ANALISIS PERHITUNGAN ZAKAT UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN [32]

Admin

JUDUL SKRIPSI ANALISIS PERHITUNGAN ZAKAT UNTUK MENILAI KINERJA PERUSAHAAN (lenkap sampai daftar pustaka)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Problematika kehidupan manusia sangatlah beraneka ragam,
mulai dari sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan budaya. Tidak
dapat dipungkiri, bahwa setiap manusia membutuhkan pertolongan
orang lain, dan Islam sebagai solusi yang tepat untuk mengarungi
kehidupan yang penuh dengan problematika. Karena Islam
merupakan agama yang tepat untuk mengatasi segala masalah yang
ada. Dalam ajaran Islam, terdapat lima rukun yang wajib dilaksanakan
oleh penganutnya yaitu, syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji.
Ajaran Islam, tidak hanya mementingkan ibadah mahdlah yang
hanya berorentasikan hubungan spiritual kepada tuhan (hablum
minalloh), atau ibadah ghoiru mahdlah yang berhubungan dengan
sesama mahluk (hablum minannas). Akan tetapi, ajaran islam
mengajarkan bagai mana kedua ibadah tersebut dapat berjalan
bersamaan. Salah satunya yaitu ibadah Zakat.
Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan
berkah. Seorang yang membayar zakat karena keimanannya niscaya
1
2
akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah berfirman disurat At-
Taubah ayat 103 :
öΝçλ°; Ö⎯s3y™ y7s?4θn=|¹ ¨βÎ) ( öΝÎγø‹n=tæ eÈ≅|¹uρ $pκÍ5 ΝÍκjÏ.t“è?uρ öΝèδãdÎγsÜè? Zπs%y‰|¹ öΝÏλÎ;≡uθøΒr& ô⎯ÏΒ õ‹è{
∩⊇⊃⊂∪ íΟŠÎ=tæ ìì‹Ïϑy™ ª!$#uρ 3
Artinya: ” Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka.
Sesungguhnya do’a kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. At-Taubah:103)
Ayat di atas adalah salah satu dasar bahwa Setiap orang muslim
berkewajiban mengeluarkan zakat, yang salah satu hikmahnya
berfungsi untuk membentuk keshalehan sosial.
Secara teknik, zakat pada hakikatnya adalah kewajiban finansial
seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya. Atau
hasil- hasil pertanian jika kekayaan tersebut melebihi batas nisab,
suatu kadar tertentu sebagai bagian dari kewajiban keagamaan yang
harus ditunaikan. Pada masa Rasulullah SAW. kelompok harta yang
ditetapkan menjadi obyek zakat terbatas pada : Emas dan perak,
tumbuh-tumbuhan tertentu seperti gandum, jelai, kurma dan anggur,
hewan ternak tertentu seperti domba atau biri-biri, sapi dan unta,
harta perdagangan (tijarah), harta kekayaan yang ditemukan dalam
perut bumi (rikaz). (http://dsniamanah.or.id)
3
Seiring dengan adanya perkembangan sosial, budaya, ekonomi,
dan ilmu pengetahuan saat ini, maka jenis obyek zakat pun terus
berkembang pula. Para ahli fiqih memformulasikan pandangannya
bahwa kegiatan usaha (bisnis) seperti industri manufaktur, investasi
saham dan sektor usaha jasa lainnya haruslah dizakati dengan
mengqiyaskannya pada zakat perdagangan, yakni 2.5% dari laba.
Seperti juga lembaga keuangan, baik lembaga keuangan perbankan,
maupun non perbankan termasuk Baitul Mal Wat-Tamwil (BMT) juga
wajib mengeluarkan zakat.
Istilah Baitul Mal wat Tamwil (BMT) belakangan ini populer
seiring dengan semangat umat untuk berekonomi secara Islam dan
memberikan solusi terhadap krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia
sejak 1997. Istilah-istilah tersebut, dipakai oleh sebuah lembaga
ekonomi berbentuk koperasi serba usaha yang bergerak di berbagai
lini kegiatan ekonomi umat, yakni dalam kegiatan sosial, keuangan
(simpan-pinjam), dan usaha pada sektor riil. Selain itu, istilah BMT
juga sering dipakai oleh sebuah lembaga khusus (dalam sebuah
perusahaan atau instansi) yang bertugas menghimpun dan
menyalurkan ZIS (zakat, infaq, shadaqah) dari para pegawai atau
karyawannya.
4
BMT merupakan lembaga keuangan syari’ah yang bukan bank.
Operasional BMT dengan menggunakan gabungan konsep Baitul Mal
dan Baitut Tamwil, yang target, sasaran, serta skalanya pada sektor
usaha mikro dengan menggunakan sistem bagi hasil.
BMT (Baitul Mal watTamwil) mempunyai perkembangan yang
sangat pesat. Pada akhir bulan oktober 1995, di Indonesia telah berdiri
lebih dari 300 Baitul Mal Wat Tamwil (Muhammad,2000:106). Hingga
pada akhir tahun 1998 BMT yang terdapat di Indonesia telah mencapai
1.957 (Arifin,2000:13). Pada akhir bulan April 2001, telah tercatat ada
2.939 BMT. Dan menurut Kholis, sampai akhir 2007 jumlah BMT
mencapai 4000-an BMT. (http://ekonomiislam.uii.ac.id).
Perkembangan pesat tersebut, menunjukkan bahwa lembaga
keuangan yang operasinya berdasarkan sistem bagi hasil, mampu
menjaga keseimbangan antara sektor riil dan moneter sehingga
terbebas dan mampu bertahan pada saat krisis. Serta diharapkan dari
sistem syari’ah yang diterapkan, akan mampu memberikan kontribusi
yang lebih baik. Kontribusi sistem syariah yang diberikan dapat
dinilai, salah satunya dari kinerja keuangan (Arifin,2000:x).
Dalam menilai kinerja keuangan perusahaan dan lembaga
keuangan, dibutuhkan proses pencatatan dan pelaporan seluruh
transaksi dan kegiatan mu’amalah yang dilakukan di unit bisnis. Salah
5
satu piranti yang sangat diperlukan adalah akuntansi, yang dapat
memberikan sumbangan dalam pertanggungjawaban dan penyediaan
informasi yang terkait dengan operasional yang dijalankan oleh Baitul
Mal Wattamwil dan selalu berjalan dalam rangka meningkatkan
keadilan dan kesejahteraan masyarakat.
Baitul Mal Wattamwil sebagai lembaga keuangan syariah
memerlukan akuntansinya sendiri, akuntansi yang digunakan harus
berdasarkan syariah. Akuntansi syari’ah adalah akuntansi yang
mempunyai orientasi sosial, dimana orientasi sosial tersebut
dibebankan pada perluasan konsep zakat yang kias (metafora)
organisasi akuntansinya harus dirujukkan pada orientasi zakat, bukan
lagi pada orientasi laba atau shareholders oriented (Triyuwono,2006:194).
Masih menurut Triyuwono (2006:194), orientasi zakat
mengandung pengertian luas dan komprehensif. Sebab zakat bukan
sekedar dinyatakan dalam bentuk angka-angka persentase, akan tetapi
melalui zakat dapat diketahui kinerja perusahaan. Yaitu semakin
tinggi zakat yang dikeluarkan oleh perusahaan tiap tahun, maka
semakin besar laba yang diperoleh perusahaan. Dengan semakin
besarnya laba yang diperoleh perusahaan, maka perusahaan tersebut
dapat dikatakan mempunyai kinerja yang baik. Sebaliknya, semakin
rendah zakat yang dikeluarkan oleh perusahaan tiap tahun, maka
6
semakin rendah pula laba yang diperoleh perusahaan. Dan dengan
semakin rendahnya laba yang diperoleh perusahaan, maka
perusahaan tersebut dapat dikatakan mempunyai kinerja yang buruk.
Berdasarkan keterangan di atas, peneliti memberikan gambaran
kinerja BMT–MMU Sidogiri Pasuruan yang diperoleh dari data
sementara.(Lihat tabel 1.1)

Sumber : Data sementara diolah oleh peneliti.
Dari tabel 1.1, dapat disimpulkan sementara bahwa kinerja BMTMMU
pada tahun 2004 sampai dengan 2006, menunjukkan hasil yang
baik. Hal ini dapat diketahui dari kenaikan jumlah zakat yang
dikeluarkan oleh BMT-MMU. Kenaikan zakat tersebut, disebabkan
oleh kenaikan laba yang diperoleh.
7
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Naf’ah (2006), dikatakan
bahwa pengakuan zakat meliputi obyek kekayaan kena zakat yaitu
modal BMT, sedangkan pengukurannya akuntansi zakatnya
mengguakan metode current value atau nilai sekarang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis sangat tertarik
untuk mendalami lebih jauh mengenai perhitungan zakat pada Baitul
Mal Wattamwil yang disandarkan pada prinsip-prinsip syariah guna
menilai kinerja perusahaan. Sebagai studi kasus, peneliti memilih
sebuah BMT yang berkembang sangat pesat baik secara lokal di Jawa
Timur maupun secara nasional, yaitu BMT MMU Sidogiri Pasuruan.
Perkembangan tersebut ditunjukkan oleh perkembangan jumlah
omset yang terus bertambah setiap tahunnya. Pada awal berdirinya
BMT MMU tanggal 17 juli 1997, hanya bermodalkan Rp 13,5 juta. Pada
tahun 2000 Omsetnya mencapai Rp. 6.174 miliar. Tiga tahun kemudian
(2003), omsetnya berkembang lebih dari 6 kali lipat sehingga mencapai
Rp. 42.333 miliar, dan pada tahun 2006 BMT MMU sebagai lembaga
keuangan yang berbadan hukum koperasi simpan pinjam,
memperoleh predikat terbaik pertama dari koperasi-koperasi yang ada
di Jawa Timur. Bahkan pada saat itu, BMT MMU juga mendapat
penghargaan sebagai koperasi simpan pinjam terbaik ke empat se-
Indonesia dengan total aset sebesar 20 milyar.
Prestasi tersebut, diraih BMT MMU dengan tanpa meninggalkan
asas-asas sosial yang wajib ditunaikannya, yakni pembayaran zakat.
Pembayaran zakat tersebut, terus meningkat setiap tahunnya seiring
dengan kenaikan tingkat profitabilitas yang diperolehnya. Hal ini dapat
dilihat pada tabel A.1. Pada tahun 2004, laba yang diperoleh BMT
MMU adalah Rp 653,491,529.28 dengan zakat sebesar Rp 54,840,150.
Pada tahun 2005 terjadi kenaikan laba 41.46% menjadi Rp
924,415,600.00 yang mengakibatkan kenaikan jumlah zakat sebesar
38.63% menjadi Rp 76,024,500. Kenaikan tersebut juga terjadi pada
tahun 2006, yakni terjadi kenaikan laba sebesar 24.38% menjadi Rp
1,149,778,790.97 dengan kenaikan zakat sebesar 40.91% menjadi Rp
107125349.48.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis mengangkat judul
“Analisis Perhitungan Zakat Untuk Menilai Kinerja Perusahaan
(Studi pada BMT MMU Sidogiri Pasuruan tahun 2001-2006)”



Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar