Efektifitas Penggunaan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik

Admin Add Comment
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK (Lengkap Sampai Daftar Pustaka)


A. Latar Belakang

Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar manusia karena melalui pendidikan dapat membentuk watak dan mengembangkan potensi manusia. Hal ini sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang RI. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai berikut: 

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebagai program yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama islam serta diikuti tuntunan untuk mengohrmati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Mata kuliah pendidikan Agama ini merupakan suatu bentuk penyelenggaraan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yakni manusia indonesia yang beiman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, mempunyai pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. 

Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejalagejala perubahan perilaku yang tampak.

Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan ini terdiri dari komponen-komponen yang saling mempengaruhi, yakni tujuan intruksional yang ingin dicapai, materi yang diajarkan, guru dan siswa yang harus memainkan peranan serta ada dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan, serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia

Pengguannaan media dalam proses pembelajaran sebenarnya dapat membantu kelancaran, efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran serta mengatasi metode konvensional dan menjadikan proses pembelajaran lebih hidup. Media merupakan salah satu komponen yang tidak dapat diabaikan dalam pengembangan sistem pengajaran yang sukses. Bahkan pengajaran yang dimanipulasi dalam bentuk media pengajaran dapat menjadikan siswa belajar sambil bermain dan bekerja. 

Proses belajar-mengajar atau proses pengajaran merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan, agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Linghungan belajar yang diatur oleh guru mencakup tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metodologi pengajaran dan penilaian pengajaran. Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip, generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Metodologi pengajaran adalah metode dan teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksinya dengan siswa agar bahan pengajaran sampai kepada siswa, sehingga siswa menguasai tujuan pengajaran.


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Pemanfaatan E-Commerce Dalam Dunia Bisnis

Admin Add Comment

PEMANFAATAN E-COMMERCE DALAM DUNIA BISNIS


PENDAHULUAN 

Kemajuan di bidang teknologi, komputer, dan telekomunikasi mendukung perkembangan teknologi internet. Dengan internet pelaku bisnis tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh informasi apapun, untuk menunjang aktivitas bisnisnya, bahkan sekarang cenderung dapat diperoleh berbagai macam informasi, sehingga informasi harus disaring untuk mendapatkan informasi yang tepat dan relevan. Hal tersebut mengubah abad informasi menjadi abad internet. 

Penggunaan internet dalam bisnis berubah dari fungsi sebagai alat untuk pertukaran informasi secara elektronik menjadi alat untuk aplikasi strategi bisnis, seperti: pemasaran, penjualan, dan pelayanan pelanggan. Pemasaran di Internet cenderung menembus berbagai rintangan, batas bangsa, dan tanpa aturan-aturan yang baku. Sedangkan pemasaran konvensional, barang mengalir dalam partai-partai besar, melalui pelabuhan laut, pakai kontainer, distributor, lembaga penjamin, importir, dan lembaga bank. Pemasaran konvensional lebih banyak yang terlibat dibandingkan pemasaran lewat internet. Pemasaran di internet sama dengan direct marketing, dimana konsumen berhubungan langsung dengan penjual, walaupun penjualnya berada di luar negeri. “Pengguna internet di seluruh dunia berkisar 200 juta, 67 juta diantaranya berada di Amerika Serikat, internet di Indonesia berlipat dua kali setiap 100 hari” (Rhenald, 2000). 

Penggunaan internet telah mengalami perkembangan yang luar biasa di bidang bisnis terutama pada perusahaan skala besar. Sejak ditemukannya teknologi internet tersebut pada tahun 1990-an penggunaannya meluas karena dipandang memberikan manfaat yang sangat besar bagi kelancaran proses kegiatan bisnis/usaha. 

Motivasi dan manfaat e-commerce dalam meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan serta meningkatkan daya saing perusahaan dalam hal ini menjadi sudut pandang dari penulis yang dijadikan sebagai obyek dalam penelitian ini. Melihat kenyataan tersebut, maka penerapan teknologi e-commerce merupakan salah satu faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan suatu produk dari sebuah perusahaan. Untuk mempercepat dan meningkatkan penjualan cepat maka dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat tersebut kita dapat memanfaatkan suatu layanan secara on-line yang berupa e-commerce. Selama ini, sistem penjualan dari pelanggan yang digunakan oleh perusahaan hanya bersifat secara tertulis dan manual, yang tidak jarang cenderung menyesatkan. Dengan adanya layanan jasa berupa e-commerce yang dapat secara cepat dapat dinikmati oleh pelanggan maupun perusahaan sendiri maka segala layanan yang diinginkan oleh para pelanggan dapat segera ditindak lanjuti dengan secepat mungkin, sehingga perusahaan tersebut akan mampu memberikan pelayanan yang terbaik dan tercepat bagi para pelanggan. 

Dengan pemanfaatan dan penggunaan teknologi internet diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar terhadap dunia bisnis yang kompetitif tersebut. Perusahaan yang mampu bersaing dalam kompetisi tersebut adalah perusahaan yang mampu mengimplementasikan teknologi dan informasi kedalam perusahaannya. Salah satu jenis implementasi teknologi dalam hal meningkatkan persaingan bisnis dan penjualan produk-produk adalah dengan menggunakan electronic commerce (e-commerce) untuk memasarkan berbagai macam produk atau jasa, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Dalam penggunaan teknologi tersebut, berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan seperti investor, konsumen, pemerintah akan ikut berperan. 

Dengan semakin matangnya teknologi internet dan web, teknologi-teknologi ini meningkatkan kemampuan perusahaan yang canggih dalam hal komunikasi bisnis dan dalam hal kemampuannya berbagi informasi, selain itu berbagi sumber daya lain yang bernilai. Ide dasar serta manfaat e-commerce dalam meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan serta meningkatkan daya saing perusahaan dalam hal ini menjadi sudut pandang dari penulis yang dijadikan sebagai obyek dalam tulisan ini. 

Melihat kenyataan tersebut, maka penerapan teknologi e-commerce merupakan salah satu faktor yang penting untuk menunjang keberhasilan suatu produk dari sebuah perusahaan. Untuk mempercepat dan meningkatkan penjualan cepat maka dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat tersebut dapat memanfaatkan suatu layanan secara on-line yang berupa e-commerce. Dengan adanya layanan electronic commerce (e-commerce) ini maka pelanggan dapat mengakses serta melakukan pesanan dari berbagai tempat. Dengan adanya era teknologi yang canggih saat ini para pelanggan yang ingin mengakses e-commerce tidak harus berada di suatu tempat, hal itu dikarenakan di kota kota besar di Indonesia telah banyak tempat tempat yang menyediakan suatu fasilitas akses internet hanya dengan menggunakan laptop/notebook ataupun dengan Personal Digital Assistant (PDA) dengan menggunakan teknologi wifi. Maka dari itu saat sekarang sangat diperlukan dan diminati perusahaan-perusahaan yang menerapkan layanan e-commerce. Penggunaan e-commerce di Indonesia masih sangat terbatas. Dari latar belakang yang ada maka penulis akan membahas bagaimana pemanfaaatan e-commerce dalam kepentingan bisnis mereka
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Residu Zinc Bacitracin Dalam Daging, Hati Dan Ginjal Ayam Yang Diberi Feed Additive Zinc Bacitracin Selama 6 Minggu

Admin Add Comment

RESIDU ZINC BACITRACIN DALAM DAGING, HATI DAN GINJAL AYAM YANG DIBERI FEED ADDITIVE ZINC BACITRACIN SELAMA 6 MINGGU 


Pemakaian antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dapat menimbulkan efek samping, antara lain residu pada produk akhir hasil ternak yang berupa telur, daging dan susu (Anonimus, 1994). Indrawani (1987) dalam penelitiannya menyatakan, pemberian feed additive Oksitetrasiklin dan Spiramycin selama 8 minggu akan meninggalkan residu di dalam hati dan daging ayam yang lebih besar dibanding dengan jika pemberian feed additive hanya 4 minggu. 

Residu antibiotik bila termakan konsumen dapat menimbulkan reaksi alergi dan keracunan serta perkembangan kuman yang resisten terhadap antibiotik (Kusumaningsih, dkk., 1996). Antibiotik di dalam tubuh ayam akan dimetabolisir dan diekskresi keluar tubuh, sehingga bila dilakukan penghentian pemberian antibiotik sebagai feed additive, maka kadar residu di dalam jaringan tubuh ayam diharapkan akan menurun. 

Pemakaian antibiotik dalam bidang peternakan perlu diperhatikan waktu hentinya pemberian antibiotik tersebut, yaitu jarak antara pemberian antibiotik terakhir sampai dengan produk ternak tersebut (daging, telur dan susu) boleh dikonsumsi manusia (Kusumaningsih, dkk., 1996).

Bacitracin terutama bersifat bakterisidal terhadap kuman Gram positip, termasuk Staphyllococcus resisten Penicillin. Bacitracin dikatakan tidak mudah menimbulkan hipersensitifitas (Brooks et al., 1996). Setelah pemberian Bacitracin pada hewan secara parenteral, Bacitracin akan ditemukan di dalam urine, ginjal, darah, empedu, paru-paru, sumsum tulang , kulit, otot, otot jantung, hati, limpa, cairan cerebrospinal dan otak (Wilson dan Schild, 1961). 

Penggunaan Bacitracin di dalam pakan ternak terutama ternak babi dan ayam adalah dalam bentuk Zinc bacitracin (Burger, 1960; Foye, 1974). Peneraan residu antibiotik pada produk akhir ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain secara tidak langsung (dilusi sensitivitas kuman) dengan bantuan spektrofotometer. 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya residu Zinc bacitracin serta waktu hilangnya residu antibiotik tersebut dari tubuh ayam yang telah diberi feed additive Zinc bacitracin selama 6 minggu.Bacitracin terutama bersifat bakterisidal terhadap kuman Gram positip, termasuk Staphyllococcus resisten Penicillin. 

Bacitracin dikatakan tidak mudah menimbulkan hipersensitifitas (Brooks et al., 1996). Setelah pemberian Bacitracin pada hewan secara parenteral, Bacitracin akan ditemukan di dalam urine, ginjal, darah, empedu, paru-paru, sumsum tulang , kulit, otot, otot jantung, hati, limpa, cairan cerebrospinal dan otak (Wilson dan Schild, 1961). 


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

IMPROVING PRONUNCIATION ABILITY USING CARTOON FILMS

Admin Add Comment

IMPROVING PRONUNCIATION ABILITY USING CARTOON FILMS 

(Lengkap sampai daftar pustaka)

CHAPTER I INTRODUCTION 

A. The Background of the Study 


Indonesia is the country where English is positioned as a foreign language. Considering the importance of English, Indonesian government has decided to put English as one of the subjects which is taught in the school from kindergarten until university level. English is considered as important subject to learn since many fields in human life especially education uses English as the language to communicate and to share knowledge and information.

The main goal of language teaching is to enable the students to communicate with others. Furthermore the goal of language teaching and learning English lesson for Junior High School in KTSP 2007 is as follows: Membina keterampilan berbahasa dan berkomunikasi secara lisan dan tertulis untuk menghadapi perkembangan ipteks dalam menyongsong era globalisasi. (Suparman, 2007)

It can be concluded that Junior High School students must develop their competence in global communication and must improve their comprehension of relationship between language and the technology. It means that Junior High School students need to learn English in order to develop their communicative competence to learn knowledge and technology. Nowadays, many occupations require people who are able to master both oral and written English. This opportunity makes mastering English is a must for the students.

Teaching and learning English in Junior High School is different from teaching and learning English in kindergarten and elementary school viewed from the teaching method and the materials. There are more aspects that have to be considered. Teaching method has a close relationship to students’ psychology. The teacher has to consider about the psychological aspect of the teenagers like them when he delivers the materials. They are neither children nor adult. So, it needs appropriate treatments and appropriate media to teach them.

The complexity of English materials in Junior High School is showed in the structure, vocabularies and pronunciation that are more complex than those in kindergarten and primary school. The teacher needs to know the basic competence of Junior High School in order to make an effective teaching learning process. 

English is considered the difficult subjects for most of Junior High School students in Indonesia since it is simply different from their first and second language. That is why most of them often make some mistakes in producing oral and written English although every aspects of this language have been taught since primary school. To find out the biggest problem faced by the students, the researcher conducts pre-research in Junior High School that will be as the object of the research.




KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA

Admin Add Comment
PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA

PENDAHULUAN 

Pengamatan yang dilakukan pada pembelajaran menulis di kelas II SDN Margorejo IV, menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mendeskripsikan benda sangat rendah. Terbukti dari 40 siswa, yang tidak tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 70), sebanyak 24 siswa atau 60 % . Diduga masalah yang mendasari kurang maksimalnya siswa dalam menulis deskripsi adalah siswa kesulitan menemukan ciri-ciri benda yang dideskripsikan karena tidak ada objek yang diamati , siswa kesulitan menemukan kosa kata yang tepat untuk menunjang kegiatan pembelajaran menulis deskripsi, dan selama ini guru melaksanakan pembelajaran tanpa menggunakan media sehingga pembelajaran kurang menarik. 

Berdasarkan kenyataan di atas, diasumsikan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa dengan menggunakan media yang sesuai agar kompetensi dasar tentang Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar secara sederhana dengan bahasa tulis di kelas II dapat mencapai ketuntasan. Media yang dipilih adalah kartu bergambar binatang yang akan dideskripsikan siswa. Kartu bergambar ini dibuat untuk membantu/ memudahkan siswa menemukan ciri-ciri binatang yang dideskripsikan dan merangsang siswa untuk mengembangkan lebih banyak kosa kata kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat sederhana. 

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA
Di samping itu, dengan bantuan media kartu bergambar siswa juga dapat mendeskripsikan binatang secara lebih terperinci/ detail berdasarkan pengamatannya melalui pancaindera. Berangkat dari latar belakang tersebut maka dipandang perlu melakukan penelitian dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas II SDN Margorejo IV Surabaya. 

Atas dasar rumusan masalah, peneliti berpendapat bahwa penggunan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis deskripsi sangat diperlukan, serta pelaksanaan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dapat memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Cara pemecahan masalah yang dimaksud adalah penggunaan media kartu bergambar yang membantu siswa untuk mendeskripsikan binatang dengan lebih terperinci atau mendetail berdasarkan pengamatannya melalui pancaindera. 

Sesuai dengan latar belakang yang telah dipaparkan dan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan penelitian ini adalah: 
(a) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya; 
(b) Mendeskripsikan hasil belajar menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar; 
(c) Mendeskripsikan kendala yang ditemui saat pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya dan cara mengatasinya. 

METODE 

Penelitian dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas II SDN Margorejo IV Surabaya tahun pelajaran 2011 – 2012 ini, merupakan Penelitian tindakan kelas yang menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif karena menggunakan pengukuran untuk menentukan persentase pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar siswa.Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya tahun pelajaran 2011-2012, yang berjumlah 40 siswa. Terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. 

Pemilihan subjek berdasarkan ditemukannya permasalahan yang kronis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu kemampuan menulis deskripsi, sehingga dibutuhkan penanganan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui sebuah penelitian tindakan kelas. Adapun lokasi penelitian adalah SDN Margorejo IV Surabaya yang beralamat di Jl. Bendul Merisi Besar no 82 kecamatan Wonocolo Surabaya. Menurut Arikunto (2009:2-3) penelitian tindakan kelas dalam istilah bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. 

Dikarenakan ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan: 
(a) Penelitian- menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti; 
(b) Tindakan-menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa; 
(c) Kelas- dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. 

Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama pula Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti di atas yaitu Penelitian, tindakan, dan kelas segera dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.

Sedangkan menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Kunandar, 2008: 70), penelitian tindakan kelas terdiri atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus yang berulang. Tetapi di kemudian hari telah disepakati bahwa antara pelaksanaan dan observasi dilakukan bersamaan, jadi dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga kegiatan utama yang ada pada setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pada pembahasan ini disajikan rekapitulasi data yang menjelaskan bahwa media kartu bergambar dapat membantu meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam menulis deskripsi. Data yang dibahas dalam pembahasan ini adalah data yang diperoleh dari observasi kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media kartu bergambar untuk


PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Admin Add Comment
PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN


PENDAHULUAN

Pendidikan adalah kunci pokok dalam mengembangkan potensi diri melalui usaha yang terencana agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan anak usia dini sangat penting, mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini, sehingga Montessori (Ecka W. Pramita, 2010: 16) masa kanak-kanak disebut sebagai periode emas pendidikan. 

Pada periode inilah semua kehidupan pribadi seseorang anak manusia dimulai, dibentuk, dan diarahkan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Salah satu aktivitas rutin yang dilakukan di Taman Kanak-kanak adalah mewarnai. Aktivitas mewarnai lazimnya sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, bukan hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu kosong anak, tapi juga sebagai aktualisasi diri anak dalam bidang seni. Apalagi gambar yang diwarnai anak adalah hasilnya sendiri, maka akan lebih terlihat imajinasi dan pikiran anak. Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi S. (2010: 7.4) 

“Kegiatan mewarnai akan mengajak kepada anak bagaimana mengarahkan kebiasaan-kebiasaan anak dalam mewarnai dengan spontan menjadi kebiasaan-kebiasaan menuangkan warna yang mempunyai nilai pendidikan”. Ada beberapa alat warna yang biasanya digunakan dalam mewarnai, seperti: pensil warna, spidol warna, cat air, cat minyak, dan crayon (pastel). Diantara beberapa alat tersebut, Philip Berril (2009: 8) “memilih crayon sebagai alat gambar yang lebih menyenangkan, karena selain murah, dan mudah digunakan”. Crayon terdiri atas crayon lunak, crayon keras, dan pensil crayon. Dari ketiga jenis crayon tersebut, yang banyak digunakan oleh anak usia dini adalah crayon keras, yang biasanya berbentuk kotak, dan terutama berbahan dasar kapur. 

PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Dalam aktivitas mewarnai, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal mewarnai, ada anak yang dapat mewarnai dengan kombinasi warna yang bervarasi, ada pula yang mewarnai satu objek dengan satu warna saja. Hal tersebut peneliti temukan dalam aktivitas mengajar sehari-hari di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. Dari 14 anak di kelas B3, terdapat hanya 5 anak yang memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang menarik, dan 9 anak yang hanya memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang kurang menarik. Hal tersebut diduga terjadi karena kurangnya pengajaran mewarnai yang bersifat variasi yang menarik, seperti: menggunakan efek gradasi warna, dan cenderung lebih membebaskan anak mewarnai secara mandiri. 

Melihat permasalahan diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Mewarnai Gambar Untuk Meningkatkan Motorik Halus Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak”. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang: (a) Perencanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (b) Pelaksanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (c) Peningkatan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. 

METODE PENELITIAN 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang” (Sugiyono, 2008:65). Bentuk penelitian ini adalah bentuk penelitian tindakan kelas. “PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas” (Asmani, 2011: 18). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). 

Penelitian tindakan kelas berusaha mengkaji, merefleksi secara kritis dan kolaboratif suatu rencana pembelajaran terhadap kinerja guru, interaksi antara guru dengan anak, serta interaksi antar anak di dalam kelas. Metode penelitian tindakan kelas ini menekankan pada suatu kajian yang benar-benar dari situasi alamiah di kelas. Ini sejalan dengan pendapat Asmani (2011: 91) yang menyatakan bahwa “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi di dalam sebuah kelas”. 

Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus dan pada tiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Tiap siklus terdiri atas empat tahap kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang dilakukan adalah bertolak dari permasalahan yang akan dipecahkan, kemudian merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya.

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH

Admin Add Comment

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
BAB SATU
PENDAHULUAN 


1.1 Latar Belakang

Asuransi merupakan salah satu lembaga keuangan yang dapat menghimpun dana dalam jumlah besar, yang digunakan untuk membiayai pembangunan. Selain itu lembaga asuransi juga bermanfaat bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam bisnis asuransi, karena sesungguhnya asuransi bertujuan memberikan perlindungan atas keuangan yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak diduga sebelumnya. (Ktut Silvanita Mangani, 2009: 190) 

Menurut Undang-undang No. 2/1992 tentang usaha perasuransian pasal 1 ayat 1, “menjelaskan asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidakpasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas kematian dan hidupnya seseorang yang dipertanggungkan” (Ade Arthesa & Edia Handiman, 2009:236). 

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
Di Indonesia di kenal dua jenis asuransi, yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Asuransi konvensional adalah sebuah mekanisme perpindahan resiko oleh sebuah organisasi dapat diubah dari pihak tidakpasti. Asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan resiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan perserta dan operator (Iqbal Muhaimin, 2004:2- 4). 

Dari sudut pandang ekonomi, asuransi adalah mengurangi ketidakpastian dengan pengalihan dan penggabungan (penghimpun dana) dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Tujuan dari sudut pandang ekonomi adalah mengurangi ketidakpastian dari hasil usaha yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan asuransi dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan. 

Adapun asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Dari pengertian diatas terlihat dengan jelas bahwa terdapat empat pihak yang terlihat dalam asuransi, yaitu: 

  1. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji akan membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau mengangsur. 
  2. Pihak penanggung (insurer) yang berjanji akan memberikan proteksi tertanggung (insured) yang menerima proteksi. 
  3. Peristiwa (accident), yang tidak diduga atau yang tidak diketahui sebelumnya, peristiwa yang memungkinkan terjadinya kerugian. 
  4. Kepentingan (interest), yang mungkin dapat mengalami kerugian yang disebabkan oleh peristiwa yang terjadi (Thamrin Abdullah & Francis Tantri, 2009: 210).
PT. Sun Life Financial Indonesia merupakan perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan beragam produk proteksi serta pelayanan nasabah, baik individu maupun korporasi. Sun Life Financial dan mitranya telah beroperasi di sejumlah pasar utama di seluruh dunia, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Hongkong, Filipina, Jepang, Indonesia, India, Cina, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Bermuda. Sejak tahun 1995, PT. Sun Life Financial Indonesia hadir dengan beragam macam produk dan manajemen kekayaan, mulai dari asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua. Sebagai perusahaan asuransi yang terkemuka, PT Sun Life Financial terus berfokus pada nasabah dengan menawarkan berbagai produk inovatif yang mampu melindungi jiwa untuk masa depan, beberapa pilihan produk investasi pada PT. Sun Life Financial Syariah di antaranya Brilliance Hasanah Sejahtera (BHS), Brilliance adalah sebuah kombinasi dari produk asuransi jiwa dengan beragam pilihan produk investasi untuk memenuhi kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang, dengan memperhatikan profil risiko pribadi dalam berinvestasi dan kebutuhan setiap individu. 


PT. Sun Life Financial Syariah merupakan satu jenis simpanan berjangka panjang dengan prinsip bagi hasil, yang menggunakan akad tabarru’ dan akad tijarah, di peruntukan bagi nasabah prioritas menengah ke bawah sampai menengah ke atas, minimal premi yang harus di bayar dalam produk Brilliance Hasanah Sejahtera adalah 500.000/bulan (Pedoman PT. Sun Life Financial Syariah, 2006).
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH

Admin Add Comment

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH


BAB SATU 
PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang
Bisnis syariah saat ini berkembang pesat di Indonesia, baik dilakukan oleh entitas syariah maupun yang belum. Ketertarikan terhadap bisnis syariah terutama disebabkan oleh karena bisnis ini dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah yang memiliki kecendrungan berperilaku baik dan taat azas, yang merupakan bagian dari penegakan iman dan takwa. Dengan demikian akan terwujud bisnis yang berkembang dengan tetap berlandaskan pada kaidah-kaidah syariah dan tidak hanya bertujuan untuk keberhasilan materi (keuntungan) semata tetapi juga spritual yang menjamin kelangsungan hidup usaha dalam jangka panjang. Tidak terkecuali dalam sektor asuransi, bisnis asuransi syariah telah menjadi perhatian di kalangan para pelaku dan regulator industri perasuransian. Sedemikian ekslusifnya sehingga regulasi pun diatur tersendiri, seperti dalam hal syarat permodalan, pengukuran tingkat kesehatan dan juga dari sisi organ pada aspek pengawasan usaha. Tentu bagi mereka yang masih awam, muncul rasa ingin tahu tentang seluk beluk asuransi syariah khususnya dari sisi kelebihannya dibanding asuransi konvensional (Amrin, 2011: 10). 

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
Asuransi syariah sering dikenal dengan istilah at-takaful yang artinya menjamin atau saling menanggung. (Sula, 2004: 33) mengartikan takaful dalam pengertian muamalah adalah saling memikul resiko diantara sesama orang, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Sedangkan pengertian asuransi syariah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 21/DSNMUI/III/2002 tentang asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tententu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariah. 

Kebutuhan jasa perasuransian makin dirasakan, baik oleh perorangan maupun dunia usaha di Indonesia. Asuransi merupakan sarana financial dalam tata kehidupan baik dalam menghadapi resiko yang mendasar seperti resiko kematian atau dalam menghadapi resiko atas harta benda yang dimiliki, demikian pula dunia usaha dalam menjalankan kegiatannya menghadapi berbagai resiko yang mungkin dapat mengganggu kesinambungan usaha. Semakin hari produk asuransi yang dipasarkan semakin variatif dan sudah di modifikasi dengan jenis produk keuangan lainnya. Berkembangnya perusahaan di bidang asuransi syariah di Indonesia, mengharuskan perusahaan asuransi lebih kreatif dalam memasarkan produk dengan pemilihan strategi pemasaran yang tepat dan sesuai dengan pasar sehingga sasaran yang ditetapkan tercapai (Huda, 2017: 1). 

Strategi pemasaran merupakan suatu bentuk atau rencana yang mengintegrasi tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh. Suatu strategi mempunyai dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju, jadi pada dasarnya strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan (Chatab, 2007: 10). 

Setiap perusahaan asuransi syariah harus mempunyai strategi pemasaran untuk meningkatkan pesertanya. Bagi lembaga keuangan non- bank yang merupakan badan usaha yang berorientasi profit, kegiatan pemasaran sudah merupakan suatu kebutuhan utama dan keharusan untuk dijalankan agar mengalihkan perhatian masyarakat untuk menggunakan produk yang tersedia pada instansi tersebut. Termasuk salah satunya pada PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma Cabang Banda Aceh yang berusahan melakukan berbagai strategi pemasaran untuk menarik minat masyarakat. Dalam menarik minat masyarakat PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma mempunyai berbagai macam produk untuk menunjang kebutuhan masyarakat, produk tersebut diharapkan dapat memfasilitasi untuk memenuhi keinginan masyarakat. 

Dalam memasarkan produk PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma Cabang Banda Aceh menggunakan strategi bauran pemasaran atau marketing mix yang tepat untuk mengenalkan produk-produk kepada masyarakat. Adapun salah satu produk yang ditawarkan pada PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma adalah produk Brilliance Hasanah Sejahtera. Produk Brilliance Hasanah Sejahtera merupakan produk asuransi jiwa dan investasi dengan pembayaran berkala untuk membantu masyarakat mencapai kebutuhan keuangannya dimasa depan seperti biaya pendidikan, modal usaha, ibadah haji, pernikahan anak, dana hari tua dan lainnya yang di kelola dengan menerapkan akad wakalah bil ujrah dimana dana yang disetorkan oleh peserta nantinya akan dikelola oleh pihak PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma dengan diinvestasikan pada pasar modal dalam instrumen syariah yang kepemilikannya langsung atas nama peserta, jadi PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma hanya bertugas sebagai pengelola dengan mendapatkan ujrah.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)

Admin Add Comment

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)

BAB I PENDAHULUAN 


1.1 Latar Belakang
Menjalani kehidupan kita sehari hari, mungkin banyak resiko kehidupan yang ada halnya kita tidak ketahui di luar sana. Resiko yang tidak kita senangi atau merugikan kita, kapan saja dapat menimpa kita dalam kondisi apapun. Adapun mungkin tiba-tiba saja saat kita sedang melalukan kegiatan rutinitas kita seperti biasa, di saat itulah resiko yang sangat kita tidak inginkan itu terjadi dan menimpa kita ataupun orang-orang terdekat kita. Di saat itulah kita harus selalu siap sedia untuk menjaga agar resiko-resiko itu tidak terlalu merugikan kita dalam financial kita. 

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)
Asuransi adalah salah satu bentuk dari sebuah pengendalian resiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan resiko yang di alami si tertanggung ke penanggung. Dibutuhkann asuransi untuk memperisapkan diri apabila resiko yang tidak kita inginkan itu terjadi. Hal tersebut yang dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi dalam menjalankan usahanya. Masyarakat kini telah banyak menyadari bahwa asuransi itu berguna untuk mengurangi resiko yang ditanggung apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah menggunakan asuransi masyarakat dapat membuat perencanaan keuangan apabila kemungkinan terjadinya resiko telah dipersiapkan sebelumnya. Maka masyarakat dapat lebih memikirkan tentang masa depan. Asuransi menjadi mekanisme pemindahan/pelimpahan resiko dari jiwa seseorang (tertanggung) kepada perusahaan asuransi jiwa(penanggung). Tujuan memiliki asuransi untuk memastikan atau tujuan jangka panjang dapat terpenuhi.

Perkembangan saat ini terdapat dua jenis asuransi yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Sebenarnya kedua jenis asuransi tersebut tidak terlalu beda jauh namun memang ada beberapa hal yang bertolak belakang sehingga perlu ada beberapa hal yang harus disesuaikan terlebih dahulu. Asuransi konvensional dimulai dari masyarakat Babilonia 4.000-3.000 SM dan itu dulu disebut dengan perjanjian Hammurabi. 

Asuransi sendiri masuk ke Indonesia pada masa zaman penjajahan Belanda. Hadirnya keberadaan asuransi di Indonesia akibat dari berhasilnya Belanda dalam sektor perkebunan dan perdagangan di Indonesia pada masa tersebut. Asuransi syariah sudah dikenal pada zaman Rasulullah yang dikenal dulu sebagai sistem Al-Aqilah. Ide pokok dari Aqilah sendiri adalah suku Arab zaman dahulu harus melakukan kontribusi finansial atas Nama yang bertanggung jawab untuk membayar pewaris yang di tanggung jawabkan. 

Sistem ini dulu sudah menjadi kebiasaan suku Arab sebelum masuknya Islam dan kemudian disahkan oleh Rasulullah sebagai hukum Islam yang dibuat oleh Rasulullah dalam bentuk konstitusi pertama di dunia. Asuransi syariah di Indonesia diawali. Pada tahun 1994. Dan pada saat itu asuransi syariah yang pertama kali hadir di Indonesia itu adalah PT. Syarikat Takaful Indonesia pada tanggal 24 Februari 1994 yang dimotori oleh lembaga Ikatan Cendikiawan. 

PT. Sun Life Financial sudah beroperasi dalam bidang asuransi sudah sejak dari tahun 1865 dan masuk di Indonesia pada tahun 1995. Dan sekarang PT. Sun Life Financial tidak hanya memiliki asuransi konvensional, mereka sudah memiliki asuransi yang berbasis syariah. Banyak konsumen yang sudah tau dengan hadirnya
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

.