54. EFEKTIFITAS IKLAN KOMPARATIF KARTU SELULER ESIA VERSI BANDING HARGA ALA RINGGO (Studi pada Pengguna Esia di Kota Malang Menggunakan EPIC Model)

Admin
JUDUL SKRIPSI :EKTIFITAS IKLAN KOMPARATIF KARTU SELULER ESIA VERSI BANDING HARGA ALA RINGGO (Studi pada Pengguna Esia di Kota Malang Menggunakan EPIC Model)



Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat mengakibatkan persaingan yang dihadapi perusahaan dalam memasarkan hasil produksinya menjadi semakin kuat, sehingga setiap pemasar berusaha untuk mendapatkan tempat yang istimewa di hati konsumen. Dalam hal ini perusahaan tidak dapat berdiam diri menunggu datangnya pembeli, namun harus secara aktif menginformasikan dan memperkenalkan produk yang dihasilkan kepada konsumen. 

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui komunikasi pemasaran yang berupa kegiatan promosi. Promosi merupakan aktivitas mengkomunikasikan keunggulan produk, yang menganjurkan pelanggan sasaran untuk mengkonsumsinya (Kotler dan Amstrong,2001:74). Konsep yang sering digunakan untuk mengkomunikasikan sebuah pesan adalah bauran promosi (promotion mix), menurut Kotler (2000: 644-645) bauran promosi terdiri atas lima cara komunikasi utama yaitu: periklanan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (publicity and public relation), penjualan secara pribadi (personal selling) serta pemasaran langsung (direct marketing). 

Bauran promosi yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah periklanan (advertising). Hal tersebut sesuai dengan ungkapan Subroto dan Priyowiwoho (Usahawan, Januari, 1998: 40) yang menyatakan bahwa iklan telah menjadi suatu pilihan yang tepat dan menarik bagi usaha pemasaran barang dan jasa. Selain itu, Kotler (2000: 644) menyatakan bahwa periklanan adalah cara efektif dan efisien dalam menjangkau banyak pembeli yang terbesar secara geografis dengan biaya rendah untuk setiap tampilannya dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.

 Menurut Kotler (2000: 222) periklanan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang suatu produk. Tentunya iklan tersebut harus baik dan bermutu, karena dengan demikian dapat mengupayakan terjadinya imbalan psikologis dalam bentuk keberadaan dan upaya produk untuk diterima secara baik oleh masyarakat. Iklan menjadi perhatian penting karena selain posisinya yang strategis (mampu menjangkau konsumen secara luas) juga memerlukan biaya yang cukup besar. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk periklanan (terutama iklan di media televisi) menjadikan perusahaan harus berhati-hati dan lebih bijak dalam membelanjakan dananya.
Dengan adanya iklan, produk yang ditawarkan perusahaan diketahui oleh konsumen. Konsumen memperoleh informasi mengenai kegunaan, kemudahan, kualitas, cara kerja dan kelebihan produk perusahaan dibanding produk pesaing. Melalui pelaksanaan periklanan diharapkan mampu mempengaruhi minat calon konsumen untuk mencoba (membeli) produk dan mengingatkan kembali kepada konsumen lama untuk melakukan pembelian ulang. 

Iklan sebagai media persuasi pada dasarnya adalah upaya untuk mempengaruhi atau merubah kepercayaan, sikap dan perilaku konsumen untuk melakukan tindakan tertentu. Iklan persuasif penting untuk dilakukan dalam tahap persaingan, tujuannya adalah membentuk permintaan selektif atas suatu merek tertentu. Tentunya dalam upaya menyakinkan atau membujuk ini setiap perusahaan berusaha menuangkan keunggulan produk yang ditawarkannya dalam sebuah iklan. Jika penonjolan keunggulan sebuah produk ditunjukkan dengan membandingkan secara eksplisit maupun implisit antara atribut-atribut dari dua atau lebih merek maka iklan persuasif ini dapat disebut sebagai comparative advertising atau iklan komparatif (Kotler, 2000: 659). 

Menurut Blech dan Blech dalam Anissa dan Afif (Usahawan,Februari 2007:10), iklan komparatif adalah praktek menunjuk kompetitor, baik secara langsung maupun tidak, dalam iklan dan membandingkan satu atau lebih atribut tertentu. Menurut Kotler (2000:659) periklanan perbandingan berfungsi paling baik karena mendatangkan motivasi kognitif dan afektif secara serentak.
Pemasar iklan komparatif (comparative advertising) yang saat ini banyak dilakukan perusahaan di Indonesia sebenarnya cukup lazim dilakukan perusahaan-perusahaan ternama di negara maju. Contoh iklan komparatif yang paling terkenal adalah iklan Coca Cola. Michael Jackson dalam sebuah konsernya mengalami dehidrasi. Padahal si ‘Jacko’ ketika itu tengah menjadi bintang iklan produsen minuman Pepsi. Insiden tersebut kemudian dijadikan momentum bagi pesaing Pepsi yakni Coca Cola menciptakan iklan komparatif yang isinya ‘menyerang’ Pepsi: Coca Cola is undehidrated Cola (Handoko: 2003). 

Di Indonesia praktek iklan komparatif yang menimbulkan kontroversial Contohnya praktek iklan komparatif pada saat Kino menyerang market leader Kopiko dengan tag line nya "Gantinya permen kopi" dan disusul dengan " Yang itu kuno yang ini Kino " Dan begitu ada Kino yang lain jadi kuno". Kemudian pada contoh lain pada saat teh botol Sosro menggunakan iklan komparatif untuk menyerang Frestea, obat nyamuk Hit menyerang pesaingnya dengan tag line "Yang lebih bagus tidak ada, yang lebih mahal banyak" dan lain sebagainya. 

September 1999 yakni 2 tahun setelah iklan Kino diluncurkan omset Kino tumbuh 300%-400% tiap bulan, sedangkan dari sisi belanja iklan menurut data SRI-AC Nielsen selama 2 bulan pertama pada tahun 1998 dikategori permen kopi, Kino melejit dengan belanja iklan sebesar Rp. 543,4 juta sedang Kopiko tidak sampai separuhnya Rp. 200,4 juta. Hal ini menunjukkan bahwa praktek iklan komparatif yang dilakukan Kino terhadap Kopiko berhasil mendapatkan respon positif dari konsumen. (Palupi, 2006:28)

 Namun penelitian yang dilakukan oleh Anisaa dan Afiif (2007) menyimpulkan bahwa periklanan komparatif dengan perbandingan yang terlalu langsung kurang cocok bila diterapkan di Indonesia. Hasil penelitian yang membandingkan iklan komparatif dan non komparatif menunjukkan bahwa iklan komparatif menghasilkan rata-rata sikap dan kepercayaan yang lebih rendah terhadap merek jika dibandingkan dengan penggunaan iklan non komparatif.
Hal ini disebabkan perbedaan kultur budaya yang dimiliki oleh Negara barat dan Negara di kawasan Asia. Negara barat seperti Amerika memiliki budaya individualistis, sedangkan negara asia seperti Indonesia cenderung memiliki kultur budaya yang kolektif dengan adat ketimuran. Mengacu pada hasil penelitian Schutte dan Ciarlante (1998) yang dikutip oleh Anisaa dan Afif (2007:11) social harmony merupakan salah satu nilai penting dalam masyarakat Asia, sehingga iklan komparatif yang menunjukkan perbandingan yang terlalu langsung akan mengakibatkan timbulnya social disharmony, yang merupakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya di Asia.

Di Indonesia persaingan produk kartu seluler semakin ketat, yang ditandai dengan munculnya produk-produk baru dengan berbagai keunggulan yang menawarkan berbagai fitur dan layanan yang semakin bervariasi. Hal ini memicu terjadinya persaingan dalam hal periklanan untuk memperebutkan pasar. Dalam beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa konsumen pengguna kartu seluler sangat mudah untuk melakukan brand switching sehingga produsen harus selalu berusaha melakukan inovasi terhadap produk dan layanannya guna mempertahankan konsumen sehingga periklanan sebagai media komunikasi harus dirancang sedemikian rupa agar menarik minat konsumen. 

Esia merupakan kartu seluler baru milik Bakrie Telecom Tbk yang sedang gencar-gencarnya melakukan komunikasi lewat iklan. Sejak awal Esia memang terkenal out of the box dalam melakukan komunikasi periklanan, hal ini dapat dilihat dari penggunaan istilah Talk time untuk memerangi istilah Pulsa (Annonymous, 2007).

Iklan Esia disajikan dalam beberapa versi, namun yang paling mendapatkan sorotan yakni iklan Esia versi banding harga ala Ringgo, dalam iklan ini Ringgo atau Agus Ringgo yakni MC dan aktor terkenal digambarkan sebagai entry level sedang bingung memilih operator seluler dengan iming- iming harga yang murah, dengan ketentuan dan syarat yang diberikan oleh masing-masing operator. Namun setelah proses banding harga akhirnya kartu Esia lah yang dipilih. 

Dalam penggambaran banding harga, Esia dengan berani melakukan pembandingan secara langsung dengan produk pesaing. Meski merek dari pesaing disamarkan namun dalam iklan tersebut pemirsa dapat dengan jelas mengenal merek pesaing karena kekhasan atribut baik warna maupun fitur produk pesaing yang ditunjuk sebagai pembanding. Hal ini memicu tanggapan dari berbagai kalangan, seperti yang dikutip dari (http//www.antara news.com) Kepala Indosat Cabang Batam, Ernowo Tri Sumartono, mengharapkan Dewan Periklanan Indonesia (DPI) menegur iklan Esia yang dianggap telah melecehkan provider telepon seluler yang ada di Indonesia. Tetapi dari berbagai diskusi di media, ternyata banyak konsumen yang menganggap iklan tersebut menarik dan unik sehingga banyak konsumen tertarik untuk beralih atau ingin mencoba kartu Esia. Menurut Marketing and Communication Executive AGB Nielsen Media Research, Andini Wijendaru, kartu seluler Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk, paling banyak beriklan di 10 televisi nasional dalam satu semeter 2007, yaitu muncul sebanyak 10.133 kali. (dian yuliastuti www.tempointeraktif.co.id. 08 Juli 2007). Dengan banyaknya tayangan iklan, perusahaan harus mengeluarkan banyak dana untuk setiap penayangan iklannya.

 KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar