SKRIPSI APLIKASI MANAJEMEN KREDIT TERHADAP PENINGKATAN PROFITABILITAS PT. BPR HAMINDO NATAMAKMUR PARE KEDIRI [53]

Admin

JUDUL SKRIPSI APLIKASI MANAJEMEN KREDIT TERHADAP PENINGKATAN PROFITABILITAS PT. BPR HAMINDO NATAMAKMUR PARE KEDIRI [LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA] 


A.     PENDAHULUAN
Akibat krisis moneter yang melanda Indonesia mengakibatkan sebagian dunia usaha di Indonesia hancur dan berdampak pada rendah dan hilangnya kemampuan mengembalikan pinjaman nasabah pada bank sesuai kesepakatan, yang akhirnya mengganggu likuiditas bank. Untuk itu Bank sebagai lembaga keuangan harus mampu untuk menciptakan sebuah manajemen yang mampu mengelola, menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat secara efektif dan efisien ke arah peningkatan taraf hidup rakyat.
Kredit yang diberikan PT. BPR Hamindo Natamakmur merupakan suatu investasi modal kerja yang memiliki risiko yang cukup tinggi. Untuk meminimalisir risiko tersebut, maka seharusnya Bank menerapkan manajemen kredit yang baik sehingga dengan kemampuan manajemen tersebut mampu memberikan keuntungan yang diharapkan dan dapat meningkatkan profitabilitas Bank.
Kehancuran bisnis bank, terutama dalam hal perkreditan tidak hanya dikarenakan manajemen kredit yang dibentuk oleh bank yang tidak dijalankan dengan sebaik-baiknya, akan tetapi banyak juga dikarenakan ulah nasabah atau Account Officer yang belum matang sebagai pemutus kredit, telah diberi tanggung jawab untuk mengelola kredit. Sehingga cukup banyak kegagalan kredit nasabah yang juga sebagai akibat ketidak tajaman analisis Account Officer. Account Officer tidak melakukan monitor secara berkala serta lemahnya pengawasan secara administratif. (Rivai, 2006:XIII)
Demikian halnya dengan PT. BPR Hamindo Natamakmur yang merupakan salah satu lembaga keuangan, berusaha untuk membantu kesejahteraan masyarakat Pare pada khususnya yang relatif pekerjaannya adalah pedagang-pedagang kecil menengah, dengan membantu memberikan modal usaha kepada masyarakat secara kredit.
BPR Hamindo Natamakmur yang berdiri tahun 1995, yang berlokasi di Jalan Pahlawan Kusuma Bangsa No. 23 Pare Kediri ini merupakan BPR yang cukup mampu mendapat kepercayaan masyarakat dan mengembangkan usaha kreditnya. Hal ini bisa dilihat pada jumlah debitur kreditnya yang semakin bertambah di tiap tahunnya. Adapun perkembangan jumlah debiturnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


Tabel 1.1
Daftar Jumlah Debitur Kredit
PT. BPR Hamindo Natamakmur
Tahun 2003 - 2006



N0
Tahun
Jumlah Debitur
1
2003
2838
2
2004
2949
3
2005
3311
4
2006
3546
               Sumber : PT. BPR Hamindo Natamakmur, Desember 2006
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari tahun 2003 sampai 2006 jumlah debitur kredit mengalami peningkatan. Tahun 2003 ke tahun 2004 debitur bertambah sebanyak 111 debitur. Tahun 2004 ke tahun 2005 bertambah sebanyak 362 debitur. Sedangkan tahun 2005 ke tahun 2006 bertambah sebanyak 235 debitur. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan kredit yang menjadi faktor utama bisnis dari PT. BPR Hamindo Natamakmur mengalami perkembangan yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa minat nasabah terhadap kredit sangat baik pula.
Akan tetapi dengan peningkatan debitur ini selain berakibat baik terhadap pendapatan laba, juga berakibat terhadap kemungkinan terjadinya risiko kredit macet yang lebih besar. Seperti terlihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 1.2
Daftar Kualitas Kredit Aktiva Produktif
PT. BPR Hamindo Natamakmur
31 Desember 2006



Kolektibilitas Pinjaman
31 Des 2006
%
Lancar
15.535.837
90,5%
Kurang Lancar
226.312
1,3%
Diragukan
397.749
2,3%
Macet
996.947
5,8%
Jumlah
17.156.845
100%
               Sumber :PT. BPR Hamindo Natamakmur, 2007
Dari keterangan diatas dapat digambarkan bahwa kredit macet PT. BPR Hamindo Natamakmur mencapai nilai 5,8% sedangkan standar kredit macet apabila terjadi tunggakan kredit mencapai nilai 6%, hal ini berarti bahwa kredit macet pada PT. BPR Hamindo Natamakmur masih kurang 0,2% lagi untuk dikatakan macet. Oleh karena itu supaya tunggakan ini tidak menjadi kredit macet maka pihak bank harus segera menanganinya secara cepat dan tepat, sehingga kemungkinan terjadinya kredit macet ini akan semakin kecil. Apabila tunggakan kredit ini dibiarkan maka akan semakin meningkat dan besar nilainya, hal ini akan mengganggu kelancaran aktivitas bank.
B.     TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan manajemen kredit yang dijalankan PT. BPR Hamindo Natamakmur, mendeskripsikan upaya-upaya yang diterapkan di PT. BPR Hamindo Natamakmur untuk meningkatkan profitabilitas melalui manajemen kredit dan mendeskripsikan manajemen kredit yang efektif dilihat dari rasio profitabilitas.
C.     METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder, dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Dalam menganalisa menggunakan tiga tahapan yaitu menganalisa manajemen kredit yang diterapkan oleh BPR Hamindo Natamakmur, menganalisa upaya-upaya yang dilakukan oleh manajemen dalam meningkatkan profitabilitas dan menganalisa laporan keuangan.
D.    KAJIAN TEORITIS
1         Kajian Tentang Bank
a.       Pengertian Bank
      Kata bank berasal dari kata banque dalam bahasa Perancis, dan banco dalam bahasa Italia, yang dapat berarti peti/lemariatau bangku. Kata peti atau lemari menyiratkan fungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga, seperti emas, peti berlian, peti uang dan sebagainya.
Menurut Undang-undang No.10 Tahun 1998 “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Bank secara sederhana juga dapat diartikan sebagai “Lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya”.(Kasmir, 2000:11)
b.      Pengertian BPR
Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terdiri dari bank pasar, bank desa, dan lumbung desa. BPR adalah sekelompok bank yang memiliki kegiatan perbankan yang hanya menerima simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito serta memberi kredit berskala kecil dalam jangka pendek kepada masyarakat.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) didefinisikan oleh Undang-undang No. 10 Tahun 1998 sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syari’ah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2        Kajian Tentang Manajemen
a.       Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa Inggris yaitu to manage yang artinya mengatur. Manajemen di dalam suatu badan usaha, baik industri, niaga atau jasa, tidak terkecuali jasa perbankan, didorong oleh motif  mendapatkan keuntungan (profit).(Arifin, 2002:102)
b.      Fungsi Manajemen
Agar dapat memberi manfaat, manajemen harus difungsikan dan dioperasionalkan. Adapun fungsi manajemen menurut Husnan (2002:6) terdiri dari :
1)      Perencanaan
      Kegiatan untuk menyusun kerangka kerja atas pekerjaan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dari organisasi.
2)      Pengorganisasian
      Suatu langkah dalam menentukan bagaimana melaksanakan perencanaan yang meliputi kegiatan pengorganisasian seluruh fungsi yang ada di dalam organisasi agar dapat bekerja.
3)      Pelaksanaan
      Pelaksanaan adalah perwujudan dalam tindakan dari rencana yang telah digariskan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
4)      Pengendalian
Pengendalian yaitu suatu proses dan rangkaian aktivitas untuk mengusahakan agar suatu pekerjaan dapat dioperasikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan tahapan yang harus dilalui, sehingga apabila terdapat aktivitas yang menyimpang dari rencana dapat segera diadakan perbaikan.
3        Kajian Tentang Kredit   
a.       Pengertian Kredit
Kredit berasal dari bahasa Yunani yaitu “credere” yang artinya kepercayaan, maksudnya apabila seseorang menerima kredit maka berarti mereka memperoleh kepercayaan. Sedangkan bagi pemberi kredit berarti mereka percaya kepada orang tersebut bahwa uang yang dipinjamkan pasti akan kembali. (Kasmir, 2000:72)
Adapun menurut Rivai (2006:4), “Kredit adalah penyerahan barang, jasa atau uang dari satu pihak (kreditur/pemberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah/pengutang) dengan janji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati.
b.      Unsur Kredit
Kredit diberikan atas dasar kepercayaan sehingga pemberian kredit adalah pemberian kepercayaan. Hal ini berarti bahwa prestasi yang diberikan benar-benar diyakini dapat dikembalikan oleh penerima kredit sesuai dengan waktu dan syarat yang disepakati bersama. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka unsur-unsur dalam kredit tersebut (Kasmir, 2000:74-75) adalah :
1)      Kepercayaan, yaitu suatu keyakinan kreditur bahwa kredit yang disalurkan/diberikan berupa uang, barang atau jasa akan benar-benar kembali untuk dimasa yang akan datang.
2)      Kesepakatan, maksudnya kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak (debitur dan kreditur) menandatangani hak dan kewajiban masing-masing.
3)      Jangka waktu, artinya ini menyangkut masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada kredit yang tidak memiliki jangka waktu.
4)      Resiko, maksudnya faktor resiko kerugian ini dapat disebabkan 2 hal yaitu nasabah yang sengaja tidak mau membayar kreditnya padahal mampu dan resiko yang diakibatkan nasabah tidak sengaja  yaitu terjadinya musibah seperti bencana alam.
5)      Balas jasa, artinya dari pemberian fasilitas kredit bank tentu mengharapkan suatu keuntungan dalam jumlah tertentu. Keuntungan atas pemberian kredit dikenal dengan bunga bagi bank konvensional.
c.       Tujuan Kredit
Menurut Rivai (2006:6) pada dasarnya terdapat dua tujuan yang saling berkaitan dengan kredit yaitu :
1)      Profitability, yaitu tujuan untuk memperoleh hasil dari kredit berupa keuntungan yang diraih dalam bentuk bunga yang diterima dari nasabah.
2)      Safety, yaitu keamanan dari prestasi atau fasilitas yang diberikan dalam bentuk uang, barang atau jasa itu harus benar-benar terjamin pengembaliannya, sehingga keuntungan yang diharapkan itu dapat menjadi kenyataan.
4        Kajian Tentang Manajemen Kredit
a.       Manajemen Kredit
Bank sangat perlu untuk menerapkan manajemen kredit yang tepat, karena hal ini akan menciptakan efisiensi dan efektifitas dalam sebuah kegiatan usaha. Dimana nantinya akan memperkecil risiko kredit yang direalisasikan dan akan berujung pada meningkatnya laba.
Menurut Kasmir (2000:72) manajemen kredit adalah bagaimana mengelola pemberian kredit mulai dari kredit tersebut diberikan sampai dengan kredit  tersebut lunas.
Pengelolaan kredit harus dilakukan sebaik-baiknya, mulai dari perencanaan kredit, penentuan suku bunga, prosedur pemberian kredit, analisis pemberian kredit dan kolektibilitas kredit. Dalam buku Kasmir (2000:72-104) manajemen kredit  mencakup :
1)      Perencanaan Kredit
Menurut Rivai, (2006:113) menyebutkan aspek penting yang harus diperhatikan dalam rencana kredit antara lain :
a)      Kondisi perekonomian moneter secara makro.
b)      Kegiatan pasar modal dan lembaga keuangan lain yang juga memberikan fasilitas pembiayaan kepada masyarakat.
c)      Kondisi bank yang dapat diketahui melalui SWOT Analysis dan Bank Performance Analysis.
d)     Kemampuan nasabah dan manajemen bank.
e)      Komposisi dana dan kemampuan  bank dalam menghimpun dana.
f)       Strategi pemasaran produk-produk bank.
2)      Analisis Pemberian Kredit
Ada beberapa prinsip penilaian kredit yng sering dilakukan yaitu sering dikenal dengan analisis/konsep 5C dan analisis 7P. Konsep 5C ini akan memberikan informasi mengenai itikad baik (willingness to pay) dan kemampuan membayar (ability to pay) nasabah untuk melunasi kembali pinjaman beserta bunganya. (Kasmir, 2000:91)
Menurut Sutojo (2000:121) konsep 5C atau biasa disebut dengan prinsip perkreditan antara lain :
                                                                 (1).Character, adalah sifat atau watak seseorang dalam hal ini calon debitur.
                                                                 (2).Capacity, adalah kemampuan calon nasabah dalam membayar kredit yang dihubungkan dengan kemampuannnya mengelola bisnis serta kemampuannya mencari laba.
                                                                 (3).Capital, adalah untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank.
                                                                 (4).Collateral, merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan.
                                                                 (5).Condition, dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan untuk dimasa yang akan datang sesuai sektor masing-masing.
Sedangkan penilaian kredit dengan 7P adalah sebagai berikut : (Kasmir, 2000:93)
                                                                 (1).Personality, yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya.
                                                                 (2).Party, yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas serta karakternya.
                                                                 (3).Perpose, yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.
                                                                 (4).Prospect, yaitu untuk menilai jumlah nasabah di masa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.
                                                                 (5).Payment, merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit yang diperolehnya.
                                                                 (6).Profitability, menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba.
                                                                 (7).Protection, tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang dikucurkan oleh bank namun melalui suatu perlindungan.
Penilaian kredit dengan studi kelayakan meliputi : (Kasmir, 2000:94-95)
                                                                 (1).Aspek Hukum, merupakan aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen atau surat lainnya.
                                                                 (2).Aspek pasar dan pemasaran, yaitu aspek untuk menilai prospek usaha nasabah sekarang dan dimasa yang akan datang.
                                                                 (3).Aspek Keuangan, merupakan aspek untuk menilai kemampuan calon nasabah dalam membiayai dan mengelola usahanya.
                                                                 (4).Aspek Operasi/Teknik, merupakan aspek untuk menilai tata letak ruangan, lokasi usaha dan kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan prasarana yang dimilikinya.
                                                                 (5).Aspek Manajemen, merupakan aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
                                                                 (6).Aspek Ekonomi/Sosial, merupakan aspek untuk menilai dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dengan adanya suatu usaha terutama terhadap masyarakat, apakah lebih banyak benefitnya atau cost atau sebaliknya.
                                                                 (7).Aspek AMDAL, merupakan aspek yang menilai dampak lingkungan yang akan timbul dengan adanya suatu usaha, kemudian cara-cara pencegahan.
3)      Prosedur Pemberian Kredit
Menurut Kasmir (2000:96-97) secara umum prosedur pemberian kredit terdiri dari :
a)      Pengajuan Proposal, yang berisi tentang : riwayat perusahaan, tujuan pengambilan kredit, besarnya kredit dan jangka waktu, cara pemohon mengembalikan kredit, dan jaminan kredit. Adapun di dalamnya terdapat juga berkas-berkas, seperti :
                                                             (1).    Akte pendirian perusahaan
                                                             (2).    Bukti diri (KTP) para pengurus dan pemohon kredit
                                                             (3).    T.D.P (Tanda Daftar Perusahaan)
                                                             (4).    N.P.W.P (Nomor Pokok Wajib Pajak)
                                                             (5).    Neraca dan laporan rugi laba 3 tahun terakhir
                                                             (6).    Fotocopy sertifikat yang dijadikan jaminan
                                                             (7).    Daftar penghasilan bagi perseorangan
                                                             (8).    Kartu Keluarga (KK) Perseorangan
b)      Penyelidikan Berkas Pinjaman, yaitu dengan menyelidiki dokumen-dokumen yang diajukan pemohon kredit.
c)      Penilaian Kelayakan Kredit, penilaian layak atau tidak suatu kredit yang disalurkan maka perlu dilakukan suatu penilaian kredit yaitu 5C, 7P dan Studi Kelayakan.
d)     Wawancara Pertama, merupakan penyidikan kepada calon peminjam dengan cara berhadapan langsung dengan calon debitur.
e)      Peninjauan ke Lokasi, yaitu melakukan peninjauan ke lokasi yang menjadi obyek kredit, kemudian hasilnya dicocokkan dengan hasil wawancara pertama.
f)       Wawancara Kedua, merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan-kekurangan pada saat setelah peninjauan dilakukan di lapangan.
g)      Keputusan Kredit, menentukan apakah layak untuk diberikan atau ditolak permohonan kredit tersebut.
h)      Penandatanganan Akad Kredit, penandatanganan dilakukan antara bank dengan debitur secara langsung.
i)        Realisasi Kredit.
4)      Administrasi Kredit
Menurut Rivai (2006:760-762) fungsi yang terdapat dalam administrasi kredit adalah :
a)      Sebagai sumber data informasi /data bagi manajemen
b)      Sebagai alat komunikasi antara bank dan debitur
c)      Digunakan untuk instrument pengawasan intern dan ekstern kredit
d)     Sebagai pertanggungjawaban dokumen kredit. Alat pembuktian bila terjadi sengketa
e)      Sumber data untuk laporan
f)       Alat untuk penentuan kualitas kredit
Menurut Sinungan (2000:259) menyebutkan bentuk laporan yang diperlukan antara lain :
a)      Kartu Induk Debitur, kartu ini merupakan identifikasi tentang kredit seorang debitur, yang didalamnya berisi hal-hal antara lain : nama dan alamat perusahaan, bidang usaha, maksimum kredit, jangka waktu kredit, bunga/profisi kredit, nomor dan tanggal akad kredit maupun pengajuan kredit serta riwayat perjalanan kredit.
b)      Laporan Pemberian Kredit, laporan ini dibuat dalam bulanan, dan selanjutnya untuk diajukan ke direksi.
c)      Laporan Realisasi Kredit dan Mutasi Kredit, laporan ini dimaksudkan untuk melihat perkembangan usaha yang dimiliki debitur.
5)      Kolektibilitas Kredit
Sinungan (2000:265) menyebutkan Collectibility kredit meliputi:
a)      Collectibility (A), yaitu kredit yang perjalanannya lancar (memuaskan) artinya segala kewajiban (bunga dan angsuran utang pokok) diselesaikan oleh nasabah secara baik.
b)      Collectibility (B), yaitu kredit-kredit yang kurang lancar/tidak lancar seperti : kredit yang selama 3/6 bulan mutasinya tidak lancar, pembayaran-pembayaran bunga tidak baik serta angsuran utang pokokpun demikian pula.
c)      Collectibility (C), yaitu kredit yang tidak lancar dan telah sampai pada jatuh temponya belum dapat juga diselesaikan oleh nasabah yang bersangkutan. Umumnya bank memberi kesempatan untuk berusaha menyelesaikan selama 3/6 bulan.
d)     Collectibility (D), yaitu kredit bermasalah atau lebih dikenal dengan kredit macet. Kredit macet sebagai kelanjutan dari usaha penyelesaian atau pengaktifan kembali kredit yang tidak lancar dan usaha itu tidak membuahkan hasil, barulah kredit tersebut dikatakan kredit macet.
6)      Pengawasan Kredit
     Pengawasan kredit yaitu usaha  untuk mengendalikan pelaksanaan kredit oleh bank dan nasabah agar persyaratan dan target yang diasumsikan dapat dipenuhi sebagai dasar persetujuan kredit. (Rivai, 2006:564)
      Pelaksanaan fungsi pengawasan ini merupakan tanggungjawab setiap level manajemen ataupun setiap individu yang mengelola kegiatan di bidang perkreditan masing-masing bank.
      Lingkup pengawasan kredit dapat dibedakan atas sebagai berikut :
a)      Pengawasan dalam arti sempit, yaitu berupa pengawasan administrasi yang mempunyai ruang lingkup untuk mengetahui kebenaran data-data administrasi.
b)      Pengawasan dalam arti luas yaitu kegiatan pengendalian yang dikenal dengan pengendalian manajemen yang mempunyai ruang lingkup yang lebih luas, yaitu di bidang :
(1)   Financial, yang di dalam pelaksanaannya sering disebut financial audit.
(2)   Operational, yang sering disebut operational audit/performance audit.
(3)   Management/policy, yang sering disebut management audit.



Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar