PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA

Admin Add Comment
PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA

PENDAHULUAN 

Pengamatan yang dilakukan pada pembelajaran menulis di kelas II SDN Margorejo IV, menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mendeskripsikan benda sangat rendah. Terbukti dari 40 siswa, yang tidak tuntas mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 70), sebanyak 24 siswa atau 60 % . Diduga masalah yang mendasari kurang maksimalnya siswa dalam menulis deskripsi adalah siswa kesulitan menemukan ciri-ciri benda yang dideskripsikan karena tidak ada objek yang diamati , siswa kesulitan menemukan kosa kata yang tepat untuk menunjang kegiatan pembelajaran menulis deskripsi, dan selama ini guru melaksanakan pembelajaran tanpa menggunakan media sehingga pembelajaran kurang menarik. 

Berdasarkan kenyataan di atas, diasumsikan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa dengan menggunakan media yang sesuai agar kompetensi dasar tentang Mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar secara sederhana dengan bahasa tulis di kelas II dapat mencapai ketuntasan. Media yang dipilih adalah kartu bergambar binatang yang akan dideskripsikan siswa. Kartu bergambar ini dibuat untuk membantu/ memudahkan siswa menemukan ciri-ciri binatang yang dideskripsikan dan merangsang siswa untuk mengembangkan lebih banyak kosa kata kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat sederhana. 

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS DESKRIPSI SISWA KELAS II SDN MARGOREJO IV SURABAYA
Di samping itu, dengan bantuan media kartu bergambar siswa juga dapat mendeskripsikan binatang secara lebih terperinci/ detail berdasarkan pengamatannya melalui pancaindera. Berangkat dari latar belakang tersebut maka dipandang perlu melakukan penelitian dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas II SDN Margorejo IV Surabaya. 

Atas dasar rumusan masalah, peneliti berpendapat bahwa penggunan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis deskripsi sangat diperlukan, serta pelaksanaan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dapat memotivasi siswa untuk lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Cara pemecahan masalah yang dimaksud adalah penggunaan media kartu bergambar yang membantu siswa untuk mendeskripsikan binatang dengan lebih terperinci atau mendetail berdasarkan pengamatannya melalui pancaindera. 

Sesuai dengan latar belakang yang telah dipaparkan dan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan penelitian ini adalah: 
(a) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya; 
(b) Mendeskripsikan hasil belajar menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya dalam pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar; 
(c) Mendeskripsikan kendala yang ditemui saat pelaksanaan pembelajaran dengan penggunaan media kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya dan cara mengatasinya. 

METODE 

Penelitian dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas II SDN Margorejo IV Surabaya tahun pelajaran 2011 – 2012 ini, merupakan Penelitian tindakan kelas yang menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif karena menggunakan pengukuran untuk menentukan persentase pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar siswa.Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas II SDN Margorejo IV Surabaya tahun pelajaran 2011-2012, yang berjumlah 40 siswa. Terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. 

Pemilihan subjek berdasarkan ditemukannya permasalahan yang kronis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu kemampuan menulis deskripsi, sehingga dibutuhkan penanganan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui sebuah penelitian tindakan kelas. Adapun lokasi penelitian adalah SDN Margorejo IV Surabaya yang beralamat di Jl. Bendul Merisi Besar no 82 kecamatan Wonocolo Surabaya. Menurut Arikunto (2009:2-3) penelitian tindakan kelas dalam istilah bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR). Dari namanya sudah menunjukkan isi yang terkandung di dalamnya, yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. 

Dikarenakan ada tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, maka ada tiga pengertian yang dapat diterangkan: 
(a) Penelitian- menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti; 
(b) Tindakan-menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa; 
(c) Kelas- dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. 

Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran dari guru yang sama pula Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti di atas yaitu Penelitian, tindakan, dan kelas segera dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.

Sedangkan menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Kunandar, 2008: 70), penelitian tindakan kelas terdiri atas rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus yang berulang. Tetapi di kemudian hari telah disepakati bahwa antara pelaksanaan dan observasi dilakukan bersamaan, jadi dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga kegiatan utama yang ada pada setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan observasi, dan refleksi. 

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Pada pembahasan ini disajikan rekapitulasi data yang menjelaskan bahwa media kartu bergambar dapat membantu meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa dalam menulis deskripsi. Data yang dibahas dalam pembahasan ini adalah data yang diperoleh dari observasi kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media kartu bergambar untuk


PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Admin Add Comment
PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN


PENDAHULUAN

Pendidikan adalah kunci pokok dalam mengembangkan potensi diri melalui usaha yang terencana agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan anak usia dini sangat penting, mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini, sehingga Montessori (Ecka W. Pramita, 2010: 16) masa kanak-kanak disebut sebagai periode emas pendidikan. 

Pada periode inilah semua kehidupan pribadi seseorang anak manusia dimulai, dibentuk, dan diarahkan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Salah satu aktivitas rutin yang dilakukan di Taman Kanak-kanak adalah mewarnai. Aktivitas mewarnai lazimnya sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, bukan hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu kosong anak, tapi juga sebagai aktualisasi diri anak dalam bidang seni. Apalagi gambar yang diwarnai anak adalah hasilnya sendiri, maka akan lebih terlihat imajinasi dan pikiran anak. Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi S. (2010: 7.4) 

“Kegiatan mewarnai akan mengajak kepada anak bagaimana mengarahkan kebiasaan-kebiasaan anak dalam mewarnai dengan spontan menjadi kebiasaan-kebiasaan menuangkan warna yang mempunyai nilai pendidikan”. Ada beberapa alat warna yang biasanya digunakan dalam mewarnai, seperti: pensil warna, spidol warna, cat air, cat minyak, dan crayon (pastel). Diantara beberapa alat tersebut, Philip Berril (2009: 8) “memilih crayon sebagai alat gambar yang lebih menyenangkan, karena selain murah, dan mudah digunakan”. Crayon terdiri atas crayon lunak, crayon keras, dan pensil crayon. Dari ketiga jenis crayon tersebut, yang banyak digunakan oleh anak usia dini adalah crayon keras, yang biasanya berbentuk kotak, dan terutama berbahan dasar kapur. 

PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Dalam aktivitas mewarnai, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal mewarnai, ada anak yang dapat mewarnai dengan kombinasi warna yang bervarasi, ada pula yang mewarnai satu objek dengan satu warna saja. Hal tersebut peneliti temukan dalam aktivitas mengajar sehari-hari di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. Dari 14 anak di kelas B3, terdapat hanya 5 anak yang memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang menarik, dan 9 anak yang hanya memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang kurang menarik. Hal tersebut diduga terjadi karena kurangnya pengajaran mewarnai yang bersifat variasi yang menarik, seperti: menggunakan efek gradasi warna, dan cenderung lebih membebaskan anak mewarnai secara mandiri. 

Melihat permasalahan diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Mewarnai Gambar Untuk Meningkatkan Motorik Halus Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak”. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang: (a) Perencanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (b) Pelaksanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (c) Peningkatan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. 

METODE PENELITIAN 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang” (Sugiyono, 2008:65). Bentuk penelitian ini adalah bentuk penelitian tindakan kelas. “PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas” (Asmani, 2011: 18). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). 

Penelitian tindakan kelas berusaha mengkaji, merefleksi secara kritis dan kolaboratif suatu rencana pembelajaran terhadap kinerja guru, interaksi antara guru dengan anak, serta interaksi antar anak di dalam kelas. Metode penelitian tindakan kelas ini menekankan pada suatu kajian yang benar-benar dari situasi alamiah di kelas. Ini sejalan dengan pendapat Asmani (2011: 91) yang menyatakan bahwa “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi di dalam sebuah kelas”. 

Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus dan pada tiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Tiap siklus terdiri atas empat tahap kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang dilakukan adalah bertolak dari permasalahan yang akan dipecahkan, kemudian merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya.

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH

Admin Add Comment

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
BAB SATU
PENDAHULUAN 


1.1 Latar Belakang

Asuransi merupakan salah satu lembaga keuangan yang dapat menghimpun dana dalam jumlah besar, yang digunakan untuk membiayai pembangunan. Selain itu lembaga asuransi juga bermanfaat bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam bisnis asuransi, karena sesungguhnya asuransi bertujuan memberikan perlindungan atas keuangan yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak diduga sebelumnya. (Ktut Silvanita Mangani, 2009: 190) 

Menurut Undang-undang No. 2/1992 tentang usaha perasuransian pasal 1 ayat 1, “menjelaskan asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidakpasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas kematian dan hidupnya seseorang yang dipertanggungkan” (Ade Arthesa & Edia Handiman, 2009:236). 

APLIKASI AKAD TIJARAH DAN AKAD TABARRU’ DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA (BHS) PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
Di Indonesia di kenal dua jenis asuransi, yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Asuransi konvensional adalah sebuah mekanisme perpindahan resiko oleh sebuah organisasi dapat diubah dari pihak tidakpasti. Asuransi syariah adalah suatu pengaturan pengelolaan resiko yang memenuhi ketentuan syariah, tolong menolong secara mutual yang melibatkan perserta dan operator (Iqbal Muhaimin, 2004:2- 4). 

Dari sudut pandang ekonomi, asuransi adalah mengurangi ketidakpastian dengan pengalihan dan penggabungan (penghimpun dana) dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama. Tujuan dari sudut pandang ekonomi adalah mengurangi ketidakpastian dari hasil usaha yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan asuransi dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan. 

Adapun asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset dan tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Dari pengertian diatas terlihat dengan jelas bahwa terdapat empat pihak yang terlihat dalam asuransi, yaitu: 

  1. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji akan membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau mengangsur. 
  2. Pihak penanggung (insurer) yang berjanji akan memberikan proteksi tertanggung (insured) yang menerima proteksi. 
  3. Peristiwa (accident), yang tidak diduga atau yang tidak diketahui sebelumnya, peristiwa yang memungkinkan terjadinya kerugian. 
  4. Kepentingan (interest), yang mungkin dapat mengalami kerugian yang disebabkan oleh peristiwa yang terjadi (Thamrin Abdullah & Francis Tantri, 2009: 210).
PT. Sun Life Financial Indonesia merupakan perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan beragam produk proteksi serta pelayanan nasabah, baik individu maupun korporasi. Sun Life Financial dan mitranya telah beroperasi di sejumlah pasar utama di seluruh dunia, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Hongkong, Filipina, Jepang, Indonesia, India, Cina, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Bermuda. Sejak tahun 1995, PT. Sun Life Financial Indonesia hadir dengan beragam macam produk dan manajemen kekayaan, mulai dari asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua. Sebagai perusahaan asuransi yang terkemuka, PT Sun Life Financial terus berfokus pada nasabah dengan menawarkan berbagai produk inovatif yang mampu melindungi jiwa untuk masa depan, beberapa pilihan produk investasi pada PT. Sun Life Financial Syariah di antaranya Brilliance Hasanah Sejahtera (BHS), Brilliance adalah sebuah kombinasi dari produk asuransi jiwa dengan beragam pilihan produk investasi untuk memenuhi kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang, dengan memperhatikan profil risiko pribadi dalam berinvestasi dan kebutuhan setiap individu. 


PT. Sun Life Financial Syariah merupakan satu jenis simpanan berjangka panjang dengan prinsip bagi hasil, yang menggunakan akad tabarru’ dan akad tijarah, di peruntukan bagi nasabah prioritas menengah ke bawah sampai menengah ke atas, minimal premi yang harus di bayar dalam produk Brilliance Hasanah Sejahtera adalah 500.000/bulan (Pedoman PT. Sun Life Financial Syariah, 2006).
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH

Admin Add Comment

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH


BAB SATU 
PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang
Bisnis syariah saat ini berkembang pesat di Indonesia, baik dilakukan oleh entitas syariah maupun yang belum. Ketertarikan terhadap bisnis syariah terutama disebabkan oleh karena bisnis ini dijalankan sesuai prinsip-prinsip syariah yang memiliki kecendrungan berperilaku baik dan taat azas, yang merupakan bagian dari penegakan iman dan takwa. Dengan demikian akan terwujud bisnis yang berkembang dengan tetap berlandaskan pada kaidah-kaidah syariah dan tidak hanya bertujuan untuk keberhasilan materi (keuntungan) semata tetapi juga spritual yang menjamin kelangsungan hidup usaha dalam jangka panjang. Tidak terkecuali dalam sektor asuransi, bisnis asuransi syariah telah menjadi perhatian di kalangan para pelaku dan regulator industri perasuransian. Sedemikian ekslusifnya sehingga regulasi pun diatur tersendiri, seperti dalam hal syarat permodalan, pengukuran tingkat kesehatan dan juga dari sisi organ pada aspek pengawasan usaha. Tentu bagi mereka yang masih awam, muncul rasa ingin tahu tentang seluk beluk asuransi syariah khususnya dari sisi kelebihannya dibanding asuransi konvensional (Amrin, 2011: 10). 

STRATEGI PEMASARAN DAN IMPLEMENTASI AKAD WAKALAH BIL UJRAH DALAM PRODUK BRILLIANCE HASANAH SEJAHTERA PADA PT. SUN LIFE FINANCIAL SYARIAH
Asuransi syariah sering dikenal dengan istilah at-takaful yang artinya menjamin atau saling menanggung. (Sula, 2004: 33) mengartikan takaful dalam pengertian muamalah adalah saling memikul resiko diantara sesama orang, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Sedangkan pengertian asuransi syariah menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) No. 21/DSNMUI/III/2002 tentang asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru' yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tententu melalui akad (perikatan) yang sesuai syariah. 

Kebutuhan jasa perasuransian makin dirasakan, baik oleh perorangan maupun dunia usaha di Indonesia. Asuransi merupakan sarana financial dalam tata kehidupan baik dalam menghadapi resiko yang mendasar seperti resiko kematian atau dalam menghadapi resiko atas harta benda yang dimiliki, demikian pula dunia usaha dalam menjalankan kegiatannya menghadapi berbagai resiko yang mungkin dapat mengganggu kesinambungan usaha. Semakin hari produk asuransi yang dipasarkan semakin variatif dan sudah di modifikasi dengan jenis produk keuangan lainnya. Berkembangnya perusahaan di bidang asuransi syariah di Indonesia, mengharuskan perusahaan asuransi lebih kreatif dalam memasarkan produk dengan pemilihan strategi pemasaran yang tepat dan sesuai dengan pasar sehingga sasaran yang ditetapkan tercapai (Huda, 2017: 1). 

Strategi pemasaran merupakan suatu bentuk atau rencana yang mengintegrasi tujuan-tujuan utama, kebijakan-kebijakan dan rangkaian tindakan dalam suatu organisasi menjadi suatu kesatuan yang utuh. Suatu strategi mempunyai dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju, jadi pada dasarnya strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan (Chatab, 2007: 10). 

Setiap perusahaan asuransi syariah harus mempunyai strategi pemasaran untuk meningkatkan pesertanya. Bagi lembaga keuangan non- bank yang merupakan badan usaha yang berorientasi profit, kegiatan pemasaran sudah merupakan suatu kebutuhan utama dan keharusan untuk dijalankan agar mengalihkan perhatian masyarakat untuk menggunakan produk yang tersedia pada instansi tersebut. Termasuk salah satunya pada PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma Cabang Banda Aceh yang berusahan melakukan berbagai strategi pemasaran untuk menarik minat masyarakat. Dalam menarik minat masyarakat PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma mempunyai berbagai macam produk untuk menunjang kebutuhan masyarakat, produk tersebut diharapkan dapat memfasilitasi untuk memenuhi keinginan masyarakat. 

Dalam memasarkan produk PT. Sun Life Financial KPM Navara Al Uzma Cabang Banda Aceh menggunakan strategi bauran pemasaran atau marketing mix yang tepat untuk mengenalkan produk-produk kepada masyarakat. Adapun salah satu produk yang ditawarkan pada PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma adalah produk Brilliance Hasanah Sejahtera. Produk Brilliance Hasanah Sejahtera merupakan produk asuransi jiwa dan investasi dengan pembayaran berkala untuk membantu masyarakat mencapai kebutuhan keuangannya dimasa depan seperti biaya pendidikan, modal usaha, ibadah haji, pernikahan anak, dana hari tua dan lainnya yang di kelola dengan menerapkan akad wakalah bil ujrah dimana dana yang disetorkan oleh peserta nantinya akan dikelola oleh pihak PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma dengan diinvestasikan pada pasar modal dalam instrumen syariah yang kepemilikannya langsung atas nama peserta, jadi PT. Sun Life Financial Syariah KPM Navara Al Uzma hanya bertugas sebagai pengelola dengan mendapatkan ujrah.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)

Admin Add Comment

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)

BAB I PENDAHULUAN 


1.1 Latar Belakang
Menjalani kehidupan kita sehari hari, mungkin banyak resiko kehidupan yang ada halnya kita tidak ketahui di luar sana. Resiko yang tidak kita senangi atau merugikan kita, kapan saja dapat menimpa kita dalam kondisi apapun. Adapun mungkin tiba-tiba saja saat kita sedang melalukan kegiatan rutinitas kita seperti biasa, di saat itulah resiko yang sangat kita tidak inginkan itu terjadi dan menimpa kita ataupun orang-orang terdekat kita. Di saat itulah kita harus selalu siap sedia untuk menjaga agar resiko-resiko itu tidak terlalu merugikan kita dalam financial kita. 

ANALISIS PERBANDINGAN ANTARA ASURANSI KONVENSIONAL DENGAN ASURANSI SYARIAH (Studi pada PT. Sun Life Financial)
Asuransi adalah salah satu bentuk dari sebuah pengendalian resiko yang dilakukan dengan cara mengalihkan resiko yang di alami si tertanggung ke penanggung. Dibutuhkann asuransi untuk memperisapkan diri apabila resiko yang tidak kita inginkan itu terjadi. Hal tersebut yang dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi dalam menjalankan usahanya. Masyarakat kini telah banyak menyadari bahwa asuransi itu berguna untuk mengurangi resiko yang ditanggung apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah menggunakan asuransi masyarakat dapat membuat perencanaan keuangan apabila kemungkinan terjadinya resiko telah dipersiapkan sebelumnya. Maka masyarakat dapat lebih memikirkan tentang masa depan. Asuransi menjadi mekanisme pemindahan/pelimpahan resiko dari jiwa seseorang (tertanggung) kepada perusahaan asuransi jiwa(penanggung). Tujuan memiliki asuransi untuk memastikan atau tujuan jangka panjang dapat terpenuhi.

Perkembangan saat ini terdapat dua jenis asuransi yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Sebenarnya kedua jenis asuransi tersebut tidak terlalu beda jauh namun memang ada beberapa hal yang bertolak belakang sehingga perlu ada beberapa hal yang harus disesuaikan terlebih dahulu. Asuransi konvensional dimulai dari masyarakat Babilonia 4.000-3.000 SM dan itu dulu disebut dengan perjanjian Hammurabi. 

Asuransi sendiri masuk ke Indonesia pada masa zaman penjajahan Belanda. Hadirnya keberadaan asuransi di Indonesia akibat dari berhasilnya Belanda dalam sektor perkebunan dan perdagangan di Indonesia pada masa tersebut. Asuransi syariah sudah dikenal pada zaman Rasulullah yang dikenal dulu sebagai sistem Al-Aqilah. Ide pokok dari Aqilah sendiri adalah suku Arab zaman dahulu harus melakukan kontribusi finansial atas Nama yang bertanggung jawab untuk membayar pewaris yang di tanggung jawabkan. 

Sistem ini dulu sudah menjadi kebiasaan suku Arab sebelum masuknya Islam dan kemudian disahkan oleh Rasulullah sebagai hukum Islam yang dibuat oleh Rasulullah dalam bentuk konstitusi pertama di dunia. Asuransi syariah di Indonesia diawali. Pada tahun 1994. Dan pada saat itu asuransi syariah yang pertama kali hadir di Indonesia itu adalah PT. Syarikat Takaful Indonesia pada tanggal 24 Februari 1994 yang dimotori oleh lembaga Ikatan Cendikiawan. 

PT. Sun Life Financial sudah beroperasi dalam bidang asuransi sudah sejak dari tahun 1865 dan masuk di Indonesia pada tahun 1995. Dan sekarang PT. Sun Life Financial tidak hanya memiliki asuransi konvensional, mereka sudah memiliki asuransi yang berbasis syariah. Banyak konsumen yang sudah tau dengan hadirnya
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Tertanggung dalam Klaim Asuransi Kesehatan (Studi pada PT. Sun Life Financial)

Admin Add Comment

Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Tertanggung dalam Klaim Asuransi Kesehatan (Studi pada PT. Sun Life Financial


BAB I 
PENDAHULUAN 
A. LATAR BELAKANG 

Jiwa dan kesehatan seseorang dapat di asuransikan untuk keperluan orang yang berkepentingan, baik untuk selama hidupnya maupun waktu yang ditentukan dalam perjanjian. Adanya kenyataan bahwa setiap hari manusia selalu dihadapkan pada resiko jatuh sakit atau kecelakaan dan harus dirawat dirumah sakit.Sementara biaya berobat ke rumah sakit semakin lama semakin mahal sehingga sulit terjangkau oleh oranh-orang dengan penghasilan biasa. Maka kebutuhan akan jenis auransi yang dapat mengcover resiko kehilangan keuangan (financial loss) akibat tingginya biaya berobat ini semakin besar pula. 

Tinjauan Yuridis Terhadap Hak Tertanggung dalam Klaim Asuransi Kesehatan (Studi pada PT. Sun Life Financial
Setiap orang dapat mengasuransikan dirinya, asuransi jiwa dan kesehatan bahkan dapat diadakan untuk kepentingan pihak ketiga. Asuransi jiwa dan kesehatan bahkan dapat diadakan selama hidup atau selama jangka waktu tertentu yang ditetapkan dalam perjanjian. Pihak-pihak yang mengikatkan diri secara timbale balik itu disebut penanggung dan tertanggun .Penanggung dengan menerima premi memberikan pembayaran tanpa menyebutkan kkepada orang yang ditunjuk sebagai penikmatnya. 

Hal ini untuk menghindari atau memperkecil adanya kemungkinan tidak diduga, oleh karena itu apabila mereka tidak melimpahkan resiko tersebut kepada perusahaan asuransi akan jauh lebih besar kemungkinan kerugian yang diderita dalam kehidupan pribadinya karena kehidupan manusia sejak lahir sampai meninggal selalu dikelilingi suatu resiko akan menderita bermacam-macam kerugian sebagai akibat dari suatu peristiwa yang tidak diduga sebelumnya. Salah satu subsistem yang terdapat dalam Sistem kesehatan ialah Subsistem Pembiayaan Kesehatan maka untuk dapat memahami dengan lengkap Sistem kesehatan perlulah dipahami pula tentang Sub sistem Pembiayaan Kesehatan tersebut. Posisi,makna dan hakekat kesehatan adalah hak bagi seluruh warganegara dan investasi bagi bangsa negara untuk hari ini dan masa kedepan, oleh karena itu tentunya semua warga Negara berhak atas kesehatannya, terlebih khusus bagi masyarakat. 

Maka di perlukan suatu system yang mengatur pelaksanaan bagi upaya pemenuhan hak warga Negara untuk tetap hidup sehat, dengan mengutamakan pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat3 Pemerintah dalam memandang pelayanan jaminan kesehatan yang termandatkan dalam Undang-Undang Dasar 19945 pasal 28 h dan pasla 34 ayat (2) serta Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2013 tentang Jaminan Sosial Nasional telah mengamanatkan tentang system jaminan sosial yang bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup byang layak bagi setiap peserta dan anggota keluarganya. Jaminan Sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar terpenuhi kebutuhan daar hidupnya yang layak
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

Penerapan strategi segmentation, targetting, dan positioning dalam memasarkan produk Sirela (Simpanan Sukarela Lancar) di KJKS BMT Al-Hikmah Ungaran Cabang Babadan

Admin Add Comment

Penerapan strategi segmentation, targetting, dan positioning dalam memasarkan produk Sirela (Simpanan Sukarela Lancar) di KJKS BMT Al-Hikmah Ungaran Cabang Babadan
BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah.

Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada system ekonomi yang salam keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian dan kesejahteraan.Penghimpunan dana diperoleh melalui simpanan pihak ketiga dan penyaluran dilakukan dalam bentuk pembiayaan atau investasi yang dijalankan berdasarkan syariat islam.

Penerapan strategi segmentation, targetting, dan positioning dalam memasarkan produk Sirela (Simpanan Sukarela Lancar) di KJKS BMT Al-Hikmah Ungaran Cabang Babadan
Secara kelembagaan KJKS adalah usaha ekonomi rakyat kecil yang beranggotaan orang-orang atau suatu badan hukum berdasarkan prinsip syariah dan prinsip koperasi. Karena KJKS berkedudukan sebagai badan hukum koperasi yang terlindungi dengan Undang-Undang NO. 25 tahun 1992 tentang pokok perkoperasian, namun dari segi operasionalnya KJKS mempunyai system yang sama dengan bank muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yaitu berdasarkan prinsip syariah.

Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Al-HIKMAH ungaran merupakan lembaga intermediasi untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dan menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan. KJKS dalam menjalankan kegiatan usahanya mempunyai beberapa produk simpanan diantaranya SI RELA (Simpanan Suka Rela Lancar), SIMPEL (Simpanan Pelajar), SISUQUR (Simpanan Sukarela Qurban), SIHAJI (Simpanan Ibadah Haji), SIUMROH (Simpanan Ibadah Umroh). 

Berdasarkan pengalaman penulis ketika magang di KJKS BMT ALHIKMAH Ungaran ketertarikan penulis terhadap salah satu produk penghimpunan dana yaitu produk tabungan syariah yang disebut SIRELA (Simpanan Sukarela Lancar) dimana dalam pelaksanaannya produk ini menggunakan akad wadi’ah yad dhomanah. Wadi’ah yad dhomanah yaitu titipan barang atau harta yang diamanatkan kepada orang lain untuk dijaga, tetapi si penerima titipan boleh menggunakan barang atau harta tersebut untuk dikelola supaya mendapatkan keuntungan dari barang atau harta yang telah dikelola tersebut.

Dalam kerangka pengerahan dana wadi’ah ini, atas seizin penitip BMT dapat mengelola dan hanya untuk tujuan komersial, sehingga bila kemudian diperoleh keuntungan BMT dapat memberikan bonus yang besarnya tidak boleh ditetapkan secara pasti dimuka dengan kalkulator angka-angka rupiah atau prosentase atas nilai pokok dana wadi’ah, misalnya sekian atau sekian. 

Kelebihan produk SIRELA ini dirancang dengan menggunakan system jemput bola dimana anggota tidak perlu susah payah atau repot datang ke kantor untuk menabung karena para staff marketing akan mendatangi secara langsung kepada anggota sehingga memudahkan mereka untuk mempercayakan dana yang ditabungnya. Produk SIRELA ini juga untuk membantu masyarakat yang mempunyai kelebihan dana agar dapat tersimpan dengan aman dan dapat diambil sewaktu-waktu ketika dibutuhkan. Kelebihan yang lain dalam produk SIRELA ini yaitu tidak dikenakannya biaya administrasi bulanan dan mendapat fee atau bonus sesuai dengan nisbah yang ada di BMT AL-HIKMAH Ungaran atas dana yang tersimpan. 

Sistem operasional yang baik dan manajemen sumber daya manusia yang patut dihandalkan telah membuat produk SIRELA ini banyak digemari dan sudah terealisasi dengan lancar di masyarakat sekitar. Tentunya para staff marketing yang telah bekerja dengan professional yang telah menyebarluaskan adanya produk ini sehingga masyarakat ikut andil menjadi anggota dan mempercayakan dananya untuk disimpan di BMT Al-HIKMAH ini. 

Setelah berbagai macam penelitian terdahulu yang sudah mengkaji mengenai stretegi pemasaran terhadap produk SIRELA ini, penelitbermaksud ingin meneliti lebih dalam mengenai teori pemasaran Strategi STP (segmentation, targetting, dan positioning) terhadap penerapannya di BMT Al- HIKMAH Ungaran yang penulis tuangkan dalam Tugas Akhir yang berjudul, ”PENERAPAN STRATEGI SEGMENTATION, TARGETTING, DAN POSITIONING DALAM MEMASARKAN PRODUK SIRELA (SIMPANAN SUKARELA LANCAR) DI KJKS BMT AL- HIKMAH UNGARAN CABANG BABADAN”.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

ANALISIS PENGARUH STRATEGI POSITIONING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN STARBUCKS COFFEE

Admin Add Comment

ANALISIS PENGARUH STRATEGI POSITIONING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN STARBUCKS COFFEE



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Persaingan yang semakin tinggi menuntut adanya keunggulan bersaing yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan dan membutuhkan strategi pemasaran yang tepat. Suatu perencanaan strategi pemasaran tidak lepas dari sisi konsumen, sebab konsumen mempunyai peranan penting, dimana konsumen sebagai alat ukur dalam menentukan keberhasilan suatu barang atau jasa (Lilik Suprapti, 2010:1). 

Jumlah pesaing yang semakin banyak membuat pelanggan memiliki pilihan yang banyak pula untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan harapannya. Sehingga akibat dari kondisi tersebut pelanggan menjadi lebih cermat dan pintar menghadapi setiap produk yang diluncurkan. Salah satu cara agar pelanggan tetap memilih produk tertentu adalah dengan membuat perbedaan antara produknya dengan produk sejenis atau yang menjadi penggantinya. Hermawan Kartajaya (2008:133) mengatakan, “It’s better to be a little bit different than to be a little bit better”. Menurut Hermawan, akan lebih baik sebuah produk menawarkan hal yang berbeda dari produk lainnya, daripada menawarkan hal serupa namun lebih baik dari pesaingnya.

Kegiatan pemasaran menjadi tolak ukur suatu perusahaan dalam proses penyampaian produk kepada pelanggan serta pencapaian tujuan perusahaan berupa penjualan produk yang optimal. Sebelum meluncurkan produknya perusahaan harus mampu melihat atau mengetahui apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Sehingga sudah sewajarnya jika segala kegiatan perusahaan harus selalu dicurahkan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan kemudian konsumen akan memutuskan membeli produk tersebut. Dan pada akhirnya tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba akan tercapai. 
ANALISIS PENGARUH STRATEGI POSITIONING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA KONSUMEN STARBUCKS COFFEE DI MAKASSAR


Konsumen sebagai individu dalam mendapatkan atau membeli barang telah melalui proses-proses atau tahapan-tahapan terlebih dahulu seperti mendapat informasi baik melalui iklan atau referensi dari orang lain kemudian membandingkan produk satu dengan produk lain sampai akhirnya pada keputusan membeli produk tersebut. Para pemasar harus memahami setiap sisi perilaku konsumen. Perusahaan yang cerdas akan mencoba memahami sepenuhnya proses pengambilan keputusan pelanggan yaitu semua pengalaman mereka dalam belajar, memilih, menggunakan, bahkan dalam mendisposisikan suatu produk (Kotler, 2007:234). 

Untuk memenangkan persaingan tidak hanya sebatas menyusun bauran pemasaran sebagai taktik namun lebih dari itu juga menyusun strategi yaitu segmentasi (segmenting), dan target (targeting) pasar yang dituju, serta posisi (positioning) yang diinginkan oleh perusahaan dibenak konsumen. Inti dari setiap strategi pemasaran yang baik adalah suatu strategi pencapaian posisi secara tepat. Istilah positioning mengandung arti bagaimana suatu produk didefinisikan oleh konsumen melalui sifat-sifat pentingnya dibenak konsumen yang dimiliki oleh produk tersebut. 

Seperti yang dilakukan oleh Starbucks Coffee Company, mereka menganggap semua bagian dari bisnis itu adalah penting. Manajemen Starbucks paham bahwa keunggulan kompetitif lahir bila semua pihak dalam perusahaan
 berpandangan bahwa tidak ada hal sepele dan bahwa pelanggan memperhatikan segalanya. (Joseph A. Michelli 2007: 56). Starbucks Corporation (NASDAQ: SBUX) adalah sebuah jaringan kedai kopi dari Amerika Serikat yang bermarkas di Seattle, Washington. Starbucks adalah perusahaan kedai kopi terbesar di dunia, dengan 15.012 kedai di 44 negara. (http://id.wikipedia.org/wiki/Starbucks) 

Starbucks Coffee merupakan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis Coffee Retail, dimana perusahaan menyediakan hidangan kopi siap minum dengan ragam cara dan rasa yang digiling, dipanggang serta diseduh dari biji-biji kopi terbaik di seluruh dunia. Dengan pesatnya perkembangan industri ini, Starbucks Coffee perlu menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam upaya menghadapi serangan pesaingnya. Salah satu satrategi untuk menunjang kesuksesan pemsarannya adalah dengan strategi Segmenting, Targeting, dan Positioning. 

Menurut Hermawan Kartajaya (2006:16), Starbucks dengan slogan positioning-nya “The World‟s Finest Coffee Experience”, Starbucks mampu secara unik memosisikan diri bukan sebagai warung atau restoran kopi yang mengagung-agungkan keenakan kopinya, tetapi lebih sebagai tempat menikmati “pengalaman ngopi”. Melalui positioning-nya, ia ingin mengatakan kepada setiap pelanggannya bahwa mereka akan menikmati pengalaman see and to be seen dan bukan sekedar kopi yang enak. Starbucks tidak hanya menyajikan produk kopi bagi pelanggannya, tapi produk jasa berupa kepedulian terhadap kenyamanan pelanggan. 

Positioning yang tepat dan diferensiasi yang kuat menciptakan brand image dan brand identity yang kuat di benak pelanggannya (Kartajaya, 2004:39). Brand image (Citra Merek) merupakan sekumpulan keyakinan, ide, kesan dan persepsSE seseorang, suatu komunitas/masyarakat tentang suatu brand (Jemi Flavius, 2012:2). Citra merek dapat menciptakan sebuah hubungan sentimen antara konsumen dengan merek berdasarkan pengalaman pelanggan yang dapat menghasilkan kepercayaan dan rasa suka terhadap suatu produk. 

Berbagai upaya dilakukan perusahaan dalam rangka mempertahankan Citra merek yang mereka miliki, termasuk Starbucks, di antaranya inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk tersebut, penetapan harga yang bersaing dan promosi yang tepat sasaran. Semakin baik citra merek suatu produk yang dijual maka akan berdampak pada keputusan pembelian oleh konsumen. Namun, banyak juga perusahaan yang belum menyadari bahwa membangun citra merek dalam benak konsumen bukan hanya sebatas melalui iklan dan promosi saja. Ada faktor lain yang juga berdampak besar, seperti halnya desain kemasan produk, termasuk isi tulisan/pesan pada kemasan, fitur/fasilitas yang terdapat dalam produk tersebut, dan makin banyak lagi yang berhubungan dengan kualitas produk tersebut. 

Starbucks dikenal dengan citra sebagai perusahaan global, produk yang berkualitas dan konsumen dari kalangan menengah ke atas. Starbucks tidak memasarkan atau mempromosikan nama brand-nya secara direct marketing, tetapi lebih suka untuk membangun brand /merek secara mulut ke mulut dengan pelanggan dan bergantung pada word of mouth dan daya tarik tokonya
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

ANALISIS SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING DAN MARKETING MIX PADA PT.MURNI JAYA

Admin Add Comment

ANALISIS SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING DAN MARKETING MIX PADA PT.MURNI JAYA
I. PENDAHULUAN 


Pada dasarnya, setiap perusahaan mempunyai strategi dalam berbisnis, baik perusahaan berskala kecil, menengah, ataupun besar. Di era globalisasi saat ini, perusahaan harus mampu untuk mengaplikasikan strategi analisis yang efektif guna mengindentifikasi apakah harus mengembangkan, mempertahankan, atau malah menarik diri dari pasar. Hal ini terjadi karena persaingan bisnis yang kian ketat di berbagai jenis industri, tak terkecuali industri makanan dan minuman yang ada di Indonesia. Berdasarkan siaran pers bulan Agustus 2015 (sumber: www.kemenperin.go.id) yang dilakukan di Cikarang dengan ijin penyebarluasan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, industri makanan dan minuman di Indonesia diakui turut menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Salah satu sub sektor yang terus bergeliat adalah industri produksi kecap dan bumbu. Dalam siarannya di tahun 2015, terdapat 94 unit usaha industri kecap dan 56 unit usaha bumbu masak skala menengah-besar. Selama enam tahun terakhir ini, nilai bisnis kecap di Indonesia juga mengalami peningkatan dari Rp. 3,21 triliun pada tahun 2008 hingga bernilai Rp. 7,14 triliun pada tahun 2013. Persaingan bisnis kecap di pasar domestik yang semakin kompetitif merupakan dampak dari banyaknya pemain baru yang sudah concern ikut ambil bagian di industri ini, dan mulai menjadi follower mencoba besarnya business value di industri ini. Namun, faktanya tidak sedikit perusahaan yang masih baru sukses meng-create pasarnya secara brilian, bahkan menggeser pemain lama. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran dari pemain lama untuk mempertahankan bisnisnya maupun mencoba mengembangkan bisnisnya. Jika dilihat dari pertumbuhan industri yang meningkat, untuk dapat bertahan dalam pasar, maka perusahaan harus semakin kompetitif dalam persaingan bisnis. Menurut Frumkin dan Sosa (2014), analisis kompetitif memiliki tiga tujuan utama yang pertama adalah untuk mengukur risiko yang terkait dengan kondisi pasar saat ini dan kemungkinan keberhasilan, yang kedua adalah untuk mengungkap wawasan penting dalam hal kualitas dan kelayakan inovasi organisasi, dan yang terakhir adalah untuk menggunakan kesimpulan dari kedua tujuan sebelumnya untuk mengembangkan strategi organisasi yang memaksimalkan dampak. Dalam artikelnya, Kokemuller (2016) menyatakan bahwa positioning analysis adalah sebuah proses dari analisis bagaimana sebuah brand perusahaan saat ini diterima oleh pasar. Ketika mengidentifikasi peluang pangsa pasar, sebuah perusahaan perlu untuk membandingkan apakah brand tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan pasar. Terutama untuk bisnis kecil menginginkan pangsa pasar yang menawarkan sebuah peluang bagus untuk kesuksesan. Dengan ini, perusahaan akan mampu untuk lebih tepat menentukan strategi yang akan dipakai nantinya. 

Nazarpoori et al. dalam Journal of Asian Scientific Reseach (2014) menyatakan bahwa posisi kompetitif adalah konsep yang sangat umum dimana pengukurannya memerlukan analisis dan pengakuan dari komponen organisasi, masing-masing dianggap sebagai konsep yang luas yang menekankan pada sejumlah elemen. Definisi dari komponen model terpilih termasuk pangsa pasar, kepuasan pelanggan, kualitas produk, dan daya saing. Komponen ini yang nantinya menjadi faktor untuk memetakan posisi kompetitif perusahaan di pasar saat ini yang mana competitive positioning akan berpengaruh pada kinerja perusahaan. Posisi kompetitif dalam sebuah industri menarik perhatian sebagai penentu utama dari profitabilitas perusahaan (Korkmaz dan Messner, 2008). Berdasarkan asumsi dasar penelitian yang dilakukan oleh Karol Sledzik (2014), perusahaan yang paling berinovasi mempunyai posisi kompetitif di pasar. Hal itu memungkinkan karena perusahaan yang paling berinovasi harus mengkomersilkan inovasi yang menghasilkan level tinggi dalam penjualan, keuntungan, cash flow, dan lain-lain. Dengan kata lain, banyak sekali komponen yang dapat dijadikan sebagai faktor pemetaan strategi dari suatu perusahaan. 

Sebuah positioning yang efektif membantu untuk memandu strategi pemasaran dengan mengklarifikasi esensi / inti brand, apakah tujuan itu membantu pencapaian konsumen, dan bagaimana itu bekerja dalam cara yang unik. (Kotler & Keller, 2009). Pernyataan ini didukung oleh penelitian dari Sotiriadis dan Varvaressos (2015), dimana semua rencana, perencana, manajer, dan pemasaran harus menanggung isu-isu dan tantangan untuk mencapai sebuah posisi kompetitif yang berkelanjutan dalam industri. Oleh karenanya, perusahaan butuh untuk merumuskan dan menerapkan strategi positioning yang efektif untuk mengembangkan beberapa keuntungan kompetitif supaya berhasil di pasar (Chowdhury, 2013). 

Salah satu bisnis industri kecap yang ada yaitu PT. Murni Jaya. PT. Murni Jaya bergerak dalam produksi kecap lokal, di mana lokasi produksinya terdapat di Kediri, Jawa Timur. Persaingan penjualan dinilai pemilik PT.Murni Jaya sangatlah ketat yang tampak dalam dua tahun terakhir, volume penjualan kecap terus menurun. Saat ini, usaha yang diwariskan secara turun-temurun ini, dari segi proses pengelolaan usaha masih sederhana, di mana hampir secara keseluruhan proses operasionalnya yaitu produksinya menggunakan tenaga manusia. PT. Murni Jaya memproduksi jenis kecap, cap “Menco” kuning dan putih, di mana ukuran kecap yang dijual hanya 1 ukuran besar yaitu 600ml. Sampai saat ini, PT.Murni Jaya mempekerjakan total 50 orang dalam aktivitas baik operasional maupun produksi. Dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana segmentasi,target, dan posisi pasar, serta bauran pemasaran dari PT.Murni Jaya dalam mengembangkan bisnisnya dan memberikan rekomendasi dengan melakukan studi analisis segmenting, targeting, positioning dan marketing mix yang ada di Perusahaan Murni Jaya.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA

STRATEGI SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING SERTA STRATEGI HARGA PADA PERUSAHAAN KECAP BLEKOK DI CILACAP

Admin Add Comment

STRATEGI SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING SERTA STRATEGI HARGA PADA PERUSAHAAN KECAP BLEKOK DI CILACAP
TELAAH TEORITIS 


Strategi Segmenting 

Segmentasi pasar adalah suatu proses untuk membagi-bagi atau mengelompokkelompokkan konsumen ke dalam kotakkotak yang lebih homogen (Kasali, 2001). Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai usaha untuk membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang dapat dibedakan satu sama lain dalam hal kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin akan memerlukan produk-produk dan strategi pemasaran tertentu untuk menjangkaunya (Kotler dan Amstrong, 2001). 

Pada dasarnya segmentasi pasar merupakan suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen pemasaran yang berorientasi pada konsumen. Dengan melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah, dan sumber daya perusahaan di bidang pemasaran dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien (Rismiati dan Suratno, 2001). Tujuan dari segmentasi pasar adalah untuk menghemat usaha-usaha pemasaran dengan menitik beratkan kepada pembeli yang berminat tinggi untuk membeli. Selain itu segmentasi dilakukan untuk menghubungkan antara kebutuhan dengan tindakan. 

Menurut Kasali (2003), sedikitnya ada 5 manfaat yang diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar, yaitu : 

  1. Mendisain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar Hanya dengan memahami segmensegmen yang responsif terhadap suatu stimuli, maka perusahaan dapat mendesign produk sesuai dengan kebutuhan/keinginan segmen tersebut. Jadi perusahaan menempatkan konsumen di tempat utama dalam mendesign produk, dan menyesuaikan produknya untuk memuaskan konsumen (customer satisfaction at a profit). 
  2. Menganalisis pasar. Dengan segmentasi pasar membantu eksekutif mendeteksi siapa saja yang akan menggerogoti pasar produknya. Ingatlah pesaing perusahaan bukanlah semata-mata “mereka yang menghasilkan produk yang sama dengan yang perusahaan sajikan kepada konsumen”. Pesaing perusahaan adalah mereka yang mampu menjadi alternatif bagi kebutuhan konsumen. 
  3. Menemukan peluang (niche). Setelah menganalisis pasar, perusahaan yang menguasai konsep segmentasi yang baik akan sampai pada ide menemukan peluang. Peluang ini tidak selalu sesuatu yang besar, tapi pada masanya ia akan menjadi besar. Perlu diingat konsumen akan selalu belajar mengenali sesuatu atau mengikuti orang lain, atau merasa butuh terhadap suatu produk. 
  4. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif Perusahaan yang menguasai segmen dengan baik umumnya adalah mereka yang paham betul konsumennya dan telah mempelajari pergeseranpergeseran yang terjadi dalam segmennya. 
  5. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien, jika perusahaan tahu persis siapa segmen mereka, maka perusahaan akan tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan para pelanggannya.
Tidak ada cara tunggal untuk membuat segmen pasar. Seorang pemasar harus mencoba variabel segmentasi yang berbeda, sendiri atau dalam kombinasi, mencari cara terbaik untuk memandang struktur pasar. Menurut Kotler dan Amstrong (1997), terdapat empat variabel utama yang mungkin dipergunakan dalam mensegmentasi pasar konsumen yaitu: 


  1. Segmentasi geografik. Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara, regional, negara bagian, kota atau kompleks perumahan. Sebuah perusahaan mungkin memutuskan untuk beroperasi dalam satu atau beberapa wilayah geografik ini, atau beroperasi di semua wilayah, tetapi lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan dan keinginan yang dijumpai. 
  2. Segmentasi demografik. Segmentasi demografik membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti umur, jenis kelamin, besar keluarga, siklus kehidupan keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan. Faktor-faktor demografik merupakan dasar paling populer untuk membuat segmentasi kelompok pelanggan. Salah satu alasan adalah kebutuhan konsumen, keinginan dan tingkat penggunaan seringkali amat dekat dengan variabel demografik. Alasan lain adalah variabel demografik lebih mudah diukur ketimbang tipe variabel yang lain. 
  3. Segmentasi psikografik. Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada karakteristik sosial, gaya hidup atau kepribadian. Orang yang berada dalam kelompok demografik yang sama dapat saja mempunyai ciri psikografik berbeda. 
  4. Segmentasi tingkah laku. Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar. 


Definisi targeting menurut Keegan & Green (2008) adalah proses pengevaluasian segmentasi dan pemfokusan strategi pemasaran pada sebuah negara, propinsi, atau sekelompok orang yang memiliki potensi untuk memberikan respon. 

Target pasar dapat juga diartikan sebagai kegiatan yang berisi dan menilai serta memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki oleh suatu perusahaan. Ada lima faktor yang perlu diperhatikan sebelum menetapkan target pasar yaitu (Rismiati dan Suratno, 2001): 

  1. Ukuran segmen Perkiraan besarnya/ ukuran segmen yang akan dituju merupakan faktor penting untuk memutuskan apakah segmen pasar tersebut cukup berharga untuk ditindak lanjuti. perusahaan yang besar akan memilih segmen dengan volume penjualan besar dan menghindari segmen kecil dan sebaliknya. 
  2. Pertumbuhan segmen Walaupun ukuran segmen saat ini kecil bukan tidak mungkin akan berkembang atau diharapkan dapat berkembang untuk masa mendatang. 
  3. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapai segmen tersebut

.