MEKANISME PENANGANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERMASALAH - Studi pada BMT Syari’ah Pare (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA)

Admin

MEKANISME PENANGANAN PEMBIAYAAN
MURABAHAH BERMASALAH
 (Studi pada BMT Syari’ah Pare)

 ABSTRAK
Problematika kehidupan manusia selalu dilatar  belakangi dengan keadaan perekonomian yang semakin sulit. Mulai dari petani kecil, pengusaha kecil, pedagang kecil dan semua kegiatan yang berskala kecil. Mereka membutuhkan suatu bantuan berupa dana untuk memperlancar usahanya, maka BMT mengembangkan produknya yaitu pembiayaan Murabahah sesuai dengan perkembangan dunia perbankan dalam target peningkatan keuntungan dan mensejahterakan masyarakat. Dengan diberikannya pembiayaan tersebut, terkadang muncul adanya pembiayaan yang bermasalah dikarenakan ada beberapa faktor diantaranya ketidak mampuan nasabah untuk membayar tepat waktu atau jatuh tempo pembayaran dan terkadang diakibatkan dari usaha yang kurang lancar dan lain sebagainya.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan analisis data secara deskriptif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder dengan teknik wawancara dan dokumentasi, yang bertujuan untuk mendiskripsikan faktor yang mengakibatkan pembiayaan murabahah bermasalah pada BMT Syari'ah dan mendiskripsikan  penanganan pembiayaan murabahah  pada BMT Syari'ah. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh  bahwa faktor penyebab pembiayaan murabahah bermasalah yaitu 1). Analisa pembiayaan yang kurang tepat, 2). Kurang atau tidak adanya  kejujuran dari nasabah, 3). Nasabah tidak sungguh –sungguh dalam menjalankan usahanya, 4). Usaha nasabah mengalami bangkrut total, 5).  Karakter dari nasabah itu sendiri. Adapun cara menangani pembiayaan murabahah bermasalah yaitu dengan cara 1). mengidentifikasi karakter dari nasabah itu sendiri dan 2). melakukan pendekatan pada nasabah  kemudian 3).memberikan solusi untuk usaha dengan contoh pihak BMT membantu memasarkan produk nasabahnya.

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar  Belakang
Perekonomian indonesia sejak dahulu berdasarkan pada persatuan usaha kecil baik di daerah kota dan terutama di daerah pedesaan. Mereka adalah para petani kecil, pengusaha kecil, pedagang kecil dan semua kegiatan produksi berskala kecil. Setiap perekonomian merupakan susunan piramidal dengan dasar yang kuat, melebar dan luas, dan merupakan landasan yang luas bagi pembangunan struktur ekonomi. Landasan bagi pembangunan ini adalah pengembangan golongan usaha kecil dengan pemberian pembiayaan untuk usaha-usaha produktif (Faried, 1999:8).
Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Namun, perkembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian, manajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran, keuangan dan Kelemaham dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan.
Bagi pengusaha kecil (PK) dengan omset kurang dari Rp 50 juta per bulan atau lebih dikenal dengan usaha mikro, umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Mereka pada umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi; biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cash flow saja. Bisa dipahami bila pembiayaan dari Bank Berpembiayaanan Rakyat (BPR) (Suhardjono, 2003 : 39).
Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) pada dasarnya merupakan pengembangan dari konsep ekonomi dalam Islam terutama dalam bidang keuangan yang kegiatanya mengelola dana yang bersifat nirlaba (sosial) dan menghimpun, menyalurkan dana masyarakat dan bersifat profit motive. Penghimpunan dana diperoleh melalui simpanan pihak tiga dan penyalurannya dilakukan dalam bentuk pembiayaan atau investasi, yang dijalankan berdasarkan prinsip syari'at.
Sistem bebas bunga atau disebut Bank Syari'ah, memang tidak khusus diperuntukkan untuk sekelompok orang namun sesuai landasan Islam yang "Rahmatan lil 'alamin" tetapi didirikan guna melayani masyarakat banyak tanpa membedakan keyakinan yang dianut.
Pihak swasta secara individual ataupun kelembagaan, kepemilikan dananya juga terbatas untuk memenuhi operasional dan pengembangan usahanya. Dengan keterbatasan kemampuan finansiil lembaga negara dan swasta tersebut, maka penyediaan permodalan pengembangan pada sektor-sektor produktif. Banyak nasabah yang  mempunyai problema untuk memulai sebuah usaha. Maka, ada salah satu produk bank syari'ah yaitu pembiayaan Murabahah. Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan barang modal (investasi). Murabahah sama dengan pembiayaan investasi yang diberikan oleh bank-bank syari'ah dan karenanya pembiayaan ini berjangka waktu di bawah atau diatas satu tahun (long run financing) (Muhammad,2004: 182).
Pembiayaan murabahah adalah pembiayaan dengan sistem jual beli, dimana Unit Simpan Pinjam (USP) Syari'ah dapat membantu anggotanya dengan membiayai pembelian barang yang dibutuhkan modal usaha anggota tersebut (Sholahuddin,2006:118).
Pembiayaan murabahah merupakan perjanjian antara bank dengan nasabahnya. Perjanjian tersebut dalam bentuk pembiayaan pembelian atas sesuatu barang yang dibutuhkan oleh nasabah. Nasabah akan membayar kepada bank sesuai dengan waktu yang telah diperjanjikan (pada tanggal jatuh tempo) dan lazimnya pembiayaan ini merupakan pembiayaan yang pendek (suhrawardi, 2004:62).
 Pada sebagian masyarakat melakukan pembiayaan Murabahah dengan BMT Syari'ah. Dengan ini, mulai dari para petani dan pedagang pasar (usaha kecil) meminjam modal untuk kelancaran dan perluasan usahanya.kebanyakan yang dihadapi masyarakat terletak pada pembiayaan pada dagangannya, kadang-kadang keuntungan dari barang  yang dijual tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan untuk membeli dagangannya.
Menurut Mulyono (1996:10) Pembiayaan adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan ditangguhkan pada jangka waktu yang disepakati.Pada sisi penyaluran dana (Landing of Fund), pembiayaan merupakan pembiayaan yang potensial menghasilkan pendapatan dibandingkan dengan alternatif pendanaan lainnya.
Menurut pasal 1 ayat 11 UU No. 10/1998 tentang perubahan UU No 7/1992 tentang perbankan; pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (Abdullah,2003: 84).
Pembiayaan di BMT juga mengalami masalah walaupun telah dilakukan berbagai analisis secara seksama. Seorang analis pembiayaan tidak dapat memprediksi bahwa pembiayaan selalu berjalan dengan baik, banyak faktor penyebabnya diantarannya kesalahan penggunaan pembiayaan, manajemen yang buruk, dan kondisi perekonomian mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan keuangan debitur dan atas kerugian pembiayaan bank.
Persoalan pokok pembiayaan bermasalah adalah ketidaksediaan debitur untuk melunasi atau ketidaksanggupan untuk memperoleh pendapatan yang cukup untuk melunasi pembiayaan seperti yang telah disepakati (Ibrahim,2004: 109).
Adapun penelitian mengenai dengan judul “Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Permodalan Pada BPRS Bhakti Haji Malang ” (Rahmiati, 2003)   menyatakan bahwa BPRS Bhakti Haji Malang telah mampu memenuhi permodalannya dalam setiap tahunnya. Selain itu, pelaksanaan manajemen pembiayaan dalam mengatasi pembiayaan bermasalah (Ulfa, 2003) juga berperan dalam mengatasi pembiayaan bermasalah dan mampu untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah yang ada di PT. BPR Gunung Ringgit Dinoyo. Sehingga,  dengan empirik menunjukkan adanya konsistensi dengan apa yang diajukan pada pembiayaan murabahah bermasalah arah pengendaliannya positif pada jangka panjang serta mekanisme penanganan memiliki pengaruh positif pada Pembiayaan Murabahah Bermasalah.
Adapun alasan peneliti memilih lokasi adalah BMT Syari'ah Pare yang berdiri pada tanggal 26 April 2001, merupakan BMT yang berprospek lebih baik dari pada BMT yang ada, dapat dilihat pada perkembangan Asset dari Tahun ke Tahun sebagai berikut :





Tabel. 1.1
ASSET BMT Syari'ah Pare pada tahun (2005-2007)

TAHUN
ASSET
2005
Rp. 2.147.536.614.65
2006
Rp. 3.321.110.521.56
2007
Rp. 4.655.300.222.19
                         Sumber : Data dari BMT Syari'ah

Ada enam (6) BMT di Kediri yang lokasinya berbeda-beda, berikut nama-nama BMT tersebut :


Tabel. 1.2
Nama-nama BMT yang  ada di Kediri

No
Nama
Lokasi
1.
BMT SYARI'AH
Pare
2.
BMT WARALABA
Bendo
3.
BMT AMANAH SYARI'AH
Pare
4.
BMT SURYA MELATI
Gurah
5.
BMT AR ROHMAH
Plosoklaten
6.
BMT AS SALAM
Keras
         Sumber : Data hasil wawancara pihak marketing yang diolah.
Berdasarkan latar belakang tersebut salah satunya adalah mekanisme penanganan yang berguna untuk pembiayaan murabahah bermasalah. Dimana ada kebijakan BMT dalam pembiayaan bermasalah. Namun, pada tahun 2008 perlu adanya mekanisme penanganan dengan menggunakan variabel yang sama dengan latar belakang diatas maka penulis mengangkat judul “Mekanisme Penanganan Pembiayaan Murabahah Bermasalah pada BMT Syari'ah Pare“
B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
  1. Faktor apa yang dapat mengakibatkan pembiayaan murabahah bermasalah di BMT Syari'ah Pare?
  2. Bagaimanakah cara menangani pembiayaan murabahah bermasalah di BMT Syari'ah Pare?
C. Tujuan Penelitian.
Berdasakan rumusan masalah diatas , maka dapat diambil suatu tujuan masalah dalam penelitian ini adalah :
  1. Untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mengakibatkan pembiayaan murabahah bermasalah di BMT Syari'ah Pare.
  2. Untuk mendeskripsikan cara menangani pembiayaan murabahah bermasalah di BMT Syari'ah Pare
D. Batasan Penelitian
Penulis membatasi ruang lingkup penelitian agar tidak memperluas permasalahan, yaitu khusus pada mekanisme penanganan pembiayaan murabahah bermasalah pada BMT Syari'ah, mengenai kesesuaiannya dengan pembayaran pembiayaan menurut ketentuan-ketentuan yang telah di tentukan dan disepakati.
E.     Manfaat Penelitian
  1. Bagi penulis
Dengan penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan penulis mengenai pembiayaan murabahah  maupun  murabahah bermasalah dalam BMT atau Bank Syari'ah yang ada.
  1. Bagi Akademisi
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan pemikiran dan pengetahuan bagi akademisi dalam penanganan pembiayaan murabahah bermasalah, sehingga secara otomatis mampu memberikan kontribusi positif bagi pekembangan instrumen  keuangan Syari'ah.
  1. Bagi Praktisi
Untuk memberikan masukan berupa informasi pada para praktisi dalam pembiayaan murabahah,khususnya yang berhubungan dengan penanganan pembiayaan murabahah bermasalah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA.

A. Penelitian Terdahulu.
1. Kajian Empiris Penelitian Terdahulu.
Dalam penelitian yang berjudul "Pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Dalam Mengatasi Pembiayaan Bermasalah" (Ulfa, 2003)  menjelaskan bagaimana mengatasi pembiayaan bermasalah yang mencerminkan pelaksanaan manajemen pembiayaan yang dipengaruhi oleh keterlambatan pembayaran pinjaman. Pelaksanaan manajemen ini adalah mengatasi pembiayaan bermasalah.
Dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Rahmiati, 2003) dengan judul “Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Permodalan Pada BPRS Bhakti Haji Malang ” menyatakan bahwa BPRS Bhakti Haji Malang telah mampu memenuhi permodalannya dalam setiap tahunnya. Ini dapat dilihat dari laporan keuangan pada tahun 2000-2002 dengan menggunakan analisis rasio-rasio yaitu: likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, risiko usaha dan efisiensi usaha.
Sedangkan penelitian ini berjudul "(Kina, 2008) Mekanisme Penanganan Pembiayaan  Murabahah Bermasalah" membahas tentang bagaimana mekanisme sebagai upaya penanganan pembiayaan murabahah bermasalah pada BMT Syari'ah.
Penelitian ini mereplikasi dari penelitian (Ulfa, 2003) dengan judul "Pelaksanaan Manajemen Pembiayaan dalam Mengatasi Pembiayaan Bermasalah" dan (Rahmiati, 2003) dengan judul “Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah  Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Permodalan Pada BPRS Bhakti Haji Malang ” menyatakan bahwa BPRS Bhakti Haji Malang telah mampu memenuhi permodalannya dalam setiap tahunnya
No
Peneliti
Judul
Metode
Hasil
1.
Ulfa (2003)
Pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Dalam Mengatasi Pembiayaan Bermasalah (studi kasus PT. BPR Gunung Ringgit Dinoyo Malang)
Teknik Analisa Data Deskriptif
Manajemen Pembiayaan yang dijalankan oleh PT. BPR Gunung Ringgit Dinoyo Malang mampu dalam mengatasi terjadinya pembiayaan bermasalah di dasarkan pada anlisis 5 C yakni caracter, capacity, capital, collateral, dan condition of economic.
2.
Rahmiati
(2003)
PelaksanaanPembiayaan Murabahah Sebagai Upaya Pemenuhan Kebutuhan Permodalan Pada BPRS Bhakti Haji Malang
Teknik Anlisa Data Deskriptif
Hasil penelitian
menyatakan bahwa BPRS Bhakti Haji Malang telah mampu memenuhi permodalannya dalam setiap tahunnya. Ini dapat dilihat dari laporan keuangan pada tahun 2000-2002 dengan menggunakan analisis rasio-rasio yaitu: likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, risiko usaha dan efisiensi usaha.

3.
Kina (2008)
Mekanisme Penanganan Pembiayaan Murabahah Bermasalah studi pada BMT Syari'ah Pare
Teknik Analisa Data Deskriptif
1. faktor penyebab terjadinya pembiayaan Murabahah bermasalah yaitu kurang jujurnya nasabah dalam melakukan pembiayaan Murabahah di BMT, karakter nasabah yang sulit  dan analisis pembiayaan yang kurang tepat.
2. cara mengatasi pembiayaan bermasalah salah satunya yaitu dengan cara memperpanjang jangka waktu pembayaran.
Sumber  : data diolah oleh peneliti.

          Dilihat dari tabel di atas maka perbedaan penelitian terdahulu dengan yang sekarang adalah peneliti terdahulu menjelaskan tentang cara mengatasi pembiayaan bermasalah di dasarkan pada analisis 5 C dan mengenai pelaksanaan pembiayaan murabahah untuk kebutuhan permodalan. Namun dalam hal ini peneliti hanya ingin menjadikan refrensi sebagai penyelesaian penelitian tentang pembiayaan murabahah bermasalah Obyek penelitian terdahulu pada BPRS Bhakti Haji Malang dan PT. BPR Gunung Ringgit Dinoyo sedangkan penelitian sekarang obyeknya pada BMT Syari'ah Pare Kediri. Persamaannya dengan penelitian yang sekarang sama-sama meneliti tentang pembiayaan bermasalah dan pembiayaan murabahah.

B.      KAJIAN TEORITIS
1.            BAITUL MAAL WA TAMWIL
a.             Pengertian Baitul Maal Wa Tamwil
Baitul Maal Wattamwil dalam istilah indonesia dinamakan dengan Balai Usaha Mandiri terpadu (disingkat BMT). Secara konsepsi BMT adalah suatu lembaga yang didalamnya mencakup dua jenis kegiatan sekaligus (Muhammad, 2000 : 106 ), yaitu :
1)      Kegiatan mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti zakat, infak, sedakah dan lain-lain yang dapat dibagikan/ disalurkan kepada yang berhak menerimanya dalam upaya mengatasi kemiskinan.
2)      Kegiatan produktif, yaitu kegiatan dalam rangka menciptakan nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia.
BMT adalah lembaga pendukung peningkatan kualitas usaha ekonomi pengusaha mikro dan pengusaha kecil bawah yang berlandaskan mekanisme syari’ah. BMT adalah lembaga yang tediri atas dua lembaga yaitu, (Muhammad, 2000 : 113 - 114 )
1)      Baitul Maal, adalah lembaga yang kegiatannya menerima dan menyalurkan dana ZIS.
2)      Baitul Tamwil, adalah lembaga yang kegiatannya mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas usaha ekonomi pengusaha kecil bawah dan mikro dengan mendorong kegiatan menabung dan pembiayaan usaha ekonomi.
B
b.      Fungsi BMT
        Dalam rangka mencapai tujuannya, BMT berfungsi:
1)            Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisasi, mendorong dan mengembangkan potensi serta kemampuan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat dan daerah kerjanya.
2)            Meningkatkan kualitas SDM anggota dan pokusma menjadi lebih profesional dan Islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.
3)            Menggalang dan memobilisasi potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota.
4)            Menjadi perantara keuangan antara aghniya sebagai shohibul maal dengan du’afa sebagai mudhorib, terutama untuk dana-dana sosial seperti zakat, infaq, sedekah, wakaf, hibah, dll.
5)            Menjadi perantara keuangan antara pemilik dana  (shohibul maal), baik sebagai pemodal maupun penyimpan dengan pengguna dana (mudhorib) untuk pengembangan usaha produktif (Ridwan, 2004:131).
d.      Status Dan Badan Hukum BMT
Sebagai organisasi informal dalam bentuk Kelompok Simpan Pinjam (KSP) atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), BMT secara prinsip memiliki mekanisme operasi yang tidak jauh dengan sisitem operasi BPR Syari’ah. Berkenaan dengan itu, Muhammad (200 : 114) berpendapat bahwa badan hukum yang dapat disandang oleh BMT adalah:

Pengolahan SPSS, Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Pengolahan SPSS Dengan SPSS, Pengolahan SPSS Deskriptif, Olah SPSS, Olah SPSS Statistik, Olah SPSS Kuesioner, Olah SPSS Dengan SPSS, Olah SPSS Penelitian, Olah SPSS Skripsi, Olah SPSS Sem, Olah SPSS Jakarta, Olah SPSS Depok, Analisis SPSS, Analisis SPSS Kuantitatif, Analisis SPSS Penelitian, Analisis SPSS Katagorik, Analisis SPSS Statistik, Analisis SPSS SPSS, Analisis SPSS Panel, Jasa Pengolahan SPSS, Jasa Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, Analisis SPSS Penelitian Deskriptif, Analisis SPSS Penelitian Eksperimen, Analisa SPSS Statistik, Olah SPSS Tesis, Pengolaha SPSS Tesis, Regresi, Regresi Linier Berganda, Regresi Linier, Analisa SPSS SEM, Olah SPSS SEM, Pengolahan SPSS SEM, Ahli SEM, Pakar SEM, Konsultan SEM, Belajar SEM, Kursus SEM, Pengolahan SPSS, Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Pengolahan SPSS Dengan SPSS, Pengolahan SPSS Deskriptif, Olah SPSS, Olah SPSS Statistik, Olah SPSS Kuesioner, Olah SPSS Dengan SPSS, Olah SPSS Penelitian, Olah SPSS Skripsi, Olah SPSS Sem, Olah SPSS 
widget by : http://www.rajakelambu.com

Previous
Next Post »
0 Komentar