PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri)

Admin
ABSTRAK.

Kinerja suatu bank ditentukan oleh seberapa baiknya suatu bank
dalam mengelola usahanya sehingga dapat memperoleh profitabilitas
yang maksimal. Dalam usahanya untuk memperoleh profit, dapat dilihat
melalui indikator tingkat kesehatan yang akan menentukan kinerja bank
dalam memperoleh profit yang maksimal. Indikator-indikator tersebut
adalah CAR, LDR dan BOPO, sedangkan untuk tingkat profitabilitas
diukur dengan variabel ROA. Tujuan dari penelitian ini dalah untuk
mengukur pengaruh tingkat kesehatan bank yaitu dilihat dari CAR, LDR
dan BOPO terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dari ROA.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data skunder
yang diperoleh dari laporan keuangan bulanan Bank Syariah Mandiri
periode 2006-2008.Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu menggunakan analisis regresi berganda melalui pengujian SPSS
dengan mempertimbangkan uji asumsi klasik yaitu multikolinieritas,
heterokedastisitas dan autokorelsi.

Dari hasil analisis secara bersama-sama atau simutan dengan
tingkat signifikansi 5% menunjukkan variabel CAR, LDR dana BOPO
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ROA pada Bank Syariah
Mandiri. Hal ini terlihat dari nilai F-hitung sebesar 3,120 lebih besar dari
nilai f-tabel sebesar 2,186. Variabel-variabel ini mampu menjelaskan
tingkat ROA sebesar 48,2% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel
lain diluar model estimasi ini. Adapun variabel yang dominan
pengaruhnya terhadap ROA adalah CAR dengan nilai t-hitung sebesar
2,652 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,032 dengan tingkat signifikansi
sebesar 0,01. Tanda positif tersebut berarti BOPO mempunyai pengaruh
lurus terhadap ROA sebagai variabel dependentnya.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI 1 PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri) S K R I P S I Oleh ALFAN INDRAWAN NIM : 05610012 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 2 PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri) S K R I P S I Diajukan Kepada : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Oleh ALFAN INDRAWAN NIM : 05610012 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 3 LEMBAR PERSETUJUAN PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri) S K R I P S I Oleh ALFAN INDRAWAN NIM : 05610012 Telah Disetujui 9 September 2009 Dosen Pembimbing, Indah Yuliana, SE., MM NIP 150327250 Mengetahui : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 LEMBAR PENGESAHAN 4 PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri) SKRIPSI Oleh ALFAN INDRAWAN NIM : 05610012 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Dan Dinyatakan Diterima sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 3 Oktober 2009 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1. Ketua Drs. H. Abdul Kadir Usry, Ak., MM ( ) 2. Sekretaris/Pembimbing Indah Yuliana, SE., MM ( ) NIP 150327250 3. Penguji Utama Prof. Dr. H. Muhammad Djakfar, SH., M.Ag ( ) NIP 150203742 Disahkan Oleh : Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 5 SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini saya: Nama : Alfan Indrawan NIM : 05610012 Alamat : Jl. Sidodadi Gg. II No.91 RT 12 RW 03 Wandanpuro Bululawang, Malang Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul: PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR), LOAN TO DEPOSIT RATIO (LDR) DAN BOPO TERHADAP RETURN ON ASSET (ROA) PERIODE 2006-2008 (Studi pada Bank Syariah Mandiri) Adalah hasil karya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila di kemudian hari saya ada “klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas Ekonomi, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun Malang, 9 September 2009 Hormat saya, ALFAN INDRAWAN NIM : 05610012 6 PERSEMBAHAN Ayahanda dan Ibunda tercinta (Agus Supriadi dan Endang Suryaningsih) atas segala pengorbanan, kasih sayang dan dukungan serta do’a tulus yang tiada henti dan telah memberikan kesempatan kepada ananda untuk mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi ini, takkan pernah padam sepanjang masa akan terukir indah dalam hati ananda yang paling dalam. Jasa-jasamu tak akan tebalas oleh apapun. Tiada kata terindah yang dapat kukatakan untukmu Ayahanda dan Ibunda tercinta. 7 MOTTO "… dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS. Al-Ma'idah (5): 2) 8 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb Alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan ridho dan ma’unah-Nya akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah saw dan seluruh pengikutnya yang dengan jiwa sucinya penuh pengorbanan dan keihklasan telah membimbing dan menuntun umatnya ke jalan yang penuh dengan cahaya ilmu yang diridhoi oleh Allah swt dan senantiasa istiqomah berjuang menegakkan Islam dan kembali untuk melanjutkan kehidupan Islam hingga akhir zaman. Penyelesaian skripsi ini tentunya tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan, dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 9 3. Ibu Indah Yuliana, SE., MM selaku dosen pembimbing yang dengan kesabaran membimbing dan memberi arahan serta masukan yang amat berguna hingga terselesaikan skripsi ini. 4. Bapak dan Ibu dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang dengan ketulusan hati memberikan ilmunya selama penulis menempuh perkuliahan. 5. Kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta (Agus Supriadi dan Endang Suryaningsih) serta adik-adik saya (Feti Indrawati dan Vembri Indraviani), yang tiada henti-hentinya mendo’akan dan memotivasi, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan lancar dan baik. 6. Kepada yang tersayang Decy Martarena S. yang selama ini selalu menemaniku dalam suka dan duka, kasih sayangmu, perhatianmu yang tiada henti. Engkau tak akan terlupakan dan akan tersimpan dalam hatiku. 7. Teman-teman seperjuangan Fakultas Ekonomi angkatan 2005 dan teman-teman yang selalu mengisi hari-hari penulis dalam canda tawa dan duka yang membantu proses terselesaikannya skripsi ini. 8. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatusatu, yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini Penulis mengucapkan terima kasih dan semoga kebaikan semua pihak yang telah memberikan bantuan mendapat balasan pahala dari 10 Allah SWT dan menjadi amal yang tiada putus pahalanya, dan bermanfaat untuk kita semua di dunia maupun di akhirat. Amiiien. namun penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena keterbatasan kemampuan ilmu. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak sehingga dapat menjadikan karya ini menjadi lebih baik. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya sebagai sumber informasi untuk perbaikan kehidupan manusia. Aamiiiiin. Wassalamu’alaikum Wr.Wb Malang, 9 September 2009 Penulis Alfan Indrawan 11 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... i LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... ii LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... iii SURAT PERNYATAAN ............................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v MOTTO ......................................................................................................... vi KATA PENGANTAR ................................................................................. vii DAFTAR ISI ................................................................................................. viii DAFTAR TABEL ......................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvi ABSTRAK ..................................................................................................... xv BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ............................................................. 6 C. Tujuan Penelitian .............................................................. 7 D. Manfaat Penelitian ............................................................ 7 E. Batasan Masalah ................................................................ 8 BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ........................................................ 9 B. Kajian Teoritis .................................................................... 14 1. Pengertian Bank ............................................................ 14 2. Jenis-jenis Bank ............................................................. 15 3. Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah. . 16 4. Tujuan Bank Syariah .................................................... 19 5. Fungsi Bank Syariah .................................................... 21 6. Profitabilitas ................................................................. 22 7. Modal ............................................................................ 29 8. Likuiditas ..................................................................... 35 12 9. Profitabilitas, Modal dan Likuiditas dalam Perspektif Islam ............................................................ 39 C. Kerangka Konseptual ....................................................... 49 D. Hipotesis .............................................................................. 50 BAB III : METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ............................................................... 51 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian ..................................... 51 C. Populasi dan Sampel ......................................................... 52 D. Data dan Jenis Data ............................................................ 53 E. Teknik Pengumpulan Data ............................................... 53 F. Definisi Operasional .......................................................... 54 G. Metode Analisis Data ....................................................... 56 BAB IV : PAPARAN DAN PEMBAHASAN DATA HASIL PENELITIAN A. Paparan Data Hasil Penelitian ......................................... 66 1. Gambaran Umum Perusahaan .................................. 66 a. Visi dan Misi Perusahaan .................................... 68 b. Budaya (Corporate Culture) Perusahaan ............. 70 c. Struktur Organisasi Instansi ................................ 71 d. Ruang Lingkup Kegiatan dari Instansi .............. 73 e. Produk dan Jasa Bank .......................................... 73 2. Analisis CAR ................................................................ 79 3. Analisis LDR ................................................................ 82 4. Analisis BOPO ............................................................. 84 5. Analisis Return On Asset (ROA) ............................... 86 6. Metode Analisis Data ................................................. 88 a. Analisis Regresi Berganda ................................... 88 13 b. Uji t-statistik ........................................................... 89 c. Uji F-statistik .......................................................... 91 d. Koefisien Determinasi R2 ..................................... 91 e. Uji Multikolinieritas .............................................. 92 f. Uji Heterokedastisitas .......................................... 93 g. Uji Autokorelasi .................................................... 94 B. Pembahasan Data Hasil Penelitian ................................. 95 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................ 108 B. Saran .................................................................................... 109 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 111 LAMPIRAN-LAMPIRAN 14 DAFTAR TABEL Tabel 2.1: Penelitian Terdahulu ................................................................... 10 Tabel 4.1: Data Capital Adequacy ratio (CAR) ............................................. 79 Tabel 4.2: Data Loan to Deposit Ratio (LDR) ............................................... 81 Tabel 4.3: Data BOPO ................................................................................... 84 Tabel 4.4: Data ROA ...................................................................................... 86 Tabel 4.5: Hasil Uji t-statistik ....................................................................... 89 Tabel 4.6: Hasil Uji Multikolinieritas .......................................................... 92 Tabel 4.7: Tingkat Signifikansi .................................................................... 101 15 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1: Kerangka Konseptual ............................................................. 49 Gambar 4.1: Struktur Organisasi PT. BSM ................................................ 73 Gambar 4.2: Struktur Organisasi PT. BSM Cabang Malang .................. 73 Gambar 4.3: Diagram CAR per bulan ........................................................ 81 Gambar 4.4: Rata-rata CAR.......................................................................... 81 Gambar 4.5: Grafik BOPO ............................................................................ 86 Gambar 4.6: Rata-rata ROA ......................................................................... 88 16 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Laporan Laba Rugi Bulanan Bank Syariah Mandiri Periode 2006-2008 Lampiran 2: Laporan Ikhtisar Keuangan Bulanan Bank Syariah Mandiri periode 2006-2008 Lampiran 3: Hasil Pengujian SPSS Lampiran 4: Bukti Konsultasi Lampiran 5: Biodata Peneliti 17 ABSTRAK Alfan Indrawan, 2009.SKRIPSI. Judul : “Pengaruh CAR, LDR dan BOPO terhadap ROA Bank Syariah Mandiri Periode 2006-2008” Pembimbing : Indah Yuliana, SE. MM Kata Kunci : CAR, LDR, BOPO dan ROA Kinerja suatu bank ditentukan oleh seberapa baiknya suatu bank dalam mengelola usahanya sehingga dapat memperoleh profitabilitas yang maksimal. Dalam usahanya untuk memperoleh profit, dapat dilihat melalui indikator tingkat kesehatan yang akan menentukan kinerja bank dalam memperoleh profit yang maksimal. Indikator-indikator tersebut adalah CAR, LDR dan BOPO, sedangkan untuk tingkat profitabilitas diukur dengan variabel ROA. Tujuan dari penelitian ini dalah untuk mengukur pengaruh tingkat kesehatan bank yaitu dilihat dari CAR, LDR dan BOPO terhadap tingkat profitabilitas yang diukur dari ROA. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data skunder yang diperoleh dari laporan keuangan bulanan Bank Syariah Mandiri periode 2006-2008.Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis regresi berganda melalui pengujian SPSS dengan mempertimbangkan uji asumsi klasik yaitu multikolinieritas, heterokedastisitas dan autokorelsi. Dari hasil analisis secara bersama-sama atau simutan dengan tingkat signifikansi 5% menunjukkan variabel CAR, LDR dana BOPO berpengaruh secara signifikan terhadap variabel ROA pada Bank Syariah Mandiri. Hal ini terlihat dari nilai F-hitung sebesar 3,120 lebih besar dari nilai f-tabel sebesar 2,186. Variabel-variabel ini mampu menjelaskan tingkat ROA sebesar 48,2% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model estimasi ini. Adapun variabel yang dominan pengaruhnya terhadap ROA adalah CAR dengan nilai t-hitung sebesar 2,652 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,032 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,01. Tanda positif tersebut berarti BOPO mempunyai pengaruh lurus terhadap ROA sebagai variabel dependentnya. 18 ABSTRACT Indrawan, Alfan. 2009.SKRIPSI. Title: "The influence of CAR, LDR and BOPO to Bank Syariah Mandiri’s ROA at 2006-2008 Period" Advisor : Indah Yuliana, SE. MM Keywords: CAR, LDR, and ROA BOPO Performance of a bank is determined by how well a bank is capable to manage its business to obtain maximum profitability. The efforts to gain profit can be seen through the health-level indicators that will determine the bank's performance in obtaining the maximum profit. These indicators are CAR, LDR and BOPO, the level of profitability is measured by ROA variable. The purpose of this study to measure the impact health level of the bank that can be seen from CAR, LDR and BOPO of the profitability measured by ROA. The data used in this study are skunder data obtained from the monthly financial report of Bank Syariah Mandiri 2006-2008. The methode period of analysis used in this study is to use multiple regression analysis by SPSS test by considering the classical assumption of the multikolinieritas, heterokedastisitas and autokorelsi test. From the results of the simultaneous analysis with 5% significance level showed that variable CAR, LDR BOPO funds significantly affect the variables ROA in Bank Syariah Mandiri. This can be seen from the value calculated for F-3.120 greater than the value of f-table 2.186. These variables could explain the level of ROA of 48.2% while the rest is explained by other variables outside of this estimation model. The dominant variable that influence ROA is CAR with t-calculated value of 2,652 greater than t-table value of 2.032 with a significance level of 0.01. The positive mark means CAR has same effects on ROA as dependent variables. 19 ROA " # BOPO LDR CAR ! - + ' , )! * &'( $!% 1 2 0 +.!/ ROA BOPO LDR CAR +2 23! 4 5 6 : 176 89! : ;2< => 2? @ 2 5# + A( 9 + 'B +2 5# C D 176 89! 9 @ 2 5# C ' +E% F :&G H !I D ;2< D J + EK 89! ROA 01P 9 QD J +2 ! F 5 BOPO LDR CAR L !MB N O LDR CAR +2> * H R +.!% +E% F 1 S Q ET UL H $ V CAR H Q )U 89! F " # BOPO +2 !W H : D J +2#!. +* 29 L ET UL , > T X5 ' J +* 29 X5 ' )U X2 E Y@ - + ' , )! * + !/ $!% + !@/ +2 ! .( +9!Z !I 9 SPSS +9!Z :&G H , [ A D \9 R ET UL , > T autokorelasi heterokedastisitas multikolinieritas R +262'&6 LDR CAR 4 1P : _ + ] F ; ^W 9 X2 E +Z2 * H H : ` UL !I* )! * + !/ $!% " # ROA 01P " # + ] 9 ! B BOPO CTD ;2< D 4 1P UL f-tabel +52W H ab F-hitung +52W J 01P Xg. c!< UL d G F!Ge 01P 9 f 2Q9 CT _ ROA F F 9 t-tabel +52W H ab - t-hitung +52Q9 BOPO L ROA " # ! BD ;9 01P 5 ROA " # h6 i j( 1 S f BOPO + ] 20 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional. (http: www.bi.go.id) Karakteristik sistem perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan bagi masyarakat dan bank, serta menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Dengan menyediakan beragam produk serta layanan jasa perbankan yang beragam dengan skema keuangan yang lebih bervariatif, 21 perbankan syariah menjadi alternatif sistem perbankan yang kredibel dan dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. (http: www.bi.go.id) Dengan telah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang terbit tanggal 16 Juli 2008, maka pengembangan industri perbankan syariah nasional semakin memiliki landasan hukum yang memadai dan akan mendorong pertumbuhannya secara lebih cepat lagi. Dengan progres perkembangannya yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir, maka diharapkan peran industri perbankan syariah dalam mendukung perekonomian nasional akan semakin signifikan. (http: www.bi.go.id) Diundangkannya Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, perbankan syariah semakin kukuh. BMI merupakan satu-satunya bank umum yang mendasarkan kegiatan usahanya atas syariat Islam di Indonesia. Baru setelah itu berdiri beberapa Bank Islam lain, yakni Bank IFI membuka cabang Syariah pada tanggal 28 Juni 1999, Bank Syariah Mandiri yang merupakan konversi dari Bank Susila Bakti (BSB), anak perusahaan Bank Mandiri, serta pendirian lima cabang baru berupa cabang syariah dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (http: www.inlawnesia.net) 22 Lahirnya Bank Syariah kedua yaitu Bank Syariah Mandiri (BSM) pada era reformasi telah membawa perubahan ke seluruh aspek kehidupan sosial ekonomi bangsa termasuk dunia perbankan. Mengemban misi sebagai alternatif pengganti sistem ekonomi yang ada saat ini perbankan syariah menjadi tulang punggung untuk membutikan bahwa ekonomi syariah memang bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (http : www.syariahmandiri.com). Bank Syariah Mandiri merupakan bank syariah terbesar di Indonesia. Saat ini berhasil mengembangkan unit syariah sebanyak 332 outlet di seluruh Indonesia terdiri atas kantor cabang, kantor pembantu, kantor layanan syari`ah dan `payment point`. Bank Syariah Mandiri (BSM) menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat sebesar Rp 13,42 triliun, dari jumlah tersebut sebagian besar ke sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). (www.finrollnews.com) Dengan semakin berkembangnya dunia perbankan dewasa ini yang disertai dengan krisis keuangan global, maka persaingan antar bank, khususnya antar bank yang sejenis akan semakin ketat. Untuk menjaga kelangsungan hidup bank dalam menghadapi persaingan yang ketat tersebut, maka diperlukan suatu penanganan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan baik agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang menunjang terhadap pencapaian tujuan perusahaan di masa yang akan datang. 23 Pencapaian tujuan yang dimaksud tersebut pada suatu bank adalah memaksimalkan laba dengan mengelola modal yang dimiliki dan mengatur kewajiban dengan baik. Menurut Mahmoedin (2004: 202) faktor yang mempengaruhi profitabilitas diantaranya jumlah kecukupan modal, manajemen pengalokasian dana pada aktiva likuid dalam arti likuiditas, serta efisiensi dalam menekan biaya operasi. Kemampuan bank dalam menghasilkan profit akan bergantung kepada kemampuan manajemen bank yang bersangkutan dalam mengelola asset dan liabilities yang ada. Pada penelitian ini penulis menghitung tingkat profitabilitas dengan menggunakan tolak ukur Return On Asset (ROA). Menurut Muhammad (2002 : 245) bahwa rasio yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja bank dalam menghasilkan laba adalah ROA. Modal merupakan faktor penting dalam mengembangkan usaha bank. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bank sebesar 8% yang disebut Capital Adequacy Ratio (CAR). Dengan adanya modal yang cukup memungkinkan suatu bank dalam melaksanakan aktivitasnya tidak mengalami kesulitan dan kerugian yang mungkin akan timbul kemudian berdampak pada menaiknya tingkat profitabilitas. (Siamat, 2005 : 291) Kebijakan bank dalam mengelola jumlah modal secara tepat akan menghasilkan keuntungan yang benar-benar diharapkan oleh bank, 24 sedangkan akibat pengelolaan modal yang kurang tepat akan mengakibatkan kerugian. Kegiatan penyediaan modal tersebut bersifat dinamis sehingga harus disesuaikan dengan perkembangan bank. Besarnya modal merupakan salah satu alat ukur yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah likuiditas perusahaan. Disamping itu, profitabilitas bank juga dapat ditentukan dari tingkat likuiditasnya. Arifin (2002 : 70) mengemukakan bahwa terlalu banyak likuiditas akan mengorbankan tingkat pendapatan terlalu sedikit akan berpotensi untuk meminjam dana dengan harga yang tidak dapat diketahui sebelumnya, yang dapat berakibat meningkatkan biaya dan akhirnya menurunkan profitabilitas. Terlebih bank syariah yang dilarang melakukan peminjaman dana yang berbasis bunga, tentu akan sulit memperoleh dana. Bank yang selalu dapat menjaga kinerjanya dengan baik terutama tingkat profitabilitas yang tinggi dan mampu membagikan dividen dengan baik serta prospek usahanya dapat selalu berkembang dan dapat memenuhi ketentuan prudential banking regulation dengan baik, maka kemungkinan nilai saham dari bank yang bersangkutan di pasar sekunder dan jumlah dana dari pihak ketiga yang berhasil dikumpulkan akan naik. Kenaikan nilai saham dan jumlah dana pihak ketiga ini merupakan salah satu indikator naiknya kepercayaan masyarakat kepada bank yang bersangkutan. 25 Disamping itu, bank juga harus memperhitungkan keefisiensian kegiatan operasional sehari-hari bank. Kemampuan fundamental bank syariah dapat dilihat efisiensi operasinya yang tercermin dari nilai BOPO (80% kebawah biasanya diangap efisien). (www.republikaonline.com). Semakin kecil rasio ini akan lebih baik, karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya operasional dengan pendapatan operasional, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas yang ingin dicapai.(sopo hal 722). Melihat pentingnya ketiga variabel tersebut yaitu CAR, LDR dan BOPO terhadap profitabilitas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam penyusunan skripsi dengan judul: “Pengaruh CAR, LDR dan BOPO Terhadap ROA Pada Bank Syariah Mandiri Periode 2006-2008”. B. Rumusan Masalah Melihat peranan dari pengelolaan modal yang penting dalam menunjang kegiatan operasional bank, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Equity (ROE) secara simultan pada Bank Syariah Mandiri tersebut? 26 2. Diantara kedua variable tersebut yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) variable mana yang paling dominan pengaruhnya terhadap Return On Equity (ROE)? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka penulis bermaksud untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian sehingga dapat dicapai tujuan dari penelitian sebagai berikut: 1. Untuk mengukur pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan BOPO terhadap Return On Asset (ROA) secara simultan pada Bank Syariah Mandiri tersebut. 2. Untuk mengukur dari kedua variable Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan BOPO yang paling dominan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA). D. Manfaat Penelitian Penulis berharap, informasi yang diperoleh dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, diantaranya adalah: a. Bagi Perbankan Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi masukan yang berguna bagi kalangan perbankan dalam mengelola jumlah modal, 27 tingkat likuiditas, pembiayaan dan profitabilitasdimana hasil dari penelitiandapat menjadi pertimbangan untuk diaplikasikan dalam perbankan khususnya Bank Syariah Mandiri. b. Bagi penulis Penulis dalam penelitian ini digunakan sebagai bahan pembanding antara teori yang didapat di bangku kuliah dan fakta di lapangan. Serta dapat menambah pengetahuan tentang materi yang diteliti. c. Bagi pembaca Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penelitian sejenis dan sebagai pengembangan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini juga merupakan bahan informasi tentang pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio dan BOPO terhadap Return On Asset. E. Batasan Masalah Penelitian ini dibatasi untuk masalah pengaruh variabel CAR, LDR dan BOPO sebagai variabel independen. Hal ini karena ketiga variabel tersebut sangat penting bagi jalannya operasional bank seharihari. Sedangkan untuk data-data penelitian dibatasi untuk laporan keuangan bulanan dikarenakan secara perhitungan statistik apabila menggunakan data tahunan dalam periode 2 tahun penelitian tersebut, kurang memenuhi untuk dijadikan data penelitian, sehingga peneliti menggunakan data bulanan. 28 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu adalah mengkaji beberapa aspek yang berkaitan dengan kondisi operasi bank dan profitabilitas. Inka Windarti melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Non Performing Loan Ratio, CAR, PPAP, Ratio BOPO Terhadap Return On Equity Bank-Bank Umum Swasta Nasional Periode 2003-2005. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa semua variabel NPL, CAR, PPAP, dan BOPO secara bersama-sama mempengaruhi ROE. Sedang variabel yang berpengaruh paling besar adalah rasio BOPO. Sedangkan Imam Ghozali juga meneliti tentang Pengaruh CAR, FDR, BOPO, dan NPL terhadap Profitabilitas Bank Syariah Mandiri (Januari: 2004-Oktober: 2006). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel CAR dan NPL berpengaruh negatif terhadap profitabilitas dan signifikan, sedangkan variabel FDR dan BOPO berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Secara simultan variabel CAR, FDR, BOPO, NPL berpengaruh terhadap profitabilitas. Secara rinci, dapat dijelaskan dalam tabel dibawah ini, sebagai berikut: 1 Table 2.1 Penelitian Terdahulu No. Nama Peneliti dan Tahun Tujuan penelitian Pendekatan penelitian Variabel Penelitian Metode Analisis Hasil 1 Inka Windarti (2006) 1. Untuk mengukur pengaruh NPL, CAR, PPAP, BOPO terhadap ROE Bank- Bank Umum Swasta Nasional Periode 2003-2005 secara bersama-sama 2. Untuk mengetahui variabel yang paling besar mempengaruhi ROE 3. Untuk mengetahui seberapa besar variabel ROE dipengaruhi oleh variabel-variabel non performing loan, capital adequacy ratio, PPAP, dan rasio BOPO Kuantitatif, analisis deskriptif Non Performing Loan Ratio, CAR, PPAP, Ratio BOPO, Return On Equity Uji statistic regresi secara simultan (uji F) dan uji regresi parsial (uji t). 1. Non performing loan, capital adequacy ratio, PPAP, dan rasio BOPO mempunyai pengaruh secara simultan terhadap return on equity (ROE) pada bank-bank umum swasta nasional di Indonesia, 2.Secara parsial rasio BOPO berpengaruh paling besar terhadap return on equity (ROE). Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung > ttabel dan hitung < 5% yaitu 3,465 > 1,6741 dan 0,001 < 5%, 3.Variabel return on equity dipengaruhi oleh non performing loan, capital adequacy ratio, PPAP, dan rasio BOPO hanya sebesar 23,9%. 2 Imam Ghozali (2007) 1. Untuk menganalisis pengaruh antara varibel CAR terhadap profitabilitas (ROE) Bank Syariah Mandiri 2. Untuk menganalisis pengaruh antara variabel FDR terhadap profitabilitas (ROE) Kuantitatif CAR (Capital Adequacy Ratio), FDR (Financing to Deposit Ratio) BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) Metode asumsi klasik dan regresi linier 1. Variabel CAR berhubungan negatif dan signifikan dengan demikian variabel tersebut tidak sesuai hipotesis,disebabkan adanya resiko yang besar sehingga CAR dapat berpengaruh negatif. 2. Variabel FDR berhubungan 2 Bank Syariah Mandiri 3. Untuk menganalisis pengaruh antara variabel BOPO terhadap profitabilitas (ROE) Bank Syariah Mandiri. 4. Untuk menganalisis pengaruh antara variabel NPL terhadap profitabilitas (ROE) Bank Syariah Mandiri. 5. Untuk menganalisis bersama-sama ketiga pengaruh variabel CAR, FDR, BOPO, dan NPL terhadap profitabilitas Bank Syariah Mandiri. dan NPL (Non Performing Loan) terhadap Profitabilitas positif dan signifikan, hal ini dikarenakan bila semakin besar dana yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan maka dapat mempengaruhi tingkat profitabilitas. 3.Variabel BOPO berhubungan positif dan signifikan hal ini disebabkan dengan adanya penambahan cabang baru dan promosi dapat mempengaruhi tingkat profitabilitas yang dilakukan oleh BSM. 4.Variabel NPL berhubungan negatif dan signifikan dikarenakan semakin rendah tingkat kredit macet suatu bank maka semakin baik bank tersebut. NPL menerangkan tingkat pengembalian pembiayaan non lancar terhadap total pembiayaan dari suatu bank. 5.Dari pengujian F statistik dengan menggunakan = 5% diperoleh F-tabel sebesar 2,71 sementara diperoleh Fstatistik sebesar 23,6 yang berarti F-statistik > F-tabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara bersamasama mempengaruhi 3 variabel dependen. 3 Alfan Indrawan (2009) a. Bagaimana pengaruh capital Adequacy ratio, Loan To Deposit Ratio dan BOPO terhadap Return On Asset Ratio Bank Syariah Mandiri secara simultan? b. Diantara ketiga variable tersebut yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan BOPO, variable mana yang dominan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA)? Kuantitatif deskriptif Return On Asset, Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio dan BOPO Uji Linier berganda, uji F, uji t dan Uji Asumsi Klasik a.Dari pengujian F statistik dengan menggunakan = 5% diperoleh f-hitung sebesar 3,120 lebih besar dari nilai F-tabel sebesar 2,86 yang berarti F-statistik > F-tabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. b.Berdasarkan hasil SPSS secara parsial, yang paling dominan pengaruhnya terhadap ROA adalah CAR. Hal ini dilihat dari tingkat signifikansi yang menyatakan bahwa tingkat signifikansi CAR lebih besar dari tingkat signifikansi BOPO. Variabel CAR berhubungan positif dengan nilai t-hitung sebesar 2,652 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,030, yang terbukti dan signifikan, hal ini dikarenakan bila semakin besar dana yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan maka dapat mempengaruhi tingkat ROA. 1 Adapun perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu, yaitu : 1. Variabel dalam penelitian ini mencoba mengetahui pengaruh hubungan variabel CAR, LDR dan BOPO terhadap variabel ROA. Sedangkan variabel yang dilakukan oleh Ghozali adalah variabel CAR, FDR, BOPO, dan NPL terhadap variabel profitabilitas. 2. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ROA. 3. Dari tujuan masalah dalam penelitian ini yaitu untuk mengukur pengaruh variabel CAR, LDR dan BOPO secara simultan serta variabel yang dominan terhadap ROA. Sedangkan dalam penelitian Inka Windarti mengemukakan pengaruh simultan variabel independent terhadap dependentnya, variabel paling besar pengaruhnya terhadap ROE. Sedangkan Imam Ghozali mengemukakan pengaruh secara parsial dari masing-masing variabel CAR, FDR, BOPO, dan NPL terhadap profitabilitas. Serta pengaruh secara simultan variabel-variabel tersebut terhadap profitabilitas. Sedangkan persamaan dengan penelitian terdahulu adalah samasama menggunakan data skunder dan alat analisis yang digunakan adalah metode regresi linier berganda dan metode asumsi klasik. 2 B. Kajian Teoritis 1. Pengertian Bank Bank menurut bahasa Arab berasal dari kata “mashrif“ yang berarti yaitu pertukaran mata uang satu dengan mata uang yang lain. Mashrif sendiri merupakan istilah untuk suatu tempat. Namun demikian artimya dengan kata bank. Menurut bahasa Eropa (Itali, bank berasal dari kata banco yang berarti bangku atau counter. Kata tersebut dipopulerkan karena segala aktifitas pertukaran uang orang-orang Itali menggunakan bangku atau counter.(dipopulerkan oleh agussyafi’i@yahoo.com) Ada beberapa definisi bank yang dikemukakan sesuai dengan tahap perkembangan bank. Untuk memberikan definisi yang tepat agaknya memerlukan penjabaran, karena definisi tentang bank dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Berikut ini dapat dikemukakan beberapa pendapat tentang pengertian bank, yaitu: a. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan). b. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. (Undang-undang Nomor 10 3 Tahun 1998 Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan). Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, pengertian bank telah mengalami evolusi, sesuai dengan perkembangan bank itu sendiri. Kedua, fungsi bank pada umumnya adalah (1) menerima berbagai bentuk simpanan dari masyarakat; (2) memberikan kredit, baik bersumber dari dana yang diterima dari masyarakat maupun berdasarkan atas kemampuannya untuk menciptakan tenaga beli baru; (3) memberikan jasa-jasa lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. 2. Jenis-Jenis Bank Jenis bank dilihat dari cara menetapkan harga baik harga beli maupun harga jual dapat dibagi dua, yaitu : a. Bank Konvensional Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Bank Konvensional adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. b. Bank Syariah Menurut Undang-Undang No.10 tahun 1998 bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip 4 syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Prinsip syariah menurut Pasal 1 ayat 13 Undang-undang No.10 tahun 1998 tentang perbankan adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah), pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli barang dengan keuntungan (murabahah), atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).(Siamat, 2005 : 413-414) 3. Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah a. Bank Syariah 1) Islam memandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan/amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus sesuai ajaran Islam. 2) Bank syariah mendorong nasabah untuk mengupayakan pengelolaan harta nasabah (simpanan) sesuai ajaran Islam. 3) Bank syariah menempatkan karakter/sikap baik nasabah maupun pengelola bank pada posisi yang sangat penting dan menempatkan 5 sikap akhlakul karimah sebagai sikap dasar hubungan antara nasabah dan bank. 4) Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan, prinsip kesederajatan dan prinsip ketentraman antara Pemegang Saham, Pengelola Bank dan Nasabah atas jalannya usaha bank syariah. 5) Prinsip bagi hasil: a) Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi. b) Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh. c) Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. d) Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil. e) Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.(www.syariahmandiri.co.id) b. Bank Konvensional Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang kepentingan pemegang saham adalah diantaranya 6 memperoleh spread yang optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman (mengoptimalkan interest difference). Dilain pihak kepentingan pemakai dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah (biaya murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga pihak tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja. Tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham, Pengelola Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai keinginan yang bertolak belakang. Sistem bunga pada bank konvensional adalah sebagai berikut : 1) Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank. 2) Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank. 3) Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik. 4) Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam. 5) Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam. 7 6) Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi.(www.syariahmandiri.co.id) 4. Tujuan Bank Syariah Bank syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Hal ini sesuai dengan surat al-Baqarah : 278-279 ! " # ! $ " ! $ % & " ' % & " Artinya :“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) …………..Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.”(QS. Al-Baqarah 278-279) Dengan demikian, penghindaran bunga yang dianggap riba merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dunia Islam dewasa ini. Suatu hal yang sangat menggembirakan bahwa belakangan ini para ekonom Muslim telah mencurahkan perhatian besar, guna menemukan cara untuk menggantikan sistem bunga dalam transaksi perbankan dan membangun model teori ekonomi yang bebas dan pengujiannya terhadap pertumbuhan ekonomi, alokasi dan distribusi pendapatan. 8 Oleh karena itu, maka mekanisme perbankan bebas bunga yang biasa disebut dengan bank syariah didirikan. Tujuan perbankan syariah didirikan dikarenakan pengambilan riba dalam transaksi keuangan maupun non keuangan. Dalam sistem bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan pendapatan bunga (Zaenul Arifin, 2002: 39-40). Menurut Cholish (2006) mengemukakan bahwa pengembangan perbankan syariah nasional pada dasarnya merupakan bagian dari program restrukturisasi perbankan nasional. Sedikitnya ada empat hal yang menjadi tujuan pengembangan perbankan yang berdasarkan prinsip Islam tersebut, sebagai berikut : a. memenuhi keperluan jasa perbankan bagi masyarakat yang tidak dapat menerima konsep bunga. b. terciptanya dual banking system di Indonesia yang mengakomodasikan baik perbankan konvensional maupun perbankan syariah yang akan melahirkan kompetisi yang sehat dan perilaku bisnis yang berdasarkan nilai-nilai moral, yang pada gilirannya akan meningkatkan market disciplines dan pelayanan bagi masyarakat. c. mengurangi risiko sistemik dari kegagalan sistem keuangan di Indonesia. Karena pengembangan bank syariah sebagai alternatif dari bank konvensional akan memberikan penyebaran risiko keuangan yang lebih baik. 9 d. mendorong peran perbankan dalam menggerakkan sektor riil dan membatasi kegiatan spekulasi atau tidak produktif karena pembiayaan ditujukan pada usaha-usaha yang berlandaskan nilainilai moral. 5. Fungsi Bank Syariah Fungsi dasar bank syariah secara umum sama dengan bank konvensional, sehingga prinsip umum pengaturan dan pengawasan bank berlaku pula pada bank syariah. Namun adanya sejumlah perbedaan cukup mendasar dalam operasional bank syariah menuntut adanya perbedaan pengaturan dan pengawasan bagi Bank syariah. Perbedaan mendasar tersebut terutama: a. Perlunya jaminan pemenuhan ketaatan pada prinsip syariah dalam seluruh aktivitas bank. b. Perbedaan karakteristik operasional khususnya akibat dari pelarangan bunga yang digantikan dengan skema PLS dengan instrumen nisbah bagi hasil. Langkah penting untuk mengatasi masalah unik dari sistem bagi hasil misalnya : moral hazard (tindakan yang dilakukan oleh penerima amanat yang bertentangan dengan kesepakatan awal dalam menjalankan 10 amanat yang diterimanya), asymmetric information (ketidakseimbangan informasi antara pemberi amanat dan yang diberi amanat, di mana pihak yang diberi amanat memiliki informasi yang lebih banyak ketimbang pihak yang memberi amanat), dll adalah dengan cara: a. penerapan good governance (tata kelola yang baik). b. ketentuan disclosure dan transparansi keuangan. c. pengembangan skema insentif yang optimal dll. 6. Profitabilitas a. Pengertian Profitabilitas Kinerja suatu bank merupakan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya laporan keuangan merupakan sarana untuk mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan manajemen atas sumber daya pemilik. Laporan laba rugi merupakan salah satu bentuk laporan keuangan yang dijadikan salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu bank. Laba merupakan suatu pos dasar dan penting dalam laporan keuangan yang memiliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Muhammad (2005: 259) mendefinisikan profitabilitas sebagai kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat efektifitas yang dicapai melalui usaha operasional bank. Profitabilitas adalah ukuran spesifik dari performance sebuah bank, dimana ia 11 merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan memaksimalkan nilai dari para pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat return, dan minimalisasi resiko yang ada. Sedangkan profitabilitas dalam www.e-samuel.com menyatakan bahwa : kemampuan suatu bank mendapatkan profit, bisanya ditunjukkan dalam marjin, baik marjin kotor, marjin usaha maupun marjin bersih. Profitabilitas juga bisa menunjukkan pengembalian keuntungan bank baik terhadap modal yang dimiliki (ROE) maupun terhadap asset (ROA). Mahmoedin (2002 :20) dalam pernyataannya tentang profitabilitas merupakan kemampuan suatu bank untuk mendapatkan keuntungan. Sedangkan menurut Yuwono dan As’ud (2001 : 1), laba merupakan suatu pos dasar dan penting dalam laporan keuangan yang memiliki berbagai kegunaan dalam berbagai konteks. Laba pada umumnya dipandang sebagai suatu dasar bagi perpajakan, penentuan kebijakan pembayaran deviden, pedoman investasi, pengambilan keputusan dan unsur prediksi kinerja perusahaan. Mahmoedin (2004 : 20) juga mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi profitabilitas adalah sebagai berikut : 1) Kualitas kredit atau pembiayaan yang diberikan dan pengembaliannya 2) Jumlah kecukupan modal 12 3) Mobilissi dana masyarakat dalam memperoleh sumber dana yang murah 4) Perpencaran bunga bank 5) Manajemen pengalokasian dana dalam aktiva likuid 6) Efisiensi dalam menekan biaya operasi Adapun aturan tentang laba/ keuntungan dalam konsep Islam (Syahatah , 2001:149) : 1) Adanya harta yang dikhususkan 2) Mengoperasikan modal tersebut secara interaktif dengan unsureunsur lain yang terkait seperti isaha dan sumber alam. 3) Memposisikan harta sebagai obyek dalam pemutarannya karena adanya kemungkinan pertambahan atau pengurangan jumlahnya. Selamatnya modal pokok yang berarti modal bias dikembalikan. b. Model-model Pengukuran Laba Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. IAI dalam Triyuwono dan Mas’ud (2001 : 13) menyebutkan berbagai dasar pengukuran sebagai berikut : 1) Biaya historis Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk 13 memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation), atau dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas) yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal. 2) Biaya kini Aktiva dinilai dalam jumlah kas yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang. 3) Nilai realisasi/ penyelesaian Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal. Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian yaitu jumlah kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. 4) Nilai sekarang Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban 14 dinyatakan sebesar arus kas bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. c. Rasio-rasio Profitabilitas 1) Return On Asset (ROA) Rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap ratarata volume usaha (ROA) dalam periode yang sama. ROA menggambarkan perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. Ukuran atau rumus yang digunakan adalah: rasio perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total asset. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Rasio ini dirumuskan dengan : RUMUS : ROA = Totalaktiva Labasebelumpajak Keterangan : Cara perhitungan dilakukan sebagai berikut : • Untuk rasio 0% atau negatif diberi nilai kredit nol; dan • Untuk setiap kenaikan 0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100 15 Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari sisi penggunaan aset. 2) Return On Equity (ROE) Salah satu pengukur tingkat profitabilitas bank adalah ROE. ROE yaitu rasio yang menggamabarkan besarnya kembalian atas total modal untuk menghasilkan keuntungan Menurut Weston (1997: 722) ROE juga merupakan indikator yang sangat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembayaran deviden. Pemilik bank lebih tertarik pada seberapa besar kemampuan bank memperoleh keuntungan terhadap modal yang ditanamkan. Kenaikan rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari laba yang bersangkutan yang selanjutnya dikaitkan dengan peluang kemungkinan pembayaran deviden (terutama bagi bank yang go pubilc). Rasio ini sebagai perbandingan antara laba bersih setelah dengan modal sendiri (Equity). Untuk mengukur kemampuan bank memperoleh keuntungan dilihat dari kepentingan pemilik, digunakan return on equity (ROE) yaitu : RUMUS : ROE = Rata rataModal LabaBersihsetelahpajak − 16 ROE menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola modal yang tersedia untuk mendapatkan net income. Semakin tinggi return semakin baik, berarti dividen yang dibagikan atau ditanamkan kembali sebagai retained earning juga semakin besar (Kuncoro, 2002: 551). 3) Net Interest Margin (NIM) Rasio ini menunjukkan kemampuan earning assets dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih. Rumusnya yaitu : NIM = Keterangan : pendapatan bunga bersih diperoleh dengan melihat laporan laba rugi pos pendapatan (beban) bunga bersih. NIM harus cukup besar untuk mengkover kerugian-kerugian pinjaman, kerugian-kerugian sekuritas dan pajak untuk dijadikan profit dan meningkatkan pendapatan. 4) Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio ini adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkaat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasional. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa usaha utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit, sehingga beban bunga dan hasil bunga merupakan porsi terbesar bagi bank. Rasio ini dirumuskan : 17 BOPO = Keterangan : • Beban operasional diperoleh dengn menjumlahkan neraca laporan laba rugi pos beban usaha • Pendapatan operasional diperoleh dengan menjumlahkan neraca laporan laba rugi pendapatan operasi. • Cara menghitung nilai kredit : - Nilai rasio 100% atau lebih, nilai kredit = 0 - Untuk setiap penurunan sebesar 0,08% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100. 7. Modal a. Pengertian Modal Bambang Riyanto mengemukakan bahwa modal adalah hasil produksi yang digunakan untuk memprodusir lebih lanjut. Pengertian modal lebih luas ditekankan pada nilai, daya beli, atau kekuasaan memakai atau menggunakan yang terkandung dalam barang-barang modal.(Riyanto, 1997: 19-21) Sementara itu Bakker (Riyanto, 1997: 18), mengartikan modal ialah baik berupa barang-barang konkret yang masih ada dalam rumah tangga perusahaan yang terdapat di sebelah neraca debet, maupun berupa daya beli atau nilai tukar dari barang-barang itu yang tercatat di sebelah kredit. 18 Sedangkan dalam Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) dinyatakan bahwa pengertian modal adalah bagian hak pemilik dalam perusahaan, yaitu selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan ukuran nilai jual perusahaan tersebut.(Suhardjono , 2006: 138) Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa modal merupakan hak yang dimiliki seseorang dalam membiayai sebuah usaha untuk digunakan sebagaimana semestinya agar memperoleh keuntungan dari usaha tersebut. b. Macam-macam Modal Macam-macam modal menurut Bambang Riyanto ada 2, yaitu: 1) Modal aktif, adalah modal yang tertera di debet neraca, yang menggambarkan bentuk-bentuk dalam mana seluruh dana yang diperoleh perusahaan ditanamkan. Modal ini dapat dibedakan antara aktiva lancar dan aktiva tetap 2) Modal pasif, adalah modal yang tertera di sebelah kredit dari neraca yang menggambarkan sumber-sumber darimana dana diperoleh. Modal ini dapat dibedakan antara modal sendiri dan modal asing. Sedangkan menurut Zainal Arifin (2002: 163-165), modal dibagi kedalam modal inti dan modal pelengkap. Modal inti terdiri dari: 1) Modal setor yaitu modal yang disetor secara efektif oleh pemilik. 19 2) Agio saham selisih lebih dari harga saham dengan nilai nominal saham. 3) Modal sumbangan yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham termasuk selisih nilai yang tercatat dengan harga (apabila saham tersebut dijual). 4) Cadangan umum yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan dengan persetujuan RUPS. 5) Cadangan Tujuan yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu atas persetujuan RUPS. 6) Laba Ditahan yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang oleh RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. 7) Laba tahun lalu yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak yang belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS; jumlah laba tahun lalu hanya diperhitungkan sebesar 50% sebagai modal inti. Bila tahun lalu rugi harus dikurangkan terhadap modal inti. 8) Laba tahun berjalan yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh dalam tahun berjalan. Laba ini diperhitungkan hanya 50% sebagai modal inti dan apabila tahun berjalan rugi, harus dikurangkan terhadap modal inti. 9) Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan, yaitu modal inti anak perusahaan setelah 20 dikompensasikan dengan penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut. Sedangkan untuk modal pelengkap terdiri atas cadangancadangan yang terbentuk bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Secara rinci modal pelengkap dapat berupa: 1) Cadangan revaluasi aktiva tetap 2) Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan. 3) Modal pinjaman yang mempunyai cirri-ciri; • Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan dipersamakan dengan modal dan telah dibayar penuh • Tidak dapat dilunasi atas inisiatif pemilik tanpa persetujuan BI • Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal memikul kerugian bank • Pembayaran bunga dapat ditangguhkan bila bank dalam keadaan rugi 4) Pinjaman subordinasi yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: • Ada perjanjian tertulis antara peminjam dengan bank • Mendapat persetujuan dari BI • Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan • Minimal berjangka waktu 5 tahun 21 • Pelunasan pinjaman harus persetujuan dari BI • Hak tagih dalam hal likuidasi berlaku paling akhir c. CAR (Capital Adequacy Ratio) Modal merupakan salah satu faktor penting dalam rangka pengembangan usaha bisnis dan menampung resiko kerugian, semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung resiko dari setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko. Menurut Dendawijaya (2000 : 116-122) Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Jika nilai CAR tinggi (sesuai ketentuan BI 8% berarti bank tersebut mampu membiayai operasi bank, keadaan yang menguntungkan bank tersebut akan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi profitabilitas (Kuncoro, dkk : 2002, 573). Dalam menelaah CAR bank syariah, terlebih dahulu harus dipertimbangkan, bahwa aktiva bank syariah dapat dibagi atas (Arifin, 2002): • Aktiva yang didanai oleh modal sendiri dan/kewajiban atau hutang (wadiah atau qard dan sejenisnya). 22 • Aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (Profit and loss Sharing Investment Account) yaitu mudharabah (General Investment Account/mudharabah mutlaqah, Restricted Investment Account/mudharabah muqayyadah). CAR diukur dengan membagi modal dengan dana pihak ketiga. Dilihat dari sudut perlindungan kepentingan para deposan, perbandingan antara modal dengan pos-pos pasiva merupakan petunjuk tentang tingkat keamanan simpanan masyarakat pada bank. Perhitungannya merupakan rasio modal dikaitkan dengan simpanan pihak ketiga (giro, deposito dan tabungan sebagai berikut (Arifin, 2002: 162): Rumus: C A R = TotalDanaPihakKetiga rata − ratamod al Dengan demikian, CAR sebagai salah satu indikator kemampuan bank dalam menutup penurunan aktiva sebagai akibat kerugian yang diderita bank. Besar kecilnya bank ditentukan oleh kemampuan bank dalam menghasilkan laba serta komposisi pengalokasian dana pada aktiva sesuai dengan tingkat resikonya. 8. Likuiditas a. Pengertian Likuiditas Likuiditas untuk memastikan dilaksanakannya manajemen asset dan kewajiban dalam menentukan dan menyediakan likuiditas yang cukup. Penilaian likuiditas merupakan penilaian terhadap kemampuan 23 bank untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan likuiditas yang memadai dan kecukupan manajemen resiko likuiditas. Bank dikatakan likuid apabila mempunyai alat pembayaran berupa harta lancer lebih besar dibandingkan dengan seluruh kewajibannya. Menurut Syamsudin (2007 : 41), likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban financial jangka pendak pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia, serta tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas. Sedangkan menurut Arifin (2002: 177), likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, terutama kewajiban jangka pendek. Dari sudut aktiva, likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh asset menjadi bentuk tunai (cash). Sedangkan dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana melalui peningkatan portofolio liabilitas. Menurut Riyanto (1997: 25), ada beberapa macam pengertian likuiditas, yaitu: a. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansiilnya yang segera harus dipenuhi 24 b. Likuiditas adalah kemampuan membayar tersebut yang dihubungkan dengan kewajiban finansiil untuk menyelenggarakan proses produksi c. Likuiditas dimaksudkan sebagai perbandingan antara jumlah uang tunai dengan aktiva lain yang dapat disamakan dengan uang tunai di satu pihak dengan jumlah utang lancar di lain pihak. Penilaian terhadap faktor likuiditas antara lain melalui penilaian terhadap komponen-komponen diantaranya : 1) Aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingkan dengan pasiva likuid kurang dari 1 bulan; 2) 1 month maturity mismatch ratio 3) Loan to Deposit Ratio (LDR) 4) Ketergantungan terhadap dana antarbank dan deposan inti; 5) Kebijakan dan pengelolaan likuiditas (assets and liabilities management/ ALMA); 6) Kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya; dan 7) Stabilitas Dana Pihak Ketiga (DPK). b. Ketentuan Likuiditas Wajib Bank Bank dalam melakukan kegiatan usahanya, terutama dalam penghimpunan dana, diwajibkan memelihara sejumlah likuiditas tertentu dari total dana pihak ketiga yang dihimpun oleh bankpada suatu periode 25 tertentu. Jumlah likuiditas yang wajib dipelihara oleh suatu bank harus ditempatkan dalam rekening giro bank yang bersangkutan pada Bank Indonesia. Oleh karena itu, likuiditas wajib ini disebut dengan Giro Wajib Minimum. Menurut ketentuan, besarnya GWM Rupiah adalah 5% dari total dana pihak ketiga yang dihitung rata-rata harian dalam satu minggu. Ketentuan GWM dapat dibedakan dalam dua perhitungan, yaitu GWM dalam rupiah dan GWM dalam valuta asing yang besarnya 3% dari total dana pihak ketiga dalam valas.(Siamat, 2005 : 345) c. Komponen Dana Pihak Ketiga Menurut Siamat (2005 : 345-346) yang dimasukkan ke dalam komponen dana pihak ketiga adalah kewajiban-kewajiban yang tercatat dalam rupiah kepada pihak ketiga bukan bank, baik kepada penduduk atau bukan penduduk Indonesia yang terdiri dari : 1) Giro 2) Deposito Berjangka 3) Tabungan 4) Sertifikat Deposito 5) Kewajiban jangka pendek lainnya 26 d. LDR (Loan to Deposit Ratio) Rasio ini adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Rasio likuiditas ini memberikan indikasi mengenai jumlah dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit. Rasio yang tinggi menggambarkan kurang baiknya posisi likuiditas bank. Hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayaikredit menjadi semakin besar. Umumnya, rasio sampai dengan 100% memberikan gambaran yang cukup baik atas keadaan likuiditas bank. Rumus = totaldanapihakketiga totalpembiayaan Keterangan : • Kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain). • Dana pihak ketiga mencakup giro, tabungan, deposito (tidak termasuk antar bank). • Cara menghitung nilai kredit : 1. Untuk rasio LDR sebesar 110%, atau lebih nilai kredit = 0 2. Untuk rasio LDR dibawah 110%, nilai kredit = 100 27 Jadi, bank Indonesia menetapkan rasio LDR sebesar 110%, atau bila melebihi diberi nilai kredit 0 yang artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat; dan untuk rasio LDR dibawah 110% diberi nilai kredit 100 yang artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat. Semakin tinggi rasio ini semakin buruk kondisi likuiditas bank. Bank Indonesia memberi nilai kredit nol bagi bank yang memiliki rasio sebesar 115% atau lebih berdasarkan ketentuan penilaian tingkat kesehatan bank untuk faktor likuiditas. 9. Profitabilitas, Modal dan Likuiditas dalam Perspektif Islam a. Kajian Islam tentang Profitabilitas Diantara tujuan usaha yang terpenting ialah meraih laba, yang merupakan cerminan pertumbuhan harta. Laba ini muncul dari proses pemutaran modal dan pengopersiannya dalam aksi-aksi dagang dan moneter. Islam sangat mendorong pendayagunaan harta/modal yang melarang menyimapnnya sehingga tidak habis sdimakan zakat, sehingga harta itu dapat merealisasikan peranannya dalam aktivitas ekonomi. Di dalam Islam, laba mempunyai pengertian khusus sebagaimana telah dijelaskan oleh ulama-ulama salaf dan khalaf. Hal ini terlihat ketika mereka telah menetapkan dasar-dasar perhitungan laba serta pembagiannya di kalangan mitra usaha. 28 Dalam bahasa Arab, laba berarti pertumbuhan dalam dagang. Di dalam surat al-Baqarah ayat 16, Allah berfirman, ( ) " & ! " ! # !$ % *+ 16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian laba adalah kelebihan atas modal pokok atau pertambahan pada modal pokok yang diperoleh dari proses dagang. Kelebihan yang dimaksud diatas bukan hanya kelebihan dalam hal material, namun juga bisa dimaksudkan mendapatkan kelebihan dalam iman dan taqwa. Dalam penentuan besarnya laba, para pedagang harus memperhatikan kondisi harga dalam pasar. Eksistensi harga merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah transaksi. Harga sesuatu barang dan jumlah barang yang diperjualbelikan ditentukan oleh permintaan dan penawaran barang tersebut. Oleh karena itu, untuk menganalisis mekanisme penentuan harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan, secara serentak perlulah dianalisis permintaan dan penawaran terhadap suatu barang tertentu yang wujud di pasar. Keadaan di suatu pasar dikatakan dalam keseimbangan atau ekuilibrium apabila jumlah yang ditawarkan para penjual pada suatau barang tertentu adalah sama dengan 29 jumlah yang diminta para pembeli pada harga tersebut. Dengan demikian harga suatu barang dan jumlah barang yang diperjualbelikan dapat ditentukan dengan melihat keadaan keseimbangan dalam suatu pasar. Namun, mekanisme harga itu harus tunduk kepada kaidahkaidah. Diantara kaidah-kaidah tersabut adalah pemerintah berhak untuk melakukan intervensi pasar ketika terjadi tindakan sewenang-wenang dalam pasar yang dapat menimbulkan kemudaratan bagi masyarakat. Dalam hal ini, pemerintah berhak mengeluarkan pelaku tindakan itu dari pasar. Hukuman ini berarti melarang pelaku melakukan aktivitas ekonominya di pasar, bukan merupakan hukuman maliyyah. Jadi, dengan demikian dapat diciptakan pasar yang adil dan akan melahirkan harga yang wajar dan juga tingkat laba tidak berlebihan yang tidak termasuk dalam riba. Sebagaimana ayat berikut dalam surat al- Baqarah ayat 275: " , & - . / &" ' & 0#( $%) & ( ! & ' 1 && * 0 + 2 , ( 2 - * 0 + -) - & 3 4 % . *5 3 6 # / + ) 7 " ,3 4 8 -9 / ( ) .0 1 ;< ! : = % 2 30 Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah: 275). b. Kajian Islam tentang Modal Modal sangat penting bagi jalannya sebuah usaha. Tanpa adanya modal, suatu usaha tidak bisa menjalankan operasinya. Pada dasarnya modal berasal dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Jumlahnya modal yang ada sangat menetukan perjalanan usaha seseorang. Investasi merupakan bentuk aktif dari ekonomi syariah. Dalam Islam setiap harta ada zakatnya. Jika harta tersebut didiamkan, maka lambat laun akan termakan oleh zakatnya. Salah satu hikmah dari zakat ini adalah mendorong setiap muslim untuk menginvestasikan hartanya. Harta yang diinvestasikan tidak akan termakan oleh zakat, kecuali keuntungannya saja. Investasi mengenal harga. Harga adalah nilai jual atau beli dari sesuatu yang diperdagangkan. Selisih harga beli terhadap harga jual disebut profit margin. Harga terbentuk setelah terjadinya mekanisme pasar. Suatu pernyataan penting al-Ghozali sebagai ulama besar adalah keuntungan merupakan kompensasi dari kepayahan perjalanan, risiko 31 bisnis dan ancaman keselamatan diri pengusaha. Sehingga sangat wajar seseorang memperoleh keuntungan yang merupakan kompensasi dari risiko yang ditanggungnya. Pengertian maal tidak sama dengan ra’sul maal (modal pokok) dalam konsep Islam. Adapun maal adalah lafal yang umum yang sudah dilafalkan diatas, sedangkan ra’sul maal adalah bagian dari maal yang mempunyai nilai, terakumulasi dan dapat berkembang selama mengoperasikannya di bidang yang bermanfaat dan berperan serta dalam aktifitas ekonomi.(Syahatah, 2001: 127) Yang dimaksud ra’su dalam bahasa Arab adalah atas segala sesuatu. Jadi, ra’sul-maal ialah modal awal/ pokok. Seperti firman Allah, ! " # ! $ " ! $ ' % & " % & " 279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dalam menafsirkan bagian ayat “ru’usu amwalikum” ada yang berpendapat bahwa ayat ini mujmal yaitu mengandung arti lebih dari satu. Jadi, pengertian modal awal disini adalah semua harta yang bernilai dalam pandangan syar’i yang aktifitas manusia ikut berperan serta dalam produksinya dengan tujuan pengembangan. 32 Dalam konteks modal untuk investasi, Islam sangat melarang adanya praktik membungakan uang seperti pada bank konvensional. Melakukan investasi, berarti melakukan kegiatan berani yang mengandung resiko yang bercirikan kembalian (return) yang tidak pasti dan tetap. Karena kembalian yang diperoleh itu tergantung dari usaha investasi dan perdagangan yang tidak pasti dan tidak tetap. Dengan demikian, kembalian yang sudah pasti setiap bulan seperti pada bunga bank konvensional tidak termasuk pengertian investasi. Pola perilaku investasi dibentuk sesuai dengan petunjuk al- Qur’an dan Hadits, yaitu dana yang telah terkumpul dari simpanan tidak boleh dibungakan, tetapi harus dilakukan hal berikut ini : 1) Dijadikan modal usaha perdagangan sesuai yang disebutkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ (4): 29 > ' " , ! ? @ $ > A 2 & % ? /B # $ 03 ! ? ' " ! ? 4 % ' 1&C - ! ? Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. 33 dan surat al-Baqarah ayat 275 : " , & - . / &" ' & 0#( $%) & ( ! & ' 1 && * 0 + 2 , ( 2 - * 0 + -) - & 3 4 % . *5 6 # / + ) 3 7 " ,3 4 8 -9 / ( ) .0 1 = % 2 ;< ! : Artinya: “ Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. 2) Ditanamkan pada suatu usaha yang menghasilkan barang dan jasa atau dititipkan kepada pengelola dengan system bagi hasil, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Muzaammil (73): 20 ( 2 " (& - D / $E 5 " 2 0 3 / 6 3 / , " *5 F 7 ? 0 " 8 4 46 ! $ " 8 ; G 2 0 3 ( 1 9 C ! " 8 ? 0 ? E : ;5H 2 34 < = 63 I > 2 2 " = 20 1 9 C / JC 1 B "76 B ? @ 1 8@ 1 9 4 - 3 ? 4 I : K 2 4 # $ : ; K 2 ! < A > = B !L N M -) Artinya : “ Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. c. Kajian Keislaman tentang Likuiditas Likuiditas merupakan hal yang berhubungan dengan masalah utang piutang. Kewajiban adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Hukum hutang/ kewajiban bersifat fleksibel tergantung situasi kondisi dan toleransi. Pada umumnya pinjam-meminjam hukumnya 35 sunah/ sunat bila dalam keadaan normal. Hukumnya haram jika meminjamkan uang untuk membeli narkoba, berbuat kejahatan, menyewa pelacur, dan lain sebagainya. Hukumnya wajib jika memberikan kepada orang yang sangat membutuhkan. Hutang piutang dapat memberikan banyak manfaat / syafaat kepada kedua belah pihak. Hutang piutang merupakan perbuatan saling tolong menolong antara umat manusia yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT selama tolong-menolong dalam kebajikan. Hutang piutang dapat mengurangi kesulitan orang lain yang sedang dirudung masalah serta dapat memperkuat tali persaudaraan kedua belah pihak. Jadi dalam hal ini juga berlaku dalam kegiatan usaha modern. Syariat mewajibkan yang memiliki hutang agar segera melunasinya dan haram baginya menunda-nunda pembayaran. Bila dia menunda-nundanya, maka dia telah berdosa dan melanggar larangan. Adapun dalil tentang ini adalah a) Surat an-nisa’ 58 > ! ?/ I & ? - " : 8 $ & ? ! % ( ,# / ?4 J O $ = ; K 6 @ 0 P C Artinya: “ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. 36 Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. Jadi ayat ini memerintahkan untuk menunaikan amanat termasuk didalamnya adalah melunasi utangnya, bagi yang mampu melakukannya, dan melarang menunda-nundanya. Allah memerintahkan agar selalu menyampaikan amanat dalam segala bentuknya, baik amanat perorangan, seperti dalam jual-beli, hukum perjanjian maupun amanat perusahaan. Mereka tanpa kecuali memikul beban untuk memelihara dan menyampaikan amanat. b) Al-Baqarah 280 %% AB 9 BB > 8 AB 9 A 15 $ * K 2 6 % & " N 280. Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Arahan dalil ini adalah bahwa Allah SWT memerintahkan untuk memberikan tenggang waktu bagi orang yang mengalami kesulitan. Jadi, dalam hal ini Islam memperbolehkan kegiatan utang dari satu pihak ke pihak lain, dengan syarat ada waktu jatuh tempo untuk melunasi kewajiban tersebut, termasuk dalam hal likuiditas. 37 C. KERANGKA KONSEPTUAL Keterangan : Modal merupakan faktor penting dalam mengembangkan usaha. Salah satu manfaat modal bank adalah memberi keamanan terhadap investasi dengan memperkecil kemungkinan terjadinya insolvensi atau kebangkrutan. Semakin besar jumlah modal bank, atau dengan kata lain CAR yang tinggi, maka semakin rendah ROA-nya. Oleh karena itu dalam menentukan jumlah modal, manajemen bank harus memutuskan seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh dengan kenaikan jumlah modal karena kenaikan modal tersebut akan dapat menurunkan ROE akibat naiknya permodalan bank. (Siamat, 2005 : 291). Sedangkan dalam pemenuhan likuiditas bank, yang dalam hal ini menggunakan LDR (Loan to Deposit Ratio), diduga ada pengaruh antara LDR terhadap ROA, karena terlalu banyak likuiditas akan mengorbankan tingkat pendapatan terlalu sedikit akan berpotensi untuk meminjam dana dengan harga yang yang tidak dapat diketahui sebelumnya, yang dapat berakibat meningkatkan biaya dan akhirnya menurunkan profitabilitas. Capital Adequacy Ratio (X1) Return On Asset (Y) Loan to Deposit Ratio (X2) BOPO (X3) 38 Terlebih bank syariah yang dilarang melakukan peminjaman dana yang berbasis bunga, tentu akan sulit memperoleh dana. (Arifin, 2002 : 70). Dalam mengetahui kemampuan efisiensi kegiatan operasional bank, dapat diukur dengan rasio BOPO. Semakin kecil rasio ini akan lebih baik, karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya operasional dengan pendapatan operasional, sehingga dapat meningkatkan profitabilitas yang ingin dicapai.(sopo hal 722). D. Hipotesis Hipotesis menurut Nisfiannoor ( 2009: 8) adalah dugaan sementara mengenai hasil dari penelitian yang akan dilaksanakan. Hipotesis sangat diperlukan dalam penelitian ilmiah karena keberadaan hipotesis dapat mengarahkan penelitian. Dalam penelitian ini, terdapat hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga ada pengaruh secara simultan dari variabel CAR, LDR dan BOPO terhadap variabel ROA. 2. Diduga ada pengaruh yang dominan diantara ketiga variabel tersebut terhadap variabel ROA sebagai variabel dependent. 39 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Bank Syariah Mandiri. Bank Syariah Mandiri merupakan usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT. Bank Susila Bakti dan Manajemen PT. Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah dilingkungan PT. Bank Mandiri (Persero). PT. Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT. Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia. B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang tidak mementingkan kedalaman data, tetapi mementingkan perekaman data sebanyak-banyaknya dari populasi yang luas.(Masyhuri dan Zainuddin, 2008:13) dengan analisis deskriptif, dimana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara variabel bebas 40 terhadap variabel terikatnya. Pendekatan deskriptif adalah mengadakan kegiatan pengumpulan data dan analisis data dengan tujuan untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Selain itu, pada penelitian ini juga menggunakan pendekatan asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel.(Sugiyono, 1999: 11). Pada penelitian terdapat empat variabel yaitu CAR (kecukupan modal), LDR (likuiditas) dan BOPO sebagai variabel independent, sedangkan ROA (profitabilitas) sebagai variabel dependent. C. Populasi dan sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. (Sugiono , 1999: 72) Sedangkan menurut Moh. Pabundu Tika (2006: 33), populasi adalah himpunan individu atau obyek yang banyaknya terbatas dan tidak terbatas. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondisi keuangan bank Syariah Mandiri yang meliputi semua kegiatan keuangan yang terjadi. 41 Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dmiliki oleh populasi tersebut. (Sugiono , 1999: 73). Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan bulanan pada periode Januari 2006 sampai Desember 2008. D. Data dan Jenis Data Data adalah sekumpulan bukti atau fakta yang dikumpulkan dan disajikan untuk tujuan tertentu. (Tika , 2006: 57). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi di luar dari peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Data yang diambil adalah berupa laporan keuangan berdasarkan data bulanan yang dimulai dari bulan Januari 2006 – Desember 2008. E. Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data tersebut menggunakan dokumentasi yaitu dengan cara mencari dan mengunpulkan data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dll.(Arikunto, 2006: 231). Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi data mengenai variabel yang diteliti yaitu CAR, 42 LDR dan BOPO sebagai variabel independent, serta variabel ROA sebagai variabel dependent. Adapun prosedur pengumpulan data dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah: penelitian kepustakaan (Library Research) yang bertujuan untuk memperoleh data sekunder dan untuk mengetahui indikator-indikator dari variabel yang diukur. Penelitian ini juga berguna sebagai pedoman teoritis pada waktu melakukan penelitian lapangan serta untuk mendukung dan menganalisis data, yaitu dengan cara mempelajari literatur-literatur yang relevan dengan topik yang sedang diteliti. F. Definisi Operasional Variabel menurut Sutrisno Hadi (Arikunto, 2006: 116) dapat diartikan sebagai gejala yang bervariasi, artinya bahwa terdapat objek penelitian yang bervariasi. Menurut Nisfiannoor (2009: 7) mengemukakan bahwa ada dua variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : 1. Variabel independen atau variabel bebas, anteseden, atau predictor merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau munculnya dependent variabel yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol X. 2. Variabel dependen atau variabel terikat, konsekuensi atau kriterium merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari independent variabel yang selanjutnya dinyatakan dengan simbol Y. 43 Adapun variabel-variabel yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Variabel Bebas (X), Variabel bebas merupakan variabel yang diduga mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: CAR (X1), LDR (X2) dan BOPO (X3) a. CAR (X1), Variabel ini diukur dengan CAR yang menunjukkan bahwa seberapa besar kecukupan modal dalam membiayai operasi perusahaan. Tingkat kecukupan ini dapat diukur dengan cara membandingkan modal dengan Dana Pihak Ketiga (DPK). (Arifin, 2002: 161) b. LDR (X2) Variabel likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan LDR. Rasio likuiditas ini memberikan indikasi mengenai jumlah dana pihak ketiga yang disalurkan dalam bentuk kredit. Rasio yang tinggi menggambarkan kurang baiknya posisi likuiditas bank. Umumnya, rasio sampai dengan 100% memberikan gambaran yang cukup baik atas keadaan likuiditas bank.(Siamat, 2005 : 344) c. BOPO Rasio ini adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkaat efisiensi 44 dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasional. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa usaha utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit, sehingga beban bunga dan hasil bunga merupakan porsi terbesar bagi bank. 2. Variabel Terikat (Y) Profitabilitas sebagai kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat efektifitas yang dicapai melalui usaha operasional bank. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan sekaligus sebagai variabel terikat adalah ROA, yaitu rasio yang mengukur kemampuan bank menghasilkan laba secara keseluruhan. G. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian agar dapat diinterpretasikan dan mudah dipahami adalah: 1. Analisis Deskriptif Penggunaan analisis deskriptif ini ditujukan untuk mengetahui gambaran kondisi CAR (Kecukupan Modal), LDR (Likuiditas) dan BOPO terhadap ROA (profitabilitas) perusahaan yang dikomparasikan secara eksternal, yaitu melibatkan satu perusahaan yang dibandingkan dengan kondisi rata-rata dari seluruh objek penelitian. 45 2. Analisis Regresi Berganda Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Regresi berganda berguna untuk meramalkan pengaruh dua variabel prediktor atau lebih terhadap satu variabel kriterium atau untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional antara dua buah variabel bebas (X) atau lebih dengan sebuah variabel terikat (Y) (Usman, 2003: 241). Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh capital adequacy ratio, loan to deposit ratio dan BOPO terhadap return on asset pada Bank Syariah Mandiri periode 2006-2008. Formulasi persamaan regresi berganda sendiri adalah sebagai berikut: Y = a + b1 X1 + b2X2 + b3 X3 + e Dimana: Y : Return On Asset a : Bilangan Konstanta b1, b2, b3 : Koefisien Regresi X1 : capital adequacy ratio X2 : loan to deposit ratio X3 : BOPO E : Variabel Pengganggu 46 3. Uji t atau Uji Parsial Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu pengaruh dari masingmasing variabel independen yang terdiri atas CAR (kecukupan modal), LDR (likuiditas) dan BOPO terhadap ROA (profitabilitas) yang merupakan variabel dependennya. Seperti halnya dengan uji hipotesis secara simultan, pengambilan keputusan uji hipotesis secara parsial juga didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS Statistik Parametrik (Santoso 2004:168) sebagai berikut: a. menentukan formulasi hipotesisi H0 : tidak ada pengaruh X1, X2 dan X3 terhadap Y H1 : ada pengaruh X1, X2 dan X3 terhadap Y b. menentukan taraf nyata dan t tabel • Taraf nyata yang digunakan biasanya 5% (0,05) atau 1% (0,01) untuk uji satu arah dan 2,5% atau 5% untuk uji dua arah. • Nilai t tabel memiliki derajat kebebasan (db) = n-2 c. menentukan kriteria pengujian 1) untuk H0 : tidak ada hubungan antara CAR terhadap ROA untuk H1 : ada pengaruh antara CAR terhadap ROA Jika t0 < ta maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika t0 < ta maka H0 ditolak dan H1 diterima 47 2) Untuk H0 : tidak ada hubungan antara LDR terhadap ROA Untuk H1 : ada pengaruh antara LDR terhadap ROA Jika t0 < ta maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika t0 < ta maka H0 ditolak dan H1 diterima 3) Untuk H0 : tidak ada hubungan antara BOPO terhadap ROA Untuk H1 : ada pengaruh antara BOPO terhadap ROA Jika t0 < ta maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika t0 < ta maka H0 ditolak dan H1 diterima d. menentukan nilai uji statistic (nilai t0) t0 = e. kesimpulan hipotesis Menyimpulkan H0 atau H1 diterima Pada uji t, nilai probabilitas dapat dilihat pada hasil pengolahan dari program SPSS pada tabel coefficients kolom sig atau significance. Menurut Nisfiannoor (2009: 9), besar peluang kesalahan (tertulis “sig” pada output program SPSS) dilihat pada taraf signifikansi: 1). jika sig (p) 0,01, maka dinyatakan sangat signifikan. 2). jika sig (p) 0,05, maka dinyatakan signifikan. 3). jika sig (p) > 0,05, maka tidak signifikan. 48 4. Uji F atau Uji Simultan Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen dari suatu persamaan regresi dengan menggunakan hipotesis statistik. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS Statistik Parametrik (Santoso 2004:168) sebagai berikut: a. menentukan formulasi hipotesisi H0 : tidak ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y H1 : ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y b. menentukan taraf nyata dan t tabel • Taraf nyata yang digunakan biasanya 5% (0,05) atau 1% (0,01) untuk uji satu arah dan 2,5% atau 5% untuk uji dua arah. • Nilai t tabel memiliki derajat kebebasan (db) = n-2 c. menentukan kriteria pengujian - untuk H0 : tidak ada pengaruh secara simutan antara variabel independent terhadap variabel dependent - untuk H1 : ada pengaruh secara simutan antara variabel independent terhadap variabel dependent Jika t0 < ta maka H0 diterima dan H1 ditolak Jika t0 < ta maka H0 ditolak dan H1 diterima d. menentukan nilai uji statistic (nilai t0) 49 t0 = e. Kesimpulan Hipotesis Menyimpulkan H0 atau H1 Nilai probabilitas dari uji F dapat dilihat pada hasil pengolahan dari program SPSS pada tabel ANOVA kolom sig atau significance. 5. Koefisien Determinasi Koefisien determinasi (R2) dari hasil regresi berganda menunjukkan seberapa besar variabel dependen bisa dijelaskan oleh variabel-variabel bebasnya (Santoso 2004:167). Dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda maka masing-masing variabel independent yaitu CAR, LDR dan BOPO secara parsial dan secara simultan mempengaruhi variabel dependen yaitu ROA yang dinyatakan dengan R2 untuk menyatakan koefisien determinasi atau seberapa besar pengaruh CAR, LDR dan BOPO terhadap ROA. Sedangkan r2 untuk menyatakan koefisien determinasi parsial variabel independent terhadap variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi adalah 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati nol, maka semakin kecil pula pengaruh semua variabel independent terhadap nilai variabel dependen (dengan kata lain semakin kecil kemampuan model dalam menjelaskan perubahan nilai variabel dependen). 50 Sedangkan jika koefisien determinasi mendekati 1 maka dapat dikatakan semakin kuat model tersebut dalam menerangkan variasi variabel independent terhadap variabel terikat. Angka dari R square didapat dari pengolahan data melalui program SPSS yang bisa dilihat pada tabel model summery kolom R square. 6. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi benar-benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representatif. Ada empat pengujian dalam uji asumsi klasik, yaitu: a. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independen) (Santoso, 2000: 203). Apabila terjadi korelasi antara variabel bebas, maka terdapat problem multikolinieritas (multiko) pada model regresi tersebut. Deteksi adanya multikolineriaritas yaitu besaran VIF (variance inflation faktor) dan Tolerance. Model regresi yang bebas multikolinearitas adalah : 1. Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1. 2. Mempunyai angka tolerance mendekati 1. 51 Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah koefisien korelasi antar variabel independent haruslah lemah di bawah 0,05. Jika korelasi kuat maka terjadi problem multiko (Santoso, 2004:207). b. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas ditujukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastis dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas (Santoso, 2000: 208). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat diketahui dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara nilai prediksi variabel terikat (SRESID) dengan residualnya (ZPRED) di mana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi รข€“ Y sesungguhnya). Dasar analisis dari uji heteroskedastis melalui grafik plot menurut Santoso (2000: 210) adalah sebagai berikut: 1). Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. 52 2). Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. c. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi autokorelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.(Santoso, 2000: 216). Untuk memeriksa ada tidaknya suatu autokorelasi bisa dilihat pada tabel D-W, yang bisa dilihat pada buku statistik yang relevan. Namun demikian secara umum bisa diambil patokan (Santoso, 2000: 218) 1) Angka D-W dibawah – 2 berarti ada autokorelasi positif. 2) Angka D-W diantara – 2 sampai + 2, berarti tidak ada autokorelasi. 3) Angka D-W diatas +2 berarti ada autokorelsi negatif. d. Uji Normalitas Uji asumsi ini untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependent, variabel independent atau keduanya mempunyai 53 distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.(Santoso, 2000; 212) Untuk mendeteksinya dengan melihat penyebarandata (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan keputusannya yaitu: 1) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. 2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. 54 BAB IV PAPARAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Paparan Data Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Perusahaan Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis politik nasional telah membawa dampak besar dalam perekonomian nasional. Krisis tersebut telah mengakibatkan perbankan Indonesia yang didominasi oleh bank-bank konvensional mengalami kesulitan yang sangat parah. Keadaan tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa mengambil tindakan untuk merestrukturisasi dan merekapitalisasi sebagian bank-bank di Indonesia. Lahirnya Undang-Undang No. 10 tahun 1998, tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan, pada bulan November 1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-Undang tersebut memungkinkan bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau dengan membuka cabang khusus syariah. PT Bank Susila Bakti (PT Bank Susila Bakti) yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT 55 Mahkota Prestasi berupaya keluar dari krisis 1997 - 1999 dengan berbagai cara. Mulai dari langkah-langkah menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi bank syariah dengan suntikan modal dari pemilik. Dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, BankExim dan Bapindo) ke dalam PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi bank syariah (dengan nama Bank Syariah Sakinah) diambil alih oleh PT Bank Mandiri (Persero). PT Bank Mandiri (Persero) selaku pemilik baru mendukung sepenuhnya dan melanjutkan rencana perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi bank syariah, sejalan dengan keinginan PT Bank Mandiri (Persero) untuk membentuk unit syariah. Langkah awal dengan merubah Anggaran Dasar tentang nama PT Bank Susila Bakti menjadi PT Bank Syariah Sakinah berdasarkan Akta Notaris: Ny. Machrani M.S. SH, No. 29 pada tanggal 19 Mei 1999. Kemudian melalui Akta No. 23 tanggal 8 September 1999 Notaris: Sutjipto, SH nama PT Bank Syariah Sakinah Mandiri diubah menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Pada tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP. BI/1999 telah 56 memberikan ijin perubahan kegiatan usaha konvensional menjadi kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah kepada PT Bank Susila Bakti. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia No. 1/1/KEP.DGS/1999 tanggal 25 Oktober 1999, Bank Indonesia telah menyetujui perubahaan nama PT Bank Susila Bakti menjadi PT Bank Syariah Mandiri. Senin tanggal 25 Rajab 1420 H atau tanggal 1 November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT Bank Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT Bank Susila Bakti dan Manajemen PT Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah dilingkungan PT Bank Mandiri (Persero). PT Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengkombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia. a. Visi dan Misi Perusahaan 1.) Visi Perusahaan Menjadi bank Syari’ah terpercaya pilihan mitra usaha 57 2.) Misi Perusahaan a). Menciptakan suasana proses Bank Syari’ah agar dapat berkembang dengan mendorong terciptanya syarikat dagang yang terkoordinasi dengan baik. b). Mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan melalui sinergi dengan mitra strategis agar dapat menjadi Bank Syari’ah terkemuka di Indonesia yang mampu meningkatkan nilai bagi para pemegang saham dan kemaslahatan bagi masyarakat luas. c). Memperkerjakan pegawai yang profesional dan sepenuhnya mengerti operasional perbankan Bank Syari’ah. d). Menunjukkan komitmen terhadap standar kinerja operasional perbankan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir, serta memegang teguh prinsip keadilan, keterbukaan dan kehatihatian. e). Mengutamakan mobilisasi pendanaan dari golongan masyarakat menengah dan ritel, memperbesar portofolio pembiayaan untuk sekala menengah dan kecil, serta mendorong terwujudnya manajemen zakat, infaq dan shodaqah yang lebih efektif sebagai cerminan kepedulian sosial. 58 f). Meningkatkan permodalan sendiri dengan mengundang perbankan lain, segenap lapisan masayarakat dan investor asing. b. Budaya (Corporate Culture) perusahaan Sebagai Bank yang beroperasi atas dasar prinsip Syari’ah, Bank Syari’ah mandiri menetapkan budaya perusahaan yang mengacu pada sikap “Akhlakul Karimah” (budi pekerti yang mulia), yaitu sikap pribadi yang terangkum dalam lima nilai utama yang disingkat dengan “SIFAT”, antara lain yaitu : 1. Shiddiq (Integrity) Menjaga martabat dengan integritas diawali dengan niat, berhati tulus, berfikir jernih, bicara benar, sikap terpuji dan perilaku teladan. 2. Istiqamah (Consistensy) Konsisten adalah kunci menuju sukses ; berpegang teguh, komitmen, sikap optimis, pantang menyerah, kesabaran dan percaya diri. 3. Fathonah (Professionalism) Profesional adalah gaya kerja kami ; semangat belajar berkelanjutan, cerdas, inovatif, terampil dan adil. 4. Amanah (Responsible) 59 Terpercaya karena penuh tanggung jawab ; menjadi terpercaya, cepat tanggap, objektif, akurat dan disiplin. 5. Tabligh (Leadership) Kepemimpinan berlandaskan kasih sayang ; selalu transparan, visioner, komunikatif dan memperdayakan. c. Struktur Organisasi Instansi/Perusahaan Pengelolaan Bank Syari’ah Mandiri Cabang Malang sebagai lembaga keuangan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu struktur organisasi pusat dan struktur organisasi cabang. Oleh karena itu struktur organisasi cabang dibentuk untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut. Adapun struktur organisasi PT. Bank Syari’ah Mandiri Cabang Malang yaitu sebagai berikut: 60 Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Bank Syari’ah Mandiri Sumber : www.syariahmandiri.com , 2009 Account Officer Kepala Cabang Marketing Manager Operation Manager Funding Officer Customer Service Officer Head Teller CS Representatif Teller Pelaksana Admin Pembiayaan & TS IT Coordinator *) Pelaksana SDI & GA *) Pelaksana Accounting *) D K P PKP Kantor Cabang Pembantu/Unit Pelayanan Syariah Kantor Kas Struktur Organisasi Cabang Kelas II Pelaksana Marketing Support KLS **) Catatan *) Termasuk melayani KCP/KK/KLS dibawah koordinasi Cabang ybs **) Konter Layanan Syariah (kantor setingkat KK) Pelaksana D & C - Satpam - Messenger - Driver - Office Boy Back Office Officer Sumber data : Bagian Personalia dan Umum, 2009 61 d. Ruang Lingkup Kegiatan dari Instansi/Perusahaan PT Bank Syari’ah Mandiri bentuk usaha keuangan yang menagani beberapa usaha yaitu: 1). Menghimpun dan mengelola dana, dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing yang berasal dari masyarakat, pemerintah maupun pihak ketiga lainnya 2). Membiayai transaksi perdagangan dalam negri dan luar negri serta membantu pengembangan usaha yang bersifat konsumtif, produktif maupun infestasi 3). Melaksanakan perdagangan valuta asing 4). Menerbitkan obligasi (surat berharga perusahaan) 5). Melaksanakan pembayaran pajak, zakat, telpon, PLN e). Produk dan Jasa Bank Syari’ah Bank syari’ah memiliki peran sebagai perantara (Intermediasi) antar unit-unit ekonomi yang mengalami kelebihan (surplus unit), melalui bank kelebihan tersebut disalurkan kepada pihak-pihak yang memerlukan dan memberikan manfaat kepada kedua belah pihak. Kualitas Bank Syari’ah sebagai lembaga perantara ditentukan oleh kemampuan manajemen Bank untuk melaksanakan perannya. Dalam Bank Syari’ah hubungan antara Bank dengan nasabah bukan hubungan debitur dengan kreditur, melainkan hubungan 62 kemitraan (Partnership) antara penyandang dana (Shohibul Maal) dengan pengelola dana (Mudharib). Oleh karena itu tingkat laba Bank Syari’ah tidak saja berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil yang dapat diberikan kepada nasabah penyimpan dana. Hubungan kemitraan ini merupakan bagian yang pas dari proses berjalannya mekanisme Bank Syari’ah. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan permodalan dan memenuhi kebutuhan pembiayaan, Bank Syari’ah memiliki ketentuanketentuan yang berbeda dengan Bank konvensional. Adapun piranti Syari’ah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan Bank Syari’ah dapat dibagi menjadi tiga produk, yaitu : 1) Penyaluran Dana Penyaluran Dana Bank Syari’ah terdiri dari hasil, pembiayaan, pinjaman dan investasi khusus. Adapun metode penyaluran dana Bank Syari’ah dapat di ilistrasikan sebagai berikut: Dalam penyaluran dana nasabah, secara garis besar produk pembiayaan Syari’ah terbagi ke dalam 3 berdasarkan tujuan penggunaannya yaitu : 1) Prinsip jual-beli Prinsip jual beli dilaksanakan sehubunga dengan adanya perpindahan kepemilikan barang. Transaksi jual beli di bedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu penyerahan barang. Ada 3 jual beli yang di jadikan dasar dalam pembiayaan 63 modal kerja dan investasi dalam perbankan Syari’ah, yaitu Ba’i al- Murabahah, Ba’I Al-Salam dan Ba’I AlIstnha. 2) Prinsip Sewa 3) Prinsip Bagi Hasil Pada kategori pertama dan kedua, tingkat keuntungan banyak ditentukan didepan dan menjadi bagian harga atas barang atau jasa yang di jual. Produk yang termasuk dalam kelompok ini adalah produk yang menggunakan prinsip jual-beli seperti Murabahah, Salam, dan Istishna serta produk yang menggunakan prinsip sewa atau ijarah. Pada tingkat ke 3, tingkat keuntungan Bank di tentukan dari besarnya keuntungan usaha dengan prinsip bagi hasil. Pada prinsip bagi hasil keuntungan di tentukan oleh nisbah bagi hasil yang disepakati di muka. Produk yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Musyarakah dan Mudharabah. 2) Produk a) Tabungan Kurban Tabungan kurban Bank Syari’ah Mandiri adalah kegiatan menghimpun dana masyarakat dengan prinsip Mudharabah Mutlaqah. Khususnya kaum Muslimin guna menyimpan dana untuk keperluan ibadah Qurban atau Aqiqah yang dikelolah oleh Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Republika. 64 b) Tabungan Infesta Cendekia Tabungan Infesta Cendekia adalah tabungan berjangka dalam valuta rupiah dengan jumlah setoran bulanan dan tetap di sertai manfaat perlindungan asuransi, prinsip yang digunakan adalah Mudharabah Mutlaqah. c) Tabungan Mambrur Tabungan Mabrur adalah tabungan haji dan umroh dengan sistem SISKOHAT yang on-line dengan DEPAG, nasabah akan mendapatkan Nomor secara otomatis yang menjamin keberangkatan nasabah begitu nasabah membuka rekening tabungan haji dan tabungan mambrur. Selama porsi haji dan umroh tersedia, tabungan ini berdasarkan prinsip Mudharabah Mutlaqah dengan bagi hasil antara nasabah dengan Bank. d) Deposito Deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dana dengan Bank yang bersangkutan. Penerimaan dan dalam dalam bentuk deposito berjangka pada umumnya berdasarkan prinsip Mudharabah. Kepada deposan akan di berikan imbalan atas dasar pembagian keuntungan yang telah di tetapkan dan telah di setujui sebelumnya. 65 e) Tabungan Penyelenggaraan tabungan dalam perbakan menurut Syari’ah Islam didasarkan pada konsep Mudharabah, di Bank Syari’ah Mandiri produk ini dinamakan dengan produk Mudharabah. Dana yang terhimpun dari produk tabungan ini akan di salurkan untuk kegiatankegiatan produktif dan di harapkan memberikan hasil atau profit. Keuntungan dari kegiatan produktif inilah yang sebagian di bagikan kepada nasabah penabung dengan sistem bagi hasil dengan cara di kreditkan secara otomatis ke rekening tiap-tiap penabung di setiap akhir bulan. Bagi hasil yang terdapat di Bank Syari’ah Mandiri adalah 45% nasabah 55% Bank Syari’ah Mandiri. f) Giro Wadi’ah Giro Wadi’ah adalah titipan dari pihak nasabah ke pihak lain (pihak), baik individu maupun kelompok yang harus di jaga dan di kembalikan setiap saat bila pemilik dan dan menghendakinya. Jenis giro yang ditawarkan adalah Giro Wadi’ah (Giro Wadi’ah Al-damanah) di mana penerima titipan berhak untuk memanfaatkan titipan dana tersebut seijin pemiliknya, tetapi menjamin untuk mengembalikan titipan dana tersebut utuh setiap saat bila nasabah menghendakinya. Karena merupakan titipan, maka segala keuntungan yang di peroleh dari pemanfaatan dana tersebut menjadi milik Bank demikian juga bila terjadi kerugian. Namun karena telah memanfaatkan titipan, 66 maka sebagai imbalannya dapat memberikan bonus yang besarnya berdasarkan kebijaksanaan dewan direksi. 3) Jasa Perbankan Bank Syari’ah dapat melakukan berbagi pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapatkan imbalan berupa sewa atau keuntungan. Jasa perbankan tersebut antara lain berupa : 1). Al-Sharf Al-Sharf adalah penambahan, penukaran, memalingkan. Transaksi jual-beli mata uang asing dapat dilakukan dengan sesama mata uang yang sejenis, jual beli mata uang yang tidak sejenis harus dikukan pada waktu yang sama (SPOT). 2). Al-Ijarah Jenis kegiatan antara menyewakan lotan simpanan (save deposit box) dan jasa data-data laksana administrasi dokumen (custodian). Disamping layanan jasa perbankan tersebut diatas ada beberapa produk jasa prbankan yang lain yang di dukung oleh teknologi perbankan mutakhir yang real time dan online antara lain: a) BSM b) SMS Banking c) BSM Intercity Clearing d) Bank Syari’ah Mandiri RTGS (Real Time Gross Settlement) e) BSM Overseas Transfer 67 f) BSM LC (Letter Of Credit) g) BSM Elektronik Payrol 2. Analisis Capital Adequacy Ratio (CAR) CAR merupakan rasio untuk mengukur tingkat kecukupan modal bank (Arifin, 2002:161). CAR ini dapat diukur dengan cara membandingkan rata-rata modal dengan total dana pihak ketiga. Dilihat dari perlindungan kepentingan para deposan, perbandingan antara modal dengan pos-pos pasiva merupakan petunjuk tentang tingkat keamanan simpanan masyarakat pada bank. Perhitungan merupakan rasio modal dikaitkan dengan simpanan pihak ketiga (giro, deposito, dan tabungan). Dari analisa perhitungan diatas, dapat diperoleh data-data besarnya CAR pada tahun 2006, 2007, dan 2008 dalam masing-masing bulan sebagai berikut: Table 4.1 data Capital Adequacy Ratio (CAR) Bulan 2006 2007 2008 Januari 13,15 15,11 13,51 Februari 13,22 15,99 12,86 Maret 12,67 16,50 12,03 April 12,28 16,02 11,65 Mei 11,96 15,97 11,76 Juni 11,51 14,80 12,28 Juli 11,73 14,44 12,04 Agustus 11,80 14,10 11.92 September 11,95 13,71 11,54 Oktober 12,91 12,55 11,35 November 12,46 12,93 11,68 Desember 12,56 12,43 12,66 Sumber : Data Laporan Ikhtisar Keuangan 68 Dalam table diatas, rata-rata tingkat kecukupan modal pada tahun 2006 sebesar 12,37%, pada tahun 2007 sebesar 14,72%, serta pada tahun 2008 sebesar 12,12%. Dapat dijelaskan bahwa dalam rata-rata CAR pada masing-masing tahun, Bank Syariah Mandiri tersebut mengalami penurunan dari tahun 2006 ke 2007 dan mengalami penurunan lebih tajam dari tahun 2007 ke 2008. Hal ini disebabkan karena aset perusahaan per 31 Desember 2008 juga naik menjadi Rp 17,07 triliun, lebih tinggi 32,44 persen dibandingkan 2007 sebesar Rp 12,88 triliun. Peningkatan total aset tersebut didorong pertumbuhan dana pihak ketiga yang naik 34,15 persen dari Rp 11,11 triliun pada akhir 2007 menjadi Rp 14,9 triliun pada akhir 2008. Modal perseroan pun ikut menguat yang ditandai peningkatan sebesar 48,94 persen atau Rp 397,05 miliar dari Rp 811,376 miliar di 2007 menjadi Rp 1,21 triliun per 31 Desember 2008.(www.Tempointeraktif.com) Pertumbuhan nilai CAR dari bulan ke bulan dalam tiap tahunnya mengalami stagnan. Pada bulan Januari 2006 sebesar 13,56, naik menjadi sebesar 15,11 pada 2007 dan kembali turun pada 2008 sebesar 13,56. Hal ini dikarenakan modal yang dimiliki Bank Syariah Mandiri pada 2007 lebih besar dibandingkan tahun 2006 dan 2008, sedangkan dana pihak ketiga yang diperoleh pada tahun 2007 lebih kecil, sehingga akan mempengaruhi perolehan tingkat CAR yang lebih tinggi dari tahun 2006 dan 2008. Sedangkan pada bulan-bulan yang lain hamper sama kondisinya dengan bulan Januari, seperti dalam diagram berikut ini : 69 Gambar 4.1 Diagram CAR (dalam %) Dapat dilihat dari diagram diatas bahwa dalam rata-rata CAR pada masing-masing tahun, Bank Syariah Mandiri tersebut mengalami penurunan dari tahun 2006 ke 2007 dan mengalami penurunan lebih tajam dari tahun 2007 ke 2008. Meskipun dari nilai CAR rata-rata per tahun 2007 lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2006, namun pada tahun 2007 berdasarkan data bulanan menunjukkan nilai CAR paling tinggi. Gambaran statistik ini dikarenakan pada tahun 2007 menunjukkan nilai CAR tidak stabil, bulan Maret yang menunjukkan nilai CAR yang tertinggi sebesar 16,50% dan pada bulan desember yang terendah sebesar 12,43. Hal ini berarti kondisi modal dan dana pihak ketiga yang diperoleh bank tersebut harus diatur dengan baik, karena kondisi ini jauh diatas ketentuan penyediaan modal yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yakni sebesar 8%. Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan bank dalam menjalankan operasinya, apabila kondisi CAR terlalu tinggi, serta akan mempengaruhi tingkat laba yang akan diperoleh. 70 3. Analisis Loan to Deposit Ratio (LDR) Loan to Deposit Ratio adalah rasio likuiditas yang menunjukkan indikasi mengenai jumlah dana pihak ketiga yang disalurkan dalam kegiatan pembiayaan. Dalam perhitungan LDR diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.2 Data Loan to Deposit Ratio (LDR) Bulan 2006 2007 2008 Januari 79.88 86.48 89.01 Februari 81.98 85.97 89.53 Maret 87.75 87.32 91.05 April 90.54 87.95 88.17 Mei 91.51 87.39 89.89 Juni 93.46 95.64 89.21 Juli 98.07 95.58 91.98 Agustus 95.38 96.61 98.89 September 95.43 94.22 99.10 Oktober 95.42 95,45 97.46 November 94.37 95.29 95.29 Desember 90.18 92.98 89.12 Sumber : Data LDR Laporan Ikhtisar Keuangan, 2009 Dari data-data tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa pada tahun 2006 rata-rata besarnya LDR sebesar 90,68, untuk tahun 2007 sebesar 91,40, dan sebesar 92,39 pada tahun 2008, seperti dalam diagram berikut ini : Gambar 4.2 Rata-Rata Loan to Deposit Ratio (dalam %) 71 Dari gambar tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat LDR Bank Syariah Mandiri dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 mengalami peningkatan yang menunjukkan semakin membaiknya tingkat likuiditas Bank Syariah mandiri tersebut. FDR/LDR idealnya berada pada posisi 80%-90%. Posisi FDR perbankan syariah terlalu tinggi akan menjadi ancaman serius bagi likuiditas bank. Dampak masalah likuiditas bisa sangat serius dan membuat suatu bank gagal melakukan kegiatan operasionalnya. Kondisi ini lebih menakutkan ketimbang lonjakan rasio pembiayaan bermasalah.(www.syariahmandiri.co.id) Tingkat LDR Bank Syariah Mandiri sebesar itu tidak terlepas dari ekspansi pembiayaan yang dilakukan oleh bank tersebut. Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Yuslam Fauzi mengatakan pembiayaan Bank Syariah Mandiri sepanjang 2008 meningkat 28,59 persen dari Rp 10,33 triliun pada 2007 menjadi Rp 13,28 triliun di akhir 2008. Pendapatan berbasis biaya jasa juga naik signifikan dari Rp 209,96 miliar di 2007 menjadi Rp 300,99 miliar pada 2008. Peningkatan penyaluran pembiayaan menjadi pendongkrak meningkatnya laba selama 2008. Pendapatan berbasis biaya jasa (fee based income) dan efisiensi juga ikut menyumbang kenaikan laba perusahaan. (www.tempointeraktif.com) Bank Syariah mandiri mencatatkan lonjakan laba hingga 70,12 persen dari Rp 115,45 miliar pada 2007 menjadi Rp 196,42 miliar pada akhir 2008. Jadi, jelaslah bahwa semakin besar tingkat LDR suatu bank 72 maka akan menjadikan laba yang diperoleh oleh bank tersebut menjadi meningkat. Dengan semakin meningkatnya laba yang diperoleh, maka akan meningkatkan pula return modal yang akan diperoleh. 4. Analisis BOPO Rasio BOPO adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasional. Dalam laporan keuangan Bank Syariah Mandiri dengan perhitungan manual dengan mempertimbangkan perbandingan antara biaya operasional terhadap pendapatan operasional, maka diperoleh data-data sebagai berikut: Tabel 4.3 Data BOPO (dalam %) Bulan 2006 2007 2008 Januari 38,27096 31,17267 46,72372 Februari 40,37518 51,90944 49,71878 Maret 46,8899 60,77732 48,49581 April 47,0492 56,51203 51,63236 Mei 48,68398 51,79107 48,47081 Juni 44,67315 44,3237 46,35761 Juli 50,68522 58,17322 47,60104 Agustus 62,81083 52,53346 42,74788 September 49,92382 48,5035 55,64359 Oktober 74,20454 44,34624 November 40,58421 52,46726 43,01428 Desember 38,94559 57,15996 44,66252 Sumber : Olahan penulis, 2009 Dari tabel diatas, dapat dikemukakan bahwa pada tahun 2006 rata-rata sebesar 48,59%, pada 2007 rata-rata sebesar 51,39%, sedangkan rata-rata pada 2008 sebesar 47,57%. Perkembangan BOPO dari ketiga 73 tahun tersebut mengalami naik turun akan tetapi masih dalam keadaan yang masih baik karena berada dibawah 80%. Sementara itu dilihat dari perkembangan tiap bulannya, dapat dilihat dalam grafik berikut ini : Gambar 4.3 Perkembangan BOPO per bulan periode 2006-2008 Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa tingkat BOPO paling tinggi berada dalam titik bulan Oktober 2006 sebesar 74,34% dan yang terendah berada pada titik buan januari 2007 sebesar 31,7 %. Hal ini dikarenakan pada bulan Oktober 2006, pendapatan usaha yang dipeoroleh pada bulan tersebut menurn menjadi sebesar Rp 161.481.207 pada jumlah pendapatan pengelolaan dana oleh bank sebagai mudharib. Dengan menurunnya pendapatan operasional ini, menyebabkan BOPO menjadi naik dari tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, titik terendah pada bulan Januari 2007 mencapai 31,7% disebabkan karena biaya yang ditanggung pihak Bank Syariah Mandiri menurun dan pendapatan meningkat. hal ini tercermin dari 74 laporan keuangan Bank Syariah Mandiri bahwa biaya operasional menurun menjadi Rp 30.000.072 dibandingkan dengan biaya pada periode bulan yang lalu sebesar Rp 82.364.782, sedangkan pendapatan meningkat. BOPO turun karena banyak bank mulai menurunkan biaya pencadangan untuk mengantisipasi kerugian. Sebelumnya BOPO tinggi karena bank memperbesar pencadangan untuk mengantisipasi lonjakan kredit bermasalah. Penurunan BOPO ini bisa juga terdorong oleh kian stabilnya kualitas aktiva perbankan. Sehingga bank merasa tak perlu lagi memperbesar cadangan. Sedangkan bila dilihat perkembangan tiap bulan per tahunnya, pada tahun 2008 yang menunjukkan perkembangan yang stabil bergerak antara 40-50% daripada tahun-tahun sebelumnya, seperti terlihat dalam grafik diatas. Dengan tingkat seperti ini, Bank Syariah Mandiri dapat dikatakan efisien dalam menjaga rasio BOPO dengan baik dan stabil. 5. Return On Asset (ROA) Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan. Dari analisa perhitungan diatas, dapat diperoleh data ROA selama tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 adalah sebagai berikut: 75 Tabel 4.4 Data Return On Equity (ROA) Bulan 2006 2007 2008 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Sumber : Data ROE Laporan Ikhtisar Keuangan, 2009 Dari data-data tersebut pada tahun 2006, rata-rata perolehan ROA sebesar 0,94%, sedangkan pada 2007 rata-rata ROA sebesar 0,98%, serta pada tahun 2008 sebesar 1,94%, seperti penjelasan pada diagram berikut ini: Gambar 4.4 Grafik ROA Dari diagram diatas dapat dijelaskan bahwa dari tahun 2006 sampai 2008 mengalami peningkatan sedikit demi sedikit. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat laba yang diperoleh pada masing-masing tahun tersebut, yakni seperti terlihat pada laporan laba rugi tiap bulan. Hal ini 76 menunjukkan kinerja Bank Syari’ah Mandiri dalam 3 tahun terakhir yang sangat signifikan, sehingga berpengaruh terhadap laba yang diperoleh. Bank Syariah mandiri mencatatkan lonjakan laba hingga 70,12 persen dari Rp 115,45 miliar pada 2007 menjadi Rp 196,42 miliar pada akhir 2008. Jadi, jelaslah bahwa semakin besar tingkat LDR suatu bank maka akan menjadikan laba yang diperoleh oleh bank tersebut menjadi meningkat. Dengan semakin meningkatnya laba yang diperoleh, maka akan meningkatkan pula return modal yang akan diperoleh. 6. Metode Analisis Data a. Analisis Regresi Berganda Analisa regresi adalah analisis tentang hubungan antara satu dependent variable dengan 2 atau lebih variable independent. Persamaan regresi yang sering digunakan untuk mengestimasikan variablevariabelnya, yaitu Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3, dimana b1, b2, b3 merupakan koefisien regresi; a merupakan konstanta; Y merupakan variable dependent dan X merupakan variable independentnya. CAR, LDR, BOPO diharapkan berhubungan dengan ROA. Dari hasil perhitungan SPSS, diperoleh data sebagai berikut: A = -2,404; b1 = 0,208; b2 = 0,030; b3 = -0,030 (diperoleh dari hasil table t dalam SPSS), sehingga diperoleh persamaan regresi yaitu : Y= --2,404 + 0,208 CAR + 0,030 LDR -0,030 BOPO 77 Dari hasil regresi tersebut menunjukkan bahwa fungsi linier dalam menjelaskan variable independentnya terhadap dependentnya ada dua kemungkinan bila menggunakan uji dua arah. Dengan tanda positif pada koefisien regresi b1 menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang terjadi antara CAR dengan ROA. Sedangkan tanda positif pada koefisien regresi b2 menunjukkan ada hubungan positif antara variable LDR dengan variable ROA, serta tanda negative pada b3 menunjukkan terdapat hubungan yang negative antara variabel BOPO dengan ROA sehingga berdasarkan uji t dua sisi masing-masing berpengaruh signifikan pada tingkat signifikansi level sebesar 5%. b. Uji t-statistik Pada uji t-statistik ini akan dijelaskan apakah variabel bebas yang menjelaskan variable terikat diterima atau tidak yang berarti signifikan atau tidak. Dari penelitian ini, model empirik yang akan diuji adalah sebagai berikut: Y= --2,404 + 0,208 CAR + 0,030 LDR -0,030 BOPO Tabel 4.5 Hasil Uji t-statistik Variabel (tingkat signifikansi) t-tabel Df (n-k) t-hitung keterangan CAR 5% 2,037 32 2,652 Signifikan positif LDR 5% 2,037 32 1,162 Tidak signifikan BOPO 5% 2,037 32 -2,137 Signifikan negatif Sumber : Lampiran hasil SPSS 1). Uji dua sisi variable CAR Pada uji dua sisi variable CAR dapat diuji untuk variable independentnya : t-hitung = 2,652; t-tabel = 2,037; df = 32; a = 5%. 78 Karena t-hitung = 2,652 < t-tabel = 2,037 pada sisi positif makadapatdikatakan Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan positif dan signifikan antara variable CAR dan ROA. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi CAR, maka semakin tinggi ROA. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa CAR secara individual berpengaruh negative dan signifikan tidak terbukti. 2). Uji dua sisi variable LDR Dari perhitungn SPSS diperoleh t-hitung sebesar 1,162; t-tabel = 2,037; df = 32; a = 5%. Karena t-hitung = 1,162 < t-tabel =2,037 pada sisi positif maka dapat dikatakan Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara variable LDR dan ROA. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa variable LDR secara individual berpengaruh positif dan signifikan tidak terbukti. 3). Uji dua sisi variabel BOPO Pada uji dua sisi variable BOPO dapat diuji untuk variable independentnya : t-hitung = -2,137; t-tabel = 2,037; df = 32; a = 5%. Karena t-hitung = -2,137 > t-tabel = -2,037 pada sisi negatif maka dapat dikatakan Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti ada hubungan negatif dan signifikan antara variable BOPO dan ROA. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi BOPO, 79 maka semakin rendah ROA dan berlaku sebaliknya. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa BOPO secara individual berpengaruh negative dan signifikan terbukti. c. Uji F statistik Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variable independent yang digunakan dalam penelitian ini secara bersama-sama mempengaruhi variable dependentnya secara signifikan atau tidak. Pengujian dilakukan dengan menggunakan distribusi F dengan membandingkan F-statistik yang diperoleh dari hasil regresi melalui pengujian SPSS dengan F-tabelnya. Diperoleh data sebagai berikut: F-tabel dengan a = 5%; F-tabel = F a df (k-1); (n-k); F-tabel = (0,05; 3; 32) = 2,90. Dengan menggunakan a = 5% diperoleh F-tabel sebesar 2,29 sementara hasil regresi diperoleh F-statistik sebesar 3,120 yang berarti Fstatistik > Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua variable independent secara bersama-sama mempengaruhi variable dependen. Dengan demikian, variable CAR, LDR, BOPO secara bersama-sama mempengaruhi variable ROA sebagai variable dependentnya. d. Uji Normalitas Uji asumsi ini untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel dependent, variabel independent atau keduanya mempunyai 80 distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.(Santoso, 2000; 212) Hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS menunjukkan bahwa dalam grafik diagonal, titik-titik menyebar di garis diagonal dan mengikuti arah dari garis diagonal tersebut maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Hal ini sesuai dengan pedapat Santoso (2000: 214) bahwa Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut, maka model regresi tersebut memenuhi asumsi normalitas. e. Uji Multikolinieritas Multikoliniearitas adalah keadaan dimana satu atau lebih variabel independen dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel independen lainnya. Pada lampiran dapat dilihat bahwa dengan menggunakan bantuan komputer yang sesuai dengan uji multikoliniearitas maka dapat diperoleh nilai-nilai yang dapat dilihat dalam tabel berikut: Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolinieritas Variabel Tolerance VIF Keterangan CAR 0,761 1,314 Tidak multiko LDR 0,704 1,421 Tidak multiko BOPO 0,829 1,206 Tidak multiko Sumber : Lampiran olahan SPSS Berdasarkan teori yang diajukan Ghozali menggunakan metode (trial and eror) menyatakan bahwa, multikoliniearitas tidak perlu 81 dirisaukan apabila R2 regresi model lebih besar daripada r2 regresi antar variabel penjelas, maka setelah dilakukan pengujian dengan computer maka besarnya r2 regresi antar variabel penjelas lebih kecil daripada R2 model regresi awal. Dari hasil pengujian terhadap multikoliniearitas pada masing-masing variabel penjelas diperoleh nilai correlation matrik kurang dari 1,196 yang berarti tidak terdapat multikoliniearitas sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen (CAR,LDR,BOPO) tidak terjadi multikolinearitas dalam regresi yang dilakukan. f. Uji heteroskedastisitas Heteroskedastisitas terjadi apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang sama untuk semua observasi. Akibatnya penaksir OLS tetap tidak bisa dan tidak efisien. Heteroskedastisitas dapat di deteksi dengan melakukan uji White. Adapun hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut; H0 : Tidak terdapat heteroskedastisitas Ha : Terdapat heteroskedastisitas Dengan menggunakan hipotesis yang menyatakan jika nilai chisquare hitung (n.R2) lebih besar dari nilai X2 kritis dengan derajat kepercayaan tertentu (a) maka ada heterodekastisitas dan sebaliknya jika chi-square hitung lebih kecil dari nilai X2 kritis menunjukkan tidak ada 82 heterokedastisitas. Hal ini dapat dilihat dari hasil estimasi uji white (cross term) sebagai berikut;seperti terlihat pada lampiran. Berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan uji white heteroskedastisitas (cross term) maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada masalah heteroskedastisitas dalam model empiris yang digunakan diterima, karena sesuai pada teori bahwa apabila jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. g. Uji Autokorelasi Autokorelasi dapat terjadi apabila kesalahan gangguan (Error disturbance) suatu periode berkorelasi dengan kesalahan sebelumnya. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-Watson. Dari perhitungan SPSS diperoleh nilai hitung uji Durbin-Watson sebesar 0,459. Berdasarkan nilai probabilitas Chi-Square 0,159 pada kelambanan 2 kita menerima hipotesis nol karena tingkat signifikansi a lebih besar dari 5% yaitu 15%. Berdasarkan uji Durbin-Watson tersebut berarti pada penelitian ini tidak mengandung masalah autokorelasi. 83 B. Pembahasan Data Hasil Penelitian 1. Pengaruh variabel CAR, LDR, BOPO terhadap ROA secara simultan Dari paparan data penelitian diatas, dapat dijelaskan bahwa ketiga variabel yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh secara simultan terhadap vaiabel Return On Asset (ROA). Hal ini dikarenakan dari hasil perhitungan SPSS menyatakan bahwa nilai f-hitung sebesar 3,120 lebih besar dari nilai F-tabel sebesar 2,86 yang berarti bahwa variabel independentnya dapat dikatakan berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependentnya. Menurut Santoso (2004: 168) menyatakan bahwa jika F-tabel < Fstatistik atau dengan kata lain F-statistik > F-tabel, maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada pengaruh secara signifikan antara variabel CAR, LDR, dan BOPO terhadap ROA. Kemudian, dengan tingkat signifikansi sebesar 0,04 menunjukkan bahwa variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependentnya secara simultan terbukti, karena tingkat signifikansi 0,04 lebih kecil dari tingkat taraf nyata yang digunakan sebesar 5%. Menurut Nisfiannoor (2009: 9) mengemukakan bahwa apabila nilai sig (p) 0,05, maka variabel tersebut signifikan dalam mempengeruhinya. Sementara itu, berdasarkan nilai R2 sebagai koefisien determinasi menunjukkan sebesar 48,2 berarti bahwa variabel independent yaitu CAR, 84 LDR, dan BOPO mempengaruhi variabel dependent yaitu ROA sebesar 48,2 %, sedangkan diluar itu ROA dipengaruhi oleh variabel lain. Penelitian ini sesuai dengan yang dilakukan oleh Windarti (2006) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa Non performing loan, capital adequacy ratio, PPAP, dan rasio BOPO mempunyai pengaruh secara simultan terhadap return on equity (ROE) pada bank-bank umum swasta nasional di Indonesia. Sedangkan Variabel return on equity dipengaruhi oleh non performing loan, capital adequacy ratio, PPAP, dan rasio BOPO hanya sebesar 23,9%. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ghozali (2007) dalam hasil penelitiannya menjelaskan bahwa dari pengujian F statistik dengan menggunakan = 5% diperoleh F-tabel sebesar 2,71 sementara diperoleh F-statistik sebesar 23,6 yang berarti F-statistik > F-tabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen yaitu CAR, FDR, BOPO, dan NPL secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen yaitu profitabilitas dengan menggunakan variabel ROE. Dilihat dari R-squared sebesar 0,765 yang berarti bahwa 76,5% profitabilitas mampu dijelaskan oleh variable independen yang digunakan dalam model (CAR, FDR, BOPO, NPL) dan sisanya sebesar 23,5% dijelaskan oleh variable lain diluar model yang digunakan. Pada CAR Bank Syariah Mandiri yang telah dikemukakan dalam paparan data hasil penelitian diatas, tingkat kecukupan bank tersebut 85 dapat dikatakan cukup memiliki tingkat kesehatan yang kurang baik, karena rata-rata pada 3 tahun tersebut yaitu 2006, 2007, dan 2008 mencapai 13,03% sedangkan menurut Arifin (2002:162) mengemukakan bahwa tingkat permodalan bank dalam rasio modal atas simpanan cukup dengan 10%. Akan tetapi menurut ketentuan Bank Indonesia, besarnya rasio CAR harus dalam tingkat 8% apabila bank tersebut dikatakan memiliki tingkat kesehatan yang baik dari segi permodalan. Sedangkan dalam LDR dapat diterangkan bahwa dengan rata-rata LDR tahun 2006 rata-rata besarnya LDR sebesar 90,68, untuk tahun 2007 sebesar 91,40, dan sebesar 92,39 pada tahun 2008, bank tersebut dapat menjaga tingkat kesehatannya dengan baik, sesuai pernyataan Siamat (2005 : 344) bahwa rasio sampai dengan 100% memberikan gambaran yang cukup baik atas keadaan likuiditas bank, sehingga bisa dipastikan akan memberikan efek terhadap profitabilitasnya. Posisi FDR perbankan syariah terlalu tinggi akan menjadi ancaman serius bagi likuiditas bank. Dampak masalah likuiditas bisa sangat serius dan membuat suatu bank gagal melakukan kegiatan operasionalnya. Kondisi ini lebih menakutkan ketimbang lonjakan rasio pembiayaan bermasalah.(www.syariahmandiri.co.id) Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa capital adequacy ratio (CAR), LDR (Loan to Deposit Ratio) dan Biaya Operasional terhadap pendapatan Operasional (BOPO) dapat secara bersama-sama 86 mempengaruhi tingkat Return On Asset (ROA) pada Bank Syariah Mandiri periode 2006-2008. 2. Variabel yang berpengaruh dominan terhadap ROA Dalam penelitian dengan menggunakan perhitungan SPSS diperoleh , secara parsial nilai t-statistik CAR sebesar 2,652 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,030 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,013, berarti bahwa variabel CAR berpengaruh secara signifikan dan positif. Menurut santoso (2004: 168) menyatakan bahwa apabila t-hitung > t-tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh secara signifikan antara variabel X1 yang dalam hal ini variabel CAR terhadap variabel Y yang dalam hal ini variabel ROA, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi CAR, maka semakin tinggi ROA. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa CAR secara individual berpengaruh negative dan signifikan tidak terbukti. Dari hasil tersebut, penelitian ini bertolak belakang dengan yang dilakukan oleh Ghozali (2007) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa Variabel CAR berhubungan negatif dan signifikan dengan demikian variabel tersebut tidak sesuai hipotesis, disebabkan adanya resiko yang besar sehingga CAR dapat berpengaruh negatif. Perbedaan ini 87 dikarenakan peneliti menggunakan variabel ROA sebagai variabel dependentnya. Sedangkan uji parsial variabel LDR dengan menggunakan perhitungan SPSS, menunjukkan bahwa dengan nilai t-statistik LDR 1,162 belum bisa memberikan pengaruh secara signifikan terhadap variabel ROA, karena nilai t-tabel sebesar 2,032 lebih besar dari nilai t-statistik. Santoso (2004: 168) menyatakan bahwa apabila t-tabel > t-hitung, maka dapat diambil keputusan menerima H0 dan menolak H1 yang berarti variabel LDR sebagai variabel independent tidak dapat berpengaruh secara signifikan terhadap ROA sebagai variabel dependentnya. Jadi, hipotesis yang menyatakan bahwa variabel LDR berpengaruh secara signifikan terhadap ROA tidak terbukti. Akan tetapi, variabel LDR memang berpengaruh secara positif, artinya bahwa apabila LDR tinggi akan menyebabkan tingkat likuiditas bank tersebut akan tinggi pula dan akan berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas yang akan dicapai oleh bank tersebut. Arifin (2002 : 70) yang menyatakan bahwa terlalu banyak likuiditas akan mengorbankan tingkat pendapatan terlalu sedikit akan berpotensi untuk meminjam dana dengan harga yang yang tidak dapat diketahui sebelumnya, yang dapat berakibat meningkatkan biaya dan akhirnya menurunkan profitabilitas. Terlebih bank syariah yang dilarang melakukan peminjaman dana yang berbasis bunga, tentu akan sulit 88 memperoleh dana. Ghozali (2007) dalam penelitiannya yang mengemukakan bahwa variabel FDR berhubungan positif dan signifikan. Akan tetapi dalam penelitian ini pengaruh LDR terhadap ROA tidak signifikan dan positif. Kemudian untuk variabel BOPO dalam penelitian ini, secara parsial menunjukkan bahwa BOPO berpengaruh secara signifikan dan negatif. Karena dari hasil perhitungan SPSS, diperoleh nilai t-sattistik BOPO sebesar -2,137 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar -2,032 (menggunakan uji dua arah). Tanda negatif ini berarti semakin tinggi nilai BOPO, maka semakin rendah nilai ROA bank tersebut, dan juga sebaliknya bila semakin rendah nilai BOPO maka semakin tinggi nilai ROA yang akan dicapai oleh bank tersebut. Weston (2001: 722) menyatakan bahwa semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik, karena bank yang bersangkutan dapat menutup biaya operasionalnya dengan pendapatan operasionalnya. BOPO adalah ukuran efisiensi yang lazim dipakai untuk memberikan penilaian atas kinerja efisiensi perbankan dalam melakukan kegiatan operasinya. Untuk mengetahui lebih jauh kemampuan fundamental bank syariah, perlu dilihat efisiensi operasinya yang tercermin dari nilai BOPO (80% kebawah biasanya diangap efisien), kemampuan menghasilkan laba untuk setiap rupiah asset (ROA 1,5% 89 keatas biasanya dianggap sehat), dan kemampuan menghasilkan laba untuk setiap rupiah dana pihak ketiga (marjin Bagi Hasil). (www.republikaonline.com). Salah satu cara yang umum dilakukan perbankan untuk menekan BOPO adalah dengan memperbaiki struktur pendanaan. Misalnya memperbesar porsi dana murah. Cara lain adalah merestrukturisasi organisasi dan outsourcing pekerjaan di luar bisnis inti, menutup kantor cabang yang merugi, dan meningkatkan produktivitas karyawan.(www.iLeadMediaWatch.com) Dilihat dari tingkat signifikansi dari masing-masing variabel, seperti dalam diagram tabel berikut ini : Tabel 4.7 Tingkat Signifikansi Variabel Tingkat Signifikansi Taraf Nyata Keterangan Capital adequacy Ratio (CAR) 0,013 5% Sangat signifikan Loan to Deposit Ratio (LDR) 0,254 5% Tidak signifikan BOPO 0,041 5% Signifikan Sumber : olahan penulis, 2009 Dari tabel diatas dengan tingkat signifikansi yang berbeda, variabel CAR dapat dikatakan lebih dominan pengaruhnya terhadap variabel ROA, karena dengan tingkat signifikansi sebesar 0,01 pengaruhnya sangat signifikan bila dibandingkan variabel BOPO dengan tingkat signifikansi 0,04. Menurut Nisfiannoor (2009: 9) menyatakan bahwa jika tingkat signifikansi 0,01, maka variabel tersebut berpengaruh 90 sangat signifikan. Sementara itu variabel LDR dikatakan tidak signifikan karena tingkat signifikansinya sebesar 0,254 melebihi nilai taraf nyata sebesar 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa variabel yang dominan pengaruhnya terhadap ROA dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR). Hal ini dikarenakan bahwasanya semakin tinggi modal yang dimiliki oleh suatu bank dalam memenuhi segala kegiatan operasional suatu bank, maka profitabilitas yang dicapai akan maksimal karena dengan kondisi tersebut tingkat resiko yang dihadapi akan semakin kecil. Modal merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan operasi suatu bank. Tanpa adanya modal, suatu usaha tidak bisa menjalankan operasinya. Pada dasarnya modal berasal dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Jumlahnya modal yang ada sangat menetukan perjalanan usaha seseorang. Investasi merupakan bentuk aktif dari ekonomi syariah. Pengertian modal dalam Islam, seperti dalam firman Allah surat al-Baqarah 279, sebagai berikut : ! " # ! $ " ! $ ' % & " % & " 279. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu 91 bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dalam menafsirkan bagian ayat “ru’usu amwalikum” ada yang berpendapat bahwa ayat ini mujmal yaitu mengandung arti lebih dari satu. Jadi, pengertian modal awal disini adalah semua harta yang bernilai dalam pandangan syar’i yang aktifitas manusia ikut berperan serta dalam produksinya dengan tujuan pengembangan. Sedangkan menurut Syahatah (2001: 127) ra’sul maal adalah bagian dari maal yang mempunyai nilai, terakumulasi dan dapat berkembang selama mengoperasikannya di bidang yang bermanfaat dan berperan serta dalam aktifitas ekonomi. Perputaran modal dalam dunia perbankan, lebih diutamakan untuk kegiatan investasi, dimana hal tersebut terlihat dari kegiatan seharihari bank yaitu menerima dana dari masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk kredit/ pembiayaan kepada masyarakat yang memerlukan dana tersebut untuk suatu usaha atau untuk keperluan tertentu. Bagi perbankan syariah, modal digunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan nasabahnya dengan tidak mematok imbalan dari modal yang diberikan tersebut, melainkan menggunakan system bagi hasil yang merupakan hasil dari kesepakatan antara nasabah dan pihak bank. Sedangkan dalam bank konvensional, imbalan dari modal yang telah disalurkan melalui kredit atau pembiayaan tersebut, mematok 92 imbalan atau yang biasa disebut bunga dengan angka tertentu tanpa memperhatikan apapun. Keadaan seperti ini yang bertentangan dengan syariat Islam karena bisa dikatakan terdapat unsur riba. Riba sangatlah dilarang oleh Islam seperti pada firman Allah surat al-Baqarah : 278-279 ! " # ! $ " ! $ % & " ' % & " Artinya :“Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) …………..Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya.”(QS. Al-Baqarah 278-279) Perputaran modal dalam dunia perbankan digunakan untuk kegiatan investasi, dimana modal tersebut digunakan oleh bank untuk usaha tertentu. Melakukan investasi, berarti melakukan kegiatan berani yang mengandung resiko yang bercirikan kembalian (return) yang tidak pasti dan tetap. Karena kembalian yang diperoleh itu tergantung dari usaha investasi dan perdagangan yang tidak pasti dan tidak tetap. Dengan demikian, kembalian yang sudah pasti setiap bulan seperti pada bunga bank konvensional tidak termasuk pengertian investasi. 93 Pola perilaku investasi dibentuk sesuai dengan petunjuk al- Qur’an dan Hadits, yaitu dana yang telah terkumpul dari simpanan tidak boleh dibungakan, tetapi harus dilakukan hal berikut ini : 1) Dijadikan modal usaha perdagangan sesuai yang disebutkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ (4): 29 > ' " , ! ? @ $ > A 2 & % ? /B # $ 03 ! ? ' " ! ? 4 % ! ? 1&C - ' 29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. dan surat al-Baqarah ayat 275: " , & . - / &" ' & 0#( $%) & ( ! & 2 , * 0 + && ' 1 ( 2 - * 0 + -) - & 3 4 % . *5 # / + ) 6 3 7 " ,3 4 8 -9 / ( ) .0 1 = % 2 ;< ! : 275. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan 94 mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Maksud dari dalil diatas yaitu riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah. Maksudnya orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan. Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan. 2) Ditanamkan pada suatu usaha yang menghasilkan barang dan jasa atau dititipkan kepada pengelola dengan system bagi hasil, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Muzaammil (73): 20 > ( 2 " (& - D / $E 5 " 2 0 3 / 6 3 / , " *5 F 7 " 8 ; G 2 0 3 ( 95 4 46 ! $ ? 0 " 8 1 9 C ! " 8 ? 0 ? E : ;5H 2 < = 63 I > 2 2 " = 20 1 9 C / JC 1 B "76 B ? @ 1 8@ 1 9 4 - 3 ? 4 I : K 2 4 # $ : ; K 2 ! < A > = B !L N M -) Artinya: Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 96 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis penelitian mengenai analisis tingkat profitabilitas pada bank syariah Mandiri maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Dari pengujian F statistik dengan menggunakan = 5% diperoleh fhitung sebesar 3,120 lebih besar dari nilai F-tabel sebesar 2,86 yang berarti F-statistik > F-tabel, maka dapat disimpulkan bahwa semua variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. 2. Berdasarkan hasil SPSS secara parsial, yang paling dominan pengaruhnya terhadap ROA adalah CAR. Hal ini dilihat dari tingkat signifikansi yang menyatakan bahwa tingkat signifikansi CAR lebih besar dari tingkat signifikansi BOPO. Variabel CAR berhubungan positif dengan nilai t-hitung sebesar 2,652 lebih besar dari nilai t-tabel sebesar 2,030, yang terbukti dan signifikan, hal ini dikarenakan bila semakin besar dana yang disalurkan dalam bentuk pembiayaan maka dapat mempengaruhi tingkat ROA. 97 B. Saran 1. Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan, maka untuk meningkatkan profitabilitas Bank Syariah Mandiri jika dilihat dari CAR maka bank harus lebih mengedepankan pembiayaan musyarakah dengan meminimalkan tingkat resiko yang ada. Dan bila dilihat dari LDR pembiayaan bank syariah sudah sangat baik karena rata-rata pembiayaan sudah diatas 50%, akan tetapi dengan pembiayaan yang relatif besar tersebut bank syariah mandiri juga harus memperhatikan tingkat pengembalian pengelola modal yang sangat berpengaruh terhadap tingkat NPL. 2. Dalam penelitian ini masih banyak kekurangan, terutama dalam hal: a. Dalam penelitian ini penganalisisan data kurang dijelaskan secara lebih rinci karena keterbatasan peneliti, sehingga peneliti berikutnya diharapkan perlu menjelaskan secara lebih lengkap dengan menembah teori yang mendukung. b. Dalam menentukan variabel, peneliti berikutnya diharapkan untuk menambah variabel lain diluar variabel penelitian yang telah dilakukan karena diduga masih banyak variabel lain yang mempengaruhi profitabilitas dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. 98 DAFTAR PUSTAKA Arifin, Zainul.2002.Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, AlvaBeta, Bandung Arikunto, Suharsimi.2006.Prosedur Penelitian, cet 13 Rineka Cipta, Jakarta Dendawijaya, Lukman.Manajemen Perbankan, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2000, 116-122 Kuncoro, Mudrajad & Suhardjono.2002.Manajemen Perbankan Teori dan Aplikasi. Penerbit BPFE, Yogyakarta Mahmoedin.2004.Melacak Kredit Bermasalah.Pustaka Sinar Harapan, Jakarta Mistervicks.2008.Buat apa Ada Bank Syariah. www.Syariahmandiri.com.co.id.22 Agustus 2008 Nur Cholish.2009.Berjuang Membumikan Ekonomi Islam.www.tempointeraktif.com.16 Agustus 2009 Muhammad.2002.Manajemen Bank Syariah. UPP AMP YKPN, Yogyakarta Nisfiannoor, Muhammad.2009.Pendekatan Statistika Modern Untuk Ilmu Sosial.Penerbit : Salemba Humanika, Jakarta Riyanto, Bambang, Prof, Dr. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE, Yogyakarta Ruisa Khoiriyah.2009.Efisiensi Meningkat, Perbankan Sumringah.www.iLead Media Watch.com.17 Juni 2009 Santoso, Singgih. 2004. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. PT Elex Media Komputindo, Jakarta Siamat, Dahlan.2005.Manajemen Lembaga Keuangan. Lembaga Penerbit FE UI, edisi kelima, Jakarta Sugiyono.1999.Metode Penelitian. AlvaBeta, Bandung 99 Syahatah, Husein.2001.Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam. Akbar Media Eka Sarana, cet I, Jakarta Syahbudin.2007.Konsep Dasar Berusaha Cara Syariah. www.Republikaonline.com.24 Mei 2007 Syamsudin, Lukman.2007.Manajemen Keuangan Perusahaan. Raja Grafindo Persada, Jakarta Tika, Pabundu.2006.Metode Penelitian Sosial. Raja Grafindo, Jakarta Triyuwono, Iwan & Moh. As’udi.2001.Akuntansi Syariah : Memformulasikan Konsep Laba dalam Konteks Metafora Zakat. Salemba Empat, Jakarta Weston.1997.Commercial Bank Management. Salemba Empat, Jakarta www.bi.go.id www.inlawnesia.net 100 Bukti Konsultasi Nama : Alfan Indrawan NIM/Prodi : 05610012 / Manajemen Pembimbing : Indah Yuliana.,SE.,MM Judul Skripsi : Pengaruh CAR, LDR dan BOPO terhadap ROA Bank Syariah Mandiri Periode 2006-2008. No Tanggal Materi Kosultasi Tanda Tangan Pembimbing 1 31 Maret 2009 Proposal 1 2 8 April 2009 Revisi Proposal 2 3 15 April 2009 Acc Proposal 3 4 16 Juni 2009 Bab I,II,III 4 5 3 Juli 2009 Revisi Bab I,II,III dan Bab IV 5 6 26 Agustus 2009 Revisi Bab IV 6 7 31 Agustus 2009 Revisi Bab IV dan V 7 8 4 September 2009 Revisi Bab IV dan V 8 9 7 September 2009 Revisi Bab I, II, III, IV, dan Bab V 9 10 9 September 2009 Acc Keseluruhan 10 Malang, 9 September 2009 Mengetahui: Dekan Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 101 Biodata Peneliti 1. Identitas Peneliti a. Nama : Alfan Indrawan b. Tempat/ Tanggal Lahir : Malang, 2 Juli 1986 c. Jenis Kelamin : Laki-laki d. Alamat : Jl. Sidodadi 2 No. 91 RT 12 RW 03 Wandanpuro – Bululawang, Malang e. No tlp : 085649621937 f. E-mail : alf-gob007@yahoo.co.id 2. Pendidikan Formal a. 1991-1993 TK Khodijah Wandanpuro-Bululawang b. 1993-1999 SD Wandanpuro 03, Bululawang c. 1999-2002 SLTP Negeri 2 Bululawang d. 2002-2005 SMU Negeri 1 Gondanglegi e. 2005-2009 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 3. Pengalaman Organisasi a. Anggota OSIS SLTPN 2 Bululawang 2000-2001 b. HUMAS Cabang Sepak Bola UNIOR UIN Maulana Malik Ibrahim 2007-2008 4. Pengalaman Penelitian Penelitian skripsi dengan judul : “Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan BOPO terhadap Return On Asset (ROA) Periode 2006-2008 (Studi Kasus pada Bank Syariah Mandiri) 102 KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar