JUDUL SKRIPSI : ANALISIS VARIABEL MAKRO TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN PERIODE 2001-2006 STUDI PADA PT. BURSA EFEK JAKARTA

Admin

SKRIPSI ANALISIS VARIABEL MAKRO TERHADAP HARGA SAHAM PERBANKAN PERIODE 2001-2006 STUDI PADA PT. BURSA EFEK JAKARTA  


A. Latar Belakang


Dalam perekonomian modern, pasar modal mempunyai peranan yang sangat penting dan merupakan tempat kegiatan investasi yang paling efektif untuk mempercepat kemajuan ekonomi suatu negara. Hal ini disebabkan karena di dalam suatu perekonomian, pasar modal menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan (Husnan, 2001: 4). 


Dalam melaksanakan fungsi ekonominya, pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan dana dari pihak yang mempunyai kelebihan dana (investor) kepada pihak yang memerlukan dana (emiten). Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, penyandang dana berharap akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut. Bagi peminjam dana, tersedianya dana tersebut pada pasar modal memungkinkan mereka untuk melakukan kegiatan usaha tanpa harus menunggu dana yang mereka peroleh dari hasil operasi perusahaan. Proses seperti ini diharapkan mampu akan meningkatkan produktivitas perusahaan, yang akhirnya mampu meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara.
Fungsi keungan dari pasar modal dilaksanakan dengan menyediakan dana yang diperlukan  oleh para peminjam dana, para penyandang dana menyerahkan dana tersebut tanpa harus terlibat langsung dalam bentuk kepemilikan aktiva riil yang digunakan dalam kegiatan investasi tersebut (Haruman, dkk., 2005:  26).
Untuk melakukan investasi terutama di pasar modal diperlukan pengetahuan yang cukup, pengalaman, serta naluri bisnis untuk menganalisis sekuritas mana yang akan dibeli, dijual maupun yang akan dimiliki. Untuk itulah dalam melakukan investasi terutama pada saham perlu dilakukan analisis yang baik dan rasional sehingga investor tidak mengalami kerugian (Sucipto, 2005: 51). 
Dalam menganalisis sekuritas ada dua cara yang sering dilakukan oleh  investor yaitu analisis teknikal dan fundametal. Analisis teknikal menggunakan data (perubahan) harga di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Analisis fundamental menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi terhadap harga saham seperti, kondisi perusahaan, kondisi industri dan kondisi ekonomi makro (Husnan, 2001: 48). 
 Menurut Siegel dalam Sucipto  (2005: 55) terdapat hubungan yang kuat antara harga saham  dan kinerja ekonomi makro (kondisi makro), dan menemukan bahwa perubahan pada harga saham selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan ekonomi.
Adapun Menurut Farel  dalam Haruman, dkk., (2005: 27) “more fundamentally (macroeconomics), one might propose that such underlying factors as inflation, real economic growth, interest rate, exchange rate, or risk premium significant impact in determining the returns of securities “.
Teori di atas sangat relevan apabila dikomperasikan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Ekaristi (2003) studi kasus pada LQ45 periode 2000-2001, kemudian diteliti lagi oleh Mahayani (2005) selama periode 2003 penelitian ini menemukan varabel makro (tingkat suku bunga dan inflasi) secara simultan mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan secara parsial ditemukan yang paling dominan pengaruhnya terhadap harga saham adalah variabel inflasi. Sedangkan hasil dari Mahayani (2005) secara parsial suku bunga yang paling dominan.
Dan dilakukan juga  oleh Rosalita (2006) pada periode 2003-2005 dengan menggunakan variabel inflasi, suku bunga, dan kurs USD/IDR (United States Dollar/Indonesian Rupiah) terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG). Dalam penelitian ini menemukan bahwa ketiga variabel tersebut secara simultan berpengaruh sangat signifikan terhadap IHSG. Secara parsial tingkat suku bunga yang paling dominan.
Semua hasil empiris di atas bisa dilihat secara langsung pada kondisi  riil yaitu data inflasi Indonesia untuk periode 2001-2003, memiliki trend turun, pada tahun 2001 inflasi tercatat 11,91% dan tahun 2002 turun menjadi 9,62, bahkan tahun 2003 cukup rendah dan terkendali pada angka 4,95%. Adapun kondisi kurs USD/IDR pada tahun 2001 rata-ratanya mencapai level 10.265,67 dan ini juga menunjukkan bahwa kurs USD/IDR mempunyai trend turun (mata uang rupiah terapresiasi terhadap mata uang dollar) pada tahun  2002 mencapai level 9261,17 dan pada tahun 2003 rupiah terapsiasi terhadap dollar mencapai 8571,17.
Adapun kondisi suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), mulai membaik pada periode 2002 sampai periode 2004. Pada tahun 2002 bulan Januari berada di level 17,50% sampai pada tahun 2004 mencapai titik terendah yaitu 7,32% pada tahun 2004 bulan Mei. Semua ini memberikan indikasi  bahwa tingkat  inflasi, tingkat suku bunga dan  kurs USD/IDR (nilai mata uang IDR terapsiasi terhadap USD) mulai membaik.
Menurut Bodie (1977,Common Stocks As A Hedge Against Inflation. Jurnal Of Busisness: 55, 201-201) dalam Haruman, dkk., (2005: 33) secara teoritis investasi pada saham pada periode tersebut mendapat perlindungan (hedge) yang baik dari pengaruh inflasi, tingkat suku bunga maupun pengaruh kurs USD/IDR karena saham merupakan klaim terhadap asset riil. Berdasarkan teori tersebut, tingkat pengambilan riil dari saham seharusnya terpengaruh oleh perubahan harga barang dan jasa.
Apabila data inflasi, kurs USD/IDR dan suku bunga (variabel makro) dikomperasikan dengan kondisi harga saham yang listing di BEJ yaitu dengan mengamati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maka terbukti, ketika kondisi variabel makro ekonomi membaik, IHSG juga  naik (semakin bagus), hal ini bisa dilihat selama periode 2001-2003 IHSG menunjukkan trend naik. Pada tahun 2001 IHSG berada pada level 425,6,  ketika tahun 2003 IHSG mencapai level tertinggi selama waktu tersebut yaitu mencapai level 752,9 (Haruman, dkk., 2005: 33).
Semua teori yang didukung dengan hasil empiris di atas, masih ada riset lain yang menemukan hasil kontroversial dengan teori terserbut. Penelitian ini dilakukan oleh  Muniroh (2005) dan penelitian ini lebih fokus pada sektor finansial selama tahun 2004 yang sebaagian besar sahamnya adalah saham perbankan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa variabel makro (tingkat suku bunga, inflasi, dan kurs USD/IDR) secara simultan mempunyai pengaruh  tidak signifikan terhadap harga saham. Secara parsial ketiga-tiganya tidak mampu memberi pengaruh secara signifikan.
Apabila teori yang dikatakan Siegel dalam Sucipto  (2005: 55) dan Farel  dalam Haruman, dkk., (2005: 27) dikaitkan dengan hasil penelitian Muniroh (2005) ternyata teori tersebut tidak relaven untuk saham sektor finansial. Kondisi seperti ini memberi kerancuan dalam mengambil keputusan bagi para pelaku bursa saham apakah variabel makro hanya berlaku pada sebagian saham saja atau apakah ada sebagian kecil yang tidak terpengaruh oleh variabel makro. Jika pengaruhnya hanya sebagian saja, bagiamana dengan harga saham perbankan, apakah variabel makro benar-benar memerpengaruhi harga saham perbankan atau sebaliknya, karena semua saham perbankan masuk pada sektor finansial yang telah ditiliti oleh Muniroh (2005).
Hasil penelitian Muniroh (2005) menimbulkan kerancuan lagi apabila dikaitkan dengan teori yang dikatakan Harianto dan Sudomo (2001: 356-358), mereka mengatakan bahwa industri perbankan sangat sensitif terhadap risiko pasar (perubahan variabel ekonomi makro), hal ini bisa dibuktikan ketika kondisi makro tidak bagus pada tahun 1997 rata-rata perubahan pasar selama bulan Juli sampai akhir September mencapai -21,78, akan tetapi untuk industri perbankan lebih besar dari risiko pasar yaitu mencapai -43,15. Dari data ini memberi indikasi bahwa variabel makro sangat mempengaruhi harga saham perbankan.
Penelitian ini fokus pada empat variabel makro ekonomi yaitu inflasi, kurs USD/IDR,  suku bunga SBI dan Gross Domestict Product, alasan  tidak digunakan semua variabel makro karena keempat  variabel teserbut dianggap telah mewakili terhadap sebagian variabel makro yang lain  dan selian itu, karena  keterbatasan peneliti dalam mengumpulkan data.
Berdasarkan teori dan beberapa hasil empiris di atas maka secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali apakah teori yang dikatakan oleh beberapa pakar di atas masih relevan khususnya untuk saham-saham perbankan yang go publik di PT. Bursa Efek Jakarta atau sebaliknya.. Hal inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian  dengan judul ”Analisis Variabel Makro Terhadap Harga Saham Perbankan (Studi Pada PT. Bursa Efek Jakarta Periode 2001-2006)”.
 


Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar