75. EVALUASI KINERJA SAHAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHARPE, TREYNOR, DAN JENSEN (LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA)

Admin

JUDUL SKRIPSI : EVALUASI KINERJA SAHAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SHARPE, TREYNOR, DAN JENSEN (Studi pada Saham Jakarta Islamic Index) 




BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu
negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama
sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi
perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal
(investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan
untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan
lain-lain. Kedua, pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk
berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa
dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat
menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik
keuntungan dan risiko masing-masing instrument.
Pasar modal merupakan sarana pembentukan modal dan
akumulasi dana yang diarahkan, untuk meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pengerahan dana guna menunjang pembiayaan
pembangunan nasional (Ahmad 1996: 17). Terbukti telah banyak
industri dan perusahaan yang menggunakan institusi pasar modal ini
sebagai media untuk menyerap investasi dan media untuk
memperkuat posisi keuangannya. Secara faktual, pasar modal telah
menjadi financial nerve centre (saraf finansial dunia) pada dunia
ekonomi modern dewasa ini, bahkan perekonomian modern tidak
akan mungkin bisa eksis tanpa adanya pasar modal yang tangguh dan
berdaya saing global serta terorganisir dengan baik.
Inti dari kegiatan pasar modal adalah kegiatan investasi, yaitu
kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung
dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan
sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut. Bagi para
investor, melalui pasar modal mereka dapat memilih obyek investasi
dengan beragam tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang
dihadapi, sedangkan bagi para penerbit (issuers atau emiten) melalui
pasar modal mereka dapat mengumpulkan dana jangka panjang untuk
menunjang kelangsungan usaha mereka.
Pengambilan keputusan investasi dalam saham memerlukan
pertimbangan-pertimbangan, perhitungan-perhitungan, dari analisis
yang mendalam untuk menjamin keamanan dana yang diinvestasikan
serta keuntungan yang diharapkan oleh investor. Calon investor harus
mengetahui keadaan serta prospek perusahaan yang menjual surat
berharganya. Hal ini dapat diperoleh dengan mempelajari dan
menganalisis informasi yang relevan. Suatu informasi dikatakan
relevan bagi investor jika informasi tersebut mampu mempengaruhi
keputusan investor untuk melakukan transaksi di pasar modal yang
tercermin pada perubahan harga.
Pada hakekatnya investor dalam melakukan investasi akan
berusaha menanamkan modalnya pada saham perusahaan yang
mampu memberikan return atau keuntungan yang bisa berupa dividen
dan atau capital gain. Dengan return ini akan tercapai tujuan pokok dari
investasi yaitu maksimisasi kemakmuran dengan peningkatan
kekayaan. Oleh karena itu, perusahaan selalu berusaha memberikan
informasi atau sinyal tingkat pengembalian sebagaimana yang
diharapkan investor (return saham) yang berupa capital gain dan
dividen tersebut. Perusahaan selalu berusaha menjadikan sahamnya
menjadi menarik bagi investor dengan berbagai kebijakan teknis
maupun politis.
Yang paling berperan dalam mengaktifkan perdagangan
pasar modal tersebut investor individual atau kelompok besar
(konglomerat) serta memiliki keahlian yang cukup. Hal ini tentunya
merupakan konsekuensi logis bahwa dengan modal yang besar maka
investor akan mampu untuk memilih portofolio dan
mendisfersifikasikan guna mengurangi resiko (risk) dan
memaksimalkan penghasilan atau return yang diperoleh dari
perdagangan di bursa.
Istilah portofolio dalam dunia keuangan digunakan untuk
menyebutkan kumpulan investasi yang dimiliki oleh institusi ataupun
perorangan. Memiliki portofolio seringkali merupakan suatu bagian
dari investasi dan strategi manajemen resiko yang disebut
diversifikasi. Dengan memiliki beberapa aset, resiko tertentu dapat
dikurangi. (http//id.wikipedia.org)
Selain itu, untuk dapat melakukan transaksi dipasar modal
maka diperlukan ketajaman dan kemampuan analisis terhadap resiko
dalam mendapatkan return atau gain dari tiap-tiap jenis portofolio
yang dipilih. Hal ini sesuai dengan konsep teori yang menyatakan
bahwa investasi dalam bentuk portofolio saham memiliki resiko yang
cukup besar jika dibandingkan dengan tabungan atau deposito.
Investasi dalam saham umumnya dilakukan dalam bentuk
portofolio, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja portofolio.
Dengan berdasarkan pada teori pasar modal, beberapa ukuran kinerja
portofolio sudah memasukkan faktor return dan resiko dalam
perhitungannya (Halim 2005:68). Alat ukur evaluasi kinerja ini tidak
menyebutkan bagaimana dan mengapa manajer keuangan dapat
memiliki kinerja yang lebih baik maupun lebih buruk dari tolak ukur.
Tiga alat ukur, atau metode tersebut adalah Metode Treynor, Metode
Sharpe dan Metode Jensen. Ketiga metode ini mengasumsikan adanya
hubungan linear antara pengembalian (return) portofolio dengan
pengembalian dari beberapa indeks pasar. (www.scribd.com)
Peneliti melakukan penelitian pada saham yang ada di Jakarta
Islamic Index (JII) yang merupakan Indeks yang terdiri 30 saham yang
mengakomodasi syariat investasi dalam Islam atau Indeks yang
berdasarkan syariah Islam. Dengan kata lain, dalam Indeks ini
dimasukkan saham-saham yang memenuhi kriteria investasi dalam
syariat Islam. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah
emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan prinsip
seperti: (1) Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau
perdagangan yang dilarang. (2) Usaha lembaga keuangan
konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional.
(3) Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan
makanan dan minuman yang tergolong haram. (4) Usaha yang
memproduksi, mendistribusi dan atau menyediakan barang-barang
ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.
(www.jsx.co.id)
 


Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI. xviii ABSTRACT Ruminih , 2009 MINI THESIS. Title “Stock Performance evaluation by using Sharpe’s, Treynor’s, and Jensen’s Method (Study on Jakarta Islamic Index Stock)” Counsellor: Indah Yuliana, SE., MM. Key word: Jakarta Islamic Index Stock, Sharpe’s, Treynor’s, and Jensen’s Method Money market has an important role for the economy of a country because many market have to function; the first as the tools for business funding to get fund from the investors. The second, money market as the tools for the society to invest the finance instrument such as stock, obligation, fund reksa, etc. The main point of money market activity is investation activity. For the investor they can choose the investation object with returning level variety and the risk, where as for the issuers or emiten pass through money market they be able to collect the long range plan fund to support their business. In the market, always there is an investor which is disagree with the market consensus, because not always stock performance market having the same aim with the high market capitalization. This research tries evaluating JII stocks activities which is registered at Indonesian Capital Market (IDX) on period 2007 - 2008 by using qualitative descriptive approach. Testing on this research by using Sharpe, Treynor , and Jensen Method. The observation result of this research indicate that by using Sharpe, Treynor method there are four stocks which has bad activities with negative values, for instance BNBR, TLKM, BTEL, and CTRA. While the nine stocks which has good categories with positive valves. Measured by using Jansen method there are nine stock which has good activities and four others has a bad activities. By using Sharpe method there are a good stock such as UNVR, Treynor method is BNBR, and using Jansen method is KLBF stock by appraisal stock valve produce five stocks with a good work. Assessment to price of stocks by using method Sharpe, Treynor, and Jensen have most highest value and have never negative valuable are share of Unilever of Indonesia with value 0.466534. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul penelitian dalam suatu penulisan skripsi dengan tema “Evaluasi Kinerja Saham dengan Menggunakan Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen (Studi pada Saham Jakarta Islamic Index)” 6 B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskannya sebagai berikut: 1. Bagaimana kinerja saham JII dengan menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen ? 2. Perusahaan mana yang berkinerja baik dalam berinvestasi dengan menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengetahui kinerja saham JII dengan menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. 2. Untuk mengetahui perusahaan yang berkinerja baik dalam berinvestasi dengan menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. D. BATASAN MASALAH Agar tidak terjadi pelebaran pembahasan, maka penulis memberikan batasan dalam melakukan evaluasi kinerja portofolio. Dengan berdasarkan teori pasar modal, beberapa ukuran kinerja portofolio sudah memasukkan faktor return dan risiko dalam perhitungannya. Dalam penelitian ini diukur dengan tiga metode 7 yaitu mendasarkan perhitungan pada risk adjusted performance. Tiga metode tersebut adalah Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. Dan dalam pengambilan sampel penelitian ini hanya menggunakan saham Emiten yang aktif dalam Jakarta Islamic Index pada tahun 2007 - 2008. E. MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Investor Di harapkan agar dapat dijadikan pertimbangan bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi saham-saham anggota Jakarta Islamic Index. 2. Penulis Bagi penulis sebagai wahana untuk menerapkan teori yang sudah didapat di perkuliahan strata satu, khususnya tentang pasar modal. 3. Akademik Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Indah Setyarini (2007) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Metode Sharpe Sebagai Dasar Keputusan Investasi” menyatakan bahwa kinerja Reksa Dana pendapatan tetap pada tahun 2006 memiliki kinerja yang buruk karena nilai rata-rata return yang di hasilkan lebih kecil dari nilai investasi beberapa resiko. Dan dalam penilaian ini adalah Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Dari Reksa Dana pendapatan tetap yang memiliki kinerja baik (bernilai positif) adalah sebanyak 54 Reksa Dana pendapatan tetap dan 72 Reksa Dana pendapatan tetap memiliki kinerja buruk (bernilai negatif). Reksa Dana yang memiliki kinerja paling baik dan memiliki nilai sharpe rasio positif tinggi yaitu Reksa Dana Maestro Pundit yang dikelola manajer investasi yaitu PT. AXA asset manajemen investasi sebesar 608,13 % (6,081). Dan dalam jurnalnya I Gusti Bagus Wiksuana dan Ni Ketut Purnawati (2008) yang berjudul “Konsistensi Risk-Adjusted Performance Sebagai Pengukur Kinerja Portofolio Saham di Pasar Modal Indonesia” Hasil uji korelasi alat ukur risk-adjusted performance menunjukkan 9 bahwa Indeks Sharpe, Indeks Treynor, dan Indeks Jensen tidak konsisten sebagai pengukur kinerja portofolio saham periode tiga bulan di Bursa Efek Jakarta, baik untuk portofolio saham dengan return tinggi dan korelasi rendah maupun portofolio saham dengan return rendah dan korelasi tinggi. Tabel 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu Hal Indah Setyarini (2007) I Gusti Bagus Wiksuana dan Ni Ketut Purnawati (2008) Ruminih (2009) Judul Analisis Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Metode Sharpe Sebagai Dasar Keputusan Investasi Konsistensi Risk - Adjusted Performance Sebagai Pengukur Kinerja Portofolio Saham di Pasar Modal Indonesia Evaluasi Kinerja Saham dengan Menggunakan Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen (Studi pada saham Jakarta Islamic Index) Variabel Kinerja Reksa Dana Pendapatan (Rate of return, rata-rata rate of return, risiko fluktuasi, rata-rata return). Risk -Adjusted Performance Saham di Pasar Modal Indonesia Market Performance saham-saham Jakarta Islamic Index Pendekatan Kualitatif dengan data kuantitatif dan menggunakan metode deskriptif. Kuantitatif Kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode Pengumpulan Data Metode dokumentasi. Metode dokumentasi. Metode dokumentasi. Metode Analisis Rate of return, rata-rata rate of Rata-rata Kumulatif dan Menguji Metode Sharpe, Metode Treynor, 10 return, standart deviasi, sharpe rasio. konsistensi Indeks Sharpe, Indeks Treynor, dan Indeks Jensen. dan Metode Jensen Hasil Hasil analisisnnya menyatakan bahwa kinerja Reksa Dana pendapatan tetap pada tahun 2006 memiliki kinerja yang buruk karena nilai rata-rata return yang di hasilkan lebih kecil dari nilai investasi beberapa resiko. Hasil uji korelasi alat ukur riskadjusted performance menunjukkan bahwa Indeks Sharpe, Indeks Treynor, dan Indeks Jensen tidak konsisten sebagai pengukur kinerja portofolio saham periode tiga bulan di Bursa Efek Jakarta Hasil evaluasi kinerja saham menunjukkan bahwa kinerja saham JII pada tahun 2007-2008 dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan Jensen memiliki nilai saham tertinggi pada saham UNVR dengan nilai 0.324699 Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah sama-sama ingin mengetahui investasi yang berkinerja baik, dan metode yang dipergunakan yaitu Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. Perbedaan dalam I Gusti Bagus Wiksuana dan Ni Ketut Purnawati dalam penelitiannya ingin mengetahui konsistensi riskadjusted performance yang meliputi Indeks Sharpe, Indeks Treynor, dan Indeks Jensen. Sedangkan dalam penelitian ini ingin mengetahi kinerja saham dan mengetahui perusahaan yang berkinerja baik untuk dimasukkan ke dalam portofolio. Dan penelitian Indah Setyarini perbedaannya sample yang diteliti yaitu Reksa Dana dan metode yang 11 digunakan hanya Metode Sharpe saja. Sedangkan dalam penelitian ini menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. B. Kajian Teori 1. Pasar Modal a. Pengertian Pasar Modal Rusdin (2006: 1) mengartikan “Pasar modal merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”. Pasar modal menyediakan berbagai alternatif investasi bagi para investor selain alternatif investasi lainnya seperti: menabung dibank, membeli emas, asuransi, tanah dan bangunan, dan sebagainya. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrument keuangan jangka panjang seperti Obligasi, saham dan lainnya. Menurut Tandelilin (2001: 13) pengertian “Pasar modal merupakan pertemuan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan memperjualbelikan sekuritas”. Dengan demikian, pasar modal juga diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang memiliki unsur lebih dari satu tahun. Sedangkan tempat 12 dimana terjadinya jual beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh karena itu, bursa efek merupakan arti dari pasar modal secara fisik. Sedangkan menurut Jogianto (2003: 11) memberi pengertian, “Pasar modal merupakan tempat bertemu antara pembeli dan penjual dengan resiko untung rugi, serta sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi”. Dengan demikian dapat dikatakan pasar modal adalah tempat untuk perdagangan surat berharga, baik itu saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun swasta. b. Fungsi Pasar Modal Pasar modal pada dasarnya bertujuan untuk menjembatani aliran dana dari pihak yang memiliki dana (investor), dengan pihak perusahaan yang memerlukan dana (untuk spekulasi usaha atau memperbaiki struktur modal perusahaan). Menurut Tandelilin (2001: 26) untuk mewujudkan tujuan tersebut ada tiga aspek mendasar yang ingin dicapai pasar modal Indonesia yaitu: a. Mempercepat proses perluasan pengikutsertaan masyarakat dalam pemilikan saham-saham perusahaan swasta menuju pemerataan pendapatan masyarakat. 13 b. Pemerataan pendapatan masyarakat melalui pemilikan saham. c. Lebih menggairahkan partisipasi masyarakat dalam pengerahan dan penghimpunan dana untuk digunakan secara produktif dalam pembiayaan pembangunan nasional. Sedangkan menurut Husnan (2000: 4-5) memberikan fungsi pasar modal sebagai berikut, yaitu: a. Adalah merupakan suatu wahana untuk memobilisasikan dana masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri. b. Bagi dunia usaha; pasar modal menjadi alternmatif penghimpunan dana selain sistem perbankkan. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) atau surat tanda kepemilikan (saham). Dengan demikian perusahaan bisa menghindarkan diri dari kondisi debt to equity ratio yang terlalu tinggi dalam pembiayan kegiatannya. c. Bagi investor; pasar modal memungkinnkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai denganpreferensi resiko mereka. Dengan adanya pasar modal, para pemodal dimungkinnkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portofolio (gabungan dari berbagai investasi) sesuai dengan resiko yang tersedia 14 dan mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Dengan demikian pasar modal pada dasarnya bertujuan atau berfungsi untuk menjembatani aliran dana dari pihak yang memiliki dana (investor), dengan pihak perusahaan yang memerlukan dana (untuk ekspansi usaha ataupun untuk memperbaiki struktur modal perusahaan). Pasar modal diharapkan juga mampu memberikan alternatif sumber dana eksternal yang berasal dari masyarakat (investor) bagi perusahaan, sehingga nantinya kredit sektor perbankan dapat dialihkan untuk pembiayaan usaha industri kecil dan menengah. Hal ini menunjukkan peran penting pasar modal dalam menunjang perekonomian karena pasar modal dapat menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Di samping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return yang paling optimal. 15 c. Efisiensi Pasar Modal Husnan (2000: 264) menjelaskan pasar modal yang efisien adalah pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relefen. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Menurut Tandelilin (2001: 112-113) “pasar modal yang efisien adalah pasar di mana harga semua informasi yang tersedia”. Dalam hal ini, informasi yang tersedia bisa meliputi semua informasi yang tersedia baik informasi di masa lalu (laba perusahaan tahun lalu), informasi yang bersifat sebagai pendapat atau opini rasional yang beredar di pasar yang bisa mempengaruhi perubahan harga (jika banyak investor di pasar berpendpat bahwa harga saham akan naik, maka informasi tersebut nantinya akan tercermin pada perubahan harga saham yang cenderung naik, demikian juga sebaliknya). Sehingga menurutnya, ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi untuk tercapainya pasar efisien, yaitu: a. Ada banyak investor yang rasional dan berusaha untuk memaksimalkan profit. Investor-investor tersebut secara aktif berpartisipasi di pasar dengan menganalisis, menilai dan melakukan perdagangan saham. Di samping itu nereka 16 juga merupakan price taker, sehingga tindakan dari satu investor saja tidak akan mampu mempengaruhi harga dari sekuritas. b. Semua pelaku pasar dapat memperoleh informasi pada saat yang sama dengan cara yang mudah dan murah. c. Informasi yang terjadi bersifat random d. Investor bereaksi secara cepat terhadap perubahan informasi baru, sehingga harga sekuritas akan berubah sesuai dengan perubahan nilai sebenarnya akibat informasi tersebut. Menurut Husnan (2001: 269-270) efisiensi pasar dapat dibagi menjadi 3 bentuk atau tingkatan, yaitu: a. Efisiensi Bentuk Lemah (Weak Form Effecientcy) Keadaan dimana harga-harga mencerminkan semua informasi yang ada pada catatan harga di waktu yang lalu. Dalam keadaan seperti ini pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan menggunakan trading rules yang berdasarkan atas informasi harga di waktu yang lalu. b. Efisiensi Bentuk Setengah Kuat (Semi Strong Form Effeciency) Keadaan dimana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga-harga di waktu yang lalu, tetapi semua informasi yang dipublikasikan. Dengan kata lain, para pemodal tidak 17 bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan memanfaatkan public information. c. Efisiensi Bentuk Kuat (Strong Form Effeciency) Kedaan dimana harga-harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang dipublikasikn, tetapi juga informasi yang bisa diperoleh dari analisa fundamental tentang perusahaan dan perekonomian. Dalam keadaan semacam ini pasar modal akan seperti rumah lelang yang ideal; harga selalu wajar dan tidak ada investor yang mampu memperoleh perkiran yang lebih baik tentang harga saham. 2. Keberadaan Pasar Modal Syariah Indonesia Kegiatan pasar modal di Indonesia diatur dalam Undang- Undang No. 8 Tahun 1995 (UUPM). Pasal 1 butir 13 Undang- Undang No. 8 Tahun 1995 menyatakan bahwa pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Sedangkan efek dalam UUPM pasal 1 butir 5 dinyatakan sebagai surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak kegiatan berjangka atas efek, dan setiap derivatif efek. 18 UUPM tidak membedakan apakah kegiatan pasar modal tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip syariah atau tidak. Dengan demikian, berdasarka UUPM kegiatan pasar modal Indonesia dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan dapat dilakukan tidak sesuai dengan prinsip syariah. Ada dua hal utama dalam pasar modal syariah yaitu indeks Islam dan pasar modal syariah itu sendiri. Indeks Islam menunjukkan pergerakan harga-harga saham dari emiten yang dikategorikan sesuai syariah, sedangkan pasar modal syariah merupakan institusi pasar modal sebagaimana lazimnya yang diterapkan berdasarkan “prinsip-prinsip syariah.” 1) Indeks Saham Islam Indeks Islam tidak hanya dikeluarkan oleh pasar modal syariah saja tetapi juga oleh pasar modal konvensional. Bahkan sebelum berdirinya institusi pasar modal syariah syariah di suati negeri, bursa efek setempat yang tentu saja berbasis konvensional terlebih dahulu mengeluarkan indeks saham. Misalnya sebelum pasar modal syariah diresmikan di Bursa Efek Jakarta, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) bekerja sama dengan PT Danareksa Ivestment Management (DIM) meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII). 19 Adapun tujuan diadakannya indeks Islam sebagaimana Jakarta Islamic Index yang melibatkan 30 saham terpilih, yaitu sebagai tolak ukur (benchmark) untuk mengukur kinerja investasi pada saham yang berbasis syariah dan meningkatkan kepercayaan para investor untuk mengembangkan investasi dalam ekuiti secara syariah, atau untuk memberikan kesempatan kepada investor yang ingin melakukan investasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Perbedan mendasar antara indeks konvensional dengan indeks Islam adalah indeks konvensional memasukkan seluruh saham yang tercatat di bursa dengan mengabaikan aspek halal haram, meskipun saham emiten yang terdaftar (listing) sudah sesuai dengan aturan yang berlaku (legal). Akibatnya bukan persoalan jika ada emiten yang menjual sahamnya di bursa bergerak disektor usaha yang bertentangan dengan Islam atau yang memiliki sifat merusak kehidupan masyarakat. Secara lebih rinci Dow Jones dalam websitenya membuat kriteria saham yang tidak boleh dimasukkan ke dalam perhitungan Indeks Pasar Islam (DJ Islamic Market Indexes), yaitu perusahaan yang bergerak dalam produksi : 20 a) Alkohol (minuman keras) b) Babi dan yang terkait dengannya c) Jasa keuangan konvensional / Kapitalis, seperti bank dan asuransi d) Industri hiburan, seperti hotel, kasino dan perjudian, bioskop, media porno dan industri musik. Sedangkan FTSE dalam papernya yang berjudul Ground Rules for the Management of the FTSE Global Islamic Index Series mengemukakan bahwa saham perusahaan yang dimasukkan ke dalam indeks Islam tidak boleh bergerak dalam bidang : a) Perbankan dan bisnis keuangan lainnya yang terkait dengan bunga (interest) b) Alkohol c) Rokok d) Judi e) Pabrik senjata f) Asuransi jiwa g) Peternakan babi, pengepakan dan pengolahan atau hal-hal lainnya yang terkait dengan babi. h) Sektor / perusahaan yang signifikan dipengaruhi oleh halhal yang disebutkan di atas. 21 i) Perusahaan yang memiliki beban utang ribawi dengan persentasinya terhadap aset perusahaan melebihi batasbatas yang diijinkan hukum Islam. Dari uraian di atas dapat ditarik garis pemisah antara indeks Islam dan indeks konvensional. Pertama, jika indeks Islam dikeluarkan oleh suatu institusi yang bernaung dalam pasar modal konvensional, maka perhitungan indeks tersebut berdasarkan kepada saham-saham yang digolongkan memenuhi kriteria-kriteria syariah sedangkan indeks konvensional memasukkan semua saham yang terdaftar dalam bursa efek tersebut. Kedua, jika indeks Islam dikeluarkan oleh institusi pasar modal syariah, maka indeks tersebut didasarkan pada seluruh saham yang terdaftar di dalam pasar modal syariah yang sebelumnya sudah diseleksi oleh pengelola. 2) Instrumen Instrumen pasar modal konvensional yang diperdagangkan adalah surat-surat berharga (securities) seperti saham, obligasi, dan instrument turunannya (derivatif) opsi, right, waran, dan Reksa Dana. Dalam pasar modal syariah, instrumen yang diperdagangkan adalah sama di pasar modal konvensional. Sedangkan opsi, waran dan right tidak termasuk instrumen yang dibolehkan. 22 3) Mekanisme transaksi Menurut Alhabshi idealnya pasar modal syariah tidak mengandung transaksi ribawi, transaksi yang menggunakan (gharar), dan saham perusahaan yang bergerak pada bidang yang diharamkan. Pasar modal syariah harus bebas dari transaksi yang tidak beretika dan amoral, seperti manupulasi pasar, transaksi yang memanfaatkan orang dalam (insider trading), menjual saham yang belum dimiliki dan membelinya belakangan (short selling) Obaidullah dalam mengemukakan etika di pasar modal syariah, yaitu setiap orang bebas melakukan akad (freedom contract) selama masih sesuai syariah, bersih dari unsur riba (freedom from al-riba), gharar (excessive uncertainty), al-qimar/judi (gambling), al-maysir (unearned income), manipulasi dan kontrol harga (price control and manipulation), darar (detriment) dan tidak merugikan kepentingan publik (unrestricted public interest), juga harga terbentuk secara fair (entitlement to transact at fair price) dan terdapat informasi yang akurat, cukup dan apa adanya (entitlement to equal, adequate, and accurate information). Pada intinya menurut Muttaqin (2003: 47), pasar modal syariah harus menghindarkan setiap transaksi yang berlandaskan spekulasi. Perbedaan dengan pasar modal 23 konvensional yang meletakkan spekulasi saham sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan. Meskipun dalam kasus-kasus tertentu seperti insider trading dan manipulasi pasar dan membuat laporan keuangan palsu dilarang dalam pasar modal konvensional. Irfan Syauqi menjelaskan spekulasi ini, pertama, spekulasi hakikatnya bukan kegiatan investasi, kedua, spekulasi menyebabkan peningkatan pendapatan bagi masyarakat tanpa memberikan kontribusi apapun baik yang bersifat positif maupun produktif, ketiga, spekulasi merupakan sumber penyebab krisis keuangan, dan keempat, spekulasi datang dari mental “ingin cepat kaya”. Sementara itu, Muttaqin (2003: 49) menambahkan transaksi pembelian dan penjual produk pasar modal syariah tidak boleh dilakukan secara langsung. Dalam pasar modal konvensional investor dapat membeli atau menjual saham secara langsung dengan menggunakan jasa broker atau pialang. Keadaan ini memungkinkan bagi para spekulan untuk mempermainkan harga. Akibatnya perubahan harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar bukan karena nilai intristik saham itu sendiri. Untuk itu dalam proses perdagangan saham, emiten memberikan otoritas kepada agen dilantai bursa, dan 24 pialang tersebut bertugas untuk mempertemukan emiten dengan calon investor tetapi bukan untuk menjual dan membeli saham secara langsung. Kemudian saham tersebut dijual/dibeli karena sahamnya memang tersedia dan berdasarkan prinsip first come – first served. Perkembangan harga saham dalam pasar modal konvensional sudah lepas dari nilai intrinsiknya yang dipicu oleh transaksi spekulatif, juga muncul dari keinginan para pelaku pada umumnya agar harga saham terus meningkat. Kondisi seperti ini merupakan sasaran bagi para spekulen yang sangat jeli dalam menganalisis perkembangan pasar. Menurut Huda dan Mustafa (2007: 56-57) Sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam menentukan kriteria sahamsaham emiten yang menjadi komponen dari pada Jakarta Islamic Index tersebut adalah: Memilih kumpulan saham dengn jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip hukum syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 (tiga) bulan (kecuali bila termasuk di dalam saham-saham 10 berkapitalisasi besar). 1) Memilih saham berdasarkan laporan keungan tahunan atau tengah tahunan berakhir yang memiliki kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90% (sembilan puluh persen). 25 2) Memilih 60 (enam puluh) saham dari susunan di atas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selamasatu tahun terakhir. 3) Memilih 30 (tiga puluh) saham dengan urutan berdasarkan tingkat lukuiditas rata-rata nilai perdagangan selama satu tahun terakhir. Pengkajian ulang akan dilakukan 6 (enam) bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitoring secara terus-menerus berdasarklan data publik yang tersedia. Perhitungan JII dilakukan PT Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan metode perhitungan indeks yang ditetapkan dengan bobot kapitalisasi pasar (Market Capitalization Weighted). Perhitungan indeks ini juga mencakup penyesuaian-penyesuaian (adjustment) yang dilakukan oleh adanya perubahan terhadap data emiten yaitu corporate action. JII menggunakan tanggal perhitungan 1 januari 1995 dengan nilai awal 100. Dengan indeks ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk mengembangkan investasi secara syariah. Dan menurut Huda dan Mustafa (2007: 57) Prinsip pasar modal syariah tentunya berbeda dengan pasar modal 26 konvensional, sejumlah instrumen syariah di pasar modal sudah diperkenalkan kepada masyarakat, misalkan saham syariah, obligasi syariah, dan Reksa Dana syariah. Pasar modal syariah pun sudah diluncurkan pada tanggal 14 Maret 2003. banyak kalangan meragukan manfat diluncurkanya pasar modal syariah ini, ada yang mencemaskan nantinya akan ada dikotomi dengan pasar modal yang ada. Akan tetapi, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menjamin tidak akan ada tumpang-tidih kebijakan yang mengatur, justru dengan diluncurkannya pasar modal syariah ini, akan membuka ceruk baru di lantai bursa. Dalam kerangka kegiata pasar modal syariah ada beberapa lembaga penting yang secara langsung terlibat dalam kegiatan pengawasan dan perdagangan, yaitu: Bapepam, emiten, profesi dan lembaga penunjang pasar modal serta pihak terkait lainnya. Khusus untuk kegiatan pengawasan akan dilakukan secara bersama oleh Bapepam dan DSN. DSN dalam hal ini akan berfungsi sebagai pusat referensi (refernce center) atas semua aspek-aspek syariah yang ada dalam kegiatan pasar modal syariah. DSN akan bertugas memberikan fatwa-fatwa sehubungan dengan kegiatan emisi, perdagangan, pengelolaan portofolio efek-efek syariah, dan kegiatan lain yang berhubungan dengan efek syariah. DSN mempunyai kewenangan 27 penuh untuk memberikan keputusan tentang berhak tidaknya sebuah efek menyandang label syariah. Kewenangan penuh juga dimiliki DSN dalam hal pengawasan kegiatan emisi, perdagangan, pengelolaan portofolio efek-efek syariah dan kegiatan lain yang berhubungan dengan efek-efek syariah (Herwidayatmo, 2003 dalam Huda dan Mustafa, 2007: 58). 3. Investasi a. Pengertian Investasi Kata investasi merupakan kata adopsi dari bahasa inggris, yaitu investment. Kata invest sebagai kata dasar dari investment memiliki arti menanam. Dalam Webster new collegiate dictionary, kata invest didefinisikan sebagai to make use of for future benefit or advantages and to commit (money) in order to earn a financial of money use for income or profit. Dalam kamus istilah pasar modal dan keuangan kata investasi diartikan sebagai penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan (Arifin, 1999 dalam Huda dan Mustafa, 2007: 7) Dalam kamus lengkap ekonomi, investasi didefinisikan sebagai penukaran uang dengan bentuk-bentuk kekayaan lain seperti saham atau harta tidak bergerak yang diharapkan dapat 28 ditahan selama periode waktu tertentu supaya menghasilkan pendapatan. (Wirasasmita,1999 dalam Huda dan Mustafa,2007:7) Sedangkan pendapat lainnya investasi diartikan sebagai komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. (Tandelilin, 2001: 3) Dari uraian di atas pada dasarnya sama, pengertian investasi yaitu penempatan sejumlah kekayaan untuk mendapatkan keuntungan di masa yanga akan datang. b. Manajemen Investasi Warsono (2001: 3) mengartikan “manajemen investasi adalah proses pengelolaan uang” sehingga disini, ada dua istilah penting untuk mendiskripsikan proses ini, yaitu manajemen portofolio dan manajemen uang. Individu yang mengelola investasi sering disebut dengan manajer investasi. Tugas utama mnajer investasi adalah menginvestasikan dana pada berbagai macam investasi, atau dengan kata lain membentuk portofolio yang optima. Tandelilin (2001: 4) “manajemen portofolio atau manajemen investasi merupakan suatu proses bagaimana dana yang dipercayakan kepada manajer investasi, dikelola”. 29 Pengelolaan tersebut dapat dilakukan secara aktif maupun pasif, menggunakan prosedur yang relatif terkontrol atau tidak terkontrol. Proses pengambilan keputusan investasi merupakan proses yang berkesinambungan (On Going Process). Proses keputusan investasi terdiri dari lima tahap keputusan yang berjalan terus-menerus sampai tercapai keputusan investasi yang baik, dan digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Proses Keputusan Investasi 1. Penentuan Tujuan 2. Penentuan Kebijakan 3. Pemilihan Strategi 4. Pemilihan Aset 5. Pengukuran & Evaluasi Kinerja Portofolio Keputusan Alokasi Aset. Keputusan jumlah dana, pajak, dan biaya pelaporan. Strategi Portofolio Aktif. Strategi Portofolio Pasif. Bencmarking terhadap Indeks Portofolio Pasar Sumber: Tandelilin, 2001: 8-10 30 Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan penggunaan informasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang lebih baik, strategi portofolio pasif meliputi aktifitas investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar. Asumsi strategi pasif ini adalah bahwa semua informasi yang tersedia akan diserap pasar dan direfleksikan pada indeks saham. Pengukuran dan evaluasi kinerja meliputi kinerja portofolio dan perbandingan hasil pengukuran tersebut dengan kinerja portofolio lainnya melalui proses benchmarking. Proses standar pengukuran (benchmarking) dilakukan terhadap indeks portofolio pasar, untuk mengetahui kinerja portofolio yang telah ditentukan disbanding kinerja portofolio lainnya. c. Investasi dan Prinsipnya Menurut Syariah Pada hakikatnya, investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang (Halim, 2005:4). Investasi pada dasarnya merupakan penundaan konsumsi atas sejumlah dana yang dilakukan pada saat ini untuk digunakan dalam produksi atau ditanam dalam bidang tertentu selama suatu periode waktu dengan tujuan memperoleh keuntungan yang akan diterima di masa mendatang. 31 Pemilik modal umumnya melakukan investasi atas sejumlah dananya pada investasi riil (real invesment) maupun investasi keuangan (financial invesment). Investasi pada asset riil dilakukan melalui barang modal yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang atau jasa, seperti tanah, mesin dan lain-lain. Sementara investasi pada financial invesment dilakukan dengan cara menempatkan modal pada surat-surat berharga (deposito, saham, obligasi, dan lain-lain.). Investasi pada asset keuangan tidak memberi kontribusi secara langsung terhadap proses produksi, tetapi dengan memegang surat berharga investor dapat memperoleh pendapatan, baik yang bersifat tetap ataupun tidak tetap. Investasi dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aset keuangan dari suatu perusahaan, baik melalui perantara ataupun tidak. Investasi langsung ada yang tidak dapat diperjual-belikan seperti tabungan, deposito, dan lainlain, tetapi ada juga yang dapat diperjualbelikan di pasar uang (Treasury bill), di pasar modal (obligasi dan saham), atau pasar turunan (opsi dan future). Aset di pasar uang risiko gagalnya kecil, jatuh temponya pendek dan likuiditasnya tinggi, sedangkan aset di pasar modal sebaliknya. Investasi tidak 32 langsung dilakukan dengan membeli surat berharga dari perusahaan investasi yang memiliki portofolio aset keuangan perusahaan-perusahaan lain, atau dengan kata lain melakukan investasi pada reksadana. Dalam Islam, terminologi investasi maupun pasar modal tidak ada dalam literatur-literatur Islam klasik. Namun sebagai sebuah kegiatan ekonomi, investasi dapat dikategorikan sebagai sebuah kegiatan muamalat, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan antar manusia dengan manusia lainnya. Sementara itu, dalam kaidah fiqhiyah disebutkan bahwa hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah (boleh), kecuali yang jelas ada larangannya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini berarti bahwa ketika suatu kegiatan muamalah baru muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam ajaran Islam, maka kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat indikasi dari Al Qur’an dan Hadist yang melarangnya secara implisit maupun eksplisit (Badan Pengawas Pasar Modal, 2004:11). Sebagai sebuah kegiatan muamalat, investasi berhubungan erat dengan kebutuhan manusia untuk mencukupi kebutuhannya dalam hidup. Karena itu ia termasuk 33 ke dalam kategori buyu’ atau perniagaan. Investasi adalah bagian erat dari substansi ayat-ayat berikut: ¨≅ymr&uρ a!$# yìø‹t ... #4θt/h̍9$# tΠ§ymuρ 7ø9$# Artinya: “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….” (QS Al-Baqarah; 275). $y㕃r'‾≈t ƒ šÏ%©!$# (#θãΨt Β#u Ÿω (#þθè=à2ù's? Νä3s9≡uθøΒr & Μà6oΨ÷.t/ È≅ÏÜ≈t βr& HωÎ) 6ø9$$Î/ šχθä3s? ¸οt≈pgÏB t .... öΝä3ΖiÏΒ <Ú#ts? ã Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jaunganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…” (QS An-Nisa’; 29) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad, seseorang bertanya kepada nabi tentang jenis penghasilan mana yang terbaik, dan nabi menjawab: Artunya: “Hasil Kerja seseorang dengan tangannya sendiri dari setiap transaksi perdagangan yang disetujui” (HR. Ahmad; 8337) Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta kandungan hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada prinsipnya investasi 34 adalah kegiatan muamalah yang diperbolehkan, malah dianjurkan. Investasi merupakan bagian dari pemenuhan akad (transaksi muamalah) sebagaimana yang dianjurkan dalam Surat Al-Maidah ayat 1 berikut. š ..… Šθà)ãèø9$$Î/ θèù÷ρr & Ï (#þθãΨtΒ#u Ï%©!$#$y㕃r'‾≈t ƒ( Artinya: “Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu…” (QS Al-Maidah; 1) Dalam kaitannya dengan pemenuhan akad sebagaimana yang dimaksudkan dalam ayat di atas, maka Islam mempunyai aturannya tersendiri, seperti misalnya investasi tidak boleh dilakukan terhadap usaha-usaha yang diharamkan, dan lain-lain. Berdasarkan status hukum awal dalam berinvestasi tersebut, maka investasi di pasar modal dapat dikategorikan kepada persoalan ijtihadiyah, yang prinsip hukumnya didasarkan pada kaidah fiqhiyah yang membolehkan segala transaksi muamalat kecuali yang ada larangannya secara jelas. Dalam Islam, segala bentuk transaksi muamalat, tak terkecuali di pasar modal, harus sesuai dengan akad yang telah digariskan Islam. 35 4. Saham a. Pengertian Saham Saham merupakan surat bukti kepemilikan atas sebuah perusahaan yang melakukan penawaran umum (go public) dalam nominal ataupun presentase tertentu. (Subagyo, 1997 dalam Huda dan Mustafa, 2007: 59), menyatakan bahwa saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas (PT). hal ini yang sama juga di ungkapkan oleh (Alma, 1997 dalam Huda dan Mustafa, 2007: 59), yang mendefinisikan saham sebagai surat keterangan tanda turut serta dalam perseroan. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan RI No: 154/KMK.013/ 1990 “Saham sebagai tanda penyertaan modal pada pemilik suatu perseroan terbatas”. Tandelilin (2001: 18) mengartikan “saham sebagai surat bukti bahwa kepemilikan atas asset-aset perusahaan yang menerbitkan saham”. Dengan demikian saham suatu perusahaan maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan suatu perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup popular yang diperjual belikan di pasar modal. 36 Pada umumnya saham yang diterbitkan oleh sebuah perusahaa (emiten) yang melakukan penawaran umum (initial public offering) ada 2 (dua) macam, yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preferred stock). Perbedaan saham ini berdasarkan pada hak yang melekat pada saham tersebut. Hak tersebut meliputi hak atas menerima deviden, dan memperoleh bagian kekayaan jika perusahaan dilikuidasi setelah dikurangi semua kewajiban-kewajiban perusahaan. Adapun ciri-ciri saham istimewa menurut Huda dan Mustafa (2007: 59) adalah sebagai berikut: 1. Hak utama atas deviden, artinya saham istimewa mempunyai hak terlebih dahulu dalam hal menerima deviden. 2. Hak utama atas aktiva perusahaan, artinya dalam hak likuidasi berhak menerima pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham istimewa setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. 3. Penghasilan tetap, artinya pemegang saham intimewa memperoleh penghasilan dalam jumlah yang tetap. 4. Jangka waktu yang tidak terbatas, saham istimewa yang diterbitkan mempunyai jangka waktu yang tidak terbatas, akan tetapi dengan syarat bahwa perusahaan mampunyai 37 hak untuk membeli kembali saham intimewa tersebut dengan harga tertetu. 5. Tidak memiliki hak suara, artinya pemegang saham istimewa tidak mempunyai suara dalam RUPS. 6. Saham istimewa kumulatif, artinya dividen yang tidak dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham tetap menjadi hak pemegang saham istimewa tersebut. Jika suatu saat perusahaan tidak membagikan dividen, maka pada periode yang lain jika perusahaan tersebut membagikan dividen, maka perusahaan harus membayarkan dividen terutang tersebut sebelum membagikannya kepada pemegang saham biasa. b. Perdagangan Saham Menurut Syariah Investasi di pasar modal tergolong hal baru dalam sejarah perekonomian Islam. Namun berbagai aturannya secara substansial telah mengakar bersamaan dengan disyiarkannya Islam itu sendiri. Karena itu, berdasarkan prinsip dasar muamalat yang membolehkan setiap transaksi muamalat kecuali yang larangannya jelas ada dalam Al-Qur’an dan Al- Hadits, maka pada dasarnya investasi di pasar modal adalah kegiatan yang absah dilakukan. Namun karena dalam Islam setiap transaksi muamalat mempunyai konsekwensi hukum 38 yang tidak hanya berdimensi antroponsentris, tetapi juga teosentris, maka transaksi-transaksi tersebut harus didasarkan pada sebuah akad yang telah digariskan Islam. Menurut Hasan (2003:101), akad adalah pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul (pernyataan menerima ikatan), sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada objek perikatan. Dalam arti yang lain, akad adalah kontrak perjanjian antara pihak-pihak yang melakukan transaksi. Akad yang sering dilakukan di masyarakat adalah : Al Bay (Jual Beli, perdagangan atau perniagaan). Para Ulama mengistilahkannya menjadi tukar menukar harta atas dasar saling ridha (Santoso, 2003:19). Adapun yang menjadi objek dari pertukaran dapat berupa Ayn dan Dayn. Ayn adalah bendabenda yang berupa real asset, berupa barang maupun jasa ataupun bisnis. Sedangkan pengertian dayn adalah financial asset yaitu berupa uang dan surat berharga, termasuk saham. Pertukaran antara ayn dengan ayn lebih dikenal dengan istilah barter. Ajaran Islam mengatur bahwa barter dapat dibolehkan untuk benda-benda yang berlainan jenis, misalnya barter yang sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan berupa beras dengan hasil pertanian lain. Sedangkan 39 bagi benda yang sejenis tidak diperbolehkan kecuali secara kasat mata benda tersebut sejenis tetapi memiliki mutu yang berbeda serta memuhi persyaratan tertentu. Sementara yang lazim dilakukan dalam masyarakat modern adalah pertukaran antara ayn dengan dayn. Disamping kegiatan pertukaran, kita pun mengenal kegiatan percampuran. Pengertian dari percampuran adalah suatu akad antara dua atau lebih pihak yang bertujuan untuk bekerja sama melakukan suatu kegiatan bisnis dimana masingmasing pihak melakukan penyerahan sejumlah dana atau jasa. Bentuk-bentuk akad untuk kegiatan percampuran tersebut adalah mudharabah dan musyarakah. Kedua akad tersebut akan selalu kita temui dalam kegiatan investasi syariah di pasar modal. Hal tersebut dikarenakan selain terjadi pertukaran (al bay-jual-beli), di pasar modal pun kita mengenal suatu kegiatan percampuran misalnya yang terjadi di penerbitan saham suatu perusahaan. Kehalalan transaksi-transaksi di atas untuk selanjutnya akan menjadi haram dilakukan jika hal lain yang menyertainya, seperti mekanisme dan cara memperolehnya dilarang syariah. Ada beberapa illat yang menyebabkan dilarangnya kegiatan jual beli (tentunya termasuk juga investasi). Berdasarkan Al40 Qur’an, Hadist dan pendapat para ahli fiqh (ajaran Islam), illat pelarangan tersebut adalah (Badan Pengawas Pasar Modal, 2004:12) : a. Haram karena bendanya (zatnya) Pelarangan ini disebabkan karena benda atau zat yang menjadi objek dari kegiatan tersebut berdasarkan ketentuan Al-Qur’an dan Al-Hadist telah dilarang atau diharamkan. Benda-benda tersebut, antara lain babi, khamr, bangkai binatang dan darah. b. Haram selain karena bendanya (zatnya) Pengertian dari pelarangan atas kegiatan ini adalah suatu kegiatan yang objek dari kegiatan tersebut bukan merupakan benda-benda yang diharamkan karena zatnya. Artinya benda-benda tersebut adalah benda-benda yang dibolehkan (dihalalkan), tetapi menjadi haram disebabkan adanya unsur : 1) Taghrir/ Gharar; situasi di mana terjadi incomplete information karena adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi. Taghrir terjadi bila pihak yang bertransaksi merubah sesuatu yang seharusnya bersifat pasti menjadi tidak pasti. Dalam hal ini ada beberapa hal yang bersifat tidak pasti, yaitu kuantitas 41 (quantity), kualitas (quality), harga (price), ataupun waktu penyerahan (time of delivery) atas objek yang ditransaksikan. 2) Tadlis; tindakan sengaja mencampur barang yang berkualitas baik dengan barang yang sama berkualitas buruk demi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Dalam konteks pasar modal, ini bisa berarti pengaburan informasi. 3) Bay Najash; situasi di mana konsumen/pembeli menciptakan demand (permintaan) palsu untuk menciptakan harga jual yang tinggi. 4) Ghaban; situasi dimana si penjual memberikan tawaran harga diatas rata-rata harga pasar (market price) tanpa disadari oleh pihak pembeli. c. Tidak sahnya akad Seperti halnya dengan pengharaman disebabkan karena selain zatnya, maka pada kegiatan ini benda yang dijadikan objeknya adalah benda yang berdasarkan zatnya dikategorikan halal (dibolehkan) tetapi benda tersebut menjadi haram disebabkan akad atau penjanjian yang menjadikan dasar atas transaksi tersebut cacat dan dilarang oleh ajaran Islam. 42 Jadi, untuk melakukan investasi pada saham, terdapat karekteristik tertentu yang harus dipenuhi. Di Indonesia, yang bertugas untuk memberikan ketentuan tentang batasan-batasan tersebut adalah Dewan Syariah Nasional (DSN), yaitu suatu lembaga dibawah MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dibentuk tahun 1999. Ketentuan tersebut dituangkan ke dalam beberapa fatwa MUI tentang kegiatan dan instrumen investasi yang sesuai syariah di Pasar Modal Indonesia. Fatwa DSN Nomor: 40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober 2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal, telah menentukan kriteria-kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Pada intinya, produk tersebut harus mememuhi syarat, antara lain: a. Jenis Usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan tidak merupakan usaha yang dilarang oleh prinsip-prinsip Syariah, antara lain : 1) Usaha perjudian atau permaian yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang. 2) Lembaga Keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional. 3) Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman haram. 43 4) Produsen, distributor, dan/ atau penyedia barang/ jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. b. Jenis Transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehatihatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang di dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, maysir, dan zhulm meliputi; najash, ba’i al ma’dun, insider trading, margin trading dan ihtikar. Adapun aturan dan norma jual beli saham selain didasarkan kepada ketentuan syariah, seperti halnya yang ditentukan DSN-MUI di atas, maka praktek-praktek tertentu seperti forward contract, short selling, dan option juga dilarang dalam syariah. Di samping itu, konsep preferred stock juga cenderung tidak diperbolehkan secara syariah karena dua alasan berikut (Huda dan Nasution, 2007:66): 1) Adanya keuntungan tetap yang dikategorikan kalangan ulama sebagai riba. 2) Pemilik preferred stock mendapatkan hak istimewa terutama pada saat perusahaan dilikuidasi. Keuntungan yang ditawarkan saham dalam bentuk capital gain dan dividen pada prinsipnya sudah relevan dengan syariah. Sebagai selisih dari harga jual terhadap harga beli saham, maka investor berhak memperoleh capital gain selama 44 unsur kehati-hatian di atas tidak dilanggar. Sementara itu, dividen relevan dengan prinsip bagi hasil (mudharabah) yang digariskan syariah. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka transaksi perdagangan saham pada prinsipnya absah dilakukan selama prinsip kehati-hatian yang digariskan syariah dilakukan. Dalam teori percampuran, Islam mengenal akad syirkah atau musyarakah yaitu suatu kerjasama antara dua atau lebih pihak untuk melakukan usaha dimana masing-masing pihak menyetorkan sejumlah dana, barang atau jasa. 5. Teori Portofolio a. Investasi yang Beresiko Dalam dunia yang sebenarnya, hampir semua investasi mengandung unsure ketidakpastian atau resiko. Pemodal tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diperoleh dari investasi yang dilakukannya. Yang bisa ia lakukan adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari investasinya, dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang diharapkan. Salah satu karakteristik investasi pada sekuritas adalah kemudahan untuk membentuk portofolio investasi. Artinya, pemodal dapat dengan mudah melakukan diversifikasi investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Karena itulah, perlu dipahami 45 proses investasi, dimulai dari perumusan kebijakan investasinya sampai dengan evaluasi kinerja investasi tersebut. Paroses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas; yaitu sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut dan kapan investasi tersebut akan dilakukannya, menurut Husnan (2001: 48-49) untuk mengambil keputusan tersebut dibuituhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan kebijakan investasi Disini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya dan berapa banyak investasi tersebut akan dilakukan. Pemodal yang bersedia menanggung resiko lebih besar, akan mengalokasikan dananya pada sebagian besar sekuritas yang lebih beresiko. Jumlah dana yang akan diinvestasikan pun mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dan resiko yang ditanggung. 2) Analisis sekuritas Tahap ini melakukan sekuritas analisis terhadap sekuritas, yakni analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data harga dimasa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Sedangkan analisis fundamental berupaya 46 mengidentifikasikan prospek perusahaan untuk bisa memperkirakan harga saham di masa yang akan datang. 3) Pembentukan portofolio Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. 4) Melakukan revisi portofolio Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan maksud kalau perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau portofolio yang sekarang tidak lagi optimal, maka dapat dilakukan perubahan. 5) Evaluasi kinerja portofolio Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun resiko yang ditanggung. b. Portofolio Teori portofolio diperkenalkan dan dikembangkan pertama kali oleh Prof. Harry Markowitz pada tahun 1956. Teori ini menjelaskan cara pembentukan portofolio yang optimal dari beberapa pilihan portofolio yang efisien. 47 Menurut Sikki (2004: vol 1) teori portofolio ini didasarkan atas fenomena bahwa umumnya para investor dalam financial asset (saham, obligasi) menanamkan dananya bukan hanya pada satu jenis saham saja, akan tetapi pada beberapa jenis saham atau melakukan diversifikasi. Jadi, “portofolio mempunyai pengertian sekumpulan financial asset (surat berharga) atau sekumpulan kesempatan investasi”. Sedangkan Husnan (2001: 48) mengatakan “portofolio merupakan sekumpulan investasi yang menyangkut identifikasi saham-saham mana yang akan dipilih dan menentukan proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing saham tersebut”. Suatu portofolio dibentuk guna bermanfaat secara optimal situasi dan kondisi yang didasarkan pada pertimbangan resiko dan keuntungan. Menurut Dowes dan Goodman dalam Warsono (2001: 108) “portofolio adalah gabungan pemilikan lebih dari satu saham, obligasi, komoditas, investasi real estate, ekuivalen kas tunai, atau aktiva lain oleh seseorang atau investor kelembagaan”. Sehingga tujuan dari suatu portofolio adalah untuk mengurangi resiko dengan mengadakan diversifikasi. Filosofi portofolio yang digunakan adalah “Wise Investors Do Not Put All 48 Their Aggs Into Just One Basket”. Intinya, jika dana yang dimiliki oleh investor semuanya ditanamkan pada satu jenis investasi, maka investasi tersebut jika mengalami kegagalan, kerugian yang akan ditanggung investor sangat besar. Tetapi jika dana tersebut ditanamkan pada berbagai macam investasi, jika salah satu investsi mengalami kegagalan, mungkin yang lain masih dapat menguntungkan, sehingga dengan penghasilan tersebut, dapat menutup kerugian yang diderita oleh investasi yang gagal tersebut. Sedangkan menurut Fabozzy (1999: 63) dalam pembentukan portofolio, investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dan tingkat resiko tertentu yang diterima. Dengan kata lain, investor berusaha meminimalkan resiko yang dihadapi untuk sasaran tingkat pengembalian tertentu. c. Return portofolio 1) Return realisasi portofolio Menurut Jogiyanto (2003: 148) “return realisasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari return-return realisasi dari tiap-tiap sekuritas tunggal di dalam portofolio”. Secara matematis dapat ditulis sebagi berikut: 49 Σ  n i Rp Wi Ri 1 ( . ) …………………………………………… ( 2.1 ) Diamana: Rp : Return realisasi portofolio Wi : Porsi dari sekuritas I terhadap seluruh sekuritas di portofolio Ri : Return realisasi dari sekuritas i N : Jumlah dari sekuritas tunggal 2) Return ekspektasi portofolio Menurut Jogiyanto (2003: 148) “return ekspektasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari return-return ekspektasi tiap-tiap sekuritas tunggal di dalam portofolio”. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut: Σ  n i E Rp Wi E Ri 1 ( ) ( . ( ))……………………........................... ( 2.2 ) Diaman: E(Rp) : Return ekspektasi dari portofolio Wi : Porsi sekuritas I terhadap seluruh sekuritas di portofolio E(Ri) : Return ekspektasi dari sekuritas ke-i N : Jumlah dari sekuritas tunggal 50 d. Resiko Portofolio Konsep dari resiko portofolio pertama kali diperkenalkan secara formal oleh Harry M. Markowitz di tahun 1950-an. Kemudian dia memenangkan hadiah nobel dibidang ekonomi di tahun 1990 untuk hasil karyanya tersebut. Dia menunjukkan bahwa secara umum, resiko mungkin dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke dalam portofolio. Resiko portofolio adalah varian return sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut. Sedangkan kesimpulannya, resiko merupakan kerugian yang dihadapi. Sehubungan dengan investasi, para pemodal/investor menggunakan berbagai definisi untuk menjelaskan makna risiko. Harry M. Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif. Beliau mendefinisikan resiko sebagai ukuran statistik yang disebut varian. Secara khusus, Markowitz mengkuatifisir resiko sebagai varian pengembalian aktiva yang diharapkan. Bisnis adalah pengambilan resiko, karena resiko selalu terdapat dalam aktivitas ekonomi, sebagaimana prinsip dasar dalam bisnis, yaitu no risk, no return. Selain karena alasan riba, prinsip ini juga membawa implikasi penolakan terhadap bunga 51 dalam pinjaman, dan juga sekuritas yang dianggap bebas resiko (free risk). Jika secara sederhana resiko disamakan dengan ketidakpastian (gharar) dan dilarang, Menurut Al-Suwailem yang dikutip Achsien (2000: 50-51) untuk melakukan pembedaan pengertian tentang gharar, resiko, dan ketidakpastian. Untuk membedakan risiko terdapat dua tipe resiko. Pertama, resiko pasif, seperti game of chance, yang hanya mengandalkan keberuntungn. Kedua, resiko resposif yang memungkinkan adanya distribusi probibalitas hasil dengan hubungan kausalitas yang logis. Hal semacam ini dapat diasosiasikan sebagai game of skill. Dan melalui analisis ekonomi objektif dengan menggunakan perangkat game theory, Al- Suwailem menyatakan bahwa “gharar is simply zero-sum game with uncertain payoffs.” Dalam dunia bisnis sesungguhnya tidak semua ketidakpastian tersebut merupakan bersifat keberuntungan, dalam mendapatkan hasil dimasa yang akan datang dapat kita harapkan dengan memprediksi beberapa faktor yang mempengaruhinya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan, ketidakpastian secara intrinsik terkandung dalam setiap aktivitas ekonomi 52 yang dikategorikan gharar adalah muncul pada kasus resiko yang tidak diketahui faktor-faktor penyebab sebelumnya (unknowbles). Sedangkan ketidakpastian yang kejadiannya tetap mengikuti suatu kausalitas atau sebab-akibat yang logis yang bisa mempengaruhi probilitas disebut jual beli berdasarkan skill. Husnan (2001: 199-200) juga membedakan dua jenis resiko yang dikenal dalam pasar modal, yaitu: 1) Resiko Sistematis (Systematis Risk) Merupakan resiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan yang dipengaruhi faktor-faktor seperti; tingkat bunga, pengumuman tentang angka pertumbuhan GNP. 2) Resiko Tidak Sistematis (Unsystematic Risk) Merupakan resiko yang mempengaruhi satu (sekelompok kecil) perusahaan yang dipengaruhi faktorfaktor seperti; pengumuman tentang penjualan perusahaan yang meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan, produk pesaing yang mengalami gangguan. Pembagian resiko semacam itu dalam sebuah manajemen resiko menurut Ahmad (1996: 115-116) membawa implikasi pembedaan sifat-sifat resiko sendiri. Karena itu, ada yang Undiversifiable risk atau resiko yang dapat dihindarkan 53 yang merupkan bagian total risk yang munculnya disebabkan oleh perubahan yang terjadi secara sistematis, dimana perubahan tersebut mempunyai pengaruh yang sama terhadap semua surat berharga. Sehingga Undiversifiable risk disebut juga Systematic risk. Dan Diversifiable risk merupakan bagian dari tolak risk yang besarnya berbeda-beda antara surat berharga dengan surat berharga lainnya. Biasanya resiko ini muncul dari perubahan yang tidak sistematis (Unsystematic Change), karena itu resiko ini sering juga disebut Unsystematic risk. Perubahan tidak sistematis dimaksudkan adalah perubahan yang pengaruhnya tidak sama terhadap perubahan satu dengan dengan yang lain. 1) Menurut Fabozzy (1999: 67) “varian adalah ukuran penyimpangan penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian di sekitar pengembalian yang diharapkan”. Persamaan varian adalah: 2 2 2 2 2 1 1 Var (Ri ) p [r E (Ri )] p [r E (Ri )] ....... p [r E (Ri )] n n  Σ  N n n m Var Ri p r E Ri 1 ( ) [ ( )] 2 Namun jika probabillitasnya belum diketahui dan hanya diperoleh data selama periode pengamatan, rumusannya (Halim, 2001: 45-46) 54 N Rij E Ri n j Σ  1 2 [ ( )]2 …………………………………. ( 2.3 ) 2) Deviasi standar Karena varian dinyatakan dalam unit kuadrat, maka varians diubah menjadi deviasi standar atau kuadrat dari varians (Fabozzy, 1999: 69): ( ) ( ) i i SD R Var R ………………………………….… ( 2.4 ) Deviasi standar dan varians memiliki konsep yang sama, yaitu semakin besar varian atau deviasi standar, smakin besar resiko investasi. e. Evaluasi Kinerja portofolio Dengan berdasarkan teori pasar modal, beberapa ukuran kinerja portofolio sudah memasukkan faktor return dan risiko dalam perhitungannya. Beberapa ukuran kinerja portofolio yang sudah memasukkan faktor risiko adalah indeks Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen. Adapun lebih jelasnya menurut Tandelilin (2001: 324-331) adalah sebagai berikut: 1. Metode Sharpe 55 Metode Sharpe ini dikembangkan oleh William Sharpe dan sering juga disebut dengan reward to variability ratio. Metode Sharpe mendasarkan perhitungannya pada konsep garis pasar modal (capital market line) sebagai patok duga, dengan cara membandingkan antara premi resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat pengembalian portofolio dengan rata-rata tingkat bunga bebas resiko) dengan resiko portofolio yang dinyatakan dengan standart deviasi (total resiko). Secara matematis Metode Sharpe dirumuskan sebagai berikut: SDpi Rpi Rf Spi ………………………........... ( 2.5 ) Keterangan: Spi = Indeks Sharpe portofolio i Rpi = Rata-rata tingkat pengembalian portofolio i Rf = rata-rata atas bunga investasi bebas resiko SDpi = Standar deviasi dari tingkat pengembalian portofolio Rpi – Rf = Premi risiko portofolio i Rumus tersebut pada hakikatnya menghitung kemiringn (slope) garis yang menghubungkan portofolio yang beresiko dengan bunga bebas resiko. Kemiringan garis 56 tersebut dinyatakan dengan (Rp - Rf)/p. Dengan demikian, semakin besar kemiringan garis tersebut berarti semakin baik portofolio yang membentuk garis tersebut. Karena, semakin besar rasio premi risiko portofolio terhadap standar deviasi dapat dikatkan bahwa kinerja portofolio tersebut semakin baik. 2. Metode Treynor Metode Treynor merupakan ukuran kinerja portofolio yang dikembangkan oleh Jack Treynor, dan Metode ini sering disebut juga dengan reward to volatility ratio. Perbedaannya dengan Metode Sharpe adalah penggunaan garis pasar sekuritas (security market line) sebagai patok duga, dan bukan garis pasar modal seperti Metode Sharpe. Diukur dengan cara membandingkan antara premi resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat pengambilan portofolio dengan rata-rata bunga bebas risiko) dengan risiko portofolio yang dinyatakan dengan beta (resiko pasar atau risiko sistematis). Secara matematis Metode Treynor dirumuskan sebagai berikut: pi Rpi Rf Tpi  …………………………….. ( 2.6 ) Keterangan: 57 Tpi = Indeks Treynor portofolio i Rpi = Rata-rata tingkat pengembalian portofolio i Rf = Rata-rata atas bunga investasi bebas risiko pi = Beta portofolio i (risiko pasar atau risiko sistematis) Rpi – Rf = Premi risiko portofolio 1 Rumus tersebut pada hakikatnya menghitung kemiringan garis yang menghubungkan portofolio yang berisiko dengan bunga bebas risiko. Kemiringan garis tersebut dinyatakan dengan (Rp - Rf)/p. dengan demikian, semakin besar kemiringan garis tersebut berarti semakin baik portofolio yang membentuk garis tersebut. Karena, semakin besar rasio premi risiko portofolio terhadap beta, dapat dikatakan bahwa kinerja portofolio tersebut semakin baik. 3. Metode Jensen Metode Jensen merupakan metode yang menunjukkan perbedaan antara tingkat return aktual yang diperoleh portofolio dengan tingkat return yang diharapkan jika portofolio tersebut berada pada garis pasar modal. Persamaan Metode Jensen dengan Metode Terynor adalah bahwa kedua Metode ukuran kinerja portofolio tersebut 58 menggunakan garis pasar sekuritas sebagai dasar untuk membuat persamaan. Metode ini didasarkan pada konsep garis pasar sekuritas (security market line SML) yang merupakan garis yang menghubungkan portofolio pasar dengan kesempatan investasi yang bebas risiko, sehingga secara matematis dirumuskan: Rp = Rf + (Rm - Rf) p. kemiringan SML dinyatakan sebagai (Rm - Rf)/p, dan konstatanya adalah Rf. Dalam keadaan ekuilibrium semua portofolio diharapkan berada pada SML. JpiRpi Rf RmRf pi…..…......... ( 2.7 ) Keteragan: Jpi = Indeks Jensen portofolio i Rp = Rata-rata tingkat pengembalia portofolio i Rf = Rata-rata bunga investasi bebas risiko Rm = Rata-rata tingkat pengembalian pasar (diwakili IHSG) pi = Beta portofolio I (risiko pasar atau risiko sistematis) Rpi – Rf = Premi risiko portofolio I Rm - Rf = Premi risiko pasar 59 f. Diversifikasi Portofolio Seringkali terdengar investasi membicarakan mengenai diversifikasi portofolio yang dimiliki investor. Karena prediksi Sikki (2004: vol 11) investor kebanyakan bersikap menolak resiko, maka mereka akan memilih diversifikasi apabila mereka mengetahui bahwa dengan diversifikasi tersebut mereka bisa mengurangi resiko. Menurut Fabozzy (1999: 73) “diversifikasi portofolio diartikan sebagai pembentukan portofolio sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi resiko portofolio tanpa mengorbankan Diversifikasi Markowitz berusaha menggabungkan aktiva-aktiva dalam portofolio dengan pengambilan yang dimilliki korelasi positif kurang dari sempurna dengan tujuan mengurangi pengembalian. Diversifikasi ini lebih efektif karena mempertahankan pengembalian yang ada, dan mengurangi resiko melalui analisis kovarians antara pengembalian aktiva. g. Pemilihan Portofolio Investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat resiko tertentu yang bersedia 60 ditanggungnya, atau mencari investasi yang menawarkan resiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik investasi seperti ini desebut sebagai portofolio yang efisien. Jika terdapat beberapa macam portofolio yang efisien, maka investor akan memilih portofolio yang optimal. Jogiyanto (2000: 180) mengatakan portofolio yang efisien (efficient portfolio) adalah “portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan resiko yang sudah tertentu atau memberikan resiko yang terkecil dengan return ekspektasi yang sudah tertentu”. Sedangkan menurut Fabozzy (1999: 80) portofolio efisien Markowitz adalah “portofolio yang memberikan tingkat pengembalian tertinggi diantara portofolio yang ada dengan resiko yang sama”. Menurut Tandelilin (2001: 74) “portofolio yang efisien adalah portofolio yang memberikan return yang diharapkan dengan tingkat resiko tertentu yang tersedia ditanggung atau portofolio yang menawarkan resiko rendah dengan tingkat return tertentu”. 61 C. Kerangka Penelitian Gambar 2.2 Kerangka Penelitian Pasar Modal Saham JII (Jakarta Islamic Index) Rata-rata Return Standar Deviasi Penilaian Kinerja Saham JII dengan Menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen Negatif Kinerja Buruk Positif Kinerja Baik Kinerja Saham JII dengan Menggunakan Metode Sharpe, Metode Treynor, dan Metode Jensen Keputusan Investasi 62 BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah saham-saham Jakarta Islamic Indeks (JII) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode pengamatan, yaitu pada tahun 2007-2008. B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan diskriptif. Artinya, penelitian ini hanya membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari objek yang diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambran tentang bagaimana menganalisis terhadap perusahaan anggota JII (Jakarta Islamic Indeks), hal ini agar para investor dapat memprediksi sahamsaham yang akan diambil. Dan juga diharapkan agar dijadikan masukan dan bahan pertimbangan bagi para investor serta dapat memberikan gambaran tentang saham-saham yang termasuk dalam JII (Jakarta Islamic Indeks) yang listing di BEI. C. Populasi dan Sampel Menurut Arikunto (2006: 130-131) populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, sedagkan sampel merupakan sebagian 63 atau wakil populasi yang diteliti. Dalam teknik pengmbilan sample dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang dipilih berdasarkan tujuan dan pertimbangan tertentu, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga, dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar dan jauh. Arikunto (2006: 139-140) Sehingga dalam penelitian ini, Populasi yang digunakan adalah seluruh Emiten Jakarta Islamic Index (JII) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2007 - 2008. Namun sampel yang diambil pada penelitian ini yaitu Emiten Jakarta Islamic index yang aktif beroperasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2007-2008 Berdasarkan daftar Emiten aktif yang termasuk anggota Jakarta Islamic Index selama periode penelitian: 64 Tabel 3.1 Emiten anggota JII (Jakarta Islamic Index) Tahun 2007 - 2008 No Kode Emiten 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 AALI ANTM BNBR BTEL BUMI CTRA INCO INTP KLBF PTBA TLKM UNTR UNVR Astra Agro Lestari Aneka Tambang Bakrie & Brothers Bakrie Telecom Tbk Bumi Resources Tbk Ciputra Development International Nickel Indonesia Tbk Inducement Tunggal Kalbe Farma Tbk Tambang Batubara Telekomunikasi United Tractors Tbk Unilever Indonesia Sumber: Data sekunder diolah (Statistik Pasar Modal BAPEPAM 2007-2008) D. Jenis Data dan Sumber Data 1. Jenis Data Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data dokumenter. Menurut Indriantoro dan Supomo (1999: 146) “Data dokumenter adalah jenis data penelitian yang antara lain berupa faktur, jurnal, surat-surat, notulen hasil rapat, memo atau dalam bentuk laporan program”. Data dokumenter menurut apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta siapa yang terlibat dalam suatu kejadian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Harga saham individu bulanan perusahaan yang masuk listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan secara periode pergantian secara berturut65 turut termasuk dalam JII (Jakarta Islamic Indeks) periode tahun 2007- 2008. 2. Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui perantara (diperoleh dari catatan oleh pihak lain). (Indriartoro dan Supomo 1999:147) Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data dokumentasi) yang dipublikasikan. Data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak lain dalam bentuk: a. Harga saham individu bulanan perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic index (JII) pada periode tahun 2007-2008. b. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode tahun 2007– 2008. c. Suku bunga SBI sebagai indikator Risk Free periode tahun 2007- 2008. E. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan (Nasir, 1988: 211). Dan metode pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi. Menurut Arikunto (2006: 66 231) metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi tentang data Harga saham individu bulanan perusahaan yang tergabung dalam Jakarta Islamic index (JII) pada periode tahun 2007-2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode tahun 2007–2008, Suku bunga SBI sebagai indikator Risk Free periode tahun 2007-2008. Selain metode dokumentasi, metode ini didukung dengan pengumpulan data dari sumber internet untuk mendukung proses penelitian dan mencapai tujuan penelitian. F. Definisi operasional Menurut Indriantoro dan Supomo (1993: 69) definisi operasional adalah penelitian construct (pengukuran variabel) sehingga menjadi variabel yang dapat diukur. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Harga Penutupan Saham Bulanan Harga penutupan saham (closing price) adalah harga (rupiah) yang terjadi pada saham akibat adanya permintaan dan penawaran di pasar, yang ditentukan menjelang penutupan perdagangan di bursa setiap harinya. Karena perdagangan dilakukan setiap hari, maka harga penutupan saham bulanan adalah rata-rata harga yang 67 terjadi pada suatu saham pada bulan tertentu, yang perhitungannya menggunakan rata-rata aritmatik. 2. Metode Sharpe Metode Sharpe ini dikembangkan oleh William Sharpe dan sering juga disebut dengan reward to variability ratio. Metode Sharpe mendasarkan perhitungannya pada konsep garis pasar modal (capital market line) sebagai patok duga. 3. Metode Treynor Indek Treynor merupakan ukuran kinerja portofolio yang dikembangkan oleh Jack Treynor, dan Metode ini sering disebut juga dengan reward to volatility ratio. Perbedaannya dengan Metode Sharpe adalah penggunaan garis pasar sekuritas (security market line) sebagai patok duga, dan bukan garis pasar modal seperti Metode Sharpe. 4. Metode Jensen Metode Jensen merupakan Metode yang menunjukkan perbedaan antara tingkat return aktual yang diperoleh portofolio dengan tingkat return yang diharapkan jika portofolio tersebut berada pada garis pasar modal. Persamaan Metode Jensen dengan Metode Terynor adalah bahwa kedua Metode ukuran kinerja portofolio tersebut menggunakan garis pasar sekuritas sebagai dasar untuk membuat persamaan. 68 5. Return Individual (Ri) Return individual adalah tingkat keuntungan sebenarnya yang dihasilkan tiap-tiap saham dalam rentang waktu tertentu. Return individual dihitung dengan rumus (Jogiyanto, 2003:110): 1 1    t t t it P P P R Dimana: Pt = Harga saham i pada periode t Pt-1 = Harga saham i pada periode t-1 6. Return Pasar (Rm) Return pasar adalah tingkat keuntungan kumulatif yang mencerminkan seluruh saham yang terdaftar di Bursa. Return pasar ini dihitung menggunakan rumus (Jogiyanto, 2003:232): 1 1    t KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar