61. ANALISIS PORTOFOLIO UNTUK MENENTUKAN INVESTASI YANG OPTIMAL (SAMPAI DAFTAR PSUTAKA)

Admin

JUDUL SKRIPSI : ANALISIS PORTOFOLIO UNTUK MENENTUKAN INVESTASI YANG OPTIMAL 




Pendahuluan
Keberadaan pasar modal di Indonesia sebagai media investasi merupakan
salah satu faktor terpenting dalam membangun perekonomian nasional. Upaya
mendukung terwujudnya pasar modal Indonesia menjadi penggerak ekonomi
nasional yang tangguh dan berdaya saing global perlu menyempurnakan dan
mengembangkan fasilitas dan instrumen pasar modal Indonesia yang mampu
bersaing dengan instrumen pasar modal negara lain.
Sementara itu, perekonomian konvensional melihat pasar modal sebagai
sarana investasi yang bersifat spekulatif. Di balik kegiatan spekulatif ini menyebabkan
kemerosotan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, industri pasar
modal Indonesia mulai melirik pengembangan penerapan prinsip-prinsip syariah
islam sebagai alternatif instrumen investasi dalam kegiatan pasar modal.
Maka diluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) sebagai tolak ukur (bencmarking)
kinerja invetasi saham-saham yang berbasis syariah. Dan juga meningkatkan
kepercayaan para investor untuk mengembangkan investasi dalam ekuiti secara
syariah, atau memberi kesempatan investor dalam melakukan investasi sesuai dengan
prinsip-prinsip syariah.
Namun juga harus menerima kenyataan, jika hampir semua investasi baik di
lembaga konvensional maupun yang berbasis syariah mengandung unsur
ketidakpastian atau resiko. Yang berearti pemodal tidak tahu pasti hasil yang akan
diperoleh dari investasi yang dilakukannya. Mereka hanya bisa memperkirakan berapa
keuntungan dari hasil yang diharapkan. Salah satu kemudahan dalam investasi
sekuritas untuk menghindari resiko dengan melakukan portofolio investasi. Dimana
portofolio investasi diartikan sebagai diversifikasi investasinya pada berbagai
kesempatan investasi.
Sebagai pelaku pasar dituntut lebih dapat memanajemen harta mereka pada
posisi yang lebih menguntungkan. Namun juga kurang bijaksana bila membiarkan
harta yang dimiliki hanya dibiarkan mengangggur begitu saja atau tertanam dilahan
investasi yang tidak memberikan pengembalian (return) yang optimal.
 



Pengolahan SPSS Penelitian, Pengolahan SPSS Statistik, Olah SPSS, JASA Pengolahan SPSS Statistik, Jasa Pengolahan SPSS Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS SPSS, Analisis SPSS PenelitianTujuan Penelitian Penelitian ini adalah bertujuan menentukan hasil investasi yang optimal atas portofolio yang dilakukan di pasar saham. Metode Penelitian Untuk mengetahui hasil investasi yang optimal dari portofolio yang dilakukan di pasar modal, maka dalam penelitian ini menggunakan studi diskriptif (diskriptif study) dengan bantuan alat analisis Portofolio. Dengan studi ini berusaha memberikan gambaran secara sistematis dari kejadian-kejadian secara faktual maupun aktual sebagai aspek fenomena yang relevan untuk diamati. Sehingga dapat membantu menjelaskan karakteristik subjek yang diamati. Investasi Jogiyanto (2003: 5) mengatakan “Investasi merupakan penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan didalam produksi yang efisien selama periode tertentu”. Sedangkan investasi menurut Tandelilin (2001:3) ”Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumberdaya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa datang”. Dalam hal ini investasi berkaitan dengan pengelolaan aset finansial khususnya sekuritas yang bisa diperdagangkan (Marketable Securities). Aset finansial adalah berupa surat berharga atas sejumlah aset-aset pihak penerbit surat berharga tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan pengertian dari investasi adalah melakukan penanaman modal di masa sekarang, baik itu berupa aktiva finansial atau aktiva riil untuk di waktu yang akan datang, dan akan memiliki nilai yang lebih dari pada nilai yang telah dikorbankan untuk merealisasikan investasi tersebut sehingga dapat memperoleh keuntungan. Manajemen Investasi Warsono (2001: 3) mengartikan “Manajemen investasi adalah proses pengelolaan uang”. Sehingga di sini, ada dua istilah penting untuk mendiskripsikan proses ini, yaitu manajemen portofolio dan manajemen uang. Individu yang mengelola investasi sering disebut dengan manajer investasi. Tugas utama manajer investasi adalah menginvestasikan dana pada berbagai macam investasi, atau dengan kata lain membentuk portofolio yang optimal. Menurut Tandelilin (2001: 4) “Manajemen Portofolio atau manajemen investasi merupakan suatu proses bagaimana dana yang dipercayakan kepada manajer investasi, dikelola”. Pengelolaan tersebut dapat dilakukan secara aktif maupun pasif, menggunakan prosedur yang relatif terkontrol atau tidak terkontrol. Proses pengambilan keputusan investasi merupakan proses yang berkesinambungan (On Going Process). Proses keputusan investasi terdiri dari lima tahap keputusan yang berjalan terus-menerus sampai tercapai keputusan investasi yang baik, dan digambarkan sebagai berikut : Gambar 2.1 Proses Keputusan Investasi Sumber: Tandelilin, 2001: 8-10. Strategi portofolio aktif meliputi kegiatan penggunaan infomasi yang tersedia dan teknik-teknik peramalan secara aktif untuk mencari kombinasi portofolio yang lebih baik, strategi portofolio pasif meliputi aktifitas investasi pada portofolio yang seiring dengan kinerja indeks pasar. Asumsi strategi pasif ini adalah bahwa semua informasi yang tersedia akan diserap pasar dan direfleksikan pada indeks saham. Pengukuran dan evaluasi kinerja meliputi kinerja portofolio dan pebandingan hasil pengukuran tersebut dengan kinerja portofolio lainnya melalui prosebenchmarking. Proses standar pengukuran (benchmarking) dilakukan terhadap indeks portofolio pasar, untuk mengetahui kinerja portofolio yang telah ditentukan dibanding kinerja portofolio lainnya. Pengertian Saham Tandelilin (2001: 18) mengartikan ”saham sebagai surat bukti bahwa kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham”. Dengan memiliki saham suatu perusahaan maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan suatu perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang cukup populer yang diperjual belikan di pasar modal. Keputusan Alokasi Aset. Keputusan jumlah Dana, Pajak, dan Biaya pelaporan. Strategi Portofolio Aktif. Strategi Portofolio Pasif. Bencmarking terhadap Indeks Portofolio Pasar. 1. Penentuan Tujuan Investasi 2. Penentuan Kebijakan 3. Pemilihan Strategi 4. Pemilihan Aset 5. Pegukuran & Evaluasi Kinerja Portofolio Dalam ajaran Islam, kegiatan berinvestasi dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi sekaligus termasuk kegiatan muamalah yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan antar manusia. Sementara itu berdasarkan kaidah Fikih, hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah (boleh), yaitu semua kegiatan dalam pola hubungan antar manusia adalah mubah (boleh) kecuali yang jelas ada larangannya (haram). Ini berarti ketika suatu kegiatan muamalah yang kegiatan tersebut baru muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam ajaran Islam maka kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali dari Al Qur’an dan Hadist yang melarangnya secara implisit maupun eksplisit. Dalam beberapa literatur Islam klasik tidak ditemukan adanya terminologi investasi maupun pasar modal, akan tetapi sebagai suatu kegiatan ekonomi, kegiatan tersebut dapat dikategorikan sebagai kegiatan jual beli (al Bay). (Tim Studi Investasi Syariah, 2004: 10-11). Hal ini dapat dilihat dalam Al Qur’an beberapa ketentuan mengenai hal tersebut: 4 (#4θt/hÌ9$# tΠ§ymuρ yìø‹t7ø9$# ª!$# Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al Baqarah: 275). Penyebutan jual beli dari ayat di atas merupakan modal dasar untuk memberikan tatacara melakukan perdagangan. Dalam Hadist Rasulullah SAW telah mempertegas bahwasannya: “Tidak boleh menjual sesuatu hingga kamu memiliki” (HR. Baihaqi dari Hukaim bin Hizam). Atas dasar dua sumber hukum Islam di atas, Fiqh modern menunjukkan inovasi yang memandang sekuritas saham sebagai penyertaan - dalam akad perdagangan – mudharaba partnership yang merefleksikan kepemilikan perusahaan (ownership of the entreprise), bukan saham partnership pribadi (personal partnership interest). Kepemilikan perusahaan ini kemudian disamakan dengan kepemilikan terhadap aset perusahaan. (Achsien, 2000: 61). Menurut Tim Studi Investasi Syariah (2004: 15) produk investasi berupa saham pada prinsipnya sudah sesuai dengan ajaran Islam. Dalam teori percampuran, Islam mengenal akad syirkah atau musyarakah yaitu kerjasama antara dua atau lebih pihak untuk melakukan usaha dimana masing-masing pihak menyetorkan sejumlah dana, barang atau jasa. Adapun jenis-jenis syirkah yang dikenal yaitu; `inan, mufawaddah, wujuh, abdan, mudharabah. Pembagian tersebut didasarkan pada jenis setoran masing-masing pihak dan siapa diantara tersebut yang mengelola kegiatan tersebut. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa adalah tanda penyertaan modal pada suatu perusahaan. Dengan kata lain, pemegang saham ( Stock Holder) suatu perusahaan adalah pemilik dari perusahaan yang bersangkutan, dimana mereka berhak memperoleh pembagian keuntungan perusahaan. Pengertian Pasar Modal Husnan (2001: 3) secara formal mendefinisikan “Pasar Modal sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta”. Menurut Tandelilin (2001: 13) pengertian “Pasar Modal merupakan pertemuan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan memperjualbelikan sekuritas”. Dengan demikian, pasar modal juga diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki unsur lebih dari satu tahun. Sedangkan tempat dimana terjadinya jual beli sekuritas disebut dengan Bursa Efek. Oleh karena itu, bursa efek merupakan arti dari pasar modal secara fisik. Sedangkan Jogiyanto (2003: 11) memberikan pengertian, “Pasar modal merupakan tempat bertemu antara pembeli dan penjual dengan resiko untung rugi, serta sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi”. Dengan demikian dapat dikatakan pasar modal adalah tempat untuk perdagangan surat berharga, baik itu saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun swasta. Fungsi Pasar Modal Pasar modal pada dasarnya bertujuan untuk menjembatani aliran dana dari pihak yang memiliki dana (investor), dengan pihak perusahaan yang memerlukan dana (untuk ekspansi usaha atau memperbaiki struktur modal perusahaan). Menurut Tandelilin (2001: 26) untuk mewujudkan tujuan tersebut ada tiga aspek mendasar yang ingin dicapai pasar modal indonesia adalah: a. Mempercepat proses perluasan pengikutsertaan masyarakat dalam pemilikan saham-saham perusahaan swasta menuju pemerataan pendapatan masyarakat. b. Pemerataan pendapatan masyarakat melalui pemilikan saham. c. Lebih menggairahkan partisipasi masyarakat dalam pengerahan dan penghimpunan dana untuk digunakan secara produktif dalam pembiayaan pembangunan nasional. Sedangkan menurut Husnan (2000: 4-5) memberikan fungsi pasar modal sebagai berikut, yaitu: a. Bagi pemerintah; pasar modal adalah merupakan suatu wahana untuk memobilisasi dana masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri. b. Bagi dunia usaha; pasar modal menjadi alternatif penghimpunan dana selain sistem perbankan. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) atau surat tanda kepemilikan (saham). Dengan demikian perusahaan perusahaan bisa meghindarkan diri dari kondisi debt to equity ratio yang terlalu tinggi dalam pembiyaan kegiatannya. c. Bagi investor; pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi resiko mereka. Dengan adanya pasar modal, para pemodal dimungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portofolio (gabungan dari berbagai investasi) sesuai dengan resiko yang tersedia dan mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Dengan demikian pasar modal pada dasarnya bertujuan/ berfungsi untuk menjembatani aliran dana dari pihak yang memiliki dana (Investor), dengan pihak perusahaan yang memerlukan dana (untuk ekspansi usaha ataupun untuk memperbaiki struktur modal perusahaan). Pasar modal diharapkan juga mampu memberikan alternatif sumber dana ekternal yang berasal dari masyarakat (Investor) bagi perusahaan, sehingga nantinya kredit sektor perbankan dapat dialihkan untuk pembiayaan usaha industri kecil dan menengah. Hal ini menunjukkan peran penting pasar modal dalam menunjang perekonomian karena pasar modal dapat menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana. Di samping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return yang paling optimal. Efisiensi Pasar Modal Husnan (2000: 264) menjelaskan pasar modal yang efisien adalah pasar yang harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang relevan. semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas, semakin efisien pasar modal tersebut. Menurut Tandelilin (2001: 112-113) ”Pasar modal yang efisien adalah pasar di mana harga semua informasi yang tersedia”. Dalam hal ini, informasi yang tersedia bisa meliputi semua informasi yang tersedia baik informasi di masa lalu (laba perusahaan tahun lalu), informasi saat ini (rencana kenaikan deviden tahun ini), serta informasi yang bersifat sebagai pendapat/ opini rasional yang beredar di pasar yang bisa mempengaruhi perubahan harga (jika banyak investor di pasar berpendapat bahwa harga saham akan naik, maka informasi tersebut nantinya akan tercermin pada perubahan harga saham yang cenderung naik, demikian juga sebaliknya). Sehingga menurutnya, ada beberapa kondisi yang harus terpenuhi untuk tercapainya pasar efisien, yaitu: a. Ada banyak investor yang rasional dan berusaha untuk memaksimalkan profit. Investor-investor tersebut secara aktif berpartisipasi di pasar dengan menganalisis, menilai dan melakukan perdagangan saham. Di samping itu mereka juga merupakan price taker, sehingga tindakan dari satu investor saja tidak akan mampu mempengaruhi harga dari sekuritas. b. Semua pelaku pasar dapat memperoleh informasi pada saat yang sama dengan cara yang mudah dan murah. c. Informasi yang terjadi bersifat random. d. Investor bereaksi secara cepat terhadap perubahan informasi baru, sehingga harga sekuritas akan berubah sesuai dengan perubahan nilai sebenarnya akibat informasi tersebut. Menurut Husnan (2001: 269-270) efisiensi pasar dapat dibagi menjadi 3 bentuk atau tingkatan, yaitu: a. Efisiensi Bentuk Lemah (Weak Form Effecientcy) Keadaan dimana harga-harga mencerminkan semua informasi yang ada pada catatan harga di waktu yang lalu. Dalam keadaaan seperti ini pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan menggunakan trading rules yang berdasarkan atas informasi harga di waktu yang lalu. b. Efisiensi Bentuk Setengah Kuat (Semi Strong Form Effeciency) Keadaan dimana harga-harga bukan hanya mencerminkan harga-harga di waktu yang lalu, tetapi semua informasi yang dipublikasikan. Dengan kata lain, para pemodal tidak bisa memperoleh tingkat keuntungan di atas normal dengan memanfaatkan public information. c. Efisiensi Bentuk Kuat (Strong Form Efficiency) Keadaan dimana harga-harga tidak hanya mencerminkan semua informasi yang dipublikasikan, tetapi juga informasi yang biasa diperoleh dari analisa fundamental tentang perusahaan dan perekonomian. Dalam keadaan semacam ini pasar modal akan seperti rumah lelang yang ideal; harga selalu wajar dan tidak ada investor yang mampu memperoleh perkiraan yang lebih baik tentang harga saham. Investasi Yang Beresiko Dalam dunia yang sebenarnya, hampir semua investasi mengandung unsur ketidakpastian atau resiko. Pemodal tidak tahu dengan pasti hasil yang akan diperoleh dari investasi yang dilakukannya. Yang bisa ia lakukan adalah memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari investasinya, dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang diharapkan. Salah satu karakteristik investasi pada sekuritas adalah kemudahan untuk membentuk portofolio investasi. Artinya, pemodal dapat dengan mudah melakukan diversifikasi investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Karena itulah, perlu dipahami proses investasi, dimulai dari perumusan kebijakan investasinya sampai dengan evaluasi kinerja investsi tersebut. Proses investasi menunjukkan bagaimana pemodal seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas; yaitu sekuritas apa yang akan dipilih, seberapa banyak investasi tersebut dan kapan investasi tersebut akan dilakukannya. Menurut Husnan (2001: 48-49) untuk mengambil keputusan tersebut dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Menentukan Kebijakan Investasi Disini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya dan berapa banyak investasi tersebut akan dilakukan. Pemodal yang bersedia menanggung resiko lebih besar, akan mengalokasikan dananya pada sebagian besar sekuritas yang lebih beresiko. Jumlah dana yang akan diinvestasikan pun mempengaruhi keuntungan yang diharapkan dan resiko yang ditanggung. 2). Analisis Sekuritas Tahap ini berarti melakukan analisis terhadap sekuritas, yakni analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data harga dimasa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang. Sedangkan analisis fundamental berupaya mengidentifikasikan prospek perusahaan untuk bisa memperkirakan harga saham di masa yang akan datang. 3). Pembentukan Portofolio Portofolio berarti sekumpulan investasi. Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing sekuritas tersebut. 4). Melakukan Revisi Portofolio Tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan maksud kalau perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Kalau portofolio yang sekarang tidak lagi optimal, maka dapat dilakukan perubahan. 5). Evaluasi Kinerja Portofolio Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun resiko yang ditanggung. Portofolio Teori portofolio diperkenalkan dan dikembangkan pertama kali oleh Prof. Harry Markowitz pada tahun 1956. Teori ini menjelaskan cara pemebentukan portofolio yang optimal dari beberapa pilihan portofolio yang efisien. Menurut Sikki (2004: vol 1) teori portofolio ini didasarkan atas fenomena bahwa umumnya para investor dalam financial asset (saham, obligasi) menanamkan dananya bukan hanya pada satu jenis saham saja, akan tetapi pada beberapa jenis saham atau melakukan diversifikasi. Jadi “Portofolio mempunyai pengertian sekumpulan financial asset (surat berharga) atau sekumpulan kesempatan investasi”. Sedangkan Husnan (2001: 48) mengatakan “Portofolio merupakan sekumpulan investasi yang menyangkut identifikasi saham-saham mana yang akan dipilih dan menentukan proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing saham tersebut”. Suatu portofolio dibentuk guna bermanfaat secara optimal situasi dan kondisi yang didasarkan pada pertimbangan resiko dan keuntungan. Menurut Dowes dan Goodman dalam Warsono (2001: 108) “Portofolio adalah gabungan pemilikan lebih dari satu saham, obligasi, komoditas, investasi real estate, ekuivalen kas/ tunai, atau aktiva lain oleh seseorang atau investor kelembagaan”. Sehingga tujuan dari suatu portofolio adalah untuk mengurangi resiko dengan mengadakan diversifikasi. Filosofi portofolio yang digunakan adalah “Wise Investors Do Not Put All Their Eggs Into Just One Basket”. Intinya, jika dana yang dimiliki oleh investor semuanya ditanamkan pada satu jenis investasi, maka investasi tersebut jika mengalami kegagalan, kerugian yang akan ditanggung investor sangat besar. Tetapi jika dana tersebut ditanamkan pada berbagai macam investasi, jika salah satu investasi mengalami kegagalan, mungkin yang lain masih dapat menguntungkan, sehingga dengan penghasilan tersebut, dapat menutup kerugian yang diderita oleh investasi yang gagal tersebut. Sedangkan menurut Fabozzy (1999: 63) dalam pembentukan portofolio, investor berusaha memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dari investasi dan tingkat resiko tertentu yang diterima. Dengan kata lain, investor berusaha meminimalkan resiko yang dihadapi untuk sasaran tingkat pengembalian tertentu. Pandangan Jones yang dikutip oleh Warsono (2001: 109) untuk membangun suatu portofolio aset keuangan, investor dapat mengikuti tahap-tahap tertentu, yaitu: 1) Mengidentifikasikan kombinasi pengembalian risiko optimal yang tersedia dari sekumpulan asset berisiko yang dipertimbangkan dengan menggunakan analisis Efficient Frontier Markowitz. Yaitu pengembalian varian dan kovarian yang diharapkan untuk suatu kumpulan sekuritas. 2) Pertimbangan pengaruh aset bebas resiko pada Efficient Frontier Markowitz. Pengenalan kemungkinan meminjam dan meminjamkan mengarah pada suatu portofolio optimal dari asset-aset berisiko dan mempunyai pengaruh signifikan pada cara berfikir investor tentang proses investasinya. 3) Memilih portofolio akhir, berisi asset bebas risiko dan portofolio optimal dari asset-aset berisiko, berdasarkan pada preferensi investor. Setelah mengetahui cara pembentukan portofolio secara umum maka kita perlu tela`ah cara pemebentukan portofolio yang efisien. Portofolio yang efisien adalah portofolio yang bila dibandingkan portofolio lainnya, memenuhi salah satu kriteria berikut: 1) Dengan resiko yang sama, mampu memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. 2) Mempunyai tingkat keuntungan yang sama, tetapi dengan resiko yang lebih rendah. Return Portofolio 1). Retrun Realisasi Portofolio Menurut Jogiyanto (2003: 148) “Return realisasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari return-return realisasi dari tiap-tiap sekuritas tunggal di dalam portofolio”. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: Σ= = n i Rp Wi Ri 1 ( . ) Rp : Return realisasi portofolio Wi : Porsi dari sekuritas I terhadap seluruh seuritas di portofolio Ri : Return realisasi dari sekuritas i N : Jumlah dari sekuritas tunggal 2). Return Ekspektasi Portofolio Menurut Jogiyanto (2003: 148) “Return ekspektasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari return-return ekspektasi tiap-tiap sekuritas tunggal di dalam portofolio”. Secara matematis dapat dinatakan sebagai berikut: Σ= = n i E Rp Wi E Ri 1 ( ) ( . ( )) dimana: E(Rp) : Return ekspektasi dari portofolio Wi :Porsi sekuritas i terhadap seluruh sekuritas di Portofolio. E(Ri) : Return ekpektasi dari sekurits ke-i N : Jumlah dari sekuritas tunggal Resiko Portofolio Konsep dari resiko portofolio pertama kali diperkenalkan secara formal oleh Harry M. Markowitz di tahun 1950-an. Kemudian dia memenangkan hadiah nobel di bidang ekonomi di tahun 1990 untuk hasil karyanya tersebut. Dia menunjukkan bahwa secara umum, resiko mungkin dapat dikurangi dengan menggabungkan beberapa sekuritas tunggal ke dalam portofolio. Resiko portofolio adalah varian return sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut. Sedangkan kasimpulannya, resiko merupakan kerugian yang dihadapi. Sehubungan dengan investasi, para pemodal/ investor menggunakan berbagai definisi untuk menjelaskan makna resiko. Prof. Harry Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai resiko dengan jalan memperkenalkan konsep resiko secara kuantitatif. Beliau mendefinisikan resiko sebagai ukuran stastistik yang disebut varians. Secara khusus, Markowitz mengkuatifisir resiko sebagai varians pengembalian aktiva yang diharapkan. Bisnis adalah suatu pengambilan risiko yang terdapat dalam aktivitas ekonomi. Dimana risiko secara sederhana banyak kalangan mengakui disebabkan oleh ketidakpasatian. Karena dalam aktivitas bisnis antara keuntungan yang mereka harapkan dan kerugian yang mereka harus tanggung belum ada kepastian. Maka kemudian resiko disamakan dengan ketidakpastian (uncertainty), dan ketidakpastian ini dianggap gharar dan dilarang. Sebagian menganggap ketidakpastian sebagai perjudian, termasuk jenis lain memperoleh harta dengan cara spekulasi. Sehingga semacam ini sangat ditentang dan dilarang. Dimana perjudian dapat menimbulkan permusuhan dalam hubungan sosial. Secara jelas Allah SWT telah Berfirman dalam QS. al Maidah: 90-91 sebagai berikut: ô⎯iÏΒ Ó§ô_Í‘ ãΝ≈s9ø—F{$#uρ Ü>$|ÁΡF{$#uρ çÅ£øŠyϑø9$#uρ ãôϑsƒø:$# $yϑ¯ΡÎ) (#þθãΨtΒ#u™ t⎦⎪Ï%©!$# $pκš‰r'¯≈tƒ βr& ß⎯≈sÜø‹¤±9$# ߉ƒÌム$yϑ¯ΡÎ) ∩®⊃∪ tβθßsÎ=øè? öΝä3ª=yès9 çνθç7Ï⊥tGô_$$sù Ç⎯≈sÜø‹¤±9$# È≅yϑtã «!$# Ìø.ÏOE ⎯tã öΝä.£‰ÝÁtƒuρ ÎÅ£÷yϑø9$#uρ Ì÷Κsƒø:$# ’Îû u™!$ŸÒøót7ø9$#uρ nοuρ≡y‰yèø9$# ãΝä3uΖ÷t/ yìÏ%θム∩®⊇∪ tβθåκtJΖ•Β Λä⎢Ρr& ö≅yγsù ( Íο4θn=¢Á9$# Ç⎯tãuρ Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. (QS. Al Maidah: 90-91) Hadist Nabi SAW memberi keterangan lebih lanjut: “Rasulullah saw melarang jual beli (yang mengandung penipuan) gharar” (HR Al Baihaqi dari Ibnu Umar). Dalam dunia bisnis sesungguhnya tidak semua ketidakpastian tersebut tersebut merupakan bersifat keberuntungan, dalam mendapatkan hasil dimasa yang akan datang dapat kita harapkan dengan mempridiksi beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut al Suwailem yang dikutip Achsien (2000: 50-51) untuk melakukan pembedaan pengertian tentang gharar, resiko, dan ketidakpastian. Untuk membedakan risiko terdapat dua tipe resiko. Pertama, resiko pasif, seperti game of chance, yang hanya mengandalkan keberuntungan. Kedua, resiko responsif yang memungkinkan adanya distribusi probabilitas hasil dengan hubungan kausalitas yang logis. Hal semacam ini dapat diasosiasikan sebagai game of skill. Dari uraian di atas dapat disimpulkan, ketidakpastian secara intrinsik terkandung dalam setiap aktivitas ekonomi yang dikategorikan gharar adalah muncul pada kasus resiko yang tidak diketahui faktor-faktor penyebab sebelumnya (Unknowbles). Sedangkan ketidakpastian yang kejadiannya tetap mengikuti suatu kausalitas atau sebab-akibat yang logis yang bisa mempengaruhi probbilitasnya disebut aktivitas jual beli berdasarkan skill. Husnan (2001: 199-200) juga membedakan dua jenis resiko yang dikenal dalam pasar modal, yaitu: 1). Resiko Sistematis (Systematis Risk) Merupakan resiko yang mempengaruhi semua (banyak) perusahaan yang dipengaruhi faktor-faktor seperti; tingkat bunga, pengumuman tentang angka pertumbuhan GNP. 2). Resiko Tidak Sistematis (Unsystematis Risk) Merupakan resiko yang mempengaruhi satu (sekelompok kecil) perusahan yang dipengaruhi faktor-faktor seperti; pengumuman tentang penjualan perusahaan yang meningkat lebih tinggi dari yang diharapkan, produk pesaing yang mengalami gangguan. Pembagian resiko semacam itu dalam sebuah manajemen resiko menurut Ahmad (1996: 115-116) membawa implikasi pembedaan sifat-sifat resiko sendiri. Karena itu, ada yang Undiversifiable risk atau resiko yang dapat dihindarkan yang merupakan bagian total risk yang munculnya disebabkan oleh perubahan yang terjadi secara sistematis, dimana perubahan tersebut mempunyai pengaruh yang sama terhadap semua surat berharga. Sehingga Undiversifiable risk disebut juga systematic risk. Dan Diversifiable risk merupakan bagian dari total risk yang besarnya berbedabeda antara surat berharga dengan surat berharga lainnya. Biasanya resiko ini muncul dari perubahan yang tidak sistematis (Unsystematic Change), karena itu resiko ini sering juga disebut Unsystematic risk. Perubahan tidak sistematis dimaksudkan adalah perubahan yang pengaruhnya tidak sama terhadap perubahan satu dengan yang lain. 1). Varians Sebagai Alat Ukur Resiko Menurut Fabozzy (1999: 67) “Varians adalah ukuran penyimpangan penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian di sekitar pengembalian yang diharapkan”. Persamaan varians adalah: 2 2 2 2 2 1 1 Var(Ri) p [r E(Ri)] p [r E(Ri)] ... p [r E(Ri)] n n = − + − + + − Σ= = − N n n m Var Ri p r E Ri 1 ( ) [ ( )]2 Namun jika probabilitasnya belum diketahui dan hanya diperoleh data selama periode pengamatan, rumusnya (Halim, 2001: 45-46): [ ( )] N Rij E Ri n j i 2 2 1 − = Σ= σ Di mana N : periode pengamatan r : tingkat pengembalian yang mungkin bagi aktiva 1 r : tingkat pengembalian yang mungkin bagi aktiva Pn : probabilitas tingkat pengembalian aktiva 1 dan 2 n : jumlah hasil yang mungkin bagi tingkat pengembalian 2). Deviasi Standar Karena varians dinyatakan dalam unit kuadrat, maka varians diubah menjadi deviasi standar atau kuadrat dari varians (Fabozzy, 1999: 69): ( ) ( ) i i SD R = Var R Deviasi standar dan varians memiliki konsep yang sama, yaitu semakin besar varian atau deviasi standar, semakin besar resiko investasi. Diversifikasi Portofolio Seringkali terdengar investasi membicarakan mengenai diversifikasi portofolio yang dimiliki investor. Karena prediksi Sikki (2004: vol 11) investor kebanyakan bersikap menolak resiko, maka mereka akan memilih diversifikasi apabila mereka mengetahui bahwa dengan diversifikasi tersebut mereka bisa mengurangi resiko. Menurut Fabozzy (1999: 73) “Diversifikasi portofolio diartikan sebagai pembentukan portofolio sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi resiko portofolio tanpa mengorbankan pengembalian yang dihasilkan”. Sedangkan menurut Jogiyanto (2003: 173-177) investor dapat melakukan diversifikasi dengan beberapa cara, yaitu: 1). Diversifikasi dengan Banyak Aktiva Mengikuti hukum statistik bahwa semakin besar ukuran sampel, maka semakin dekat nilai rata-rata sampel dengan nilai ekspektasi dari populasi. Hukum ini disebut juga dengan Hukum Jumlah Besar (Law of large Number). Asumsi yang digunakan disini bahwa tingkat hasil (rate of return) untuk masing-masing sekuritas secara statistik adalah independen. Hal ini berarti bahwa rate of return sekuritas lainnya. 2). Diversifikasi Secara Random Diversifikasi secara random merupakan pembentukan portofolio dengan memilih sekuritas-sekuritas secara acak tanpa memperhatikan karakteristik dari investasi yang relevan seperti misalnya return dari sekuritas itu sendiri. Diversifikasi dapat dicapai hanya dengan sekuritas yang tidak terlalu banyak, yaitu kurang dari 15 sekuritas sudah dapat mencapai diversifikasi optimal. 3). Diversifikasi secara Markowitz Diversifikasi secara Markowitz dapat didefinisikan sebagai diversifikasi dengan mengkombinasikan sekuritas-sekuritas yang memiliki korelasi bernilai rendah. Diversifiksi ini bisa mengurangi resiko sistematis. Suatu portofolio yang mempertimbangkan korelsi antara dua aktiva bernilai rendah dapat menghasilkan portofolio yang beresiko rendah. Sementara itu, menurut Fabozzy (1999: 75-76) diversifikasi dibagi menjadi 2 macam, yakni: 1). Diversifikasi Naif Strategi diversifikais naïf dapat dicapai pada saat investor melakukan investasi pada sejumlah saham yang berbeda atau kelompok aktiva yang berbeda dan berharap bahwa varians dari pengembalian diharpakan atas portofolio dapat diperkecil. Sebagai contoh, aturan penginvestasian saham yang terkenal menyatakan bahwa portofolio seharusnya didiversifikasikan pada berbagai industri yang berbeda. Diversifikasi naif berhubungan erat dengan praktik yang oleh Francis dan Alexander disebut dengan “Penataan interior keuangan”. Menurut pendekatan ini, konsultan investasi berusaha merancang suatu portofolio yang sesuai dengan kepribadian investor. 2). Diversifikasi Markowitz Diversifikasi secara Markowitz terutama berhubungan dengan tingkat kovarians antara pengembalian aktiva dalam portofolio. Diversifikasi Markowitz berusaha menggabungkan aktiva-aktiva dalam portofolio dengan pengembalian yang memiliki korelasi positif kurang dari sempurna dengan tujuan mengurangi pengembalian. Diversifikasi ini lebih efektif karena mempertahankan pengembalian yang ada, dan mengurangi resiko melalui analisis kovarians antara pengembalian aktiva. Pemilihan Portofolio Investor selalu ingin memaksimalkan return yang diharapkan dengan tingkat resiko tertentu yang bersedia ditanggungnya, atau mencari investasi yang menawarkan resiko terendah dengan tingkat return tertentu. Karakteristik investasi seperti ini disebut sebagai portofolio yang efisien. Jika terdapat beberapa macam portofolio yang efisien, maka investor akan memilih portofolio yang optimal. Jogiyanto (2000: 180) mengatakan portofolio yang efisien (efficient portfolio) adalah “portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan resiko yang sudah tertentu atau memberikan resiko yang terkecil dengan return ekspektasi yang sudah tertentu”. Sedangkan menurut Fabozzy (1999: 80) portofolio efisien Markowitz adalah “Portofolio yang memberikan tingkat pengembalian tertinggi diantara portofolio yang ada. Dengan tingkat resiko yang sama”. Menurut Tandelilin (2001: 74) ”Portofolio yang efisien adalah portofolio yang memberikan return yang diharapkan dengan tingkat resiko tertentu yang tersedia ditanggung atau portofolio yang menawarkan resiko rendah dengan tingkat return tertentu”. Suatu portofolio dikategorikan sebagai portofolio yang efisien (Efficient Portfolio) apabila portofolio tersebut terletak pada permukaan yang efisien (Efficient Frontier). Efficient Frontier adalah kurva yang menghubungkan Efficient Portfolio yang . R Q E(R)  (Resiko) memiliki deviasi standar terendah dengan Efficient Portfolio yang memiliki Expected Return tertinggi. Gambar 2.2 Grafik Efficiency Frontier P Sumber: Husnan. 2003: 81 Husnan (2003: 80-81) mengatakan “Portofolio yang efisien adalah portofolio yang memberikan tingkat keuntungan yang sama, dengan resiko yang lebih rendah; atau dengan resiko yang sama, memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi”. Sehingga portofolio Q dan R adalah portofolio yang tidak efisien. Hal ini karena portofolio P mampu memberikan tingkat keuntungan yang sama, tetapi dengan resiko yang lebih rendah (jika dibandingkan dengan portofolio Q). Di pihak lain, portofolio P juga menjanjikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi, tetapi dengan resiko yang sama (jika dibandingkan dengan portofolio R). Dalam hal ini portofolio P dikatakan mendominasi portofolio Q dan R. Investor dapat memilih kombinasi dari aktiva-aktiva untuk membentuk portofolionya. Seluruhnya set yang memberikan kemungkinan portofolio yang dapat dibentuk dari kombanasi aktiva yang tersedia disebut dengan opprportunity set atau attainable set. Semua titik attainable set menyediakan semua kemungkinan portofolio baik yang efisien maupun tidak efisien yang dapat dipilih oleh investor. Kumpulan (set) dari portofolio yang efisien disebut dengan Efficient set atau Efficient Frontier. Analisis dan Pembahasan 1). Menghitung tingkat pengembalian yang diharapkan dengan tingkat Risk Free Pengembalian diharapkan (Expected Return) berkaitan dengan perkiraan investor secara subjektif (didasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi investasinya) tentang pengembalian yang akan diperoleh di masa akan datang. Bila selanjutnya memiliki nilai keuntungan yang diharapkan E(Ri) besar, kemungkinan saham tersebut mempunyai keuntungan yang besar. Sebaliknya, jika saham mempunyai tingkat tingkat keuntungan yang diharapkan E(Ri) kecil kemungkinan saham tersebut mempunyai keuntungan yang kecil pula. Sedangkan tingkat pengembalian bebas resiko merupakan tingkat pengembalian yang dimiliki investor jika menginvestasikan dananya pada investasi bebas resiko diukur dengan tingkat bunga bebas resiko. Tingkat pengembalian diukur dengan tingkat bunga bebas resiko, yang didasarkan pada rata-rata harian suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tingkat risk free digunakan sebagai ukuran pengembalian minimum, sehingga return idealnya adalah Rf=E(Ri). Berikut ini hasil dari analisis perhitungan antara tingkat pengembalian yang diharapkan dengan Tingkat bungan bebas resiko (Risk Free): a. Perhitungan Tingkat Risk Free Obs. Tanggal dikeluarkan SBI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 04/05/2006 04/26/2006 05/10/2006 07/12/2006 08/09/2006 09/06/2006 10/11/2006 11/08/2006 12/13/2006 01/10/2007 02/07/2007 03/07/2007 0,1273 0,1274 0,1250 0,1225 0,1175 0,1125 0,1075 0,1025 0,0975 0,0950 0,0925 0,0900 Rf (Risk free) 0,0091 b. Perhitungan Tingkat Pengembalian yang Diharapkan No Nama Perusahaan Kode E(Ri) Keterangan 1 2 Adhi Karya (Persero) Aneka Tambang (Persero) ADHI ANTM -0,0013 0,0975 Tidak Terpilih Terpilih 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Astra International Berlian Laju Tanker Bakrie & Brothes Bumi Resources Energi Mega Persada Gajah Tunggal International Nickel Indonesia Indofood Sukses Makmur Indah Kiat Pulp & Paper Indocement Tunggal Prakrsa Indosat Kawasan Industri Jababeka Kalbe Farma PP London Sumatra Medco Energi International Persh. Gas Negara (persero) Tambang Batubara Bukit Asam Holcim Indonesia Telekomunikasi Indonesia Bakrie Sumatra Plantation United Tractors Unilever Indonesia ASII BLTA BNBR BUMI ENRG GJTL INCO INDF INKP INTP ISAT KIJA KLBF LSIP MEDC PGAS PTBA SMCB TLKM UNSP UNTR UNVR 0,0185 0,0270 0,0129 0,0369 -0,0231 -0,0161 0,1058 0,0537 -0,0144 0,0153 0,0208 0,0464 -0,0054 0,0448 -0,0091 -0,0001 0,0535 0,0072 0,0326 0,0506 0,0438 0,0289 Terpilih Terpilih Terpilih Terpilih Tidak Terpilih Tidak Terpilih Terpilih Terpilih Tidak Terpilih Terpilih Terpilih Terpilih Tidak Terpilih Terpilih Tidak Terpilih Tidak Terpilih Terpilih Tidak Terpilih Terpilih Terpilih Terpilih Terpilih Jadi saham Bila saham memiliki nilai E(Ri) lebih besar dari Rf maka saham tersebut layak untuk dipilih, karena kemungkinan termasuk dalam kandidat portofolio. 2). Menentukan portofolio yang optimal dengan Model Indeks Tungggal. Perhitungan untuk menentukan portofolio optimal akan sangan dimudahkan jika hanya didasarkan pada sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu sekuritas dapat dimasukkan ke dalam portofolio optimal tersebut. Angka tersebut adalah rasio antara ekses retrun dengan Beta (excess return to Beta). Excess return to Beta (ERB) berarti mengukur kelebihan return terhadap satu unit risiko yang tidak dapat didiversifikasikan yang diukur dengan beta. Rasio ERB ini menentukan hubungan dua faktor investasi, yaitu return dan resiko. Portofolio yang optimal akan berisi dengan aktiva-aktiva yang mempunyai nilai rasio ERB yang tinggi. Aktiva-aktiva dengan rasio ERB yang rendah tidak akan dimasukkan ke dalam portofolio optimal. Dengan demikian diperlukan sebuah titik pembatas (cut-off point) yang menentukan batas nilai ERB berapa yang dikatakan tinggi. a. Perhitungan Excess Return to Beta ERB mempertimbangkan rasio antara tingkat pengembalian dengan resiko yang dihadapi. Semakin besar nilai ERB menunjukkan akan perolehan hasil lebih besar, dan sebaliknya Semakin kecil nilai ERB menunjukkan akan perolehan hasil lebih kecil pula. Berikut ini perhitungannya: No KODE ERBi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 BUMI BLTA INCO UNTR INDF PTBA ANTM LSIP KIJA TLKM UNVR ISAT INTP ASII BNBR UNSP 0,29681 0,09646 0,11373 0,06814 0,04839 0,04542 0,04894 0,04129 0,02987 0,02138 0,01444 0,00950 0,00597 0,00735 -0,01092 -1,15104 b. Perhitungan nilai pembatas (cut-off point). No Kode Ci Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 BUMI INCO BLTA UNTR ANTM INDF PTBA LSIP KIJA TLKM UNVR ISAT ASII INTP BNBR UNSP 0,00106 0,02297 0,02392 0,03309 0,03888 0,03953 0,03989 0,03996 0,03871 0,03096 0,02674 0,02477 0,0231 0,02227 0,0203 0,02026 Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Tidak Optimal Saham-saham yang membentuk portofolio adalah saham yang memiliki nilai ERB lebih besar, atau sama dengan C*. Sedang C* adalah nilai Ci yang terbesar. Jadi dari perhitungan di atas terdapat 8 saham yang masuk portofolio. c. Perhitungan komposisis saham-saham yang masuk portofolio No Kode Wi E(Rp) p 1 2 3 4 5 6 7 8 BUMI INCO BLTA UNTR ANTM INDF PTBA LSIP 15,9% 34,1% 8,1% 29,7% 7,4% 2,8% 1,6% 0,4% 0,114 0,7007 0,0426 0,2522 0,1398 0,0288 0,0165 0,0033 0,0742 0,293 0,0236 0,0833 0,0402 0,0077 0,0041 0,0024 Total 100% 1,2979 0,5285 Rata-rata 0,1622 0,0661 Sebagai keterangan Wi menunjukkan tingkat porsi dana yang akan dinvestasikan, E(Rp) menunjukkan tingkat pengembalian yang diharapkan, sedangkan p menunjukkan resiko yang dihadapi dalam portofolio. Dari hasil perhitungan maka komposisi saham sesuai dengan tabel di atas. Investor dapat menggunakan hasil analisis ini sebagai pertimbangan untuk melakukan investasi. Jadi investor yang ingin investasi pada saham JII (Jakarta Islamic Index) maka dapat memilih saham-saham yang masuk pada portofolio optimal. Dari penelitian yang dilakukan terdapat 8 saham yang masuk portofolio optimal. Kedelapan saham tersebut memiliki efisiensi yang tinggi dikarenakan besar kecil alokasi dana sesuai dengan besar kecilnya dari keuntungan yang diharapkan dan risiko yang dihadapi. Kesimpulan Pemilihan awal saham optimal melalui tingkat pengembalian bebas resiko. Saham-saham yang memiliki pengembalian bebas resiko (Risk Free) merupakan tingkat pengembalian dana investasi yang diukur dengan tingkat Suku Bunga Bank Indonesia (SBI). Tingkat Risk Free digunakan sebagai ukuran pengembalian (return) minimum. Perhitungan tingkat rata-rata SBI perbulan selama periode penelitian sebesar 0,0091. Maka saham yang memiliki tingkat pengembalian di atas tingkat SBI dipilih untuk investasi, sedangkan pengembaliannya yang lebih rendah dari tingkat SBI tidak dipilih untuk investasi. Dari penelitian saham-saham anggota JII (Jakarta Islamic Index) terdapat delapan saham yang termasuk dalam portofolio optimal. Saham-saham yang masuk dalam portofolio optimal menunjukkan saham yang memiliki tingkat efisiensi dalam alokasi dana sesuai dengan tingkat keuntungan yang diharapkan dan resiko yang dihadapi. Artinya semakin besar keuntungan yang diharapkan dan resiko yang dihadapi semaki besar pula dana yang dialokasikannya. Sebaliknya, semakin kecil keuntungan yang diharpakan dan resiko yang dihadapi semakin kecil pula dana yang dilaokasikannya. , 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar