ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA“(STUDI PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG LISTING DI BEJ)

Admin

ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN
RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI
INDONESIA“(STUDI PADA PERUSAHAAN ROKOK YANG LISTING DI BEJ)



ABSTRAK

Kata Kunci : Modal Kerja, Rentabilitas

Industri rokok di Indonesia mengalami keadaan pasang surut pada
tahun 1998 yang merupakan awal masa krisis, namun industri rokok malah
mengalami puncak produksinya, ini terlihat pada penerimaan negara dari
cukai rokok pada tahun 1996 mencapai Rp.4,153 triliun, bahkan pada tahun
1997 yang merupakan masa awal krisis ekonomi penerimaan cukai rokok
meningkat mencapai Rp.4,792 triliun dan tahun 1998 melonjak lagi menjadi
Rp.7,391 triliun. Dalam melakukan kegiatan operasionalnya perusahaan
membutuhkan dana yang disebut modal kerja. Modal kerja merupakan
salah satu faktor penting yang harus ada dalam perusahaan untuk menjamin
kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Karena itu dalam operasinya
perusahaan harus mampu mengelola modal kerjanya secara efektif dan
efisien. Perusahaan dikatakan kinerja keuangannya baik apabila mampu
mengelola modal kerja yang dimiliki secara tepat sehingga akan tercermin
dalam pencapaian laba yang maksimal, dimana kemampuan suatu
perusahaan dalam menghasilkan laba ditunjukkan dengan tingkat
rentabilitas.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan
deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
dokumentasi dengan sumber data sekunder yaitu laporan keuangan tahun
2000 sampai dengan tahun 2006. Teknik analisis data dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan yaitu, modal kerja,
perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan rentabilitas.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa setiap perusahaan yaitu PT.
BAT Indonesia, PT. Gudang Garam, PT. HM Sampoerna dan PT. Bentoel
Internasional terdapat perbedaan dalam perputaran modal kerja Yang dapat
dilihat dari komponen modal kerja yaitu periode perputaran kas, perputaran
piutang dan perputaran persediaan. Yang mana dari periode perputaran
tersebut dapat diketahui berapa jumlah modal kerja yang harus dimiliki
perusahaan untuk bisa menjalankan kegiatan opersionalnya. Dari
pembahasan maka dapat dismpulkan bahwa perputaran modal kerja yaitu
yang terdiri dari perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran
persediaan jika dibandingkan dengan rata-rata industri perputaran kas yang
tinggi adalah PT. Gudang garam, Perputaran piutang yang paling cepat
adalah HM Sampoerna dan perputaran Persediaan yang tinggi adalah PT.
Bentoel. Pada rentabilitas jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka
yang paling baik dalam menghasilkan rentabilitas adalah PT.HM
Sampoerna.

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) S K R I P S I O l e h INAYATUS SHOLIKHAH NIM : 03220002 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2007 ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) S K R I P S I Diajukan Kepada : Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) O l e h INAYATUS SHOLIKHAH NIM : 03220002 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM (UIN) MALANG 2007 LEMBAR PERSETUJUAN ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) S K R I P S I O l e h INAYATUS SHOLIKHAH NIM : 03220002 Telah disetujui 12 juli 2007 Dosen Pembimbing, INDAH YULIANA, SE., MM NIP : 150327250 Mengetahui : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP : 150231828 LEMBAR PENGESAHAN ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) S K R I P S I O l e h INAYATUS SHOLIKHAH NIM : 03220002 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada Tanggal 21 Juli 2007 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1. Ketua Drs. Nur Asnawi, MA ( ) NIP. 150295491 2. Sekretaris/Pembimbing Indah Yuliana, SE., MM ( ) NIP. 150327250 3. Penguji Utama Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak ( ) Disahkan Oleh : D e k a n, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828 PERSEMBAHAN Allahu Rabbi izzati…… Yang Maha menuntunku dalam sebuah lentera hati Rabbku……… Dengan Rahman-Mu, dan seganap curahan Rahim-Mu… Memberi sebuah oase dalam ladang jiwaku…….. Memberi cahaya dalam kalbuku…… Menuntun dalam setiap langkah kecilku…. Dan……….. Yang mendengarkan smua Doa-doa dan harapan ku Sembah dan Sujud syukurku pada-Mu…………… Bapak dan Ibuku……. Yang tak lelah mendoa’akanku, memberiku kasih sayang dan tak pernah lelah mendengar semua keluhku, memberiku sebuah ruang yang takkan pernah tergantikan. Ina takkan berarti tanpa smua yang telah panjenengan berikan to hidup dan masa depanku. Kakak & Mbakku (Mas Ali & Mbak Mar, Mbak Ofi & Mas Ren) Terimakasih atas semua kasih sayang dan perhatian yang telah kalian berikan buatku…. Keponakanku (Puput, Devi, Rojib & Faris) Tawa riang dan celoteh kalian, menghilangkan sejenak segala kepenatanku…….. Shobatku……. Kebersamaan ini membuat kita satu, adanya perbedaan yang menjadikan kita saling melengkapi. Thanks you so much atas smua,semoga persahabatan kita dikuatkan oleh-Nya. Dengan nafas Engkau berikan aku hidup…. Yang kini kujalani sebagai cerita……. MOTTO “TULUSKAN KETAATAN KITA AGAR HATI TERBUKA SEJERNIH MANA YANG KITA JALANI DAN SEBERSIH MANA KEIKHLASAN KITA MAKA DEMIKIANLAH KEBAHAGIAAN YANG AKAN KITA RAIH” KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim……….. Ungkapan rasa syukur Kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahman dan Rahim-Nya, segala karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Lantunan sholawat dan salam kepada junjungan sang penunjuk jalan menuju Ridho-Nya, lentera hati dalam kegelapan, Nabi besar Muhammad SAW sang Revolusioner besar Islam yang menuntun umat manusia ke jalan kebenaran. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya skripsi ini, yaitu kepada : 1. Bapak Prof. Drs. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Malang. 2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Malang. 3. Bapak Ahmad Fakhruddin Alamsyah, SE., MM. selaku Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Malang. 4. Ibu Indah Yuliana, SE., MM. selaku Dosen Pembimbing yang banyak membantu memberikan koreksi, saran dan masukan hingga sempurnanya skripsi ini. 5. Kedua orang tuaku, yang tak pernah lelah memberiku kasih sayang, motivasi dan doa yang tiada henti. 6. Abah H. Munawir dan Ibu Hj. Siti Chotika, terimakasih atas segala yang telah Ibu dan Abah berikan untukku, semoga Allah membalas semua kebaikan dan kemurahan hati Ibu dan Abah. 7. Para staff dan karayawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Malang yang telah banyak membantu dalam kelengkapan akademik. 8. Para staff dan karyawan Pojok BEJ Universitas Muhammadiyah Malang yang telah membantu dalam proses pengambilan data. 9. Shobatku, Umi terimakasih atas semua waktu, pengorbanan dan smuanya yang kau berikan untukku, kamu adalah sahabat terbaikku. 10. Teman bermainku, Yuli & Isna, thanks ya atas smua waktunya, kapan-kapan kita jalan-jalan lagi. 11. Teman-temanku (cemer, indah, umde & yuvi) terimakasih atas smua masukan dan motivasinya, kalian memberiku kenangan tersediri. 12. Teman-teman angkatan 2003/2004, khususnya kelas B Fakultas Ekonomi UIN Malang. 13. seluruh pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya skripsi ini. Dalam penyelesaian skripsi ini penulis menyadari banyak kekurangan, seperti kata pepatah “Tiada gading yang tak retak”, untuk itu demi kesempurnaan hasil skripsi ini, penulis mohon kritik dan saran dari para pembaca. Dan semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pihak para pembaca pada umumnya, Amien. Billahitaufiq Walhidayah……………. Malang, 12 juli 2007 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL……………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN……………………………………. ii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………. iii HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………….. iv MOTTO…………………………………………………………….. v KATA PENGANTAR…………………………………………….. vi DAFTAR ISI……………………………………………………….. viii DAFTAR TABEL………………………………………………….. xii DAFTAR GAMBAR……………………………………………… xiv DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………… xvi ABSTRAK…………………………………………………………. xvii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang…………………………………….. 1 B. Rumusan Masalah………………………………… 7 C. Batasan Masalah………………………………….. 7 D. Tujuan Penelitian…………………………………. 7 E. Manfaat Penelitian………………………………… 8 BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Terdahulu………………………………….. 9 B. Laporan Keuangan………………………………… 10 1. Karakteristik Laporan Keuangan……………..... 11 2. Penggunaan Rasio Keuangan…………………… 12 3. Hubungan Lap. Keuangan dengan Modal Kerja.. 13 4. Pasar Modal Bursa Efek Jakarta…………………… 13 C. Modal Kerja 1. Pengertian Modal Kerja……………………………. 17 2. Jenis-jenis Modal Kerja…………………………. 18 3. Konsep Modal Kerja……………………………… 19 4. Pentingnya Modal Kerja………………………… 19 5. Kebijakan Modal Kerja………………………….. 21 6. Penggunaan Modal Kerja……………………….. 22 7. Sumber-sumber Modal Kerja…………………… 23 8. Menentukan Kebutuhan Modal Kerja…………. 24 9. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Modal Kerja……25 10. Fungsi-fungsi Modal Kerja……………………… 26 11. Hubungan Modal Kerja dan Rentabilitas……… 26 12. Modal Kerja Dalam Prespektif Islam…………… 27 D. Rentabilitas 1. Pengertian Rentabilitas………………………….. 32 2. Macam-macam Rentabilitas……………………… 32 E. Kerangka Berfikir…………………………………… 35 BAB III : METODE PENELITIAN A. Populasi Penelitian………………………………… 36 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian…………………. 36 C. Jenis dan Sumber Data…………………………….. 38 D. Teknik Pengumpulan Data……………………….. 38 E. Definisi Opersional………………………………… 39 F. Teknik Analisis Data……………………………….. 40 BAB IV : PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Perusahaan…………………... 42 1. PT. BAT Indonesia Tbk………………………… 42 2. PT. Gudang Garam Tbk………………………. 45 3. PT.Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk………. 56 4. PT.Bentoel Internasional Inv. Tbk……………. 64 B. Analisis Data dan Hasil pembahasan 1. Perputaran Modal Kerja PT.BAT Indonesia……. 67 a. Modal Kerja Pada PT. BAT Indonesia…………. 67 1. Perputaran kas……………………………. 68 2. Perputaran Piutang………………………. 72 3. Perputaran Persediaan……………………. 76 4. ROA PT.BAT Indonesia…………………... 77 5. ROE PT.BAT Indonesia…………………… 79 2. Perputaran Modal Kerja PT. Gudang Garam……. 81 a. Modal Kerja Pada PT. Gudang Garam…………. 81 1. Perputaran Kas…………………………….. 83 2. Perputaran Piutang……………………….. 84 3. Perputaran Persediaan……………………. 87 4. ROA PT.Gudang Garam………………….. 89 5. ROE PT.Gudang Garam………………….. 90 3. Perputaran Modal Kerja PT. HM Sampoerna……. 93 a. Modal Kerja Pada PT. HM Sampoerna…………. 93 1. Perputaran Kas…………………………….. 95 2. Perputaran Piutang………………………... 97 3. Perputaran Persediaan……………………. 100 4. ROA PT.HM Sampoerna………………….. 101 5. ROE PT.HM Sampoerna………………….. 103 4. Perputaran Modal Kerja PT.Bentoel Internasional.. 105 a. Modal Kerja PT. Bentoel Internasional………….. 105 1. Perputaran Kas…………………………….. 107 2. Perputaran Piutang………………………... 109 3. Perputaran Persediaan……………………. 112 4. ROA PT.Bentoel Internasional…………… 113 5. ROE PT.Bentoel Internasioanal…………… 115 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan…………………………………………… 117 B. Saran…………………………………………………… 118 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 4.1 : Sarana dan Fasilitas Produksi………………… .. 43 Tabel 4. 2 : Hasil Produksi PT. BAT………………………….. 45 Tabel 4. 3 : Komposisi Karyawan Menurut Jabatan………… 49 Tabel 4. 4 : Komposisi Karyawan PT. HM Sampoerna……... 60 Tabel 4. 5 : Modal Kerja PT. BAT……………………………… 67 Tabel 4. 6 : Perputran Kas PT. BAT…………………………… 69 Tabel 4. 7 : Perputaran Piutang PT. BAT…………………….. 73 Tabel 4. 8 : Periode Pengumpulan Piutang…………………… 73 Tabel 4. 9 : Periode Perp. Persed PT. BAT …………………… 76 Tabel 4.10 : ROA PT.BAT dan Rata-rata Industri……………… 77 Tabel 4.11 : ROE PT.BAT dan Rata-rata Industri………………. 79 Tabel 4.12 : Modal kerja PT.Gudang Garam…………………… 81 tabel 4.13 : Perputaran Kas PT. Gudang Garam………………. 83 Tabel 4.14 : Perp. Piutang PT. Gudang Garam ………………… 84 Tabel 4.15 : Periode Pengm. Piutang PT. Gudang Garam……... 84 Tabel 4.16 : Perputaran Persediaan………………………………. 87 Tabel 4.17 : Rentabilitas Ekonomi PT, Gudang Garam………… 89 Tabel 4.18 : Rentabilitas Modal Sendiri PT. Gudang Garam….. 90 Tabel 4.19 : Modal Kerja PT. HM Sampoerna…………………… 93 Tabel 4.20 : Perputaran Kas PT.HM Sampoerna………………… 95 Tabel 4. 21 : Perputaran Piutang PT.HM Sampoerna…………… 97 Tabel 4. 22 : Periode Pengm. Piutang PT.HM Sampoerna ……… 98 Tabel 4. 23 : Perputaran Persediaan PT.HM Sampoerna ……….. 100 Tabel 4. 24 : ROA PT. HM Sampoerna dan rata-rata…………….. 101 Tabel 4. 25 : ROE PT. HM Sampoerna…………………………….. 103 Tabel 4. 26 : Modal Kerja PT.Bentoel ……………………………… 105 Tabel 4. 27 : Perputaran Kas PT.Bentoel…………………………. 107 Tabel 4. 28 : Perputaran Piutang PT.Bentoel……………………… 109 Tabel 4. 29 : Pengumpulan Piutang PT.Bentoel ………………….. 109 Tabel 4. 30 : Perputaran Persediaan PT.Bentoel ………................. 112 Tabel 4. 31 : ROA PT. Bentoel……………………………………… 113 Tabel 4. 32 : ROE PT. Bentoel………………………………………. 119 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 : Metode Terikatnya Modal Kerja……………………. 24 Gambar 2.2 : Metode Terikatnya Modal Kerja…………………… 24 Gambar 4.1 : Perputaran Kas PT. BAT ……………………………. 70 Gambar 4.2 : Periode Perp. Piutang PT. BAT …………………….. 74 Gambar 4.3 : Perd. Pengumpulan Piutang PT.BAT………………. 74 Gambar 4.4 : Perputaran Persediaan PT.BAT …………………….. 76 Gambar 4.5 : Rentabilitas Ekonomi PT.BAT ……………………… 78 Gambar 4.6 : Rentabilitas Modal Sendiri PT.BAT………………… 79 Gambar 4.7 : Perputaran Kas PT. Gudang Garam………………... 83 Gambar 4.8 : Perp. Piutang PT. Gudang Garam …………………. 85 Gambar 4.9 : Periode Pengm. Piutang PT. Gudang Garam……… 86 Gambar 4.10 : Perputaran Persediaan PT. Gudang Garam………... 88 Gambar 4.11 : Rentabilitas Ekonomi PT, Gudang Garam………….. 89 Gambar 4.12 : Rentabilitas Modal Sendiri PT. Gudang Garam….. 91 Gambar 4.11 : Perputaran Kas PT. HM Sampoerna …………. …… 95 Gambar 4.12 : Perputaran Piutang PT.HM Sampoerna ………….. 97 Gambar 4.13 : Periode Pengm. Piutang PT.HM Sampoerna …….. 98 Gambar 4.14 : Perputaran Persediaan PT.HM Sampoerna ………. 100 Gambar 4.15 : Rentabilitas Ekonomi PT.HM Sampoerna ………… 102 Gambar 4.16 : ROE PT. HM Sampoerna ……………………............. 104 Gambar 4.17 : Perputaran Kas PT. Bentoel ………………………… 107 Gambar 4.18 : Perputaran Piutang PT.Bentoel …………………….. 109 Gambar 4.19 : Periode Pengm. Piutang PT.Bentoel ………………... 110 Gambar 4.20 : Perputaran Persediaan PT.Bentoel ………………….. 112 Gambar 4.21 : ROA PT.HM Sampoerna …………………………….. 114 Gambar 4.22 : ROE PT.HM Sampoerna …………………………….. 115 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 :Tabel Perputaran Modal Kerja Perusahaan Rokok Yang Listing di BEJ Lampiran 2 : Surat Pernyataan Lampiran 3 : Bukti Konsultasi ABSTRAK Sholikhah, Inayatus. 2007. Judul “Analisis Perputaran Modal Kerja Dan Rentabilitas Perusahaan Pada Industri Rokok Di Indonesia“(Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) Pembimbing : Indah Yuliana, SE., MM. Kata Kunci : Modal Kerja, Rentabilitas Industri rokok di Indonesia mengalami keadaan pasang surut pada tahun 1998 yang merupakan awal masa krisis, namun industri rokok malah mengalami puncak produksinya, ini terlihat pada penerimaan negara dari cukai rokok pada tahun 1996 mencapai Rp.4,153 triliun, bahkan pada tahun 1997 yang merupakan masa awal krisis ekonomi penerimaan cukai rokok meningkat mencapai Rp.4,792 triliun dan tahun 1998 melonjak lagi menjadi Rp.7,391 triliun. Dalam melakukan kegiatan operasionalnya perusahaan membutuhkan dana yang disebut modal kerja. Modal kerja merupakan salah satu faktor penting yang harus ada dalam perusahaan untuk menjamin kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Karena itu dalam operasinya perusahaan harus mampu mengelola modal kerjanya secara efektif dan efisien. Perusahaan dikatakan kinerja keuangannya baik apabila mampu mengelola modal kerja yang dimiliki secara tepat sehingga akan tercermin dalam pencapaian laba yang maksimal, dimana kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba ditunjukkan dengan tingkat rentabilitas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dengan sumber data sekunder yaitu laporan keuangan tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan yaitu, modal kerja, perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan rentabilitas. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa setiap perusahaan yaitu PT. BAT Indonesia, PT. Gudang Garam, PT. HM Sampoerna dan PT. Bentoel Internasional terdapat perbedaan dalam perputaran modal kerja Yang dapat dilihat dari komponen modal kerja yaitu periode perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan. Yang mana dari periode perputaran tersebut dapat diketahui berapa jumlah modal kerja yang harus dimiliki perusahaan untuk bisa menjalankan kegiatan opersionalnya. Dari pembahasan maka dapat dismpulkan bahwa perputaran modal kerja yaitu yang terdiri dari perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan jika dibandingkan dengan rata-rata industri perputaran kas yang tinggi adalah PT. Gudang garam, Perputaran piutang yang paling cepat adalah HM Sampoerna dan perputaran Persediaan yang tinggi adalah PT. Bentoel. Pada rentabilitas jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka yang paling baik dalam menghasilkan rentabilitas adalah PT.HM Sampoerna. ABSTRACT Sholikah, Inayatus. 2007. Title “Analysis of Company’s Work Capital and Rentability Circulation at Cigarette Industry in Indonesia (Study at the Cigarette Factory listed in BEJ)” Keywords: Work Capital, Rentability Cigarette Industry in Indonesia experience up-and-down condition in 1998 represents the beginning period of crisis; but in contrast, cigarette industry experiences its production acme. It can be seen on the country revenue from cigarette tariff in 1996 reaching Rp. 4,153 trillion. Moreover, in 1997, that represents beginning periode of economy crisis, cigarette tariff revenue rise to Rp. 4,792 trillion and rise again in 1998 to Rp. 7.391 trillion. In doing its operational activity, the company needs a fund that called by work capital. Work capital is one of the important factors that should be existing in the company to guarantee it’s live through for long term. Therefore, the company should be able to manage its work capital effectively and efficiently in its operation. The company said to have good financial performance if it can manage its work capital correctly, so that it will be reflected in maximum profit achievement, where the prosperity of a company in produce a profit shown by its rentability level. This research is a qualitative research by using descriptive approach. Its collecting data technique is documentation with its secondary data source is financial report period 2000 to 2006. Data analysis technique in this research uses analysis of financial ratio, that is work capital, cash flow, credits circulation, supply circulation and rentability. The analysis result shows that every company, such as PT. BAT Indonesia, PT. Gudang Garam, PT. HM Sampoerna and PT. Bentoel International, have different circulation of work capital. They can be seen from their work capital components, that is period of cash flow, credits circulation, and supply circulation. From the those circulation periode, it can be known the amount of work capital that should be had by the company to be able to perform their operational. From the discussion, it can be concluded that if works capital circulation includes cash flow credits circulation, supply circulation are compared with the average of industrial cash flow, PT. Gudang Garam is the highest one; the quickest credit circulation is HM Sampoerna; and the highest supply circulation is PT. Bentoel. For Rentability, if compared with industrial average, hence the best one is PT. HM. Sampoerna to produce rentability. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberadaan industri rokok di Indonesia memang dilematis. Di satu sisi ia diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan bagi pemerintah karena cukai rokok diakui mempunyai peranan penting dalam penerimaan negara. Namun di sisi lainnya dikampanyekan untuk dihindari karena alasan kesehatan. Peranan industri rokok dalam perekonomian Indonesia saat ini terlihat semakin besar, selain sebagai motor penggerak ekonomi juga menyerap banyak tenaga kerja. Dalam 10 tahun terakhir industri rokok di Indonesia mengalami pertumbuhan fenomenal. Resesi ekonomi yang dimulai dengan krisis moneter sejak Juli 1997 tidak terlalu berpengaruh dalam kegiatan industri tersebut. Pada Tahun 1994 penerimaan Negara dari cukai rokok saja mencapai Rp 2,9 triliun, Tahun 1996 meningkat lagi menjadi Rp 4,153 triliun bahkan pada tahun 1997 yang merupakan awal dari krisis ekonomi penerimaan cukai negara dari industri rokok menjadi Rp 4,792 triliun dan tahun 1998 melonjak lagi menjadi Rp 7,391 triliun (Indocommercial, 1999: 1). Simon Bambang Sumarno, Alumnus Magister Manajemen UGM (http://www.sinarharapan.co.id/ceo/2005/0620/ceo1.html). Tabel :1.1 Penerimaan Negara dari Cukai Rokok Tahun Jumlah Penerimaan Cukai Rokok 1994 1996 1997 1998 Rp. 2,9 Triliun Rp. 4,153 Triliun Rp. 4,792 Triliun Rp. 7,391 Triliun Sumber : www. Sinar harapan.co.id Dalam industri rokok, dominasi dari para pelaku utama bisnis ini sudah cukup dikenal. Pada tiga tahun terakhir (tahun 1999, 2000, 2001) ternyata 3 perusahaan rokok, yaitu PT.Gudang Garam Tbk, PT. HM Sampoerna Tbk dan PT. Djarum, selalu masuk dalam jajaran “Sepuluh Besar Perusahaan Terbaik” di antara 200 Top Companies di Asia. Uniknya, lokasi empat perusahaan rokok kretek yang menguasai pasar di Indonesia. PT. Gudang Garam Tbk, PT. HM. Sampoerna Tbk, PT Djarum dan PT. Bentoel— masing-masing amat terkonsentrasi secara geografis. Secara regional, masing-masing perusahaan ini berperanan dalam tumbuh dan berkembangnya kluster industri rokok di Kabupaten Kediri, Kota Surabaya, Kabupaten Kudus dan Kota Malang (http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CTri-2.pdf) Industri rokok di Indonesia mengalami pasang surut, tahun 1998 yang merupakan awal masa krisis, industri rokok malah mencapai puncak produksinya. Selama masa krisis, tenaga kerja industri rokok terus mengalami peningkatan, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi. Kondisi ini berdampak pada penurunan produktivitas pekerja industri rokok. Walaupun demikian, produktivitas tenaga kerja industri rokok selama masa krisis tidak berbeda apabila dibandingkan dengan produktivitas tenaga kerja sebelum masa krisis (http://www.mudrajad.com/upload/journal_struktur-kinerja-klusterindustri- rokok). Produktivitas perusahaan selama masa krisis justru lebih tinggi apabila dibandingkan dengan sebelum masa krisis. Kondisi ini akibat adanya efisiensi yang dilakukan perusahaan rokok besar dan sedang yang memproduksi lebih dari 1 jenis hasil tembakau (JHT). Perusahaan lebih terfokus pada Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang padat modal dibandingkan dengan jenis produksi sigaret Kretek Tangan (SKT) yang padat karya dan syarat dengan isu buruh. Tri Wibowo,Potret Industri Rokok Di Indonesia (Kajian Ekonomi dan Keuangan 2003). Dilihat dari jumlah perusahaan secara total, pada periode tahun 1981- 2002 industri rokok cukup dinamis. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah perusahaan yang bergerak pada industri rokok kurun waktu tersebut telah mencapai 201 perusahaan. Tahun berikutnya jumlah perusahaan mengalami penurunan sampai dengan tahun 1990 yang merupakan pada titik terendah, dengan jumlah perusahaan sebanyak 170. Pada tahun 1990, industri rokok mulai bangkit kembali, dan terus berkembang hingga sampai tahun 1995 dengan jumlah perusahaan mencapai 244 perusahaan. Tahun 1996, industri rokok kembali lesu, sehingga hanya 228 perusahaan. Setelah tahun 2000, industri rokok relatif stabil, hal ini terlihat dari jumlah perusahaan yang jumlahnya berkisar 244 sampai dengan 247 perusahaan (http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian%5CTri-2.pdf). Persaingan didunia usaha dewasa ini semakin meningkat, sehingga menuntut perusahaan untuk memenangkan persaingan yang ada dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Seiring dengan itu permintaan akan barang dan jasa juga menuntut perusahaan untuk mengatur manajemen modal kerja yang ada pada perusahaan dengan baik dan efektif. Industri sebagai salah satu soko guru perekonomian negara, memiliki peranan penting dalam menunjang stabilitas perekonomian. Untuk itu industri hendaknya memperhatikan dengan seksama dalam pengunaan modal kerja untuk menghasilkan tingkat rentabilitas yang tinggi dan menghindari adanya penggunaan modal kerja yang berlebihan dan sia-sia. Dalam menyelenggarakan seluruh aktifitasnya, perusahaan selalu membutuhkan dana harian misalnya digunakan untuk membeli bahan mentah, membayar gaji karyawan, membayar rekening listrik, pajak, dan membayar hutang lainnya. Dan yang dialokasikan tersebut diharapkan akan diterima kembali dari hasil penjualan produk yang dihasilkan dalam waktu yang tidak lama (kurang dari satu tahun). Laba yang diterima tersebut dipergunakan lagi untuk kegiatan operasi perusahaan selanjutnya. Dana yang digunakan untuk membiayai seluruh operasi perusahaan sehari-hari disebut modal kerja (Martono, 2004:72). Modal kerja perusahaan merupakan salah satu faktor penting untuk menjamin kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Karena itu perusahan dalam operasinya harus mampu mengelola modal kerjanya secara efektif dan efisien. Pengelolaan modal kerja yang baik adalah ketika perusahaan mampu menaikkan nilai perusahaan dengan pemilihan sumber dan penggunaan dana yang tepat sehingga akan tercermin dalam pencapaian laba yang maksimal, dimana kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba ditunjukan oleh tingkat rentabilitas. Kebutuhan modal kerja harus direncanakan dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan. Dalam menentukan besar kecilnya modal kerja menurut Riyanto (1995:64) tergantung pada dua faktor yaitu , periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja dalam pengeluaran kas rata-rata setiap harinya. Menurut Martono (2004:72) bahwa tujuan manajemen modal kerja adalah mengelola aktiva lancar dan hutang lancar, sehingga diperoleh modal kerja netto yang layak dan menjamin tingkat rentabilitas perusahaan. Hubungan modal kerja dengan rentabilitas adalah dengan komposisi modal kerja yang tepat akan berpengaruh kepada tingkat rentabilitas. Tingkat rentabilitas yang rendah bila dihubungkan dengan modal kerja dapat menunjukkan kemungkinan rendahnya volume penjualan dibanding dengan ongkos yang digunakan. Sehingga untuk menghindari itu, diharapkan komposisi modal kerja yang tepat akan berpengaruh pada tingkat rentabilitas, dimana perusahaan yang dikatakan tinggi rentabilitas berarti tinggi pula efisiensi penggunaan modal kerja yang digunakan perusahaan tersebut. Akan tetapi dengan modal kerja yang tinggi belum tentu perusahaan akan mendapatkan rentabilitas yang tinggi pula (Munawir, 2000:87). Dari pemaparan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengetahui dan meneliti lebih lanjut mengenai masalah penggunaan modal kerja pada Industri Rokok. Dengan judul “Analisis Perputaran Modal Kerja Dan Rentabilitas Perusahaan Pada Industri Rokok Di Indonesia (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ)” B. Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang diatas tentang pentingnya analisis modal kerja untuk melaksanakan segala kegiatan operasinya dan rentabilitas perusahaan, maka rumusan masalahnya adalah : 1. Bagaimana perputaran modal kerja perusahaan pada Industri Rokok di Indonesia? 2. Bagaimana tingkat Rentabilitas Perusahaan pada Industri Rokok di Indonesia? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengambarkan perputaran modal kerja perusahaan pada Industri Rokok di Indonesia. 2. Untuk mengambarkan rentabilitas perusahaan pada industri rokok di Indonesia. D. Batasan Masalah Banyaknya persoalan yang hendak dibahas, maka perlu dilakukan pembatasan masalah agar pembahasan lebih terfokus, antara lain : 1. Perusahaan rokok yang dianalisis adalah perusahaan rokok yang listing di BEJ tahun 2000-2006. 2. Data keuangan yang diolah adalah data laporan keuangan tahun 2000-2006. Data laporan keuangan tahun 2000-2006 diolah karena pada tahun 1998 sampai akhir 2000 industri rokok mengalami keadaan yang tidak stabil karena faktor krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia (http://www.fiskal.depkeu.go.id). 3. Ukuran rentabilitas yang digunakan adalah Rentabilitas Modal Sendiri (ROE), dan Rentabilitas Ekonomi (ROA). E. Manfaat penelitian Sebagaimana yang telah penulis uraikan di atas, maka penelitian ini diharapkan memiliki beberapa manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat teoritis: penelitian ini diharapkan membawa manfaat bagi perkembangan ilmu ekonomi khususnya dalam bidang keuangan. 2. Manfaat praktis: penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi dan wacana kepada perusahaan yang bersangkutan dalam penggunaan modal kerja secara baik. 3. Manfaat bagi penulis : sebagai media aplikasi ilmu pengetahuan selama mengikuti perkuliahan. Menambah wacana dan wawasan keilmuan. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Tabel.1 Penelitian Terdahulu Nama Judul Variabel Metode Analisis Hasil Alex Nur Sahudi (2003) Analisis Modal Kerja untuk Meningkatkan Kontinuitas Operasional Perusahaan (Studi Kasus Pada PT.BPRS Bumi Rinjani Batu) 2003 • Modal kerja • Operasional perusahaan -analisis trend -analisis rasio -metode trend linear Kondisi perusahaan tidak likuid dilihat dari laporan neraca digambarkan bahwa aktiva lancar naik hingga 65%, namun kenaikan tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan hutang . Eni Nurniati (2006) Efektifitas Penggunaan Modal Kerja Guna Meningkatkan Rentabilitas (Studi pada KP-RI “Amanah” unit simpan pinjam Banyuwangi) 2006 - modal kerja - rentabilitas • Rentabilitas ekonomi • Rentabilitas modal sendiri - Rasio Likuiditas - Rasio Aktivitas - Rasio Rentabilitas kondisi modal kerja pada KPRI mengalami penumpuka n modal kerja akibat pengelolaan yang kurang efektif, karena tidak mampu menjaga tingkat likuditasnya sesuai standart industri yang ada (200%). Rusiati (2002) Kebijakan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Untuk Menjaga tingkat Likuiditas dan Meningkatkan Tingkat Profitabilitas PT.Timah Tbk. (2002) - sumber dan penggunaan modal kerja - likuiditas - profitabilitas - rasio Likuiditas - Rasio Profitabilitas Sumber modal kerja dari dalam perusahaan terdiri dari saldo laba, penurunan aktiva lancar, cadangan serta penyusutan, sedang sumber eksternal perusahaan berasal dari kenaikan kewajiban tak lancar Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah : 1. Pada penelitian ini, meneliti tentang perputaran modal kerja dan tingkat rentabilitas untuk satu industri, yaitu industri rokok. Sedangkan pada penelitian sebelumnya hanya pada satu perusahaan serta hanya menganalisis penggunaan dan efektifitas modal kerja. 2. Penelitian ini ingin melihat tentang perputaran modal kerja dan rentabilitas perusahaan. B. Laporan Keuangan Brigham (2001:38), mengemukakan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang diterbitkan setiap tahun oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Laporan keuangan berisi laporan keuangan dasar dan opini manajemen atas operasi perusahaan selama satu tahun dan prospek perusahaan di masa depan. Weston dan Copeland (1995:24) mendefinisikan laporan keuangan sebagai informasi yang melaporkan prestasi historis dari suatu perusahaan dan memberikan dasar bersama analisis bisnis dan ekonomi untuk membuat proyeksi dan peramalan untuk masa depan. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap meliputi neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang disajikan dengan berbagai cara, misalnya sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana) catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu skedul dan informasi juga merupakan tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut (IAI:2000). 1. Karakteristik Laporan Keuangan Menurut PSAK (IAI,2002), menjelaskan bahwa laporan keuangan mempunyai empat karakteristik kualitatif, yaitu : a. Dapat dipahami, kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. b. Relevan, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi dapat dikatakan relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mengevaluasi peristiwa masa lalu, mas depan, menegaskan atau mengkoreksi hasil evaluasi di masa lalu. c. Keandalan, bahwa laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material sehingga diandalkan pemakianya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Penyajian jujur, agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Substansi mengungguli bentuk, jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan transaksi serta peristiwa yang lain yang seharusnya perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuknya. Pertimbangan sehat, hal ini mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau penghasilan tidak terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah. Kelengkapan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. d. Dapat dibandingkan, pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan antar perode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. 2. Penggunaan Rasio Keuangan Dalam mengadakan interprestasi data dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan, seorang analis keuangan memerlukan adanya ukuran tertentu, menurut Ridwan dan Inge (2003:128-130) ada tiga macam cara membandingkan rasio keuangan yaitu : a. Analisis Antar Perusahaan Analisis perbandingan rasio keuangan antar perusahaan yang berbeda pada waktu yang sama. Dalam analisis rasio akan membawa langsung pada suatu analisis pokok permasalahan, tetapi tidak menghasilkan bukti yang meyakinkan terhadap keberhasilan masalah. b. Analisis Deret Berkala Analisis ini adalah analisis yang digunakan untuk mengevaluasi kenerja perusahaan dalam beberapa periode dengan menggunakan analisis rasio. c. Analisis Gabungan Analisis gabungan adalah analisis gabungan dari analisis perbandingan dengan analisis deret berkala untuk satu analisis. Namun penggunaan rasio keuangan bisa dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Time Series Analysis Adalah cara mengevaluasi rasio keuangan dengan cara membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari satu periode keperiode lainnya. 2. Cross Sectional Approach Adalah cara mengevaluasi rasio keuangan dengan cara membandingkan rasio antar perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis saat bersamaan. 3. Hubungan Laporan Keuangan dengan Modal Kerja Dengan adanya laporan keuangan pada suatu perusahaan akan dapat diketahui modal kerja yang dimiliki perusahaan karena dalam laporan keuangan ada laporan perubahan modal yaitu laporan yang menggambarkan perubahan modal pemilik perusahaan, baik perubahannya bersifat penambahan maupun pengurangan (Haryono,2001:24). 4. Pasar Modal Bursa Efek Jakarta Pasar modal (capital market) menurut Martono (2004:359) adalah suatu pasar di mana dana-dana jangka panjang baik hutang maupun modal sendiri diperdagangkan. Dana jangka panjang yang diperdagangkan tersebut diwujudkan dalam surat-surat berharga. Jenis surat berharga yang diperjual belikan di pasar modal memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun dan ada yang tidak memiliki jatuh tempo. Dana jangka panjang berupa hutang yang diperdagangkan biasanya obligasi (bond), sedangkan dana jangka pankang berupa hutang yang diperdagangkan biasanya saham biasa (common stock) dan saham prefen (preferred stock). Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu tempat (dalam pengertian fisik) yang terorganisasi dimana surat berharga (efek-efek) diperdagangkan, yang kemudian disebut bursa efek (stock exchange). Pasar modal di Indonesia dimulai ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan Bursa Efek pada 1912 di Batavia. Tujuan didirikan bursa efek tersebut untuk memobolisasi dana dalam rangka membiayai perkebunan milik belanda yang saat itu dikembangkan sacara besar-besaran di Indonesia. Pendirian Bursa Efek di Batavia diikuti dengan pendirian Bursa Efek di Semarang dan di Surabaya pada tahun 1955. Dengan berbekal pengalaman di negeri Belanda bursa efek tersebut mengalami perkembangan yang pesat, namun sempat terhenti dengan adanya perang dunia kedua. Selanjutnya memasuki era kemerdekaan Bursa Efek Indonesia kembali diaktifkan dengan terbitnya obligasi pemerintah dan diberlakukannya UU darurat tentang Bursa No. 13 Tahun 1951 yang kemudian ditetapkan dengan UU No. 15 Tahun 1952. Namun usaha mengaktifkan bursa efek tidak mengalami perkembangan sampai dekade 1970-an. Pemerintah mulai mengaktifkan kembali pasar modal di Indonesia tahun 1976 dengan dikeluarkannya Keppres No. 52 tahun 1976 tentang Pasar Modal. Kemudian pada tanggal 10 Agustus tahun 1977 pemerintah membentuk Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) serta PT. Danareksa. Kemudian pasar modal di Indonesia mengalami perkembangan dengan adanya SK Menteri Keuangan pada tanggal 23 Desember 1987 yang memberikan kekuatan lebih besar bagi pengembangan pasar modal. Kegiatan operasional pasar modal akhirnya memperoleh perhatian besar dari pemerintah dengan dikeluarkannya Keppres No. 53/1990 tentang Pasar Modal dan SK Menteri Keuangan No. 119/KMK.010/1991 Tentang Pasar Modal. Kemudian pada tahun 1991 didirkan PT.Bursa Efek Jakarta (BEJ), sebagai tempat dan kegiatan transaksi perdagangan surat-surat berharga (security) berdasarkan akta notaris yang dibuat pada tanggal 4 desember 1991 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman RI pada tahun 1991. Pada 13 Juli 1992, BEJ diprivatisasi dengan dibentuknya PT. Bursa Efek Jakarta. Kemudian pada 1995, perdagangan elektronik di BEJ dimulai. Setelah sempat jatuh ke sekitar 300 poin pada saat-saat krisis, BEJ mencatat rekor tertinggi baru pada awal tahun 2006 setelah mencapai level 1.500 poin berkat adanya sentimen positif dari dilantiknya presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono. Peningkatan pada tahun 2004 ini sekaligus membuat BEJ menjadi salah satu bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia pada tahun tersebut (Harian Kompas, Desember 2005 http://www.fiskal.depkeu.go.id). Dalam rangka memberikan informasi yang lebih lengkap tentang perkembangan bursa kepada publik, BEJ telah menyebarkan data pergerakan harga saham melalui media cetak dan elektronik. Satu indikator pergerakan harga saham tersebut adalah Indeks harga saham. Saat ini, BEJ mempunyai 4 macam Indeks saham : 1. IHSG, menggunakan semua saham tercatat sebagai komponen kalkulasi Indeks. 2. Indeks Sektoral, menggunakan semua saham yang masuk dalam setiap sektor. 3. Indeks LQ45, menggunakan 45 saham terpilih setelah melalui beberapa tahapan seleksi. 4. Indeks Individual, yang merupakan Indeks untuk masing-masing saham didasarkan harga dasar. Sampai saat ini perusahaan yang tercatat pada bursa efek Jakarta atau yang telah Go Publik adalah 337 perusahaan. C. Modal Kerja 1. Pengertian Modal kerja Modal kerja mempunyai peranan penting bagi perusahaan karena dengan modal kerja perusahaan akan beroperasi seefisen mungkin, dan tidak akan mengalami kesulitan dalam mengahadapi berbagai masalah karena kekacauan keuangan. Husnan (1996:176) berpendapat bahwa “semua pihak sepakat bahwa modal kerja adalah dana yang diperlukan untuk operasi sehari-hari”. Sedangkan menurut Van Horne, terjemahan Heru Sutejo (1997:214) berpendapat bahwa “modal kerja bersih adalah perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar”. Prastowo (2002:104) “modal kerja dapat didefinisikan sebagai total aktiva lancar (gross working capital) atau selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar (net working capital)”. Dari pendapat beberapa pakar tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian modal kerja adalah investasi perusahaan dalam harta jangka pendek dengan bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan yang hanya satu kali dipakai dalam proses produksi dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasi perusahaan, seperti pembeliaan bahan baku, pembayaran upah buruh, pembayaran kewajiban dan pembayaran lainnya. Pengertian modal kerja menurut Sawir (2005:131) adalah “jumlah dana yang dipergunakan selama periode akuntasi yang dimaksud untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek (current income) yang sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan tersebut. 2. Jenis-jenis modal kerja Menurut Riyanto (1995:61) ada dua jenis modal kerja yaitu sebagai berikut : 1. Modal kerja permanen (permanent working capital) adalah, modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya, atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanent dibedakan atas : • Modal kerja primer yaitu, modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya. • Modal kerja normal yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. 2. Modal kerja variabel (variable working capital) yaitu, modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja variable dibedakan atas : • Modal kerja musiman yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim • Modal kerja siklis yaitu modal kerja yang jumlahnya berubahubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur. • Modal kerja darurat yaitu modal kerja yang besarnay berubahubah, karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya misalnya, pemogokan buruh dan perubahan keadaan ekonomi yang mendadak. 3. Konsep modal kerja Menurut martono (2004:72), konsep modal kerja dibedakan menjadi tiga yaitu : a. Konsep Kuantitatif Modal kerja menurut konsep kuantitatif adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang disebut juga modal kerja bruto (gross working capital). Umumnya elemen-elemen dari modal kerja kuantitatif meliputi kas, surat-surat berharga (sekuritas), piutang dan persediaan. b. Konsep Kualitatif Dalam konsep ini modal kerja dihubungkan dengan besarnya hutang lancar atau hutang yang segera harus dilunasi. Sebagian aktiva lancar dipergunakan untuk melunasi hutang lancar seperi hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak,dan sebagian lagi benar-benar dipergunakan untuk membelanjai kegiatan opersi perusahaan. Dengan demikian modal kerja menurut konsep kualitatatif merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancar yang juga disebut modal kerja netto (net working capital). c. Konsep Fungsional Konsep fungsional mendasarkan pada fungsi dana yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Setiap dana yang dialokasikan pada berbagai aktiva dimaksudkan untuk memperoleh pendapatan (income), baik pendapatn saat ini (current income) maupun pendapatan masa yang akan datang (future income). Konsep modal kerja fungsional merupakan konsep mengenai modal yang digunakan untuk menghasilkan current income. 4. Pentingnya Modal kerja Munawir ( 2000:116 ), tersedianya modal kerja yang segera dapat dipergunakan dalam operasi tergantung pada tipe atau sifat dari aktiva lancar yang dimiliki seperti: kas, effek, piutang dan persediaan. Tetapi modal kerja harus cukup jumlahnya dalam artian harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, disamping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan, juga akan memberikan beberapa keuntungan lain, antara lain : a. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar. b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat. c. Memungkinkan dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi. d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumennya. e. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntumgkan kepada para pelanggannya. f. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan. Menurut Martono (2004:74), ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya manajemen modal kerja yaitu : a. Aktiva lancar dari perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa memiliki jumlah yang cukup besar dibanding dengan jumlah aktiva secara keseluruhan. b. Untuk perusahaan kecil, hutang jangka pendek merupakan sumber utama bagi pendanaan eksternal. Perusahaan ini tidak memiliki akses pada pasar modal untuk pendanaan jangka panjangnya. c. Manajer keuangan dan anggotanya perlu memberikan porsi waktu yang sesuai untuk pengelolan tentang hal-hal yang berkaitan dengan modal kerja. d. Keputusan modal kerja berdampak langsung terhadap tingkat risiko, laba, dan harga saham perusahaan. e. Adanya hubungan langsung antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan dana untuk membelanjai aktiva lancar. 5. Kebijakan modal kerja Kebijakan modal kerja merupakan strategi yang diterapkan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan modal kerja dengan berbagai alternatif sumber dana. Telah diketahui bahwa dana untuk memenuhi modal kerja bisa dipilih dari sumber dana jangka panjang atau sumber dana jangka pendek. Masing-masing alternatif mempunyai konsekuensi dan keuntungan. Modal kerja pada dasarnya adalah dana yang masa perputarannya berjangka waktu pendek, tetapi karena ada modal kerja yang selalu harus ada dalam perusahaan (modal kerja permanen), artinya modal kerja tersebut harus ada dalam jangka panjang, maka perlu diadakannya kebijakan untuk mencari sumber pembelanjaan sehingga diperoleh biaya modal kerja yang paling murah. Kebijakan modal kerja apa yang harus diambil oleh perusahaan, tergantung dari keberanian seorang manajer dalam mengambil risiko. Menurut Kamaruddin (1997:16), beberapa cara yang digunakan untuk menentukan komposisi pembelanjaan perusahaan sebagai berikut : a. Pendekatan Agresif Menurut konsep ini kebutuhan jangka pendek,sedangkan kebutuhan jangka panjang dibiayai dengan pinjaman atau jangka panjang, tetapi sebagian dari aktiva lancar permanennya dibiayai dengan kredit jangka pendek. a. Pendekatan Konservatif Pendekatan ini menyatakan bahwa seluruh proyeksi kebutuhan modal perusahaan harus dibiayai dengan modal jangka panjang, sedangkan modal jangka pendek akan digunakan hanya apabila timbul keadaan darurat atau karena adanya arus kas yang tidak diduga sebelumnya. b. Pendekatan Moderat Dalam pendekatan ini, perusahaan berusaha mempertemukan masa jatuh tempo antara harta dan kewajiban dengan setepat-tepatnya. Jika harga permanent bertambah, maka akan dibiayai dengan modal sendiri dan hutang jangka panjang juga bagian permanent dari kewajiban lancar yang spontan. 6. Penggunaan Modal Kerja Penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau menurunnya jumlah modal kerja yang dimiliki perusahaan. Manullang (2005), Penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagi berikut : a. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi b. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau timbulnya hutang lancar. c. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang. d. Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotek, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sumber dan penggunaan dana terdiri dari penerimaan modal kerja yang berasal dari hasil penjualan maupun penerimaan lainnya yang dapat menambah kas perusahaan serta pengeluaran modal kerja yang digunakan oleh perusahaan untuk pembelian barang maupun pelunasan angsuran atau kewajiban-kewajiban perusahaan lainnya. 7. Sumber-sumber Modal Kerja Kebutuhan dana akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan usaha perusahaan. Sumber dana dapat berasal dari luar perusahaan (extern) maupun dari dalam perusahaan (intern). Modal kerja yang diperoleh akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk meraih keuntungan. Penerimaan dan pengeluaran modal kerja suatu perusahaan terjadi silih berganti selama perusahan itu beroperasi, ada yang bersifat rutin dan bersifat insidentil. Penerimaan dan pengeluaran modal kerja akan mengakibatkan perubahan posisi modal kerja perusahaan. Menurut Kamaruddin (1997:99) sumbersumber dana modal kerja berasal dari : a. Hasil operasi perusahaan Jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi-laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang bersasal dari operasi perusahaan. b. Keuntungan dari penjualan surat-surat (investasi jangka pendek) Surat berharga yang dimiliki perusahaan adalah salah satu elemen aktiva lancar yang dapat segera dijual dan akan menimbulkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja. c. Penjualan aktiva tidak lancar Sumber lain yang dapat menambah modal kerja adalah hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang sudah tidak diperlukan lagi oleh perusahaan. d. Penjualan saham atau obligasi Untuk menambah modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan dapat mengadakan emisi saham baru atau adanya penambahan modal oleh pemilik perusahaan, disamping itu perusahaan juga dapat mengeluarkan obligasi. 8. Menentukan kebutuhan modal kerja Menurut Martono (2004:78), besarnya modal kerja baik yang bersifat permanen maupun variabel perlu ditentukan dengan baik agar efektif dan efisien. Penggunaan modal kerja yang tidak direncanakan dengan baik mengakibatkan modal kerja yang ada tidak digunakan sesuai dengan kebijakan yang ada. Untuk menentukan kebutuhan modal kerja dapat digunakan 2 metode, yaitu : a. Metode keterikatan dana Untuk menentukan kebutuhan modal kerja dengan motode ini, maka perlu diketahui dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu : periode terikatnya modal kerja, dan pengeluaran kas setiap hari. Periode terikatnya modal kerja merupakan waktu yang diperlukan mulai dari kas yang ditanamkan pada komponen-komponen atau elemenelemen modal kerja sampai menjadi kas kembali. Untuk perusahaan perdagangan periode terikatnya modal kerja dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar : 2.1 Sedangkan periode terikatnya modal kerja perusahaan industri (manufaktur) digambarkan sebagai berikut : Gambar : 2.2 Dengan demikian periode terikatnya dana meliputi waktu pembelian dan penyimpanan bahan. Lama proses produksi, lama barang disimpan di gudang dan lama penerimaan piutang. Sedangkan pengeluaran kas setiap hari merupakan jumlah pengeluaran kas setiap hari untuk keperluan pembelian bahan baku, upah karyawan, dan biaya lain-lainnya. b. Metode perputaran modal kerja Berdasarkan metode ini, besarnya kebutuhan modal kerja ditentukan oleh perputaran dari komponen-komponen (elemen-elemen) modal kerja yaitu perputaran kas, perputaran piutang, dan perputaran persediaan. Sehingga dirumuskan sebagai berikut : 1. Perputaran kas adalah : dimana perusahaan menginvestasikan modal kerja yang dimiliki dalam kas, dari kas tersebut akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional kemudian sampai menjadi kas kembali. Dengan rumus : Perputaran Kas = Kas Penjualan 2. Perputaran Piutang adalah : merupakan elemen modal kerja yang selalu dalam keadaan berputar secara terus menerus yaitu Kas Inventory Piutang Kas. Dengan rumus : Perputaran Piutang = Piu g Penjualan tan 3. Perputaran Persediaan adalah : menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti dalam arti dibeli dan dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan tersebut maka jumlah modal kerja yang dibutuhkan semakin rendah (Munawir, 2000:119). BAHAN BAKU PROSES PRODUKSI BARANG JADI PIUTANG DAGANG KAS BARANG PIUTANG KAS KAS KAS Perputaran Persediaan = Persediaan H arg aPokokPenjualan 9. Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja Kamaruddin (1997:6) kebutuhan modal kerja atau komposisi modal kerja akan dipengaruhi oleh : a. Besar kecilnya kegiatan usaha atau perusahaan (produksi dan penjualan), dimana semakin besar kegiatan perushaan akan semakin besar modal kerja yang diperlukan, apabila hal lainnya tetap. Selain hal itu, sifat perusahaan juga mempengaruhi, misalnya usaha jasa akan berbeda tingkat kebutuhan modal kerjanya dibandingkan perusahaan kontraktor. b. Kebijaksanaan tentang penjualan (kredit atau tunai). Persediaan (dengan EOQ = Economic Order Quantity dan safety stock), dan saldo ke kas minimal, pembelian bahan (tunai atau kredit). c. Faktor-faktor lain 1). Faktor-faktor ekonomi. 2). Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan uang ketat atau kredit ketat. 3). Peredaran uang 4). Tingkat bunga yang berlaku 5). Tersedianya bahan-bahan dipasar. 10. Fungsi Modal Kerja Menurut Swartojo (1982:29) fungsi modal kerja dalah sebagai berikut : a. Menopang kegiatan produksi dan penjualan dengan jalan menjembatani antara saat pengeluaran untuk pembelian bahan serta jasa yang diperlukan dengan penjualan. b. Menutup pengeluaran yang bersifat tetap dan pengeluaran yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan produksi dan penjualan. 11. Hubungan Modal Kerja dengan Rentabilitas Hubungan modal kerja dengan rentabilitas adalah dengan komposisi modal kerja yang tepat akan berpengaruh terhadap tingkat rentabilitas. Tingkat rentabilitas yang rendah bila dihubungkan dengan modal kerja dapat menunjukkan kemungkinan sebagai berikut (Munawir, 2000:87) : a. Adanya over investasi dalam aktiva yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. b. Merupakan cermin rendahnya volume penjualan dibandingkan dengan ongkos-ongkos yang diperlukan. c. Adanya ketidakpastian (inefisiensi) dalam produksi, pembelian maupun pemasaran. d. Adanya kegiatan ekonomi yang menurun. 12. Modal Kerja Dalam Prespektif Islam a. Harta dalam Islam Islam memandang harta sebagai modal, harta juga ditempatkan sebagai tiang kehidupan. Islam juga mensyari’atkan dan terkandung dalam kaidah-kaidah umum yang mengontrol bagaimana cara mendapatkan harta, menyalurkannya, operasionalnya, serta menjelaskan hak-hak orang lain dalam harta tersebut. Menurut Ali Hasan (2003:55), harta menurut etimologi adalah segala sesuatu yang menyenangkan manusia dan mereka pelihara, baik dalam bentuk materi maupun dalam manfaat. Islam memandang harta dengan acuan akidah yang disarankan Al- Qur’an, yaitu dipertimbangkannya kesejahteraan manusia, alam, masyarakat dan hak milik. Pandangan demikian, bermula dari landasan : 1. Iman kepada Allah 2. Hubungan manusia dengan lingkungannya. Harta sebagai perantara manusia dalam kehidupan dunia. Manusia harus bekerja untuk mendapatkannya, tanpa menimbulkan penderitaan pada pihak lain. Al- Qur’an menyarankan manusia bekerja. Dalam firman Allah surat al-Mulk:15 â‘θà±–Ψ9$# Ïμø‹s9Î)uρ ( ⎯ÏμÏ%ø—hÍ‘ ⎯ÏΒ (#θè=ä.uρ $pκÈ:Ï.$uΖtΒ ’Îû (#θà±øΒ$$sù Zωθä9sOE uÚö‘F{$# ãΝä3s9 Ÿ≅yèy “Ï%©!$# uθèδ ∩⊇∈∪ Artinya : “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. Dapat dikatakan bahwa harta secara umum adalah segala sesuatu yang disenangi oleh manusia seperti hasil pertanian, binatang ternak dan perhiasan duniawi. Adapun tujuan pokok dari harta adalah sebagai sarana memakmurkan bumi dan mengabdi kepada Allah. Harta akan menjadi baik jika digunakan dan diperuntukkan pada jalan Allah, dan diperoleh dengan cara yang tidak merugikan orang lain. Islam menganjurkan hendaknya seorang muslim harus mampu memenuhi kebutuhan pokoknya melalui penggunaan sumber daya secara baik dan efisien dan penghapusan konsumsi yang tidak essensial. Dalam penelitian ini harta digunakan sebagai modal kerja, dimana modal kerja tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan dan akan menghasilkan laba/keuntungan bagi perusahaan tersebut. b. Modal Menurut Afzalur Rahman dalam bukunya Doktrin Ekonomi Islam I (1995:285), modal merupakan asset yang digunakan untuk membantu distribusi asset yang berikutnya. Menurut Prof. Thomas, milik individu dan negara yang digunakan dalam menghasilkan asset berikutnya selain tanah adalah modal. Modal dapat memberikan kepuasan pribadi dan membantu untuk menghasilkan kekayaan lebih banyak. Modal adalah faktor produksi yang ketiga yang digunakan untuk membantu manusia mengeluarkan asset lain. Distribusi berskala besar dan kemauan industri yang telah dicapai saat ini adalah akibat penggunaan modal. Pentingnya modal dalam kehidupan manusia ditunjukkan dalam Al- Qur’an Surat Al-Imran ayat 14 : š∅ÏΒ ÍοtsÜΖs)ßϑø9$# ÎÏÜ≈oΨs)ø9$#uρ t⎦⎫ÏΖt6ø9$#uρ Ï™!$|¡iÏΨ9$# š∅ÏΒ ÏN≡uθy㤱9$# =ãm Ĩ$¨Ζ=Ï9 z⎯i΃㗠( $u‹÷Ρ‘‰9$# Íο4θu‹ysø9$# ßì≈tFtΒ šÏ9≡sOE 3 Ï^öysø9$#uρ ÉΟ≈yè÷ΡF{$#uρ ÏπtΒ§θ|¡ßϑø9$# È≅ø‹y‚ø9$#uρ ÏπÒÏø9$#uρ É=yδ©%!$# ∩⊇⊆∪ É>$t↔yϑø9$# Ú∅ó¡ãm …çνy‰ΨÏã ª!$#uρ “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apaapa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternakdan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. Kata متاع berarti modal, karena disebut emas dan perak, kuda yang bagus dan ternak (termasuk bentuk modal yang lain). Kata زين menunjukkan kepentingan modal dalam kehidupan manusia. Modal merupakan hasil kerja apabila pendapatan melebihi pengeluaran. Untuk meningkatkan jumlah modal dalam sebuah negara sebaliknya masyarakat terus berusaha meningkatkan pendapatannya, hemat dan cermat dalam membelanjakan pendapatan, menghindari pengeluaran yang berlebihan, dan adanya rasa aman dan keselamatan terjamin bagi masyarakat dalam mendapatkan asset dengan mudah. c. Distribusi Kekayaan Ekonomi Islam membantu dalam menegakkan suatu sistem yang adil dan merata. Sistem ini tidak memberikan kebebasan dan hak atas milik pribadi secara individual dalam bidang produksi, tidak pula mengikat kekayaan secara bebas. Prinsip utama dari sistem ini adalah peningkatan dan pembagian hasil kekayaan agar sirkulasi kekayaan dapat ditingkatkan, yang mengarah pada pembagian kekayaan yang merata diberbagai kalangan masyarakat yang berbeda dan tidak hanya berfokus pada beberapa golongan tertentu. Al- Qur’an menjelaskan dalam surat al-Hasyr ayat 7 : 4’yϑ≈tGuŠø9$#uρ 4’n1öà)ø9$# “Ï%Î!uρ ÉΑθß™§=Ï9uρ ¬Tsù 3“tà)ø9$# È≅÷δr& ô⎯ÏΒ ⎯Ï&Î!θß™u‘ 4’n?tã ª!$# u™!$sùr& !$¨Β ãΑθß™§9$# ãΝä39s?#u™ !$tΒuρ 4 öΝä3ΖÏΒ Ï™!$uŠÏΨøîF{$# t⎦÷⎫t/ P's!ρߊ tβθä3tƒ Ÿω ö’s1 È≅‹Î6¡¡9$# È⎦ø⌠$#uρ È⎦⎫Å3≈|¡yϑø9$#uρ ∩∠∪ É>$s)Ïèø9$# ߉ƒÏ‰x© ©!$# ¨βÎ) ( ©!$# (#θà)¨?$#uρ 4 (#θßγtFΡ$$sù çμ÷Ψtã öΝä39pκtΞ $tΒuρ çνρä‹ã‚sù Artinya : “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orangorang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya”. Ayat ini mengungkapkan prinsip pengaturan distribusi kekayaan dalam sistem kehidupan Islam, kekayaan harus dibagi kepada semua golongan masyarakat dan seterusnya tidak menjadi komoditi di antara golongan kaya saja. Langkah-langkah positif yang diambil untuk membagi kekayaan kepada masyarakat yaitu dengan melalui kewajiban mengeluarkan zakat, infaq dan memberi bantuan kepada orang-orang miskin dan yang menderita akibat pajak negara. Industri rokok merupakan milik orang-orang yang mempunyai saham dalam perusahaan tersebut atau milik intern, namun setelah go publik maka perusahaan itu dapat dinikmati oleh semua orang dengan tergabungnya dalam pasar modal, yang bertujuan untuk pemerataan distribusi kekayaan kepada semua masyarakat. D. Rentabilitas 1. Pengertian Rentabilitas Pada umumnya perusahaan lebih mengarahkan usahannya untuk mendapatkan tingkat rentabilitas maksimal dari pada tingkat laba maksimal, karena tingkat rentabilitas mencerminkan kemampuan modal suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Riyanto (1995:35) bahwa pengertian rentabilitas adalah :”rentabilitas perusahaan adalah menunjukkan perbandingan antara laba usaha dengan total aktiva atau seluruhnya modal yang menghasilkan laba tersebut”. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas perusahaan dapat diketahui dengan memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva modal perusahaan tersebut. 2. Macam-macam Rentabilitas Nitisemito (1978:58) Cara untuk menilai Rentabilitas suatu perusahaan bermacam-macam, tergantung pada laba dan aktiva atau modal yang akan diperbandingkan. Rentabilitas pada pokoknya dibedakan dalam dua macam yaitu: rentabilitas ekonomis (earning power) dan rentabilitas modal sendiri (rate of return on net worth). 1. ROE (Return On Equity) Rentabilitas modal sendiri atau ROE sering dinamakan rentabilitas usaha yaitu, perbandingan antara laba bersih (setelah dikurangi seluruh biaya-biaya untuk pihak lain termasuk pajak persero dan bunga tetap) dengan modal sendiri. Riyanto (1995:44) yang dimaksud rentabilitas modal sendiri adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak atau dengan kata lain dapat dikatakan rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang untuk bekerja didalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Rentabilitas modal sendiri dapat dirumuskan : RMS = X100% ModalSendiri LabaBersih 2. ROA (Return On Assets) Menurut Riyanto (1995:37) yang dimaksud dengan rentabilitas ekonomi atau ROA adalah “perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dinyatakan dengan prosentase” Rentabilitas ekonomis = X100% TotalAktiva LabaUsaha E. KERANGKA BERFIKIR Gambar : 2.3 Latar Belakang : 1. persaingan industri yang semakin tinggi 2. perlunya penggunaan modal kerja yang efektif dan efisien bagi perusahaan. 3.menganalisis apakah pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap rentabilitas Rumusan Masalah: 1. Bagaimana perputaran modal kerja perusahaan pada industri rokok di Indonesia? 2. Bagaimana rentabilitas pada perusahaan rokok? Kajian teori : A. Penelitian terdahulu B. Laporan keuangan C. Modal kerja • Pengertian modal kerja • Jenis-jenis modal kerja • Konsep modal kerja • Kebutuhan modal kerj • Pentingnya modal kerja • Kebijakan modal kerja • Penggunaan modal kerja • Sumber-sumber modal kerja • Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja • Fungsi modal kerja C. Rentabilitas • Pengertian Rentabilitas • Macam-macam rasio Renrabilitas Metode Analisis 1.Analisis rasio keuangan • rentabilitas Pembahasan kesimpulan BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi Penelitian Menurut Suharsimi (2002:108), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan rokok yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Tabel. 3.1 Perusahaan Rokok Yang Terdaftar di BEJ Mulai Tahun 2000-2006 No Kode Nama Perusahaan 1 BATI BAT Indonesia Tbk 2 GGRM Gudang Garam Tbk 3 HMSP H.M Sampoerna Tbk 4 RMBA Bentoel International Inv. Tbk Sumber: BEJ 2006 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Nasir (1994:14) secara etimologi, penelitian merupakan terjemahan dari kata research dan berasal dari kata re (kembali) dan to search (mencari) jadi, research adalah mencari kembali. Maka penelitian merupakan upaya pemecahan suatu masalah dengan menggunakan metode ilmiah tertentu, teori dan rancangan, serta dilakukan secara sistematis. Penelitian juga merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-fakta atau fenomena alam. Perhatian dan pengamatan terhadap fakta atau fenomena merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah. Penelitian pada dasarnya merupakan penyelidikan secara sistematis dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Indriantoro & bambang, 2002:16). Jadi penelitian adalah usaha manusia yang dilakukan untuk mencari jawaban atas suatu kegiatan (Efferin dkk, 2004:7). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan pendekatan deskriptif (Arikunto 1990:344) yaitu, penelitian kuantitatif merupakan suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angkaangka. Pada penelitian kuantitatif lebih menekankan pada pengujian teoriteori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dengan angka (Indriantoro, dkk:1999;12). Pendekatan Deskriptif adalah mengadakan kegiatan pengumpulan data dan analisis data dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. C. Jenis dan Sumber Data Data dalam penelitian ini adalah : Data sekunder Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media (Indriantoro, dkk 1999:147). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen-dokumen sejarah/profil perusahaan dan data-data berupa laporan keuangan yang meliputi laporan Laba-Rugi dan Neraca. D. Teknik Pengumpulan Data Merupakan suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data dalam penelitian (Arikunto; 2002:212). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan : Dokumentasi Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal/variabel yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya yang berkaitan dengan perusahaan (Arikunto, 2002:206). Pada penelitian ini data dokumentasi diperoleh dari catatan prospectus, yaitu keterangan-keterangan yang terperinci mengenai kegiatan-kegiatan perusahaan yang disebar luaskan kepada kelompok tertentu atau masyarakat umum dalam bentuk catatan (Frista Artamanda, 2001:523) dan annual report yang merupakan laporan tahunan dari kegiatan keuangan perusahaan. Laporan keuangan meliputi neraca, laporan rugi laba. E. Definisi Operasional Variabel menurut Nazir (1988:149) adalah konsep –konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Singarimbun (1985:17) variabel adalah unsur penelitian yang terpenting, dan merupakan definisi yang dipakai oleh para peneliti untuk mengambarkan secra abstrak suatu fenomena sosial ataupun alami. Berdasarkan nilai tersebut maka konsep yang ada dalam penelitian ini antara lain : Tabel. 3.2 No Konsep Variabel 1. Modal Kerja : Merupakan bagian dari aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula atau aktiva yang tertanam didalamnya dapat bebas dalam bentuknya semula dan lebih dari satu tahun, Riyanto (1995:59). 1. kas seluruh kekayaan perusahaan berupa uang tunai, atau cek yang ada dalam perusahaan, Martono (2004:116). 2. piutang seluruh hal atau klaim perusahaan terhadap pihak lain berkaitan dengan transaksi penjualan secara kredit. 3. persediaan barang yang dimiliki oleh perusahaan dan digunakan untuk proses produksi dalam jangka waktu relatif pendek untuk dijadikan produk yang bisa dijual (Munawir, 2000: 77). 2. Rentabilitas Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan selama periode tertentu, Riyanto (1995:35). 1. Rentabilitas Modal Sendiri (ROE) Mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba setelah pajak (Martono, 2004:59). 2. Rentabilitas Ekonomi (ROA) Mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba usaha dengan aktiva yang digunakan unutk memperoleh laba (Martono, 2004 : 61) F. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan kegiatan setelah tahap pemilihan dan pengumpulan data (Indriantoro, 2002:166). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan sebagai berikut : 1. Perputaran Kas = Kas Penjualan 2. Perputaran Piutang = Piu g Penjualan tan 3. Perputaran Persediaan = Persediaan H arg aPokokPenjualan 4. Rasio Rentabilitas a. Rentabilitas modal sendiri (Receivable On Assets) RMS = X100% ModalSendiri LabaBersih b. Rentabilitas Ekonomi (Receivable On Assets) Rentabilitas ekonomis = X100% TotalAktiva LabaUsaha BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 1. PT. BAT INDONESIA Tbk. a. Sejarah Perusahaan Perusahaan didirikan dengan nama “Naamlooze Vannootschap Indonesia Egyptian Company”, berkedudukan di Cirebon sebagaimana dicantumkan dalam Extra Bijvoegsel No. 331 der Javasche Courant tanggal 30 Oktober 1979 No. 87. Sejak 17 Oktober 1923 Perseroan bernama “Baritish American Tobacco Company (Java) Limited”, berkedudukan di Batavia (sekarang bernama Jakarta) sebagaimana diumumkan dalam Extra Bijvoegsel der Javasche Courant tanggal 19 Mei 1924 No. 38. Nama Perseroan menjadi “Perseoran Terbatas British-American Tobacco Manufactures (Indonesia) Limited” berkedudukan diJakarta sebagaimana diumumkan dalam Tambahan No. 36 tanggal 5 Mei 1959. Selanjutnya, tanggal 13 Oktober 1979 nama Perseroan mrnjadi “PT. BAT Indonesia” berkedudukan diJakarta seperti yang diumumkan dalam Tambahan No. 704 Berita Negara Republik Indonesia NO.29 tanggal 16 November 1979 dan terakhir sejak tanggal 6 Oktober 1997 Perseroan bernama “PT. BAT Tbk.”, berkedudukan di Jakarta seperti yang diumumkan dalam Tambahan No. 163 Berita Republik Indonesia No. 3 tanggal 9 Januari 1998. Perusahaan ini bergerak dalam bidang produksi dan penjualan rokok putih mesin untuk konsumsi di Indonesia. Menurut survey dari Nielsen, BAT Indonesia adalah produsen terbesar rokok putih di Indonesia dalam nilai dan volume penjualan dan posisi tersebut bertambah dengan masuknya merek-merek Rothmans setelah selesai Akuisisi Rothman. Tabel. 4.1 Sarana dan fasilitas produksi pada PT. BAT Indonesia Tbk. Lokasi Luas Tanah Luas Bangunan Status Tanah Fungsi Sukoharjo (BAT Kareb) Cirebon(Perseroan) • Lemahwungkuk • Plumbon Malang(Rothmans) 30.266 57.442 635.275 59.005 22.899 34.562 - 32.317 HGB HGB HGB HGB Pemrosesan tembakau Produksi Primer Produksi Sekunder • Pemrosesan tembakau • Produksi primer • Produksi sekunder Jumlah 781.988 89.778 Sumber : PT. Bursa Efek Jakarta tahun 2006 Sehubungan dengan rencana Penawaran Umum Terbatas I, Anggaran Dasar Perseroan diubah berdasarkan Akta No. 52 tanggal 14 Desember 1999, dibuat dihadapan Singgih Susilo, SH., Notaris di Jakarta dan dibuat pula Data Akta Perubahan Anggaran Dasar Perseroan pada tanggal 17 Desember 1999, yang telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan Republik Indonesia dahulu Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-20941 HT.01.04-TH99 pada tanggal 30 Desember 1999, dan telah didaftarkan dalam Daftar Perusahaan dibawah agenda No. 026/RUB.09.03/I/2000 dan pada tanggal 15 Februari 2000, tentang perubahan ayat 1 pasal 4 Anggaran Dasar Perseroan. Berdasrkan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan tersebut modal dasar perseroan sebesar Rp. 88 milyar, yang terdiri dari 88 juta lembar saham biasa. b. Lokasi Perusahaan PT. BAT berkedudukan di Jakarta sebagaimana diumumkan dalam Tambahan No. 163 Berita Negara Indonesia Nomor 3 pada tanggal 9 Januari 1998. c. Hasil Produksi Produk rokok putih Grup dapat dikategorikan sebagai merek Internasional dan lokal. Setiap kategori dikelompokkan dalam brand family termasuk light, dan soft fack. Tabel. 4.2 Hasil Produksi PT. BAT Indonesia Tbk. Merk Lokal Merk Internasional Ardath Commondore Kansas Escort Blue bibbon White Horse Dunhill Lucky Strike Pall Mall State Express 555 Benson & Hedges Sumber : PT Bursa Efek Jakarta tahun 2006 2. PT. GUDANG GARAM Tbk. a. Sejarah Perusahaan Pendiri PT. Gudang Garam adalah keturunan cina Tong Ing Hwie. Diajak pindah oleh ayahnya ke Indonesia yang bertempat di desa Krampon, Kabupaten Sampang, Madura. Pada tahun 1949, beliau bergabung dengan pamanya yang sebelumnya telah memproduksi rokok krtek dibawah Badan Hukum NV Jiou San, yang akhirnya berubah menjadi NV Sembilan Tiga sebagai tenaga pemasaran. Perusahaan tersebut berlokasi di Jl. Raden Patah Kediri. Pada tahun 1957, Tong Ing Hwie keluar dari NV Sembilan Tiga yang kemudian mendirikan perusahaan rokok milik sendiri yang diberi nama “Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam Kediri”, perusahaan yang berdiri pada tanggal 26 Juni 1958, didukung oleh 50 karyawan yang bekerja diatas tanah seluas 1Ha dengan status sewaan, yaitu di desa Semampir, Kecamatan Kota, Kotamadya Kediri. Kapasitas produksi untuk tahun 1958 sekitar 50 juta batang, terdiri dari Sigaret Kretek Tangan. Sementara badan hukumnya berstatus perorangan. Setelah menjadi warga negara Indonesia beliau berganti nama menjadi “Suryo Wonowidjojo”. Pada tanggal 28 Agustus 1958 beliau meninggal dunia dan pengelolaan perusahan diserahkan pada putra-putrinya. Sedangkan posisi sebagai Direktur digantikan oleh putra pertamanya Rachman Halim. Pada tahun 1969 perusahaan yang berbadan hukum perseorangan (yang lebih dikenal sebagai “Home Industry” dari pada perusahaan perseorangan) berubah menjadi Firma. Pada tahun 1971, bersamaan diperolehnya status kewarganegaraan Indonesia oleh Surya, status perusahaan berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan akta pendirian No. 10 tanggal 30 Juni 1971, oleh Notaris Suroso, SH. PT. Gudang Garam Tbk. Adalah produsen rokok kretek terbesar di Indonesia baik ditinjau dari segi aktiva, jumlah tenaga kerja, kontribusi pajak dan cukai, maupun hasil penjualan. Prestasi ini dicapai dalam kurun waktu relatif singkat hanya 23 tahun. Lokasi PT. Gudang Garam Tbk. Terletak pada 11 unit dan 1 kantor pusat yang terletak di Jl. Semampir II/I Kediri. b. Produksi Perusahaan Pembersihan dan pengeringan bahan baku yang dulunya secara manual dan alami diganti dengan menggunakan mesin. Proses pencampuran yang secara manual seperti pencampuran bahan utama, cengkeh, tembakau, saos diganti dengan menggunakan mesin. Material handling dilengkapi agar hemat tenaga dan waktu. Sedangkan sistem produksi PT. Gudang Garam, dibagi menjadi tiga tahap yaitu : 1. Pra Produksi Kualitas dari bahan baku sangat menentukan rasa rokok yang dihasilkan, oleh karenanya bahan tembakau dan cengkeh yang dibeli selalu dengan kualitas yang primas dan harus melalui proses pengeringan, pembersihan dan penyimpanan yang seksama selama 26 bulan untuk tembakau dan 10 bulan untuk cengkeh. 2. Produksi Setelah melalui pemrosesan, tembakau dan cengkeh dicampur serta diberi saos, setelah iru digiling dengan mesin-mesin dan akhirnya terbentuk menjadi tiga jenis produksi rokok utama yaitu Kretek Klobot (SKL), Sigaret Kretek Tangan (SKT), Sigaret Kretek Mesin (SKM). 3. Pasca Produksi Rokok dikemas secara rapi dan aman dengan memakai tangan. c. Ketenagakerjaan Dharma ke-4 yang menjadi falsafah perusahaan menyebutkan “karyawan adalah penting karena karya dan kreasinya merupakan sumberdaya yang ampuh untuk menunjang usaha perusahaan”. Selain itu perusahaan mempunyai ciri yang unik, dimana satu industri padat karya masih tetap dapat bersanding dengan padat modal, suatu bukti bahwa padat modal tidak selalu bertentangan dengan padat karya. Guna memenuhi persyaratan tertentu dalam meningkatkan kualitas pekerja dan kesejahteraan serta tanggungjawab sosial terhadap karyawan, perusahaan memberikan pengupahan sebesar 30%-100% diatas kesepakatan kerja bersama yang dibuat oleh Pimpinan Unit Kerja SPSI dengan perusahaan. Selain itu sejak tahun 1983 perusahaan juga menyediakan sarana pendidikan, aktualisasi pribadi, kebugaran jasmani, pembinaan mental spiritual, koperasi karyawan, dan fasilitas lainnya. Tabel. 4.3 Komposisi Karyawan Menurut Tingkat Jabatan Jabatan Jumlah (orang) Direksi Staf Direksi/Kepala Divisi Staf Ahli Tata usaha Penyediaan Teknisi/mandor/pengemudi Tenaga kerja langsung (giling, pembantu giling, pres, dan etiket) Tenaga harian Tenaga penunjang (harian bangunan) Tenaga kerja musiman 9 orang 23 orang 64 orang 15 orang 445 orang 252 orang 1.907 orang 31.907 orang 9.184 orang 1.233 orang 3.011 orang Jumlah 48.050 orang Sumber : Prospektus PT. Gudang Garam Tbk. Tahun 2006 d. Struktur Organisasi Struktur organisasi PT. Gudang Garam Tbk. Berbentuk garis lini yaitu kekuasaan mengalir secara langsung dari atas ke bawah. Setiap Divisi merupakan unit yang berdiri sendiri. Job Description PT. Gudang Garam Tbk. 1. RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) Merupakan kuasa tertinggi dalam perusahaan yang mengadakan rapat umum minimal setahun sekali. 2. Dewan Komisaris Dewan ini berhak memeriksa kegiatan operasi manajemen perusahaan yang dijalankan oleh Dewan Direktur, memeriksa pembukuan, memeriksa dokumen dan asset perusahaan, meminta segala informasi yang berhubungan dengan perusahaan. Dewan ini terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) anggota dan salah satu dari mereka dipilih menjadi Direktur Komisaris. 3. Dewan Direksi Dewan ini beranggotakan 4 (empat) orang terdiri dari, Presiden Direktur, Wakil Presiden Direktur I, II, III, berkewajiban mengelola perusahaan sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan. Selain itu juga berkewajiban menjalankan operasi secara efisen dan efektif serta mengelola asset-asset perusahaan secara baik. Dewan ini membawahi 7 (tujuh) Direktur Bagian, antara lain : a. Direktur Pengadaan Bertugas mewakili perusahaan mengenai urusan dalam dan luar negeri. b. Direktur Produksi Bertugas mengkoordinasi Departemen Produksi dalam kerja seharihari. c. Direktur Teknik Bertugas mengkoordinasi, mengawasi penggunaan bahan baku agar proses produksi dan kualitas bahan baku akhir lancar dan baik. d. Direktur Pemasaran Bertugas mengatur distribusi pemasaran hasil produksi dan sebagai perwakilan perusahaan terhadap konsumen. e. Direktur Keuangan Bertugas mengatur kebijakan keuangan perusahaan yang meliputi peneriman dan pengeluaran kas, pengurusan surat berharga, penyelesaian hutang piutang, budget perusahaan serta membayar pajak dan gaji. f. Direktur Personalia dan Umum Bertugas mengurusi semua kegiatan personalia antara lain urusan kepegawaian, jaminan social, perumahan dan urusan transportasi. g. Direktur Pengembangan dan Penelitian Bertugas memimpin dalam pengkoordinasian pengembangan dan penelitian untuk kemajuan perusahaan. 4. Divisi Setiap divisi dikepalai seorang Kepala Divisi yang bertugas menjalankan segala operasional yang berhubungan dengan segala jenis pekerjaan di Divisi masing-masing. 5. Biro Direksi Biro Direksi merupakan forum antar Direktur guna membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan operasi perusahaan. e. Saluran Distribusi Saluran distribusi merupakan aspek yang sangat penting dalam pemasaran rokok, maka perusahaan telah merekrut tenaga professional untuk merencanakan dan menjalankan sistem distribusi yang efektif dan efisien, melakukan survey dan analisis serta mendidik tenaga-tenaga pemasaran yang ada pada setiap jaringan distribusi. Untuk itu perusahaan memiliki kiat, yang oleh kalangan pemasaran dikenal sebagai “5P” yaitu Pemerataan, Pengawasan, Pengisian, Pengarahan dan Pendekatan. Guna menunjang kelancaran distribusi berbagai produk Perusahaan mulai dari pabrik hingga sampai ke suluruh pelosok Nusantara dan manca negara, tersedia armada angkutan sebanyak lebih dari 3.000 unit turk besar dan kecil. 1. Domestik Produk perusahaan dipasarkan melalui angkatan darat, laut, udara menuju ke gudang-gudang dan depo-depo. Pada saat ini, perusahaan memiliki 3 distributor utama yaitu PT. Surya Bhakti Utama, PT. Surya Kerta Bhakti dan PT. Surya Jaya Bhakti. Selain itu, perusahaan juga melakukan penjualan langsung kepada agen losari, mengingat agen tersebut sudah membina hubungan dengan perusahaan sejak lama. Para distributor menjual produk perusahaan kepada distributor, agen, sub agen dan pengecer yang keseluruhannya berjumlah lebih dari 400.000 dan tersebar di seluruh Indonesia. 2. Ekspor Sejak tahun 1972 perusahaan telah merintis untuk mengekspor produksi ke manca negara. Sampai saat ini perusahaan telah berhasil menembus pasaran ekspor di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Macco, Jepang, Australia, Selandia Baru, Arab Saudi, Hawaii, Amerika Serikat, Swiss, Kanada dan Belanda. f. Hasil Produksi Produk kretek sebenarnya merupakan hasil ramuan dan perpaduan lebih dari 20 jenis tembakau, cengkeh, saus dan bahan-bahan pembantu lainnya yang memerikan rasa dan kenikmatan khas yaitu harum, gurih dan nikmat. Dalam hal ini kualitas eksport sama dengan kualitas produk dalam negeri. Produk yang dihasilkan perusahaan dapat dibagi ,menjadi tiga kelompok antara lain: 1. Sigaret Kretek Klobot (SKL) a. Sigaret Kretek Klobot Manis b. Sigaret Kretek Tawar c. Sigaret Kretek Ekspor 2. Sigaret Kretek Tangan (SKT) a. GG Tanda Mata/MP b. GG taman Sriwedari PD c. GG Taman Sriwedari KS d. GG Djaja e. GG Merah Biru/AS f. GG Merah Biru/AKS g. GG Merah Biru/AKS h. GG Cokelat i. GG Sangu Kary j. GG Tamu k. GG Merah Biru/AS Ekspor l. GG Merah Biru/AKS Ekspor m. GG Merah Biru/AKS Ekspor n. GG Cokelat Ekspor 3. Sigaret Kretek Mesin (SKM) a. GG Filter International Merah b. GG Filter International Cokelat c. GG Filter Surya d. GG Filter surya Pro e. GG Filter Istana Presiden f. GG Filter Wakil Presiden g. GG Filter Surya Tamu h. GG Filter Surya Istana Presiden i. GG Sangu Karyawan/SKM j. GG Mini Filter Ekspor k. GG Mini Filter Light Ekspor l. GG Mini Filter Inter Merah Ekspor m. GG Mini Filter Inter Coklat Ekspor n. GG Mini Filter Surya Ekspor o. GG Mini Filter Surya Pro Ekspor g. Kegiatan Pemasaran Program promosi sebagai salah satu fungsi terpenting dalam pemasaran ditangani secara sistematis dan terpadu oleh Perusahaan. Media promosi yang digunakan antara lain : 1. Iklan diberbagai media cetak, media elektronik, media dalam dan luar negeri. 1. Pagelaran musik dan kesenian 2. Sponsor atau penyelenggara dalam bidnag olahraga 3. aneka barang promosi. 3. PT. H.M SAMPOERNA Tbk. a. Sejarah Perusahaan pada tahun 1913, di Surabaya, almarhum Liem Seng Tee memprakarsai berdirinya suatu perusahaan industri rumah tangga penghasil Sigaretek Kretek Tangan (SKT) dengan merk Dji Sam Soe (234). Perusahaan industri rumah rangga ini diresmikan pada tahun 1930 dengan dibentuknya Handle Maatschapij Liem Seng Tee yang dilanjutkan menjadi PT. Handle Maatschapij Sampoerna untuk seterusnya disebut Handle. Seiring dengan pertumbuhan industri rokok, Aga Sampoerna, putera kedua almarhum, bersama-sama dengan kakanya mendirikan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna (yang semula bernama PT. Perusahaan Dagang dan Industri Panamas), selanjutnya berdasarkan akta No. 69 tanggal 1963 yang dibuat dihadapan Notaris Anwar Mahajudin, diSurabaya dan disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia disebut dengan PT. Panamas. Pada tahun 1980, putra kedua dari Aga Sampoerna (putra Sampoerna) mengambil alih managemen Handle dan Panamas dan untuk melakukan modernisasi dan ekspansi yang diawali pada tahun 1982 dengan mendirikan fasilitas-fasilitas dan prasarana pembelian tembakau di berbagai daerah perkebunan tembakau di pulau Jawa Timur dan Madura. Dilanjutkan dengan penghapusan keagenan dan pengembangan prasarana dan jaringan distribusi Sampoerna yang ekstensif. Keberhasilan Sigaret Kretek Mesin (SKM) juga merupakan wujud dari modernisasi dan ekspansi tersebut. Pada tahun 1988 Panamas mengambil alih aktiva dan operasi Handle yang kemudian tidak aktif lagi dan mengubah namanya menjadi PT. Hajaya Mandala Sampoerna dan mulai melakukan suatu pembangunan fasilitas baru yang mutakhir didaerah Pandaaan selauas 150 Ha. Kantor pusat perusahaan, Administrasi dan pabrik utama yang memproduksi rokok kretek tangan dan rokok kretek mesin terletak di Rungkut Industri, Jl. Rungkut Industri Raya No. 14-18 Surabaya. Perusahaan juga mempunyai fasilitas produksi rokok kretek di Taman Sampoerna Surabaya, Malang dan Pandaan. Produk utama perusahaan adalah Sigaret Kretek Tangan Dji SamSoe, yang merupakan salah satu rokok kretek lintingan pertama yang dibuat untuk tujuan komersil yang sampai saat ini tetap merupakan acauan falsafah perusahaan. b. Produksi Perusahaan untuk memproses produksi, perusahaan melakukan sendiri proses pembelian, pengeringan dan pemeliharaan tembakau pada msing-msing pabrik. Perusahaan juga telah dilengkapi dengan laboratorium yang mengawasi secara telti proses pencampuran untk menjamin mutu produk. Rokok kretek tangan digulung dan dibungkus oleh tenaga-tenaga ahli dan terampil, sedangkan untuk rokok kretek mesin, penggulungan dan pembungkusan dilakukan secara otomatis oleh mesin-mesin. 1. Bahan Baku Bahan baku utama pembuatan rokok kretek adalah tembakau, cengkeh dan saus (sauce). Kurang lebih 90% tembakau dibeli dari pemasok lokal (para petani dan pedangang besar yang mayoritas berasal dari Jawa Timur dan Madura), dan sisanya di import dari negara Virginia (USA), Zimbabwe, Brazil, Izmir (Turki) dan Yunani. Sedangkan cengkeh dan saus dibeli dari pemasok lokal. 2. Proses Produksi Proses produksi rokok pada prinsipnya sederhana namun dibutuhkan suatu ketelitian yang cukup tinggi baik dalam hal pemilihan tembakau dan cengkeh, juga pada saat pencampuran. Pada umumnya campuran dari rokok kretek terdiri dari 30% cengkeh dan 70% tembakau. Namun demikian, rasio yang pasti dari komposisi ini dapat bervariasi dan sangat tergantung pada formula yang dikehendaki. Proses pembuatan rokok kretek dapat digambarkan sebagai berikut : a. Berbagai macam tembakau dibersihkan dan kemudian dicampur menurut formula tertentu. b. Cengkeh dicuci dan diproses, kemudian dicampur dengan tembakau campuran tersebut diatas. c. Hasil campuran diletakkan didalam tempayan-tempayan yang kemudian digulung (dilinting) baik dengan mesin maupun dengan tenaga manusia. d. Rokok-rokok yang telah dipotong itu kemudian dimasukkan dalam bungkus masing-masing sesuai dengan jenis rokok tersebut. c. Ketenagakerjaan Peranan sumberdaya manusia sangat mempengaruhi dalam menentukan keberhasilan usaha suatu perusahaan. Oleh karena itu perusahaan berupaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya melalui berbagai program yang diikuti oleh seluruh karyawan. Karyawan yang tergabung dalam PT. Hanjaya Mandala Sampoerna terdiri dari : Tabel. 4.4 Komposisi Karyawan Berdasarkan Jabatan Jabatan Jumlah Tenaga Keja Prosentase a. Managemen Puncak b. Managemen Atas c. Managemen Madya d. Karyawan Kantor e. Karyawan Produksi, Processing dan Pemasaran 6 orang 18 orang 72 orang 450 orang 15.876 orang 0.44% 0.11% 0.44% 2.74% 96.67% Sumber : Prospektus PT. HM Sampoerna Tbk, tahun 2007 Sesuai dengan Anggaran Dasar Perusahaan, perusahaan dikelola oleh Direksi dibawah pengawasan Dewan Komisaris. Anggota Dewan Komisaris dan Direksi diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham untuk jangka waktu lima tahun. Struktur Organisasi PT.HM Sampoerna berbentuk garis lini yaitu kekuasaan mengalir secara langsung dari atas kebawah. Setiap Divisi merupakan unit yang berdiri sendiri. Job Description Struktur Organisasi PT. HM Sampoerna Tbk. 1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Merupakan kuasa tertinggi dalam perusahaan mempunyai wewenang mengdakan rapat umum minimal satu tahun sekali. 2. Dewan Komisaris Dewan Komisaris beranggotakan, Presiden Komisaris, Wakil Presiden Komisaris dan Komisaris. Dewan ini berhak memeriksa operasi manajemen perusahaan yang dijalankan oleh Dewan Direktur. Memeriksa pembukuan, dokumen dan asset perusahaan. 3. Dewan Direksi Dewan Direksi terdiri dari Presiden Direktur, Wakil Presiden Direktur dan Direktur. Dewan ini berkewajiban untuk menjalankan operasi perusahaan serta mengelola perusahaan sesuai dengan maksud dan tujuan perushaan. 4. Direktur Pelaksana Direktur Pelaksana berkewajiban menjalankan operasi secara efektif dan efisien serta berkewajiban pula mengelola asset-asset perusahaan secara efisien, pada tingkat ini terbagi dalam lima departemen, antara lain : a. Departemen Pemasaran Departemen pemasaran bertugas untuk mengatur distribusi pemasaran hasil produksi. Bagian ini juga berperan sebagai perwakilan dari perusahaan dalam hal memasarkan produk. Departemen ini membawahi Divisi Penelitian Pasar, Divisi Pengembangan Merk, dan Divisi Lapangan. b. Departemen Administrasi Departemen Administrasi bertugas mengurusi semua kegiatan personalia, antara lain urusan kepegawaian, jaminan sosial dan perumahan. Demikian pula urusan transportasi yang diperlukan perusahaan. Departemen ini membawahi Divisi Umum, Divisi Humas dan Divisi Hukum. c. Departemen Manufacturing Departemen Manufacturing bertugas mengkoordinasi, mengawasi pelaksanaan pengolahan bahan baku agar proses produksi dan kualitas bahan baku akhir lancar dan baik. Departemen ini membawahi Divisi Bahan Baku, Divisi Pencampuran, Divisi Produksi, dan Divisi Mesin. d. Departemen Litbang Bagian ini merupakan mimpinan dalam mengkoordinasi pengembangan dan penelitian untuk kemajuan perusahaan, terutama dalam hal pengembangan produk yang diproduksi oleh PT. HM Sampoerna. Departemen ini membawahi Divisi Laboratorium, Divisi Pengembangan Produk, Divisi Pengontrolan Mutu, dan Divisi Penelitian Dasar. e. Departemen Keuangan Merupakan akuntan perusahaan yang mempunyai tigas dalam hal kebijaksanaan keuangan perusahaan yang meliputi penerimaan dan pengeluaran kas, pengurusan surat berharga, penyelesaian utang piutang, rencana budget perusahaan, membayar pajak, membayar gaji karyawan dan upah karyawan. Departemen ini membawahi Divisi Bendahara, Divisi Akuntansi, dan Divisi EDB. 5. Saluran Distribusi Sampai tahun 1986, produk-produk perusahaan disalurkan melaui beberapa pedagang besar diluar perusahaan dengan menggunakan jasa angkutan luar yang dikontrak, sehingga pengawasan perusahaan atas saluran distribusinya sangat terbatas. Pada awal tahun 1987, perusahaan membentuk divisi penjualan dan pemasarannya secara agresif dan melalui integrasi vertikal, dimana divisi ini akhirnya diubah menjadi PT Sampoerna Transportasi Nusantara, salah satu perusahaan anak. Jaringan distribusi merupakan tonggak utama sarana dan prasarana perusahaan, yang memperkerjakan lebih dari 3.000 orang dengan menggunakan lebih dari 60 van, serta lebih dari 1.500 sepeda motor yang beroperasi di seluruh nusantara melalui 51 cabang utama dan 84 cabang pembantu. Di Jawa dan Sumantera pengangkutan produknya dilakukan oleh armada sebanyak lebih dari 160 truk trailer yang mempunyai pangkalan masing-masing di Surabaya, Jakarta dan Medan. Dengan jaringan yang ada sekarang, perusahaan dapat lebih muda mengawasi aktivitas distribusi dan promosi produknya. 4. BENTOEL INTERNASIONAL Tbk. a. Sejarah Perusahaan PT. Bentoel Internasional Investama Tbk., didirikan berdasarkan akte No. 247 tanggal 11 April 1987 dari Misaharda Wilamarta, S.H., notaries, di Jakarta. Disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-1219. HT.01.01.Th.1989 tanggal 4 Februari 1989 dan telah diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia No. 2990/1989. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan terakhir pada tahun 2001 berdasarkan Akta pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perusahaan No. 102 Tanggal 30 Mei 2001 dari Eliwati Tjitra, S.H., notaris di Jakarta. Pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar perusahaan. Akta perubahan tersebut telah mendapat persetujuan Menteri Hukum dan Perundangundangan Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C- 01751.HT.01.04.TH. 2001 Tanggal 8 Juni 2001. PT. Bentoel berdomisili di Malang, Jawa Timur. Produk pertamanya adalah rokok klobot dengan merek Burung. PT. Bentoel pernah menduduki posisi ketiga industri rokok kretek di Indonesia, tetapi beberapa tahun lalu mengalami masalah karena besarnya beban hutang di perusahaan tersebut. Tepatnya pada bulan Juni 1991 lalu, perusahaan tersebut tidak dapat membayar pinjaman setelah jatuh tempo sebesar US$ 45 juta kepada sindikasi bank international. Masalah ini timbul karena kesalahan dalam pengendalian keuangan sehingga PT. Bentoel terpaksa mengundang pihak luar yaitu PT. Rajawali Wira Bhakti Utama (RWBU). (Indocommercial, 2002: 6). Sumbangan PT. Bentoel dalam industri rokok kretek di Indonesia yaitu dengan mempelopori dan mengembangkan sistem rolling otomatis pertama pada tahun 1968 (http://www.mudrajad.com/upload/journal_strukturkinerja- kluster-industri-rokok). Produk Bentoel di segmen SKT adalah Bentoel Merah, sedangkan untuk SKM adalah Bentoel International 12, untuk segmen SKM LTLN Bentoel mengeluarkan dua produk yaitu Star Mild dan Bentoel Mild. B. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 1. Perputaran Modal Kerja Pada Industri Rokok Penglolaan modal kerja merupakan suatu aktivitas yang mengelola masing-masing pos aktiva lancar dengan hutang lancar sedemikian rupa sehingga jumlah modal kerja yang diinginkan tetap dapat dipertahankan. Adapun metode yang digunakan dalam menganalisis penglolaan modal kerja adalah modal kerja secara kualitatif sebagai berikut : Penentuan modal kerja secara kualitatif lebih menekankan pada pengertian dari mana modal kerja itu berasal. Menurut konsep ini modal kerja dapat berasal dari hutang atau modal pemilik perusahaan. Konsep ini menentukan modal kerja dengan membandingkan antara total aktiva lancar dengan total utang lancar. Perhitungan modal kerja secara kualitatif adalah sebagai berikut : Dalam menentukan kebutuhan modal kerja suatu perusahaan dapat dilihat pada tingkat perputaran komponen-komponen modal kerja yaitu perputaran kas,perputaran piutang dan perputaran persediaan. Dibawah ini akan menjelaskan tentang perputaran komponen-komponen modal kerja. Modal Kerja = Total Aktiva Lancar – Total Hutang L 1. Perputaran Modal Kerja Pada PT. BAT Indonesia Tbk. a. Modal kerja Pada PT. BAT INDONESIA Tbk. Tabel. 4.5 PT.BAT INDONESIA Tbk. Modal Kerja (dalam jutaan Rupiah) Tahun 2000-2006 Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Bersih Perubahan Modal kerja antar Tahun 2000 552,180 411,651 140,529 2001 502,379 302,081 200,298 59,769 2002 479,855 254,891 224,964 24,666 2003 456,971 199,182 257,789 32,825 2004 525,789 271,543 254,246 (3,543) 2005 514,365 242,588 271,777 17,531 2006 424,917 27,346 397,571 125,794 Total Modal kerja Bersih 1,747,174 Rata-rata Modal Kerja Bersih 249,596.2857 Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa modal kerja mengalami kenaikan tiap tahun, mulai dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2003, namun pada tahun 2004 jumlah modal kerja mengalami penurunan. Pada tahun 2005 sampai dengan 2006 modal kerja perusahaan mengalami kenaikan lagi. Pada tahun 2000 ke 2001 terjadi peningkatan jumlah modal kerja yaitu sebesar 59,769. peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan komponen aktiva lancar yaitu pajak sebesar 5.343 serta piutang usaha sebesar 30.911 (laporan keuangan neraca konsolidasi BAT Indonesia tahun 2000 dan 2001). Pada tahun 2002 jumlah modal kerja meningkat sebesar 24,666. Peningkatan ini terjadi karena ada kenaikan kas dan setara kas sebesar 22.702. Pada tahun 2003 jumlah modal kerja yang dimiliki oleh PT. BAT Indonesia meningkat sebesar 32,825. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pada aktiva lancar yaitu pajak sebesar 23.041 (laporan keuangan neraca konsolidasi BAT Indonesia periode tahun 2002 dan 2003). Pada tahun 2004 jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan mengalami penurunan sebesar 3,543. penurunan ini disebabkan oleh kenaikan hutang usaha sebesar 22.307 serta kenaikan hutang cukai tembakau sebesar 18.955. Pada tahun 2005 adanya kenaikan jumlah modal kerja yaitu sebesar 17,531. Peningkatan ini disebabkan adanya kenaikan pada kas dan setara kas sebesar 80.267 (laporan keuangan neraca konsolidasi BAT Indonesia periode tahun 2004 dan 2005). Pada tahun 2006 jumlah modal kerja yang dimiliki mengalami peningkatan yang tinggi yaitu sebesar 125,794. kenaikan modal kerja yang dimiliki perusahaan disebabkan oleh meningkatnya komponen aktiva lancar yaitu pada piutang usaha sebesar 22.000. Rata-rata jumlah modal kerja yang dimiliki perusahaan PT.BAT Indonesia selama kurun waktu 7 tahun adalah sebesar 249.596,2857. 1. Perputaran Kas Menurut Riayanto (1999:63), dalam perputaran modal kerja (working capital turnover period) dimulai saat dimana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai saat dimana kembali lagi menjadi kas. Semakin pendek periode tersebut berarti semakin cepat perputarannya. Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut. Berikut ini tabel yang menunjukkan tingkat perputaran salah satu komponen modal kerja yaitu perputaran kas pada empat perusahaan rokok. 1. Perputaran Kas Tabel. 4.6 Perputaran Kas Pada PT. BAT Indonesia Tbk. Dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Kas Perputaran kas Rata-rata Industri 2000 874,202 26,503 32.99 kali 31.99 kali 2001 713,986 49,205 14.51 kali 28.95 kali 2002 743,855 24,826 29.96 kali 24.61 kali 2003 591,188 20,389 29.00 kali 25.16 kali 2004 572,462 28,193 20.31 kali 20.83kali 2005 652,528 108,460 6.02 kali 22.00 kali 2006 509,741 12,806 39.80 kali 35.03 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.1 Grafik perputaran kas PT. BAT Indonesia dan Rata-rata Industri Perputaran Kas 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Nila perputaran kas PT.BAT Indonesia perputaran kas Rata-rata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa perputaran kas yang dimiliki oleh perusahaan PT BAT Indonesia mengalami fluktuatif. Pada tahun 2000 perputaran kas terjadi 33 kali, ini menunjukkan bahwa tingginya penjualan secara tunai yang mencapai 874,202 (dalam jutaan Rupiah), yang menunjukkan bahwa tingginya periode perputaran untuk menjadi kas kembali sehingga perusahaan membutuhkan modal kerja dalam jumlah yang kecil untuk memenuhi kegiatan operasionalnya. Namun pada tahun 2001 perputaran kas sebesar 14 kali, perputaran berjalan lambat, ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat penjualan tunai. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri, BAT masa perputaran kas lebih cepat, rata-rata industri sebesar 28,95 kali. Tahun 2002 perputaran kas meningkat sebesar 29 kali, hal ini disebabkan karena adanya peningkatan pada penjualan tunai sebesar 743,855. yang berpengaruh terhadap perputaran kas dan akan diikuti dengan tingkat kebutuhan modal kerja. Pada rata-rata industri perputaran kas sebesar 24,61 ini menunjukkan bahwa perputaran kas pada perusahaan BAT di bawah rata-rata industri. Tahun 2003 perputaran kas pada perusahaan sebanyak 28 kali, ini menunjukkan tingginya pengembalian kas menjadi kas kembali sehingga akan mengakibatkan kebutuhan modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan semakin kecil. Sedangkan pada rata-rata industri perputaran kas sebesar 25,16 kali. Tahun 2004 perputaran kas yang terjadi pada perusahaan sebanyak 20,31 kali. Ini menunjukkan adanya kenaikan pada periode perputaran, yang menunjukkan adanya penurunan pada kebutuhan modal kerja pada perusahaan. Sedangkan pada rata-rata industri sebesar 20,83 kali, ini menunujukkan bahwa adanya kestabilan pada kondisi operasional perusahaan. Pada tahun 2005 perputaran kas terjadi hanya 6 kali, ini menunjukkan bahwa rendahnya tingkat perputaran kas pada perusahaan dan menunjukkan bahwa tingginya modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pada rata-rata industri sebesar 22,00 kali yang menunjukkan bahwa pada industri rokok mengalami peningkatan perputaran modal kerja. Tahun 2006 perputaran kas sebesar 39,80 kali dan pada rata-rata industri sebesar 35,03 ini mengindikasikan bahwa pada perusahaan BAT mengalami peningkatan pada perputaran kas sehingga akan berpengaruh terhadap kecilnya kebutuhan modal kerja perusahaan. 2. Perputaran Piutang (Receivable turnoner) Kemampuan dana yang bertahan dalam piutang yang berputar dalam suatu periode tertentu. Perputaran piutang merupakan perbandingan antara penjualan dengan piutang, jika perusahaan mengalami kesulitan pengumpulan-pengumpulan uang. Piutang perusahaan akan besar dan rasio ini akan rendah. Rasio yang tinggi menunjukkan semakin cepat pengembalian modal dalam bentuk kas. perputaran piutang = Piu g Penjualan tan Setelah diperoleh perputaran piutang maka dapat pula periode ratarata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang tersebut. Inventori Turnover = PerputaranPersediaan 360hari Berikut ini merupakan analisis perputaran piutang pada industri rokok sebagai berikut : Tabel : 4.7 Perputaran Piutang PT. BAT Indonesia Tbk. Dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Piutang Recaivable Turnover Rata-rata Industri 2000 874,202 34,381 25.43 kali 24.02 kali 2001 713,986 40,735 17.53 kali 28.49 kali 2002 743,855 46,496 16.00 kali 28.68 kali 2003 591,188 30,821 19.18 kali 32.34 kali 2004 572,462 26,899 21.28 kali 29.47 kali 2005 652,528 38,814 16.81 kali 20.76 kali 2006 509,741 61,383 8.30 kali 30.15 kali Sumber : data sekunder dioleh Tabel : 4.8 Periode Pengumpulan Piutang PT. BAT Indonesia Tbk dan rata-rata Industri Tahun 2000-2006 Tahun Hari Receivable Turnover Putaran persediaan rata-rata industri 2000 360 25.42 14.16 20.34 2001 360 17.52 20.55 19.09 2002 360 15.99 22.51 17.80 2003 360 19.18 18.77 16.82 2004 360 21.28 16.92 15.73 2005 360 16.81 21.42 17.89 2006 360 8.3 43.37 23.87 Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.2 Grafik Perputaran Piutang PT. BAT Indonesia Tbk, dan Rata-rata Industri Perputaran Piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Nila perputaran piutang PT.BAT Indonesia perputaran piutang rata-rata Industri Sumber : data sekunder diolah. Gambar: 4.3 Periode pengumpulan Piutang PT. BAT Indonesia dan rata-rata industri periode pengumpulan piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila putaran persedian BAT putaran persediaan ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas tingkat perputaran piutang mengalami fluktuatif yaitu pada tahun 2000 sebesar 25,42 kali dan diperlukan waktu 14,16 hari. Pada rata-rata industri pada tahun 2000 perputaran piutang sebesar 24,02 kali dan diperlukan waktu 20,34 hari, ini menunjukkan bahwa perputaran piutang yang terjadi pad perusahaan lebih tinggi dari pada rata-rata industri pada perusahaan rokok. Tahun 2001 sebesar 17,52 kali dan diperlukan waktu 20 hari, pada rata-rata industri sebesar 28, 49 kali. Dan diperlukan waktu 19,09 hari. Tahun 2002 sebesar 15,99 kali dan diperlukan waktu 22,51 hari. Rata-rata industri pada komponen perputaran piutang sebesar 28,49 kali dan diperlukan waktu 17,80 hari, ini menunjukkan bahwa periode perputaran kas pada rata-rata industri lambat. Tahun 2003 perputaran piutang perusahaan diperlukan 19,18 kali dan diperlukan waktu 19,18 hari untuk perputaran piutang, pada rata-rata industri sebesar 32,34 dan diperlukan waktu 16,82 hari. Tahun 2004 sebesar 21,28 kali dan perlukan waktu 16,91 hari, pada rata-rata industri sebesar 29,47 kali dan diperlukan waktu 15,73 hari, pada tahun 2005 sebesar 16,81 kali dan diperlukan waktu 21,41 hari, rata-rata industri sebesar 20,76 kali dan diperlukan waktu 17,89 hari. Pada tahun 2006 sebesar 8,30 dan diperlukan waktu 43,37 hari dan ratarata industri sebesar 30,15 kali dan diperlukan waktu 23,87 hari. Rendahnya tingkat perputaran piutang pada PT. BAT Indonesia ini mengindikasikan adanya pengelolaan dana yang kurang tepat, sehingga periode atau waktu pengumpulannya lambat. Namun pada tahun 2006 terjadi penurunan perputaran piutang hal ini disebabkan adanya over investment dalam piutang sehingga memerlukan analisis lebih lanjut, tentang kebijakan kredit. Pada rata-rata industri, tingkat perputaran piutang dan periode pengumpulannya sangat cepat, ini menunjukkan bahwa pada ratarata industri terdapat pengelolaan dana yang tepat dan baik. 3. Inventory Turnover (Perputaran Persediaan) Tabel : 4.9 Perputaran Persediaan PT. BAT Indonesia Tbk, dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun HPP Persediaan Inventory Turnover Rata-rata industri 2000 479,702 472,260 1.02 kali 1.61 kali 2001 334,430 392,531 0.85 kali 1.88 kali 2002 338,023 392,566 0.86 kali 2.46 kali 2003 290,269 365,939 0.79 kali 2.66 kali 2004 313,378 411,373 0.76 kali 2.52 kali 2005 401,272 314,897 1.27 kali 2.00 kali 2006 315,586 327,344 0.96 kali 2.10 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.4 Perputaran Persediaan PT. BAT Indonesia Tbk, dan Rata-rata Industri Perputaran Persediaan 0.10 1.00 10.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Nila perputaran persediaan PT.BAT Indonesia perputaran persediaan ratarata industri Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa dana yang tertanam dalam perputaran persediaan persediaan dari waktu ke waktu menunjukkan aktivitas perputaran yang kurang baik yaitu terjadi penurunan , pada tahun 2000 sebesar 1,02 kali, tahun 2001 sebesar 0,85 kali, tahun 2002 sebesar 0,86 kali, tahun 2003 sebesar 0,79 kali, tahun 2004 sebesar 0,76 kali, tahun 2005 1,27 kali, dan tahun 2006 sebesar 0,96 kali. Berdasarkan tabel diatas perputaran persediaan pada PT. BAT Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis. Sehingga untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi , maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan dan efesien. Sedangkan pada rata-rata industri perusahaan rokok, perputaran persediaan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan adanya perencanaan dan pengawasan persediaan yang baik pada setiapperusahaan rokok. 4. Rentabilitas Ekonomi (Receivable On Assets) Tabel : 4.10 Return on assetss PT. BAT Indonesia Tbk. Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Laba usaha Total Aktiva Rentabilitas ekonomi rata-rata industri 2000 126,485 812,466 0.17 = 17% 20% 2001 181,442 730,886 0.25 =25% 23% 2002 169,208 696,440 0.24 = 24% 19% 2003 75,402 648,344 0.12= 12% 14% 2004 (27,207) 699,607 (0.04) = (4%) 10% 2005 (81,192) 681,787 (0.12) = (12%) 9% 2006 (82,402) 611,936 (0.13) = (13%) 11% Gambar : 4.5 Grafik Rentabilitas Ekonomi PT. BAT Indonesia dan Rata-rata Industri Rentabilitas ekonomi 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Nila ROA PT.BAT Indonesia ROA Rata-rata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa rentabilitas ekonomi yang terjadi pada PT. BAT Indonesia Tbk. Mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Rasio tertinggi terjadi pada tahun 2001, sedangkan pada tahun 2003 mengalami penurunan karena laba yang diterima semakin kecil sedangkan total aktivanya semakin besar. Pada tahun 2004 sampai tahun 2006 perusahaan mengalami kerugian. Pada rata-rata industri, rentabilitas ekonomi (ROA) mengalami fluktuatif yaitu adanya penurunan Reveivable On Asset yang dimiliki oleh perusahaan rokok di Indonesia. Ini disebakan karena adanya penurunan laba dari tahun ketahun sedangkan total aktiva semakin besar. 5. Rentabilitas Modal sendiri (Receivable On Equity) Tabel : 4.11 Rentabilitas Modal Sendiri PT. BAT Indonesia Tbk, dan Rata-rata Inudstri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Laba Bersih Modal Sendiri Rentabilitas Modal sendiri rata-rata industri 2000 (57,464) 381,519 (0.15) = (15%) 18% 2001 113,420 403,211 0.28 = 28% 25% 2002 118,180 404,535 0.29 = 29% 21% 2003 49,347 418,220 0.12 =12% 14% 2004 (20,401) 393,287 (0.05) = (5%) 15% 2005 19,082 413,094 0.05 = 5% 18% 2006 (62,123) 350,971 (0.18) = (18%) 16% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.6 Rentabilitas Modal Sendiri PT. BAT dan Rata-rata Indonesia Rentabilitas Modal Sendiri 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROE rata-rata industri ROE PT. BAT Indonesia Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat rentabilitas modal sendiri mengalami fluktuasi, yaitu pada tahun 2000 perusahaan mengalami kerugian sebesar 15%, tahun 2001 mengalami peningkatan dan diatas standar yaitu 28%, tahun 2002 sebesar 29%, tahun 2003 12%, tahun 2004 perusahaan dalam rentabilitas modal sendiri mengalami kerugian sebesar 5%, pada tahun 2005 sebesar 5% dan pada tahun 2006 mengalami kerugian sebesar 18%. Berdasarkan data diatas, rentabilitas modal sendiri tahun 2000-2006 menunjukkan hasil yang kurang stabil, walaupun pada tahun 2001 sampai 2003 rentabilitas modal sendiri diatas standar yaitu diatas 12% namun tahun sebelum dan selanjutnya perusahaan mengalami kerugian pada rentabilitas modal sendiri, maka perlu ditingkatkan dengan cara mengoptimalkan pendapatan. Berdasarkan grafik diatas, rentabilitas modal sendiri pada perusahaan rokok BAT sangat rendah dibawah rata-rata industri, bahkan pada tahun 2000 mengalami kerugian sebesar (15%). Namun pada tahun 2001-2002 ROE yang dimiliki oleh perusahaan berada diatas rata-rata industri ini yaitu sebesar 28% dan 29%. Pada tahun 2004 dan 2006 mengalami kerugian lagi. 2. Perputaran Modal Kerja Pada PT. Gudang Garam Tbk. a. Modal Kerja Pada PT. Gudang Garam Tbk. Tabel. 4.12 PT. GUDANG GARAM Tbk. Modal Kerja (dalam jutaan Rupiah) Tahun 2000-2006 Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Bersih Perubahan Modal Kerja Antar Tahun 2000 9,130,444 4,562,345 4,568,099 2001 11,123,218 5,058,526 6,064,692 1,496,593 2002 11,491,081 5,527,058 5,964,023 (100,669) 2003 11,932,663 6,057,693 5,874,970 (89,053) 2004 13,490,458 8,006,773 5,483,685 (391,285) 2005 14,709,465 8,488,549 6,220,916 737,231 2006 14,815,847 7,855,005 6,960,842 739,926 Total Modal Kerja Bersih 41,137,227 Rata-rata Modal Kerja Bersih 5,876,747 Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa modal kerja mengalami fluktuatif tiap tahun, mulai dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Pada tahun 2000 ke tahun 2001 modal kerja mengalami peningkatan sebesar 1,496,593 (dalam jutaan Rupiah). Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas sebesar 35.973. Tahun 2002 modal kerja yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan sebesar 100,669 hal ini disebabkan oleh peningkatan pinjaman jangka pendek dan peningkatan hutang pajak dan PPN rokok (laporan keuangan neraca konsolidasi PT. Gudang Garam periode tahun 2000 dan 2001). Tahun 2003 perusahaan juga mengalami penurunan modal kerja sebesar 89,053 hal ini pun terjadi karena adanya peningkatan pinjaman jangka pendek sebesar 3.130.354 dan peningkatan hutang pajak dan PPN rokok sebesar 435.961 (laporan keuangan neraca konsolidasi PT. Gudang Garam periode tahun 2003). Pada tahun 2004 modal kerja juga mengalami penurunan sebesar 391,285. salah satu penyebab penurunan modal kerja pada tahun ini adalah bertambahnya jumlah pinjaman jangka pendek sebesar 1.765.710. Tetapi pada tahun 2005 jumlah modal kerja mengalami peningkatan sebesar 737,231. Hal ini disebabkan oleh jumlah aktiva lancar meningkat pada komponen persediaan bersih sebesar 1.167.299 (laporan neraca konsolidasi PT. Gudang Garam periode tahun 2004). Pada tahun 2006 jumlah modal kerja juga mengalami peningkatan sebesar 739,926. Peningkatan jumlah modal kerja ini dikarenakan adanya komponen aktiva lancar yaitu pendapatan pajak meningkat sebesar 23.307 (laporan keuangan neraca laba rugi periode tahun 2006). Rata-rata jumlah modal kerja tiap tahun dalam kurun waktu 7 tahun adalah sebesar 5,876,747. Ini menunjukkan jumlah modal kerja bersih yang siap digunakan untuk menjalankan operasional perusahaan. 1. Perputaran Kas Tabel : 4.13 Perputaran Kas PT. Gudang Garam Tbk dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Kas Perutaran kas rata-rata Industri 2000 14,964,674 201,875 74.13 kali 31.99 kali 2001 17,970,450 237,848 75.55 kali 28.95 kali 2002 20,939,084 464,982 45.03 kali 24.61kali 2003 23,137,376 413,718 55.93kali 25.16 kali 2004 24,291,692 540,136 44.97 kali 20.83 kali 2005 24,847,345 420,471 59.09kali 22.00 kali 2006 26,339,297 439,140 59.98 kali 35.03 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.7 Grafik Perputaran Kas PT. Gudang Garam dan rata-rata industri perputaran kas 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran kas ratarata industri perputaran kas PT. Gudang Garam Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa perputaran kas pada PT. Gudang Garam Tbk. Sangat tinggi yaitu pada tahun 2000 74,13 kali, tahun 2001 sebesar 75,55. tahun 2002 sebesar 45,03. pada tahun 2003 perputaran kas sebesar 55,93 kali, tahun 2004 sebesar 44,97, tahun 2005 sebesar 59,09 kali dan pada tahun 2006 perputaran kas pada perusahaan sebesar 59,98 kali. Naik turunnya perputaran kas ini mengindikasikan bahwa adanya tingkat over investment dalam kas dan berarti pula bahwa perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas. Pada rata-rata industri perputaran kas mengalami fluktuasi bahkan perputaran kas pada rata-rata industri dibawah perputaran kas PT. Gudang Garam. Ini menunjukkan rata-rata industri kurang efektifnya penglolaan kas dalam perusahaan. Jadi perputaran kas pada PT. Gudang Garam mengalami kenaikan dan diatas rata-rata industri. 2. Perputaran Piutang Tabel : 4.14 Perputaran Piutang Pada PT. Gudang Garam Tbk. Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Piutang Recaivable Turnover Rata-rata Industri 2000 14,964,674 1,691,805 8.85 kali 24.02 kali 2001 17,970,450 1,651,239 10.88 kali 28.49 kali 2002 20,939,084 1,489,301 14.06 kali 28.68 kali 2003 23,137,376 1,731,184 13.37 kali 32.34 kali 2004 24,291,692 1,812,544 13.40 kali 29.47 kali 2005 24,847,345 2,002,079 12.41 kali 20.76 kali 2006 26,339,297 2,505,726 10.51 kali 30.15 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.8 Perputaran Piutang PT. Gudang Garam dan rata-rata industri perputaran piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran piutang PT. Gudang Garam perputaran kas rata-rata industri Tabel : 4.15 Periode Pengumpulan Piutang PT. Gudang Garam dan rata-rata industri Tahun Hari Receivable Turnover Putaran persediaan rata-rata industri 2000 360 8.85 40.68 hari 20.34 hari 2001 360 10.88 33.09 hari 19.09 hari 2002 360 14.06 25.60 hari 17.80 hari 2003 360 13.37 26.93 hari 16.82 hari 2004 360 13.40 26.87 hari 15.73 hari 2005 360 12.41 29.01 hari 17.89 hari 2006 360 10.51 34.25hari 23.87 hari Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.9 Periode Pengumpulan Piutang PT. Gudang Garam dan Rata-rata Industri periode pengumpulan piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nia putaran persediaan PT.Gudang Garam putaran persediaan ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas tingkat perputaran piutang pada PT. Gudang Garam Tbk. Sangat rendah yaitu pada tahun 2000 sebesar 8,85 kali dan diperlukan waktu 40,68 hari sedangkan pada rata-rata industri sebesar 24,02 kali diperlukan waktu 20,34 hari. Pada tahun 2001 sebesar 10,88 kali dan diperlukan waktu 33,09 hari, untuk rata-rata industri sebesar 28,49 kali dan diperlukan waktu 19,09 hari. Pada tahun 2002 sebesar 14,06 dan diperlukan waktu 25,60 hari,rata-rata industri sebesar 28,68 kali dan diperlukan waktu 17,80 hari. Pada tahun 2003 perputaran piutang sebesar 13,37 kali dan diperlukan waktu 26,93 hari, pada rata-rata industri sebesar 32,34 kali dan diperlukan waktu 16,82 hari. Tahun 2004 sebesar 13,40 kali dan memerlukan waktu 26,87 hari,pada rata-rata industri sebesar 29,47 kali dan diperlukan waktu 15,73. Tahun 2005 sebesar 12,41 dan diperlukan waktu 29,01 hari, pada rata-rata industri sebesar 20,76 kali dan diperlukan waktu 17,89 kali dan pada tahun 2006 perputaran piutang terjadi sebesar 10,51 dan waktu yang diperlukan 34,25 hari, pada rata-rata industri sebesar 30,15 kali dan diperlukan waktu 23,87 hari. Rendahnya tingkat perputaran piutang pada PT. Gudang Garam jika dibandingkan dengan rata-rata industri yang ada, ini disebabkan karena adanya over investment pada perusahaan sehingga menyebabkan lambatnya periode pengumpulan piutang yang berdampak pada rendahnya periode perputaran piutang. 3. Inventory Turnover (Perputaran Persediaan) Tabel : 4.16 Perputaran Persediaan Pada PT. Gudang Garam Tbk. Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun HPP Persediaan Inventory Turnover Rata-rata industri 2000 10,837,213 7,197,500 1.51 kali 1.61 kali 2001 13,519,452 13,519,452 1.00 kali 1.88 kali 2002 16,108,077 9,381,700 1.72kali 2.46 kali 2003 18,615,630 9,528,579 1.95 kali 2.66 kali 2004 19,457,427 10,875,860 1.62 kali 2.52 kali 2005 19,704,705 12,043,159 1.64 kali 2.00 kali 2006 21,622,622 11,649,091 1.86 kali 2.10 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.10 Grafik perputaran persediaan Pada PT. Gudang Garam dan Rata-rata industri perputaran persediaan 1.00 10.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nia perputaran persediaan PT. Gudang garam perputaran persediaan rata-rata industri Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dana yang tertanam dalam perputaran persediaan dari waktu ke waktu menunjukkan aktivitas perputaran yang buruk, pada tahun 2000 sebesar 1,51 kali, tahun 2001 sebesar 1,00 kali, pada tahun 2002 perputaran kas sebesar 1,72 kali, tahun 2003 sebesar 1,95 kali, tahun 2004 sebesar 1,6 kali, tahun 2005 perputaran persediaan pada perusahaan sebesar 1,64 kali, dan pada tahun 2006 sebesar 1,86 kali. Berdasarkan tabel diatas perputaran persediaan pada perusahaan mengalami penurunan yang sangat drastis jika dibandingkan dengan ratrata industri yang mengalami kenaikan, hal ini mengindikasikan bahwa adanya pengelolaan dana yang kurang tepat dan minimnya persediaan pada perusahaan. 1. Rentabilitas ekonomi (Receivable On E quity) Tabel : 4.17 Rentabilitas Ekonomi Pada PT. Gudang Garam Tbk dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 Tahun Laba Usaha (EBIT) Total Aktiva Rentabilitas Ekonomi rata-rata industri 2000 3,254,663 10,843,195 0.30 =30% 20% 2001 3,389,977 13,448,124 0.25 = 25% 23% 2002 3,455,030 15,452,703 0.22 =22% 19% 2003 2,930,647 17,338,899 0.17 =17% 14% 2004 2,916,260 20,591,389 0.14 = 14% 10% 2005 3,148,692 22,128,851 0.14 = 14% 9% 2006 2,190,332 21,733,034 0.10 = 10% 11% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.11 Grafik Rentabilitas Ekonomi (ROA) PT Gudang Garam dan rata-rata industri receivable On Equity 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROE rata-rata Industri ROE PT. Gudang Garam Dari tabel diatas menunjukkan tingkat rentabilitas perusahaan yang cukup baik walaupun dari tabel terlihat bahwa rentabilitas ekonomi mengalami penurunan namun tetap diatas standar yang digunakan yaitu 10%. Rasio tertinggi terjadi pada tahun 2000 yaitu sebesar 30%. Pada tauhn 2001 sebesar 25%, rata-rata industri sebesar 23%. Tahun 2003 rentabilitas ekonomi perusahaan sebesar 22% dan rata-rata industri sebesar 19%, tahun 2004 sebesar 14%, rata-rata industri sebesar 10%, tahun 2005 sebesar 14%, rata-rata industri sebesar 9% dan pada tahun 2006 sebesar 10% dan rata-rata industri sebesar 11%. Jika setiap tahun tingkat rasio rentabilitas ekonomi meningkat, maka perusahaan dapat mengembalikan modal yang dikeluarkan. Agar tidak terjadi penurunan dalam rasio rentabilitas ekonomi maka perusahaan perlu meningkatkan volume penjualan dan pendapatan. Berdasarkan tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa retabilitas ekonomi perusahaan Gudang Garam berada diatas rata-rata industri perusahaan rokok, ini menunjukkan bahwa adanya penglolaan modal yang baik pada perusahaan. 5. Rentabilitas modal sendiri (Return On Equity) Tabel : 4.18 Rentabilitas Modal Sendiri PT. Gudang Garam Tbk dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 Tahun Laba Bersih Modal Sendiri Rentabilitas Modal Sendiri rata-rata industri 2000 2,243,215 6,111,108 0.37 = 37% 18% 2001 2,087,361 8,198,192 0.25 = 25% 25% 2002 2,086,891 9,709,701 0.21 = 21% 21% 2003 1,838,673 10,970,871 0.17 =17% 14% 2004 1,790,209 12,183,853 0.15 = 15% 15% 2005 1,889,646 13,111,455 0.14 = 14% 18% 2006 1,007,822 13,157,233 0.08 = 8% 16% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.12 Grafik Rentabilitas Modal sendiri (ROE) PT. Gudang Garam dan rata-rata Industri rentabilitas modal sendiri 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROE Rata-rata industri ROE PT. Gudang Garam Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas menunjukkan tingkat rentabilitas modal sendiri tahun 2000 adalah 0,37 ini berarti kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas modal sendiri adalah 37% dan rata-rata industri sebesar 18%. Tahun 2001 tingkat rentabilitas modal sendiri adalah 0,25 ini berarti kemempuan perusahaan unutk menghasilkan laba atas modal sendiri adalah 25% dan rata-rata industri sebesar 25%. Tahun 2002 sebesar 0,21 maka kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas modal sendiri sebesar 21%, rata-rata industri 21%. Tahun 2003 adalah 0,17 maka laba yang dihasilkan perusahaan atas modal sendiri adalah 17%, rata-rata industri sebesar 14%. Tahun 2004 sebesar 0,15 maka laba yang dihasilkan atas modal sendiri adalah 15%, dan rata-rata industri sebesar 15%, pada tahun ini rentabilitas modal sendiri perusahaan dan rata-rata industri stabil. Pada tahun 2005 tingkat rentabilitas modal sendiri sebesar 0,14 maka laba yang dihasilkan atas modal sendiri adalah 14%, rata-rata industri sebesar 18%. Dan pada tahun 2006 sebesar 0,10 maka laba yang dihasilkan adalah 10%, rata-rata industri sebesar 16%. Berdasarkan data diatas, rentabilitas modal sendiri tahun 2000-2006 menunjukkan hasil yang menurun, namun tetap diatas standar normal yang digunakan yaitu 12%. Hal ini disebabkan modal sendiri belum mampu menghasilkan laba yang baik, maka perlu ditingkatkan dengan cara mengoptimalkan pendapatan. Rentabilitas modal sendiri pada rata-rata industri pada industri rokok mengalami fluktuasi jika dibandingkan dengan rentabilitas PT. Gudang Garam. 3. Perputaran Modal Kerja Pada PT. HM Sampoerna Tbk. a. Modal Kerja Pada PT. HM Sampoerna Tbk. Tabel. 4.19 PT. HM SAMPOERNA Tbk. Modal Kerja (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun 2000-2006 Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Barsih Perubahan Modal Kerja Antar tahun 2000 5,299,591 2,010,033 3,289,558 2001 6,761,987 2,673,034 4,088,953 799,395 2002 6,983,776 2,083,641 4,900,135 811,182 2003 6,956,154 1,710,050 5,246,104 345,969 2004 8,835,447 3,871,620 4,963,827 (282,277) 2005 8,729,173 5,116,734 3,612,439 (1,351,388) 2006 9,432,332 5,612,677 3,819,655 207,216 Total Modal Kerja Bersih 29,920,671 Rata-rata Modal Kerja Bersih 4,274,382 Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa modal kerja pada PT. HM Sampoerna tiap tahun rata-rata mengalami peningkatan, mulai pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Namun pada tahun 2002 sampai dengan tahun 2003 mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2000 ke tahun 2001 modal kerja bersih mengalami peningkatan 799,395 (dalam jutaan rupiah). Peningkatan ini disebabkan oleh kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan bertambah sebesar 49.167 sebagai salah satu komponen aktiva lancer (laporan keuangan neraca konsolidasi PT.HM Samppoerna periode tahun 2000 dan 2001). Tahun 2002 modal kerja bersih mengalami peningkatan sebesar 811,182. peningkatan ini disebabkan oleh kas dan setara kas bertambah sebesar 288.386. Tahun 2003 modal kerja bersih juga mengalami peningkatan sebesar. 345,969 peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan kas dan setara kas sebesar 771.409 yang sangat berpengaruh terhadap jumlah total aktiva lancer (laporan neraca konsolidasi PT. HM Sampoerna tahun 2002 dan 2003). Tahun 2004 modal kerja mengalami penurunan sebesar 282.277. penyebabnya adalah terjadi peningkatan kas dan setara kas sebesar 541.210 dan juga peningkatan persediaan bersih sebesar 225.032, ini merupakan peningkatan kekayaan yang baik (laporan neraca konsolidasi PT.HM Sampoerna tahun 2004). Pada tahun 2005 modal kerja juga mengalami penurunan sebesar 1.351.388. Penurunan ini disebabkan turunnya kas dan setara kas sebesar 1.352.844 yang sangat berpengaruh terhadap jumlah total aktiva lancar. Pada tahun 2006 modal kerja mengalami peningkatan sebesar 207.216. Peningkatan ini disebabkan oleh turunnya kas dan setara kas sebesar 347.399 (laporan neraca konsolidasi PT.HM Sampoerna tahun 2005 dan 2006). Rata-rata jumlah modal kerja tiap tahun dalam kurun waktu 7 tahun adalah (29,920,671 : 7) = 4,274,382,- Jumlah modal kerja bersih ini yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kegiatan operasionalnya. 1. Perputaran Kas Tabel : 4.20 Perputaran Kas PT. HM Sampoerna Tbk dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 Tahun Penjualan Kas Perutaran kas rata-rata Industri 2000 10,029,401 778,076 12.89 kali 31.99 kali 2001 14,066,515 827,243 17.00 kali 28.95 kali 2002 15,128,664 1,115,599 13.56 kali 24.61 kali 2003 14,675,125 1,887,008 7.78 kali 25.16 kali 2004 17,646,694 2,428.218 7.26 kali 20.83 kali 2005 24,660,038 1,352,844 18.23 kali 22.00 kali 2006 29,545,083 1,005,445 29.39 kali 35.03 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.11 Grafik Perputaran kas pada PT.HM Sampoerna dan rata-rata industri perputaran kas 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran kas PT.HM Sampoerna perputaran kas ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa perputaran kas pada perusahaan PT. HM Sampoerna mengalami fluktuasi yaitu pada tahun 2000 sebesar 17,89 kali, tahun 2001 sebesar 17,00 kali, tahun 2002 sebesar 13,56 kali, tahun 2003 sebesar 7,78 kali, tahun 2004 sebesar 7,26 kali, pada tahun 2005 perputaran kas sebesar 18,23 kali, dan pada tahun 2006 sebesar 29,39 kali. Perputaran kas pada rata-rata industri mengalami peningkatan pada tahun 2000 sebesar 31,99 kali, tahun 2001 sebesar 28,95 kali, tahun 2002 sebesar 24,61 kali, tahun 2003 sebesar 25,16 kali, tahun 2004 sebesar 20,83 kali, tahun 2005 sebesar 22,00 kali dan tahun 2006 sebesar 35,03 kali. Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa perputaran kas pada perusahaan tidak stabil. Pada tahun 2000 sampai 2002 dan 2005 sampai 2006 diperoleh perputaran kas yang tinggi maka dapat dikatakan bahwa jumlah kas yang dimiliki perusahaan kecil, namun akan menghasilkan tingkat keuntungan yang besar. Pada tahun 2003 dan 2004 perputaran kas rendah, ini disebabkan adanya over invesment dalam kas, serta perusahaan kurang efektif dalam mengelola kas. Berdasarkan data diatas maka perputaran kas pada perusahaan PT.HM Sampoerna berada dibawah rata-rata industri sehingga bagi pihak perusahaan perlu adanya pengelolaan kas secara tepat sehingga kegiatan operasional perusahaan bisa berjalan dengan baik. 2. Perputaran Piutang Tabel : 4.21 Perputaran Piutang PT.HM Sampoerna Tbk dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 Tahun Penjualan Piutang Recaivable Turnover Rata-rata Industri 2000 10,029,401 241,014 41.61 kali 24.02 kali 2001 14,066,515 217,955 64.54 kali 28.49 kali 2002 15,128,664 324,638 46.60 kali 28.68 kali 2003 14,675,125 194,758 75.35 kali 32.34 kali 2004 17,646,694 324,374 54.40 kali 29.47 kali 2005 24,660,038 523,441 47.11 kali 20.76 kali 2006 29,545,083 399,011 74.05 kali 30.15 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.12 Grafik perputaran Piutang PT. HM Sampoerna dan Rata-rata Industri perputaran piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran piutang PT. HM Sampoerna perputaran piutang ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Tabel : 4.22 Days of Receivable PT. HM Sampoerna Tbk dan Rata-rata Industri Tahun Hari Receivable Turnover Putaran persediaan rata-rata industri 2000 360 41.61 8.65 20.34 2001 360 64.54 5.58 19.09 2002 360 46.60 7.73 17.80 2003 360 75.35 4.78 16.82 2004 360 54.40 6.62 15.73 2005 360 47.11 7.64 17.89 2006 360 74.05 4.86 23.87 Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.13 Periode Pengumpulan Piutang PT. Gudang Garam dan Rata-rata Industri periode pengumpulan piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 tahun nila putaran persediaan HM.Sampoerna putaran persediaan ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa perputaran piutang pada perusahaan HM. Sampoerna berada diatas ratarata industri yang ada. Yaitu pada tahun 2000 sebesar 41,61 kali dan diperlukan waktu 8,65 hari sedangkan pada rata-rata industri sebesar 24,02 kali dan diperlukan waktu 20,34 hari. Tahun 2001 sebesar 64,54 kali dan waktu yang diperlukan 5,58 hari, pada rata-rata industri sebesar 28,49 kali diperlukan waktu 19,09 hari. Tahun 2002 sebesar 46,60 kali dan diperlukan waktu 7,73 hari sedangkan pada rata-rata industri perputaran piutang sebesar 28,64 kali, dan diperlukan waktu 17,80 hari. Tahun 2003 sebesar 75,35 kali dan waktu yang diperlukan 4,78 hari, pada rata-rata industri sebesar 32,34 kali dan diperlukan waktu 16,82. Tahun 2004 sebesar 54,40 kali dan diperlukan waktu 6,62 hari, sedangkan pada rata-rata industri sebesar 29,47 kali dan diperlukan waktu 15,73 hari. Tahun 2005 sebesar 47,15 kali dan waktu yang diperlukan 7,64 hari, pada rata-rata industri perputaran piutang sebesar 20,76 kali dan diperlukan waktu 17,89 hari. Dan pada tahun 2006 perputaran piutang terjadi sebesar 74,05 kali dan diperlukan waktu untuk pengumpulan piutang adalah 4,86 hari, pada rata-rata industri sebesar 30,15 kali dan diperlukan waktu pengumpulan piutang 23,87 hari. Berdasarkan data diatas diketahui bahwa periode perputaran piutang pada PT. HM Sampoerna sangat tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata industri yang ada, ini menunjukkan bahwa perusahaan telah melaksanakan kebijakan kredit dengan baik. yang menunjukkan bahwa perputaran piutang pada perusahaan PT. HM Sampoerna berada diatas rata-rata industri rokok. 3. Perputaran Persediaan Tabel : 4.23 Perputaran Persediaan PT. HM Sampoerna Tbk dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 Tahun HPP Persediaan Inventory Turnover Rata-rata industri 2000 6,932,271 4,125,651 1.68 kali 1.61 kali 2001 9,993,830 5,294,415 1.89 kali 1.88 kali 2002 10,540,856 5,333,008 1.98 kali 2.46 kali 2003 10,152,735 4,658,728 2.18 kali 2.66 kali 2004 11,893,970 4,883,760 2.44 kali 2.52 kali 2005 17,439,228 6,261,716 2.79 kali 2.00 kali 2006 21,092,522 7,432,208 2.84 kali 2.10 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.14 Grafik perputaran Persediaan PT.HM Sampoerna dan Rata-rata Industri perputaran persediaan 1.00 10.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran persediaan rata-rata industri perputaran persediaan PT.HM Sampoerna Sumber : data sekunder diolah Berdasarkan tabel dan grafik diatas perputaran persediaan pada PT. HM Sampoerna mengalami peningkatan dan berada diatas rata-rata industri, yaitu pada tahun 2000 sebesar 1,68 kali, sedangkan pada rata-rata industri sebesar 1,61 kali. Tahun 2001 sebesar 1,89 kali dan rata-rata industri sebesar1,88 kali, tahun 2002 sebesar 1,98 kali, rata-rata industri sebesar 2,46 kali, pada tahun 2003 sebesar 2,18 kali dan rata-rata industri sebesar 2,66 kali, tahun 2004 sebesar 2,44 kali dan rata-rata industri sebesar 2,52 kali, tahun 2005 sebesar 2,79 kali dan rata-rata industri sebesar 2,00 kali, dan pada tahun 2006 sebesar 2,84 kali dan perputaran persediaan pada rata-rata industri sebesar 2,10 kali. Rendahnya tingkat perputaran persediaan dikarenakan minimnya pengalokasian dana yang digunakan untuk persediaan perusahaan, sehingga perusahaan perlu untuk membuat kebijakan tentang periode minimal baik yang berupa persediaan bahan baku,maupun barang jadi. 4. Rentabilitas ekonomi (Receivable On Assets) Tabel : 4.24 Rentabilitas Ekonomi PT. HM Sampoerna Tbk dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 Tahun Laba Usaha Total Aktiva Rentabilitas ekonomi rata-rata industri 2000 2,052,380 8,524,815 0.24 = 24% 20% 2001 2,652,818 9,470,540 0.27 = 27% 23% 2002 2,727,495 9,817,074 0.28 = 28% 19% 2003 2,392,602 10,197,768 0.23 =23% 14% 2004 3,183,278 11,699,265 0.27 = 27% 10% 2005 3,939,505 11,934,600 0.33 = 33% 9% 2006 5,175,282 12,659,804 0.41 = 41% 11% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.15 Grafik Rentabilitas Ekonomi (ROA) PT. HM Sampoerna dan rata-rata industri rentabilitas ekonomi 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROA PT.HM Sampoerna ROA Rata-rata Industri Sumber : data sekunder diolah Berdasarkan tabel dan grafik diatas menunjukkan bahwa rasio antara laba yang diperoleh perusahaan dengan modal mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Yaitu pada tahun 2000 setiap EBIT Rp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,24, tahun 2001 setiap EBIT Rp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0, 27, tahun 2002 setaiap EBIT Rp. 1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,28. tahun 2003 setiap EBIT Rp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,23 . tahun 2004 setiap EBIT Rp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,27. Tahun 2005 setiap EBITRp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,28. Dan pada tahun 2006 setiap EBIT Rp.1,- akan menghasilkan aktiva sebesar 0,41. Rentabilitas ekonomi pada rata-rata industri mengalami penurunan, dan rentabilitas pada PT. HM Sampoerna berada diatas rata-rata industri, ini terlihat pada grafik yaitu pada tahun 2003 hingga tahun 2006 rentabilitas ekonomi pada rata-rata industri mengalami penurunan yang signifikan. Dari data diatas dapat dilihat bahwa rentabilitas ekonomi pada PT. HM Sampoerna mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan adanya peningkatan penjualan dan pendapatan pada perusahaan. 5. Rentabilitas Modal Sendiri Tabel: 4.25 Rentabilitas Modal sendiri PT. HM Sampoerna Tbk dan rata-rata industri Tahun Laba Bersih Modal sendiri Rentabilitas Modal Sendiri rata-rata industri 2000 1,013,897 3,821,862 0.27 = 27% 18% 2001 955,413 4,161,567 0.23 = 23% 25% 2002 1,671,084 5,200,893 0.32 =32% 21% 2003 1,671,084 5,768,407 0.29 =29% 14% 2004 1,991,852 4,859,430 0.41 = 41% 15% 2005 2,383,066 4,575,555 0.52 = 52% 18% 2006 3,530,490 5,693,940 0.62 = 62% 16% Sumber : data sekunder diolah Gambar Grafik : 4.16 Rentabilitas Modal Sendiri (ROE) PT. HM Sampoerna dan Rata-rata Industri Rentabilitas modal sendiri 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROA rata-rata industri ROA PT.HM Sampoerna Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa rentabilitas modal sendiri pada perusahaan PT. HM Sampoerna Mengalami peningkatan, sedangkan pada rata-rata industri mengalami penurunan yang signifikan Yaitu pada tahun 2000 setiap modal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp.0,27. tahun 2001 setiap Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp.0,23. tahun 2002 setiap modal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp.0,32. tahun 2003 setiap modal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,29. tahun 2004 setiapmodal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,41. tahun 2005 setiap modal sendiri sebesar Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,52. dan pada tahun 2006 setiap modal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp.0,62. Berdasarkan data diatas bahwa rentabilitas modal sendiri pada perusahaan PT. HM Sampoerna mengalami peningkatan. Semakin besar nilai modal sendiri maka perusahaan cukup modal untuk melakukan kegiatan operasionalnya. Sedangkan pada rata-rata industri perusahaan rokok di Indonesia perlu adanya peningkatan nilai modal sendiri agar perusahaan bisa mencukupi kebutahan operasionalnya. 4. Perputaran Modal Kerja Pada PT. Bentoel Internasional Inv Tbk. a. Modal Kerja Pada PT. Bentoel Internasional Invs. Tbk. Tabel. 4.26 PT. BENTOEL INTERNASIONAL Inv Tbk. Modal Kerja (dalam jutaan Rupiah) Tahun 2000-2006 Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Modal Kerja Bersih Perubahan Modal Kerja Antar Tahun 2000 1,215,378,248,420 556,625,435,553 658,752,812,867 2001 1,545,411,611,771 675,948,177,425 869,463,434,346 210,710,621,479 2002 1,558,401,171,083 780,702,972,511 777,698,198,572 (91,765,235,774) 2003 1,488,055,249,870 818,173,997,116 669,881,252,754 (107,816,945,818) 2004 1,450,166,639,175 720,391,895,964 729,774,743,211 59,893,490,457 2005 1,367,677,441,288 618,692,250,431 748,985,190,857 19,210,447,646 2006 1,693,183,119,276 1,053,455,108,670 639,728,010,606 (109,257,180,251) Total Modal kerja Bersih 5,094,283,643,213 Rata-rata Modal Kerja Bersih 727,754,806 Sumber : data sekunder diolah Dari data tabel diatas dapat diketahui bahwa modal kerja mengalami fluktuatif tiap tahun, mulai dari tahun 2000 hingga tahun 2006. Pada tahun 2000 ke tahun 2001 modal kerja mengalami peningkatan sebesar 210,710,621,479. Peningkatan ini disebabkan oleh kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan bertambah sebesar 166.309.763.008 (data laporan neraca konsolidasi PT. Bentoel periode tahun 2000 dan 2001). Tahun 2002 terjadi penurunan jumlah modal kerja sebesar 91.765.235.774. ini disebabkan oleh kenaikan hutang jangka panjang yang telah jatuh tempo pada Bank sebesar 109.367.179.030 (data laporan neraca konsolidasi PT. Bentoel periode tahun 2002). Tahun 2003 modal kerja yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan sebesar 107.816.945.818. Penurunan ini disebabkan oleh pada pos hutang lancar yaitu hutang usaha sebesar 212.558.880.587 (data laporan neraca konsolidasi PT. Bentoel periode tahun 2003). Pada tahun 2004 modal kerja yang dimiliki perusahaan mengalami peningkatan kembali sebesar 59.893.490.457. Kenaikan ini disebabkan pada komponen aktiva lancar yaitu persediaan bersih bertambah sebesar 34.077.145.708 (data laporan neraca konsolidasi PT.Bentoel periode tahun 2004). Tahun 2005 jumlah modal kerja bersih mengalami peningkatan sebesar 19.210.447.646. Kenaikan ini disebabkan komponen aktiva lancar yaitu persediaan bersih mengalami kenaikan sebesar 245.894.707.600 (data laporan keuangan neraca konsolidasi PT.Bentoel periode tahun 2005). Pada tahun 2006 jumlah modal kerja pada PT. Bentoel mengalami penurunan sebesar 109.257.180.251 ini disebabkan kenaikan pada hutang lancar yaitu piutang usaha sebesar 27.255.648.521 (data laporan keuangan neraca konsolidasi PT.Bentoel periode tahun 2006). Rata-rata jumlah modal kerja pada perusahaan PT. Bentoel Tbk. Tiap tahun dalam kurun waktu 7 tahun adalah sebesar 727.754.806.173,28. 1. Perputaran Kas Tabel : 4.27 Perputaran Kas Pada PT. Bentoel Internasional Inv dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Kas Perputaran Kas rata-rata industri 2000 2,198,931,060,542 276,433,449,889 7.95 kali 31.99 kali 2001 3,872,953,078,053 442,743,212,897 8.75 kali 28.95 kali 2002 4,770,685,643,198 481,859,001,757 9.90 kali 24.61 kali 2003 4,264,617,449,243 537,749,320,648 7.93 kali 25.16 kali 2004 4,226,135,070,731 392,152,964,059 10.78 kali 20.83 kali 2005 2,176,178,089,506 466,080,210,231 4.67 kali 22.00 kali 2006 2,996,514,058,026 273,691,401,940 10.95 kali 35.03 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.17 Perputaran Kas PT. Bentoel Internasional dan rata-rata Industri perputaran kas 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila Perputaran kas PT. Bentoel perputarn kas rata-rata industri Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa perputaran kas pada perusahaan PT. Bentoel Internasional Tbk. Mengalami fluktuasi dan dibawah rata-rata industri, yaitu pada tahun 2000 sebesar 7,95 kali sedangkan rata-rata industri sebesar 39,99 kali,pada tahun 2001 sebesar 8,75 kali, rata-rata industri sebesar 28,95 kali. Tahun 2002 sebesar 9,90 kali, dan rata-rata industri sebesar 24,61 kali. Pada tahun 2003 perputaran kas sebesar 7,93 kali dan rata-rata industri sebesar 25,16 kali, pada tahun 2004 sebesar 10,78 kali dan rata-rata industri sebesar 20,83 kali, tahun 2005 sebesar 4,67 kali, rata-rata industri sebesar 22,04 kali dan pada tahun 2006 perputaran kas sebesar 10,95 kali sedangkan pada rata-rata industri sebesar 35,03 kali. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa perputaran kas pada PT. Bentoel kurang baik,hal ini disebabkan adanya penglolaan kas yang kurang efektif pada perusahaan. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri, perputaran kas pada PT. Bentoel dibawah rata-rata industri. Pada grafik terdapat perbedaan yang signifikan antara perputaran kas PT. Bentoel dengan rata-rata industri. 2. Perputaran Piutang (Receivable Turnover) Tabel : 4.28 Perputaran Piutang PT. Bentoel Internasional Invs Tbk dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Piutang Recaivable Turnover rata-rata industri 2000 2,198,931,060,542 109,022,551,973 20.17 kali 24.02 kali 2001 3,872,953,078,053 184,326,117,417 21.01 kali 28.49 kali 2002 4,770,685,643,198 203,397,478,031 23.45 kali 28.68 kali 2003 4,264,617,449,243 198,904,163,539 21.44 kali 32.34 klai 2004 4,226,135,070,731 146,744,661,011 28.80 kali 29.47 klai 2005 2,176,178,089,506 81,494,316,891 26.70 kali 20.76 kali 2006 2,996,514,058,026 108,106,441,050 27.72 kali 30.15 kali Sumber :data sekunder diolah Gambar : 4.18 Grafik Perputaran Piutang (Receivable Turnover) PT. Bentoel dan Rata-rata Industri Perputaran piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran piutang PT. Bentoel perputaran piutang ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Tabel : 4.29 Periode Pengumpulan Piutang PT.Bentoel dan rata-rata industri Tahun Hari Receivable Turnover Putaran persediaan rata-rata industri 2000 360 20.17 17.85 hari 20.34 hari 2001 360 21.01 17.13 hari 19.09 hari 2002 360 23.45 15.35 hari 17.80 hari 2003 360 21.44 16.79 hari 16.82hari 2004 360 28.8 12.50 hari 15.73 hari 2005 360 26.70 13.48 hari 17.89 hari 2006 360 27.72 12.99 hari 23.87 hari Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.19 Periode Pengumpulan Piutang PT. Bentoel dan rata-rata Industri periode pengumpulan piutang 1.00 10.00 100.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun Nila putaran persediaan PT.Bentoel putaran persediaan ratarata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat perputaran piutang atau Receivable Turnover pada perusahaan PT. Bentoel baik yaitu pada tahun 2000 sebesar 17,85 kali dan diperlukan waktu 17,85 hari pada rata-rata industri sebesar 24,02 kali dan diperlukan waktu 20,34 hari, tahun 2001 sebesar 21,01 kali dan waktu yang diperlukan 17, 13 hari, dan pada rata-rata industri sebesar 28,49 kali dan diperlukan waktu 19,09 hari, tahun 2002 sebesar 23,45 kali dan waktu yang diperlukan adalah 15,35 hari, pada ratarata industri sebesar 28,68 kali dan diperlukan waktu 17,80 hari. Pada tahun 2003 perputaran piutang sebesar 21,44 kali dengan waktu yang diperlukan adalah 16,79 hari,pada rata-rata industri sebesar 32,34 kali dan diperlukan waktu 16,87 hari. Tahun 2004 sebesar 28,80 kali dan diperlukan waktu 12,50 hari, pada rata-rata industri sebesar 29,47 kali dan diperlukan waktu 15,73 hari, tahun 2005 sebesar 26,70 kali dan diperlukan waktu 13,48 hari pada rata-rata industri sebesar 20,76 kali dan diperlukan waktu 17,89 hari, dan pada tahun 2006 perputaran piutang sebesar 27,72 kali dan waktu yang diperlukan adalah 12,99 hari dan pada rata-rata industri sebesar 30,15 kali dan diperlukan waktu 23,87 hari. Berdasarkan data diatas dapat dismpulkan bahwa perputaran piutang pada PT. Bentoel Internasional sangat baik, jika dibandingkan dengan rata-rata industri yang ada. Ini menunjukkan bahwa penglolaan dana perusahaan yang baik, sehingga periode pengumpulan piutang terjadi sangat cepat. 3. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Tabel : 4.30 Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Pada PT. Bentoel Internasional Invs. Tbk. Tahun 2000-2006 (dalam jutaan Rupiah) Tahun HPP Persediaan Inventory Turnover rata-rata industri 2000 1,820,543,188,954 816,899,145,859 2.23 kali 1.61 kali 2001 3,334,881,020,069 883,598,358,806 3.77 kali 1.88 kali 2002 4,276,774,627,924 810,669,606,632 5.28 kali 2.46 kali 2003 3,907,086,108,435 683,260,804,405 5.72 kali 2.66 kali 2004 3,775,868,720,631 717,337,950,113 5.26 kali 2.52kali 2005 1,749,447,961,744 596,793,549,296 2.93 kali 2.00 kali 2006 2,295,512,390,002 842,688,256,896 2.72 kali 2.10 kali Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.20 Grafik Perputaran Persediaan (Receivable Turnover) PT. Bentoel dan Rata-rata Industri perputaran persediaan 1.00 10.00 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila perputaran persediaan PT. Bentoel perputaran persediaan rata-rata industri Sumber : data sekunder diolah Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dana yang dialokasikan dalam perputaran persediaan dari waktu kewaktu mengalami penurunan yaitu pada tahun 2000 perputaran persediaan sebesar 2,23 kali, tahun 2001 sebesar 3,77 kali, tahun 2002 sebesar 5,28 kali, tahun 2003 sebesar 5,72 kali, tahun 2004 perputaran persediaan pada perusahaan sebesar 5,26 kali, tahun 2005 sebesar 2,93 kali dan pada tahun 2006 perputaran piutang terjadi sebesar 2,72 kali. Jika dilihat dari grafik perputaran persediaan maka dapat diketahui bahwa perputaran persediaan pada rata-rata industri mengalami penurunan dan perputaran persediaan pada rata-rata industri berada dibawah perputaran persediaan pada PT. Bentoel. Rendahnya tingkat perputaran persediaan dikarenakan minimnya pengalokasian dana yang digunakan untuk persediaan perusahaan, sehingga perusahaan perlu untuk membuat kebijakan tentang periode minimal baik yang berupa persediaan bahan baku,maupun barang jadi. 4. Rentabilitas Ekonomi (Receivable On Assets) Tabel : 4.30 Rentabilitas Ekonomi (ROA) PT. Bentoel Internasional Inv dan Rata-rata Industri Tahun 2000-2006 Tahun Laba Usaha Total Aktiva Rentabilitas Ekonomi rata-rata industri 2000 137,379,647,837 1,677,351,079,248 0.08 = 8% 20% 2001 258,565,744,408 2,001,056,465,877 0.13 = 13% 23% 2002 66,759,890,972 2,072,801,402,517 0.03 =3% 19% 2003 (47,155,047,695) 1,994,489,335,437 -0.02 =(2%) 14% 2004 38,237,575,749 1,956,823,253,998 0.02= 2% 10% 2005 (12,738,582,792) 1,842,317,142,876 -0.01 = (1%) 9% 2006 166,503,038,662 2,347,941,632,229 0.07 = 7% 11% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.21 Grafik Rentabilitas ekonomi (Receivable On Assets) Rentabilitas Ekonomi 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 tahun nila ROA Rata-rata industri ROA PT.Bentoel Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa tingkat rentabilitas ekonomi pada perusahaan mengalami penurunan atau mengalami kerugian, namun pada rata-rata industri rentabilitas ekonomi mengalami fluktuasi . Yaitu pada tahun 2000 tingkat rentabilitas ekonomi sebesar 8%, pada ratarata industri sebesar 20%, tahun 2001 sebesar 13%, tahun 2002 sebesar 3%, rata-rata industri sebesar 23% tahun 2003 tingkat rentabilitas ekonomi menglami kerugian sebesar -2% dan rata-rata industri 14%, tahun 2004 sebesar 2% dan rata-rata industri sebesar 10%, tahun 2005 kerugian sebesar -1% sedangkan pada rata-rata industri 9%, dan pada tahun 2006 tingkat rentabilitas ekonomi sebesar 7% sedangkan pad rata-rata industri sebesar 11%. Dari tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa rentabilitas ekonomi PT. Bentoel mengalami penurunan yang signifikan bahkan pada tahun 2003 dan tahun 2005 mengalami defisif (kerugian). 5. Rentabilitas Modal Sendiri (Receivable On Equity) Tabel : 4.31 Rentabilitas Modal Sendiri (Receivable On Equity) PT. Bentoel dan rata-rata industri Tahun 2000-2006 Tahun Laba Bersih Modal sendiri Rentabilitas modal sendiri rata-rata industri 2000 184,862,150,576 759,887,686,964 0.24 = 24% 18% 2001 236,555,548,360 996,443,235,324 0.24 = 24% 25% 2002 100,779,571,172 10,950,888,151,112 0.01 = 1% 21% 2003 (21,804,915,141) 1,000,762,040,512 -0.02 = 2% 14% 2004 80,938,123,594 1,052,739,107,603 0.08 = 3% 15% 2005 108,165,604,794 1,114,072,147,394 0.10 =10% 18% 2006 145,509,661,778 1,191,027,335,546 0.12 = 12% 16% Sumber : data sekunder diolah Gambar : 4.22 Grafik Rentabilitas Modal Sendiri (Receivable On Equity) PT. Bentoel dan Rata-rata Industri Rentabilitas modal sendiri 1% 10% 100% 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun Nila Rentabilitas modal sendiri rata-rata rentabilitas modal sendiri PT.Bentoel Dari tabel dan grafik diatas menunjukkan tingkat rentabilitas modal sendiri mengalami penurunan yag signifikan jika dibandingkan dengan rentabilitas modal sendiri rata-rata industri. Yaitu pada tahun 2000 setiap modal sendiri Rp.1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,24. Pada Tahun 2001 setiap modal sendiri Rp. 1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,24. pada tahun 2002 tingkat rentabilitas modal sendiri mengalami fluktuasi yaitu setiap modal sendiri Rp. 1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,01. tahun 2003 mengalami kerugian sebesar -0,02. tahun 2004 setiap modal sendiri Rp. 1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,10. Tahun 2005 setiap modal sendiri sebesar Rp. 1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp.0,10, dan pada tahun 2006 setiap modal sendiri Rp. 1,- akan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,12. Dri tabel diatas dapat diketahui bahwa rentabilitas modal sendiri pada rata-rata industri mengalami fluktuasi yaitu pada tahun 2000 sebesar 18%, tahun 2001 naik sebesar 25%, tahun 2002 mengalami penurunan sebesar 21%, tahun 2003 sebesar 14%, tahun 2004 menurun lagi menjadi 15% dan pada tahun 2006 sebesar `8%. Ini menunjukkan bahwa pada rata-rata industri juga mengalami penurunan pada volume penjualan sehingga laba yang dihasilkan rendah. Berdasarkan data diatas tingkat rentabilitas mengalami fluktuatif, pada tahun 2001 mengalami kerugian disebabkan karena laba yang diterima semakin kecil sedangkan total aktivanya semakin besar. Maka tingkat laba yang diperoleh dari harta perusahaan adalah kurang baik sehingga perlu adanya peningkatan pada volume penjualan dan pendapatan perusahaan. BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan pada Bab IV, maka dapat disimpulkan bahwa perputaran modal kerja dan rentabilitas perusahaan pada industri rokok adalah sebagai berikut : 1. Perputaran Kas komponen modal kerja yang pertama adalah perputaran kas, dimana jika perputaranya tinggi maka modal kerja yang dibutuhkan sedikit. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka perputaran kas yang paling tinggi adalah pada PT. Gudang Garam Tbk. Ini menunjukkan bahwa tinggi volume penjualan tunai sehingga pengembalian kas yang telah ditanamkan dalam modal kerja pengembalianya sangat cepat. 2. Perputaran Piutang Perputaran piutang merupakan komponen modal kerja, jika rasio perputaran piutang tinggi maka semakin cepat proses pengembalian piutang menjadi kas kembali. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka perputaran piutang yang paling cepat adalah PT.HM Sampoerna. Ini mengindikasikan bahwa pada PT. HM Sampoerna adanya manajemen piutang yang tepat sehingga pengembalian piutang menjadi kas kembali cepat. 3. Perputaran Persediaan Perputaran persediaan merupakan periode dimana barang yang tersedia di perusahaan dijual dan kembali menjadi kas. Semakin tinggi perputaran persediaan maka semakin cepat proses pengembalian modal kerja menjadi kas kembali. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri maka perputaran persediaan yang paling tinggi adalah PT. Bentoel. Ini menunjukkan bahwa manajemen persediaan pada PT. Bentoel sangat baik. 4. Rentabilitas Ekonomi (Receivable On Assets) Rentabilitas ekonomi merupakan perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing. Rentabilitas digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri dari tahun ke tahun maka perusahaan yang paling baik tingkat rentabilitas ekonomi adalah pada PT. HM Sampoerna. Ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba usaha yang besar. 5. Rentabilitas Modal Sendiri (Receivable On Equity) Rentabilitas modal sendiri merupakan kemampuan perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Jika dibandingkan dengan rata-rata industri, maka dari tahun ketahun perusahaan yang menghasilkan rentabilitas modal sendiri yang paling tinggi adalah PT. HM Sampoerna. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mengelola modal sendiri yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi. B. SARAN Dengan melihat permasalah yang ada maka langkah-langkah yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan adalah : 1. Kebijakan kas Kas adalah unsur aktiva yang paling dominan dan selalu berputar setiap hari sehingga diperlukan penetapan kas yang optimal agar operasional perusahaan dapat berjalan lancar. Penentuan besarnya kas dalam aktiva lancar harus disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu perlu adanya anggaran kas, karena dengan anggaran kas dapat disusun estimasi posisi kas dapat direncanakan penggunaan dana perusahaan. Selain menyusun anggaran kas, perlu ditetapkan saldo minimum kas. 2. Kebijakan Piutang Dari neraca perusahaan diketahui bahwa unsur piutang mempunyai komposisi yang cukup besar dalam aktiva lancar. Jumlah piutang yang terlalu besar akan menyebabkan over invesment yang dapat memperkecil perputaran piutang pada perusahaan dan berpengaruh pada periode pengumpulan yang semakin lama. Untuk itu perlu dilakukan manajemen piutang yang baik sehingga tingkat perputaran akan semakin tinggi dan periode pengumpulannya semakin cepat. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah : a. Memperketat kebijakan kredit Sebelum kredit diberikan kepada pihak konsumen, maka pihak yang bertanggungjawab atas pemberian kredit harus yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian kredi sebelum kredit disalurkan. Penilaian kredit dengan menerapkan kebijakan 5C yaitu Character, Capacity, Capital, Colleteral dan Condition b. Kebijakan dalam penagihan piutang Perusahaan yang menjalankan kebijakan aktif dalam menagih piutang akan mempunyai pengeluaran dana yang lebih besar, namun dapat memperkecil risiko tidak tertagihnya piutang. Kebijakan ini dilakukan dengan cara : 1. Memungut secara langsung. 2. Memberi peringatan dengan mengirim surata kepada pelanggan. 3. Kebijakan persediaan Pengendalian tingkat persediaan yaitu untuk menghindari kelebihan atau kekurangan persediaan yang akan digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Untuk menghindari kekurangan persediaan perusahaan perlu menetapkan periode minimal baik yang berupa persediaan bahan baku, barang dalam proses maupun barang jadi. Sedangkan untuk menghindari over invesment dalam persediaan perlu dilakukan pengendalian melalui tingkat perputaran persediaan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. DAFTAR PUSTAKA An-Nabahan, M. Faruq, 2000. Sistem Ekonomi Islam Setelah Kegagalan Sistem Kapitalis Dan Sosialis, Penerbit UUI Press, Yogyakarta. Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. __________________ 1996. Manajemen Penelitian, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Copeland, E, Thomas & J. Fred Weston, 1997. Manajemen Keuangan Jilid 2, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta. Handoko, Tani, 1999. Manajemen, Penerbit BPFE, Yogyakarta. Indriantoro, Nur & Supomo, Bambang, 2002. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Yogyakarta. Kamarudin, Ahmad, 1995. Dasar-Dasar Manajemen Modal Kerja, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Mannan, Abdul, 1993. Teori Dan Praktek Ekonomi Islam, Penerbit Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta. Manullang, M, 2005. Pengantar Manajemen Keuangan, Penerbit ANDI, Yogyakarta. Martono & Agus Harjitno, 2004. Manajemen Keuangan, Penerbit EKONOSIA, Jakarta. Masyhuri, 2006. Modul Metodologi Penelitian, FE UIN Malang. Munawir, 2000. Analisis Laporan Keuangan Edisi Keempat, Penerbit Liberty, Yogyakarta. Nurniati, Eni, 2006. Skripsi Efektifitas Penggunaan Modal Kerja Guna Meningkatkan Rentabilitas (Studi KPRI “AMANAH” Banyuwangi), FE UIN Malang. Rahman, Afzalur, 1995. Doktrin Ekonomi Islam Jilid 1, Penerbit Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta. ________________ 2002. Doktrin Ekonomi Islam Jilid 2, Penerbit Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta. Riyanto, Bambang, 1995. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi Keempat, Penerbit YPGM, Yogyakarta. Rusiati, 2002. Skripsi Kebijakan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja Untuk Meningkatkan Likuiditas dan Meningkatkan Profitabilitas PT. Timah Tbk. FE UIN Malang. Sahudi, Nur, 2003. Skripsi Analisis Modal Kerja Untuk Meningkatkan Kontinuitas Opersional Perusahaan (Studi Kasus Pada BPRS. Bumi Rinjani Batu), FE UIN Malang. Simon, Bambang Sumarno. Artikel Struktur Kinerja dan Kluster Industri Rokok Indonesia, 1996-1999. http://www.sinarharapan.co.id Sudarsono, Heri, 2002. Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, Penerbit EKONOSIA, Yogyakarta. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis, Penerbit ALFABETA, Jakarta. Syamsudin, Lukman, 2004. Manajemen Keuangan Perusahaan Edisi Baru Cetakan Kedelapan, Pnerbit PT. Raja Grafindo, Jakarta. Tim Dosen FE UIN Malang, 2005. Buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Fakultas Ekonomi, FE UIN Malang. Tri Wibowo, Maret 1997. Artikel Potret Industri Rokok Di Indonesia. http://www.fiskal.depkeu.go.id Lampiran 2 SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini saya : Nama : Inayatus Sholikhah NIM : 03220002 Alamat : Jl. Karya utama No. 3 Siwuran Maduran Lamongan Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat ini memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, dengan judul : ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) Adalah hasil karya saya sendiri, bukan “Duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila dikemudian hari ada “klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi, tetapi menjadi tanggungjawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 12 Juli 2007 Hormat saya, INAYATUS SHOLIKHAH NIM : 03220002 Lampiran 3 BUKTI KONSULTASI Nama : INAYATUS SHOLIKHAH N I M : 03220002 Pembimbing : INDAH YULIANA SE., MM Judul : ANALISIS PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RENTABILITAS PERUSAHAAN PADA INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Listing Di BEJ) NO Tanggal Materi Konsultasi Tanda Tangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 27 Februari 17 Maret 2007 17 April 2007 1 Mei 2007 4 Juni 2007 8 Juni 2007 14 Juni 2007 3 Juli 2007 10 Juli 2007 Proposal Revisi Proposal ACC Proposal Konsultasi Bab I-III Revisi Bab 1-III ACC Bab I-III Konsultasi Bab IV ACC Bab IV ACC Bab I,II,III,IV,V 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Malang, 12 Juli 2007 Mengetahui Dekan, Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA NIP. 150231828 KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar