyediakan kegiatan bermain sambil belajar yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak. 

Aspek-aspek perkembangan anak meliputi perkembangan kognitif, bahasa, sosial emosional, agama, fisik motorik dan seni. Beberapa aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada diri anak diantaranya yaitu perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa sangat penting untuk keterampilan anak dalam berbicara. Berbicara merupakan proses komunikasi secara lisan untuk meningkatkan aspek bahasa yang di miliki oleh anak. Untuk berbicara anak harus mempunyai keterampilan berbicara. Oleh karena itu prang tua hendaknya memperhatikan perkembangan bahasa anak sejak dini (Suhartono, 2005: 2). 

Tingkat keterampilan berbicara anak dalam berbicara dan berkomunikasi sangat menentukan penerimaan kelompok terhadap anak itu sendiri, yamg juga secara otomatis akan menentukan terbentuknya konsep diri anak. Oleh sebab itu keterampilan berbicara menjadi dasar anak untuk menjalin komunikasi atau hubungan timbal balik dengan orang disekitarnya. Keterampilan berbicara juga memegang peranan penting, karena berbicara menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lain. Banyaknya orang tua lebih mempercayakan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya pada guru TK, maka 2 mengakibatkan pendidik di TK mencari media yang menyenangkan dakam mengajarkan anak untuk bercerita. 

Media yang menyenangkan serta tidak membebani anak dalam pembelajaran bercerita pada anak misalnya media kartu gambar. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Melalui Media Kartu Gambar Pada Anak Kelompok A di Taman Kanak-kanak Islam Mardisiwi Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015”. Menurut Suhartono (2005: 38) menyebutkan bahwa bicara adalah suatu penyampaian maksud tertentu dengan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa supaya bunyi tersebut dapat dipahami oleh orang yang ada dan mendengar. Sedangkan menurut Dhieni (2005: 3.6) menjelaskan bahwa bicara bukanlah sekedar pengucapan kata atu bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyatakan menyampaikan atau mengkomunikasikan pikiran, ide maupun perasaan. 

Menurut Gunarti, Suryani dan Mui (2008: 1.36) menyatakan bahwa keterampilan berbicara merupakan keterampilan bahasa ekspresif yang melibatkan pemindahan arti melalui simbol visual dan verbal yang diproses dan diekspresikan anak. Tujuan anak berbicara paling penting adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Keterampilan berbicara anak akan mempunyai manfaat dalam kegiatan berbahasa lisan anak, diantaranya melalui bercerita. Dengan bercerita anak dapat mengutarakan pendapatnya serta menambah kosa kata yang cukup yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari. 

Menurut Suhartono (2005: 138) aspek perkembangan keterampilan berbicara anak ada 5 aspek yaitu minat anak untuk berbicara, menggabungkan bunyi bahasa, memperkaya perbendaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyanyian dan mengenalkan lambang tulisan. Untuk menarik minat anak untuk berbicara diperlukan media pembelajaran yang menarik dan atraktif serta suasana pembelajaran yang menyenangkan.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

.