35.ANALISIS PENGARUH RISIKO SISTEMATIS TERHADAP JAKARTA ISLAMIC INDEX DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2005-2007 [54]

Admin

JUDUL SKRIPSI ANALISIS PENGARUH RISIKO SISTEMATIS TERHADAP JAKARTA ISLAMIC INDEX DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2005-2007 (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA) 


PENDAHULUAN 
A.          LATAR BELAKANG

Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia secara umum ditandai oleh berbagai indikator diantaranya adalah semakin maraknya para pelaku pasar modal syariah yang mengeluarkan efek-efek syariah selain saham-saham dalam Jakarta Islamic Index (JII). Efek syariah tersebut salah satunya adalah Saham Syariah.
Dalam perjalanannya perkembangan pasar modal syariah di Indonesia telah mengalami kemajuan, sebagai gambaran bahwa setidaknya terdapat beberapa perkembangan dan kemajuan pasar modal syariah yang patut dicatat hingga tahun 2004, diantaranya adalah telah diterbitkan 6 (enam) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal. Adapun ke enam fatwa dimaksud adalah :
1.      No.05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham;
2.      No.20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah;
3.      No.32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah;
4.      No.33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah;
5.      No.40/DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip syariah di Bidang Pasar Modal;
6.      No.41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah;
Dengan diterbitkannya fatwa-fatwa yang berkaitan dengan pasar modal, telah memberikan dorongan untuk mengembangkan alternatif sumber pembiayaan yang sekaligus menambah alternatif instrumen investasi halal.
Kinerja saham syariah yang terdaftar dalam JII mengalami perkembangan yang cukup mengembirakan. Hal ini terlihat dari kenaikan JII sebesar 38,60% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2003. Kapitalisasi pasar saham syariah yang terdaftar dalam JII juga meningkat signifikan, yaitu sebesar 46,06% dari Rp.177,78 triliun menjadi Rp.259,66 triliun pada akhir Desember 2004. (Setiawan, 2005)
Tabel: 1.1
Perkembangan Saham JII
No
Tahun
Index Syariah Jakarta Islamic Index
1
2003
Rp. 177,78 T
2
2004
Rp. 259,66 T
Sumber: Bloomberg, 2008
Investasi melalui pasar modal selain memberikan hasil atau keuntungan, investor juga harus memperhatikan adanya resiko yang berkaitan dengan kepemilikan suatu saham. Dalam dunia nyata, tidak ada  suatu investasi yang tidak mengandung resiko, hal tersebut memberikan implikasi kepada investor untuk menilai dan membandingkan antara risiko dengan harga saham pada suatu perusahaan tertentu. Dengan mengasumsikan bahwa investor bersifat  risk averse (investor yang tidak menyukai risiko) dan rasional, maka investor hanya akan memilih Risiko terkecil, jika dihadapkan pada dua atau lebih investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang sama. (Halim, 2005: 42)
Risiko saham dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: (1) risiko tidak sistematis dan (2) risiko sistematis, risiko tidak sistematis adalah risiko yang bersifat spesifik bagi masing-masing perusahaan. Sehingga risiko tidak sistematis dapat dihilangkan dengan cara diversifikasi saham, sedangkan risiko sistematis adalah suatu risiko yang tidak dapat dideversifikasi melalui kombinasi saham dalam suatu portofolio, risiko ini dipengaruhi kejadian-kejadian diluar kegiatan perusahaan, seperti inflasi tingkat suku bunga, kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS, resesi, dan politik. (Jogiyanto, 2003: 170-171)
PT Bursa Efek Indonesia (BEI), merupakan suatu sarana untuk investasi tidak langsung yang bertujuan menunjang program pemerintah dibidang pasar modal, yaitu sebagai sarana menghimpun dana masyarakat, disamping itu diharapkan dengan adanya Bursa Efek Indonesia (BEI) pengusaha Indonesia bisa mendapatkan tambahan modal yang lebih mudah dan murah untuk jangka panjang. (Hayinah, 2004: 3)
Tingkat suku bunga SBI dalam 3 tahun terakhir terlihat mengalami penurunan, dimana tingkat suku bunga SBI pada tahun Desember 2005 adalah sebesar 12.75 % yang menurun menjadi sebesar 9.75 % di tahun 2006, dan kembali menurun sebesar 8.00 % di tahun 2007.
Semakin menurunnya tingkat suku bunga SBI ini ada indikasi dipicu oleh tingginya aktivitas perdagangan valuta asing dalam hal ini dolar Amerika, sehingga ada kecenderungan banyak investor yang lebih memilih menginvestasikan dananya di sektor perdagangan valuta asing. Nilai fluktuasi perdagangan valuta asing dalam hal ini rupiah dan dolar AS  dalam tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi dimana pada bulan Januari 2005 nilai kurs rupiah terhadap Dolar AS adalah Rp. 9,665.00 dan ditutup pada akhir Desember 2005 adalah sebesar Rp. 10,330.00. Pada bulan Januari 2006 nilai kurs Rupiah adalah sebesar Rp. 9,895.00 dan ditutup pada akhir Desember 2006 adalah sebesar Rp. 9,520.00, dan pada tahun 2007 nilai kurs rupiah terhadap Dolar pada bulan Januari 2007 adalah sebesar Rp. 9,590.00 dan ditutup pada Desember 2007 sebesar Rp. 9,919.00.
Dari sisi tingkat inflasi seperti kita ketahui bersama semenjak krisis moneter yang melanda Indonesia dimana mana harga barang dan jasa secara keseluruhan naik, sehingga mengakibatkan nilai uang turun. Hal ini ternyata tidak mempengaruhi tingkat inflasi yang mana pada tiga tahun terakhir menunjukkan tingkat inflasi yang semakin menurun dari tahun ke tahun dimana tingkat inflasi pada akhir Desember 2005 adalah sebesar 17.11 %, kemudian pada akhir Desember 2006 turun menjadi sebesar 6.60 % dan menurun pada akhir Desember tahun 2007 menjadi sebesar 6.59 %. (www.kadin-indonesia.or.id)
Secara jelas perubahan nilai SBI, nilai kurs dan inflasi pada tahun 2005-2007 dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel: 2
Perubahan nilai SBI, nilai kurs dan inflasi pada tahun 2005-2007
No
Tahun
SBI
Inflasi
Nilai Kurs
1
2005
12.75%
17.11 %
10,330.00
2
2006
9.75%
6.60 %
9,520.00
3
2007
8.25%
6.59 %
9,919.00

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarwono (2003) disebutkan bahwa variabel rate of return on total assets, devidend payout ratio, financial leverage dan tingkat suku bunga merupakan variabel yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Okty, (2002) yang menyebutkan bahwa faktor ekstern yang mempunyai pengaruh besar terhadap harga saham adalah tingkat suku bunga dan inflasi. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh  Robiatul Auliyah dan Ardi Hamzah (2006) variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap beta saham adalah cyclicality, kurs rupiah terhadap dolar dan Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham seperti yang tersebut di atas, penelitian ini akan difokuskan terhadap obyek penelitian bagaimana pengaruh Risiko Sistematis (nilai tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi) terhadap Jakarta Islamic Index (JII).
Dipilihnya risiko sistematis yang berpengaruh terhadap indeks harga saham ini mengingat kondisi situasi perekonomian Indonesia yang mulai membaik setelah terjadinya krisis moneter yaitu dengan menurunnya nilai inflasi maupun suku bunga dalam tiga tahun terakhir. (Bappenas: 2007)
Dari penjelasan diatas, maka peneliti mengambil judul “Analisis   Pengaruh Risiko Sistematis Terhadap Jakarta Islamic Index di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2007




Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar