ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA TBK

Admin

ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA TBK

ABSTRAK

Kata Kunci : Rasio Keuangan, Kinerja Keuangan


Untuk mengetahui tingkat kesehatan suatu perusahaan selayaknya
apabila suatu perusahaan dilakukan pengukuran ataupun penilaian
kinerja perusahaan tersebut. Kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh
perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat
kesehatan perusahaan. Tujuannya adalah menemukan kelemahan di
dalam kinerja perusahaan yang dapat menyebabkan masalah pada
perusahaan tersebut. Demikian juga dengan PT. Unilever Indonesia Tbk
yang merupakan sebuah perusahaan yang tentunya selalu ingin
mengetahui tingkat kesehatan usahanya dari tahun ke tahun, yaitu
dengan cara menilai kinerja manajemen perusahaannya. PT. Unilever
Indonesia Tbk. tentunya membutuhkan pengelolaan manajemen yang
baik tentang permodalan, persediaan barang dan laba yang akan
diperoleh. Sehingga perusahaan dapat terhindar dari adanya kekurangan
aktiva lancar yang akan digunakan untuk melunasi hutang lancar. Serta
perusahaan mampu menjalankan kegiatan operasionalnya dengan lebih
efisien sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan terhadap
data-data kuantitatif yang berupa laporan keuangan. Laporan keuangan
tersebut merupakan data sekunder yang diperoleh dari Pojok Bursa Efek
Indonesia UMM. Sedangkan alat analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan yang
meliputi rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio
aktivitas dengan metode Time Series Analysis.

Secara umum dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa
kondisi keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk berfluktuasi. Hal ini berarti
bahwa perusahaan memiliki tingkat kinerja keuangan yang kurang baik,
sehingga perusahaan masih perlu untuk memperbaiki dan meningkatkan
kinerja perusahaan. Saran yang dapat diberikan, adalah hendaknya
perusahaan dapat melakukan penghematan di dalam menggunakan
aktiva lancarnya untuk membiayai kegiatan operasionalnya.

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM) SKRIPSI Oleh FITA NILASARI NIM : 03220034 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2008 ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM) SKRIPSI Oleh FITA NILASARI NIM : 03220034 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2008 ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM) SKRIPSI Diajukan Kepada : Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Untuk Memenuhi Salah satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Oleh FITA NILASARI NIM : 03220034 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)MALANG 2008 LEMBAR PERSETUJUAN ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM) SKRIPSI Oleh FITA NILASARI NIM : 03220034 Telah Disetujui 25 Juli 2008 Dosen Pembimbing, Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak Mengetahui : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828 LEMBAR PENGESAHAN ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM) SKRIPSI Oleh FITA NILASARI NIM : 03220034 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 04 Agustus 2008 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1. Ketua Penguji H. Surjadi, SE., MM : ( ) 2. Sekretaris/Pembimbing Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak : ( ) 3. Penguji Utama Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA : ( ) NIP. 150231828 Mengetahui : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828 SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini saya : Nama : Fita Nilasari NIM : 03220034 Alamat : Jl. Remujung No. 22 A RT. 02 RW. 04 Jatimulyo-Lowokwaru Malang Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, dengan judul : ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM Adalah hasil karya saya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 25 Juli 2008 Hormat saya, Fita Nilasari NIM : 03220034 Segala puja dan puji syukur aku persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberiku jalan keluar atas semua hal-hal yang terjadi pada diriku. Dan hanya Engkaulah yang mengizinkan aku untuk menyelesaikan karya kecil ini. Karya kecilku ini ku persembahkan kepada kedua orangtuaku Bapak dan Ibuku yang selalu menyayangiku, memberi motivasi dan do’a agar aku bisa menyelesikan skripsi ini. Keluargaku serta adik-adikku Fachrudin dan Ziah yang imut thanks yaa atas suasana cerianya…. Semoga kalian cepat besar ok!! Buat orang yang kusayang “YUNUS HERMAWAN” thanks atas dukungan dan bantuannya selama ini. Juga untuk semua marahmu, aku tau kamu pasti menginginkan yang terbaik bagiku khan??? Kamu jangan marah-marah terus yaa??aku udah selesai nech ngerjain skripsinya he..he.. Buat sahabatku semua Rizki, Fike, Choir, Lia, Umi, Tina, Reny, Rosyida, dan Mbk Mahla serta yang lain, yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu thanks atas semuanya ya friend… dan maaf kalau aku ada salah sama kalian. Buat sahabat SMAku Septy, Yani, Elis kapan nech kita ngumpul-ngumpul lagi??? Aku dah kangen ma kalian… Dan buat semua teman-teman Ekonomi angkatan 2003 kelas A selalu kompak yach rekk…. I MISS U ALL... MOTTO “Jalani Hidup apa adanya seperti air yang mengalir” “Jangan pernah menyerah dan putus asa” KATA PENGANTAR Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Rasio Keuangan Sebagai Alat Penilaian Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pada PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. Periode 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM)” Sholawat dan salam senantiasa tercurahkan atas Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memberikan tauladan yang baik terhadap umat-umatnya di dunia. Dalam proses penyelesaian skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan semua pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Malang. 2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Malang. 3. Bapak Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. 4. Seluruh Staf Pojok Bursa Efek Indonesia FE-UMM atas izin yang diberikan dan membantu dalam memperoleh data untuk penulisan skripsi ini. 5. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ekonomi yang telah memberikan masukan dan memberikan ilmu yang bermanfaat. 6. Seluruh staff Fakultas Ekonomi yang telah membantu kelancaran Administrasi. 7. Seluruh keluarga besar penulis yang telah memberi dukungan dan kepercayaan penuh kepada penulis. 8. Seluruh teman–teman dan sahabat Fakultas Ekonomi kelas A angkatan 2003, terimakasih selama ini sudah menjadi teman dalam suka dan duka dalam menyelesaikan kuliah. 9. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis ucapkan banyak terimakasih. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Untuk itu, penulis akan menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. Malang, 25 Juli 2008 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................................. i LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ii LEMBAR PENGESAHAN............................................................................... iii SURAT PERNYATAAN ...................................................................................iv HALAMAN PERSEMBAHAN.........................................................................v MOTTO................................................................................................................vi KATA PENGANTAR...................................................................................... vii DAFTAR ISI........................................................................................................ ix DAFTAR TABEL...............................................................................................xii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................xiv ABSTRAK..........................................................................................................xvi BAB I : PENDAHULUAN........................................................................ 1 A. Latar Belakang......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian..................................................................... 6 D. Batasan Penelitian ................................................................... 6 E. Manfaat Penelitian................................................................... 6 BAB II : KAJIAN PUSTAKA ................................................................... 8 A. Penelitian Terdahulu .............................................................. 8 B. Kajian Teoritis ........................................................................ 14 1. Laporan Keuangan............................................................ 14 a. Pengertian Laporan Keuangan ................................... 14 b. Tujuan Laporan Keuangan.......................................... 21 c. Pemakai Laporan Keuangan........................................ 22 d. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan ............. 26 e. Komponen-komponen Laporan Keuangan............... 28 2. Analisis Laporan Keuangan ............................................. 32 a. Pengertian Analisis Laporan Keuangan .................... 32 b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan........................... 33 c. Teknik Analisis Laporan Keuangan ........................... 34 3. Analisis Rasio Keuangan.................................................. 36 a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan ......................... 36 b. Metode Perbandingan Rasio Keuangan .................... 38 c.Keunggulan dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan......................................................................... 40 d. Jenis Analisis Rasio Keuangan..................................... 41 4. Kinerja Keuangan Perusahaan ......................................... 48 a. Pengertian Kinerja Keuangan...................................... 48 b. Tujuan penilaian Kinerja.............................................. 51 C. Kerangka Penelitian.............................................................. 53 BAB III : METODOLOGI PENELITIAN .............................................. 54 A. Lokasi Penelitian ................................................................... 54 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian ......................................... 54 C. Data dan Jenis Data............................................................... 55 D. Teknik Pengumpulan Data.................................................. 57 E. Model Analisis Data .............................................................. 57 BAB IV : PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN ............................................................................. 60 A. Paparan Data Hasil Penelitian ............................................ 60 1. Sejarah Umum Perusahaan.............................................. 60 2. Susunan Pengurus ........................................................... 64 B. Pembahasan Data Hasil Penelitian ................................... 65 1. Analisis Laporan Keuangan ......................................... 65 2. Perhitungan Rasio Keuangan....................................... 76 BAB V : PENUTUP................................................................................. 158 A. Kesimpulan ......................................................................... 158 B. Saran..................................................................................... 161 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 164 LAMPIRAN...................................................................................................... 166 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu................................................................. 12 Tabel 4.1 : Neraca Perbandingan PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. 2002-2003 .................................................................................... 66 Tabel 4.2 : Neraca Perbandingan PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. 2003-2004 .................................................................................... 68 Tabel 4.3 : Neraca Perbandingan PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. 2004-2005 .................................................................................... 70 Tabel 4.4 : Neraca Perbandingan PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. 2005-2006 .................................................................................... 72 Tabel 4.5 : Neraca Perbandingan PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. 2006-2007 .................................................................................... 74 Tabel 4.6 : Biaya Operasional per Tahun ................................................. 78 Tabel 4.7 : Perhitungan Current Ratio....................................................... 87 Tabel 4.8 : Perhitungan Quick Ratio........................................................ 106 Tabel 4.9 : Perhitungan Cash Ratio.......................................................... 115 Tabel 4.10 : Perhitungan Gross Profit Margin.......................................... 119 Tabel 4.11 : Perhitungan Net Profit Margin ............................................. 123 Tabel 4.12 : Perhitungan Return On Investment ..................................... 127 Tabel 4.13 : Perhitungan Return On Equity.............................................. 130 Tabel 4.14 : Perhitungan Total Debt Ratio................................................ 134 Tabel 4.15 : Perhitungan Total Debt To Equity Ratio.............................. 137 Tabel 4.16 : Perhitungan Total Asset Turn Over ..................................... 142 Tabel 4.17 : Perhitungan Perputaran Persediaan..................................... 145 Tabel 4.18 : Perhitungan Angka Rasio Keuangan ................................... 147 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 : Kerangka Penelitian ................................................................... 53 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Neraca Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2002 Lampiran 2 : Laporan Laba Rugi Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2002 Lampiran 3 : Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2002 Lampiran 4 : Laporan Arus Kas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2002 Lampiran 5 : Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2002 Lampiran 6 : Neraca Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2003-2004 Lampiran 7 : Laporan Laba Rugi Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2003-2004 Lampiran 8 : Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2003-2004 Lampiran 9 : Laporan Arus Kas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2003-2004 Lampiran 10 : Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2003-2004 Lampiran 11 : Neraca Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2006 Lampiran 12 : Laporan Laba Rugi Konsolidasia PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2006 Lampiran 13 : Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2006 Lampiran 14 : Laporan Arus Kas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2006 Lampiran 15 : Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2005-2006 Lampiran 16 : Neraca Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2007 Lampiran 17 : Laporan Laba Rugi Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2007 Lampiran 18 : Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2007 Lampiran 19 : Laporan Arus Kas Konsolidasian PT. Unilever Indonesia Tbk tahun 2007 Lampiran 20 : Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Unile ver Indonesia Tbk tahun 2007 ABSTRAK Nilasari, Fita. 2008. SKRIPSI. Judul: “Analisis Rasio Keuangan Sebagai Alat Penilaian Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pada PT. Unilever Indonesia Tbk. Periode 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM)”. Pembimbing : Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak Kata Kunci : Rasio Keuangan, Kinerja Keuangan Untuk mengetahui tingkat kesehatan suatu perusahaan selayaknya apabila suatu perusahaan dilakukan pengukuran ataupun penilaian kinerja perusahaan tersebut. Kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan. Tujuannya adalah menemukan kelemahan di dalam kinerja perusahaan yang dapat menyebabkan masalah pada perusahaan tersebut. Demikian juga dengan PT. Unilever Indonesia Tbk yang merupakan sebuah perusahaan yang tentunya selalu ingin mengetahui tingkat kesehatan usahanya dari tahun ke tahun, yaitu dengan cara menilai kinerja manajemen perusahaannya. PT. Unilever Indonesia Tbk. tentunya membutuhkan pengelolaan manajemen yang baik tentang permodalan, persediaan barang dan laba yang akan diperoleh. Sehingga perusahaan dapat terhindar dari adanya kekurangan aktiva lancar yang akan digunakan untuk melunasi hutang lancar. Serta perusahaan mampu menjalankan kegiatan operasionalnya dengan lebih efisien sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan perhitungan terhadap data-data kuantitatif yang berupa laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut merupakan data sekunder yang diperoleh dari Pojok Bursa Efek Indonesia UMM. Sedangkan alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan yang meliputi rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas dengan metode Time Series Analysis. Secara umum dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa kondisi keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk berfluktuasi. Hal ini berarti bahwa perusahaan memiliki tingkat kinerja keuangan yang kurang baik, sehingga perusahaan masih perlu untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan. Saran yang dapat diberikan, adalah hendaknya perusahaan dapat melakukan penghematan di dalam menggunakan aktiva lancarnya untuk membiayai kegiatan operasionalnya. ABSTRACT Nilasari, Fita. 2008. THESIS. Title: “Analysis of Financial Ratio as Evaluation Tools to Measure the Work of Finance on PT. Unilever Indonesia Tbk. 2002-2007 period. (Study on Stock Exchange Corner Indonesia UMM)”. Advisor : Drs. H. Abdul Kadir Usry, MM., Ak Key Words : Financial Ratio, Work of Finance To know the level of health of a company, it is proper if a company has a measurement or evaluation of work. Work is an achievement which is gained by the company in certain period which reflects the level of company health. The aim of the company is to find the weaknesses in the work of company which are able to cause a problem in that company. PT. Unilever Indonesia is one of companies which tends to know the level of health of the company of the years by evaluating the work of the work’s company management. PT. Unilever Indonesia needs good management in serving the goods and it provides the benefits. Therefore, the company is able to avoid the lack of liquid active which is used to fulfill the debt. As well, the company is able to run the operational working of the company efficiently. This research is including into qualitative research which is used descriptive approach by accounting the quantitative data and financial ratio. The financial ratio is as the secondary data which is gotten from Stock Exchange Corner Indonesia UMM, while an analysis instrument which is used is financial ratio analysis including liquidity ratio, profitability ratio, solvability ratio and activity ratio by Time Series Analysis method. The result of the research shows that the condition of financial company is fluctuated. It means that the company has awful financial work level, therefore, the company still needs to repair and increase the work of company. The writer suggests that the company should be able to manage the use of the frequent active to fulfill the operational working. # $ %& '( % ) % % * +! " %4.5 , % 63 21 %& , Tbk % ./ 0 PT Unilever , % % '- !:UMM % ./ 7 % 8 .9 8 D E < > <46 data-blogger-escaped-f=""> %I % J *' K L0 % J % M %$ N ;< GF H % M %$ N P - Q/K %& %& , % J *R 4 S T U0 V % ' % J O K O K , % Z [ K \> ] ^ K _ % J % '- , Y /W V X /V. % J \> 'F 6 /4 H- h/ E h 60 e0 f g Tbk % ./ 0 PT Unilever ^ X J S Q $& H S+ \> % J ] ^ K _I % J *M S i` . &M ;/k _I * l *' m = Sn&K \> % J ] ^ K o4> O SC. H4/j 6/j *' % J *R 4 \> ] ^ 4 \> <$4 S q ` P - Y A *' 4 ] nR *d/ ` n ? p V SV % % H r + _ % % * + Q ' ` V *' K _ % % s '? Time Series Analysis T<^ ` %N =& % . solvabilitas % % p< % X j> % A vSV Q/K % J % % I 66j < K \> Q/K O L %t H u ' ` % '- ] < . i M % J f + Q T _I H A $ % % '- %$ N % J O w P - < 9 x'X <4 data-blogger-escaped-dz=""> o4> ] ^ K % ' O K a'(K H %t % J % % * + BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Krisis ekonomi yang telah melanda Negara Indonesia pada saat ini akan membawa dampak serius bagi keadaan perekonomian di Indonesia, karena perekonomian di Indonesia semakin menjadi tidak stabil. Bahkan saat ini masih sangat dirasakan oleh banyak perusahaan di negara kita, hal ini menyebabkan kondisi perkembangan dunia usaha yang tidak menentu, sehingga masalah ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha yang tidak menentu dalam pencapaian target yang optimal. Bahkan kinerja perusahaan semakin menurun, disamping keuntungan yang otomatis juga merosot. Sementara di pihak lain kondisi persaingan semakin meningkat dengan adanya perkembangan teknologi yang terus berkembang pesat, yang telah dilakukan para pengusaha dan sekaligus untuk mewujudkan keberhasilan perusahaannya melalui kegiatan operasional. Perkembangan dunia usaha menyebabkan tingginya persaingan, sehingga tiap perusahaan perlu meningkatkan efisiensi dan efektifitas usaha untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan di masa sekarang dan yang akan datang. Untuk itu suatu perusahaan harus mengetahui kondisinya, yaitu dengan menganalisis laporan keuangan. Kondisi perusahaan yang baik akan menjadi kekuatan perusahaan untuk dapat bertahan dan berkembang dalam usaha mencapai tujuan perusahaan. Setiap perusahaan memerlukan keputusan yang tepat untuk penyelesaian masalah yang dihadapi. Pengambilan keputusan yang tepat memerlukan berbagai informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut menyangkut masalah kinerja perusahaan yang berhubungan dengan prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu. Informasi mengenai kinerja perusahaan dapat diketahui dengan melakukan pengukuran atau penilaian kinerja perusahaan oleh pihak manajemen. Pihak manajemen dalam mengukur dan menilai kinerja perusahaan perlu memahami kondisi keuangan perusahaan sebelum mengambil keputusan yang tepat, melalui laporan keuangan yang telah disajikan oleh Akuntan. Dan salah satu cara menilai kinerja keuangan adalah dengan melakukan analisis keuangan perusahaan. Analisis keuangan merupakan analisis atas laporan keuangan dalam perusahaan yang terdiri dari neraca dan laporan laba-rugi. Ukuran yang sering dipakai dalam analisis laporan keuangan adalah rasio. Rasio adalah suatu angka yang menunjukkan hubungan antar suatu unsur dengan unsur lainnya yang relevan dalam laporan keuangan. Dengan menggunakan metode dan teknik ini kita dapat mengetahui perkembangan suatu perusahaan untuk saat ini dan masa yang akan datang. Sehingga dengan demikian akan dapat diputuskan apakah kondisi perusahaan baik atau buruk nantinya. Kinerja keuangan dapat diketahui dari kemampuan manajemen dalam meningkatkan kinerja perusahaan dan perbaikan kondisi keuangan dalam hal efisiensi atau perencanaan manajemen demi keberhasilan perusahaan. Selain itu juga dapat dilihat dari kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya (Riyanto, 1995: 327-328). Informasi kinerja keuangan diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan dimasa depan. Informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Disamping itu informasi tersebut berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya (SAK, 2004: 5) Penilaian kinerja keuangan ini tidak hanya berguna bagi para manajer sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan, tetapi juga berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti para pemilik perusahaan, para investor dan calon investor, serta para kreditor dan calon kreditor (SAK, 2004:3-4). Pengukuran kinerja juga dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan dalam menjalankan operasinya telah sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan. PT. Unilever Indonesia Tbk merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang pembuatan, pemasaran dan distribusi barang-barang konsumsi. Barang-barang tersebut antara lain adalah yaitu yang meliputi sabun, deterjen, margarin, dan makanan berinti susu, es krim, minuman dengan bahan pokok teh dan produk-produk kosmetik. PT. Unilever Indonesia Tbk merupakan salah satu perusahaan yang telah dikenal oleh masyarakat luas, khususnya di Indonesia sendiri karena sebagian besar masyarakat Indonesia memakai produk-produk yang telah dipasarkan oleh PT. Unilever Indonesia Tbk setiap hari seperti sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, deterjen, dan masih banyak lagi yang lain. Akan tetapi akhir-akhir ini PT. Unilever Indonesia Tbk sedang mengalami penurunan kinerja keuangan. Hal ini terjadi dikarenakan adanya krisis ekonomi yang melanda negara Indonesia akhir-akhir ini sehingga banyak berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk. Penurunan kinerja keuangan ini disebabkan oleh banyaknya hutang-hutang perusahaan, sedangkan laba yang diperoleh cenderung lebih menurun jika dibandingkan dengan tahuntahun sebelum terjadi krisis ekonomi. Untuk dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut, maka diperlukan penilaian terhadap kinerja keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk, yang mana hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis terhadap kinerja keuangan melalui rasio-rasio keuangan. Begitu pentingnya kinerja keuangan perusahaan sehingga sangat berguna bagi pihak manajemen untuk terus mengetahui kondisi keuangan perusahaan termasuk peningkatan laba operasional dan pos-pos keuangan lainnya. Dengan kinerja perusahaan yang baik diharapkan dapat mencapai tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, serta menjaga kelangsungan hidup perusahaan dari hasil usahanya yang menguntungkan. Atas dasar pemikiran yang diuraikan diatas, maka penelitian ini diberi judul “ANALISIS RASIO KEUANGAN SEBAGAI ALAT PENILAIAN UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PADA PT. UNILEVER INDONESIA Tbk. PERIODE 2002-2007 (Studi pada Pojok Bursa Efek Indonesia UMM)". B. Rumusan Masalah Berpedoman pada latar belakang yang dikemukakan diatas maka permasalahan yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kinerja PT. Unilever Indonesia Tbk periode tahun 2002- 2007 jika dilihat dari analisis rasio keuangan?” C. Tujuan Penelitian Berdasarkan dari permasalahan yang dijelaskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kinerja PT. Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2002–2007 jika dilihat dari analisis rasio keuangan. D. Batasan Penelitian Untuk membatasi masalah dalam penelitian ini agar pembahasannya terfokus, maka ruang lingkupnya dibatasi dengan menitik beratkan pada laporan keuangan perusahaan berupa neraca dan laporan laba rugi selama 6 periode yaitu tahun 2002-2007 dengan metode time series analysis dan teknik analisis rasio yang digunakan meliputi rasio likuiditas, profitabilitas, solvabilitas dan aktivitas. E. Manfaat Penelitian Beberapa manfaat penelitian yang dipetik dari pelaksanaan penelitian antara lain yaitu : 1. Bagi Peneliti Dengan adanya penelitian ini diharapkan memperoleh pengetahuan dan tambahan pengalaman tentang masalah kinerja Perusahaan jika dilihat dari rasio keuangan dan sebagai bandingan antara teori perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya, dan sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti sebelumnya serta sebagai referensi semua pihak yang akan melakukan penelitian lebih lanjut yang sesuai dengan pokok bahasan penelitian ini. 2. Bagi Perusahaan Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan perusahaan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan, serta keputusan-keputusan yang ada dalam perusahaan. 3. Bagi Akademis Dari hasil penelitian ini dapat menambah kepustakaan dan dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Terdahulu Berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu yang mengkaji beberapa aspek yang berkaitan dengan analisis rasio keuangan perusahaan. 1. Sulistyowati Ningsih (2006) Penelitian yang dilakukan berjudul “Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk”. Variabel yang digunakan adalah variabel likuiditas, aktivitas, leverage, profitabilitas dan juga nilai pasar perusahaan dengan menggunakan metode time series analisis. Tahun yang diteliti mulai tahun 2001 – 2005. Sedangkan hasil analisisnya menunjukkan bahwa rasio likuiditas mengalami fluktuasi dikarenakan untuk Current Ratio selama 5 tahun cenderung semakin menurun dengan nilai 998.4%, 130.13%, 119.67%, 102.57%, 101.73%. Dari Quick Ratio juga cenderung menurun dengan nilai 69%, 98.77%, 96.91%, 77.38%, 75.67%. Sedangkan dari Cash Ratio menunjukkan nilai 39.27%, 65.94%, 68.78%, 45%, 30.2%. Untuk rasio aktivitas jika dari hasil perhitungan TATO selama 5 tahun menunjukkan nilai 1.13x, 1.15x, 1.14x, 1.13x, 1.30x. Dari Average Days Inventory masing-masing nilainya adalah 45 hari, 43 hari, 33 hari, 27 hari, 32 hari. Dari Inventory Turn Over masing-masing nilainya adalah 4x, 4.2x, 5.2x, 6.6x, 5.6x. Dari Fixed Turn Over masing-masing nilainya adalah 4.2x, 4.7x, 5.1x, 5.1x, 5.3x. Dari Average Collection Periode nilainya adalah 9 hari, 8 hari, 9 hari, 14 hari, 15 hari. Untuk rasio leverage, jika dilihat dari perhitungan Debt Ratio selama 5 tahun nilainya adalah 82%, 65.9%, 50.7%, 49.6%, 48.4%. Dari Debt to Equity Ratio nilainya 8.5%, 2.6%, 1.1%, 0.5%, 1.1%. Sedangkan dari Time Interest Earned nilainya 1.5%, 6.5%, 10.7%, 15.9%, 19.4%. Hasil dari analisis rasio profitabilitas jika dilihat dari analisis Gross Profit Margin nilainya 18%, 22%, 24%, 23%, 22.4%. Dari Net Profit Margin nilainya 2.8%, 12%, 14%, 12%, 8.4%. Dari Return On Equity nilainya 32.9%, 55.9%, 37.7%, 32.7% 26.7%. Dari Return On Investment nilainya 3.1%, 13.8%, 16.1%, 13.8%, 11.6%. Sedangkan untuk Nilai Pasar Perusahaan pendapatan nilainya 5.82, 2.5, 4, 54.4, 7.8 dan nilai lembar sahamnya adalah 2.16, 4.6, 0.01, 0.02, 0.05. Hal ini berarti bahwa kinerja keuangan termasuk baik selama 5 tahun dan juga aktivitas perusahaan mangalami perbaikan. 2. Nanik Sofiyati (2005) Penelitian yang dilakukan berjudul “Analisis Rasio Keuangan Sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. Gudang Garam Tbk”. Variabel yang digunakan adalah variabel likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas dan nilai pasar dengan menggunakan metode time series analisis. Tahun yang diteliti mulai tahun 2000–2004. Hasil analisis menunjukan bahwa kinerja PT. Gudang Garam Tbk jika dilihat dari rasio likuiditas terjadi peningkatan tingkat likuiditas disebabkan karena peningkatan aktiva berada pada piutang dan persediaan, khususnya pada persediaan bahan baku. Dan dari analisis rasio leverage menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya mengalami kenaikan kecuali pada tahun 2004, hal tersebut disebabkan karena banyaknya terjadi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Dari analisis rasio aktivitas menunjukkan bahwa efektifitas perusahaan dalam menggunakan modal mengalami penurunan karena kenaikan aktivanya tidak sesuai dengan kenaikan penjualan. Dari analisis profitabilitas dan penilaian pasar secara umum cenderung menurun karena disebabkan oleh tingkat kenaikan penjualan semakin turun karena persaingan dengan industri lain yang memiliki harga lebih murah. 3. Ika Diana Vitria (2004) Penelitian yang dilakukan berjudul “Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Rokok (studi kasus pada PT. Gudang Garam, Tbk dan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk)”. Variabel yang digunakan adalah variabel likuiditas, solvabilitas, profitabilitas dengan menggunakan metode time series analisis and Cross Section. Tahun yang diteliti adalah tahun 2004. Hasil analisis menunjukan bahwa kinerja PT. Gudang Garam Tbk lebih baik daripada PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk. 4. Lili Dwi Suryani (2006) Penelitian yang dilakukan berjudul “Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk”. Variabel yang digunakan adalah variabel likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas dengan menggunakan metode time series analisis. Tahun yang diteliti mulai tahun 1990–2005. Hasil analisis menunjukan bahwa kinerja PT. Indofood Sukses Makmur jika dilihat rasio likuiditasnya kurang baik kerena cenderung menurun dari tahun ke tahun. Dan analisis rasio leverage menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya kurang baik sehingga berfluktuasi dan cenderung meningkat. Dari analisis rasio aktivitas menunjukkan bahwa efektifitas perusahaan dalam menggunakan modal mengalami penurunan dan kurang efisien sehingga berfluktuasi dan cenderung menurun. Dari analisis profitabilitas secara umum cenderung menurun karena disebabkan oleh tingkat penjualan semakin menurun karena persaingan dengan industri lain yang memiliki harga lebih murah. Lebih jelasnya perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang, bisa dilihat tabel dibawah ini : Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama Judul Penelitian Variabel Penelitian Jenis Penelit ian Tempat Penelitian Hasil Penelitian 1. Sulistyo wati Ningsih Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada tahun 2006 • Likuiditas (CR, QR, ALR) • Aktivitas (TATO, ADI, ITO, FTO, ACP) • Leverage (DR, DER, TIE) • Profitabilit as (GPM, NPM, ROI, ROE) • Nilai Pasar (Pendapat an, Nilai lembar saham) Time series analisis PT. Astra Interna sional Tbk • Rasio Likuiditas berfluktuasi • Rasio Aktivitas menunjukkan banyak kenaikan • Rasio Leverage perusahaan mengalami tingkat penurunan • Rasio profitabilitas menunjukkan berfluktuasi dan cenderung menurun • Nilai Pasar cukup baik 2. 3. 4. Nanik Sofiyati Ika Diana Vitria Lili Dwi Suryani Analisis Rasio Keuangan Sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Kinerja keuangan Perusahaan (2004) Analisis Rasio Keuangan untuk Menilai kinerja keuangan perusahaan rokok Analisis Laporan Keuangan untuk Menilai kinerja keuangan perusahaan • Likuiditas (CR, QR, NWC) • Leverage (DR, DER, TER) • Aktivitas (ITO, ADI, TATO, FATO) • Profitabilita s (GPM, NPM, ROI, ROE) • Nilai Pasar (EPS) • Rasio Likuiditas (CR, QR, ROIS) • Rasio Solvabilita s (DTE, DTTA) • Rasio Profitabilit as (NPM, GPM, OPM, ROI, ROE, EPS) • Rasio Likuiditas (CR, QR, ROIS) • Rasio Leverage (DT, TDER, LTDER, TIER) • Rasio Aktivitas (ITO, TATO, ADI) • Rasio Profitabilit Time series analisis Time Series analisis and Cross section Time Series Analisi s PT. Gudang Garam Tbk PT. Gudang Garam, Tbk dan PT. Hanjaya Mandala Sampoer na, Tbk PT. Indofoo d Sukses Makmur , Tbk • Rasio Likuiditas menurun • Rasio Leverage mengalami kenaikan • Rasio Aktivitas menurun • Rasio Profitabilitas menurun • Nilai Pasar juga mengalami penurunan Kinerja keuangan perusahaan PT. Gudang Garam, Tbk lebih baik jika dibandingkan dengan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk • Rasio Likuiditas urang baik dan cenderung menurun • Rasio Leverage kurang baik, berfluktuasi dan cenderung meningkat • Rasio Aktivitas kurang efisien, berfluktuasi as (GPM, NPM, ROI, ROE) dan cenderung menurun • Rasio Profitabilitas kurang efektif dan cenderung menurun *Sumber : UIN (Skripsi) tidak diterbitkan, (data diolah). Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah selain dari tempat penelitian yang berbeda, variabel serta tahun yang diteliti juga berbeda. Penelitian ini dilakukan pada PT. Unilever Indonesia, Tbk dengan metode time series analisis, dengan variabel penelitiannya yaitu rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas. Sedangkan tahun yang diteliti adalah tahun 2002-2007. B. Kajian Teoritis 1. Laporan Keuangan a. Pengertian Laporan Keuangan Akuntansi memberikan informasi untuk mengetahui kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan melalui laporan keuangan yang telah disajikan dalam tiap-tiap periode. Dari laporan keuangan berbagai transaksi yang telah dilakukan telah diklasifikasikan dan dianalisis sehingga dapat menjadi suatu informasi untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Sehingga pada hakekatnya laporan keuangan merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi. Adapun pengertian menurut Baridwan (2001:17) laporan keuangan adalah sebagai berikut : “Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses pencatatan, yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi– transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan”. Menurut Munawir (1990:5) laporan keuangan adalah sebagai berikut : “Laporan keuangan adalah dua daftar yang disusun akuntan pada akhir periode untuk satu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pandapatan atau daftar rugi laba. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba ditahan)”. Dari berbagai pengertian laporan keuangan dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil akhir dari kegiatan akuntansi dari pencatatan bukti transaksi kedalam jurnal, penggolongan kedalam buku besar dan kemudian kedalam perincian laporan keuangan selama tahun buku yang bersangkutan yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan dari hasil operasi perusahaan. Adanya laporan keuangan pertama kali hanya sebagai pertanggung jawaban terhadap publik yang memiliki keterkaitan dengan informasi yang disampaikan oleh sipembuat laporan keuangan tersebut. Sehingga pada era 70-an, laporan keuangan sebagai ilmu pengetahuan yang bebas dari nilai (value free) sudah tidak semuanya relevan., dan pada saat era globalisasi akan membawa masyarakat kepada apa yang terjadi akibat perubahan global pada seluruh tatanan masyarakat. Islam sangat menekankan pentingnya pencatatan terhadap laporan keuangan. Perintah melakukan pencatatan dari seluruh transaksi telah di nyatakan dalam QS. Al Baqarah: 282 # " ! # & % $ $ ( ' " $ $ "! #!# + !* " ) ! % " + $ +& % . % $ - , # $ * / ( $() ) ( (' *'& ,0 - . & + * *'& !5 *+& 4 3 / 3 2 1 ,0 , $ ,5 ,(1 ( 5 $ 0 7 $ $ 6 + / . ( -3 2 " "! 8 : 3 % , 2 1 0 ' 9 4 19" 2 5 < 5 ) "! . "! 4 $ "; . "! =>?>@ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” Dari ayat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam mengajarkan pada umatnya untuk mencatat kegiatan bermuamalah yang tidak tunai, dengan disaksikan dua orang saksi yang adil. Hal ini mendorong umatnya mematuhi peran manusia dimuka bumi untuk melaksanakan kegiatan bermualah, tetapi pada hakekatnya Allah pemilik segalanya. Dalam pencatatan hendaklah secara adil dan benar yaitu mencatat apa yang telah disepakati oleh kedua belah pihak tanpa menambah atau menguranginya serta adanya persaksian. Berikut ini akan disebutkan tiga prinsip operasional akuntansi dalam Islam menurut Muhammad (2002 :11), yaitu: 1) Prinsip Pertanggung jawaban Implikasi dalam bisnis dan akuntansi bahwa individu yang terlihat di dalamnya bisa mempertanggung jawaban segala sesuatu yang diperbuat kepada pihak-pihak yang terkait. Wujud dari pertanggung jawaban tersebut adalah sebuah laporan keuangan. Hal ini diterangkan dalam QS. Al-Isra’ : 36 + C" , 6 7 69 2 1 B " A ; =EF@ , & 8 B!D 8 Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al- Isra’ : 36) Begitu pula diterangkan dalam QS. Al- Mudatsir : 38 =E?@ -G 8 ( 7 4 , Artinya : “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya”. (QS. Al- Mudatsir : 38) 2) Prinsip Keadilan Dalam praktek akuntansi keadilan sangat berkaitan erat dengan permasalahan moral pelakunya, yaitu kejujuran merupakan faktor yang dominan. Ini tersirat dalam QS. Ar- Rahman : 7 =H@ 7 80 7 Artinya : “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)”.(QS. Ar- Rahman : 7) Begitu juga telah disebutkan dalam QS. Al- Maidah : 8 $ (/ ; *"" - 20 3 , 8 *9I < $ 3 ( K ;J 3 & 8 "! :$ 0 =?@ 7 ,0 4 * =7 "; $ # ; Artinya : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orangorang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al- Maidah : 8) 3) Prinsip Kebenaran Prinsip kebenaran ini tidak terlepas dengan prinsip keadilan karena dalam akuntansi selalu dihadapkan pada masalah pengakuan, pengukuran, dan pelaporan. Maka dari itu seorang akuntan dalam menulis laporan keuangan harus dengan kebenaran, tidak boleh dibuat-buat atau dimanipulasi. Ini terdapat pada QS. Yunus: 50 0 ' ? * L > " % ) 9 3 =MN@ :$ 0 Artinya: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempattempat) bsgi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang MEngetahui”. (QS. Yunus;05) b. Tujuan Laporan Keuangan Tujuan penyusunan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta posisi perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomis yang berkepentingan. Dalam Standart Akuntansi Keuangan (2007:4) dinyatakan bahwa tujuan laporan adalah: 1.) Laporan keuangan menyediakan informasi yang menyangkut posisi kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. 2.) Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian dimasa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan. 3.) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (Stewardship), atau pertanggung jawaban manajemen atas sumberdaya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukkan atau pertanggung jawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi, keputusan ini mungkin mencakup beberapa hal misalnya, keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau mengganti manajemen. Informasi dari laporan keuangan harus disajikan secara objektif karena pihak-pihak yang berkompeten sangat membutuhkan untuk dasar dalam penafsiran terhadap kredibilitas perusahaan yang bersangkutan. Disamping itu manajemen juga berkepentingan dengan informasi yang disajikan laporan keuangan. c. Pemakai Laporan Keuangan Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk komunikasi antara data keuangan atau aktivitas-aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Dengan membaca laporan keuangan dengan tepat maka seseorang akan mampu melakukan tindakan ekonomi, menyangkut lembaga perusahaan yang dilaporkan dan diharapkan akan menghasilkan keuntungan baginya. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan menurut Harahap (2004: 120-124) adalah: 1.) Pemilik perusahaan Pemilik perusahaan berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya agar dapat mengatur keberhasilan perusahaan yang biasanya diukur dengan laba yang diperoleh selama melakukan aktivitasnya selama periode tertentu, hal ini dilakukan terutama pada perusahaan yang manajemenya diserahkan kepada orang lain seperti PT (perseroan terbatas). 2.) Pemegang Saham Pemegang saham ingin mengetahui kondisi perusahaan, asset, hutang, modal, hasil, biaya, dan laba. Selain itu pemegang saham juga melihat prestasi perusahaan dalam pengelolaan manajemen yang memberikan amanah, mengetahui jumlah deviden yang akan diterima, dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu. Dari informasi tersebut pemegang saham akan dapat mengambil keputusan apakah nanti akan mempertahankan sahamnya, menjual atau bahkan menambahnya. 3.) Para kreditur Kreditur digunakan untuk mengetahui kelayakan suatu perusahaan untuk menerima kredit yang akan diberikan dengan melakukan penganalisaan lebih dahulu terhadap laporan keuangan dari perusahaan tersebut. Dari penyajian laporan keuangan tersebut akan dapat diketahui posisi keuangan dan kemampuan perusahaan dalam pembayaran pinjaman dana yang akan diberikan nantinya. 4.) Manajer Manajemen memerlukan laporan keuangan digunakan untuk pengambilan keputusan yang tepat dan penentuan kebijakan-kebijakan perusahaan sehingga penting bagi seorang manajer untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan yang dikelolanya. 5.) Pemerintah Pemerintah berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan agar dapat menentukan besarnya pajak yang ditanggung dan untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut juga telah mengikuti peraturan yang telah ditetapkan. 6.) Karyawan Karyawan perlu mengetahui kondisi keuangan perusahaan untuk mengetahui apakah penghasilan yang diperoleh selama ini sesuai dengan hasil usaha yang didapat perusahaan. 7.) Analisis Pasar Modal Mereka memerlukan analisa yang digunakan untuk mengetahui perusahaan yang berpotensi untuk masuk pasar modal, tujuanya adalah untuk mengetahui nilai perusahaan, kekuatan dan posisi keuangan perusahaan,apakah layak dibeli sahamnya, dijual atau dipertahankan. 8.) Lembaga Swadaya Masyarakat Mereka membutuhkan laporan keuangan untuk mengetahui sejauh mana perusahaan merugikan pihak tertentu yang dilindunginya. 9.) Supplier Laporan keuangan bagi suplier bisa menjadi informasi untuk mengetahui apakah perusahaan layak diberikan kredit, seberapa lama akan diberikan dan sejauh mana potensi resiko yang dimiliki perusahaan. 10.) Instansi Pajak Perusahaan selalu memiliki kewajiban pajak dan semua pajak ini dapat tergambar dari laporan keuangan yang disajikan. d. Karakteristik Kualitaif Laporan Keuangan Karakteristik laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat laporan keuangan yang berguna bagi pemakai. Adapun kualitatif informasi laporan keuangan yang bermanfaat haruslah memenuhi beberapa kualitas yang memenuhi syaratnya sesuai dengan SAK (2007: 7-10) adalah sebagai berikut: 1.) Dapat dipahami Suatu informasi yang dipakai dalam laporan keuangan haruslah disesuaikan dengan batas pengertian para pemakai untuk memahaminya atau dimengerti. Untuk maksud ini, pemakai juga diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktifitas ekonomi dan bisnis, proses akuntansi serta istilah-istilah teknis yang digunakan laporan keuangan. 2.) Relevan Relevan dalam penyajian data-data laporan keuangan adalah informasi dalam laporan keuangan haruslah disesuaikan dengan kebutuhan penggunaanya dalam proses pengambilan keputusan yang memerlukan data informasi keuangan. Sebab informasi yang memiliki kualitas relevan diharapkan akan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu serta difokuskan pada kebutuhan umum pemakai dan bukan khusus pihak-pihak tertentu saja. 3.) Keandalan Laporan keuangan haruslah memiliki informasi yang andal. Hal ini berhubungan dengan bagaimana seseorang dalam menyajikan laporan keuangan secara wajar. Sehingga penyajian laporan keuangan tersebut dapat menjadi informasi yang memiliki kualitas andal sebagai penyajian laporan yang tulus dan jujur serta memiliki nilai kebenaran dalam penyampaian informasi dalam laporan keuangan bagi para pemakai. 4.) Dapat diperbandingkan Informasi dalam laporan keuangan akan sangat berguna bila dapat diperbandingkan dengan laporan keuangan periode yang sebelumnya pada perusahaan yang sama ataupun perusahaan yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif. e. Komponen-komponen Laporan keuangan Penyusunan laporan keuangan dengan tujuan memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan haruslah memiliki komponen-komponen yang lengkap agar dapat memberikan informasi yang jelas kepada pemakai, maka informasi laporan keuangan yang lengkap terdiri dari : 1.) Neraca 2.) Laporan Laba-rugi 3.) Laporan Perubahan Ekuitas 4.) Laporan Arus Kas 5.) Catatan Atas Laporan Keuangan Adapun pengertian dari masing-masing komponenkomponen laporan keuangan tersebut adalah : 1.) Neraca Adalah suatu laporan yang memuat daftar harta kekayaan atau aktiva yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu. Sehingga tujuan dari penyusunan neraca ini adalah untuk memperlihatkan posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada saat buku ditutup yaitu pada akhir bulan, akhir triwulan, atau akhir tahun dan ditentukan sisanya, sehingga neraca sering disebut balance sheet. Neraca juga merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Posisi keuangan yang dimaksudkan adalah posisi aktiva (harta), passiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan. Penyusunan komponen di dalam neraca didasarkan pada tingkat likuiditas dan jatuh tempo. Menurut Munawir (1990:13) Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu tutup buku dan ditentukan sisanya pada akhir tahun kalender sehingga neraca sering disebut balance sheet. 2.) Laporan Laba-Rugi Laporan laba-rugi merupakan laporan yang memuat tentang penghasilan serta biaya-biaya perusahaan selama periode tertentu dan diakhiri laba atau rugi bersih yang diperoleh dalam periode tersebut, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui hasil operasi yang telah dilakukan. Munawir (1990:13) mengatakan bahwa laporan laba-rugi merupakan laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh suatu perusahaan suatu periode tertentu. Laporan laba-rugi juga merupakan laporan keuangan perusahaan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Perhitungan laba-rugi perusahaan disusun dalam bentuk berjenjang yang menggambarkan pendapatan atau beban yang berasal dari kegiatan utama perusahaan dan kegiatan lainnya. Laporan laba-rugi yang disusun menurut SAK (2007:1) minimal mencakup : a) Pendapatan b) Laba Rugi Usaha c) Beban Pinjaman d) Bagian dari Laba Rugi perusahaan afiansi dan asosiasi yang diperlukan menggunakan metode ekuitas e) Beban Pajak f) Laba atau Rugi dari aktivitas normal perusahaan g) Pos luar biasa h) Hak minoritas i) Laba atau rugi bersih untuk periode berjalan 3.) Laporan Perubahan Ekuitas Laporan ini menunjukkan sumber-sumber modal kerja yang diperoleh perusahaan dan penggunaannya selama jangka waktu tertentu. Adapun laporan perubahan ekuitas merupakan laporan yang menggambarkan perubahan peningkatan atau penurunan aktiva bersih dalam suatu periode akuntansi dan atas modal perusahaan dalam periode waktu tertentu. 4.) Laporan Arus Kas Laporan arus kas berfungsi untuk memberikan informasi yang memungkinkan untuk melakukan evaluasi perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan perusahaan yaitu kemampuan untuk menghasilkan kas dan setara kas (suatu investasi yang dapat dengan mudah dan cepat dicairkan dalam bentuk kas). Laporan arus kas disajikan dalam tiga bagian : a) Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. b) Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas, yang merupakan salah satu penentu untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas. c) Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. 5.) Catatan Atas Laporan Keuangan Catatan atas laporan keuangan merupakan catatancatatan yang dibuat sebagai pendukung atau penunjang atas laporan keuangan periode yang bersangkutan. Catatan-catatan tersebut merupakan catatan penting yang memuat ikhtisar kebijakan akuntansi suatu perusahaan yang berisi penjelasanpenjelasan dan kebijakan akuntansi yang mempengaruhi posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. 2. Analisis Laporan Keuangan a. Pengertian Analisis Laporan Keuangan Analisis rasio merupakan hasil dari penganalisaan laporan keuangan perusahaan yang digunakan untuk mengukur kondisi dan efisiensi operasi perusahaan serta struktur modal yang sehat dengan tujuan untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat tercapai. (Agus, 2001:113) Analisis dari laporan keuangan bersifat relatif karena didasarkan pengetahuan dan menggunakan rasio nilai relatif serta merupakan metode untuk menilai kinerja dan status perusahaan. (Sudjaja dan Barlian, 2003:128) Menurut Syamsudin (2000:37) pengertian analisis laporan keuangan perusahaan adalah sebagai berikut : “Analisis laporan keuangan perusahaan adalah pada dasarnya merupakan perhitungan rasio-rasio untuk menilai keadaan keuangan perusahaan dimasa lalu, saat ini, dan kemungkinannya dimasa datang. Dan mencari hubungan sebab akibatnya. Analisis dari laporan keuangan bersifat relatif karena didasarkan pada pengetahuan rasio atau nilai relatif”. b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan Tujuan dari analisis laporan keuangan adalah membantu manajer keuangan memahami apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan berdasarkan informasi yang tersedia yang sifatnya terbatas berasal dari laporan keuangan. Prastowo (1995:54) menyatakan bahwa analisis rasio bertujuan untuk menilai efektifitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktifitas usahanya. Rasio keuangan memberikan gambaran perkembangan perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya atau dari tahun ke tahun, atau menunjukkan apakah perusahaan mengalami kemunduran atau kemajuan. Dengan melihat perkembangan ini perusahaan dapat membuat rencana-rencana untuk masa mendatang, karena seorang penganalisa dapat membandingkan laporan keuangan yang lalu, saat ini atau rasio keuangan yang akan datang pada perusahaan yang sama. c. Teknik Analisis Laporan Keuangan Menurut Munawir (2002:36-37) terdapat delapan teknik analisis yaitu: a. Teknik analisa perbandingan laporan keuangan dapat dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan selama beberapa periode yaitu dua periode atau lebih dari satu periode ke periode yang lainnya. b. Trend atau tendensi posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam bentuk prosentase yang disebut dengan trend percentage analysis. Dengan menggunakan teknik tersebut maka dapat diketahui kecenderungan suatu perusahaan itu tetap, naik atau turun dalam bentuk prosentase. c. Laporan dengan prosentase per komponen atau common size statement adalah suatu metode analisa untuk mengetahui presentase investasi pada masing-masing aktiva atau setiap elemen terhadap total aktivanya. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengetahui struktur permodalannya serta untuk menunjukkan prosentase laba rugi setiap elemen terhadap penjualan nettonya. d. Analisa sumber dan penggunaan modal kerja merupakan analisa untuk mengetahui sumber-sumber dan penggunaan modal kerja dalam suatu periode. Analisa ini juga digunakan untuk mengetahui besarnya perubahan modal kerja serta penyebab dari perubahan modal kerja tersebut dalam periode tertentu. e. Teknik analisa sumber dan penggunaan kas (cash flow statement analysis) adalah analisa untuk mengetahui berapa besar perubahan kas yang terjadi dan sebab-sebab dari perubahan yang terjadi serta penggunaan uang kas pada suatu perusahaan dalam periode tertentu. f. Analisa rasio adalah suatu metode analisa dengan menghubungkan pos-pos yang terdapat pada laporan keuangan bagian neraca atau laba rugi secara individu ataupun kombinasi dari keduanya. g. Analisa perubahan laba kotor (gross profit analysis) adalah teknik yang digunakan untuk mengetahui besarnya perubahan laba kotor suatu perusahaan dari satu periode ke periode lainnya atau besarnya perubahan laba kotor dalam suatu periode dengan laba yang telah ditargetkan atau dianggarkan untuk periode tertentu. h. Analisa break event adalah teknik analisa yang digunakan untuk mengetahui titik impas dari tingkat penjualan suatu perusahaan, yaitu mengetahui titik impas dari tingkat penjualan suatu perusahaan tidak mengalami kerugian tetapi juga tidak mendapatkan keuntungan dari tingkat penjualan. Untuk selanjutnya penulis membatasi pembahasan dengan menggunakan teknik analisis rasio keuangan dalam beberapa periode sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. 3. Analisis Rasio Keuangan a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan Analisis Rasio Keuangan merupakan perhitungan yang dirancang untuk membantu mengevaluasi laporan keuangan. Teknik dengan menggunakan rasio ini merupakan cara yang saat ini masih paling efektif dalam mengukur tingkat kinerja serta prestasi keuangan perusahaan. Menurut Munawir (1995:64) rasio adalah sebagai berikut : “Rasio adalah menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relation) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis bahwa rasio yang dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisis tentang baik atau buruknya keadaan rasio dibandingkan dengan angka rasio perbandingan yang digunakan sebagai standar rasio keuangan”. Sedangkan menurut Riyanto (2001:329) analisa rasio keuangan adalah sebagai berikut : “Analisa yang menghubungkan perkiraan neraca dan laporan yang lain, yang memberikan gambaran tentang sebuah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan sesuatu perusahaan”. Menurut pendapat Sudjaja dan Barlian (2003:138) analisis rasio keuangan merupakan analisa dari laporan keuangan bersifat relatif karena didasarkan pengetahuan dan menggunakan rasio atau nilai relatif. Analisis rasio keuangan berhubungan dengan bidang akuntansi. Kegiatan akuntansi pada dasarnya merupakan kegiatan mencatat transaksi-transaksi yang terjadi dan akibat dari transaksi tersebut terhadap aktiva, hutang, modal, penghasilan, dan biaya dalam perusahaan. Transaksi-transaksi tersebut kemudian dianalisa, diklasifikasikasi, dan disajikan dalam bentuk laporan keuangan. Dengan adanya analisa ini perusahaan dapat mengetahui perubahan yang telah dilakukan oleh perusahaan dan membentuk menggambarkan kecenderungan yang timbul dalam suatu periode perusahaan. b. Metode Perbandingan Rasio Keuangan Dalam membuat analisis rasio kita harus menentukan jenis perbandingan yang akan dilakukan. Metode analisis perbandingan yang digunakan untuk menganalisis Laporan Keuangan ada dua menurut Munawir (2001:36) adalah : 1.) Cross-sectional approach Metode analisis perbandingan rasio keuangan dengan cara membandingkan rasio-rasio yang dimiliki suatu perusahaan dengan perusahaan industri yang sejenis pada periode yang sama. Evaluasi ini digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat kecenderungan posisi keuangan perusahaan satu dengan perusahaan lain dalam industri yang sejenis sehingga dapat diketahui tingkat kemajuan suatu perusahaan sepanjang waktu. 2.) Time series analysis Yaitu metode dengan membandingkan rasio-rasio yang dimiliki suatu perusahaan dengan rasio-rasio beberapa periode sebelumnya atau dari periode satu ke periode lainnya. Dari metode analisis ini dapat diketahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki suatu perusahaan dari setiap periode. Sehingga metode ini dapat dijadikan sebagai dasar pembuatan rencana dimasa yang akan datang untuk kemajuan perusahaan. Sedangkan dua metode analisis laporan keuangan lainnya yang dapat digunakan menurut Munawir (2002:36) yaitu : 1) Analisis Horizontal Analisis laporan keuangan dengan cara membandingkan rasio-rasio yang dimiliki suatu perusahaan dalam beberapa periode atau periode yang satu dengan periode yang lainnya untuk mengetahui besarnya tingkat perkembangan serta kinerja perusahaan dalam beberapa periode. 2) Analisa Vertikal Yaitu analisis dengan membandingkan rasio yang dimiliki suatu perusahaan pada satu periode saja. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui keadaan keuangan pada periode yang bersangkutan atau operasi yang ada pada saat itu saja yaitu periode pada saat dilakukan pembandingan rasio tersebut. c. Keunggulan dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan menggunakan teknik lainnya menurut Harahap (2004:298) yaitu : 1) Rasio-rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. 2) Merupakan pengganti yang sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit. 3) Mengetahui posisi keuangan di tengah industri. 4) Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisis model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score). 5) Menstandartisir size perusahaan atau menstandartkan kemajuan perusahaan. 6) Lebih mudah membandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series. 7) Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang akan datang. Selain keunggulan, analisis rasio keuangan juga mempunyai beberapa keterbatasan yang harus disadari pada waktu menggunakannya. Adapun keterbatasan analisis rasio menurut Bringham dan Houston (2001:101-103) antara lain : 1) Data yang dicatat dan dilaporkan oleh laporan keuangan mendasarkan pada harga perolehan (historical cost). 2) Penyusunan laporan keuangan juga didasarkan pada beberapa alternatif metode akuntansi. Dua perusahaan yang mempunyai kondisi yang sama, barangkali akan memberikan informasi yang berbeda karena perbedaan metode akuntansi. 3) Upaya perbaikan barangkali bisa dilakukan oleh pihak manajemen untuk memperbaiki laporan keuangan sehingga laporan keuangan nampak bagus. 4) Apabila perusahaan mempunyai banyak divisi, biasanya informasi per divisi tidak lengkap. 5) Inflasi atau deflasi akan mempengaruhi laporan keuangan terutama yang berkaitan dengan rekening-rekening jangka panjang. 6) Kesulitan dalam memili rasio yang tepat untuk kepentingan pemakainya karena banyaknya rasio-rasio yang ada dan tiaptiap metode memiliki rasio yang berbeda. d. Jenis Analisis Rasio Keuangan Menurut Syamsuddin (2007:331-336) jenis-jenis rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi : 1) Rasio Likuiditas Adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibankewajiban jangka pendeknya tepat pada waktunya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Adapun yang tergolong dalam rasio Likuiditas (Yamit, 2001:3) adalah : a.) Current Ratio Rasio lancar merupakan alat ukur likuiditas yang diperoleh dengan membagi aktiva lancar dengan utang lancar. Aktiva lancar menggambarkan alat bayar dan diasumsikan semua aktiva lancar benar-benar bisa digunakan membayar. Sedangkan utang lancar menggambarkan yang harus dibayar dan diasumsikan semua utang lancar benar-benar harus dibayar. (Prastowo, 1995:57) Menurut Syamsuddin (2007:44), pada umumnya standar perusahaan dianggap likuid apabila tingkat likuiditas dengan current ratio sebesar 200% dan ini sudah dapat dianggap baik. Rasio Lancar lebih aman bila berada diatas 100 %. Adapun rumus dari Current Ratio adalah sebagai berikut : Aktiva Lancar Current Ratio = x 100% Hutang Lancar b.) Quick Ratio (Acid Test Ratio/Rasio Cepat) Quick Ratio dirancang untuk mengukur seberapa baik perusahaan dapat memenuhi kewajibannya, tanpa harus melikuidasi atau terlalu bergantung pada persediaannya. (Prastowo, 1995:58) Menurut Syamsuddin (2007:45), standar Quick Rasio yang digunakan di perusahaan pada umumnya adalah 100% dan ini sudah dianggap baik karena semakin besar rasio ini semakin baik, tetapi seperti halnya current rasio, berapa quick rasio yang seharusnya, sangat tergantung pada jenis usaha dari masing-masing perusahaan. Adapun rumus dari Quick Ratio adalah sebagai berikut : Aktiva Lancar - Persediaan Quick Ratio = x 100 % Hutang Lancar c.) Cash Ratio (Rasio Kas) Cash Ratio atau rasio kas adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan porsi kas yang dapat menutupi hutang lancar. Adapun rumus dari Cash Ratio adalah : Kas Cash Ratio = x 100% Hutang Lancar 2) Rasio Profitabilitas Menurut Abdullah (2001:49-55), rasio–rasio profitabilitas dipergunakan berhubungan dengan penilaian terhadap kinerja keuangan dalam menghasilkan laba. Adapun rasio yang digunakan adalah sebagai berikut: a.) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Rasio ini untuk mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibandingkan dengan total nilai penjualan bersih perusahaan. Adapun rumus dari Gross Profit Margin adalah sebagai berikut : Laba Kotor Gross Profit Margin = x 100 % Penjualan b.) Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Rasio laba bersih untuk mengukur besarnya laba bersih yang dicapai dari sejumlah penjualan tertentu. Adapun rumus dari Net Profit Margin adalah sebagai berikut : Laba Bersih Net Profit Margin = x 100% Penjualan c.) Rasio Return On Investment (ROI) Rasio ini sering disebut Return On total Assest dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan yang dimiliki. Adapun rumus dari Return On Investment adalah sebagai berikut : Laba Bersih Setelah Pajak Return On Investment = x 100 % Total Aktiva d.) Return On Equity (ROE) Merupakan ratio pengukuran terhadap penghasilan yang dicapai bagi pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferend) atas modal yang diinvestasikan pada perusahaan. Adapun rumus dari Return On Equity adalah sebagai berikut : Laba Bersih Return On Equity = x 100 % Modal Sendiri 3) Rasio Solvabilitas Rasio yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada dua rasio yang digunakan untuk mengukur rasio solvabilitas menurut Abdullah, 2001:45-47 yaitu: a.) Total Debt Ratio (Rasio Hutang) Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin hutang-hutangnya dengan sejumlah aktiva yang dimiliki. Semakin tinggi debt ratio semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. (Syamsuddin, 2007:54) Menurut Kretarto (2001:56) rata-rata industri untuk rasio ini yang baik adalah 33%. Adapun rumus dari Total Debt Ratio adalah sebagai berikut : Total Hutang Total Debt Ratio = x 100% Total Aktiva b.) Total Debt To Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Modal) Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai oleh pihak kreditur. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar dana yang diambil dari luar. Rumusnya adalah : Total Hutang Hutang Terhadap Modal = x 100 % Modal Sendiri 4) Rasio Aktivitas Rasio Aktivitas merupakan rasio yang mengukur seberapa efektif dan efisien suatu perusahaan dalam pendayagunaan aktiva yang dimiliki dan dalam pengelolaan sumber-sumber dananya. Rumus Rasio Aktivitas adalah sebagai berikut : a.) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over) Rasio ini menunjukkan bagaimana efektivitas penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan volume penjualan dan mendapatkan laba. Bila diukur dari volume penjualan, semakin tinggi rasio ini semakin baik, yang berarti kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan yang baik dan bila perputarannya lamban menunjukkan hambatan dan kemungkinan turunnya penjualan. Adapun rumusnya adalah : Jumlah Aktiva Penjualan Netto Perputaran Total Aktiva = x 100% b.) Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over) Rasio ini menggambarkan berapa kali persediaan barang berputar dalam satu periode. Rumusnya adalah : Harga Pokok Penjualan Perputaran Persediaan = x 100% Persediaan Rata-rata 4. Kinerja keuangan perusahaan a. Pengertian Kinerja Keuangan Perusahaan sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan tertentu yang menunujukkan apa yang ingin dilakukan dalam memenuhi kepentingan dari anggotanya. Untuk menilai apakah tujuan yang telah ditetapkan tidak mudah dilakukan, karena menyangkut beberapa aspek manajemen yang harus dipertimbangkan. Sebagai wujud hasil yang dicapai perusahaan dalam periode waktu usaha tertentu, selalu berhubungan sangat erat dengan kinerja yang dilakukan perusahaan dalam operasionalisasinya. Selalu terjadi hubungan yang positif antara kinerja perusahaan dengan hasil atau prestasi yang dicapai, yaitu apabila kinerja perusahaan baik maka hasil yang diperoleh juga baik, begitu pula sebaliknya apabila kinerja perusahaan buruk maka hasil yang diperoleh juga buruk. Pengukuran kinerja perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat dari proses pengambilan keputusan manajemen merupakan persoalan yang kompleks dan sulit, karena menyangkut persoalan efektivitas pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari kegiatan perusahaan dan menyangkut nilai serta keamanan dari berbagai tuntutan yang timbul terhadap perusahaan dari pihak ketiga. Sebelum memahami pengukuran kinerja terlebih dahulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan kinerja itu sendiri. Kinerja merupakan terjemahan dari performance, performance berdasarkan kamus bisnis dan manajemen adalah hasil nyata yang dicapai, kadang-kadang dipergunakan untuk menunjukkan dicapainya hasil yang positif (Wijaya, 1995:63). Untuk mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan suatu perusahaan harus menggunakan tolok ukur. Tolok ukur yang sering digunakan adalah rasio yang berhubungan dengan data keuangan satu dengan lainnya sehingga perlu diberikan interpretasi agar lebih memahami kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Menurut Helfert (1993 : 52) Kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. Selain itu kinerja juga erat hubungannya dengan efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Drucker (1998 : 950) Kinerja adalah kemampuan dari suatu perusahaan dalam menggunakan modal yang dimiliki secara efektif dan efisien guna mendapatkan hasil yang sempurna. Berdasarkan keputusan menteri RI No. 740/KMK.00/1989 tanggal 28 Juni 1989, yang dimaksud dengan penilaian kinerja BUMN (Badan Usaha Milik Negara) adalah penilaian terhadap efisiensi dan efektifitas perusahaan yang dilakukan secara berkala atas dasar laporan manajemen dan laporan keuangan. Terlihat dari sini bahwa kinerja keuangan adalah prestasi yang dicapai oleh perusahaan pada saaat tertentu dengan menggunakan perhitungan berdasarkan tolak ukur analisis rasio yang didasarkan pada laporan keuangan. Al-qur’an juga telah memberikan penekanan yang lebih terhadap tenaga manusia yang sering menggunakan tolok ukur rasio keuangan untuk menilai kinerja perusahaan tertentu. Hal ini dijelaskan dalam surat An-Najm ayat 39 : =EQ@ !< 9 @+ O P " Artinya : Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan. (An-Najm :39) Diriwayatkan dalam ayat tersebut bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu ialah melalui kerja keras. Kemajuan dan kekayaan manusia dari alam ini tergantung kepada usaha. Semakin bersungguh-sungguh dia bekerja dan berusaha semakin banyak harta yang diperolehnya. Prinsip tersebut semakin memperjelas bahwa semakin manusia bersungguh-sungguh bekerja untuk memperbaiki kinerja perusahaan, maka hasil yang akan diperoleh adalah memuaskan dan akan memperoleh banyak keuntungan. Hal tersebut dapat dinilai dari perhitungan rasio keuangan yang terlihat semakin meningkat dan membaik. b. Tujuan Penilaian Kinerja Tujuan dari penilaian kinerja suatu perusahaan menurut Munawir (1990:31-33): 1) Untuk mengetahui tingkat Likuiditas suatu perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban saat ditagih. 2) Untuk mengetahui tingkat Leverage suatu perusahaan, yaitu kemampuan untuk memenuhi kewajiban keuangan bila perusahaan terkena likuidasi baik jangka panjang maupun jangka pendek. 3) Untuk mengetahui tingkat Profitabilitas perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba selama periode tertentu. 4) Untuk mengetahui stabilitas usaha perusahaan, yaitu kemampuan untuk melakukan usahanya dengan stabil yang diukur dengan pertimbangan kemampuan perusahaan membayar beban bunga atas hutangnya, termasuk kemampuan perusahaan membayar deviden secara teratur kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan. C. Kerangka Penelitian Rumusan Masalah : Bagaimana kinerja keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk jika dilihat dari analisis rasio keuangan? Kajian Teori: 1. Penelitian terdahulu 2. Laporan Keuangan a. Pengertian Laporan Keuangan b. Tujuan Laporan Keuangan c. Pemakai Laporan Keuangan d. Karakteristik Laporan Keuangan e. Keterbatasan Laporan Keuangan 3. Analisis Laporan Keuangan a. Pengertian Analisis laporan Keuangan b. Tujuan Analisis Laporan Keuangan c. Teknik Analisis Laporan Keuangan 4. Analisis Rasio Keuangan a. Pengertian Analisis Rasio Keuangan b. Metode Perbandingan Rasio Keuangan c. Keunggulan dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan d. Jenis Analisis Rasio Keuangan 5. Kinerja Keuangan Perusahaan Data : Data yang digunakan data sekunder yaitu sebuah data yang diperoleh dari data-data di pojok BEI FE-UMM yang terdiri dari neraca dan laba rugi dan laporan keuangan pada tahun 2002-2007 Analisis Rasio Keuangan Sebagai Alat Penilaian Untuk Mengukur Kinerja Keuangan pada PT. Unilever Indonesia Tbk (Periode Tahun 2002-2007) Analisis Hasil BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT. Unilever Indonesia Tbk yang terdaftar di pojok Bursa Efek Indonesia Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang. B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu suatu penelitian yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari obyek yang diteliti serta interaksinya dengan lingkungan. Tujuan studi kasus adalah melakukan penelitian secara mendalam mengenai obyek yang diteliti untuk memberikan gambaran lengkap mengenai obyek tersebut. Kesimpulan : 1. Rasio Likuiditas terus berfluktuasi atau tidak stabil dan menandakan kondisi perusahaan juga tidak stabil atau cenderung rendah. 2. Rasio Profitabilitas terus berfluktuasi, akan tetapi cenderung meningkat. 3. Rasio Solvabilitas terus mengalami kenaikan dan menandakan resiko hutang perusahaan semakin besar. 4. Rasio Aktivitas menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam mengelola aktiva perusahaan semakin efektif. Menurut Indriantoro dan Supomo (1999: 88) studi kasus merupakan penelitian dengan karakteristik masalah yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari subyek yang diteliti, serta interaksinya dengan lingkungan. Tujuan dari studi kasus adalah melakukan penyelidikan secara mendalam mengenai subyek tertentu untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang subyek tersebut. Sedangkan sifat dari penelitian ini adalah studi deskriptif yaitu studi yang memberikan gambaran, menjelaskan karakteristik secara sistematis, faktual, dan akurat suatu fenomena yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah– masalah bisnis (Indriantoro dan Supomo, 1999 : 26 dan 88). Tujuan metode deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai jenis fakta–fakta, sifat–sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. C. Data dan Jenis Data Menurut Bunging (2001) data adalah bahan keterangan tentang sesuatu obyek penelitian. Jenis data menurut Indriantoro dan Supomo (1996: 55–56) data dikelompokkan menjadi dua, yaitu : 1. Data Primer Merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli (tanpa melalui media perantara). 2. Data Sekunder Merupakan jenis data yang diperoleh secara tidak langsung atau data yang diperoleh melalui pengamatan literatur, dokumen-dokumen dari perusahaan dan lain–lain. Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder untuk memperoleh data-data dalam laporan keuangan PT. Unilever Indonesia, Tbk. Sedangkan data sekunder tersebut didapat dari pojok Bursa Efek Indonesia FE-UMM. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang holistis, kompleks dan rinci pada data laporan keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk. Data yang dianalisis yaitu laporan keuangan laba rugi. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan melakukan perhitungan terhadap data-data kuantitatif yang tercatat dalam neraca keuangan dan laporan laba rugi. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variabel atau lebih (Indepeden) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. (Sugiyono, 2005: 11) Metode ini menunjukkan data dalam bentuk yang dapat membantu untuk memahami karakteristik variabel dalam suatu situasi yang menarik. Data yang diperoleh disusun secara sistematis dan diuraikan kemudian dianalisis untuk ditarik kesimpulan serta untuk dicari jalan pemikirannya. D. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan metode dokumentasi yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari, mencatat, mengklasifikasikan dan menggunakan data sekunder yang berupa data-data dari dokumen-dokumen yang sudah ada berupa laporan neraca dan laba rugi perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk yang go publik di pojok BEI periode tahun 2002-2007. Dalam hal ini dokumen diambil dari pojok BEI FE-UMM. E. Model Analisis Data Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode kualitatif dengan melakukan perhitungan terhadap data-data kuantitatif. Metode kualitatif ini merupakan metode analisis data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data berdasarkan observasi dan mengaplikasikannya dalam hasil penelitian. Dalam hal ini data yang digunakan sebagai penganalisisan adalah data laporan keuangan neraca dan laporan keuangan laba rugi selama 6 periode yaitu mulai dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 dengan cara membandingkan, melakukan perhitungan dan mengaplikasikan dalam hasil-hasil penelitian. Tahap-tahap yang dilakukan untuk menganalisis data adalah dengan menghitung data dari laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi PT. Unilever Indonesia Tbk dengan menggunakan rasio keuangan dengan metode time series analysis. Rasio keuangan tersebut adalah rasio likuiditas, rasio profilitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas. Dan keempat rumus analisis Rasio Keuangan ini adalah sebagai berikut : 1. Rasio Likuiditas a.) Current Ratio Aktiva Lancar Current Ratio = x 100% Hutang Lancar b.) Quick Ratio (Acid Test Ratio/Rasio Cepat) Aktiva Lancar - Persediaan Quick Ratio = x 100 % Hutang Lancar c.) Cash Ratio (Rasio Kas) Kas Cash Ratio = x 100% Hutang Lancar 2. Rasio Profitabilitas a) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Laba Kotor Gross Profit Margin = x 100 % Penjualan b) Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Laba Bersih Net Profit Margin = x 100% Penjualan c) Rasio Return On Investment (ROI) Re = ×100% Total Aktiva Laba Bersih Setelah Pajak turn On Investment d) Return On Equity (ROE) Re = ×100% Modal Sendiri Laba Bersih turn On Equity 3. Rasio Solvabilitas a) Total Debt Ratio (Rasio Hutang) Total Hutang Total Debt Ratio = x 100% Total Aktiva b) Total Debt To Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Modal) Total Hutang Total Debt to Equity Ratio = x 100 % Modal Sendiri 4. Rasio Aktivitas a) Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over) Jumlah Aktiva Penjualan Netto Perputaran Total Aktiva = x 100% b) Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over) Harga Pokok Penjualan Perputaran Persediaan = x 100% Persediaan Rata-rata BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Paparan Data Hasil Penelitian 1. Sejarah Umum Perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk (“Perseroan”) didirikan pada tanggal 5 Desember 1933 dengan nama Lever’s Zeepfabrieken N. V. dengan akta No. 23 Mr. A.H. Van Ophuijsen, notaris di Batavia, disetujui oleh Gouverneur Generaal Van Nederlandsch-Indie dengan surat No.14 tanggal 16 Desember 1933, didaftarkan di Raad Van Justitie di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant tanggal 9 Januari 1934 Tambahan No. 3. Nama Perseroan diubah menjadi “PT Unilever Indonesia” dengan akta No. 171 tanggal 22 Juli 1980 dari notaris Ny. Kartini Muljadi SH. Selanjutnya perubahan nama Perseroan menjadi “PT Unilever Indonesia Tbk”, dilakukan dengan akta No. 92 tanggal 30 Juni 1997 dari notaris Tn. Mudofir Hadi SH. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dalam surat keputusan No. C2-1.049HT.01.04 TH. 98 tanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan dalam Berita Negara No. 2620 tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39. Pada tanggal 16 November 1981 Perseroan mendapat izin Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No.SI- 009/PM/E/1981 untuk menawarkan 15% sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 24 Juni 2003, para pemegang saham menyetujui untuk melakukan pemecahan saham (stock split) dengan mengubah nilai nominal saham dari Rp 100 (Rupiah penuh) menjadi Rp 10 (Rupiah penuh) per lembar saham. Perubahan ini diaktakan dengan akta No.46 tanggal 10 Juli 2003 dari notaris Singgih Susilo SH dan disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam surat keputusan No. C-17533 HT.01.04- TH. 2003. Kegiatan usaha Perseroan meliputi bidang pembuatan, pemasaran dan distribusi barang-barang konsumsi yang meliputi sabun, deterjen, margarin, dan makanan berinti susu, es krim, minuman dengan bahan pokok teh dan produk-produk kosmetik. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 13 Juni 2000, yang diaktakan dengan akta No.82 tanggal 14 Juni 2000 dari notaris Singgih Susilo SH, Perseroan juga bertindak sebagai distributor utama untuk produk-produk Perseroan dan penyedia jasa penelitian pemasaran. Akta ini telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan (dahulu Menteri Kehakiman) Republik Indonesia dengan surat keputusan No. C- 18482 HT.01.04-Th. 2000. Perseroan mulai beroperasi secara komersial tahun 1933. Kantor Perseroan berlokasi di Jalan Jendral Gatot Subroto Kav.15, Jakarta. Pabrik Perseroan berlokasi di Jalan Jababeka 9 Blok D, Jalan Jababeka Raya Blok O, kawasan Industri Jababeka Cikarang, Bekasi, Jawa Barat dan Jalan Rungkut Industri IV No. 5-11, kawasan Industri Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Pada tanggal 22 November 2000 Perseroan mengadakan perjanjian kerjasama dengan PT. Anugrah Indah Pelangi, untuk mendirikan sebuah perusahaan baru dengan nama PT. Anugrah Lever (“PT. AL”) yang bergerak dalam bidang produksi, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap, sambal dan saus lainnya dengan merek Bango, serta merek-merek lainnya di bawah lisensi Perseroan kepada PT. AL. Pada tanggal 3 Juli 2002 Perseroan mengadakan perjanjian kerjasama dengan Texchem Resources Berhad, untuk mendirikan sebuah perusahaan baru dengan nama PT. Technopia Lever (“PT. TL”) yang bergerak dalam bidang distribusi, ekspor dan impor barang dagangan dengan merek Domestos Nomos. Pada tanggal 7 November 2003, Texchem Resources Berhad mengadakan perjanjian jual- beli saham dengan Technopia Singapore Pte. Ltd., dimana Texchem Resources Berhad setuju untuk menjual penyertaannya di PT. Technopia Lever kepada Technopia Singapore Pte. Ltd. Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 8 Desember 2003, Perseroan telah mendapat persetujuan pemegang saham minoritas untuk mengakuisisi saham PT. Knorr Indonesia (“PT. KI”) dari Unilever Overseas Holdings Limited (pihak yang mempunyai hubungan istimewa). Akuisisi ini dinyatakan efektif pada saat perjanjian jual beli saham antara Perseroan dan Unilever Overseas Holdings Limited ditandatangani pada tanggal 21 Januari 2004. Pada tanggal 30 Juli 2004, perseroan melakukan penggabungan usaha dengan PT. KI dimana penggabungan usaha ini dicatat dengan menggunakan metode seperti penyatuan kepemilikan. Perseroan adalah pihak yang menerima penggabungan dan setelah penggabungan usaha PT. KI tidak lagi berstatus sebagai suatu entitas hukum tersendiri. Penggabungan usaha ini sesuai dengan keputusan Badan Koordinasi Pasar Modal (BKPM) No.740/III/PMA 2004 tanggal 29 Juli 2004. 2. Susunan Pengurus Pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan adalah sebagai berikut : Dewan Komisaris : Presiden Komisaris : Louis Willem Gunning Komisaris : Theodore Permadi Rachmat Kuntoro Mangkusubroto Cyrillus Harinowo Bambang Subianto Direksi : Presiden Direktur : Maurits Daniel Rudolf Lalisang Direktur : Desmond Gerard Dempsey Mohammad Effendi Soeparsono Muhammad Saleh Joseph Bataona Surya Dharma Mandala Debora Herawati Sadrach Andreas Moritz Egon Rompis Laercio de Holanda Cardoso Junior Bernadette Mary Wake (sejak tanggal 31 Mei 2006) B. Pembahasan Data Hasil Penelitian 1. Analisis Laporan Keuangan Dengan menggunakan analisis laporan keuangan akan tergambar suatu ringkasan laporan neraca dan laporan laba rugi selama peride yang bersangkutan. Tahap-tahap yang perlu dilaksanakan dalam analisis ini adalah membuat neraca perbandingan antara beberapa periode yang berkaitan dan kemudian menganalisis dengan menggunakan rasio keuangan. Neraca perbandingan memberikan gambaran tentang perkembangan aktivitas keuangan perusahaan dari beberapa periode tersebut, sehingga memperlihatkan kenaikan dan penurunan pada pos-pos yang tercantum dalam neraca yang diperbandingkan. Untuk lebih jelasnya neraca perbandingan berdasdasarkan lampiran 1 sampai lampiran 4 akan disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 4.1 PT. UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2002 dan 2003 (dalam Jutaan Rupiah) Rekening 2002 2003 Perubahan % AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 1.388.225 1.136.579 (251.646) -22,14% Piutang usaha 263.192 464.972 201.780 76,67% Piutang lain-lain 33.072 20.499 (12.573) -38,01% Persediaan 383.902 517.459 133.557 34,79% Pajak dibayar di muka 15.416 11.323 (4.093) -26,55% Biaya dibayar di muka 46.070 45.118 (952) -2,07% Jumlah Aktiva Lancar 2.129.877 2.195.950 66.073 3,10% AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 7.394 29.087 21.693 293,39% Aktiva pajak tangguhan 42.186 40.399 (1.787) -4,24% Aktiva Tetap 745.295 876.480 131.185 17,60% Aktiva tidak berwujud 98.276 188.434 90.158 91,74% Aktiva lain-lain 68.825 35.360 (33.465) -48,62% Biaya pensiun dibayar di muka - 50.566 50.566 - Jumlah Aktiva Tidak Lancar 961.976 1.220.326 258.350 26,86% JUMLAH AKTIVA 3.091.853 3.416.276 324.423 10,49% KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 545.434 332.365 (213.069) -39,06% Hutang pajak 99.283 122.784 23.501 23,67% Biaya masih harus dibayar 288.140 379.838 91.698 31,82% Hutang lain-lain 6.334 396.216 389.882 6,16% Jumlah Kewajiban Lancar 939.191 1.231.203 292.012 31,09% KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 33.441 32.850 (591) -1,79% Kewajiban imbalan kerja 79.771 47.814 (31.957) -40,06% Jumlah kewajiban tidak lancar 113.212 80.664 (32.548) -28,75% HAK MINORITAS 19.702 8.750 (10.952) -55,59% EKUITAS MODAL SAHAM 76.300 76.300 - - Agio saham 15.227 15.227 - - Selisih penilaian kembali aktiva tetap 154 154 - - Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali - - - - Saldo laba yang dicadangkan 15.260 15.260 - - Saldo laba yang 1.912.807 1.988.718 75.911 3,97% belum dicadangkan Jumlah ekuitas 2.019.748 2.095.659 75.911 3,76% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.091.853 3.416.276 324.423 10,49% *Sumber : Data primer diolah Tabel 4.2 PT. UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2003 dan 2004 (dalam Jutaan Rupiah) Rekening 2003 2004 Perubahan % AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 1.136.579 784.455 (352.124) -30,98% Piutang usaha 464.972 495.047 30.075 6,47% Piutang lain-lain 20.499 28.228 7.729 37,70% Persediaan 517.459 628.826 111.367 21,52% Pajak dibayar di muka 11.323 6.765 (4.558) -40,25% Biaya dibayar di muka 45.118 50.125 5.007 11,09% Jumlah Aktiva Lancar 2.195.950 1.993.446 (202.504) -9,22% AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 29.087 15.408 (13.679) -47,03% Aktiva pajak tangguhan 40.399 52.226 11.827 29,28% Aktiva Tetap 876.480 1.348.402 471.922 53,84% Aktiva tidak berwujud 188.434 175.675 (12.759) -6,77% Aktiva lain-lain 35.360 39.571 4.211 11,91% Biaya pensiun dibayar di muka 50.566 38.981 (11.585) -22,91% Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1.220.326 1.670.263 449.937 36,87% JUMLAH AKTIVA 3.416.276 3.663.709 247.433 7,24% KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 332.365 381.186 48.821 14,69% Hutang pajak 122.784 197.076 74.292 60,51% Biaya masih harus dibayar 379.838 335.398 (44.440) -11,69% Hutang lain-lain 396.216 318.208 (78.008) -19,69% Jumlah Kewajiban Lancar 1.231.203 1.231.868 665 0,05% KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 32.850 64.408 31.558 96,07% Kewajiban imbalan kerja 47.814 52.466 4.652 9,73% Jumlah kewajiban tidak lancar 80.664 116.874 36.210 44,89% HAK MINORITAS 8.750 18.283 9.533 108,95% EKUITAS MODAL SAHAM 76.300 76.300 - - Agio saham 15.227 15.227 - - Selisih penilaian kembali aktiva tetap 154 287.593 287.439 186,65% Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali - 80.773 80.773 - Saldo laba yang dicadangkan 15.260 15.848 588 3,85% Saldo laba yang belum dicadangkan 1.988.718 1.820.943 (167.775) -8,44% Jumlah ekuitas 2.095.659 2.296.684 201.025 9,59% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.416.276 3.663.709 247.433 7,24% *Sumber : Data primer diolah Tabel 4.3 PT. UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2004 dan 2005 (dalam Jutaan Rupiah) Rekening 2004 2005 Perubahan % AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 784.455 705.369 (79.086) -10,08% Piutang usaha 495.047 457.147 (37.900) -7,66% Piutang lain-lain 28.228 19.515 (8.713) -30,87% Persediaan 628.826 766.081 137.255 21,83% Pajak dibayar di muka 6.765 37.122 30.357 448,74% Biaya dibayar di muka 50.125 45.128 (4.997) -9,97% Jumlah Aktiva Lancar 1.993.446 2.030.362 36.916 1,85% AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 15.408 32.479 17.071 110,79% Aktiva pajak tangguhan 52.226 21.305 (30.921) -59,20% Aktiva Tetap 1.348.402 1.495.659 147.257 10,92% Aktiva tidak berwujud 175.675 172.556 (3.119) -1,78% Aktiva lain-lain 39.571 60.827 21.256 53,72% Biaya pensiun dibayar di muka 38.981 29.163 (9.818) -25,19% Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1.670.263 1.811.989 141.726 8,49% JUMLAH AKTIVA 3.663.709 3.842.351 178.642 4,88% KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 381.186 614.286 233.100 61,15% Hutang pajak 197.076 67.815 (129.261) -65,59% Biaya masih harus dibayar 335.398 719.917 384.519 114,65% Hutang lain-lain 318.208 99.467 (218.741) -68,74% Jumlah Kewajiban Lancar 1.231.868 1.501.485 269.617 21,89% KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 64.408 73.248 8.840 13,73% Kewajiban imbalan kerja 52.466 83.658 31.192 59,45% Jumlah kewajiban tidak lancar 116.874 156.906 40.000 34,25% HAK MINORITAS 18.283 10.434 (7.849) -42,93% EKUITAS MODAL SAHAM 76.300 76.300 - - Agio saham 15.227 15.227 - - Selisih penilaian kembali aktiva tetap 287.593 287.593 - - Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali 80.773 80.773 - - Saldo laba yang dicadangkan 15.848 16.442 594 3,75% Saldo laba yang belum dicadangkan 1.820.943 1.697.191 (123.752) -6,79% Jumlah ekuitas 2.296.684 2.173.526 (123.158) -5,36% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.663.709 3.842.351 178.642 4,88% *Sumber : Data primer diolah Tabel 4.4 PT. UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2005 dan 2006 (dalam Jutaan Rupiah) Rekening 2005 2006 Perubahan % AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 705.369 1.014.379 309.010 43,80% Piutang usaha 457.147 653.207 196.060 42,89% Piutang lain-lain 19.515 32.363 12.848 65,84% Persediaan 766.081 763.398 (2.683) -0,35% Pajak dibayar di muka 37.122 89.859 52.737 142,06% Biaya dibayar di muka 45.128 51.346 6.218 13,78% Jumlah Aktiva Lancar 2.030.362 2.604.552 574.190 28,28% AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 32.479 13.270 (19.209) -59,14% Aktiva pajak tangguhan 21.305 25.217 3.912 18,36% Aktiva Tetap 1.495.659 1.724.663 229.004 15,31% Aktiva tidak berwujud 172.556 159.067 (13.489) -7,81% Aktiva lain-lain 60.827 64.088 3.261 5,36% Biaya pensiun dibayar di muka 29.163 35.143 5.980 20,51% Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1.811.989 2.021.448 209.459 11,56% JUMLAH AKTIVA 3.842.351 4.626.000 783.649 20,39% KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 614.286 702.144 87.858 14,30% Hutang pajak 67.815 304.013 236.198 348,29% Biaya masih harus dibayar 719.917 886.436 166.519 23,13% Hutang lain-lain 99.467 164.858 65.391 65,74% Jumlah Kewajiban Lancar 1.501.485 2.057.451 555.966 37,03% KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 73.248 86.304 13.056 17,82% Kewajiban imbalan kerja 83.658 105.626 21.968 26,26% Jumlah kewajiban tidak lancar 156.906 191.930 35.024 22,32% HAK MINORITAS 10.434 8.092 (2.342) -22,45% EKUITAS MODAL SAHAM 76.300 76.300 - - Agio saham 15.227 15.227 - - Selisih penilaian kembali aktiva tetap 287.593 287.593 - - Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali 80.773 80.773 - - Saldo laba yang 16.442 15.848 (594) -3,61% dicadangkan Saldo laba yang belum dicadangkan 1.697.191 1.892.786 195.595 11,52% Jumlah ekuitas 2.173.526 2.368.527 195.001 8,97% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.842.351 4.626.000 783.649 20,39% *Sumber : Data primer diolah Tabel 4.5 PT. UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2006 dan 2007 (dalam Jutaan Rupiah) Rekening 2006 2007 Perubahan % AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 1.014.379 884.910 (129.469) -12,76% Piutang usaha 653.207 733.359 80.152 12,27% Piutang lain-lain 32.363 37.815 5.452 16,85% Persediaan 763.398 857.463 94.065 12,32% Pajak dibayar di muka 89.859 117.628 27.769 30,90% Biaya dibayar di muka 51.346 63.492 12.146 23,66% Jumlah Aktiva Lancar 2.604.552 2.694.667 90.115 3,46% AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 13.270 3.925 (9.345) -70,42% Aktiva pajak tangguhan 25.217 37.521 12.304 48,79% Aktiva Tetap 1.724.663 2.281.073 556.410 32,26% Aktiva tidak berwujud 159.067 217.124 58.057 36,49% Aktiva lain-lain 64.088 64.689 601 0,94% Biaya pensiun dibayar di muka 35.143 34.407 (736) -2,09% Jumlah Aktiva Tidak Lancar 2.021.448 2.638.739 617.291 30,54% JUMLAH AKTIVA 4.626.000 5.333.406 707.406 15,29% KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 702.144 864.149 162.005 23,07% Hutang pajak 304.013 163.921 (140.092) -46,08% Biaya masih harus dibayar 886.436 1.228.763 342.327 38,62% Hutang lain-lain 164.858 171.295 6.437 3,90% Jumlah Kewajiban Lancar 2.057.451 2.428.128 370.677 18,02% KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 86.304 87.247 943 1,09% Kewajiban imbalan kerja 105.626 123.912 18.286 17,31% Jumlah kewajiban tidak lancar 191.930 211.159 19.229 10,02% HAK MINORITAS 8.092 1.978 (6.114) -75,56% EKUITAS MODAL SAHAM 76.300 76.300 - - Agio saham 15.227 15.227 - - Selisih penilaian kembali aktiva tetap 287.593 287.593 - - Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali 80.773 80.773 - - Saldo laba yang 15.848 15.260 (588) -3,71% dicadangkan Saldo laba yang belum dicadangkan 1.892.786 2.216.988 324.202 17,13% Jumlah ekuitas 2.368.527 2.692.141 323.614 13,66% JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 4.626.000 5.333.406 707.406 15,29% *Sumber : Data primer diolah 2. Perhitungan Rasio Keuangan a. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya tepat pada waktunya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Yang tergolong dalam rasio likuiditas menurut Syamsuddin (2007:68-74) adalah : d.) Current Ratio (Rasio Lancar) Current Ratio atau Rasio lancar merupakan alat ukur likuiditas yang diperoleh dengan membagi aktiva lancar dengan hutang lancar. Aktiva lancar menggambarkan alat bayar dan diasumsikan semua aktiva lancar benar-benar bisa digunakan untuk membayar. Sedangkan hutang lancar menggambarkan yang harus dibayar dan diasumsikan semua hutang lancar benarbenar harus dibayar. (Prastowo, 1995:57) Menurut Syamsuddin (2007:44), pada umumnya standar perusahaan dianggap likuid apabila tingkat likuiditas dengan current ratio sebesar 200% dan ini sudah dapat dianggap baik. Rasio Lancar (Current Ratio) lebih aman bila berada diatas 100 %. Aktiva likuid merupakan aktiva yang dapat dikonversikan menjadi kas dengan cepat tanpa harus mengurangi harga aktiva tersebut lebih banyak. Apabila angka rasio ini 100% atau 1:1, ini berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi hutang lancar. Rasio ini lebih aman bila diatas 100%, sedangkan standart current ratio ini sebesar 200% yang digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan analisa lebih lanjut. Adapun rumus dari Current Ratio adalah sebagai berikut : Aktiva Lancar Current Ratio = x 100% Hutang Lancar Current Ratio per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 CR = 939.191 2.129.877 x 100% = 226,78% Tahun 2003 CR = 1.231.203 2.195.950 x 100% = 178,36% Tahun 2004 CR = 1.231.868 1.993.446 x 100% = 161,82 % Tahun 2005 CR = 1.501.485 2.030.362 x 100% = 135,22 % Tahun 2006 CR = 2.057.451 2.604.552 x 100% = 126,59 % Tahun 2007 CR = 2.428.128 2.694.667 x 100% = 110,98 % Sebelum kita menilai Current Ratio dari PT. Unilever, sebaiknya kita harus mengetahui berapa besar biaya operasional PT. Unilever tersebut, dan seberapa nilai Current Ratio yang cukup untuk menutup hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar beban-beban operasional perusahaan. Adapun biaya operasional perusahaan pertahun adalah sebagai berikut : Tabel 4.6 Biaya Operasional per tahun (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Biaya Operasional 2002 2.053.313 2003 2.440.049 2004 2.630.295 2005 2.895.371 2006 3.195.433 2007 3.520.352 *Sumber: Data diolah Sebagai perbandingan, akan disajikan rumus Rasio Minimal yaitu sebagai berikut : 1. Tahun 2002 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.129.877 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.343.260 Biaya TKL = 124.949 Penyusutan = (28.449) 3.439.760 Biaya administrasi = 462.586 Penyusutan = (10.878) 3.891.468 Biaya penjualan = 1.590.727 Penyusutan = (11.819) Biaya bunga = 70.149 Biaya Pajak = 417.964 5.958.489 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 496.540,75 Hutang lancar = 939.191 + 1.435.731,75 Sisa modal kerja bersih 694.145,25 1.435.731,75 Current ratio minimal = x 100% 939.191 = 152,87% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2002 sebesar 152,87%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2002 sebesar 226,78%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 73,91%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur atau tidak berfungsi selain untuk persediaan. 2. Tahun 2003 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.195.950 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.586.583 Biaya TKL = 166.848 Penyusutan = (30.153) 3.723.278 Biaya administrasi = 500.054 Penyusutan = (12.698) 4.210.634 Biaya penjualan = 1.939.995 Penyusutan = (8.892) Biaya bunga = 72.234 Biaya Pajak = 534.007 6.747.978 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 562.331,5 Hutang lancar = 1.231.203 + 1.793.534,5 Sisa modal kerja bersih 402.415,5 1.793.534,5 Current ratio minimal = x 100% 1.231.203 = 145,67% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2003 sebesar 145,67%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2003 sebesar 178,36%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 32,69%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan baik, karena terdapat kelebihan aktiva lancar yang dapat digunakan untuk persediaan perusahaan. 3. Tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 1.993.446 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.865.971 Biaya TKL = 177.990 Penyusutan = (37.710) 4.006.251 Biaya administrasi = 495.718 Penyusutan = (9.637) 4.492.332 Biaya penjualan = 2.134.577 Penyusutan = (11.585) Biaya bunga = 36.122 Biaya Pajak = 641.285 7.292.731 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 607.727,58 Hutang lancar = 1.231.868 + 1.839.595,58 Sisa modal kerja bersih 153.850,42 1.839.595,58 Current ratio minimal = x 100% 1.231.868 = 149,33% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2004 sebesar 149,33%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2004 sebesar 161,82%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 12,49%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan baik, karena kelebihan aktiva lancar hanya sedikit dan dapat digunakan untuk persediaan perusahaan. 4. Tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.030.362 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 4.248.059 Biaya TKL = 184.009 Penyusutan = (49.097) 4.382.971 Biaya administrasi = 591.250 Penyusutan = (10.518) 4.963.703 Biaya penjualan = 2.304.121 Penyusutan = (7.981) Biaya bunga = 28.700 Biaya Pajak = 624.421 7.912.964 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 659.413,67 Hutang lancar = 1.501.485 + 2.160.898,67 (Kekurangan modal kerja bersih) -130.536,67 2.160.898,67 Current ratio minimal = x 100% 1.501.485 = 143,91% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2005 sebesar 143,91%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2005 sebesar 135,22%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar kurang sebesar 8,69%. Dengan adanya kekurangan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar kurang. Akan tetapi kekurangan tersebut hanya sedikit, namun tetap tidak mencukupi untuk melunasi hutang dan untuk persediaan perusahaan. 5. Tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.604.552 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 4.725.809 Biaya TKL = 188.845 Penyusutan = (61.762) 4.852.892 Biaya administrasi = 635.490 Penyusutan = (11.529) 5.476.853 Biaya penjualan = 2.559.943 Penyusutan = (12.442) Biaya bunga = 39.538 Biaya Pajak = 743.754 8.807.646 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 733.970,5 Hutang lancar = 2.057.451 + 2.791.421,5 Kekurangan modal kerja bersih -186.869,5 2.791.421,5 Current ratio minimal = x 100% 2.057.451 = 135,67% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2006 sebesar 135,67%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2006 sebesar 126,59%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar kurang sebesar 1,9%. Dengan adanya kekurangan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar kurang, sehingga perusahaan masih belum mampu melunasi hutang-hutangnya dan juga tidak cukup untuk persediaan. 6. Tahun 2007 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.694.667 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 5.428.528 Biaya TKL = 233.878 Penyusutan = (82.956) 5.579.450 Biaya administrasi = 730.350 Penyusutan = (11.979) 6.297.821 Biaya penjualan = 2.790.002 Penyusutan = (14.735) Biaya bunga = 41.291 Biaya Pajak = 859.294 9.973.673 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 831.139,41 Hutang lancar = 2.428.128 + 3.259.267,41 Kekurangan modal kerja bersih -564.600,41 3.259.267,41 Current ratio minimal = x 100% 2.428.128 = 134,23% Jadi Current ratio minimal perusahaan pada tahun 2007 sebesar 134,23%. Sedangkan Current Ratio pada kondisi riil tahun 2007 sebesar 110,98%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar kurang sebesar 23,25%. Dengan adanya kekurangan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar sangat kurang, sehingga perusahaan masih belum mampu melunasi hutang-hutangnya dan perusahaan juga tidak ada biaya untuk persediaan. Tabel 4.7 Perhitungan Current Ratio (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Aktiva Lancar (1) Hutang Lancar (2) Current Ratio (1:2)x100% Rasio Minimal 2002 2.129.877 939.191 226,78 % 152,87 % 2003 2.195.950 1.231.203 178,36 % 145,67 % 2004 1.993.446 1.231.868 161,82 % 149,33 % 2005 2.030.362 1.501.485 135,22 % 143,91 % 2006 2.604.552 2.057.451 126,59 % 135,67 % 2007 2.694.667 2.428.128 110,98 % 134,23 % *Sumber : Data primer diolah Berdasarkan Tabel 4.6 dan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa Current Ratio PT. Unilever Indonesia Tbk selama 6 tahun mengalami penurunan. Seperti pada tahun 2002 terlihat Current Ratio sebesar 226,78% yang berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 2,27. Berarti bahwa perusahaan mampu menutup hutang lancarnya dengan aktiva lancar yang dimiliki. Dengan demikian aktiva lancar masih diatas standart current ratio perusahaan yaitu 100% dan angka pada periode ini mencapai diatas 200% yang berarti kinerja perusahaan dinilai baik karena berada diatas rata-rata yang ditentukan. Serta aktiva lancar pada tahun ini sudah cukup untuk membayar hutang dan biaya operasional, serta masih ada sisa untuk persediaan. Akan tetapi jika dinilai dari rasio minimal perusahaan current ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2002 sebesar 152,87%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan sebesar 226,78%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2002 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 73,91%. Jadi untuk tahun 2002 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak dirotasikan sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2003 mengalami penurunan 48,42% yaitu menjadi sebesar 178,36% yang berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 1,78. Hal ini menandakan bahwa perusahaan mampu menutup hutang lancarnya dengan aktiva lancar yang dimiliki. Pada periode ini mengalami penurunan dikarenakan oleh adanya penurunan piutang. Akan tetapi penurunan pada periode ini masih dinilai baik karena masih berada diatas rata-rata standart current ratio. Untuk tahun ini aktiva lancarnya juga sudah cukup untuk digunakan membayar hutang lancar dan biaya operasional. Serta sisanya masih cukup untuk persediaan. Dan juga jika dinilai dari rasio minimal perusahaan current ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2003 sebesar 145,67%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan sebesar 178,36%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2003 mempunyai kelebihan yang besar, yaitu sebesar 32,69%. Jadi untuk tahun 2003 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutanghutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak dirotasikan sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2004 menurun sebesar 16,54% menjadi 161,82% dikarenakan adanya penurunan kas dan setara kas. Hal ini berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,62 aktiva lancar. Pada periode ini penurunan disebabkan oleh turunnya aktiva lancar yaitu sebesar 9,22%. Akan tetapi hal ini masih dinilai baik karena masih diatas standart current ratio. Dan untuk tahun 2004 ini, walaupun current ratio menurun, tetapi aktiva lancarnya masih bisa untuk digunakan membayar hutang lancar dan biaya operasional. Serta masih ada sisa untuk persediaan. Akan tetapi jika dilihat dari rasio minimalnya pada tahun 2004 ini perusahaan membutuhkan current ratio sebesar 149,33%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan sebesar 161,82%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2004 mempunyai kelebihan, yaitu sebesar 12,49%. Jadi untuk tahun 2004 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak dirotasikan sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2005 juga mengalami penurunan sebesar 26,6% menjadi sebesar 135,22%. Hal ini berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,35 aktiva lancar. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan pada kas dan setara kas serta aktiva lancar lainnya yaitu piutang usaha kecuali persediaan. Pada tahun 2005 ini perusahaan cukup likuid, karena aktiva lancar sudah cukup untuk digunakan menutup hutang lancar dan biaya operasional perusahaan. Serta masih cukup untuk persediaan. Akan tetapi jika dilihat dari rasio minimalnya pada tahun 2005 ini perusahaan membutuhkan current ratio sebesar 143,91%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan sebesar 135,22%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2005 mempunyai kekurangan, yaitu sebesar 8,69%. Jadi untuk tahun 2005 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar perusahaan hanya bisa mencukupi untuk melunasi hutang-hutang perusahaan saja, dan tidak bisa untuk membayar biaya-biaya operasional perusahaan. Dan perusahaan tidak mampu untuk menambah persediaan. Dan juga pada tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 8,63% menjadi sebesar 126,59%, yang artinya bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,27 aktiva lancar. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan persediaan pada aktiva lancar. Sedangkan pada hutang lancar semua naik sebesar 37,03%. Untuk tahun 2006 ini, current ratio perusahaan sudah mengalami likuid, karena aktiva lancar perusahaan sudah cukup untuk digunakan menutup hutang lancar dan beban operasional perusahaan. Dan masih ada sisa untuk persediaan, akan tetapi sisanya relatif sedikit dibandingkan dengan persediaan tahuntahun sebelumnya. Akan tetapi berbeda dengan rasio minimal perusahaan pada tahun 2006 ini, yang sudah dikurangi dengan berbagai macam biaya-biaya beban perusahaan maka perusahaan membutuhkan current ratio sebesar 135,67%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan hanya sebesar 126,59%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2006 mempunyai kekurangan yang sangat besar, yaitu sebesar 1,9%. Jadi untuk tahun 2006 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar perusahaan hanya bisa untuk melunasi hutang-hutang perusahaan saja, dan tidak bisa untuk membayar biaya-biaya operasional perusahaan. Dan perusahaan tidak mampu untuk menambah persediaan. Pada tahun 2007 juga mengalami penurunan yang cukup tajam menjadi sebesar 110,98%, yang berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,10 aktiva lancar. Hal ini disebabkan oleh impasnya aktiva lancar perusahaan untuk membayar hutang-hutang lancarnya, akan tetapi untuk membayar biaya-biaya operasional perusahaan aktiva lancar belum bisa mencukupi. Oleh karena itu perusahaan perlu untuk menambah hutang jangka panjangnya. Karena modal perusahaan masih lebih besar jika dibandingkan dengan total hutang. Maka perusahaan dapat menambah hutang-hutang jangka panjangnya. Akan tetapi berbeda dengan rasio minimal perusahaan pada tahun 2007 ini, yang sudah dikurangi dengan berbagai macam biaya-biaya beban perusahaan yang harus dibayar atau dilunasi oleh perusahaan, maka dapat diketahui bahwa perusahaan membutuhkan current ratio sebesar 134,23%, sedangkan pada kondisi riil current ratio perusahaan pada tahun 2007 hanya sebesar 110,98%, maka dapat diketahui bahwa current ratio perusahaan pada tahun 2007 mempunyai kekurangan yang sangat besar, yaitu sebesar 23,25%. Jadi untuk tahun 2007 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena aktiva lancar perusahaan hanya bisa untuk melunasi hutanghutang perusahaan saja, dan tidak bisa untuk membayar biayabiaya operasional perusahaan. Dan perusahaan tidak mampu untuk menambah persediaan. Current Ratio selama tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 mengalami perubahan yang tidak stabil atau sangat berfluktuatif. Akan tetapi dari semua periode cenderung menurun. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perusahaan selama periode tahun tersebut kurang stabil atau tidak konsisten. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah hutang lancar dan juga meningkatnya biaya operasional dari tahun ke tahun. Akan tetapi walaupun kurang stabil, current ratio perusahaan dinilai baik atau bisa untuk melunasi hutang-hutang dan untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya. Tetapi jika dilihat dari rasio minimalnya, kinerja perusahaan masih dinilai kurang baik. Karena dapat dilihat dari kondisi riil Current Ratio ada yang jumlahnya lebih besar daripada rasio minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan. Dan juga ada yang kondisi riil Current ratio lebih kecil dari rasio minimal perusahaan. Tahun 2002 kondisi riil current rasio sebesar 226,78% sementara current rasio minimal yang harus dimiliki perusahaan hanya 152,87% jadi kelebihannya adalah 73,91%. Tahun 2003 kondisi riil current ratio 178,36% sementara rasio minimal 145,67% jadi kelebihannya adalah 32,69%. Tahun 2004 kondisi riilnya 161,82% sementara rasio minimalnya 149,33% jadi kelebihannya 12,49%. Tahun 2005 kondisi riilnya 135,22% sementara rasio minimalnya 143,91% jadi kekurangannya sebesar 8,69%. Tahun 2006 kondisi riilnya 126,59% sementara rasio minimalnya 135,67% jadi kekurangannya sebesar 1,9%. Dan tahun 2007 kondisi riilnya 110,98% sementara rasio minimalnya 134,23% jadi kekurangannya sebesar 23,25%. Kelebihan dan kekurangan dari aktiva lancar ini menunjukkan bahwa PT. Unilever Indonesia Tbk kurang efektif dalam mengelola aktivanya, hal ini terbukti dengan masih banyaknya aktiva yang menganggur dan adanya kekurangan aktiva yang digunakan untuk melunasi hutang lancarnya serta untuk membayar biaya operasional perusahaan. Current ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar tidak digunakan dengan efektif. Akan tetapi Current Ratio yang masih kurang untuk melunasi hutang itu kurang menguntungkan bagi perusahaan, karena dapat menyebabkan kerugian. Kelebihan dari current ratio tersebut dapat dimanfaatkan untuk membayar utang jangka panjang supaya bunga tidak naik. Dan ternyata perusahaan hanya mampu untuk membayar hutang-hutang lancar perusahaan dan tidak mampu untuk membayar biaya-biaya operasionalnya, apalagi perusahaan juga tidak dapat menambah jumlah persediaan. Akan tetapi untuk kekurangan Current Ratio, maka perusahaan dapat melakukan debt to equity ratio karena mengingat modal usaha perusahaan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan hutang lancar perusahaan. Hal ini dilakukan mengingat debt to equity ratio yang jumlahnya sangat tinggi. e.) Quick Rasio (Acid Test Ratio/Rasio Cepat) Quick Ratio (Rasio Cepat) dirancang untuk mengukur seberapa baik perusahaan dapat memenuhi kewajibannya, tanpa harus melikuidasi atau terlalu bergantung pada persediaannya. (Prastowo, 1995:58) Menurut Syamsuddin (2007:45), standar quick Ratio yang digunakan di perusahaan pada umumnya adalah 100% dan ini sudah dianggap baik karena semakin besar rasio ini semakin baik, tetapi seperti halnya current ratio, berapa quick rasio yang seharusnya, sangat tergantung pada jenis usaha dari masingmasing perusahaan. Adapun rumus dari Quick Ratio adalah sebagai berikut : Aktiva Lancar – Persediaan Quick Ratio = x 100 % Hutang Lancar Quick Ratio per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 QR = 939.191 2.129.877 − 383.902 x 100% = 212,99 % Tahun 2003 QR = 1.231.203 2.195.950 − 517.459 x 100% = 219,59 % Tahun 2004 QR = 1.231.868 1.993.446 − 628.826 x 100% = 199,34 % Tahun 2005 QR = 1.501.485 2.030.362 − 766.081 x 100% = 203,04 % Tahun 2006 QR = 2.057.451 2.604.552 − 763.398 x 100% = 260,46 % Tahun 2007 QR = 2.428.128 2.694.667 − 857.463 x 100% = 269,47 % Sebelum kita menilai Quick Ratio dari PT. Unilever, sebaiknya kita harus mengetahui berapa besar nilai rasio optimal yang dibutuhkan oleh PT. Unilever tersebut, dan seberapa nilai Quick Ratio yang cukup untuk digunakan menutup hutanghutang lancar perusahaan serta untuk membayar beban-beban operasional perusahaan. Sebagai perbandingan, akan disajikan rumus Rasio Minimal yaitu sebagai berikut : 1. Tahun 2002 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.129.877 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.343.260 Biaya TKL = 124.949 Penyusutan = (28.449) 3.439.760 Biaya administrasi = 462.586 Penyusutan = (10.878) 3.891.468 Biaya penjualan = 1.590.727 Penyusutan = (11.819) Biaya bunga = 70.149 Biaya Pajak = 417.964 5.958.489 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 496.540,75 Hutang lancar = 939.191 + 1.435.731,75 Sisa modal kerja bersih 694.145,25 Persediaan = 383.902 1.435.731,75- 383.902 Quick ratio minimal = x 100% 939.191 = 111,99% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2002 sebesar 111,99%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2002 sebesar 212,99%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 101 %. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. 2. Tahun 2003 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.195.950 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.586.583 Biaya TKL = 166.848 Penyusutan = (30.153) 3.723.278 Biaya administrasi = 500.054 Penyusutan = (12.698) 4.210.634 Biaya penjualan = 1.939.995 Penyusutan = (8.892) Biaya bunga = 72.234 Biaya Pajak = 534.007 6.747.978 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 562.331,5 Hutang lancar = 1.231.203 + 1.793.534,5 Sisa modal kerja bersih 402.415,5 Persediaan = 517.459 1.793.534,5-517.459 Quick ratio minimal = x 100% 1.231.203 = 103,64% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2003 sebesar 103,64%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2003 sebesar 219,59%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 115,95%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. 3. Tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 1.993.446 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 3.865.971 Biaya TKL = 177.990 Penyusutan = (37.710) 4.006.251 Biaya administrasi = 495.718 Penyusutan = (9.637) 4.492.332 Biaya penjualan = 2.134.577 Penyusutan = (11.585) Biaya bunga = 36.122 Biaya Pajak = 641.285 7.292.731 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 607.727,58 Hutang lancar = 1.231.868 + 1.839.595,58 Sisa modal kerja bersih 153.850,42 Persediaan = 628.826 1.839.595,58-628.826 Quick ratio minimal = x 100% 1.231.868 = 98,29% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2004 sebesar 98,29%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2004 sebesar 199,34%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 101,05%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. 4. Tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.030.362 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 4.248.059 Biaya TKL = 184.009 Penyusutan = (49.097) 4.382.971 Biaya administrasi = 591.250 Penyusutan = (10.518) 4.963.703 Biaya penjualan = 2.304.121 Penyusutan = (7.981) Biaya bunga = 28.700 Biaya Pajak = 624.421 7.912.964 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 659.413,67 Hutang lancar = 1.501.485 + 2.160.898,67 Kekurangan modal kerja bersih -130.536,67 Persediaan = 766.081 2.160.898,67-766.081 Quick ratio minimal = x 100% 1.501.485 = 92,89% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2005 sebesar 92,89%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2005 sebesar 203,04%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 110,15%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. 5. Tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.604.552 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 4.725.809 Biaya TKL = 188.845 Penyusutan = (61.762) 4.852.892 Biaya administrasi = 635.490 Penyusutan = (11.529) 5.476.853 Biaya penjualan = 2.559.943 Penyusutan = (12.442) Biaya bunga = 39.538 Biaya Pajak = 743.754 8.807.646 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 733.970,5 Hutang lancar = 2.057.451 + 2.791.421,5 Kekurangan modal kerja bersih -186.869,5 Persediaan = 763.398 2.791.421,5-763.398 Quick ratio minimal = x 100% 2.057.451 = 98,57% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2006 sebesar 98,57%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2006 sebesar 260,46%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 161,89%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. 6. Tahun 2007 (Dalam Jutaan Rupiah) AKTIVA LANCAR 2.694.667 Biaya operasional /tahun: Biaya produksi: Pemakaian bahan baku = 5.428.528 Biaya TKL = 233.878 Penyusutan = (82.956) 5.579.450 Biaya administrasi = 730.350 Penyusutan = (11.979) 6.297.821 Biaya penjualan = 2.790.002 Penyusutan = (14.735) Biaya bunga = 41.291 Biaya Pajak = 859.294 9.973.673 12 bln Rata-rata B. Operasional/bln = 831.139,41 Hutang lancar = 2.428.128 + 3.259.267,41 Kekurangan modal kerja bersih -564.600,41 Persediaan = 857.463 3.259.267,41-857.463 Current ratio minimal = x 100% 2.428.128 = 98,92% Jadi Quick ratio minimal perusahaan pada tahun 2007 sebesar 98,92%. Sedangkan Quick Ratio pada kondisi riil tahun 2007 sebesar 269,47%. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktiva lancar berlebihan sebesar 170,55%. Dengan adanya kelebihan aktiva lancar sebesar itu, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena masih terdapat banyak kelebihan aktiva lancar yang menganggur dan tidak berfungsi selain untuk persediaan dan setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan serta untuk membayar biaya operasional. Tabel 4.8 Perhitungan Quick Ratio (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Aktiva Lancar (1) Persediaan (2) Hutang Lancar (3) Quick Ratio (1-2:3)x100% Rasio Minimal 2002 2.129.877 383.902 939.191 212,99 % 111,99% 2003 2.195.950 517.459 1.231.203 219,59 % 103,64% 2004 1.993.446 628.826 1.231.868 199,34 % 98,29 % 2005 2.030.362 766.081 1.501.485 203,04 % 92,89 % 2006 2.604.552 763.398 2.057.451 260,46 % 98,57 % 2007 2.694.667 857.463 2.428.128 269,47 % 98,92 % *Sumber : Data primer diolah Dari hasil analisis Quick Ratio pada tabel 4.8 dapat diketahui bahwa laporan keuangan PT. Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2002 sebesar 212,99% yang menunjukkan bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 2,12 aktiva lancar. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menutup hutang lancarnya dengan aktiva lancar tanpa menjual persediaan. Dengan kondisi yang demikian, maka perusahaan dalam keadaan likuid. Akan tetapi jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2002 sebesar 111,99%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 212,99%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2002 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 101%. Jadi untuk tahun 2002 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2003 quick ratio mengalami kenaikan menjadi sebesar 219,59%, hal ini berarti bahwa untuk setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 2,19 aktiva lancar. Hal ini berarti bahwa perusahaan mempunyai quick Ratio yang cukup baik. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menutup hutang lancarnya dengan aktiva lancar. Maka dengan kondisi tersebut, perusahaan berada dalam kondisi likuid tanpa menjual persediaan. Kenaikan pada periode ini disebabkan oleh naiknya persediaan yang belum dijual oleh perusahaan. Akan tetapi jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2003 sebesar 103,64%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 219,59%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2003 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 115,95%. Jadi untuk tahun 2003 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2004, quick Ratio perusahaan mengalami penurunan menjadi 199,34%. Hal ini berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,99 aktiva lancar. Hal ini terjadi karena kenaikan aktiva lancar pada pos persediaan yaitu sebesar 21,52%, meski ada penurunan hutang lancar sebesar 0,05%. Penurunan hutang lancar disebabkan oleh rekening hutang usaha yang mengalami kenaikan sebesar 14,69% dan rekening biaya masih harus dibayar mengalami penurunan sebesar 11,69%. Jadi rasio tersebut tetap menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan likuid, tetapi kenaikan dan penurunan tingkat rasio tersebut menunjukkan bahwa kondisi perusahaan kurang stabil atau ada penurunan kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan karena perusahaan terlalu banyak menambah persediaan digudang, karena percaya sudah tidak ada resiko yang harus dibayar. Akan tetapi jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2004 sebesar 98,29%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 199,34%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2004 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 101,05%. Jadi untuk tahun 2004 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2005 perusahaan mengalami kenaikan lagi sebesar 3,7%, dan menjadi sebesar 203,04%. Hal ini berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 2,03 aktiva lancar. Kenaikan tingkat rasio ini disebabkan naiknya aktiva lancar, yang digunakan untuk menutup hutang-hutang lancarnya tanpa menjual persediaan. Jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2005 sebesar 92,89%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 203,04%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2005 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 110,15%. Jadi untuk tahun 2005 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2006 perusahaan mengalami kenaikan yang sangat tinggi yaitu sebesar 3,42%, dan menjadi sebesar 260,46%. Hal ini berarti bahwa setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 2,60 aktiva lancar. Kenaikan tingkat rasio ini disebabkan oleh naiknya aktiva lancar dan juga adanya kenaikan hutang lancar sebesar 5,74% dan hutang lancar naik sebesar 5,55%. Maka kenaikan aktiva lancar itu dinilai sebanding atau impas untuk menutupi hutang lancarnya dan masih ada sisa untuk persediaan, serta persediaan tersebut tidak dijual. Jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2006 sebesar 98,57%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 260,46%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2006 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 161,89%. Jadi untuk tahun 2006 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutanghutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Pada tahun 2007 perusahaan mengalami kenaikan menjadi sebesar 269,47%. Hal ini berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp. 2,69 aktiva lancar. Kenaikan pada periode ini disebabkan oleh kenaikan aktiva lancar pada pos persediaan yaitu sebesar 12,32%. Persediaan pada tahun ini juga tidak dijual untuk menutup hutang lancar perusahaan, karena aktiva lancar telah dinilai mencukupi untuk menutup semua hutang-hutang lancar. Jika dinilai dari rasio minimalnya quick ratio yang dibutuhkan oleh perusahaan pada tahun 2007 sebesar 98,92%, sedangkan pada kondisi riil quick ratio perusahaan sebesar 269,47%, maka dapat diketahui bahwa quick ratio perusahaan pada tahun 2007 mempunyai kelebihan yang sangat besar, yaitu sebesar 170,55%. Jadi untuk tahun 2007 ini, dapat dinilai bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan dan untuk membayar beban operasional, serta digunakan untuk menambah persediaan, maka masih banyak kelebihan aktiva lancar yang tidak berguna atau tidak digunakan dan tidak diputar sehingga banyak aktiva yang menganggur. Selama 6 periode tersebut yaitu antara tahun 2002-2007, dapat diketahui bahwa tingkat Quick Ratio yang telah dimiliki perusahaan sering terjadi kenaikan dan penurunan. Akan tetapi yang lebih banyak adalah kenaikan dan kenaikan yang terjadi pada tahun 2006 termasuk sangat drastis. Maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, hal ini dikarenakan oleh meningkatnya hutang lancar yang diikuti oleh meningkatnya biaya operasional dan juga persediaan. Akan tetapi masih banyak terdapat dana cair yang menganggur yang dinilai kurang produktif. Dari hasil perhitungan pada tabel diatas menunjukkan bahwa adanya aktiva lancar yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat pada kondisi riil quick ratio yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan quick rasio minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan. Tahun 2002 kondisi riil quick rasio sebesar 212,99% sementara quick rasio minimal yang harus dimiliki perusahaan hanya 111,99% jadi kelebihannya adalah 101%. Tahun 2003 kondisi riil quick ratio 219,59% sementara rasio minimal 103,64% jadi kelebihannya adalah 115,95%. Tahun 2004 kondisi riilnya 199,34% sementara rasio minimalnya 98,29% jadi kelebihannya 101,05%. Tahun 2005 kondisi riilnya 203,04% sementara rasio minimalnya 92,89% jadi kelebihannya sebesar 110,15%. Tahun 2006 kondisi riilnya 260,46% sementara rasio minimalnya 98,57% jadi kelebihannya sebesar 161,89%. Dan tahun 2007 kondisi riilnya 269,47% sementara rasio minimalnya 98,92% jadi kelebihannya sebesar 170,55%. Kelebihan dari aktiva lancar ini menunjukkan bahwa PT. Unilever Indonesia Tbk kurang efektif dalam mengelola aktivanya, hal ini terbukti dengan masih banyaknya aktiva yang menganggur. Quick ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar tidak didayagunakan dengan efektif. Dan masih banyak terdapat dana cair yang menganggur. Akan tetapi sebaiknya dana cair yang menganggur tersebut selain digunakan untuk melunasi hutanghutang dan untuk membayar biaya operasional, hendaknya dana tersebut diinvestasikan supaya jika sewaktu-waktu perusahaan membutuhkan dana, maka perusahaan dapat untuk menjual investasinya. f.) Cash Ratio (Rasio Kas) Cash Ratio atau rasio kas adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan porsi kas yang dapat menutupi hutang lancar. Adapun rumus dari Cash Ratio adalah : Kas Cash Ratio = x 100% Hutang Lancar Cash Ratio (Kas Rasio) per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 KR = 939.191 1.388.225 x 100% = 147,81% Tahun 2003 KR = 1.231.203 1.136.579 x 100% = 92,31% Tahun 2004 KR = 1.231.868 784.455 x 100% = 63,68% Tahun 2005 KR = 1.501.485 705.369 x 100% = 46,98% Tahun 2006 KR = 2.057.451 1.014.379 x 100% = 49,30% Tahun 2007 KR = 2.428.128 884.910 x 100% = 36,44% Tabel 4.9 Perhitungan Cash Ratio (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Kas (1) Hutang Lancar (2) Cash Ratio (1:2)x100% 2002 1.388.225 939.191 147,81% 2003 1.136.579 1.231.203 92,31% 2004 784.455 1.231.868 63,68% 2005 705.369 1.501.485 46,98% 2006 1.014.379 2.057.451 49,30% 2007 884.910 2.428.128 36,44% *Sumber : Data primer diolah Dari hasil analisis cash ratio pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa pada periode 2002 cash ratio menunjukkan nilai sebesar 147,81%. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 1,48 kas yang dimiliki perusahaan. Tingkat rasio ini menunjukkan pula kondisi perusahaan yang cukup likuid. Pada tahun 2002 ini dinilai likuid, karena antara hutang lancar dan kas perusahaan masih lebih tinggi nilai kas jika dibandingkan dengan hutang lancar perusahaan. Jadi perusahaan masih mampu untuk melunasi hutang-hutang lancarnya dengan menggunakan kas yang tersedia pada aktiva lancar perusahaan. Pada tahun 2003, cash ratio mengalami penurunan menjadi 92,31%. Ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 0,92 kas. Penurunan tingkat rasio tersebut disebabkan karena adanya kenaikan pada hutang lancar sebesar 2,92% dan dalam rupiah sebesar Rp. 292.012,- (dalam Jutaan Rupiah). Kenaikan hutang lancar disebabkan oleh naiknya semua rekening hutang lancar, kecuali hutang usaha. Namun rasio tersebut tetap menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan likuid, tetapi penurunan tingkat rasio tersebut menunjukkan adanya penurunan kinerja perusahaan. Akan tetapi walaupun hutang lancar semakin meningkat, jika dibandingkan dengan tahun 2002 perusahaan masih mampu untuk melunasi hutang lancarnya dengan menggunakan kas yang tersedia pada aktiva lancar perusahaan. Pada tahun 2004, cash ratio mengalami penurunan yaitu menjadi 63,68%. Penurunan tingkat rasio ini disebabkan oleh naiknya rekening kewajiban lancar, pada pos hutang usaha dari pihak ketiga dan dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa yaitu sebesar Rp. 48.821,- (dalan Jutaan Rupiah). Akan tetapi hutang lancar tersebut, sudah dapat tertutupi oleh aktiva lancar perusahaan. Namun rasio tersebut tetap menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan likuid, tetapi penurunan tingkat rasio tersebut menunjukkan adanya penurunan kinerja perusahaan. Pada tahun 2005, cash ratio juga mengalami penurunan yaitu menjadi 46,98%. Hal ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 0,47 kas yang dimiliki perusahaan. Penurunan tingkat rasio ini disebabkan adanya penurunan aktiva lancar. Penurunan ini terjadi karena adanya penurunan pada rekening hutang pajak. Akan tetapi menurunnya aktiva lancar ini tidak berpengaruh terhadap hutang lancar, karena walaupun aktiva lancar menurun, perusahaan masih bisa menutup hutang lancar dengan aktiva lancar yang dimiliki. Pada tahun 2006 terjadi kenaikan rasio menjadi 49,30%. Ini berarti bahwa setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 0,49 kas yang dimiliki perusahaan. Kenaikan ini terjadi karena adanya kenaikan pada aktiva lancar, yaitu pada pos persediaan dan pajak dibayar dimuka. Kenaikan tingkat rasio ini menyebabkan likuiditas perusahaan cukup baik, meskipun terjadi peningkatan yang kurang signifikan. Pada tahun 2007 terjadi penurunan cash ratio yang sangat drastis yaitu menjadi 36,44%. Ini berarti setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin dengan Rp. 0,37 kas yang dimiliki perusahaan. Penurunan ini terjadi karena adanya kenaikan pada aktiva lancar, yaitu pada pos piutang usaha dari pihak ketiga dan dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp. 80.152,- (dalam Jutaan Rupiah). Akan tetapi dengan naiknya aktiva lancar tersebut, bukan berarti hutang lancar perusahaan tidak dapat tertutupi, hutang lancar masih bisa ditutupi oleh aktiva lancar yang dimiliki, walaupun sisa untuk persediaan lebih sedikit. b. Rasio Profitabilitas Menurut Abdullah (2001:49-55), rasio–rasio profitabilitas dipergunakan berhubungan dengan penilaian terhadap kinerja keuangan dalam menghasilkan laba. Adapun rasio yang digunakan adalah sebagai berikut: e.) Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin) Rasio ini untuk mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibandingkan dengan total nilai penjualan bersih perusahaan. Adapun rumus dari Gross Profit Margin adalah sebagai berikut : Laba Kotor Gross Profit Margin = x 100 % Penjualan Gross Profit Margin per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 GPM = 7.015.181 3.368.801 x 100% = 48,02 % Tahun 2003 GPM = 8.123.625 4.217.075 x 100% = 51,91 % Tahun 2004 GPM = 8.984.822 4.669.493 x 100% = 51,97 % Tahun 2005 GPM= 9.992.135 4.925.773 x 100% = 49,29 % Tahun 2006 GPM = 11.335.241 5.630.803 x 100% = 49,68 % Tahun 2007 GPM = 12.544.901 6.297.712 x 100% = 50,20 % Tabel 4.10 Perhitungan Gross Profit Margin (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Laba Kotor (1) Penjualan (2) Gross Profit Margin (1:2)x100% 2002 3.368.801 7.015.181 48,02 % 2003 4.217.075 8.123.625 51,91 % 2004 4.669.493 8.984.822 51,97 % 2005 4.925.773 9.992.135 49,29 % 2006 5.630.803 11.335.241 49,68 % 2007 6.297.712 12.544.901 50,20 % *Sumber : Data primer diolah Perhitungan Gross Profit Margin yang terlihat pada tabel 4.10 menunjukkan bahwa pada tahun 2002 sebesar 48,02% yang berarti bahwa setiap penjualan Rp. 1,00 mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,48. Hal ini berarti bahwa untuk setiap penjualan bersih, perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,48. Dan laba kotor yang diperoleh perusahaan termasuk tinggi, karena perolehan laba kotor sebanding dengan penjualan perusahaan. Pada tahun 2003 mengalami peningkatan menjadi sebesar 51,91% yang berarti bahwa setiap penjualan Rp. 1,00 mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,52. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya laba kotor dan meningkatnya penjualan bersih. Penjualan pada tahun 2003 ini meningkat sebesar Rp. 1.108.444,- (Dalam Jutaan Rupiah), maka laba kotor juga meningkat menjadi Rp. 848.274,- (dalam Jutaan Rupiah). Peningkatan rasio ini dinilai baik, karena menunjukkan bahwa kinerja perusahaan baik, karena semakin meningkat rasio ini maka dapat berarti kinerja perusahaan dinilai baik. Pada tahun 2004 Gross Profit Margin mengalami kenaikan sedikit, tetapi tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan menunjukkan nilai sebesar 51,97% yang berarti bahwa setiap penjualan Rp. 1,00 mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,52 untuk setiap penjualan bersih. Kenaikan pada periode ini disebabkan oleh naiknya laba kotor dan penjualan bersih. Penjualan bersih meningkat sebesar Rp. 861.197,- (dalam Jutaan Rupiah), dan laba kotor yang diperoleh perusahaan meningkat sebesar Rp. 452.418,- (dalam Jutaan Rupiah). Peningkatan rasio ini dinilai baik, karena menunjukkan bahwa kinerja perusahaan baik, karena semakin meningkat rasio ini maka dapat berarti kinerja perusahaan dinilai baik. Pada tahun 2005 mengalami penurunan cukup banyak menjadi sebesar 49,29% yang berarti perusahaan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,49 untuk setiap penjualan bersih. Penurunan pada periode ini disebabkan oleh naiknya laba kotor sebesar 2,56% dan penjualan bersih meningkat sebesar 10,07%. Gross Profit Margin mengalami sedikit kenaikan pada tahun 2006 yaitu menjadi 49,68 % yang berarti setiap Rp. 1,00 penjualan bersih menghasilkan Rp. 0,49 laba kotor. Akan tetapi kenaikan tersebut masih kurang jika dibandingkan dengan tahun 2003 dan tahun 2004. kenaikan pada tahun ini disebabkan oleh naiknya penjualan bersih sebesar 13,43%, harga pokok penjualan sebesar 6,38% dan laba kotor sebesar 7,05%. Pada tahun 2007 Gross Profit Margin perusahaan mengalami kenaikan menjadi sebesar 50,20% yang berarti bahwa setiap penjualan Rp. 1,00 mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp. 0,50. Hal ini disebabkan oleh naiknya penjualan bersih sebesar 12,09%, naiknya harga pokok penjualan sebesar 5,42% dan naiknya laba kotor perusahaan sebesar 6,66%. Dalam periode tersebut yaitu antara tahun 2002 sampai tahun 2007 tingkat laba kotor selalu mengalami fluktuasi. Hal ini disebabkan karena adanya kenaikan penjualan bersih pada tahun 2004. Walaupun sempat mengalami penurunan pada tahun 2005, namun pada tahun 2006 dan tahun 2007 terus mengalami kenaikan sedikit. Akan tetapi masih tinggi Gross Profit Margin pada tahun 2003 dan 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor dari penjualan kurang begitu baik meski banyak terjadi kenaikan, sebab kenaikan tersebut terjadi relatif lambat. f.) Margin Laba Bersih (Net Profit Margin) Rasio laba bersih untuk mengukur besarnya laba bersih yang dicapai dari sejumlah penjualan tertentu. Adapun rumus dari Net Profit Margin adalah sebagai berikut : Laba Bersih Net Profit Margin = x 100% Penjualan Net Profit Margin per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 NPM = 7.015.181 978.249 x 100% = 13,94 % Tahun 2003 NPM = 8.123.625 1.296.711 x 100% = 15,96 % Tahun 2004 NPM = 8.984.822 1.468.445 x 100% = 16,34 % Tahun 2005 NPM= 9.992.135 1.440.485 x 100% = 14,42 % Tahun 2006 NPM = 11.335.241 1.721.595 x 100% = 15,19 % Tahun 2007 NPM = 12.544.901 1.964.652 x 100% = 15,67 % Tabel 4.11 Perhitungan Net Profit Margin (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Laba Bersih (1) Penjualan (2) Net Profit Margin (1:2)x100% 2002 978.249 7.015.181 13,94 % 2003 1.296.711 8.123.625 15,96 % 2004 1.468.445 8.984.822 16,34 % 2005 1.440.485 9.992.135 14,42 % 2006 1.721.595 11.335.241 15,19 % 2007 1.964.652 12.544.901 15,67 % *Sumber : Data primer diolah Jika dilihat dari rasio Net Profit Margin pada tabel 4.11 dapat diketahui bahwa pada tahun 2002 perusahaan menunjukkan nilai sebesar 13,94% yang berarti bahwa setiap Rp. 1,00 penjualan mampu menghasilkan laba usaha sebesar Rp. 0,13. Laba bersih yang diperoleh pada tahun ini dapat dikatakan paling rendah diantara tahun-tahun sesudahnya. Hal ini terjadi karena hasil penjualan dari perusahaan dapat dikatakan lebih sedikit dari tahun-tahun lainnya. Pada tahun 2003 perusahaan menunjukkan nilai 15,96%. Ini berarti bahwa setiap Rp. 1,00 penjualan mampu menghasilkan laba usaha sebesar Rp. 0,16. Kenaikan pada periode ini disebabkan oleh adanya kenaikan pada laba bersih yaitu sebesar Rp. 318.462,- (dalam Jutaan Rupiah) dan penjualan bersih meningkat sebesar Rp. 1.108.444,- (dalam Jutaan Rupiah). Karena dengan meningkatnya penjualan bersih pada tahun 2003 tersebut, perusahaan mampu memperoleh laba bersih yang meningkat pula. Pada tahun 2004 rasio Net Profit Margin mengalami kenaikan menjadi sebesar 16,34% yang berarti setiap Rp. 1,00 penjualan bersih mampu menghasilkan Rp. 0,16 laba usaha. Kenaikan ini juga disebabkan oleh naiknya laba bersih dan penjualan bersih. Penjualan bersih meningkat sebesar Rp. 861.197,- (dalam Jutaan Rupiah). Pada tahun 2005 rasio Net Profit Margin mengalami penurunan yang sedikit drastis yaitu menjadi 14,42% yang berarti perusahaan mampu menghasilkan laba usaha sebesar Rp. 0,14. Penurunan ini disebabkan oleh adanya penurunan laba bersih, padahal penjualan bersih meningkat. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan beban usaha dan beban-beban lain yang meningkat sebesar Rp. 265.076,- (dalam Jutaan Rupiah). Rasio Net Profit Margin mengalami sedikit kenaikan lagi pada tahun 2006 yaitu menjadi sebesar 15,19% yang berarti setiap Rp. 1,00 penjualan bersih mampu menghasilkan Rp. 0,15 laba usaha. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penjualan bersih dan meningkatnya laba bersih. Penjualan bersih meningkat tajam sebesar Rp. 1.343.106,- (dalam Jutaan Rupiah) dan laba bersih menjadi meningkat sebesar Rp. 281.110,- (dalam Jutaan Rupiah). Begitu pula pada tahun 2007 Net Profit Margin perusahaan mengalami kenaikan yaitu menjadi sebesar 15,67% yang berarti setiap Rp. 1,00 penjualan bersih mampu menghasilkan Rp. 0,15 laba usaha. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya laba bersih yang semakin tinggi karena tingkat penjualan bersih semakin meningkat. Dari perhitungan Net Profit Margin dari periode 2002-2007 dapat diketahui bahwa Net Profit Margin perusahaan cenderung meningkat meskipun ada beberapa periode yang mengalami penurunan. Akan tetapi masih banyak peningkatannya. Hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya penjualan bersih tanpa dikurangi beban-beban yang lain sehingga menjadikan laba bersih semakin meningkat dan semakin tinggi. g.) Rasio Return On Investment (ROI) Rasio ini sering disebut Return On total Assest (ROA) dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan yang dimiliki. Adapun rumus dari Return On Investment (ROI) adalah sebagai berikut : Laba Bersih Setelah Pajak Return On Investment = x 100 % Total Aktiva Return On Investment per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 ROI = 3.091.853 978.249 x 100% = 31,64 % Tahun 2003 ROI = 3.416.276 1.296.711 x 100% = 37,96 % Tahun 2004 ROI = 3.663.709 1.468.445 x 100% = 40,08 % Tahun 2005 ROI= 3.842.351 1.440.485 x 100% = 37,49 % Tahun 2006 ROI = 4.626.000 1.721.595 x 100% = 37,22 % Tahun 2007 ROI = 5.333.406 1.964.652 x 100% = 36,84 % Tabel 4.12 Perhitungan Return On Investment (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Laba Bersih (1) Total Aktiva (2) Return On Investment (1:2)x100% 2002 978.249 3.091.853 31,64 % 2003 1.296.711 3.416.276 37,96 % 2004 1.468.445 3.663.709 40,08 % 2005 1.440.485 3.842.351 37,49 % 2006 1.721.595 4.626.000 37,22 % 2007 1.964.652 5.333.406 36,84 % *Sumber : Data primer diolah Dari data tabel 4.12 perhitungan Return On Investment pada tahun 2002 menunjukkan nilai sebesar 31,64% yang berarti perusahaan mengalami laba bersih yang diperoleh sebesar 31,64% dari total aktiva. Pada tahun 2003 Return On Investment (ROI) meningkat menjadi sebesar 37,96%, yang berarti bahwa perusahaan mengalami laba bersih yang diperoleh sebesar 37,96% dari total aktiva yang meningkat sebesar 6,32%. Peningkatan total aktiva ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah aktiva lancar dan adanya kenaikan jumlah aktiva tidak lancar perusahaan. Pada tahun 2004 Return On Investment perusahaan mengalami kenaikan menjadi 40,08% yang berarti bahwa perusahaan mampu memperoleh laba bersih yang diperoleh sebesar 40,08% dari total aktiva. Kenaikan laba bersih pada tahun ini, dikarenakan oleh adanya peningkatan pada total aktiva yang naik sebesar 2,12% yaitu sebesar Rp. 247.433,- (dalam Jutaan Rupiah). Pada tahun 2005 perusahaan mengalami penurunan menjadi sebesar 37,49% tetapi perusahaan tidak sampai mengalami kerugian dan masih mampu menghasilkan laba bersih menjadi sebesar 37,49%. Penurunan Return On Investment ini dikarenakan oleh adanya laba bersih yang semakin menurun, akan tetapi total aktiva perusahaan meningkat. Hal ini berarti bahwa adanya penurunan pada pos aktiva lancar yaitu pada kas dan setara kas yang menurun sebesar Rp. 79.086,- (dalam Jutaan Rupiah). Dan juga adanya penurunan piutang usaha dan piutang lain-lain pada aktiva lancar. Sedangkan pada tahun 2006 Return On Investment perusahaan mengalami penurunan yang lebih banyak lagi menjadi sebesar 37,22%. Akan tetapi perusahaan tetap tidak mengalami kerugian, melainkan masih tetap mengalami laba bersih. Laba bersih yang diperoleh perusahaan disebabkan karena semakin meningkatnya total aktiva yang ada pada perusahaan. Pada tahun 2007 perusahaan mengalami penurunan menjadi sebesar 36,84% tetapi perusahaan tidak sampai mengalami kerugian dan masih mampu menghasilkan laba bersih menjadi sebesar 36,84%. Dari perhitungan Return On Investment mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 terlihat bahwa Return On Investment terus mengalami fluktuasi, meski tidak ada kerugian yang terjadi. Akan tetapi yang terjadi adalah penurunan laba bersih atau laba bersih yang berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan aktiva untuk menghasilkan laba bersih juga berfluktuasi atau tidak menentu. Selain itu nilai tukar rupiah yang cenderung naik turun juga berpengaruh terhadap beban bunga dan kurs nilai mata uang asing. h.) Return On Equity (ROE) Merupakan rasio pengukuran terhadap penghasilan yang dicapai bagi pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferend) atas modal yang diinvestasikan pada perusahaan. Adapun rumus dari Return On Equity adalah sebagai berikut : Laba Bersih Return On Equity = x 100 % Modal Sendiri Return On Equity per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 ROE = 2.019.748 978.249 x 100% = 48,43 % Tahun 2003 ROE = 2.095.659 1.296.711 x 100% = 61,88 % Tahun 2004 ROE = 2.296.684 1.468.445 x 100% = 63,94 % Tahun 2005 ROE = 2.173.526 1.440.485 x 100% = 66,27 % Tahun 2006 ROE = 2.368.527 1.721.595 x 100% = 72,69 % Tahun 2007 ROE = 2.692.141 1.964.652 x 100% = 72,98 % Tabel 4.13 Perhitungan Return On Equity (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Laba Bersih (1) Modal Sendiri (2) Return On Equity (1:2)x100% 2002 978.249 2.019.748 48,43 % 2003 1.296.711 2.095.659 61,88 % 2004 1.468.445 2.296.684 63,94 % 2005 1.440.485 2.173.526 66,27 % 2006 1.721.595 2.368.527 72,69 % 2007 1.964.652 2.692.141 72,98 % *Sumber : Data primer diolah Dari hasil analisis pada tabel 4.13 maka pada tahun 2002 perhitungan Return On Equity menunjukkan angka sebesar 48,43% yang berarti tingkat penghasilan yang diperoleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan mengalami laba sebesar 48,43%. Akan tetapi jika melihat besarnya modal sendiri atau investasi dari perusahaan, maka perusahaan tidak bisa menambah hutang jangka panjangnya dikarenakan antara hutang lancar dan modal sendiri, masih tinggi hutang lancar yang harus dibayar dan biaya-biaya operasional lain yang harus dibayar. Oleh karena itu, untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan jika modal lebih kecil, adalah hendaknya perusahaan menjual aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan, agar hutanghutang lancar dan semua biaya-biaya operasional bisa dibayar. Pada tahun 2003 menunjukkan nilai sebesar 61,88% yang berarti tingkat penghasilan yang diperoleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan mengalami laba sebesar 61,88%. Pada tahun 2004 tingkat Return On Equity mengalami kenaikan menjadi 63,94% yang terjadi karena adanya kenaikan pendapatan bersih yang disebabkan tidak adanya kerugian yang terjadi dan perusahaan telah mampu menghasilkan laba bersih. Pada tahun 2005 mengalami kenaikan yang cukup banyak yaitu menjadi sebesar 66,27% yang disebabkan tidak adanya kerugian yang terjadi pada tahun 2005 dan mampu menghasilkan nilai laba bersih. Hal ini juga disebabkan oleh turunnya laba bersih dan turunnya modal sendiri. Dan pada tahun 2006 perusahaan mengalami kenaikan laba bersih yang lebih tinggi lagi yaitu menjadi sebesar 72,69%. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya laba bersih dan modal sendiri. Pada tahun 2007 perusahaan mengalami kenaikan laba bersih yang lebih tinggi lagi yaitu menjadi sebesar 72,98%. Kenaikan ini ditandai oleh meningkatnya laba bersih yang sangat tinggi dan meningkatnya modal sendiri. Dari perkembangan tingkat Return On Equity mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 dapat diketahui bahwa tingkat penghasilan yang diperoleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan sudah cukup tinggi dikarenakan terjadi kenaikan dari tahun ke tahun. Dan perusahaan tidak mengalami kerugian sama sekali pada periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Akan tetapi jika melihat besarnya modal sendiri atau investasi dari perusahaan, maka perusahaan tidak bisa menambah hutang jangka panjangnya dikarenakan antara hutang lancar dan modal sendiri, masih tinggi hutang lancar yang harus dibayar dan biayabiaya operasional lain yang harus dibayar. Oleh karena itu, untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan jika modal lebih kecil, adalah hendaknya perusahaan menjual aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan, agar hutang-hutang lancar dan semua biayabiaya operasional bisa dibayar. c. Rasio Solvabilitas Rasio yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada dua rasio yang digunakan untuk mengukur rasio solvabilitas menurut Abdullah, 2001:45-47 yaitu: c.) Total Debt Ratio (Rasio Hutang) Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin hutang-hutangnya dengan sejumlah aktiva yang dimiliki. Semakin tinggi debt ratio semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. (Syamsuddin, 2007:54) Menurut Kretarto (2001:56) rata-rata industri untuk rasio ini yang baik adalah 33%. Adapun rumus dari Total Debt Ratio adalah sebagai berikut : Total Hutang Total Debt Ratio = x 100% Total Aktiva Total Debt Ratio per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 DR = 3.091.853 1.052.403 x 100% = 34,04 % Tahun 2003 DR = 3.416.276 1.311.867 x 100% = 38,40 % Tahun 2004 DR = 3.663.709 1.348.742 x 100% = 36,81 % Tahun 2005 DR = 3.842.351 1.658.391 x 100% = 43,16 % Tahun 2006 DR = 4.626.000 2.249.381 x 100% = 48,63 % Tahun 2007 DR = 5.333.406 2.639.287 x 100% = 49,49 % Tabel 4.14 Perhitungan Total Debt Ratio (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Total Hutang (1) Total Aktiva (2) Total Debt Ratio (1:2)x100% 2002 1.052.403 3.091.853 34,04 % 2003 1.311.867 3.416.276 38,40 % 2004 1.348.742 3.663.709 36,81 % 2005 1.658.391 3.842.351 43,16 % 2006 2.249.381 4.626.000 48,63 % 2007 2.639.287 5.333.406 49,49 % *Sumber : Data primer diolah Dari tabel 4.14 terlihat bahwa pada tahun 2002, Total Debt Ratio menunjukkan nilai sebesar 34,04%. Tingkat rasio ini menunjukkan bahwa sebesar Rp. 0,34 dari setiap Rp. 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Dan dapat diketahui bahwa antara total hutang dengan total aktiva masih tinggi atau lebih besar total aktiva. Pada tahun 2003 menunjukkan nilai sebesar 38,40 %. Tingkat rasio ini menunjukkan bahwa sebesar Rp. 0,38 dari setiap Rp. 1,00 total aktiva merupakan pendanaan dari hutang. Pada periode ini total debt ratio meningkat karena adanya peningkatan total aktiva walaupun juga total kewajiban (hutang) juga meningkat. Pada tahun 2004, Total Debt Ratio mengalami penurunan menjadi 36,81 %. Penurunan total debt ratio ini terjadi karena adanya kenaikan total hutang dan juga diikuti oleh kenaikan dari total aktivanya. Total hutang naik sekitar 3,68% dan total aktivanya juga naik sekitar 2,47%. kenaikan dari total hutang ini disebabkan karena naiknya nilai dari pos-pos pada hutang lancar tersebut. Tingkat total debt ratio sebesar 36,81% tersebut menunjukkan bahwa aktiva perusahaan yang didanai oleh hutang sebesar 36,81%, sedangkan sisanya sebesar 63,19% dari modal. Pada tahun 2005, Total Debt Ratio mengalami kenaikan menjadi 43,16%. Ini berarti bahwa aktiva perusahaan yang didanai oleh hutang sebesar 43,16% sedangkan sisanya sebesar 56,84% didanai oleh modal. Kenaikan rasio ini disebabkan oleh naiknya total aktiva dan total hutangnya. Pada tahun 2006, Total Debt ratio perusahaan mengalami kenaikan lagi menjadi sebesar 48,63%. Hal ini berarti bahwa aktiva perusahaan yang didanai oleh hutang sebesar 48,63% dan sisanya sebesar 51,37% didanai oleh modal. Kenaikan rasio ini dipengaruhi oleh naiknya total aktiva dan juga total hutang. Pada tahun 2007 Total Debt ratio perusahaan mengalami kenaikan lagi menjadi sebesar 49,49%. Hal ini berarti bahwa aktiva perusahaan yang didanai oleh hutang sebesar 49,49% dan sisanya sebesar 50,51% didanai oleh modal. Kenaikan rasio ini dipengaruhi oleh naiknya total aktiva dan juga total hutang. Dari perkembangan Total Debt Ratio perusahaan mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan bahwa tingkat rasio selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena jumlah hutang dan aktiva selalu meningkat dari tahun ke tahun. d.) Total Debt To Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Modal) Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai oleh pihak kreditur. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar dana yang diambil dari luar dan semakin kecil rasio ini berarti semakin besar modal yang berasal dari pemegang saham sendiri. Adapun rumusnya adalah : Total Hutang Total Debt to Equity Ratio = x 100 % Modal Sendiri Total Debt to Equity Ratio per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 TDR = 2.019.748 1.052.403 x 100% = 52,11 % Tahun 2003 TDR = 2.095.659 1.311.867 x 100% = 62,59 % Tahun 2004 TDR = 2.296.684 1.348.742 x 100% = 58,73 % Tahun 2005 TDR = 2.173.526 1.658.391 x 100% = 76,29 % Tahun 2006 TDR = 2.368.527 2.249.381 x 100% = 94,97 % Tahun 2007 TDR = 2.692.141 2.639.287 x 100% = 98,04 % Tabel 4.15 Perhitungan Total debt to Equity Ratio (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Total Hutang (1) Modal Sendiri (2) Total Debt to Equity Ratio (1:2)x100% 2002 1.052.403 2.019.748 52,11 % 2003 1.311.867 2.095.659 62,59 % 2004 1.348.742 2.296.684 58,73 % 2005 1.658.391 2.173.526 76,29 % 2006 2.249.381 2.368.527 94,97 % 2007 2.639.287 2.692.141 98,04 % *Sumber : Data primer diolah Dari hasil pada tabel 4.15 dapat diketahui bahwa pada tahun 2002, Total Debt to Equity Ratio adalah sebesar 52,11%. Rasio ini menunjukkan bahwa Rp. 0,52 dari setiap Rp. 1,00 modal sendiri menjadi jaminan hutang. Dan hal ini menunjukkan tingginya perusahaan dibelanjai oleh pihak sendiri (modal sendiri). Hal ini adalah baik untuk perusahaan. Dan pada tahun ini hutang lancar masih bisa ditanggung oleh modal sendiri, karena antara total hutang dan modal sendiri masih lebih tinggi modal sendiri. Pada tahun 2003 menunjukkan nilai sebesar 62,59%. Rasio ini menunjukkan bahwa Rp. 0,63 dari setiap Rp. 1,00 modal sendiri menjadi jaminan hutang. Dan hal ini menunjukkan tingginya perusahaan dibelanjai oleh pihak sendiri (modal sendiri). Hal ini baik untuk perusahaan. Akan tetapi pada tahun 2003 ini total hutang semakin meningkat. Dan pada tahun ini hutang lancar masih bisa ditanggung oleh modal sendiri, karena antara total hutang dan modal sendiri masih lebih tinggi modal sendiri. Pada tahun 2004, Total Debt to Equity Ratio mengalami penurunan menjadi sebesar 58,73%. Ini berarti bahwa Rp. 0,59 dari setiap Rp. 1,00 modal sendiri menjadi jaminan hutang. Penurunan tingkat ratio ini karena adanya penurunan hutang usaha pada aktiva tidak tetap, sedangkan ekuitas perusahaan mengalami kenaikan. Penurunan total hutang ini dinilai baik karena dapat meningkatkan aktiva lancar dan juga modal sendiri. Pada tahun 2005, Total Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan menjadi sebesar 76,29% yang berarti bahwa Rp. 0,77 dari setiap Rp. 1,00 modal sendiri menjadi jaminan hutang. Kenaikan tingkat rasio ini disebabkan oleh naiknya total aktiva dan naiknya total hutang. Akan tetapi kenaikan ini menyebabkan kinerja perusahaan dinilai kurang baik karena total hutang semakin meningkat. Dan pada tahun 2006, Total Debt to Equity Ratio perusahaan mengalami kenaikan yang lebih tinggi lagi yaitu menjadi sebesar 94,97% yang berarti bahwa Rp. 0,95 dari setiap modal sendiri menjadi jaminan hutang. Kenaikan yang semakin tinggi ini menyebabkan nilai kinerja perusahaan semakin buruk, karena dapat menghabiskan modal sendiri dan total aktiva untuk membayar total hutang yang semakin meningkat. Pada tahun 2007 menunjukkan nilai sebesar 98,04 yaitu perusahaan mengalami kenaikan yang semakin tinggi lagi yang berarti bahwa Rp. 0,98 dari setiap modal sendiri menjadi jaminan hutang. Kenaikan yang semakin tinggi pada tahun 2007 ini menyebabkan nilai kinerja perusahaan semakin memburuk, karena dapat menghabiskan modal sendiri dan total aktiva untuk membayar hutang yang semakin meningkat. Dari perkembangan Total Debt to Equity Ratio perusahaan mulai tahun 2002 sampai tahun 2006 menunjukkan bahwa tingkat rasio yang dihasilkan terus mengalami kenaikan. Hal ini terjadi karena total hutang dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan, tetapi naiknya total aktiva hanya sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin tidak mampu untuk mendanai perusahaan dengan modal yang dimilikinya sendiri. Oleh karena itu perusahaan perlu untuk menjual aktiva tetap yang dimilikinya untuk menutup semua hutang-hutangnya. d. Rasio Aktivitas Rasio Aktivitas merupakan rasio yang mengukur seberapa efektif dan efisien suatu perusahaan dalam pendayagunaan aktiva yang dimiliki dan dalam pengelolaan sumber-sumber dananya. Rumus Rasio Aktivitas adalah sebagai berikut : 1. Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over) Rasio ini menunjukkan bagaimana efektivitas penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan didalam menghasilkan volume penjualan dan mendapatkan laba. Bila diukur dari volume penjualan, semakin tinggi rasio ini semakin baik, yang berarti kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan yang baik dan bila perputarannya lamban menunjukkan hambatan dan kemungkinan turunnya penjualan. Adapun rumusnya adalah : Jumlah Aktiva Penjualan Netto Perputaran Total Aktiva = x 100% Perputaran Total Aktiva (TATO) per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 TATO = 3.091.853 7.015.181 x 100% = 22,7 kali Tahun 2003 TATO = 3.416.276 8.123.625 x 100% = 23,8 kali Tahun 2004 TATO = 3.663.709 8.984.822 x 100% = 24,5 kali Tahun 2005 TATO = 3.842.351 9.992.135 x 100% = 26 kali Tahun 2006 TATO = 4.626.000 11.335.241 x 100% = 24,5 kali Tahun 2007 TATO = 5.333.406 12.544.901 x 100% = 23,5 kali Tabel 4.16 Perhitungan Total Asset Turn Over (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Penjualan Netto (1) Total Aktiva (2) Total asset Turn Over (1:2)x100% 2002 7.015.181 3.091.853 22,7 kali 2003 8.123.625 3.416.276 23,8 kali 2004 8.984.822 3.663.709 24,5 kali 2005 9.992.135 3.842.351 26 kali 2006 11.335.241 4.626.000 24,5 kali 2007 12.544.901 5.333.406 23,5 kali *Sumber : Data primer diolah Pada tabel 4.16 dapat diketahui bahwa dari perhitungan Total Asset Turn Over (TATO) perusahaan terungkap bahwa dana yang ada dalam total aktiva berputar sebanyak 22,7 kali pada tahun 2002. Dan hal ini dapat berarti bahwa perputaran pada tahun ini sedikit, maka dapat dipastikan bahwa banyak dana cair yang menganggur atau tidak berfungsi dan tidak digunakan. Karena hasil dari penjualan tinggi serta aktiva lancar yang dimiliki juga tinggi, sementara hutang yang ditanggung masih rendah. Pada tahun 2003 mengalami kenaikan menjadi 23,8 kali. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan penjualan dan kenaikan total aktivanya. Dalam hal ini berarti bahwa dana cair yang ada setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang dapat digunakan untuk persediaan. Supaya tidak banyak dana cair yang menganggur. Pada tahun 2004, Total Asset Turn Over mengalami kenaikan menjadi 24,5 kali. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan penjualan dan kenaikan total aktivanya. Hal ini berarti bahwa dana cair yang ada setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang dapat digunakan untuk persediaan. Supaya tidak banyak dana cair yang menganggur. Pada tahun 2005, mengalami kenaikan lagi menjadi 26 kali. Dikarenakan oleh adanya kenaikan penjualan dan kenaikan total aktivanya. Hal ini menunjukkan bahwa dana cair yang ada setelah digunakan untuk melunasi hutang-hutang dapat digunakan untuk persediaan. Supaya tidak banyak dana cair yang menganggur. Akan tetapi pada tahun 2006, Total Asset Turn Over perusahaan mengalami penurunan menjadi 24,5 kali. Dikarenakan adanya kenaikan penjualan yang sangat drastis akan tetapi total aktivanya hanya mengalami sedikit kenaikan. Pada tahun 2007 Total Asset Turn Over perusahaan mengalami penurunan menjadi 23,5 kali. Dikarenakan adanya kenaikan penjualan yang sangat drastis akan tetapi total aktivanya hanya mengalami sedikit kenaikan. Dari Total Asset Turn Over yang dimiliki perusahaan mulai tahun 2002 sampai tahun 2007 terungkap bahwa tingkat rasio yang dihasilkan terus mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2006 dan tahun 2007. Tingkat kenaikan yang terjadi pada beberapa periode ini berjalan cukup lambat bahkan pada periode terakhir mengalami penurunan, hal ini menunjukkan bahwa tingkat rasio rendah dan berarti penggunaan total aktiva yang tidak efisien dalam perusahaan. Jika perusahaan ingin menaikkan lagi tingkat rasio perputaran aktiva lancar, maka sebaiknya penjualan harus ditingkatkan atau beberapa aktiva tetap yang tidak berguna agar dijual. 2. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turn Over) Rasio ini menggambarkan berapa kali persediaan barang berputar atau dana yang tertanam dalam satu periode. Rumusnya adalah : Harga Pokok Penjualan Perputaran Persediaan = Persediaan Rata-rata Perputaran Persediaan (ITO) per tahun dapat dihitung sebagai berikut : Tahun 2002 ITO = − 3.646.380 = - (tidak Diketahui) Tahun 2003 ITO = 450.680,5 3.906.550 = 8,67 kali Tahun 2004 ITO = 573.142,5 4.315.329 = 7,53 kali Tahun 2005 ITO = 697.453,5 5.066.362 = 7,27 kali Tahun 2006 ITO = 764.739,5 5.704.438 = 7,46 kali Tahun 2007 ITO = 810.430,5 6.247.189 = 7,71 kali Tabel 4.17 Perhitungan Perputaran Persediaan (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun HPP (1) Persediaan Rata-rata (2) Inventory Turn Over (1:2) 2002 3.646.380 - - 2003 3.906.550 450.680,5 8,67 kali 2004 4.315.329 573.142,5 7,53 kali 2005 5.066.362 697.453,5 7,27 kali 2006 5.704.438 764.739,5 7,46 kali 2007 6.247.189 810.430,5 7,71 kali *Sumber : Data primer diolah Jika dilihat dari tabel 4.17 maka dapat diketahui bahwa nilai rata-rata perputaran persediaan pada tahun 2002 tidak ada perputaran, karena nilai persediaan rata-rata untuk tahun 2002 tidak diketahui. Pada tahun 2003 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata perputaran persediaan menunjukkan nilai sebesar 8,67 kali. Pada tahun 2004 nilai rata-rata perputaran persediaan yang menurun dan menunjukkan angka 7,53 kali. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan nilai rata-rata persediaan dan oleh adanya kenaikan harga pokok penjualan. Pada tahun 2005 nilai rata-rata perputaran persediaan mengalami penurunan yaitu menunjukkan angka 7,27 kali. Hal ini disebabkan oleh adanya kenaikan nilai rata-rata persediaan dan disebabkan oleh adanya kenaikan harga pokok penjualan. Pada tahun 2006 nilai rata-rata perputaran persediaan mengalami kenaikan menjadi sebesar 7,46 kali, dikarenakan adanya kenaikan harga pokok penjualan dan kenaikan rata-rata persediaan. Pada tahun 2007 nilai rata-rata perputaran persediaan mengalami kenaikan menjadi sebesar 7,71 kali, dikarenakan adanya kenaikan harga pokok penjualan dan kenaikan rata-rata persediaan. Berdasarkan penilaian kinerja perusahaan dengan menggunakan rasio yang meliputi rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas, maka dapat disusun tabel mengenai rasio keuangan perusahaan dari perhitungan beberapa rasio-rasio diatas. Perhitungan mengenai rasio keuangan perusahaan tersebut adalah sebagai berikut : Tabel 4.18 Angka Rasio Keuangan Rasio 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rasio Likuiditas a.Current Ratio 226,78 % 178,36 % 161,82 % 135,22 % 126,59 % 110,98 % b.Quick Ratio 212,99 % 219,59 % 199,34 % 203,04 % 260,46 % 269,47 % c.Cash Ratio 147,81 % 92,31 % 63,68 % 46,98 % 49,30 % 36,44 % Rasio Profitabilitas a) GPM 48,02 % 51,91 % 51,97 % 49,29 % 49,68 % 50,20 % b) NPM 13,94 % 15,96 % 16,34 % 14,42 % 15,19 % 15,67 % c) ROI 31,64 % 37,96 % 40,08 % 37,49 % 37,22 % 36,84 % d) ROE 48,43 % 61,88 % 63,94 % 66,27 % 72,69 % 72,98 % Rasio Solvabilitas a) Total Debt Ratio 34,04 % 38,40 % 36,81 % 43,16 % 48,63 % 49,49 % b) Total Debt to Equity Ratio 52,11 % 62,59 % 58,73 % 76,29 % 94,97 % 98,04 % Rasio Aktivitas a) TATO 22,7 kali 23,8 kali 24,5 kali 26 kali 24,5 kali 23,5 kali b) Inventory Turn Over - 8,67 kali 7,53 kali 7,27 kali 7,46 kali 7,71 kali *Sumber : Data diolah dari tabel 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16 dan 17 Maka dari tabel angka rasio keuangan diatas dapat diketahui nilainilai dari rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas untuk mengukur kinerja perusahaan. Dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan tidak stabil dan berfluktuasi, kadang-kadang mengalami kenaikan bahkan tidak jarang pula perusahaan mengalami penurunan. Hal ini antara lain disebabkan karena perusahaan kurang stabil dalam mempertahankan kinerja perusahaan. Selain itu juga dipengaruhi adanya kemampuan perusahaan yang cenderung terus menurun dalam menghasilkan laba dari setiap penjualan yang dilakukan. 1. Rasio Likuiditas Selama 6 periode tersebut perhitungan rasio likuiditas PT. Unilever Indonesia Tbk juga menunjukkan tingkat rasio yang berfluktuasi yang berarti adanya ketidakstabilan perusahaan dalam kinerja keuangannya. Sehingga hal ini berakibat kurang baiknya kondisi likuiditas yang dimiliki perusahaan. Ketidakstabilan ini disebabkan adanya penurunan nilai rasio likuiditas pada setiap tahun yaitu tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006 dan 2007. Penurunan Current Ratio ini disebabkan karena adanya kenaikan pada jumlah kewajiban lancar setiap tahunnya, naiknya rekening hutang usaha dan rekening biaya yang masih harus dibayar. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perusahaan selama periode tahun tersebut kurang stabil atau tidak konsisten. Akan tetapi walaupun kurang stabil, current ratio perusahaan dinilai baik atau bisa untuk melunasi hutang-hutang dan untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya. Tetapi jika dilihat dari rasio minimalnya, kinerja perusahaan masih dinilai kurang baik. Karena perusahaan hanya mampu untuk membayar hutang-hutang lancar perusahaan dan tidak mampu untuk membayar biaya-biaya operasionalnya, apalagi perusahaan juga tidak dapat menambah jumlah persediaan. Karena dapat dilihat dari kondisi riil Current Ratio ada yang jumlahnya lebih besar daripada rasio minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan. Dan juga ada yang kondisi riil Current ratio lebih kecil dari rasio minimal perusahaan. Kelebihan dan kekurangan dari aktiva lancar ini menunjukkan bahwa PT. Unilever Indonesia Tbk kurang efektif dalam mengelola aktivanya, hal ini terbukti dengan masih banyaknya aktiva yang menganggur dan adanya kekurangan aktiva yang digunakan untuk melunasi hutang lancarnya serta untuk membayar biaya operasional perusahaan. Current ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar tidak digunakan dengan efektif. Akan tetapi Current Ratio yang masih kurang untuk melunasi hutang itu kurang menguntungkan bagi perusahaan, karena dapat menyebabkan kerugian. Kelebihan dari current ratio tersebut dapat dimanfaatkan untuk membayar utang jangka panjang supaya bunga tidak naik. Dan ternyata perusahaan hanya mampu untuk membayar hutang-hutang lancar perusahaan dan tidak mampu untuk membayar biaya-biaya operasionalnya, apalagi perusahaan juga tidak dapat menambah jumlah persediaan. Akan tetapi untuk kekurangan Current Ratio, maka perusahaan dapat melakukan debt to equity ratio karena mengingat modal usaha perusahaan masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan hutang lancar perusahaan. Hal ini dilakukan mengingat debt to equity ratio yang jumlahnya sangat tinggi. Akan tetapi Quick Ratio selama 6 periode yaitu antara tahun 2002-2007, dapat diketahui bahwa tingkat Quick Ratio yang telah dimiliki perusahaan sering terjadi kenaikan dan penurunan. Dan yang lebih banyak adalah kenaikan dan kenaikan yang terjadi pada tahun 2006 termasuk sangat drastis. Maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, hal ini dikarenakan oleh meningkatnya hutang lancar yang diikuti oleh meningkatnya biaya operasional dan juga persediaan. Akan tetapi masih banyak terdapat dana cair yang menganggur yang dinilai kurang produktif. Maka hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan kurang baik, karena dalam hal ini berarti kinerja manajemen perusahaan masih dinilai kurang baik. Sebab masih banyak terdapat dana cair yang menganggur yang dinilai kurang produktif. Dari hasil diatas menunjukkan bahwa adanya aktiva lancar yang berlebihan. Hal ini dapat dilihat pada kondisi riil quick ratio yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan quick rasio minimal yang harus dimiliki oleh perusahaan. Kelebihan dari aktiva lancar ini menunjukkan bahwa PT. Unilever Indonesia Tbk kurang efektif dalam mengelola aktivanya, hal ini terbukti dengan masih banyaknya aktiva yang menganggur. Quick ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar tidak didayagunakan dengan efektif. Dan masih banyak terdapat dana cair yang menganggur. Akan tetapi sebaiknya dana cair yang menganggur tersebut selain digunakan untuk melunasi hutang-hutang dan untuk membayar biaya operasional, hendaknya dana tersebut diinvestasikan supaya jika sewaktu-waktu perusahaan membutuhkan dana, maka perusahaan dapat untuk menjual investasinya. Dari hasil analisis cash ratio menunjukkan bahwa pada periode 2002 kondisi perusahaan yang cukup likuid. Pada tahun 2002 ini dinilai likuid, karena antara hutang lancar dan kas perusahaan masih lebih tinggi nilai kas jika dibandingkan dengan hutang lancar perusahaan. Jadi perusahaan masih mampu untuk melunasi hutanghutang lancarnya dengan menggunakan kas yang tersedia pada aktiva lancar perusahaan. Pada tahun 2003, cash ratio mengalami penurunan. Penurunan tingkat rasio tersebut disebabkan karena adanya kenaikan pada hutang lancar. Kenaikan hutang lancar disebabkan oleh naiknya semua rekening hutang lancar, kecuali hutang usaha. Namun rasio tersebut tetap menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan likuid, tetapi penurunan tingkat rasio tersebut menunjukkan adanya penurunan kinerja perusahaan. Akan tetapi walaupun hutang lancar semakin meningkat, jika dibandingkan dengan tahun 2002 perusahaan masih mampu untuk melunasi hutang lancarnya dengan menggunakan kas yang tersedia pada aktiva lancar perusahaan. Pada tahun 2004, cash ratio mengalami penurunan. Penurunan tingkat rasio ini disebabkan oleh naiknya rekening kewajiban lancar, pada pos hutang usaha dari pihak ketiga dan dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Akan tetapi hutang lancar tersebut, sudah dapat tertutupi oleh aktiva lancar perusahaan. Namun rasio tersebut tetap menunjukkan kondisi perusahaan dalam keadaan likuid, tetapi penurunan tingkat rasio tersebut menunjukkan adanya penurunan kinerja perusahaan. Pada tahun 2005, cash ratio juga mengalami penurunan. Penurunan tingkat rasio ini disebabkan adanya penurunan aktiva lancar. Penurunan ini terjadi karena adanya penurunan pada rekening hutang pajak. Akan tetapi menurunnya aktiva lancar ini tidak berpengaruh terhadap hutang lancar, karena walaupun aktiva lancar menurun, perusahaan masih bisa menutup hutang lancar dengan aktiva lancar yang dimiliki. Pada tahun 2006 terjadi kenaikan rasio. Kenaikan ini terjadi karena adanya kenaikan pada aktiva lancar, yaitu pada pos persediaan dan pajak dibayar dimuka. Kenaikan tingkat rasio ini menyebabkan likuiditas perusahaan cukup baik, meskipun terjadi peningkatan yang kurang signifikan. Pada tahun 2007 terjadi penurunan cash ratio yang sangat drastis. Penurunan ini terjadi karena adanya kenaikan pada aktiva lancar. Akan tetapi dengan naiknya aktiva lancar tersebut, bukan berarti hutang lancar perusahaan tidak dapat tertutupi, hutang lancar masih bisa ditutupi oleh aktiva lancar yang dimiliki, walaupun sisa untuk persediaan lebih sedikit. 2. Rasio Profitabilitas Jika dilihat dari tabel angka rasio keuangan maka dapat ditentukan besarnya rasio profitabilitas dengan menggunakan rasio Gross Profit Margin dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Nilai dari rasio profitabilitas ini secara keseluruhan memiliki nilai yang berfluktuasi atau tidak stabil dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 ke tahun 2003 mengalami kenaikan, dan juga pada tahun 2004 mengalami kenaikan, namun dengan tingkat kenaikan yang tidak terlalu besar atau tergolong lambat. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan perusahaan dalam memperoleh laba kotor dalam setiap penjualannya. Sedangkan pada tahun 2005 mengalami pernurunan dan pada tahun 2006 dan tahun 2007 mengalami kenaikan lagi. Jika di lihat dari rasio Net Profit Margin, pada tahun 2003 mengalami kenaikan, sedangkan pada tahun 2004 mengalami kenaikan, namun pada tahun 2005 mengalami penurunan disebabkan kurang efektifnya perusahaan dalam memperoleh laba dari volume penjualan yang dilakukan, dan dihitung dari laba bersih yang didapat sesudah pajak. Dan pada tahun 2006 dan 2007 perusahaan mengalami kenaikan lagi. Untuk rasio Return On Investment (ROI) secara keseluruhan juga menunjukkan nilai yang berfluktuasi atau tidak stabil dari 6 periode tersebut. Pada periode tahun 2004 mengalami kenaikan dan pada periode 2005, periode 2006 dan periode 2007 mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih bila diukur dari total aktiva yang dimilikinya. Sedangkan pada rasio Return On Equity (ROE) secara keseluruhan juga menunjukkan nilai yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berarti bahwa perusahaan sudah mampu memperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. 3. Rasio Solvabilitas Dari tabel rasio keuangan diatas dapat diketahui nilai prosentase rasio solvabilitas mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Nilai rasio solvabilitas pada 6 periode tersebut mengalami fluktuasi atau tidak stabil. Akan tetapi kebanyakan rasio solvabilitas mengalami kenaikan yang sangat besar dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban-kewajiban yang dimiliki perusahaan dari 6 periode tersebut semakin bertambah. Pada tahun 2002 nilai rasio solvabilitas yang dimiliki perusahaan cukup tinggi terutama pada rasio hutang terhadap aktiva, yang berarti resiko hutang terhadap aktiva yang dimiliki perusahaan juga semakin tinggi. Hal ini akan menyebabkan kesulitan bila terjadi likuidasi. Namun pada tahun 2003 mengalami kenaikan dan kenaikan ini disebabkan oleh adanya kenaikan dari total hutang dan total aktiva. Pada tahun 2004 rasio solvabilitas mengalami penurunan lagi dengan persentase yang tidak begitu tajam. Penurunan ini disebabkan oleh adanya penurunan pada total hutang, yang berasal dari rekening hutang usaha dan hutang pajak serta penurunan dari total hutang lancar. Pada periode 2005, 2006 dan 2007 mengalami kenaikan yang cukup besar dan sangat drastis. Hal ini dikarenakan oleh adanya kenaikan total hutang dan total aktiva yang cukup signifikan. Jadi hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kemampuan dalam menutupi hutang-hutang yang dimilikinya. 4. Rasio Aktivitas Sedangkan rasio aktivitas selama 6 periode tersebut juga menunjukkan nilai yang berfluktuasi atau tidak stabil. Dan bila mengalami kenaikan itupun juga tidak terlalu cepat atau lambat, hal ini disebabkan kurang efektifnya dalam pendayagunaan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Pada periode 2002-2007 mengalami kenaikan pada rasio perputaran total aktiva, namun kenaikan ini tidak terlalu besar atau lambat. Kenaikan uang lambat ini disebabkan kurang efektifnya pengelolaan aktiva dalam menciptakan penjualan. Sedangkan rasio perputaran persediaan pada periode 2002 sampai dengan 2005 mengalami penurunan yang juga tidak terlalu drastis atau terbilang lambat. Dan pada tahun 2006 dan 2007 mengalami kenaikan. Kenaikan ini dapat dilihat dari periode perputaran persediaan pada tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 yang bergerak fluktuatif. Hal ini disebabkan kurang efektifnya perusahaan dalam perputaran persediaan yang dimiliki sehingga rasio aktivitas perusahaan bergerak lambat. Sehingga dari tabel angka rasio keuangan diatas dapat diketahui hubungan antar rasio yang mencerminkan kinerja perusahaan. Ditinjau dari rasio likuiditas dapat disimpulkan bahwa perusahaan tersebut memiliki nilai yang berfluktuasi atau tidak stabil, hal ini menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dalam menutup kewajiban jangka pendeknya masih rendah. Sedangkan ditinjau dari rasio profitabilitas menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor dari penjualan kurang begitu baik meski banyak terjadi kenaikan, sebab kenaikan tersebut terjadi relatif lambat dan semakin tahun perusahaan semakin banyak mengalami kerugian. Sedangkan ditinjau dari rasio solvabilitas menunjukkan nilai yang semakin meningkat atau disebut nilai rasio besar dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan dalam menutup kewajiban jangka panjangnya yang dimiliki terhadap modal dan aktiva perusahaan. Dari semua rasio tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai rasio yang dimiliki perusahaan berfluktuasi atau tidak stabil. Hal ini karena perusahaan masih memerlukan usaha untuk menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan agar lebih stabil lagi. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penilaian kinerja perusahaan melalui analisis laporan keuangan dengan menggunakan alat berupa rasio keuangan yang telah diuraikan pada BAB IV yang meliputi rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio solvabilitas, dan rasio aktivitas, maka dapat diambil suatu perbandingn rasio keuangan mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Dengan mengadakan perbandingan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Rasio Likuiditas Rasio Likuiditas perusahaan dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan bahwa kinerja perusahaan berfluktuasi atau tidak stabil. Hal ini berarti manajemen perusahaan masih kurang stabil dalam mengelola perusahaannya. Current Ratio, Quick ratio, dan Cash ratio selama tahun 2002 sampai tahun 2007 terus berfluktuasi atau tidak stabil dan menandakan kondisi perusahaan juga tidak stabil atau cenderung rendah. 2. Rasio Profitabilitas Secara keseluruhan keadaan profitabilitas perusahaan dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan tingkat rasio yang berfluktuasi atau tidak menentu dari tahun ke tahun. Ketidakstabilan tersebut disebabkan karena adanya kenaikan penjualan bersih pada tahun 2004. Walaupun sempat mengalami penurunan pada tahun 2005, namun pada tahun 2006 dan tahun 2007 terus mengalami kenaikan sedikit. Akan tetapi masih tinggi Gross Profit Margin pada tahun 2003 dan 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba kotor dari penjualan kurang begitu baik meski banyak terjadi kenaikan, sebab kenaikan tersebut terjadi relatif lambat. Dari perhitungan Net Profit Margin dari periode 2002-2007 dapat diketahui bahwa Net Profit Margin perusahaan cenderung meningkat meskipun ada beberapa periode yang mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh terus meningkatnya penjualan bersih tanpa dikurangi beban-beban yang lain sehingga menjadikan laba bersih semakin meningkat dan semakin tinggi. Dari perhitungan Return On Investment mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 terlihat bahwa Return On Investment terus mengalami fluktuasi, meski tidak ada kerugian yang terjadi. Akan tetapi yang terjadi adalah penurunan laba bersih atau laba bersih yang berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan aktiva untuk menghasilkan laba bersih juga berfluktuasi atau tidak menentu. Dari perkembangan tingkat Return On Equity mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 dapat diketahui bahwa tingkat penghasilan yang diperoleh pemilik perusahaan atas modal yang diinvestasikan sudah cukup tinggi dikarenakan terjadi kenaikan dari tahun ke tahun. Dan perusahaan tidak mengalami kerugian sama sekali pada periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2007. Akan tetapi jika melihat besarnya modal sendiri atau investasi dari perusahaan, maka perusahaan tidak bisa menambah hutang jangka panjangnya dikarenakan antara hutang lancar dan modal sendiri, masih tinggi hutang lancar yang harus dibayar dan biaya-biaya operasional lain yang harus dibayar. Oleh karena itu, untuk melunasi hutang-hutang lancar perusahaan jika modal lebih kecil, adalah hendaknya perusahaan menjual aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan, agar hutang-hutang lancar dan semua biaya-biaya operasional bisa dibayar. 3. Rasio Solvabilitas Rasio Solvabilitas dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 terus mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa resiko keuangan perusahaan semakin besar yang berarti bahwa aktiva perusahaan yang didanai dengan hutang juga semakin besar. Dari perkembangan Total Debt Ratio perusahaan mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan bahwa tingkat rasio selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena jumlah hutang dan aktiva selalu meningkat dari tahun ke tahun. Total Debt to Equity Ratio perusahaan mulai tahun 2002 sampai tahun 2006 menunjukkan bahwa tingkat rasio yang dihasilkan terus mengalami kenaikan. Hal ini terjadi karena total hutang dari tahun ke tahun selalu mengalami kenaikan, tetapi naiknya total aktiva hanya sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin tidak mampu untuk mendanai perusahaan dengan modal yang dimilikinya sendiri. Oleh karena itu perusahaan perlu untuk menjual aktiva tetap yang dimilikinya untuk menutup semua hutang-hutangnya. 4. Rasio Aktivitas Rasio Aktivitas mulai tahun 2002 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan bahwa tingkat rasio semakin baik. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam mengelola aktiva perusahaan semakin efektif. B. Saran Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam kinerja perusahaan, maka akan dikemukakan saran-saran sebagai berikut : 1. Hendaknya perusahaan menjaga tingkat rasio likuiditas yang optimal untuk menghindari adanya tingkat likuiditas yang terlalu tinggi, karena tingkat likuiditas yang terlalu tinggi menandakan adanya aktiva lancar yang berlebih diperusahaan yang seharusnya bisa dipergunakan secara efisien untuk meningkatkan laba. Begitu pula sebaliknya bila terlalu rendah maka kurang efektif dalam mengelola aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba perusahaan. Hal ini dapat diketahui karena current ratio selalu berfluktuasi sering meningkat dan menurun. Dan quick ratio perusahaan yang juga selalu berfluktuasi. 2. Perusahaan hendaknya lebih efisien dan efektif dalam mengawasi tingkat biaya penjualan agar kenaikan sebanding dengan kenaikan tingkat penjualan. Dan laba yang diperoleh semakin tinggi. 3. Pihak manajemen sebaiknya dapat lebih meningkatkan tingkat margin laba perusahaan. Karena dengan meningkatkan tingkat margin laba perusahaan, maka diharapkan perusahaan dapat melunasi hutang-hutang lancarnya dan juga biaya operasionalnya. 4. Sebaiknya pihak manajemen dapat lebih meningkatkan dan memperbaiki kinerja perusahaan secara keseluruhan agar perusahaan lebih baik lagi. Maka saran untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan adalah sebagai berikut : a) Dengan menjual aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan. Seperti menjual kendaraan dinas yang bukan operasional. b) Terus mendayagunakan aktiva perusahaan untuk meningkatkan laba dengan cara menekan biaya-biaya yang tidak penting, seperti : • Biaya promosi dibebankan kepada distributor lain atau sub distributor sehingga biaya-biaya dapat ditekan. • Outsoursing tenaga pemasaran menggunakan sistem komisi berdasarkan target keberhasilan penjualan. c) Peka terhadap naik turunnya nilai tukar rupiah, yaitu dengan cara siap untuk menghadapi kejadian itu dengan menggunakan solusi yang tepat agar laba perusahaan tetap meningkat, dengan cara mengurangi produk lisensi sehingga menekan biaya pembayaran mata uang asing. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Faisal., 2001. Dasar-Dasar Manajemen keuangan. Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Baridwan, Zakki. 2000. Intermediate Accounting. Edisi Ketujuh. Penerbit BPFE: Yogyakarta. Bringham, F Eugene dan Joil F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan. Penerbit Erlangga: Surabaya. Bunging, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial Format-format Kuantitatif Dan Kualitatif. Penerbit Erlangga: Surabaya. Drucker, P. F. 1998. Pengantar Manajemen. Pustaka Binamas Pressindo : Jakarta. Harahap, Sofyan Syarif. 1999. Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Helfert, Erich, A. 1993. Analisis Laporan Keuangan. Erlangga : Jakarta. Ikatan Akuntansi Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Penerbit Salemba Empat: Jakarta. Fitria, Ika Diana. 2004. Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Rokok (studi kasus pada PT. Gudang Garam, Tbk dan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk). Skripsi. Universitas Islam Negeri Malang. Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metode Penelitian Bisnis. Edisi Pertama Cetakan Pertama. Penerbit BPFE: Yogyakarta. Kretarto, Agus. 2001. Investor Relations: Pemasaran dan Komunikasi Keuangan Perusahaan Berbasis Kepatuhan. Penerbit Grafiti Pres: Jakarta. Muhammad, 2002. Pengantar Akuntansi Syari’ah. Edisi Pertama, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Munawir, 1990. Analisa Laporan Keuangan. Cetakan Pertama, Edisi Keempat, Penerbit Liberty: Yogyakarta. Ningsih, Sulistyowati. 2006. Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. ASTRA INTERNASIONAL Tbk. Skripsi. Universitas Islam Negeri Malang. Prastowo, Dwi. 1995. Analisa Laporan Keuangan (Konsep Dan Aplikasi). Penerbit UPP AMP YKPN: Yogyakarta. Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat, Cetakan ketiga, Penerbit BPFE UGM: Yogyakarta. Sofiyati, Nanik. 2005. Analisis Rasio Keuangan Sebagai Salah Satu Alat untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT. Gudang Garam Tbk. Skripsi, Universitas Islam Negeri Malang. Sundjaja, Ridwan dan Inge Berlian. 2003. Manajemen Keuangan. Penerbit Literata Lintas Media: Jakarta. Suryani, Lili Dwi. 2006. Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Skripsi. Universitas Islam Negeri Malang. Syamsuddin, Lukman. 2004. Manajemen Keuangan Perusahaan (Konsep Aplikasi Dalam Perencanaan Pengawasan Dan Pengambilan Keputusan). Penerbit PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta. Van Horne, James And Wachocicz, Jr, terjemahan Heru Sutojo. 1997. Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Edisi Kesembilan. Salemba: Jakarta. Wijaya, Amin, 1995. Kamus Bisnis dan Manajemen. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta. Yamit, Zuliant. 2001. Manajemen Keuangan (Ringkasan Teori Dan Penyelesaian Soal). Ekomisia: Yogyakarta. LAMPIRAN I PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2002 DAN 2001 Jutaan Rupiah, kecuali nilai nominal per lembar saham Catatan 2002 2001 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 3 1.388.225 1.105.735 Piutang usaha (Setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar 2.054 pada tahun 2002 dan 1.408 pada tahun 2001) 2f, 2g, 4 - Pihak ketiga 206.771 264.990 - Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 56.421 35.659 Piutang lain-lain 5, 7m 33.072 30.130 Persediaan 2h, 6 383.902 301.318 Pajak dibayar dimuka 2n, 13c 15.416 595 Biaya dibayar dimuka 2l, 8 46.070 36.673 Jumlah Aktiva Lancar 2.129.877 1.775.100 AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 7b 7.394 16.100 Aktiva pajak tangguhan, bersih 2n, 13b 42.186 31.464 Aktiva tetap 2i, 9a 745.295 676.805 (Setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar 270.095 pada tahun 2002 dan 224.682 pada tahun 2001) Aktiva tidak berwujud 2j, 10 98.276 106.034 (Setelah dikurangi akumulasi amortisasi sebesar 29.310 pada tahun 2002 dan 21.552 pada tahun 2001) Aktiva lain-lain 2l, 7m, 11 68.825 76.522 Jumlah Aktiva Tidak Lancar 961.976 906.925 JUMLAH AKTIVA 3.091.853 2.682.025 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2002 DAN 2001 Jutaan Rupiah, kecuali nilai nominal per lembar saham Catatan 2002 2001 KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha 12 - Pihak ketiga 538.563 570.797 - Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 6.871 2.710 Hutang pajak 2n, 13d 99.283 35.517 Biaya masih harus dibayar 14 288.140 198.063 Hutang lain-lain 2e, 15 6.334 6.020 Jumlah Kewajiban Lancar 939.191 813.107 KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 7c 33.441 31.979 Kewajiban estimasian untuk kompensasi karyawan 2q 31.841 30.323 Kewajiban pensiun 2o, 16 47.930 71.506 Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 113.212 133.808 HAK MINORITAS 17 19.702 6.911 EKUITAS Modal saham 18 76.300 76.300 (Modal dasar, seluruhnya ditempatkan dan disetor penuh : 763.000.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 100 per lembar saham untuk tahun 2002 dan 2001) Agio saham 19 15.227 15.227 Selisih penilaian kembali aktiva tetap 2i 154 154 Saldo laba yang dicadangkan 21 15.260 15.260 Saldo laba yang belum dicadangkan 1.912.807 1.621.258 Jumlah Ekuitas 2.019.748 1.728.199 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.091.853 2.682.025 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2002 DAN 2001 Jutaan Rupiah Catatan 2002 2001 PENJUALAN BERSIH 2m, 22 7.015.181 6.012.611 BEBAN POKOK PENJUALAN 2m, 23 (3.646.380) (3.221.217) LABA KOTOR 3.368.801 2.791.394 BEBAN USAHA (2.053.313) (1.612.913) Beban pemasaran dan penjualan 2m, 24a (1.590.727) (1.236.175) Beban umum dan administrasi 2m, 24b (462.586) (376.738) LABA USAHA 1.315.488 1.178.481 PENGHASILAN/(BEBAN) LAIN-LAIN 69.016 79.775 (Rugi)/laba penjualan aktiva tetap 2i, 9c (537) 1.807 (Rugi)/laba selisih kurs, bersih 2d (596) 32.318 Pendapatan bunga 70.149 45.650 LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 1.384.504 1.258.256 Beban pajak penghasilan 2n, 13a (417.964) (371.401) LABA SEBELUM HAK MINORITAS 966.540 886.855 HAK MINORITAS ATAS BAGIAN RUGI BERSIH ANAK PERUSAHAAN 17 11.709 89 LABA BERSIH 978.249 886.944 Laba usaha per saham (dalam Rupiah penuh) 2r 1.724 1.544 Laba bersih per saham (dalam Rupiah penuh) 2r, 26 1.282 1.162 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2002 DAN 2001 Jutaan Rupiah Cata tan Modal saha m Agio Saham Selisih penilaian kembali aktiva tetap Saldo laba yang dicadangkan Saldo laba yang belum dicadangkan Jumlah Saldo per 31 Desember 2000 (Perseroan) 76.300 15.227 154 15.260 1.318.618 1.425.559 Penyesuaian sehubungan dengan kewajiban diestimasi untuk kompensasi karyawan 2q - - - - (28.120) (28.120) Penyesuaian untuk pajak tangguhan 13b - - - - 8.436 8.436 Laba bersih tahun berjalan - - - - 886.944 886.944 Dividen 20 - - - - (564.620) (564.620) Saldo per 31 Desember 2001 (Konsolidasian) 76.300 15.227 154 15.260 1.621.258 1.728.199 Laba bersih tahun berjalan - - - - 978.249 978.249 Dividen 20 - - - - (686.700) (686.700) Saldo per 31 Desember 2002 (Konsolidasian) 76.300 15.227 154 15.260 1.912.807 2.019.748 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2002 DAN 2001 Jutaan Rupiah Catatan 2002 2001 Arus kas dari aktivitas operasi Penerimaan kas dari pelanggan 7.517.843 6.488.698 Penerimaan kas dari pendapatan bunga 70.149 45.650 Pembayaran pinjaman karyawan (1.960) (13.910) Pembayaran kas kepada pemasok (5.369.770) (4.493.023) Pembayaran kas kepada direktur dan karyawan (418.641) (263.220) Pembayaran iuran pensiun (54.659) (34.167) Pembayaran kas untuk service fee (234.819) (176.153) Pembayaran pajak penghasilan badan (365.235) (431.723) Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi 1.142.908 1.122.152 Arus kas dari aktivitas investasi Pembelian aktiva tetap (138.511) (215.846) Hasil penjualan aktiva tetap 17.878 3.074 Setoran modal pemegang saham minoritas 24.500 7.000 Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi (96.133) (205.772) Arus kas dari aktivitas pendanaan Pembayaran dividen (686.700) (564.620) Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan (686.700) (564.620) Kenaikan bersih kas dan setara kas 360.075 351.760 Dampak perubahan kurs terhadap kas dan setara kas (77.585) 31.328 Kas dan setara kas – awal tahun 1.105.735 722.647 Kas dan setara kas – akhir tahun 3 1.388.225 1.105.735 23.Beban Pokok Penjualan Komponen beban pokok penjualan adalah sebagai berikut: Bahan baku - Awal tahun 99.556 165.244 - Pembelian 3.368.196 2.845.585 3.467.752 3.010.829 - Akhir tahun (124.492) (99.556) Bahan baku yang digunakan 3.343.260 2.911.273 Biaya tenaga kerja langsung 124.949 73.941 Penyusutan 28.449 22.798 Beban pabrikasi lainnya 207.370 167.538 Jumlah beban produksi 3.704.028 3.175.550 Barang dalam proses - Awal tahun 8.673 1.326 - Akhir tahun (6.736) (8.673) Harga pokok produksi 3.705.965 3.168.203 Barang jadi - Awal tahun 193.089 246.103 - Akhir tahun (252.674) (193.089) Tidak ada pembelian ke pemasok tunggal yang melebihi 10% total pembelian barang dan jasa Grup. Pembelian Grup dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa, pada tahun 2002 dan 2001 masing-masing berjumlah Rp 191.023 dan Rp 80.617 untuk tahun yang berakhir berturut-turut pada 31 Desember 2002 dan 2001, yang mana setara dengan 5,16% dan 2,61% dari total seluruh pembelian barang dan jasa. Pembelian barang dan jasa dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa terdiri dari: 191.023 80.617 PT Kimberly Lever Indonesia 126.330 72.479 PT Anugrah Setia Lestari 58.048 3.460 Lipton Ltd Mombasa 6.241 3.028 Diversey Lever Ltd 369 1.076 Lain-lain (masing-masing saldo kurang dari 1.000) 35 574 24. a. Beban pemasaran dan penjualan 1.590.727 1.236.175 Iklan, promosi dan riset 999.779 794.541 Penyusutan aktiva tetap 11.819 6.750 Gaji dan tunjangan 204.684 170.169 Perjalanan dinas dan entertainmen 17.933 46.335 Reparasi dan pemeliharaan 5.407 5.528 Biaya distribusi 289.048 143.748 Lain-lain 62.057 69.104 b. Beban umum dan administrasi 462.586 376.738 Service fee 230.204 201.994 Gaji dan tunjangan 61.921 59.370 Pensiun 31.083 29.056 Telekomunikasi 25.491 21.591 Penyusutan aktiva tetap 10.878 13.751 Sewa gedung 23.828 23.684 Jasa konsultan 23.204 18.461 Lain-lain 55.977 8.831 25. Biaya karyawan 391.554 324.308 Jumlah karyawan permanen Grup pada tanggal 31 Desember 2002 dan 2001 masing-masing adalah 2.819 dan 2.467 orang. 26. Laba bersih per saham 1.282 1.162 Laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih kepada pemegang saham dengan rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar pada tahun bersangkutan. Laba bersih kepada pemegang saham 978.249 886.944 Rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar (dalam ribuan) 763.000 763.000 Laba bersih per saham dasar (Rupiah penuh) 1.282 1.162 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2004 dan 2003 Jutaan Rupiah Catatan 2004 2003 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 4 784.455 1.136.579 Piutang usaha (Setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp 6.118 pada tahun 2004 dan Rp 2.856 pada tahun 2003) - Pihak ketiga 2g, 5 453.869 423.701 - Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2d, 5 41.178 41.271 Piutang lain-lain 2f, 6 28.228 20.499 Persediaan 2h, 7 628.826 517.459 (Setelah dikurangi penyisihan persediaan usang dan persediaan tidak terpakai/tidak laris sebesar Rp 23.247 pada tahun 2004 dan Rp 24.878 pada tahun 2003) Pajak dibayar di muka 2n, 14c 6.765 11.323 Biaya dibayar di muka 2l, 9 50.125 45.118 Jumlah Aktiva Lancar 1.993.446 2.195.950 AKTIVA TIDAK LANCAR Piutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2d, 8c 15.408 29.087 Aktiva pajak tangguhan, bersih 2n, 14b 52.226 40.399 Aktiva tetap 2i, 10a 1.348.402 876.480 (Setelah dikurangi akumulasi penyusutan sebesar Rp 295.231 pada tahun 2004 dan Rp 285.301 pada tahun 2003) Aktiva tidak berwujud 2j, 11 175.675 188.434 (Setelah dikurangi akumulasi amortisasi sebesar Rp 51.911 pada tahun 2004 dan Rp 39.152 pada tahun 2003) Aktiva lain-lain 2l, 12 39.571 35.360 Biaya pensiun dibayar di muka 2o, 17 38.981 50.566 Jumlah Aktiva Tidak Lancar 1.670.263 1.220.326 JUMLAH AKTIVA 3.663.709 3.416.276 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2004 dan 2003 Jutaan Rupiah kecuali nilai nominal per lembar saham Catatan 2004 2003 KEWAJIBAN LANCAR Hutang usaha - Pihak ketiga 13 311.346 316.893 - Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2d, 13 69.840 15.472 Hutang pajak 2n, 14d 197.076 122.784 Biaya masih harus dibayar 15 335.398 379.838 Hutang lain-lain 16 318.208 396.216 Jumlah Kewajiban Lancar 1.231.868 1.231.203 KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang pada pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2d, 8d 64.408 32.850 Kewajiban imbalan kerja 2o, 17 52.466 47.814 Jumlah Kewajiban Tidak Lancar 116.874 80.664 HAK MINORITAS 18a 18.283 8.750 EKUITAS Modal saham 19 76.300 76.300 (Modal dasar, seluruhnya ditempatkan dan disetor penuh : 7.630.000.000 lembar saham biasa dengan nilai nominal Rp 10 per lembar saham untuk tahun 2004 dan 2003) Agio saham 20 15.227 15.227 Selisih penilaian kembali aktiva tetap 2i, 10b 287.593 154 Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali 3, 21 80.773 - Saldo laba yang dicadangkan 23 15.848 15.260 Saldo laba yang belum dicadangkan 1.820.943 1.988.718 Jumlah Ekuitas 2.296.684 2.095.659 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 3.663.709 3.416.276 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004 dan 2003 Jutaan Rupiah kecuali laba bersih per saham dasar Catatan 2004 2003 PENJUALAN BERSIH 2m, 24 8.984.822 8.123.625 HARGA POKOK PENJUALAN 2m, 25 (4.315.329) (3.906.550) LABA KOTOR 4.669.493 4.217.075 BEBAN USAHA (2.630.295) (2.440.049) Beban pemasaran dan penjualan 2m, 26a (2.134.577) (1.939.995) Beban umum dan administrasi 2m, 26b (495.718) (500.054) LABA USAHA 2.039.198 1.777.026 PENGHASILAN/(BEBAN) LAIN-LAIN 69.215 42.740 Kerugian pelepasan aktiva tetap 2i, 10d (3.748) (28.283) Laba/(rugi) selisih kurs, bersih 2e 36.841 (913) Pendapatan bunga 36.122 72.234 Lain – lain - (298) LABA SEBELUM PAJAK PENGHASILAN 2.108.413 1.819.766 Beban pajak penghasilan 2n, 14a (641.285) (534.007) LABA SEBELUM HAK MINORITAS 1.467.128 1.285.759 HAK MINORITAS ATAS BAGIAN RUGI BERSIH ANAK PERUSAHAAN 1.317 10.952 Laba bersih anak perusahaan 18b 1.123 11.146 Pengembalian/(selisih lebih) akumulasi kerugian anak perusahaan atas modal disetor pemegang saham minoritas 18a 194 (194) LABA BERSIH 1.468.445 1.296.711 LABA BERSIH PER SAHAM DASAR 2q, 28 192 170 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASIAN UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA 31 DESEMBER 2004 dan 2003 Jutaan Rupiah Catatan Modal saham Agio Saham Selisih penilaian kembali aktiva tetap Selisih nilai transaksi restrukturisasi antar entitas sepengendali Saldo laba yang dicadang -kan Saldo laba yang belum dicadangkan Jumlah Saldo per 31 Desember 2002 76.300 15.227 154 - 15.260 1.912.807 2.019.748 Laba bersih tahun berjalan - - - - - 1.296.711 1.296.711 Dividen 22 - - - - - (1.220.800 ) (1.220.800 ) Saldo per 31 Desember 2003 76.300 15.227 154 - 15.260 1.988.718 2.095.659 Laba bersih tahun berjalan - - - - - 1.468.445 1.468.445 Akumulasi defisit PT Knorr Indonesia - - - - - (110.220) (110.220) Transaksi restrukturisa si antar entitas sepengendal i 3, 21 - - - 80.773 - - 80.773 Surplus penilaian kembali aktiva tetap 2i, 10b - - 287.439 - - - 287.439 Pengembalian dividen yang tidak diambil - - - - 588 - 588 Dividen 22 - - - - (1.526.000) (1.526.000) Saldo per 31 Desember 2004 76.300 15.227 287.593 80.773 15.848 1.820.943 2.296.684 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 Jutaan Rupiah kecuali dinyatakan lain 2004 2003 37 25. Harga pokok penjualan 4.315.329 3.906.550 Komponen beban pokok penjualan adalah sebagai berikut: Bahan baku - Awal tahun 140.775 124.715 - Pembelian 3.917.068 3.602.643 4.057.843 3.727.358 - Akhir tahun (191.872) (140.775) Bahan baku yang digunakan 3.865.971 3.586.583 Biaya tenaga kerja langsung 177.990 166.848 Penyusutan 37.710 30.153 Beban pabrikasi lainnya 287.588 245.053 Jumlah biaya produksi 4.369.259 4.028.637 Barang dalam proses - Awal tahun 7.694 6.736 - Akhir tahun (8.454) (7.694) Harga pokok produksi 4.368.499 4.027.679 Barang jadi - Awal tahun 373.803 252.674 - Akhir tahun (426.973) (373.803) Tidak ada pembelian dari pemasok tunggal yang melebihi 10% dari total pembelian barang dan jasa Grup. Pembelian bahan baku Grup dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa, pada tahun 2004 dan 2003 masingmasing berjumlah Rp 460.465 dan Rp 447.264, setara dengan 11,76% dan 12,41% dari total seluruh pembelian bahan baku. Pembelian bahan baku dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa terdiri dari: 460.465 447.264 PT Kimberly Lever Indonesia 184.820 177.812 PT Anugrah Setia Lestari 174.207 167.521 PT Technopia Jakarta 89.379 85.508 Lipton Ltd. Mombasa 12.059 15.765 Lain-lain (masing-masing saldo kurang dari Rp 1.000) - 658 26. a. Beban pemasaran dan penjualan 2.134.577 1.939.995 Iklan, promosi dan riset 1.413.801 1.271.508 Biaya distribusi 316.472 305.754 Remunerasi 260.712 235.544 Perjalanan dinas dan jamuan 18.778 18.470 Sewa gedung 17.626 19.493 Penyusutan aktiva tetap 11.585 8.892 Telekomunikasi 11.408 7.017 Reparasi dan pemeliharaan 7.572 6.542 Lain-lain (masing-masing saldo kurang dari Rp 1.000) 76.623 66.775 PT UNILEVER INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 Jutaan Rupiah kecuali dinyatakan lain 2004 2003 38 b. Beban umum dan administrasi 495.718 500.054 Jasa servis (service fee) 283. 067 264.176 Remunerasi 54.4 74 67.100 Pensiun 43.8 71 33.281 Telekomunikasi 32.7 56 29.222 Sewa gedung 24.7 68 23.775 Jasa konsultan 17.9 95 19.258 Pendidikan dan pelatihan 14.8 96 11.515 Penyusutan aktiva tetap 9.63 7 12.698 Perjalanan dinas dan jamuan 7.92 2 10.013 Penyisihan piutang ragu-ragu 3.613 943 Reparasi dan pemeliharaan 2.243 4.237 Lain-lain (masing-masing saldo kurang dari Rp 1.000) 476 23.836 27. Biaya karyawan 493. 176 469.492 Jumlah karyawan permanen Grup pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003 masing-masing adalah 3.013 dan 2.957 orang. Pada tanggal 31 Desember 2004 dan 2003, anak perusahaan (PT Anugrah Lever dan PT Technopia Lever) tidak mempunyai karyawan tetap. 28. Laba bersih per saham dasar Laba bersih kepada pemegang saham DEPARTEMEN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG Terakreditasi “A” SK BAN-PT Depdiknas Nomor:05/BANPT/AKX/SI/II/2007 Jalan Gajayana 50 Malang Telephone (0341) 558881, Faksimile (0341) 558881 e-mile: feuinmlg@yahoo.co..id BUKTI KONSULTASI Nama Mahasiswa : Fita Nilasari NIM/Jurusan : 03220034/ Ekonomi Judul : Analisis Rasio Keuangan Sebagai Alat Penilaian Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pada PT. Unilever indonesia Tbk. Periode 2002-2007 (Studi Pada Pojok Bursa Efek Indonesia FE-UMM) No Tanggal Hal yang dikonsultasikan Tanda Tangan 1. 16 Januari 2008 Pengajuan Proposal 1. 2. 11 Februari 2008 Revisi Proposal 2. 3. 03 Maret 2008 Seminar Proposal 3. 4. 13 Maret 2008 ACC Proposal 4. 5. 14 Maret 2008 Konsultasi BAB I, II & III 5. 6. 03 Juni 2008 Revisi BAB I, II & III 6. 7. 05 Juni 2008 ACC BAB I, BAB II & BAB III 7. 8. 05 Juni 2008 Konsultasi BAB IV, V & Abstrak 8. 9. 22 Juli 2008 Revisi BAB IV, V & Abstrak 9. 10. 23 Juli 2008 ACC BAB IV, V & Abstrak 10. 11. 24 Juli 2008 ACC Keseluruhan 11. Malang, 25 Juli 2008 Mengetahui: Dekan, Drs. HA. Muhtadi Ridwan,MA NIP. 150231828 KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar