PERAN PEMBIAYAAN BA’I BITSAMANIL AJIL TERHADAP PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DI BMT (Studi Kasus Pada Koperasi BMT-MMU Sidogiri Cabang Wonorejo) {47}

Admin
JUDUL SKRIPSI : SKRIPSI PERAN PEMBIAYAAN BA’I BITSAMANIL AJIL TERHADAP PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO DI BMT  (lengkap sampai daftar pustaka) 

Dalam setiap sistem perekonomian modern, keberadaan lembaga keuangan yang menawarkan berbagai bentuk fasilitas pembiayaan merupakan sesuatu yang penting guna mendukung kegiatan perekonomian terutama melalui pergerakan sumber-sumber pembiayaan dan penyalurannya secara efektif dan efisien. Di Indonesia lembaga pembiayaan ini diatur dalam keputusan presiden No. 61 tahun 1988, lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan usaha pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal. Dan menurut ketentuan pasal 1 ayat (2) keputusan presiden tersebut diatas, lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam benruk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat (Hermansyah, 2005:12)

Dengan semakin berkembangnya perekonomian suatu negara, semakin pula permintaan/kebutuhan pendanaan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Namun, dana pemerintah yang bersumber dari APBN (anggaran pendapatan belanja negara) sangat terbatas untuk menutup kebutuhan dana diatas, karenanya pemerintah menggandeng dan mendorong pihak swasta untuk ikut serta berperan dalam membiayai pembangunan potensi ekonomi bangsa. Pihak swastapun secara individual maupun kelembagaan, kepemilikan dananya juga terbatas untuk memenuhi operasional dan pengembangan usahanya. Dengan keterbatasan kemampuan financial lembaga Negara dan swasta tersebut maka perbankan nasional memegang peranan penting dan strategis dalam kaitannya penyediaan permodalan pengembangan sektor-sektor produktif (Muhammad, 2006:15)
Bagi usaha kecil (PK) dengan omset kurang dari Rp 50 juta per bulan atau lebih dikenal dengan usaha mikro, umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Mereka pada umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi, biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cash flow saja (Suhardjono, 2003:39)
Dengan semakin berkembangnya juga perekonomian suatu negara semakin meningkat pula permintaan/kebutuhan dari masyarakat yang salah satunya untuk suatu permodalan bagi suatu usaha maupun berinvestasi, ada banyak lembaga yang berbasis syari’ah di antaranya Baitul Mal Wat Tamwil (BMT), kehadiran BMT sebagai pendatang baru dalam dunia pemberdayaan masyarakat melalui sistem simpan-pinjam dalam jasa keuangan. Dari segi namanya Baitul Maal berarti lembaga sosial sejenis BAZIS (badan amil zakat), sedangkan Baitul Tamwil berarti lembaga bisnis, oleh karenanya BMT secara nama telah melekat dua ciri yaitu sosial dan bisnis (Ridwan, 2004:31)
Pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Dan secara fungsional ada dua fungsi pokok dalam kaitan dengan kegiatan perekonomian masyarakat yang terdapat di BMT, yaitu: pengumpulan dana dan penyaluran dana. Dengan berbagai macam produk yang ditawarkan oleh BMT yang bertujuan agar para nasabah tertarik pada produk yang ditawarkan, ada beberapa produk yang ada di BMT yaitu: pembiayaan bai’ bitsamanil ajil (BBA), pembiayaan murabahah (MBA), pembiayaan musyarakah (MSA), pembiayaan mudharabah (MDA), dan pembiayaan al-qordhul hasan (Muhammad, 2000:117-119)
Di BMT banyak menawarkan produk-produk pembiayaan akan tetapi pembiayaan bai’ bitsamanil ajil (BBA) yang paling banyak diminati oleh masyarakat karena pembiayaan BBA ini merupakan pembiayaan untuk membeli barang dengan pembayaran secara mengangsur per-periode, pembiayaan BBA merupakan kredit yang diberikan kepada nasabah debitur dalam rangka memenuhi kebutuhan barang modal (investasi) yang dilakukan dengan cara jual beli secara bai’ bitsamanil ajil. Pembiayaan ini sama dengan kredit investasi yang dilakukan oleh bank konvensional, karena itu jangka waktu pemberian kredit ini lebih dari satu tahun dan keuntungan yang diterima bank dari selisih harga barang yang dijual kepada nasabah debitur dengan jumlah modal yang dikeluarkan oleh bank (Pandi, dkk. 2005:193)
Pada sebagian masyarakat melakukan pembiayaan bai' bitsamanil ajil (BBA) di BMT mulai dari para pedagang kaki lima, pedagang sayur, sampai pedagang lesehan   (termasuk usaha mikro) mereka meminjam modal untuk mengembangkan usahanya dan menyalurkan ketrampilan yang dimilikinya. Akan tetapi setiap pembiayaan akan mengalami adanya masalah walaupun telah dilakukan analisis secara teliti oleh bagian pembiayaan, dan salah satu faktor penyebabnya bisa dari kesalahan nasabah karena kondisi perekonomian mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan keuangan debitur tersebut.
Adapun penelitian dengan judul " Analisis pembiayaan al-bai'u bitsamanan ajil bagi usaha kecil (studi kasus pada BMT as-sa'adah Malang)" Farida (2003) menyatakan bahwa untuk mendapatkan pembiayaan BBA ini nasabah harus mengikuti prosedur yang ditentukan oleh BMT untuk selanjutnya dilakukan pengikatan melalui suatu perjanjian antara BMT dengan nasabah, dan dengan adanya pembiayaan BBA ini sangat berpengaruh yang baik kepada pengusaha kecil.
Selain itu Falihah (2007) BMT juga berperan dalam memberdayakan usaha mikro karena adanya peranan ponpes pesantren (ponpes sidogiri pasuruan) dan andilnya para kiai atau asatidz MMU. Begitu juga pada Rizka Amalia (2008) bahwa pembiayaan bai’ bitsamanan ajil (BBA) memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan BMT-MMU.
Dan alasan peneliti memilih lokasi di BMT-MMU Sidogiri cabang Wonorejo, yaitu: karena banyaknya para nasabah yang menggunakan pembiayaan BBA ini, dapat dilihat pada tabel di bawah ini asset pembiayaan dari beberapa produk yang ada di BMT-MMU Sidogiri cabang Wonorejo:
Tabel 1.1
Aset Yang Diberikan Untuk Pembiayaan

Tahun
Mudharabah
Musyarakah
Murabahah
BBA
Qordhul Hasan
2005
Rp 813.612.450
-
-
Rp 1.161.098.646
-
2006
Rp 818.510.200
-
-
Rp 1.425.843.105
Rp 1.500.000
2007
Rp 658.297.900
-
-
Rp 1.580.774.714
Rp 37.318.800
Sumber: data diperoleh dari BMT-MMU Sidogiri cabang Wonorejo
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pembiayaan BBA dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara bertahap, pada tahun 2005 sebesar Rp 1.161.098.646, dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan  yaitu sebesar Rp 1.425.843.105 dan pada tahun 2007 pembiayaan BBA juga mengalami peningkatan yaitu sebesar Rp 1.580.774.714. Sedangkan pada pembiayaan musyarakah dan murabahah tidak ada nasabahnya dikarenakan produk ini  dianggap ribet, pada musyarakah nasabah menganggap pembiayaan ini ribet karena setiap akhir bulan nasabah harus membukukan setiap transaksi dan diserahkan ke pihak BMT. Sedangkan pada murabahah biasanya nasabah hanya meminjam modal untuk sementara saja dan tidak sampai pada akhir bulan nasabah sudah melunasinya, maka dari itu dilaporan keuangan tersebut tidak dicantumkan.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis perlu untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang seberapa pentingkah (berperannya) pembiayaan BBA pada usaha mikro. Sehingga peneliti tertarik untuk memilih judul  Peran Pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) Terhadap Pemberdayaan Usaha Mikro Pada BMT -MMU ” (Studi Kasus Pada koperasi BMT-MMU Sidogiri Cabang Wonorejo)
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada apa yang sudah dipaparkan pada latar belakang, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah peranan pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) terhadap pemberdayaan Usaha Mikro?
2. Apa saja upaya yang dilakukan BMT dalam menanggulangi keterlambatan pembayaran pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) pada para Usaha Mikro di koperasi BMT-MMU?
C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:
1.      Untuk mendiskripsikan peranan pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) terhadap pemberdayaan Usaha Mikro
2. Untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan BMT dalam menanggulangi keterlambatan pembayaran pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) pada para Usaha Mikro
D. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti memberi batasan hanya pada seberapa jauh Peranan Pembiayaan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) Terhadap Pemberdayaan Usaha Mikro Pada koperasi BMT –MMU Sidogiri Cabang Wonorejo
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Sebagai wahana dalam mengaplikasikan ilmunya, yang sudah di dapat   dalam bangku kuliah.
2. Bagi Perusahaan
 Sebagai sarana untuk menjembatani hubungan antara perusahaan dengan penyelenggara jurusan untuk bekerja sama lebih lanjut
 Sebagai bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran dalam membuat kebijaksanaan / keputusan dalam pemberian pembiayaan kepada para nasabah
3. Bagi Lingkungan Pendidikan
 Sebagai wawasan keilmuan mengenai seberapa besar peranan Bai’ Bitsamanil Ajil (BBA) terhadap pemberdayaan Usaha Mikro yang sering terjadi pada saat ini
4. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini digunakan sebagai referensi tambahan dan dasar pertimbangan dari penelitian selanjutnya.















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan oleh Farida (2003) dengan judul "Analisis pembiayaan al-bai'u bitsamanan ajil bagi usaha kecil (studi kasus pada BMT as-sa'adah Malang)". Dan hasil penelitiannya yaitu: di dalam prakteknya untuk mendapatkan pembiayaan BBA ini nasabah harus mengikuti prosedur yang ditentukan oleh BMT untuk selanjutnya dilakukan pengikatan melalui suatu perjanjian antara BMT dengan nasabah. Kendala yang dijumpai dilapangan adalah kurangnya memahami pengetahuan tentang ekonomi Islam/syari'ah, bagi para karyawan dan sulitnya melakukan pengawasan kepada usaha nasabah yang jaraknya jauh dari kantor. Sedangkan pembiayaan BBA ini membawa pengaruh yang baik kepada para pengusaha kecil
Dan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Falihah (2007) dengan judul “Peran baitul maal tamwil dalam upaya pemberdayaan usaha mikro (Dikoperasi BMT-MMU Kraton Sidogiri Pasuruan)”, hasil dari penelitian ini dapat dipaparkan bahwa keberadaan BMT memang sangat strategis, demi terangkatnya ekonomi rakyat bawah. BMT-MMU hanya menerapkan pembiayaan produktif, dikarenakan secara tidak langsung masyarakat akan belajar memahami mengenai sistem ekonomi syari’ah dan mampu membedakan dengan sistem lembaga keuangan konvensional (sistem bunga). Terdapat beberapa faktor kesuksesan BMT-MMU dalam menyalurkan dananya demi terwujudnya misi: pemberdayaan usaha mikro, yaitu: adanya peranan ponpes pesantren (ponpes Sidogiri Pasuruan) dan andilnya para kiai/asatidz MMU. BMT juga membudayakan STAF (Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathonah) dalam menjalankan pembiayaan, yaitu: kredit macet dan sulitnya mencari nasabah yang produktif.
Sedangkan penelitian BBA juga dilakkukan oleh Rizka Amalia (2008) dengan judul: “analisis pembiayaan bai’ bitsamanan ajil (BBA) dalam meningkatkan pendapatan BMT (studi pada BMT-MMU Sidogiri Pasuruan)”, hasil penelitiannya adalah: aplikasi pemberian pembiayaan bai’ bitsamanan ajil (BBA) telah menetapkan prosedur pembiayaan yang harus dipenuhi oleh setiap calon nasabah di awali dengan pengajuan permohonan sampai kepada informasi persetujuan realisasi pembiayaan dan menggunakan prinsip analisis pembiayaan 5 C. Pembiayaan BBA memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan BMT-MMU.





Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS Penelitian, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar