51.ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN PADA PT. TEXMACO JAYA TBK

Admin

JUDUL SKRIPSI ANALISIS LAPORAN KEUANGAN UNTUK MENILAI KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN  PADA PT. TEXMACO JAYA TBK (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA) 


BAB I
PENDAHULUAN 

A.    LATAR BELAKANG

Era globalisasi saat ini  persaingan usaha sangatlah ketat dan banyak perusahaan yang bangkrut atau dalam keadaan pailit. Keadaan pailit adalah menggambarkan perusahaan yang tidak mampu membayar hutang pada saat jatuh tempo (Sundjana dan Barlian, 2003: 191). Satu indikator untuk menilai daya saing sebuah perusahaan adalah besar laba ekonomi yang diperoleh perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan dapat dikatakan mempunyai daya saing yang kuat jika perusahaan itu mampu memperoleh laba ekonomi di atas rata-rata perolehan laba ekonomi para pesaingnya dan di dalam industri atau pasar yang sama. Nilai ekonomi diciptakan oleh perusahaan dari serangkaian aktivitas yang dimulai dari hulu sampai hilir. Sebuah perusahaan dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi dari pesaing jika perusahaan tersebut dapat melakukan aktivitas-aktivitas tersebut dengan lebih baik dibandingkan dengan para pesaingnya. Agar dapat melakukan ini, sebuah perusahaan haruslah memiliki sumberdaya dan kapabilitas yang unggul yang tidak dapat ditiru oleh pesaing.   Terutama dalam menghadapi persaingan bisnis industri tekstil dengan perkembangan mode yang terus berjalan menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas produk, supaya dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Untuk itu pihak manajemen harus pandai mengatur dan bijak dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masalah keuangan. Pihak manajemen harus mampu mengambil keputusan tentang penetapan sumberdana dan keputusan investasi serta pengalokasian dana.

Dengan ketatnya persaingan dalam industri menuntut perusahaan untuk memiliki keunggulan dalam melakukan usahanya. Untuk itu, keunggulan yang dapat diukur adalah kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan analisis laporan keuangan yang dapat memberikan informasi mengenai keadaan keuangan perusahaan. Laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antar data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data–data aktivitas tersebut. Laporan keuangan perusahaan tersebut bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan secara ekonomi.
Adapun laporan keuangan sangat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan antara lain, investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok, dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, masyarakat dan manajemen perusahaan. Investor sebagai penanam modal berkepentingan dengan resiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Informasi keuangan digunakan untuk menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Selain itu seorang investor memperhatikan tentang return yang diharapkan karena tujuan investasi adalah untuk memperoleh deviden (return). Karyawan berkepentingan dengan laporan keuangan yaitu untuk mengetahui mengenai informasi stabilitas, profitabilitas perusahaan dan informasi keuangan yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam membayar hutang dan bunga pada saat jatuh tempo. Pelanggan untuk mengetahui informasi tentang kelangsungan aktivitas perusahaan. Pemerintah memerlukan informasi tentang laporan keuangan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional. Sedangkan manajemen perusahaan untuk memantau keadaan perusahaan (Sundjaja, 2003: 76-77).
Dengan diketahuinya kondisi keuangan perusahaan, keputusan yang rasional dapat dibuat dengan bantuan alat-alat analisis tertentu. Analisis keuangan dapat dilakukan oleh pihak eksternal perusahaan seperti kreditor, para investor, maupun pihak internal perusahaan sendiri. Untuk itu dapat digunakan analisis keadaan keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio. Dimana hasilnya akan memberikan pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok sebagai input dalam analisis ratio ini adalah laporan rugi laba dan neraca perusahaan. Dengan kedua laporan ini akan dapat ditentukan sejumlah rasio dan selanjutnya rasio ini dapat digunakan untuk menilai beberapa aspek tertentu dari operasi perusahaan.
Analisis laporan keuangan merupakan analisis mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laporan laba rugi. Neraca merupakan laporan yang menggambarkan jumlah kekayaan (harta), kewajiban (hutang) dan modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Sedangkan laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan jumlah penghasilan atau pendapatan dan biaya dari suatu perusahaan pada periode tertentu.
Diantara 9 perusahaan tekstil yang tercatat di bursa efek yaitu PT Apac Citra Centertex Tbk, PT Argo Pantes Tbk, PT Eratex Djaja Tbk, PT Ever Shine Textile Tbk, PT Indo-Rama Synthetics Tbk, PT Panasia Indosyntec Tbk, PT Sunson Textile Tbk, PT Texmaco Jaya Tbk dan PT Unitex Tbk. Dari perusahaan tersebut, PT. Texmaco Jaya yang menghadapi masalah keuangan yang cukup sulit dan mengalami ancaman kebangkrutan. Ini terjadi karena adanya krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997. Sebelum terjadi krisis ekonomi, industri  tekstil umumnya terjadi perkembangan, karena adanya penerapan kebijakan subsitusi impor (SI) sebagai strategi industrialisasinya.
Sejak diterapkan kebijakan subsitusi impor (SI) sebagai strategi industrialisasinya, maka ada banyak perubahan drastis diperkenalkan oleh pemerintah menyangkut kebijakan-kebijakan perdagangan dan investasi. Dan ini sangat terasa pada industri-industri yang berkenaan dengan kebutuhan dasar masyarakat seperti makanan, minuman dan tekstil. Industri tekstil misalnya, diberikan banyak sekali insentif untuk berkembang, seperti adanya bebas bea masuk untuk impor barang modal dan mesin peralatan serta disertai pula berbagai keringanan dan pembebasan pajak. Selain itu ekonomi Indonesia memang tumbuh pesat yang memungkinkan masyarakat memiliki pendapatan yang memadai. Semua hal ini punya peran penting dalam mendorong maraknya bisnis tekstil di Indonesia. Dapat dilihat pada tabel tentang perkembangan kebijakan industri nasional Indonesia.
Periode
iode
rehabilitasi dan stabilisasi (1967-1972)
Periode boom minyak (1973-1981)
Periode penurunan harga minyak (1982-1986)
Periode penurunan harga minyak (1986-1996)
Periode krisi dan pemulihan (1997-2004)
Pemuihan dan pengembangan  (2005-2009)
    Jenis     kebijakan
s       kebi
jakan
Mengembangan industri subtitusi impor
· Pengambangan industri subtitusi impor dengan pendalaman dan pe mantapan struktur industri,
· Pengambangan indutri mellaui penguasaan teknologi di beberapa bidang (pesawat terbang, mesin, perkapalan)
· pengambangan industri subtitusi impor dengan pendalaman dan pe mantapan struktur industri,
· Pengambangan indutri mellaui penguasaan teknologi di beberapa bidang (pesawat terbang, mesin , perkapalan)
· Pengembangan
· Revitalisasi, konsolidasi, dan restrukturisasi industri
· Revitalisasi, konsolidasi, dan restrukturisasi industri
· Pengembangan industri berkeunggulan kompetitif dengan perkembangan klaster dan kompetensi  inti daerah
PT Texmaco Jaya dahulu merupakan pabrik pemintalan tradisional, yang bernama Firma Djaya Perkasa di Pekalongan, Jawa Tengah pada tahun 1961. Pabrik ini dilengkapi sekitar 300 peralatan tenun tangan tradisional yang dibeli dari pengrajin dan tukang-tukang kayu di sekitar Pekalongan. Sebagai kota yang akrab dengan aktivitas pemintalan, mesin-mesin pemintalan kayu tradisional bukanlah sesuatu yang baru di Pekalongan.
Karena aktivitas bisnisnya yang semakin berkembang dan permintaan pasar domestik terhadap tekstil demikian besar. Pada tahun 1967 PT. Texmaco Jaya kemudian memperluas aktivitas bisnisnya dengan membuka sebuah pabrik pemintalan baru di Pemalang. Pabrik ini juga dilengkapi dengan peralatan tenun tradisional untuk operasionalnya.
Selain karena kepiawaian pemilik dari PT. Texmaco Jaya dalam menangkap sinyal perkembangan bisnis tekstil yang demikian menjanjikan, ekspansi bisnis ke Pemalang ini juga dimungkinkan karena lingkungan bisnis yang diciptakan oleh pemerintah Indonesia saat itu untuk industri tekstil benar-benar kondusif.
Karena prospek bisnis yang demikian menggairahkan, berbagai penyesuaian dilakukan oleh PT. Texmaco Jaya. Pada bulan November 1970 misalnya, nama perusahaan dirubah dari Firma Djaya Perkasa menjadi TEXMACO JAYA (TJ). Texmaco adalah nama yang merupakan kependekan dari Textile Manufacturing Company. Sebuah nama yang mengandung nuansa internasional yang kental.
Sebagai respon terhadap demikian pesatnya permintaan akan produk tekstil di pasar domestik dan juga terdorong oleh berbagai insentif yang diberikan pemerintah, TJ pada tahun 1970 mengimpor mesin pemintal bekas dari Korea (Wang Pong) dan India (Sun Rise and Cooper) untuk pabrik di Pemalang dan Pekalongan. Disamping karena harganya yang relatif terjangkau, keputusan untuk mengimpor mesin pemintal bekas ini juga dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah di kurun 1971-1974, yang mendorong dan mengijinkan pengusaha-pengusaha di industri tekstil untuk mengimpor mesin-mesin tekstil bekas yang usianya dibawah 10 tahun.
Dari penjelasan tersebut, begitu pentingnya tentang analisis laporan keuangan bagi pihak intern maupun pihak ekstern perusahaan, maka peneliti mengambil judul tentang “Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT Texmaco Jaya Tbk.”
 




Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar