24.PENILAIAN KINERJA KEUANGAN DENGAN METODE ECONOMIC VALUE ADDED PADA PERUSAHAAN SEMEN (Studi pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Periode Analisis 2001-2005) [55]

Admin
JUDUL SKRIPSI PENILAIAN KINERJA KEUANGAN DENGAN METODE ECONOMIC VALUE ADDED PADA PERUSAHAAN SEMEN (lengkap sampai daftar pustaka)



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Adanya krisis moneter yang terjadi di Asia Tenggara telah mempengaruhi kestabilan  perekonomian negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia berusaha mempertahankan mata uangnya dengan bantuan dana dari Dana Moneter Internasional, Bank Dunia dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Depresiasi rupiah terus berjalan sampai titik terendah dalam sejarah dan memberikan pengaruh yang sangat buruk terhadap perekonomian Indonesia khususnya dalam dunia usaha (Hamid dan Anto 2000 : 33).
Ketidakpastian nilai mata uang dan inflasi tinggi yang disebabkan depresiasi rupiah mengakibatkan naiknya harga barang-barang kebutuhan terutama kebutuhan pokok dan bahan baku perusahaan. Kondisi perekonomian yang tidak pasti ini juga berdampak pada terhentinya proses operasi perusahaan dan jumlah pengangguran yang bertambah, hal seperti ini menyebabkan keresahan sosial (Hamid dan Anto 2000 : xiii – xv).
Dalam kondisi sulit dan serba tidak pasti ini, perusahaan dituntut untuk harus berusaha meningkatkan dan memantapkan posisinya agar mampu bersaing. Dalam hal ini perusahaan harus lebih memantapkan operasinya melalui penggunaan faktor-faktor produksi yang seefisien mungkin dan mengoptimalkan biaya serta harus jeli dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada (Wiyani 2002 : 112).
Perusahaan akan berhasil dalam persaingan jika didukung oleh semua devisi, baik devisi keuangan, operasional, personalia maupun pemasaran. Antar devisi harus dapat bekerja sama dan berkomunikasi dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Manajemen keuangan yang merupakan salah satu fungsi dalam perusahaan turut menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dengan manajemen keuangan, efektivitas perusahaan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari kinerja keuangannya. Mengukur kinerja perusahaan secara obyektif hingga mampu menggambarkan kondisi riil cukup sulit. Berbagai metode perhitungan untuk menilai perusahaan, terutama perusahaan publik telah dilakukan berbagai upaya menghadirkan laporan keuangan perusahaan (neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas) yang bermanfaat bagi kepentingan lembaga kreditur dan investor.
Ukuran yang dipakai untuk melakukan penilaian terhadap perusahaan sangat beragam dan terkadang berbeda dari masing-masing industri. Ukuran yang lazim dipakai dalam penilaian kinerja suatu perusahaan dinyatakan dalam rasio finansial yang dibagi dalam empat kategori utama yaitu rasio keuntungan (provitabilitas), rasio aktivitas, rasio leverage, dan rasio likuiditas (Widayanto, 1993 : 51).
Alat untuk menilai kinerja dan menganalisa laporan keuangan perusahaan yang lazim dipakai selama ini adalah analisis rasio finansial yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Penggunaan alat analisis rasio finansial ini belum dapat memuaskan keinginan pihak ketiga yaitu pihak investor atau para penyandang dana (kreditur dan pemegang saham). Pihak manajemen dengan analisis rasio finansial tersebut belum cukup untuk mengetahui apakah telah terjadi nilai tambah pada perusahaannya, sedang bagi para penyandang dana belum cukup mempunyai keyakinan, apakah modal yang telah ditanamkan dimasa yang akan datang akan dapat memberikan tingkat hasil seperti yang diharapkan (Yuliati, 2004 : 43 – 44).
Pada saat ini telah berkembang suatu pendekatan baru dalam menilai kinerja operasional suatu perusahaan secara tepat dengan memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana (kreditur dan pemegang saham). Konsep yang dimaksud adalah konsep Economic Value Added (EVA) yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama konsep Nilai Tambah Ekonomi (NITAMI) (Yuliati, 2004 : 44).  Konsep economic value added dilandasi oleh pemikiran bahwa pengukuran laba suatu perusahaan harus secara riil dan adil mampu mempertimbangkan ekspektasi dari para penyandang dana yaitu para kreditur dan pemegang saham.
Penggunaan konsep Economic Value Added (EVA) mengakibatkan investor dapat menentukan pilihan investasinya dengan tingkat return expectation yang tertinggi dan tingkat resiko yang rendah. Economic Value Added (EVA) mencoba mengukur nilai tambah (value creation) yang dihasilkan suatu perusahaan dengan cara mengurangi beban biaya modal (cost of capital) yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan (Utama, 1997 : 10).
Semua hal tersebut mengandung biaya riil yaitu cost of capital, sehingga cost of capital ini harus dijadikan pertimbangan dalam setiap analisa keuangan perusahaan. Oleh kalangan praktisi analis Economic Value Added (EVA) yang mendasarkan pada konsep cost of capital ini telah digunakan secara luas antara lain sebagai alat pengukuran kinerja serta sebagai alat pendukung untuk berbagai keputusan manajemen yang diambil seperti strategi beroperasi akuisisi dan keputusan investasi (Widayanto, 1993 : 50)
EVA sangat bermanfaat untuk menilai kinerja keuangan perusahaan, maka peneliti mengaplikasikannya untuk menilai kinerja keuangan pada perusahaan semen. Perusahaan semen yang akan peneliti teliti adalah perusahaan semen go public yang tercatat di BEJ yaitu PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Industri semen nasional mulai mendapat prioritas pembangunan pada awal PELITA II di tahun 1974. respon yang datang dari para investor, baik asing maupun domestik sangat menggembirakan terutama dalam kegiatan-kegiatan yang berorientasi sumber daya alam dan pengolahan. Salah satunya adalah industri semen yang memakai kapur sebagai bahan baku utama. Sebagai akibatnya, kapasitas dan produksi semen nasional mengalami peningkatan dari waktu ke waktu seiring dengan berjalannya pembangunan (Agustin dan Purwantoro, 2005: 36).
Perkembangan industri semen tidak terlepas dari pengaruh krisis ekonomi dan moneter yang melanda Indonesia. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika yang terjadi sejak semester kedua tahun 1997, menurut produsen, telah menyebabkan melonjaknya harga bahan baku impor untuk industri semen, seperti gipsum, klinker, dan sparepart pabrik dan khususnya concentrate iron yang merupakan komponen terpenting sehingga menyebabkan membengkaknya biaya produksi. Disamping itu, produsen menyatakan bahwa kenaikan harga batubara yang cukup tinggi dalam tiga tahun terakhir, ditambah adanya lonjakan biaya transportasi mengakibatkan harga semen semua merek pada tahun 1999 kembali melonjak pada hampir seluruh kota besar di Indonesia. Sementara itu kinerja dari sektor properti maupun di luar sektor properti mengalami penurunan akibat kesulitan pendanaan diera krisis, akibatnya permintaan akan semen di dalam negeri pun menurun tajam hingga tahun 1999. baru sejak tahun 2000 realisasi konsumsi semen mulai menunjukkan kenaikan seiring dengan membaiknya sektor properti sebagai pangsa pasar utama industri semen (Agustin dan Purwantoro, 2005: 37&40).
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri semen dengan memproduksi berbagai jenis semen bermutu, termasuk produk semen khusus, dan pada saat ini produk yang dihasilkan berupa Semen Portland Komposit (Portland Composite Cement / PCC), Semen Putih (White Cement), Semen Sumur Minyak (Oil Well Cement), dan Semen Portland Tipe I, II/V. PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mulai listing di Bursa Efek Jakarta pada tanggal 5 Desember 1989. Pada tahun 2005 Indocement mengoperasikan 12 pabrik, sebelas diantaranya berlokasi di Jawa Barat dan satu di Kalimantan Selatan dengan total kapasitas produksi mencapai sekitar 16,5 juta ton semen per tahun yang merupakan kapasitas terbesar (www.itp.com).
 Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, nampak bahwa kinerja keuangan perusahaan sedang dalam kondisi yang tidak stabil hal ini terlihat pada laporan laba rugi yang mana pada tahun 2001 perusahaan mengalami kerugian senilai 106 miliar dan pada 2002 perusahaan memperoleh laba senilai 1.441 miliar namun keuntungan yang telah diperoleh tersebut terus menurun pada dua tahun berikutnya yakni menjadi senilai 829 miliar pada 2003 dan 184 pada 2004, dan baru pada 2005 keuntungan perusahaan meningkat kembali menjadi senilai 1.077 miliar. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kondisi industri semen nasional yang juga sedang tidak stabil akibat krisis yang melanda Indonesia.
Berdasarkan uraian di atas dan mengingat pentingnya keuangan perusahaan yang baik untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan dan agar tujuan perusahaan tercapai, maka peneliti tertarik mengambil judul “Penilaian Kinerja Keuangan dengan Metode Economic Value Added pada Perusahaan Semen (Studi pada PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Periode Analisis 2001 - 2005)”.


Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar