Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Produk Indofood (Studi Kasus di Pasar Atas Cimahi) - lengkap sampai daftar pustaka

Admin

Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Produk Indofood (Studi Kasus di Pasar Atas Cimahi)




BAB I
 PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan bervariasi saat ini sudah semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya produk-produk makanan yang dijual di pusat-pusat penjualan produk makanan. Kesadaran ini dipengaruhi oleh semakin majunya teknologi informasi di bidang pangan, sehingga masyarakat atau konsumen lebih aware terhadap segala perubahan yang ada. Perubahan-perubahan ini ternyata secara tidak langsung mengubah selera dan kebiasaan masyarakat akan produk pangan yang dikonsumsinya.
Kebiasaan masyarakat dalam mengkongsumsi produk pangan ini juga dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat yang sudah semakin dinamis dikarenakan tuntutan pekerjaan atau customer yang semakin tinggi. Kebutuhan hidup yang semakin tinggi menyebabkan masyarakat melakukan upaya-upaya yang lebih keras untuk menutupi kebutuhannya tersebut. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya seorang ibu rumah tangga yang ikut bekerja untuk membantu suami dalam mencari nafkah.
Seorang ibu rumah tangga yang ikut bekerja untuk membantu suami akan mengakibatkan berkurangnya waktu yang tersedia untuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Hal ini bukan dianggap suatu kendala bagi suatu rumah tangga karena dengan semakin banyaknya anggota yang bekerja di luar, maka tingkat pendapatan keluarga pun akan turut meningkat. Kebutuhan-kebutuhan yang muncul, seperti kebutuhan konsumsi yang semakin tinggi dikarenakan keterbatasan waktu untuk keluarga tersebut tetap dapat dipenuhi oleh keluarga tersebut. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi gaya atau cara konsumsi dari suatu keluarga khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Tingginya aktivitas masyarakat yang didorong oleh semakin tingginya kebutuhan masyarakat ini menyebabkan pola konsumsi pangan masyarakat berubah. Perubahan pola atau gaya hidup, juga menjadi faktor pemicu terjadinya perubahan pola konsumsi. Misalnya, orang zaman sekarang semakin sibuk dengan jam kerja lebih panjang, mendorong mereka untuk memilih makanan yang penyajiannya lebih praktis tapi tetap beragam. Perkembangan konsumsi makanan instan yang berbasis gandum ini dari tahun ke tahun memperlihatkan tren yang positif dan semakin berkembang. Hal ini diperlihatkan pada tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Perkembangan Tingkat konsumsi produk gandum/kapita/tahun
Daerah/makanan
Kota

1993

1996

1999

2002
Terigu (kg)
1,1
1,0
0,9
1,4
Mie instan (kg)
0,16
2,61
2,05
2,82
Mie basah (kg)
-
0,3
0,2
0,3
Mie bakso/rebus/ goreng (porsi)
-
28,5
26,2
26,7
Desa




Terigu (kg)
0,6
0,8
0,6
1,0
Mie instan (kg)
0,07
1,18
1,49
1,5
Mie basah (kg)
-
0,2
0,1
0,2
Mie bakso/rebus/ goreng (porsi)
-
13,6
12,7
13,2
Sumber: Data Susenas, 1993, 1996, 1999, 2002 (diolah)


Pergeseran pola konsumsi masyarakat ini ternyata berdampak positif terhadap industri makanan instan, terutama industri mie instan. Salah satu produsen mie instan terbesar di Indonesia saat ini adalah Indofood. Perusahaan ini menguasai hampir 80 % dari produksi mie instan di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, mie memang sudah menjadi bagian penting dalam pola makan rumah tangga, tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Peran mie memang luwes, tidak hanya sebagai pangan pokok, tetapi dapat pula berperan sebagai lauk-pauk sehingga sering dijumpai masyarakat yang makan nasi dengan lauk mie goreng atau mie kuah.
Hal ini dimungkinkan karena mie dapat diproses dengan mudah, disajikan dengan praktis dan dapat memenuhi selera sebagian besar masyarakat, baik orang dewasa maupun anak-anak. Selain itu, variasi jenis makanan dari gandum ini sangat banyak, ada mie goreng, mie rebus, mie bakso, mie kering, dan mie instan. Jenis makanan asal gandum selain mie seperti roti dan kue juga tersedia dalam berbagai jenis dan bentuk. Promosi mie dengan berbagai jenis produk, ukuran dan harga sangat intensif di berbagai tempat sehingga produk mie baru cepat dikenal oleh masyarakat.
Berkembangnya bisnis di bidang makanan instan, merupakan keadaan yang mendukung kondisi permientaan mie instan di pasar domestik dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi permientaan mie domestik yang tinggi dan  adanya orientasi ekspor ke pasar luar negeri telah menciptakan lahan investasi yang lebih terbuka lebar untuk industri pengolahan mie instan, termasuk perluasan modernisasi industri yang sudah ada. Diversifikasi produk dilakukan para produsen dalam rangka menyesuaikan dengan keinginan pasar sehingga tidak mengherankan jika pasar domestik mudah ditemukan berbagai produk mie instan  dengan berbagai ukuran dan cita rasa.
Semakin banyaknya jenis maupun merek mie instan yang beredar di pasar, maka keberhasilan suatu perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk saja, tetapi sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen yang heterogen, sehingga dapat diketahui dengan jelas kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut sesuai dengan karakteristik dari masing-masing segmen.
PT. Indofood Sukses Makmur bergerak di bidang usaha industri pengolahan makanan yang hampir seluruh produknya menguasai pasar di Indonesia. Produk yang dihasilkan termasuk miee instant (Indomie, Sarimi, Supermi, Cup Noodles, Pop Mie,  Intermie, Sakura). Indofood merupakan produsen mie instant terbesar dengan kapasitas produksi 13 milyar bungkus per tahun. Selain itu Indofood juga mempunyai jaringan distribusi terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. (2004-2006), perkembangan produksi mie instan di Indonesia memperlihatkan suatu peningkatan yang positif, walaupun pada tahun 2006 sempat mengalami suatu penurunan produksi. Secara kuantitas, produksi mie instant dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dengan tren yang positif. Hal ini menunjukkan suatu prospek yang cukup baik bagi industri mie instan ini pada masa yang akan datang.

Tabel 2 Perkembangan Produksi Mie Instan, Tahun 2004-2006
Tahun
Produksi (Ton)
Bungkus (Juta)
Perubahan (%)
2004
2005
2006

650.109,00
738.320,00
817.149,70
9.287,30
10.547,4
11.673,60
-
13,60
10,6
Sumber : PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
Mie instant merupakan salah satu makanan yang sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Mie instant sering dikonsumsi sebagai makanan alternatif pengganti makanan pokok. Sejalan dengan perkembangan produksi mie instan produksi tepung terigu juga mengalami peningkatan. Hal ini karena bahan baku dasar mie instan adalah tepung terigu. Peningkatan produksi tepung terigu rata-rata tiap tahunnya meningkat dengan laju 2,4 %, seperti yang diperlihatkan pada tabel 3 berikut ini
Tabel 3 Perkembangan Produksi Tepung Terigu, Tahun 2004-2006
Tahun
Produksi (Ton)
Perubahan (%)
2004
2005
2006
2.914.513
2.399.331
2.585.486
-
7,7
10,5
Rata-rata
-
2,8
Sumber : PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
PT. Indofood Sukses Makmur menjadikan mutu dan kepuasan pelanggan sebagai basis bagi perencanaan yang dilakukan oleh perusahaan. Oleh karena itu keinginan dan kebutuhan konsumen harus diperhatikan oleh produsen karena kebutuhan ini akan senantiasa berubah. Perkembangan produk mie instan yang sudah dianggap sebagai makanan cepat saji dan bahkan sebagai makanan pokok, menyebabkan tingkat persaingan pada industri mie instan ini semakin tinggi.
Tingkat persaingan yang tinggi ini dapat menyebabkan pergeseran loyalitas konsumen miee instan produk indofood kepada mie instan produk yang lain. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk senantiasa melakukan riset pemasaran yang dilakukan terhadap konsumen, sehingga dapat diketahui kebutuhan dan keinginan konsumen akan suatu produk mie. Tingginya pangsa pasar mie instant mengharuskan perusahaan-perusahaan yang ada untuk berhati-hati, sehingga perusahaan dituntut harus selalu mengevaluasi dan mematangkan strategi pemasaran yang dijalankannya.
Perusahaan ingin mengetahui bagaimana proses keputusan pembelian mie instan, agar menghasilkan analisis pemasaran yang cermat sehingga perusahaan tidak dirugikan karena terjadinya kekeliruan dalam melakukan kegiatan pemasaran. Oleh karena itu, perlu diketahui respon konsumen terhadap produk miee instan tersebut. Untuk dapat menentukan respon konsumen, terlebih dahulu perlu diidentifikasi faktor-faktor dalam proses keputusan. Mengetahui faktor-faktor tersebut akan memudahkan perusahaan dalam mengambil langkah dalam kegiatan pemasaran yang akan dilakukan sehingga dapat diketahui tingkat kepuasan dari konsumen mie instan terhadap kegiatan pemasaran yang telah dilakukan perusahaan.
Oleh karena itu saya merasa tertarik untuk mengetahui respon konsumen saat ini terhadap mie instan produk indofood. Konsumen yang dipilih adalah konsumen yang membeli mie instan di Pasar atas Cimahi. Lokasi ini dipilih karena lokasinya yang berdekatan dengan perusahaan Indofood. Kedekatan jarak ini membuat indofood tidak pernah melakukan analisis terhadap respon konsumen di lokasi ini, karena menganggap masyarakat atau konsumen di sekitar pabrik Indofood telah memiliki respon yang baik terhadap produk mie instan mereka. Pasar Atas ini merupakan salah satu pasar besar yang ada di kota Cimahi selain Pasar Antri. Perbedaan dari kedua pasar ini adalah komoditi yang dijualnya. Pasar Antri lebih fokus pada penjualan komoditi sandang, sedangkan Pasar Atas lebih fokus menjual komoditi Pangan. Hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian mengenai respon konsumen terhadap mie instan produk Indofood di Pasar Atas Cimahi.

1.2       Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang timbul akan dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi respon konsumen terhadap produk mie instan
2.      Bagaimana respon konsumen terhadap produk mie instan Indofood di Pasar Atas Cimahi.

1.3       Maksud dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk :
1.          Mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi respon konsumen terhadap produk mie instan
2.          Mengetahui respon konsumen terhadap produk mie instan Indofood di Pasar Atas Cimahi.


1.4       Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
a.          Bagi perusahaan sebagai bahan informasi dan pertimbangan dalam merancang strategi bauran pemasaran dan untuk pengembangan produk.
b.          Bagi penulis merupakan sarana pengembangan wawasan serta pengalaman dalam menganalisis permasalahan khususnya di bidang pemasaran.
c.          Bagi kalangan akademies dapat dijadikan bahan penyusunan penelitian yang serupa dan lebih mendalam.




BAB II
KAJIAN  PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1       Kajian Pustaka
2.1.1    Pengertian Respon
Menurut Sarlito (1987), setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan/balasan (respon) terhadap stimulus. Pendapat selaras diungkap oleh Mar’at (1984) yang menyatakan bahwa respon merupakan reaksi akibat penerimaan stimulus, dimana stimulus adalah berita, pengetahuan, informasi, sebelum diproses atau diterima oleh indranya. Individu manusia berperan sebagai unsur pengendali antara stimulus dan respon, sehingga yang menentukan bentuk respon individu  terhadap stimulus adalah stimulus dan faktor Individu itu sendiri (Miftah Toha, 1988).
Menurut Berlo1960 (dalam Reza Yogaswara), Merumuskan respon sebagai sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil atau akibat menerima stimulus. Stimulus tersebut merupakan sesuatu yang dapat diterima oleh seseorang melalui salah satu penginderanya. Respon digolongkan menjadi dua jenis yaitu respon yang tidak nampak (covert response) dan respon yang nampak (covert response). Respon yang tidak nampak diwujudkan oleh seseorang kedalam aspek kognisi (pengetahuan) dan afeksi (sikap). Respon yang nampak diwujudkan kedalam aspek psikomotorik (tingkah laku). Antara respon yang nampak dan respon yang tidak nampak terdapat suatu keterkaitan, namun hubungan tersebut ada yang selaras dan ada yang tidak selaras.Selaras artinya sistem kognitif dan komponen efektif mempunyai sifat yang sama di semua seginya maka timbullah keadaan yang selaras dengan psikomotorik dan tidak ada dorongan untuk berubah, sedangkan tidak selaras artinya sistem kognitif dan komponen efektif itu mempunyai segi-segi yang tidak bisa berjalan bersama-sama, maka terjadilah ketidakselarasan dan timbulah tekanan yang mendorong untuk mengubah sistem kognitif sedemikian rupa sehingga tercapainya keadaan selaras (Sarlito,1987).

2.1.2    Pengertian Respon Konsumen
Setiap konsumen melakukan pembelian terhadap produk-produk tertentu dengan harapan tertentu mengenai apa yang akan dilakukan oleh produk atau jasa bersangkutan ketika digunakan dan kepuasan merupakan hasil yang diharapkan. Respon atau tanggapan dari konsumen setelah mengkonsumsi produk barang atau jasa, banyak dipengaruhi oleh karakteristik dari tiap konsumen yang bersangkutan. konsumen yang memiliki karakteristik berpendapatan tinggi, usia muda, dan berpendidikan tinggi akan mempunyai respon yang berbeda dengan konsumen yang karakteristiknya berpendapatan rendah, usia tua, dan berpendidikan rendah, walaupun menilai suatu benda yang sama.
Setiap perusahaan menginginkan produk yang dihasilkan dapat diterima oleh konsumen. Bahkan jika ada pesaing, produknya ingin lebih unggul dari pada produk yang diterima oleh konsumennya. Perusahaan perlu mengetahui respon konsumen terhadap produk yang dia pasarkan. Banyak perusahaan yang melakukan riset pemasaran berkala untuk melihat kondisi pasar dan kinerjanya termasuk melihat respon yang diberikan oleh konsumen, apakah konsumen telah puas dengan segala strategi pemasaran yang perusahaan tawarkan atau masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
Konsumen yang tidak puas akan suatu produk akan memberikan responnya dalam tiga kategori:
1.      Respon suara, misalnya minta ganti rugi dari penjual
2.      Respon pribadi, misalnya komunikasi lisan yang negatif kepada orang lain mengenai kekurangan produk tersebut.
3.      Respon pihak ke tiga, misalnya mengambil tindakan hukum.
Kepuasan dan tindakan konsumen harus mendapat tanggapan dari produsen untuk tetap menjalankan kelangsungan hidup perusahaan. Loyalitas dari seorang konsumen yang puas akan hasil dari suatu produk berupa barang atau jasa merupakan salah satu aset terbesar yang mungkin didapat oleh perusahaan, oleh karena itu, puas tidaknya konsumen terhadap suatu produk harus terus dipantau dan diukur oleh perusahaan. Cara-cara berikut ini banyak digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan:
1.      Sistem Keluhan dan Saran
Organisasi yang berwawasan pelanggan akan membuat mudah pelanggannya memberikan saran atau keluhan.
2.      Survey kepuasan pelanggan
            Perusahaan tidak dapat beranggapan bahwa sistem keluhan dan saran dapat menggambarkan secara lengkap kepuasan dan kekecewaan pelanggan. Perusahaan yang responsif mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survey berkala. Perusahaan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelpon suatu kelompok dari pembeli mereka untuk mengetahui tanggapan dan perasaan mereka terhadap berbagai aspek kinerja perusahaan. Perusahaan juga menanyakan pendapat pembeli terhadap kinerja pesaingnya. Konsep kepuasan pelanggan merupakan konsep mendasar dalam pemasaran sejak strategi pemasaran diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan.

2.1.3    Kepuasan Konsumen
Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan konsumen setelah membandingkan dengan harapannya. Seorang pelanggan jika merasa puas dengan nilai yang diberikan oleh produk atau jasa maka sangat besar kemungkinannya untuk menjadi pelanggan dalam waku yang lama (Engel 1994).
Menurut Engel, Blackweel dan Miniard (1994) perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, menghabiskan barang dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan tersebut.

2.1.4    Deskripsi Mie Instan
Mie secara umum adalah sejenis produk makanan yang bahan baku utamanya berasal dari tepung terigu, tepung beras dan lainnya yang diolah dengan merebus air panas untuk kemudian disajikan sesuai selera. Dalam perkembangannya mie dapat dibedakan menjadi mie kering, mie basah dan mie kering yang berbumbu atau mie instan.
Mie instan adalah produk makanan kering terbuat dari adonan terigu atau tepung beras atau tepung lainnya sebagai bahan utama dengan atau tanpa penambah bahan lainnya. Mie instan sendiri dicirikan dengan adanya penambahan bumbu dan memerlukan proses pengeringan untuk siap dikonsumsi. Mie insatan dikemas dalam wadah tertutup rapat, aman selama penyimpanan dan pengangkutan.

2.1.5    Pengambilan Keputusan Konsumen
   Dalam pengambilan keputusan konsumen sangat erat kaitannya dengan  prilaku konsumen, perlu diperhatikan determinan yang menjadi dasar prilaku konsumen itu sendiri. Determinan ini dapat dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu pengaruh lingkungan, perbedaan dan pengaruh individual, dan proses psikologis.
Proses keputusan konsumen juga perlu diperhatikan karena proses tersebut berrhubungan dengan ketiga determinan tersebut. Proses keputusan konsumen mengandung langkah-langkah pengambilan keputusan, kontinum pemecahan masalah, faktor-faktor yang mempengaruhi jangkauan pemecahan masalah, dan masalah pembelian ulang. Garis besar analisis perilaku konsumen dapat dilihat pada Gambar 1.











 




































Gambar 1
Garis Besar Analisis Perilaku Konsumen








A. Pengaruh Lingkungan
            Lingkungan adalah faktor yang ikut mempengaruhi konsumen karena sifatnya yang kompleks. Perilaku proses keputusan konsumen, berkaitan dengan lingkungannya, biasanya dipengaruhi oleh lima faktor yaitu budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga dan situasi.
a. Budaya
            Budaya, seperti yang digunakan dalam studi perilaku konsumen mengacu pada nilai, gagasan, artefak, dan simbol-simbol lain yang bermakna yang membantu indifidu untuk berkomunikasi, melakukan penafsiran dan evaluasi sebagai anggota masyarakat. Budaya merupakan sesuatu yang khas, budaya satu orang dengan lainnya atau satu daerah dengan wilayah lain berbeda.
b. Kelas Sosial
            Kelas sosial merupakan pembagian dalam masyarakat yang terdiri dari indifidu-indifidu yang berbagi nilai, minat, dan perilaku yang sama. Mereka dibebaskan oleh perbedaan status sosio-ekonomi yang berjajar dari yang rendah sampai yang tinggi.
            Status kelas sosial sering kali menghasilkan bentuk-bentuk perilaku konsumen yang berbeda. Beberapa dari kontribusi yang paling awal terhadap studi perilaku konsumen adalah perbedaan kelas sosial karena dapat digunakan sebagai variabel utama dalam menjelaskan perbedaan konsumen.



c. Pengaruh Pribadi 
            Sebagai konsumen, perilaku individu sering kali dipengaruhi oleh mereka yang erat hubungannya dengan individu yang bersangkutan. Tiap individu mungkin berespon terhadap tekanan yang disesuaikan dan mengambil bentuk pengamatan atas apa yang dilakukan oleh orang lain danmenjadikan mereka sebagai kelompok acuan kompratif.
d. Keluarga
Dalam bidang penelitian konsumen, keluarga telah menjadi fokus penelitian. Keluarga sering menjadi fungsi pengambilan keputusan utama, dengan pola peranan dan fungsi yang kompleks dan bervariasi. Pasangan hidup juga dapat berperan dan saling mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan konsumen.
e. Situasi
Situasi sangat mempengaruhi perilaku akan berubah ketika situasi berubah. Kadang kala perubahan ini tidak menentu dan tidak dapat diramalkan. Pada kesempatan lain, perubahan tersebut dapat diramalkan melalui penelitian dan dimanfaatkan dalam strategi.

B. Perbedaan Individu
Faktor perbedaan individu merupakan faktor internal yang menggerakan dan mempengaruhi perilaku. Terdapat lima cara penting dimana konsumen mungkin berbeda, yaitu sumber daya konsumen, motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap serta kepribadian, gaya hidup, dan demografi.

  1. Sumber Daya Konsumen
Setiap orang membawa tiga sumber daya kedalam setiap situasi pengambilan keputusan, yaitu waktu, uang, dan perhatian (penerimaan informasi dan terdapat keterbatasan yang jelas dalam ketersediaan masing-masing sehingga memerlukan semacam alokasi yang cermat.
  1. Motivasi dan Keterlibatan
            Psikolog dan pemasar selalu memiliki kepentingan yang sama untuk menjelaskan apa yang terjadi bila perilaku yang diarahkan pada tujuan diberi energi dan diaktifkan, disebut pemotivasian. Sedangkan keterlibatan, baik ada maupun tidak ada, memperingati perilaku proses keputusan karena merupakan faktor pengarah yang begitu potensial.
  1. Pengetahuan
            Pengetahuan atau hasil belajar dapat didefinisikan secara sederhana sebagai informasi yang disimpan di dalam ingatan. Pengetahuan konsumen mencakup susunan luas informasi, seperti ketersediaan dan karakteristik barang dan jasa, di mana dan kapan untuk membeli, dan bagaimana produk digunakan.
            Belum lama ini arti penting pengertian pengetahuan atau keahlian konsumen ditekankan lagi dalam bidang penelitian konsumen. Salah satu hasil utama periklanan dan penjualan adalah benar-benar memberikan pengetahuan dan informasi yang relevan, khususnya dibawah pemecahan masalah yang diperluas.
  1. Sikap
            Segera setelah seseorang mnyelesaikan pencariannya akan informasi dan melakukan evaluasi yang luas atau berbagai kemungkinan, hasilnya adalah pembentukan suatu sikap terhadap alternatif-alternatif yang dipertimbangkan. Sikap merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang memungkinkan orang memberikan respon dengan cara menguntungkan atau tidak menguntungkan secara konsisten berkenan dengan objek atau alternatif yang diberikan. Bila semua yang lain sama, orang biasanya berperilaku dengan cara yang konsisten berkenaan dengan objek atau alternatif yang diberikan. Bila yang lain semua sama, orang biasanya berperilaku dengan cara yang konsisten dengan objek atau alternatif yang diberikan. Bila semua yang lain sama, orang biasanya berperilaku dengan cara yang konsisten dengan sikap dan maksud mereka.
  1. Kepribadian, Gaya Hidup, dan Demografi
            Kepribadian, gaya hidup, dan demografi berguna untuk mendefinisikan berbagai karakter objektif dan subjektif dari konsumen di dalam pangsa pasar target.
1. Kepribadian (personality)
Penelitian kepribadian adalah penting di dalam psikologis klinis, namun ada sebuah konsep yang menarik yang diperkenalkan oleh Pierre Martineau pada tahun 1950-an saat dia mengajukan hipotesis bahwa produk juga mempunyai kepribadian dalam bentuk citra merek. Suatu deduksi logis pada titik itu adalah bahwa strategi pemasaran harus berfokus pada pencocockan kepribadian konsumen dengan kepribadian produk.
2. Gaya Hidup (Lifestyle)
            Mungkin hasil terbesar dari era penelitian kepribadian adalah perluasan fokus yang mencakup gaya hidup­­, pola yang diguanakan orang untuk hidup dan menggunakan waktu serta uang. Para peneliti seperti William Wells merancang infentaris yang extensif dari aktivites (kegiatan), Interest (minat), dan Opinions (Opini) yang disingkat AIO yang mengukur beberapa ciri kepribadian, nilai, kepercayaan, preferensi, dan pola prilaku. Sementara berekembang lini penyelidikan ini segera dilabelkan menjadi psikografi.
3.Demografi
            Salah satu fenomena yang paling banyak dibicarakan di dunia barat selama 1980-an adalah apa yang disebut yuppie (young, upwardly mobile, proffesional) dan gaya hidup yang hedonis. Ini adalah contoh dari apa yang dipelajari pada bidang demografi, di mana sasarannya adalah mendeskripsikan pangsa pasar konsumen dalam aspek seperti usia, pendapatan dan pendidikan. Penekanannya selalu pada trend dalam prilaku dan pengeluaran. Bila disertai dengan penelitian psikografi, demografi dapat memberikan keterangan mengenai sifat dan komposisi pasar.

C. Proses Psikologis
            Dalam proses psikologis, terdapat pengolahan informasi manusia pembelajaran, dan perubahan sikap yang semuanya merupakan minat utama dari penelitian konsumen. Sesungguhnya, disinilah beberapa sumbangan terbesar telah dibuat untuk memahami perilaku konsumen.
  1. Pengolahan Informasi
            Komunikasi adalah kegiatan pemasaran inti. Oleh karena itu penelitian konsumen sudah sejak dulu berkepentingan dengan bagaimana orang menerima, mengolah, dan mengerti mengenai komunikasi pemasaran. Studi-studi telah menegaskan satu prinsip kritis: orang melihat dan mendengar apa yang mereka ingin lihat dan dengar.
            Penelitian terhadap pengolahan informasi memaparkan cara-cara bagaimana informasi ditransformasikan, dikurangi, dirinci, di simpan, didapatkan kembali, dan digunakan. Ini begitu penting bagi komunikasi pemasara sehingga pengolahan informasi mendominasi bidang penelitian konsumen selama hampir 20 tahun.
  1. Pembelajaran
            Siapa saja yang berusaha mempengaruhi konsumen sebenarnya sedang mencoba menghasilkan pembelajaran, proses di mana pengalaman menyebabkan perubahan dalam pengetahuan, sikap, dan atau prilaku. Signifikasi pemasaran dari teori belajar menjadi jelas ketika salah seorang dari pendukungnya terkemuka, Jhon B. Watson memasuki bidang periklanan tahun 1930-an. Ia mempopulerkan pandangan bahwa kita datang ke dunia ini untuk belajar.
  1. Perubahan Sikap dan Prilaku
            Perubahan sikap dan perilaku adalah sasaran pemasaran yang umum. Proses ini mencerminkan pengaruh psikologis dasar yang menjadi subjek dari beberpa dasawarsa penelitian yang intensif. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard, secara umum, keputusan konsumen memiliki langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Pengenalan Kebutuhan. Konsumen mempersiapkan perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan situasi aktual yang memadai untuk membangkitkan dan mengaktifkan proses keputusan.
2.      Pencarian Informasi. Konsumen mencari informasi yang disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) atau mendapatkan informasi yang relevan dengan kepuusan dari lingkungan (pencarian eksternal).
3.      Evaluasi Alternatif. Konsumen mengevaluasi alternatif pilihan berkenan dengan manfaat yang diharapkan dan memperkecil pilihan dari alternatif yang ada.
4.      Pembelian. Konsumen memperoleh alternatif pilihan atau pengganti yang dapat digunakanbilamana perlu.
5.      Hasil. Konsumen mengevaluasi apakah alternatif yang dipilih memenuhi kebutuhan dan harapan segera sesudah digunakan.

2.1.6        Segmentasi
Produsen pada dasarnya melakukan penciptaan sekaligus penyerahan nilai. Kotler (1997) yang menggabungkan proses penciptaan dan penyampaian nilai kepada konsumen dalam bentuk yang disebut STP, yaitu Segmentation, Targeting, Positioning. Segmentation pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memahami struktur pasar. Targeting adalah persoalan bagaimana memilih, menyeleksi dan menjangkau pasar. Positioning adalah persoalan bagaimana menempatkan produk kita dalam pikiran atau ingatan konsumen.
Menyeleksi pasar sangat ditentukan oleh bagaimana melihat pasar itu sendiri. Pasar yang dilihat oleh dua orang yang berbeda, yang didekati oleh metode segmentasi yang berbeda pula. Oleh karena itulah penting dipahami struktur-struktur atau kelompok-kelompok yang ada di pasar. Segmentasi pasar dan perilaku konsumen dalam manajemen pemasaran yang telah berkembang sebagai konsep yang sangat penting.
Ada beberapa keuntungan dalam melakukan segmentasi pasar diantaranya yaitu :
1.      mendesain produk-produk yang lebih responsive terhadap kebutuhan pasar
2.      menganalisis pasar dan menemukan peluang (niche)
3.      menguasai posisi yang superior dan kompetitif
4.      menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien
Variabel utama dalam penentuan segmentasi barang konsumen adalah faktor demografi, geografis, psikografis, dan perilaku. Variabel-variabel ini dapat dimasukkan kedalam dua kelompok besar seperti terlihat dalam gambar 2.   Dalam segmentasi perilaku, pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian atau tanggapan mereka terhadap suatu produk.










Segmentasi
 
























Tanggapan konsumen
 
Karakteristik konsumen
 



Sikap

 
Kesempatan
 
Psikografi
 
Demografi
 
                                                                    
Tingkat pemakaian
 
Manfaat
 
Perilaku
 
Geografi
 

Gambar 2. Dua Pendekatan Utama pada Segmentasi (Kotler,1992)

2.1.7    Model Sikap Fishbein
Model sikap multiatribut bermanfaat untuk mengetahui hubungan antar pengetahuan yang dimiliki konsumen tentang suatu produk dan sikap konsumen terhadap produk sesuai dengan ciri atau atribut yang dimiliki oleh produk yang bersangkutan. Analisis multiatribut juga merupakan sumber informasi yang berguna bagi perencana dan tindakan pasar. Dengan demikian informasi yang diperoleh berguna bagi perencana dan tindakan pasar.
Manfaat lain dari analisis multiatribut adalah implikasi bagi pengembangan produk baru. Suatu model multiatribut telah digunakan dan berhasil untuk meramalkan bagian pasar dari produk baru. Analisis multiatribut juga membeli pemasar suatu pedoman untuk mengembangkan strategi perubahan sikap yang sesuai (E. Engel, Blackwell Miniard, 1994).
Model fishbein memungkinkan pemasar mendiagnosis kekuatan dan kelemahan suatu merek produk secara relatif dibandingkan dengan merek pesaing yang menentukan bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif merek produk pada atribut-atribut penting. Model fishbein memperlihatkan bahwa sikap terhadap suatu objek tergantung pada probabilitas bahwa suatu objek mempunyai atribut-atribut tertentu pada tingkat yang diinginkan.
Pada model fishbein sebelumnya, seorang diukur sikapnya terhadap objek tertentu, berdasarkan evaluasi dan belief konsumen tersebut. Namun pengukuran semacam itu belum tentu berguna karena sikap positif belum tentu diikuti dengan pembelian. Fishbein kemudian mengembangkan metode ulang yang sudah ada tersebut dengan menekankan pada keinginan untuk membeli dan bukannya sikap konsumen semata-mata (Singgih, 2001).

2.2       Kerangka Pemikiran
Menurut Sarlito (1987), setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan/balasan (respon) terhadap stimulus. Pendapat selaras diungkap oleh Ma’rat (1984) yang menyatakan bahwa respon merupakan reaksi akibat penerimaan stimulus, dimana stimulus adalah berita, pengetahuan, informasi, sebelum diproses atau diterima oleh indranya. Individu manusia berperan sebagai unsur pengendali antara stimulus dan respon, sehingga yang menentukan bentuk respon individu  terhadap stimulus adalah stimulus dan faktor Individu itu sendiri (Miftah Toha, 1988).
Menurut Berlo 1960 (dalam Reza Yogaswara 2004), merumuskan respon sebagai sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil atau akibat menerima stimulus. Stimulus tersebut merupakan sesuatu yang dapat diterima oleh seseorang melalui salah satu penginderanya. Respon digolongkan menjadi dua jenis yaitu respon yang tidak nampak (covert response) dan respon yang nampak (covert response). Respon yang tidak nampak diwujudkan oleh seseorang kedalam aspek kognisi (pengetahuan) dan afeksi (sikap). Respon yang nampak diwujudkan kedalam aspek psikomotorik (tingkah laku). Antara respon yang nampak dan respon yang tidak nampak terdapat suatu keterkaitan, namun hubungan tersebut ada yang selaras dan ada yang tidak selaras.Selaras artinya sistem kognitif dan komponen efektif mempunyai sifat yang sama di semua seginya maka timbullah keadaan yang selaras dengan psikomotorik dan tidak ada dorongan untuk berubah, sedangkan tidak selaras artinya sistem kognitif dan komponen efektif itu mempunyai segi-segi yang tidak bisa berjalan bersama-sama, maka terjadilah ketidakselarasan dan timbulah tekanan yang mendorong untuk mengubah sistem kognitif sedemikian rupa sehingga tercapainya keadaan selaras (Sarlito,1987).
Kepuasan konsumen adalah tingkat perasaan konsumen setelah membandingkan dengan harapannya. Seorang pelanggan jika merasa puas dengan nilai yang diberikan oleh produk atau jasa maka sangat besar kemungkinannya untuk menjadi pelanggan dalam waku yang lama (Engel 1994).
Menurut Engel, Blackweel dan Miniard (1994) perilaku konsumen didefinisikan sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, menghabiskan barang dan jasa, termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan tersebut. Konsumen merupakan target akhir suatu sistem perdagangan. Selera dan keinginan konsumen merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh para pengusaha. Suatu jenis produk oleh konsumen didasarkan sampai sejauh mana produk tersebut dipandang relevan dengan gaya hidup konsumen yang bersangkutan. Perlu diingat bahwa masing-masing kelompok konsumen itu memiliki perbedaan minat dan selera. Sehingga menyebabkan perlunya pengetahuan mengenai perilaku konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
Menurut Engel, Blackweel dan Miniard (1994) perilaku konsumen dipengaruhi dan dibentuk oleh faktor pengaruh lingkungan, perbedaan individu serta proses psikologis. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Engel, Blackwel dan Miniard (1994) dapat dilihat pada gambar 3.





Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar