71. ANALISIS RESPONSI KONSUMEN TERHADAP TELKOM FLEXI TRENDY DENGAN PENDEKATAN MODEL LOGIT (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Malang)

Admin

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Di zaman serba canggih ini, telepon merupakan alat komunikasi yang sangat efektif, menurut Mc. Farland yang dikutip oleh Handayaningrat (1990: 94) komunikasi adalah proses intraksi atau hubungan saling pengertian satu sama lain antara manusia. Kita berkomunikasi dengan orang lain berarti kita sedang berusaha memberikan informasi atau pendapat kepada orang tersebut, oleh karena itu alat untuk kita mengadakan komunikasi juga harus seefisien dan seefektif mungkin.

Perkembangan di segala bidang saat ini sangat cepat dengan perubahan-perubahan yang kadang tidak kita perkirakan. Orang yang bijak dalam menyikapi setiap perubahan dituntut untuk selalu flexible, memperoleh informasi dengan mudah dan cepat, serta penghematan pengeluaran yang dapat diperkirakan, begitu juga dengan perkembangan telephon kabel atau fixed wireline yang berkembang pesat dan mendunia sehingga teknologi komunikasi telegram lambat laun tersisihkan dan tergantikan dengan teknologi telephone dalam melakukan komunikasi.

Teknologi telephon kabel juga mengalami perkembangan dalam media yang digunakan. Semula mempergunakan kabel tembaga berkembang ke sistem serat optik dan radio untuk menghubungkan antara pelanggan dengan jaringan telekomunikasi antar daerah atau negara. Telephon kabel memiliki kendala di dalam hal mobilitas, karena terminal telephon harus terhubung dengan jaringan kabel secara fisik. Hal ini menginspirasikan munculnya teknologi seluler, yang pada saat ini jumlah pelanggannya sudah melebihi jumlah pelanggan telephone kabel.

Seiring perkembangan kondisi perekonomian maupun gaya hidup yang makin mobile saat ini, menyebabkan kebutuhan intensitas komunikasi makin meningkat. Kondisi demikian ini, menyebabkan konsumen makin membutuhkan komunikasi yang berkualitas, namun tetap efisien dari sisi biaya. Guna memenuhi tuntutan pelanggan tersebut, perusahaan publik, PT Telkom Tbk, menawarkan jasa layanan fixed wilereless berbasis CDMA yaitu Telkom Flexi sejak akhir Mei 2003 lalu. PT. Telkom tbk mengeluarkan produk Wireless Base, yang mana Wireless base adalah layanan fixed wilereless berbasis CDMA. Para pakar teknologi telepon seluler sepakat bahwa kecanggihan CDMA jauh melebihi GSM yang sekarang ini banyak dipergunakan oleh operator telepon seluler di Indonesia. (www.TelkomFlexi).
Wireless base mempunyai produk salah satunya yaitu TelkomFlexi Trendy, TelkomFlexi Trendy adalah Fixed Line yang mempergunakan media koneksi system selulers CDMA dengan sifat Prabayar (prepaid). Flexi Trendy merupakan kartu pra bayar isi ulang dari TELKOMFlexi yang menawarkan kenyamanan dan kecepatan akses komunikasi. Produk ini memberikan berbagai fasilitas serta pilihan nominal pulsa sesuai yang diinginkan. (www.Telkom.com).

Menurut Mc. Farland yang dikutip oleh Handayaningrat (1990;94) bahwa peoses interaksi atau hubungan satu sama lain dimaksudkan agar pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti, dan proses penyampaian tersebut tidak hanya berupa kata-kata tapi juga tulisan. Telkom Flexi Trendy memberikan layanan berupa SMS yang bertarif murah, panggilan lokal ke sesama Flexi hanya Rp49 / detik. (www.TelkomFlexi.com)

Telkom Flexi Trendy merupakan Salah satu produk andalan PT.Telkom yang sudah cukup sukses di dunia pertelekomunikasi di indonesia, produk yang
menggunakan jaringan CDMA (Code Divison Multi Akses) ini sangat di unggulkan oleh PT.Telkom karena produk ini bisa bersaing dengan GSM. Tetapi Flexi Trendy ini masih mempunyai banyak kekurangan antara lain proses conetion yang memakan waktu lama, jangkauan yang sangat terbatas yaitu hanya bisa di gunakan di satu area saja. Walaupun sudah di kembangkan Flexy Combo untuk 3 kota tetapi jangkauan tersebut masih di rasa kurang, kemudian proses pengiriman dan penerimaan SMS ke nomor GSM sering tidak sampai dan gagal. (www.pintunet.com).

Telepon yang berbasis CDMA bukan hanya Flexi Trendy, namun masih banyak produk-produk lain yang sama, dan menawarkan pelayanan yang sama pula. Namun Telkom Flexi Trendy telah banyak dikenal oleh masyarakat dan banyak pelanggannya. Sesuai dengan data bahwa total pelanggan telkom flexi mancapai 4,1 juta. Esia mencatat jumlah pelanggan 400.000, Sedangkan pelanggan fren tercatat sejumlah 1,3 juta . Walaupun banyak konsumen yang memakai Flexi Trendy, keluhan yang dilontarkan oleh konsumen juga banyak dan berbeda-beda, seperti yang di ungkapkan salah satu konsumen dalam opini konsumen”Telkom flexi trendy memang murah tetapi sinyalnya seperti ayam bertelur” ada pula yang mengatakan bahwa ”Telkom Flexi Trendy tidak selalu murah”. (www.pintunet.com)

 

Setelah melihat opini konsumen terhadap Telkom Flexi Trendy, dapat diambil kesimpulan bahwa konsumen memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap produk ini, persepsi menurut Kotler (2002:104) adalah proses yang digunakan seseorang individu untuk memilih, mengorganisasi, dan mengiterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Selain itu persepsi sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang bertindak, dua orang dalam kondisi motivasi yang sama dan tujuan situasi yang sama mungkin bertindak secara berbeda karena perbedaan persepsi mereka terhadap suatu barang atau jasa. Persepsi diartikan juga oleh sebagian orang sebagai suatu proses yang mencakup penafsiran obyek dan tanda dari sudut pengalaman orang yang bersangkutan.
Jalaludin (1994) mendifinisikan persepsi sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan mengumpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau dengan kata lain, persepsi adalah pemberian makna pada stimuli indrawi.
Setelah mengadakan survei di fakultas Ekonomi UIN Malang pada tanggal 16 -21 April banyak dikalangan mahasiswa yang memakai Flexi Trendy, dan persepsi mereka terhadap produk ini berbeda-beda.

Menurut Leon G Schiffman & leslie Lazar Kanuk, 2004:137) persepsi diartikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan sesuatu. Banyaknya perbedaan persepsi konsumen terhadap Telkom Flexi Trendy, tidak membuat Telkom Flexi Trendy kalah dipasaran dan tetap dipilih oleh konsumen menjadi salah satu alasan penulis mengangkat judul ANALISIS RESPONSI KONSUMEN TERHADAP TELKOM FLEXI TRENDY DENGAN PENDEKATAN MODEL LOGIT (Studi Kasus Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi UIN Malang)

B. RUMUSAN MASALAH
Persepsi sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang bertindak, dua orang dalam kondisi motivasi yang sama dan tujuan situasi yang sama akan bertindak secara berbeda karena perbedaan persepsi mereka terhadap suatu barang, Flexi Trendy. Atas dasar itulah, maka spesifikasi Rumusan Masah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan persepsi konsumen Telkom Flexi trendy?
2. Faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap konsumen Telkom Flexi trendy?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan konsumen
2. Untuk mengetahui faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap Konsumen Telkom Flexi Trendy

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi perusahaan untuk dijadikan masukan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap Telkom Flexi Trendy

2. Bagi penulis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah materi keilmuan atau dapat menjadi tambahan informasi yang dapat memperluas wawasan pengetahuan peneliti.


Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSIBAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian Alat analisis Judul Obyek Variabel Hasil 1. Dian fauziah 2003 Regresi Linier Berganda Analisis persepsi nasabah terhadap pengelolaan dana tabungan mudharabah Bank perkreditan rakyat syariah, al mabrur ponorogo 􀂃 Mutu pelayanan 􀂃 Keuntungan bagi hasil 􀂃 Fleksibilitas 􀂃 Fasilitas 􀂃 Jaminan 􀂃 hadiah Variabel X berpengaruh secara serentak terhadap keputusan nasabah 2. Diah pertiwi 2002 Regresi Linier Berganda Persepsi konsumen Telepon selular dan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian 􀂃 Perhatian 􀂃 Pemahaman 􀂃 ingatan Menentukan secara bersama-sama variable bebas yang terdiri dari X1,X2,X3 mempunyai hubungan yang kuat 3. Lukman 2003 Regresi Linier Berganda Analisis persepsi konsumen pada PT. Birotika Semesta(DHL) cab. Malang melalui metode importance 􀂃 Kualitas pelayanan 􀂃 Tanggapan konsumen Dengan menggunakan deagram kautesius, menunjukan bahwa kenerja perusahaan berada pada posisi yang cukup tinggi. 4. Syarifah 2007 Analisis Logit Analisis persepsi konsumen terhadap telkom Flexi • Faktor pada pemersepsi • Faktor dalam situasi 8 Trendy Dengan Pendekatan Model Logit • Faktor pada target Apabila ditinjau dari hasil penelitian terdahulu maka penelitian kali ini terdapat persamaan dan perbedaan. 1. Persamaan pada penelitian Teori yang di bahas adalah tetang persepsi konsumen 2. Perbedaan pada penelitian a. Alat analisis yang dipakai b. Obyek penelitian c. Variabel yang digunakan B. Kajian Teoritis 1. Pemasaran dan Manajemen Pemasaran Pemasaran umumnya dipandang sebagai tugas untuk menciptakan, memperkenalkan barang atau jasa kepada konsumen dan perusahaan. Orang pemasaran melakukan pemasaran dari 10 jenis wujud yang berbeda: barang, jasa, pengayaan pengalaman, peristiwa, orang, tempat, kepemilikan, organisasi, informasi dan gagasan. Dalam bukunya Sunarto (2004: 4) mendifinisikan pemasaran adalah proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan, menawarkan, mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain, sedangkan menurut Asosiasi Pemasaran Amerika definisi pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, 9 promosi, serta penyaluran gagasan barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memiliki sasaran individu dan organisasi. Pendapat lain juga disampaikan oleh Basu Swastha dan Irawan (2003:5) pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditunjukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik pada pembeli yang ada ataupun pada pembeli yang potensial. Dari beberapa pendapat diatas dapat dimengerti bahwa pemasaran (Marketing) merupakan suatu sistem menyeluruh dari kegiatan usaha. Untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumen atau pemakai. Pemasaran berurusan dengan pengindntifikasian dan pemenuhan kebutuhan manusia, manajer pemasaranmenghadapi keputusan-keputusan besar, mulai dari keputusan utama cirri-ciri produk apa yang harus dirancang menjadi suatu produk baru, beberapa tenaga penjual dipekerjakan, atau berapa biaya periklanan, sampai kepada pencatuman kata-kata atau pemberian warna kemasan baru. Sedangkan manajemen pemasaran, menurut Kotler (2002:9) mendifinisikan manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan barang harga, promosi, serta penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran individu dan organisasi. Penanganan proses pertukaran supaya berhasil menurut sejumlah besar kerja dan keterampilan. Manajemen pemasaran terjadi bila sekurang-kurangnya satu pihak pelaku pertukaran potensial berpikir tentang sarana-sarana untuk melaksanakan tanggapan yang diinginkan oleh pihak pertama itu dari pihak lain. 10 2. Pengertian Jasa Jasa sering dipandang sebagai fenomena yang rumit. Kata jasa itu sendiri mempunyai banyak arti, dari mulai mutu pelayanan (personal service) sampai jasa sebagai suatu produk. Sejumlah ahli tentang jasa telah berupaya untuk merumuskan definisi jasa secara konklusif. Diungkapkan definisi tentang jasa seperti di bawah ini: Kolter (1997: 83) merumuskan jasa seperti yang dikutip oleh Yazid (1999:2) "Setiap tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksinya bisa juga tidak terikat pada suatu produk fisik.". Sedangkan menurut William J. Stanton (1981:592) dalam Bukhari Alma (2002:243) jasa adalah sesuatu yang dapat diindentifikasi secara terpisah tidak terwujud, ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan. Jasa dapat dihasilkan dengan menggunakan benda-benda berwujud atau tidak. Dalam rumusan yan agak mirip dengan definisi Philip Kolter R.G. Mudrick,dkk (1990) dalam yazid (1999:4) mendefinisikan jasa dari penjualan dan konsumsi secara kontras dengan barang. "barang adalah suatu objek yang tangible yang dapat diciptakan dan dijual atau digunakan setelah selang waktu tertentu. Jasa adalah intangible (seperti kenyamanan, hiburan, kecepatan kesenangan dan kesehatan) dan perishable (jasa tidak mungkin disimpan sebagai persediaan yang siap dijual atau dikonsumsi pada saat diperlukan) jasa diciptakan secara simultan. Pendapat lain juga dinyatakan oleh Valarie A. Zeithaml dan Mari Jo.Bitner (2000:3) dalam Bukhari Alma (2002:244) bahwa jasa adalah suatau kegiatan ekonomi 11 yang outputnya produk dikonsumsi bersamaan dengan waktu produksi dan memberikan nilai tambah (seperti kenikmatan, hiburan, santai, sehat). Jadi, dapat disimpulkan bahwa jasa atau layanan merupakan suatu kinerja yang tidak berwujud, lebih dapat dirasakan dan tidak mengakibatkan adanya perpindahan kepemilikan barang dalam proses mengonsumsi jasa atau layanan seperti yang berlaku pada produk yang berupa barang. Sehingga kesuksessan perusahaan jasa atau layanan akan sangat tergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja yang ditawarkan oleh pihak perusahaan sebagai produsen. 3. Pengertian Kualitas Jasa Keunggulan suatu produk jasa atau layanan tergantung pada kualitas layanan yang diperlihatkan oleh jasa atau layanan tersebut. Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa atau layanan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Supranto (2001: 228) menambahkan bahwa aplikasi kualitas sebagai sifat penampilan produk atau kinerja merupakan bagian utama dari strategi perusahaan dalam rangka meraih keunggulan yang berkesinambungan, baik sebagai pemimpin pasar ataupun sebagai strategi untuk terus tumbuh. Sedangkan menurut Wycof yang dikutip oleh Tjiptono (2002: 59) berpendapat bahwa "kualitas jasa atau pelayanan adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Sedangkan menurut Goetsh dan Davish dikutip oleh Tjiptono (1996: 51) bahwa kuwalitas jasa merupakan suatu kondisi dinammis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi harapan. 12 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kualitas layanan adalah suatu kinerja yang harus dipahami sebagai nilai yang diterima para pelanggan, yang dapat memenuhi kebutuhan serta harapan mereka. 4. Kualitas Pelayanan Parasuraman, Zeithaml dan Bery Tjiptono (1996:80) membentuk model kualitas layanan yang tinggi (lihat gambar) model kualitas tersebut mengidentifikasikan lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan penyampaian layanan, yaitu: a. Kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen, manajemen tidak selalu memahami benar apa yang menjadi keinginan pelanggan. b. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi kualitas layanan manajemen, mungkin benar dalam memahami kenginan pelanggan tetapi tidak menetapkan standar pelaksanaan yang spesifik. c. Kesenjangan antara spesifik kualitas jasa dan penyampaian jasa, para personil mungkin tidak terlatih baik atau bekerja melampui batas dan tidak mampu atau tidak bersedia memenuhi standar yang berlawanan seperti menyediakan waktu untuk mendengarkan pelanggan dan melayani dengan cepat. d. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal, harapan konsumen dipengarui oleh pernyataan yang dibuat oleh perusahaan e. Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan. Kesenjangan ini terjadi bila pelanggan mengukur kinerja perusahaan 13 dengan cara berbeda dan memiliki persepsi yang keliru mengenai kualitas jasa 5. Perilaku Konsumen Sebelum kita mempelajari lebih jauh tentang perilaku konsumen, ada beberapa pakar yang mendifinisikan tentang pengertian konsumen, menurut Gerald Zaltman dan Melani Wallendorf (1979:6) perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan social yang dilakukan individu, kelompok, dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai suatu akibat dari pengalamannya dengan produk, pelayanan, dan sumber-sumber lainnya. Sedangkan menurut David L. Loudon dan Albert J.Della Bittar (1993:5) mengemukakan bahwa perilaku konsumen dapat didifinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barng dan jasa. Pengertian perilaku konsumen menurut James F. Engel et al. (1968:8) adalah sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan kepetusanyang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut. Dalam Islam, Muhammad muflih (2006:4) mengemukakan bahwa perilaku seorang konsumen islam harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah Swt. Inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumen konvensional. Setiap pergerakan dirinya, yang berbentuk belanja sehari-hari, tidak lain adalah manifestasi 14 zikir dirinya atas nama Allah. Dengan demikian, dia lebih memilih jalan yang dibatasi Allah dengan tidak memilih jalan yang dibatasi Allah dengan tidak memilih barang haram, tidak kikir, dan tidak tamak supaya hidupnya selamat baik di dunia maupun di akherat. a. Variabel-variabel dalam Mempelajari Perilaku Konsumen Ada tiga variable dalam mempelajari perilaku konsumen, yaitu variable stimulus, variable respon, dan variable antara. Hal ini sesuai dengan pendapat David L. Louden dan Albert J. Della Bitta (1984: 24-26) 1. Variable Stimulus Variable stimulus merupakan variable yang berada diluar diri individu (Faktor eksternal) yang sangat berpengaruh dalam proses pembelian. Contohnya: merek, jenis barang, iklan 2. Variable Respon Variable respon merupakan hasil aktivitas individu sebagai reaksi dari variable stimulus. Variable respons sangat berguna pada factor individu dan kekuatan stimulus. Contohnya: keputusan membeli barang, pembeli memberi penilaian terhadap barang, perubahan sikap terhadap suatu produk 3. Variabel Intervening Variable intervening adalah variable antara stimulus dan respons, variable ini merupakan faktor internal individu, teramasuk motif-motif membeli, sikap terhadap suatu peristiwa, dan persepsi terhadap suatu barang. Peranan variable intervening adalah untuk memodivikasi respons. 15 b. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Ada dua kekuatan dari faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu kekuatan sosial dan kekuatan psikologis, hal ini sesuai dengan pendapat William J. Stanton (1981: 105). kekuatan psikologis terdiri dari belajar, keperibadian, sikap dan keyakinan, persepsi dan gambaran diri. Perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor budaya, social, pribadi dan psikolog, dalam faktor psikolog ini, pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikolog utama motivasi, persepsi, pembelanjaran, serta keyakinan dan pendirian. Model perilaku konsumen menurut Howard dan Shath menunjukkan suatu proses yang mempengaruhi perilaku konsumen sebelum dan sesudah terjadinya pembelian. Gambar 1 Tiga variable yang utama menurut Howard dan Sheth Perseption Stimuli Learning Output Hipothetical Constructs Exogenous Variables Sumber Anwar prabu (2002:24) Ada tiga variable utama pada model ini, yaitu persepsi, belajar, dan sikap. Tujuan model perilaku konsumen ini adalah untuk menjelaskan bagaimana 16 konsumen memandingkan dan memilih satu produk yang sesuai dengan kebutuhannya 6. Persepsi Persepsi pada hakekatnya merupakan suatu proses mengenai bagaimana cara kita memandang dunia sekitar. Oleh karena cara atau proses tersebut berbeda untuk setiap individu maka persepsi mengenai sesuatu hal tersebut tentunya berbeda untuk masing-masing orang. Selanjutnya masing-masing individu akan cenderung bertindak dan bereaksi berdasarkan persepsinya masing-masing. Secara formal Dalam bukunya Bilson (2004:104), persepsi dapat didifinisikan sebagai suatu proses, dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, dan menginterpretasi stimuli ke dalam suatu gambaram dunia yang berarti dan menyeluruh. Stimuli adalah setiap input yang dapat ditangkap oleh indra, seperti produk, kemasan, merek, iklan, harga, dan lain-lain. Persepsi menurut Kotler (2002:198) adalah proses yang digunakan seseorang individu untuk memilih, mengorganisasi, dan mengiterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan ligkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Banyak pemasaran yang perduli terhadap persepsi yang tidak disadari. Persepsi demikian terjadi pada saat stimulus berada di bawah kesadaran konsumen. Dengan kata lain, stimulus yang disampaikan tidak langsung berbicara mengenai produk. Setimuli dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah stimuli fisik (physical stimuli)yang dataing dari lingkungan sekitar. Tipe kedua adalah stimuli yang 17 berasal dari dalam si individu itu sendiri dalam bentuk predisposisi, seperti harapan, motivasi, dan pembelajaran didasarkan dari pengalaman sebelumnya Kombinasi keduanya menghasilakan gambaran yang bersifat pribadi, karena manusia merupakan entitas yang unik, dengan pengalaman, keinginan, kebutuhan, hasrat, dan pengharapan yang unik, akibatnya persepsi juga unik. Kata kunci dari persepsi adalah individu, seseorang mungkin menganggap wiraniaga yang berbicara dengan cepat sebagai seorang yang agresif dan tidak jujur, yang lain mungkin menganggap orang yang sama sebagai seseorang yang pintar dan suka membantu. Persepsi orang-orang berbeda terhadap realitas yang sama karena ada perbedaan dalam 1. Perceptual Selection Kapasitas otak manusia terbatas, sehingga tidak mungkin semua stimuli tertampung. Secara alamiah, otak kita menggerakkan pancaindra untuk menyeleksi stimuli untuk diperhatikan. Stimuli tergantung dua faktor, yang pertma yaitu faktor personalia yang terdiri dari a. Pengalaman, orang cenderung memperhatikan stimuli yang berkaitan dengan pengalaman b. Kebutuhan, orang-orang cendrung memperhatikan stimuli yang berhubungan dengan kebutuhan saat ini. c. Pertahanan diri, orang akan melihat apa yang ingin dilihat dan melewatkan apa yang tidak ingin dilihat d. Adaptasi, semakin konsumen beradaptasi terhadap sesuatu stimulus, akan semakin kurang ia akan memperhatikan stimulus tersebut. Perhatian konsumen akan lebih tinggi terhadap stimuli yang unik. 18 2. Sedangkan faktor yang kedua adalah faktor stimulus, yang mana faktor stimulus memegang peranan dalam merebut perhatian konsumen. Hokum kontras seperti yang dikemukakan Weber berlaku di sini, stimulus yang kontras, yaitu yang lain dari sekelilingnya, lebih mungkin untuk mendapat perhatian. Kontras ini dapat diciptakan melalui a. Ukuran, soal ukuran, tidak selalu bahwa semakin besar ukurannya, stimulus tersebut semakin kontras. b. Warna, faktor “berbeda dari yang lain” dapat meningkatkan kontras suatu stimulus c. Posisi d. Keunikan, sifat lain dari yang lain dapat meningkatkan kontras suatu stimulus 3. Pengorganisasian Manusia cenderung membuat keteraturan untuk hal-hal yang tidak teratur, demikian pula soal persepsi. Stimuli yang berjimbun yang dating dari lingkungan tidak diserap begitu saja. Setiap orang melakukan pengorganisasian terhadap stimuli tersebut. 4. Interpretasi Interpretasi adalah proses memberikan arti kepada stimuli sensoris, iterpretasi tergantung pada harapan bagimana seharusnya stimulus (what the people expected stimulus to be). Seringkali stimuli membinggungkan karena sulit memberi arti. Mungkin stimuli demikian tidak jelas dipandang, penjelasan terlalu singkat, suasana berisik, atau berfluktasi terus menerus. 19 a. Unsur-unsur Persepsi Persepsi berkaitan erat dengan pemrosesan informasi karena persepsi merupakan proses yang menjelaskan bagaimana konsumen mencapai dan memahami suatu informasi melalui indera. Dalam persepsi terdapat tiga unsure yang harus diperhatikan untuk dapat menunjang pemrosesan informasi yang sedanbg berlangsung. Ketiga unsure persepsi tersebut sebagaimana yang diungkapkan oleh Assael (1992:45) 1. Atantion, (perhatian) Yaitu usaha individu dalam mengalokasikan kapasitas penerimaannya terhadap satu atau lebih stimuli yang ada 2. Comprehonsion (pemahaman) Yaitu suatu proses individu dalam mengorganisasi dan menginterpretasi stimulus. 3. Retetion (ingatan) Yaitu suatu proses penerimaan dan penyimpanan informasi dalam jangja waktu tertentu untuk dapat digunakan lagi apabila diperlukan. b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Persepsi membantu individu dalam memilih, mengatur, menyimpan, dan menginterpretasikan rangsangan menjadi gambaran yang utuh dan berarti. Dalam proses pengertian tersebut tiap individu mempunyai cara tersendiri dalam memperhatikan rangsangan, sehingga bukan tidak mungkin akan terjadi perbedaan interpretasi dalam rangsangan yang sama. Pengertian persepsi secara singkat adalah tanggapan langsung oleh seseorang terhadap sesuatu yang dilihatnya, dan 20 Faktor pada pemersepsi: 􀂃 Sikap 􀂃 Motif 􀂃 Kepentingan 􀂃 Pengalaman hPERSEPSI Factor dalam situasi 􀂃 Waktu 􀂃 Keadaan/tempat kerja 􀂃 Keadaan sosial dirasakannya. Dalam bukunya Robbins di katakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang terhadap sesuatu, di sebabkan karena faktor pada pemersepsi, pada situasi dan pada target. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi Gambar 2 Factor pada target 􀂃 Hal baru 􀂃 Gerakan 􀂃 Latar belakang 􀂃 kedekatan Sumber: Robbins(1996-126) 7. Persepsi Dalam Islam Dalam hubungannya dengan perilaku konsumen muslim, perbedaan persepsi manusia ini tak dapat dielakkan. Namun demikian, bukan berarti bahwa persepsi tidak memiliki rambu-rambu. Sebab pada dasarnya ada batasan-batasan tertentu yang harus ditaati persepsi agar dia tidak liar. Hanya persepsi liarlah yang secara sadar mengontradiksikan dirinya dengan ajaran agama. 21 Dalam bahasa arab konsep persepsi disebutkan dengan istilah ا الحسن دراك yang arinya adalah persepsi atau daya pemahaman Persepsi adalah fungsi psikhis yang penting, dalam Al-quran beberapa proses dan fungsi persepsi di mulai dari proses penciptaan. Dalam surat Q.S. Al-mu’minun ayat 12-14 &⎦⎫Å3¨Β9‘#ts%’ÎûZπxôÜçΡçμ≈oΨù=yèy_§ΝèO&⎦⎫ÏÛ⎯ÏiΒ7's#≈n=ß™⎯ÏΒ$oΨø)n=yzôô‰s)s9uρ∩⊇⊄∪z⎯≈|¡ΣM}$# $Vϑ≈sàÏãsπtóôÒßϑø9$#$uΖø)n=y‚sùZπtóôÒãΒsπs)n=yèø9$#$uΖø)n=y‚sùZπs)n=tæsπxôÜ‘Ζ9$#$uΖø)n=yz¢ΟèO∩⊇⊂∪ t⎦⎫É)Î=≈sƒø:$#ß⎯|¡ômr&4$¸)ù=yzçμ≈tΡù't±Σr&¢ΟèO$Vϑøtm:zΟ≈sàÏèø9$#$tΡöθ|¡s3sù∩⊇⊆∪ª!$#x8u‘$t7tFsùtyz#u™ 12. Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (DEPAG. R. I, 1989:527) Proses persepsi dilalui dengan proses penerimaan stimulus pada reseptor yaitu indra, yang tidak langsung berfungsi setelah ia lahir. Sebagai mana di jelaskan dalam ayat Al-Quran QS. An-Nahl ayat 78: 22 yìôϑ¡¡9$#ãΝä3s9$\↔ø‹x©šχθßϑn=÷ès?öΝä3ÏF≈yγ¨Βé&ÈβθäÜç/.⎯ÏiΒΝä3y_t÷zr&Ÿ≅yèy_uρŸωª!$#uρ šχρãä3ô±s?öΝä3ª=yès9nοy‰Ï↔øùF{$#uρt≈|Áö/F{$#uρ∩∠∇∪ Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dengan keadaan tidak mengetahui sesuatunya, dan dia memberi kamu pendengaran, pengihatan dan hati, agar kamu bersyukur (Al-Quran Terjemahan,DEPAG 1995:413) Ayat di atas menerangkan bahwa manusia dilahirkan dengan tidak mengetahui sesuatu apapun, maka Allah melengkapi manusia dengan alat indra sehingga manusia dapat merasa atas apa yang terjadi padanya dari pengaruh-pengaruh luar yang baru dan mengandung perasaan-perasaan yang berbeda sifatnya antara satu dengan yang lainnya. Dalam bukunya Najati (2001: 134) Persepsi adalah fungsi yang penting dalam kehidupan, yang dengannya mahluk hidup mengerti apa yang akan menyakitinya, hingga dengannya ia pun segera menjauhi. Disamping itu juga mengerti apa yang bermanfaat bagi dirinya, yang karenanya maka ia akan berusaha untuk mencapainya. Dengan akal, manusia mampu untuk menarik kesimpulan dari keindahan ciptaan Allah swt, Allah telah berfirman: 23 É#õ3tƒöΝs9uρr&3‘,ptø:$#çμ¯Ρr&öΝßγs9t⎦¨⎫t7oKtƒ4©®LymöΝÍκŦàΡr&þ’ÎûuρÉ−$sùFψ$#’Îû$uΖÏF≈tƒ#u™óóΟÎγƒÎã∴y™ Íκy−&™ó©x«Èe≅ä.…çμ¯Ρr&y7În/tÎ/∩∈⊂∪4’n?tã Artinya: ”kami (Allah) akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami segenap ufuk, dan juga pada diri mereka sendiri. Sehingga menjadi jelaslah bagi mereka, bahwa Al-quran itu adalah benar. (QS.Fushshilat:53 ) Pikiran, perasaan, kerangka acuan, pengalaman-pengalaman, atau dengan kata lain keadaan pribadi orang yang mempersepsi akan berpengaruh dalam seseorang mempersepsi suatu barang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa persepsi melibatkan semua komponen otak, terutama pusat-pusat pengertian dan emosi. Dalam Al-quran menyebutkan ayat yang menghubungkan fungsi indra dengan fungsi pemahaman dalam surat AL-Anfal :22 tβθè=É)÷ètƒš⎥⎪Ï%©!$#ãΝõ3ç6ø9$#•ΜÁ9$#y‰ΖÏãÉb>!#uρ£‰9$#§Ÿ°¨βÎ)*∩⊄⊄∪Ÿω«!$# Artinya: ”Sesungguhnya mahluk yang terburuk dalam pandangan Allah adalah yang tuli dan bisu, mereka tidak menggunakan akal” (QS Al-Anfal:22) Maksudnya dari ayat ini adalah manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran. 24 Dalam ayat alQuran, Allah juga menyatakan secara tegas mengenai indra, rasio dan hati sebagai berikut: tβρãä3ô±n@$¨ΒWξ‹Î=s%4nοy‰Ï↔øùF{$#uρt≈|Áö/F{$#uρyìôϑ¡¡9$#â/ä3s9ü“Ï%©!$#uuθèδuρ∩∠∇∪r't±Σr& Artinya: ”Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (QS. AL-Mukminun:78) Yang dimaksud dengan bersyukur di ayat ini ialah menggunakan alat-alat tersebut untuk memperhatikan bukti-bukti kebesaran dan keesaan Tuhan, yang dapat membawa mereka beriman kepada Allah s.w.t. serta taat dan patuh kepada-Nya. kaum musyrikin memang tidak berbuat demikian. tβρãä3ô±n@$¨ΒWξ‹Î=s%(nοy‰Ï↔øùF{$#uρt≈|Áö/F{$#uρyìôϑ¡¡9$#â/ä3s9ö/ä.r't±Σr&ü“Ï%©!$#uθèδöö≅è%Ÿ≅yèy_uρ ∩⊄⊂∪ Artinya: Katakanlah: "Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur (QS. Al Mulk:23) Persepsi adalah fungsi yang membantu setiap manusia dan hewan. Bahwasanya Allah telah mengistimewakan manusia dengan fungsi persepsi lain yang penting, yang itu membedakannya dengan hewan, yaitu akal. Dengannya manusia mampu memahami fakta-fakta empiris, di mana manusia akan berpikir dalam makna-makna abstrak, seperti baik-buruk, keutamaan dan kehinaan 25 C. Kerangka Berfikir Gambar 3 ANALISIS RESPONSI KONSUMEN TERHADAP TELKOM FLEXI TRENDY 1. Bagaimana persepsi konsumen terhadap Telkom Flexi Trendy 2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan persepsi konsumen 3. Faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap persepsi konsumen Telkom Flexi trendy? Konsumen Persepsi dipengaruhi oleh 1. Faktor-faktor pada pemersepsi 2. Faktor dalam situasi 3. Faktor pada target Telkom Flexi Trendy Hasil Persepsi kurang baik Persepsi baik Telkom flexi Trendy merupakan alat komunikasi yang berbasis CDMA, banyak konsumen yang memakai produk ini, namun apakah yang membuat mereka memakai produk ini? sehingga peneliti ingin melihat bagaimana persepsi konsumen dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi persepsi konsumen, dan diantara 26 faktor-faktor yang ada yang paling berpengaruh pada konsumen, Secara global persepsi konsumen di pengaruhi oleh empat faktor, dan ini yang menyababkan persepsi konsumen baik atau buruk terhadap telkom flexi Trendy 27 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Dalam lokasi penelitan penulis mengambil lokasi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam negeri Malang (UIN) B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Berhubungan dengan judul yang dikemukakan maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelilian kuantitatif yaitu penelitian yang data-datanya berupa angka-angka atau data-data yang diangkakan (Sugiyono,2001:22) dengan pendekatan survai yaitu penelitian yang mengambil sampel dari populasi dan menggunakan kuisoner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun 1995:3). C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Menurut Singarimbun dan Effendi (1989:153) populasi (universe), adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga,pada penelitian ini populasinya adalah mahasiswa fakultas ekonomi UIN Malang 2. Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini Accidental Sampling. Menurut Sugiyono (2004:77). Accidental Sampling yaitu teknik pengambilan sample berdasarkan kebetulan, yakni siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti pada saat penelitian berlangsung dan 28 dapat digunakan sebagai sample bila dipandang memenuhi syarat sebagai sumber data. Sebagai sample penelitian ini adalah mahasiswa fakultas ekonomi UIN Malang, pengambilan lokasi pada mahasiswa fakultas ekonomi karena didasari pada alasan bahwa di sana terdapat elemen-elemen populasi yang memungkinkan serta berpotensi untuk menggunakan Telkom Flexi Trendy baik pada saat penelitian ataupun mendatang. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 55 sampel. Jumlah ini dianggap sudah memenuhi persyaratan dikarenakan jumlah populasi tidak diketahui dengan pasti, dimana menurut Malhotra (1996) untuk dapat menentukan jumlah sampel yang tidak diketahui jumlah populasinya dapat ditentukan minimal 4 atau 5 kali dari jumlah variabel yang digunakan. D. Data dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini yakni 1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh dari lapangan dengan menggunakan metode yang telah ditentukan seperti menyebarkan kuisioner, mengadakan wawancara serta melakukan observasi. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh daripihak lain, bukan diusahakan sendiri. Sumber data untuk jenis data sekunder ini adalah bukti-bukti tulisan, jurnal-jurnal, laporan penelitian yang terkait dengan penelitian ini. 29 E. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1. Penelitian Kepustakaan, untuk menunjang dan mempelancar penulisan skripsi ini, maka diperlukan pengetahuan yang didapat dari perpustakaan atau sumber pustaka lainya. 2. Penelitian Lapangan yang meliputi: a. Kuesioner (angket), merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (sugiyono, 2004:135). Alasan menggunakan teknik ini supaya responden (pelanggan) tidak perlu memberikan penjelasan secara panjang lebar dan juga sangat praktis, tegas, hemat dan effisien dalam mengungkapkan inti persoalan. Cara ini digunakan untuk memperoleh data primer yang diperlukan oleh peneliti. b. Wawancara atau interview, merupakan metode pengumpulan data yang berupa pertanyaan yang diajukan secara lisan kepada konsumen yang terpilih sebagai sample guna mendukung jawaban yang mereka sampaikan dengan kuesioner. F. Konsep, Variabel, Definisi Operasional 1. Konsep, Variabel, Indikator dan Item Dalam rancangan penelitian perlu ada batasan pengertian dan konsep yang dimaksud, menurut Singarimbun dan Efendi (1989:34) mengemukakan bahwa ”konsep adalah generalisasi dari kelompok fenomena tertentu sehingga dapat dipakai untuk mengambarkan berbagai fenomena yang sama” 30 Agar konsep dapat diteliti, maka dapat dijabarkan ke dalam variabel-variabel. Menurut Arikunto(1993:89) ” variabel adalah gejala yang bervariasi, sedangkan gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi” Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka konsep dari variabelnya di uraikan sebagai berikut: a. Faktor-faktor pada pemersepsi (X1), terdiri dari kepentingan dan kebutuhan konsumen b. Faktor-faktor dalam situasi (X2), mencakup pada waktu dan keadaan c. Faktor pada target (X3), terdiri dari hal baru dan latar belakang konsumen d. Konsumen yang memaki Flexi Trendy dan konsumen yang tidak memaki flexi Trendy (Y) Konsep Variabel Indikator Item-item 1. Faktor-faktor pada pemersepsi 1. Kepentingan Kepentingan/kebutuhan a. Kebutuhan untuk menggunakan telkom Flexi trendy b. Kemampuan memenuhi kebutuhan 2. Pengharapan Pelayanan, inovasi,tarif yang murah a. Pelayanan telkom Flexi Trendy b. Inovasi teknologi telkom Flexi Trendy 31 c. Tarif telkom Flexi Trendy yang murah 1. Waktu Kemudahan Kemudahan dalam menggunakan telkom Flexi Trendy dalam waktu apapun 2. Faktor dalam situasi 2. Keadaan Objek fisik, Teknologi a. Daya tarik telkom Flexi Trendy b. Inovasi teknologi 1. Hal baru Informasi/pengetahuan a. Banyaknya informasi tentang telkom Flexi Trendy b. Sumber informasi 3. Faktor pada target 2. Latar belakang Pendapatan, pendidikan a. Pendapatan b. Pendidikan 2. Skala Pengukuran Pada penelitian ini pengukuran yang dilakukan adalah menggunakan skala likert. Dimana skala likert menurut Efendy dalam Singarimbun (1987:111) adalah ukuran gambaran yang didasarkan pada suatu cara yang lebih sistemasis untuk memberi skor pada indeks. Skala likeet digunakan untum mengukur pendapat, persepsi seseorang atau sekel;ompok orang tentang fenomena social (Sugiono 1993:63). 32 Dalam penelitian ini, peneliti membagikan kuesioner yang disusun dengan menggunakan lima alternative jawaban atau tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Responden yang diteliti diminta memberikan jawabannya dengan memilih satu alternative jawaban yang telah disediakan. Menurut Singarimbun san Sofyan Efendy (1989:102) digunakan kreteria dengan sisten skor ordinal, yaitu skor yang memungkinkan peneliti untuk mengurutkan respondennya dari tingkat-tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi atau sebaliknya menurut suatu atribut tertentu. Tingkat ukuran ordinal banyak digunakan dalam penelitian untuk mengukur kepentingan sikap. Melalui pengukuran ini, peneliti membagi respondennya kedalam urutan rengking atas dasar sikapnya pada objek atau tindakan tertentu. System skor ordinal dalam penelitian ini menggunakan skala likert, bentuk ini digunakan apabila peneliti menginginkan data tentang pendapat responden mengenai masalah yang diteliti. Jawaban dari responden yang bersifat kualitatif dikuantitatifkan, di mana jawaban untuk pertanyaan diberi skor sebagai berikut: 1. Sangat setuju mempunyai “5” 2. Setuju mempunyai bobot nilai “4” 3. Ragu-ragu mempunyai bobot “3” 4. Tidak setuju mempunyai nilai “2” 5. Sangat tidak setuju mempunyai bobot “1” Skala likert adalah bahwa makin tinggi skor yang positif terhadap obyek yang diperoleh oleh seorang responden, merupakan indikasi bahwa responden sikapnya makin positif terhadap obyek yang ditelitia 33 G. Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Dengan kata lain, mampu memperoleh data yang tepat dari variabel yang diteliti (Simamora, 2004: 172). Cara menguji validitas adalah dengan menghitung korelasi antara skor masing-masing pertanyaan dan skor total, dengan menggunakan rumus teknik korelasi produk momen, seperti yang dinyatakan Arikunto (2002: 146) sebagai berikut: r xy =N2222)(()())(()(yyNNyyxΣ−Σ×Σ−ΣΣΣ×Σ−×Σ Dimana: r xy = koefisien produk momen N = jumlah responden atau sampel x = jumlah jawaban variabel X y = jumlah jawaban variabel Y Nilai r xy yang diperoleh dikaitkan dengan tabel r, bila r xy < nilai r tabel, maka butir kuesioner dinyatakan gugur. Bila r xy > nilai r tabel, maka butir kuesioner dinyatakan valid. Sebuah data dapat dikatakan valid, apabila validitas tersebut harus ≥ 0,30, maka data tersebut dapat dikatakan valid. 34 2. Uji Reliabilitas. Reliabilitas adalah tingkat keandalan kuesioner. Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dicobakan secara berulang-ulang kepada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama. Asumsinya, tidak terdapat perubahan psikologis pada responden. Memang, apabila data yang diperoleh sesuai dengan kenyataannya, berapakali pun pengambilan data dilakukan, hasilnya tetap sama (Simamora, 2004: 177). Rumus yang digunakan adalah menggunakan rumus Alpha yang digunakan untuk menganalis reliabilitas kuesioner yang skalanya bukan 0 dan 1 (Simamora, 2004: 191) (skala penelitian ini menggunakan skala Likert dengan nilai mulai 1 – 5). Rumus Alpha dalam Simamora (2004: 191) dapat dirumuskan sebagai berikut: r11 = ( k ) (1 – Σ  b ²) (k – 1)  t ² keterangan: r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan Σ  b ² = Jumlah varians butir  t ² = Varians total Sebuah data dapat dikatakan reliabel apabila rebilitas tersebut ≥ 0,60 (Ghozali, 2005: 42). 35 H. Metode Analisis Data Untuk menjawab kedua tujuan tentang bagaimana persepsi konsumen, dan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan persepsi, maka menggunakan analisis berganda model ligit. Dengan menggunakan bantuan program SPSS. Menurut kuncoro (2001) model logit adalah suatu cara untuk mengkuantitatifkan hubungan antara probabilitas dua pilihan dengan beberapa karakteristik yang dipilih, bentuk dasar logit yang dikemukakan oleh Gujarati (1995) adalah: Pi=E (Y=1|Xi)=1β+2βXi…………………………………………….(1) Dimana X adalah variable independent, dan Y= 1 jika konsumen memakai telkom flexi trendy. Model ini menunjukan konsumen yang memakai Telkom Flexi Trendy: Pi=E(Y=1)|Xi=( Xi2111ββ+−+l…………………………………… (2) Dimana : Pi=zi−+l11……………………………………………………………...(3) Persamaan di atas merupakan logistic distribution Function (logit) dimana: Zi=β1+ β2 Xi………………………………………………………… (4) Bila P1 adalah probabilitas untuk konsumen yang memakai Telkom Flexi Trendy yaitu Yi=1, dan (1-Pi) adalah probabilitas untuk konsumen yang tidak memakai Telkom Flexi Trendy yaitu Yi=0, maka: 1-Pi=zil+11…………………………………………………………… (5) Selanjutnya untuk persamaan (1) dapat diubah menjadi: 36 pipi−1=zizi−++ll11=e…………………………………………………… (6) zi Pi/(1-Pi) adalah odds ratio dalam hal keputusan untuk memakai Telkom flexi trendy, yaitu probabilitas bahwa konsumen yang memutuskan untuk memaki Telkom Flexi Trendy terhadap konsumen yang memutuskan untuk tidak memaki telkom flexi Trendy. Dengan menggunakan logaritma alamiah (natural log), dapat diperoleh persamaan Li=L(npipi−1)=Zi=iβ+2βXi…………………………………………(7) Adalah log dari odds ration, yang tidak hanya linier pada variable X, namun juga linier pada parameternya, L disebut logit, selanjutnya konsumen memutuskan untuk memakai Telkom Flexi trendy, maka: L=L(n01)……………………………………………………………….(8) Sedangkan jika konsumen tidak memakai telkom flexi Trendy L=L(n10)………………………………………………………………(9) Pendugaan parameter yang menggunakan data individu dilakukan dengan prosedur. Maxsimum log likelihood. Model umum analisis logitnya (dari keputusan konsumen memakai telkom flexi trendy) adalah Y= f (X1, X2, X3, X4……..D) dari model umum ini kemudian dibuat sebuah model persamaan regresi yang akan diestimasikan dengan bentuk: Y=a+b1X1+b2 X2+…………..b10 D6+u Dimana: 37 Y= 1,konsumen memakai Telkom Flexi Trendy Y=0, Konsumen tidak memakai Telkom Flexi Trendy a = Konstanta b1….b10= Koefisien regresi X1 = faktor-faktor pada pemersepsi X2 = faktor dalam situasi X3 = faktor pada target U = galat (eror) I. Uji Hipotesis 1. Chi-square model Untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat digunakan dalam model regresi logistic yaitu nilai Wald Statistic yang mengikuti pola distribusi Chi-square. Dikatakan berpengaruh jika nilai wald statistic lebih kecil dari dari nilai Chi-Square tabel pada derajat bebas df=1 atau melihat tingkat signifikan sebesar α= 0,05 ( Widayat,2004:229). 2. Partial correlation = R Dalam pengujian variabel kualitas produk, variabel mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kepuasan pelanggan dapat diketahui dengan menggunakan metode korelasi parsial (partial correlation), yaitu untuk mengetahui besarnya kontribusi masing-masing variabel kualitas produk dengan menghitung koefisien korelasi parsial dari masing-masing 38 variabel, (Widayat,2004:230). Besarnya berkisar antara -1 sampai dengan +1. Nilai positif menunjukkan bahwa kenaikan nilai dari variabel tersebut berdampak pada kenaikan Likelihood terjadinya peristiwa tersebut, demikian sebaliknya. Nilai R yang rendah menunjukkan bahwa kontribusi variabel tersebut rendah. Partial correlation dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut : R = ⎥⎥⎦⎤⎢⎢⎣⎡−−)0(22LLKwaldstatik Keterangan : R = Koefisien korelasi parsial K = Banyaknya variabel bebas LL = Likehood didasarkan pada model tanpa memasukan variable bebas )0( 39 BAB IV PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN A. Paparan Data Hasil Penelitian 1. Sejarah Umum PT. Telkom Tbk malang PT. TELEKOMUNIKASI INDONESIA terbentuk atau dikenal dengan TELKOM adalah suatu badan usaha yang memiliki sejarah panjang. Berawal dari Post En Telegraafdienst sebuah perusahaan swasta yang menyelenggarakan jasa-jasa pos dan telekomunikasi yang didirikan dengan staatsblad No. 52 Tahun 1884. Penyelenggaraan Telekomunikasi oleh swasta ini berlangsung sampai tahun 1906 dan sejak itu diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dengan berdasarkan kepada staatblad No. 395 Tahun 1906. Sejak itu berdirilah Post Telegraf En Telefoondients, atau disebut PTT Dients yang pada tahun 1927 ditetapkan sebagai Perusahaan Negara Pemerintah Hindia Belanda. Jawatan PTT berlangsung sampai dikeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) No. 19 Tahun 1960, yang menetapkan jawatan PTT untuk tetap menjadi perusahaan negara. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 240 Tahun 1961 Perusahaan Jawatan PTT berubah menjadi Perusahaan Negara (PN) Pos dan Telekomunikasi Dalam Pekembangan selanjutnya pemerintah memandang perlu untuk membagi PN. Pos dan Telekomunikasi menjadi 2 (dua) Perusahaan Negara yang berdiri sendiri, berdasarkan Peraturan Pemerintah No.29 Tahun 1965 dibentuk PN. Pos dan Giro dengan Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1965 didirikan PN. Telekomunikasi. 40 Kemajuan Teknologi dan jasa Telekomunikasi mendorong pemerintah untuk meningkatkan bentuk perusahaan Umum (PERUM). Untuk itu berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1974 resmi berdiri Perusahaan Umum Telekomunikasi yang terkenal dengan sebutan PERUMTEL. Dalam peraturan tersebut, PERUMTEL dinyatakan sebagai penyelenggaraan telekomunikasi untuk umum, baik hubungan telekomunikasi dalam negeri maupun luar negeri. Pada saat itu hubungan telekomunikasi luar negeri juga diselenggarakan oleh PT. Indonesia Satelit Coorporation (INDOSAT) yang saat itu berstatus perusahaan asing, bagian dari Amerika Cable dan Radio Coorporation, sebuah perusahaan di Negara bagian Delaware, Amerika Serikat. Seluruh saham PT. Indosat dengan modal asing tersebut, pada akhir tahun 1980 dibeli oleh negara Republik Indonesia Dan untuk selanjutnya dikeluarkan Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 1980, yang isinya tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1974. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 1980, PERUMTEL ditetapakan sebagai badan usaha penyelenggara Telekomunikasi dalam negeri dan Indosat sebagai penyelenggara Telekomunikasi jasa luar negeri. Memasuki Repelita V pemerintah merasakan perlunya percepatan pembangunan telekomunikasi, karena sebagai infrastruktur diharapka dapat memacu pembangunan sektor lainnya. Untuk itu berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1951, maka bentuk Perusahaan Umum (PERUM) dialihkan menjadi Perusahaan Perseroan (PERSERO), sebagai dimaksud dalam undang –undang No.9 Tahun 1969 sejak itu berdirilah Perusahaan Perseroan (PERSERO) Telekomunikasi Indonesia dengan sebutan TELKOM. 41 Perubahan dilingkungan TELKOM juga terus berlangsung, seperti perubahan bentuk perusahaan sejak dari Jawatan, Perusahaan Umum, Perusahaan Perseroan (PERSERO) sampai menjadi perusahan publik. Bahkan secara makro penyelenggaraan yang semula menjadi monopoli pemerintah secara berangsur diberlakukan privatisasi penyelenggara telekomunikasi. Kalau ditelaah, perubahab-perubahan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan perusahan. 2. Visi dan Misi PT.TELKOM merupakan perusahaan go publik yang selalu berusaha memberikan hasil terbaiknya bagi stackholder. Oleh karena itu dalam setiap usahanya PT.TELKOM berpihak dan bertumpu pada visi dan misi perusahaan yang dirumuskan sebagai berikut: a. Visi Visi TELKOM adalah “Menjadikan dominant infocom player di kawasan regional” dalam penyelenggaran bisnis telekomunikasi dan informasi dalam situasi yang kompetitif tampil sebagai pimpinan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kekuatan daya saing. b. Misi Misi dari TELKOM adalah memberikan layanan “One stop infocom”dengan kualitas yang prima dari harga kompetitif, mengelola usaha dengan cara yang baik mengoptimalkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang menjadi salah satu keunggulan dengan suatu kerja sama tim yang kompak, yang teknologi yang kompetitif dan dengan Bussiness Patner yang sinergi. Serta mendukung pembangunan nasional serta 42 mengutamakan pelanggan melalui pelayanan penyediaan lengkap dan terpadu oleh seluruh pengguna jasa telekomunikasi. 3. Struktur Organisasi Suatu perusahaan yang mengharapkan tujuan tercapai secara efektif dan efisien, memerlukan adanya struktur organisasi yang baik. Struktur organisasi juga menggambarkan pembagian tanggung jawab, wewenang dan tugas tersebut perlu diketahui agar karyawan yang memduduki jabatan tertentu dapat mengetahui sampai dimana batas tanggng jawab, wewenang dan tugas terhadap pekerjaannya. Struktur organisasi PT. TELKOM Kandatel Malang berbentuk garis dan staff, dimana kekuasaan mengalir secara langsung dari General Manajer ke Manajer yang kemudian dilanjutkan ke karyawan-karyawan di bawahya. Struktur organisasi ini lebih lengkapnya bisa dilihat dalam lampiran 4. Produk PT. Telkom Produk yang dihasilkan oleh PT.TELOM ada 4 macam yaitu: WIRELESS BASE, TELEPHONE SERVICE (POTS), BASEINTERNET BASE, CONECTION BASE Wireless Base adalah Jaringan seluler pertama didunia diperkenalkan pada awal 1980-an, menggunakan teknologi transmisi radio analog seperti AMPS (Advance Mobile Phone System). Dalam beberapa tahun, system seluler mencapai puncak kapasitasnya karena jutaan pelanggan baru mendaftar untuk memanfaatkan layanan ini, yang menurut airtime lebih dan lebih banyak lagi. Gagal panggil (Droped call) dan sinyal jaringan yang sibuk menjadi hal yang biasa di banyak tempat. 43 Untuk mengakomodasi makin banyaknya lalu lintas dalam spectrum radio terbatas, dunia industri mengembangkan seperangkat teknologi nirkabel digital yang disebut TDMA (Time Division Multiple Acess) dan GSM (Global System for Mobile). TDMA dan GSM mempergunakan protocol membagi waktu (Time Sharing Protocol) untuk meningkatkan system analog menjadi 3 hingga 4 kali lipatnya. Tetapi ketika TDMA distandarisasikan, sebuah solusi baru telah ditemukan dalam CDMA. Code Division Multiple Acess (CDMA) adalah sebuah teknologi nirkabel digital yang dipelopori dan dikembangkan secara komersial oleh QUALCOM. CDMA bekerjasama denagn cara mengubah percakapan atau suara menjadi digital, yang kemudian ditransmisikan sebagai sinyal radio melalui jaringan nirkabel. Menggunakan sebuah kode unik untuk memilih tiap jenis panggila CDMA membuat banyak orang bisa terbagi gelombang dalam satu waktu, tanpa ganguan. Jaringan CDMA petama secara komersial diluncurkan pada tahun 1995 dan menawarkan kapasitas sekitar 10 kali lebih besar daripada jaringan analog / jauh melampaui TDMA atau GSM. Sejak saat itu, CDMA menjadi teknologi nirkabel yang tumbuh paling pesat, dengan lebih dari 100 juta pelanggan diseluruh dunia. Selain mampu menampung lalu lintas yang lebih padat, CDMA juga menawarkan keuntungan-keuntungan lain bagi konsumen dan penyedia layanan, misalnya kualitas suara lebih jernih, jangkauan lebih luas, dan keamanan lebih terjamin. PT Telkom akan memanfaatkan CDMA sebagai telepon rumah (Fixed phone) dan telepon bergerak (mobiliti). Layanan fixed wilereless berbasis CDMA akan diberi brand Telkomflexi sebagai telepon bergerak terbatas dalam area kode, hal ini dimungkinkan karena memiliki fitur limited mobility. Para pakar teknologi telepon seluler sepakat bahwa kecanggihan CDMA jauh melebihi GSM yang sekarang ini 44 banyak dipergunakan oleh operator telepon seluler di Indonesia. Para pelaku bisnis telepon seluler (hand phone) memperkirakan bahwa Telkom flexi akan mendapat sambutan positif masyarakat mengingat tarifnya akan jauh berada di bawah GSM karena biaya investasinya sangat murah. Tentu aja, kehadiran Telkomflexi akan membuat lega calon pelanggan yang sudah lama mendambakan telepon hemat maupun pelanggan ponsel yang mendambakan telepon seluler alternative. Salah satu produk wireless base adalah Telkom Flexi Trendy, Telkom Flexi Trendy merupakan kartu Pra Bayar Isi Ulang dari TELKOMFlexi yang menawarkan kenyamanan dan kecepatan akses komunikasi. Produk ini memberikan berbagai fasilitas serta pilihan nominal pulsa sesuai yang diinginkan. B. Pembahasan Data Hasil Penelitian Kuisioner dalam penelitian ini digunakan sebagai alat analisa. Oleh karena itu dalam analisa yang dilakukan lebih bertumpu pada skor responden pada tiap-tiap amatan. Sedangkan benar tidaknya skor responsi tersebut tergantung pada pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang baik harus memenuhi 2 persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Deskripsi Variabel Untuk mengetahui banyaknya responden yang menjawab pertanyaan yang diajukan dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1 Distribusi Jawaban Responden No. Variabel Indikator Alternatif Jawaban Jawaban Responden Persentase (%) 1 Pemersepsi X1.1 a. Sangat Setuju 11 20.0 45 b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 28 6 6 4 50.9 10.9 10.9 7.3 2 X1.2 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 8 30 7 7 3 14.5 54.5 12.7 12.7 5.5 3 X1.3 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 1 12 17 13 12 1.8 21.8 30.9 23.6 21.8 4 X1.4 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 2 24 14 13 2 3.6 43.6 25.5 23.6 3.6 5 X1.5 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 4 14 16 17 4 7.3 25.5 29.1 30.9 7.3 6 X1.6 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 6 28 16 5 10.9 50.9 29.1 9.1 7 X1.7 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 14 30 6 3 2 25.5 54.5 10.9 5.5 3.6 8 X2.1 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 11 29 7 5 3 20.0 52.7 12.7 9.1 5.5 9 X2.2 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 15 32 5 3 27.3 58.2 9.1 5.5 10 Situasi X2.3 a. Sangat Setuju 6 10.9 46 b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 34 10 5 61.8 18.2 9.1 11 X2.4 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 6 35 9 5 10.9 63.6 16.4 9.1 12 X2.5 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 3 26 19 6 1 5.5 47.3 34.5 10.9 1.8 13 X2.6 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 3 7 27 11 7 5.5 12.7 49.1 20.0 12.7 14 X2.7 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 9 33 9 4 16.4 60.0 16.4 7.3 15 X3.1 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 10 27 8 9 1 18.2 49.1 14.5 16.4 1.8 16 X3.2 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 12 32 5 5 1 21.8 58.2 9.1 9.1 1.8 17 X3.3 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 10 31 5 8 1 18.2 56.4 9.1 14.5 1.8 18 X3.4 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju e. Sangat Tidak Setuju 9 23 8 13 2 16.4 41.8 14.5 23.6 3.6 19 Target X3.5 a. Sangat Setuju b. Setuju c. Ragu-ragu d. Tidak Setuju 7 31 7 8 12.7 56.4 12.7 14.5 47 e. Sangat Tidak Setuju 2 3.6 1. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas a. Uji Validitas Pengujian validitas sangat diperlukan dalam suatu penelitian, khususnya yang menggunakan kuisioner dalam memperoleh data. Pengujian validitas dimaksudkan untuk mengetahui keabsahan menyangkut pemahaman mengenai keabsahan antara konsep dan kenyataan empiris. Uji validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen, Suharsimi Arikunto (2002). Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang ingin diukur atau dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrument menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Pengujian validitas dapat dilakukan dengan cara mengkorelasikan masing-masing faktor atau variabel dengan total faktor atau variabel tersebut dengan menggunakan korelasi (r) product moment. Kriteria pengujian untuk menerima atau menolak hipotesis adanya pernyataan yang valid atau tidak dapat dilakukan dengan: H0 : r = 0, tidak terdapat data yang valid pada tingkat kepercayaan (α) 5%. H1 : r ≠ 0, terdapat data yang valid pada tingkat kepercayaan (α) 5%. Hipotesa nol (H0) diterima apabila r hitung < r tabel, demikian sebaliknya hipotesa alternatif (H1) diterima apabila r hitung > r tabel. 48 Pengujian validitas yang dilakukan dengan melalui program SPSS ver. 13.0 dengan mengggunakan korelasi product moment menghasilkan nilai masing-masing item pernyataan dengan skor item pertanyaan secara keseluruhan dan untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Uji Validitas Pada Kualitas Pelayananpengguna flexi Trendy No. Indikator Koefisien Validitas r tabel Keterangan 1 X1.1 0.773 0.266 Valid 2 X1.2 0.798 0.266 Valid 3 X1.3 0.787 0.266 Valid 4 X1.4 0.762 0.266 Valid 5 X1.5 0.563 0.266 Valid 6 X1.6 0.497 0.266 Valid 7 X1.7 0.343 0.266 Valid 8 X2.1 0.541 0.266 Valid 9 X2.2 0.427 0.266 Valid 10 X2.3 0.732 0.266 Valid 11 X2.4 0.619 0.266 Valid 12 X2.5 0.590 0.266 Valid 13 X2.6 0.523 0.266 Valid 14 X2.7 0.438 0.266 Valid 15 X3.1 0.808 0.266 Valid 16 X3.2 0.822 0.266 Valid 17 X3.3 0.872 0.266 Valid 18 X3.4 0.744 0.266 Valid 19 X3.5 0.813 0.266 Valid Berdasarkan Tabel 2 di atas, dapat dilihat bahwa semua item pertanyaan pada kualitas pelayanan pengguna flexi mempunyai nilai rhitung yang lebih besar dari pada nilai rtabel sehingga dapat dikatakan bahwa semua item pertanyaan tersebut valid untuk digunakan dalam penelitian ini. 49 b. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas menunjukkan tingkat kemantapan, keajegan dan ketepatan suatu alat ukur atau uji yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengukuran relatif konsisten apabila dilakukan pengukuran ulang. Uji ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana jawaban seseorang konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Arikunto (2002) menjelaskan tentang reliabilitas sebagai berikut : “ Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik “ Teknik pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan nilai koefisien reliabilitas alpha. Kriteria pengambilan keputusannya adalah apabila nilai dari koefisien reliabilitas alpha lebih besar dari 0,6 maka variabel tersebut sudah reliabel (handal), maka hasil dari uji reliabilitas disajikan dalam Tabel 3 sebagai berikut : Tabel 3 Hasil Reliabilitas Pada Kualitas Pelayananpengguna flexi Trendy Variabel Koefisien Nilai Kritis Keterangan X1 0.696 0,6 Reliabel X2 0.757 0,6 Reliabel X3 0.860 0,6 Reliabel Berdasarkan Tabel 3 di atas, diketahui bahwa masing-masing variabel mempunyai koefisien alpha > 0,6 sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh variabel penelitian adalah reliabel dan dapat digunakan sebagai variabel dalam penelitian ini. 50 2. Analisis dan Interpretasi Data a. Analisis data logit Regresi logit (Logit Regresion) merupakan salah satu jenis analisis yang digunakan untuk memprediksi hubungan pengaruh antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y), namun dalam regersi logit syarat utama yang harus dipenuhi adalah bahwa variabel terikat (Y) harus terdiri dari dua kategori (berupa binary). Kelebihan dari regresi logit dibandingkan dengan regresi lain adalah dapat diprediksi besarnya probabilitas suatu peristiwa. Dalam penelitian ini regresi logit digunakan untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap pengguna flexi. Penelitian ini dilakukan terhadap 55 pelanggan berkenaan dengan tingk KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar