52. Analisis Model Altman Z-Score dan Rasio CAMEL untuk Memprediksi Tingkat Kebangkrutan Bank Umum Syariah yang Go Public di Indonesia [52]

Admin

JUDUL SKRIPSI Analisis Model Altman Z-Score dan Rasio CAMEL untuk Memprediksi Tingkat Kebangkrutan Bank Umum Syariah yang Go Public  di Indonesia (lengkap sampai daftar pustaka) 


BAB I
PENDAHULUAN 

A.    Latar Belakang

            Industri perbankan Indonesia selama dekade terakhir mengalami perkembangan yang pesat dan penuh gejolak. Saat ini tercatat ada 3 bank syariah, 19 Unit Usaha Syariah, dan 105 BPRS (www.bi.go.id). Kebijaksanaan pemerintah pada bulan Oktober 1988 yang memberikan kebebasan untuk membuka bank dan memperluas cabang bank, telah mengakibatkan meningkatnya jumlah dan kantor cabang di Indonesia. Perkembangan tersebut selain memberikan pilihan yang semakin beragam kepada masyarakat terhadap pelayanan bank, juga memberikan kontribusi yang sangat positif terhadap dunia usaha dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
        
    Namun demikian, dibalik perkembangan industri perbankan yang sangat pesat tersebut, ternyata menyimpan berbagai kelemahan yang berakibat fatal baik bagi industri perbankan sendiri maupun perekonomian nasional. Berbagai kelemahan yang ada dalam industri perbankan Indonesia antara lain adalah kelemahan manajemen bank, konsentrasi kredit yang berlebihan, terbatas dan kurang transparannya informasi kondisi  keuangan bank, dan belum efektifnya pengawasan Bank Indonesia (Rahmatov, 199:1).
            Bank syariah merupakan salah satu dari jenis bank saat ini yang popularitasnya sedang menanjak. Pada saat bank syariah pertama berdiri, yaitu Bank Muamalah pada tanggal 1 Mei 1992, akuntansi pada perbankan syariah belum ada pada saat itu. Akuntansi pada perbankan syariah baru diatur pada tahun 2002 melalui PSAK No. 59 tentang akuntansi Perbankan Syariah. Sejak itu, bank-bank syariah yang ada di Indonesia mempunyai aturan baku untuk menyusun laporan keuangannya.
            Berdirinya bank syariah di Indonesia bermula pada diberlakukannya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Pada undang-undang ini belum disebutkan bank syariah, tapi bank syariah saat itu masih bernama bank bagi hasil. Kemudian undang-undang diatas diubah dengan peraturan baru, yaitu Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Pada undang-undang ini , baru disebutkan adanya bank berdasarkan prinsip syariah, yang tidak lain adalah bank syariah itu sendiri. Pada undang-undang ini terdapat dua jenis bank umum yaitu bank konvensional dan bank berdasarkan prinsip syariah. Selain itu pada undang-undang ini juga diberlakukan sistem perbankan yang baru di Indonesia yaitu dual system banking. Sistem ini memberikan kesempatan kepada bank konvensional untuk mengkonversikan cabang-cabangnya menjadi bank syariah.
            Struktur perbankan Indonesia nampaknya sedang mengalami perubahan yang cukup fundamental. Berbagai kelemahan yang ada dalam industri perbankan dan kemudian diperburuk dengan krisis moneter, krisis likuiditas, dan kebangkrutan dunia usaha pada khususnya para konglomerat Indonesia, maka industri perbangkan Indonesia secara cepat mengalami krisis. Krisis perbankan Indonesia yang diawali dengan memburuknya kualitas aktiva bank, meningkatnya net open position, dan kemudian disusul dengan negatifnya pendapatan bank sebagai akibat dari kebijaksanaan suku bunga tinggi sejak pertengahan semester kedua tahun 1997, telah mengakibatkan banyak bank mengalami kesulitan keuangan dan secara teknis perbankan terancam bangkrut (Rahmatov, 1999: 2).
            Kebangkrutan adalah suatu keadaan atau situasi dalam hal ini perusahaan tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau menlanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat dicapai yaitu profit. Sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan, bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, membiayai operasi perusahaan, dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki (Amalia dan Herdiningtiyas, 2005: 5). Analisa kebangkrutan akan sangat membantu pembuat keputusan untuk menentukan sikap terhadap perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Oleh karena itu, perlu dicari model tentang petunjuk adanya perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dan mungkin mengalami kebangkrutan.
            Untuk mendeteksi tanda-tanda kebangkrutan suatu perusahaan, para investor umumnya menghitung dan menganalisis berbagai macam rasio keuangan seperti modal kerja, rasio-rasio profitabilitas, tingkat hutang atau laverage, dan likuiditas. Permasalahannya adalah masing-masing rasio mempunyai kegunaan dan memberikan indikasi yang berbeda mengenai kesehatan keuangan perusahaan. Kadang-kadang rasio-rasio tersebut juga terlihat berlawanan satu sama lain. Oleh karena itu, jika hanya tergantung pada perhitungan rasio secara individual maka para investor akan mendapatkan kesulitan dan kebingungan untuk memutuskan apakah perusahaan dalam kondisi sehat atau sebaliknya. Dalam rangka menjawab permasalahan tersebut, Edward Altman seorang professor of finance dari New York University School of Business memperkenalkan rumus Z-Score. Altman Z-Score adalah suatu model analisis keuangan yang dibuat dengan mengkombinasikan lima rasio keuangan yang berbeda-beda untuk menentukan potensi atau kemungkinan bangkrutnya sebuah perusahaan (Bapepam, 2005: 22).
            Model Altman Z-Score lahir dari perusahaan-perusahaan yang menganut akuntansi modern yang bersifat kapitalis. Akuntansi modern yang bersifat kapitalis juga diterapkan dalam akuntansi perbankan syariah di PSAK No. 59, sehingga dapat diasumsikan pula bahwa rasio keuangan pada Altman Z-Score dapat digunakan oleh bank syariah untuk menentukan kondisi keuangan suatu bank.
            Untuk melengkapi analisis Z-Score dalam memprediksi kesulitan keuangan dan kebangkrutan industri perbankan Indonesia dapat digunakan suatu alat ukur yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank tersebut dikenal sebagai  rasio CAMEL yang terdiri dari permodalan, KAP, manajemen, rentabilitas dan likuiditas.
Dengan demikian, peneliti mencoba untuk memprediksi  serta menjelaskan tingkat kebangkrutan dan tingkat kesehatan bank umum syariah yang go public di Indonesia berdasarkan analisis model Altman Z-Score dan rasio CAMEL selama periode tahun 2001 sampai 2005. Bank umum syariah di Indonesia ada tiga, sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, hanya Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia yang dapat digunakan sebagai objek penelitian. Hal ini disebabkan karena Bank Syariah Mega Indonesia baru berdiri pada tahun 2004.
Dengan didasari dari latar belakang teori, fenomena dan penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan tema serupa, dengan judul penelitian “Analisis Model Altman Z-Score dan Rasio CAMEL untuk Memprediksi Tingkat Kebangkrutan Bank Umum Syariah yang Go Public di Indonesia”.





Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar