SKRIPSI ANALISIS PENGARUH STOCK SPLIT TERHADAP HARGA SAHAM DAN LIKUIDITAS DI BURSA EFEK JAKARTA (STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN STOCK SPLIT) {46}

Admin

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PENGARUH STOCK SPLIT TERHADAP HARGA SAHAM  DAN LIKUIDITAS DI BURSA EFEK JAKARTA  (STUDI PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN STOCK SPLIT) 


Pasar modal merupakan wadah dimana perusahaan dan investor melakukan transaksi atas sekuritas. Pada hakikatnya, pasar modal merupakan sarana yang menghubungkan pihak yang mempunyai kelebihan dana (Lenders) dengan pihak yang membutuhkan dana (Borrower). Seperti yang dikemukakan oleh Rusdin (2006;1) pasar modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek dengan adanya pasar modal banyak perusahaan untuk menyerap dana dari masyarakat melalui lembaga ini sehingga menjadi alternatif penghimpun dana selain sektor perbankan.

Aktivitas pasar modal sebagai salah satu potensi perekonomian nasional semakin menampakkan perannya dalam menumbuh kembangkan perekonomian nasional. Dukungan sektor swasta di pasar modal merupakan kekuatan nasional yang berperan sebagai dinamisator aktivitas perekonomian nasional. Pemerintah yang menyadari arti pentingnya pasar modal bagi pembangunan nasional, melalui serangkaian paket deregulasi berusaha mempermudah prosedur listing dan transaksi sekuritas. Adapun keuntungan perusahaan yang melakukan go public adalah kemudahan untuk meningkatkan modal dimasa mendatang. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Husnan (2001:4) pasar modal dibentuk karena menjalankan fungsi ekonomi dan keuangan. Dalam melaksanakan fungsi ekonominya pasar modal menyediakan fasililtas untuk memindahkan dana dari pihak yang mempunyai dana ke pihak yang memerlukan dana. Dengan menginvestasikan kelebihan dana yang mereka miliki, mereka akan mengharapkan akan memperoleh imbalan dari penyerahan dana tersebut. Dari sisi pihak yang memerlukan dana tersedianya dana dari pihak luar memungkinkan mereka melakukan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari hasil operasi perusahaan. Fungsi ini sebenarnya juga dilakukan oleh lembaga keuangan lainnya, seperti perbankan. Hanya bedanya dalam pasar modal diperdagangkan dana jangka panjang dan dilakukan secara langsung tanpa perantara keuangan. Pasar modal yang efisien adalah pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Dengan demikian sangat sulit (bahkan hampir tidak mungkin) bagi para pemodal untuk memperoleh tingkat keuntungan di atas normal secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek. Informasi dalam artian ini sering disebut sebagai efisiensi informasional (Husnan 2001:264). Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi (Jogiyanto 2003:370).
Harga saham menurut Halim (2005;12) adalah ringkasan dari pengaruh simultan dan kompleks dari berbagai macam variabel yang berpengaruh, terutama tentang kejadian-kejadian ekonomi bahkan kejadian politik, sosial dan keamanan karena saham merupakan bukti kepemilikan perusahaan yang berupa surat berharga atau efek yang diterbitkan oleh perusahaan yang terdaftar di bursa (go public).
Harga merupakan salah satu faktor yang sangat diperhatikan karena harga juga salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran saham. Bila saham tersebut dinilai terlalu tinggi oleh pasar, maka jumlah permintaannya akan berkurang. Sebaliknya bila pasar menilai bahwa harga saham tersebut rendah, maka jumlah permintaannya akan meningkat. Tingginya harga saham akan mengurangi kemampuan para investor untuk membeli saham tersebut. Hukum permintaan dan penawaran akan kembali berlaku, dan sebagai konsekuensinya harga saham yang tinggi tersebut akan menurun sampai tercipta posisi keseimbangan yang baru. Dan cara yang dilakukan oleh emiten untuk mempertahankan agar sahamnya tetap berada dalam rentang perdagangan yang optimal sehingga daya beli investor meningkat yaitu melalui pemecahan saham ini.
Pada umumnya stock split merupakan tindakan memecah saham menjadi n lembar saham dengan harga per lembar saham baru sebesar 1/n harga saham sebelumnya, yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk menata kembali harga pasar saham dengan meningkatkan jumlah saham yang beredar.
Berkaitan dengan informasi Event study merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman (Jogianto, 2000;392). Adapun peristiwa tersebut terbagi atas 2 peristiwa yakni peristiwa yang berkenaan dengan intern perusahaan seperti kebijakan yang dilakukan perusahaan yang dapat berpengaruh terhadap pasar dan ekstern perusahaan yakni keadaan politik, sosial, dan ekonomi suatu negara yang juga akan berpengaruh juga nantinya terhadap pasar. Menurut Fama (1970) dalam Jogiyanto (2003) ada 3 macam bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi yaitu pasar bentuk lemah, pasar bentuk setengah kuat, bentuk kuat. Pasar modal bentuk lemah merupakan suatu bentuk pasar modal yang harganya mencerminkan semua informasi yang ada pada catatan harga pada waktu lalu. Sedangkan pasar modal bentuk setengah kuat merupakan suatu bentuk pasar dimana harga sekuritas tidak hanya mencerminkan harga-harga pada waktu lalu tetapi semua informasi yang dipublikasikan. Pasar modal bentuk kuat merupakan bentuk pasar modal yang harganya tidak hanya mencerminkan semua bentuk informasi yang diperoleh dari analisis fundamental tentang perusahaan dan perekonomian atau informasi yang tidak dipublikasikan.
 Menurut Jogiyanto (2003:109), return saham merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi. Ada yang menjamin tingkat kembalian (return) yang akan diterima misalnya sertifikasi deposito di bank yang memberikan bunga dari prosentase tertentu yang positif, dan obligasi yang menjanjikan kupon bunga yang akan dibayarkan secara periodic atau sekaligus dan pasti, tidak tergantung pada keuntungan perusahaan.
Return saham diasumsikan mengalami perubahan ketika ada informasi baru dan diserap oleh pasar. Apabila para pemodal menggunakan informasi yang berupa pengumuman stock split dalam kegiatannya, maka publikasi pengumuman stock split akan memberikan dampak berupa return saham apabila dibandingkan dengan hari-hari diluar pengumuman.
Hal ini tidak lepas dari upaya mempertahankan dan meningkatkan likuiditas perdagangan sahamnya, perusahaan melakukan beberapa cara. Salah satu cara yang akhir-akhir ini banyak dilakukan oleh perusahaan emiten di Bursa Efek Jakarta yaitu melalui stock split (pemecahan saham).
Likuiditas menurut Rusdin (2006;62) adalah kelancaran, menunjukkan tingkat kemudahan dalam mencairkan modal (Principal) investasi. Sedangkan menurut Haris dalam Irwan et.al (2003) Suatu asset dapat dikatakan likuid apabila aset tersebut dapat ditransaksikan dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat, biaya yang rendah dan tanpa mempengaruhi harga. Selain itu dalam pasar modal likuiditas perusahaan juga sangat penting karena menunjukkan seberapa mudah investor dapat memperjual-belikan sahamnya atau mengubah suatu investasi menjadi kas dalam waktu yang relative singkat pada nilai pasarnya.
Menurut Marwata (2001;152) definisi stock split adalah memecahkan selembar saham menjadi n lembar saham. Pemecahan saham mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar tanpa transaksi jual beli yang merubah besarnya modal. 
Hasil penelitian mengenai pengaruh stock split terhadap harga saham dan likuiditas menunjukkan adanya kontroversi yakni ditunjukkan dengan hasil penelitian Wang Sutrisno et.al dari Universitas Kristen Petra di Surabaya (2000) yang mengambil sampel seluruh perusahaan yang melakukan stock split pada periode 1995-1997 menyimpulkan bahwa aktivitas split mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham. Dengan semakin besarnya persentase spread, secara keseluruhan baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio disimpulkan bahwa likuiditas saham mengalami penurunan setelah split. Penelitian tersebut mendukung penelitian yang dilakukan oleh Farid muchtar (2008) melakukan penelitian dengan judul “Analisis reaksi saham terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan oleh abnormal return dan trading volume activity” yang menyimpulkan bahwa Terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return sebelum, saat dan sesudah peristiwa, tidak terdapat perbedaan yang signifikan trading volume activity sebelum dan sesudah stock split.  Penelitian diatas bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan Suryaputri (2005) dengan melihat dari segi likuiditas saham penelitian dengan judul “Analisis Perbedaan Likuiditas Saham Sebelum Dan Sesudah Stock Split (Event Study)” menyimpulkan bahwa Tidak terdapat perbedaan likuiditas sebelum dengan sesudah perusahaan melakukan  stock split. Ekaputra et.al Universitas Indonesia (2006) melakukan penelitian dengan judul “Stock split, Fraksi Perdagangan Dan Likuiditas Saham Di Bursa Efek Jakarta” hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa stock split meningkatkan likuiditas kelompok saham yang mengalami penurunan fraksi perdagangan namun tidak mempengaruhi likuiditas kelompok saham yang tidak mengalami penurunan fraksi perdagangan. Yang bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi (2007) yang berjudulAnalisis faktor-faktor yang mempengaruhi stock split” menyimpulkan bahwa harga saham tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan keputusan perusahaan untuk melakukan stock split dengan tingkat signifikasi 0.619 dan nilai beta 0.000. namun  frekuensi perdagangan saham mempunyai hubungan yang signifikan dengan keputusan perusahaan untuk melakukan stock split dengan tingkat signifikasi sebesar 0.016 dan nilai beta -0.009. Terjadi kecenderungan perbedaan frekuensi perdagangan saham yang signifikan antara dua kuartal sebelum stock split dengan dua kuartal sesudah stock split. Tidak terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan antara dua kuartal sebelum stock split dengan dua kuartal sesudah stock split.
Berdasarkan kontroversi hasil penelitian dengan teori yang ada maka peneliti tertarik untuk mengambil judul mengenai pengaruh stock split hal ini untuk menguji kembali sampai sejauh mana stock split berpengaruh terhadap harga saham dan likuiditas, namun penelitian kali ini lebih ditekankan pada sampel  perusahaan yang ditentukan oleh peneliti yaitu perusahaan go public pada periode Mei 2008 - Oktober 2009, pengambilan periode tersebut didasarkan karena perekonomian di Indonesia masih dalam keadaan stabil hal ini dapat dilihat pada konferensi pers oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia menjelaskan bahwa sekalipun menghadapi dampak krisis keuangan global Indonesia tetap dapat tumbuh (Lampiran 1), hal ini dijadikan pertimbangan peneliti untuk melakukan periode penelitian diatas melainkan atas dasar kemurnian pengaruh stock split yang tidak dipengaruhi oleh peristiwa perekonomian, politik dan sosial di Indonesia.
Dengan mengacu pada teori dan fenomena yang ada untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap harga saham dan likuiditas perusahaan maka dilakukan penelitian dengan judul “ANALISIS PENGARUH STOCK SPLIT TERHADAP HARGA SAHAM  DAN LIKUIDITAS DI BURSA EFEK JAKARTA (Studi Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Periode Mei 2008 - Oktober 2009)”

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan mengenai rumusan masalah yaitu:
1.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan stock split terhadap harga saham?
2.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan stock split terhadap likuiditas saham?

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap harga saham
2.      Untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap likuiditas


1.4. Manfaat Penelitian
1.      Bagi investor
Memberi masukan kepada investor sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi.
2.      Bagi perusahaan
Memberi masukan kepada perusahaan mengenai pengaruh stock split untuk dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam keputusan stock split.
3.      Bagi ilmu pengetahuan
Menambah literatur penelitian pasar modal, khususnya penelitian mengenai pengaruh antara likuiditas dan harga saham setelah perusahaan melakukan stock split.






2.1.   Kajian Empiris Hasil Penelitian Terdahulu
Wang Sutrisno et.al. (2000) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Stock split Terhadap Likuiditas Dan Return Saham Di Bursa Efek Jakarta yang menyimpulkan bahwa aktivitas split mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham. Dengan semakin besarnya persentase spread, secara keseluruhan baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio disimpulkan bahwa likuiditas saham mengalami penurunan setelah split. Penelitian ini dilakukan pada periode juli 1995 – juli 1997 dengan mengambil sampel seluruh perusahaan yang listing di BEJ yang melakukan stock split pada periode tahun tersebut.
Farid muchtar (2008) melakukan penelitian dengan judul “Analisis reaksi saham terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan oleh abnormal return dan trading volume activity” yang menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return sebelum, saat dan sesudah peristiwa, tidak terdapat perbedaan yang signifikan trading volume activity sebelum dan sesudah stock split.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
Suryaputri (2005) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Perbedaan Likuiditas Saham Sebelum Dan Sesudah Stock Split (Event Study)” menyimpulkan bahwa Tidak terdapat perbedaan likuiditas sebelum dengan sesudah perusahaan melakukan  stock split.
Ekaputra et.al Universitas Indonesia (2006) melakukan penelitian dengan judul “Stock split, Fraksi Perdagangan Dan Likuiditas Saham Di Bursa Efek Jakarta” hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa stock split meningkatkan likuiditas kelompok saham yang mengalami penurunan fraksi perdagangan namun tidak mempengaruhi likuiditas kelompok saham yang tidak mengalami penurunan fraksi perdagangan.
Supriyadi Universitas Islam Indonesia (2007) melakukan penelitian dengan judul “Stock split, Fraksi Perdagangan Dan Likuiditas Saham Di Bursa Efek Jakarta” kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa harga saham tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan keputusan perusahaan untuk melakukan stock split dengan tingkat signifikasi 0.619 dan nilai beta 0.000. frekuensi perdagangan saham mempunyai hubungan yang signifikan dengan keputusan perusahaan untuk melakukan stock split dengan tingkat signifikasi sebesar 0.016 dan nilai beta -0.009. Tidak terdapat perbedaan abnormal return yang signifikan antara dua kuartal sebelum stock split dengan dua kuartal sesudah stock split. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi 71 perusahaan yang diperoleh 36 perusahaan dan perusahaan tersebut melakukan stock split pada periode tahun 2000-2004.






Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar