ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENEMUKAN BANK JANGKAR (42)

Admin

JUDUL SKRIPSI ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENEMUKAN BANK JANGKAR 

Untuk menangani krisis di dunia perbankan pada pertengahan tahun 1997, bank indonesia dan pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Kebijakan tesebut antar lain: bantuan likuiditas bank indonesia (BLBI), badan penyehatan perbankan nasional (BPPN), dan restrukturisasi perbankan. Dari ketiga program tersebut ada satu program yang dinilai orang telah gagal untuk menanggulangi krisis di dunia perbankan yaitu program BLBI. Sedangkan program yang sedang berjalan adalah program restrukturisasi perbankan(Suseno dan Abdullah, 2003:54).

Restrukturisasi perbankan diwujudkan dalam bentuk pemulihan kepercayaan masyarakat, serta perbaikan solvabilitas dan profitabilitas bank. Diharapkan melalui program restrukturisasi ini dapat dibangun kembali sistem perbankan yang sehat, kuat, dan mampu mencegah terjadinya krisis di masa mendatang. Restrukturisasi perbankan pada intinya dilakukan melalui dua program utama yaitu program penyehatan perbankan yang meliputi program penjaminan, program rekapitalisasi bank umum, dan program restrukturisasi, serta program pemantapan ketahanan sistem perbankan yang meliputi pengembangan infrastruktur, peningkatan mutu pengelolaan perbankan, dan terakhir pemantapan pengawasan bank(Suseno dan Abdullah, 2003:58).
Menindaklanjuti dari program di atas bank indonesia telah mengeluarkan suatu program baru yang bernama arsitektur perbankan indonesia (API). Mengenai API, bank indonesia melansir bahwa “arsitektur perbankan indonesia merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. Arah kebijakan pengembangan industri perbankan di masa datang yang dirumuskan dalam arsitektur perbankan indonesia dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna  menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional(Bank Indonesia, 2006:1). API menawarkan kepada kita suatu cita indah dalam industri perbankan yang diluncurkan sejak 9 januari 2004, dan diterapkan secara bertahap sampai tahun 2013 melalui 20 program yang dijabarkan dengan 55 kegiatan.
Dari kedua puluh program yang ada pada arsitektur perbankan indonesia, program pertama yang cukup menyita perhatian dunia perbankan. Program itu adalah penguatan struktur perbankan nasional yang bertujuan memperkuat permodalan bank umum (konvensional dan syariah) dalam rangka meningkatkan kemampuan bank mengelola usaha maupun resiko, mengembangkan tekhnologi informasi, maupun meningkatkan skala usahanya guna mendukung peningkatan pertumbuhan kredit perbankan. Diharapkan dari program ini dapat terbentuk struktur perbankan yang terbagi dalam empat kelompok: satu, Bank Internasional (Modal > 50 Trilyun); dua, Bank Nasional (Modal 10-50 Trilyun); tiga, Bank Fokus (Modal 100 Miliar-10 Trilyun); empat, Bank Kegiatan Terbatas (Modal < 100 Miliar).
Selain mengenai struktur permodalan, isu mengenai bank jangkar juga hangat dibicarakan selain karena kriterianya yang lumayan berat, ada beberapa kriteria yang masih disangsikan oleh sebagian kalangan. Bank Jangkar adalah bank yang tidak hanya untuk menampung bank-bank kecil, atau konsolidator semata, tapi juga memiliki potensi untuk menjadi market leader di pasar domestik dan regional(InfoBank Outlook 2006:36). Adapun kriteria bank jangkar yang disebutkan bank indonesia adalah: satu, CAR minimal 12%; dua, rasio modal inti minimal 6%; tiga, ROA minimal 1,5%; empat, pertumbuhan kredit minimal 22 %; lima, LDR minimal 50%; enam, NPL di bawah 5%(Kompas, 2005:19).
Dengan adanya program penguatan permodalan bank dan program bank jangkar, nantinya diharapkan akan membawa perubahan pada dunia perbankan Indonesia. Namun adapula efek dari program-program tersebut, seperti penurunan jumlah bank misalnya. Djoko Retnadi mengungkapkan “jika dikelompokkan menurut permodalan sesuai kriteria API, maka bank internasional dengan modal Rp50 triliun belum ada di Indonesia. Bank Nasional dengan modal antara Rp10 triliun hingga Rp50 triliun berjumlah empat bank. Bank Fokus Usaha Tertentu dengan modal antara Rp100 miliar sampai dengan Rp10 triliun berjumlah 82 bank, dan bank dengan kegiatan usaha terbatas dengan modal di bawah Rp100 miliar ada 48 bank(Retnadi, 2002:312). Dari hasil di atas, masih ada peluang untuk terjadinya penurunan jumlah bank, hal tersebut dapat terjadi dari golongan bank dengan kegiatan terbatas yang ada 48 bank.
Di balik penurunan jumlah bank yang telah terjadi, ada berita gembira bagi dunia usaha syariah yaitu meningkatnya jumlah bank syariah. Saat ini di Indonesia telah bermunculan bank syariah, baik yang berupa bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS), ataupun berupa bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Saat ini sudah ada tiga bank umum syariah, ketiga bank umum syariah tersebut ialah bank muamalat indonesia (BMI), bank syariah mandiri (BSM), dan bank syariah mega indonesia (BSMI). Peningkatan jumlah Bank Umum Syariah tersebut juga diiringi oleh peningkatan pada jaringan kantor yang dimiliki serta total asetnya pula. Hal ini dapat kita lihat pada statistik perbankan indonesia yang dikeluarkan oleh bank indonesia 







Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
Previous
Next Post »
0 Komentar