Presepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Rumah Potong Hewan ( LENGKAP SAMPAI DAFTAR PUSTAKA

Admin

Kebutuhan masyarakat terhadap produk industri peternakan semakin meningkat (termasuk produk industri hasil pertanian dalam hal ini khususnya peternakan). Daging adalah salah satu produk industri peternakan yang dihasilkan dari usaha pemotongan hewan. Seiring semakin banyaknya permintaan masyarakat terhadap daging yang sehat khusunya daging sapi sebagai sumber utama protein hewani terus meningkat, hal ini menyebabkan intensitas pemotongan juga meningkat, oleh karena itu keberadaan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) sangat diperlukan, yang dalam pelaksanaannya harus dapat menjaga kualitas, baik dari tingkat kebersihannya, kesehatannya, ataupun kehalalan daging untuk dikonsumsi. Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah mendirikan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di berbagai daerah seluruh Indonesia.

Usaha peternakan mempunyai prospek untuk dikembangkan karena tingginya permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan juga memberi keuntungan yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaan di Indonesia. Namun demikian, sebagaimana usaha lainnya, usaha peternakan juga menghasilkan limbah yang dapat menjadi sumber pencemaran. Oleh karena itu, seiring dengan kebijakan otonomi, maka pemgembangan usaha peternakan yang dapat meminimalkan limbah peternakan perlu dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga kenyamanan permukiman masyarakatnya. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan memanfaatkan limbah peternakan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi usaha tersebut.
Berkembangnya kemajuan teknologi dalam pembangunan peternakan, di antaranya dalam industri pemotongan ternak akan membawa dampak positif dan negatif baik bagi lingkungan maupun manusia, tumbuh pesatnya industri juga berarti makin banyak limbah yang dikeluarkan dan mengakibatkan permasalahan yang kompleks bagi lingkungan sekitar. Rumah Potong Hewan (RPH) sebagai tempat usaha pemotongan hewan dalam penyediaan daging sehat seharusnya memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan sanitasi baik dalam lingkungan RPH maupun lingkungan disekitarnya.
Menurut Lestari (1994) bahwa perancangan bangunan RPH yang berkualitas sebaiknya sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan sebaiknya sesuai dengan Instalasi Standar Internasional dan menjamin produk sehat dan halal. RPH dengan standar internasional biasanya dilengkapi dengan peralatan modern dan canggih, rapi, bersih dan sistematis, menunjang perkembangan ruangan dan modular sistem. Produk sehat dan halal dapat dijamin dengan RPH yang memiliki sarana untuk pemeriksaan kesehatan hewan potong, memiliki sarana menjaga kebersihan, dan mematuhi kode etik dan tata cara pemotongan hewan secara tepat. Selain itu juga harus bersahabat dengan alam, yaitu lokasi sebaiknya di luar kota dan jauh dari pemukiman dan memiliki saluran pembuangan dan pengolahan limbah yang sesuai dengan AMDAL.
RPH di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang merupakan satu-satunya RPH yang ada didaerah kecamatan Alla sehingga RPH ini memiliki aktivitas pemotongan yang cukup besar setiap bulannya. Hal ini dikarenakan RPH ini harus memenuhi permintaan daging di daerah kecamatan Alla dan sekitarnya khususnya para pedagang makanan misalnya penjual coto, penjual nasu cemba dan penjual bakso. Adapun data tingkat pemotongan di RPH tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Data Pemotongan Ternak Sapi Per Bulan Rumah Potong Hewan di  Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang.
No
Bulan
Jumlah Pemotongan/Bulan
1.
Januari
16 ekor
2.
Februari
17 ekor
3.
Maret
12 ekor
4.
April
18 ekor
5.
Mei
20 ekor
6.
Juni
24 ekor
7.
Juli
22 ekor
8.
Agustus
21 ekor
9.
September
16 ekor
10.
Oktober
16 ekor
11.
November
14 ekor
12.
Desember
19 ekor
Jumlah
204 ekor
Sumber : Data Sekunder Setelah Dioalah, 2011. 
Berdasarkan data pada tabel 1 jumlah pemotongan paling banyak terjadi pada bulan juni yaitu sebanyak 24 jumlah pemotongan hal ini disebakan karena banyaknya acara pernikahan yang terjadi pada bulan tersebut menurut karyawan yang ada di rumah potong hewan tersebut sedangkan jumlah pemotongan yang paling sedikit  yaitu pada bulan Maret sebanyak 12 jumlah pemotongan.
RPH di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang merupakan rumah pemotongan hewan yang cukup besar, hal ini dibuktikan dari jumlah pemotongan yang terjadi setiap bulannya pada rumah potong hewan tersebut. Tetapi yang menjadi masalah pada RPH tersebut adalah limbah yang dihasilkan seperti limbah padat seperti (feces), dan limbah cair (urine + darah) yang dihasilkan dari pemotongan tersebut dibuang disekitar RPH bahkan saluran pembuangan dari RPH tersebut dibuang ke sungai, sehingga menimbulkan keresahan dari masyarakat yang tinggal disekitar RPH, dengan adanya pembuangan limbah di Rumah Potong Hewan tersebut maka menimbulkan beberapa persepsi di masyarakat yang berada di sekitar Rumah Potong Hewan tersebut.
Persepsi adalah proses pengolahan informasi dari lingkungan yang berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan diteruskan ke otak untuk diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya. Dimana persepsi merupakan hasil interaksi antara dunia luar individu (lingkungan) dengan pengalaman individu yang sudah diinternalisasi dengan sistem sensorik alat indera sebagai penghubung, dan dinterpretasikan oleh system syaraf di otak (Aditya, 2007).
Berdasarkan pernyataan di atas maka perlu diketahui bagaimana persepsi masyarakat yang tinggal disekitar RPH mengenai keberadaan  RPH tersebut.

 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS Kartakusuma ( 2004 ) mengatakan bahwa AMDAL sendiri merupakan suatu kajian mengenai dampak positif dan negative dari suatu rencana kegiatan/proyek, yang dipakai pemerintah dalam memutuskan apakah suatu kegiatan/proyek layak atau tidak layak lingkungan. Kajian dampak positif dan negatif tersebut biasanya disusun dengan mempertimbangkan aspek fisik, kimia, biologi, sosial-ekonomi, sosial budaya dan kesehatan masyarakat. Suatu rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil kajian AMDAL, dampak negatif yang ditimbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar dari pada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunannya. RPH yang secara resmi dibawah pengawasan Departemen Pertanian, pada dasarnya mempunyai persyaratan, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.555/Kpts/TN.240/9/1986, tentang syarat-syarat rumah pemotongan hewan. Pasal 2 dari SK Mentan tersebut menyatakan bahwa RPH merupakan unit/sarana pelayanan masyarakat dalam penyediaan daging sehat. Dari SK Mentan tersebut mengungkapkan mengenai syarat-syarat RPH yang dijelaskan lebih pada 2 pasal 3 ayat (a) menyatakan bahwa RPH berlokasi di daerah yang tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran lingkungan misalnya di bagian pinggir kota yang tidak padat penduduknya ( Suharno, 2010 ). Menurut Septina ( 2010 ) bahwa persyaratan RPH secara umum adalah tempat atau bangunan khusus untuk pemotongan hewan yang dilengkapi dengan atap, lantai dan dinding, memiliki tempat atau kandang untuk menampung hewan untuk diistirahatkan dan dilakukan pemeriksaan ante mortem sebelum pemotongan dan syarat lainnya adalah memiliki persediaan air bersih yang cukup, cahaya yang cukup, meja atau alat penggantung daging agar daging tidak bersentuhan dengan lantai. Untuk menampung limbah hasil pemotongan diperlukan saluran pembuangan yang cukup baik, sehingga lantai tidak digenangi air buangan atau air bekas cucian. Acuan tentang Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan tatacara pemotongan yang baik dan halal di Indonesia sampai saat ini adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-6159-1999 tentang Rumah Pemotongan Hewan berisi beberapa persyaratan yang berkaitan dengan RPH termasuk persyaratan lokasi, sarana, bangunan dan tata letak sehingga keberadaan RPH tidak menimbulkan ganguan berupa polusi udara dan limbah buangan yang dihasilkan tidak mengganggu masyarakat. Menurut Lestari (1994) Fungsi dari Rumah Potong Hewan adalah : 1. Sarana strategis tata niaga ternak ruminansia, dengan alur dari peternak, pasar hewan, RPH yang merupakan sarana akhir tata niaga ternak hidup, pasar swalayan/pasar daging dan konsumen yang merupakan sarana awal tata niaga hasil ternak. 2. Pintu gerbang produk peternakan berkualitas, dengan dihasilkan ternak yang gemuk dan sehat oleh petani sehingga mempercepat transaksi yang merupakan awal keberhasilan pengusaha daging untuk dipotong di RPH terdekat. 3. Menjamin penyediaan bahan makanan hewani yang sehat, karena di RPH hanya ternak yang sehat yang bisa dipotong. 4. Menjamin bahan makanan hewani yang halal. 5. Menjamin keberadaan menu bergizi tinggi, yang dapat memperkaya masakan khas Indonesia dan sebagai sumber gizi keluarga/rumah tangga. 6. Menunjang usaha bahan makanan hewani, baik di pasar swalayan, pedagang kaki lima, industri pengolahan daging dan jasa boga. 2.2 Lokasi Rumah Potong Hewan Menurut Simamora (2002) lokasi merupakan faktor yang harus ditentukan terlebih dahulu sebelum rencana pembangunan RPH. Lokasi RPH yang idealnya harus berjarak sekurang-kurangnya 2 hingga 3 km dari rumah penduduk. Pencemaran harus ditekan/dikurangi agar limbah yang dihasilkan berada pada baku mutu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pada lokasi RPH yang direncanakan harus dibangun sistem pengelolaan limbah baik untuk limbah padat maupun limbah cair (IPAL). Untuk mengantisipasi perubahan lingkungan dalam jangka panjang, pemerintah harus menerapkan AMDAL dengan menggunakan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Dokumen RKL ini memuat prosedur pencegahan, pengendalian dan penanggulangan dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif sebagai akibat adanya kegiatan usaha. Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur komponen lingkungan yang akan terkena dampak akibat adanya kegiatan usaha ditetapkan berdasarkan baku mutu standar (sesuai peraturan perundang-undangan), keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah, lazim digunakan, dan atau ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. Rianto (2010) menyatakan bahwa lokasi pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) yaitu tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK) serta tidak berada di bagian kota yang padat penduduknya dan letaknya lebih rendah dari pemukiman penduduk, tidak berada ditengah kota, letak lebih rendah dari pemukiman penduduk, tidak berada dekat industri logam atau kimia serta daerah rawan banjir, lahan luas. Menurut Burhanuddin ( 2005 ) adapun persyaratan-persyaratan teknis lokasi Rumah Potong Hewan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut : 1. Jaraknya kurang lebih 2 – 3 km dari pemukiman penduduk 2. Mudah dicapai kendaraan untuk pengangkutan hewan, daging, produksi lain dan orang. 3. Tersedia sumber/pasokan air segar yang memadai dengan tekanan cukup tinggi, 200 galon/hari/ekor sapi dewasa, air harus dapat diminum (potable) dan memenuhi standar baku internasional untuk air minum WHO 1977 (untuk air berkaporit tidak mengandung bakteri coliform atau E-coli dalam 100 ml). 4. Tersedia fasilitas pengolahan/penimbunan/pembuangan limbah padat seperti isi perut, kulit, tulang dan darah serta limbah cair. 5. Tersedia fasilitas listrik untuk penerangan, alat penggerak dan alat pendingin. 6. Lokasi RPH harus tidak membahayakan kesehatan atau keselamatan masyarakat, tidak mengganggu ketenangan atau menumbuhkan kebisingan lokal. 7. Pagar atau dinding tembok keliling harus kuat, tidak mudah rusak oleh ternak/sapi (stock proof). Bangunan RPH berkualitas sebaiknya sesuai dengan standar yang telah ditentukan dan sebaiknya sesuai dengan Instalasi Standar Internasional dan menjamin produk sehat dan halal. RPH dengan standar internasional biasanya dilengkapi dengan peralatan modern dan canggih, rapi bersih dan sistematis, menunjang perkembangan ruangan dan modular sistem. Produk sehat dan halal dapat dijamin dengan RPH yang memiliki sarana untuk pemeriksaan kesehatan hewan potong, memiliki sarana menjaga kebersihan, dan mematuhi kode etik dan tata cara pemotongan hewan secara tepat. Selain itu juga harus bersahabat dengan alam, yaitu lokasi sebaiknya di luar kota dan jauh dari pemukiman dan memiliki saluran pembuangan dan pengolahan limbah yang sesuai dengan AMDAL (Lestari, 1994). Pendapat lain dikemukakan oleh Burhanuddin ( 2005 ) bahwa Persyaratan Bangunan Rumah Potong Hewan terdiri dari : 1. Bangunan harus berventilasi cukup, tahan terhadap serangga lalat dan binatang kecil serangga pengganggu seperti rayap, semut dan lain-lain. 2. Lantai beton atau bahan lain kedap air, tidak licin, tahan arus dan karat (untuk logam) dengan kemiringan lantai satu inchi (2,5 cm) untuk drainase. 3. Permukaan dinding bagian dalam ruang RPH harus dilapisi bahan licin/halus dan keras, kedap air (1,8 mm), mudah dibersihkan dan berwarna terang. Semua sudut dan pojok antara lantai, tembok yang satu dengan lainnya harus membulat. 4. Permukaan langit-langit (plafon) dilapisi bahan kedap air, tahan debu, mudah dicuci, tinggi minimal 30 cm di atas peralatan permanen dan dari lantai kurang lebih lima meter. 5. Penerangan, minimal 20 fc (foot candle) untuk ruang pemotongan dan 50 fc untuk ruang pemeriksaan daging. Jendela cukup besar untuk penyinaran dan ventilasi memadai, berbingkai metal dan tahan karat, jika terbuat dari kaca ambang jendela bagian dalam harus miring. 6. Panggung (platform), tangga, bangunan miring untuk peluncur (chute), meja dan semua peralatan terbuat dari logam tahan karat (stainlesssteel). 7. Semua bagian luar pintu keluar masuk harus dilapisi dengan bahan yang halus, bahan tahan karat (stainless steel), dan kedap air bukan dari kayu. 8. Rel untuk menggantung karkas harus berjarak satu meter dari dinding terdekat. 9. Semua ruangan tempat penanganan karkas, daging dan produk hewan, tempat cuci harus dilengkapi dengan sabun dan tissue. Strerilisasi pisau dan gergaji harus ditentukan pada posisi yang tepat. Air panas (suhu minimal 82° C), untuk sterilisasi harus selalu tersedia selama jam kerja. 10. Tidak boleh ada pintu dari fasilitas toilet (WC) yang menghadap atau membuka ke dalam ruang pemotongan atau ke tempat penanganan karkas atau daging. 11. Tempat pemisahan sapi (stunning box) harus dibuat dari bahan yang mudah disterilisasi, jika terbuat dari logam maka bahannya harus tahan karat. 12. Terdapat areal terpisah untuk penyembelihan (bleeding), pengerjaan karkas (carcass dressing), pembersihan hasil ikutan karkas (offals), dan penempatannya. 13. Terdapat ruang afkiran (condemen meat) dengan luas proporsional dengan jumlah karkas yang diproses/dihasilkan (turn over) tiap hari. 14. Kapasitas ruang pendingin (chilling room) untuk pelayuan (ageing) sesuai dengan besarnya pasokan daging selama tiga hari sebagai tambahan untuk cold storage 15. Persyaratan ruang pendinginan karkas dan daging : · Suhu ruangan untuk pendinginan awal karkas segar adalah 1°C - 2°C. · Suhu ruang chilling carcass 1°C - 5°C · Suhu ruang pembekuan daging (blast freezer) - 25°C (24 jam). 16. Ruangan untuk penanganan dan penyimpanan kulit baru yang masih berbulu (hide) dan kulit yang sudah bersih/tanpa bulu (skin) harus jauh 2.3 Persepsi Masyarakat Setiap individu dalam kehidupan sehari-hari akan menerima stimulus atau rangsang berupa informasi, peristiwa, objek dan lainnya yang berasal dari lingkungan sekitar, stimulus atau rangsang tersebut dinamakan persepsi. Persepsi adalah proses pengolahan informasi dari lingkungan yang berupa stimulus, yang diterima melalui alat indera dan diteruskan ke otak untuk diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan penafsiran atau penginterpretasian yang berupa penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya. Persepsi merupakan hasil interaksi antara dunia luar individu (lingkungan) dengan pengalaman individu yang sudah diinternalisasi dengan sistem sensorik alat indera sebagai penghubung, dan dinterpretasikan oleh system syaraf di otak ( Muhyadi, 1989 ). Menurut Sarwono dalam Ramadhan (2008) persepsi adalah kempuan seseorang untuk mengorganisir suatu pengamatan, kemampuan tersebut antara lain, kemampuan untuk membedakan, kemampuan untuk mengelompokkan, dan kemapuan untuk memfokuskan. Oleh karena itu seseorang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda, walupun objeknya sama. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya perbedaan dalam hal system nilai dan ciri kepribadian individu yang bersangkutan. Persepsi memiliki pengertian dalam arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit persepsi yaitu penglihatan bagaimana seseorang melihat sesuatu, dan dalam arti luas persepsi yaitu pandangan atau pengertian, bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Persepsi menurut Rakhmat ( 1996 ) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sedangkan menurut Robins dalam Ramadhan ( 2009 ) persepsi adalah suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka untuk memberikan makna terhadap lingkungannya baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Menurut Simamora ( 2002 ) bahwa persepsi dapat didefenisikan sebagai sesuatu proses, dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, menginterpretasi stimuli kedalam suatu gambaran dunia yang berarti dan menyeluruh, stimuli adalah setiap input yang dapat ditangkap oleh indra. Stimulus tersebut diterima oleh panca indra , seperti mata, telinga, mulut, hidung, dan kulit. Stimulus dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah stimuli fisik yang datang dari lingkungan sekitar. Tipe kedua adalah stimuli yang berasal dalam si individu itu sendiri dalam bentuk predisposisi, seperti harapan, motivasi dan pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya. Secara alamiah, otak kita menggerakkan panca indra untuk menyeleksi stimuli untuk diperhatikan stimuli mana yang terpilih, tergantung pada dua faktor yaitu faktor personal dan faktor stimuli itu sendiri. Karateristik stimulus memegang peranan penting dalam merebut perhatian konsumen. Menurut Rakhmat (2005) persepsi ditentukan oleh faktor fungsional dan struktural. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut : ü Faktor fungsional, faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk dalam faktor-faktor personal, persepsi tidak ditentukan oleh jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli tersebut. ü Faktor struktural , faktor struktural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : 1. Orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian) 2. Stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain. 3. Stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). Pendapat lain dikemukakan dari Walgito dalam Aditya (2007) bahwa perlu diketahui faktor-faktor yang berperan dalam persepsi yang merupakan syarat agar terjadi persepsi yaitu : 1) Objek atau stimulus yang dipersepsi. Obyek dari luar diri seseorang baik berupa benda, kejadian, atau pun sikap dari orang lain biasanya merupakan sumber stimulus bagi seseorang. 2) Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf. Melalui alat indera yang dimiliki seseorang, stimuli yang ada diterima oleh seseorang. Dengan syaraf sebagai pusat kesadaran, seseorang akan menginterpretasikan stimuli yang diterima. 3) Perhatian. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekelompok objek. Ditambahkan Robbins dalam Aditya (2007) yang menyatakan, ”Karakteristik sasaran yang diobservasi dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan”. Persepsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dari setiap individu. Sikap, kepribadian, motif, kepentingan pribadi, pengalaman masa lalu, harapan merupakan beberapa faktor dari individu yang bisa membentuk sekaligus membiasakan persepsi selain itu karakteristik dari sasaran yang diobservasi juga dapat menjadi faktor yang berpengaruh besar terhadap persepsi. Pendapat lain dikemukakan pula oleh Oskam dalam Lahamma (2006) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu ada empat karakteristik dari faktor pribadi dan sosial yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang, antara lain : Faktor ciri khas dari objek ransangan yang terdiri dari : a. Nilai, yaitu ciri-ciri dari stimulus (ransangan). b. Arti emosional, yaitu sampai seberapa jauh stimulus tertentu merupakan sesuatu yang mempengaruhi persepsi individu yang bersangkutan. c. Familiaritas, yaitu pengenalan yang berkali-kali dari suatu stimulus yang mengakibatkan stimulus tersebut dipersepsi lebih akurat. d. Intensitas, derajat kesadaran seseorang mengenai stimulus tersebut. Faktor pribadi : Faktor pribadi termasuk dalam ciri khas individu seperti tingkat kesadaran, minat, emosional dan lain-lain. Faktor pengaruh kelompok : Dalam suatu kelompok manusia, respon orang lain akan memberi arah terhadap tingkah laku seseorang Faktor latar belakang kultural : Orang dapat memberikan persepsi yang berbeda terhadap subyek yang sama karena latar belakang kultural yang berbeda. Adapun prinsip-prinsip mengenai persepsi agar tidak terjadi salah interpretasi atau salah pengertian. Slameto dalam Aditya (2007) mengemukakan lima prinsip dasar tentang persepsi, yaitu: 1) Persepsi itu relatif bukannya absolut. Manusia bukanlah instrumen ilmiah yang menyerap segala sesuatu persis seperti keadaan sebenarnya tetapi dengan penerimaan dari inderanya dia dapat menerka dan memberikan tanggapan mengenai rangsangan (stimulus) yang diterimanya. 2) Persepsi itu selektif. Ada keterbatasan seseorang dalam menerima rangsang (stimulus), oleh karenanya ada kemungkinan seseorang hanya akan memberikan perhatian ke arah mana persepsi itu memiliki kecenderungan. 3) Persepsi itu mempunyai tatanan. Seseorang tidak menerima rangsangan secara sembarangan, oleh karena itu apabila rangsangan yang diterima kurang lengkap maka orang tersebut akan melengkapi sendiri sehingga menjadi cukup jelas untuknya. 4) Persepsi dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan (penerima rangsangan). Harapan dan kesiapan penerima akan sangat menentukan pesan mana yang dia pilih untuk kemudian diinterpretasikan. 5) Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh bebeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi antara satu individu dengan individu yang lain sangat dipengaruhi oleh perbedaan kepribadian, sikap dan motivasi dari masing-masing individu. Desmita dalam Aditya ( 2007 ) menyatakan, ”Persepsi meliputi suatu interaksi rumit yang melibatkan setidaknya tiga komponen utama, yaitu: 1) Seleksi. Seleksi yang dimaksud adalah proses penyaringan oleh indera terhadap stimulus. Seleksi ini bergantung pada perhatian, minat, kebutuhan dan nilai-nilai yang dianut. 2) Penyusunan. Setelah stimulus diseleksi maka proses selanjutnya adalah menyederhanakan informasi dari yang kompleks ke dalam suatu pola kognitif yang bermakna. 3) Penafsiran. Stimulus yang diterima dan telah disederhanakan menjadi sebuah informasi yang bermakna kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku yang berupa respon. Penafsiran ini berbeda-beda dari masing-masing individu. ` Menurut Ramadhan ( 2009 ) ada beberapa ciri-ciri persepsi yang dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Persepsi merupakan sebagai cara pandang b. Adanya stimulus (input) pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus. c. Adanya pemgalaman tentang objek .peristiwa atau hubungan– hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. d. Adanya proses pemberian arti terhadap lingkungan seorang individu. Salah satu alasan mengapa persepsi demikian penting dalam menafsirkan dunia sekeliling kita adalah bahwa kita masing-masing mempersepsi, tetapi mempersepsi secara berbeda apa yang dimaksud dengan sebuah situasi ideal. Persepsi merupakan sebuah proses yang hampir bersifat otomatik dan persepsi bekerja dengan cara yang hampir serupa pada masing-masing individu. Sekalipun demikian persepsi secara tipikal menghasilkan persepsi-persepsi yang berbeda-beda ( Muhyadi, 1989 ). 2.4 Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Menurut Soehadji ( 1992 ) limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas. Limbah dapat membahayakan kesehatan masyarakat, walaupun tidak terlibat langsung dalam perpindahan penyakit, namun kandungan bahan organik yang tinggi dapat merupakan sumber makanan yang baik bagi perkembangan organisme ( Jenie dan Rahayu,1993) Pendapat lain dikemukakan oleh Simamora (2004) bahwa limbah peternakan dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan permasalahan, antara lain, seperti polusi tanah, air, dan udara. Hal ini terjadi terutama jika limbah tidak ditangani dengan baik, atau jika limbah lanngsung dialirkan begitu saja ke sungai atau ditimbun ditempat terbuka, selanjutnya Sanjaya dkk (1996) menyatakan bahwa untuk menangani limbah yang dihasilkan oleh kegiatan RPH, maka ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan yaitu identifikasi limbah, karakterisasi dan pengolahan limbah. Hal ini harus dilakukan agar dapat ditentukan suatu bentuk penanganan limbah RPH yang efektif. Burhanuddin ( 2005 ) menambahkan bahwa berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya mengatasi limbah ternak yang selama ini dianggap menganggu karena menjadi sumber pencemaran lingkungan perlu ditangani dengan cara yang tepat sehingga dapat memberi manfaat lain berupa keuntungan ekonomis dari penanganan limbah tersebut. Penanganan limbah ini diperlukan bukan saja karena tuntunan akan lingkungan yang nyaman tetapi juga karena pengembangan usaha peternakan mutlak memperhatikan kualitas lingkungan, sehingga keberadaanya tidak menjadi masalah bagi masyarakat disekitarnya. 2.5 Polusi Udara (Bau) Pendirian Rumah Potong Hewan (RPH) didekat pemukiman menimbulkan berbagai masalah seperti pencemaran lingkungan akibat dari limbah ternak. Pencemaran lingkungan berdampak pada manusia terutama ketika memproduksi limbah-limbah yang dapat mencemari air, menimbulkan polusi udara (bau) yang sangat mengganggu masyarakat yang ada di sekitar usaha RPH. Hal ini terjadi karena kurangnya manajemen dalam penegelolaan limbah (Anonimous, 2011) Menurut Revo (2011) bahwa limbah yang tidak dikelola secara sadar lingkungan semakin membuat warga merasakan gangguan akan dampak yang ditimbulkan. Seperti bau kotoran hewan yang keluar dari tumpukan isi perut hewan yang dipotong serta limbah air dari hasil pencucian. Bau timbul karena adanya kegiatan mikroorganik yang menguraikan zat organik menghasilkan gas tertentu. Di samping itu bau juga timbul karena terjadinya reaksi kimia yang menimbulkan gas. Kuat tidaknya bau yang dihasilkan limbah tergantung pada jenis dan banyak gas yang ditimbulkan. Mekanisme penciuman lebih rumit dan lebih peka daripada proses perasaan atau gutasi. Ada beribu-ribu bau dan kepekaan alat pembau sekitar 10.000 kali kepekaan alat perasa. Pengertian kita mengenai mekanisme reseptor bau sangat terbatas, dan tidak ada satupun teori yang dapat diterima yang menerangkan hubungan antara struktur molekul dan bau. Senyawa berbau sampai ke jaringan pembau dalam lubang hidung, bersama-sama dengan udara. Pengindraan ini mensyaratkan bahwa senyawa berbau bersifat atsiri. Kebanyakan senyawa berbau larut dalam berbagai pelarut, tetapi tampaknya kelarutan tidak begitu penting seperti susunan molekul, yang mempengaruhi kelarutan dan kereaktifan kimia ( Anonimous, 2010 ). Warga mengeluhkan pada saat musim kemarau seperti ini RPH tersebut semakin mengeluarkan bau yang tidak sedap, begitupun pada waktu musim hujan, selain tempat pembuangan limbah yang tidak memadai, pengolahan RPH ini juga menggunakan tenaga teknis yang tidak cukup profesional. Karena tidak adanya solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi yang membuat warga merasa resah (Revo, 2011). 2.6 Pencemaran Air Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Pencemaran air terjadi akibat adanya limbah RPH yang langsung dialirkan ke sungai ( Hamdan, 2010 ). Menurut Widya dalam Roihatin dan Rizqi (2007) bahwa Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berupa feces urine, isi rumen atau isi lambung, darah afkiran daging atau lemak, dan air cuciannya, dapat bertindak sebagai media pertumbuhan dan perkembangan mikroba sehingga limbah tersebut mudah mengalami pembusukan. Dalam proses pembusukannya di dalam air, mengakibatkan kandungan NH3 dan H2S di atas maksimum kriteria kualitas air, dan kedua gas tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap serta dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan yang disertai dengan reaksi fisiologik tubuh berupa rasa mual dan kehilangan selera makan. Selain menimbulkan gas berbau busuk juga adanya pemanfaatan oksigen terlarut yang berlebihan dapat mengakibatkan kekurangan oksigen bagi biota air. Kusnoputranto (1995) menyatakan limbah ini akan berdampak pada kualitas fisik air yaitu warna dan pH disamping itu total padatan terlarut. Padatan tersuspensi, kandungan lemak, BOD5. Ammonium, nitrogen, fosfor akan mengalami peningkatan. Limbah terbesar berasal dari darah dan isi perut (Tjiptadi 1990) sedangkan darah berdampak pada peningkatan nilai BOD dan padatan tersuspensi. Disamping itu isi perut (rumen) dan usus akan meningkatkan jumlah padatan. Pencucian karkas juga meningkatkan nilai BOD. Sedangkan Bewick (1980) menyatakan bahwa limbah ternak merupakan sumber pencemaran bagi air yang mempunyai kandungan BOD tinggi dan kandungan oksigen yang terlarut didalam air relatif sedikit. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan November 2012 sampai dengan Februari 2013 di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Dengan pertimbangan bahwa adanya beberapa keluhan dari sebagian anggota masyarakat terhadap keberadaaan Rumah Potong Hewan (RPH). 3.2 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu jenis penelitian yang menjelaskan atau menggambarkan suatu fenomena, dalam hal ini persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Pada penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode survey dengan melakukan pendekatan langsung terhadap masyarakat yang berada disekitar lokasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) tersebut. 3.3 Populasi dan Sampel Pada penelitian ini populasi adalah keseluruhan masyarakat yang berada disekitar RPH yaitu dari jarak 1 sampai 2 Km dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang, populasi masyarakat yang bermukim pada jarak 1 sampai 2 Km dari RPH tersebut sebanyak 220 orang. Berhubung karena jumlah populasi yang cukup besar yaitu 220 orang, maka pada penelitian ini dilakukan penarikan sampel. Untuk menentukan besarnya ukuran sampel maka dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin dalam Umar (2003), sebagai berikut : Dimana : n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi e = Tingkat Kelonggaran (15%) Dengan menggunakan rumus tersebut maka dapat ditentukan jumlah sampel sebagai berikut : n = = = = = 36,97 dibulatkan menjadi 37 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diatas maka jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 37 orang responden. Pengambilan sampel dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling) dengan mengambil sampel berdasarkan arah mata angin: Utara, Timur, Selatan, dan Barat dari rumah potong hewan tersebut. 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu : a. Observasi yaitu pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung terhadap kondisi lokasi penelitian dan masyarakat yang berada disekitar lokasi Rumah Pemotongan Hewan (RPH). b. Wawancara yaitu pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan masyarakat yang menjadi sampel penelitian, mengenai identitas pribadi meliputi nama, umur, pendidkan, pekerjaan, pengetahuan atau informasi responden, persepsi dan adaptasi masyarakat terhadap keberadaan RPH melalui bantuan kuisioner. 3.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah : a. Data Kualitatif yaitu data yang berbentuk kalimat, tanggapan maupun Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Rumah Potong Hewan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. b. Data Kuantitatif yaitu data yang berupa angka-angka berdasarkan hasil kuisioner dari masyarakat Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah : a. Data Primer yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung dengan masyarakat yang berada disekitar lokasi Rumah Potong Hewan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dengan menggunkan kuisioner. b. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari istansi-istansi terkait, biro pusat statistik, tata ruang, pemerintah setempat dan lain-lain yang telah tersedia, seperti keadaan umum lokasi, meliputi gambaran lokasi kependudukan dan ketersediaan sarana dan prasarana. 3.6 Analisa Data Analisa data yang digunakan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) adalah statistik deskriptif dalam hal ini tabel distribusi frekuensi. Pada penelitian ini digunakan skala liekert yang membantu peneliti untuk mengkuantitatifkan data kualitatif dalam hal ini persepsi. Menurut Riduwan (2005) skala liekert digunakan untuk mengukur persepsi, sikap, dan pendapat seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dengan menggunakan skala liekert, maka variabel dijabarkan yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument yang berupa pertayaan atau pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pertanyaan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata yang dikategorikan sebagai berikut : v Sangat menganggu = 3 v Cukup menganggu = 2 v Tidak menganggu = 1 3.7 Instrumen Penelitian Variabel dan indikator dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 2.Variabel dan Indikator Pengukuran Variabel Penelitian. No Variabel Sub Variabel Indikator 1 Persepsi Masyarakat a.Bau (Penciuman) b. Limbah c.Pencemaran Air Aroma Bau Pada Waktu Kemarau Bau Pada Waktu Musim Hujan Sangat menyengat Tidak mudah hilang · Langsung dibuang/ dialirkan ke sungai · Ditumpuk · Air berbau · Air Tercemar/Keruh Untuk pengukuran setiap sub-variabel penelitian dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Bau (Penciuman) Untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) berdasarkan bau dengan menggunakan asumsi dasar interval kelas dan rentang kelas sebagai berikut : Nilai maksimal = Skor Tertinggi x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 3 ) ( 37 ) ( 5 ) = 555 Nilai minimal = Skor Terendah x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 1 ) ( 37 ) ( 5 ) = 185 Rentang Kelas = Jumlah Nilai Tertinggi – Jumlah Nilai Terendah Jumlah Skor = 555 – 185 = 123 3 Dengan nilai tersebut dapat dibuat kategori sebagai berikut : Mengganggu/Terganggu = 432 – 555 Cukup Mengganggu = 308 – 431 Tidak Mengganggu/Terganggu = 184 – 307 b. Limbah Untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) berdasarkan pengolahan limbah dengan menggunakan asumsi dasar interval kelas dan rentang kelas sebagai berikut : Nilai maksimal = Skor Tertinggi x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 3 ) ( 37 ) ( 2 ) = 222 Nilai minimal = Skor Terendah x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 1 ) ( 37 ) ( 2 ) = 74 Rentang Kelas = Jumlah Nilai Tertinggi – Jumlah Nilai Terendah Jumlah Skor = 222 – 74 = 49 3 Dengan nilai tersebut dapat dibuat kategori sebagai berikut : Mengganggu/Terganggu = 173 – 222 Cukup Mengganggu = 123 – 172 Tidak Mengganggu/Terganggu = 74 – 122 c. Pencemaran Air Untuk mengukur persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) berdasarkan pencemaran air dengan menggunakan asumsi dasar interval kelas dan rentang kelas sebagai berikut : Nilai maksimal = Skor Tertinggi x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 3 ) ( 37 ) ( 2 ) = 222 Nilai minimal = Skor Terendah x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 1 ) ( 37 ) ( 2 ) = 74 Rentang Kelas = Jumlah Nilai Tertinggi – Jumlah Nilai Terendah Jumlah Skor = 222 – 74 = 49 3 Dengan nilai tersebut dapat dibuat kategori sebagai berikut : Mengganggu/Terganggu = 173 – 222 Cukup Mengganggu = 123 – 172 Tidak Mengganggu/Terganggu = 74 – 122 d. Nilai Persepsi Secara Keseluruhan Untuk mengetahui keseluruhan nilai dari persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang, maka digunakan klasifikasi/pengelompokan sebagai berikut : Nilai maksimal = Skor Tertinggi x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 3 ) ( 37 ) ( 5+2+2 ) = 999 Nilai minimal = Skor Terendah x Jumlah Sampel x Jumlah Pertanyaan ( 1 ) ( 37 ) ( 5+2+2 ) = 333 Rentang Kelas = Jumlah Nilai Tertinggi – Jumlah Nilai Terendah Jumlah Skor = 999 – 333 = 222 3 Dengan nilai tersebut dapat dibuat kategori sebagai berikut : a. Mengganggu/Terganggu = 777 – 999 b. Cukup Mengganggu = 554 – 776 c. Tidak Mengganggu/Terganggu = 331 – 553 3.8 Konsep Operasional 1. Rumah Potong Hewan ( RPH ) adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan yang telah berdiri pada tahun 1984 yang berada di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. 2. Persepsi masyarakat adalah pandangan atau tanggapan masyarakat di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang mengenai keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) dari jarak 1-2 Km. 3. Bau adalah hasil penciuman masyarakat yang tidak sedap yang berasal dari limbah (RPH), diukur dengan menggunakan indikator aroma, bau pada waktu musim kemarau, bau pada waktu musim hujan, bau sangat mnyengat, dan bau yang tidak mudah hilang. 4. Limbah adalah semua hasil buangan yang dihasilkan dari proses pemotongan ternak yang dilakukan di Rumah Potong Hewan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang berupa feces, urine maupun sisa pakan. 5. Pencemaran air suatu perubahan keadaan disuatu tempat penampungan air seperti sungai yang diakibatkan adanya limbah yang dialirkan dari rumah potong hewan tersebut. 6. Masyarakat adalah penduduk yang bertempat tinggal disekitar 1-2 Km di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah singkat Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang Usaha Peternakan Rumah Potong Hewan (RPH) berada di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang yang dikelolah oleh Bapak H.Duma’ yang berdiri pada tahun 1984 yang merupakan rumah potong hewan satu satunya yang berada di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla, pendirian rumah potong hewan ini disetujui oleh pemerintah daerah bahkan pemerintah daerah sendiri yang menunjukkan lokasi pembangunan dari rumah potong hewan ini, dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut jauh dari pemukiman penduduk, dan pemerintah juga menjanjikan untuk memberikan bantuan berupa fasilitas peralatan rumah potong hewan bahkan sampai sekarang bantuan yang di janjikan belum terealisasi sampai sekarang. Seiring pertambahan penduduk dan keterbatasan lokasi permukiman menyebabkan pembangunan permukiman masyarakat semakin mendekati lokasi RPH sehingga disekitar RPH semakin hari semakin banyak warga yang bermukim. Oleh karena itu diharapkan kepada pemerintah dan pengelola RPH untuk lebih memperhatikan penanganan limbah dan sanitasi RPH agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga mengganggu masyarakat sekitar. 4.2 Kondisi Geografis Dan Topografi Kelurahan Kambiolangi merupakan salah satu kelurahan yang terdapat di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. Adapun batas-batas dari Kelurahan Kambiolangi adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Buntu Sugi b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Kalosi c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sumillan d. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Taulo 4.3 Keadaan Demografis Jumlah penduduk Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang adalah 5.400 orang yang terdiri dari jenis kelamin, berbagai latar belakang usia, tingkat pendidikan dan jumlah ternak. 1. Jumlah penduduk berdasarkan Jenis Kelamin Untuk mengetahui klasifikasi responden berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang Dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin No Jenis kelamin Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. Laki – laki Perempuan 2.786 2.614 51.59 48.40 Jumlah 5.400 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012 Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Kambiolangi antara laki-laki dan perempuan berbeda tipis. Terlihat pula bahwa jumlah penduduk di Kelurahan Kambiolangi yang mendominasi adalah laki-laki yaitu 2.786 orang dengan persentase 51.59 % sedangkan perempuan 2.614 orang dengan persentase 48.40 %. 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja seseorang adalah umur. Semakin bertambah umur seseorang maka akan mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas dimana pengaruh tersebut akan nampak pada kemampuan fisik seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya Jumlah penduduk berdasarkan kelompok usia di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia No Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1 – 8 tahun 9 – 15 tahun 16 – 25 tahun 26 – 39 tahun 40 – 59 tahun 60 tahun keatas 898 1733 1938 352 343 136 16.62 32.09 35.88 6.51 6.35 2.51 Jumlah 5400 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012. Tabel 4 menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan usia produktif pada Kelurahan Kambiolangi yaitu 16 – 59 tahun adalah 2633 orang. Artinya dominasi usia produktif tinggi sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat produktifitas penduduk kelurahan Kambiolangi sangat dominan apabila ditinjau berdasarkan usia. 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Lulusan Pendidikan Umum Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Taman Kanak-Kanak Sekolah dasar (SD) SMP / SLTP SMA /SLTA Akademi /D1-D3 Sarjana S1-S3 89 1.525 1.065 2.166 52 97 1.78 30.53 21.32 43.37 1.04 1.94 Jumlah 4994 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012 Berdasarkan Tabel 5 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla jumlah lulusan yang paling banyak adalah SMA/SLTA yaitu 2.166 orang dengan persentase 43.37 %, dan jumlah lulusan yang terendah adalah Akademi/D1-D3 yaitu 52 orang dengan persentase 1.04 %. 4. Jumlah Ternak Adapun jenis ternak yang ada di Kelurahan Kambiolangi adalah Ayam Kampung, Kambing, Bebek, Sapi Perah, Sapi Bali, dan Kerbau. Maka jumlah ternak tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Jumlah Ternak No Jenis Ternak Jumlah (Ekor) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ayam Kampung Kambing Bebek Sapi Perah Sapi Bali Kerbau 6.760 873 2.360 30 665 5 63.21 8.16 22.07 0.28 6.21 0.04 Jumlah 10693 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012 Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah ternak yang paling banyak adalah Ayam Kampung yaitu 6.760 ekor dengan persentase 63.21 %, dan jumlah ternak yag terendah adalah kerbau dengan jumlah 5 ekor dengan persentase 0.04 %. BAB V KEADAAN UMUM RESPONDEN 5.1 Umur Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja seseorang adalah umur. Semakin bertambah umur seseorang maka akan mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas dimana pengaruh tersebut akan nampak pada kemampuan fisik seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya. Adapun klasifikasi umur responden di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Klasifikasi Responden Berdasarkan Umur di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 14 – 27 28 – 38 39 – 49 50 – 60 61 – 75 12 13 9 2 1 32.43 35.13 24.32 5.40 2.70 Jumlah 37 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012 Tabel 7 menunjukkan bahwa persentase tingkat umur yang tertinggi dari responden yang tinggal di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang adalah klasifikasi responden yang berumur 28 - 38 tahun dengan jumlah 13 orang dengan persentase 35.13 % dan yang terendah adalah klasifikasi responden yang berumur 61 – 75 tahun dengan jumlah 1 orang dengan persentase 2.70 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa responden lebih banyak dalam kategori umur produktif yang dijumpai pada waktu wawancara. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel (2004) bahwa umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempenagruhi produktivitas kerja seseorang. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan umum responden dapat dilihat pada lampiran 1. 5.2 Jenis Kelamin Adapun klasifikasi responden berdasarkan jenis kelamin di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. Laki –laki Perempuan 20 17 54.05 45.94 Jumlah 37 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012 Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan jenis kelamin sebagian besar adalah Laki-laki yaitu sebanyak 20 orang dengan persentase 54.05 % sedangkan Perempuan berjumlah 17 orang dengan persentase 45.94 %. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan umum responden dapat dilihat pada lampiran 1. 5. 3 Pendidikan Pendidikan yang dimiliki oleh seseorang akan membedakan orang tersebut dengan mereka yang tidak memiliki pendididkan. Pendidikan dapat diperoleh secara formal seperti di bangku sekolah maupun non formal seperti kursus atau pelatihan. Demikian halnya responden di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9.Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. SD SMP/Sederajat SMA/Sederajat D1/D3 S1 5 6 17 3 6 13.51 16.21 45.94 8.10 16.21 Jumlah 37 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012. Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA/sederajat dengan jumlah 17 orang dengan persentase 45.94 % dan yang terendah responden yang memiliki tingkat pendidikan D3 dengan jumlah 3 orang dengan persentase 8.10 %. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan umum responden dapat dilihat pada lampiran 1. 5. 4 Pekerjaan Adapun klasifikasi responden berdasarkan pekerjaan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10.Klasifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pekerjaan Di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%) 1. 2. 3. 4. 5. 6. PNS Wiraswasta Karyawan Pelajar IRT Petani 5 15 1 6 5 5 13.51 40.54 2.70 16.21 13.51 13.51 Jumlah 37 100 Sumber : Data Sekunder Kelurahan Kambiolangi, Tahun 2012. Tabel 10 menunjukkan bahwa wiraswasta yang lebih tertinggi dengan jumlah responden sebanyak 15 orang dengan persentase 40.54 %, dimana wiraswasta ini tergolong dari beberapa profesi seperti pedagang cengkeh, penjual alat-alat rumah tangga, penjual makanan, dan tukang jahit, sedangkan jumlah responden terendah yaitu karyawan 1 orang yang berprofesi sebagai karyawan toko dengan jumlah persentase 2.70 %. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan umum responden dapat dilihat pada lampiran 1. BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6. I Persepsi Masyarakat Persepsi masyarakat adalah suatu proses penilaian seseorang terhadap objek tertentu berupa tanggapan yang diberikan oleh masyarakat mengenai Rumah Potong Hewan (RPH), dimana Rumah Potong Hewan (RPH) yang berada di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang menurut masyarakat yang bermukim atau masyarakat yang berjarak 1-2 Km dari rumah potong hewan tersebut yang kini meresahkan. Persepsi masyarakat dapat dilihat dari sub variabel : a. Bau b. Limbah c. Pencemaran air Persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Bau Indikator bau dapat dilihat dari : - Aroma - Bau pada waktu kemarau - Bau pada waktu musim hujan - Bau sangat menyengat - Bau yang tidak mudah hilang. Hasil penelitian tentang persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan ( RPH ) dari sub variabel bau dapat dilihat pada tabel 11. Tabel 11. Penilaian persepsi masyarakat tentang bau Rumah Potong Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Kategori Skor Frekuensi (orang) Persentase (%) Bobot 1. Aroma Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 14 11 12 37,83 29,72 32,43 42 22 12 Jumlah 37 100% 76 2. Bau Pada Waktu Kemarau Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 15 11 11 40,54 29,72 29,72 45 22 11 Jumlah 37 100% 78 3. Bau Pada Waktu Musim Hujan Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 15 10 12 40,54 27,08 32,43 45 20 12 Jumlah 37 100% 77 4. Bau Sangat Menyengat Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 16 9 12 43,24 24,32 32,43 48 18 12 Jumlah 37 100% 78 5. Bau Tidak Mudah Hilang Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 15 9 13 40,54 24,32 35,13 45 18 13 Jumlah 37 100% 76 Total 385 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012. Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa total skor untuk sub variabel bau diperoleh 385 skor dengan kategori cukup mengganggu artinya masyarakat keberatan dengan adanya rumah potong hewan tersebut tapi tetap dapat memahami keberadaan RPH yang berada pada interval (308-431) yang berarti bahwa masyarakat cukup mengganggu dengan adanya bau yang ditimbulkan oleh rumah potong hewan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudarma dalam Rachman (2012), bahwa tanggapan seseorang terhadap bau yang tercium tergantung individu seseorang, dimana bau yang ditimbulkan RPH tersebut berasal dari limbah padat (feces), limbah cair (urine + darah), dan sisa pakan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan dengan indikator bau dapat dilihat pada Gambar 1. 184 308 385 431 555 TM CM M Gambar 1. Skala Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan RPH Sub Variabel Bau. Keterangan : TM = Tidak Mengganggu CM = Cukup Mengganggu M = Mengganggu Dari Gambar 1 dapat dilihat bahwa total skor 385, untuk persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan skor (308 – 431) dengan kategori cukup menggaggu. Hal ini berarti bahwa menurut jawaban responden sebagian merasa terganggu dengan adanya bau yang ditimbulkan dari tempat pemotongan hewan tersebut dan sebagian juga responden merasa tidak terganggu, karena bau tersebut muncul sesuai dengan arah datangnya angin. Hal ini sesuai pendapat Revo (2012) bahwa bau menyengat muncul jika hujan turun, maupun angin kencang. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil jawaban responden tentang bau Rumah Potong Hewan (RPH) terdapat pada Lampiran 2. 2. Limbah Indikator limbah dapat dilihat dari : - Langsung Dibuang/Dialirkan Kesungai - Ditumpuk. Hasil penelitian tentang persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan dari sub variabel limbah dapat dilihat pada tabel 12. Tabel 12. Penilaian persepsi masyarakat tentang limbah Rumah Potong Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Kategori Skor Frekuensi (orang) Persentase (%) Bobot 1. Langsung Dialirkan Kesungai Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 11 14 12 29,72 35,13 32,43 33 28 12 Jumlah 37 100% 73 2. Ditumpuk Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 10 11 16 27,02 29,72 43,24 30 22 16 Jumlah 37 100% 68 Total 141 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012. Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa total skor yang diperoleh yaitu 141 skor yang berarti berada pada kategori cukup mengganggu artinya masyarakat keberatan dengan adanya rumah potong hewan tersebut tapi tetap dapat memahami keberadaan RPH yang berada pada interval (123-172) skor tersebut disebabkan karena sebagian masyarakat di Kelurahan Kambiolangi merasa cukup mengganggu dengan pengolahan limbah dari RPH karena fecesnya hanya dibiarkan disaluran pembuangan saja atau langsung dibuang disungai. Hal ini sesuai dengan pendapat Kusnoputranto (1995), yang mengatakan bahwa limbah ternak adalah suatu sumber daya yang bila tak dimanfaatkan dengan baik, dapat menimbulkan masalah bagi peternak itu sendiri maupun terhadap lingkungan. Semua limbah peternakan adalah bahan yang dapat diperbaharui (renewable), tak akan habis selama ternak ada. Bila limbah peternakan tidak dikelola dengan baik akan mencemari atau memperburuk kondisi lingkungan setempat. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan RPH dengan sub variabel limbah dapat dilihat pada Gambar 2. 74 123 141 172 222 TM CM M Gambar 2. Skala Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan RPH Sub Variabel Limbah. Keterangan : TM = Tidak Mengganggu CM = Cukup Mengganggu M = Mengganggu Dari Gambar 2 dapat dijelaskan bahwa total skor 141, untuk persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan dengan skor (123 – 172) dengan kategori cukup mengganggu. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil jawaban responden tentang limbah Rumah Potong Hewan (RPH) terdapat pada Lampiran 3. 3. Pencemaran air Indikator pencemaran air dapat dilihat dari : - Air Berbau - Air yang Tercemar / Keruh Hasil penelitian tentang persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan dari sub variabel pencemaran air dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Penilaian persepsi masyarakat tentang pencemaran air Rumah Potong Hewan (RPH) di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. No Kategori Skor Frekuensi (orang) Persentase (%) Bobot 1. Air Berbau Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 10 11 16 27,02 29,72 43,24 30 22 16 Jumlah 37 100 68 2. Air tercemar / Keruh Mengganggu Cukup mengganggu Tidak mengganggu 3 2 1 10 12 15 27,02 32,43 40,54 30 24 15 Jumlah 37 100% 69 Total 137 Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012. Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa total skor yang diperoleh yaitu 137 skor yang berarti berada pada kategori cukup mengganggu artinya masyarakat keberatan dengan adanya rumah potong hewan tersebut tapi tetap dapat memahami keberadaan RPH yang berada pada interval (123-172) skor tersebut disebabkan karena sebagian masyarakat di Kelurahan Kambiolangi merasa cukup mengganggu dengan pencemaran air karena limbah yang dihasilkan oleh rumah potong hewan tersebut langsung dialirkan kesungai. Hal ini sesuai pendapat Lahamma (2006) yang menyatakan bahwa harusnya ada pengolahan limbah yang benar agar tidak mengganggu warga dan limbah tersebut sebaiknya diolah agar tidak mencemari lingkungan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan RPH dengan sub variabel pengolahan limbah dapat dilihat pada Gambar 3. 74 123 137 172 222 TM CM M Gambar 3. Skala Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan RPH Dengan Sub Variabel Pencemaran air. Keterangan : TM = Tidak Mengganggu CM = Cukup Mengganggu M = Mengganggu Gambar 3 menunjukkan bahwa total skor 137, untuk persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) dengan skor (123 – 172) dengan kategori cukup menganggu. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil jawaban responden tentang pencemaran air Rumah Potong Hewan ( RPH ) terdapat pada Lampiran 4. 4. Total Persepsi Secara Keseluruhan Penilaian masyarakat di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten. Enrekang terhadap persepsi secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 14. Hasil Rekapitulasi Penilaian Masyarakat Terhadap Persepsi di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang. NO Varabel Sub Variabel Nilai Keterangan 1. Persepsi Masyarakat 1. Bau 2. Limbah 3. Pencemaran Air 385 141 137 Cukup mengganggu Cukup mengganggu Cukup mengganggu Jumlah 663 Cukup mengganggu Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2012. Tabel 14 menunjukkan bahwa total bobot yang diperoleh dari persepsi masyarakat di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang diperoleh total bobot 663, ini menunjukkan bahwa hasil penilaian responden terhadap persepsi secara keseluruhan adalah cukup mengganggu dengan interval (554 – 776) artinya masyarakat keberatan dengan adanya rumah potong hewan tersebut, tapi tetap dapat memahami keberadaan rumah potong hewan dan masyarakat juga merasa tidak enak kalau rumah potong hewan tersebut ditutup. Penilaian tersebut meliputi bau pada kategori cukup mengganggu dengan bobot 385, indikator limbah berada pada kategori cukup mengganggu dengan bobot 141 dan pada variabel pencemaran air berada pada kategori cukup menggaggu dengan bobot 137. Hal ini berarti bahwa responden merasa cukup mengganggu dengan keberadaan rumah potong hewan dikarenakan rumah potong hewan tersebut berada di tengah pemukiman penduduk serta pengelolah kurang memperhatikan kebersihan. diketahui bahwa untuk mendirikan peternakan harus jauh dari pemukiman penduduk agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang sesuai dengan data bahwa sub variabel bau responden merasa cukup mengganggu, pencemaran air pada kategori cukup mengganggu dan limbah pada kategori cukup mengganggu. Hal ini sesuai dengan pendapat Sihombing (2000) yang menyatakan bahwa, bangunan RPH harus cukup jauh jaraknya dari rumah-rumah pemukiman untuk menghindari, pencemaran udara dan air bagi penghuni rumah tempat tinggal, bangunan-bangunan atau pusat-pusat kegiatan lainnya. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai persepsi masyarakat terhadap keberadaan Rumah Potong Hewan ( RPH) tersebut secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar 4. 331 553 663 776 999 TM CM M Gambar 4. Skala persepsi masyarakat terhadap keberadan rumah potong hewan Keterangan : TM = Tidak Mengganggu CM = Cukup Mengganggu M = Mengganggu Gambar 4 menunjukkan bahwa total skor 585, untuk persepsi masyarakat terhadap RPH secara keseluruhan dengan skor (554 – 776) dengan kategori cukup mengganggu. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hasil jawaban responden tentang rekapitulasi hasil jawaban responden mengenai bau, limbah dan pencemaran air Rumah Potong Hewan (RPH) terdapat pada Lampiran 5. BAB VII PENUTUP 7.I Kesimpulan Persepsi masyarakat terhadap keberadaan rumah potong hewan di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang adalah cukup mengganggu artinya masyarakat keberatan dengan adanya Rumah Potong Hewan (RPH) tersebut, tapi tetap dapat memahami keberadaan rumah potong hewan tersebut karena hanya satu-satunya RPH yang ada di Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang yang memenuhi permintaan daging di seluruh Kecamatan Alla dan sekitarnya. 7.2 Saran 1. Sebaiknya pengelola dan pemerintah dari rumah potong hewan yang berada di Kelurahan Kambiolangi Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang memperhatikan penanganan limbah padat maupun cair dan sanitasi RPH agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga menganggu masyarakat sekitar. 2. Sebaiknya limbah yang dihasilkan dikelola dengan baik misalnya feces dibuat pupuk kandang, darah dibuat tepung darah dan urine dijadikan pupuk cair sehingga limbah tersebut memberikan nilai tambah bagi usaha tersebut. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2011. Warga Kembali Keluhkan Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) http://djandakoe.blogspot.com/2011/08/warga-kembali-keluhkan-limbah-rumah.html. (Diakses pada tanggal 27 Juli 2012) _________. 2010. Analisis Warna Dan Bau http://mochiexito. blogspot. Com /2010/12/ analisis-warna-dan-bau. html. ( Diakses tanggal 9 Agustus 2012 ) Aditya, 2007. Pengertian Persepsi. http://adityaromantika. blogspot. Com /2010 /12/ persepsi. html. (Diakses Tanggal 9 Agustus 2012 ). Bewick.M.W.M. 1980. Handbook of Organic Waste Convertion Litton Educational Publishing, Inc. New York. Burhanuddin, R. 2005. Studi Kelayakan Pendirian Rumah Potong Hewan di Sangatta Kabupaten Kutai timur. Sangatta, Kutai Timur. Daniel, M. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta. Hamdan,W.2010. Pencemaran Lingkungan. http://lingkarhayati.wordpress.com/ pencemaran-lingkungan. ( Diakses Tanggal 29 Januari 2013). Hannayuri, 2011. Perundang-Undangan Peternakan Dan Kesehatan Hewan Tentang Pemotongan Hewan. http://hannayuri. blogspot. com/2011/05/20/perundang-undangan-peternakan-dan- kesehatan -hewan -tentang –pemotongan- hewan. html. (Diakses Tanggal 29 Juli 2012). Jenie, B.S.L dan W.P. Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Idustri Pangan. Kanisius. Jakarta. Kartakusuma,Dana A. 2004. Asisten Deputi Urusan Kajian Dampak Lingkungan. D.I. Panjaitan.Kav.24. Jakarta. Kusnoputranto, H. 1995. Limbah Industri dan B-3 Dampaknya terhadap Kualitas Lingkungan dan Upaya Pengelolaannya. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Mulawarman, Samarinda. Lahamma, A. 2006. Persepsi Peternak tentang Limbah Pertanian dalam Pemanfaatannya sebagai Pakan Ternak Sapi di Kecamatan Sukamaju Luwu Utara. Universitas Hasanuddin, Makassar. Lestari, P.T.B.A., 1994. Rumah Pemotongan Hewan Ruminansia Indonesia. P.T. Bina Aneka Lestari, Jakarta. Muhyadi, 1989, Pengertian Persepsi. http://infoskripsi.com. (Diakses pada tanggal 27 Juli 2012). Rachman. M. 2012. Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Peternakan Babi di Kampung Katimbang Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar. Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi . PT Remaja Rosdakarya, Bandung. __________. 1996. Psikologi Komunikasi. Edisi kesepuluh. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Ramadhan,B.F. 2009. Gambaran Persepsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta. Revo. 2011. Warga Kembali Keluhkan Limbah Rumah Potong Hewan. http://djandakoe. blogspot. Com /2011 /08 / warga –kembali –keluhkan –limbah –rph .html. (Diakses Tanggal 2 Oktober 2012). Rianto. 2010. Rumah Potong Hewan sesuai SNI. http://diporianto. blogspot. com /2010 /01 / syarat-rumah-potong-hewan-sesuai-sni. html. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. (Diakses Tanggal 27 Juli 2012). Roihatin. A dan Rizqi A. K. 2007 Pengolahan Air Limbah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dengan Cara Elektrokoagulasi Aliran Kontinyu. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI KUNTA, 
Previous
Next Post »
0 Komentar