PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN

Admin Add Comment
PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SO
CIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN


1. Latar Belakang 

Menyusul perbaikan perekonomian dalam negeri pada tahun 2010 lalu, membawa dampak positif bagi industri semen. Sebab ditengah pemulihan ekonomi, sejumlah proyek properti dan infrastruktur kembali berjalan. Secara umum produk semen di dalam negeri dikonsumsi mayoritas oleh segmen residensial, karena di Indonesia masih cenderung kalau perekonomi tumbuh, masyarakat ingin memperbaiki rumahnya. (www.datacon.co.id). 

Menurut Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono (2011), memperkirakan total penjualan semen domestik akan mencapai sekitar 45-46 juta ton di 2011, naik 15% dibanding tahun lalu. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) hingga akhir semester I 2011, Semen Gresik Group (SMGR) menjadi pemimpin pasar domestik dengan pangsa 43,2%. Semen Gresik Group mencakup PT Semen Gresik Tbk, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa. Di posisi kedua, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), produsen semen merek Tiga Roda, yang memiliki kapasitas produksi 18,6 juta ton tercatat menguasai 30,9% pasar semen domestik. Selanjutnya PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) di posisi ketiga dengan pangsa 13,6%, dimana saat ini Holcim memiliki kapasitas produksi 8,5 juta ton (duniaindustri.com). 

Mengingat besarnya kebutuhan semen di dalam negeri, perusahaan industri semen melakukan penambahan kapasitas untuk mengantisipasi permintaan yang diperkirakan akan terus meningkat seiring perekonomian yang tumbuh. Diharapkan dengan tingginya permintaan tersebut akan dapat meningkatkan pendapatan penjualan sehingga laba yang akan diperoleh perusahaan akan semakin besar. Tujuan utama dari kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba, karena laba sangat berperan dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan sesuai dengan prinsip going concern. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan dapat meningkatkan kinerjanya dengan mengelola aktivitas bisnisnya secara efektif, efisien, dan ekonomis. 

Berikut ini tabel yang menggambarkan profitabilitas yang diperoleh perusahaan industri semen yang diukur dengan Return On Asset (ROA) dan Net Proftit Margin (NPM) dan diteliti oleh penulis dari tahun 2008 sampai dengan 2010, yaitu perusahaan industri semen yang menguasai pangsa pasar domestik dan juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) , yaitu sebagai berikut :
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat

Admin Add Comment
Implementasi CSR terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat (lengkap sampai daftar pustaka)

Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan sebuah kesepakatan dari World Summit on Sustainable Development (WSSD) di Johannesburg Afrika Selatan 2002 yang ditujukan untuk mendorong seluruh perusahaan di dunia dalam rangka terciptanya suatu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Peranan CSR dapat dipandang sebagai upaya untuk mewujudkan good corporate governance, good corporate citizenship dan good business ethics dari sebuah entitas bisnis. Sehingga perusahaan tidak cukup hanya memikirkan kepentingan shareholder (pemilik modal), tetapi juga mempunyai orientasi untuk memenuhi kepentingan seluruh stakeholders (Lihat, misalnya: Amba-Rao, 1993; Anderson, Jr., 1989; Kim, 2000; dan Raynard & Forstater, 2002).

Tanggung jawab sosial perusahaan cara yuridis telah dinyatakan sebagaimana dalam Undang-undang No. 40 Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas, Bab V, Pasal 74. Dalam pasal tersebut dijelaskan tanggung jawab sosial dan lingkungan dari perusahaan atas eksistensinya dalam kegiatan bisnis. Dewasa ini, menghadapi dampak globalisasi, kemajuan informasi teknologi, dan keterbukaan pasar, perusahaan harus secara serius memperhatikan CSR. 

Untuk melindungi perusahaan dari berbagai risiko tuntutan hukum, kehilangan partner bisnis maupun risiko terhadap citra perusahaan (brand risk) tidak cukup hanya taat kepada peraturan perundang-undangan. Tekanan secara nasional dan internasional sedang dan terus akan berlanjut untuk mempengaruhi perilaku bisnis korporasi. Tekanan ini datang antara lain dari para pemegang saham, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), partner bisnis (terutama dari negara yang komunitas bisnisnya peka terhadap CSR) dan advokat yang memperjuangkan kepentingan publik (public inter est lawyers).(Lihat Aupplerle, 1990; Baron, 1996; dan Drucker, 1984). Dalam hal ini CSR merupakan komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (Untung, 2008:1). 

Secara implementatif, perkembangan CSR di Indonesia masih membutuhkan banyak perhatian bagi semua pihak, baik pemerintah, masyarakat luas dan perusahaan. Di antara ribuan perusahaan yang ada, diindikasikan belum semua perusahaan benar-benar menerapkan konsep CSR dalam kegiatan perusahaannya. CSR masih merupakan bagian lain dari manejemen perusahaan, sehingga keberadaannya dianggap tidak memberikan kontribusi positif terhadap kelangsungan perusahaan. Padahal sesuai dengan UU yang ada, keberadaan CSR melekat secara inherent dengan manajemen perusahaan, sehingga bidang kegiatan dalam CSR pun masih dalam kontrol manejemen perusahaan (Freemand, 1984). Lebih jauh lagi dalam lingkungan bisnis perusahaan, masyarakat di sekitar perusahaan pada dasarnya merupakan fihak yang perlu mendapatkan apresiasi. Apresiasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan kesejahteraan hidup mereka melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh kegiatan CSR perusahaan. Hal ini karena perusahaan dan masyarakat pada dasarnya merupakan kesatuan elemen yang dapat menjaga keberlangsungan perusahaan itu sendiri. 

Hal tersebut tentunya sangat jauh dari harapan dan tujuan ideal dari peranan CSR perusahaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Menurut Kim (2000) praktek CSR perusahaan dapat diidentifikaskan dalam berbagai tujuan, yakni hukum, ekonomi, moral, dan filantropi. Namun demikian, tujuan tersebut masih dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi aktual di masyarakat terkait dengan tekanan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu tujuan CSR yang sangat urgen khususnya di negara sedang berkembang adalah peningkatan kualitas pendidikan masyarakat. Oleh karena itu penerapan CSR di Indonesia pada dasarnya dapat diarahkan pada penguatan ekonomi rakyat yang berbasis usaha kecil dan menengah serta peningkatan kualitas SDM masyarakat melalui perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. 

PT. Batamindo Investement Cakrawala (PT. BIC) merupakan salah satu perusahaan Penanaman Modal Asing yang berlokasi di Batam, Indonesia bergerak di bidang penyediaan dan pelayanan kawasan industri secara internasional. Sejak diresmikan pada tanggal 28 Februari 1990, kini PT. BIC telah mampu menghadirkan puluhan perusahaan asing (seperti Jepang, Eropa, USA, Korea, Taiwan, dan Singapura) beroperasi di Indonesia. 

Jenis industri yang ada umumnya adalah komponen ICT, peralatan presisi, pengepakan, farmasi, pencetakan plastik dengan berbagai jenis produk. Keberadaan industri-industri tersebut telah mampu menyerap lapangan kerja domestik kurang lebih 200 ribu tenaga kerja. Sedangkan manajemen PT. BIC sendiri memiliki tenaga kerja sekitar 500 orang. Sadar akan tugas dan tanggung jawab sosial seperti yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang, PT. BIC secara kontinyu dan terprogram telah menerapkan konsep CSR dalam implementasi manajemen usahanya. Secara garis besar, strategi pelaksanaan CSR PT. BIC mencakup beberapa wilayah yang ada di sekitar perusahaan. 

Cakupan wilayah ini dibagi ke dalam 3 ring (zona), yakni ring I meliputi daerah-daerah di sekitar perusahaan, ring II merliputi daerah-daerah di luar ring I, dan ring III meliputi daerah-daerah di luar ring I dan ring II. Strategi pengembangan berdasarkan wilayah ini juga ditunjang oleh berbagai jenis kegiatan yang sesuai dengan karakteristik kegiatan masing-masing daerah, seperti layanan publik di bidang kesehatan, keagamaan dan pendidikan. Namun demikian disadari bahwa dinamika perkembangan lingkungan perusahaan berjalan sedemikan cepat, sehingga membutuhkan berbagai inovasi dan kreasi kegiatan CSR yang mampu dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Dinamika lingkungan perusahaan tersebut seperti adanya tuntutan otonomi daerah, sehingga harapan/cita-cita kesejahteraan masyarakat menjadi semakin tinggi. Padahal kemampuan pemerintah daerah masih dibatasi oleh keterbatasan anggaran daerah untuk pembangunan secara menyeluruh. 

Di sinilah peran CSR perusahaan, khususnya PT. BIC, untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial di luar kegiatan pokok perusahaan, agar kepentingan masyarakat luas dapat terpenuhi semaksimal mungkin, sehingga kesejahteraan hidup mereka dapat mengalami kenaikan. Salah satu elemen penting dalam kesejahteraan hidup tersebut adalah adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan. Dalam hal ini peran manajemen sangat penting dalam upaya untuk memformulasikan berbagai program dan kegiatan dalam CSR PT. BIC, sehingga terjadi hubungan simbiosis mutualisme antara perusahaan dan masyarakat luas. Pada akhirnya berbagai program kegiatan dalam kegiatan CSR PT. BIC diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan sebuah kajian tentang dampak implementasi program CSR terhadap kesejahteraan hidup masyarakat.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDEKS LQ45 BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

Admin Add Comment

PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN (CSR) PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDEKS LQ45 BURSA EFEK INDONESIA (BEI)


PENDAHULUAN 

Dewasa ini, CSR semakin marak diterapkan oleh perusahaan diseluruh belahan dunia. Banyak perusahaan telah melaksanakan kegiatan CSR dan dengan sukarela membuat laporan dari kegiatan CSR yang telah dilakukan. Di Indonesia, praktik CSR semakin menguat terutama setelah diberlakukan UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) pasal 1 point 3 yang menyebutkan bahwa PT yang menjalakan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Implementasi atas peran tanggung jawab sosial tersebut diatur dalam pasal 74 UU Nomor 40 Tahun 2007, dan pelaksanaannya harus dilaporkan dalam laporan tahunan perusahaan (pasal 66 ayat 2c). Tanggung jawab sosial dan lingkungan juga diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal terkait dengan perusahaan yang terdaftar di pasar modal.

Namun peraturan-peraturan pemerintahan tersebut tidak memberikan pedoman khusus mengenai bagaimana dan informasi apa saja yang harus dilaporkan mengenai kegiatan CSR, sehingga pengungkapan mengenai informasi CSR di Indonesia masih dirasa kurang. Berbagai alasan perusahaan dalam melakukan pengungkapan informasi CSR secara sukarela diteliti dalam penelitian sebelumnya, diantaranya adalah karena untuk menaati peraturan yang ada, untuk memperoleh keunggulan kompetitif melalui penerapan CSR, dan memenuhi ekspektasi masyarakat, untuk melegitimasi tindakan perusahaan, dan untuk menarik investor.

Pengungkapan informasi CSR yang dilakukan oleh perusahaan akan berbeda- beda tergantung pada karakteristik dari masing-masing perusahaan. Karakteristik perusahaan merupakan ciri-ciri khusus perusahaan yang membedakannya dari perusahaan lain. Karakteristik perusahaan dapat berupa pertumbuhan perusahaan, leverage, basis perusahaan, jenis industri, serta profil dan karakteristik perusahaan lainnya. Kepemilikan saham publik (public shareholding) merupakan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik/masyarakat terhadap saham perusahaan. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh publik diduga akan memberikan pengungkapan CSR yang lebih luas dibandingkan dengan perusahaan yang sahamnya tidak dimiliki publik.

Leverage memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat diketahui tingkat resiko tak tertagihnya suatu hutang. Semakin tinggi tingkat leverage perusaahan, semakin besar kemungkinan perusahaan akan melanggar perjanjian kredit sehingga perusahaan akan berusaha untuk melaporkan laba sekarang lebih tinggi. Supaya laba yang dilaporkan tinggi, maka manajer harus mengurangi biaya-biaya termasuk biaya untuk mengungkapkan CSR. 

Likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki rasio likuiditas tinggi cenderung melakukan pengungkapan informasi yang lebih luas kepada pihak luar karena ingin menunjukkan bahwa perusahaan tersebut kredibel.

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri. Meek et. al. (1995) menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi memiliki sumber daya yang lebih banyak untuk melakukan pengungkapan lingkungan. Hubungan pertumbuhan perusahaan dengan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat dikaitkan dengan pertimbangan investor dalam menanamkan investasinya.

KAJIAN PUSTAKA 
Teori Stakeholder 

Pendekatan stakeholder adalah keinginan untuk membangun suatu kerangka kerja yang responsif terhadap masalah yang dihadapi para manajer saat itu, yaitu perubahan lingkungan. CSR merupakan strategi perusahaan untuk memuaskan keinginan para stakeholder, semakin baik pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan maka stakeholder akan semakin terpuaskan dan akan memberikan dukungan penuh kepada perusahaan atas segala aktivitasnya yang bertujuan untuk menaikan kinerja dan mencapai laba 

Teori Agency 

Agency theory mendasarkan hubungan kontrak antar anggota-anggota dalam perusahaan, dimana prinsipal dan agen sebagai pelaku utama. Teori agensi menjelaskan hubungan antara prinsipal dengan agen. Praktik CSR dan pengungkapannya juga dikaitkan dengan agency theory Pengungkapan CSR merupakan salah satu komitmen manajemen untuk meningkatkan kinerjanya terutama dalam kinerja sosial. Dengan demikian, manajemen akan mendapatkan penilaian positif dari stakeholders.

Corporate Social Responsibility (CSR) 
Pengertian CSR Definisi CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Corporate Social Responsibility merupakan proses penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis dengan stakeholders baik secara intenal (pekerja, shareholders dan penanaman modal) maupun eksternal (kelembagaan pengaturan umum, anggotaanggota masyarakat, kelompok masyarakat sipil dan perusahaan lain), dimana tidak hanya terbatas pada konsep pemberian donor saja, tapi konsepnya sangat luas dan tidak bersifat statis dan pasif, akan tetapi merupakan hak dan kewajiban yang dimiliki bersama antar

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA OFFICIAL WEBSITE PERUSAHAAN STUDI PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk

Admin Add Comment

PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA OFFICIAL WEBSITE PERUSAHAAN STUDI PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA)


1. PENDAHULUAN 
Latar Belakang 

Perubahan tingkat kesadaran masyarakat mengenai perkembangan dunia bisnis di Indonesia, menimbulkan kesadaran baru tentang pentingnya melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR mengandung makna bahwa, seperti halnya individu, perusahaan memiliki tugas moral untuk berlaku jujur, mematuhi hukum, menjunjung integritas, dan tidak korup. CSR menekankan bahwa perusahaan harus mengembangkan praktik bisnis yang etis dan berkesinambungan (sustainable) secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Pengungkapan CSR perusahaan melalui berbagai macam media dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan dan juga untuk menjaga reputasi. 

Sebagian perusahaan bahkan menganggap bahwa mengomunikasikan kegiatan atau program CSR sama pentingnya dengan kegiatan CSR itu sendiri. Dengan mengomunikasikan CSR-nya, makin banyak masyarakat yang mengetahui investasi sosial perusahaan sehingga tingkat risiko perusahaan menghadapi gejolak sosial akan menurun. Jadi, melaporkan CSR kepada khalayak akan meningkatkan nilai social hedging perusahaan.

Tujuan Penelitian 
Pada penelitian ini, penulis menganalisis pengungkapan CSR oleh PT Unilever Indonesia Tbk (selanjutnya ditulis Unilever), dengan tujuan untuk melihat apakah perusahaan telah memanfaatkan official website-nya untuk mengungkapkan program CSR yang dilakukan, dari sisi tata kelola perusahaan, lingkungan, dan sosial. Pada penelitian ini hanya akan diukur Index Publisitas, yaitu kuantitas informasi CSR yang disajikan pada official website perusahaan. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesadaran dan praktek penerapan CSR pada perusahaan dalam setiap kegiatan bisnis yang dilakukannya dalam kaitannya dengan kepentingan pihakpihak lain.

2. TINJAUAN PUSTAKA 

Pengertian Penerapan CSR Menurut Boone dan Kurtz (2007), pengertian tanggung jawab sosial (social responsibility) secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan. 

B. Tamam Achda (2007) mengartikan CSR sebagai komitmen perusahaan untuk mempertanggungjawabkan dampak operasinya dalam dimensi sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta terusmenerus menjaga agar dampak tersebut menyumbang manfaat kepada masyarakat dan lingkungan hidupnya. 

Meskipun laba dan kesempatan kerja tetap memiliki arti penting, tetapi dewasa ini terdapat banyak faktor yang memberikan kontribusi pada penilaian kinerja sosial sebuah perusahaan, termasuk di antaranya memberikan kesempatan kerja yang sama; menghargai perbedaan budaya para karyawan; merespons masalah-masalah linghkungan hidup; menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat; dan memproduksi produk-produk bermutu tinggi yang aman untuk digunakan. 

Pentingnya Menerapkan CSR 

Substansi keberadaan CSR adalah memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerjasama antar stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya. Ada enam kecenderungan utama yang semakin menegaskan arti penting CSR, yaitu meningkatnya kesenjangan antara kaya dan miskin; posisi negara yang semakin berjarak kepada rakyatnya; semakin mengemukanya arti kesinambungan; semakin gencarnya sorotan kritis dan resistensi dari publik, bahkan bersifat anti-perusahaan; tren ke arah transparansi; harapan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan manusiawi. 

Pearce (2003) melaporkan dari workshop yang diselenggarakan oleh Departemen Perdagangan dan Industri UK dan diorganisir oleh Forum for the Future pada bulan Mei 2003, temuan yang menyatakan CSR bukanlah biaya bagi suatu bisnis terangkat dari adanya tumpang tindih antara perhatian manajemen lingkungan dan stakeholder dan apa yang dilihat oleh strategi bisnis modern yang berbasis sumber daya (resource-based business strategy) sebagai sumber sukses kompetitif bisnis. Workshop tersebut juga menemukan bahwa penelitian paralel pada modal intangible dan intelektual dari bisnis, termasuk kontribusi manajemen stakholder dapat membuat perusahaan memiliki keunggulan kompetitif. 

Lantos (2002) menggunakan Klasifikasi Carroll (Carroll’s classification) sebagai dasar untuk melihat pelaksanaan CSR pada perusahaan, yaitu: 
  1. Tanggung jawab ekonomi: menguntungkan bagi pemegang saham, menyediakan pekerjaan yang bagus bagi pekerjanya, menghasilkan produk yang berkualitas bagi pelanggan; 
  2. Tanggung jawab hukum: mengikuti hukum dan berlaku sesuai aturan permainan; 
  3. Tanggung jawab etik: menjalankan bisnis dengan moral, mengerjakan apa yang benar, apa yang harus dan fair, dan tidak menimbulkan kerusakan; 
  4.  Tanggung jawab filantropis: memberikan kontribusi secara sukarela kepada masyarakat, memberikan waktu dan uang untuk pekerjaan yang baik. 
Dari Klasifikasi Caroll tersebut Lantos membuat klasifikasi yang berkaitan dengannya (Lantos, 2002): 
  1. Ethical CSR: secara moral memilih untuk memenuhi tanggung jawab perusahaan dari segi ekonomi, hukum, dan etika:
  2. Altruistic CSR: Memenuhi tanggung jawab filantropik perusahaan, melakukan pencegahan timbulnya kerusakan (ethical CSR) untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa memperhitungkan apakah hal itu menguntungkan perusahaan; 
  3. Strategic CSR: memenuhi tanggung jawab filantropik yang menguntungkan perusahaan melalui publikasi positif dan goodwill.




KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL, MEKANISME COORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN SUMBER DAYA ALAM DI INDONESIA

Admin Add Comment

FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL, MEKANISME COORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN SUMBER DAYA ALAM DI INDONESIA (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN)


PENDAHULUAN 
Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya (financial) saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines yaitu juga memperhatikan masalah sosial dan lingkungan (Daniri, 2008). Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa korporasi bukan lagi sebagai entitas yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja sehingga teralienasi atau mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat di tempat mereka bekerja, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi kultural dengan lingkungan sosialnya.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diterbitkan dan mewajibkan perseroan yang bidang usahanya di bidang atau terkait dengan bidang sumberdaya alam untuk melaksanakan pelaporan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Pelaporan tersebut merupakan pencerminan dari perlunya akuntabilitas perseroan atas pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan, sehingga para stakeholders dapat menilai pelaksanaan kegiatan tersebut. Lebih dari itu arah perubahan sosial masyarakat Indonesia yang menuntut diterapkannya prinsip Good Corporate Governance bagi para pebisnis membuat isu ini semakin relevan untuk dikaji. 

Daniri (2008) menyatakan bahwa pelaksanaan CSR di Indonesia sangat tergantung pada pimpinan puncak korporasi. Artinya, kebijakan CSR tidak selalu dijamin selaras dengan visi dan misi korporasi. Jika pimpinan perusahaan memiliki kesadaran moral yang tinggi, besar kemungkinan korporasi tersebut menerapkan kebijakan CSR yang benar. Sebaliknya, jika orientasi pimpinannya hanya berkiblat pada kepentingan kepuasan pemegang saham (produktivitas tinggi, profit besar, nilai saham tinggi) serta pencapaian prestasi pribadi, boleh jadi kebijakan CSR hanya sekadar kosmetik. Daniri (2008) menyebutkan bahwa pemahaman perusahaan tentang konsep CSR masih beragam yang salah satunya disebabkan minimnya literatur yang ada. Hal senada juga diungkapkan Miranty dalam tulisannya di majalah MIX edisi 16 Oktober 2006. Sampai saat ini, pemahaman mengenai CSR masih belum merata. Banyak perusahaan yang menjadikan karitas (charity) sebagai bentuk CSR mereka. Padahal CSR seyogyanya merupakan kebijakan strategis dengan tujuan jangka panjang dan dilaksanakan secara berkesinambungan. 

Utama (2007) mengungkapkan bahwa saat ini tingkat pelaporan dan pengungkapan CSR di Indonesia masih relatif rendah. Selain itu, apa yang dilaporkan dan diungkapkan sangat beragam, sehingga menyulitkan pembaca laporan tahunan untuk melakukan evaluasi. Pada umumnya yang diungkapkan adalah informasi yang sifatnya positif mengenai perusahaan. Laporan tersebut menjadi alat public relation perusahaan dan bukan sebagai bentuk akuntabilitas perusahaan ke publik. Dan hingga kini belum terdapat kesepakatan standar pelaporan CSR yang dapat dijadikan acuan bagi perusahaan dalam menyiapkan laporan CSR. (www.ui.edu). Syafrani (2007) menyatakan bahwa pengaturan CSR dalam pasal 74 UU No. 40 Tahun 2007 menimbulkan kontroversi. (www.legalitas.org). Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial di Indonesia memunculkan hasil yang beragam. Sembiring (2003) menghasilkan temuan bahwa profitabilitas tidak terbukti berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Variabel ukuran perusahaan terbukti signifikan berpengaruh terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. 

Penelitian Sembiring (2005) menunjukkan hasil yang hampir sama. Variabel independen yang diteliti adalah profitabilitas, size, leverage, ukuran dewan komisaris dan profile. Hasilnya menunjukkan bahwa variabel profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Variabel lainnya (ukuran dewan komisaris, size, dan profile) menunjukkan pengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Anggraini (2006) dalam penelitiannya menunjukkan hasil yang berbeda. Profitabilitas dan size perusahaan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial. Variabel prosentase kepemilikan manajemen dan tipe industri terbukti mempunyai hubungan positif signifikan. Temuan ini sejalan dengan hasil yang diperoleh Hackston dan Milne (1996) dalam Anggraini (2006) yang tidak berhasil menemukan hubungan profitabilitas dengan pengungkapan informasi sosial. Reverte (2008) serta Branco dan Rodriguez (2008) juga menemukan hasil yang sama, yaitu profitabilitas tidak terbukti signifikan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan CSR. Novita dan Djakman (2008) menemukan hasil berbeda, bahwa size perusahaan terbukti berpengaruh signifikan. Parsa dan Kouhy (2007) melakukan penelitian tentang pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan kecil dan menengah (UMKM) yang terdaftar pada Alternative Investment Market (AIM) Inggris menghasilkan temuan bahwa size brkorelasi positif terhadap pengungkapan CSR.

Penelitian tentang kaitan corporate governance dengan pengungkapan CSR dilakukan oleh Novita dan Djakman (2008) dan juga dilakukan oleh Farook dan Lanis (2005) dengan sampel bank Islam di seluruh dunia. Farook dan Lanis (2005) menemukan bahwa islamic governance (sebagai proksi corporate governance di bank Islam) terbukti berpengaruh positif secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Novita dan Djakman (2008) menemukan hasil bahwa kepemilikan institusional tidak mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Hal ini senada dengan hasil penelitian Barnae dan Rubin (2005) yang menyebutkan bahwa kepemilikan institusional tidak memiliki hubungan dengan pengungkapan CSR. Demikian juga dengan variabel kepemilikan asing yang tidak terbukti berpengaruh signifikan.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor – faktor fundamental dan mekanisme coorporate governance terhadap Pengungkapan Coorporate Social Responsibility perusahaan manufaktur dan SDA di Indonesia tahun 2009. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan kontribusi tentang efektifitas pelaksanaan pengungkapan CSR di Indonesia setelah adanya UU no 40 tahun 2007.

KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. 
Teori Legitimacy 

Keterkaitan antara individual, organisasi, dan masyarakat dapat dipandang sebagai “social contract”, berdasarkan definisi teori ekonomi politik, stakeholder, dan legitimasi (Ramanathan, 1976; Williams, 1999; Deegan, 2002). Organisasi memainkan peranan penting dalam masyarakat dan mempunyai tanggung jawab untuk diakui keberadaannya di dalam masyarakat (Farook dan Lanis, 2005). Deegan (2007) mengutip klarifikasi dari Lindblom (1994) atas perbedaan diantara “legitimation as the process that leads an organisation being adjudged legitimate, and legitimacy as a status or condition. Richardson (1987) mendefinisikan “legitimation” sebagai proses “which create and validate the normative order of society”. (Hui dan Bowrey, 2008).

Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibilities (CSR) merupakan salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan perusahaan dengan stakeholders dan disarankan bahwa CSR merupakan jalan masuk dimana beberapa organisasi menggunakannya untuk memperoleh keuntungan atau memperbaiki legitimasi (Ahmad dan Sulaiman, 2004; Campbell dkk. 2003; Lindbolm, 1994, dikutip dalam Gray dkk., 1995; O’Donovan, 2002). Deegan (2006) dan Dillard dkk. (2004) menyatakan bahwa kerangka teoritis yang menjadi kajian selama beberapa tahun untuk menjelaskan mengapa organisasi melaksanakan pelaporan sukarela terkait dengan lingkungan adalah teori legitimasi. Guthrie dan Parker (1977) menyarankan bahwa organisasi mengungkapkan kinerja lingkungan mereka dalam berbagai komponen untuk mendapatkan reaksi positif dari lingkungan dan mendapatkan legitimasi atas usaha perusahaan (Hui dan Bowrey, 2008).
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

MEDIA KARTU GAMBAR DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA ANAK

Admin Add Comment
MEDIA KARTU GAMBAR DAPAT MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA ANAK

A. PENDAHULUAN 

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Tujuan dari Pendidikan Anak Usia Dini yaitu agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga anak memiliki kesiapan yang optimal dalam memasuki pendidikan dasar. Pendidikan Anak Usia Dini khususnya Taman Kanak-kanak merupakan pendidikan formal. Pendidikan Taman Kanak-kanak menyediakan kegiatan bermain sambil belajar yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak. 

Aspek-aspek perkembangan anak meliputi perkembangan kognitif, bahasa, sosial emosional, agama, fisik motorik dan seni. Beberapa aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada diri anak diantaranya yaitu perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa sangat penting untuk keterampilan anak dalam berbicara. Berbicara merupakan proses komunikasi secara lisan untuk meningkatkan aspek bahasa yang di miliki oleh anak. Untuk berbicara anak harus mempunyai keterampilan berbicara. Oleh karena itu prang tua hendaknya memperhatikan perkembangan bahasa anak sejak dini (Suhartono, 2005: 2). 

Tingkat keterampilan berbicara anak dalam berbicara dan berkomunikasi sangat menentukan penerimaan kelompok terhadap anak itu sendiri, yamg juga secara otomatis akan menentukan terbentuknya konsep diri anak. Oleh sebab itu keterampilan berbicara menjadi dasar anak untuk menjalin komunikasi atau hubungan timbal balik dengan orang disekitarnya. Keterampilan berbicara juga memegang peranan penting, karena berbicara menjadi dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lain. Banyaknya orang tua lebih mempercayakan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya pada guru TK, maka 2 mengakibatkan pendidik di TK mencari media yang menyenangkan dakam mengajarkan anak untuk bercerita. 

Media yang menyenangkan serta tidak membebani anak dalam pembelajaran bercerita pada anak misalnya media kartu gambar. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Melalui Media Kartu Gambar Pada Anak Kelompok A di Taman Kanak-kanak Islam Mardisiwi Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015”. Menurut Suhartono (2005: 38) menyebutkan bahwa bicara adalah suatu penyampaian maksud tertentu dengan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa supaya bunyi tersebut dapat dipahami oleh orang yang ada dan mendengar. Sedangkan menurut Dhieni (2005: 3.6) menjelaskan bahwa bicara bukanlah sekedar pengucapan kata atu bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyatakan menyampaikan atau mengkomunikasikan pikiran, ide maupun perasaan. 

Menurut Gunarti, Suryani dan Mui (2008: 1.36) menyatakan bahwa keterampilan berbicara merupakan keterampilan bahasa ekspresif yang melibatkan pemindahan arti melalui simbol visual dan verbal yang diproses dan diekspresikan anak. Tujuan anak berbicara paling penting adalah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Keterampilan berbicara anak akan mempunyai manfaat dalam kegiatan berbahasa lisan anak, diantaranya melalui bercerita. Dengan bercerita anak dapat mengutarakan pendapatnya serta menambah kosa kata yang cukup yang diperlukan untuk berkomunikasi sehari-hari. 

Menurut Suhartono (2005: 138) aspek perkembangan keterampilan berbicara anak ada 5 aspek yaitu minat anak untuk berbicara, menggabungkan bunyi bahasa, memperkaya perbendaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyanyian dan mengenalkan lambang tulisan. Untuk menarik minat anak untuk berbicara diperlukan media pembelajaran yang menarik dan atraktif serta suasana pembelajaran yang menyenangkan.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI BERBANTUAN MEDIA KARTU GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA ANAK TK

Admin Add Comment
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI BERBANTUAN MEDIA KARTU GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA ANAK TK


PENDAHULUAN 

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling fundamental untuk dasar-dasar pendidikan berikutnya, sehingga apapun yang kita berikan kepada anak pada usia ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya. Dimana hal ini dituangkan didalam Undang- Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional dinyatakan bahwa: Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiaspan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Taman Kanak-kanak untuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun sebagai jenis layanan sesuai dengan kondisi dan kemampuan yang ada, baik dalam jalur pendidikan formal,non formal dan informal. 

Muba (2009) menyatakan “Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pelayanan pendidkan bagi anak usia dini (0-6) yang dilakukan dilingkungan keluarga, sekolah, lembaga atau tempat pengasuhan anak yang berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak, agar dapat berkembang secara optimal dan memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan dasar”. 

Sejalandengan yang tercantum pada Peraturan Menter iPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2009 bahwa“ tujuan pendidikan Taman Kanakkanak adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi ruang lingkup perkembangan nilai agama dan moral, fisik/motorik, kognitif, bahasa, serta social emosional kemandirian”. Dari beberapadefinisi PAUD yang dijabarkan diatas sudah sangat jelas menggambarkan betapapentingnya pendidik anak usiadini sebagai langkah awal untuk menapaki dunia pendidikan. Untuk itu kita sebagai seorang pendidik harus mengetahui karakteristik yang dimiliki oleh anak usia dini secara umum. 

Adapun beberapa karakteristik umum yang muncul pada anak usia dini tersebut antara lain: rasa ingin tahu yang besar, merupakan pribadi yang unik, suka berfantas idan berimajinasi, masa paling potensial untuk belajar, menunjukkan sikap egosentris, mempunyai rentang daya konsentrasi yang pendek, sebagai bagian dari makhluk sosial (Us, 2013) Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Pada usia tersebut bisa dikatakan sebagai the golden age, yaitu masa keemasan pada manusia seutuhnya yang membuat anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya. 

Tugas utama seorang pengajar adalah menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang mencakup kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan rencana yang terorganisir secara sistematis yang mencakup tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang mencakup metode dan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran. Selanjutnya anak akan mencapai tingkat perkembangan yang optimal apabila pembelajaran dilakukan memenuhi prinsipprinsip pembelajaran anak usia dini. Hartati (dalam Partana) mengungkapkan prinsipprinsip pembelajaran tersebut sebgai berikut. 

Berangkat dari yang dimiliki anak, Belajar harus menantang pemahaman anak, Belajar dilakukan sambil bermain, Menggunakan alam sebagai sarana belajar, Belajar dilakukan melalui sensori, belajar membekali keterampilan hidup, dan belajar sambil melakukan. Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan tingkah laku atau kompetensi pada anak setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Salah satu perkembangan anak yang sedang berkembang saat usia Taman Kanak-Kanak adalah kemampuan bahasa karena sebelum anak belajar pengetahuanpengetahuan lain, anak perlu menggunakan bahasa agar dapat memahaminya dengan baik. Bahasa merupakan alat komunikasi berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

ANALISIS SISTEM E-COMMERCE PADA PERUSAHAN JUAL-BELI ONLINE LAZADA INDONESIA

Admin Add Comment
ANALISIS SISTEM E-COMMERCE PADA PERUSAHAN JUAL-BELI ONLINE LAZADA INDONESIA 

PENDAHULUAN 

Perkembangan internet yang pesat memberi pengaruh yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya dalam dunia bisnis. Penggunaan internet tidak hanya terbatas pada pemanfaatan informasi yang dapat diakses melalui media internet, melainkan juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan transaksi perdagangan yang dikenal dengan istilah eletronic commerce atau e-commerce. 

Industri e-commerce di Indonesia berkembang cukup baik. Perkembangan ecommerce yang cukup baik tersebut tidak terlepas dari jumlah pengguna internet di Indonesia yang meningkat tiap tahunnya. Kemenkominfo mencatat Indonesia berada di posisi ke-8 pengguna internet terbanyak di dunia. 

Pada tahun 2014, pengguna internet di Indonesia naik hingga mencapai 82 juta. Menurut riset asosiasi e-commerce Indonesia (idEA) dan Google mengenai e-commerce, diprediksi total nilai pasar e-commerce Indonesia mencapai angka US$ 8 miliar atau sekitar Rp 94 triliun dan akan terus meningkat hingga mencapai angka US$ 24 miliar atau setara dengan Rp 283 triliun pada tahun 2016 (www.the-marketeers.com). Angka tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki pasar yang luas, terlihat dari banyaknya pemain ecommerce yang berasal dari luar negeri. 

Tidak hanya dari luar negeri, pemain lokalpun juga mencari peluang berbisnis lewat Internet serta mencoba merebut pasar di negeri sendiri. Salah satu cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk menarik dan mempertahankan pelanggan adalah dengan memanfaatkan peranan media online sebagai salah satu alat pemasaran (www.themarketeers. com). 

Diantara banyaknya layanan ecommerce yang ada di Indonesia, Salah satu yang populer adalah toko online Lazada. Lazada Indonesia didirikan pada tahun 2012 dan merupakan salah satu cabang dari jaringan retail online Lazada di Asia Tenggara. Lazada Asia Tenggara merupakan cabang anak perusahaan jaringan Rocket Internet, perusahaan asal Jerman. 

Sebagai pendatang baru di bisnis e-commerce Indonesia, Lazada mampu merebut perhatian sebagian besar masyarakat internet (netizen). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nusa Research yang berjudul “E-Commerce Indonesia 2014 Omnibus Popular Brand Index”, Lazada merupakan situs ecommerce terpopuler di Indonesia saat ini. 

Berdasarkan situs pemeringkat website Alexa.com, Lazada saat ini menempati urutan ke-11 sebagai situs yang paling sering dikunjungi. Peringkat tersebut menempatkan Lazada di urutan pertama sebagai situs toko online business to consumer (B2C) yang paling sering dikunjungi. (www.alexa.com). 

Indonesia sempat masuk dalam daftar negara dengan potensi pertumbuhan industri e-commerce yang menjanjikan, namun hal itu tidak membuat perjalanan industri e-commerce Indonesia berjalan lancar begitu saja, bahkan sempat pula dikatakan masih banyak pelaku industri yang merugi. Menurut situs Quartz, penyebab terjadinya dinamika tersebut adalah akses belanja online di Indonesia masih didominasi oleh kalangan profesional. Selain itu masih terbatasnya layanan pembayaran dan keperluan logistik. Kemudian banyaknya pengguna Internet yang tak sejalan dengan tingkat penjualan e-commerce. Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, diketahui memiliki jumlah pengakses internet yang juga cukup banyak. Namun hal tersebut ternyata tidak berdampak cukup baik terhadap tingkat penjualan ecommerce di Indonesia. 

Berdasarkan riset situs Quartz, Indonesia berada di posisi paling akhir dari lima negara di Asia perihal peringkat estimasi penjualan e-commerce. Hal ini dapat menunjukkan bahwa minat beli secara online masyarakat Indonesia masih rendah (www.qz.com). 

Sementara itu, menurut situs Quartz saat ini konsumen Indonesia masih menyukai belanja online lewat cara “konvensional”. Meski sudah serba online, ternyata konsumen Indonesia saat ini masih jauh lebih menikmati belanja online dengan cara lama seperti lewat grup di BlackBerry Messenger (BBM), classified marketplace, forum, hingga layanan jejaring sosial seperti Facebook dan lain-lain. Semua layanan ini merupakan sistem belanja online yang bisa mempertemukan antara penjual dan pembeli atau consumer to consumer (www.tekno.kompas.com). 

Masyarakat saat ini juga masih menganggap berbelanja melalui internet memiliki risiko yang cukup tinggi. Menurut survei yang dilakukan Kaspersky Lab dan B2B International, sebanyak 49% pengguna internet di seluruh dunia merasa rentan saat berbelanja online atau melakukan transaksi secara online.Tingkat perlindungan terhadap penipuan cyber merupakan faktor penting bagi pengguna saat memilih toko online atau operator jasa keuangan (teknoliputan6.com). 

Berdasarkan survei Google yang berjudul "Business Insight with Google: Pelanggan Online Indonesia", diketahui bahwa faktor keamanan menjadi hambatan terbesar bagi masyarakat untuk membeli barang secara online. Konsumen khawatir akan kualitas barang yang dijual dan keamanan akan data pribadinya. Sedangkan menurut penelitian The Nielsen Global Survey of E-Commerce, keamanan kartu kredit tetap menjadi kekhawatiran utama. Konsumen digital Indonesia sangat berhati-hati jika harus memberikan informasi mengenai kartu kredit mereka secara online. Enam dari sepuluh konsumen mengatakan bahwa mereka tidak bersedia memberikan informasi kartu kredit mereka secara online. 

Berbagai kekhawatiran diatas merupakan persepsi risiko yang menjadi penghalang potensial dalam melakukan pembelian online. Kim et al., (2007: 546) mendefinisikan persepsi risiko sebagai keyakinan konsumen tentang potensi hasil negatif tidak pasti dari transaksi online. Persepsi risiko dapat mempengaruhi minat beli seseorang melalui internet. Dengan berbagai alasan tersebut, perlu adanya sebuah review dan analisis mengenai system e-commerce pada situs belanja online lazada.co.id. analisis meliputi, kelebihan, kelemahan, dan analisis SWOT terhadap perusahaan online lazada.co.iD


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) DENGAN MEMANFAATKAN E-COMMERCE

Admin Add Comment

UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) DENGAN MEMANFAATKAN E-COMMERCE


1. Pendahuluan 

Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau yang dikenal dengan istilah Information and Communication Technology (ICT) dan internet telah merambah berbagai bidang kehidupan tidak terkecuali bidang bisnis dan perdagangan (Fensel, 2001). Dengan adanya internet dan ICT proses pemasaran dan penjualan dapat dilakukan kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu (Jinling, 2009; Quaddus, 2008). 

Dengan kemampuan web/internet yang bisa mengirimkan berbagai bentuk data seperti teks, grafik, gambar, suara, animasi, atau bahkan video, maka banyak kalangan bisnis yang memanfaatkan teknologi ini dengan membuat homepage untuk mempromosikan usahanya (Boderndof, 2009). Kini hampir semua lapisan masyarakat (terutama di negara maju) sudah sangat terbiasa dengan web ini, karena hampir segala jenis informasi bisa diperoleh. 

Salah satu penerapan ICT dan internet dalam bidang bisnis dan perdagangan adalah electronic commerce (e-commerce). E-commerce dapat didefinisikan sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), promosi produk dan lain-lain (Wikipedia, 2010). 

Manfaat dan keuntungan menggunakan e-commerce adalah untuk media promosi dalam rangka untuk meningkatkan volume penjualan, baik untuk penjualan online maupun konvensional (Jansen, 2006; Supardi, 2009).

Di samping keuntungan tersebut, ternyata hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan e-commerce dalam mendongkrak peningkatan volume penjualan dan mempromosikan produk-produk industri cukup tinggi (Alexander, 2002; Supardi 2008; Wuwei 2009). 

Usaha kecil dan menengah (UKM) adalah salah satu bidang yang memberikan kontribusi yang segnifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan dekat dengan rakyat kecil (Kuncoro, 2008, Sripo, 2010). 

Masalah utama yang dihadapi oleh UKM adalah pemasaran (Hafsah, 2004; Kuncoro, 2008; Kurniawan, 2009; Supardi, 2009). Pemasaran dengan metode konvensional memerlukan biaya tinggi, misalnya membuka cabang baru, ikut pameran, pembuatan dan penyebaran brosur dan sebagainya. Berkembangnya internet menjadi sarana yang efisien untuk membuka jalur pemasaran model baru bagi produk UKM. Di samping biayanya relatif murah, dengan memanfaatkan internet penyebaran informasi akan lebih cepat dan jangkauannya lebih luas(Supardi, 2009).



2. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah suatu bentuk usaha yang dilihat dari skalanya usaha rumah tangga dan usaha kecil hanya mempunyai jumlah pegawai antara 1-19 orang. Sementara usaha menengah mempunyai pegawai antar 20-99 orang (BPS, 2004). 

UKM ini telah terbukti merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat bertahan dalam krisis ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu bidang yang memberikan kontribusi yang segnifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan dekat dengan rakyat kecil. 

Statistik pekerja Indonesia menunjukan bahwa 99,5 % tenaga kerja Indonesia bekerja di bidang UKM (Kurniawan, 2008). Hal ini sepenuhnya disadari oleh pemerintah, sehingga UKM termasuk dalam salah satu fokus program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan pemerintah terhadap UKM dituangkan dalam sejumlah Undang-undang dan peraturan pemerintah.

Pemakaian Teknologi Informasi (IT) dalam memasarkan produk UKM telah berhasil dikembangkan oleh sejumlah Negara seperti Cina, Jepang, dan India. Bahkan Konfederasi Industri India atau Confedration of Indian Industry (CII) merilis hasil survey yang memperlihatkan bahwa peranan Teknologi Informasi (IT) telah mengubah peruntungan sigmen UKM di India. 

Menurut hasil survey tersebut penggunaan IT di kalangan UKM telah menghasilkan peningkatan pendapatan yang signifikan, yakni 78 % dari responden mengindekasikan peningkatan pendapatan akibat penggunaan IT(Nofie, 2007). Sementara itu Cina menerapkan IT sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing penjualan produk UKMnya (Kompas, 2007). 

Internet marketing adalah proses pembentukan dan pemeliharaan hubungan dengan konsumen melalui kegiatan–kegiatan online dengan memfasilitasi pertukaran ide, produk dan jasa yang memuaskan kedua pihak (Lue, 2009; Omelayenko, 2008). UKM perlu dikembangkan menurut Kurniawan (2009) karena : 
  1. UKM menyerap banyak tenaga kerja.
  2. UKM memegang peranan penting dalam ekspor nonmigas, yang pada tahun 1990 mencapai US$ 1.031 juta atau menempati rangking kedua setelah ekspor dari kelompok aneka industri. 
  3. Adanya urgensi untuk struktur ekonomi yang berbentuk piramida, yang menunjukkan adanya ketimpangan yang lebar antara pemain kecil dan besar dalam ekonomika Indonesia. 
Dari alasan pertama di atas jelaslah bahwa dengan adanya UKM dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia, padahal pengangguran yang tinggi adalah penyumbang terbesar dalam penyebab terjadinya kemiskinan di Indonesia, demikian juga yang terjadi di propinsi Sumatra Selatan (Sripo, 2010). 

Banyaknya UKM akan menyebabkan perekonomian yang kuat, karena terbukti bahwa UKM paling tahan terhadap krisis (Kuncoro, 2008). Masalah dasar yang dihadapi UKM menurut Kurniawan (2009) adalah: 
  1. Kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. 
  2. Kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. 
  3. Kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. 
  4. Keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran).
  5. Iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan. 
  6. Pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. 
Sedangkan menurut Hafsah (2004) masalah UKM adalah sebagai berikut: 
Faktor Internal 
  1. Kurangnya Permodalan Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UKM, oleh karena pada umumnya usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup, yang mengandalkan pada modal dari si pemilik yang jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh, karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi. 
  2. Sumber Daya Manusia (SDM) yang Terbatas Sebagian besar usaha kecil tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun temurun. Keterbatasan SDM usaha kecil baik dari segi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilannya sangat berpengaruh terhadap manajemen pengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk berkembang dengan optimal. Di samping itu dengan keterbatasan SDM-nya, unit usaha tersebut relatif sulit untuk mengadopsi perkembangan teknologi baru untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya. 
  3. Lemahnya Jaringan Usaha dan Kemampuan Penetrasi Pasar Usaha kecil yang pada umumnya merupakan unit usaha keluarga, mempunyai jaringan usaha yang sangat terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah, oleh karena produk yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang kurang kompetitif. Berbeda dengan usaha besar yang telah mempunyai jaringan yang sudah solid serta didukung dengan teknologi yang dapat menjangkau internasional dan promosi yang baik. 
Faktor Eksternal 
  1. Iklim Usaha Belum Sepenuhnya Kondusif Kebijaksanaan Pemerintah untuk menumbuh kembangkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), meskipun dari tahun ke tahun terus disempurnakan, namun dirasakan belum sepenuhnya kondusif. Hal ini terlihat antara lain masih terjadinya persaingan yang kurang sehat antara pengusaha-pengusaha kecil dengan pengusaha-pengusaha besar. 
  2. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Usaha Kurangnya informasi yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan sarana dan prasarana yang mereka miliki juga tidak cepat berkembang dan kurang mendukung kemajuan usahanya sebagaimana yang diharapkan.
  3. Implikasi Otonomi Daerah Dengan berlakunya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, kewenangan daerah mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat. Perubahan sistem ini akan mengalami implikasi terhadap pelaku bisnis kecil dan menengah berupa pungutan-pungutan baru yang dikenakan pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Jika kondisi ini tidak segera dibenahi maka akan menurunkan daya saing Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Di samping itu semangat kedaerahan yang berlebihan, kadang menciptakan kondisi yang kurang menarik bagi pengusaha luar daerah untuk mengembangkan usahanya di daerah tersebut. 
  4. Implikasi Perdagangan Bebas Sebagaimana diketahui bahwa AFTA yang mulai berlaku Tahun 2003 dan APEC Tahun 2020 yang berimplikasi luas terhadap usaha kecil dan menengah untuk bersaing dalam perdagangan bebas. Dalam hal ini, mau tidak mau Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dituntut untuk melakukan proses produksi dengan produktif dan efisien, serta dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan frekuensi pasar global dengan standar kualitas seperti isu kualitas (ISO 9000), isu lingkungan (ISO 14.000) dan isu Hak Asasi Manusia (HAM) serta isu ketenagakerjaan. Isu ini sering digunakan secara tidak fair oleh negara maju sebagai hambatan (Non Tariff Barrier for Trade). Untuk itu maka diharapkan UKM perlu mempersiapkan agar mampu bersaing baik secara keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. 
  5. Sifat Produk Dengan Lifetime Pendek Sebagian besar produk industri kecil memiliki ciri atau karakteristik sebagai produk-produk fasion dan kerajinan dengan lifetime yang pendek. 
  6. Terbatasnya Akses Pasar Terbatasnya akses pasar akan menyebabkan produk yang dihasilkan tidak dapat dipasarkan secara kompetitif baik di pasar nasional maupun internasional.


3. E-Commerce 
3.1. Konsep dasar e-Commerce 
Electronic Commerce (perniagaan elektronik) merupakan bagian dari electronic business (bisnis yang dilakukan dengan menggunakan electronic tranmission). Definisi global tentang e-Commerce adalah semua bentuk transaksi perdagangan barang atau jasa yang dilakukan secara elektronik. 

Definisi yang formal tentang e-Commerce diberikan oleh Baum (2000), yakni : suatu set dinamis teknologi, aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Sedangkan menurut Karmawan (2010) E-commerce adalah suatu jenis dari mekanisme bisnis secara elektronik yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet (teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer), melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang dominan. 

Dengan aplikasi e-commerce, hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional (door to door, one-to-one relationship). 

Salah satu media yang digunakan dalam e-Commerce adalah internet. Perkembangan media ini merupakan yang paling pesat dibandingkan dengan media lain dalam mendukung e-Commerce. Ada dua faktor pendukung yang menyebabkan internet berkembang lebih cepat dalam memediasi e-Commerce, yakni (1) internet memiliki jangkauan yang sangat luas, murah, cepat, dan mudah diakses oleh publik; (2) internet menggunakan elecronic data sebagai media penyampaian pesan/data sehingga dapat dilakukan pengiriman dan penerimaan informasi secara mudah dan ringkas, baik dalam bentuk data elektronik analog maupun digital (Teo, 2006).

3.2. E-Commerce Untuk Pengembangan UKM 
Untuk terus meningkatkan daya saing UKM serta untuk mendapatkan peluang ekspor dan peluang bisnis lainnya salah satu cara atau strategi yang dapat digunakan adalah dengan pemanfaatan perkembangan Information and Communication Technology (ICT). Pemanfaatan ICT yang banyak digunakan adalah E-Commerce. 

Dari situs Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah yang berhubungan langsung dalam pembinaan UKM (http://www.depkop.go.id), guna memasarkan produk para pengusaha UKM, mempunyai link dengan beberapa portal/website yang memfasilitasi hal tersebut. Misalnya Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Kementerian KUKM mempunyai situs www.sentrakukm.com yang berisi beberapa industri seperti kerajinan, peternakan, sandang, perikanan, makanan dan minuman dan lain-lain. Pada situs ini isinya cukup lengkap, cara memesan, info tentang perusahaan dan produk tersedia, tetapi situs ini hanya berbahasa Indonesia, tidak tersedia pilihan bahasa asing, misalnya Inggris (Kementrian Koperasi dan UKM, 2010).

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Analisis Potensi Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Kota Tangerang Selatan

Admin Add Comment
Analisis Potensi Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Kota Tangerang Selatan

PENDAHULUAN 

Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom baru yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Sebagai wilayah perkotaan dengan luas yang relatif kecil namun dengan jumlah penduduk yang besar, sektor tersier seperti sektor perdagangan dan jasa memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian. Sektor primer yang terdiri dari pertanian dalam arti luas dan pertambangan memberikan kontribusi yang paling kecil. Masuknya berbagai industri ke Kota Tangerang Selatan yang merupakan daerah penyangga DKI Jakarta, mengakibatkan peralihan mata pencaharian dari petani menjadi karyawan. Hal ini dibuktikan dengan data menurunnya rumah tangga pertanian di kota ini. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang Selatan, 2014), jumlah rumah tangga usaha pertanian mengalami penurunan sebanyak 16.496 rumah tangga (76,88%) selama 10 tahun, yakni dari 21 457 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 4.961 pada tahun 2013.Luas panen padi sawah berkurang dari 305 ha pada tahun 2012 menjadi 190 ha tahun 2013, artinya terjadi konversi lahan pertanian sebesar 37,7% dalam setahun. Penurunan luas areal pertanian tidak menurunkan antusiasme masyarakat yang memelihara ternak, terbukti dari jumlah usulan bantuan ternak sapi potong yang tinggi ke pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Masyarakat yang dahulu bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, terpaksa beralih profesi karena lahan pertanian telah banyak dikuasai pengembang properti. Beternak masih dapat dilakukan selama hijauan masih tersedia dan dapat dijangkau masyarakat, selain itu ternak dapat dijadikan sebagai tabungan bagi masyarakat. 

Peningkatan yang signifikan terjadi selama dua tahun terakhir, dari 16 dan 39 ekor pada tahun 2011 dan 2012 menjadi 304 dan 254 ekor pada tahun 2013 dan 2014 (DPKP 2014a). Jumlah kelompok ternak sapi potong juga mengalami peningkatan dari 3 kelompok pada tahun 2011 menjadi 12 kelompok pada tahun 2014 dengan rata-rata jumlah kelompok 10 orang (DPKP 2014b). Pembangunan sektor pertanian di Kota Tangerang Selatan berbeda dengan daerah lainnya yang masih memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Namun secara praktis, pengembangan peternakan dibatasi oleh aturan yang ada seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangerang Selatan yang membatasi kawasan peternakan agar tidak berlokasi pada kawasan perumahan/permukiman (Maharisi et al. 2014). Praktek-praktek pertanian di wilayah perkotaan tentunya berbeda dengan pertanian secara umum. 

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, jumlah daging sapi yang dihasilkan dari rumah-rumah pemotongan hewan yang ada di wilayah ini sebesar 4.894 ton, sedangkan permintaan pasar mencapai 28.061 ton pada tahun 2014. Lokasi Kota Tangerang Selatan yang dekat dengan ibukota menyebabkan potensi pasar yang semakin besar lagi. Kebijakan pemerintah pusat yang membatasi impor sapi potong dan kebijakan dari pemerintah daerah yang merupakan lumbung penghasil sapi potong membatasi pengeluaran sapi potong dari daerah tersebut menyebabkan tersendatnya kontinuitas suplay sapi potong ke wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya. Hal-hal tersebut diatas yang menjadikan peluang bagi masyarakat Kota Tangerang Selatan untuk mengembangkan ternak sapi potong guna mengurangi ketergantungan dari daerah lain. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan dan potensi pengembangan usaha peternakan
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

.