Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity

Admin
ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ)


Era globalisasi yang semakin luas dan cepat ini, informasi dan pengetahuan mempunyai peranan penting dan menentukan terhadap keberhasilan dalam berbisnis. Begitu juga pada perdagangan saham yang terdapat di pasar modal, banyak aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para investor untuk memperoleh keuntungan (return). Dengan mengandalkan informasi yang masuk dalam pasar modal tersebut maka diharapkan informasi tersebut bisa digunakan untuk pertimbangan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor dalam memilih portofolio investasi yang efisien dan memperoleh return yang tinggi.
Pasar modal sebagai sumber informasi memegang peranan penting terhadap transaksi perdagangan. Para pelaku di pasar modal sangat membutuhkan setiap informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga surat berharga di pasar modal. Salah satu informasi yang ada adalah pengumuman pemecahan saham (stock split).
“Stock split adalah memecah selembar saham menjadi banyak lembar saham atau memecah saham menjadi n lembar saham. Harga perlembar saham baru setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya” (Jogiyanto, 2003:415). Dari teori tersebut dapat dilihat bahwa stock split yang dilakukan oleh perusahaan emiten tidak terbatas sesuai keputusan manajer-manajer perusahaan dalam melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan split factor. Split faktor disini ialah nilai yang ditunjukkan oleh jumlah nilai n. Sehingga  satu lembar saham bisa dipecah menjadi dua, dimana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dipegang sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Sedangkan bila satu lembar saham dipecah menjadi tiga, maka pemegang saham akan menerima tiga lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dimiliki sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah sepertiga dari nilai nominal saham sebelumnya dan demikian seterusnya.
Keputusan melakukan stock split pada umumnya dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi minat investor untuk membelinya. Stock split timbul atau terjadi di pasar modal karena adanya keinginan dari para emiten untuk mempertahankan agar saham yang dimilikinya tetap berada dalam rentang perdagangan yang optimal.
Para ahli menyebut stock split sebagai suatu kosmetika saham, dalam arti bahwa tindakan perusahaan tersebut merupakan upaya pemolesan saham agar lebih menarik dimata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor. Tindakan pemecahan saham akan menimbulkan efek fatamorgana bagi investor, yaitu investor akan merasa seolah-olah menjadi lebih makmur karena memegang saham dalam jumlah yang lebih banyak. Jadi, pemecahan saham sebenarnya merupakan tindakan perusahaan yang tidak memiliki nilai ekonomis (Jogiyanto 2003:416). Meskipun secara teoritis pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis atau tidak secara langsung mempengaruhi cash flow perusahaan, tetapi banyak terjadi peristiwa pemecahan saham di pasar modal. Terdapat beberapa alasan dibalik pelaksanaan stock split yang menurut Keown dkk. (1996) dalam Rohana et al. (2003) adalah:
(1) Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham,
(2) Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan,
(3) Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen kas.

Umumnya Stock split dilakukan oleh para emiten didasari oleh tingginya harga saham suatu perusahaan, sehingga investor kurang mampu untuk melakukan pembelian dan berakibat menurunnya likuiditas dari suatu saham, dengan adanya kebijakan stock split akan menimbulkan dampak penurunan harga saham (yang disertai perubahan jumlah saham yang beredar secara proporsional). Penurunan harga ini diharapkan akan diikuti dengan meningkatnya return saham, return yang meningkat akan menarik minat investor untuk melakukan investasi. Banyaknya investor yang ikut berpartisipasi dalam aksi jual atau beli saham akan menjadikan volume perdagangan saham tersebut meningkat sehingga berakibat pada adanya perubahan aktivitas perdagangan pada level tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditarik satu kesimpulan sementara bahwa peristiwa stock split mengandung satu informasi sehingga pasar modal bereaksi yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan Trading Volume Activity (TVA) saham.

Dampak Stock split yang dilakukan perusahaan-perusahaan telah pernah diteliti sebelumnya. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang kontroversi mengenai efek stock split tersebut, hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan Grinblatt, Masulis dan Titman (1984) dalam Sutrisno,dkk(2000;3) “Bahwa di sekitar pengumuman Stock split menunjukkan adanya perilaku harga saham yang abnormal. Diyakini pula bahwa peningkatan harga yang terjadi tidak disebabkan karena adanya pengumuman deviden yang meningkat seperti yang dikemukakan oleh Fama dan French (1993).
Penelitian lain dilakukan oleh McNichols dan Dravid (1990) dalam Almilia dan Kristijadi (2005) memberikan bukti bahwa semakin rendahnya harga saham, maka hal tersebut menimbulkan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan akibat melakukan aktivitas stock split. Aktivitas stock split yang dilakukan perusahaan ini akan diinterpretasikan investor sebagai sinyal bahwa manajer memiliki informasi yang menguntungkan di mana hal tersebut ditunjukkan dengan adanya abnormal return di sekitar pengumuman stock split.
Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Murray (1985) dalam Sutrisno, dkk(2000;3) yang menyatakan bahwa stock split tidak berpengaruh terhadap volume perdagangan maupun bid–ask spread. Dan juga penelitian yang dilakukan oleh Copeland (1979), dalam Rohana et al. (2003) yang justru menunjukkan hasil yang berlawanan yaitu, “pasar tidak melakukan reaksi terhadap pengumuman stock split”.
Dari Perbedaan hasil penelitian tentang stock split yang secara umum menghasilkan dua pendapat yang berbeda terhadap variabel-variabel yang diteliti, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang stock split sehingga mengambil judul penelitian “Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007)”.

A.    Rumusan Masalah
1.      Apakah saham bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan perubahan Trading Volume Activity?
2.      Apakah terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah stock split?

B.     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui reaksi saham terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan Trading Volume Activity saham.
2.      Untuk mengetahui adanya perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah stock split.

C.    Batasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti memberi batasan pada:
1.      Perusahaan yang menjadi sampel penelitian tersebut hanya melakukan kebijakan stock split sebanyak satu kali dalam periode 2005-2007.
2.      Perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian tersebut hanya melakukan kebijakan stock split berupa kebijakan pemecahan naik (split-up) atas saham beredarnya. Pemecahan naik (split-up) adalah pemecahan saham dengan rasio penurunan nilai nominal per lembar saham, sehingga yang akan mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar.

D.    Manfaat Penelitian
1. Bagi Praktisi dan Investor Pasar Modal penelitian ini diharapkan mampu sebagai sumber informasi mengenai dampak peristiwa stock split terhadap pasar modal, yang menyebabkan perubahan harga dan likuiditas saham perusahaan.
2. Bagi Pembaca dan Pengembangan Penelitian Selanjutnya sebagai sumber referensi dan tambahan pengetahuan dalam kerangka pengembangan penelitian selanjutnya yang sejenis.
3. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan dalam aplikasi ilmu yang telah diperoleh serta mengetahui gambaran umum mengenai pasar modal dan aktivitas di dalamnya khususnya terkait dengan sebuah perusahaan yang melakukan stock split.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

NO
PENELITI
JUDUL
METODE
VARIABEL
HASIL
1
Wang Sutrisno, Francisca Yuniartha, Soffy Susilowati (2000)

Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta
Regresi sederhana.
Stock Split, Likuiditas dan Return Saham

Aktivitas split berpengaruh signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham dan abnormal return baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio
2
Denny Suntoro dan Imam Subekti
(2003)
Kandungan Informasi Atas Peristiwa Stock Split
Regresi linear dan one sample t-test
Stock Split
Abnormal Return, Return Saham
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan peristiwa stock split terhadap return saham dan juga berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham.
3
Indah Kurniawati (2003)
Analisis Kandungan informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Non-synchronous Trading
Regresi linear sederhana (paired sample t-test)
Stock Split dan Likuiditas Saham
Pengumuman stock split memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh pelaku pasar. Sehingga pasar bereaksi karena mengetahui propsek perusahaan yang bagus dimasa akan depan yang disinyalkan melalui stock split sedangkan volume perdagangan tidak signifikan, ini dikarenakan investor round lot lebih banyak dan investor kecil bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split.
4
Luciana Spica Almilia dan
Emanuel Kristijadi(2005)

Analisis Kandungan Informasi dan Efek Intra Industri
Pengumuman Stock Split yang Dilakukan oleh
Perusahaan Bertumbuh dan Tidak Bertumbuh
Crude dependence adjustment, Independent Sample T –Test, Paired samples test, Independent Sample T-test.
Stock split, Abnormal return, Resiko sistematis
Pengumuman stock split yang dilakukan perusahaan memiliki kandungan informasi sehingga direspons oleh para pelaku pasar. Selain itu, terdapat perbedaan beta sebelum dan setelah pengumuman stock split. Perbedaan beta terjadi setelah pengumuman stock split antara perusahaan bertumbuh dengan perusahaan tidak bertumbuh, dimana beta perusahaan tidak bertumbuh lebih besar dari perusahaan bertumbuh dan juga memberikan bukti bahwa efek intra industri pada pengumuman stock split hanya terjadi pada perusahaan bertumbuh, sedang pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan tidak bertumbuh adalah competitive effect.
5
Farid Muchtar (peneliti sekarang)
Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Di BEJ Periode 2005-2007)
Kolmogorov Smirnov Test, One Sample t Test, Paired Sample t-Test
Stock Split, Abnormal Return Dan Trading Volume Activity
Hasil penelitian mampu membuktikan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return dan tarding volume activity ini diuji dengan One Sample t Test,  .
Sedangkan, berdasarkan hasil pengujian dengan Paired Sample t-Test yang bertujuan mengetahui adanya perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah peristiwa stock spli hasilnya membuktikan bahwa terdapat perbedaan signifikan Abnormal Return sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Namun. tidak dapat membuktikan adanya perbedaan yang signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa.
Sumber: data diolah 2006
1)      Wang Sutrisno, Francisca Yuniartha, Soffy Susilowati (2000), Melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta”  periode Penelitian ini ialah Juli 1995–Juli 1997. Berdasarkan dari hasil penelitian itu didapat kesimpulan bahwa aktivitas split mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham dan abnormal return baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio, sehingga tidak ada perubahan pada return saham. Sedangkan Rata – rata, harga saham mempunyai hubungan yang positif terhadap persentase spread dan rata-rata, volume perdagangan mempunyai hubungan yang negatif terhadap persentase spread baik ditinjau secara individual ataupun sebagai sebuah portofolio. Dan dengan semakin besarnya persentase spread, secara keseluruhan baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio disimpulkan bahwa likuiditas saham mengalami penurunan setelah stock split.
2)      Denny Suntoro dan Imam Subekti (2003), melakukan penelitian mengenai kandungan informasi yang dimiliki oleh perusahaan yang melakukan stock split di BEJ dengan judul “Kandungan Informasi atas Pertistiwa Stock Split”. Untuk menghindari bias yang disebabkan oleh kondisi BEJ yang masih merupakan thin market, penelitian tersebut menggunakan abnormal return koreksi sebagai proksi dari return saham. Penelitian tersebut mampu membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan peristiwa stock split terhadap return saham, pasar menunjukkan reaksi positif pada t-2, t+1, dan t+4. Hasil lain dari penelitian tersebut adalah stock split juga berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham pada saat t+2 dan t+5.
3)       Indah Kurniawati (2003), melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Non-synchronous Trading” periode penelitian ini ialah juni 1994 – juni1997, pengujian dilakukan dengan cara menganalisis terhadap variable stock split, abnormal return, dan likuiditas saham. Hasilnya menunjukkan Pengumuman stock split memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh pelaku pasar di BEJ. Hal ini menunjukkan pasar bereaksi karena mengetahui propsek perusahaan yang bagus dimasa yang akan depan yang disinyalkan melalui stock split sedangkan volume perdagangannya tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.052, ini dikarenakan investor round lot lebih banyak dan investor kecil bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split.
4)      Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi(2005), judul penelitian “Analisis Kandungan Informasi Dan Efek Intra Industri Pengumuman Stock Split Yang Dilakukan Oleh perusahaan Bertumbuh Dan Tidak Bertumbuh” hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan bertumbuh dan tidak bertumbuh memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh para pelaku pasar. Selain itu, terdapat perbedaan beta sebelum dan setelah pengumuman stock split. Perbedaan beta terjadi setelah pengumuman stock split antara perusahaan bertumbuh dengan perusahaan bertumbuh, dimana beta perusahaan tidak bertumbuh lebih besar dari perusahaan bertumbuh Penelitian ini juga memberikan bukti bahwa efek intra industri pada pengumuman stock split hanya terjadi pada perusahaan bertumbuh, sedangkan pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan bertumbuh adalah competitive effect.
5)      Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya ialah :
a. Sample yang diambil dalam penelitian ini ialah perusahaan- perusahaan di Bursa Efek Jakarta yang melakukan Stock Split pada tahun 2005-2007
b). Uji yang digunakan ialah Kolmogorov Smirnov Test untuk mengetahui normalitas data, One Sample t Test untuk mengetahui Abormal Return dan Trading Volume Activity, Paired Sample t-Test bila data terdistribusi normal dan Uji Peringkat Wilcoxon bila data tidak berdistribusi normal.

B. Kajian Teoritis
1. Pasar Modal
a. Pengertian Pasar Modal
       Pada dasarnya, pasar modal merupakan tempat pertemuan antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana. Pasar modal sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau sekuritas jangka panjang yang bisa diperjual-belikan baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities) maupun swasta. Dengan demikian, pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit daripada pasar keuangan (financial market). Dalam financial market, diperdagangkan semua bentuk hutang dan modal sendiri, baik dana jangka panjang ataupun dana jangka pendek (Husnan, 1996:3).
Secara formal, Husnan (2001:3) mendefinisikan pasar modal sebagai:
“Pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjual-belikan baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities), maupun perusahaan swasta”.

Dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan jangka panjang, dimana pasar modal memiliki dua fungsi yaitu menyediakan dana bagi pihak yang memerlukan dana dan mempunyai kelebihan dana untuk menginvestasikan dana yang mereka miliki. Disamping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang mempunyai dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang menurutnya memberikan return yang optimal.
Dari sisi syariah, pasar modal adalah salah satu sarana atau produk muamalah. Transaksi di dalam pasar modal, menurut prinsip hukum syariah tidak dilarang atau dibolehkan sepanjang tidak terdapat transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syariah. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004)
Di antara yang dilarang oleh syariah adalah transaksi yang mengandung bunga dan riba, terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang di dalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida’). Termasuk dalam pengertian ini: melakukan penawaran palsu (najsy); transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling/bai’u maalaisa bimamluk); menjual sesuatu yang belum jelas (bai’ul ma’dum); pembelian untuk penimbunan efek (ihtikar) dan menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading). (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004)
Larangan transaksi bunga (riba) sangat jelas, karena itu transaksi di pasar modal yang di dalamnya terdapat bunga (riba) tidak diperkenankan oleh Syari’ah. Sebagaimana Firman Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi
šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr'Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìøt7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìøt7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§ 4ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y ÿ¼çnãøBr&ur n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9'ré'sù Ü=»ysô¹r& Í$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz  
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah :275)

Sedangkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa dalam jual beli hendaknya kita laksanakan dengan cara yang benar bukan dengan cara yang batil, yakni

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S An Nisaa: 29)

Dengan adanya ketentuan dan pandangan syariah seperti di atas, maka investasi tidak dapat dilakukan ke produk yang bertentangan dengan syariah. Oleh karena itu investasi di pasar modal harus dilakukan dengan selektif dan dengan hati-hati (ihtiyat) supaya tidak masuk kepada produk non halal. Sehingga hal inilah yang mendorong islamisasi pasar modal.
Terkait dengan upaya pengembangan pasar modal syariah, hingga saat ini terdapat 6 (enam) Fatwa DSN-MUI yang berkaitan dengan industri pasar modal. Fatwa-fatwa tersebut adalah:
1.          Fatwa No.05 tahun 2000 tentang Jual Beli Saham
2.          Fatwa No.20 tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah
3.          Fatwa No.32 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah
4.          Fatwa No.33 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah
5.          Fatwa No.40 tahun 2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.
6.          Fatwa No.41 tahun 2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah.
Bentuk ideal dari pasar modal Syariah dapat dicapai dengan islamisasi empat pilar pasar modal, yaitu:
1)          Emiten (perusahaan) dan efek yang diterbitkannya didorong untuk memenuhi kaidah Syariah, keadilan, kehati-hatian dan transparansi.
2)          Pelaku pasar (investor) harus memiliki pemahaman yang baik tentang ketentuan muamalah, manfaat dan risiko transaksi di pasar modal.
3)          Infrastruktur informasi bursa efek yang jujur, transparan dan tepat waktu yang merata di publik yang ditunjang oleh mekanisme pasar yang wajar.
4)          Pengawasan dan penegakan hukum oleh otoritas pasar modal dapat diselenggarakan secara adil, efisien, efektif dan ekonomis.
Selain itu prinsip-prinsip Syari’ah juga akan memberikan penekanan (emphasis) pada:
1)          Kehalalan produk atau jasa dari kegiatan usaha, karena menurut prinsip Syariah manusia hanya boleh memperoleh keuntungan atau penambahan harta dari hal-hal yang halal dan baik.
2)          Adanya kegiatan usaha yang spesifik dengan manfaat yang jelas, sehingga tidak ada keraguan akan hasil usaha yang akan menjadi obyek dalam perhitungan keuntungan yang diperoleh.
3)          Adanya mekanisme bagi hasil yang adil –baik dalam untung maupun rugi- menurut penyertaan masing-masing pihak.
4)          Penekanan pada mekanisme pasar yang wajar dan prinsip kehati-hatian baik pada emiten maupun investor. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004)



b. Bentuk Pasar Modal
Sunariyah (2004:12-16) pasar modal berdasarkan macam-macam dan proses penyelenggaraan transaksi, pasar modal dibedakan menjadi:
1). Macam-macam pasar modal
1)      Pasar Perdana (Primary Market) yaitu penawaran saham dari emiten kepada investor selama waktu yang telah ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder. Harga saham di pasar ini ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang menerbitkan saham (emiten).
2)      Pasar Sekunder (Secondary Market) yaitu perdagangan saham setelah melewati penawaran di pasar perdana. Jadi pasar sekunder merupakan pasar dimana saham dan sekuritas lainnya diperjual-belikan secara luas setelah penjualan di pasar perdana. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh pemerintah dan penawaran antara pembeli dan penjual menurut mekanisme pasar.
3)      Pasar Ketiga (Third Market) yaitu tempat perdagangan saham di luar bursa (over the counter market). Di Indonesia pasar ini disebut bursa pararel, yaitu suatu sistem perdagangan efek atau surat berharga yang terorganisir di luar bursa efek resmi, dalam bentuk pasar sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh Perserikatan dan Perdagangan Uang dan Efek-efek (PPUE) dengan diawasi dan dibina oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM).
4)      Pasar Keempat (Fourth Market) pada dasarnya merupakan suatu bentuk perdagangan efek antar pemodal atau investor dengan kata lain berupa pengalihan saham dari satu pemegang saham ke pemegang saham lainnya tanpa melalui perantara perdagangan efek atau lembaga lainnya.
2). Pasar modal ditinjau dari proses transaksi
a)      Pasar Spot, yaitu pasar keuangan yang memperdagangkan sekuritas untuk diserahkan secara langsung (spontan). Artinya jika seseorang membeli suatu jasa-jasa finansial maka pada saat itu juga akan menerima jasa yang dibeli tersebut.
Dalam Islam transaksi ini hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari (ِمَّما لاَ ُبَّد مِنْهُ) dan merupakan transaksi internasional. (Fatwa DSN NO: 28/DSN-MUI/III/2002  Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf))
b)     Pasar Future atau Forward, yaitu pasar keuangan dimana penyerahan sekuritas dilakukan pada waktu yang akan datang sesuai dengan kesepakatan. Proses transaksi tersebut memuat kesepakatan waktu terjadinya transaksi dan saat penyerahan harus dilakukan sehingga perpindahan kekayaan memerlukan jangka waktu tertentu.
Transaksi Forward dalam Islam Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah). (Fatwa DSN NO: 28/DSN-MUI/III/2002  Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf))
c)      Pasar Opsi, yaitu pasar keuangan yang memperdagangkan hak untuk menentukan pilihan (menjual atau membeli) terhadap saham atau obligasi, pilihan tersebut adalah persetujuan atau kontrak hak pemegang saham untuk membeli atau menjual dalam waktu tertentu.
Dalam Islam, pasar opsi yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi). (Fatwa DSN NO: 28/DSN-MUI/III/2002  Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf))

c. Peranan Pasar Modal
Menurut Jogiyanto (2003:11) bahwa, “pasar modal mempunyai peranan yang penting dalam suatu negara, bahkan dapat dikatakan bahwa pasar modal merupakan indikator keberhasilan perekonomian suatu negara”. Peranan pasar modal adalah:
a.      Sebagai sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham dan mengeluarkan obligasi.
b.      Untuk menarik pembeli dan penjual untuk berpartisipasi, pasar modal harus bersifat likuid dan efisien.
c.       Pasar modal juga mempunyai fungsi sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam.

Sementara itu, Husnan (2001:4-5) mengemukakan bahwa, “keberadaan pasar modal mempunyai beberapa daya tarik dari para investor, antara lain sebagai berikut:
1)      Pasar modal akan bisa menjadi alternatif penghimpun dana selain sistem perbankan. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan (saham).
2)      Pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi resiko mereka. Dengan adanya pasar modal, para pemodal memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portofolio (atau gabungan dari berbagai investasi) sesuai dengan resiko yang mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan.



d. Instrumen Pasar Modal
Instrumen pasar modal pada prinsipnya merupakan semua jenis surat berharga (securitas). Adapun pengertian dari beberapa instrumen pasar modal yang umum diperdagangkan, adalah sebagai berikut:
1)      Saham (Stock), merupakan suatu surat penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan.
2)      Rights, merupakan hak yang diberikan kepada pemegang saham lama untuk membeli tambahan saham baru yang diterbitkan oleh suatu perusahaan.
3)      Obligasi (Bond), merupakan bukti hutang dari emiten yang dijamin oleh pihak penganggung yang mengandung suatu janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta pelunasan pokok pinjaman yang akan dilakukan pada tanggal jatuh tempo.
4)      Waran (Warrant), merupakan hak yang diberikan kepada pemilik obligasi untuk membeli sejumlah tertentu saham penerbit obligasi dimasa yang akan datang dengan harga yang telah ditentukan.

2. Saham
a. Pengertian Saham
Pengertian saham secara umum adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas yang memberikan keuntungan dalam bentuk deviden dan capital gain.  Husnan (2001:285) mendefinisikan saham menunjukkan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT). Pemilik saham suatu perusahaan disebut sebagai pemegang saham, merupakan pemilik saham.
Sugiyarso dan Winarni (2005:32), “saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau yang biasa disebut emiten”.
Menurut Harianto dan Sudomo (1998:66), “Saham adalah surat bukti pemilikan bagian modal atau tanda penyertaan modal pada perusahaan yang memberi hak atas deviden dan lain-lain menurut besar kecil modal disetor”.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan. Sedangkan keuntungan yang dapat diperoleh dengan memiliki saham yaitu, dividen dan capital gain.
Sedangkan dalam islam, saham syariah adalah salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki karakteristik khusus berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan ruang lingkup kegiatan usaha. Di Indonesia saham syariah dimasukkan dalam perhitungan Jakarta Islamic Index (JII) yang merupakan indeks yang dikeluarkan oleh PT. Bursa Efek Jakarta yang merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bagi perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks, mereka dinilai telah memenuhi penyaringan syariah dan kriteria untuk indeks. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004)
b. Jenis-Jenis Saham
Menurut jenisnya saham dibedakan menjadi dua yaitu saham biasa dan saham preferent.
1). Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu perusahaan. Keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham biasa berasal dari pembayaran deviden dan kenaikan harga saham. Deviden akan dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba. Besar kecilnya deviden yang diterima oleh pemegang saham tidak tetap, tergantung dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tendelilin (2001:18) mendefinisikan saham biasa (common stock) sebagai, “sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan”. Oleh karena itu, sebagai salah satu pemilik perusahaan pemegang saham mempunyai hak-hak.   Hak tersebut antara lain:
a)      Pemegang saham biasa mempunyai hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Luar Biasa (RULBS).
b)     Mempunyai wewenang untuk memilih direktur perusahaan, memilih manajemen seperti komisaris dan direksi perusahaan.
c)      Mempunyai hak terlebih dahulu untuk membeli saham pada perusahaan yang bersangkutan sebelum dibeli oleh investor baru.
d)     Pemegang saham biasa diberi hak atas laba bersih perusahaan sebagai laba atas dana yang diinvestasikan, hal ini berbentuk deviden.
e)      Pemilik saham biasa mendapatkan hak untuk memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila perusahaan dinyatakan bangkrut, dimana pembagian kekayaan tersebut akan dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
f)       Pemegang saham biasa mempunyai hak melihat atau mengetahui hasil RUPS dan daftar para pemegang saham suatu perusahaan serta mempunyai akses yang tidak terbatas untuk akses pembukuan keuangan perusahaan, kecuali kalau dibatasi oleh suatu keadaan tertentu. 
Sedangkan dalam Islam saham jenis ini boleh diperdagangkan karena saham sesuai dengan terminologi yang melekat padanya, maka saham yang dimiliki seseorang menunjukkan sebuah bukti kepemilikan atas perusahaan tertentu yang berbentuk aset, sehingga saham merupakan cerminan atas aset tertentu. Saham biasa (Coomon Stock) menurut para ulama boleh dikarenakan saham jenis ini mempunyai prinsip keadilan dan keterbukaan yang merata buat semua pemegang saham. Namun, aturan dan norma jual beli saham tetap mengacu pedoman jual beli yakni tercapai rukun, syarat, aspek an-taradhin, serta terhindar dari unsur-unsur yang merusat atau tidak mengesahkan jual beli saham tersebut. (Huda dan Nasution, 2007: 65)
2). Saham Preferen (Preffered Stock)
       “Saham preferen (Preffered Stock) merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti obligasi) dan juga mendapatkan hak kepemilikan seperti saham biasa”, (Tandelilin, 2001:18). Saham preferen adalah jenis saham lain sebagai alternatif dari saham biasa Pemegang saham preferen akan mendapatkan hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan setelah dikurangi dengan pembayaran kewajiban pemegang obligasi dan hutang (sebelum pemegang saham biasa mendapatkan haknya).
Dikatakan preferen, karena saham ini memiliki keistimewaan diantaranya sebagai berikut (Hartono dalam Puspaningsih, 2006: 17):
a). Preferen terhadap deviden
(1)       Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima deviden terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa.
(2)       Pemegang saham preferan mempunyai hak deviden komulatif, yaitu memberikan hak kepada pemegang sahamnya untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerina devidennya.
b). Preferen terhadap likuidasi
       Pemegang saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya, termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat kumulatif.

Dalam pandangan syariah saham preferen cenderung tidak diperbolehkan karena dua alasan yang tidak dapat diterima secara konsep syariah. Dua alasan terebut ialah :
a.      Adanya keuntungan tetap (predeterminant reneveu), yang dikategorikan oleh sebagian ulama sebagai riba.
b.      Pemilik saham preferen mendapat hak istimewa terutama pada saat perusahaan dilikuidasi. Hal ini mengandung unsur ketidakadilan. (Huda dan Nasution, 2007: 66)
c. Keuntungan dan Kerugian Membeli Saham
Dalam membeli saham seorang investor perlu memperhatikan keuntungan dan kerugian yang akan didapatnya dalam membeli saham. Keuntungan membeli saham antara lain sebagai:
1)      Deviden
       Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
2)      Capital Gain
Merupakan selisih keuntungan dari harga jual dan harga beli yang lebih tinggi, yang disebut juga selisih kenaikan kurs yang lebih tinggi dibandingkan dengan kurs pada waktu membelinya
3)      Saham Bonus
Saham bonus yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih antara harga perdana tehadap harga nominal.
Sedangkan kerugian dari membeli saham, antara lain sebagai berikut
1)  Tidak Mendapat Deviden
Perusahaan akan membagikan dividen jika operasional perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak akan membagi-kan dividen jika perusahaan tersebut mengalami kerugian.
2) Capital Loss
Dalam aktivitas perdagangan saham tidak selalu pemodal mendapat capital gain ada kalanya pemodal harus menjual dengan harga jauh lebih rendah dengan harga beli.
3) Perusahaan Bangkrut atau Dilikuidasi
Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham akan menempati posisi terakhir dalam pembagian aset perusahaan dibanding kreditor.
4) Saham di delist dari bursa (Delisting)
“Delisting adalah tindakan mengeluarkan suatu saham yang telah tercatat dibursa efek karena kurang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh manajemen bursa efek atau atas permintaan emiten, sehingga saham tersebut tidak dapat diperdagangkan lagi dibursa efek tersebut”, (Sunariyah, 2004:37-38).
Suatu saham di delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut selama beberapa tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan Peraturan Pencatatan Efek di Bursa.
d. Penilaian Harga Saham
Dalam penilaian harga saham dikenal adanya tiga jenis nilai saham yaitu: nilai buku, nilai pasar, nilai intrisik saham. Nilai buku merupakan nilai yang dihitung dari pembukuan perusahaan penerbit saham. Nilai pasar adalah nilai saham tersebut bila berada di pasaran. Sedangkan nilai intrinsik ialah sebenarnya atau seharusnya dari saham tersebut. Dengan memahami ketiga konsep nilai saham maka kita dapat mengetahui saham-saham yang tumbuh dan yang murah. 

3. Stock Split (Pemecahan Saham)
a. Pengertian Stock Split (Pemecahan Saham)
Pemecahan saham merupakan satu aktivitas yang dilakukan oleh para manajer perusahaan dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal perlembar saham sesuai dengan split factor. Split factor merupakan perbandingan jumlah saham yang beredar sebelum dilakukannya split dengan jumlah saham yang beredar setelah dilakukannya split.
Jogiyanto (2003:415), “Stock split berarti memecah selembar saham menjadi n lembar saham, dimana harga perlembar saham baru setelah di stock split adalah sebesar 1/n dari saham sebelumnya”. Menurut Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999:55), menyatakan bahwa “Stock split adalah, perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah jumlah lembar saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecahan (split factor)”
Kesimpulan dari pengertian di atas bahwa, pemecahan saham akan meningkatkan jumlah lembar saham yang diperdagangkan dan secara proporsi akan menurunkan nilai per lembar sahamnya. Pemecahan saham merupakan kosmetika saham, dalam arti bahwa tindakan perusahaan tersebut merupakan upaya pemolesan saham agar terlihat lebih menarik di mata investor.
Sedangkan dalam Islam melarang setiap aktivitas perekonomian yang mengandung unsur paksaan, mafsadah (tidak bermanfaat), dan gharar (penipuan). Namun, perdagangan Islam mengizinkan adanya sistem kerja sama (syirkah). Terkait dengan penentuan adanya stock split yang dilakukan perusahaan itu tidak mengandung unsur paksaan karena keputusan tersebut telah disepakati sebelumnya dalam rapat umum pemegang saham yang dilakukan oleh perusahaan dan juga stock split ini dilakukan pada semua saham yang beredar sehingga prinsip keadilan dan merata juga ada karena semua pemegang mendapat split faktor yang sama. Serta, dengan adanya stock split harga menjadi turun dan diharapkan akan semakin terjangkau oleh investor lainnya. Hal ini sesuai dengan Al-Quran surat Surat Al Hasyr ayat 7, yang berbunyi: 
!$¨B uä!$sùr& ª!$# 4n?tã ¾Ï&Î!qßu ô`ÏB È@÷dr& 3tà)ø9$# ¬Tsù ÉAqߧ=Ï9ur Ï%Î!ur 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# ös1 Ÿw tbqä3tƒ P's!rߊ tû÷üt/ Ïä!$uŠÏYøîF{$# öNä3ZÏB 4 !$tBur ãNä39s?#uä ãAqߧ9$# çnräãsù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# 
Artinya : Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (Al Hasyr :7)
 
b. Jenis-jenis Stock Split
Akmila dan Kusuma (2003:37) dalam Puspitaningsih (2006) ada dua jenis stock split (pemecahan saham) yang dapat dilakukan, yaitu:
1). Pemecahan Naik (split-up atau forward split)
Pemecahan naik (Split-up) adalah penurunan nilai nominal per lembar saham sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar. Misalnya, satu lembar saham dipecah menjadi dua, hal ini berarti setiap satu lembar saham lama akan ditukar dengan dua lembar saham.
2). Pemecahan Turun (split-down atau reverse split)
Pemecahan turun (split-down) adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar. Misalnya, dua lembar saham dipecah menjadi satu, hal ini berarti untuk setiap dua lembar saham akan ditukarkan dengan satu lembar saham baru.

c. Tujuan Stock Split
Manajer-manajer perusahaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda dalam melakukan stock split terhadp sahamnya, karena manajer mempunyai alasan ketika benar-benar melakukan stock split.
Menurut Halim (2005:97), “Tujuan dilakukan pemecahan saham adalah untuk menjaga harga pasar saham agar tidak terlalu tinggi sehingga sahamnya lebih memasyarakat dan lebih banyak diperdagangkan”.
Stock split bertujuan agar perdagangan suatu saham menjadi lebih likuid, karena jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah. Hal ini akan sangat efektif bila dilakukan pada saham-saham yang harganya cukup tinggi (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:131).
Menurut Keown, et. al, (1996) dalam Rohana et al, (2003), ada beberapa alasan manajer perusahaan melakukan stock split antara lain sebagai berikut:
1)          Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.
2)          Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan.
3)          Untuk membawa informasi mengenai investasi yang berupa perningkatan laba dan deviden kas.

Keiso dan Weygant (2004:822) juga mengutip dari The DH&S Review tanggal 12 Mei 1986, yang menyatakan bahwa alasan dibalik pemecahan saham antara lain:
1)          Untuk menyesuaikan harga pasar saham perusahaan hingga tingkat di mana lebih banyak individu dapat berinvestasi dalam saham.
2)          Untuk menyebarkan dasar pemegang saham dengan meningkatkan jumlah saham yang beredar dan membuatnya lebih dapat dipasarkan.
3)          Untuk menguntungkan pemegang saham yang ada dengan memungkinkan mereka mengambil manfaat dari suatu penyelesaian pasar yang tidak sempurna sesudah pemecahan tersebut.

Kesimpulan dari beberapa alasan dilakukannya pemecahan saham (stock split) yang telah dipaparkan di atas mempunyai tujuan, antara lain:
1)          Meningkatkan jumlah pemegang saham.
2)          Mengembalikan ukuran perdagangan rata-rata saham pada rentang perdagangan tertentu.
3)          Menyampaikan informasi mengenai prospek peningkatan return masa depan yang substansial.

d. Manfaat Stock Split
Bagi sebagian pihak khususnya para emiten, pemecahan saham diyakini dapat memberikan berbagai manfaat bagi mereka. Menurut pendapat McGough (1993) dalam Ewijaya dan Nur Indriantoro (1991:121), mengemukakan bahwa manfaat pada umumnya yang diperoleh dari stock split adalah penurunan harga saham yang selanjutnya menambah daya tarik investor untuk memiliki saham tersebut sehingga membuat saham menjadi likuid untuk diperdagangkan.
Menurut Indah Kurniawati (2003:266), beberapa pelaku pasar khususnya para emiten mempunyai pendapat bahwa stock split memiliki berbagai macam manfaat diantaranya adalah:
1)          Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga dapat mengubah investor odd lot menjadi investor round lot.
2)          Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi.
3)          Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan menjadi likuid.
4)          Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja manajemen perusahaan bagus dan memiliki prospek yang baik.

e. Teori-Teori yang Mendasari Kebijakan Stock Split
Marwata (2000) dalam Suntoro dan Subekti (2003) menjelaskan bahwa dua teori mengenai pemecahan saham adalah signaling theory dan trading range theory.
1). Signalling Theory
       Signalling theory menyatakan bahwa pemecahan saham memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return yang substansial. Return yang meningkat tersebut dapat diprediksi dan merupakan sinyal tentang laba jangka pendek dan jangka panjang (Baker dan Powell, 1993 dalam Subekti dan Suntoro, 2003). Pengumuman pemecahan saham dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh manajemen kepada publik bahwa perusahaan memilki prospek yang bagus di masa depan. Analis akan menangkap sinyal tersebut dan kemudian menggunakannya untuk memprediksi peningkatan earning jangka panjang. Reaksi pasar terhadap pemecahan saham sebenarnya bukan terhadap tindakan pemecahan saham yang tidak memiliki nilai ekonomis itu sendiri, melainkan terhadap prospek perusahaan di masa depan yang disinyalkan oleh pemecahan saham tersebut.
Baker dan Powell (1993) dalam Suntoro dan Subekti (2003:121) menjelaskan signalling theory pemecahan saham dengan menggunakan penjelasan asimetri informasi. Manajemen memiliki informasi lebih tentang prospek perusahaan dibandingkan pihak luar (investor). Pemecahan saham merupakan upaya untuk menarik investor dengan memberikan sinyal bahwa perusahaan memiliki kondisi bagus. Pemecahan saham memerlukan biaya, oleh karena itu hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus saja yang mampu melakukannya (Copeland, 1979 dalam Subekti dan Suntoro, 2003:121). Jika kondisi perusahaan tidak bagus, maka perusahaan tidak akan melakukan pemecahan saham.
Signalling theory menyatakan bahwa stock split memberikan sinyal yang positif karena manajer perusahaan akan menginformasikan prospek masa depan yang baik dari perusahaan kepada publik yang belum mengetahuinya. Hasil penelitian Rohana dkk (2003:121), menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan pemecahan saham mengalami reaksi pasar yang positif yang bukan disebabkan oleh informasi tentang kemungkinan perusahaan akan membagikan deviden, namun lebih disebabkan karena kemungkinan peningkatan laba akuntansi.
2). Trading Range Theory
Trading range theory menyatakan bahwa pemecahan saham akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Menurut teori ini, harga saham yang terlalu tinggi (overprice) menyebabkan kurang aktifnya saham tersebut diperdagangkan sehingga mendorong perusahaan melakukan stock split. Dengan adanya pemecahan saham, harga saham menjadi tidak terlalu tinggi, sehingga akan semakin banyak investor yang mampu bertransaksi. Ikenberry et al. (1996) dalam Rohana, et al. (2003:604) menyatakan bahwa, “stock split mengakibatkan terjadinya penataan kembali harga saham pada rentang yang lebih rendah”. Survey yang dilakukan oleh Baker dan Gallagher (1980) dalam Rozef (1998), “menunjukkan bahwa manajer cenderung untuk menyebutkan alasan likuiditas ini sebagai motivasi pemecahan saham”. Meski stock split diyakini memberikan manfaat baik bagi investor maupun emiten, namun pelaksanaan aktivitas stock split masih menimbulkan pendapat yang bertentangan. Copeland (1979) dalam Rohana et al. (2003:604) menemukan bahwa, “likuiditas mengalami penurunan setelah pemecahan saham, yaitu volume perdagangan menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya”.
4. Abnormal Return
       Efisiensi pasar dapat diuji dengan melihat abnormal return yang terjadi. Pasar dikatakan tidak efisien jika satu atau beberapa pelaku pasar dapat menikmati abnormal return dalam jangka waktu yang cukup lama. Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi (return yang diharapkan oleh investor). Dengan demikian abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi.
Para investor tentunya mengharapkan return yang akan diterima proporsional dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Akan tetapi dalam prakteknya, tidaklah selalu demikian. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah abnormal return, yang dihitung dari selisih antara return yang sesungguhnya terjadi (accrual return) dengan return yang diharapkan oleh investor (expected return).
Formula yang digunakan untuk menghitung abnormal return (Jogiyanto, 2003:433) adalah sebagai berikut:
ARi.t = Ri.t - E(Ri.t)
Notasi:
ARi.t       = abnormal return saham ( i ) pada periode ke- t
Ri.t            = actual return saham ( i ) pada periode ke- t
E(Ri.t)   = return ekspektasi saham (i) pasar pada periode ke- t

Return sesunguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya atau dapat dihitung dengan rumus (Pi.t - Pi.t-1) / (Pi.t-1). Sedangkan return ekspektasi merupakan return yang diestimasi yang diharapkan oleh investor. Brown dan Warner (1985) dalam Jogiyanto (2003:434) menggunakan:
a. Mean-adjusted return model
       Disebut juga dengan model disesuaikan rata-rata, model ini menganggap bahwa return ekspektasi bernilai konstan yang sama dengan rata-rata return realisasinya selama periode estimasi. Persamaan Mean-adjusted return model adalah sebagai berikut:



 
E[Ri.t] = 
Notasi:
E[Ri.t] = return ekspektasi sekuritas i pada periode peristiwa ke-t
Ri.t         = return realisasi sekuritas i pada periode estimasi ke-t
T         = lamanya periode estimasi yaitu dari t1 sampai t2

b. Market model
Untuk perhitungan dengan menggunakan market model dilakukan dua tahap yang pertama membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan kedua menggunakan model ekspektasi tersebut untuk mengestimasi return normal periode jendela.
Persamaan market model yaitu:
[Ri.j] = i + βi ∙ RM.j + ε i.j 
Notasi:
E[Ri.j] = return ekspektasi sekuritas i pada periode estimasi ke-j
i        = intercept untuk sekuritas i
βi        = koefisien slope yang merupakan beta dari sekuritas i
Rm.j  = return indeks pasar pada periode estimasi ke-t yang dapat dihitung dengan rumus Rm.j = (IHSGj – IHSGj-1) / (IHSGj-1), dimana IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan
ε i.t      = kesalahan residu sekuritas i pada periode estimasi ke-j

c. Market-adjusted model
Model ini menganggap bahwa penduga terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu menggunakan periode estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar.

5. Trading Volume Activity (TVA)
Trading Volume Activity (TVA), yang juga disebut dengan aktivitas volume perdagangan saham merupakan salah satu instrumen yang dapat untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi-informasi yang masuk pada pasar modal.
Foster (1986) dalam Suntoro dan Subekti (2003) menyatakan “Trading Volume Activity merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar”.
Suryawijaya (1998:42), “Trading Volume Activity merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar”.
Trading volume activity (Aktivitas volume perdagangan) merupakan penjualan dari setiap transaksi yang terjadi di bursa saham pada saat waktu dan saham tertentu, dan merupakan salah satu faktor yang juga memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham. Volume transaksi merupakan unsur kunci dalam melakukan prediksi terhadap pergerakan harga saham.
Trading Volume Avtivity (TVA) dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar. Ketika TVA cenderung mengalami peningkatan saat harga mengalami peningkatan penurunan, maka pasar diindikasikan dalam keadaan bearish. Ketika trading volume activity cenderung meningkat selama harga mengalami peningkatan maka pasar di indikasikan dalam keadaan bullish. Ketika TVA cenderung mengalami penurunan selama harga mengalami penurunan maka pasar berada dalam keadaan bullish. Dan ketika volume perdagangan cenderung mengalami penurunan selama harga mengalami kenaikan maka pasar dalam keadaan bearish.
Perhitungan Trading Volume Activity dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham yang beredar dari perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama, menurut Jones, Charles P. (1986:375) didapat persamaan sebagai berikut:

TVA =

Jumlah saham i yang diperdagangkan pada waktu t
Jumlah saham i yang beredar pada waktu t
  Notasi:
TVA = Trading Volume Activity (aktifitas volume perdagangan)


6)      Kerangka Berfikir
Gambar 2.1
Kerangka Berfikir



 



















7. Hipotesis
       Berdasarkan latar belakang perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:
a.       Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan perubahan Trading Volume Activity
b.      Terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split















BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
       Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Jakarta yang terdapat pada pojok BEJ Universitas Muhammadiyah Malang, karena data di sana dirasa cukup untuk bahan dalam penelitian ini.

B. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian event study. Menurut Jogiyanto (2003:318), studi peristiwa (event study) “merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman”. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman. Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman. Peristiwa yang diuji adalah peristiwa stock split.
Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dimana penelitian mencoba menjelaskan apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel independent dengan variabel dependent melalaui uji satatistik.
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan aspek penelitian (Arikunto, 1998:115). Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang melakukan kebijakan stock split selama tahun 2005-2007 dari data terakhir diperoleh 28 perusahaan. Dari populasi tersebut. Kemudian dipilih beberapa perusahaan untuk dijadikan sampel. “Sampel adalah bagian atau populasi yang diteliti” (Arikunto, 1998:117). Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. “Metode purposive sampling adalah pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu, yang pada umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian” (Indriantoro dan Supomo, 2002:131). Kriteria untuk menentukan sampel adalah :
1.      Tidak mengalami pembatalan perdagangan saham (suspending) selama tahun 2005-2007.
2.      Memiliki data yang dibutuhkan untuk penelitian secara lengkap.
3.      Tidak melakukan corporate action lain selama periode pengamatan (event window), seperti right issue, warrant, additional shares, pengumuman dividen, saham bonus, merger dan lain-lain.
4.      Hanya melakukan kebijakan stock split sebanyak satu kali dalam tahun yang bersangkutan.
5.      Hanya melakukan kebijakan stock split berupa kebijakan pemecahan naik (split-up) atas saham beredarnya. Yang dimaksud dengan pemecahan naik (split-up) adalah pemecahan saham dengan rasio penurunan nilai nominal per lembar saham, sehingga yang akan mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar.
Dari 28 perusahaan yang melakukan stock split periode 1 januari 2005- 31 desember 2007 ada 7 kegiatan stock split yang tidak layak menjadi sampel penelitian ini, yakni PT. Buana Finance Tbk. (BBLD) karena pada periode pengamatan juga malakukan warant, PT. Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) yang dalam tahun pengamatan telah melakukan stock split dua kali yakni 15 Des 2005 dan 11 Sep 2007 dan PT. Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) yang malakukan stock split dua kali dalam tahun pengamatan yakni 28 Juli 2006 dan tanggal 26 Desember 2007, serta melakukan warant pada 28 juli 2006. Sedangkan PT. Tigaraksa Satria Tbk. (TGKA) yang melakukan stock split pada 30 Agu 2005 dan PT. Jaya Pari Steel Tbk. (JPRS) stock split pada 12 Des 2007 tidak diambil sebagai sampel karena data yang dibutuhkan untuk penelitian tidak ditemukan dan tidak lengkap. Sehingga dari hasil akhir yang memenuhi kualifikasi sebagai sampel penelitian ini adalah sebanyak 21 emiten.
Tabel 3.1
Daftar Emiten Yang Memenuhi Kriteria Sebagai Sampel Periode 2005-2007
No
Kode Emiten
Nama Perusahaan
Tanggal Pemecahan
Split Faktor
Harga
Sebelum
Sesudah
1
SMAR
PT. Sinar Mas Agro Resources and technology Tbk.
20 Jun 2005
1 : 5
Rp. 1000,-
Rp. 200,-
2
CTRS
PT. Ciputra Surya Tbk.
25 Jul 2005
1 : 2
Rp. 500,-
Rp. 250,-
3
HEXA
PT. Hexindo Adiperkasa Tbk.
01 Sep 2005
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
4
PRAS
PT. Prima Alloy Steel Universal Tbk.
20 Sep 2005
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
5
TMAS
PT. Pelayaran tempuran Emas Tbk.
17 Mar 2006
1 : 2
Rp. 250,-
Rp. 125,-
6
DPNS
PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk.
08 Jun 2006
1 : 2
Rp. 500,-
Rp. 250,-
7
PJAA
PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk.
10 Jul 2006
1 : 2
Rp. 500,-
Rp. 250,-
8
JRPT
PT. Jaya Real Property Tbk.
14 Agu 2006
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
9
TSPC
PT. Tempo Scan Pacific Tbk.
14 Sep 2006
1 :10
Rp. 500,-
Rp. 100,-
10
EKAD
PT. Ekadharma International Tbk.
19 Okt 2006
1 : 2
Rp. 100,-
Rp. 50,-
11
APOL
PT. Arpeni Pratama Ocean Line Tbk.
24 Nov 2006
1 : 2
Rp. 500,-
Rp. 250,-
12
PLIN
PT. Plaza Indonesia Realty Tbk.
26 Des 2006
1 : 5
Rp. 1000,-
Rp. 200,-
13
BMTR
PT. Bimantara Citra Tbk.
24 Apr 2007
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
14
DAVO
PT. Davomas Abadi Tbk.
28 Mei 2007
1 : 2
Rp. 100,-
Rp. 50,-
15
ANTM
PT. Aneka Tambang Tbk.
12 Jul 2007
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
16
AKRA
PT. AKR Corporindo Tbk.
27 Jul 2007
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
17
SMGR
PT. Semen Gresik Tbk.
07 Agu 2007
1:10
Rp. 1000,-
Rp. 100,-
18
SOBI
PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk.
22 Agu 2007
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
19
HADE
PT. Hortus Danavest Tbk.
10 Sep 2007
1 : 2
Rp. 200,-
Rp. 100,-
20
PWON
PT. Pakuwon Jati Tbk.
19 Sep 2007
1 : 5
Rp. 500,-
Rp. 100,-
21
CPIN
PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk.
01 Nov 2007
1 : 2
Rp. 100,-
Rp. 50,-
Sumber : Data sekunder dari www.ksei.co.id data sudah diolah

D. Data dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder (secondary data), yaitu data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung (melalui media perantara) atau merupakan data yang diperoleh dan dicatat oleh pihak lain (Indriantoro Dan Supomo, 2002:147). Data sekunder dapat diperoleh dari perusahaan yang diteliti atau data yang dipublikasikan untuk umum dalam hal ini terbitan yang dikeluarkan oleh media massa atau perusahaan penerbit. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data base BEJ (www.jsx.co.id). Data penelitian terdiri dari:
1.      Data mengenai tanggal pengumuman stock split.
2.      Data harian harga saham selama periode pengamatan.
3.      Data harian volume perdagangan saham selama periode pengamatan.
4.      Data mengenai jumlah saham beredar perusahaan sampel pada saat periode t.
5.      Data harian Index Harga Saham Gabungan (IHSG)
6.      Data Abnormal return koreksi

E. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standart untuk memperoleh data yang diperlukan adalah dokumentasi, yang mana data dokumentasi memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta siapa yang terlibat dalam suatu kejadian (Indrianto dan supomo 2002: 40). Pengumpulan data unrtuk penelitian ini difokuskan pada volume dan harga saham yang beredar untuk masing-masing saham yang menjadi sampel selama periode penelitian yaitu 11 hari. Periode pengamatan disebut juga periode jendela (window period) yang dalam penelitian ini diambil 5 hari sebelum tanggal pengumuman stock split (pre event window), 1 hari saat pengumuman stock split (event date), dan 5 hari setelah tanggal pengumuman stock split (post event perod). Pengambilan periode ini dilakukan untuk menghindari confounding effect dari adanya peristiwa lain, seperti right issue, warrant, additional shares, pengumuman dividen, saham bonus, merger dan lain-lain,

F. Definisi Operasional Variabel
1.      Event study
       “Merupakan studi peristiwa yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event). Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu peristiwa” (Jogiyanto, 2003:418).
2. Stock split
“Merupakan pemecahan sejumlah lembar saham menjadi jumlah lembar saham yang lebih banyak dengan menggunakan nominal yang lebih rendah per lembarnya secara proporsional” (Abdul Halim, 2005:97).
3. Abnormal return
Abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi (return normal).
4. Trading Volume Activity (TVA)
Trading volume activity digunakan untuk melihat perubahan atas likuiditas saham. Untuk menghitung TVA saham diperlukan data mengenai volume perdagangan dan jumlah saham beredar pada saat t.

G. Model Analisis Data
Model yang digunakan dalam penelitia ini ialah Kolmogorov-Smirnov Test, uji One Sample t-Test dan Paired Sample t-Test dinama untuk perhitungannya dapat dilakukan dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Penerapan model ini ialah:
1. Uji Normalitas Data
       Pengujian normalitas ini diharapkan akan dapat menentukan alat uji selanjutnya yang digunakan dalam penelitian. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test, dengan membandingkan Asymptotic Significance dengan α = 0,05. Dasar penarikan kesimpulan adalah data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai Asymptotic Significance-nya > 0,05 (Singgih Santoso, 2004:212).

2. Pengujian Hipotesis
a. Uji Hipotesis I
       Pengujian terhadap Hipotesis I menggunakan uji One Sample t-Test, yaitu pengujian terhadap nilai rata-rata suatu observasi, apakah secara statistik berbeda dari nol atau sama dengan nol.
Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah :
1). Menentukan level of significance (α) = 5%.
2). Menentukan Hipotesis
Untuk abnormal return
Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return
Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return
Untuk Trading Volume Activity
Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity
Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity
3). Hipotesis dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai t-hitung yang signifikan dari abnormal return selama periode pengamatan.
Hipotesis dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai t-hitung yang signifikan dari TVA selama periode pengamatan.
b). Uji Hipotesis II
Dari hasil uji kenormalan data, maka tahapan uji hipotesis yang diambil adalah sebagai berikut:
1). Jika data berdistribusi normal, maka pengujian ini menggunakan Paired Sample t-Test yaitu dua populasi yang diamati secara berpasangan pada setiap pengamatan. Dimana dua populasi berpasangan ini dimiliki oleh suatu data yang sifatnya sebelum dan sesudah sehingga setiap obyek yang sama diamati sebelum treatmen dan sesudah treatmen.
Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah :
a. Menentukan Hipotesis
Ho : Tidak terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split
Ha : Terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split
b. Menentukan level of significance (α), yaitu sebesar 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar n-1.
c. Membandingkan probabilitas (p) t-hitung dengan α = 5%. Penarikan kesimpulan pada uji ini didasarkan pada:
- Apabila nilai probabilitas (p) < 0,05 maka Ho ditolak.
- Apabila nilai probabilitas (p) > 0,05 maka Ho diterima.
2). Jika data tidak berdistribusi normal, maka teknik uji beda dua sampel berpasangan yang digunakan adalah Uji Peringkat Wilcoxon (Wilcoxon Signed Rank Test) yang merupakan uji statistik non parametrik (Santoso, 2004:148). Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah :
a. Menentukan level of significance (α), yaitu sebesar 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar n-1.
b. Membandingkan probabilitas (p) z-hitung dengan α = 5%. Penarikan kesimpulan pada uji ini didasarkan pada:
- Apabila nilai probabilitas (p) < 0,05 maka Ho ditolak.
- Apabila nilai probabilitas (p) > 0,05 maka Ho diterima.












BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A.    ANALISIS DATA
1.      Gambaran Umum Pasar Modal Dan Bursa Efek Jakarta
a. Sejarah Singkat Bursa Efek Jakarta
Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai beroperasi pada tanggal 10 Agustus 1978 yang ditandai dengan go public-nya PT. Semen Cibinong sebagai perusahaan pertama yang tercatat di BEJ. Pada saat itu yang bertindak selaku pengelola bursa adalah Badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM). Hal tersebut berlangsung hingga tahun 1990 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 53/1990 dan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, yang pada intinya mengubah status BAPEPAM menjadi badan yang mengawasi serta membina kegiatan pasar modal sekaligus mengganti singkatan BAPEPAM menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Dengan perubahan status ini, pada dasarnya BAPEPAM tidak lagi mengelola kegiatan bursa termasuk BEJ, namun pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta mulai tanggal 16 April 1992, sedangkan swastanisasi perseroan oleh menteri keuangan dilakukan pada tanggal 13 Juli 1992.
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.
Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut:
  • 14 Desember 1912 :  Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.
  • 1914 – 1918 :  Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I
  • 1925 – 1942 :  Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya
  • Awal tahun 1939 : Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup.
  • 1942 – 1952 :  Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II
  • 1952 :  Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi Pemerintah RI (1950)
  • 1956 :  Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif.
  • 1956 – 1977 :  Perdagangan di Bursa Efek vakum.
  • 10 Agustus 1977 :  Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan di bawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
  • 1977 – 1987 :  Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal.
  • 1987 : Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.
  • 1988 – 1990 :  Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat.
  • 2 Juni 1988 :  Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
  • Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
  • 16 Juni 1989 :  Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.
  • 13 Juli 1992 :  Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
  • 22 Mei 1995 :  Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).
  • 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996.
  • 1995 :  Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.
  • 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
  • 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).
  • 2004 : Diluncurkannya produk Kontrak Opsi Saham.
  • 3 Desember 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI)
b. Perkembangan Bursa Efek Jakarta
Sejak 22 Mei 1995, Bursa Efek Jakarta telah menerapkan sistem perdagangan secara otomatis yang disebut dengan JATS (Jakarta Automatic Trading System). Seluruh order/pesanan jual -beli saham dilakukan dengan menggunakan sistem komputer yang terintegrasi dengan sistem perdagangan efek para anggota bursa. Dengan diterapkannya sistem perdagangan secara otomatis (JATS), diharapkan proses pelaksanaan transaksi perdagangan akan semakin tertib, wajar, likuid serta transparan. Dengan demikian, maka pelaksanaan perdagangan efek di BEJ tidak lagi dilakukan secara langsung di lantai perdagangan bursa.
Pada tanggal 30 November 2007 Bursa Efek Jakarta melakukan penggabungan dengan Bursa Efek Surabaya dan berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia sehingga dua bursa Indonesia itu akhirnya menjadi satu dan diharapkan akan lebih baik dalam prospek maupun kinerjanya yang baik pula. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi beroperasi mulai tanggal 3 Desember 2007 ini ditandai dengan bergabungnya 26 saham dari BES. Perusahaan atau emiten yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia  sampai 30 Desember 2007 sebanyak 378 perusahaan.
Perusahaan-perusahaan yang listing di BEI digolongkan menjadi beberapa golongan yaitu; Agriculture, Forestry And Fishing, Animal Feed And Husbandary, Manufacturing, Transportation Service, Communication, Whole Sale And Retail Trade, Bank Credit Agencies Other Than Bank, Securities, Real Estate And Property, Hotel And Travel Service.

2.      Analisis Event Study
a.      Abnormal Return dan AAR
      Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal jadi return tidak normal (abnormal return) adal;ah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi.
Pengujian abnormal return tidak dilakukan untuk tiap-tiap sekuritas tetapi dilakukan secara agregat dengan pengujian rata-rata return tidak normal seluruh sekuritas secara cross section untuk tiap-tiap hari periode.
Dalam penelitian ini, selama 5 hari pengamatan sebelum adanya peristiwa stock split semua  menunjukkan angka negatif namun yang tertinggi ialah pada t-1 dan terendah t-3. sedangkan untuk setelah event juga menunjukkan nilai negatif semua, yang terendah pada t1 dan tertinggi t4 seperti yang terlihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.1
Average Abnormal Return

Sebelum Event
Sesudah Event
T
Nilai
T
Nilai
-5
-1722.14
1
-1730.66
-4
-1724.91
2
-1749.83
-3
-1718.82
3
-1750.46
-2
-1723.30
4
-1753.55
-1
-1727.19
5
-1748.47
 Sumber : Data diolah 2007
Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa abnormal return selama periode pengamatan menunjukkan negatif semua sedangkan yang terendah ialah pada
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007) SKRIPSI Oleh : FARID MUCHTAR NIM : 03220090 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2008 ii ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007) SKRIPSI Diajukan kepada : Universitas Islam Negeri (UIN) Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Oleh : FARID MUCHTAR NIM : 03220090 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG 2008 iii LEMBAR PERSETUJUAN ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007) SKRIPSI Oleh : FARID MUCHTAR NIM : 03220090 Telah Disetujui 24 Juli 2008 Dosen Pembimbing, Ahmad Fahrudin Alamsyah, SE., MM NIP. 150294653 Mengetahui : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828 iv LEMBAR PENGESAHAN ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007) SKRIPSI Oleh: FARID MUCHTAR NIM : 03220090 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 5 Agustus 2008 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1 Ketua H. Ahmad Djalaludin, Lc., MA NIP. 150368783 : ( ) 2 Sekretaris / Pembimbing Ahmad Fahruddin A., SE., MM NIP. 150294653 : ( ) 3 Penguji Utama Drs. Agus Sucipto, MM NIP. 150327243 : ( ) Disahkan Oleh: Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP. 150231828 v PERSEMBAHAN Ku persembahkan Karya kecilku ini pada : Bapak dan Ibu tercinta yang telah selalu memberikan cinta dan dukungan pada anakmu ini. Saudara serta keluarga besarku di Garum dan Kesamben Adik Weny yang sabar menemani dan menasihatiku. Teman-Teman UKM KOPMA “Padang Bulan” dan warganya. Koperasi Pemuda “Muda Mandiri Sejahtera (MMS)”. Teman-Teman seperjuangan semuanya vi SURAT PERNYATAAN Yang bertandatangan di bawah ini saya : Nama : Farid Muchtar NIM : 03220090 Alamat : Jl. Kartini No. 1 Jugo Kesamben Blitar menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN )malang, dengan judul : ANALISIS REAKSI SAHAM TERHADAP PERISTIWA STOCK SPLIT YANG DITUNJUKKAN OLEH ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007) adalah hasil karya saya sendiri, bukan “ duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “ klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggungjawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 24 Juli 2008 Hormat saya, Farid Muchtar NIM: 03220090 vii MOTTO t Ïèϱ sƒø:$# ’n?tã Î) î u Î7s3s9 $p ¨ Î)u 4 Í 4 n=¢Á9$#u Î ö9¢Á9$$Î/ (# ã ŠÏètFó™$#u “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”, (Q. S. Al Baqarah: 45) $p š‰r' tƒ t Ï%©!$# (#þ ã t (# ßs|¡øù$$sù ħÎ= yfy ø9$# †Îû (# ßs¡¡x s? ö ä3s9 Ÿ ŠÏ% #sOEÎ) #u Ëx|¡ø tƒ ª!$# ö ä3s9 ( #sOEÎ)u Ÿ ŠÏ% (# â“à± $# (# â“à± $$sù Æìsùö tƒ ª!$# t Ï%©!$# (# ã t ö ä3 Ï #u t Ï%©!$#u (# è? é& z ù=Ïèø9$# ;M y_u‘yŠ 4 ª!$#u $y Î/ t è=y × Î7yz ÷ès? “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q. S. Al Mujaadilah: 11) viii KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Untaian puji syukur dengan hati dan pikiran yang tulus saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split yang Ditunjukkan oleh Abnormal Return dan Trading Volume Activity (Event Study pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007)” Salawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang telah menegakkan syi’ar Islam hingga kita dapat merasakan manfaatnya sampai sekarang. Adapun pembuatan skripsi ini adalah sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik penyajian data maupun sistematika penulisannya. Untuk itu peneliti mengharapkan adanya saran dan kritikan yang membangun demi sempurnanya skripsi ini. Pada kesempatan ini pula, perkenankanlah peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan baik secara langsung maupun tidak sehingga skripsi ini bisa selesai. Untuk itu, ucapan syukur dan doa tulus peneliti panjatkan, semoga Allah senantiasa memberi rahmat, anugerah dan hidayah-Nya bagi mereka semua. Kata terima kasih khusus peneliti persembahkan kepada: 1. Prof. DR. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. ix 2. Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi Islam Negeri (UIN) Malang. 3. Bapak Ahmad Fahrudin Alamsyah, SE., MM., Selaku Dosen Pembimbing yang telah sabar serta rela kehilangan waktunya untuk memberikan dorongan serta membimbing penulisan skripsi ini hingga selesai. 4. Seluruh Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, khususnya dosen Fakultas Ekonomi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuannya selama penulis menjadi mahasiswa. 5. Segenap pegawai Pojok Bursa Efek Jakarta UMM, yang telah memberikan izin penelitian dan membantu mengumpulkan data-data yang diperlukan penulis. 6. Bapak Muchtar dan Ibu Chomsatun tercinta yang telah memberikan dukungan baik moril, maupun materiil demi kelancaran studi penulis hingga selesai. 7. Saudara – saudaraku khususnya Ulil Karomah, Yuana Tri Syafiah Muchtar dan Imam Ghozali serta keluarga besar di Garum yang tidak bosan memberi dorongan serta motivasi bagi penulis selama ini khususnya saat melakukan pembelajaran. 8. Adik Weny Rismawati yang sabar menemani dan menasihatiku, Insyaallah kita akan bersama selalu. 9. Sahabat-sahabat seperjuanganku angkatan Fakultas Ekonomi angkatan 2003 yang senantiasa memberikan motivasi dan penyemangat bagi penulis. Semoga kita menjadi yang terbaik. 10. Teman sekamarku, Abdul Aziz jangan bosan dan marah bila harus terkena kudeta dan sendirian di kamar. Serta jangan lupa sama PP. Al Barokah IA 76. x 11. UKM KOPMA “Padang Bulan” dan warganya yang telah banyak mengajariku untuk menggali potensi diri serta memberiku pengalaman dan ilmu yang tidak penulis dapatkan di bangku kuliah. 12. Koperasi Pemuda “Muda Mandiri Sejahtera (MMS)” terima kasih bimbingan dan relasinya serta waktu yang telah diberikan. 13. Serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan, yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah melindungi dan memberi anugerah mereka semua, karena hanya kepada-Nya kita meminta. Akhirnya, peneliti berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan. Amin. Wassamualaikum Wr. Wb Malang, 24 Juli 2008 Peneliti xi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ ii LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ v MOTTO ............................................................................................................... vi KATA PENGANTAR ........................................................................................ vii DAFTAR ISI ........................................................................................................ x DAFTAR TABEL ................................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv ABSTRAK ........................................................................................................... xv BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar Belakang.............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 5 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 6 D. Batasan Penelitian ...................................................................... 6 E. Manfaat Penelitian ...................................................................... 7 BAB II : KAJIAN PUSTAKA ........................................................................ 8 A. Penelitian Terdahulu ................................................................... 8 B. Kajian Teoritis .............................................................................. 16 1. Pasar Modal .............................................................................. 16 a. Pengertian Pasar Modal ..................................................... 16 b. Bentuk Pasar Modal ........................................................... 22 c. Peranan Pasar Modal .......................................................... 25 d. Instrumen Pasar Modal ..................................................... 26 2. Saham ......................................................................................... 26 a. Pengertian Saham ............................................................... 26 b. Jenis-Jenis Saham ................................................................ 28 c. Keuntungan dan Kerugian Membeli Saham .................. 32 d. Penilaian Harga Saham ..................................................... 34 3. Stock Split (Pemecahan Saham) ............................................... 34 a. Pengertian Stock Split (Pemecahan Saham) ..................... 34 b. Jenis-jenis Stock Split ........................................................... 36 c. Tujuan Stock Split ................................................................ 37 d. Manfaat Stock Split .............................................................. 39 e. Teori-Teori yang Mendasari Kebijakan Stock Split ......... 39 4. Abnormal Return ...................................................................... 42 5. Trading Volume Activity (TVA) ................................................ 45 xii 6. Kerangka Berfikir ...................................................................... 47 7. Hipotesis .................................................................................... 48 BAB III : METODE PENELITIAN ............................................................... 49 A. Lokasi Penelitian .......................................................................... 49 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian ................................................ 49 C. Populasi dan Sampel ................................................................... 50 D. Data dan Sumber Data ................................................................ 53 E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 54 F. Definisi Operasional Variabel ..................................................... 55 G. Model Analisis Data .................................................................... 56 1. Uji Normalitas Data ..................................................................... 56 2. Pengujian Hipotesis .................................................................. 57 BAB IV : ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ................................................................................... 60 A. Analisis Data ................................................................................. 60 1. Gambaran Pasar Modal Dan Bursa Efek Jakarta ................. 60 a. Sejarah Singkat Bursa Efek Indonesia ............................... 60 b. Perkembangan Bursa Efek Jakarta .................................... 64 2. Analisis Event Study .................................................................. 65 a. Abnormal Return dan AAR ............................................... 65 b. Trading Volume Activity ................................................... 68 3. Hasil Analisis ............................................................................. 70 a. Uji Normalitas Data ............................................................. 70 b. Pengujian Hipotesis ............................................................ 71 1). Uji Hipotesis I .................................................................. 71 2). Uji Hipotesis II ................................................................ 74 a). Abnormal Return ....................................................... 75 b). Trading Volume Activity ......................................... 75 B. Pembahasan Hasil Penelitian ...................................................... 76 BAB V : PENUTUP ......................................................................................... 86 A. Kesimpulan ................................................................................... 86 B. Saran ............................................................................................... 87 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 89 LAMPIRAN xiii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 : Penelitian Terdahulu .............................................................. 8 Tabel 3.1 : Daftar Emiten Yang Memenuhi Kriteria Sebagai sampel . 52 Tabel 4.1 : Average Abnormal Return ........................................................ 66 Tabel 4.2 : Rata-rata Trading Volume Activity ......................................... 68 Tabel 4.3 : Hasil Uji Normalitas ............................................................... 70 Tabel 4.4 : Hasil uji one sample t test abnormal return ........................ 72 Tabel 4.5 : Hasil uji one sample t test Trading Volume Activity .............. 73 Tabel 4.6 : Hasil uji paired sample t-test abnormal return dan TVA . 75 Tabel 4.7 : Perbedaan Hasil – Hasil Penelitian ...................................... 80 xiv DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1: Kerangka Berfikir ........................................................ 47 Gambar 4.1: Average Abnormal Return ............................................ 67 Gambar 4.2: Rata-Rata Trading Volume Activity ........................ 69 xv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Harga Saham Lampiran 2 : Abnormal Return Lampiran 3 : Rata – rata Abnormal Return Lampiran 4 : Volume Perdagangan Lampiran 5 : Saham Beredar Lampiran 6 : Trading Volume Activity Lampiran 7 : Rata – rata Trading Volume Activity Lampiran 8 : Hasil Pengujian SPSS Lampiran 9 : Bukti Konsultasi Lampiran 10 : Surat Keterangan Penelitian xvi ABSTRAK Muchtar, Farid. 2008. SKRIPSI. Judul : “Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Di Bej Periode 2005-2007) Pembimbing : Ahmad Fahrudin Alamsyah, SE., MM. Kata Kunci : Stock Split, Abnormal Return, Trading Volume Activity Informasi dan pengetahuan mempunyai peranan penting dan menentukan terhadap dalam berbisnis begitu pula dalam pasar modal banyak investor yang mengandalkan informasi untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu informasi yang juga berpengaruh ialah informasi stock split (Pemecahan Saham). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui reaksi pasar terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya perubahan terhadap abnormal return dan Trading Volume Activity saham. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel sebanyak 21 perusahaan, yang melakukan stock split pada periode 2005-2007 di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sedangkan alat analisis yang digunakan ialah uji normalitas data menggunakan Kolmogorov Smirnow Test, One sample T-Test, Paired sample T-test jika data terdistribusi normal. Jika data tidak terdistribusi normal maka menggunakan uji peringkat wilcoxon. Dari hasil pengujian kenormalan data menunjukkan bahwa data berdistribusi normal sehingga pengujian menggunakan alat uji Paired sample T-test. Hasil uji hipotesis penelitian ini menemukan fakta bahwa peristiwa stock split menyebabkan perubahan terhadap abnormal return dan Trading Volume Activity (TVA). Hasil pengujian terhadap perbedaan rata-rata abnormal return dan Trading Volume Activity (TVA) periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split menunjukkan hanya terdapat perbedaan terhadap abnormal return, sedangkan Trading Volume Activity (TVA) tidak dijumpai adanya perbedaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split yang signifikan. Tidak adanya perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar investor masih banyak yang melakukan wait and see terhadap adanya peristiwa stock split dan tidak melakukan perdagangan karena pasar modal Indonesia masih tergolong pasar yang inefisien, sehingga dalam jangka pendek stock split tidak mampu memberikan signal adanya perubahan earning bagi investor. xvii ABSTRACT Muchtar, Farid. 2008. THESIS. Title: “Analysis on Stock Reaction to Stock split Event Showed by Abnormal Return and Trading Volume Activity (Event Study on Stock Splited Company in Stock Exchange Jakarta 2005-2007 Period)”. Advisor : Ahmad Fahrudin Alamsyah, SE., MM. Key Words : Stock split, Abnormal Return, Trading Volume Activity Information and knowledge have important role and determine not only in business but also in stock exchange. Many investors who rely on information to get profit. One of information which is also influence is stock split information. The aim of this research is to know the market reaction to Stock split Event Which is Showed by the changes of stock Abnormal Return and Trading Volume Activity. The research is done by using 21 sample of company, which do Stock Split in Stock Exchange Jakarta (BEJ) in 2005-2007. While analysis instrument which is used is data normality test using Kolgorov Smirnov Test, One sample T-test, Paired sample T-test if the data is normally distributed. If the data is not distributed normally, it will use wilcoxon level test. From the result of data normal test shows that the data is distributed normally, therefore the test uses Paired sample T-test instrument. The result of this research hypothesis finds that stock split event causes the changes on Abnormal Return and Trading Volume Activity (TVA). The test result on average difference of Abnormal Return and Trading Volume Activity (TVA) before and after stock split event shows only the difference on Abnormal Return, while in Trading Volume Activity (TVA), there is no difference before and after significant stock split event. The absence of this difference shows that investor market still wait and see to the stock split event and do not do trading because Indonesian stock exchange still included to inefficient market. So, in short term the stock split is not able to give signal the presence of earning changes for investor. xviii 􀀀 2008 8 5 9 5 6 8 !:"#; < 8 = # $8 : %"7&' ( ) * + , - . / 0 12􀀀%#3<48>?6 BEJ 8C: < B 5 @ ) 8% A -3 A :7 2005 D 2007 B / ) F GH 􀀀 􀀀IG E + ' ( ) * +, . /012􀀀%#G 8% %J 89"@ H/ %O / K @ -) 4 ^ Z T L􀀀#2 G [V AN :\ MG N=;@ -VN O P Z T!#!"U#"# Q]A􀀀 5 -2 - 89 W# X$ R5 E- Y M % "S % `8Z T # U - 8' ,NKT `#VUHN E4 􀀀9` - 8C: < 9 56 a :; H + # - '􀀀 - 8(C% ) *4 +9 ,- X .9 / 01 2 􀀀%#G!"# 2005 D 2007 7 5 @ ) 8% A -3 A : < BEJ 8X b [ 9 56 8%"%" 8 c G B 9 58, % R Kolmogorov Smirnow Test, One Sample T-test, Paired Sample Ttest h iOX8"% ,e8X b 9 % R /08, % d e 5f g2-R 8, % d e 5 g2 wilcoxon R 8, % d e 5 ZG4􀀀5R 8, % 8X b 8j% ,H 8X b 8 c 9 56 8X b 6 Paired Sample T-test k ZGdl 􀀀b ' N(` )8%* +$ , -8j % , -. /0 12􀀀%#G!"#/%O (TVA) A- $ N`!"#8X b 8j% ,- ' ( ) * +,- . /012􀀀%#GH (TVA) '􀀀 X- (l )8C:*< +4,􀀀 ^G mn . /0 12􀀀%#G!"# A $ Z . ,oG4􀀀 (TVA) 􀀀4p 9 f A : ,oG4􀀀 Z3 A $ r C`q % - [ -NX 􀀀 X- l 9A $ Z G K).- wait and see ZAG d:%iZ 3 Rf j 9 fR-/ Y l R < 6 =!; "# AB i:C5 H-4 9ts9 C "5 7WuX 4 e/ % O5 )%,- 􀀀X,eU 4 LiG 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi yang semakin luas dan cepat ini, informasi dan pengetahuan mempunyai peranan penting dan menentukan terhadap keberhasilan dalam berbisnis. Begitu juga pada perdagangan saham yang terdapat di pasar modal, banyak aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para investor untuk memperoleh keuntungan (return). Dengan mengandalkan informasi yang masuk dalam pasar modal tersebut maka diharapkan informasi tersebut bisa digunakan untuk pertimbangan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor dalam memilih portofolio investasi yang efisien dan memperoleh return yang tinggi. Pasar modal sebagai sumber informasi memegang peranan penting terhadap transaksi perdagangan. Para pelaku di pasar modal sangat membutuhkan setiap informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga surat berharga di pasar modal. Salah satu informasi yang ada adalah pengumuman pemecahan saham (stock split). “Stock split adalah memecah selembar saham menjadi banyak lembar saham atau memecah saham menjadi n lembar saham. Harga perlembar saham baru setelah stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya” (Jogiyanto, 2003:415). Dari teori tersebut dapat dilihat bahwa stock split yang 2 dilakukan oleh perusahaan emiten tidak terbatas sesuai keputusan manajermanajer perusahaan dalam melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan split factor. Split faktor disini ialah nilai yang ditunjukkan oleh jumlah nilai n. Sehingga satu lembar saham bisa dipecah menjadi dua, dimana setiap pemegang saham akan menerima dua lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dipegang sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Sedangkan bila satu lembar saham dipecah menjadi tiga, maka pemegang saham akan menerima tiga lembar saham untuk setiap satu lembar saham yang dimiliki sebelumnya, nilai nominal saham baru adalah sepertiga dari nilai nominal saham sebelumnya dan demikian seterusnya. Keputusan melakukan stock split pada umumnya dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi minat investor untuk membelinya. Stock split timbul atau terjadi di pasar modal karena adanya keinginan dari para emiten untuk mempertahankan agar saham yang dimilikinya tetap berada dalam rentang perdagangan yang optimal. Para ahli menyebut stock split sebagai suatu kosmetika saham, dalam arti bahwa tindakan perusahaan tersebut merupakan upaya pemolesan saham agar lebih menarik dimata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor. Tindakan pemecahan saham akan menimbulkan 3 efek fatamorgana bagi investor, yaitu investor akan merasa seolah-olah menjadi lebih makmur karena memegang saham dalam jumlah yang lebih banyak. Jadi, pemecahan saham sebenarnya merupakan tindakan perusahaan yang tidak memiliki nilai ekonomis (Jogiyanto 2003:416). Meskipun secara teoritis pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis atau tidak secara langsung mempengaruhi cash flow perusahaan, tetapi banyak terjadi peristiwa pemecahan saham di pasar modal. Terdapat beberapa alasan dibalik pelaksanaan stock split yang menurut Keown dkk. (1996) dalam Rohana et al. (2003) adalah: (1) Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham, (2) Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan, (3) Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen kas. Umumnya Stock split dilakukan oleh para emiten didasari oleh tingginya harga saham suatu perusahaan, sehingga investor kurang mampu untuk melakukan pembelian dan berakibat menurunnya likuiditas dari suatu saham, dengan adanya kebijakan stock split akan menimbulkan dampak penurunan harga saham (yang disertai perubahan jumlah saham yang beredar secara proporsional). Penurunan harga ini diharapkan akan diikuti dengan meningkatnya return saham, return yang meningkat akan menarik minat investor untuk melakukan investasi. Banyaknya investor 4 yang ikut berpartisipasi dalam aksi jual atau beli saham akan menjadikan volume perdagangan saham tersebut meningkat sehingga berakibat pada adanya perubahan aktivitas perdagangan pada level tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditarik satu kesimpulan sementara bahwa peristiwa stock split mengandung satu informasi sehingga pasar modal bereaksi yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan Trading Volume Activity (TVA) saham. Dampak Stock split yang dilakukan perusahaan-perusahaan telah pernah diteliti sebelumnya. Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang kontroversi mengenai efek stock split tersebut, hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan Grinblatt, Masulis dan Titman (1984) dalam Sutrisno,dkk(2000;3) “Bahwa di sekitar pengumuman Stock split menunjukkan adanya perilaku harga saham yang abnormal. Diyakini pula bahwa peningkatan harga yang terjadi tidak disebabkan karena adanya pengumuman deviden yang meningkat seperti yang dikemukakan oleh Fama dan French (1993). Penelitian lain dilakukan oleh McNichols dan Dravid (1990) dalam Almilia dan Kristijadi (2005) memberikan bukti bahwa semakin rendahnya harga saham, maka hal tersebut menimbulkan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan akibat melakukan aktivitas stock split. Aktivitas stock split yang dilakukan perusahaan ini akan diinterpretasikan 5 investor sebagai sinyal bahwa manajer memiliki informasi yang menguntungkan di mana hal tersebut ditunjukkan dengan adanya abnormal return di sekitar pengumuman stock split. Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Murray (1985) dalam Sutrisno, dkk(2000;3) yang menyatakan bahwa stock split tidak berpengaruh terhadap volume perdagangan maupun bid–ask spread. Dan juga penelitian yang dilakukan oleh Copeland (1979), dalam Rohana et al. (2003) yang justru menunjukkan hasil yang berlawanan yaitu, “pasar tidak melakukan reaksi terhadap pengumuman stock split”. Dari Perbedaan hasil penelitian tentang stock split yang secara umum menghasilkan dua pendapat yang berbeda terhadap variabel-variabel yang diteliti, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang stock split sehingga mengambil judul penelitian “Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2005-2007)”. B. Rumusan Masalah 1. Apakah saham bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan perubahan Trading Volume Activity? 6 2. Apakah terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah stock split? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui reaksi saham terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan Trading Volume Activity saham. 2. Untuk mengetahui adanya perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah stock split. D. Batasan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti memberi batasan pada: 1. Perusahaan yang menjadi sampel penelitian tersebut hanya melakukan kebijakan stock split sebanyak satu kali dalam periode 2005-2007. 2. Perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian tersebut hanya melakukan kebijakan stock split berupa kebijakan pemecahan naik (split-up) atas saham beredarnya. Pemecahan naik (split-up) adalah pemecahan saham dengan rasio penurunan nilai nominal per 7 lembar saham, sehingga yang akan mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar. E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Praktisi dan Investor Pasar Modal penelitian ini diharapkan mampu sebagai sumber informasi mengenai dampak peristiwa stock split terhadap pasar modal, yang menyebabkan perubahan harga dan likuiditas saham perusahaan. 2. Bagi Pembaca dan Pengembangan Penelitian Selanjutnya sebagai sumber referensi dan tambahan pengetahuan dalam kerangka pengembangan penelitian selanjutnya yang sejenis. 3. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan dan wawasan dalam aplikasi ilmu yang telah diperoleh serta mengetahui gambaran umum mengenai pasar modal dan aktivitas di dalamnya khususnya terkait dengan sebuah perusahaan yang melakukan stock split. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu NO PENELITI JUDUL METODE VARIABEL HASIL 1 Wang Sutrisno, Francisca Yuniartha, Soffy Susilowati (2000) Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta Regresi sederhana. Stock Split, Likuiditas dan Return Saham Aktivitas split berpengaruh signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham dan abnormal return baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio 2 Denny Suntoro dan Imam Subekti (2003) Kandung an Informasi Atas Regresi linear dan one sample t-test Stock Split Abnormal Return, Return Saham Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh 9 Peristiwa Stock Split yang signifikan peristiwa stock split terhadap return saham dan juga berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham. 3 Indah Kurniawati (2003) Analisis Kandung an informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Nonsynchrono us Trading Regresi linear sederhana (paired sample ttest) Stock Split dan Likuiditas Saham Pengumuman stock split memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh pelaku pasar. Sehingga pasar bereaksi karena mengetahui propsek perusahaan yang bagus dimasa akan depan yang disinyalkan melalui stock split sedangkan volume perdagangan tidak signifikan, ini dikarenakan investor round lot lebih banyak dan investor kecil 10 bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split. 4 Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi(2005) Analisis Kandung an Informasi dan Efek Intra Industri Pengumu man Stock Split yang Dilakuka n oleh Perusaha an Bertumbu h dan Tidak Bertumbu h Crude dependence adjustment, Independent Sample T – Test, Paired samples test, Independent Sample Ttest. Stock split, Abnormal return, Resiko sistematis Pengumuman stock split yang dilakukan perusahaan memiliki kandungan informasi sehingga direspons oleh para pelaku pasar. Selain itu, terdapat perbedaan beta sebelum dan setelah pengumuman stock split. Perbedaan beta terjadi setelah pengumuman stock split antara perusahaan bertumbuh dengan perusahaan tidak bertumbuh, dimana beta perusahaan tidak bertumbuh lebih besar dari perusahaan bertumbuh 11 dan juga memberikan bukti bahwa efek intra industri pada pengumuman stock split hanya terjadi pada perusahaan bertumbuh, sedang pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan tidak bertumbuh adalah competitive effect. 5 Farid Muchtar (peneliti sekarang) Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukk an Oleh Abnormal Return Dan Trading Kolmogorov Smirnov Test, One Sample t Test, Paired Sample t- Test Stock Split, Abnormal Return Dan Trading Volume Activity Hasil penelitian mampu membuktikan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return dan tarding volume activity ini diuji dengan One Sample t Test, . Sedangkan, berdasarkan 12 Volume Activity (Event Study Pada Perusaha an Yang Melakuka n Stock Split Di BEJ Periode 2005- 2007) hasil pengujian dengan Paired Sample t-Test yang bertujuan mengetahui adanya perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah peristiwa stock spli hasilnya membuktikan bahwa terdapat perbedaan signifikan Abnormal Return sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Namun. tidak dapat membuktikan adanya perbedaan yang signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa. Sumber: data diolah 2006 13 1) Wang Sutrisno, Francisca Yuniartha, Soffy Susilowati (2000), Melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta” periode Penelitian ini ialah Juli 1995–Juli 1997. Berdasarkan dari hasil penelitian itu didapat kesimpulan bahwa aktivitas split mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varians saham dan abnormal return baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio, sehingga tidak ada perubahan pada return saham. Sedangkan Rata – rata, harga saham mempunyai hubungan yang positif terhadap persentase spread dan rata-rata, volume perdagangan mempunyai hubungan yang negatif terhadap persentase spread baik ditinjau secara individual ataupun sebagai sebuah portofolio. Dan dengan semakin besarnya persentase spread, secara keseluruhan baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio disimpulkan bahwa likuiditas saham mengalami penurunan setelah stock split. 2) Denny Suntoro dan Imam Subekti (2003), melakukan penelitian mengenai kandungan informasi yang dimiliki oleh perusahaan yang melakukan stock split di BEJ dengan judul “Kandungan Informasi atas Pertistiwa Stock Split”. Untuk menghindari bias yang disebabkan oleh kondisi BEJ yang masih merupakan thin market, penelitian tersebut 14 menggunakan abnormal return koreksi sebagai proksi dari return saham. Penelitian tersebut mampu membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan peristiwa stock split terhadap return saham, pasar menunjukkan reaksi positif pada t-2, t+1, dan t+4. Hasil lain dari penelitian tersebut adalah stock split juga berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham pada saat t+2 dan t+5. 3) Indah Kurniawati (2003), melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Non-synchronous Trading” periode penelitian ini ialah juni 1994 – juni1997, pengujian dilakukan dengan cara menganalisis terhadap variable stock split, abnormal return, dan likuiditas saham. Hasilnya menunjukkan Pengumuman stock split memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh pelaku pasar di BEJ. Hal ini menunjukkan pasar bereaksi karena mengetahui propsek perusahaan yang bagus dimasa yang akan depan yang disinyalkan melalui stock split sedangkan volume perdagangannya tidak signifikan dengan p-value sebesar 0.052, ini dikarenakan investor round lot lebih banyak dan investor kecil bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split. 4) Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi(2005), judul penelitian “Analisis Kandungan Informasi Dan Efek Intra Industri Pengumuman Stock Split Yang Dilakukan Oleh perusahaan Bertumbuh Dan Tidak 15 Bertumbuh” hasil penelitian menunjukkan bahwa pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan bertumbuh dan tidak bertumbuh memiliki kandungan informasi sehingga direspon oleh para pelaku pasar. Selain itu, terdapat perbedaan beta sebelum dan setelah pengumuman stock split. Perbedaan beta terjadi setelah pengumuman stock split antara perusahaan bertumbuh dengan perusahaan bertumbuh, dimana beta perusahaan tidak bertumbuh lebih besar dari perusahaan bertumbuh Penelitian ini juga memberikan bukti bahwa efek intra industri pada pengumuman stock split hanya terjadi pada perusahaan bertumbuh, sedangkan pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan bertumbuh adalah competitive effect. 5) Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya ialah : a. Sample yang diambil dalam penelitian ini ialah perusahaanperusahaan di Bursa Efek Jakarta yang melakukan Stock Split pada tahun 2005-2007 b). Uji yang digunakan ialah Kolmogorov Smirnov Test untuk mengetahui normalitas data, One Sample t Test untuk mengetahui Abormal Return dan Trading Volume Activity, Paired Sample t-Test bila data terdistribusi normal dan Uji Peringkat Wilcoxon bila data tidak berdistribusi normal. 16 B. Kajian Teoritis 1. Pasar Modal a. Pengertian Pasar Modal Pada dasarnya, pasar modal merupakan tempat pertemuan antara pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang menyediakan dana. Pasar modal sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau sekuritas jangka panjang yang bisa diperjual-belikan baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities) maupun swasta. Dengan demikian, pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit daripada pasar keuangan (financial market). Dalam financial market, diperdagangkan semua bentuk hutang dan modal sendiri, baik dana jangka panjang ataupun dana jangka pendek (Husnan, 1996:3). Secara formal, Husnan (2001:3) mendefinisikan pasar modal sebagai: “Pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities), maupun perusahaan swasta”. Dalam Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, 17 Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan jangka panjang, dimana pasar modal memiliki dua fungsi yaitu menyediakan dana bagi pihak yang memerlukan dana dan mempunyai kelebihan dana untuk menginvestasikan dana yang mereka miliki. Disamping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang mempunyai dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang menurutnya memberikan return yang optimal. Dari sisi syariah, pasar modal adalah salah satu sarana atau produk muamalah. Transaksi di dalam pasar modal, menurut prinsip hukum syariah tidak dilarang atau dibolehkan sepanjang tidak terdapat transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syariah. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004) Di antara yang dilarang oleh syariah adalah transaksi yang mengandung bunga dan riba, terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang di dalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida’). Termasuk dalam 18 pengertian ini: melakukan penawaran palsu (najsy); transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling/bai’u maalaisa bimamluk); menjual sesuatu yang belum jelas (bai’ul ma’dum); pembelian untuk penimbunan efek (ihtikar) dan menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading). (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004) Larangan transaksi bunga (riba) sangat jelas, karena itu transaksi di pasar modal yang di dalamnya terdapat bunga (riba) tidak diperkenankan oleh Syari’ah. Sebagaimana Firman Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi š Ï%©!$# t è=à2ù'tƒ (#4 t/Ìh 9$# Ÿ t ã à)tƒ Î) $y x. ã# à)tƒ ”Ï%©!$# çμäܬ6y‚tFtƒ ß& s z&Ï Üø‹¤±9$# Äb§y ø9$# 4 y7Ï9)sOE ö ß*$+r'Î/ (#þ ä9$s% $y $+Î) ßìø‹t7ø9$# ã ÷WÏ (#4 t/Ìh 9$# 3 ¨ ymr&u ª!$# yìø‹t7ø9$# t#§ ymu (#4 t/Ìh 9$# 4 &y s ù …ç-u !%y` ×.sàÏãö t &Ïi /ÏμÎn/§‘ 4‘y*tF+$$sù …ã&s#sù $t y#n=y™ ÿ…ç-ã ø r&u ’n<Î) «!$# ( ï3t u y7Í× s9' é'sù yŠ$tã Ü= y š7 à$Î# yz $p 6Ïù ö è5 ( Í‘$¨ 9$# sô¹r& “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, 19 lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Q.S Al-Baqarah :275) Sedangkan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa dalam jual beli hendaknya kita laksanakan dengan cara yang benar bukan dengan cara yang batil, yakni $y*•ƒr' tƒ š Ï%©!$# (# ã8t #u Ÿ (#þ è=à2ù's? ä3s9)u ø r& 9à6o8÷;t/ È ÏÜ t6ø9$$Î/ H Î) r& š7 ä3s? ¸ t pgÏB &tã <Ú#t s? ö ä3 Ïi 4 Ÿ u (#þ è=çFø)s ö ä3Î/ t %x. ©!$# ¨ Î) 4 ö ä3|¡à +r& ? $V ŠÏmu‘ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q.S An Nisaa: 29) Dengan adanya ketentuan dan pandangan syariah seperti di atas, maka investasi tidak dapat dilakukan ke produk yang bertentangan dengan syariah. Oleh karena itu investasi di pasar modal harus dilakukan dengan selektif dan dengan hati-hati (ihtiyat) supaya tidak masuk kepada produk non halal. Sehingga hal inilah yang mendorong islamisasi pasar modal. 20 Terkait dengan upaya pengembangan pasar modal syariah, hingga saat ini terdapat 6 (enam) Fatwa DSN-MUI yang berkaitan dengan industri pasar modal. Fatwa-fatwa tersebut adalah: 1. Fatwa No.05 tahun 2000 tentang Jual Beli Saham 2. Fatwa No.20 tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah 3. Fatwa No.32 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah 4. Fatwa No.33 tahun 2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah 5. Fatwa No.40 tahun 2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal. 6. Fatwa No.41 tahun 2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah. Bentuk ideal dari pasar modal Syariah dapat dicapai dengan islamisasi empat pilar pasar modal, yaitu: 1) Emiten (perusahaan) dan efek yang diterbitkannya didorong untuk memenuhi kaidah Syariah, keadilan, kehati-hatian dan transparansi. 2) Pelaku pasar (investor) harus memiliki pemahaman yang baik tentang ketentuan muamalah, manfaat dan risiko transaksi di pasar modal. 21 3) Infrastruktur informasi bursa efek yang jujur, transparan dan tepat waktu yang merata di publik yang ditunjang oleh mekanisme pasar yang wajar. 4) Pengawasan dan penegakan hukum oleh otoritas pasar modal dapat diselenggarakan secara adil, efisien, efektif dan ekonomis. Selain itu prinsip-prinsip Syari’ah juga akan memberikan penekanan (emphasis) pada: 1) Kehalalan produk atau jasa dari kegiatan usaha, karena menurut prinsip Syariah manusia hanya boleh memperoleh keuntungan atau penambahan harta dari hal-hal yang halal dan baik. 2) Adanya kegiatan usaha yang spesifik dengan manfaat yang jelas, sehingga tidak ada keraguan akan hasil usaha yang akan menjadi obyek dalam perhitungan keuntungan yang diperoleh. 3) Adanya mekanisme bagi hasil yang adil –baik dalam untung maupun rugi- menurut penyertaan masing-masing pihak. 4) Penekanan pada mekanisme pasar yang wajar dan prinsip kehatihatian baik pada emiten maupun investor. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004) 22 b. Bentuk Pasar Modal Sunariyah (2004:12-16) pasar modal berdasarkan macam-macam dan proses penyelenggaraan transaksi, pasar modal dibedakan menjadi: 1). Macam-macam pasar modal 1) Pasar Perdana (Primary Market) yaitu penawaran saham dari emiten kepada investor selama waktu yang telah ditetapkan oleh pihak yang menerbitkan sebelum saham tersebut diperdagangkan di pasar sekunder. Harga saham di pasar ini ditentukan oleh penjamin emisi dan perusahaan yang menerbitkan saham (emiten). 2) Pasar Sekunder (Secondary Market) yaitu perdagangan saham setelah melewati penawaran di pasar perdana. Jadi pasar sekunder merupakan pasar dimana saham dan sekuritas lainnya diperjualbelikan secara luas setelah penjualan di pasar perdana. Harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh pemerintah dan penawaran antara pembeli dan penjual menurut mekanisme pasar. 3) Pasar Ketiga (Third Market) yaitu tempat perdagangan saham di luar bursa (over the counter market). Di Indonesia pasar ini disebut bursa pararel, yaitu suatu sistem perdagangan efek atau surat berharga yang terorganisir di luar bursa efek resmi, dalam bentuk 23 pasar sekunder yang diatur dan dilaksanakan oleh Perserikatan dan Perdagangan Uang dan Efek-efek (PPUE) dengan diawasi dan dibina oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). 4) Pasar Keempat (Fourth Market) pada dasarnya merupakan suatu bentuk perdagangan efek antar pemodal atau investor dengan kata lain berupa pengalihan saham dari satu pemegang saham ke pemegang saham lainnya tanpa melalui perantara perdagangan efek atau lembaga lainnya. 2). Pasar modal ditinjau dari proses transaksi a) Pasar Spot, yaitu pasar keuangan yang memperdagangkan sekuritas untuk diserahkan secara langsung (spontan). Artinya jika seseorang membeli suatu jasa-jasa finansial maka pada saat itu juga akan menerima jasa yang dibeli tersebut. Dalam Islam transaksi ini hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari (FC HG@< DE?C BA =>@? )< dan merupakan transaksi internasional. (Fatwa DSN NO: 28/DSNMUI/ III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)) b) Pasar Future atau Forward, yaitu pasar keuangan dimana penyerahan sekuritas dilakukan pada waktu yang akan datang sesuai dengan kesepakatan. Proses transaksi tersebut memuat 24 kesepakatan waktu terjadinya transaksi dan saat penyerahan harus dilakukan sehingga perpindahan kekayaan memerlukan jangka waktu tertentu. Transaksi Forward dalam Islam Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa'adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah). (Fatwa DSN NO: 28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)) c) Pasar Opsi, yaitu pasar keuangan yang memperdagangkan hak untuk menentukan pilihan (menjual atau membeli) terhadap saham atau obligasi, pilihan tersebut adalah persetujuan atau kontrak hak pemegang saham untuk membeli atau menjual dalam waktu tertentu. Dalam Islam, pasar opsi yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena 25 mengandung unsur maisir (spekulasi). (Fatwa DSN NO: 28/DSNMUI/ III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf)) c. Peranan Pasar Modal Menurut Jogiyanto (2003:11) bahwa, “pasar modal mempunyai peranan yang penting dalam suatu negara, bahkan dapat dikatakan bahwa pasar modal merupakan indikator keberhasilan perekonomian suatu negara”. Peranan pasar modal adalah: a. Sebagai sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan dana jangka panjang dengan menjual saham dan mengeluarkan obligasi. b. Untuk menarik pembeli dan penjual untuk berpartisipasi, pasar modal harus bersifat likuid dan efisien. c. Pasar modal juga mempunyai fungsi sarana alokasi dana yang produktif untuk memindahkan dana dari pemberi pinjaman ke peminjam. Sementara itu, Husnan (2001:4-5) mengemukakan bahwa, “keberadaan pasar modal mempunyai beberapa daya tarik dari para investor, antara lain sebagai berikut: 1) Pasar modal akan bisa menjadi alternatif penghimpun dana selain sistem perbankan. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan sekuritas yang berupa surat tanda hutang (obligasi) ataupun surat tanda kepemilikan (saham). 2) Pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi resiko mereka. Dengan adanya pasar modal, para pemodal memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portofolio (atau gabungan dari berbagai investasi) sesuai dengan resiko yang mereka tanggung dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. 26 d. Instrumen Pasar Modal Instrumen pasar modal pada prinsipnya merupakan semua jenis surat berharga (securitas). Adapun pengertian dari beberapa instrumen pasar modal yang umum diperdagangkan, adalah sebagai berikut: 1) Saham (Stock), merupakan suatu surat penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. 2) Rights, merupakan hak yang diberikan kepada pemegang saham lama untuk membeli tambahan saham baru yang diterbitkan oleh suatu perusahaan. 3) Obligasi (Bond), merupakan bukti hutang dari emiten yang dijamin oleh pihak penganggung yang mengandung suatu janji pembayaran bunga atau janji lainnya serta pelunasan pokok pinjaman yang akan dilakukan pada tanggal jatuh tempo. 4) Waran (Warrant), merupakan hak yang diberikan kepada pemilik obligasi untuk membeli sejumlah tertentu saham penerbit obligasi dimasa yang akan datang dengan harga yang telah ditentukan. 2. Saham a. Pengertian Saham Pengertian saham secara umum adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perseroan terbatas yang 27 memberikan keuntungan dalam bentuk deviden dan capital gain. Husnan (2001:285) mendefinisikan saham menunjukkan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT). Pemilik saham suatu perusahaan disebut sebagai pemegang saham, merupakan pemilik saham. Sugiyarso dan Winarni (2005:32), “saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau yang biasa disebut emiten”. Menurut Harianto dan Sudomo (1998:66), “Saham adalah surat bukti pemilikan bagian modal atau tanda penyertaan modal pada perusahaan yang memberi hak atas deviden dan lain-lain menurut besar kecil modal disetor”. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan. Sedangkan keuntungan yang dapat diperoleh dengan memiliki saham yaitu, dividen dan capital gain. Sedangkan dalam islam, saham syariah adalah salah satu bentuk dari saham biasa yang memiliki karakteristik khusus berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan ruang lingkup kegiatan usaha. Di Indonesia saham syariah dimasukkan dalam perhitungan Jakarta Islamic Index (JII) yang merupakan indeks yang dikeluarkan oleh PT. 28 Bursa Efek Jakarta yang merupakan subset dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bagi perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks, mereka dinilai telah memenuhi penyaringan syariah dan kriteria untuk indeks. (Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, 2004) b. Jenis-Jenis Saham Menurut jenisnya saham dibedakan menjadi dua yaitu saham biasa dan saham preferent. 1). Saham Biasa (Common Stock) Saham biasa adalah bukti tanda kepemilikan atas suatu perusahaan. Keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham biasa berasal dari pembayaran deviden dan kenaikan harga saham. Deviden akan dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba. Besar kecilnya deviden yang diterima oleh pemegang saham tidak tetap, tergantung dari Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Tendelilin (2001:18) mendefinisikan saham biasa (common stock) sebagai, “sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan”. Oleh karena itu, sebagai salah satu pemilik perusahaan pemegang saham mempunyai hak-hak. Hak tersebut antara lain: 29 a) Pemegang saham biasa mempunyai hak suara pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Luar Biasa (RULBS). b) Mempunyai wewenang untuk memilih direktur perusahaan, memilih manajemen seperti komisaris dan direksi perusahaan. c) Mempunyai hak terlebih dahulu untuk membeli saham pada perusahaan yang bersangkutan sebelum dibeli oleh investor baru. d) Pemegang saham biasa diberi hak atas laba bersih perusahaan sebagai laba atas dana yang diinvestasikan, hal ini berbentuk deviden. e) Pemilik saham biasa mendapatkan hak untuk memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila perusahaan dinyatakan bangkrut, dimana pembagian kekayaan tersebut akan dilakukan setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. f) Pemegang saham biasa mempunyai hak melihat atau mengetahui hasil RUPS dan daftar para pemegang saham suatu perusahaan serta mempunyai akses yang tidak terbatas untuk akses pembukuan keuangan perusahaan, kecuali kalau dibatasi oleh suatu keadaan tertentu. 30 Sedangkan dalam Islam saham jenis ini boleh diperdagangkan karena saham sesuai dengan terminologi yang melekat padanya, maka saham yang dimiliki seseorang menunjukkan sebuah bukti kepemilikan atas perusahaan tertentu yang berbentuk aset, sehingga saham merupakan cerminan atas aset tertentu. Saham biasa (Coomon Stock) menurut para ulama boleh dikarenakan saham jenis ini mempunyai prinsip keadilan dan keterbukaan yang merata buat semua pemegang saham. Namun, aturan dan norma jual beli saham tetap mengacu pedoman jual beli yakni tercapai rukun, syarat, aspek an-taradhin, serta terhindar dari unsur-unsur yang merusat atau tidak mengesahkan jual beli saham tersebut. (Huda dan Nasution, 2007: 65) 2). Saham Preferen (Preffered Stock) “Saham preferen (Preffered Stock) merupakan saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti obligasi) dan juga mendapatkan hak kepemilikan seperti saham biasa”, (Tandelilin, 2001:18). Saham preferen adalah jenis saham lain sebagai alternatif dari saham biasa Pemegang saham preferen akan mendapatkan hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan setelah dikurangi dengan pembayaran kewajiban pemegang 31 obligasi dan hutang (sebelum pemegang saham biasa mendapatkan haknya). Dikatakan preferen, karena saham ini memiliki keistimewaan diantaranya sebagai berikut (Hartono dalam Puspaningsih, 2006: 17): a). Preferen terhadap deviden (1) Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima deviden terlebih dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa. (2) Pemegang saham preferan mempunyai hak deviden komulatif, yaitu memberikan hak kepada pemegang sahamnya untuk menerima dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan sebelum pemegang saham biasa menerina devidennya. b). Preferen terhadap likuidasi Pemegang saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu atas aktiva perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi likuidasi. Besarnya hak atas aktiva pada saat likuidasi adalah sebesar nilai nominal saham preferennya, termasuk semua dividen yang belum dibayar jika bersifat kumulatif. Dalam pandangan syariah saham preferen cenderung tidak diperbolehkan karena dua alasan yang tidak dapat diterima secara konsep syariah. Dua alasan terebut ialah : a. Adanya keuntungan tetap (predeterminant reneveu), yang dikategorikan oleh sebagian ulama sebagai riba. b. Pemilik saham preferen mendapat hak istimewa terutama pada saat perusahaan dilikuidasi. Hal ini mengandung unsur ketidakadilan. (Huda dan Nasution, 2007: 66) 32 c. Keuntungan dan Kerugian Membeli Saham Dalam membeli saham seorang investor perlu memperhatikan keuntungan dan kerugian yang akan didapatnya dalam membeli saham. Keuntungan membeli saham antara lain sebagai: 1) Deviden Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. 2) Capital Gain Merupakan selisih keuntungan dari harga jual dan harga beli yang lebih tinggi, yang disebut juga selisih kenaikan kurs yang lebih tinggi dibandingkan dengan kurs pada waktu membelinya 3) Saham Bonus Saham bonus yaitu saham yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham yang diambil dari agio saham. Agio saham adalah selisih antara harga perdana tehadap harga nominal. Sedangkan kerugian dari membeli saham, antara lain sebagai berikut 1) Tidak Mendapat Deviden Perusahaan akan membagikan dividen jika operasional perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian 33 perusahaan tidak akan membagi-kan dividen jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. 2) Capital Loss Dalam aktivitas perdagangan saham tidak selalu pemodal mendapat capital gain ada kalanya pemodal harus menjual dengan harga jauh lebih rendah dengan harga beli. 3) Perusahaan Bangkrut atau Dilikuidasi Dalam kondisi perusahaan dilikuidasi maka pemegang saham akan menempati posisi terakhir dalam pembagian aset perusahaan dibanding kreditor. 4) Saham di delist dari bursa (Delisting) “Delisting adalah tindakan mengeluarkan suatu saham yang telah tercatat dibursa efek karena kurang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh manajemen bursa efek atau atas permintaan emiten, sehingga saham tersebut tidak dapat diperdagangkan lagi dibursa efek tersebut”, (Sunariyah, 2004:37-38). Suatu saham di delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut selama beberapa tahun 34 dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan Peraturan Pencatatan Efek di Bursa. d. Penilaian Harga Saham Dalam penilaian harga saham dikenal adanya tiga jenis nilai saham yaitu: nilai buku, nilai pasar, nilai intrisik saham. Nilai buku merupakan nilai yang dihitung dari pembukuan perusahaan penerbit saham. Nilai pasar adalah nilai saham tersebut bila berada di pasaran. Sedangkan nilai intrinsik ialah sebenarnya atau seharusnya dari saham tersebut. Dengan memahami ketiga konsep nilai saham maka kita dapat mengetahui saham-saham yang tumbuh dan yang murah. 3. Stock Split (Pemecahan Saham) a. Pengertian Stock Split (Pemecahan Saham) Pemecahan saham merupakan satu aktivitas yang dilakukan oleh para manajer perusahaan dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal perlembar saham sesuai dengan split factor. Split factor merupakan perbandingan jumlah saham yang beredar sebelum dilakukannya split dengan jumlah saham yang beredar setelah dilakukannya split. Jogiyanto (2003:415), “Stock split berarti memecah selembar saham menjadi n lembar saham, dimana harga perlembar saham baru setelah 35 di stock split adalah sebesar 1/n dari saham sebelumnya”. Menurut Ewijaya dan Nur Indriantoro (1999:55), menyatakan bahwa “Stock split adalah, perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah jumlah lembar saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecahan (split factor)” Kesimpulan dari pengertian di atas bahwa, pemecahan saham akan meningkatkan jumlah lembar saham yang diperdagangkan dan secara proporsi akan menurunkan nilai per lembar sahamnya. Pemecahan saham merupakan kosmetika saham, dalam arti bahwa tindakan perusahaan tersebut merupakan upaya pemolesan saham agar terlihat lebih menarik di mata investor. Sedangkan dalam Islam melarang setiap aktivitas perekonomian yang mengandung unsur paksaan, mafsadah (tidak bermanfaat), dan gharar (penipuan). Namun, perdagangan Islam mengizinkan adanya sistem kerja sama (syirkah). Terkait dengan penentuan adanya stock split yang dilakukan perusahaan itu tidak mengandung unsur paksaan karena keputusan tersebut telah disepakati sebelumnya dalam rapat umum pemegang saham yang dilakukan oleh perusahaan dan juga stock split ini dilakukan pada semua saham yang beredar sehingga prinsip keadilan dan merata juga ada karena semua pemegang mendapat split faktor yang sama. Serta, dengan adanya stock split harga 36 menjadi turun dan diharapkan akan semakin terjangkau oleh investor lainnya. Hal ini sesuai dengan Al-Quran surat Surat Al Hasyr ayat 7, yang berbunyi: !$¨ u !$sùr& ª!$# 4’n?tã /Ï&Î! ß™u‘ ô&Ï È ÷5r& 3“t à)ø9$# ¬Ts 4’n1ö à)ø9$# “Ï%Î!u É= ß™§ =Ï9u ù 4 ö ä3 Ï Ï !$uŠÏ8øîF{$# t ÷ t/ P's! ߊ t ä3tƒ Ÿ ö’s1 È ‹Î6¡¡9$# È ø>$#u È Å3 |¡y ø9$#u 4’y tGuŠø9$#u !$t u ã ä39s?#u ã= ß™§ 9$# ç- ä‹ã‚sù $t u ö ä39p ©!$# ¨ Î) ( ©!$# (# à)¨?$#u 4 (# ß*tF+$$sù çμ÷8tã t É>$s)Ïèø9$# ߉ƒÏ‰x© Artinya : Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (Al Hasyr :7) b. Jenis-jenis Stock Split Akmila dan Kusuma (2003:37) dalam Puspitaningsih (2006) ada dua jenis stock split (pemecahan saham) yang dapat dilakukan, yaitu: 1). Pemecahan Naik (split-up atau forward split) Pemecahan naik (Split-up) adalah penurunan nilai nominal per lembar saham sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar. Misalnya, satu lembar saham dipecah menjadi 37 dua, hal ini berarti setiap satu lembar saham lama akan ditukar dengan dua lembar saham. 2). Pemecahan Turun (split-down atau reverse split) Pemecahan turun (split-down) adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan mengurangi jumlah saham yang beredar. Misalnya, dua lembar saham dipecah menjadi satu, hal ini berarti untuk setiap dua lembar saham akan ditukarkan dengan satu lembar saham baru. c. Tujuan Stock Split Manajer-manajer perusahaan mempunyai tujuan yang berbedabeda dalam melakukan stock split terhadp sahamnya, karena manajer mempunyai alasan ketika benar-benar melakukan stock split. Menurut Halim (2005:97), “Tujuan dilakukan pemecahan saham adalah untuk menjaga harga pasar saham agar tidak terlalu tinggi sehingga sahamnya lebih memasyarakat dan lebih banyak diperdagangkan”. Stock split bertujuan agar perdagangan suatu saham menjadi lebih likuid, karena jumlah saham yang beredar menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah. Hal ini akan sangat efektif bila dilakukan pada saham-saham yang harganya cukup tinggi (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:131). Menurut Keown, et. al, (1996) dalam Rohana et al, (2003), ada beberapa alasan manajer perusahaan melakukan stock split antara lain sebagai berikut: 38 1) Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. 2) Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan. 3) Untuk membawa informasi mengenai investasi yang berupa perningkatan laba dan deviden kas. Keiso dan Weygant (2004:822) juga mengutip dari The DH&S Review tanggal 12 Mei 1986, yang menyatakan bahwa alasan dibalik pemecahan saham antara lain: 1) Untuk menyesuaikan harga pasar saham perusahaan hingga tingkat di mana lebih banyak individu dapat berinvestasi dalam saham. 2) Untuk menyebarkan dasar pemegang saham dengan meningkatkan jumlah saham yang beredar dan membuatnya lebih dapat dipasarkan. 3) Untuk menguntungkan pemegang saham yang ada dengan memungkinkan mereka mengambil manfaat dari suatu penyelesaian pasar yang tidak sempurna sesudah pemecahan tersebut. Kesimpulan dari beberapa alasan dilakukannya pemecahan saham (stock split) yang telah dipaparkan di atas mempunyai tujuan, antara lain: 1) Meningkatkan jumlah pemegang saham. 2) Mengembalikan ukuran perdagangan rata-rata saham pada rentang perdagangan tertentu. 3) Menyampaikan informasi mengenai prospek peningkatan return masa depan yang substansial. 39 d. Manfaat Stock Split Bagi sebagian pihak khususnya para emiten, pemecahan saham diyakini dapat memberikan berbagai manfaat bagi mereka. Menurut pendapat McGough (1993) dalam Ewijaya dan Nur Indriantoro (1991:121), mengemukakan bahwa manfaat pada umumnya yang diperoleh dari stock split adalah penurunan harga saham yang selanjutnya menambah daya tarik investor untuk memiliki saham tersebut sehingga membuat saham menjadi likuid untuk diperdagangkan. Menurut Indah Kurniawati (2003:266), beberapa pelaku pasar khususnya para emiten mempunyai pendapat bahwa stock split memiliki berbagai macam manfaat diantaranya adalah: 1) Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga dapat mengubah investor odd lot menjadi investor round lot. 2) Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi. 3) Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan menjadi likuid. 4) Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja manajemen perusahaan bagus dan memiliki prospek yang baik. e. Teori-Teori yang Mendasari Kebijakan Stock Split Marwata (2000) dalam Suntoro dan Subekti (2003) menjelaskan bahwa dua teori mengenai pemecahan saham adalah signaling theory dan trading range theory. 40 1). Signalling Theory Signalling theory menyatakan bahwa pemecahan saham memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return yang substansial. Return yang meningkat tersebut dapat diprediksi dan merupakan sinyal tentang laba jangka pendek dan jangka panjang (Baker dan Powell, 1993 dalam Subekti dan Suntoro, 2003). Pengumuman pemecahan saham dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh manajemen kepada publik bahwa perusahaan memilki prospek yang bagus di masa depan. Analis akan menangkap sinyal tersebut dan kemudian menggunakannya untuk memprediksi peningkatan earning jangka panjang. Reaksi pasar terhadap pemecahan saham sebenarnya bukan terhadap tindakan pemecahan saham yang tidak memiliki nilai ekonomis itu sendiri, melainkan terhadap prospek perusahaan di masa depan yang disinyalkan oleh pemecahan saham tersebut. Baker dan Powell (1993) dalam Suntoro dan Subekti (2003:121) menjelaskan signalling theory pemecahan saham dengan menggunakan penjelasan asimetri informasi. Manajemen memiliki informasi lebih tentang prospek perusahaan dibandingkan pihak luar (investor). Pemecahan saham merupakan upaya untuk menarik investor dengan memberikan sinyal bahwa perusahaan memiliki 41 kondisi bagus. Pemecahan saham memerlukan biaya, oleh karena itu hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus saja yang mampu melakukannya (Copeland, 1979 dalam Subekti dan Suntoro, 2003:121). Jika kondisi perusahaan tidak bagus, maka perusahaan tidak akan melakukan pemecahan saham. Signalling theory menyatakan bahwa stock split memberikan sinyal yang positif karena manajer perusahaan akan menginformasikan prospek masa depan yang baik dari perusahaan kepada publik yang belum mengetahuinya. Hasil penelitian Rohana dkk (2003:121), menunjukkan bahwa perusahaan yang melakukan pemecahan saham mengalami reaksi pasar yang positif yang bukan disebabkan oleh informasi tentang kemungkinan perusahaan akan membagikan deviden, namun lebih disebabkan karena kemungkinan peningkatan laba akuntansi. 2). Trading Range Theory Trading range theory menyatakan bahwa pemecahan saham akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Menurut teori ini, harga saham yang terlalu tinggi (overprice) menyebabkan kurang aktifnya saham tersebut diperdagangkan sehingga mendorong perusahaan melakukan stock split. Dengan adanya pemecahan saham, harga saham menjadi tidak terlalu tinggi, 42 sehingga akan semakin banyak investor yang mampu bertransaksi. Ikenberry et al. (1996) dalam Rohana, et al. (2003:604) menyatakan bahwa, “stock split mengakibatkan terjadinya penataan kembali harga saham pada rentang yang lebih rendah”. Survey yang dilakukan oleh Baker dan Gallagher (1980) dalam Rozef (1998), “menunjukkan bahwa manajer cenderung untuk menyebutkan alasan likuiditas ini sebagai motivasi pemecahan saham”. Meski stock split diyakini memberikan manfaat baik bagi investor maupun emiten, namun pelaksanaan aktivitas stock split masih menimbulkan pendapat yang bertentangan. Copeland (1979) dalam Rohana et al. (2003:604) menemukan bahwa, “likuiditas mengalami penurunan setelah pemecahan saham, yaitu volume perdagangan menjadi lebih rendah dibandingkan sebelumnya”. 4. Abnormal Return Efisiensi pasar dapat diuji dengan melihat abnormal return yang terjadi. Pasar dikatakan tidak efisien jika satu atau beberapa pelaku pasar dapat menikmati abnormal return dalam jangka waktu yang cukup lama. Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi (return yang diharapkan oleh investor). Dengan 43 demikian abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi. Para investor tentunya mengharapkan return yang akan diterima proporsional dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Akan tetapi dalam prakteknya, tidaklah selalu demikian. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah abnormal return, yang dihitung dari selisih antara return yang sesungguhnya terjadi (accrual return) dengan return yang diharapkan oleh investor (expected return). Formula yang digunakan untuk menghitung abnormal return (Jogiyanto, 2003:433) adalah sebagai berikut: AR i.t = R i.t - E(R i.t ) Notasi: AR i.t = abnormal return saham ( i ) pada periode ke- t R i.t = actual return saham ( i ) pada periode ke- t E(R i.t ) = return ekspektasi saham (i) pasar pada periode ke- t Return sesunguhnya merupakan return yang terjadi pada waktu ke-t yang merupakan selisih harga sekarang relatif terhadap harga sebelumnya atau dapat dihitung dengan rumus (P i.t - P i.t-1 ) / (P i.t-1 ). Sedangkan return ekspektasi merupakan return yang diestimasi yang diharapkan oleh investor. Brown dan Warner (1985) dalam Jogiyanto (2003:434) menggunakan: 44 a. Mean-adjusted return model Disebut juga dengan model disesuaikan rata-rata, model ini menganggap bahwa return ekspektasi bernilai konstan yang sama dengan rata-rata return realisasinya selama periode estimasi. Persamaan Mean-adjusted return model adalah sebagai berikut: E[R i.t ] = Notasi: E[R i.t ] = return ekspektasi sekuritas i pada periode peristiwa ke-t R i.t = return realisasi sekuritas i pada periode estimasi ke-t T = lamanya periode estimasi yaitu dari t1 sampai t2 b. Market model Untuk perhitungan dengan menggunakan market model dilakukan dua tahap yang pertama membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama periode estimasi dan kedua menggunakan model ekspektasi tersebut untuk mengestimasi return normal periode jendela. Persamaan market model yaitu: [R i.j ] = @ i + B i · R M.j + D i.j Notasi: E[R i.j ] = return ekspektasi sekuritas i pada periode estimasi ke-j Q i = intercept untuk sekuritas i R i = koefisien slope yang merupakan beta dari sekuritas i R m.j = return indeks pasar pada periode estimasi ke-t yang dapat dihitung dengan rumus R m.j = (IHSG j – IHSG j-1 ) / (IHSG j-1 ), dimana IHSG adalah Indeks Harga Saham Gabungan S i.t = kesalahan residu sekuritas i pada periode estimasi ke-j c. Market-adjusted model Model ini menganggap bahwa penduga terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut. Dengan menggunakan model ini, maka tidak perlu T t j t Ri j = .2 1 . 45 menggunakan periode estimasi, karena return sekuritas yang diestimasi adalah sama dengan return indeks pasar. 5. Trading Volume Activity (TVA) Trading Volume Activity (TVA), yang juga disebut dengan aktivitas volume perdagangan saham merupakan salah satu instrumen yang dapat untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi-informasi yang masuk pada pasar modal. Foster (1986) dalam Suntoro dan Subekti (2003) menyatakan “Trading Volume Activity merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar”. Suryawijaya (1998:42), “Trading Volume Activity merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap suatu informasi melalui parameter pergerakan aktivitas volume perdagangan di pasar”. Trading volume activity (Aktivitas volume perdagangan) merupakan penjualan dari setiap transaksi yang terjadi di bursa saham pada saat waktu dan saham tertentu, dan merupakan salah satu faktor yang juga memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham. Volume transaksi merupakan unsur kunci dalam melakukan prediksi terhadap pergerakan harga saham. 46 Trading Volume Avtivity (TVA) dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar. Ketika TVA cenderung mengalami peningkatan saat harga mengalami peningkatan penurunan, maka pasar diindikasikan dalam keadaan bearish. Ketika trading volume activity cenderung meningkat selama harga mengalami peningkatan maka pasar di indikasikan dalam keadaan bullish. Ketika TVA cenderung mengalami penurunan selama harga mengalami penurunan maka pasar berada dalam keadaan bullish. Dan ketika volume perdagangan cenderung mengalami penurunan selama harga mengalami kenaikan maka pasar dalam keadaan bearish. Perhitungan Trading Volume Activity dilakukan dengan membandingkan jumlah saham perusahaan yang diperdagangkan dalam suatu periode tertentu dengan keseluruhan jumlah saham yang beredar dari perusahaan tersebut pada kurun waktu yang sama, menurut Jones, Charles P. (1986:375) didapat persamaan sebagai berikut: TVA = Jumlah saham i yang diperdagangkan pada waktu t Jumlah saham i yang beredar pada waktu t Notasi: TVA = Trading Volume Activity (aktifitas volume perdagangan) 47 6) Kerangka Berfikir Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Abnormal Return Harga saham terlalu tinggi mengakibatkan kurang menarik dan tidak terjangkau oleh investor Kebijakan Stock Split yang dilakukan oleh emiten Kajian Teori 1. Penelitian Terdahulu 2. Pasar Modal 3. Saham 4. Stock Split 5. Abnormal Return 6. Trading Volume Activity Reaksi Pasar Trading Volume Activity Penerapan Fakta Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Test, Tidak terdistribusi Normal Wilcoxon Signed Rank Test Terdistribusi Normal Paired Sample t-Test Hasil dan Kesimpulan 48 7. Hipotesis Berdasarkan latar belakang perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut: a. Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan perubahan Trading Volume Activity b. Terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split 49 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Jakarta yang terdapat pada pojok BEJ Universitas Muhammadiyah Malang, karena data di sana dirasa cukup untuk bahan dalam penelitian ini. B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian event study. Menurut Jogiyanto (2003:318), studi peristiwa (event study) “merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman”. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman. Pengujian kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi dari suatu pengumuman. Peristiwa yang diuji adalah peristiwa stock split. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dimana penelitian mencoba menjelaskan apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel independent dengan variabel dependent melalaui uji satatistik. 50 C. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan aspek penelitian (Arikunto, 1998:115). Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang melakukan kebijakan stock split selama tahun 2005-2007 dari data terakhir diperoleh 28 perusahaan. Dari populasi tersebut. Kemudian dipilih beberapa perusahaan untuk dijadikan sampel. “Sampel adalah bagian atau populasi yang diteliti” (Arikunto, 1998:117). Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode purposive sampling. “Metode purposive sampling adalah pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu, yang pada umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian” (Indriantoro dan Supomo, 2002:131). Kriteria untuk menentukan sampel adalah : 1. Tidak mengalami pembatalan perdagangan saham (suspending) selama tahun 2005-2007. 2. Memiliki data yang dibutuhkan untuk penelitian secara lengkap. 3. Tidak melakukan corporate action lain selama periode pengamatan (event window), seperti right issue, warrant, additional shares, pengumuman dividen, saham bonus, merger dan lain-lain. 51 4. Hanya melakukan kebijakan stock split sebanyak satu kali dalam tahun yang bersangkutan. 5. Hanya melakukan kebijakan stock split berupa kebijakan pemecahan naik (split-up) atas saham beredarnya. Yang dimaksud dengan pemecahan naik (split-up) adalah pemecahan saham dengan rasio penurunan nilai nominal per lembar saham, sehingga yang akan mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar. Dari 28 perusahaan yang melakukan stock split periode 1 januari 2005- 31 desember 2007 ada 7 kegiatan stock split yang tidak layak menjadi sampel penelitian ini, yakni PT. Buana Finance Tbk. (BBLD) karena pada periode pengamatan juga malakukan warant, PT. Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HITS) yang dalam tahun pengamatan telah melakukan stock split dua kali yakni 15 Des 2005 dan 11 Sep 2007 dan PT. Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) yang malakukan stock split dua kali dalam tahun pengamatan yakni 28 Juli 2006 dan tanggal 26 Desember 2007, serta melakukan warant pada 28 juli 2006. Sedangkan PT. Tigaraksa Satria Tbk. (TGKA) yang melakukan stock split pada 30 Agu 2005 dan PT. Jaya Pari Steel Tbk. (JPRS) stock split pada 12 Des 2007 tidak diambil sebagai sampel karena data yang dibutuhkan untuk penelitian tidak ditemukan dan tidak lengkap. Sehingga dari hasil akhir yang memenuhi kualifikasi sebagai sampel penelitian ini adalah sebanyak 21 emiten. 52 Tabel 3.1 Daftar Emiten Yang Memenuhi Kriteria Sebagai Sampel Periode 2005-2007 No Kode Harga Emiten Nama Perusahaan Tanggal Pemecahan Split Faktor Sebelum Sesudah 1 SMAR PT. Sinar Mas Agro Resources and technology Tbk. 20 Jun 2005 1 : 5 Rp. 1000,- Rp. 200,- 2 CTRS PT. Ciputra Surya Tbk. 25 Jul 2005 1 : 2 Rp. 500,- Rp. 250,- 3 HEXA PT. Hexindo Adiperkasa Tbk. 01 Sep 2005 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 4 PRAS PT. Prima Alloy Steel Universal Tbk. 20 Sep 2005 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 5 TMAS PT. Pelayaran tempuran Emas Tbk. 17 Mar 2006 1 : 2 Rp. 250,- Rp. 125,- 6 DPNS PT. Duta Pertiwi Nusantara Tbk. 08 Jun 2006 1 : 2 Rp. 500,- Rp. 250,- 7 PJAA PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk. 10 Jul 2006 1 : 2 Rp. 500,- Rp. 250,- 8 JRPT PT. Jaya Real Property Tbk. 14 Agu 2006 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 9 TSPC PT. Tempo Scan Pacific Tbk. 14 Sep 2006 1 :10 Rp. 500,- Rp. 100,- 10 EKAD PT. Ekadharma International Tbk. 19 Okt 2006 1 : 2 Rp. 100,- Rp. 50,- 11 APOL PT. Arpeni Pratama Ocean Line Tbk. 24 Nov 2006 1 : 2 Rp. 500,- Rp. 250,- 53 12 PLIN PT. Plaza Indonesia Realty Tbk. 26 Des 2006 1 : 5 Rp. 1000,- Rp. 200,- 13 BMTR PT. Bimantara Citra Tbk. 24 Apr 2007 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 14 DAVO PT. Davomas Abadi Tbk. 28 Mei 2007 1 : 2 Rp. 100,- Rp. 50,- 15 ANTM PT. Aneka Tambang Tbk. 12 Jul 2007 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 16 AKRA PT. AKR Corporindo Tbk. 27 Jul 2007 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 17 SMGR PT. Semen Gresik Tbk. 07 Agu 2007 1:10 Rp. 1000,- Rp. 100,- 18 SOBI PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk. 22 Agu 2007 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 19 HADE PT. Hortus Danavest Tbk. 10 Sep 2007 1 : 2 Rp. 200,- Rp. 100,- 20 PWON PT. Pakuwon Jati Tbk. 19 Sep 2007 1 : 5 Rp. 500,- Rp. 100,- 21 CPIN PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. 01 Nov 2007 1 : 2 Rp. 100,- Rp. 50,- Sumber : Data sekunder dari www.ksei.co.id data sudah diolah D. Data dan Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder (secondary data), yaitu data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak 54 langsung (melalui media perantara) atau merupakan data yang diperoleh dan dicatat oleh pihak lain (Indriantoro Dan Supomo, 2002:147). Data sekunder dapat diperoleh dari perusahaan yang diteliti atau data yang dipublikasikan untuk umum dalam hal ini terbitan yang dikeluarkan oleh media massa atau perusahaan penerbit. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data base BEJ (www.jsx.co.id). Data penelitian terdiri dari: 1. Data mengenai tanggal pengumuman stock split. 2. Data harian harga saham selama periode pengamatan. 3. Data harian volume perdagangan saham selama periode pengamatan. 4. Data mengenai jumlah saham beredar perusahaan sampel pada saat periode t. 5. Data harian Index Harga Saham Gabungan (IHSG) 6. Data Abnormal return koreksi E. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standart untuk memperoleh data yang diperlukan adalah dokumentasi, yang mana data dokumentasi memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta siapa yang terlibat dalam suatu kejadian (Indrianto dan supomo 2002: 40). Pengumpulan data unrtuk penelitian ini difokuskan 55 pada volume dan harga saham yang beredar untuk masing-masing saham yang menjadi sampel selama periode penelitian yaitu 11 hari. Periode pengamatan disebut juga periode jendela (window period) yang dalam penelitian ini diambil 5 hari sebelum tanggal pengumuman stock split (pre event window), 1 hari saat pengumuman stock split (event date), dan 5 hari setelah tanggal pengumuman stock split (post event perod). Pengambilan periode ini dilakukan untuk menghindari confounding effect dari adanya peristiwa lain, seperti right issue, warrant, additional shares, pengumuman dividen, saham bonus, merger dan lain-lain, F. Definisi Operasional Variabel 1. Event study “Merupakan studi peristiwa yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa (event). Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu peristiwa” (Jogiyanto, 2003:418). 2. Stock split “Merupakan pemecahan sejumlah lembar saham menjadi jumlah lembar saham yang lebih banyak dengan menggunakan nominal yang lebih rendah per lembarnya secara proporsional” (Abdul Halim, 2005:97). 56 3. Abnormal return Abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi (return normal). 4. Trading Volume Activity (TVA) Trading volume activity digunakan untuk melihat perubahan atas likuiditas saham. Untuk menghitung TVA saham diperlukan data mengenai volume perdagangan dan jumlah saham beredar pada saat t. G. Model Analisis Data Model yang digunakan dalam penelitia ini ialah Kolmogorov- Smirnov Test, uji One Sample t-Test dan Paired Sample t-Test dinama untuk perhitungannya dapat dilakukan dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Penerapan model ini ialah: 1. Uji Normalitas Data Pengujian normalitas ini diharapkan akan dapat menentukan alat uji selanjutnya yang digunakan dalam penelitian. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test, dengan membandingkan Asymptotic Significance dengan U = 0,05. Dasar penarikan kesimpulan adalah data dikatakan berdistribusi normal apabila nilai Asymptotic Significance-nya > 0,05 (Singgih Santoso, 2004:212). 57 2. Pengujian Hipotesis a. Uji Hipotesis I Pengujian terhadap Hipotesis I menggunakan uji One Sample t- Test, yaitu pengujian terhadap nilai rata-rata suatu observasi, apakah secara statistik berbeda dari nol atau sama dengan nol. Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah : 1). Menentukan level of significance (U) = 5%. 2). Menentukan Hipotesis Untuk abnormal return Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return Untuk Trading Volume Activity Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity 3). Hipotesis dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai t-hitung yang signifikan dari abnormal return selama periode pengamatan. 58 Hipotesis dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai t-hitung yang signifikan dari TVA selama periode pengamatan. b). Uji Hipotesis II Dari hasil uji kenormalan data, maka tahapan uji hipotesis yang diambil adalah sebagai berikut: 1). Jika data berdistribusi normal, maka pengujian ini menggunakan Paired Sample t-Test yaitu dua populasi yang diamati secara berpasangan pada setiap pengamatan. Dimana dua populasi berpasangan ini dimiliki oleh suatu data yang sifatnya sebelum dan sesudah sehingga setiap obyek yang sama diamati sebelum treatmen dan sesudah treatmen. Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah : a. Menentukan Hipotesis Ho : Tidak terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split Ha : Terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split b. Menentukan level of significance (U), yaitu sebesar 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar n-1. 59 c. Membandingkan probabilitas (p) t-hitung dengan U = 5%. Penarikan kesimpulan pada uji ini didasarkan pada: - Apabila nilai probabilitas (p) < 0,05 maka Ho ditolak. - Apabila nilai probabilitas (p) > 0,05 maka Ho diterima. 2). Jika data tidak berdistribusi normal, maka teknik uji beda dua sampel berpasangan yang digunakan adalah Uji Peringkat Wilcoxon (Wilcoxon Signed Rank Test) yang merupakan uji statistik non parametrik (Santoso, 2004:148). Langkah-langkah dalam pengujian ini adalah : a. Menentukan level of significance (U), yaitu sebesar 5% dengan derajat kebebasan (df) sebesar n-1. b. Membandingkan probabilitas (p) z-hitung dengan U = 5%. Penarikan kesimpulan pada uji ini didasarkan pada: - Apabila nilai probabilitas (p) < 0,05 maka Ho ditolak. - Apabila nilai probabilitas (p) > 0,05 maka Ho diterima. 60 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. ANALISIS DATA 1. Gambaran Umum Pasar Modal Dan Bursa Efek Jakarta a. Sejarah Singkat Bursa Efek Jakarta Bursa Efek Jakarta (BEJ) mulai beroperasi pada tanggal 10 Agustus 1978 yang ditandai dengan go public-nya PT. Semen Cibinong sebagai perusahaan pertama yang tercatat di BEJ. Pada saat itu yang bertindak selaku pengelola bursa adalah Badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM). Hal tersebut berlangsung hingga tahun 1990 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 53/1990 dan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia, yang pada intinya mengubah status BAPEPAM menjadi badan yang mengawasi serta membina kegiatan pasar modal sekaligus mengganti singkatan BAPEPAM menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Dengan perubahan status ini, pada dasarnya BAPEPAM tidak lagi mengelola kegiatan bursa termasuk BEJ, namun pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta mulai tanggal 16 April 1992, sedangkan swastanisasi perseroan oleh menteri keuangan dilakukan pada tanggal 13 Juli 1992. Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial 61 Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut: • 14 Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda. • 1914 – 1918 : Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I 62 • 1925 – 1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya • Awal tahun 1939 : Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup. • 1942 – 1952 : Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia II • 1952 : Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan: Obligasi Pemerintah RI (1950) • 1956 : Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif. • 1956 – 1977 : Perdagangan di Bursa Efek vakum. • 10 Agustus 1977 : Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan di bawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama. 63 • 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal. • 1987 : Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia. • 1988 – 1990 : Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat. • 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer. • Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal. • 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. 64 • 13 Juli 1992 : Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ. • 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems). • 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996. • 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya. • 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia. • 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading). • 2004 : Diluncurkannya produk Kontrak Opsi Saham. • 3 Desember 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) b. Perkembangan Bursa Efek Jakarta Sejak 22 Mei 1995, Bursa Efek Jakarta telah menerapkan sistem perdagangan secara otomatis yang disebut dengan JATS (Jakarta Automatic Trading System). Seluruh order/pesanan jual -beli saham dilakukan dengan menggunakan sistem komputer yang terintegrasi 65 dengan sistem perdagangan efek para anggota bursa. Dengan diterapkannya sistem perdagangan secara otomatis (JATS), diharapkan proses pelaksanaan transaksi perdagangan akan semakin tertib, wajar, likuid serta transparan. Dengan demikian, maka pelaksanaan perdagangan efek di BEJ tidak lagi dilakukan secara langsung di lantai perdagangan bursa. Pada tanggal 30 November 2007 Bursa Efek Jakarta melakukan penggabungan dengan Bursa Efek Surabaya dan berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia sehingga dua bursa Indonesia itu akhirnya menjadi satu dan diharapkan akan lebih baik dalam prospek maupun kinerjanya yang baik pula. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi beroperasi mulai tanggal 3 Desember 2007 ini ditandai dengan bergabungnya 26 saham dari BES. Perusahaan atau emiten yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonesia sampai 30 Desember 2007 sebanyak 378 perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang listing di BEI digolongkan menjadi beberapa golongan yaitu; Agriculture, Forestry And Fishing, Animal Feed And Husbandary, Manufacturing, Transportation Service, Communication, Whole Sale And Retail Trade, Bank Credit Agencies Other Than Bank, Securities, Real Estate And Property, Hotel And Travel Service. 2. Analisis Event Study a. Abnormal Return dan AAR 66 Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal jadi return tidak normal (abnormal return) adal;ah selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi. Pengujian abnormal return tidak dilakukan untuk tiap-tiap sekuritas tetapi dilakukan secara agregat dengan pengujian rata-rata return tidak normal seluruh sekuritas secara cross section untuk tiaptiap hari periode. Dalam penelitian ini, selama 5 hari pengamatan sebelum adanya peristiwa stock split semua menunjukkan angka negatif namun yang tertinggi ialah pada t-1 dan terendah t-3. sedangkan untuk setelah event juga menunjukkan nilai negatif semua, yang terendah pada t1 dan tertinggi t4 seperti yang terlihat dalam tabel berikut. Tabel 4.1 Average Abnormal Return Sebelum Event Sesudah Event T Nilai T Nilai -5 -1722.14 1 -1730.66 -4 -1724.91 2 -1749.83 -3 -1718.82 3 -1750.46 -2 -1723.30 4 -1753.55 -1 -1727.19 5 -1748.47 Sumber : Data diolah 2007 Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa abnormal return selama periode pengamatan menunjukkan negatif semua sedangkan yang 67 terendah ialah pada 3 hari sebelum peristiwa dengan nilai -1718.82 dan yang tertinggi ialah hari ke 4 setelah peristiwa dengan nilai - 1753.55. Gambar 4.1 Average Abnormal Return Rata-Rata Abnormal Return -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 -1760.00 -1750.00 -1740.00 -1730.00 -1720.00 -1710.00 -1700.00 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 Periode Pengamatan Sumber : Data diolah 2007 Dari grafik tersebut terlihat bahwa abnormal return semua mempunyai nilai negatif dan terus mengalami penurunan sejak t-5 namun, sedikit naik pada t-3, setelah itu kembali menurun dan yang tertajam pada t 2 kemudian fluktuatif dan kembali naik setelah t4 yang merupakan titik terendah abnormal return selama pengamatan. 68 b. Trading Volume Activity Trading Volume Activity (TVA), merupakan salah satu instrumen yang dapat untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasiinformasi dalam penelitian ini ialah stock split yang masuk pada pasar modal dan merupakan salah satu faktor yang juga memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham. Trading Volume Avtivity (TVA) dianggap sebagai ukuran dari kekuatan atau kelemahan pasar. Selama 5 hari pengamatan sebelum adanya peristiwa stock split semua menunjukkan angka positif namun yang tertinggi ialah pada t- 3 dan terendah t-1. sedangkan untuk setelah event juga menunjukkan nilai positif semua, yang terendah pada t4 dan tertinggi t1 seperti yang terlihat dalam tabel berikut. Tabel 4.2 Rata-rata Trading Volume Activity Sebelum Event Sesudah Event T Nilai T Nilai -5 0.006761 1 0.007820 -4 0.006877 2 0.002726 -3 0.008667 3 0.002087 -2 0.005602 4 0.001176 -1 0.005076 5 0.001941 Sumber : Data diolah 2007 Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa TVA selama periode pengamatan menunjukkan positif semua sedangkan yang terendah ialah pada t 4 setelah peristiwa dengan nilai 0.001176 dan yang 69 tertinggi ialah hari ke 3 sebelum peristiwa dengan nilai TVA - 0.008667. Gambar 4.2 Rata-Rata Trading Volume Activity Rata - Rata Trading Volume Activity -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 0.000000 0.001000 0.002000 0.003000 0.004000 0.005000 0.006000 0.007000 0.008000 0.009000 0.010000 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 Periode Pengamatan Sumber : Data diolah 2007 Dari grafik TVA terlihat bahwa pergerakan sangat fluktuatif, pada t-3 banyak yang melakukan perdagangan karena ini paling tinggi di periode pengamatan kemudian turun terus hingga t1 yang mencapai nilai 0.007820 lalu turun dan mengalami kenaikan lagi di akhir periode pengamatan setelah terendah selama periode pengamatan yakni pada hari t4. 3. Hasil Analisis 70 a. Uji Normalitas Data Uji normalitas data terlebih dahulu dilakukan sebelum melakukan uji hipotesis penelitian Pengujian normalitas ini dilakukan untuk mengetahui alat uji statistik apa yang tepat digunakan untuk data, apakah menggunakan alat uji statistik parametrik ataukah non parametrik. Pengujian dilakukan dengan terlebih dahulu mentransformasikan data ke dalam bentuk logaritmik, dengan tujuan untuk mengurangi efek skewness (kecuraman) data. Hasil pengujian dengan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test disajikan pada Tabel berikut. Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Asymptonic Sicnificant Variabel Sebelum Sesudah Abnormal Return 1000 0.460 TVA 0.969 0.525 Sumber : Data diolah 2007 Berdasarkan hasil uji normalitas pada Tabel 4.3 di atas, diperoleh nilai asymptotic significance >0,05 pada semua variabel penelitian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi normal sehingga pengujian selanjutnya dengan menggunakan uji statistik parametrik dapat dilanjutkan. b. Pengujian Hipotesis 71 1). Uji Hipotesis I Pengujian terhadap Hipotesis I menggunakan uji One Sample t-Test, yang digunakan untuk melihat apakah terjadi reaksi pasar modal yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return perubahan trading volume activity saham yang signifikan saat periode pengamatan, maka digunakan uji one sample t-test dengan menggunakan level of significance sebesar 0.05. a). abnormal return Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return Pengujian terhadap Hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui, apakah terdapat reaksi pasar modal yang signifikan pada peristiwa stock split terhadap abnormal return saham. Hipotesis ini dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai thitung > t-tabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Hasil pengujian Hipotesis menggunakan Uji One Sample t- Test dengan tingkat signifikasi 0.05 disajikan pada tabel 4.4 72 Tabel 4.4 Hasil Uji One Sample T Test Abnormal Return Periode AAR t-hitung t-tabel Probabilitas Keterangan -5 -1722.14 -15.997 2.228 0.000 Signifikan -4 -1724.91 -15.836 2.228 0.000 Signifikan -3 -1718.82 -15.702 2.228 0.000 Signifikan -2 -1723.30 -15.776 2.228 0.000 Signifikan -1 -1727.19 -15.941 2.228 0.000 Signifikan 1 -1730.15 -15.888 2.228 0.000 Signifikan 2 -1749.83 -15.819 2.228 0.000 Signifikan 3 -1750.46 -16.000 2.228 0.000 Signifikan 4 -1753.55 -15.848 2.228 0.000 Signifikan 5 -1748.47 -16.036 2.228 0.000 Signifikan Sumber : Data diolah 2007 Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4.4 di atas, diperoleh nilai AAR negatif semua selam periode pengamatan. Pengujian selama periode pengamatan menghasilkan nilai thitung yang signifikan pada semua hari pengamatan, yaitu sejak t-5 sampai t5, dengan hasil ini maka Hipotesis I penelitian dapat dibuktikan. Jadi terdapat reaksi pasar yang signifikan peristiwa stock split terhadap abnormal return saham. b). Trading Volume Activity Ho : Pasar modal tidak bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity Ha : Pasar modal bereaksi terhadap peristiwa stock split yang ditunjukkan dengan perubahan Trading Volume Activity 73 Pengujian terhadap Hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat reaksi pasar yang signifikan peristiwa stock split terhadap besarnya TVA. Hipotesis ini dapat dibuktikan apabila dijumpai nilai t-hitung > t-tabel sehingga Ho ditolak. Hasil pengujian ini disajikan pada tabel berikut. Tabel 4.5 Hasil uji one sample t test Trading Volume Activity Periode t-hitung t-tabel Probabilitas Keterangan -5 2.781 2.228 0.012 Signifikan -4 2.562 2.228 0.019 Signifikan -3 2.310 2.228 0.032 Signifikan -2 2.522 2.228 0.020 Signifikan -1 2.878 2.228 0.009 Signifikan 1 1.979 2.228 0.062 Tidak Signifikan 2 2.584 2.228 0.018 Signifikan 3 2.658 2.228 0.015 Signifikan 4 2.949 2.228 0.008 Signifikan 5 3.406 2.228 0.003 Signifikan Sumber : Data diolah 2007 Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4.5 di atas, diperoleh bahwa terjadi signifikan 9 hari dari periode pengamatan sedangkan satu hari pada t+1 menunjukkan tidak signifikan. Dengan hasil ini maka Hipotesis I penelitian juga dapat dibuktikan, jadi terdapat reaksi pasar yang signifikan peristiwa stock split terhadap TVA saham. 2). Uji Hipotesis II 74 Karena data terdistribusi normal sesuai dengan hasil uji normalitas data seperti pada tabel 4.3, maka pengujian hipotesis II menggunakan Paired Sample t-Test yaitu dua populasi yang diamati secara berpasangan pada setiap pengamatan. Ho : Tidak terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split Ha : Terdapat perbedaan signifikan abnormal return dan Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split Level of significance sebesar 5% dengan df 4 dan t-tabel 2.776. dan Ha diterima apabila nilai probabilitas (p) < 0,05. Hasil dari pengujian yang dilakukan dengan menggunakan statistik parameterik dengan bantuan SPSS for Windows versi 11 adalah sebagai berikut. Tabel 4.6 Hasil uji Paired Sample T-Test Abnormal Return dan TVA Variabel t- hitung t-Tabel Sig 2 tailed Keterangan 75 Abnormal Return 5.632 2.776 0.005 Signifikan TVA 2.739 2.776 0.052 Tidak Signifikan Sumber : Data diolah 2007 a) Abnormal Return Pengujian terhadap Hipotesis II bertujuan mengetahui adanya perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel 4.5 di atas, pengujian terhadap variabel abnormal return menghasilkan nilai t-hitung sebesar 5.632 dengan p-value sebesar 0,005. Karena nilai p-value<0 data-blogger-escaped--1723.2720="" data-blogger-escaped--1746.5940="" data-blogger-escaped-0="" data-blogger-escaped-2.739="" data-blogger-escaped-4.5="" data-blogger-escaped-5.="" data-blogger-escaped-76="" data-blogger-escaped-abnormal="" data-blogger-escaped-activity="" data-blogger-escaped-adalah="" data-blogger-escaped-adanya="" data-blogger-escaped-atas="" data-blogger-escaped-atau="" data-blogger-escaped-b.="" data-blogger-escaped-berdasarkan="" data-blogger-escaped-bertujuan="" data-blogger-escaped-dan="" data-blogger-escaped-dapat="" data-blogger-escaped-dari="" data-blogger-escaped-dengan="" data-blogger-escaped-di="" data-blogger-escaped-dibagi="" data-blogger-escaped-dibuktikan.="" data-blogger-escaped-didapat="" data-blogger-escaped-disimpulkan="" data-blogger-escaped-hari="" data-blogger-escaped-hasil="" data-blogger-escaped-hipotesis="" data-blogger-escaped-ii="" data-blogger-escaped-ini="" data-blogger-escaped-jadi="" data-blogger-escaped-karena="" data-blogger-escaped-maka="" data-blogger-escaped-mengetahui="" data-blogger-escaped-menghasilkan="" data-blogger-escaped-nilai="" data-blogger-escaped-p-value="" data-blogger-escaped-pada="" data-blogger-escaped-penelitian="" data-blogger-escaped-pengamatan="" data-blogger-escaped-pengujian="" data-blogger-escaped-penjumlahan="" data-blogger-escaped-perbedaan="" data-blogger-escaped-perdangangan="" data-blogger-escaped-peristiwa="" data-blogger-escaped-perusahaan="" data-blogger-escaped-rata="" data-blogger-escaped-return="" data-blogger-escaped-saham="" data-blogger-escaped-sebelum="" data-blogger-escaped-sebesar="" data-blogger-escaped-sedangkan="" data-blogger-escaped-sesudah="" data-blogger-escaped-setelah="" data-blogger-escaped-signifikan="" data-blogger-escaped-split.="" data-blogger-escaped-split="" data-blogger-escaped-stock="" data-blogger-escaped-tabel="" data-blogger-escaped-terdapat="" data-blogger-escaped-terhadap="" data-blogger-escaped-thitung="" data-blogger-escaped-trading="" data-blogger-escaped-tva="" data-blogger-escaped-untuk="" data-blogger-escaped-variabel="" data-blogger-escaped-volume="">0,05 sedangkan rata – rata TVA sebelum adanya stock split adalah 0.0066 dan rata – rata setelah peristiwa adalah 0.0032, rata – rata sebelum peristiwa didapat dari penjumlahan nilai abnormal hari pengamatan dan dibagi 5. maka Hipotesis II penelitian ini tidak dapat dibuktikan. Jadi dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split. B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Secara umum, hasil penelitian ini mampu membuktikan bahwa peristiwa stock split yang dilakukan oleh perusahaan, oleh investor dianggap memiliki kandungan informasi yang cukup relevan. Hal ini didasarkan pada temuan dihasilkannya nilai t-hitung abnormal return dan TVA yang signifikan. Hasil pengujian terhadap abnormal return sepuluh hari pada periode pengamatan, menghasilkan signifikan. Grafik ini menunjukkan bahwa investor pada periode menjelang stock split cenderung melakukan strategi wait and see akibat pasar modal Indonesia yang masih belum efisien. Strategi ini dilakukan karena masih terdapat informasi yang tidak jelas mengenai prospek perusahaan di masa depan sesudah stock split. 77 AAR kembali mengalami perbaikan tiga hari menjelang stock split, yang kemudian kembali menurun sampai empat hari sesudah stock split. Pergerakan ini menunjukkan bahwa infvestor masih melakukan strategi wait n see sampai pergerakan benar-benar dianggap normal, ini bisa ditunjukkan pada hari ker 5 setelah stok split abnormal mulai bergerak. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian dari Indah Kurniawati (2003) dan Suntoro dan Subekti (2003) yang juga menemukan fakta bahwa pengumuman stock split direspons secara positif oleh investor. Hal ini sesuai dengan signalling theory, yang menyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang baik. Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek yang bagus di masa depan. Sedangkan hasil pengujian terhadap volume perdagangan saham atau Trading Volume Activity (TVA) juga mampu membuktikan bahwa peristiwa stock split memiliki kandungan informasi, sehingga menyebabkan adanya perubahan volume perdagangan saham. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan utama dilakukannya stock split, yaitu dapat mengurangi nilai pasar saham yang terlalu tinggi sehingga mampu menarik minat lebih banyak investor, terutama investor dengan daya beli yang relatif kecil. Adanya pemain baru terhadap saham perusahaan ini akan menyebabkan 78 peningkatan jumlah pemegang saham sehingga pasar menjadi lebih likuid (Kieso dan Weygandt, 1993 dalam Kurniawati, 2003). Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Indah Kurniawati (2003) yang menemukan fakta bahwa terdapat perubahan tingkat likuiditas saham yang disebabkan kegiatan stock split oleh perusahaan. Tapi, dalam merespons stock split pasar cenderung berhati-hati dan bahkan beberapa saham yang melakukan stock split malah tidak melakukan perdagangan dan menunggu sampai proses pencatatan saham dengan nilai baru dilakukan. Berdasarkan pengamatan ditemui bahwa sejak t-5 sebelum peristiwa TVA mengalami kenaikan, namun setelah t-3 TVA mengalami penurunan dan setelah sehari setelah stock split TVA naik kemudian turun lagi dan kembali normal pada t+4. Hasil ini sesuai dengan pengujian terhadap nilai CAR di mana pada periode ini investor cenderung melakukan strategi wait and see yang diakibatkan adanya ketidakpastian informasi pada pasar. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis II, penelitian ini menemukan fakta adanya perbedaan yang signifikan antara abnormal return perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Suntoro dan Subekti (2003) yang mengatakan bahwa terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah stock split. Return merupakan ukuran yang dijadikan dasar untuk 79 mengetahui besarnya tingkat pengembalian atas suatu nilai investasi pada suatu saham. Besarnya tingkat return juga menunjukkan besarnya tingkat kemakmuran investor dari investasinya. Adanya perbedaan terhadap abnormal return pada periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split, menunjukkan bahwa penelitian ini menemukan adanya perbedaan tingkat kemakmuran investor pada periode tersebut. Hal ini sesuai dengan signalling theory, yang menyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang baik. Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang diberikan oleh pihak manajemen kepada publik bahwa perusahaan memiliki prospek yang bagus di masa depan. Namun, hasil pengujian terhadap TVA tidak mampu membuktikan adanya perbedaan yang signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah stock split. Hasil ini memperkuat penelitian yang dilakukan oleh Indah Kurniawati (2003) yang menunjukkan pasar bereaksi dengan adanya stock split namun volume perdagangannya tidak signifikan dan mengindikasikan bahwa investor round lot lebih banyak dan investor kecil bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split yang telah memecah saham menjadi n lembar saham yang kebanyakan tidak melakukan perdagangan hingga selesainya pencatatan saham dengan nilai baru. 80 Untuk mempermudah melihat persamaan atau perbedaan hasil penelitian maka bisa dilihat seperti tabel yang tercantum di bawah ini. Tabel 4.7 Perbedaan Hasil – Hasil Penelitian NO PENELITI JUDUL HASIL 1 Wang Sutrisno, Francisca Yuniartha, Soffy Susilowati (2000) Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek Jakarta Aktivitas stock split berpengaruh signifikan terhadap harga saham, volume perdagangan dan persentase spread, tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap varian saham dan abnormal return baik ditinjau secara individual maupun sebagai sebuah portofolio 2 Denny Suntoro dan Imam Subekti (2003) Kandungan Informasi Atas Peristiwa Stock Split Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan peristiwa stock split terhadap return saham dan juga berpengaruh signifikan terhadap volume perdagangan saham. 3 Indah Kurniawati (2003) Analisis Kandungan informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Nonsynchronous Pengumuman stock split memiliki kandungan informasi sehingga direspons oleh pelaku pasar. Sehingga pasar bereaksi karena mengetahui propsek perusahaan yang bagus di masa akan depan yang disinyalkan melalui stock split sedangkan volume perdagangan tidak signifikan, ini dikarenakan investor round lot lebih banyak dan investor kecil 81 Trading bertambah dikarenakan adanya peristiwa stock split. 4 Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi(2 005) Analisis Kandungan Informasi dan Efek Intra Industri Pengumuman Stock Split yang Dilakukan oleh Perusahaan Bertumbuh dan Tidak Bertumbuh Pengumuman stock split yang dilakukan perusahaan memiliki kandungan informasi sehingga direspons oleh para pelaku pasar. Selain itu, terdapat perbedaan beta sebelum dan setelah pengumuman stock split. Perbedaan beta terjadi setelah pengumuman stock split antara perusahaan bertumbuh dengan perusahaan tidak bertumbuh, di mana beta perusahaan tidak bertumbuh lebih besar dari perusahaan bertumbuh dan juga memberikan bukti bahwa efek intra industri pada pengumuman stock split hanya terjadi pada perusahaan bertumbuh, sedang pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan tidak bertumbuh adalah competitive effect. 5 Farid Muchtar (peneliti sekarang) Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Hasil penelitian mampu membuktikan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return dan tarding volume activity ini diuji dengan One Sample t Test. Sedangkan, berdasarkan hasil pengujian dengan Paired Sample t- Test yang bertujuan mengetahui adanya 82 Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Di BEJ Periode 2005-2007) perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah peristiwa stock spli hasilnya membuktikan bahwa terdapat perbedaan signifikan Abnormal Return sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Namun. tidak dapat membuktikan adanya perbedaan yang signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa Secara umum, hasil penelitian yang dilakukan peneliti mampu membuktikan bahwa peristiwa stock split yang dilakukan oleh perusahaan, oleh investor dianggap memiliki kandungan informasi yang cukup relevan. Hal ini didasarkan pada temuan dihasilkannya nilai t-hitung abnormal return dan TVA yang signifikan. Ini semakin menambah perbedaan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terhadap peristiwa stock split karena penelitian tentang stock split secara umum menghasilkan dua pendapat yang berbeda. Dari beberapa hasil penelitian stock split memiliki pengaruh yang cukup signifikan baik terhadap harga dan Trading Volume Acticity, akan tetapi beberapa penelitian juga menunjukkan hasil bahwa pengumuman stock split tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diteliti. Dan berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa Keputusan stock split yang dilakukan oleh perusahaan menyebabkan perubahan 83 terhadap preferensi investor dalam berinvestasi, yang berarti peristiwa stock split dianggap informatif oleh investor. Perubahan preferensi ini menjadi penyebab utama dijumpainya nilai yang signifikan pada pengujian terhadap abnormal return dan TVA, sehingga salah satu tujuan dari perusahaan di Indonesia dalam melakukan stock split yaitu untuk menurunkan harga saham yang dirasa terlalu tinggi oleh investor agar lebih bisa terjangkau oleh investor kecil bisa tercapai. Sehingga, pada rapat umum pemegang saham (RUPS) dalam menentukan kebijakan untuk melakukan stock split manajemen harus mengkaji dan menjelaskan dengan detail prospek dan kondisi perusahaan kedepannya agar masyarakat luas mengetahui dengan benar kondisi perusahaan adalah sesuai dengan yang digambarkan dengan adanya stock split itu, sesuai dengan signalling theory. Adanya peristiwa-peristiwa yang menurut investor mempunyai pengaruh pada pasar seperti stock split, saham bonus, right issue dan pembagian deviden cenderung akan mengakibatkan short selling dan memang salah satu yang mendorong perubahan harga saham dan volume perdagangan menjadi tidak wajar dan mengakibatkan adanya abnormal return dan TVA yang berubah selama periode pengamatan. Sehingga ini bisa menjadikan tindakan-tindakan yang melanggar prinsip syariah yakni akan menjadikan terjadinya gharar atau penipuan. 84 Namun, pelaku perdagangan yang ada dalam pasar modal tidak hanya mempunyai karakter yang sama sehingga dalam menanggapi informasi yang masuk dalam pasar akan direspons berbeda-beda. Seorang investor (the riel investor) pasti akan sangat teliti sebelum menginvestasikan dananya untuk membeli saham maupun melakukan transaksi lain. Berbagai bahan pertimbangan dapat digunakan sebelum investasi, salah satunya yakni dengan menganalisis laporan keuangan sebuah emiten dan prospek ke depannya. Sedangkan Seorang spekulan biasanya lebih rajin dalam mengikuti setiap berita, informasi dan rumor yang terjadi pada setiap emiten. Spekulan juga rajin dalam mengikuti naik turunnya harga saham setiap saat melalui analisis banyaknya pembeli dan penjual. Para spekulan cenderung lebih aktif memantau setiap perubahan harga saham dari point ke point karena para spekulan pada umumnya tidak memiliki tujuan untuk menginvestasikan dananya terlalu lama dalam saham yang dibelinya tatapi hanya ingin mendapatkan selisih antara nilai beli dan nilai jual sahamnya. Untuk itu, guna mengurangi kecurangan yang dilakukan oleh para spekulan dengan melakukan shot seling dan mencegah praktek-praktek lain yang merugikan seperti gharar, riba, dan maysir maka hendaknya ditetapkan hoding period atau jangka waktu memegang saham minimum. Sehingga para spekulan tidak bisa menjual saham setiap saat, melainkan 85 harus menunggu waktu minimalnya tercapai dan ini bisa meminimalisir dari mencari untung dari pergerakan saham semata. Mekanisme pasar masih harus disempurnakan untuk menghindari inefisiensi pasar yang disebabkan informasi-informasi yang masuk bursa dan mencegah spekulasi-spekulasi. Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Hujaraat ayat 6. š‰r' tƒ t Ï%©!$# (#þ ã t #u Î) ó ä.u !%y` 7,Å™$sù :*t6tBÎ/ (#þ ã8¨;t6tGsù r 7's# y*pg¿2 $J ö s% (# ç7ŠÅÁè? & (# ßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $t ó çFù=y t Ï Ï‰ t+ èsù “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Q.S. Al-Hujuraat : 6) Serta hendaknya investor tidak cepat berspekulasi setelah adanya informasi yang diterima melainkan kita harus hati-hati dalam menerima informasi atau berita tersebut. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Segala Sesuatu yang halal dan haram telah jelas, tetapi diantara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhati-hati terhadap hal-hal yang meragukan, berarti telah menjaga agama dan kehormatan darinya...”(HR. Bukhori Muslim) 86 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan pengujian terhadap variabel-variabel dan juga dengan melakukan pengujian hipotesis, serta berbagai pembahasan yang telah dipaparkan dapat diambil kesimpulan : 1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis I yakni menggunakan uji One Sample t-Test, untuk melihat reaksi pasar modal yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan trading volume activity yang signifikan saat periode pengamatan. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai t-hitung abnormal return signifikan pada semua hari pengamatan. Sedangkan Trading Volume Activity diperoleh hasil bahwa terjadi signifikan 9 hari dari periode pengamatan sedangkan satu hari pada t+1 menunjukkan tidak signifikan. Jadi dari pengujian hipotesis ini, penelitian mampu membuktikan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return dan tarding volume activity. 2. Berdasarkan hasil pengujian terhadap Hipotesis II yakni menggunakan Paired Sample t-Test. Paired Sample t-Test digunakan karena data terdistribusi normal. Pengujian ini bertujuan mengetahui adanya perbedaan abnormal return dan Trading Volume Activity sebelum dan sesudah peristiwa stock split. 87 a. Pengujian terhadap variabel abnormal return menghasilkan nilai thitung sebesar 5.632 dengan p-value sebesar 0,005. Karena nilai pvalue< 0,05. Sedangkan rata – rata abnormal return sebelum adanya stock split adalah -1723.2720 dan rata – rata setelah peristiwa adalah - 1746.5940. Maka penelitian ini dapat membuktikan terdapat perbedaan signifikan abnormal return perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split. b. Pengujian terhadap Trading Volume Activity menghasilkan nilai thitung sebesar 2.739 dengan p-value sebesar 0,052. Karena nilai pvalue> 0,05 sedangkan rata – rata TVA sebelum adanya stock split adalah 0.0066 dan rata – rata setelah peristiwa adalah 0.0032. sehingga penelitian ini tidak dapat membuktikan adanya perbedaan yang signifikan TVA perusahaan sebelum dan sesudah peristiwa stock split. B. Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti maka peneliti memberikan saran pada berbagai pihak yang terkait dengan penelitian ini, khususnya untuk penelitian selanjutnya adalah: 1. Untuk penelitian selanjutnya, hendaknya bisa dikembangkan dengan menggunakan dua periode pengamatan, yaitu periode pendek (11 hari sampai 21 hari) dan periode panjang (41 hari pengamatan). 88 Penggunaan dua periode pengamatan ini dimaksudkan supaya dapat diketahui kinerja perusahaan dalam jangka panjang setelah melakukan stock split. Namun tetap harus memilah perusahaan yang diambil sebagai sampel hanya yang melakukan stock split saja dan tidak melakukan corporate action lain agar hasil yang didapatkan benar-benar sesuai dan valid. 2. Dalam melakukan penelitian selanjutnya layak dijadikan pertimbangan untuk memasukkan variabel kinerja fundamental selain kinerja teknikal saham. Penggunaan pengukuran kinerja fundamental berguna untuk mengetahui apakah kinerja saham sudah mampu mencerminkan kinerja perusahaan secara umum, setelah maupun sebelum melakukan stock split. 3. Untuk para investor, setidaknya dengan adanya suatu informasi atau peristiwa lain, misalnya stock split, warant, pengumuman dividen, pembagian saham bonus dan corporate action lainnya hendaknya tidak melakukan short seling atau tindakan negatif lainnya secara besarbesaran melainkan melakukan aksi secara positif. Karena salah satu baiknya perekonomian suatu negara ditunjukkan oleh aktif tidaknya pasar modal. 89 DAFTAR PUSTAKA Alhusin, Syahri, 2003. Aplikasi Statistik Praktis Dengan SPSS.10 For Windows. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta. Al-Mushlih, Abdullah dan Shalah ash-Shawi. 2007. Bursa Saham Dalam Perspektif Islam. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih= indexanalisa / 20 Juli 2008 Arikunto, Suharsimi, 1998. Prosedur PenelitianSuatu Pendekatan Praktek. PT. Rineka Cipta, Jakarta. Darmadji, Tjiptono dan Hendi M. Fakhruddin, 2001, Pasar Modal Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, Edisi 1, Salemba Empat, Jakarta Departemen Agama RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya Al-jumanatul ‘ali. CV Penerbit J-ART, Bandung. Ewijaya dan Nur Indriantoro, 1999. Analisis Pengaruh Pemecahan Saham terhadap Perubahan Harga Saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Januari, Vol 2, No. 1:53-56. Halim, Abdul, 2005. Analisis Investasi. Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta. Husnan, Suad, 1998. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi 3, Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN, Yogyakarta. IDX Statistik 2007 Complied by Reseach and Product Development Division. Indah Kurniawati, 2003. Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham: Studi Empiris pada Non-synchronous Trading., Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 6, No. 3: 264-275. Indriantoro, Nur dan Supomo, 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntasi dan Manajemen Keuangan. BPFE, Yogyakarta. Jogiyanto, 2003. Teori Portfolio dan Analisis Investasi. Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta. ________ 2005. Pasar Efisien Secara Keputusan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 90 Huda, Nurul dan Mustafa Edwin Nasution, 2007. Investasi Pada Pasar Modal Syariah. Kencana Prenada Media Grup, Jakarta. Puspitaningsih, Andri, 2006. Analisis Reaksi Pasar Modal Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split di BEJ Periode 2000-2004), Skripsi Universitas Brawijaya Malang Rohanna, Jeannet, Mukhlasin, 2003. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stock Split dan Dampak yang Ditimbulkannya. Simposium Nasional Akuntasi VI. Surabaya, pp. 601-613. Santoso, Singgih, 2004. SPSS Statistik Parametrik. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Spica Almilia, Luciana dan Emanuel Kristijadi, 2005. Analisis Kandungan Informasi Dan Efek Intra Industri Pengumuman Stock Split Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Bertumbuh Dan Tidak Bertumbuh. Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, Vol. 20 No. 1, Januari 2005 : ISSN 0215 – 2487. Sudarsono, Heri, 2005. Bank & Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripsi dan Ilustrasi. Edisi Kedua. EKONISIA, Yogyakarta. Sugiyarso, G. dan Winarni, F., 2005. Manajemen Keuangan. Media Pressindo, Yogyakarta. Sunariyah, 2004. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi Empat, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Suntoro, Denny dan Imam Subekti, 2003. Kandungan Informasi atas Pertistiwa Stock Split, Telaah Ekonomi Manajemen dan Akuntansi. Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, Vol. IV, No. 2: 119-132. Suryawijaya, M.A. dan Setiawan, F.A., 1998. Reaksi Pasar Modal Indonesia terhadap Politik dalam Negeri (Event study pada Peristiwa 27 Juli 1996). Vol VII, No.18: 137-155. Sutrisno,Wang., Francisca Yuniartha dan Soffy Susilowati, 2000. Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan Return Saham di Bursa Efek 91 Jakarta. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 2, No. 2, September 2000: 1 – 13. Tandelilin, Eduardus, 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portfolio. Edisi Pertama. BPFE, Yogyakarta. Tim Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia BAPEPAM, 2004. Studi Tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia. www. bapepam.go.id. www.bapepam.go.id. /BAPEPAMLK/Kajian Riset Pasar Modal.htm/. 3 Februari 2008 _________________ /Annual Report Bapepam 2005.pdf/. 3 Februari 2008 _________________ /Annual Report Bapepam 2006.pdf/. 3 Februari 2008 _________________ /Annual Report Bapepam 2007.pdf/. 21 Juli 2008 www.jsx.co.id. / History/ 3 Februari 2007 www.ksei.co.id. /List_StockSplit-Reverse Stock_2005/. 3 Februari 2008 ____________ /List_StockSplit-Reverse Stock_2006/. 3 Februari 2008 ____________ /List_StockSplit-Reverse Stock_2007/. 3 februari 2008 www.mui.or.id. / Fatwa Dewan Syari'ah Nasional NO: 28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (AL-SHARF)/. 9 Agustus 2008 Lampiran 1 Harga Saham No KODE -5 -4 -3 -2 -1 HO 1 2 3 4 5 1 SMAR 3.800 3.900 3.850 3.850 3.900 880 950 860 930 1.050 1.050 2 CTRS 1.330 1.330 1.300 1.320 1.320 650 680 670 670 650 650 3 HEXA 6.000 6.000 5.400 6.100 6.200 1.210 1.210 1.200 1.200 1.250 1.260 4 PRAS 800 870 840 840 860 175 175 175 175 150 150 5 TMAS 1.590 1.610 1.750 1.810 1.750 940 910 900 890 910 930 6 DPNS 1.000 980 1.050 1.100 980 500 420 415 405 405 425 7 PJAA 1.740 1.800 1.890 2.100 2.050 1.000 990 960 970 930 910 8 JRPT 3.300 3.300 3.300 3.100 2.950 580 580 580 580 580 580 9 TSPC 7.050 7.150 7.500 7.450 7.450 760 720 780 780 750 770 10 EKAD 350 360 370 335 330 170 170 170 170 170 170 11 APOL 1.430 1.480 1.520 1.530 1.520 750 710 740 710 680 690 12 PLIN 5.200 5.200 5.200 5.200 5.200 1.040 1.040 1.100 1.100 1.100 1.110 13 BMTR 5.075 5.250 5.300 5.250 5.200 1.050 1.200 1.130 1.130 1.200 1.200 93 14 DAVO 590 590 580 580 590 300 290 285 285 285 285 15 ANTM 12.500 13.050 13.800 13.700 13.100 2.700 2.700 2.675 2.600 2.600 2.600 16 AKRA 5.000 5.100 5.250 5.300 5.350 1.000 1.120 1.100 1.100 1.100 1.100 17 SMGR 52.700 52.600 52.000 53.000 52.500 5.250 5.150 5.100 4.900 4.950 4.975 18 SOBI 3.900 3.825 3.575 3.650 3.700 750 710 730 720 720 710 19 HADE 800 800 800 800 840 375 400 400 400 370 370 20 PWON 3.000 3.000 2.800 2.800 2.800 560 520 520 440 455 450 21 CPIN 1.300 1.370 1.360 1.410 1.410 740 700 720 720 760 750 94 Lampiran 2 Abnormal Return KODE -5 -4 -3 -2 -1 HO 1 2 3 4 5 SMAR -1099,893 -1104,864 -1118,593 -1124,760 -1140,807 -1147,484 -1132,250 -1133,785 -1136,339 -1134,541 -1118,900 CTRS -1127,432 -1131,020 -1139,683 -1156,495 -1171,240 -1169,264 -1177,324 -1177,125 -1185,610 -1181,330 -1177,220 HEXA -1060,850 -1047,870 -993,870 -1038,690 -1049,074 -1039,035 -1034,890 -1050,598 -1058,380 -1079,408 -1096,992 PRAS -1084,740 -1057,543 -1049,945 -1055,730 -1065,566 -1055,386 -1043,060 -1015,760 -1011,850 -1033,723 -1036,630 TMAS -1237,566 -1247,147 -1241,993 -1244,926 -1244,783 -1274,283 -1306,592 -1329,201 -1323,651 -1306,128 -1309,728 DPNS -1334,340 -1326,320 -1347,399 -1327,672 -1308,229 -1270,540 -1245,390 -1262,702 -1253,604 -1232,920 -1248,111 PJAA -1309,087 -1338,055 -1333,550 -1329,739 -1342,354 -1342,270 -1338,920 -1345,990 -1343,700 -1312,891 -1292,281 JRPT -1389,586 -1404,420 -1393,820 -1410,141 -1391,558 -1405,473 -1414,090 -1432,010 -1437,430 -1432,190 -1428,563 TSPC -1460,361 -1462,556 -1464,491 -1443,917 -1442,170 -1454,948 -1459,373 -1464,587 -1472,520 -1475,528 -1480,993 EKAD -1552,467 -1553,821 -1573,122 -1561,195 -1560,205 -1564,725 -1568,820 -1722,590 -1780,970 -1750,770 -1766,240 APOL -1668,704 -1667,255 -1683,363 -1683,963 -1707,037 -1702,427 -1719,893 -1711,918 -1699,191 -1722,632 -1729,942 PLIN -1793,690 -1780,970 -1750,770 -1766,240 -1785,700 -1784,000 -1787,610 -1807,502 -1809,430 -1831,340 -1835,081 BMTR -1969,605 -1967,445 -1948,771 -1932,149 -1981,000 -1983,608 -1976,007 -1995,868 -2011,380 -2018,338 -1993,510 DAVO -2066,891 -2070,390 -2078,837 -2095,600 -2058,523 -2065,532 -2075,953 -2053,697 -2070,640 -2084,687 -2096,080 ANTM -2196,436 -2218,746 -2228,382 -2273,247 -2263,124 -2280,924 -2306,870 -2304,839 -2284,788 -2296,240 -2292,550 AKRA -2340,868 -2350,190 -2382,551 -2382,440 -2394,101 -2316,603 -2292,750 -2315,908 -2327,570 -2273,230 -2284,060 SMGR -2315,895 -2327,572 -2273,241 -2284,041 -2231,360 -2207,330 -2189,369 -2288,570 -2182,049 -2209,920 -2200,855 SOBI -2200,879 -2136,229 -1962,865 -1984,569 -2039,946 -2001,687 -2098,103 -2109,632 -2163,874 -2168,270 -2105,704 HADE -2195,780 -2212,990 -2253,900 -2200,220 -2226,800 -2239,453 -2209,363 -2218,090 -2210,240 -2230,465 -2228,590 PWON -2218,090 -2210,240 -2230,457 -2228,590 -2219,070 -2283,980 -2318,961 -2298,590 -2334,114 -2346,376 -2329,991 CPIN -2541,728 -2607,516 -2645,567 -2665,003 -2648,260 -2681,115 -2648,204 -2707,541 -2662,250 -2703,604 -2665,933 95 Lampiran 3 Rata – rata Abnormal Return No KODE Sebelum HO Sesudah 1 SMAR -1117,783322 -1147,48432 -1131 2 CTRS -1145,173918 -1169,263896 -1179,721649 3 HEXA -1038,070776 -1039,034819 -1064,053707 4 PRAS -1062,70463 -1055,386478 -1028,204573 5 TMAS -1243,283118 -1274,282803 -1315,059921 6 DPNS -1328,791981 -1270,539845 -1248,545315 7 PJAA -1330,557094 -1342,270195 -1326,756482 8 JRPT -1397,904898 -1405,473434 -1428,856636 9 TSPC -1454,698879 -1454,948036 -1470,600223 10 EKAD -1560,161956 -1564,724838 -1717,877979 11 APOL -1682,064349 -1702,426623 -1716,715085 12 PLIN -1775,473975 -1783,999951 -1814,192649 13 BMTR -1959,793992 -1983,608136 -1999,02073 14 DAVO -2074,048232 -2065,531563 -2076,211412 15 ANTM -2235,987066 -2280,923776 -2297,05751 16 AKRA -2370,029995 -2316,603123 -2298,703595 17 SMGR -2286,421665 -2207,329935 -2214,152585 18 SOBI -2064,897837 -2001,687312 -2129,116556 19 HADE -2217,937998 -2239,453473 -2219,349665 20 PWON -2221,289359 -2283,979932 -2325,606401 21 CPIN -2621,614894 -2681,11507 -2677,506578 96 Lampiran 4 Volume Perdagangan No KODE -5 -4 -3 -2 -1 HO 1 2 3 4 5 1 SMAR 0 48.000 0 0 964.000 7.500 124.500 981.500 2.485.000 33.500 10.000 2 CTRS 7.718.000 12.056.000 9.019.000 16.731.500 21.369.000 24.205.000 68.227.504 18.821.500 4.460.500 1.436.000 6.791.500 3 HEXA 69.500 94.000 96.000 610.000 32.000 28.000 17.500 50.500 90.000 2.116.000 1.696.000 4 PRAS 25.000 71.000 34.000 0 110.000 0 0 0 0 113.000 0 5 TMAS 2.644.500 1.587.000 949.000 1.843.000 5.092.000 1.417.500 2.549.000 4.624.500 565.000 196.500 275.500 6 DPNS 0 150.000 377.000 102.000 4.000 15.500 2.500 0 102.000 45.000 0 7 PJAA 1.268.500 377.500 863.500 522.000 1.822.500 888.500 1.032.500 440.000 1.898.500 2.231.500 4.962.500 8 JRPT 0 833.000 55.000 47.500 214.500 82.000 0 0 0 0 833.000 9 TSPC 14.238.500 21.351.500 27.763.000 5.685.500 924.500 1.036.000 2.361.500 2.532.000 886.000 860.500 1.214.500 10 EKAD 5.000 11.000 2.000 3.500 52.000 40.000 0 0 0 0 28.000 11 APOL 2.261.500 6.121.000 1.097.500 1.324.000 1.480.500 5.515.500 883.500 1.023.000 999.500 329.500 3.367.000 12 PLIN 28.000 52.500 0 0 11.000 0 0 2.500 0 0 28.000 13 BMTR 10.716.000 33.816.500 61.850.000 118.187.000 25.908.000 84.409.504 144.587.008 2.456.000 1.937.500 3.234.000 3.947.000 97 14 DAVO 683.500 285.000 509.500 1.553.000 2.887.000 8.297.500 15.655.000 1.495.500 233.500 0 186.000 15 ANTM 15.128.000 8.288.500 27.336.500 92.598.496 22.599.500 14.748.500 35.677.500 27.898.500 15.189.000 6.749.000 11.560.500 16 AKRA 11.596.000 7.182.000 3.525.000 2.449.000 2.948.000 2.061.500 1.591.000 2.428.000 2.299.000 4.444.000 1.884.500 17 SMGR 7.582.500 2.720.500 846.000 2.717.000 4.193.000 6.402.000 3.403.000 952.500 212.500 670.000 326.500 18 SOBI 5.639.500 2.567.500 5.107.500 1.278.500 5.040.000 3.318.000 1.090.000 300.000 1.050.500 102.500 1.195.500 19 HADE 0 0 0 10.000 20.000 500 35.000 0 0 20.000 0 20 PWON 0 0 152.500 0 0 0 228.500 1.500 20.000 61.500 5.000 21 CPIN 48.286.500 54.241.000 77.873.504 26.249.500 32.555.000 34.592.500 23.028.000 21.569.500 23.423.500 8.487.000 14.965.000 98 Lampiran 5 Saham Beredar No KODE -5 -4 -3 -2 -1 HO 1 2 3 4 5 1 SMAR 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 297.360.000 2 CTRS 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 989.432.417 3 HEXA 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 840.000.000 4 PRAS 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 117.000.000 5 TMAS 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 1.141.030.000 6 DPNS 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 270.000.000 7 PJAA 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 1.599.999.998 8 JRPT 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 550.000.000 9 TSPC 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 450.000.000 10 EKAD 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 559.020.000 11 APOL 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 1.499.302.000 12 PLIN 35.500.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 3.550.000.000 13 BMTR 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 2.751.053.910 14 DAVO 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 12.403.711.320 15 ANTM 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 9.538.459.749 99 16 AKRA 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 625.045.000 17 SMGR 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 593.152.000 18 SOBI 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 180.000.000 19 HADE 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 1.060.000.000 20 PWON 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 1.543.577.000 21 CPIN 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 1.642.280.704 100 Lampiran 6 Trading Volume Activity No KODE -5 -4 -3 -2 -1 HO 1 2 3 4 5 1 SMAR 0,000000 0,000161 0,000000 0,000000 0,003242 0,000025 0,000419 0,003301 0,008357 0,000113 0,000034 2 CTRS 0,007800 0,012185 0,009115 0,016910 0,021597 0,024464 0,068956 0,019023 0,004508 0,001451 0,006864 3 HEXA 0,000083 0,000112 0,000114 0,000726 0,000038 0,000033 0,000021 0,000060 0,000107 0,002519 0,002019 4 PRAS 0,000214 0,000607 0,000291 0,000000 0,000940 0,000000 0,000000 0,000000 0,000000 0,000966 0,000000 5 TMAS 0,002318 0,001391 0,000832 0,001615 0,004463 0,001242 0,002234 0,004053 0,000495 0,000172 0,000241 6 DPNS 0,000000 0,000094 0,000236 0,000064 0,000003 0,000010 0,000002 0,000000 0,000064 0,000028 0,000000 7 PJAA 0,000793 0,000236 0,000540 0,000326 0,001139 0,000555 0,000645 0,000275 0,001187 0,001395 0,003102 8 JRPT 0,000000 0,001515 0,000100 0,000086 0,000390 0,000149 0,000000 0,000000 0,000000 0,000000 0,001515 9 TSPC 0,031641 0,047448 0,061696 0,012634 0,002054 0,002302 0,005248 0,005627 0,001969 0,001912 0,002699 10 EKAD 0,000009 0,000020 0,000004 0,000006 0,000093 0,000072 0,000000 0,000000 0,000000 0,000000 0,000050 11 APOL 0,001508 0,004083 0,000732 0,000883 0,000987 0,003679 0,000589 0,000682 0,000667 0,000220 0,002246 12 PLIN 0,000001 0,000015 0,000000 0,000000 0,000003 0,000000 0,000000 0,000001 0,000000 0,000000 0,000008 13 BMTR 0,003895 0,012292 0,022482 0,042961 0,009417 0,030683 0,052557 0,000893 0,000704 0,001176 0,001435 14 DAVO 0,000055 0,000023 0,000041 0,000125 0,000233 0,000669 0,001262 0,000121 0,000019 0,000000 0,000015 15 ANTM 0,001586 0,000869 0,002866 0,009708 0,002369 0,001546 0,003740 0,002925 0,001592 0,000708 0,001212 16 AKRA 0,018552 0,011490 0,005640 0,003918 0,004716 0,003298 0,002545 0,003885 0,003678 0,007110 0,003015 17 SMGR 0,012783 0,004587 0,001426 0,004581 0,007069 0,010793 0,005737 0,001606 0,000358 0,001130 0,000550 18 SOBI 0,031331 0,014264 0,028375 0,007103 0,028000 0,018433 0,006056 0,001667 0,005836 0,000569 0,006642 19 HADE 0,000000 0,000000 0,000000 0,000009 0,000019 0,000000 0,000033 0,000000 0,000000 0,000019 0,000000 20 PWON 0,000000 0,000000 0,000099 0,000000 0,000000 0,000000 0,000148 0,000001 0,000013 0,000040 0,000003 21 CPIN 0,029402 0,033028 0,047418 0,015984 0,019823 0,021064 0,014022 0,013134 0,014263 0,005168 0,009112 Lampiran 7 Rata – rata Trading Volume Activity No KODE Sebelum HO Sesudah 1 SMAR 0,00068066 0,00068570 0,00073715 2 CTRS 0,01352159 0,01685421 0,02820850 3 HEXA 0,00021464 0,00020476 0,00018655 4 PRAS 0,00041026 0,00036752 0,00024615 5 TMAS 0,00212361 0,00190854 0,00207716 6 DPNS 0,00007913 0,00008106 0,00006263 7 PJAA 0,00060675 0,00055925 0,00064113 8 JRPT 0,00041818 0,00044800 0,00014509 9 TSPC 0,03109467 0,02522689 0,01678689 10 EKAD 0,00002630 0,00003882 0,00003488 11 APOL 0,00163870 0,00207276 0,00137411 12 PLIN 0,00000374 0,00000358 0,00000062 13 BMTR 0,01820957 0,02356704 0,03161999 14 DAVO 0,00009542 0,00021819 0,00046602 15 ANTM 0,00347962 0,00347166 0,00404595 16 AKRA 0,00886336 0,00581254 0,00402355 17 SMGR 0,00608916 0,00569112 0,00592125 18 SOBI 0,02181444 0,01923500 0,01759333 19 HADE 0,00000566 0,00000575 0,00001236 20 PWON 0,00001976 0,00001976 0,00004937 21 CPIN 0,02913089 0,02746321 0,02366203 102 Lampiran 8 Hasil Pengujian SPSS 1. Pengujian Abnormal Return NPar Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test SEBELUM SESUDAH N 5 5 Mean -1723.2720 Normal Parameters(a,b) -1746.5940 Std. Deviation 3.12795 9.09966 Absolute .159 .382 Positive .159 .382 Most Extreme Differences Negative -.123 -.222 Kolmogorov-Smirnov Z .355 .853 Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000 .460 a Test distribution is Normal. b Calculated from data. T-Test One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean SEBELUM5 21 - 1722.1375 493.34495 107.65669 SEBELUM4 21 - 1724.9123 499.15771 108.92514 SEBELUM3 21 - 1718.8176 501.63476 109.46568 SEBELUM2 21 - 1723.3013 500.56490 109.23222 SEBELUM1 21 - 1727.1860 496.51696 108.34888 HO 21 - 1727.1460 498.21821 108.72013 SESUDAH1 21 - 1730.6568 499.16259 108.92621 SESUDAH2 21 - 1749.8335 506.90912 110.61664 SESUDAH3 21 - 1750.4562 501.35955 109.40562 SESUDAH4 21 - 1753.5491 507.06684 110.65106 SESUDAH5 21 - 1748.4740 499.66375 109.03557 103 One-Sample Test Test Value = 0 95% Confidence Interval of the Difference t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Lower Upper SEBELUM5 -15.997 20 .000 -1722.1375 - 1946.7055 - 1497.5696 SEBELUM4 -15.836 20 .000 -1724.9123 - 1952.1262 - 1497.6985 SEBELUM3 -15.702 20 .000 -1718.8176 - 1947.1590 - 1490.4762 SEBELUM2 -15.776 20 .000 -1723.3013 - 1951.1557 - 1495.4469 SEBELUM1 -15.941 20 .000 -1727.1860 - 1953.1979 - 1501.1742 HO -15.886 20 .000 -1727.1460 - 1953.9323 - 1500.3598 SESUDAH1 -15.888 20 .000 -1730.6568 - 1957.8728 - 1503.4407 SESUDAH2 -15.819 20 .000 -1749.8335 - 1980.5757 - 1519.0912 SESUDAH3 -16.000 20 .000 -1750.4562 - 1978.6723 - 1522.2401 SESUDAH4 -15.848 20 .000 -1753.5491 - 1984.3632 - 1522.7350 SESUDAH5 -16.036 20 .000 -1748.4740 - 1975.9182 - 1521.0298 T-Test Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean Pair 1 SEBELUM -1723.2720 5 3.12795 1.39886 SESUDAH -1746.5940 5 9.09966 4.06949 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 SEBELUM & SESUDAH 5 .120 .847 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed) Pair 1 SEBELUM - SESUDAH 23.3220 9.26025 4.14131 11.8239 34.8201 5.632 4 .005 104 2. Pengujian Trading Volume Activity NPar Tests One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test SEBELUM SESUDAH N 5 5 Normal Parameters(a,b) Mean .0066 .0032 Std. Deviation .00139 .00267 Absolute .220 .363 Positive .220 .363 Most Extreme Differences Negative -.147 -.230 Kolmogorov-Smirnov Z .492 .812 Asymp. Sig. (2-tailed) .969 .525 a Test distribution is Normal. b Calculated from data. T-Test One-Sample Statistics N Mean Std. Deviation Std. Error Mean SEBELUM5 21 .0068 .01114 .00243 SEBELUM4 21 .0069 .01230 .00268 SEBELUM3 21 .0087 .01720 .00375 SEBELUM2 21 .0056 .01018 .00222 SEBELUM1 21 .0051 .00808 .00176 HO 21 .0057 .00949 .00207 SESUDAH1 21 .0078 .01810 .00395 SESUDAH2 21 .0027 .00484 .00106 SESUDAH3 21 .0021 .00360 .00079 SESUDAH4 21 .0012 .00183 .00040 SESUDAH5 21 .0019 .00261 .00057 105 One-Sample Test Test Value = 0 95% Confidence Interval of the Difference t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Lower Upper SEBELUM5 2.781 20 .012 .0068 .0017 .0118 SEBELUM4 2.562 20 .019 .0069 .0013 .0125 SEBELUM3 2.310 20 .032 .0087 .0008 .0165 SEBELUM2 2.522 20 .020 .0056 .0010 .0102 SEBELUM1 2.878 20 .009 .0051 .0014 .0088 HO 2.738 20 .013 .0057 .0013 .0100 SESUDAH1 1.979 20 .062 .0078 -.0004 .0161 SESUDAH2 2.584 20 .018 .0027 .0005 .0049 SESUDAH3 2.658 20 .015 .0021 .0004 .0037 SESUDAH4 2.949 20 .008 .0012 .0003 .0020 SESUDAH5 3.406 20 .003 .0019 .0008 .0031 T-Test Paired Samples Statistics Mean N Std. Deviation Std. Error Mean SEBELUM .0066 5 .00139 .00062 Pair 1 SESUDAH .0032 5 .00267 .00119 Paired Samples Correlations N Correlation Sig. Pair 1 SEBELUM & SESUDAH 5 .152 .807 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Difference Mean Std. Deviation Std. Error Mean Lower Upper t df Sig. (2-tailed) Pair 1 SEBELUM - SESUDAH .0034 .00281 .00126 .0000 .0069 2.739 4 .052 106 Lampiran 9 Bukti Konsultasi BUKTI KONSULTASI Nama : Farid Muchtar NIM : 03220090 Fak / Jur : Ekonomi / Manajemen Pembimbing : Ahmad Fahruddin A,SE., MM Judul Skripsi : Analisis Reaksi Saham Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (Event Study Pada Perusahaan Yang Melakukan Stock Split Di Bej Periode 2005-2007) No Topik Bimbingan Tanggal Pembimbingan Tanda Tangan Dosen Pembimbing 1 Pengajuan Proposal 26 Januari 2007 2 Revisi Proposal 27 Februari 2008 3 Seminar Proposal 3 Maret 2008 4 Revisi Proposal 11 Maret 2008 5 Pengajuan Skripsi 6 Revisi BAB I, II, III 7 Pengajuan BAB IV, V 8 Revisi BAB IV ,V 9 ACC BAB IV dan V 10 ACC Ujian Skripsi Malang, 23 Maret 2007 Dekan, Drs. H.A. Muhtadi Ridwan, MA NIP. 150231828 DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN Jl. Gajayana No.50 Telp. (0341) 551354 - 572533 107 Lampiran 10 Surat Keterangan Penelitian KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar