METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN STUDI KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE

Admin


METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN STUDI
KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE

Dalam era dimana pertanggungjawaban merupakan titik perhatian
dalam masyarakat, kegunaan akuntansi akan semakin dirasakan. Fungsi
akuntansi menjadi semakin penting, karena tujuan utama akuntansi adalah
menyajikan informasi ekonomi dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak
yang berkepentingan. Informasi ekonomi yang dihasilkan akuntansi berbentuk
laporan keuangan, dimana laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan suatu organisasi bisnis yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan
bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak
menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi, karena secara umum hanya menggambarkan
pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk
menyediakan informasi nonkeuangan. Sementara itu informasi yang
dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan sangat beragam, dan hingga kini
selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan pemakai laporan keuangan.
Hal ini dimungkinkan terjadi karena orientasi organisasi bisnis yang
cukup berkembang, dimana pada awal perkembangannya, organisasi bisnis
hanya mementingkan keuntungannya sendiri (profit-oriented), sehingga
sebuah organisasi bisnis akan melakukan apapun untuk mencapai tingkat
keuntungan yang dapat dicapainya.

Setelah itu berkembanglah orientasi organisasi bisnis yang lain, hal
tersebut disebabkan dengan adanya tuntutan akan etika bisnis yang lebih baik.
Sehingga organisasi tidak hanya menilai prestasinya dengan mengukur tingkat
nominal laba yang dicapai, tapi lebih dari itu yakni dengan menilai hubungan
organisasi bisnis dengan pihak-pihak yang terkait (stakeholder) seperti
pelanggan, pemasok, investor, dan pihak yang lain. Organisasi bisnis seperti
ini berarti telah memiliki orientasi yang mementingkan hubungan dengan
pihak-pihak yang terkait dengan lebih baik (stakeholders-oriented).

Selain dua orientasi organisasi bisnis di atas, berkembang pula orientasi
yang lain, terutama bagi masyarakat Islam, dimana dalam menjalankan
organisasi bisnis, Islam mengharuskan untuk menjalankan syariah sebagai
pedoman yang digunakan untuk berperilaku dalam segala aspek kehidupan.
Sehingga dalam menjalankan organisasi bisnis selalu menggunakan metafora
“amanah” yang bisa diturunkan menjadi metafora zakat, atau realitas
organisasi yang dimetaforakan dengan zakat. Ini berarti bahwa organisasi
bisnis orientasinya tidak lagi profit-oriented atau stakeholders-oriented, tetapi
zakat-oriented (Muhammad : 2000).

Persoalannya sekarang adalah bagaimana kaitan antara zakat dengan
akuntansi. Tidak lain adalah kita seharusnya dapat menggunakan informasi
yang dihasilkan oleh akuntansi untuk keperluan zakat. Dimana diharapkan
informasi akuntansi berguna dalam penghitungan zakat yang benar. Untuk itu
diperlukan adanya penyesuaian pengukuran dan pengakuan sejumlah rekeningrekening
pada laporan keuangan, karena tidak semua metode akuntansi yang
biasa dipakai sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Meskipun banyak pembahasan tentang aturan syariah dalam
menjalankan organisasi bisnis, tetapi kebanyakan masih dalam tatanan etika
perusahaan secara global, sedikit sekali yang membahasnya dalam tingkatan
praktik. Terutama dalam pembahasan akuntansi syariah, sedikit sekali yang
membahas tentang praktik akuntansi syariah pada perusahaan secara umum,
karena perkembangan praktik akuntansi syariah sementara ini masih tertuju
pada perbankan syariah saja, sedikit sekali yang menyentuh praktik pada
organisasi bisnis yang lain.
Maka dari itu penulis mengambil judul “METODE PENGUKURAN
DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN
UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN; STUDI
KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE”.

1.2. Ruang Lingkup Masalah
Agar penelitian yang dilakukan tidak terlalu melebar maka perlu
pembatasan masalah yang difokuskan pada penerapan teori pengukuran dan
pengakuan rekening-rekening laporan keuangan perusahan untuk
penghitungan zakat. Pada penelitian ini akan mengambil kasus pada laporan
keuangan CV Adi Komunika Enterprise, sebuah perusahaan yang bergerak di
bidang jasa dan perdagangan, yang selanjutnya akan dilakukan penyesuaian
metode pengukuran dan pengakuan atas rekening laporan keuangannya guna
penghitungan zakat mal perusahaan tersebut.

1.3. Perumusan Masalah
Masalah yang akan diteliti adalah:
1.3.1. Bagaimanakah metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan
keuangan yang digunakan CV Adi Komunika Enterprise dalam laporan
keuangannya?
1.3.2. Bagaimanakah metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan
keuangan CV Adi Komunika Enterprise untuk tujuan penghitungan
zakat mal?
1.3.3. Bagaimanakah metode penghitungan zakat mal pada CV Adi
Komunika Enterprise?

1.4. Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah yang ada maka tujuan penelitian ini adalah:
1.4.1. Untuk mengetahui metode pengukuran dan pengakuan rekeningrekening
laporan keuangan CV Adi Komunika Enterprise.
1.4.2. Untuk menerapkan metode pengukuran dan pengakuan rekeningrekening
laporan keuangan yang sesuai syariah, guna penghitungan
zakat mal CV Adi Komunika Enterprise.
1.4.3. Untuk menghitung zakat mal CV Adi Komunika Enterprise.

1.5. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk pengembangan penerapan
teori akuntansi syariah yang ada pada tatanan praktik perusahaan non
perbankan, khususnya perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan dagang,
sehingga mempermudah pemahaman akan teori akuntansi syariah yang
berlaku.

Penelitian ini juga berguna untuk mempermudah pemilik CV Adi
Komunika Enterprise dalam menghitung zakat mal perusahaannya dengan
hanya menggunakan laporan keuangan yang sudah tersedia lalu menyesuaikan
metode pengukuran dan pengakuan beberapa rekening yang memang
diperlukan sesuai dengan syariah.

Penelitian ini diharapkan juga dapat menyumbangkan metode praktik
yang dapat digunakan dalam perusahaan yang sejenis dengan perusahaan yang
diteliti guna penghitungan zakat mal.

1.6. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyusunnya sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Pada bagian ini berisi beberapa sub bab yang membahas tentang
latar belakang, ruang lingkup masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, dan kegunaan penelitian ini dilakukan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Pada bagian ini penulis melandaskan teori untuk penelitiannya
dengan terlebih dahulu membahas zakat, mulai dari; pengertian
zakat, harta benda yang wajib dizakati, zakat perdagangan, zakat
perusahaan, dan sedikit uraian tentang perbedaan zakat, infak,
sedekah, dan pajak. Selanjutnya penulis mulai membahas pijakan
teori dari penerapan dalam penelitian ini dengan membahas; tujuan
akuntansi syariah, Asumsi dasar laporan keuangan syariah, prinsip
akuntansi syariah, karakteristik kualitatif laporan keuangan syariah,
dan akhirnya penulis menutupnya dengan pembahasan tentang
konsep pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan
syariah.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini, penulis menjelaskan pendekatan metode penelitian
yang digunakan untuk penulisan skripsi, beserta jenis dan sumber
data yang dipakai serta metode pengumpulannya. Setelah itu
penulis menjelaskan metode analisis yang digunakannya dalam
penelitian ini.

BAB IV : PEMBAHASAN
Dalam bab ini, penulis akan mulai membahas penelitiannya dari
pengungkapan profil perusahaan, deskripsi metode pengukuran dan
pengakuan elemen laporan keuangan perusahaan, dan penerapan
metode pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan yang
sesuai syariah untuk penghitungan zakat mal.

BAB V : PENUTUP
Disini akhirnya penulis membuat kesimpulan atas hasil
penelitiannya dan memberikan saran berdasarkan hasil
penelitiannya.

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN; STUDI KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama Jepara Disusun oleh: HAFID JUNAIDI NIM 0220000177 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI NAHDLATUL ULAMA JEPARA 2006 ii HALAMAN PERSETUJUAN METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN; STUDI KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi pada program S1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama Jepara. Nama : HAFID JUNAIDI NIM : 0220000177 Program Studi : Akuntansi Disetujui Oleh Pembimbing Pembimbing I Pembimbing II Drs. DUL MU’ ID, M.Si, Akt A. BADARUDIN L, SE Tgl ........................................... Tgl .................................. iii HALAMAN PENGESAHAN METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN; STUDI KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE Nama Penyusun : HAFID JUNAIDI NIM : 0220000177 Program Studi : Akuntansi Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Penguji Jurusan Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama Jepara. Pada hari Minggu, tanggal 16 Juli 2006 Penguji I Penguji II Drs. DUL MU’ ID, M.Si, Akt Drs. DIDIK ARDIYANTO, M.Si, Akt Mengesahkan Ketua Jurusan Akuntansi Drs. DUL MU’ ID, M.Si, Akt iv HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ÚúÚúüÏèÏètGtGó¡nSnS y‚y‚$ƒƒÎ) Î)urur ߉ç7ç7÷è÷ètRtR x‚$ƒƒÎ) Thee do we worship, and Thine aid we seek. Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan. Skripsi yang sederhana ini kupersembahkan untuk: 1. Bapak dan Ibu yang tercinta 2. Para Sahabatku yang selalu menemani 3. Seluruh umat Islam pada khususnya dan umat Manusia pada umumnya v ABSTRAKSI Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Diharapkan juga informasi akuntansi berguna dalam penghitungan zakat yang benar atau sesuai syariah. Untuk itu diperlukan adanya penyesuaian pengukuran dan pengakuan sejumlah rekening-rekening pada laporan keuangan, karena tidak semua metode akuntansi yang biasa dipakai sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Dalam skripsi ini bertujuan untuk menerapkan metode pengukuran dan penilaian rekening untuk penghitungan zakat mal perusahaan. Dalam studi kasus ini, peneliti mencoba menerapkannya pada CV Adi Komunika Enterprise yang merupakan perusahaan dengan bentuk usaha dagang dan jasa. Pendekatan penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode terapan atau pengembangan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penerapan teori akuntansi syariah dan hukum zakat dalam rangka memecahkan masalah penghitungan zakat mal CV Adi Komunika Enterprise. Analisis kualitatif lebih banyak digunakan dalam skripsi ini dengan menguraikan data dengan cara memberikan pengertian, penjelasan dan penaksiran pada data yang dianalisis. Analisis ini akan digunakan dalam penentuan pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangan untuk penghitungan zakat mal dan penentuan rekening yang dimasukkan dalam penghitungan zakat mal perusahaan, yang didasarkan pada landasan teori yang digunakan penulis. Barulah setelah itu secara kuantitatif penghitungan zakat dilakukan. Hasil analisis dalam skripsi ini menunjukkan bahwa CV Adi Komunika Enterprise masih menggunakan metode pengukuran dan pengakuan yang konvensional, maka dalam penghitungan zakatnya diperlukan penyesuaian metode pengukuran dan pengakuannya. Perubahan yang terjadi terutama pada metode pengukuran persediaan perusahaan. Karena CV Adi Komunika Enterprise memakai kos historis sebagai atribut yang diukurnya dalam mengukur nilai persediaannya. Sedangkan untuk penghitungan zakat, nilai pada saat penghitungan zakat (current value) merupakan atribut yang diukur sebagai penilaian aset perusahaan, lebih tepatnya menggunakan harga jual sekarang (current exit price). Dengan mengacu pada aturan harta benda yang wajib dizakati, maka rekening-rekening yang berhubungan dengan penghitungan zakat pada CV Adi Komunika Enterprise secara garis besar terdiri dari tiga golongan utama yakni; Kas, Persediaan, dan Utang. Zakat mal CV Adi Komunika Enterprise dihitung dengan cara mengurangkan utang terhadap jumlah kas dan persediaan dan mengalikannya dengan tarif zakat sebesar 2,575% atas dasar periode akuntansi selama 1 (satu) tahun masehi sebagai haulnya. vi KATA PENGANTAR Seiring dengan rasa syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ ala atas segala rahmat, hidayah dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “’Metode Pengukuran dan Pengakuan Rekening-Rekening Laporan Keuangan untuk Penghitungan Zakat Mal Perusahaan; studi kasus CV. Adi Komunika Enterprise” ini merupakan hasil karya penulis yang merupakan tugas akhir studi pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara. Metode Pengukuran dan Pengakuan rekening menempati level kedua dalam kerangka konseptual akuntansi. Sedangkan pada level pertama kerangka konseptual menjelaskan tujuan pelaporan keuangan. Tentu saja hemat penulis perbedaan tujuan pelaporan keuangan dapat menyebabkan perbedaan pada metode pengukuran dan pengakuan rekening-rekening laporan keuangan. Pelaporan keuangan yang bertujuan untuk mempertanggungjawabkan muammalah kepada Sang Pemilik yang hakiki yakni Allah SWT seperti yang banyak digariskan oleh pakar-pakar akuntansi syariah, merupakan kontruksi dari penggunaan “metrafora amanah” dan “metafora zakat” dalam pekerjaan akuntansi yang bernafaskan Islam. Sehingga diperlukan adanya metode pengukuran dan pengakuan yang dapat diterima untuk tujuan tersebut. Informasi tentang zakat merupakan salah satu informasi yang tidak dapat dihindari oleh akuntansi syari’ ah. Disamping itu kita juga tidak dapat memungkiri bahwa penerapan akuntansi syariah secara menyeluruh belumlah dapat dilakukan vii karena kurangnya perkembangan akuntansi syariah yang relatif dipandang baru ini. Maka dalam skripsi ini, penulis menggunakan laporan keuangan perusahaan yang telah tersedia yang tentu saja masih menggunakan cara-cara konvensional dan penulis menyesuaikan metode pengukuran dan pengakuannya. Neraca merupakan laporan keuangan yang diperlukan untuk mengetahui besarnya zakat perusahaan. Zakat perusahaan itu sendiri besarnya adalah 2,575% dikalikan hasil pengurangan kewajiban (utang) atas harta yang wajib dizakati (dari hasil analisis merupakan kelompok aktiva lancar) dimana menggunakan haul 1 tahun masehi seperti periode akuntansi konvensional. Tentu saja dalam pengukuran dan pengakuan rekening-rekening neraca telah disesuaikan dengan aturan syariah. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis berusaha untuk mengumpulkan landasan-landasan teori untuk dapat melakukan penerapan metode pengukuran dan pengakuan rekening-rekening laporan keuangan untuk penghitungan zakat mal perusahaan. Penyusun menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan bimbingan serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesabesarnya kepada: 1. Bapak dan Ibu serta kedua adikku yang tercinta yang selalu memberi semangat dan motivasi dalam hidup ini. 2. Bapak H. Setiyono, SE. MM. Selaku Ketua STIENU Jepara. 3. Bapak Drs. Dul Mu’ id, MSi. Akt. Selaku Ketua Jurusan Akuntansi STIENU Jepara sekaligus sebagai Pembimbing I Skripsi ini. viii 4. Bapak Badaruddin Latief, SE. Selaku dosen pembimbing selama penulis menimba ilmu di STIENU Jepara sekaligus sebagai Pembimbing II Skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu dosen beserta segenap karyawan STIENU Jepara atas segala bantuan dan dorongan kepada penulis. 6. Bapak Ir. Adi Sucipto Musa selaku Direktur CV Adi Komunika Enterprise yang telah memberikan izin riset, penjelasan serta bantuannya kepada penulis dalam menyusun skripsi ini. 7. Bapak Rudy SH yang telah mengizinkan penulis dalam penggunaan komputer untuk penulisan skripsi ini. 8. Segenap karyawan Eldiana yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini dengan memberikan informasi yang penulis butuhkan. 9. Sahabat-sahabatku dan teman-temanku baik yang di kampus maupun di luar yang tak mungkin kusebutkan satu persatu. Terima kasih atas kebersamaan kita. 10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah dengan ikhlas, memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini. Namun penulis menyadaari pula bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan. Jepara, 1 Juni 2006 Penulis ix DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................................ii HALAMAN PENGESAHAN................................................................................. iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN.......................................................iv ABSTRAKSI............................................................................................................v KATA PENGANTAR .............................................................................................vi DAFTAR ISI ...........................................................................................................ix DAFTAR TABEL ..................................................................................................xii DAFTAR GAMBAR.............................................................................................xiii BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1 1.1. Latar Belakang ...................................................................................1 1.2. Ruang Lingkup Masalah .....................................................................3 1.3. Perumusan Masalah ............................................................................4 1.4. Tujuan Penelitian................................................................................4 1.5. Kegunaan Penelitian ...........................................................................5 1.6. Sistematika Penulisan .........................................................................5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................8 2.1. Pengertian Zakat ................................................................................8 2.2. Persyaratan Harta Benda yang Wajib Dizakati ...................................9 2.3. Zakat Perdagangan...........................................................................16 2.4. Zakat Perusahaan.............................................................................17 x 2.5. Perbedaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Pajak ....................................19 2.6. Tujuan Akuntansi Syariah................................................................20 2.7. Asumsi Dasar Laporan Keuangan Syariah .......................................21 2.8. Prinsip Akuntansi Syariah................................................................22 2.9. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Syariah .........................24 2.10.Konsep Pengukuran dan Pengakuan Elemen Laporan Keuangan Syariah ............................................................................................25 2.10.1. Konsep pengukuran..............................................................25 2.10.2. Konsep Pengakuan ...............................................................30 2.11.Kerangka pemikiran.........................................................................33 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................35 3.1. Pendekatan Metode Penelitian ..........................................................35 3.2. Jenis dan Sumber Data......................................................................36 3.3. Metode Pengumpulan Data ...............................................................36 3.4. Metode Analisis................................................................................37 BAB IV PEMBAHASAN .....................................................................................40 4.1. Gambaran Umum Obyek Penelitian.................................................40 4.1.1. Sejarah dan Perkembangan...................................................40 4.1.2. Lokasi Perusahaan................................................................41 4.1.3. Bidang Usaha .......................................................................42 4.1.4. Struktur Organisasi...............................................................43 4.2. Analisis dan pembahasan .................................................................47 4.2.1. Penentuan Rekening untuk Penghitungan Zakat ...................47 xi 4.2.2. Pengukuran dan Pengakuan Rekening Laporan Keuangan....48 4.2.3. Penghitungan Zakat Mal Perusahaan ....................................54 BAB V PENUTUP...............................................................................................57 5.1. Kesimpulan......................................................................................57 5.2. Saran ...............................................................................................59 5.3. Keterbatasan ....................................................................................60 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................61 LAMPIRAN xii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Ringkasan Perbedaan Prinsip yang Melandasi Akuntansi Syari’ ah dan Konvensional ...............................................................................23 Tabel 2.2 Analisis Tipe Kesalahan ......................................................................28 Tabel 4.1 Nilai Buku Persediaan dengan Mark Up ..............................................51 Tabel 4.2 Perhitungan Harga Jual Persediaan ......................................................53 Tabel 4.3 Data Harga Emas Bulan Desember 2005 Berdasarkan Harga Konsumen................................................................................55 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Skripsi.................................................................34 Gambar 4.1 Bagan Organisasi CV Adi Komunika Enterprise..................................46 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam era dimana pertanggungjawaban merupakan titik perhatian dalam masyarakat, kegunaan akuntansi akan semakin dirasakan. Fungsi akuntansi menjadi semakin penting, karena tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak yang berkepentingan. Informasi ekonomi yang dihasilkan akuntansi berbentuk laporan keuangan, dimana laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu organisasi bisnis yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi, karena secara umum hanya menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan. Sementara itu informasi yang dibutuhkan oleh pemakai laporan keuangan sangat beragam, dan hingga kini selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan pemakai laporan keuangan. Hal ini dimungkinkan terjadi karena orientasi organisasi bisnis yang cukup berkembang, dimana pada awal perkembangannya, organisasi bisnis 2 hanya mementingkan keuntungannya sendiri (profit-oriented), sehingga sebuah organisasi bisnis akan melakukan apapun untuk mencapai tingkat keuntungan yang dapat dicapainya. Setelah itu berkembanglah orientasi organisasi bisnis yang lain, hal tersebut disebabkan dengan adanya tuntutan akan etika bisnis yang lebih baik. Sehingga organisasi tidak hanya menilai prestasinya dengan mengukur tingkat nominal laba yang dicapai, tapi lebih dari itu yakni dengan menilai hubungan organisasi bisnis dengan pihak-pihak yang terkait (stakeholder) seperti pelanggan, pemasok, investor, dan pihak yang lain. Organisasi bisnis seperti ini berarti telah memiliki orientasi yang mementingkan hubungan dengan pihak-pihak yang terkait dengan lebih baik (stakeholders-oriented). Selain dua orientasi organisasi bisnis di atas, berkembang pula orientasi yang lain, terutama bagi masyarakat Islam, dimana dalam menjalankan organisasi bisnis, Islam mengharuskan untuk menjalankan syariah sebagai pedoman yang digunakan untuk berperilaku dalam segala aspek kehidupan. Sehingga dalam menjalankan organisasi bisnis selalu menggunakan metafora “amanah” yang bisa diturunkan menjadi metafora zakat, atau realitas organisasi yang dimetaforakan dengan zakat. Ini berarti bahwa organisasi bisnis orientasinya tidak lagi profit-oriented atau stakeholders-oriented, tetapi zakat-oriented (Muhammad : 2000). Persoalannya sekarang adalah bagaimana kaitan antara zakat dengan akuntansi. Tidak lain adalah kita seharusnya dapat menggunakan informasi yang dihasilkan oleh akuntansi untuk keperluan zakat. Dimana diharapkan 3 informasi akuntansi berguna dalam penghitungan zakat yang benar. Untuk itu diperlukan adanya penyesuaian pengukuran dan pengakuan sejumlah rekeningrekening pada laporan keuangan, karena tidak semua metode akuntansi yang biasa dipakai sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Meskipun banyak pembahasan tentang aturan syariah dalam menjalankan organisasi bisnis, tetapi kebanyakan masih dalam tatanan etika perusahaan secara global, sedikit sekali yang membahasnya dalam tingkatan praktik. Terutama dalam pembahasan akuntansi syariah, sedikit sekali yang membahas tentang praktik akuntansi syariah pada perusahaan secara umum, karena perkembangan praktik akuntansi syariah sementara ini masih tertuju pada perbankan syariah saja, sedikit sekali yang menyentuh praktik pada organisasi bisnis yang lain. Maka dari itu penulis mengambil judul “METODE PENGUKURAN DAN PENGAKUAN REKENING-REKENING LAPORAN KEUANGAN UNTUK PENGHITUNGAN ZAKAT MAL PERUSAHAAN; STUDI KASUS CV. ADI KOMUNIKA ENTERPRISE”. 1.2. Ruang Lingkup Masalah Agar penelitian yang dilakukan tidak terlalu melebar maka perlu pembatasan masalah yang difokuskan pada penerapan teori pengukuran dan pengakuan rekening-rekening laporan keuangan perusahan untuk penghitungan zakat. Pada penelitian ini akan mengambil kasus pada laporan keuangan CV Adi Komunika Enterprise, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan perdagangan, yang selanjutnya akan dilakukan penyesuaian 4 metode pengukuran dan pengakuan atas rekening laporan keuangannya guna penghitungan zakat mal perusahaan tersebut. 1.3. Perumusan Masalah Masalah yang akan diteliti adalah: 1.3.1. Bagaimanakah metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangan yang digunakan CV Adi Komunika Enterprise dalam laporan keuangannya? 1.3.2. Bagaimanakah metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangan CV Adi Komunika Enterprise untuk tujuan penghitungan zakat mal? 1.3.3. Bagaimanakah metode penghitungan zakat mal pada CV Adi Komunika Enterprise? 1.4. Tujuan Penelitian Dari perumusan masalah yang ada maka tujuan penelitian ini adalah: 1.4.1. Untuk mengetahui metode pengukuran dan pengakuan rekeningrekening laporan keuangan CV Adi Komunika Enterprise. 1.4.2. Untuk menerapkan metode pengukuran dan pengakuan rekeningrekening laporan keuangan yang sesuai syariah, guna penghitungan zakat mal CV Adi Komunika Enterprise. 1.4.3. Untuk menghitung zakat mal CV Adi Komunika Enterprise. 5 1.5. Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk pengembangan penerapan teori akuntansi syariah yang ada pada tatanan praktik perusahaan non perbankan, khususnya perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan dagang, sehingga mempermudah pemahaman akan teori akuntansi syariah yang berlaku. Penelitian ini juga berguna untuk mempermudah pemilik CV Adi Komunika Enterprise dalam menghitung zakat mal perusahaannya dengan hanya menggunakan laporan keuangan yang sudah tersedia lalu menyesuaikan metode pengukuran dan pengakuan beberapa rekening yang memang diperlukan sesuai dengan syariah. Penelitian ini diharapkan juga dapat menyumbangkan metode praktik yang dapat digunakan dalam perusahaan yang sejenis dengan perusahaan yang diteliti guna penghitungan zakat mal. 1.6. Sistematika Penulisan Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyusunnya sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN Pada bagian ini berisi beberapa sub bab yang membahas tentang latar belakang, ruang lingkup masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian ini dilakukan. 6 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Pada bagian ini penulis melandaskan teori untuk penelitiannya dengan terlebih dahulu membahas zakat, mulai dari; pengertian zakat, harta benda yang wajib dizakati, zakat perdagangan, zakat perusahaan, dan sedikit uraian tentang perbedaan zakat, infak, sedekah, dan pajak. Selanjutnya penulis mulai membahas pijakan teori dari penerapan dalam penelitian ini dengan membahas; tujuan akuntansi syariah, Asumsi dasar laporan keuangan syariah, prinsip akuntansi syariah, karakteristik kualitatif laporan keuangan syariah, dan akhirnya penulis menutupnya dengan pembahasan tentang konsep pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan syariah. BAB III : METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini, penulis menjelaskan pendekatan metode penelitian yang digunakan untuk penulisan skripsi, beserta jenis dan sumber data yang dipakai serta metode pengumpulannya. Setelah itu penulis menjelaskan metode analisis yang digunakannya dalam penelitian ini. BAB IV : PEMBAHASAN Dalam bab ini, penulis akan mulai membahas penelitiannya dari pengungkapan profil perusahaan, deskripsi metode pengukuran dan 7 pengakuan elemen laporan keuangan perusahaan, dan penerapan metode pengukuran dan pengakuan elemen laporan keuangan yang sesuai syariah untuk penghitungan zakat mal. BAB V : PENUTUP Disini akhirnya penulis membuat kesimpulan atas hasil penelitiannya dan memberikan saran berdasarkan hasil penelitiannya. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Zakat Pengertian zakat menurut Hafidhuddin (2002), ditinjau dari segi bahasa, kata zakat mempunyai beberapa arti, yaitu al-barakatu ‘keberkahan’ , annamaa ‘ pertumbuhan dan perkembangan’ , ath-thaharatu ‘ kesucian’ , dan ashshalahu ‘ kebersihan’. Sedangkan secara istilah, meskipun para ulama mengemukakannya dengan redaksi yang agak berbeda antara satu dengan yang lainnya, akan tetapi pada prinsipnya sama, yaitu bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu pula. Zakat adalah suatu rukun yang bercorak sosial-ekonomi dari lima rukun Islam. Dengan zakat, disamping ikrar tauhid (syahadat) dan shalat, seorang barulah sah masuk ke dalam barisan umat Islam dan diakui keislamannya, sesuai dengan firman Allah: 􀂳Tetapi bila mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan membayar zakat, barulah mereka saudara kalian seagama􀂴 (Qur􀂶 an, 9 : 11) Menurut Qardawi (1999), sekalipun zakat dibahas di dalam pokok bahasan “Ibadat”, karena dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari shalat, sesungguhnya merupakan bagian sistem sosial ekonomi Islam. 9 2.2. Persyaratan Harta Benda yang Wajib Dizakati Menurut Hafidhuddin (2003), harta obyek zakat dikemukakan dalam Al- Qur’ an bersifat terinci (tafsil), juga bersifat global (ijmali). Yang bersifat terinci seperti emas dan perak (at-Taubah: 34-35), hasil pertanian (al-An’aam: 141), perdagangan (al-hadits), peternakan (al-hadits), rikas (al-hadits). Sedangkan yang bersifat global adalah semua harta yang didapatkan dengan cara yang baik dan halal (at-Taubah: 103 dan al-Baqarah: 267 dan beberapa hadits Nabi), yang telah memenuhi persyaratan sebagai obyek zakat. Secara umum dan global Al-Qur’ an menyatakan bahwa zakat itu diambil dari setiap harta yang kita miliki, seperti dikemukakan dalam surat at-Taubah: 103 dan juga diambil dari setiap hasil usaha yang baik dan halal, seperti juga digambarkan dalam surat al-Baqarah: 267. (Hafidhuddin, 2002) Sejalan dengan ketentuan ajaran Islam yang selalu menetapkan standar umum pada setiap kewajiban yang dibebankan kepada umatnya, maka dalam penetapan harta menjadi objek zakat pun terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Apabila harta seorang muslim tidak memenuhi salah satu ketentuan, maka harta tersebut belum menjadi sumber atau objek yang wajib dikeluarkan zakatnya. (Hafidhuddin: 2002) Qardawi (1999) menguraikan syarat-syarat harta yang wajib dizakati sebagai berikut: 2.2.1. Milik Penuh Pemilikan berarti “menguasai dan dapat dipergunakan” sesuai dengan pengertian yang terdapat di dalam kamus. Di dalam al10 Mu􀂶 jam al-Wasith disebutkan bahwa memiliki sesuatu berarti menguasai dan hanya ia yang dapat menggunakannya. Kesimpulan yang hampir sama pula diberikan oleh Mughniyah (2000) bahwa yang dimaksud dengan pemilikan penuh adalah orang yang mempunyai harta itu menguasai sepenuhnya terhadap harta bendanya, dan dapat mengeluarkannya sekehendaknya. Maka harta yang hilang, tidak wajib dizakati. Begitu juga harta yang dirampas dari pemiliknya, sampai harta itu kembali kepadanya. Alasan dari penetapan syarat ini, seperti yang dikemukakan Hafidhuddin (2002) adalah penetapan kepemilikan yang jelas (misalnya harta kamu atau harta mereka). Misalnya dalam al- Ma’ aarij: 24 – 25 􀂳Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)􀂴 Alasan lain dikemukakan bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah pemberian kepemilikan pada para mustahik dari para muzakki. Adalah suatu hal yang sangat tidak mungkin, apabila seseorang (muzakki) memberikan kepemilikan kepada orang lain (mustahik) sementara dia sendiri (muzakki) bukanlah pemilik yang sebenarnya. 11 Ketentuan-ketentuan lain syarat pemilikan penuh adalah sebagai berikut: 2.2.1.1. Kekayaan yang Tidak Mempunyai Pemilik Tertentu Berdasarkan hal-hal di atas apabila kekayaan tidak mempunyai pemilik maka kekayaan itu tidak wajib dizakati. 2.2.1.2. Tanah Wakaf dan Sejenisnya Demikian pula hukumnya wakaf yang diberikan kepada fakir miskin, mesjid, pejuang, anak yatim, sekolah, dan sebagainya yaitu bahwa zakat atasnya tidaklah wajib. 2.2.1.3. Harta Haram Tidak Wajib Zakat Dipersyaratkannya harta milik sebagai syarat wajib zakat membuat kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak baik dan haram tidak termasuk ke dalam wajib zakat. Begitu pula substansi bendanya, seperti yang dikemukakan oleh Hafidhuddin (2002), hal ini didasarkan pada firman Allah SWT (al-Baqarah: 267) 􀂳Hai orang-orang yang beriman nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.􀂴 2.2.1.4. Zakat Pinjaman Persoalan yang timbul oleh karena adanya ketentuan milik penuh mengenai zakat pinjaman ini, apakah zakatnya wajib 12 atas orang yang meminjamkan berdasarkan bahwa ia adalah pemiliknya yang sebenarnya ataukah atas orang yang meminjam berdasarkan bahwa dialah yang menggunakan dan memperoleh keuntungan dari pinjaman itu. Mayoritas (Jumhur) ahli fikih semenjak masa sahabat sampai kepada seterusnya, berpendapat bahwa pinjaman itu ada dua macam: (a) Pinjaman yang diharapkan kembali, yaitu pinjaman yang jelas dari orang yang berkecukupan. Dalam hal ini zakatnya dimajukan bersama dengan kekayaan yang ada setiap tahun. (b) Pinjaman yang tidak diharapkan kembali lagi, yaitu pinjaman dari orang yang tidak berkecukupan yang tidak akan mungkin membayarnya kembali atau pinjaman dari seseorang yang tidak mengakui hutangnya sedangkan pemilik tidak mempunyai bukti apa pun. Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat. Tetapi pendapat yang dipandang lebih kuat oleh Qardawi (1999) adalah dikarenakan kekayaan seperti ini bukanlah pemilikan penuh dan pemilikan yang tidak penuh bukanlah nikmat sempurna, sedangkan zakat hanya diwajibkan untuk kompensasi nikmat sempurna yang diterima itu. 13 2.2.1.5. Imbalan dan Simpanan Pegawai Dalam kasus seperti itu zakatnya wajib dikeluarkan setiap tahun bila jumlahnya sampai senisab dan memenuhi syaratsyarat lain seperti bebas dari hutang dan sebagainya. 2.2.2. Berkembang Ketentuan tentang kekayaan yang wajib dizakatkan adalah bahwa kekayaan itu berkembang dengan sengaja atau mempunyai potensi untuk berkembang. Menurut ahli-ahli fikih, ‘ berkembang’ (nama􀂶) menurut terminologi berarti “bertambah”. Pengertian ini terbagi menjadi dua, yakni bertambah secara konkrit dan bertambah tidak secara konkrit. Secara konkrit berarti bertambah akibat pembiakan dan perdagangan dan sejenisnya, yang tidak konkrit adalah kekayaan itu berpotensi berkembang baik berada di tangannya maupun di tangan orang lain atas namanya. 2.2.3. Cukup Mencapai Nisab Islam tidak mewajibkan zakat atas seberapa saja besar kekayaan yang berkembang sekalipun kecil sekali, tetapi memberi ketentuan sendiri yaitu sejumlah tertentu yang dalam ilmu fikih disebut nisab. Dengan kata lain nisab ialah jumlah minimal yang menyebabkan harta terkena kewajiban zakat (Hafidhuddin, 2002) 14 2.2.4. Lebih dari Kebutuhan Biasa Di antara ulama-ulama fikih ada yang menambahkan ketentuan nisab kekayaan yang berkembang itu dengan lebihnya kekayaan itu dari kebutuhan biasa pemiliknya, misalnya ulama-ulama Hanafi dalam kebanyakan kitab mereka. Tetapi ada ulama-ulama yang tidak memasukkan ketentuan itu dalam kekayaan yang berkembang. Menurut mereka kebutuhan merupakan persoalan pribadi yang tidak bisa dijadikan patokan. Oleh karena juga kebutuhan manusia sesungguhnya banyak sekali yang tidak terbatas, terutama pada masa kita sekarang yang menganggap barang-barang mewah sebagai kebutuhan dan setiap kebutuhan berarti primer. Oleh karena itu setiap yang diinginkan oleh manusia tidaklah bisa disebut sebagai kebutuhan rutin. Hal terpenting yang dapat kita lihat di sini adalah bahwa kebutuhan rutin manusia itu berubah-rubah dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman, situasi, dan kondisi setempat. Maka dari itu dalam penentuan hal ini, sebaiknya diserahkan kepada penilaian para ahli dan ketetapan yang berwenang. 2.2.5. Bebas dari Hutang Pemilikan sempurna yang dijadikan persyaratan wajib zakat dan harus lebih dari kebutuhan primer di atas haruslah pula cukup senisab yang sudah bebas dari hutang. Bila pemilik mempunyai hutang yang 15 menghabiskan atau mengurangi jumlah senisab itu, zakat tidaklah wajib. Syarat yang tidak diperselisihkan lagi adalah bahwa hutang itu menghabiskan atau mengurangi jumlah senisab, sedangkan yang lain tidak ada lagi untuk mengganti atau untuk mengimbalinya. 2.2.6. Berlalu Setahun Maksud dari berlalu setahun adalah bahwa kepemilikan yang berada di tangan si pemilik sudah berlalu masanya dua belas bulan Qamariah. Jadi tahun yang dipakai sebagai pedoman dalam penghitungan zakat adalah tahun Hijriyah, seperti yang dijelaskan pula oleh Mughniyah (2000). Jadi bila menggunakan tahun Masehi, maka besarnya zakat bukan lagi sebesar 2,5% tetapi sebesar 2,575%. Hal ini sesuai dengan ketetapan The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAO-IFI) 1998, yang dikutip Iwan Triyuwono dan Muhamad As’ udi (2001). Persyaratan setahun ini hanya untuk ternak, uang, dan harta benda dagang, yaitu yang dapat dimasukkan ke dalam istilah “zakat modal”. Tetapi hasil pertanian, buah-buahan, madu, logam mulia, harta karun, dan lain-lain yang sejenis, tidaklah dipersyaratkan satu tahun, dan semuanya itu dapat dimasukkan ke dalam istilah “zakat pendapatan”. 16 2.3. Zakat Perdagangan Berdagang adalah kegiatan bisnis yang dilakukan dengan cara membeli barang dagangan dan kemudian menjualnya lagi untuk mendapatkan keuntungan. Di dalam aturan zakat perdagangan, perdagangan yang dimaksud adalah perdagangan yang disertai dengan maksud untuk memperdagangkan, baik itu niat maupun perbuatan. Seperti yang diungkapkan Qardawi (1999), bahwa yang menjadi patokan dalam niat itu adalah prinsipnya. Bila prinsipnya adalah bila barang itu untuk dipakai dan digunakan sendiri maka keinginan untuk menjual barang itu kembali bila menguntungkan tidaklah mengubah sifat barang itu sebagai barang dagang. Begitu pula sebaliknya, apabila barang itu prinsipnya adalah untuk dijual dan diperdagangkan maka penggunaan pribadi tidak mengubah sifat barang tersebut sebagai barang dagang menjadi barang yang akan dipakai sendiri yang tidak berkembang. Menurut Qardawi (1999), seseorang yang memiliki kekayaan perdagangan dan masanya sudah berlalu setahun (Qomariyah) serta nilainya sudah sampai senisab pada akhir tahun itu maka orang itu wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5 %, dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja. Sedangkan nisabnya, menurut satu nisab emas sebesar 85 gram emas. Meskipun terdapat berbagai pendapat tentang waktu penghitungan nisab, pendapat yang lebih kuat menurut Qardawi (1999) adalah pendapat Syafi’ i, dimana nisab itu diperhitungkan di akhir tahun saja. Jadi apabila nisab sudah 17 cukup pada suatu masa, maka mulai saat itu perhitungan sudah berlaku dan merupakan permulaan tahun perhitungan zakat bagi seorang Muslim. Sedangkan cara pengitungan zakat adalah dengan menghitung jumlah kekayaan: modal (baik kas maupun persediaan barang dagangan), laba, simpanan, dan piutang yang diharapkan kembali, dikurangi hutang , dan bila mencapai senisab dikeluarkan zakatnya 2,5%. Sedangkan barang tak bergerak, seperti bangunan dan perabot yang ada di toko atau sejenisnya, yang tidak diperjual belikan dengan maksud mencari keuntungan, maka hal tersebut tidaklah dihitung sebagai harta yang wajib dizakati. Sifatnya dalam hal seperti itu sama dengan barang untuk penggunaan pribadi. Sedangkan harga barang yang dipakai sebagai alat ukur persediaan, menurut pendapat Jumhur, yaitu barang pada saat jatuh tempo dinilai berdasarkan harga pasar waktu itu. Sedangkan bentuk zakat yang dikeluarkan, menurut Yusuf Qardawi dalam Hukum Zakat, pendapat yang lebih kuat adalah fatwa yang mengatakan bahwa zakat harus dikeluarkan berupa uang bukan barang, oleh karena nisab barang dagang dihitung berdasarkan harganya. 2.4. Zakat Perusahaan Landasan hukum kewajiban zakat pada perusahaan adalah nash-nash yang bersifat umum. Perusahaan yang dikaitkan dengan kewajiban zakat haruslah dengan produk yang halal dan dimiliki oleh orang-orang yang 18 beragama Islam, atau jika pemiliknya bermacam-macam agamanya, maka berdasarkan kepemilikan saham dari yang beragama Islam (Hafidhuddin, 2002). Landasan hukum zakat perusahaan dapat ditelaah pada surat al-Baqarah; 267 dan at-Taubah: 103 yang memang bersifat umum, juga merujuk kepada sebuah hadits riwayat Imam Bukhari (hadits ke-1448 dan dikemukakan kembali dalam hadits ke-1450 dan 1451) dari Muhammad bin Abdillah al- Anshari dari bapaknya, ia berkata bahwa Abu Bakar r.a telah menulis sebuah surat yang berisikan kewajiban yang diperintahkan oleh Rosulullah saw. 􀂳... Dan janganlah disatukan (dikumpulkan) harta yang mula-mula terpisah. Sebaliknya jangan pula dipisahkan harta yang pada mulanya bersatu, karena takut mengeluarkan zakat.􀂴 􀂳... Dan harta yang disatukan dari dua orang yang berkongsi, maka dikembalikan kepada keduanya secara sama􀂴. Meskipun awalnya hadits tersebut ditujukan dalam perkongsian hewan ternak, dalam perkembangannya Jumhur ulama mempergunakannya dengan meng-qiyas (analogi) kepada bentuk syirkah yaitu perkongsian serta kerja sama usaha. (Hafidhuddin, 2002). Berdasarkan hal tersebut maka keberadaan perusahaan sebagai wadah usaha menjadi badan hukum menurut Muktamar Internasional pertama tentang Zakat di Kuwait (29 Rajab 1404 H) menyatakan bahwa kewajiban zakat sangat terkait dengan perusahaan, dengan catatan antara lain adanya kesepakatan sebelumnya antara para pemegang saham, agar terjadi keridhaan. Dalam kaitan dengan kewajiban zakat perusahaan ini, dalam Undang- Undang No 38 Tahun 1999, tentang Pengelolaan Zakat, Bab IV pasal 11 ayat 19 (2) bagian (b) dikemukakan bahwa di antara objek zakat yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah perdagangan dan perusahaan. Zakat perusahaan tersebut dianalogikan pula dengan zakat perdagangan dalam penghitungannya, karena pada prinsipnya perusahaan intinya berpijak pada kegiatan trading atau perdagangan. Pola penghitungan zakatnya didasarkan pada laporan keuangan (neraca) dengan mengurangkan kewajiban atas aktiva lancar. (Hafidhuddin, 2002) 2.5. Perbedaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Pajak Menurut Hafidhuddin (2003) perbedaan infak dan sedekah terhadap zakat ialah tidak ada nishab yang ditentukan, tidak ada persentase, dan penerimanya tidak terbatas. Dipergunakannya kata tersebut (infak dan sedekah) dalam beberapa ayat Al-Qur’ an dengan maksud zakat, dikarenakan memiliki kaitan yang sangat kuat dengan zakat. Zakat disebut infak (at-Taubah : 34) karena hakikatnya zakat itu adalah penyerahan harta untuk kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah SWT. Disebut sedekah (at-Taubah : 60 dan 130) karena memang salah satu tujuan utama zakat adalah untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. (Hafidhuddin, 2002) Zakat bukanlah pajak yang untuk menjamin penerimaan negara. Sebab, distribusi hasil pengumpulan zakat harta ditujukan kepada delapan kelompok yang telah ditentukan. Zakat merupakan sarana untuk menyucikan harta 20 seseorang sebagaimana disebut dalam surat at-Taubah (103). Jadi zakat tidak sama dengan pajak, zakat memiliki unsur spiritual. (Muhammad, 2000) Qardawi (1999) menyebutkan bahwa meskipun zakat dan pajak samasama merupakan kewajiban dalam bidang harta, namun keduanya mempunyai falsafah yang khusus, dan keduanya berbeda sifat dan asasnya, berbeda sumbernya, sasaran, bagian serta kadarnya, disamping berbeda pula mengenai prisip, tujuan dan jaminannya. 2.6. Tujuan Akuntansi Syariah Menurut Adnan (2005), tujuan akuntansi dapat dibuat dalam dua tingkatan. Yang pertama adalah tingkatan ideal, dan yang kedua adalah tingkatan praktis. Pada tingkatan ideal maka semestinya yang menjadi tujuan ideal laporan keuangan adalah pertanggungjawaban muammalah kepada Sang Pemilik yang hakiki, Allah SWT. Dimana hal tersebut ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi sunnah dan syariah-Nya. Dengan kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi sebagai media penghitungan zakat karena merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seorang hamba atas perintah Sang Empunya. Sedangkan pada tataran pragmatis barulah diarahkan kepada upaya untuk menyediakan informasi kepada stakeholder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. Menurut Syahatah, seperti yang dikutip oleh Kusmawati (2005), selain memiliki tujuan utamanya yakni media penghitungan zakat, tujuan akuntansi syariah dapat didampingi oleh tujuan-tujuan praktis yang tentu saja tidak bertentangan dengan syari’ ah, diantaranya: memelihara harta; membantu 21 dalam pengambilan keputusan; menentukan dan menghitung hak-hak mitra berserikat; menentukan imbalan, balasan, atau sanksi. 2.7. Asumsi Dasar Laporan Keuangan Syariah Menurut Adnan (2005), dibandingkan dengan asumsi dasar yang dipakai oleh Kerangka dasar penyusunan Laporan Keuangan dengan menganut kepada apa yang dipakai oleh International Accounting Standards Committee (IASC), maka kerangka dasar akuntansi konvensional secara eksplisit memakai dua asumsi dasar, yakni dasar Akrual (Accrual basis) dan kelangsungan usaha (going concern). Sedangkan asumsi dasar yang dipakai dalam kerangka dasar versi The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAO-IFI) terdiri dari empat hal seperti yang dijelaskan Kusmawati (2005) dengan mengutip pendapat Rosjidi (1999) yang menjelaskan keempat konsep tersebut sebagai berikut: 2.7.1. Entitas Bisnis (The accounting unit concept) Perusahaan dianggap sebagai entitas ekonomi dan hukum terpisah dari pihak-pihak yang berkepentingan atau para pemiliknya secara pribadi. 2.7.2. Kesinambungan (The going concern concept) Berdasarkan konsep ini, suatu entitas dianggap akan berjalan terus, apabila tidak terdapat bukti sebaliknya. Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata; berusahalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan berusahalah untuk akhiratmu seolah-olah 22 kamu akan mati esok hari. Tentu saja pengaplikasiannya ditujukan untuk menghitung zakat. 2.7.3. Periode Akuntansi (The periodicity concept) Dalam Islam, ada hubungan erat antara kewajiban membayar zakat dengan periode akuntansi. Karena itu periode ini cukup penting sebagai asumsi dasar laporan keuangan. 2.7.4. Stabilitas Daya Beli Unit Moneter (The stability of the purchasing power of the monetary unit) Mempertimbangkan bahwa uang yang biasa dipahami dalam akuntansi konvensional rentan terhadap ketidakstabilan, maka satuan moneter yang memenuhi syarat postulat ini adalah mata uang emas dan perak. Tetapi hal ini tidak dapat dipenuhi dikarenakan sangat sulit sekali menerapkan mata uang tersebut. Paling tidak sampai sekarang penghitungan nisab zakat tetap menggunakan ukuran nisab emas (terutama bagi yang dianalogikan dengannya, bukan untuk objek zakat yang telah ditentukan nisabnya). 2.8. Prinsip Akuntansi Syariah Prinsip yang melandasi Akuntansi Syariah tentu berbeda dengan Akuntansi Konvensional dikarenakan tujuan akuntansi yang berbeda. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, perbedaan ini menyebabkan adanya perbedaan prinsip yang melandasi Akuntansi Syariah dan Konvensional seperti yang digambarkan Adnan (2005) sebagai berikut: 23 Tabel 2.1 Ringkasan Perbedaan Prinsip yang Melandasi Akuntansi Syari’ ah dan Konvensional Akuntansi Konvensional Akuntansi Syari’ ah Postulat Entitas Pemisahan antara bisnis dan pemilik Entitas didasarkan pada bagi hasil Postulat Going Concern Kelangsungan bisnis secara terus menerus, yaitu didasarkan pada realisasi keberadaan aset Kelangsungan usaha tergantung pada persetujuan kontrak antara kelompok yang terlibat dalam aktivitas bagi hasil Postulat Periode Akuntansi Tidak dapat menunggu sampai akhir kehidupan perusahaan dengan mengukur keberhasilan aktivitas perusahaan Setiap tahun dikenai zakat, kecuali untuk produk pertanian yang dihitung setiap panen Postulat Unit Pengukuran Nilai Uang Kuantitas nilai pasar digunakan untuk menentukan zakat binatang, hasil pertanian dan emas Prinsip Penyingkapan Penuh Bertujuan untuk mengambil keputusan Menunjukkan pemenuhan hak dan kewajiban kepada Allah, masyarakat dan individu Prinsip Obyektivitas Reliabilitas pengukuran digunakan dengan dasar bias personal Berhubungan erat dengan konsep ketaqwaan, yaitu pengeluaran materi maupun non materi untuk memenuhi kewajiban Prinsip Materi Dihubungkan dengan kepentingan relatif mengenai informasi pembuatan keputusan Berhubungan dengan pengukuran dan pemenuhan tugas/ kewajiban kepada Allah, masyarakat dan individu Prinsip Konsistensi Dicatat dan dilaporkan menurut pola GAAP Dicatat dan dilaporkan secara konsisten sesuai dengan prinsip yang dijabarkan oleh syari’ ah Prinsip Konservatisme Pemilihan teknik akuntansi yang sedikit pengaruhnya terhadap pemilik Pemilihan teknik akuntansi dengan memperhatikan dampak baiknya terhadap masyarakat Sumber: M. Akhyar Adnan, Akuntansi Syariah (Arah, Prospek dan Tantangannya), (Yogyakarta: UII press, 2005) hal. 73 24 2.9. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Syariah Menurut Adnan (2005), karakteristik kualitatif akuntansi syariah dengan akuntansi konfensional, tampak ada kesamaan yang sangat menonjol. Kalaupun ada perbedaan maka ini lebih kepada penekanan dan urutan proritas belaka. Berikut ini Kusmawati (2005) menjelaskan masing-masing karakter: 2.9.1. Dapat dipahami (understandabilily) artinya dapat membantu atau memberi kesempatan kepada para pemakai informasi untuk memahami maknanya; 2.9.2. Tepat waktu (timeliness) artinya kualitas informasi yang siap digunakan oleh para pemakainya, sebelum kehilangan makna dan kapasitasnya; 2.9.3. Keandalan (realiability) artinya kualitas informasi yang menjamin bahwa informasinya bebas dari kesalahan dan penyimpangan (error dan bias) serta telah dinilai dan disajikan secara layak sesuai dengan tujuannya; 2.9.4. Penyajian yang jujur (representation faithfulness) artinya kesesuaian antara pengukuran akuntansi dengan fenomenanya, yang menentukan bahwa pokok persoalannya harus terwakili untuk menjamin keabsahan dan kebenaran informasinya; 2.9.5. Daya banding (comparability) artinya kualitas informasi yang bermanfaat bagi para pemakainya untuk mengidentifikasi informasi yang berbeda atau sejenis antara dua kesatuan entitas ekonomi; 25 2.9.6. Kelengkapan (completeness) artinya informasi yang disajikan termasuk semua informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan laporan keuangan. 2.10. Konsep Pengukuran dan Pengakuan Elemen Laporan Keuangan Syariah 2.10.1. Konsep Pengukuran Secara umum akuntansi dipandang sebagai disiplin pengukuran dan pengkomunikasian. Menurut Stevens, S.S, (1967) dalam Belkaoui (2000), yang dimaksud dengan pengukuran adalah “pelekatan suatu angka kepada objek atau peristiwa menurut aturan tertentu”. Adnan (2005) menyatakan bahwa pengukuran memegang peranan penting dalam kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu waktu tertentu. Belkaoui (2000) mengemukakan empat atribut yang diukur dan dua unit ukuran yang digunakan. Empat atribut dari semua kelompok aset dan hutang yang mungkin diukur adalah: 1. Kos historis (historical cost) 2. Kos pengganti (replacement cost) 3. Nilai buku yang dapat direalisasikan. 4. Kapitalisasi atau nilai tunai atas aliran kas harapan. Dua unit ukuran (unit of measure) yang mungkin digunakan adalah: 1. Unit uang 2. Unit daya beli umum 26 Perbedaan penentuan atribut dan unit pengukuran inilah yang menjadi penyebab timbulnya perbedaan konsep penilaian dan pengukuran. Kombinasi empat atribut tersebut dan dua unit ukurannya menghasilkan delapan alternatif penilaian aset dan model penentuan laba. Setiap alternatif tersebut menghasilkan laporan keuangan yang berbeda, yang memberi makna dan relevansi berbeda bagi pemakainya. Belkaoui mengevaluasi alternatif ini dengan menggunakan contoh sederhana untuk mempertinggi kejelasan konseptual dan komparabilitas di antara berbagai pendekatan. Evaluasi tersebut menyoroti sifat perbedaan dan dasar perbandingan hasil berbagai alternatif tersebut. Belkaoui membandingkan model-model tersebut berdasarkan kriteria: 1. Kesalahan waktu, yakni kriteria untuk menentukan apakah atribut atau elemen-elemen laporan keuangan yang seharusnya diukur dalam akuntansi keuangan dan pelaporan adalah jenis atribut yang terhindar dari kesalahan waktu (timing errors). Penyebabnnya adalah perubahan dalam nilai yang terjadi dilaporkan pada periode tertentu tetapi dicatat dan dilaporkan pada periode lain. Atribut yang disukai adalah atribut yang mengakui perubahan dalam nilai pada periode yang sama dengan terjadinya perubahan. Secara ideal, laba dapat didistribusikan pada keseluruhan aktivitas bisnis. 27 2. Kesalahan unit pengukuran (measuring unit errors) adalah kriteria untuk menentukan apakah unit ukuran yang seharusnya diterapkan untuk atribut-atribut elemen-elemen laporan keuangan seharusnya adalah jenis unit ukuran yang menghindari kesalahan unit pengukuran. Kesalahan unit pengukuran terjadi ketika laporan keuangan tidak dinyatakan dalam unit daya beli umum. Unit pengukuran yang lebih disukai adalah unit pengukuran yang mengakui perubahan tingkat harga umum dalam laporan keuangan. 3. Kemampuan ditafsirkan (interpretability) untuk mengevaluasi apakah laporan keuangan yang dihasilkan seharusnya dapat dipahami baik dari segi makna maupun penggunaan. Agar model akuntansi dapat diinterpretasikan, model tersebut harus diletakkan dalam laporan “jika maka ...” untuk menyampaikan kepada pemakai pemahaman makna sebagaimana menunjukkan salah satu kegunaannya. Karena ada dua kemungkinan unit ukuran, interpretasi model akuntansi–menurut definisinya–, akan berupa salah satu berikut: a. Jika model akuntansi mengukur berbagai atribut dalam unit uang, maka hasilnya dapat dinyatakan dalam jumlah dolar (number of dollar atau NOD); b. Jika model akuntansi mengukur biaya historis dalam unit daya beli umum, maka hasilnya tetap dinyatakan dalam NOD; 28 c. Jika model akuntansi mengukur nilai sekarang dalam unit daya beli umum, maka hasilnya dinyatakan dalam kemampuan memiliki barang (command of goods atau COG) 4. Relevansi (relevance) model akuntansi. Dengan kata lain, hasil laporan keuangan seharusnya berguna. Dari sudut pandang normatif, COG dianggap sebagai atribut yang paling relevan karena mengekspresikan perubahan tingkat harga umum. Hasil evaluasi Belkaoui (2000) diringkas dalam suatu tabel yang menampilkan enam model alternatif yang dianggap cukup untuk mewakili delapan model yang diinterpretasikan, seperti berikut: Tabel 2.2 Analisis Tipe Kesalahan Kesalahan Waktu Interpretasi Model Akuntansi Laba Operasi Keuntungan Penyimpanan Kesalahan Unit Pengukuran NOD COG Relevansi Akuntansi Kos Historis Ya Ya Ya Ya Tidak Tidak Akuntansi Kos Pengganti Ya Ditiadakan Ya Ya (laporan Income) Ya (figur aktiva) Ya (figur aktiva) Akuntansi nilai buku yang dapat direalisasi Ditiadakan Ditiadakan Ya Ya (laporan Income) Ya (aktiva & hutang moneter) Ya (aktiva & hutang moneter) Akuntansi Kos historis disesuaikan level harga umum Ya Ya Ditiadakan Ya Ya Ya Akuntansi biaya pengganti disesuaikan tingkat harga umum Ya Ditiadakan Ditiadakan Ditiadakan Ya Ya Akuntansi nilai buku yang dapat direalisasi disesuaikan level harga umum Ditiadakan Ditiadakan Ditiadakan Ditiadakan Ya Ya Sumber: Ahmed R. Belkaoui, Teori Akuntansi (Accounting Theory) jilid 2, alih bahasa Marwata dkk., (Jakarta: Salemba Empat, 2001) hal. 198 29 Ringkasan di atas menunjukkan bahwa model akuntansi nilai buku yang dapat direalisasikan disesuaikan tingkat harga umum adalah model pengukuran yang memenuhi semua kriteria. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dalam melakukan penilaian harta untuk penghitungan zakat, akuntansi syariah mengakui penggunaan nilai pada saat penghitungan zakat (current value). Sementara itu menurut Belkaoui (2000), harga sekarang (current value) memiliki beberapa interpretasi, yakni: nilai kapitalisasi atau nilai tunai (present value); harga beli sekarang (current entry price); harga jual sekarang (current exit price); dan kombinasi nilai. Sedangkan seperti yang telah dikemukakan di muka, guna penghitungan zakat mal, harga barang yang dipakai sebagai alat ukur persediaan, menurut pendapat Jumhur, yaitu barang pada saat tempo jatuh dinilai berdasarkan harga pasar waktu itu. Qardawi (1999) dan Kusmawati (2005) menjelaskan bahwa yang digunakan dalam penghitungan zakat adalah harga jual sekarang. Hal ini menurut Qardawi (1999) dikarenakan zakat dikenakan tidak hanya pada modalnya saja, tetapi juga pertumbuhannya. Sehingga dalam pengukuran persediaan, bukan diukur atas harga belinya (modal) saja, tetapi harga jualnya (modal ditambah pertumbuhan). 30 2.10.2. Konsep Pengakuan Konsep pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar dalam pelaporan keuangan. Karena pengakuan merujuk kepada prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expenses), laba (gain) dan rugi (loss). Pada gilirannya konsep pengakuan akan banyak berperan dalam menentukan aktiva dan pasiva, serta laba rugi operasi perusahaan. Dalam konteks ini, ada kesan bahwa pada dasarnya The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) memakai konsep akrual sebagai dasar pengakuan untuk semua bentuk transaksi. Meskipun dalam prakteknya ada sejumlah penyimpangan. Seperti pemakaian dasar kas (cash basis) dalam pengakuan revenue dan income praktik beberapa bank syariah dengan alasan konservatisme. Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 5 seperti yang diungkapkan Anis Chariri dan Imam Ghozali (2003) menyebutkan bahwa kriteria pengakuan yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan didasarkan pada empat faktor sebagai berikut: 1. Definisi: Pos akan diakui apabila memenuhi definisi elemen laporan keuangan 2. Keterukuran: Pos tersebut memiliki atribut yang dapat diukur dengan cukup handal 31 3. Relevan: Informasi memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan dalam pengambilan keputusan 4. Keandalan: Informasi menggambarkan keadaan sebenarnya secara wajar, dapat diuji kebenarannya dan netral. Menurut Anis Chariri dan Imam Ghozali (2003), pengakuan merupakan proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi elemen laporan keuangan serta kriteria pengakuan. Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah rupiah tertentu dan mencantumkannya dalam neraca atau laporan rugi laba. Kriteria pengakuan yang dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dapat dipandang lebih sederhana dari Financial Accounting Standards Board (FASB). Dimana kriteria pengakuan elemen laporan keuangan adalah (paragrap 83): 1. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan; dan 2. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal Dalam penghitungan zakat mal perusahaan, rekening laporan keuangan yang terlibat meliputi harta dan kewajiban. Berikut ini penjelasan pengakuan kedua rekening tersebut menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI): 32 2.10.2.1.Pengakuan Aktiva Aktiva diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aktiva tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Oleh karena itu aktiva didefinisikan sebagai sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Dalam penghitungan zakat, aktiva yang diperhitungkan hanyalah aktiva lancar. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sendiri mengakui bahwa klasifikasi lancar dan tak lancar di dalam praktek lebih berdasarkan pada konvensi dan bukan pada suatu konsep tertentu. (Paragraf 6, PSAK No 9) Aktiva lancar adalah aktiva yang dapat direalisasikan dalam satu tahun atau dalam siklus normal perusahaan, mana yang lebih lama, antara lain meliputi: (a) Kas dan bank. (b) Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan. (c) Deposito jangka pendek. (d) Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun 33 (e) Piutang usaha (f) Piutang lain-lain yang diharapkan akan direalisasikan dalam waktu satu tahun. (g) Persediaan (h) Pembayaran uang muka pembelian akiva lancar (i) Pembayaran pajak di muka (j) Biaya dibayar dimuka yang akan menjadi beban dalam waktu satu tahun sejak tanggal neraca. 2.10.2.2.Pengakuan Kewajiban Kewajiban diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal. Oleh karena itu kewajiban didefinisikan sebagai hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. 2.11. Kerangka Pemikiran Untuk menghitung zakat mal perusahaan, penulis menggunakan informasi laporan keuangan perusahaan yaitu neraca sebagai dasar 34 penghitungannya. Dalam penghitungan zakat mal, penulis menetapkan rekening-rekening yang berhubungan dengan penghitungan zakat mal berdasarkan ketentuan yang berlaku. Setelah itu dilakukan penyesuaian metode pengukuran dan pengakuan atas rekening-rekening yang diperhitungkan dalam zakat. Dan yang terakhir penulis mengkalkulasi zakat mal perusahaan tersebut. Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dijelaskan di atas, maka dalam penyusunan skripsi ini penulis dapat menggambarkannya seperti pada bagan berikut ini: Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Skripsi Laporan Keuangan Neraca Penentuan rekening untuk penghitungan zakat mal perusahaan Metode pengukuran dan pengakuan rekening sesuai syariah Penghitungan zakat mal perusahaan 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Metode Penelitian Pendekatan penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode Terapan atau Pengembangan. Menurut Umar (1997) penelitian jenis ini adalah melakukan penerapan teori dalam rangka memecahkan suatu masalah dan melakukan pengujian teori untuk menilai kegunaan teori itu sendiri. Menurut Nur Indriantoro dan Bambang Supomo (2002), penelitian terapan (Applied Research) merupakan tipe penelitian yang menekankan pada pemecahan masalah-masalah praktis. Penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan spesifik dalam rangka penentuan kebijakan, tindakan atau kinerja. Temuan penelitian ini umumnya berupa informasi yang diperlukan untuk pembuatan keputusan dalam memecahkan masalah-masalah pragmatis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan tersebut dengan tujuan untuk mengembangkan ketrampilan atau pendekatan baru dalam hal ini penggunaan metode pengukuran dan pengakuan rekening-rekening laporan keuangan sesuai aturan syariah untuk penghitungan zakat. Pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini karena tujuannya melakukan penyelidikan secara mendalam mengenai subyek tertentu. (Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002) 36 3.2 Jenis dan Sumber Data 3.2.1. Jenis data Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). 3.2.2. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari 2 macam 3.2.2.1. Internal Data internal merupakan data yang didapat dalam perusahaan dimana penelitian dilakukan, yaitu laporan keuangan neraca, daftar harga barang, dan data umum mengenai perusahaan. 3.2.2.2. Eksternal Data eksternal merupakan sumber data yang diciptakan di luar perusahaan. Penulis menggunakan data harga emas yang diperoleh dari BPS Jepara sebagai harga dasar penghitungan nisab zakat mal perusahaan. 3.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan cara: 3.3.1. Studi Pustaka Pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku kepustakaan, dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek yang diteliti sebagai dasar teori penerapan akuntansi syariah dalam penelitian ini. 37 3.3.2. Dokumentasi Dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi peneliti menyelidiki dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan dan dokumendokumen pendukung lainnya. 3.4 Metode Analisis Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.4.1. Analisis Kualitatif Analisis kualitatif adalah analisis yang tidak memerlukan pengujian secara matematik statistik, tetapi hanya dianalisis berdasarkan pendapat peneliti. Peneliti menguraikan data dengan cara memberikan pengertian, penjelasan dan penaksiran pada data yang dianalisis. Analisis ini akan digunakan dalam penentuan pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangan untuk penghitungan zakat mal dan penentuan rekening yang dimasukkan dalam penghitungan zakat mal perusahaan. Analisis kualitatif juga meliputi penetapan tanggal waku pembayaran zakat, penetapan harta dan kewajiban yang masuk dalam penghitungan zakat, penetapan nisab sebesar 85 gram emas, serta kadar prosentase zakat yang dibebankan. 38 3.4.2. Analisis Kuantitatif Analisis kuantitatif adalah analisis secara matematik yang dilakukan terhadap data yang telah diperoleh. Analisis kuantitatif dalam penelitian ini adalah penghitungan zakat mal dengan langkahlangkah sebagai berikut: a. Menghitung wi􀂶a zakat (tempat zakat) dengan mengurangi harta wajib zakat (aktiva lancar) dengan kewajiban. TZ = AL – U Ket: TZ = Tempat Zakat AL = Aktiva Lancar U = Utang b. Menghitung nisab zakat. Nisab harta perdagangan senilai 85 gram emas untuk zakat perdagangan/ perusahaan. Lalu membandingkan tempat zakat dengan nisab zakat. Bila tempat zakat telah mencapai nisab maka wajib dizakati NZ = 85 x harga emas per gram Ket: NZ = Nisab Zakat c. Menghitung jumlah zakat dengan mengalikan prosentase dengan tempat zakat. Prosentase zakat sebesar 2,5% bila menggunakan tahun Hijriyah dan 2,575% untuk penghitungan zakat yang menggunakan tahun Masehi sebagai dasarnya. Tentu saja dalam penelitian ini menggunakan tahun masehi karena menggunakan 39 Laporan Keuangan yang memiliki periode akuntansi 1 (satu) tahun masehi. JZ = TZ x 2,575% Ket: JZ = Jumlah Zakat TZ = Tempat Zakat 40 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian 4.1.1 Sejarah dan Perkembangan Obyek dari penelitian ini adalah CV Adi Komunika Enterprise. Perusahaan ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa telekomunikasi. Perusahaan ini didirikan oleh Bapak Ir. Adi Sucipto Musa pada tahun 1992 berkedudukan di Rt 08 Rw 03 Ujungbatu Jepara. Pada 16 September 1993 perusahaan ini membuka usaha di bidang telekomunikasi, tepatnya perusahaan ini mendirikan wartel sebagai bentuk usaha awalnya. Wartel yang dioperasikan memiliki nama Eldiana. Pada awal pendirian perusahaan ini, wartel yang dioperasikan berada di Senenan, tepatnya di antara Kalingga Jati dan Istana Perabot pada Jalan Raya Jepara Senenan km 3,5. Pada 24 Februari 1997 CV Adi Komunika Enterprise membuka cabang usahanya di Jepara Kota, tepatnya di Jl Veteran No 24. Pemilihan tempat ini tidak lain karena dipandang sangat strategis karena bisa dikatakan bahwa tempat ini merupakan wilayah pusat kegiatan ekonomi di Jepara. Bahkan dalam perkembangannya tempat inilah yang menjadi pusat kegiatan perusahaan sampai sekarang. 41 Perkembangan usaha di bidang telekomunikasi yang semakin menjanjikan mendorong pemilik perusahaan untuk melebarkan usahanya lagi. Pada 18 Februari 2005 Perusahaan ini membuka bidang usaha yang lain, yakni counter HP. Counter HP yang didirikan sejumlah dua unit. Pertama berada di Eldiana Veteran, satu tempat dengan wartel Eldiana, dan yang kedua ditempatkan di SCJ (Shopping Center Jepara). 4.1.2 Lokasi Perusahaan CV Adi Komunika Enterprise berpusat di Jl Veteran No 24 sebelah selatan swalayan SAUDARA Jepara. Unit usaha terdiri dari wartel dan counter HP. Unit usaha wartel terdiri dari dua unit, pertama Eldiana Jepara di Jl Veteran No 24 , dan yang kedua di Senenan jalan raya Jepara Senenan Km 3,5. Sedangkan unit usaha counter HP juga memiliki 2 unit, pertama juga di Jl Veteran No 24, dan yang kedua berada di SCJ (Shopping Center Jepara) tepatnya di lantai satu pintu sebelah selatan SCJ. Lokasi sangatlah penting bagi perusahaan dalam mengadakan aktivitas usaha, karena akan mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam menghadapi persaingan yang menentukan kelangsungan hidup baik sekarang maupun masa datang. Faktor utama penentuan lokasi unit usaha CV Adi Komunika Enterprise adalah letak pasar. Di mana unit usaha milik CV Adi Komunika Enterprise berhubungan dengan adanya kebutuhan 42 masyarakat. Dengan lokasi usaha yang strategis, CV Adi Komunika Enterprise dapat melayani kebutuhan konsumen dengan cepat dan memuaskan. 4.1.3 Bidang Usaha Bidang usaha dari perusahaan ini adalah pelayanan jasa dan perdagangan di bidang telekomunikasi. Hal tersebut diwujudkan dengan usaha jasa telekomunikasi wartel dan counter HP, dimana kedua unit tersebut memiliki produk pelayanan yang dapat memuaskan pelanggan. Wartel yang didirikan tidak semata-mata hanya melayani pelanggan yang ingin berkomunikasi lewat telepon, tetapi wartel Eldiana yang merupakan merk unit usaha CV Adi Komunika Enterprise juga melayani pengiriman fax serta penerimaan fax. Jasa ini sangat membantu para pelanggan Eldiana yang rata—rata merupakan pengusaha mebel dalam menjalankan transaksi mereka, mengingat Jepara merupakan kota industri yang cukup terkenal, salah satunya adalah industri mebel yang telah sejak lama berorientasi ekspor. Selain itu wartel Eldiana dan wartel Senenan juga memanjakan pelangggan dengan menyediakan kebutuhan ringan pelanggan, wartel ini juga menyediakan minuman ringan dan juga rokok sebagai bentuk servis lebih dari wartel Eldiana. Servis Eldiana ini telah mendapat pengakuan dari PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, terbukti dengan 43 didapatkannya penghargaan sebagai wartel dengan performansi terbaik pada tahun 2002. Sedangkan counter HP melayani konsumen dalam memenuhi kebutuhan komunikasi yang memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Counter HP Eldiana menyediakan HP yang ditawarkan untuk konsumen. Selain itu juga menyediakan voucher pulsa, baik fisik maupun non fisik. Counter HP Eldiana juga menyediakan aksesoris HP yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Selain melakukan operasi jual beli, counter HP Eldiana juga menyediakan jasa servis HP serta download kebutuhan HP yang semakin beragam. Lengkapnya produk Eldiana merupakan bukti komitmennya dalam memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhan telekomunikasi yang sekarang ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat. 4.1.4 Struktur Organisasi Kebanyakan organisasi berawal sebagai usaha wiraswasta dengan struktur sederhana yang terdiri atas pemilik atau pemilikpemilik dan para karyawan. Struktur sederhana itu lebih dirumuskan secara negatif dari pada positif. Struktur sederhana itu bukan struktur yang rumit. Yang dimaksud adalah bahwa organisasi itu mempunyai derajat departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, otoritas yang terpusat di tangan satu orang, dan sedikit formalisasi. Organisasi dengan struktur sederhana lazimnya hanya mempunyai dua 44 atau tiga tingkatan vertikal, sebuah pengaturan karyawan secara informal, dan satu orang memegang wewenang mengambil keputusan. Struktur sederhana ini paling luas digunakan oleh perusahaan kecil di mana pemilik dan manajernya merupakan orang yang sama. Kekuatan-kekuatan struktur sederhana itu sudah jelas: cepat, fleksibel, dan murah untuk dipertahankan. Salah satu kelemahan utamanya ialah bahwa sulit membuatnya menjadi sebuah struktur yang efektif selain dalam organisasi-organisasi kecil. Struktur ini semakin lama semakin tidak memadai sewaktu organisasi tumbuh sebab formalisasinya yang rendah serta tingginya sentralisasi cenderung mengakibatkan kelebihan beban informasi di puncak. Struktur organisasi pada CV Adi Komunika Enterprise menggunkan tipe organisasi divisional, dengan pemisahan divisi menurut unit usaha serta wilayah operasinya. Struktur organisasi CV Adi Komunika Enterprise terdiri dari: a. Dewan Komisaris Dewan komisaris merupakan pendiri sekaligus pemilik CV Adi Komunika Enterprise. Memiliki kedudukan tertinggi dalam struktur organisasi tetapi tidak turut mengelola perusahaan. Hanya mengawasi kinerja manajemen perusahaan, dan mengevaluasinya. 45 b. Direktur Direktur merupakan jabatan menejemen tertinggi pada perusahaan, bertanggung jawab atas jalannya usaha CV Adi Komunika Enterprise dengan membawahi beberapa divisi. c. Pimpinan Divisi Pimpinan Divisi adalah pengelola unit usaha perusahaan. Bertanggung jawab sepenuhnya atas jalannya unit usaha yang dipimpinnya. Unit Divisi CV Adi Komunika Enterprise dibedakan atas unit usaha serta wilayah operasinya. Bentuk tanggung jawab Pimpinan Divisi kepada Direktur dilaksanakan secara langsung. d. Karyawan Karyawan merupakan pelaksana kegiatan perusahaan pada level terdepan dalam melayani konsumen. Karyawan CV Adi Komunika Enterprise terdiri dari karyawan penjaga wartel, penjaga counter, serta tenaga servis HP. Struktur organisasi CV Adi Komunika Enterprise memiliki tipe organisasi dengan pemisahan divisional menurut unit usaha dan lokasinya. Struktur organisasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: 46 Gambar 4.1 Bagan Organisasi CV Adi Komunika Enterprise Dewan Komisaris Direktur Pimpinan Divisi Senenan Pimpinan Divisi Veteran Pimpinan Divisi SCJ Karyawan Karyawan Karyawan 47 4.2 Analisis dan Pembahasan 4.2.1 Penentuan Rekening untuk Penghitungan Zakat Di dalam melakukan penerapan penghitungan zakat mal perusahaan dengan menggunakan laporan keuangan, pendekatan neraca digunakan dalam penyusunan skripsi ini. Sehingga dapat dikatakan hanya rekening riil yang akan dipakai dalam penghitungan zakat mal. Hal ini dikarenakan penulis mengikuti pendapat yang lebih kuat diantara beberapa pendapat. Sesuai dengan pengertiannya bahwa zakat itu adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya, untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya, dengan persyaratan tertentu pula. Harta di dalam akuntansi dilaporkan dalam neraca terutama pada sisi aktiva. Persyaratan harta yang wajib dizakati seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya yang meliputi: milik penuh, berkembang, cukup mencapai senisab, lebih dari kebutuhan biasa, bebas dari hutang, dan telah berlalu setahun. Persyaratan-persyaratan tersebut membantu kita dalam menetapkan rekening apa saja yang dapat diperhitungkan dalam zakat mal. Rekening laporan keuangan yang diperhitungkan dalam zakat ini terdiri dari aktiva dan utang. Definisi aktiva sebagai sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh 48 perusahaan memperjelas akan kewajiban zakat atasnya, dimana syarat harta milik penuh telah terpenuhi. Sedangkan syarat berkembang dianalogikan pada aktiva lancar karena aktiva lancar merupakan modal kerja perusahaan yang berpotensi untuk berkembang. Berbeda dengan aktiva tetap yang malah mengalami penyusutan pada umumnya. Pada sisi pasiva, hutang yang menjadi kewajiban perusahaan akan dijadikan sebagai pengurang harta yang dikenakan zakat. Karena hutang bukanlah hak milik perusahaan melainkan kewajiban perusahaan. Setelah mempelajari neraca CV Adi Komunika Enterprise maka dapat kita tentukan rekening apa saja yang akan diperhitungkan dalam zakat yakni meliputi: a. Kas b. Persediaan c. Utang Untuk penghitungan zakat CV Adi Komunika Enterprise maka pembahasan metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangannya akan dikhususkan pada rekening-rekening di atas. 4.2.2 Pengukuran dan Pengakuan Rekening Laporan Keuangan Metode pengukuran dan pengakuan laporan keuangan yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan CV Adi Komunika Enterprise memerlukan penyesuaian untuk pengitungan zakatnya. Hal 49 ini dikarenakan di dalam penghitungan zakat mal, harta yang wajib dizakati memiliki persyaratan tertentu seperti dijelaskan sebelumnya. Sesuai dengan pembahasan pada sub bab sebelumnya, rekening-rekening yang berhubungan dengan penghitungan zakat pada CV Adi Komunika Enterprise secara garis besar terdiri dari tiga golongan utama yakni; Kas, Persediaan, dan Utang. 4.2.2.1 Kas Kas merupakan suatu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi. Kas adalah segala sesuatu yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Diterima pada nilai nominal sewaktu diuangkan merupakan petunjuk untuk menentukan apakah suatu surat berharga dapat dianggap sebagai kas. Kriteria lain untuk dapat dianggap sebagai kas adalah dapat digunankan segera. Artinya, apabila diminta dapat segera dikeluarkan. Sesuai dengan definisinya, di neraca CV Adi Komunika Enterprise, kas disajikan pada nilai nominalnya. Pengukuran kas sesuai dengan nilai nominal kas. Metode pengakuan dan pengukuran ini tidak mengalami perubahan dalam penghitungan zakat mal perusahaan, karena tidak bertentangan dengan aturan syariah. 50 Maka di dalam penghitungan zakat nanti, kas dihitung sebesar nilai nominal yang dilaporkan dalam neraca CV Adi Komunika Enterprise. 4.2.2.2 Persediaan Persediaan barang dagang adalah barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali. Persediaan barang dagang pada umumnya dinilai pada harga perolehannya. Dalam hal tertentu persediaan dapat dinilai pada harga terendah antara harga perolehan dan harga pasar atau nilai yang dapat diharapkan dapat direalisasikan. Apabila persediaan dinilai berdasarkan harga terendah antara harga pokok dan harga pasar, maka harga pokok persediaan (yang telah ditetapkan berdasarkan metode FIFO, LIFO, atau rata-rata) dibandingkan dengan harga pasarnya. Harga yang terendah diantara keduanya dipilih untuk penilaian dan digunakan untuk penyajian di laporan keuangan. Setiap persediaan yang dijual pada CV Adi Komunika Enterprise memiliki rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Cara ini dikenal sebagai metode buku (perpetual), di mana setiap perubahan dalam persediaan diikuti dengan mencatat dalam rekening persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo dalam rekening persediaan. 51 Berikut ini tabel nilai persediaan beserta mark up menurut jenis persediaan berdasarkan data CV Adi Komunika Enterprise: Tabel 4.1 Nilai Buku Persediaan dengan Mark Up Jenis Persediaan Nilai Buku/ Harga Beli Mark up Minuman Ringan Rp 382.000 25% Voucher Fisik Rp 4.820.000 5% Voucher Non Fisik Rp 2.680.000 5% Kartu Perdana Rp 320.000 5% Aksesoris HP Rp 1.380.000 25% Hand Phone Rp 6.800.000 5% Jumlah persediaan Rp 16.382.000 Sumber: CV Adi Komunika Enterprise Perlu diperhatikan juga, dalam persediaan CV Adi Komunika Enterprise tidak diakuinya persediaan rokok sebagai milik perusahaan. Hal ini dikarenakan rokok tersebut merupakan barang konsinyasi (titipan). Dalam cara penjualan titipan, barang-barang yang dititipkan untuk dijual haknya masih tetap pada yang menitipkan sampai saat barang-barang tersebut dijual. Sebelum barang-barang tersebut dijual masih tetap menjadi persediaan pihak yang menitipkan. Pihak yang menerima titipan tidak mempunyai hak atas barang-barang tersebut sehingga tidak mencatat barang-barang tersebut sebagai persediaannya. Apabila barang-barang itu sudah dijual maka 52 yang menerima titipan membuat laporan pada yang menitipkan. Dalam hal ini zakat atas barang konsinyasi tidak diwajibkan kepada perusahaan karena syarat milik penuh tidak terpenuhi. Metode pengukuran pada CV Adi Komunika Enterprise menggunakan kos historis sebagai atribut yang diukurnya dalam mengukur nilai persediaannya. Sedangkan untuk penghitungan zakat, nilai pada saat penghitungan zakat (current value) merupakan atribut yang diukur sebagai penilaian aset perusahaan, lebih tepatnya menggunakan harga jual sekarang (current exit price). Alasan pengukuran atribut harga jual sekarang dikarenakan zakat dikenakan tidak hanya pada modalnya saja, tetapi juga pertumbuhannya. Sehingga dalam pengukuran persediaan, bukan diukur atas harga belinya (modal) saja, tetapi harga jualnya (modal ditambah pertumbuhan). Berdasarkan data nilai persediaan beserta mark up yang telah diperoleh, maka kita dapat melakukan pengukuran persediaan dengan atribut harga jual dengan menambahkan harga perolehan dengan mark up yang telah dikalikan dengan harga perolehan tersebut (laba kontribusi) Harga jual = harga perolehan + (mak up x harga perolehan) 53 Tabel 4.2 Perhitungan Harga Jual Persediaan Jenis Persediaan Mark up Nilai Buku/ Harga Beli Nilai Realisasi/ Harga Jual Minuman Ringan 25% Rp 382.000 Rp 477.500 Voucher Fisik 5% Rp 4.820.000 Rp 5.061.000 Voucher Non Fisik 5% Rp 2.680.000 Rp 2.814.000 Kartu Perdana 5% Rp 320.000 Rp 336.000 Aksesoris HP 25% Rp 1.380.000 Rp 1.725.000 Hand Phone 5% Rp 6.800.000 Rp 7.140.000 Rp 16.382.000 Rp 17.553.500 Sumber: data yang telah diolah Jadi berdasarkan perhitungan di atas, di mana persediaan dihitung berdasarkan atribut harga pasar, maka persediaan dinilai sebesar Rp 17.553.500 untuk penghitungan tempat zakat. 4.2.2.3 Utang Utang adalah pengorbanan manfaat ekonomi di masa mendatang yang timbul akibat dari peristiwa masa lalu pada prinsipnya utang akan dicantumkan sebesar nilai tunai dari utang-utang tersebut, tetapi pada umumnya akan dicantumkan dengan jumlah sebesar nilai nominalnya. Penyimpangan ini dilakukan dengan dasar anggapan bahwa selisih antara nilai nominal dengan nilai tunainya relatif kecil. Dasar pengukuran hutang adalah jumlah rupiah sumber ekonomi yang harus dikorbankan apabila pada saat penilaian (pelaporan), hutang dilunasi. Hal ini disebabkan tujuan 54 penyajian hutang biasanya dikaitkan dengan masalah likuidasi. Utang pada neraca CV Adi Komunika Enterprise terdiri atas utang dagang dan utang biaya. Utang dagang timbul dari pembelian barang-barang atau jasa-jasa dan dari pinjaman jangka pendek. Utang biaya merupakan utang yang timbul dari pengakuan akuntansi terhadap biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dibayar. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah utang yang timbul dari gaji dan upah, biaya sewa, dan lain-lain. Metode pengukuran dan pengakuan utang yang ada pada neraca CV Adi Komunika Enterprise tidak bertentangan dengan aturan syariah maka tidak perlu dilakukan penyesuaian guna penghitungan zakat mal perusahaan tersebut. 4.2.3 Penghitungan Zakat Mal Perusahaan 4.2.3.1 Penghitungan Tempat Zakat Tempat zakat terdiri dari aktiva lancar dikurangi dengan utang. Maka tempat zakat dapat dihitung sebagai berikut: TZ = AL – U = (Kas + Persediaan) – Utang = (4.156.850 + 17.553.500) – 1.322.000 = 21.710.350 – 1.322.000 = Rp 20.388.350,- 55 Jadi tempat zakat CV Adi Komunika Enterprise periode 31 Desember 2005 sebesar Rp 20.388.350,- 4.2.3.2 Penghitungan Nisab Zakat Nisab zakat mal perusahaan sebesar 85 gram emas. Harga emas yang digunakan adalah harga konsumen emas pada waktu penghitungan zakat, hal ini sesuai dengan ukuran yang digunakan dalam penghitungan harta perusahaan yang menggunakan harga konsumen juga (harga jual). Tabel 4.3 Data Harga Emas Bulan Desember 2005 Berdasarkan Harga Konsumen Waktu Harga per gram (Rp) Minggu I 135.000 Minggu II 137.500 Minggu III 140.000 Minggu IV 140.000 Sumber BPS Kab Jepara 2006 Berdasarkan data di atas, maka besarnya nisab harta perusahaan dapat dihitung sebagai berikut: NZ = 85 x harga emas per gram = 85 x 140.000 = Rp 11.900.000 Karena tempat zakat yang telah dihitung lebih besar dari nisab zakat yang ada, berarti harta tersebut telah memenuhi persyaratan nisab zakat. Maka harta tersebut wajib dizakati. 56 4.2.3.3 Penghitungan Jumlah Zakat Zakat CV Adi Komunika Enterprise dihitung dengan menggunakan laporan Neraca 31 Desember 2005. Hal ini berarti haul yang digunakan dalam pengitungan zakat adalah tahun masehi, maka besarnya prosentase jumlah zakat sebesar 2,575% dari tempat zakat. Maka besarnya zakat mal CV Adi Komunika Enterprise pada 31 Desember 2005 adalah sebagai berikut: JZ = TZ x 2,575% = Rp 20.388.350,- X 2,575% = Rp 525.000,- Berdasarkan perhitungan tersebut, jumlah zakat mal CV Adi Komunika Enterprise sebesar Rp 525.000,- pada periode 31 Desember 2005 dengan haul satu tahun masehi mulai tanggal 1 Januari 2005. 57 BAB V PENUTUP Berdasarkan dari hasil penelitian dan uraian bab-bab sebelumnya tentang metode pengukuran dan pengakuan rekening-rekening laporan keuangan pada CV Adi Komunika Enterprise maka selanjutnya dapat diambil suatu kesimpulan serta kiranya diberikan saran-saran yang dapat membangun perusahaan sebagai suatu pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan menetapkan kebijakan untuk masa yang akan datang dalam mencapai tujuan perusahaan. 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut: 5.1.1. Akuntansi syariah berbeda dengan akuntansi konvensional karena faktor tujuan. Siapapun yang bertransaksi dengan cara syariah, harus dapat diasumsikan bahwa tujuannya adalah dalam rangka mematuhi perintah-Nya Yang Maha Kuasa. Tentu saja berbeda dengan tujuan yang biasanya ingin dicapai akuntansi konvensional, yang biasanya hanya sarat dengan nilai-nilai keduniawian, tetapi kering dari nilainilai ukhrowi. 5.1.2. Tujuan akuntansi syariah dapat dibuat dalam dua tingkatan. Yakni ideal dan praktis. Secara ideal maka laporan keuangan adalah pertanggung jawaban muammalah kepada Sang Pemilik Yang Hakiki, Allah SWT, dengan mentransformasikan dalam bentuk pengamalan 58 syariah-Nya. Jadi berfungsi sebagai media penghitungan zakat, karena itu adalah manifestasi kepatuhan kepada-Nya. Barulah dengan tujuan pragmatis dengan upaya untuk menyediakan informasi kepada stake holder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. 5.1.3. Aspek pengakuan banyak berperan dalam menentukan elemen laporan keuangan. Sedangkan aspek pengukuran memegang peranan penting dalam kaitannya dengan peran laporan akuntansi yang harus menyajikan data kuantitatif tentang posisi kekayaan perusahaan dalam suatu waktu tertentu. 5.1.4. Dalam praktek akuntansi syariah untuk penghitungan zakat mal perusahaan, aspek pengakuan tidaklah berbeda jauh dengan praktek konvensional, hanya terdapat perbedaan atas aspek pengukuran saja, karena aturan syariah dalam penghitungan zakat menggunakan ukuran harga pasar sebagai atribut pengukuran rekening laporan keuangan, sedangkan dalam metode konvensional menggunakan biaya historis. Sehingga menghasilkan ukuran yang berbeda atas aset perusahaan. 5.1.5. Dalam kasus CV Adi Komunika Enterprise perbedaan pengukuran terletak pada pengukuran persediaan perusahaan, dimana secara konvensional persediaan CV Adi Komunika Enterprise sebesar Rp 16.382.000, setelah menyesuaikan unit ukuran dengan harga pasar maka persediaannya sebesar Rp 17.553.500. 5.1.6. Penghitungan zakat pada CV Adi Komunika Enterprise dengan menggunakan laporan keuangan menggunakan rekening kas, 59 persediaan, dan utang sebagai dasar penghitungannya. Dengan mengurangkan utang terhadap jumlah kas dan persediaan dan mengalikannya dengan tarif zakat sebesar 2,575% atas dasar periode akuntansi selama 1 tahun masehi sebagai haulnya, maka zakat CV Adi Komunika Enterprise pada periode 31 Desember 2005 sebesar Rp 525.000,-. 5.2 Saran Setelah penulis melakukan pembahasan skripsi ini maka dapat memberikan saran-sarannya sebagai berikut: 5.2.1. Hendaknya bila perusahaan membayarkan zakat tersebut disalurkan melalui badan amil zakat ataupun lembaga amil zakat yang telah mendapat pengesahan pemerintah, karena sesuai UU No 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan zakat, maka zakat yang dikeluarkan tersebut dapat dikurangkan dari laba kena pajak sesuai perundangundangan yang berlaku. 5.2.2. Perusahaan tidak perlu melakukan perubahan atas metode pengukuran atas persediaan untuk penyusunan laporan keuangan konvensional, perubahan metode pengukuran atas pesediaan hanya dilakukan untuk penghitungan zakat saja. 5.2.3. Diharapkan adanya penerapan yang lebih luas atas metode pengukuran dan pengakuan rekening laporan keuangan untuk penghitungan zakat mal perusahaan yang lebih kompleks. 60 5.3. Keterbatasan Penulis sangat menyadari bahwa dalam melakukan penelitian tidak lepas dari keterbatasan dan kelemahan. Keterbatasan dan kelemahan tersebut adalah adanya pertimbangan (jugment) pribadi penulis di dalam melakukan penelitian. Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan yang mungkin dapat diatasi oleh peneliti selanjutnya. Beberapa keterbatasan tersebut adalah: 5.3.1. Penelititian hanya dilakukan dengan metode studi kasus terhadap perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan perdagangan. Maka hasil dari penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan karena karakteristik masing-masing jenis perusahaan berbeda. 5.3.2. Adanya keterbatasan konsep yang digunakan dalam penelitian ini. Dimana penulis menggunakan asumsi ditiadakannya utang jangka panjang dalam perusahaan, karena dalam konteks perusahaan yang islami, penulis mencoba mengasumsikan hanya ada utang jangka pendek yang tidak berbunga (riba), karena diasumsikan utang jangka panjang dalam perusahaan yang islami telah diganti dengan sistem pembiayaan syariah, dan diasumsikan sifat pembiayaan tersebut tidak sama dengan utang jangka panjang yang dipraktekkan pada perusahaan pada umumnya, sehingga konsep ini belum bisa diterapkan pada dunia usaha dengan sempurna. 61 DAFTAR PUSTAKA Anis Chariri dan Imam Ghozali. 2003. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. BP UNDIP. Semarang. Belkaoui, Ahmed Riahi. 2000. Teori Akuntansi (Accounting Theory, 4th ed). Buku 1 dan Buku 2, edisi Pertama. Alih bahasa Marwata dkk. Salemba Empat. Jakarta. Didin Hafidhuddin. 2002. Zakat dalam Perekonomian Modern. Gema Insani Press. Jakarta. ________________. 2003. Islam Aplikatif. Gema Insani Press. Jakarta. Husein Umar. 1997. Riset Akuntansi. Gramedia Pustaka utama. Jakarta. IAI. 2002. Standard Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakata. Iwan Triyuwono dan Muhamad As’ udi. 2001. Akuntansi Syariah. Edisi Pertama. Salemba Empat. Jakarta. Mughniyah, Muhammad Jawad. 2000. Fiqih Lima Mazhab. Alih Bahasa Masykur A.B. dkk. Lentera. Jakarta. Muhammad. 2000. Prinsip-prinsip Akuntansi dalam Al-Qur􀂶 an. UII Press. Yogyakarta. M. Akhyar Adnan. 2005. Akuntansi Syariah: Arah, Prospek dan Tantangannya. UII Press. Yogyakarta. Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis: Untuk Akuntansi & Manajemen. Edisi Pertama. BPFE Yogyakarta. Yogyakarta. 62 Qardawi, Yusuf. 1999. Hukum Zakat. Alih Bahasa Salman Harun dkk. Penerbit kerjasama Lintera Antar Nusa dengan Mizan. Jakarta. Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta. Syahatah, Husein. 2004. Akuntansi Zakat, Panduan Praktis Penghitungan Zakat Kontemporer. Alih Bahasa A. Syakur, Lc. Pustaka Progressif. Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, http://www.tempointeraktif.com, diakses pada 21 April 2006. Zaidah Kusmawati. 2005. Menghitung Laba Perusahaan, Aplikasi Akuntansi Syari􀂶ah. Magistra Insania Press. Yogyakarta. 63 Aktiva Lancar Utang Kas Rp 4.156.850 Utang Usaha Rp 670.000 Persediaan Rp 16.382.000 Utang Gaji Rp 652.000 Aktiva Tetap Jumlah Utang Rp 1.322.000 Harga Perolehan Rp 545.200.000 Akumulasi Depresiasi Rp 43.150.000 Ekuitas Rp 521.266.850 Nilai buku Rp 502.050.000 AKTIVA Rp 522.588.850 PASSIVA Rp 522.588.850 CV ADI KOMUNIKA ENTERPRISE NERACA PERIODE 31 DESEMBER 2005 AKTIVA PASSIVA 64 Jl Veteran No 24 Jepara 59417. Phone/ Fax (0291) 591531 SURAT KETERANGAN No: 001/AKE-Pnt/VI//2006 Yang bertanda tangan di bawah ini selaku Direktur CV Adi Komunika Enterprise Jepara menerangkan: Nama : HAFID JUNAIDI NIM : 0220000177 Jurusan : Akuntansi Alamat : Ngasem krajan rt 17/ 02 Batealit – Jepara Bahwa mahasiswa tersebut di atas telah benar-benar melakukan penelitian di CV Adi Komunika Enterprise dalam rangka penyusunan skripsi dengan judul “Metode Pengukuran dan Pengakuan Rekening-Rekening Laporan Keuangan untuk Penghitungan Zakat Mal Perusahaan; Studi Kasus CV Adi Komunika Enterprise”. Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Jepara, 27 Mei 2006 CV Adi Komunika Enterprise Ir. Adi Sucipto Musa Direktur KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar