HUBUNGAN ANTARA NILAI NILAI PRIBADI PEMILIK/ MANAJER STRATEGI STRATEGI YANG MEREKA GUNAKAN DALAM MENJALANKAN BISNIS DENGAN KINERJA PERUSAHAAN

Admin
Skripsi (lengkap sampai Daftar Pustaka) : Hubungan Antara Nilai-Nilai Pribadi yang dimiliki Oleh Manager dengan Strategi yang Digunakan Dalam Menjalankan Bisnis Serta Kinerja Perusahan Tersebut.



BAB   I
 PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Sistem pemasaran dunia sedang bergerak menjadi satu pasar global. Globalisasi ekonomi memaksa  seluruh perusahaan tanpa terkecuali untuk terlibat langsung dan mempersiapkan diri pada perdagangan bebas dunia, yang ditandai oleh semakin ketatnya tingkat persaingan. Kondisi ini juga mengharuskan  perusahaan untuk  mencari paradigma baru dan menerapkan strategi baru yang jitu dan sesuai.  Perubahan tersebut tidak hanya membuat batas-batas negara semakin kabur, lebih dari itu, telah terjadi peningkatan lalu lintas barang dan jasa, modal serta manusia.  Faktor pemicu dari hal tersebut adalah  terjadinya revolusi komunikasi dan informasi. Situasi semacam ini telah membuat  masing-masing  negara  saling berlomba untuk  memanfaatkan setiap  peluang ekonomi yang ada. Kemampuan  suatu negara untuk  bersaing  di pasar global akan sangat menentukan  keberhasilannya memasuki  arena perlombaan ekonomi. Perubahan tatanan ekonomi dunia tersebut  tentu saja juga berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.


Di banyak negara dan juga di Indonesia, sektor perusahaan kecil merupakan penyerap tenaga kerja yang utama, dan merupakan sumber pendapatan rakyat. Beny Pasaribu dalam Nuril Huda (2000) menyebutkan bahwa dalam catatan BPS 1994, pada tahun 1992 saja terdapat 33,4 juta usaha kecil dan usaha rumah tangga, yang berarti 98% dari seluruh unit usaha  di Indonesia, setiap tahun mampu menyerap  hampir 60% dari 2 juta pertambahan angkatan kerja. Oleh karena itu, diakui atau tidak sebenarnya tingkat ketergantungan ekonomi pada perusahaan kecil dan menengah telah meningkat pada tahun-tahun belakangan ini seiring dengan terjadinya krisis ekonomi, akibat  banyaknya pengurangan tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan besar  baik itu Badan Usaha Milik Negara  maupun Badan Usaha Milik Swasta. Konglomerasi usaha yang selama ini diandalkan  sebagai tulang punggung  pertumbuhan ekonomi nasional terlihat rapuh dan tidak berdaya dalam  menghadapi  krisis ekonomi. Indonesia tergantung pada industri kecil diberbagai pelosok tanah air.
Peran usaha kecil yang menguntungkan diatas, tentunya bisa dijadikan pertimbangan pemerintah untuk membuat program-program bantuan bagi mereka. Misalnya dengan memberikan pinjaman dengan bunga dibawah bunga bank atau bahkan  tanpa bunga atau menyediakan informasi-informasi pemasaran melalui kelompok-kelompok yang telah mereka bentuk, memberikan pembinaan administrasi, dan manajemen. Efektifitas program bantuan yang diberikan pemerintah juga sangat tergantung dari pemahaman pemilik/manajer bagaimana perusahaan tersebut dijalankan.
Satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa keberhasilan usaha kecil tergantung dari nilai pribadi pemilik/manajer (Bernice dan Meredith, 1997). Berkaitan dengan nilai pribadi ini Rokeach (1997) mengemukakan bahwa : pemilik/manajer yang berhasil  diidentifikasi dengan suatu tipe nilai pribadi yang  berkenaan dengan kewirausahaan yang menempatkan  nilai-nilai yanng tinggi tentang ambisi, kemampuan, reliabilitas, tanggung jawab, kerja keras, kompetensi, kejujuran, kreatifitas, pengakuan sosial dan pertumbuhan. Dan  satu sisi lain yang berlawanan adalah apa yang disebut dengan pemilik/manajer konservatif yang mempunyai kadar rendah pada nilai-nilai diatas, namun  tinggi pada nilai-nilai tentang kesamaan, afeksi, belas kasih dan proteksi sosial.
Thompson dan Strickland dalam Bernice dan Meredith (1997) menyatakan bahwa nilai-nilai kepribadian pemilik/manajer mempengaruhi strategi-strategi yang di gunakan dalam menjalankan usaha mereka dan, akhirnya kinerja dari bisnis usaha kecil. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bernice dan Meredith pada industri kecil perabot rumah tangga di New South Walles, Australia menunjukkan bahwa nilai pribadi, strategi bisnis dan kinerja  berkaitan.
Untuk meninjau secara lebih jauh adanya hubungan antara nilai pribadi pemilik/manajer, strategi-strategi yang mereka gunakan dalam menjalankan bisnis  dengan kinerja perusahaan maka perlu dilakukan suatu penelitian pada industri kecil, dengan wilayah sample pada industri tas dan koper (Intako) di Kec. Tanggullangin, Kab.Sidoarjo, Jawa Timur.
1.2   Rumusan Masalah 

Berdasarkan pada latar belakang  tersebut maka rumusan permasalahannya  adalah :“Bagaimanakah secara empiris hubungan antara nilai-nilai pribadi pemilik/manajer, strategi – strategi yang mereka gunakan dalam  menjalankan bisnis, dengan kinerja perusahaan”.

1.3   Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : “Untuk mengetahui secara empiris hubungan antara nilai-nilai pribadi pemilik/manajer, strategi – strategi yang mereka gunakan dalam  menjalankan bisnis, dengan kinerja dari perusahaan”.
1.4   Manfaat Penelitian
-        Bagi pemerintah, hasil penelitian ini bisa dijadikan pertimbangan dalam membuat suatu program bantuan bagi industri kecil.
-        Bagi dunia akademik, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam upaya melakukan penelitian lanjutan khususnya pada sektor industri kecil.





BAB  II
 TINJAUAN PUSTAKA
2.1.       Penelitian Terdahulu
Salah satu kajian empirik  mengenai adanya hubungan antara nilai pribadi pemilik/manajer, strategi bisnis dan kinerja perusahaan pernah dilakukan oleh  Bernice dan Meredith (1997).  Penelitian ini dilakukan  dengan mengambil sampel  pada industri kecil perabot rumah tangga  di New South Wales,  Australia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai pribadi, strategi, dan kinerja pemilik/manajer secara empiris berkaitan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa para pelaku-pelaku bisnis yang mempunyai kinerja tinggi adalah proaktif dalam orientasi strategi dan menunjukkan nilai pribadi kewirausahaan. Sebaliknya, para pelaku bisnis yang mempunyai kinerja rendah mempunyai strategi reaktif dan nilai pribadi yang konservatif. Antara kedua kelompok ekstrim ini adalah pemilik / manajer dengan beragam tingkatan nilai-nilai kewirausahaan yang menggunakan kombinasi dari strategi-strategi proaktif dan reaktif dan memperoleh kinerja rata-rata atau mendekati rata-rata.
Dari penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara nilai pribadi pemilik/manajer, strategi bisnis yang digunakan dan kinerja perusahaan.
2.2.  Kerangka Dasar Industri Di Indonesia
Industri menurut pengertian Undang-Undang tentang perindustrian dalam Nuril Huda adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi penggunaannya (Nuril Huda, 2000). Sedangkan pengertian industri yang dikaitkan dengan proses pengolahan dan pengembangan industri yang digunakan sebagai dasar acuan Departemen Perindustrian, yaitu: “Industri adalah rangkaian kegiatan dan ekonomi yang meliputi pengolahan, pengerjaan, pengubahan, perbaikan bahan baku atau barang setengah jadi menjadi barang yang berguna dan lebih bermanfaat untuk pemakaian dan usaha jasa yang menunjang kegiatan diatas.”
Pembangunan industri di Indonesia dinilai sebagai berdimensi kembar dengan titik pusat perhatian pada pertumbuhan ekonomi berbarengan dengan pemerataan pembangunan. Ini berarti pada sektor industri diharapkan dapat berperan sebagai pemacu tingkat pertumbuhan ekonomi dan sekaligus juga mampu memeratakannya lewat perluasan kesempatan kerja (Dawam Raharjo, 1990).
Di Indonesia sektor industri dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1.    Kelompok industri yang berorientasi pada pertumbuhan terdiri dari:
a)   Industri mesin dan logam dasar
b)   Industri kimia dasar
2.    Kelompok industri yang berorientasi kepada pemerataan terdiri dari :
a)   Industri yang menyediakan kebutuhan masyarakat
b)   Industri penunjang pertanian
c)   Industri aneka
d)  Industri aneka peralatan dan barang konsumsi lainya
e)   Industri kecil dan pedesaan. (Raharjo, 1990)
2.2.1. Kerangka Dasar  Industri Kecil di Indonesia
Pengertian indutri kecil menurut Biro Pusat Statistik adalah sebuah industri yang mempunyai tenaga kerja 5 (lima) sampai dengan 19 (sembilan belas) orang tenaga kerja yang terdiri dari pekerja kasar yang dibayar, pekerja pemilik dan pekerja keluarga yang tidak dibayar. Dalam usaha pencapaian tujuan pembangunan industri, sub sektor industri kecil dan kerajinan rakyat diharapkan mempunvai peran strategis, yaitu sebagai penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan pembaruan tata nilai masyarakat ( Raharjo, 1990).
Pentingnya industri kecil yang merupakan bagian dari keseluruhan industri nasional telah lama dirasakan tidak hanya sebagal suatu pemerataan pembangunan akan tetapi juga sebagai suatu yang telah mendapatkan tempat yang mantap dalam struktur sosial, karena:
1.       Banyak menyerap tenaga kerja
2.       Ikut menyelaraskan peredaran perekonomian negara dan mampu hidup berdampingan dengan perusahaan besar
3.       Industri kecil dapat memegang peranan penting dan menopang usaha besar
4.       Dapat menyediakan bahan mentah, suku cadang, pembungkus, bahan pembantu dan sebagainya.
5.       Usaha kecil dapat benfungsi sebagai ujung tombak bagi usaha besar dengan menyalurkan dan menjual hasil usaha besar kepada konsumen akhir.
Berbagai perumusan yang inspiratif untuk membentuk kerangka strategi tertentu yang menempatkan sektor industri kecil dan kerajinan rumah tangga dalam kerangka yang mengandung berbagai nilai pembangunan, yaitu seperti berikut:
1.    Peningkatan produksi dalam negeri untuk bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri.
2.    Meningkatkan ekspor bahan yang te!ah diolah, dengan perkataan lain, ekspor dari Indonesia hendaknva berupa bahan yang telah diolah lebih lanjut oleh industri dalam negeri.
3.    Pembangunan industri dalam negeri diarahkan untuk bisa meningkatkan pemanfaatan kakayaan alam Indonesia.
4.    Pengembangan industri berarti juga peningkatan kesempatan usaha dari golongan pribumi yang umumnya adalah pengusaha kecil
5.    Memperluas produksi bahan baku guna dapat mcmenulii kebutuhan industri dalam negeri.
6.    Perkembangan industri secara langsung maupun tidak langsung berarti juga menunjang pembangunan pertanian
7.    Perluasan kesempatan kerja diharapkan terjadi dengan berkembangnya industni dalam negeri.
8.    Perkembangan industni perlu memperhatikan perkembangan industri keci! dan kerajinan rumah tangga yang terdapat dalam jumlah hanyak di Indonesia.
9.    Dengan meningkatkan ekspor bahan mentah menjadi bahan baku, barang jadi atau setengah jadi, maka ini berarti peningkatan penghasilan devisa.
10.  Pengolahan bahan-bahan mentah dan kekayaan alam bisa memperluas penyebaran industri ke daerah-daerah.
11.  Pengolahan bahan mentah berarti menggali sumber-sumber alam, apabila tidak dipikirkan penjagaan kelestariannya, maka sumber alam itu bisa berkurang atau punah. Oleh karena itu, kebijaksanaan untuk memelihara kelestarian harus dikaitkan secara !angsung dengan pengolahan bahan mentah.
12.  Pengembangan industri dan penggalian sumber-sumber alam harus disertai dengan usaha pencegahan kerusakan lingkungan
13.  Pengembangan industri harus didasarkan pada prinsip penggunaan dan pengambangan jenis-jenis teknologi yang tepat guna.
14.  Pembangunan industri selain didukung oleh suatu taraf pendidikan dan ketrampilan tertentu, juga harus bersifat mendorong dan memberikan kesempatan bagi perkembangan taraf pendidikan dan ketrampilan.
15.  Perlindungan terhadap industri dalam negeri perlu pula dipikirkan oleh karena kita tidak membangun industri sekedar untuk mengadakan suatu industri, melainkan untuk menumbuhkan industri dalam negeri.
16.  Pengembangan industni perlu dikaitkan dengan pengembangan koperasi. Dengan perkataan lain, unit-unit usaha diarahkan untuk berbentuk koperasi atau bergabung dalam usaha bersarna. (Raharjo, 1990)
Pembangunan dibidang industri kecil yang lebih mengutamakan pemerataan kesempatan kerja perlu untuk lebih ditingkatkan melalui pembinaan yang teratur dan juga melalui penyempurnaan pengaturan serta pengembangan usaha. Dalam hal ini Syahrudin dalam Nuril Huda berpendapat, ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan untuk menunjukkan pentingnya peranan industri kecil, yaitu:
1.    Jumlahnya yang besar dan tersebar diseluruh wilayah
2.    Kegiatan industri berorientasi pada pembangunan tenaga kerja yang lebih banyak atau disebut juga dengan padat karya
3.    Pengembangan usaha memerlukan kepemimpinan yang tinggi, sebab bentuk onganisasi perusahaan masih sederhana.
4.    Mobilitas usaha tinggi. (Nuril Huda, 2000)
Industri kecil dalam perkembangannya membawa misi pemerataan yaitu dengan penyebaran kegiatan usaha, peningkatan partisipasi bagi golongan ekonomi lemah, perluasan kesempatan kerja dan dengan pemanfaatan potensi ekonomi terbatas. Dalam rangka menunjang pembangunan daerah, maka pembangunan industri kecil disebarluaskan ke seluruh wilayah melalui penetapan pusat-pusat pertumbuhan industri kecil, seperti sentra industri, lingkungan industri dan lain-lain.
Adapun fungsi dan pusat-pusat pertumbuhan industri adalah:
1.    Sebagai pusat pembinaan dan penyuluhan termasuk bantuan bahan baku dan pemasaran.
2.    Sebagai tempat pelengkap peralatan yang dapat dipergunakan bersama untuk suatu wilayah guna menyempurnakan produk.
3.       Sebagai sarana kerja untuk sejumlah terbatas pengusaha industri kecil. (Nuril Huda, 2000)
Dengan adanya pusat-pusat pertumbuhan industri ini diharapkan hasil produksi dari para pengusaha dapat lebih meningkat yang disertai dengan peningkatan dari mutu produksi sehingga menjadi suatu hasil produksi dengan daya jual yang tinggi. Dari uraian diatas mengenai industri kecil dan ciri-cirinya maka dapat diperoleh gambaran bahwa industri mempunyai investasi modal yang relatif kecil. sedangkan Ketrampilan yang dimiliki bersifat turun-temurun serta dengan penggunaan teknologi yang masih sederhana. Dewasa ini dirasa sudah saatnya bagi kita untuk memperluas perhatian tidak hanya kepada industri yang berinvestasi besar tetapi juga industri yang berinvestasi kecil dan padat karya.
Dalam hal ini Umar Juworo dalam Yasin (1998) berpendapat: “Dengan semakin banyak dan tersebarnya industri yang beninvestasi kecil dan padat karya, maka akan memungkinkan semakin besar tenaga kerja yang diserap dan dengan koordinasi yang baik serta dukungan dari pihak pemerintah yang memadai akan didapat output keseluruhan yang besar”. Sementara itu Irsan Azhari Saleh, mengemukakan alasan-alasan yang mendukung pentingnya pengembangan industni kecil, yaitu:
1.    Masalah fleksibilitas dan adaptabilitasnya didalam memperoleh bahan mentah dan peralatan.
2.    Relevansinya dengan proses desentralisasi kegiatan ekonoini guna menunjang tcrciptanya integrasi kegiatan pada sektor-sektor ekonomi yang lain.
3.    Peranan dalam jangka panjang sebagai basis bagi mencapai kemandirian pembangunan ekonomi. Karena industri kecil ini umumnya diusahakan oleh pengusaha dalam negeri dengan menggunakan kandungan impor yang rendah.
4.    Potensi terhadap penciptaan dan perluasan kesempatan kerja bagi pengangguran. (Irsan Azhari, 1986)
Departemen Perindustrian dalam Nuril Huda, melalui Surat Keputusan Menteri Penindustrian No. 286/M/SK/10/1989, memberikan kriteria bidang usaha yang termasuk kelompok industri kecil, yaitu:
1.    Investasi yang mencakup; bangunan, mesin dan peralatan dengan seluruhnya tidak lebih dari Rp 200.000.000,-
2.    Pemilikan usaha adalah Warga Negara Indonesia. (Nuril Huda, 2000)
Usaha kecil dapat dike!ompokkan dalam dua kategori, yaitu mereka yang langsung berhubungan dengan konsumen akhir (barang/jasa konsumsi/final) dan mereka yang berhubungan dengan perusahaan lain sebagal pamasok, sub kontrak, dan lain-lain (DIRJEN ILMK, 1997). Sedangkan pengertian industri kecil menurut departemen perindustrian dalam Nuril Huda,  selaras dengan arah pemasaran produksinya dapat dibagi menjadi 4 (empat) golongan yakni:
1.    Industri kecil yang menghasilkan produk-produk (komponen-komponen) bagi industri menengah dan besar, misalnya komponen elektnonika, suku cadang kendaraan bermotor dan lain-lain.
2.    Industri kecil yang menghasilkan barang pemenuhan kebutuhan pasar yang hasil akhir atau produksinya dapat langsung dijual kepada konsumen, seperti perabot rumah taugga, kompor, dan lain-lain.
3     Industri kecil yang menghasilkan produk, berdasarkan suatu kreasi, yang menghasilkan produk jenis kerajinan tangan, misalnya ukir-ukiran, barang­ barang anyaman, batik tulis dan lain-lain.
4.    Industri kecil yang memberikan jasa dan membuat barang untuk pasaran terbatas, industri ini meliputi reparasi sepeda motor, industri pembuatan tahu dan tempe dan lain-lain (Nuril Huda, 2000).
Industri kecil di Indonesia dapat digolongkan berdasarkan eksistensinya kedalam tiga kelompok kategori, yaitu industri lokal, industni sentra, dan industri mandiri. (Irsan Azhari Saleh, 1986).
add. Industri Lokal
Industri lokal adalah kelompok industri yang menggantungkan kelangsungan hidupnya kepada pasar setempat yang terbatas serta relatif tersebar dari segi Iokasinya. Skala usaha kelompok ini umumnya sangat kecil sedangkan target nemasarannva sangat terbatas sehingga sarana transportasinva iuga sangat sederhana seperti sepeda, gerobak atau pikulan.
add. Industri Sentra
Industri sentra adalah kelompok jenis industri yang dari segi satuan usaha mempunyai ska!a kecil, tetapi membentuk suatu pengelompokan atau kawasan industri yang terdiri dari kumpulan unit-unit yang menghasilkan barang sejenis. Ditinjau dari segi tempat pemasarannya, kategoni jenis industri sentra mi umumnva menjangkau pasar yang lebih luas dari jenis industni lokal.
add. Industri Mandiri
Industri mandiri adalah kelompok jenis industri yang masih tergolong industri kecil namun dalam pengolahan produknya mampu mengadaptasikan teknologi yang cukup canggih. Sedangkan target pemasarannya lebih luas bila dibandingkan kedua industri keci! diatas.
Industri (usaha) kecil pengertiannya telah didefinisikan oleh beberapa instansi (Biro Pusat Statistik, Departemen Perindustrian, Bank Indonesia, Departemen Perdagangan, Kamar Dagang dan Industni) dengan landasan kritenia keuangan (asset dan modal) juga ada beberapa instansi yang menyoroti tentang tenaga kerja dan pemilik (Sutojo, dkk., 1993 dalam Thoyib, 1999). Dan beberapa pengertian industri kecil tersebut dapat dirangkum dalam tabel  berikut :

Tabel 1 : Definisi Usaha Kecil – Kriteria Berbagai Instansi

No

Nama Instansi

Kategori

Lain-Lain

 

 

Finansial

Tenaga Kerja

 

1.

Biro Pusat Statistik

-

Industri Kecil :

5-19 Orang

Industri Rumah Tangga :     <  5 Orang

-

2.

Departemen Perindustrian

Nila asset tidak termasuk rumah dan tanah   < Rp. 600 Juta


-

Pemilik Usaha WNI

3.

Bank Indonesia

Nilai asset tidak termasuk nilai dari bangunan   < Rp. 600 Juta


-

-

4.

Departemen Perdagangan

Maksimum modal aktif untuk usaha dagang < Rp. 25 Juta


-

-

5.

Kamar Dagang dan Industri

Perdagangan :

Modal Aktif < Rp. 150 Juta
Turn Over < Rp. 600 Juta
Pertanian :
Modal Aktif < Rp. 150 Juta
Turn Over < Rp. 600 Juta
Industri :
Modal Aktif < Rp. 150 Juta
Turn Over < Rp. 600 Juta
Konstruksi :
Modal Aktif < Rp. 250 Juta
Turn Over < Rp. 1 Milyar

-

-

Sumber : Sutojo, dkk., dalam Thoyib, 1999

2.2.2. Pengertian Pengusaha / Pengrajin Industri KeciI
Dewasa ini belum ada definisi baku yang mengatur batasan industri kecil. Setiap lembaga/instansi membuat definisi sendiri-sendiri dengan dasar dan tujuan yang berbeda, sehingga muncul bermacam-macam istilah, seperti usaha kecil, industni kecil, usaha informal, industri rumah tangga atau usaha sub sistem.
Menurut Budi dalam Nuril Huda (2000), industri kecil dapat dibagi menjadi 4 (empat) golongan, yaitu:

1.    Golongan yang menghasilkan barang-barang pemenuhan kebutuhan pasar, yaitu industri kecil yang bekerja melalui proses teknis dan hasilnya dapat langsung dijual kepada konsumen, seperti cangkul, kompor dan sebagainya.
2.    Golongan yang menghasilkan barang semi kerajinan berdasarkan suatu kreasi seni atau kerajinan tangan, seperti: batik, perhiasan, ukiran, anyam-anyaman, patung, keris, dan lain-lain.
3.    Golongan yang menghasilkan barang-barang pemenuhan kebutuhan industri besar/menengah, yaitu industni kecil yang melalui proses teknis dan hasilnya dijual kepada industri lain, misalnya industri suku cadang kendaraan benmotor, dan lain-lain.
4              Golongan yang berlokasi di desa-desa, vaitu industni kecil yang memenuhi kebutuhan wilayah akan jasa atau





Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar