STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Admin
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat akibat macetnya
kredit perumahan (subprime mortgage) telah berkembang menjadi
masalah yang serius, terutama setelah bankrutnya Lehman Brothers
pada 15 September 2008. Gejolak tersebut mulai dirasakan beberapa
kawasan termasuk Indonesia, terutama pada kuartal terakhir 2008,
Dalam perspektif ekonomi, perdagangan antara satu negara
dengan negara lainnya saling berkaitan karena adanya aliran barang
dan jasa. Impor suatu negara merupakan ekspor bagi negara lain.
Dalam hubungan yang demikian, resesi yang terjadi di satu negara
dimungkinkan akan menular dan mempengaruhi negara lain karena
penurunan impor di satu tempat akan menyebabkan tertekannya
ekspor di tempat lain.
 

Saat ini, hampir semua negara-negara di dunia menganut
sistem pasar bebas sehingga saling terkait satu sama lain. Aliran dana
bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan regulasi
moneter tiap negara yang beragam. Akibatnya, setiap negara memiliki
risiko terkena dampak krisis dari negara lainnya.

Sistem seperti itulah yang menyebabkan Indonesia juga terseret
pada krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Akibat krisis
keuangan tersebut, pasar saham di Indonesia rontok sehingga pada 8
Oktober 2008 IHSG mencapai titik terendah, yaitu turun 168,052 poin
menjadi 1.451,669. Puncak rontoknya pasar saham tersebut adalah
saat perdagangan saham di Bursa diberhentikan (disuspensi) jam
11.06 WIB pada tanggal yang sama karena IHSG dinilai berada di luar
batas kewajaran. IHSG anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen
menjadi 1.451,66 poin dengan transaksi perdagangan saham dan
derivatif (turunan saham) yang hanya sebesar Rp 952,16 miliar
(Kompas, 9 Oktober 2008). Penurunan IHSG dan besarnya nilai
perdagangan yang di bawah 1 triliun tersebut menurut Direktur BEI
Erry Firmansyah merupakan pertanda pasar yang tidak rasional
sehingga diperlukan suspensi untuk memberikan kesempatan
investor berpikir rasional. Untuk selanjutnya, suspensi tersebut
diberlakukan BEI hingga 13 Oktober 2008.


Dalam Peraturan No. 1-L Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang
Suspensi, Bursa diperkenankan untuk menutup sementara (suspensi)
perdagangan efek di seluruh pasar atau atas saham-saham tertentu
selama jangka waktu tertentu dalam rangka menyelenggarakan
perdagangan saham yang teratur, wajar dan efisien. Dalam peraturan
tersebut disebutkan bahwa tujuan suspensi adalah memberikan
waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan
secara matang kewajaran harga saham berdasarkan informasi yang
ada. Suspensi sendiri juga bisa diberlakukan pada emiten atas
permintaan emiten atau adanya sanksi dari bursa terhadap emiten
tertentu (Peraturan No.1-L BEI, 2-4).


Dalam kondisi anjloknya IHSG dan diberlakukannya suspensi
tersebut, banyak kalangan mengkhawatirkan akan terjadi rush
(penarikan dana secara massal) di pasar keuangan, terutama dana
yang ada pada perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan.
Dalam berita yang dirilis Kompas, 30 Oktober 2008, terdapat sekitar
33 perusahaan sekuritas yang Modal Kerja Bersih Disesuaikan
(MKDB)-nya mendekati batas minimal yang ditetapkan bursa, yaitu
Rp. 30 miliar. Berdasarkan data dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) per
29 Oktober 2008, dari 121 perusahaan sekuritas yang terdaftar sebagai
anggota bursa (AB), terdapat 33 perusahaan sekuritas yang memiliki
modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) di bawah Rp 30 miliar. Dari
33 perusahaan sekuritas itu, sebanyak 15 perusahaan hanya memiliki
MKBD Rp 25 miliar-Rp 26 miliar.


Merosotnya MKDB perusahaan-perusahaan sekuritas tersebut
terjadi akibat banyak nasabah yang menggunakan fasilitas margin
bangkrut sehingga tidak mampu mengembalikan pinjaman yang
digunakan untuk membeli saham kepada perusahaan sekuritas

(Kompas, 30 Oktober 2008). Nasabah yang meminjam dana dari
perusahaan sekuritas tersebut serta para manajer investasi dan para
investor memilih menjual sahamnya pada harga berapapun karena
khawatir harga sahamnya jatuh ke level yang lebih rendah menyusul
rontoknya bursa saham regional. Dengan mekanisme seperti itulah,
dana di pasar modal terserap keluar.
 

Dalam hal ini, perusahaan sekuritas mengalami keketatan
likuiditas karena dana investor di reksadana—yang notabene-nya
adalah salah satu produk perusahaan sekuritas—ikut kering
disebabkan sentimen negatif yang terjadi di pasar. Itulah sebabnya
kenapa perusahaan sekuritas mau menjual saham investor yang
punya pinjaman pada harga berapapun untuk menghindari kerugian
yang terlalu dalam. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap kinerja
perusahaan sekuritas itu sendiri. Implikasinya, harga saham yang
umumnya dilihat sebagai cerminan kinerja perusahaan juga akan
terpengaruh dan direaksi pasar secara beragam.
 

Di sisi lain, tersedia alternatif penempatan dana bagi investor
yang menarik dananya keluar dari pasar modal. Alternatif tersebut
adalah perusahaan perbankan. Pilihan ini menjadi lebih menarik
dibandingkan pasar modal mengingat kebijakan pemerintah yang
lebih memilih menstabilkan inflasi dan nilai tukar dengan cara
menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sehingga pemberian bunga

oleh bank terhadap pihak ketiga pun akan naik. Sementara dari sudut
pandang bank, menurut Gunarso (2008), kenaikan BI rate juga akan
mengakibatkan ketatnya likuditas bagi perbankan. Selain karena
kesulitan mendapatkan dana murah dari pihak ketiga (giro, tabungan,
deposito) karena harus menaikkan suku bunga DPK, suku bunga di
Pasar Uang Antar Bank (PUAB) juga akan meningkat. Dengan begitu,
cost of fund bank akan menjadi lebih besar. Dalam kondisi seperti ini,
bank tidak hanya akan berpotensi ditinggalkan para deposan, tetapi
juga oleh bank-bank mitranya di luar negeri (Regional Rool, 2008).
Keadaan seperti ini tentu juga akan berpengaruh terhadap kinerja
perbankan, termasuk harga sahamnya.
 

Kondisi dua industri (sekuritas dan perbankan) sebagaimana
tersebut tentu akan direspon secara berbeda oleh investor. Sehingga
reaksi pergerakan sahamnya-pun besar kemungkinan akan berbeda.

Untuk itu diperlukan event tertentu untuk mengidentifikasi perbedaan
tersebut. Dan event yang relevan sebagai risiko pasar serta sebagai
rantai akibat dari krisis keuangan tersebut adalah suspensi. Selain
karena secara waktu event ini memiliki jangka waktu yang jelas, event
ini juga dianggap sebagai tolak ukur untuk mengetahui respon
investor terhadap kebijakan-kebijakan moneter yang dibuat
pemerintah dalam rangka mengatasi kondisi pasar keuangan yang
terganggu akibat krisis global. Secara faktual, kebijakan-kebijakan
penting pemerintah di bidang moneter berlangsung selama suspensi
diberlakukan.


Salah satu teori konvensional yang bisa digunakan untuk
mengevaluasi pergerakan saham dan menilai kinerja (performance)
suatu saham adalah Jensen’s model. Model ini mendasarkan
penilaiannya terhadap acuan return dan risiko yang terkandung pada
saham dengan menggunakan model CAPM (Samsul, 2006:362).
CAPM (Capital Asset Pricing Model) sendiri merupakan model
keseimbangan yang dipergunakan untuk mengevaluasi saham
dengan menggunakan beta sebagai ukuran risiko yang relevan.
Jensen’ Model diperkenalkan oleh Michael C. Jensen pada tahun
1968. Jensen’s Model biasanya digunakan untuk menilai kinerja
portofolio ataupun reksadana. Akan tetapi Jensen juga berpendapat
bahwa rumus yang dikemukakannya bisa digunakan untuk menilai
kinerja saham secara individual (Samsul, 2006:366). Dalam model ini,
beta dianggap sebagai satu-satunya risiko sistematis yang relevan
untuk mempelajari reaksi pasar atas event tertentu yang bersumber
dari non-corporate action. Semakin besar nilai Jensen yang dihasilkan
maka semakin baik kinerja suatu saham.


Penelitian yang mempelajari reaksi saham terhadap event-event
tertentu di luar corporate action perusahaan, diantaranya pernah
dilakukan oleh Ilmasari (2007) dengan menggunakan event Corporate
Governance Perception Index. Hasil penelitian Ilmasari menyimpulkan
bahwa event tersebut tidak mempengaruhi reaksi pasar terhadap
harga saham. Di luar event non corporate action, Sucipto (2006) pernah
melakukan penelitian untuk mempelajari reaksi saham terhadap event
stock split dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan
Ilmasari. Penelitian Sucipto membuktikan bahwa event corporate action
berupa stock split direaksi oleh pasar. Itu terlihat dari perbedaan
volume perdagangan saham sebelum dan sesudah event.
Penggunaan suspensi sebagai event non corporate action

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) S K R I P S I Oleh AYATULLAH NIM: 04610077 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) S K R I P S I Diajukan Kepada: Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Oleh AYATULLAH NIM : 04610077 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 iii LEMBAR PERSETUJUAN STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) S K R I P S I Oleh AYATULLAH NIM : 04610077 Telah Disetujui 11 Juli 2009 Dosen Pembimbing, Drs. Agus Sucipto, MM NIP 150327243 Mengetahui: Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 iv LEMBAR PENGESAHAN STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) S K R I P S I Oleh AYATULLAH NIM : 04610077 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 23 Juli 2009 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1. Ketua Umratul Khasanah, S.Ag., M.Si ( ) NIP 150287782 2. Sekretaris/Pembimbing Drs. Agus Sucipto, MM ( ) NIP 150327243 3. Penguji Utama Ahmad Fahrudin A, SE., MM ( ) NIP 150294653 Disahkan Oleh : D e k a n, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 v HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan kepada: Orang tuaku yang tercinta, Saudaraku, Guru-guruku, Sahabat-sahabatku yang setia vi MOTTO Ÿωuρ ß#ø)s ? $tΒ }§øŠs9 y7s 9 ÏμÎ/ íΟù=Ïæ 4 ¨βÎ) yìôϑ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#uρ yŠ#xσà ø9$#uρ ‘≅ä. y7Í×‾≈s çμ÷Ψtã tβ%x. 9'ρé& ∩⊂∉∪ Zωθä↔ó¡tΒ ” Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan mata hatimu semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36) vii SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini saya : Nama : Ayatullah NIM. : 04610077 Alamat : Sumenep Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memeuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan judul: STUDI KOMPARATIF TERHADAP PERFORMANCE SAHAM PERUSAHAAN-PERUSAHAAN SEKURITAS DAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) Adalah hasil karya saya sendiri, bukan “duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila dikemudian hari ada ”klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab dari Dosen Pembimbing dan atau pihak Fakultas ekonomi, tetapi menjadi tanggung jawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 11 Juli 2009 Hormat Saya, AYATULLAH NIM : 04610077 viii KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam kepada Muhammad, Rasulullah. Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari adanya hambatan dan kekurangan. Namun demikian, berkat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak, skripsi ini akhirnya bisa rampung. Demi terselesaikannya karya tulis ini, peneliti berterima kasih atas kepercayaan dan dukungannya kepada: 1. Prof. Dr. Imam Suprayogo Selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, para Pembantu Rektor dan seluruh jajaran pengurus Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2. Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, dan para Pembantu Dekan 3. Pembimbing skripsi ini, Drs. Agus Sucipto, MM. peneliti sampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingan, nasihat, dan dukungannya untuk menyelesaikan penelitian ini. ix 4. Kepada kedua orang tua, Kakakku tersayang, adik-adiku yang luculucu dan seluruh keluarga di Madura Beserta Keluarga Besar “Lailatul Hikmah” di asuruan, peneliti sampaikan terima kasih dan penghargaan atas segala jerih payah dan dukungan yang telah diberikan kepada saya dalam studi peneliti. Segala pengabdian dan kehormatan hanya untuk mereka. 5. Teman-teman di BEM-FE Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, tanpa terkecuali, terima kasih untuk kerjasama dan diskusi-diskusinya, terus berbuat untuk tegakkan demokrasi ekonomi. 6. Sahabat-sahabat teristimewa di joyo grand dan di Mertojoyo Blok G;, Achad yahya ,Pradana Hidayat, luthfi, Ivan, Abdur Rofik, Chumaidi, Irvan, Wahyudi, M. Zein, Zainuddin kalian semua telah menyumbangkan inspirasi tak ternilai bagi terselesaikannya skripsi ini. Dan kalian telah menjadi keluargaku selama di malang, kesuksesan itu hak semua orang. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, terimakasih untuk semua informasinya. Malang, 12 Juli 2009 Ayatullah x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................. iii LEMBAR PENGESAHAN................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................... v MOTTO................................................................................................................. vi SURAT PERNYATAAN.................................................................................... vii KATA PENGANTAR.......................................................................................viii DAFTAR ISI ...........................................................................................................x DAFTAR TABEL............................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xv DAFTAR GRAFIK............................................................................................. xvi DAFTAR RUMUS ............................................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................xviii ABSTRAK........................................................................................................... xix BAB I : PENDAHULUAN..............................................................................1 A. Latar Belakang...............................................................................1 B. Rumusan Masalah .........................................................................8 C. Tujuan Penelitian...........................................................................9 D. Batasan Penelitian.......................................................................10 E. Manfaat Penelitian.......................................................................11 BAB II : KAJIAN PUSTAKA........................................................................13 A. Penelitian Terdahulu..................................................................13 B. Perkembangan Perusahaan Sekuritas di Indonesia ...............25 C. Perkembangan Perusahaan Perbankan di Indonesia ............29 D. Pasar Modal Sebagai Sarana Investasi .....................................32 E. Investasi, Prinsip dan Kaidahnya..............................................35 1. Jenis-Jenis Investasi..................................................................35 2. Prinsip dan Kaidah Investasi Menurut Syariah ..................38 4. Hukum Jual Beli Saham..........................................................41 5. Transaksi Perdagangan Saham yang Dilarang....................44 F. Return dan Risiko Investasi .......................................................46 xi G. Estimasi Return dan Risiko Investasi .......................................50 H. Capital Asset Pricing Model (CAPM)..........................................54 I. Performance Saham dan Beberapa Metode Pengukurnya .....56 J. Jensen’s Model sebagai Pengukur Performance Saham............60 K. Event Study ..................................................................................62 L. Kerangka Berpikir.......................................................................64 M. Hipotesis Penelitian ...................................................................66 BAB III : METODE PENELITIAN................................................................68 A. Objek Penelitian ..........................................................................68 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian ...............................................69 C. Periode Pengamatan, Jenis dan Sumber Data.........................69 D. Teknik Pengumpulan Data........................................................71 E. Definisi Operasional dan Cara Pengukurannya .....................71 F. Teknik Analisis Data ...................................................................75 1. Uji Beda Paired Two Samples for Mean...................................76 2. Uji Beda Independent Samples .................................................79 BAB IV : PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN....................................................................................82 A. Paparan Data ................................................................................82 1. Gambaran Umum Industri Sekuritas...................................82 2. Gambaran Umum Industri Perbankan................................85 B. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ....................................88 1. Perhitungan Market Performance............................................88 a. Return Saham.......................................................................88 b. Rata-Rata Return (Expected Return) ...................................89 c. Rata-Rata Return Pasar (Expected Market Return)............90 d. Return of Risk Free Assets (RFA) .........................................90 e. Beta Saham...........................................................................91 f. Required Return (CAPM)......................................................92 g. Alpha Jensen ..........................................................................93 2. Uji Beda Paired Two Samples for Mean Test ...........................93 a. Industri Sekuritas ................................................................94 xii b. Industri Perbankan .............................................................97 3. Uji Beda Independent Samples ...............................................100 a. Performance Sebelum Suspensi ........................................102 b. Performance Sesudah Suspensi.........................................106 4. Perbandingan Performance Saham dengan Indeks Industri dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ...................110 C. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................116 1. Perbedaan Performance Saham Sebelum dan Sesudah Suspensi ..................................................................................116 a. Industri Sekuritas ..............................................................116 b. Industri Perbankan ...........................................................119 2. Perbedaan Performance Saham pada Industri Sekuritas dan Perbankan.......................................................................122 a. Sebelum Suspensi..............................................................122 b. Sesudah Suspensi..............................................................124 3. Perbandingan Performance Saham dengan Indeks Industri dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ...................127 BAB V : PENUTUP.........................................................................................132 A. Kesimpulan.................................................................................132 B. Saran ............................................................................................136 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... xiii DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1: Pergerakan Indeks Sektoral Industri dan IHSG ...........................10 Tabel 2.1: Ringkasan Penelitian Terdahulu.....................................................16 Tabel 2.2: Perkembangan Kinerja Reksadana .................................................28 Tabel 2.3: Indikator Perkembangan Perbankan..............................................30 Tabel 3.1: Emiten yang Diamati ........................................................................68 Tabel 3.2: Tahapan Perhitungan Jensen’s Model ..............................................72 Tabel 4.1: Perkembangan Perdagangan Saham Industri Sekuritas .............84 Tabel 4.2: Indikator Utama Perkembangan Perbankan.................................86 Tabel 4.3: Perkembangan Perdagangan Saham Industri Perbankan...........87 Tabel 4.4: Harga Saham AKSI 9-22 September 2008 ......................................89 Tabel 4.5: Expected Return AKSI (9 September-10 November 2008).............90 Tabel 4.6: Rata-Rata Tingkat Bunga Harian SBI Bulanan..............................91 Tabel 4.7: Ilustrasi Perhitungan Beta Menggunakan Saham AKSI..............92 Tabel 4.8: Diskripsi Statistik Saham-Saham Sekuritas...................................95 Tabel 4.9: Hasil Uji Beda Saham Sekuritas dengan Wilcoxon........................97 Tabel 4.10: Diskripsi Statistik Saham-Saham Perbankan ..............................98 Tabel 4.11: Hasil Uji Beda Saham Perbankan dengan Wilcoxon.................100 Tabel 4.12: Hasil Uji Normalitas .....................................................................101 Tabel 4.13: Diskripsi Statistik Uji Parametrik Sebelum Suspensi...............102 Tabel 4.14: Hasil Uji Beda Parametrik Sebelum Suspensi...........................103 Tabel 4.15: Diskripsi Statistik Uji Non Parametrik Sebelum Suspensi......105 xiv Tabel 4.16: Hasil Uji Beda Non Parametrik Sebelum Suspensi ..................105 Tabel 4.17: Diskripsi Statistik Uji Parametrik Sesudah Suspensi ...............106 Tabel 4.18: Hasil Uji Parametrik Sesudah Suspensi .....................................107 Tabel 4.19: Diskripsi Statistik Uji Non Parametrik Sesudah Suspensi ......108 Tabel 4.20: Hasil Uji Beda Non Parametrik Sesudah Suspensi ..................109 Tabel 4.21: Perbandingan Expected Return.....................................................111 Tabel 4.22: Perbandingan Beta Saham...........................................................112 Tabel 4.23: Perbandingan CAPM....................................................................113 Tabel 4.24: Perbandingan Alpha Jensen .........................................................115 Tabel 4.25: Perubahan Aktivitas Saham Sekuritas .......................................117 Tabel 4.26: Perubahan Aktivitas Saham Perbankan ....................................121 xv DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1: Hubungan Return dan Risiko Investasi .....................................49 Gambar 2.2: Kerangka Berpikir Penelitian......................................................65 xvi DAFTAR GRAFIK Halaman Grafik 4.1: Trend Pergerakan Expected Return ...............................................111 Grafik 4.2: Trend Pergerakan Beta Saham......................................................113 Grafik 4.3: Trend Pergerakan CAPM..............................................................114 Grafik 4.4: Trend Pergerakan Alpha Jensen....................................................115 xvii DAFTAR RUMUS Halaman Rumus 2.1 : Actual Return .................................................................................53 Rumus 2.2 : Metode rata-rata Aritmatik.........................................................53 Rumus 2.3 : Metode rata-rata geometrik ........................................................53 Rumus 2.4 : CAPM.............................................................................................55 Rumus 2.5 : Jensen’s Model.................................................................................62 Rumus 3.1 : Return Individual..........................................................................72 Rumus 3.2 : Return Pasar...................................................................................73 Rumus 3.3 : Tingkat Bunga Investasi Bebas Risiko ......................................73 Rumus 3.4 : Expected Return .............................................................................74 Rumus 3.5 : Beta saham ....................................................................................74 Rumus 3.6 : IHSG ..............................................................................................75 Rumus 3.7 : T Test Uji Paired ............................................................................78 Rumus 3.8 : T Test Uji Independent ...................................................................80 xviii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: ISF, IHSG dan Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Sekuritas Lampiran 2: Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Perbankan Lampiran 3: Actual Return ISF, IHSG dan Saham-Saham Sekuritas Lampiran 4: Actual Return Saham-Saham Perbankan Lampiran 5: Return of Risk Free Assets (Tingkat Bunga SBI) dan Varian Pasar Lampiran 6: Expected Return, Kovarian Saham, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Saham-Saham Sekuritas Lampiran 7: Expected Return, Kovarian Saham, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Saham-Saham Perbankan Lampiran 8: Rata-Rata Expected Return, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Sebelum dan Sesudah Pengamatan Lampiran 9: Hasil Pengujian Actual Return ABSTRAK xix Ayatullah, 2009 SKRIPSI: Judul “Studi Komparatif terhadap Performance Saham Perusahaan-Perusahaan Sekuritas dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008)” Pembimbing: Drs. Agus Sucipto, MM. Kata Kunci: Performance saham, event study, suspensi, Jensen’s model Dalam perspektif ekonomi global, resesi yang terjadi di satu negara sangat mungkin menular dan mempengaruhi negara lain. Hal ini karena hampir semua negara-negara di dunia menganut sistem pasar bebas sehingga saling terkait satu sama lain. Impor suatu negara merupakan ekspor bagi negara lain, dan sebaliknya. Hubungan yang demikian menyebabkan krisis keuangan yang terjadi di Amerika juga dirasakan di Indonesia. Puncaknya, terkoreksinya IHSG secara tajam sehingga menyebabkan diberlakukannya suspensi oleh Bursa Efek Indonesia pada tanggal 8-13 Oktober 2008. Industri sekuritas dan perbankan merupakan industri yang memiliki potensi besar untuk terpengaruh suspensi karena aktivitasnya yang berkaitan langsung dengan laju perputaran modal. Penelitian ini menganalisis kinerja saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan 4 minggu sebelum dan sesudah suspensi. Pengukuran kinerja menggunakan Jensen’s model. Sampel untuk saham sekuritas berjumlah 9 emiten, sedangkan untuk saham perbankan berjumlah 25 emiten. Pemilihan sampel menggunakan jedgement sampling. Untuk mengetahui perbedaan kinerja sebelum dan sesudah suspensi digunakan uji paired for mean test, sedangkan untuk mengetahui perbedaan kinerja saham sekuritas dan perbankan, baik sebelum dan sesudah suspensi digunakan uji independent samples. Hasil pengujian uji paired for mean test menunjukkan bahwa performance saham sebelum dan sesudah suspensi tidak berbeda secara signifikan, baik pada saham sekuritas maupun perbankan. Begitupun halnya dengan hasil pengujian uji beda independent samples. Kinerja saham sekuritas tidak berbeda signifikan dengan kinerja saham perbankan, baik pada saat sebelum maupun sesudah suspensi. Namun secara keseluruhan, keempat variabel yang diikutkan dalam pengujian, yaitu expected return, beta saham, dan alpha Jensen menunjukkan trend meningkat dari sebelum suspensi ke sesudah suspensi. Hasil tersebut mencerminkan bahwa suspensi direspon positif oleh investor sebagai peredam pasar yang irasional. Namun respon tersebut tidak secara signifikan mempengaruhi preferensi investor dalam keputusan jual beli saham pada saham-saham sekuritas dan perbankan. ABSTRACT xx Ayatullah, 2009 THESIS: Title “A Comparative Study on Stock Performance of Securities and Banking Company at Indonesian Stock Exchange (Event Study on Trading Suspension of Stock on 8th-13th October 2008)” Counsellor: Drs. Agus Sucipto, MM. Key word: Stock performance, event study, trading suspension, Jensen’s models In global economic perspective, the ecomic recession happening at one country may contaminate and influence other countries. It happens because most of all countries in the world practice a free trade system, so they are linked each other. Import of one country is export for another, and conversely. That relationship causes the financial crisis in United State which is felt in Indonesia. The peak is the falling of Jakarta Composite Index (JCI) that makes Indonesia Stock Exchange did a suspension on 8th - 13th October 2008. Securities and banking are two of companies that have big potencial for effected by suspension because their activities are related with capital turnover directly. This research analyzes stock performance of securities and banking companies in four weeks before and after suspension. Stock performance is measured by Jensen’s models. The Sample for Securities Company is nine constituents; while the sample for banking company is twenty five constituents. These Samples are choosed by judgement sampling technique. The difference of stock performance before and after suspension is verified by paired for mean test, meanwhile the difference of stock performance between securities and banking company on before and after suspension is veryfied by samples independent test. The result of paired for mean test shows that stock performance before and after suspension is not different significantly, either on securities or banking company. The same this happens for the result of independent samples test. Stock performance of securities and banking company is not different significantly, either before or after suspension. But as a whole, four variables included in tests, namely expected return, beta, and alpha Jensen, shows an increasing after suspension. It reflects that suspension was responded positively by investor as an absorber of irrational trading. But that response doesn’t influence preference of investors in stock trading decision, especially in stock of securities and banking company. xxi المستخلص آية الله، 2009 . بحث جامعي. الموضوع: "دراسة مقارنة على تأدية السهم المؤسسات الحماية 13- والمالية في سوق الأوراق المالية الإندونيسية (دراسة حادثة على تأجيل بائع سهم في تاريخ 8 "( أكتوبر 2008 المشرف: الدكتوراندوس اكوس سوجيفطا الماجستير Jensen’s الكلمات الرئيسية: تأدية السهم، دراسة حادثة، تأجيل، طرز في نظرية إقتصادية مجملية، يحدث هبوط النشاط الاقتصادي في البلد يستطيع أن يعدي ويؤثر بلد الأخرى. يسبب هذا الحال لأن البلاد في هذا العالم يتمذهب نظام سوق المستقل حتى يرتبط بينهم. الوارد في بلد هو التصدير للبلد الأخرى وسوه. ذلك الإرتباط يسبب على أزمة بسريع الفهم حتى IHSG اقتصادية التي تحدث في أمريكا يشعر في إندونيسيا. وقمته، صحح . 13 أكتوبر 2008 - يسببه أن يعمل تأجيل مع سوق الأوراق المالية الإندونيسية في تاريخ 8 وصناعة الحماية والمالية هي صناعة التي تملك قوة سيطرة كبيرة لتؤثر تأجيل لأن نشاطها تتعلق مباشرة بالإسراع الدور الرأس المال. يحلل هذا البحث عن عملية السهم المؤسسات الحماية والمالية أربعة أسبوع قبل تأجيل أما ،emiten والعينة للسهم الحماية تسعة .Jensen’s وبعده. ويستعمل مقياس العمل بطرز .judgement sampling واختيار العينة باستعمال .emiten لسهم المالية خمسة وعشرين المتزوجة ) paired for mean test ليعرف مختلفة عملية قبل تأجيل وبعده يستعمل التجربة لدلالة التجربة)، أما ليعرف مختلفة عملية سهم الحماية والمالية، قبل تأجيل وبعده بالتجربة العينة المستقلة. نتيجة التجربة المتزوجة لدلالة التجربة تدل أن تأدية السهم قبل تأجيل وبعده لا يختلف بدلالة من ناحية حماية ومالية. وكذلك نتيجة تجربة الإختلاف العينة المستقلة. وعملية السهم الحماية لا يختلف بدلالة مع عملية السهم المالية، قبل تأجيل وبعده. بل أربعة متغيرات التي تتبع في التجربة تدل أن تنمى اتجاه من قبل alpha Jensen و ،beta saham ،expected return وهي تأجيل وبعده. تلك النتيجة تصور أن التأجيل يستجب إيجابي مم  ول للاعدام السوق بلا عقل. بل تلك الإستجابة لا دلالة تؤثر المراجع المم  ول في تقرير البائع والشراء السهم على السهام الحماية والمالية. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat akibat macetnya kredit perumahan (subprime mortgage) telah berkembang menjadi masalah yang serius, terutama setelah bankrutnya Lehman Brothers pada 15 September 2008. Gejolak tersebut mulai dirasakan beberapa kawasan termasuk Indonesia, terutama pada kuartal terakhir 2008, Dalam perspektif ekonomi, perdagangan antara satu negara dengan negara lainnya saling berkaitan karena adanya aliran barang dan jasa. Impor suatu negara merupakan ekspor bagi negara lain. Dalam hubungan yang demikian, resesi yang terjadi di satu negara dimungkinkan akan menular dan mempengaruhi negara lain karena penurunan impor di satu tempat akan menyebabkan tertekannya ekspor di tempat lain. Saat ini, hampir semua negara-negara di dunia menganut sistem pasar bebas sehingga saling terkait satu sama lain. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lain dengan regulasi moneter tiap negara yang beragam. Akibatnya, setiap negara memiliki risiko terkena dampak krisis dari negara lainnya. 2 Sistem seperti itulah yang menyebabkan Indonesia juga terseret pada krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Akibat krisis keuangan tersebut, pasar saham di Indonesia rontok sehingga pada 8 Oktober 2008 IHSG mencapai titik terendah, yaitu turun 168,052 poin menjadi 1.451,669. Puncak rontoknya pasar saham tersebut adalah saat perdagangan saham di Bursa diberhentikan (disuspensi) jam 11.06 WIB pada tanggal yang sama karena IHSG dinilai berada di luar batas kewajaran. IHSG anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen menjadi 1.451,66 poin dengan transaksi perdagangan saham dan derivatif (turunan saham) yang hanya sebesar Rp 952,16 miliar (Kompas, 9 Oktober 2008). Penurunan IHSG dan besarnya nilai perdagangan yang di bawah 1 triliun tersebut menurut Direktur BEI Erry Firmansyah merupakan pertanda pasar yang tidak rasional sehingga diperlukan suspensi untuk memberikan kesempatan investor berpikir rasional. Untuk selanjutnya, suspensi tersebut diberlakukan BEI hingga 13 Oktober 2008. Dalam Peraturan No. 1-L Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang Suspensi, Bursa diperkenankan untuk menutup sementara (suspensi) perdagangan efek di seluruh pasar atau atas saham-saham tertentu selama jangka waktu tertentu dalam rangka menyelenggarakan perdagangan saham yang teratur, wajar dan efisien. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa tujuan suspensi adalah memberikan 3 waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang kewajaran harga saham berdasarkan informasi yang ada. Suspensi sendiri juga bisa diberlakukan pada emiten atas permintaan emiten atau adanya sanksi dari bursa terhadap emiten tertentu (Peraturan No.1-L BEI, 2-4). Dalam kondisi anjloknya IHSG dan diberlakukannya suspensi tersebut, banyak kalangan mengkhawatirkan akan terjadi rush (penarikan dana secara massal) di pasar keuangan, terutama dana yang ada pada perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan. Dalam berita yang dirilis Kompas, 30 Oktober 2008, terdapat sekitar 33 perusahaan sekuritas yang Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKDB)-nya mendekati batas minimal yang ditetapkan bursa, yaitu Rp. 30 miliar. Berdasarkan data dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Oktober 2008, dari 121 perusahaan sekuritas yang terdaftar sebagai anggota bursa (AB), terdapat 33 perusahaan sekuritas yang memiliki modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) di bawah Rp 30 miliar. Dari 33 perusahaan sekuritas itu, sebanyak 15 perusahaan hanya memiliki MKBD Rp 25 miliar-Rp 26 miliar. Merosotnya MKDB perusahaan-perusahaan sekuritas tersebut terjadi akibat banyak nasabah yang menggunakan fasilitas margin bangkrut sehingga tidak mampu mengembalikan pinjaman yang digunakan untuk membeli saham kepada perusahaan sekuritas 4 (Kompas, 30 Oktober 2008). Nasabah yang meminjam dana dari perusahaan sekuritas tersebut serta para manajer investasi dan para investor memilih menjual sahamnya pada harga berapapun karena khawatir harga sahamnya jatuh ke level yang lebih rendah menyusul rontoknya bursa saham regional. Dengan mekanisme seperti itulah, dana di pasar modal terserap keluar. Dalam hal ini, perusahaan sekuritas mengalami keketatan likuiditas karena dana investor di reksadana—yang notabene-nya adalah salah satu produk perusahaan sekuritas—ikut kering disebabkan sentimen negatif yang terjadi di pasar. Itulah sebabnya kenapa perusahaan sekuritas mau menjual saham investor yang punya pinjaman pada harga berapapun untuk menghindari kerugian yang terlalu dalam. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan sekuritas itu sendiri. Implikasinya, harga saham yang umumnya dilihat sebagai cerminan kinerja perusahaan juga akan terpengaruh dan direaksi pasar secara beragam. Di sisi lain, tersedia alternatif penempatan dana bagi investor yang menarik dananya keluar dari pasar modal. Alternatif tersebut adalah perusahaan perbankan. Pilihan ini menjadi lebih menarik dibandingkan pasar modal mengingat kebijakan pemerintah yang lebih memilih menstabilkan inflasi dan nilai tukar dengan cara menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sehingga pemberian bunga 5 oleh bank terhadap pihak ketiga pun akan naik. Sementara dari sudut pandang bank, menurut Gunarso (2008), kenaikan BI rate juga akan mengakibatkan ketatnya likuditas bagi perbankan. Selain karena kesulitan mendapatkan dana murah dari pihak ketiga (giro, tabungan, deposito) karena harus menaikkan suku bunga DPK, suku bunga di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) juga akan meningkat. Dengan begitu, cost of fund bank akan menjadi lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, bank tidak hanya akan berpotensi ditinggalkan para deposan, tetapi juga oleh bank-bank mitranya di luar negeri (Regional Rool, 2008). Keadaan seperti ini tentu juga akan berpengaruh terhadap kinerja perbankan, termasuk harga sahamnya. Kondisi dua industri (sekuritas dan perbankan) sebagaimana tersebut tentu akan direspon secara berbeda oleh investor. Sehingga reaksi pergerakan sahamnya-pun besar kemungkinan akan berbeda. Untuk itu diperlukan event tertentu untuk mengidentifikasi perbedaan tersebut. Dan event yang relevan sebagai risiko pasar serta sebagai rantai akibat dari krisis keuangan tersebut adalah suspensi. Selain karena secara waktu event ini memiliki jangka waktu yang jelas, event ini juga dianggap sebagai tolak ukur untuk mengetahui respon investor terhadap kebijakan-kebijakan moneter yang dibuat pemerintah dalam rangka mengatasi kondisi pasar keuangan yang terganggu akibat krisis global. Secara faktual, kebijakan-kebijakan 6 penting pemerintah di bidang moneter berlangsung selama suspensi diberlakukan. Salah satu teori konvensional yang bisa digunakan untuk mengevaluasi pergerakan saham dan menilai kinerja (performance) suatu saham adalah Jensen’s model. Model ini mendasarkan penilaiannya terhadap acuan return dan risiko yang terkandung pada saham dengan menggunakan model CAPM (Samsul, 2006:362). CAPM (Capital Asset Pricing Model) sendiri merupakan model keseimbangan yang dipergunakan untuk mengevaluasi saham dengan menggunakan beta sebagai ukuran risiko yang relevan. Jensen’ Model diperkenalkan oleh Michael C. Jensen pada tahun 1968. Jensen’s Model biasanya digunakan untuk menilai kinerja portofolio ataupun reksadana. Akan tetapi Jensen juga berpendapat bahwa rumus yang dikemukakannya bisa digunakan untuk menilai kinerja saham secara individual (Samsul, 2006:366). Dalam model ini, beta dianggap sebagai satu-satunya risiko sistematis yang relevan untuk mempelajari reaksi pasar atas event tertentu yang bersumber dari non-corporate action. Semakin besar nilai Jensen yang dihasilkan maka semakin baik kinerja suatu saham. Penelitian yang mempelajari reaksi saham terhadap event-event tertentu di luar corporate action perusahaan, diantaranya pernah dilakukan oleh Ilmasari (2007) dengan menggunakan event Corporate 7 Governance Perception Index. Hasil penelitian Ilmasari menyimpulkan bahwa event tersebut tidak mempengaruhi reaksi pasar terhadap harga saham. Di luar event non corporate action, Sucipto (2006) pernah melakukan penelitian untuk mempelajari reaksi saham terhadap event stock split dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan Ilmasari. Penelitian Sucipto membuktikan bahwa event corporate action berupa stock split direaksi oleh pasar. Itu terlihat dari perbedaan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah event. Penggunaan suspensi sebagai event non corporate action dalam penelitian ini mungkin saja akan menghasilkan kesimpulan berbeda dengan kesimpulan Ilmasari mengingat konteks dan waktu penelitian yang berbeda. Di samping itu, range periode pengamatan dan indikator penilai kinerja yang digunakan juga berbeda. Penelitian ini menganalisis performance (kinerja) saham-saham perusahaan sekuritas dan perbankan pada tiga puluh hari sebelum suspensi dan tiga puluh hari sesudahnya. Sementara indikator penilai kinerja menggunakan Jensen’s model dengan beta sebagai pengukur risiko. Penggunaan Jensen’s model dikarenakan suspensi merupakan event yang bersumber dari luar perusahaan atau non-corporate action sehingga ukuran risiko yang paling relevan untuk digunakan adalah beta yang merupakan sensitivitas pergerakan saham terhadap pergerakan pasar (IHSG). 8 B. Rumusan Masalah Berdasarkan diskripsi pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini disusun sebagai berikut: 1. Apakah ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas sebelum dan sesudah dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia? 2. Apakah ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan perbankan sebelum dan sesudah dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia? 3. Apakah ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sebelum dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia? 4. Apakah ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sesudah dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia? 5. Bagaimana performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan dibandingkan performance pasar yang diwakili oleh Indeks Sektoral Finance dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)? 9 C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas sebelum dan sesudah dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia; 2. Mengetahui perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan perbankan sebelum dan sesudah dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia; 3. Mengetahui perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sebelum dibelakukannya suspensi pada Bursa Efek Indonesia; 4. Mengetahui perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sesudah dibelakukannya krisis finansial global pada Bursa Efek Indonesia; 5. Mendiskripsikan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan dibandingkan performance pasar yang diwakili oleh Indeks Sektoral Finance dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 10 Industri Basic Misc. Consumer Bulan Industry Industry Goods Agustus 196,50 386,09 396,01 164,41 653,41 September 162,93 326,15 381,36 142,42 570,91 Oktober 112,18 199,97 321,92 101,35 407,13 November 114,45 215,82 320,90 105,63 438,08 Industri Bulan Agustus 224,93 295,34 341,10 1.845,45 2.577,22 September 203,37 261,33 300,31 1.489,57 1.833,24 Oktober 151,79 158,76 217,55 738,18 1.095,74 November 150,90 137,78 223,06 803,89 897,51 Agustus September Oktober November 2165,943 1832,507 1256,704 1241,541 IHSG Property Infrastructure Finance Trade Manufacturing Agriculture Mining D. Batasan Penelitian Banyak cara yang dapat digunakan untuk menilai performance atau kinerja saham. Salah satu metode konvensional yang bisa digunakan adalah Jensen’s model yang menitikberatkan estimasinya pada model CAPM (Capital Asset Pricing Model). Penelitian ini mengestimasi performance saham menggunakan model tersebut. Tabel 1.1 Pergerakan Indeks Sektoral Industri dan IHSG Sumber: Statistik Pasar Modal (IDX Monthly Statistics, 2008) Jensen’s model dipilih karena ukuran risiko yang digunakan adalah beta sebagai systematic risk. Dan beta adalah pengukur risiko yang paling relevan dalam penelitian yang menggunakan event study berupa informasi non corporate actions, termasuk suspensi bursa efek yang terjadi pada tanggal 8-13 Oktober 2008 (Dalam kondisi dimana semua industri di pasar bergerak dengan pola trend yang sama—lihat 11 tabel 1.1—, susah untuk mengatakan bahwa pergerakan harga saham pada saat tersebut dipengaruhi oleh corporate action dari perusahaan secara individu. Karena itu, risiko yang paling relevan adalah dengan melihat sensitivitas pergerakan saham terhadap pergerakan pasar, yaitu beta). E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat: 1. Bagi Akademisi; untuk menambah wawasan keilmuan berkaitan dengan performance saham dan pengukurannya. 2. Bagi investor; agar dapat mengetahui perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sehingga investor dapat menilai sektor keuangan mana yang sensistivitasnya terhadap event tertentu paling peka dan tidak. 3. Bagi emiten di sektor keuangan; diharapkan bisa menjadi informasi yang berguna yang dapat digunakan untuk pengembangan perusahaan di masa yang akan datang 4. Bagi Pemerintah; diharapkan bisa menambah sumber informasi tentang kondisi dan sensitivitas perusahaan-perusahaan di sektor keuangan terhadap krisis, khususnya perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan. 12 5. Bagi pihak lain; diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan berkaitan dengan sensitivitas dan performance saham perusahaanperusahaan lain di masa mendatang. 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan dengan pendekatan event study. Itu artinya penelitian ini mempelajari reaksi pasar terhadap studi peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Studi peristiwa tersebut bisa berbentuk corporate actions dari perusahaan seperti stock split dan pengumuman dividen, dan bisa juga berbentuk non-corporate actions seperti kondisi politik tertentu ataupun kebijakan pemerintah lainnya yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan perusahaan secara individu. Event study dalam penelitian ini adalah informasi noncorporate actions yang berupa suspensi perdagangan saham di BEI tanggal 8-13 Oktober 2008. Beberapa penelitian yang menggunakan event study untuk mempelajari reaksi pasar diantaranya pernah dilakukan oleh Sucipto (2006), Ilmasari (2007) dan Octavina (2008). Sucipto meneliti perbedaan likuiditas saham perusahaan manufaktur berdasarkan event corporate actions, yaitu stock split. Hasil penelitian Sucipto tersebut diantaranya menghasilkan kesimpulan yang tidak berbeda antara volume perdagangan saham sebelum dan sesudah stock split. Hasil pengujian 14 lainnya terhadap bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split juga menghasilkan tidakadanya perbedaan yang signifikan. Sementara pengujian terhadap bid-ask spread sebelum dan saat stock split serta saat dan sesudahnya perbedaan yang signifikan. Hasil pengujian tersebut mengindikasikan ekspektasi investor yang berbeda terhadap stock Split. Penelitian Octavina, yang juga menggunakan event corporate actions berupa pengumuman dividen, menghasilkan kesimpulan yang tidak identik dengan penelitian Sucipto. Dari keseluruhan pengujian, ditemukan tidak adanya perbedaan abnormal return dan volumen perdagangan saham yang signifikan antara sebelum, saat dan sesudah pengumuman dividen. Penelitian Ilmasari yang menggunakan informasi non corporate actions, yaitu Corporate Governance Perception Index (CGPI) juga menghasilkan kesimpulan yang serupa dengan Octavina, yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara abnormal return dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah publikasi CGPI. Beragamnya kesimpulan penelitian tersebut mencerminkan reaksi investor yang tidak sama terhadap event, baik itu yang dikeluarakan perusahaan maupun pemerintah. Sementara Linawati (2005) sebelumnya pernah melakukan penelitian dengan memasukkan perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan dalam objek pengamatannya. Dari hasil uji beda terhadap 15 kinerja keuangan perusahaan bank dan perusahaan sekuritas dihasilkan kesimpulan yang tidak berbeda nyata pada periode 1998- 2003. Hasil penelitian ini mencerminkan reaksi investor yang hampir serupa terhadap kinerja perusahaan sekuritas dan perbankan, yang notabene-nya merupakan dua industri yang bergerak di bidang keuangan. Penelitian lainnya yang juga dirujuk sebagai referensi dalam penelitian ini adalah penelitian yang pernah dilakukan Al-Falah (2008). Al-Falah meneliti performance saham-saham BUMN, yang beberapa diantaranya termasuk perusahaan bank, dengan menggunakan salah satu model yang sama dengan penelitian ini, yaitu model Jensen. Hasil penting penelitian Al-Falah diantaranya yaitu bahwa Bank Negara Indonesia (BBNI), yang merupakan salah satu emiten yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian ini, memiliki kinerja di bawah pasar (underperformed). Kesimpulan lain yang ditemukan Al-Falah yaitu bahwa kinerja saham tidak terpengaruh secara signifikan oleh status kepemilikan perusahaan. Secara keseluruhan, ringkasan hasil-hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1 pada halaman berikutnya. 16 Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu No Peneliti Judul Variabel Metode/ Pendekatan Hasil 1 Nanik Linawati (2005) Perbandingan Perkembangan Kinerja Keuangan Antara Perusahaan Bank dengan Kinerja Keuangan Perusahaan Pembiayaan, Sekuritas, dan Asuransi pada Kinerja keuangan (Rasio-rasio keuangan) Kuantitatif/kompa ratif (Uji Beda Independen Sampel) Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi. Kinerja keuangan perusahaan Bank pada periode 1998-2001 tidak lebih buruk secara signifikan dibandingkan dengan kinerja keuangan 3 industri lainnya. Dan pada periode 2002- 2003, kinerja keuangan perusahaan Bank tidak lebih baik secara signifikan 17 Periode 1998- 2001 dan Periode 2002- 2003 dibandingkan dengan kinerja keuangan perusahaan Pembiayaan, Sekuritas, namun lebih baik secara signifikan bila dibandingkan dengan perusahaan Asuransi. 2 Agus Sucipto (2006) Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat dan Sesudah Pengumuman Stock Split (Study pada Likuiditas saham (Stock Split, Bid –Ask Spread dan Volume Perdagangan Saham) Kuantitatif/kompa ratif (event study) Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi. Ada perbedaan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah pengumuman stock split. Bid-Ask Spread saham sebelum sesudah pengumuman 18 Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Jakarta) stock split tidak berbeda signifikan. Bid-ask spread saham sebelum dengan saat pengumuman stock split serta saat dan sesudah pengumuman stock split berbeda nyata. 3 Nurul Ilmasari (2007) Perbedaan Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham dan Kinerja Perusahaan Sebelum dan Abnormal return, volume perdagangan saham dan kinerja perusahaan Kuantitatif/kompa ratif (Uji Beda Independen Sampel) Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi. Sedangkan sampel Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara abnormal return sebelum dan sesudah publikasi CGPI. Hal ini juga berlaku pada volume perdagangan 19 Sesudah Publikasi Corporate Governance Perception Index dipilih dengan teknik purposive. saham dan kinerja perusahaan yang tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah publikasi CGPI. 4 M. Alayk Al-Falah (2008) Analisis Market Performance Saham-Saham BUMN Menggunakan Sharpe’s Model, Jensen’s Model Dan Appraisal Ratio (Periode Market performance (Sharpe’s model, Jensen’s model dan appraisal ratio) Kualitatif/Diskript if Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi. Sedangkan sampel dipilih dengan teknik judment. Hasil pengukuran market performance dengan ketiga metode menghasilkan kesimpulan yang berbeda. sharpe’s model, terdapat delapan saham yang layak beli dan satu lainnya, yaitu INAF tidak layak 20 Pengamatan pada Tahun 2003-2007) beli. Sementara dengan menggunakan Jensen’s model dan appraisal ratio, dari sembilan saham BUMN yang dijadikan sampel hanya terdapat lima saham yang kinerjanya baik, nilainya undervalued, dan berada di atas kinerja pasar. Saham-saham tersebut adalah TINS, ANTM, PTBA, SMGR dan 21 TLKM. Sementara empat saham lainnya berkinerja buruk dan mempunyai nilai overvalued, serta kinerjanya berada di bawah kinerja pasar. Sahamsaham tersebut adalah BBNI, INAF, ISAT dan KAEF. 5 Devita Normala Octavina (2008) Analisis Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham di Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham dan Pengumuman dividen Kuantitatif/diskri ptif (Paired two sample for means test) Teknik pengumpulan data Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada abnormal return dan aktivitas volume perdagangan saham 22 Seputar Pengumuman Deviden (Study pada Industri Manufaktur yang Telah Go Public di Bursa Efek Indonesia). dengan dokumentasi. antara sebelum, saat dan sesudah pengumuman dividen 6 Ayatullah (2009) Studi Komparatif terhadap Performance Saham Perusahaan- Perusahaan Sekuritas dan Perbankan di Performance saham (Jensen’s model) Kuantitatif/Diskri ptif-komparatif (event study) (uji beda independen sampel, uji beda sampel berpasangan) Teknik pengumpulan data 23 Bursa Efek Indonesia (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham di Bursa Efek Indonesia) (2009) dengan dokumentasi. Sumber: Diolah berdasarkan penelitian terdahulu 24 Persamaan penting penelitian ini dengan penelitianpenelitian yang tersebut dalam tabel 2.1 di atas yaitu sama-sama ingin melihat kinerja saham selama periode waktu tertentu. Sementara perbedaannya terletak pada: 1. Periode penelitian; penelitian ini melihat performance saham 30 hari sebelum suspensi perdagangan BEI dan 30 hari sesudahnya; 2. Event study; event study penelitian ini adalah non-corporate actions yang berupa suspensi perdagangan BEI tertanggal 8-13 Oktober 2008; 3. Objek penelitian; Objek penelitian ini adalah saham-saham perusahaan bank dan sekuritas yang terdaftar di BEI selama periode pengamatan; 4. Indikator penilaian; penilaian performance dalam penelitian ini menggunakan model Jensen atau yang dikenal juga dengan indeks Jensen; 5. Metode penelitian; metode penelitian ini bersifat komparatif dan menggunakan dua uji beda sekaligus, yaitu uji beda independen sampel (independent for mean test) dan uji beda dua sampel berpasangan (paired two samples for mean test); 6. Kajian islam; penelitian ini dilengkapi dengan kajian teoritis dan kajian hasil penelitian yang diintegrasikan dengan ketentuanketentuan tertentu dalam islam. 25 B. Perkembangan Perusahaan Sekuritas di Indonesia Perusahaan sekuritas atau yang dikenal juga dengan perusahaan efek merupakan salah satu lembaga yang menunjang keberadaan pasar modal dan aktivitasnya. Perusahaan sekuritas boleh dibilang adalah jembatan bagi perusahaan yang akan masuk pasar modal dan juga bagi masyarakat yang akan berinvestasi di pasar modal. Perusahaan sekuritas memiliki andil besar dalam membawa perusahaan masuk pasar modal dan juga menggenjot frekuensi dan nilai transaksi perdagangan saham. Di Indonesia, perusahaan sekuritas bisa saja menjalankan satu dari izin yang diberikan dan juga dimungkinkan untuk menjalankan kedua fungsi tadi sekaligus, yaitu sebagai perusahaan yang akan membawa perusahaan masuk pasar modal (Penjamin Efek) dan juga sekaligus menjadi broker yang memfasilitasi masyarakat untuk membeli dan menjual saham di pasar modal. Karena itu untuk bertransaksi di pasar modal, masyarakat harus melalui perusahaan sekuritas (Ali dan Saifuddin, 2008). Perusahaan sekuritas sebagai perantara investasi saham menyediakan segala sarana yang berhubungan dengan investasi. Di antaranya, system realtime informasi yang dipakai untuk mengetahui perkembangan harga saham secara menyeluruh, sehingga akan 26 membantu investor mengambil keputusan investasinya. Perusahaan sekuritas juga biasanya menyediakan dan mengeluarkan analisa dan rekomendasi perkembangan pasar kepada investor. Analisa dan rekomendasi itu yang kemudian akan dijadikan bahan pertimbangan saham apa yang kita beli dan jual, serta saham mana saja yang harus kita pertahankan karena diperkirakan bakal menghasilkan keuntungan. Selain sebagai perantara, perusahaan sekuritas juga bertindak sebagai penjamin emisi efek bagi perusahaan yang baru masuk di pasar modal dan sebagai manajer investasi, izin yang diajukan (Suara Merdeka, 26 Februari 2004). Setiap perusahaan sekuritas memiliki ketentuan dan peraturan yang berbeda-beda, seperti dalam syarat pembukaan rekening, transaksi minimal, dan komisi yang harus diberikan kepada perusahaan dalam setiap transaksi (maksimal 1%). Perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia berada di bawah pengawasan Badan Pengawasan Pasar Modal (BAPEPAM). Para pialangnya juga terdaftar keanggotaannya secara resmi di Bapepam dan berhak menjadi perantara para investor. Bapepam inilah yang nantinya akan mengawasi kegiatan perusahaan sekuritas dan para pialangnya dalam menjalankan transaksi mewakili investor. Dengan adanya pengawasan ini, investor 27 lebih aman dari kemungkinan terjadinya penipuan yang akan dilakukan oleh perusahaan sekuritas dan pialang. Dari data yang dirilis BAPEPAM selama tahun 2008, diketahui total transaksi saham di bursa efek telah mencapai Rp 1.064 triliun, naik 1, 37% dari transaksi selama tahun 2007 yang mencapai Rp 1.050 triliun. Kenaikan ini masih kalah tinggi dibandingkan kenaikan pada tahun 2007 yang mencapai 324% dari total transaksi di tahun 2006 yang hanya mencapai Rp. 445,71 triliun. Penurunan kenaikan ini kemungkinan besar diakibatkan oleh efek domino dari krisis finansial global yang menimpa hampir seluruh pasar modal di dunia. Total transaksi perdagangan saham sebesar itu dijalankan melalui 117 perusahaan sekuritas. Perkembangan perusahaan sekuritas di Indonesia bisa juga dilihat dari salah satu produknya yang cukup terkenal, yaitu reksadana. Reksadana adalah sekumpulan aset keuangan, sering disebut portofolio, yang dikelola oleh manajer investasi. Menurut Ali dan Saifuddin (2006), kinerja reksadana sekilas bisa dilihat dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) dan nilai redemption. Semakin tinggi NAB dan subscription serta semakin kecil redemption berarti kinerja reksadana semakin baik. Tabel berikut ini menggambarkan perkembangan ketiga pengukur aktivitas reksadana tersebut. 28 Tabel 2.2 Perkembangan Kinerja Reksadana Redemption Subscription NAB Periode (Triliun Rp) (Triliun Rp) (Triliun Rp) 2004 379,53 398,41 104,037 2005 276,05 201,66 29,405 2006 50,35 63,677 51,62 2007 106,37 126,569 92,19 Sumber: Statistik Pasar Modal BAPEPAM-LK (22-30 Desember 2008) Pada tahun 2005, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya akibat adanya redemption secara besar-besaran yang terjadi pada kuartal pertama tahun 2005. Ini terjadi karena return reksadana, terutama reksadana pendapatan tetap menurun, sehingga menyebabkan NAB menurun. Hal tersebut mendorong investor reksadana melakukan redemption (penarikan penyertaan sebelum jatuh tempo) (Kurnia, 2005:3). Kondisi ini tercermin sebagaimana tabel F.2, dimana pada tahun 2005 nilai redemption lebih besar dibandingkan subscription dan NAB. Merosotnya kinerja reksadana tersebut berimbas pada menurunnya kepercayaan investor terhadap perusahaanperusahan sekuritas, terutama yang aktivitasnya bergerak di reksadana. Namun hal tersebut tampaknya tidak berlangsung cukup lama mengingat nilai redemption dua tahun setelahnya berhasil ditekan lebih rendah dari subscription. 29 Sampai November 2007, jumlah perusahaan sekuritas yang dicatat BAPEPAM sudah mencapai 169 perusahaan. Jumlah ini meningkat dibandingkan November 2006 yang hanya sebesar 168. Dari keseluruhan perusahaan tersebut, sampai saat ini hanya terdapat 9 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Kesembilan perusahaan tersebutlah yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian ini. C. Perkembangan Perusahaan Perbankan di Indonesia Dalam booklet yang diterbitkan Bank Indonesia (2008:3), bank diartikan sebagai sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Sejak awa, banyak para pakar berpendapat bahwa perbankan adalah salah satu tonggak perekonomian di suatu Negara. Itu artinya, baik tidaknya kinerja perbankan di sebuah Negara secara tidak langsung mencerminkan baik tidaknya kondisi perekonomian Negara bersangkutan. Pada tahun 1997-1998 industri perbankan di Indonesia mengalami guncangan keras akibat krisis moneter sehingga menghabiskan uang Negara lebih dari Rp. 500 triliun untuk keperluan 30 menyelamatkan dan merehabilitasi sektor perbankan, termasuk di dalamnya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan Rekapitalisasi Perbankan (Hadad, dkk, 2003:2). Tabel 2.3 Indikator Perkembangan Perbankan Sumber: Bank Indonesia (2007:4) Secara umum, sejak terjadinya krisis perbankan tahun 1997- 1998, kondisi industri perbankan di Indonesia sudah bisa dikatakan baik. Hal ini terutama didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah dan membaiknya berbagai variabel makro ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yang menegaskan independensi 31 Bank Indonesia sebagai pengatur moneter turut memberi ruang yang besar bagi perkembangan industri perbankan. Secara keseluruhan, perkembangan industri perbankan di Indonesia dapat dilihat pada tabel 2.3 yang dirilis Bank Indonesia. Tabel tersebut menunjukkan kondisi perbankan mulai tahun 2001-2007 yang relatif stabil. Dari tahun ke tahun, total asset mengalami peningkatan, begitu juga dengan dana pihak ketiga. Jumlah aktiva produktif juga cenderung meningkat meski pada tahun 2002 sempat menurun dibandingkan tahun 2001. Rasio LDR (loan to deposit ratio) yang merupakan salah satu indikator pengukur kesehatan bank juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan ini berarti baik karena LDR yang ideal sebagaiamana ketetapan Bank Indonesia adalah 70%. Rasio-rasio lainnya juga terlihat stabil dan sebagian besar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada kuartal terakhir 2008, dimana terjadi suspensi perdagangan di bursa efek Indonesia akibat krisis global, kondisi perbankan turut terselamatkan oleh indikator-indikator fundamental tersebut, tentunya selain kebijakan otoritator moneter dan pemerintah yang turut mendukung dan sinergis. Sampai Desember 2008, dari keseluruhan jumlah bank yang ada, 28 diantaranya telah terdaftar di pasar modal. Keduapuluh-delapan bank tersebutlah yang juga menjadi objek pengamatan dalam penelitian ini. 32 D. Pasar Modal Sebagai Sarana Investasi Di Indonesia, pengertian pasar modal adalah sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden (KEPRES) No. 52 Tahun 1976 tentang pasar modal Bab 1 Pasal 1 dimana disebutkan “ Pasar Modal adalah Bursa Efek seperti yang dimaksud dalam Undang- Undang No 15 Tahun 1952 (Lembaran Negara, Tahun 1952 No 67)”. Jadi Pasar Modal adalah bursa-bursa perdagangan di Indonesia yang didirikan untuk perdagangan uang dan efek. Sedangkan bursa adalah gedung atau ruang yang ditetapkan sebagai kantor dan tempat kegiatan perdagangan efek. Lebih lanjut ditegaskan bahwa pengertian efek disini adalah setiap saham, obligasi, atau bukti lainnya termasuk sertifikat atau surat pengganti surat bukti sementara dari surat-surat tersebut, opsi, obligasi, bukti penyertaan dalam modal atau pinjaman lainnya. Menurut keputusan Menteri Keuangan RI No. 1548/KMK/90 tentang peraturan pasar modal, pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan serta keseluruhan surat-surat yang berharga yang beredar (Sunaryah, 2006: 4). 33 Pasar modal memiliki manfaat yang sangat besar. Ia berfungsi untuk menjembatani kepentingan para pemilik modal (investor) dan para penghimpun modal (emiten). Bagi investor ia berfungsi sebagai sarana alternatif penempatan modal selain bank. Investor dapat menempatkan modalnya di salah satu atau beberapa instrumen investasi sekaligus di pasar modal. Beberapa instrumen yang dapat dipilih investor diantaranya saham, obligasi, reksadana dan produkproduk derivatif seperti warrant, dan lain-lain. Masing-masing instrumen investasi sama-sama memiliki karakteristik dan menjanjikan tingkat pengembalian yang berbeda satu sama lain. Dengan menempatkan investasinya di saham, investor dapat memperoleh keuntungan dari dividen dan capital gain. Sementara dengan menempatkan investasi pada obligasi, investor akan mendapatkan pengembalian dari tingkat bunga obligasi. Di reksadana, investor akan mendapatkan pengembalian dari kontrak kesepakatan antara pemilik modal dan pengolah modal. Semua instrumen investasi tersebut bisa dijadikan tempat penempatan modal oleh investor dalam bentuk portofolio. Semuanya akan sangat bergantung pada preferensi investor terhadap risiko sebab masingmasing instrumen memiliki tingkat risiko yang berbeda satu sama lain. 34 Secara umum, menurut Anoraga dan Pakarti (2006:12-13) kelebihan dan manfaat pasar modal dibandingkan sarana investasi lainnya diantaranya adalah: a. Bagi emiten; Jumlah dana yang dapat dihimpun bisa berjumlah sangat besar dan dana tersebut dapat diterima sekaligus pada saat pasar perdana selesai. Selain itu, cash flow hasil penjualan saham biasanya lebih besar dari harga nominal perusahaan. b. Bagi investor; Nilai investasi berkembang mengikuti pertumbuhan ekonomi dan nvestor mempunyai hak suara dalam RUPS bagi pemegang saham, mempunyai hak suara dalam RUPO bila diadakan bagi pemegang obligasi. Selain itu, investor dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi, misalnya dari saham A ke saham B sehingga dapat menigkatkan keuntungan atau mengurangi resiko. c. Bagi pemerintah; Dapat mendorong laju pembangunan serta menciptakan lapangan pekerjaan serta mendorong investasi . Selain itu, pasar modal juga berfungsi untuk mengurangi beban anggaran bagi BUMN (Badan Usaha Milik Negara). 35 E. Investasi, Prinsip dan Kaidahnya 1. Jenis-Jenis Investasi Pada dasarnya investasi merupakan penundaan konsumsi atas sejumlah dana yang dilakukan pada saat ini untuk digunakan dalam produksi atau ditanam dalam bidang tertentu selama suatu periode waktu dengan tujuan memperoleh keuntungan yang akan diterima di masa mendatang. Contohnya, seorang investor membeli saham pada saat ini dengan perkiraan di masa yang akan datang akan memperoleh keuntungan atau manfaat yang lebih besar melalui penerimaan dividen atau kenaikan harga saham (capital gain). Keuntungan ini merupakan imbalan atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi, akibat ketidakpastian aliran dana pada masa yang akan datang. Pemilik modal umumnya melakukan investasi atas sejumlah dananya pada investasi riil (real invesment) maupun investasi keuangan (financial invesment). Investasi pada asset riil dilakukan melalui barang modal yang digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang atau jasa. Real invesment dapat berupa tanah, mesin, bangunan dan lain-lain. Investasi pada financial invesment dilakukan dengan memiliki surat berharga (deposito, saham, obligasi, dan lain-lain.). Financial invesment tidak memberi kontribusi secara langsung terhadap proses produksi, tetapi 36 memiliki manfaat yang akan diperoleh dengan memegang financial investment tersebut. Financial invesment adalah klaim berbentuk surat berharga atas sejumlah aset dari penerbit surat berharga. Investasi dalam financial invesment dapat berupa investasi langsung ataupun tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aset keuangan dari suatu perusahaan, baik melalui perantara ataupun tidak. Investasi langsung ada yang tidak dapat diperjual-belikan seperti tabungan, deposito, dan lain-lain. Namun ada pula yang dapat diperjual-belikan di pasar uang (Treasury bill), di pasar modal (obligasi dan saham), atau pasar turunan (opsi dan future). Aset di pasar uang risiko gagalnya kecil, jatuh temponya pendek dan likuiditasnya tinggi, sedangkan aset di pasar modal sebaliknya. Investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli surat berharga dari perusahaan investasi yang memiliki portofolio aset keuangan perusahaan-perusahaan lain. Menurut Sharpe (2005:120), pemilik modal harus melalui beberapa tahapan proses untuk mencapai keputusan investasi yang terbaik. Tahapan-tahapan tersebut adalah : a. Menentukan kebijakan investasi Kebijakan investasi meliputi penentuan tujuan investasi dan besar kekayaan yang akan diinvestasikan. Tujuan investasi 37 harus dinyatakan baik dalam tingkat keuntungan (return) maupun risiko. Jumlah dana yang diinvestasikan juga mempengaruhi return dan risiko yang ditanggung. Di samping itu dalam proses investasi perlu dipertimbangkan preferensi risiko pemodal. Hal ini mempengaruhi jenis sekuritas yang dipilih untuk alokasi dana yang ada sehingga dapat diperkirakan distribusi dana pada berbagai instrumen yang tersedia. Dengan menentukan tujuan investasi dapat ditentukan pilihan instrumen investasi yang dilakukan. b. Melakukan analisis sekuritas Analisis sekuritas berarti menilai sekuritas secara individual, dan untuk mengidentifikasi sekuritas digunakan dua filosofi berbeda, yaitu: 1) Untuk sekuritas yang mispriced (harga terlalu tinggi atau terlalu rendah) dapat dengan analisis teknikal atau analisis fundamental. 2) Untuk sekuritas dengan harga wajar, pemilihan sekuritas didasarkan atas preferensi risiko para pemodal, pola kebutuhan kas, dan lain-lain. c. Membentuk portofolio Dari hasil evaluasi terhadap masing-masing sekuritas, dipilih aset-aset yang akan dimasukkan dalam portofolio dan 38 ditentukan proporsi dana yang diinvestasikan pada masingmasing sekuritas tersebut. Ini dilakukan dengan harapan risiko yang harus ditanggung terkurangi dan portofolio yang menawarkan return maksimum dengan risiko tertentu atau minimum risiko dengan return tertentu dapat terbentuk. d. Merevisi portofolio Revisi atas portofolio berarti merubah portofolio dengan cara menambah atau mengurangi saham dalam portofolio yang dianggap menarik atau tidak lagi menarik. Jika diperlukan, langkah ini dilakukan melalui pengulangan tiga tahap di atas. e. Evaluasi kinerja portofolio Evaluasi kinerja portofolio membandingkan kinerja yang diukur baik dalam return yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung, terhadap portofolio benchmark atau pasar. 2. Prinsip dan Kaidah Investasi Menurut Syariah Dalam ajaran Islam, kegiatan investasi dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk ke dalam kegiatan muamalah, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan antar manusia dengan manusia lainnya. Sementara itu, dalam kaidah fiqhiyah disebutkan bahwa hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah (boleh), kecuali yang jelas ada larangannya dalam 39 Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini berarti bahwa ketika suatu kegiatan muamalah baru muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam ajaran Islam, maka kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat indikasi dari Al Qur’an dan Hadist yang melarangnya secara implisit maupun eksplisit (Badan Pengawas Pasar Modal, 2004:11). Dalam beberapa literatur Islam klasik memang tidak ditemukan adanya terminologi investasi maupun pasar modal, akan tetapi sebagai suatu kegiatan ekonomi, kegiatan tersebut dapat diketegorikan sebagai kegiatan jual beli (al-Bay). Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah kegiatan investasi di pasar modal merupakan sesuatu yang dibolehkan atau tidak dalam Islam, kita perlu mengetahui hal-hal yang dilarang atau diharamkan oleh ajaran Islam dalam hubungan jual beli. Apabila kita merujuk kepada ajaran Al-Qur’an dan Al- Hadits, maka terdapat beberapa ayat Al-Qur’an dan juga Hadits yang bisa kita jadikan dasar hukum berinvestasi sebagai salah satu kegiatan al-bay. Berikut ini adalah beberapa di antaranya: ¨≅ymr&uρ ª!$# yìø‹t ∩⊄∠∈∪.... (#4θt/h̍9$# tΠ§ymuρ 7ø9$# Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….” (QS Al-Baqarah; 275) 40 $y㕃r'‾≈t ƒ šÏ%©!$# (#θãΨtΒ#u Ÿω (#þθè=à2ù's? Νä3s9≡uθøΒr& Μà6oΨ÷t/ È≅ÏÜ≈t 6ø9$$Î/ HωÎ) βr & šχθä3s? ¸οt ≈p gÏB t ∩⊄∪ .... öΝä3ΖiÏΒ <Ú#ts? ã Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jaunganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu…” (QS An-Nisa’; 29) š∩⊇∪ ..… Šθà)ãèø9$$Î/ θèù÷ρr & Ï (#þθãΨtΒ#u Ï%©!$#$y㕃r'‾≈t ƒ( Artinya: “Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu…” (QS Al- Maidah; 1) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad, seseorang bertanya kepada nabi tentang jenis penghasilan mana yang terbaik, dan nabi menjawab: Artinya: “Hasil Kerja seseorang dengan tangannya sendiri dari setiap transaksi perdagangan yang disetujui” (HR. Ahmad; 8337) 41 Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta kandungan hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada prinsipnya investasi adalah kegiatan muamalah yang diperbolehkan, malah dianjurkan. Investasi merupakan bagian dari pemenuhan akad (transaksi muamalah) sebagaimana yang dianjurkan dalam Surat Al-Maidah ayat 1 di atas. 3. Hukum Jual Beli Saham Untuk melakukan investasi syariah di pasar modal, terdapat karekteristik tersendiri yang harus dipenuhi. Batasan tersebut adalah berupa kesesuaian suatu produk investasi atas prinsip syariah. Di Indonesia, yang bertugas untuk memberikan ketentuan tentang batasan-batasan tersebut adalah Dewan Syariah Nasional (DSN), yaitu suatu lembaga dibawah MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dibentuk tahun 1999. Ketentuan tersebut dituangkan ke dalam beberapa fatwa MUI tentang kegiatan dan instrumen investasi yang sesuai syariah di Pasar Modal Indonesia. Di negara lain yang juga memberlakukan pasar modal syariah seperti Malaysia, lembaga-lembaga sejenis juga ditunjuk untuk memberikan ketentuan-ketentuan tersebut. Beberapa institusi keuangan dunia, seperti City Asset Management Group, Wellington Management Company, Islamic.com bahkan juga turut membuat 42 batasan-batasan untuk kategori saham yang sesuai dengan prinsip syariah. Fatwa DSN Nomor : 40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober 2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal, telah menentukan tentang kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam (Dewan Syariah Nasional, 2008). Pada intinya, produk tersebut harus mememuhi syarat, antara lain : a. Jenis Usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan tidak merupakan usaha yang dilarang oleh prinsip-prinsip Syariah, antara lain : 1) Usaha perjudian atau permaian yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang. 2) Lembaga Keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional. 3) Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman haram. 4) Produsen, distributor, dan/ atau penyedia barang/ jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. b. Jenis Transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang didalamnya mengandung unsur dharar, gharar, maysir, dan 43 zhulm meliputi; najash, ba’i al ma’dun, insider trading, menyebarluaskan informasi yang menyesatkan untuk memperoleh keuntungan, melakukan investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya, margin trading dan ihtikar. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka Saham pada prinsipnya sudah sesuai dengan ajaran Islam. Dalam teori percampuran, Islam mengenal akad syirkah atau musyarakah yaitu suatu kerjasama antara dua atau lebih pihak untuk melakukan usaha dimana masing-masing pihak menyetorkan sejumlah dana, barang atau jasa. Adapun jenis-jenis syirkah yang dikenal dalam ilmu fikih yaitu, ‘inan, mufawadhah, wujuh, abdan dan mudharabah. Pembagian tersebut didasarkan pada jenis setoran masing-masing pihak dan siapa diantara pihak tersebut yang mengelola kegiatan usaha tersebut (Hasan, 2003:163-164). Konsep preferred stock (saham istimewa) juga cenderung tidak diperbolehkan secara syariah karena dua alasan berikut (Huda dan Nasution, 2007:66): a. Adanya keuntungan tetap yang dikategorikan kalangan ulama sebagai riba. 44 b. Pemilik preferred stock mendapatkan hak istimewa terutama pada saat perusahaan dilikuidasi. Keuntungan yang ditawarkan saham dalam bentuk capital gain dan dividen pada prinsipnya sudah relevan dengan syariah. Sebagai selisih dari harga jual terhadap harga beli saham, maka investor berhak memperoleh capital gain selama unsur kehati-hatian di atas tidak dilanggar. Sementara itu, dividen relevan dengan prinsip bagi hasil yang digariskan syariah. 4. Transaksi Perdagangan Saham yang Dilarang Islam sangat menekankan unsur keadilan dan kehati-hatian dalam setiap transaksi perdagangan, termasuk di dalamnya perdagangan saham. Spekulasi tanpa didasari keputusan investasi atau keputusan pembelian yang kuat tidak diperbolehkan dalam Islam karena berpotensi menimbulkan gharar ataupun maysir. Jenis transaksi lainnya yang dilarang Islam dalam perdagangan saham diantaranya adalah insider trading, yaitu menggunakan informasi orang dalam untuk mendapatkan keuntungan sepihak sehingga berpotensi merugikan investor yang lainnya. Dalam hal ini, termasuk juga dilarang menyebarluaskan informasi palsu yang menyesatkan. Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) juga melarang investasi pada perusahaan yang pada saat transaksi tingkat 45 (nisbah) utang perusahaan kepada lembaga keuangan ribawi lebih dominan dari modalnya (Dewan Syariah Nasional, 2008). Adapun aturan dan norma jual beli saham selain didasarkan kepada ketentuan syariah, seperti halnya yang ditentukan DSN-MUI tersebut, maka praktek-praktek lain seperti margin tarding, forward contract, short selling, dan option juga dilarang dalam syariah (Huda dan Nasution, 2007:66). Berikut ini adalah penjelasan masing-masing transaksi tersebut: a. Margin trading adalah menggunakan uang pinjaman untuk membeli saham atau yang dikenal juga dengan buying on margin. Pada transaksi ini investor biasanya membeli saham dengan menggunakan dana yang dipinjam dari broker dimana mereka melakukan transaksi dan umumnya bunga yang dikenakan lebih tinggi daripada bungan bank; b. Forward contract adalah pembelian atau penjualan instrumen keuangan (termasuk saham) dengan suatu jumlah tertentu pada harga yang ditetapkan saat ini dengan penyerahan dan penyelesaian pada tanggal tertentu di masa yang akan datang; c. Short selling adalah transaksi jual beli saham yang dimaksudkan untuk kepentingan jangka pendek yang dapat memicu ketidakstabilan di bursa. Secara teknis, biasanya ini dilakukan 46 dengan membeli saham di pagi hari lalu menjualnya di sore hari; d. Option adalah kebebasan bagi seseorang atau suatu pihak untuk melakukan pilihan yang menjadi hak dari orang atau pihak yang bersangkutan untuk memiliki, membeli, atau menjual saham berdasarkan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. F. Return dan Risiko Investasi Risiko terjadi akibat adanya unsur ketidakpastian dalam semua investasi saham. Berapa hasil yang akan diperoleh dari investasi tidak diketahui dengan pasti, sehingga investor hanya dapat memperkirakan besarnya keuntungan yang diharapkan dan kemungkinan hasil yang sebenarnya akan menyimpang dari yang diharapkan. Jadi risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan return yang diperoleh menyimpang dari return yang diharapkan (Jogiyanto, 2003:130). Perbedaan antara return yang diharapkan (return yang diantisipasi investor di masa mendatang) dengan return yang benarbenar diterima (return yang diperoleh investor) merupakan risiko yang harus selalu dipertimbangkan dalam proses investasi. Beberapa sumber risiko yang berkaitan dengan besar risiko investasi di antaranya adalah: 47 1. Risiko suku bunga Jika suku bunga naik maka return investasi yang terkait dengan suku bunga, misalnya deposito akan naik. Ini dapat menarik minat investor saham untuk memindahkan dana ke deposito, sehingga banyak yang akan menjual saham dan harga saham akan turun. Oleh karena itu perubahan suku bunga akan mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. 2. Risiko pasar Perubahan pasar yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti resesi ekonomi, kerusuhan, dan lain-lain menyebabkan perubahan indek pasar saham. 3. Risiko inflasi Inflasi akan mengurangi daya beli uang, sehingga tingkat pengembalian setelah disesuaikan dengan inflasi dapat menurunkan hasil investasi tersebut. 4. Risiko nilai tukar Perubahan nilai investasi yang disebabkan oleh nilai tukar mata uang asing menjadi risiko dalam investasi. 5. Risiko likuiditas Semakin tidak likuid suatu sekuritas, semakin besar risiko yang dihadapi perusahaan. 6. Risiko negara 48 Risiko negara berkaitan dengan kondisi politik suatu negara. Semua risiko yang dapat menyebabkan penyimpangan tingkat pengembalian investasi dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu (Halim, 2005:43): 1. Systematic risk Systematic risk disebut juga risiko pasar, karena berkaitan dengan perubahan yang terjadi di pasar secara keseluruhan. Risiko ini terjadi karena kejadian di luar kegiatan perusahaan, seperti inflasi, resesi, tingkat bunga pasar, dan lain-lain. Systematic risk disebut juga undiversifiable risk karena risiko ini tidak dapat dihilangkan atau diperkecil melalui pembentukan portofolio. 2. Unsystematic risk Unsystemic risk merupakan risiko spesifik perusahaan, karena tergantung dari kondisi mikro perusahaan. Contoh unsystemic risk antara lain risiko industri, financial leverage risk, operating leverage risk, dan lain-lain. Risiko ini dapat diminimalkan bahkan dihilangkan dengan melakukan diversifikasi investasi pada banyak sekuritas (portofolio). Karena itu, risiko ini disebut juga diversifiable risk. Sementara return dapat didefinisikan sebagai tingkat keuntungan yang diperoleh atau diharapkan dari suatu investasi selama satu periode waktu, yang akan diperoleh di masa mendatang. 49 Samsul (2006:291) mendefinisikan return sebagai pendapatan yang dinyatakan dalam prosentase dari modal awal investasi. Return merupakan kompensasi atas risiko yang harus ditanggung oleh investor atas investasi yang dilakukannya. Sumber-sumber return yang merupakan faktor motivasi bagi investor dalam berinvestasi adalah dividen, yaitu pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi saham dan capital gain, yaitu perubahan harga sekuritas berupa kenaikan harga saham yang memberikan keuntungan bagi investor. Gambar 2.1 Hubungan return dan risiko investasi Sumber: Homepage Investopedia (diolah kembali oleh Namora, 2006:16) Melalui investasi, investor berkeinginan untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin. Akan tetapi investor harus memahami adanya hubungan antara return dan risiko yang terkandung dalam 50 suatu investasi. Hubungan return dan risiko searah dan linier, artinya semakin besar return yang diharapkan, maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung. Dengan kata lain, investor yang berharap memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, berarti bersedia menanggung risiko yang tinggi pula. Oleh karena itu tidak relevan mengharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya melalui investasi pada aset yang menawarkan return paling tinggi, karena harus juga mempertimbangkan tingkat risiko yang harus ditanggung. G. Estimasi Return dan Risiko Investasi Menurut Radcliffe (1997:217-218), beberapa ukuran statistik yang dapat digunakan untuk menggambarkan suatu risiko, di antaranya adalah : 1. Range Range menunjukkan interval kemungkinan return tertinggi dengan return terendah. Perhitungannya dilakukan dengan cara mengurangi nilai real return tertinggi dengan yang terendah sehingga diperoleh suatu angka interval. Kelemahan dalam menggunakan cara ini adalah tidak dapat menggambarkan kemungkinan-kemungkinan yang terdapat di antara kedua ekstrem nilai tersebut, serta tidak menunjukkan perimbangan antara kemungkinan terjadinya return tertinggi dengan return 51 terendah. Dengan kelemahan ini, range tidak dapat dipakai untuk membandingkan risiko antara dua portofolio, karena portofolio yang memiliki range yang sama tidak berarti memiliki risiko yang sama. 2. Mean absolute deviation Mean absolute deviation menunjukkan kemungkinan perbedaan antara return yang mungkin diterima dengan expected return-nya. Meskipun cara ini cukup masuk akal untuk menunjukkan tingkat risiko suatu portofolio, namun secara statistik cukup sulit digunakan. Selain itu sangat sulit untuk mengetahui hubungan atau correlation di antara return sekuritas. 3. Probability of negative return Probability of negative return menunjukkan kemungkinan prosentase return yang berada di bawah nilai nol. Meskipun sangat mudah dilakukan, namun perhitungan dengan cara ini tidak dapat mengetahui secara menyeluruh aspek-aspek dari suatu risiko. 4. Semivariance Semivariance adalah perhitungan statistik yang menghitung variasi dari return yang berada di bawah expected return-nya. Kelemahannya angka ini tidak mencakup ketidakpastian ketika return yang dihasilkan lebih besar dari expected-nya. Di samping 52 sulit, perhitungan ini tidak dapat melihat correlation antara return masing -masing saham. 5. Standard deviation Standard deviation mengukur volatilitas dari return, cara ini sering digunakan untuk mengukur risiko. Secara statistik metode standar deviasi memiliki beberapa kelebihan di antaranya pengukurannya dilakukan dengan cara menyebarkan return (memperhitungkan nilai yang terjadi di atas dan di bawah expected return). Di samping itu, standar deviasi juga dapat digunakan dengan menggunakan data aktual return masa lalu (ex post standard deviation) atau dari estimasi potensial returnnya (ex ante standard deviation). Dalam melakukan estimasi return, harus dibedakan antara return realisasi, yaitu return yang telah terjadi dan return ekspetasi (expected return), yaitu return yang belum terjadi tetapi yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang. Return realisasi yang dihitung berdasarkan data historis penting sebagai salah satu ukuran kinerja suatu perusahaan. Rate of return saham yang merupakan keuntungan dari capital gain dalam periode tertentu diperoleh dengan persamaan berikut: 53 1 1 - = - - t t t t P P P R ………………………………(2.1) Dimana: Rt = Return realisasi (aktual) saham pada periode tertentu (misal hari ke-t) Pt = Harga saham saham pada periode tertentu Pt -1 = Harga saham saham pada satu periode sebelum periode tertentu Return realisasi ini berguna sebagai dasar penentuan tingkat keuntungan yang diharapkan (expected return). Expected return sangat mungkin berlainan dengan return yang diterima karena adanya suatu ketidakpastian. Perhitungan expected return dapat dilakukan dengan menggunakan rata-rata aritmatik dan rata-rata geometrik. Metode rata-rata aritmatik dinyatakan dalam persamaan berikut : Σ= = n i i t n R E R 1 ( ) ……………………………(2.3) Untuk metode rata-rata geometrik, persamaannya dinyatakan sebagai berikut (Samsul, 2006:312): ( ) [(1 )(1 )....(1 )] 1 1/ 1 2 = + + + - n t n E R R R R ……………………(2.4) 54 Penggunaan perhitungan rata-rata aritmatik dan rata-rata geometrik tergantung pada tujuan investor. Rata-rata aritmatik diterapkan untuk mengukur kinerja rata-rata selama satu periode, dan merupakan cara yang bagus untuk memperkirakan expected return pada periode berikutnya. Sedangkan perhitungan rata-rata geometrik digunakan untuk mengukur perubahan kekayaan yang terjadi pada periode-periode sebelumnya (multiple periods). Rata-rata geometrik mengukur tingkat pertumbuhan majemuk (compound rate of growth) selama periode yang ditentukan. Menurut Bodie, dkk (2006:558), rata-rata geometrik baik digunakan untuk mengukur kinerja masa lalu suatu sekuritas. Mengacu kepada kedua metode perhitungan tersebut, maka rata-rata aritmatik merupakan metode perhitungan yang sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini. Dengan kata lain, rata-rata geometrik tidak digunakan. H. Capital Asset Pricing Model (CAPM) Capital Asset Pricing Model (CAPM) dapat digunakan untuk menghitung besarnya risiko investasi dan return yang diisyaratkan (required return). Model tersebut berdasarkan pada anggapan bahwa hanya systematic risk yang merupakan risiko yang relevan untuk mengistimasi return investasi. 55 Pada kenyataannya, setiap investasi mempunyai dua jenis risiko, yaitu systematic risk dan unsystematic risk. Teori portofolio modern menunjukkan bahwa unsystematic risk dapat dihilangkan melalui diversifikasi. Akan tetapi diversifikasi tetap tidak dapat menyelesaikan masalah systematic risk. Walaupun sebuah portofolio tersusun dari semua saham yang ada di pasar, systematic risk tetap tidak dapat dihilangkan. Sharpe merumuskan CAPM sebagai hubungan antara risiko dan required return ke dalam rumus sebagai berikut (Tandelilin, 2001:99): ( ) a f a m f r = r +b r - r ………………………(2.4) Dimana: ra = Required return sekuritas a rf = Return dari risk free asset βa = Beta dari sekuritas a rm = Expected market return (rm-rf) = Equity Market Premium Dalam CAPM, beta merupakan satu-satunya ukuran risiko yang relevan dari saham. Beta mengukur volatilitas relatif dari saham, yaitu yang ditunjukkan oleh seberapa besar harga saham tersebut naik atau turun dibandingkan dengan naik atau turunnya 56 harga-harga saham di pasar secara keseluruhan. Jika harga sebuah saham bergerak tepat mengikuti pasar, maka nilai beta saham tersebut adalah 1. Sebuah saham dengan beta 1,5 akan naik harganya 15% jika indek pasar naik 10%. I. Performance Saham dan Beberapa Metode Pengukurnya Performance saham merupakan cerminan kinerja saham yang diukur dari pergerakan harganya yang terjadi di pasar. Performance saham biasanya menjadi salah satu tolak ukur penting bagi investor yang rasional dalam memutuskan jual beli saham. Hal ini karena sebuah perusahaan dengan performance yang bagus diyakini akan mampu memberikan return yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang performance-nya rendah. Artinya, kinerja perusahaan yang bagus akan berjalan searah dengan respon investor yang kemudian akan berpengaruh terhadap pergerakan harga saham. Dengan kata lain, cerminan yang baik akan memberikan pantulan energi yang juga baik, sebagaimana yang disiratkan Allah dalam firmannya berikut ini. $yϑ‾ΡÎ) tβ÷ρt “øgéB $tΒ óΟçGΨä. tβθè=y ∩⊇∉∪ ϑ÷ès? Artinya: “ Sesungguhnya kamu hanyalah diberi balasan terhadap apa yang kamu mengerjakan (nya). (Ath-Thur:16) 57 Namun begitu, selalu ada tolak ukur tertentu untuk mengatakan sesuatu baik, cukup baik, ataupun sangat baik. Begitupun halnya dengan kinerja suatu saham. Baik tidaknya kinerja saham harus ditentukan berdasarkan cara atau tolak ukur tertentu. Tolak ukur tersebut bisa beragam bentuknya. Tersedianya beragam cara untuk mengukur kinerja saham akan membantu investor memilih dan meranking kinerja saham dengan tepat. #sOEÎ) | Ós% ª!$# ÿ…ã&è!θß™u‘uρ #—øΒr& βr& tβθä3tƒ ãΝßγs ∩⊂∉∪ …. öΝÏδ̍øΒr& ôÏΒ äοuŽzÏƒø:$# 9 Artinya: “Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka”. Namora (2006) pernah melakukan penelitian yang menggunakan term market performance dalam mengevaluasi kinerja saham. Untuk melakukan penilaian terhadap kinerja saham (market performance), terdapat beberapa cara yang bisa digunakan investor. Beberapa metode konvensional yang sering digunakan untuk mengevaluasi market performance diantaranya adalah Sharpe’s model, Treynor’s model, Jensen’s model dan Appraisal Ratio. 58 Sharpe’s model dikembangkan oleh William Sharpe dan sering juga disebut dengan reward-to-variability ratio. Sharpe’s model mendasarkan perhitungannya pada konsep garis pasar modal (capital market line) sebagai patok duga, yaitu dengan cara membagi premi risiko portofolio atau saham (excess return) dengan standar deviasi. Standar deviasi sendiri merupakan risiko fluktuasi yang dihasilkan karena berubah-ubahnya return yang dihasilkan dari sub periode berikutnya selama seluruh periode. Dalam teori portofolio, standar deviasi merupakan risiko total sebagai penjumlahan dari systematic risk atau market risk dan unsystematic risk. Dengan memperhitungkan risiko, maka semakin tinggi nilai sharpe, maka semakin baik kinerja portofolio tersebut (Tandelilin, 2001:325). Sementara berbeda dengan Sharpe’s model, Treynor’s model membagi excees return dengan beta sebuah saham. Dalam hal ini, Treynor’s model beranggapan bahwa beta adalah risiko yang paling relevan dalam mengukur kinerja dari saham (Samsul, 2006:365). Metode lainnya yang juga menggunakan beta saham sebagai pengukur risiko sistematis adalah Jensen’s model (model ini secara spesifik dibahas pada bagian setelah ini) Selain tiga metode di atas, metode konvensional lainnya yang sering digunakan untuk menganalisis kinerja saham adalah appraisal ratio atau yang sering juga disebut dengan model Treynor & Black 59 pada tahun 1973 (Samsul, 2006:368). Model ini menyeleksi saham dengan cara memperhatikan risiko pasar dan risiko spesifik dengan asumsi suatu saham selalu mengandung risiko pasar dan risiko spesifik. Model ini bermaksud mengoreksi jensen’s model yang menjadikan alpha sebagai tolak ukur kinerja atau market performance dengan risiko spesifik yang diukur dengan stock residual varianece. Risiko spesifik adalah stock residual variance, yaitu variance saham individual, (σ2i), dikurangi market variance (σ2m) dikali kuadrat beta saham individual (β2i). Specifik risk adalah risiko dari setiap jenis saham yang berbeda (Samsul, 2006:368). Semua model pengukur performance saham di atas adalah model pengukur kinerja yang mendasarkan perhitungannya pada risk adjusted return. Kesimpulan semua metode tersebut terhadap kinerja saham relatif sama, yaitu semakin besar nilai yang dihasilkan maka semakin baik kinerja suatu saham. Namun tanpa informasi lain tetap sulit bagi investor untuk mengetahui dengan lengkap apakah nilai sharpe’s model, treynor’s model, jensen’s model dan appraisal ratio baik atau buruk karena pada dasarnya semuanya hanya menghasilkan ranking relatif kinerja portofolio atau saham, bukan ranking absolut. Karena itu, investor harus membandingkannya dengan portofolio lain sehingga baru dapat diketahui bagaimana risk-adjusted return relatif terhadap pilihan investasi lain. Untuk memenuhi hal 60 tersebut, maka sebagai nilai pembanding, dalam penelitian ini juga digunakan nilai dari Indeks Sektoral Finance dan Indeks Gabungan Saham, yaitu IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Sebagai dasar penilaian terhadap kinerja saham, investor perlu mengetahui nilai intrinsik dan nilai pasar suatu saham. Keputusan membeli atau menjual harga saham akan sangat bergantung kepada hasil perbandingan nilai intrinsik dengan nilai pasar saham yang dilakukan investor. Menurut Husnan (2001:288), pedoman pengambilan keputusan adalah sebagai berikut: 1. Apabila nilai intrinsik (NI) > nilai pasar (NP), maka saham undervalued (harganya terlalu murah). Keputusan yang dapat diambil investor adalah membeli atau menahan saham apabila telah dimiliki sebelumnya. 2. Apabila NI < NP, maka saham overvalued (harganya terlalu mahal). Keputusan yang dapat diambil investor adalah menjual saham. 3. Apabila NI = NP, maka harga saham wajar dan berada pada kondisi seimbang. J. Jensen’s Model Sebagai Pengukur Performance Saham Jensen’ model diperkenalkan oleh Michael C. Jensen pada tahun 1968. Istilah lain yang sering digunakan untuk jensen’s model adalah Jensen’s index dan Jensen’s measure. Istilah-istilah tersebut juga sering 61 digunakan dalam Sharpe’s Model. Jensen’s model biasanya digunakan untuk menilai kinerja portofolio ataupun reksadana. Akan tetapi Jensen juga berpendapat bahwa rumus yang dikemukakannya bisa digunakan untuk menilai kinerja saham secara individual (Samsul, 2006:366). Jensen’s model menunjukkan perbedaan antara return realisasi dengan return yang disyaratkan, yang dihitung dengan model CAPM. Return realisasi yang dimaksudkan dalam jensen’s model adalah ratarata return yang terjadi di masa lalu (expected return). Jensen hanya menerima kinerja reksadana ataupun saham jika return rata-rata masa lalunya lebih besar dari return yang disyaratkan yang dihitung dengan menggunakan CAPM. Peringkat baik tidaknya suatu kinerja portofolio atau saham dapat dilihat dari rasio αj. Semakin besar αj suatu portofolio atau saham, maka semakin baik peringkat kinerjanya. Artinya, makin besar juga kesempatan saham yang bersangkutan untuk dibeli dan dimasukkan ke dalam portofolio (Samsul, 2006:367). Model Jensen dipilih sebagai model pengukur performance dalam penelitian ini karena pada prinsipnya model ini sama dengan abnormal return dari saham. Dan efek dari sebuah event, apakah ia merupakan informasi yang direspon investor atau tidak, menurut Jensen salah satunya dapat diketahui dengan ada tidaknya abnormal return di seputar event. 62 Secara keseluruhan, Jensen’s model dapat dicari dengan rumus sebagai berikut (Tandelilin, 2001:330). a a [ f m f a ] J = R - R + (R - R )b …………………(2.5) Dimana: Ja = Jensen’s model atau rasio alpha (αj) Ra = Rata-rata return masa lalu yang diukur dari rata-rata geometrik atau aritmatik. [ ] R f + (Rm - R f )b a = Model CAPM Menurut Bodie, dkk., (2006:222), Suatu saham dihargai dengan benar apabila return yang diharapkan atau return rata-rata masa lalu sama dengan return yang disyaratkan. K. Event Study Studi peristiwa (event study) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap studi peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumunan dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat (Jogiyanto, 2003: 410). Event Study adalah penelitian yang mengamati dampak pengumuman informasi terhadap harga sekuritas. (Tandelilin, 2001: 126) 63 Dari pengetian tersebut nampak bahwa event study dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal (dengan pendekatan pergerakan harga saham) terhadap suatu peristiwa tertentu. Event study pertama kali diperkenalkan oleh Fama, Fisher, Jensen dan Roll (1969) yang digunakan untuk menguji dampak dari pengumuman pemecahan saham (stock split) terhadap return atau perubahan harga saham perusahaan yang mengumumkan pemecahan saham tersebut. Hasil penelitian Fama tersebut menunjukkan bahwa tingkat return disekitar pengumuman stock split relatif stabil sehingga hasil tersebut mendukung adanya efisiensi pasar. Pada umumnya peristiwa yang dijadikan obyek penelitian adalah peristiwa yang terkait langsung dengan aktivitas bisnis, misalnya pengumuman laba, pengumuman deviden, stock split, pengumuman merger dan akuisisi. Tandelilin (2001: 127) menjelaskan tentang langkah-langkah dalam desain event study biasanya meliputi beberapa tahapan: 1. Mengumpulkan sampel, yaitu perusahaan–perusahaan yang mempunyai pengumuman yang mengejutkan pasar (event). Perubahan harga dapat terjadi jika ada event yang mengejutkan pasar. 2. Menentukan hari pengumuman atau event. 64 3. Menentukan periode pengamatan. Periode pengamatan biasanya dihitung dalam hari. 4. Menghitung return masing-masing sampel setiap hari selama periode pengamatan. 5. Menghitung abnormal return disekitar terjadinya suatu peristiwa. Jika actual return lebih besar dibandingkan expected return maka menghasilkan abnormal return yang positif. 6. Menghitung rata-rata return abnormal semua sampel setiap hari. Dari data yang diperoleh, kita dapat menggambarkan adanya pengaruh event terhadap perubahan harga selama periode pengamatan yang ditentukan. 7. Menyimpulkan hasil yang diperoleh. Data-data yang diperoleh kemudian digambarkan dan disimpulkan untuk mengetahui dampak pengumuman terhadap perubahan harga yang terjadi. L. Kerangka Berpikir Untuk memudahkan pemetaan penelitian, maka perlu dibuat kerangka berpikir penelitian. Kerangka berpikir penelitian ini digambarkan sebagaimana gambar 2.2: 65 Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian Sumber: Diolah sendiri Ketarangan : & = Hubungan korelasional; = Hubungan komparasional Bursa Efek Indonesia Sektor Finance Performance Pasca Event Saham Performance Saham Performance Sektor Finance & IHSG Pre Event Performance Sektor Finance & IHSG Pasca Event Alpha Jensen Suspensi Perdagangan Saham di BEI Pre Event Alpha Jensen Performance Saham Performance Saham Krisis Finansial Global P. Sekuritas P. Asuransi P. Mutual P. Perbankan Fund P. Institusi Keuangan Others 9 Emiten 25 Emiten 66 M. Hipotesis Penelitian Penelitian ini terdiri dari lima rumusan masalah dan empat hipotesis. Berikut ini adalah rincian hipotesis yang akan dijawab dalam penelitian ini: 1. Rumusan masalah pertama; H0 = Tidak ada perbedaan performance saham perusahaanperusahaan sekuritas sebelum dan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. Ha = Ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas sebelum dan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. 2. Rumusan masalah kedua; H0 = Tidak ada perbedaan performance saham perusahaanperusahaan perbankan sebelum dan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. Ha = Ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan perbankan sebelum dan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. 3. Rumusan masalah ketiga; H0 = Tidak ada perbedaan performance saham perusahaanperusahaan sekuritas dan perbankan sebelum suspensi pada Bursa Efek Indonesia. 67 Ha = Ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan sebelum suspensi pada Bursa Efek Indonesia. 4. Rumusan masalah keempat; H0 = Tidak ada perbedaan performance saham perusahaanperusahaan sekuritas dan perbankan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. Ha = Ada perbedaan performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan setelah suspensi pada Bursa Efek Indonesia. 68 No Industri Perbankan No Industri Sekuritas 1 Bank Agroniaga Tbk 1 Asia Kapitalindo Securities Tbk 2 Bank Artha Graha Internasional Tbk 2 HD Capital Tbk 3 Bank Bukopin Tbk 3 Kresna Graha Sekurindo Tbk 4 Bank Bumi Arta Tbk 4 JJ NAB Capital Tbk 5 Bank Bumiputera Indonesia Tbk 5 Panca Global Securities Tbk 6 Bank Capital Indonesia Tbk 6 Panin Sekuritas Tbk 7 Bank Central Asia Tbk 7 Reliance Securities Tbk 8 Bank Century Tbk 8 Trimegah Securities Tbk 9 Bank CIMB Niaga Tbk 9 Yulie Sekurindo Tbk 10 Bank Danamon Indonesia Tbk 11 Bank Ekonomi Raharja Tbk 12 Bank Eksekutif Internasional Tbk 13 Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk 14 Bank Internasional Indonesia Tbk 15 Bank Kesawan Tbk 16 Bank Mandiri (Persero) Tbk 17 Bank Mayapada Internasional Tbk 18 Bank Mega Tbk 19 Bank Negara Indonesia Tbk 20 Bank OCBC NISP Tbk 21 Bank Nusantara Parahyangan Tbk 22 Bank Pan Indonesia Tbk 23 Bank Permata Tbk 24 Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 25 Bank Swadesi Tbk Emiten BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah saham-saham perusahaan sekuritas dan perbankan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdaftar selama periode pengamatan, yaitu September 2008-November 2008. Tabel 3.1 Emiten yang Diamati Sumber: Bursa Efek Indonesia (Diolah) 69 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan diskriptif komparatif. Artinya, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data-data numerik dari dua jenis industri yang berbeda, yang kemudian dianalisis melalui model-model statistik, dan didiskripsikan secara lebih lanjut untuk memberikan penegasan pada teori sebelumnya yang telah ada. Menurut Arikunto (2002:147) penelitian yang menggunakan pendekatan diskriptif komparatif adalah penelitian yang mempelajari fenomena yang terjadi pada dua objek atau lebih kemudian membandingkan fenomena-fenomena tersebut berdasarkan diskripsi data yang mendalam. C. Periode Pengamatan, Jenis dan Sumber Data Periode pengamatan dalam penelitian ini dibagi ke dalam dua kategori. Pada kategori pertama, pengamatan dimulai pada satu minggu sebelum dan sesudah event, yaitu mulai 1 Oktober-20 Oktober 2008. Kemudian pada tahap kedua pengamatan diperpanjang menjadi satu bulan sebelum dan sesudah event dengan perhitungan yang dilakukan setiap minggu. Jadi, pada kategori kedua ini perpanjangan periode pengamatan dilakukan sebanyak tiga kali. Pertama, periode pengamatan diperpanjang menjadi dua minggu sebelum dan sesudah event (23 September-27 Oktober 2008); kedua, periode pengamatan 70 diperpanjang menjadi tiga minggu sebelum dan sesudah event (16 September-3 November 2008); dan ketiga periode pengamatan diperpanjang menjadi empat minggu sebelum dan sesudah event (9 September-10 November 2008). Pengkasifikasian dua kategori ini dilakukan untuk memudahkan pemetaan penyebaran return serta untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya bias informasi dari event selain suspensi. Namun pada tahapan uji beda berpasangan (paired samples for mean test), empat periode pengamatan tersebut dikelompokkan dalam satu set pengujian. Keseluruhan data yang digunakan adalah data sekunder berbentuk panel (time series sekaligus cros sectional). Di bawah ini adalah rincian dan range data yang digunakan berikut sumbernya: 1. Data harga penutupan saham, Indeks Sektoral Finance, dan IHSG harian untuk periode 9 September-10 November 2008; Keseluruhan data diperoleh secara online dari IDX Monthly Statistics yang dikeluarkan BEI pada setiap bulannya. 2. Data tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bulanan, September-November 2008; Data ini digunakan untuk melengkapi perhitungan Jensen’s model. Data SBI diperoleh dari official website Bank Indonesia (BI), yaitu http://www.bi.co.id/. 71 D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian. Keseluruhan data dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik dokumentasi. Indrianto dan Supomo (1999:40) mendefinisikan teknik dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data yang memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi, serta siapa yang terlibat dalam suatu kejadian. Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data-data sebagaimana disebut pada bagian sebelumnya. E. Definisi Operasional dan Cara Pengukurannya Untuk menghindari adanya kesalahan interpretasi, berikut ini dijelaskan beberapa terminologi yang digunakan dalam penelitian ini berikut cara pengukurannya: 1. Harga penutupan saham harian Harga penutupan saham (closing price) adalah harga yang terjadi pada saham akibat adanya permintaan dan penawaran di pasar, yang ditentukan menjelang penutupan perdagangan di bursa setiap harinya. 2. Performance saham 72 Performance saham adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan performa atau kinerja suatu saham selama periode waktu tertentu. Performance saham dapat diketahui dengan banyak cara, dan salah satu alat ukur yang bisa digunakan adalah Jensen’s model. 3. Jensen’s model Model evaluasi kinerja saham atau portofolio yang perhitungannya berdasarkan pada konsep Capital Asset Pricing Model (CAPM), dan tolak ukur risikonya berupa beta. Tabel 3.2 Tahapan Perhitungan Jensen’s Model Jensen's Model 1 Harga Saham (Pt) 2 Actual return (Ri) 3 Expected return(Ri / Eri) 4 Expected market return (Rm) 5 Return rata-rata SBI (Rf) 6 Beta Saham (βi) 7 Required return (CAPM) 8 Jensen's value (αj) Sumber: Diolah berdasarkan kajian teori Jensen’s model dicari menggunakan rumus pada 2.5. Secara keseluruhan, tahapan perhitungan Jensen’s model tersaji dalam tabel 3.2. 4. Return Individual (Ri) 73 Return individual adalah tingkat keuntungan sebenarnya yang dihasilkan tiap-tiap saham dalam rentang waktu tertentu. Return individual dihitung dengan rumus: 1 ( 1 ) - - - + = t t t t it P P P D R ………………….(3.1) Dimana: Pt = harga saham i pada periode t Pt-1 = harga saham i pada periode t-1 5. Return Pasar (Rm) Return pasar adalah tingkat keuntungan kumulatif yang mencerminkan seluruh saham yang terdaftar di Bursa. Return pasar ini dihitung menggunakan rumus: 1 1 - - - = t t t mt IHSG IHSG IHSG R ………………….(3.2) Dimana: IHSGt = Indeks Harga Saham Gabungan periode t IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan periode t-1 6. Risk Free (Rf) (Tingkat bunga investasi bebas risiko) Risk Free merupakan tingkat keuntungan atas investasi bebas risiko yang diperoleh dari rata-rata tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bulanan. Untuk mendapatkan Rf bulanan, digunakan rata-rata aritmatik, dengan tujuan agar trend pergerakan performance tingkat bunga dapat terwakili secara benar. 74 [ ] Σ Σ - - - = ( )2 ( )( ) Rm Rm Ri Ri Rm Rm b M iM s 2 b = s Σ= = n i f n Rf E R 1 ( ) ………………….(3.3) 7. Expected Return (E(Ri)) Expected return adalah tingkat keuntungan yang diharapkan dari saham, yang diukur dengan merata-ratakan return individual selama periode pengamatan. Expected return dalam penelitian ini dihitung dengan rata-rata aritmatik yang dirumuskan sebagai berikut: Σ= = n i i t n R E R 1 ( ) ………………….(3.4) 8. Exsess Return (Ri - Rf) Selisih return sebuah sekuritas setelah dikurangi rata-rata return sebuah asset bebas risiko. Dalam penelitian ini, exsess return berarti return selisih return saham setelah dikurangi rata-rata return SBI. 9. Beta Saham (β) Pengukur tingkat risiko sistematis dan volatilitas return dari suatu saham terhadap risiko pasar. Beta dalam penelitian ini menggunakan perhitungan beta pasar. Beta pasar dapat diperoleh dengan rumus: (Jogiyanto. 2003, 274). Atau …………….(3.5) 75 Dimana: β = Tingkat risiko sistematis σiM = Kovarian return antara sekuritas ke i dengan return pasar σ2M = Varian Return Pasar 10. IHSG (Indek Harga Saham Gabungan); merupakan indek harga saham gabungan dalam suatu bursa efek yang umumnya digunakan untuk merefleksikan kinerja saham di bursa secara keseluruhan. IHSG dihitung dengan rumus: [( )( )] x100 BaseValue RCP Shares CI Σ Σ = ………………….(3.6) Dimana: RCP = Regular Closing Price BaseValue =Σ[(BasePr ice)(ΣShares)] Perhitungan item 3 sampai 9 diterapkan secara individual pada tiap saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan yang diamati sehingga diperoleh nilai Jensen untuk keseluruhan saham yang merupakan data cross sectional. F. Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua cara, yaitu secara statistik dan secara diskriptif. Analisis pertama digunakan 76 untuk menjawab rumusan masalah nomor 1-4, dimana dua rumusan masalah pertama akan dianalisis menggunakan paired two samples for mean test, dan dua rumusan masalah setelahnya akan dianalisis menggunakan Independent Samples for mean Test. Sementara analisis data yang kedua digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang terakhir. Artinya, analisis hanya dilakukan dengan membaca dan membandingkan tabel beserta angka-angka yang dihasilkan dari perhitungan dan pengolahan data, berupa performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan dengan performance pasar yang diwakili oleh Indeks Sektoral Finance dan IHSG. 1. Uji Beda Paired Two Samples for Mean Untuk membandingkan performance saham sebelum dan sesudah suspensi pada perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan, maka dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut: a. Mengklasifikasikan periode pengamatan ke dalam dua bagian berpasangan (paired), yaitu periode sebelum suspensi mulai 7 September-7 Oktober 2008, dan periode setelah suspensi mulai bulan 14 Oktober-14 November 2008. Periode sebelum supensi dikelompokkan ke dalam empat bagian pengamatan, dimana tiap pengamatan mempunyai range waktu satu minggu. Begitupun halnya dengan periode sesudah suspensi. Sehingga 77 data akhir yang akan diperoleh adalah data alpha Jensen dalam satu minggu, dua minggu, tiga minggu dan empat minggu sebelum dan sesudah suspensi. b. Menghitung Jensen’s model atau Alpha Jensen dalam tiap-tiap bagian dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menghitung return saham individual yang diperoleh menggunakan rumus (3.1). 2) Menghitung return rata-rata atau expected return saham, yakni dengan metode perhitungan rata-rata geometrik menggunakan rumus (3.4). 3) Menghitung rata-rata risk-free rate, dalam hal ini suku bunga SBI bulanan selama September-November 2008 dengan menggunakan metode rata-rata aritmatik yakni dengan rumus (3.3), dan kemudian membaginya dengan 365 untuk mendapatkan tingkat suku bunga harian. 4) Menghitung excess return saham, yaitu dengan mengurangi return rata-rata saham dengan rata-rata risk-free rate harian. 5) Mengitung beta saham menggunakan rumus (3.5). 6) Menghitung required return (CAPM) saham dengan rumus (2.4) 7) Mengurangkan expected return dengan required return hingga diperoleh nilai Jensen (alpha). 78 c. Melakukan uji statistik dengan menggunakan paired two samples for mean test (Untuk menghasilkan analisis yang lebih komprehensif, maka pengujian ini tidak hanya dilakukan terhadap alpha Jensen, tapi juga pada ketiga variabel lain yang membentuknya, yaitu expected return, beta saham dan CAPM). T test dicari dengan rumus sebagai berikut (Al-Gifari, 2003:81-82): n Sd n X X t Σ - = ( 1 2) dimana, 1 ( ) 2 2 - - = Σ Σ n n d d Sd ……(3.7) Keterangan: (X1 - X2) = Selisih nilai dari kedua bagian, dimana X1 adalah sebelum dan X2 adalah sesudah n = Jumlah data d = (X1 – X2) d. Setelah uji t dilakukan, selanjutnya dilakukan uji signifikansi dengan membandingkan hasil uji t (t hitung) dengan t tabel berdasarkan tingkat kepercayaan 95 % (alpha 5 %). Jika nilai -t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Artinya, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari variabel yang diukur antara sebelum dan sesudah event. Sebaliknya, jika nilai -t tabel> t 79 hitung atau t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Penarikan kesimpulan juga bisa dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi (Sig.) pengujian dengan alpha 5%. Jika Nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka Ho ditolak, dan jika Nilai Signifikansi lebih besar dari 5%, maka Ho diterima. 2. Uji Beda Independent Samples Untuk membandingkan performance saham perusahaanperusahaan sekuritas dan perbankan, baik itu sebelum dan sesudah suspensi, maka digunakan uji independent samples. Secara keseluruhan, tahapan-tahapan pengujian dilakukan sebagai berikut: a. Melakukan tahapan analisis mulai dari a-b seperti pada uji sebelumnya. b. Melakukan uji statistik dengan menggunakan uji beda independent samples (pada uji ini pun, ketiga variabel lain yang membetuk alpha Jensen diikutkan dalam pengujian sebagaimana pada pengujian sebelumnya). T test dalam uji ini dicari dengan rumus berikut: 80 1 2 ( 1 2 ) X X X X t S - = - ……………………..(3.8) Dimana: 2 ( 1). ( 1). 1 2 2 2 2 2 1 1 1 2 + - - = - + - n n n S n S X X S Keterangan: X1 = Rata-rata variabel yang diuji pada sampel pertama (misalnya rata-rata alpha sebelum atau sesudah krisis saham-saham sekuritas) X2 = Rata-rata variabel yang diuji pada sampel kedua (misalnya rata-rata alpha sebelum atau sesudah krisis saham-saham perbankan) n1 = Jumlah sampel pada kelompok pertama n2 = Jumlah sampel pada kelompok kedua S1 dan S2 = Standar deviasi pada kelompok pertama dan kedua c. Selanjutnya dilakukan uji signifikansi seperti pengujian sebelumnya, dengan membandingkan hasil uji t (t hitung) dengan t tabel berdasarkan tingkat kepercayaan 95 % (alpha 5 %). Jika nilai -t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Artinya, tidak 81 terdapat perbedaan yang signifikan sebelum atau sesudah event dari variabel yang diukur antara saham-saham perusahaan sekuritas dan perbankan. Sebaliknya, jika nilai -t tabel> t hitung atau t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Penarikan kesimpulan juga bisa dilakukan dengan membandingkan nilai signifikansi (Sig.) pengujian dengan alpha 5%. Jika Nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka Ho ditolak, dan jika Nilai Signifikansi lebih besar dari 5%, maka Ho diterima. 82 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Paparan Data 1. Gambaran Umum Industri Sekuritas Industri sekuritas merupakan istilah untuk kumpulan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang sekuritas. Perusahaan sekuritas sendiri, yang juga dikenal sebagai perusahaan efek, merupakan salah satu lembaga penunjang keberadaan pasar modal dan aktivitasnya. Itu karena untuk melakukan transaksi di pasar modal, masyarakat harus melalui perusahaan sekuritas (Ali dan Saifuddin, 2008). Perusahaan sekuritas sebagai perantara investasi saham menyediakan segala sarana yang berhubungan dengan investasi. Di antaranya, system realtime informasi yang dipakai untuk mengetahui perkembangan harga saham secara menyeluruh, sehingga akan membantu investor mengambil keputusan investasi. Perusahaan sekuritas juga biasanya menyediakan dan mengeluarkan analisa dan rekomendasi perkembangan pasar kepada investor. Selain sebagai perantara, perusahaan sekuritas juga bertindak sebagai penjamin emisi efek bagi perusahaan yang baru masuk di pasar modal dan sebagai manajer investasi, izin yang diajukan (Suara Merdeka, 26 Februari 2004). 83 Setiap perusahaan sekuritas memiliki ketentuan dan peraturan yang berbeda-beda, seperti dalam syarat pembukaan rekening, transaksi minimal, dan komisi yang harus diberikan kepada perusahaan dalam setiap transaksi (maksimal 1%). Perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia berada di bawah pengawasan Badan Pengawasan Pasar Modal (BAPEPAM). Para pialangnya juga terdaftar keanggotaannya secara resmi di Bapepam dan berhak menjadi perantara para investor. BAPEPAM inilah yang nantinya akan mengawasi kegiatan perusahaan sekuritas dan para pialangnya dalam menjalankan transaksi mewakili investor. Dengan adanya pengawasan ini, investor lebih aman dari kemungkinan terjadinya penipuan yang akan dilakukan oleh perusahaan sekuritas dan pialang. Dari data yang dirilis BAPEPAM selama tahun 2008, diketahui total transaksi saham di bursa efek telah mencapai Rp 1.064 triliun, naik 1, 37% dari transaksi selama tahun 2007 yang mencapai Rp 1.050 triliun. Kenaikan ini masih kalah tinggi dibandingkan kenaikan pada tahun 2007 yang mencapai 324% dari total transaksi di tahun 2006 yang hanya mencapai Rp. 445,71 triliun. Penurunan kenaikan ini kemungkinan besar diakibatkan oleh efek domino dari krisis finansial global yang menimpa hampir 84 seluruh pasar modal di dunia. Total transaksi perdagangan saham sebesar itu dijalankan melalui 117 perusahaan sekuritas. Sampai November 2007, jumlah perusahaan sekuritas yang dicatat BAPEPAM sudah mencapai 169 perusahaan. Jumlah ini meningkat dibandingkan November 2006 yang hanya sebesar 168. Dari keseluruhan perusahaan tersebut, sampai saat ini hanya terdapat 9 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Kesembilan perusahaan tersebutlah yang menjadi objek pengamatan dalam penelitian ini. Tabel 4.1 Perkembangan Perdagangan Saham Industri Sekuritas (September-Desember 2008) Sekuritas Bulan Kapitalisasi (Dalam Jutaan) Volume (Dalam Ribuan) Nilai (Dalam Jutaan) September 2,098,269 41,067 5,294 Oktober 1,647,204 15,080 3,441 November 1,631,459 23,717 5,294 Desember 1,638,899 13,809 4,093 Sumber: Official Website BEI (IDX Monthly Statistics) Dari kesembilan perusahaan sekuritas tersebut, sampai Desember 2008 kapitalisasi pasar saham-saham sekuritas di bursa telah mencapai 1,63 triliun dengan volume perdagangan sebesar 13,8 juta rupiah. Tabel 4.1 menyajikan secara lengkap 85 perkembangan saham-saham perusahaan sekuritas di bursa pada September-Desember 2008. 2. Gambaran Umum Industri Perbankan Dalam booklet yang diterbitkan Bank Indonesia (2008:3), bank diartikan sebagai sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak. Pada tahun 1997-1998 industri perbankan di Indonesia mengalami guncangan keras akibat krisis moneter sehingga menghabiskan uang Negara lebih dari Rp. 500 triliun untuk keperluan menyelamatkan dan merehabilitasi sektor perbankan, termasuk di dalamnya Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan Rekapitalisasi Perbankan (Hadad, dkk, 2003:2). Secara umum, sejak terjadinya krisis perbankan tahun 1997- 1998, kondisi industri perbankan di Indonesia sudah bisa dikatakan baik. Hal ini terutama didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah dan membaiknya berbagai variabel makro ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 yang menegaskan independensi Bank Indonesia sebagai pengatur 86 moneter turut memberi ruang yang besar bagi perkembangan industri perbankan. Secara keseluruhan, perkembangan industri perbankan di Indonesia dapat dilihat pada tabel 4.2 yang dirilis Bank Indonesia. Tabel 4.2 Indikator Utama Perkembangan Perbankan Sumber: Bank Indonesia (2007:4) Tabel 4.2 menyajikan kondisi perbankan mulai tahun 2001- 2007 yang relatif stabil. Dari tahun ke tahun, total aset mengalami peningkatan, begitu juga dengan dana pihak ketiga. Jumlah aktiva produktif juga cenderung meningkat meski pada tahun 2002 87 sempat menurun dibandingkan tahun 2001. Rasio LDR (loan to deposit ratio) yang merupakan salah satu indikator pengukur kesehatan bank juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan ini berarti baik karena LDR yang ideal sebagaiamana ketetapan Bank Indonesia adalah 70%. Rasio-rasio lainnya juga terlihat stabil dan sebagian besar mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tabel 4.3 Perkembangan Perdagangan Saham Perbankan (September-Desember 2008) Perbankan Bulan Kapitalisasi (Dalam Juta) Volume (Dalam Ribuan) Nilai (Dalam Jutaan) September 324,746,015 5,170,818 8,259,403 Oktober 243,714,484 7,288,977 7,538,975 November 234,330,643 3,943,894 5,699,134 Desember 275,165,073 3,068,422 4,795,275 Sumber: Official Website BEI (IDX Monthly Statistics) Tabel 4.3 di atas menyajikan perkembangan saham perusahaan perbankan pada Sepetember-Desember 2008. Pada kuartal terakhir 2008, dimana terjadi suspensi perdagangan di Bursa Efek Indonesia akibat krisis global, kondisi perbankan turut terselamatkan oleh indikator-indikator fundamental sebagaimana pada tabel 4.2, tentunya selain kebijakan otoritator moneter dan pemerintah yang turut mendukung dan sinergis. Sampai Desember 2008, dari keseluruhan jumlah bank yang ada, 28 diantaranya telah 88 terdaftar di pasar modal. Dari keduapuluh-delapan bank tersebut, hanya dua puluh lima bank yang memenuhi kriteria sampel dalam penelitian ini. B. Analisis Data dan Pengujian Hipotesis 1. Perhitungan Market Performance Performance atau kinerja saham dalam penelitian ini diukur menggunakan model Jensen. Perhitungan dengan model ini akan menghasilkan nilai alpha Jensen untuk tiap-tiap saham. Alpha Jensen sendiri diperoleh melalui tahapan perhitungan sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini. Tahapan perhitungan dilakukan dengan ilustrasi contoh saham Asia Kapitalindo Securites, Tbk (AKSI). a. Return Saham Return saham dalam penelitian ini adalah return saham harian yang diperoleh dari tingkat perubahan harga saham hari ke-t dengan t-1. Berikut ini adalah contoh perhitungan return saham dengan menggunakan penggalan data harga saham PT. Asia Kapitalindo Securities Tbk. 89 Tabel 4.4 Harga Saham PT. Asia Kapitalindo Securities Tbk 9-22 September 2008 Asia Kapitalindo Sekurities (AKSI) No Tanggal Harga No Tanggal Harga 1 09-Sep-08 105 6 16-Sep-08 105 2 10-Sep-08 105 7 17-Sep-08 105 3 11-Sep-08 105 8 18-Sep-08 105 4 12-Sep-08 105 9 19-Sep-08 105 5 15-Sep-08 105 10 22-Sep-08 115 Sumber: Pengolahan data 1 1 - = - - t t t it P P P R = RAKSI_10 Sep = (105-105)/105 = 0,000 Dengan cara yang sama, dihitung return pada hari lainnya untuk tiap-tiap saham, sehingga diperoleh return harian tiap-tiap saham secara lengkap selama periode pengamatan. Return pasar (Rm) juga dihitung dengan cara yang sama. b. Rata-Rata Return (Expected Return) Expected return diperoleh menggunakan rata-rata aritmatik, dengan rumus Σ = = n i i t n R E R 1 ( ) . Periode pengamatan dalam penelitian ini, yaitu mulai 9 Sepetember 2008-10 November 2008, menghasilkan hari aktif perdagangan sebanyak 39 hari. Jadi, nilai expected return 0,011% dalam perhitungan pada tabel 4.5 bukanlah expected return saham AKSI yang 90 sebenarnya karena hanya terdiri dari 10 hari periode pengamatan. Tabel 4.5 Expected Return Saham PT. Asia Kapitalindo Securities (AKSI) (9 September-10 November 2008) Asia Kapitalindo Sekurities (AKSI) No Tanggal Harga No Tanggal Harga 1 09-Sep-08 6 16-Sep-08 0,000 2 10-Sep-08 0,000 7 17-Sep-08 0,000 3 11-Sep-08 0,000 8 18-Sep-08 0,000 4 12-Sep-08 0,000 9 19-Sep-08 0,000 5 15-Sep-08 0,000 10 22-Sep-08 0,095 Expected Return 0,011 Sumber: Pengolahan data Dengan cara yang sama, dihitung expected return untuk saham lainnya. Data expected return keseluruhan saham tersaji pada lampiran 6 dan 7. Expected market return juga dicari dengan rumus yang sama seperti expected return saham. c. Rata-Rata Return Pasar (Expected Market Return) Expected market return juga dicari dengan rumus yang sama seperti expected return saham. Begitupun halnya untuk mencari expected return pada indeks sektoral finance. d. Return of Risk Free Assets (RFA) Return of risk free asset juga dihitung menggunakan ratarata aritmatik. Return of risk free asset dalam penelitian ini 91 [ ] Σ Σ - - - = ( )2 ( )( ) Rm Rm Ri Ri Rm Rm b menggunakan tingkat suku bunga bulanan SBI. Tabel 4.6 menyajikan hasil perhitungan rata-rata tingkat bunga harian SBI selama 3 bulan. Tabel 4.6 Rata-Rata Tingkat Bunga Harian SBI Bulanan (September-November 08) Bulan SBI SBI/Days September 0,09530 0,00318 Oktober 0,10695 0,00357 November 0,11210 0,00374 Risk Free of Assets 0,00349 Sumber: Pengolahan data e. Beta Saham Beta saham dicari dengan membagi kovarian return saham dengan varian return pasar. Secara matematis beta saham dirumuskan sebagai berikut: Berikut ini adalah contoh perhitungan CAPM dengan menggunakan ilustrasi saham AKSI selama 10 hari perdagangan. Beta saham yang lainnya juga dicari dengan cara yang sama. Nilai beta dalam tabel bukan beta sebenarnya dari 92 1 2 3 4 5 3*4 Rm (IHSG) Ri (AKSI) (Ri-ARi) (Rm-ARm) (Rm-Arm)2 (Ri-Ari)(Rm-Arm) -0,0376 0,0000 -0,01 06 -0,0346 0,001 2 0,0004 -0,0079 0,0000 -0,01 06 -0,0049 0,0000 0,0001 -0,0353 0,0000 -0,01 06 -0,0323 0,001 0 0,0003 -0,0470 0,0000 -0,01 06 -0,0440 0,001 9 0,0005 0,0095 0,0000 -0,01 06 0,01 26 0,0002 -0,0001 0,01 97 0,0000 -0,01 06 0,0228 0,0005 -0,0002 0,01 00 0,0000 -0,01 06 0,01 31 0,0002 -0,0001 0,0582 0,0000 -0,01 06 0,061 3 0,0038 -0,0006 0,0030 0,0952 0,0847 0,0060 0,0000 0,0005 -0,0030 0,01 06 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000 Rata-Rata (A) -0,0030 0,01 06 Jumlah (ı) 0,0000 0,0088 0,0006 Beta Keterangan 0,0648 AKSI karena sebatas ilustrasi yang menggunakan 10 hari periode pengamatan. Tabel 4.7 Ilustrasi Perhitungan Beta Menggunakan Saham AKSI (9-22 September 2008) Sumber: Pengolahan data f. Required Return (CAPM) Required return didapatkan dengan menambahkan return of risk free assets (RFA) dengan beta saham yang sebelumnya telah dikalikan dengan excess market return (Rm-RFA). Berikut ini adalah contoh perhitungan required return dengan tetap menggunakan ilustrasi saham AKSI. ( ) a f a m f r = r +b r - r = 0,00349 + 0,0648 (-0,0030-0,00349) = -0,00098 Dengan cara yang sama, dihitung required return untuk saham lainnya. Data required return keseluruhan saham tersaji pada lampiran 6 dan 7. 93 g. Alpha Jensen Menghitung alpha Jensen adalah tahap terakhir dari perhitungan Jensen’s model. Semakin tinggi nilai alpha, maka semakin baik kinerja saham, dan sebaliknya. Berikut ini adalah nilai alpha Jensen untuk saham AKSI dengan tahapan perhitungan yang sebelumnya telah dilakukan. a a [ f m f a ] J = R - R + (R - R )b = 0,011-(-0,00098)= 0,01198 Hasil perhitungan Jensen di atas bukanlah bagian nilai alpha sebenarnya dari penelitian ini karena hanya merupakan ilustrasi. Nilai alpha di atas merupakan hasil matematis dari beberapa elemen yang menggunakan periode pengamatan yang tidak seragam. 2. Uji Beda Paired Two Samples for Mean Test Uji beda paired two samples for mean test adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan suatu variabel yang diamati dalam satu set waktu tertentu yang dipisahkan oleh event atau peristiwa tertentu. Dalam penelitian ini, uji paired two samples for mean test dimaksudkan untuk menguji apakah ada perbedaan kinerja saham yang diukur dengan alpha Jensen sebelum dan 94 sesudah suspensi perdagangan saham di BEI. Untuk memperlengkap hasil analisis, pengujian tidak hanya dilakukan terhadap nilai alpha, tapi juga terhadap expected return, beta saham dan required return (CAPM). Uji beda paired two samples for mean test dilakukan dengan menggunakan uji nonparametrik, yaitu uji wilcoxon. Uji ini dipilih karena data time series pengamatan (N) jumlahnya kurang dari 30, yaitu sebesar 4. a. Industri Sekuritas Tabel 4.8 menyajikan ringkasan statistik saham-saham sekuritas. Expected return (ER) saham sekuritas, baik sebelum dan sesudah suspensi bernilai minus. Itu artinya rata-rata return yang diperoleh investor yang menempatkan dananya pada perusahaan sekuritas mengalami kerugian, baik sebelum ataupun sesudah suspensi. Hanya saja, investor mengalami kerugian yang lebih besar sebelum suspensi diberlakukan, yaitu sebesar 0,8% per hari. Sementara sesudah suspensi investor hanya mengalami rata-rata kerugian sebesar 0,37% dalam sehari. Ini mengindikasikan adanya respon positif pasar terhadap diberlakukannya suspensi. 95 Beta yang merupakan cerminan risiko juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan expected return (ER). Sebelum supensi diberlakukan, rata-rata beta sebesar 8% per hari dan sesudah suspensi sebesar 0%. Rata-rata beta ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan expected return yang nilainya bahkan minus. Ini artinya, baik sebelum suspensi ataupun sesudahnya kesempatan investor untuk memperoleh return jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan risiko yang mesti ditanggung. Nilai beta yang jauh lebih kecil pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelumnya mengindikasikan adanya ekspektasi pasar yang membaik terhadap pergerakan harga saham ke depan. Hasil ini berkesinambungan dengan nilai expexted return yang juga lebih tinggi pada saat sesudah suspensi. Tabel 4.8 Diskripsi Statistik Saham-Saham Sekuritas Sumber: Pengolahan data CAPM atau yang disebut juga dengan required return merupakan batas return minimal yang disyaratkan investor 96 pada suatu saham dalam keadaan pasar seimbang. Tabel 4.7 menunjukkan rata-rata CAPM sebelum suspensi adalah sebesar 0,17% per hari, sedangkan sesudah suspensi investor mensyaratkan return sebesar 0,30% per hari. Jika dikaitkan dengan hasil sebelumnya, ini mencerminkan harapan investor yang rasional. Dalam keadaan dimana rata-rata return dan risiko tidak cukup baik (lihat rata-rata ER dan beta sebelum suspensi) investor mensyaratkan return yang juga lebih kecil (0,17%) dibandingkan pada saat sesudah suspensi yang sebesar 0,30%. Keadaan-keadaan di atas jelas berpengaruh terhadap kinerja saham yang diukur dengan alpha Jensen. Semakin besar nilai alpha maka semakin baik kinerja saham. Diskripsi statistik dari ketiga elemen sebelumnya (ER, beta dan CAPM), yang notabenenya merupakan pembentuk alpha Jensen menghasilkan kesimpulan dimana nilai ketiganya lebih baik pada saat sebelum suspensi dibandingkan sesudahnya. Hasil tersebut berkesinambungan dengan hasil alpha yang juga menyimpulkan hal yang sama, dimana rata-rata alpha pada saat sebelum suspensi sebesar -0,0097 sedangkan pada saat sesudah suspensi sebesar -0,0070. Itu artinya, secara 97 diskriptif kinerja saham sekuritas lebih baik pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelumnya. Tabel 4.9 Hasil Uji Beda Saham Sekuriritas dengan Wilcoxon Sumber: Pengolahan data Namun demikian, kendatipun perbedaan-perbedaan tersebut dapat didiskripsikan sebagaimana di atas, namun secara statistik perbedaan-perbedaan tersebut terbukti tidak signifikan. Ini terlihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05, yang berarti Ho diterima. b. Industri Perbankan Saham-saham perusahaan perbankan memiliki pola yang juga tidak jauh berbeda dengan perusahaan sekuritas. Tabel 4.10 menunjukkah rata-rata expected return yang lebih tinggi pada periode sebelum suspensi diberlakukan. Begitupun halnya dengan rata-rata beta dan CAPM. Perbedaan dengan pola saham-saham sekuritas hanya terjadi pada hasil akhir, yang berupa alpha Jensen. 98 Hasil dengan pola yang sama dengan pola yang terjadi pada saham-saham sekuritas ini mencerminkan pola pasar yang sama. Dengan kata lain, performance pasar saham secara keseluruhan pada waktu itu memang menciptakan kondisi yang hampir seragam pada setiap jenis saham. Ini artinya pergerakan harga saham pada waktu itu pada umumnya dipengaruhi oleh sentimen pasar yang berasal dari luar kinerja perusahaan secara individu. Dengan begitu, pemilihan beta sebagai tolak ukur risiko dalam penelitian ini bisa dikatakan adalah langkah yang tepat. Tabel 4.10 Diskripsi Statistik Saham-Saham Perbankan Sumber: Pengolahan data Alpha Jensen saham perbankan yang mempunyai pola berbeda dengan saham sekuritas mengindikasikan adanya kondisi industri yang berbeda. Suspensi merupakan cara bursa untuk meredam pasar yang emosional karena harga saham bergerak irasional, sementara perusahaan-perusahaan sekuritas adalah perusahaan yang salah satu aktivitasnya memfasilitasi 99 jual dan beli saham. Untuk itu, kinerja perusahaan ini juga berkaitan erat dengan ekspektasi investor terhadap pasar modal atau bursa efek secara umum. CAPM yang nilainya membaik sesudah suspensi mencerminkan adanya ekspektasi investor yang membaik terhadap bursa. Dengan begitu, menjadi masuk akal jika kemudian kinerja saham perusahaan sekuritas pun membaik pada saat sesudah suspensi seiring dengan membaiknya ekspektasi investor terhadap bursa efek. Sementara itu, lebih tingginya nilai alpha Jensen saham perbankan pada saat sebelum suspensi dibandingkan saat sesudahnya mencerminkan kinerja saham yang lebih baik pada saat sesudah suspensi. Hal ini terjadi kemungkinan karena periode pengamatan ini hanya mempunyai periode jendela selama kurang lebih 2 bulan, yaitu 4 minggu sebelum suspensi dan 4 minggu sisanya sesudah suspensi. Suspensi sendiri sebenarnya merupakan efek berantai dari krisis finansial global yang terjadi di Amerika Serikat. Dan karena industri perbankan sendiri erat kaitannya dengan sirkulasi keuangan antar negara, maka variabel yang mempengaruhi kinerjanya sangat kompleks dan lebih kompleks dibandingkan industri sekuritas. Untuk itu, 4 minggu sesudah suspensi bagi investor bukanlah waktu yang cukup untuk 100 menilai kinerja perbankan aman karena pada saat yang bersamaan efek dari krisis global justru terkesan baru dimulai di dalam negeri. Dengan begitu, menjadi rasional jika kemudian kinerja saham perbankan sesudah suspensi tidak lebih baik dibandingkan sebelum suspensi. Tabel 4.11 Hasil Uji Beda Saham Perbankan dengan Wilcoxon Sumber: Pengolahan data Tabel 4.11 menyajikan hasil uji perbedaan tersebut secara statistik menggunakan uji wilcoxon. Nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 pada semua variabel. Itu berarti Ho diterima. Dalam kata yang lain, perbedaan tersebut tidak signifikan. Hanya saja jika menggunakan tolak ukur alpha 10%, perbedaan beta dan CAPM signifikan. 3. Uji Beda Independent Samples Uji beda independent samples digunakan untuk menguji perbedaan data hasil pengamatan dari dua atau lebih objek penelitian. Dalam penelitian ini, uji beda independent samples 101 ER_SBLM ER_SSDH BETA_SBLM BETA_SSDH 36 36 36 36 Mean -,0094 -,0056 ,2904 ,0008 Std. Deviation ,02302 ,01017 ,64025 ,00125 Absolute ,169 ,208 ,162 ,365 Positive ,169 ,092 ,130 ,365 Negative -,125 -,208 -,162 -,247 1,016 1,251 ,971 2,187 ,253 ,088 ,302 ,000 CAPM_SBLM CAPM_SSDH JENSEN_SBLM JENSEN_SSDH 36 36 36 36 Mean -,0056 ,0030 -,0036 -,0091 Std. Deviation ,02466 ,00017 ,02040 ,01089 Absolute ,209 ,538 ,308 ,240 Positive ,209 ,538 ,308 ,093 Negative -,154 -,434 -,178 -,240 1,254 3,230 1,849 1,442 ,086 ,000 ,002 ,031 a. Test distribution is Normal. N Normal Parametersa Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) N Normal Parametersa Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test digunakan untuk menguji performance saham sekuritas dan perbankan sebelum dan sesudah suspensi. Jadi, jika pada bagian sebelumnya uji beda dilakukan terhadap data berpasangan, yaitu sebelum dan sesudah, sekarang uji beda dilakukan terhadap data silang, yaitu sekuritas dan perbankan. Untuk memperlengkap analisis, pengujian tidak hanya dilakukan pada alpha Jensen, tapi juga pada expected return, beta saham dan CAPM. Uji beda independent samples bisa dilakukan dengan uji parametrik atau non parametrik. Jika data pengamatan <30 data-blogger-escaped-adalah="" data-blogger-escaped-beda="" data-blogger-escaped-data="" data-blogger-escaped-digunakan="" data-blogger-escaped-jika="" data-blogger-escaped-maka="" data-blogger-escaped-non="" data-blogger-escaped-parametrik.="" data-blogger-escaped-pengamatan="" data-blogger-escaped-sementara="" data-blogger-escaped-uji="" data-blogger-escaped-yang="">30, maka harus dilakukan uji normalitas terlebih dahulu. Jika data normal, maka pengujian dilakukan dengan uji parametrik, dan jika data tidak normal maka pengujian dengan uji non parametrik. Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Sumber: Pengolahan data 102 ER_GROUP_SBLM N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Sekuritas 9 -,0083 ,01031 ,00344 Perbankan 27 -,0097 ,02609 ,00502 Sekuritas 9 ,0808 ,28764 ,09588 Perbankan 27 ,3602 ,71140 ,13691 Sekuritas 9 ,0017 ,01258 ,00419 Perbankan 27 -,0081 ,02730 ,00525 CAPM_SBLM Group Statistics ER_SBLM BETA_SBLM Normalitas data sendiri salah satunya bisa diuji menggunakan uji One-Samples Kolmogorov Smirnov. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka data tersebut berarti normal, dan sebaliknya jika lebih kecil dari 0,05 data dinyatakan tidak normal. Hasil pengujian terhadap normalitas data tersaji dalam tabel 4.12. a. Performance Sebelum Suspensi Hasil uji normalitas pada tabel 4.12 menghasilkan signifikansi lebih besar dari 0,05 hanya pada expected return, beta saham dan CAPM sebelum suspensi. Untuk itu, uji pada ketiga variabel ini dilakukan menggunakan uji parametrik. Tabel 4.13 menyajikan diskripsi statistik saham sebelum diberlakukannya suspensi dengan menggunakan uji tersebut. Tabel 4.13 Diskripsi Statistik Uji Parametrik Sebelum Suspensi Sumber: Pengolahan data Meskipun rata-rata nilainya sama-sama minus, expected return perusahaan sekuritas lebih besar dibandingkan expected 103 Equal variances assumed 3,112 ,087 ,157 34 ,877 ,00141 Equal variances not assumed ,231 32,725 ,818 ,00141 Equal variances assumed 3,508 ,070 -1,139 34 ,263 -,27944 Equal variances not assumed -1,672 32,416 ,104 -,27944 Equal variances assumed 2,565 ,118 1,027 34 ,312 ,00974 Equal variances not assumed 1,449 30,052 ,158 ,00974 Independent Samples Test ER_SBLM BETA_SBLM CAPM_SBLM t-test for Equality of Means Levene's Test for Equality of Variances F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference return perusahaan perbankan. Ini mencerminkan expektasi investor terhadap perolehan return saham sekuritas lebih besar dibandingkan saham perbankan. Hasil ini konsisten dengan hasil pengujian sebelumnya pada uji paired for mean perbankan. Hasil pengujian terhadap beta saham juga menghasilkan kesimpulan yang polanya mendukung pengujian sebelumnya. Artinya, ekspektasi investor terhadap return saham sekuritas yang lebih besar dibandingkan saham perbankan pada pengujian sebelumnya, disebabkan karena beta atau risiko saham perbankan lebih besar dibandingkan saham sekuritas. Hasil pengujian juga menunjukkan CAPM yang lebih besar pada saham sekuritas dibandingkan saham perbankan. Ini mencerminkan ekspektasi investor terhadap perolehan return lebih besar pada saham perusahaan-perusahaan sekuritas. Tabel 4.14 Hasil Uji Beda Parametrik Sebelum Suspensi Sumber: Pengolahan data 104 Namun begitu, secara statistik perbedaan tersebut terbukti tidak signifikan. Ini terlihat dari nilai signifikansi pada tabel 4.14 yang semuanya lebih besar dari 0,05, yang berarti Ho diterima. Itu artinya tidak ada perbedaan yang signifikan dari variabel yang diuji. Tabel 4.15 menyajikan diskripsi statistik uji non parametrik untuk alpha Jensen. Ranking rata-rata alpha saham perbankan terlihat lebih besar dibandingkan alpha saham sekuritas. Artinya, performance saham perbankan yang diukur dari alpha Jensen lebih baik dibandingkan performance saham sekuritas pada periode 9 Sepetember-10 November 2008. Hasil ini tampak sedikit berseberangan dengan hasil pengujian sebelumnya, yang secara umum mencerminkan saham sekuritas yang lebih baik. Hal ini disebabkan karena rata-rata beta saham perbankan cukup tinggi, yaitu sebesar 36% sehingga menyebabkan nilai alpha secara matematis meningkat tajam. Alpha Jensen merupakan kulminasi perhitungan setelah estimasi return dan risiko yang ada pada saham disesuaikan. Beta saham yang tinggi akan diestimasikan berjalan searah dengan return yang akan diperoleh investor. Karena itu, investor yang menyukai risiko biasanya akan memilih saham 105 N Mean Rank Sum of Ranks Sekuritas 9 15,78 142,00 Perbankan 27 19,41 524,00 Total 36 Ranks JENSEN_SBLM JENSEN_GROUP_SBLM JENSEN_SBLM Mann-Whitney U 97,000 Wilcoxon W 142,000 Z -,902 Asymp. Sig. (2-tailed) ,367 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .387a b. Grouping Variable: JENSEN_GROUP_SBLM Test Statisticsb a. Not corrected for ties. dengan beta yang tinggi untuk mendapatkan return yang lebih tinggi. Tabel 4.15 Diskripsi Statistik Uji Non Parametrik Sebelum Suspensi Sumber: Pengolahan data Namun begitu, secara statistik perbedaan tersebut terbukti juga tidak signifikan. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 pada tabel 4.16. Itu artinya perbedaan alpha Jensen antara saham sekuritas dan perbankan sebelum suspensi bukanlah perbedaan berarti yang cukup kuat untuk dijadikan landasan investasi secara statistik. Tabel 4.16 Hasil Uji Beda Non Parametrik Sebelum Suspensi Sumber: Pengolahan data 106 ER_GROUP_SSDH N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Sekuritas 9 -,0032 ,00845 ,00282 Perbankan 27 -,0064 ,01071 ,00206 Group Statistics ER_SSDH b. Performance Sesudah Suspensi Tabel 4.17 menyajikan diskripsi statistik expected return sesudah suspensi yang diuji menggunakan uji parametrik. Hasil dari tabel menunjukkan bahwa rata-rata expected return saham sekuritas tampak lebih tinggi dibandingkan rata-rata expected return saham perbankan. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi investor terhadap perolehan return tidak berubah dengan adanya suspensi. Dalam hal ini, investor berarti menganggap suspensi bukanlah hal yang cukup potensial untuk memulihkan pasar saham yang sempat rontok disebabkan krisis global. Tabel 4.17 Diskripsi Statistik Uji Parametrik Sesudah Suspensi Sumber: Pengolahan data Hasil uji beda secara statistik pada tabel 4.18 menunjukkan tidak adanya perbedaan expected return yang signifikan pada saham-saham perusahaan sekuritas dan perbankan. Ini terlihat dari nilai signifikansi pada kolom ke-6 yang lebih besar dari 0,05. Itu artinya Ho diterima, atau dengan kata lain perbedaan expected return tidaklah signifikan. 107 Equal variances assumed 1,274 ,267 ,800 34 ,429 ,00315 Equal variances not assumed ,902 17,333 ,380 ,00315 ER_SSDH F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Independent Samples Test Tabel 4.18 Hasil Uji Parametrik Sesudah Suspensi Sumber: Pengolahan data Tabel 4.19 menyajikan diskripsi statistik uji non parametrik pada ketiga variabel lainnya, yaitu beta, CAPM dan Jensen. Hasil dari tabel menunjukkan ranking rata-rata yang lebih tinggi pada perbankan dilihat dari betanya (19,93>14,22), sedangkan saham sekuritas tampak lebih tinggi dari saham perbankan dilihat dari CAPM-nya (20>18). Ini artinya dari sudut pandang risiko, investor menilai risiko yang ada pada saham perbankan lebih besar dibandingkan pada saham sekuritas. Selain penurunan harga saham di bursa, investor cenderung mengkhawatirkan kinerja perbankan secara riil akan menurun sebagai akibat adanya krisis global. Penurunan secara riil itu bisa terjadi dengan terjadinya penarikan dana pihak ketiga serta terjadinya gagal bayar dari pihak debitur. Dengan kata lain, lebih kompleksnya risiko yang dihadapi industri perbankan dipahami betul oleh para investor. 108 N Mean Rank Sum of Ranks Sekuritas 9 14,22 128,00 Perbankan 27 19,93 538,00 Total 36 Sekuritas 9 20,00 180,00 Perbankan 27 18,00 486,00 Total 36 Sekuritas 9 21,00 189,00 Perbankan 27 17,67 477,00 Total 36 JENSEN_GROUP_SSDH BETA_SSDH CAPM_SSDH JENSEN_SSDH Ranks Hasil akhir yang merupakan cerminan kinerja adalah alpha Jensen. Alpha merupakan risk adjusted return. Semakin tinggi nilai alpha, semakin baik kinerja saham. Ranking ratarata Jensen pada tabel 4.19 menunjukkan bahwa kinerja saham sekuritas lebih baik dibandingkan perbankan. Tabel 4.19 Diskripsi Statistik Uji Non Parametrik Sesudah Suspensi Sumber: Pengolahan data Dengan begitu, dapat disimpulkan beberapa hal. Pada saat sebelum suspensi kinerja saham perusahaan perbankan lebih baik dibandingkan saham perusahaan sekuritas. Hal ini cukup beralasan mengingat sebelum suspensi diberlakukan terdapat sinyalemen negatif terhadap perusahaan sekuritas karena dianggap melakukan short selling sehingga menyebabkan saham di pasar rontok (lihat latar belakang). Namun pada saat suspensi diberlakukan selama 5 hari, otoritas bursa melakukan tindakan tegas dengan cara mengusut 109 BETA_SSDH CAPM_SSDH JENSEN_SSDH Mann-Whitney U 83,000 108,000 99,000 Wilcoxon W 128,000 486,000 477,000 Z -1,606 -1,732 -,834 Asymp. Sig. (2-tailed) ,108 ,083 ,404 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .168a .641a .428a Test Statisticsb a. Not corrected for ties. b. Grouping Variable: JENSEN_GROUP_SSDH beberapa perusahaan sekuritas yang diduga melakukan praktek short selling dan pemerintah sendiri membuat beberapa kebijakan penanggulangan krisis, yang salah satunya adalah menaikkan suku bunga. Kebijakan menaikkan suku bunga ini tentu akan berakibat terhadap persepsi investor terhadap perbankan. Karena bagaimanapun, menurut Gunarso (2008) tingginya suku bunga akan memperketat likuiditas perbankan. Akibatnya, pada saat sesudah suspensi diberlakukan kinerja saham jadi berbalik, dimana kinerja saham perusahaan sekuritas menjadi lebih tinggi. Hal ini terjadi bisa juga karena investor menganggap saham perbankan masih berpotensi terhadap risiko yang besar karena pada saat yang bersamaan efek krisis global di dalam negeri terkesan baru dimulai. Tabel 4.20 Hasil Uji Non Parametrik Sesudah Suspensi Sumber: Pengolahan data Tabel 4.20 menyajikan hasil uji non parametrik terhadap variabel-variabel tersebut. Hasil dari tabel menunjukkan bahwa 110 tidak ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan perbankan dan sekuritas dilihat dari beta, CAPM dan nilai Jensen-nya. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05. 4. Perbandingan Performance Saham dengan Indeks Industri dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Tabel 4.21 menyajikan perbandingan expected return saham dengan indeks industri (ISF) dan indeks pasarnya (IHSG). Sementara grafik 4.1 menyajikan trend pergerakannya menggunakan moving average. Kolom ke-2 (pengamatan) adalah data berdasarkan pengamatan mingguan. “-4” berarti adalah data pengamatan 4 minggu sebelum suspensi, “-3” adalah data pengamatan 3 minggu sebelum suspensi, dan seterusnya. Pembagian pengamatan berdasarkan periode mingguan untuk mempermudah pemetaan dalam analisis kinerja saham. Pada periode sebelum suspensi terlihat bahwa expected return saham-saham sekuritas dan perbankan secara umum lebih tinggi dibandingkan indeks industri dan dan IHSG. Itu artinya dibandingkan indeks industrinya (industri finance), ekspektasi investor terhadap return kedua jenis perusahaan tersebut (sekuritas dan perbankan) cukup besar karena berada di atas rata-rata industri. Hanya saja, ekspektasi return saham sekuritas pada 111 -4 -0,01 7 -0,01 1 -0,006 -0,005 -3 -0,01 2 -0,005 -0,007 0,000 -2 -0,032 -0,023 -0,005 -0,007 -1 -0,074 -0,044 -0,01 4 -0,026 1 -0,002 -0,01 4 -0,003 -0,007 2 -0,01 9 -0,025 -0,006 -0,01 3 3 -0,003 -0,003 -0,003 -0,002 4 -0,003 -0,003 -0,003 -0,003 Expected Return Keterangan Pengamatan IHSG ISF SEKURITAS PERBANKAN minggu ke-3 sebelum suspensi berada di bawah rata-rata industri. Hal serupa juga terjadi pada saat sesudah suspensi. Expected return saham perusahaan sekuritas dan perbankan umumnya lebih tinggi dibandingkan ISF dan IHSG. Tabel 4.21 Perbandingan Expected Return Sumber: Pengolahan data Sementara grafik 4.1 menunjukkan trend pergerakan expected return yang meningkat pada saat sesudah suspensi. Ini menunjukkan bahwa adanya suspensi mendapatkan respon positif dari investor sebagai salah satu peredam pergerakan pasar yang irasional. Grafik 4.1 Trend Pergerakan Expected Return Sumber: Pengolahan data 112 -4 0,941 0,625 0,095 0,409 -3 0,923 0,763 0,1 29 0,477 -2 0,875 0,376 0,1 00 0,298 -1 0,667 0,440 -0,001 0,258 1 0,833 0,002 0,000 0,001 2 0,909 0,002 0,000 0,001 3 0,938 0,003 0,000 0,001 4 0,952 0,003 0,000 0,001 Beta Saham Keterangan Pengamatan IHSG ISF SEKURITAS PERBANKAN Tabel 4.22 menyajikan perbandingan beta saham. Secara umum trend pergerakan beta yang terlihat pada grafik 4.2 menunjukkan trend yang menaik. Artinya, secara umum seiring dengan meningkatnya ekspektasi investor terhadap return risiko pun bertambah. Tabel 4.22 Perbandingan Beta Saham Sumber: Pengolahan data Hanya saja, pada periode sesudah suspensi beta saham sekuritas dan perbankan tampak mempunyai nilai yang sama besar pada periode seminggu, dua minggu, tiga minggu dan empat minggu sesudah suspensi. Nilai ini lebih kecil dari rata-rata industri. Nilai beta sekuritas dan perbankan pada khususnya, serta indeks industri finance pada umumnya yang cenderung kecil mencerminkan pergerakan harga saham yang relatif stagnan. Dalam arti yang lain, hal ini juga bisa mengindikasikan kecilnya volume perdagangan saham pada sektor keuangan (termasuk pada sekuritas dan perbankan) pada saat sesudah suspensi. Dalam hal ini, investor barangkali menganggap penempatan dana pada sektor 113 -0.200 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1 .000 1 .200 -4 -3 -2 -1 1 2 3 4 IHSG ISF SEKURITAS PERBANKAN 2 per. Mov. Avg. (IHSG) -4 -0,01 5 -0,009 0,002 -0,005 -3 -0,01 1 -0,008 0,001 -0,004 -2 -0,028 -0,01 0 0,000 -0,007 -1 -0,048 -0,031 0,004 -0,01 6 1 -0,001 0,003 0,003 0,003 2 -0,01 7 0,003 0,003 0,003 3 -0,003 0,003 0,003 0,003 4 -0,003 0,003 0,003 0,003 CAPM Keterangan Pengamatan IHSG ISF SEKURITAS PERBANKAN keuangan pada saat tersebut bukanlah pilihan yang bijak untuk investasi. Grafik 4.2 Trend Pergerakan Beta Saham Sumber: Pengolahan data Tabel 4.23 Perbandingan CAPM Sumber: Pengolahan data Hasil perbandingan CAPM pada tabel 4.23 menyajikan hasil yang polanya tidak jauh berbeda dengan perbandingan sebelumnya. CAPM merupakan return minimal yang disyaratkan investor dalam kondisi pasar yang seimbang terhadap saham. Pola pergerakan CAPM secara keseluruhan menunjukkan pola yang sama dengan pola expected return, yaitu menaik sesudah adanya 114 suspensi. Artinya, seiring dengan beta yang meningkat sesudah suspensi, investor pun mensyaratkan return minimal (CAPM) yang lebih kecil dan mengharapkan return yang juga lebih kecil (expected return). Besarnya nilai beta ISF, sekuritas dan perbankan yang cenderung sama pada saat sesudah suspensi konsisten dengan perbandingan beta sebelumnya. Artinya, pergerakan harga saham di sektor keuangan relatif stagnan. Ini kemungkinan terjadi karena sepinya transaksi perdagangan atas saham-saham perusahaan di sektor keuangan, termasuk perusahaan sekuritas dan perbankan pada seminggu, dua minggu, tiga minggu, bahkan empat minggu sesudah suspensi diberlakukan. Grafik 4.3 Trend Pergerakan CAPM Sumber: Pengolahan data Tabel 4.24 adalah hasil perbandingan alpha Jensen. Trend pergerakan alpha Jensen yang ditunjukkan oleh Grafik 4.4 secara 115 -4 -0,001 -0,002 -0,008 -0,001 -3 -0,001 0,003 -0,009 0,004 -2 -0,004 -0,01 3 -0,005 0,000 -1 -0,026 -0,01 3 -0,01 7 -0,01 0 1 -0,001 -0,01 7 -0,007 -0,01 1 2 -0,002 -0,028 -0,009 -0,01 7 3 0,000 -0,006 -0,006 -0,006 4 0,000 -0,006 -0,006 -0,006 Alpha Jensen Keterangan Pengamatan IHSG ISF SEKURITAS PERBANKAN keseluruhan meningkat pada saat sesudah suspensi. Pola ini cenderung seragam dengan hasil perbandingan pada bagianbagian sebelumnya. Tabel 4.24 Perbandingan Alpha Jensen Sumber: Pengolahan data Grafik 4.4 Trend Pergerakan Alpha Jensen Sumber: Pengolahan data Hal tersebut artinya, adanya suspensi direpon positif oleh pasar sebagai peredam pasar yang emosional. Hal ini bisa juga disebabkan karena kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah saat suspensi diberlakukan dianggap pasar cukup potensial untuk menanggulangi ekses krisis global di pasar modal. Kebijakan 116 tersebut diantaranya barangkali adalah ditindaknya perusahaanperusahaan sekuritas yang disinyalir melakukan short selling serta kebijakan pemerintah lainnya di sektor makro ekonomi. C. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Perbedaan Performance Saham Sebelum dan Sesudah Suspensi a. Industri Sekuritas Hasil pengujian statistik melalui uji beda data berpasangan terhadap empat indikator kinerja saham, yaitu expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen menghasilkan kesimpulan yang menyatakan bahwa semua indikator tersebut tidak berbeda secara signifikan, baik 4 minggu sebelum maupun 4 minggu sesudah suspensi. Namun, secara diskriptif rata-rata nilai keempat indikator tersebut lebih tinggi pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelum suspensi. Hasil ini mengisyaratkan adanya indikasi respon positif dari investor terhadap diberlakukannya suspensi. Perilaku ini tercermin dari meningkatnya volume perdagangan saham dari bulan Oktober ke November 2008 sebesar 57%, sebagaimana yang ditunjukkan oleh tabel 4.24. Peningkatan tersebut cukup besar mengingat pada bulan sebelumnya, volume perdagangan saham malah menurun sebesar 63%. 117 Tabel 4.25 Perubahan Aktivitas Saham Sekuritas Sekuritas Bulan Kapitalisasi Volume Nilai September 2,098,269 41,067 5,294 Oktober 1,647,204 15,080 3,441 November 1,631,459 23,717 5,294 Desember 1,638,899 13,809 4,093 Perubahan Bulan % % % September Oktober -0.21 -0.63 -0.35 November -0.01 0.57 0.54 Desember 0.00 -0.42 -0.23 Sumber: Diolah dari IDX Monthly Statistics Sebagai sebuah event di luar corporate actions, tujuan diberlakukannya suspensi adalah untuk meredam reaksi pasar yang dinilai otoritas bursa irasional dalam menanggapi isu krisis keuangan global yang terjadi di Amerika Serikat. Jadi, suspensi merupakan event pasar yang berkaitan langsung dengan kinerja saham di pasar secara keseluruhan. Sebagaimana pendapat Jogiyanto (2003:410), salah satu tujuan event study adalah untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumunan. Artinya, apakah pengumuman tersebut mampu membuat investor bereaksi secara signifikan atau tidak. Tidak signifikannya perbedaan expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen pada 118 periode sebelum dan sesudah suspensi, mengindikasikan bahwa suspensi bukanlah event khusus yang dianggap investor berpengaruh besar terhadap pergerakan harga saham. Dalam hal ini, lebih tingginya rata-rata keempat variabel tersebut pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelum suspensi menunjukkan beberapa hal. Pertama, suspensi mendapat respon dari investor sebagai sebuah kebijakan yang positif bagi pergerakan harga saham. Kedua, meskipun direspon positif, tapi suspensi tidak signifikan untuk mempengaruhi preferensi investor dalam keputusan jual beli saham. Itu artinya, investor menganggap ada variabel lain yang lebih mempengaruhi pergerakan harga saham dan tidak cukup diatasi dengan diberlakukannya suspensi. Ini konsisten dengan tujuan diberlakukannya suspensi itu sendiri, yang untuk mengatasi pasar saham secara makro, bukan saham individual secara fundamental. Hasil yang demikian tersebut bisa juga diakibatkan oleh rentang waktu pengamatan yang terlalu panjang, yaitu 4 minggu sebelum dan 4 minggu sesudah suspensi. Namun begitu, hasil pengamatan 7 hari sebelum dan sesudah suspensi terhadap actual return juga terbukti tidak signifikan. Begitupun 119 halnya dengan perpanjangan periode jendela menjadi 14 hari sebelum dan sesudah (hasil lihat lampiran 9). Jika dilihat dari sifat event-nya yang berasal dari non corporate actions, hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang konsisten dengan penelitian Ilmasari (2007) yang menggunakan event dengan sifat yang sama, yaitu Corporate Governance Perception Index. Ilmasari menyimpulkan bahwa pengumuman CGPI tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah event. b. Industri Perbankan Sebagaimana pada industri sekuritas, di industri perbankan pun semua indikator saham, yaitu expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen juga berdasarkan hasil pengujian terbukti tidak signifikan. Hanya saja ada pergerakan pola yang berbeda jika dibandingkan dengan industri sekuritas. Pada industri sekuritas, semua variabel menunjukkan rata-rata yang lebih baik pada saat sesudah suspensi, termasuk alpha Jensen-nya. Sementara pada industri perbankan hal itu tidak terjadi. Expected return, beta saham, dan CAPM menunjukkan rata-rata yang lebih baik pada masa sebelum 120 suspensi, sedangkan alpha Jensen menunjukkan rata-rata yang lebih baik pada saat sesudah suspensi. Hal tersebut mengindikasikan beberapa hal; pertama, perusahaan-perusahan perbankan dan sekuritas memiliki sensitivitas industri yang berbeda. Secara makro, kinerja keduanya akan sama-sama terpengaruh terhadap indikator makro ekonomi, seperti nilai tukar, suku bunga, dan inflasi. Akan tetapi, sensitivitas industri perbankan terhadap indikatorindikator makro ekonomi tersebut akan lebih besar mengingat aktivitasnya berkaitan langsung dengan fluktuasi ketiganya. Kedua, ekspektasi investor terhadap perbankan belum bagus pada saat sesudah suspensi karena kebijakan pemerintah yang terkesan lebih memilih menyelamatkan pasar modal daripada perbankan. Pada saat suspensi diberlakukan, pemerintah mengeluarkan kebijakan, yaitu menaikkan suku bunga acuan. Hal ini menurut Gunarso (2008) akan memperketat likuiditas perbankan, dan sebaliknya menghambat penarikan modal dari pasar modal. Perilaku investor tersebut tercermin dalam volume perdagangan saham pada bulan November 2008 yang menurun sebesar 46% dari bulan sebelumnya. Tabel 4.25 secara lengkap 121 menyajikan perubahan aktivitas saham perbankan di bursa pada bulan September-November 2008. Tabel 4.26 Perubahan Aktivitas Saham Perbankan Perbankan Bulan Kapitalisasi Volume Nilai September 324,746,015 5,170,818 8,259,403 Oktober 243,714,484 7,288,977 7,538,975 November 234,330,643 3,943,894 5,699,134 Desember 275,165,073 3,068,422 4,795,275 Perubahan Bulan % % % September Oktober -0.25 0.41 -0.09 November -0.04 -0.46 -0.24 Desember 0.17 -0.22 -0.16 Sumber: Diolah dari IDX Monthly Statistics Namun sebenarnya kebijakan pemerintah untuk menaikkan suku bunga tersebut cukup masuk akal mengingat perbankan di Indonesia tidak terikat secara langsung terhadap surat hutang subprime mortgage yang dikeluarkan Bank Federal Amerika karena ketentuan BI yang tidak memperbolehkan. Hanya saja, effect of psycologic dari rontoknya saham-saham perbankan di beberapa Negara lain barangkali masih dirasakan oleh investor kendatipun suspensi sudah diberlakukan. Tidak signifikannya hasil perbandingan antara sebelum dan sesudah suspensi, dan lebih baiknya rata-rata variabel 122 secara umum pada saat sesudah suspensi mengindikasikan perilaku investor yang menilai suspensi hanya sebagai peredam perilaku pasar yang irasional, tapi tidak untuk mempengaruhi preferensi mereka dalam memilih saham. 2. Perbedaan Performance Saham pada Industri Sekuritas dan Perbankan a. Sebelum Suspensi Pada saat sebelum suspensi, hasil pengujian keseluruhan terhadap expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perusahaan sekuritas dan perbankan. Namun secara diskriptif, rata-rata expected return dan CAPM (kedua-duanya sama-sama merupakan cerminan ekspektasi terhadap return) perusahaan sekuritas lebih tinggi dibandingkan perusahaan perbankan. Ini artinya bahwa investor menaruh ekspektasi yang lebih besar pada saham sekuritas dari segi return. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena isu krisis keuangan global yang merontokkan beberapa harga saham perbankan di berbagai Negara sudah mulai juga dikhawatirkan investor akan terjadi di Indonesia. Anggapan ini diperkuat dengan nilai beta perbankan yang lebih tinggi dibandingkan 123 sekuritas pada saat yang sama. Itu artinya, sentivitas pergerakan harga saham perbankan memiliki potensi lebih besar untuk berfluktuasi dan tak terkendali secara tajam. Dalam arti yang lebih luas, penempatan dana pada saham sekuritas menjanjikan return yang lebih tinggi dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan pada saham perbankan. Namun begitu, alpha Jensen perusahaan perbankan terlihat memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan sekuritas. Artinya, kinerja perusahaan perbankan pada saat sebelum suspensi masih lebih baik dibandingkan perusahaan sekuritas. Hal ini terjadi karena sebagaian investor beranggapan bahwa beta saham yang nilainya tinggi harusnya bisa menghasilkan return yang juga tinggi. Karena pada dasarnya, teori investasi adalah high risk-high return. Itu artinya ada investor yang tidak sepakat dengan konsensus pasar yang tercermin dari expected return, beta saham dan CAPM. Itulah barangkali sebabnya kenapa kemudian perubahan volume perdagangan saham perbankan pada bulan Oktober lebih tinggi dibandingkan sekuritas pada bulan yang sama (Lihat dan bandingkan tabel 4.25 dan 4.26). Menurut Bodie (2006:223), dalam sebuah pasar selalu ada investor yang tidak sepakat terhadap konsensus pasar, seperti 124 kapitalisasi pasar yang tinggi (yang pada dasarnya merupakan konsensus pasar) tidak selalu menghasilkan kinerja yang juga baik. Ketidak-sepakatan terhadap konsensus ini terjadi karena preferensi tiap investor dalam membeli atau menjual harga saham berbeda-beda. Al-Falah (2008) telah membuktikan pernyataan Bodie tersebut melalui penelitiannya terhadap kinerja saham BUMN. Al-Falah menyimpulkan bahwa tingginya kapitalisasi pasar tidak selalu berjalan searah dengan kinerja saham. Dalam hal ini, hasil akhir pengujian pada saat sebelum suspensi, dimana alpha Jensen perbankan lebih tinggi dibandingkan sekuritas mencerminkan adanya ketidaksepakatan beberapa investor terhadap konsensus pasar yang tercermin dari expected return, beta saham ataupun CAPM. b. Sesudah Suspensi Pada pengujian sesudah suspensi, secara keseluruhan empat variabel (expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen) terbukti tidak berbeda secara signifikan. Namun secara diskriptif, terdapat kesamaan pola pada expected return, beta saham dan CAPM dengan hasil diskripsi pada pengujian sebelum suspensi. 125 Rata-rata beta saham perbankan lebih besar dibandingkan rata-rata beta saham sekuritas. Ini artinya bahwa dari sudut pandang risiko, investor menilai risiko yang ada pada saham perbankan lebih besar dibandingkan risiko yang ada pada saham sekuritas. Sementara itu, ekspektasi investor terhadap return terlihat lebih tinggi pada perusahaan sekuritas dibandingkan pada perusahaan sekuritas. Lebih tingginya tingginya risiko yang ada pada saham perbankan disebabkan karena selain investor khawatir terhadap penurunan harga saham di bursa, investor juga cenderung mengkhawatirkan kinerja perbankan secara riil akan menurun sebagai akibat adanya krisis global. Penurunan secara riil itu bisa terjadi dengan terjadinya penarikan dana pihak ketiga serta terjadinya gagal bayar dari pihak debitur. Dengan kata lain, lebih kompleksnya risiko yang dihadapi industri perbankan dipahami betul oleh para investor. Setelah porsi return dan risiko di atas di sesuaikan dan diakumulasikan dengan risiko pada aset bebas risiko, ternyata terbukti bahwa rata-rata alpha Jensen saham sekuritas lebih tinggi dibandingkan saham perbankan. Artinya, kinerja saham sekuritas sesudah diberlakukannya suspensi unggul dibandingkan saham perbankan. 126 Hasil ini terjadi bisa karena diberlakukannya suspensi sendiri adalah kebijakan untuk memulihkan perdagangan di Bursa, dan memulihkan perdagangan di bursa berarti mendongkrak aktivitas perusahaan sekuritas yang secara umum aktivitasnya adalah sebagai perantara perdagangan saham. Sementara bagi perbankan, kebijakan menaikkan suku bunga yang dilakukan saat suspensi berarti menaikkan cost of fund antar bank dan memperketat likuiditas. Selain itu, pemulihan sentimen negatif investor terhadap perbankan yang cenderung terimbas effect of psychology dari kinerja perbankanperbankan lain di luar negeri, tampaknya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan pemulihan sentimen investor terhadap perusahaan sekuritas yang cenderung memiliki sensitivitas yang lebih kecil terhadap perubahan variabelvariabel makro ekonomi, seperti nilai tukar dan lain-lain. Hasil penelitian secara keseluruhan berkaitan dengan event suspensi dari bagian-bagian sebelumnya menyimpulkan; pertama, suspensi direspon postif oleh investor sebagai peredam reaksi pasar yang irasional. Kedua, respon investor tidak cukup signifikan. Dalam arti yang lain, adanya respon tersebut tidak sampai mempengaruhi preferensi investor dalam memilih membeli ataupun menjual saham. Ketiga, pergerakan saham 127 industri sekuritas tampak lebih sensitif dan terpengaruh dibandingkan saham perbankan terhadap diberlakukannya suspensi. Hasil penelitian ini konsisten dengan aktivitas saham sekuritas dan perbankan yang tercermin dalam tabel 4.25 dan 4.26. Itu artinya, hasil pengujian tercermin secara faktual melalui perilaku investor yang di-proxy-kan lewat volume perdagangan saham yang dirilis Bursa Efek Indonesia setiap bulannya dalam IDX Monthly Statistics. 3. Perbandingan Performance Saham dengan Indeks Industri dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Pada periode sebelum suspensi expected return saham-saham sekuritas dan perbankan secara umum lebih tinggi dibandingkan indeks industri dan IHSG. Itu artinya dibandingkan indeks industrinya (industri finance), ekspektasi investor terhadap return kedua jenis perusahaan tersebut (sekuritas dan perbankan) cukup besar karena berada di atas rata-rata industri. Hal serupa juga terjadi pada saat sesudah suspensi. Expected return saham perusahaan sekuritas dan perbankan umumnya lebih tinggi dibandingkan ISF dan IHSG. Ini menunjukkan bahwa kedua jenis perusahaan ini merupakan perusahaan yang dibandingkan pergerakan pasarnya merupakan perusahaan yang memiliki 128 sensitivitas lebih rendah dibandingkan saham-saham lain. Secara umum, expected return meningkat sesudah suspensi. Artinya, adanya suspensi direspon positif oleh investor. Sementara itu, pergerakan beta menunjukkan pola yang sama dengan expected return, yaitu meningkat pada saat sesudah suspensi. Nilai beta sekuritas dan perbankan serta indeks industri finance lebih kecil dari IHSG, baik pada sebelum ataupun sesudah suspensi. Ini mencerminkan bahwa industri finance memiliki sensitivitas lebih kecil terhadap pergolakan harga saham secara keseluruhan. Sementara itu, nilai beta ISF, sekuritas dan perbankan cenderung sama selama empat minggu pengamatan pada sesudah suspensi. Ini mencerminkan pergerakan harga saham yang relatif stagnan. Ini mengindikasikan kecilnya volume perdagangan saham pada sektor keuangan (termasuk pada sekuritas dan perbankan) pada saat sesudah suspensi. Dalam hal ini, investor barangkali menganggap penempatan dana pada sektor keuangan pada saat tersebut bukanlah pilihan yang bijak untuk investasi, apalagi nilai Jensen pada waktu ini semuanya bernilai minus, yang berarti saham tidak layak beli. Pergerakan dan perbandingan CAPM memiliki pola yang sama dengan expected return. Artinya, investor mensyaratkan return 129 minimal yang telah disesuaikan dengan return masa lalu dari saham. Perbandingan kinerja saham yang diwakili oleh alpha Jensen secara keseluruhan meningkat sesudah diberlakukannya suspensi. Rata-rata kinerja perbankan sebelum suspensi (-0,002) lebih tinggi dibandingkan ISF (-0,006) dan IHSG (-0,008), sedangkan rata-rata kinerja sekuritas lebih rendah, yaitu (-0,010). Ini mengindikasikan bahwa dibandingkan dengan indeks industri dan pasarnya, pergerakan saham perusahaan sekuritas cenderung berfluktuasi lebih tinggi dan lebih liar. Sementara pada sesudah suspensi, kinerja perusahaan sekuritas (-0,007) dan perusahaan perbankan (-0,010) lebih rendah dibandingkan IHSG (-0,001). Artinya, dibandingkan saham-saham lainnya di bursa, sekuritas dan perbankan tergolong perusahaan yang tidak terpengaruh secara signifikan pergerakan sahamnya dengan diberlakukannya suspensi. Akan tetapi, dibandingkan dengan ISF (-0,014), sekuritas dan perbankan memiliki alpha Jensen yang lebih tinggi. Artinya, dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya di sektor keuangan, keduanya merupakan perusahaan yang tergolong memiliki kinerja di atas rata-rata. Adanya trend pergerakan menaik sesudah suspensi pada semua indikator saham, yaitu expected return, beta saham, CAPM 130 dan alpha Jensen dari IHSG, ISF, sekuritas dan perbankan menunjukkan bahwa suspensi direspon investor sebagai sebuah kebijakan tepat dalam meredam reaksi pasar yang irasional. Pasar yang irasional adalah akibat dari simpang siurnya informasi yang belum tentu benar dan dijadikan landasan oleh para investor untuk melakukan perdagangan saham. Tindakan investor yang emosional adalah tindakan gegabah yang sejak awal dalam Islam sudah diperingatkan untuk dihindari: $pκš‰r '‾≈t ƒ tÏ%©!$# (#þθãΖt Β#u βÎ) óΟä.u!%y` 7,Å™$sù :*t6t⊥Î/ (#þθãΨ¨t6tGsù βr& (#θç7ŠÅÁè? $JΒöθs% 7's#≈y γpg¿2 (#θßsÎ6óÁçGsù 4’n?tã $tΒ óΟçFù=y èsù tÏΒω≈t ∩∉∪ Ρ Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS.Al-Hujarat:6) Untuk memperoleh sebuah informasi, Islam menganjurkan seseorang untuk tidak melihat dari satu sisi saja, melainkan mencari informasi dari beberapa sumber yang jelas agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Karena itu Islam 131 melarang keras seseorang untuk mengikuti suatu hal tanpa adanya pengetahuan tentang itu. Ÿωuρ ß#ø)s? $tΒ }§øŠs9 y7s 9 ÏμÎ/ íΟù=Ïæ 4 ¨βÎ) yìôϑ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#uρ yŠ#xσà ø9$#uρ ‘≅ä. y7Í×‾≈s 9'ρé& ∩⊂∉∪ Zωθä↔ó¡tΒ çμ÷Ψtã tβ%x. Artinya: ”Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaranmu, penglihatanmu, dan mata hatimu semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36) Dalam dunia investasi, untuk mengambil keputusan yang akurat investor seharusnya melakukan beberapa analisis, baik secara teknikal maupun fundamental. Informasi atau berita dalam analisis fundamental merupakan salah satu alat analisis yang harus digunakan oleh investor dalam mengambil sebuah keputusan. Informasi atau berita merupakan alat analisis yang penting bagi para investor dalam mengambil keputusan, namun informasi atau berita tersebut harus diseleksi terlebih dahulu. Artinya investor tidak boleh mengabil keputusan hanya berdasarkan pada satu informasi saja, akan tetapi harus memperkayanya dengan informasi-informasi lain yang mendukung. 132 BAB V PENUTUP Bab ini merupakan bab penutup dimana seluruh hasil perhitungan dan analisis data pada bab-bab terdahulu dirangkum sebagai suatu kesimpulan. Saran-saran diberikan sebagai solusi dan kemungkinan pengembangan lebih lanjut dari hasil penelitian ini. A. Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil analisis terhadap performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan dengan menggunakan event study suspensi adalah sebagai berikut: 1. Performance saham perusahaan sekuritas yang diukur dengan alpha Jensen tidak berbeda secara signifikan pada saat sebelum dan sesudah suspensi. Ketiga variabel lainnya yang juga diikutkan dalam pengujian, yaitu expected return, beta saham dan CAPM menghasilkan kesimpulan serupa. Nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5%. Namun secara diskriptif, rata-rata nilai keempat variabel tersebut lebih tinggi pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelumnya. Hal tersebut berarti bahwa suspensi 133 direspon positif oleh investor meski preferensi investasi mereka tidak terpengaruh secara signifikan. 2. Performance saham perusahaan-perusahaan perbankan juga tidak berbeda signifikan pada sebelum dan sesudah suspensi. Begitupun halnya dengan ketiga variabel lainnya yang diikutkan dalam pengujian. Semuanya menghasilkan nilai signifikansi yang lebih kecil dari alpha 5%. Hanya saja secara diskriptif tampak sedikit perbedaan pola. Rata-rata ER, beta dan CAPM sesudah suspensi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, sementara alpha Jensen lebih tinggi pada saat sebelum dibandingkan sesudah suspensi. Hasil ini mencerminkan adanya perbedaan kondisi industri yang disikapi berbeda oleh investor. Investor menganggap suspensi lebih bisa memulihkan kondisi industri sekuritas dibandingkan perbankan dalam interval waktu yang hanya 4 minggu sesudah suspensi. 3. Performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan tidak berbeda signifikan pada sebelum suspensi. Alpha Jensen maupun expected return, beta dan CAPM menghasilkan signifikansi yang lebih besar dari alpha 5%. Rata-rata ER, beta dan CAPM perusahaan sekuritas lebih baik dibandingkan perusahaan perbankan. Sementara alpha Jensen perusahaan perbankan lebih baik dibandingkan perusahaan sekuritas. Hasil yang tampak 134 berseberangan ini disebabkan risiko saham perbankan (tercermin lewat beta) lebih kompleks dibandingkan saham sekuritas sehingga beberapa investor pun menganggap perusahaan perbankan harusnya bisa menghasilkan return yang lebih tinggi. 4. Performance saham perusahaan-perusahaan sekuritas dan perbankan tidak berbeda signifikan pada saat sesudah suspensi. Alpha Jensen maupun expected return, beta dan CAPM menghasilkan signifikansi yang lebih besar dari alpha 5%. Rata-rata ER, beta dan CAPM perusahaan sekuritas lebih baik dibandingkan perusahaan perbankan. Sementara berbeda pada saat sebelum, pada saat sesudah alpha Jensen perusahaan sekuritas lebih baik dibandingkan perusahaan perbankan. Hal ini terjadi disebabkan investor menganggap saham perbankan masih berpotensi terhadap risiko yang besar karena pada saat yang bersamaan efek krisis global di dalam negeri terkesan baru dimulai. 5. Perbandingan kinerja saham yang diwakili oleh alpha Jensen secara keseluruhan meningkat dari sebelum ke sesudah suspensi. Ratarata kinerja perbankan sebelum suspensi (-0,002) lebih tinggi dibandingkan ISF (-0,006) dan IHSG (-0,008), sedangkan rata-rata kinerja sekuritas lebih rendah, yaitu (-0,010). Sementara pada sesudah suspensi, kinerja perusahaan sekuritas (-0,007) dan perusahaan perbankan (-0,010) lebih rendah dibandingkan IHSG (- 135 0,001) dan lebih tinggi dibandingakan ISF (-0,014). Trend pergerakan meningkat sesudah suspensi pada semua indikator saham, yaitu expected return, beta saham, CAPM dan alpha Jensen Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan suspensi direspon investor sebagai sebuah kebijakan tepat dalam meredam reaksi pasar yang irasional. Hasil penelitian secara keseluruhan yang menyimpulkan bahwa suspensi merupakan event yang direspon postif oleh investor meskipun respon tersebut tidak signifikan, konsisten dengan perilaku investor yang tercermin dalam volume perdagangan saham. Secara umum, volume perdagangan saham sekuritas dan perbankan yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam data statistik yang diterbitkan tiap bulan meningkat pada saat sesudah suspensi dibandingkan sebelumnya. Sementara Jika dilihat dari sifat event-nya yang berasal dari non corporate actions, hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang konsisten dengan penelitian Ilmasari (2007) yang menggunakan event dengan sifat yang sama, yaitu Corporate Governance Perception Index. Ilmasari menyimpulkan bahwa pengumuman CGPI tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perbedaan abnormal return dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah event. 136 Hasil ini merupakan indikasi awal yang mengarah pada dugaan lain bahwa event yang berasal dari non-corporate actions tidak mampu mempengaruhi kinerja saham secara signifikan. B. Saran Saran-saran yang dapat diberikan berkaitan dengan hasil analisis dan pembahasan pada penelitian ini adalah: 1. Dalam penelitian selanjutnya, disarankan agar peneliti menggunakan periode jendela yang lebih lama dan menggunakan metode inferensial lain untuk melihat sensitivitas saham terhadap event tertentu. Selain itu, untuk melihat kinerja saham sekuritas dan perbankan secara komprehensif, disarankan juga untuk mempertimbangkan penilaian terjadap karakteristik keuangan serta menggunakan metode penelitian yang memungkinkan untuk mengikutkan keseluruhan populasi. 2. Secara keseluruhan, hasil pengamatan menemukan bahwa event suspensi direspon positif oleh investor untuk mengatasi kondisi pasar yang emosional. Untuk itu, bagi otoritator bursa disarankan untuk terus mengawal tarnsaksi perdagangan saham dan tidak sepenuhnya menyerahkannya pada mekanisme pasar. Sementara bagi investor, disarankan untuk menanggapi dan mempelajari sebuah event dengan lebih bijaksana dan tanpa keputusan 137 emosional yang tidak didasarkan pada informasi-informasi yang memadai. DAFTAR PUSTAKA Al-Falah, Muhammad Alayk, 2008, Analisis Market Performance Saham- Saham BUMN Menggunakan Sharpe’s Model, Jensen’s Model Dan Appraisal Ratio (Periode Pengamatan pada Tahun 2003-2007), Skripsi tidak Diterbitkan, Program Strata 1 Fakultas Ekonomi UIN Malang, Malang Al-Gifari, 2003, Statistika Induktif untuk Ekonomi dan Bisnis, AMP-YKPN, Yogyakarta Ali, Muhammad dan Encep Saifuddin, 2008, Pendongkrak Dana Ribuan Triliun, (Online), (http://smunsa-purgan.web.id/viewtopic.php ?id=266, diakses 13 januari 2009) Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti, 2006. Pengantar Pasar Modal. Edisi Revisi, Cetakan Kelima, Penerbit PT. Rineka Cipta, Semarang. Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Edisi VI Resivi, Rineka Cipta, Jakarta Badan Pengawas Pasar Modal, 2004, Studi tentang Investasi Syariah di Pasar Modal Indonesia, (www.bapepam.go.id/pasar_modal/ publikasi_ pm/kajian_pm/studi_pm_syariah.pdf, diakses 11 Maret 2008) Bank Indonesia, 2007, Laporan Pengawasan Perbankan 2007, (Online), (http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/84EAE3C3-1847-4110-A26E- 5D377B002109/14011/LPP_07.zip, diakses 13 Januari 2009) _______________, 2008, Booklet Perbankan Indonesia, (Online), (http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/FDCF2D6E-FC43-44D9-8919- 4F953141C53A/7807/BPI_2008.zip, diakses 13 Januari 2009) BAPEPAM-LK, 2008, Statistik Pasar Modal, (Online), (http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/statistik_pm/20 08/2008_XII_4.pdf, diakses 13 januari 2009) Bodie, Zvi, dkk, 2005, Investment, th6 Edition, McGraw-Hill Companies, Inc., Dalimunthe, Zuliani (penerjemah), 2006, Investasi, Buku 2. Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta Bursa Efek Indonesia, 2008, IDX Monthly Statistics, (Online), (http://www.idx.co.id/JSXStatistics/MONTHLY/tabid/184/language/id- ID/Default.aspx, diakses 14 Februari 2009) Dewan Syariah Nasional, 2008, Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal, (http://www.mui.or.id/mui_in/product_2/fatwa.php?id=48&pg=2, diakses 21 April 2008) Gunarso, Beny, 2008, Pengaruh Likuiditas Ketat terhadap Perbankan Nasional dan Sektor Riil, (Online), (http://komunitasperbankan.blogspot.com/articles/s,htm, diakses 13 Januari 2009) Hadad, Muliaman D., dkk, 2003, Indikator Awal Krisis Perbankan, (Online), (www.bi.go.id/NR/rdonlyres/2DAB2C92-BF34-4DE4- A3EF-12078CC77431/7822/IndikatorawalKrisisPerbankan.pdf, diakses 13 Januari 2009) Halim, Abdul, 2005, Analisis Investasi, Salemba Empat, Jakarta Hasan, Ali, 2003, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam; Fiqh Muamalah, Cetakan 1. Rajawali Pers, Jakarta Huda, Nurul dan Mustafa Edwin Nasution, 2007. Investasi Pada Pasar Modal Syariah, Kencana, Jakarta Husnan, Suad, 2001, Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi 3, Cet. 2, AMP-YKPN, Yogyakarta Ilmasari, Nurul, 2007. Perbedaan Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham, Dan Kinerja Perusahaan Sebelum dan Sesudah Publikasi Corporate Governance Perception Index (CGPI). Skripsi Tidak di Publikasikan, Universitas Brawijaya. Indiantoro, Nur dan Bambang Supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Penerbit BPFE, Yogyakarta. Jogiyanto, 2003, Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi ke-3, Cet. I, BPFE, Yogyakarta Kompas, 12 Agustus 2008, IHSG Sentuh Level Terendah 2008, (Online), (http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/12/12214233/ihsg.sentuh.l evel.terendah.tahun.2008, diakses 13 Januari 2009) ________, 09 Oktober 2008, Investor Panik, Perdagangan Dihentikan, (Online), (http://els.bappenas.go.id/upload/kliping/Investor- Kps_091008_113102.pdf, diakses 13 Januari 2008) _______, 30 Oktober 2008, 15 Broker Terancan Disuspensi, (Online), (http://aaronsimanjuntak.com/2008/10/15-broker-terancam-disuspensi. html, diakses 13 Januari 2009) Kurnia, Ridiani, 2005, Perkembangan Reksadana, (Online), (http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/info_pm/warta/ 2005_desember/Perkembangan%20Reksa%20Dana.pdf, diakses 13 Januari 2009) Linawati, Nanik, 2005, Perbandingan Perkembangan Kinerja Keuangan Antara Perusahaan Bank dengan Kinerja Keuangan Perusahaan Pembiayaan, Sekuritas, dan Asuransi pada Periode 1998-2001 dan 2002-2003, Skripsi Program Studi Manajemen Universitas Kristen Petra Surabaya, (Online), (http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_2648.html, diakses 15 Januari 2009) Namora, 2006, Perbandingan Market Performance dan Karakteristik Keuangan Perusahaan Sektor Aneka Industri. Tesis Program Pascasarjana Universitas Pelita Harapan Jakarta. (www.geocities.com/namora_id/files/Tesis-Namora-19040012.pdf, diakses 11 Januari 2008) Octavina, Devita Nurmala, 2008, Analisis Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham di Seputar Pengumuman Deviden (Study pada Industri Manufaktur yang Telah Go Public di Bursa Efek Indonesia), Skripsi tidak Dipublikasikan, Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Peraturan No. 1-L Bursa Efek Indonesia (BEI) tentang Suspensi, (Online), (http://www.idx.co.id/Portals/0/Rule%20Making%20Rule/Peraturan%20 I-L%20-%20Suspensi%20Efek%20-%202008127.pdf, diakses 13 Februari 2009) Radcliffe, Robert C., 1997, Investment Concepts, Analysis Strategy, 5th Ed, Addison-Wesley Education Publishers Inc. Regional Roll, 2008, Pengaruh Krisis Amerika Serikat terhadap Perbankan Indonesia, (Online), (http://regional.roll.co.id/index.php/param ount/1-2008-11-06-04-20-45/2133-pengaruh-krisis-as-terhadap perbankan-indonesia.html, diakses 15 Januari 2009) Samsul, Mohamad, 2006, Pasar Modal dengan Manajemen Portofolio. Erlangga, Surabaya Santoso, Imam, 2003, Fiqh Muamalah, Cetakan 1, Pustaka Tarbiatuna, Jakarta Sharpe, William dan Alexander, Gordon J. et.all, 2005, Investasi, Edisi Keenam, Jilid I, PT Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta Suara Merdeka, 26 Februari 2004, Masyarakat Mulai Suka Berinvestasi di Bursa Saham, (Online), (http://www.suaramerdeka.com/harian /0402/26/eko13.htm, diakses 13 Januari 2009) Sucipto, Agus, 2006. Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat, Dan Sesudah Pengumuman Stock Split (Kasus Pada Perusahaan Manafaktur Yang Go Publik Di Bursa Efek Jakarta). El-Harakah, Vol 63: 129-147. Sunaryah, 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi Ketiga, Penerbit UPP-AMP YKPN, Yogyakarta Tandelilin, Eduardus, 2001, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, BPFE, Yogyakarta www.idx.co.id DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS EKONOMI JURUSAN MANAJEMEN Terakreditasi ’’A’’ SK BAN-PT Depdiknas Nomor: 005/BAN-PT/Ak-X/S1/II/2007 Jalan Gajayana 50 Malang 65144 Telepon dan Fax (0341) 558881; Email: feuin@yahoo.com Bukti Konsultasi Nama : Ayatullah NIM : 04610077 Fak/Jur : Ekonomi/Manajemen Pembimbing : Drs. Agus Sucipto, MM. Judul : Studi Komparatif terhadap Performance Saham Perusahaan-Perusahaan Sekuritas dan Perbankan di Bursa Efek Indonesia (Event Study pada Suspensi Perdagangan Saham Tanggal 8-13 Oktober 2008) No Tanggal Materi Konsultasi Tanda Tangan Pembimbing 1 14 Februari 2009 Proposal 1. 2 17 Februari 2009 Revisi Proposal 2. 3 21 April 2009 ACC Proposal 3. 4 23 Mei 2009 Seminar Proposal 4. 5 05 Juni 2009 Revisi Bab I, II, III 5. 6 02 Juli 2009 Pengajuan Bab IV, V 6. 7 11 Juli 2009 Revisi Bab IV, V 7. 8 13 Juli 2009 ACC Skripsi 8. Malang, 13 Juli 2009 Mengetahui: Dekan, Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA. NIP. 150231828 Lampiran 1: ISF, IHSG dan Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Sekuritas SEKURITAS No Pengamatan Tanggal IHSG ISF AKSI HADE KREN OCAP PANS PEGE RELI TRIM YULE 1 09/09/08 1958.752 216.757 105 170 295 640 385 150 325 240 97 2 10/09/08 1885.043 213.900 105 170 285 640 370 150 325 230 97 3 11/09/08 1870.133 210.009 105 170 285 640 370 150 325 235 97 4 12/09/08 1804.062 200.417 105 170 275 640 380 150 325 235 97 5 t-4 15/09/08 1719.254 191.680 105 170 270 640 370 150 325 235 97 6 16/09/08 1735.636 199.670 105 170 275 640 370 150 325 220 97 7 17/09/08 1769.894 201.667 105 170 280 640 380 150 330 220 97 8 18/09/08 1787.673 201.051 105 111 280 640 375 150 325 200 94 9 19/09/08 1891.732 211.319 105 139 290 640 375 150 315 200 85 10 t-3 22/09/08 1897.342 214.874 115 111 295 640 375 150 315 200 81 11 23/09/08 1873.100 209.179 115 87 290 640 375 150 320 200 81 12 24/09/08 1883.551 211.762 115 82 290 640 380 150 310 220 81 13 25/09/08 1870.061 210.672 115 104 285 640 380 150 310 220 81 14 26/09/08 1846.091 204.043 115 104 280 640 380 150 310 220 81 15 t-2 29/09/08 1832.507 203.366 115 90 285 640 385 151 325 220 81 16 06/10/08 1648.739 194.760 115 90 275 640 385 151 325 180 81 17 07/10/08 1619.721 191.933 115 90 270 640 345 151 325 180 81 18 t-1 08/10/08 1451.669 177.620 115 90 260 640 345 151 325 180 81 19 13/10/08 1461.873 173.933 115 90 265 640 370 151 325 180 81 20 14/10/08 1555.967 185.953 115 81 270 640 370 151 325 180 81 21 t1 15/10/08 1520.407 177.899 115 74 280 640 360 151 325 180 81 22 16/10/08 1463.251 168.804 115 81 275 640 360 151 300 162 81 23 17/10/08 1399.424 161.009 115 80 270 640 360 151 300 150 81 24 20/10/08 1426.938 162.602 115 84 280 640 360 151 300 150 81 25 21/10/08 1440.149 167.675 115 76 290 640 360 151 305 150 81 26 22/10/08 1379.743 160.656 115 70 285 640 360 151 305 150 81 27 23/10/08 1337.204 155.406 115 70 275 640 360 151 305 150 81 28 24/10/08 1244.864 143.975 115 70 270 640 360 151 305 143 81 29 t2 27/10/08 1166.409 133.789 115 70 260 640 360 151 305 129 81 30 28/10/08 1111.39 125.868 115 70 260 640 360 151 305 129 85 31 29/10/08 1113.624 129.113 115 63 260 640 360 151 305 129 85 32 30/10/08 1173.863 137.391 115 57 270 640 360 151 305 129 85 33 31/10/08 1256.704 151.790 115 52 280 640 360 151 305 129 85 34 t3 03/11/08 1352.716 165.053 115 59 300 640 390 151 305 129 85 35 04/11/08 1369.785 163.375 115 54 300 640 390 151 305 129 85 36 05/11/08 1366.275 166.388 115 51 300 640 405 151 305 129 85 37 06/11/08 1307.897 159.111 115 51 290 640 405 151 305 129 85 38 07/11/08 1338.36 162.115 115 52 300 640 405 151 305 129 85 39 t4 10/11/08 1340.681 163.863 115 52 300 640 405 151 305 129 85 Lampiran 2: Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Perbankan PERBANKAN No Pengamatan Tanggal BABP BACA BAEK BBCA BBKP BBNI BBNP BBRI BCIC BDMN BEKS BKSW BMRI 1 09/09/08 76 102 1800 3025 360 1,220 1,510 5,750 65 5,100 55 630 2,650 2 10/09/08 76 102 1800 3000 350 1,190 1,510 5500 58 5200 51 630 2,675 3 11/09/08 76 102 1680 2875 350 1180 1,510 5400 59 4,950 51 630 2,625 4 12/09/08 53 104 1600 2725 345 1130 1,510 5050 59 4750 50 630 2,450 5 t-4 15/09/08 53 102 1600 2650 325 990 1,510 4800 56 4,600 50 630 2,250 6 16/09/08 53 100 1600 2775 400 1030 1,510 5150 54 5100 51 630 2,425 7 17/09/08 53 101 1590 2825 360 1030 1,510 5300 56 5,000 50 630 2,550 8 18/09/08 53 101 1590 3050 340 1040 1,510 5200 56 5,000 50 630 2,525 9 19/09/08 53 102 1590 3175 340 1090 1,510 5600 58 5,200 50 660 2,675 10 t-3 22/09/08 53 102 1590 3250 335 1060 1,510 5900 61 5,250 52 670 2,800 11 23/09/08 53 102 1590 3150 340 1020 1,510 5,550 60 5,300 52 690 2,775 12 24/09/08 53 102 1590 3200 350 1030 1,510 5600 60 5,400 52 690 2,700 13 25/09/08 53 101 1620 3225 340 1,020 1,510 5,500 60 5,150 52 690 2,625 14 26/09/08 53 104 1620 3175 335 990 1,510 5400 61 5,150 52 690 2,625 15 t-2 29/09/08 53 104 1620 3150 335 970 1,510 5,400 58 4,900 52 690 2,650 16 06/10/08 53 102 1,560 3,050 275 740 1,510 4,950 52 4,825 50 690 2,500 17 07/10/08 53 102 1600 3,050 270 760 1,510 4,800 52 4,700 50 690 2,500 18 t-1 08/10/08 53 101 1600 2875 230 640 1,510 4,275 52 3,700 50 690 2,300 19 13/10/08 53 101 1,580 2,900 235 600 1,510 4,225 52 3,500 50 690 2,175 20 14/10/08 53 102 1650 3,175 255 660 1,510 4,625 54 3,850 50 690 2,350 21 t1 15/10/08 53 102 1,560 3,050 250 680 1,510 4,275 51 3,825 50 690 2,175 22 16/10/08 53 102 1600 2,750 240 660 1,510 4,150 51 3,450 50 690 2,075 23 17/10/08 53 102 1,730 2,600 225 600 1,510 3,750 51 3,300 50 690 1,875 24 20/10/08 53 102 1900 2,675 230 590 1,510 3,850 51 3,025 50 690 1,910 25 21/10/08 53 105 2,090 2,800 225 600 1,510 4,050 51 3,025 50 690 1,970 26 22/10/08 53 105 2125 2,650 220 570 1,510 3,900 50 2,725 50 690 1,780 27 23/10/08 53 103 2150 2,675 205 560 1,510 3,625 50 2,475 50 690 1,640 28 24/10/08 53 102 1950 2,425 185 510 1,510 3,275 50 2,250 50 690 1,480 29 t2 27/10/08 53 101 1850 2,200 182 460 1,510 2,950 50 2,025 50 690 1,340 30 28/10/08 53 101 1830 2,025 184 430 1,510 2,675 50 1,825 50 690 1,210 31 29/10/08 53 101 1910 2,200 194 435 1,510 2,650 50 2,000 50 690 1,190 32 30/10/08 53 101 1850 2,400 205 475 1,510 2,900 50 2,200 50 690 1,300 33 31/10/08 50 101 1930 2,700 210 510 1,510 3,450 51 2,600 50 690 1,560 34 t3 03/11/08 50 101 1920 2,825 230 610 1,510 3,875 50 2,900 50 690 1,870 35 04/11/08 60 101 1900 2,750 230 600 1,510 3,550 50 3,075 50 690 1,880 36 05/11/08 60 101 1970 2,850 220 550 1,510 3,700 50 3,200 50 690 1,900 37 06/11/08 60 100 1970 2,775 200 500 1,510 3,500 50 2,900 50 690 1,720 38 07/11/08 60 100 1960 2,875 205 540 1,510 3,525 50 2,875 50 690 1,850 39 t4 10/11/08 60 101 1940 2,900 210 530 1,510 3,675 50 2,925 50 690 1,910 Lampiran 2: Harga Saham Perusahaan-Perusahaan Perbankan (Lanjutan) PERBANKAN No Pengamatan Tanggal BNBA BNGA BNII BNLI BSWD BTPN BVIC INPC MAYA MCOR MEGA NISP PNBN SDRA 1 09/09/08 73 830 460 890 600 2000 90 55 1,580 140 3000 700 890 115 2 10/09/08 70 780 460 880 600 2000 90 54 1,580 137 3000 700 880 110 3 11/09/08 57 830 460 880 600 2000 90 55 1,580 137 3000 700 880 110 4 12/09/08 55 770 460 880 600 2000 90 51 1,580 130 3000 700 820 110 5 t-4 15/09/08 54 720 460 860 600 2000 89 50 1,580 120 3000 700 770 105 6 16/09/08 56 670 460 830 600 2025 85 50 1,580 105 2975 700 780 100 7 17/09/08 66 710 460 830 600 1950 77 50 1,580 105 2975 700 790 98 8 18/09/08 69 690 410 810 600 1950 80 50 1,580 105 2975 700 750 100 9 19/09/08 86 760 440 830 600 1950 80 50 1,580 130 2975 700 800 100 10 t-3 22/09/08 75 770 420 830 600 1950 79 50 1,580 136 2975 700 750 100 11 23/09/08 75 700 410 840 600 1950 79 50 1,580 136 2975 700 730 100 12 24/09/08 75 750 450 840 600 2000 84 51 1,580 136 2975 700 770 100 13 25/09/08 62 250 470 840 600 2000 83 50 1,580 136 2,975 700 790 95 14 26/09/08 62 245 310 840 600 2000 83 50 1,580 136 3,300 700 760 95 15 t-2 29/09/08 62 720 310 840 600 2000 80 50 1,580 136 3,300 700 760 95 16 06/10/08 62 620 435 750 600 2,250 80 50 1,580 136 3,300 700 680 90 17 07/10/08 62 620 425 700 600 2,250 78 50 1,580 130 3,300 700 650 88 18 t-1 08/10/08 62 570 460 700 600 2,250 78 50 1,580 115 3,300 700 540 75 19 13/10/08 62 540 435 700 600 2,025 78 50 1,580 105 3,300 700 550 75 20 14/10/08 56 580 450 630 600 2,025 75 50 1,580 95 3,600 700 600 75 21 t1 15/10/08 52 530 445 570 600 2,000 75 50 1,580 101 3,600 700 590 71 22 16/10/08 55 480 440 570 600 2,000 74 50 1,580 100 3,600 700 550 70 23 17/10/08 52 500 480 570 600 2,000 70 50 1,580 100 3,600 700 530 72 24 20/10/08 52 480 470 570 600 2,000 68 50 1,580 100 3,600 740 560 66 25 21/10/08 52 500 475 560 600 1,900 68 50 1,580 101 3,600 740 590 71 26 22/10/08 52 470 480 560 600 1,900 70 50 1,580 101 3,600 740 590 66 27 23/10/08 51 430 470 550 600 1,900 70 50 1,580 101 3,600 740 570 65 28 24/10/08 54 435 450 500 600 1,900 70 50 1,580 91 3,600 740 520 60 29 t2 27/10/08 51 395 440 500 600 1,790 70 50 1,580 86 3,600 740 470 50 30 28/10/08 51 385 445 500 600 1,750 69 50 1,580 86 3,600 740 425 50 31 29/10/08 51 400 455 500 600 1,750 69 50 1,580 85 3,600 740 425 50 32 30/10/08 55 440 470 500 600 1,590 70 50 1,580 85 3,600 740 465 50 33 31/10/08 55 470 465 500 600 1,590 70 50 1,580 85 3,600 740 525 52 34 t3 03/11/08 60 520 475 510 600 1,720 75 50 1,580 85 3,600 740 630 52 35 04/11/08 60 510 480 530 600 1,610 75 50 1,580 85 3,600 700 720 53 36 05/11/08 60 550 485 550 600 1,600 76 50 1,580 87 3,600 700 670 53 37 06/11/08 60 520 485 550 600 1,600 70 50 1,580 86 3,600 700 620 53 38 07/11/08 54 500 485 550 600 1,600 70 50 1,580 85 3,600 700 600 50 39 t4 10/11/08 50 500 490 550 600 1,600 72 50 1,580 85 3,600 700 550 50 Lampiran 4: Actual Return Saham-Saham Perbankan SEKURITAS No Pengamatan Tanggal IHSG ISF AKSI HADE KREN OCAP PANS PEGE RELI TRIM YULE 1 09/09/08 2 10/09/08 -0.038 -0.013 0.000 0.000 -0.034 0.000 -0.039 0.000 0.000 -0.042 0.000 3 11/09/08 -0.008 -0.018 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.022 0.000 4 12/09/08 -0.035 -0.046 0.000 0.000 -0.035 0.000 0.027 0.000 0.000 0.000 0.000 5 t-4 15/09/08 -0.047 -0.044 0.000 0.000 -0.018 0.000 -0.026 0.000 0.000 0.000 0.000 6 16/09/08 0.010 0.042 0.000 0.000 0.019 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.064 0.000 7 17/09/08 0.020 0.010 0.000 0.000 0.018 0.000 0.027 0.000 0.015 0.000 0.000 8 18/09/08 0.010 -0.003 0.000 -0.347 0.000 0.000 -0.013 0.000 -0.015 -0.091 -0.031 9 19/09/08 0.058 0.051 0.000 0.252 0.036 0.000 0.000 0.000 -0.031 0.000 -0.096 10 t-3 22/09/08 0.003 0.017 0.095 -0.201 0.017 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.047 11 23/09/08 -0.013 -0.027 0.000 -0.216 -0.017 0.000 0.000 0.000 0.016 0.000 0.000 12 24/09/08 0.006 0.012 0.000 -0.057 0.000 0.000 0.013 0.000 -0.031 0.100 0.000 13 25/09/08 -0.007 -0.005 0.000 0.268 -0.017 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 14 26/09/08 -0.013 -0.031 0.000 0.000 -0.018 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 15 t-2 29/09/08 -0.007 -0.003 0.000 -0.135 0.018 0.000 0.013 0.007 0.048 0.000 0.000 16 06/10/08 -0.100 -0.042 0.000 0.000 -0.035 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.182 0.000 17 07/10/08 -0.018 -0.015 0.000 0.000 -0.018 0.000 -0.104 0.000 0.000 0.000 0.000 18 t-1 08/10/08 -0.104 -0.075 0.000 0.000 -0.037 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 19 13/10/08 0.007 -0.021 0.000 0.000 0.019 0.000 0.072 0.000 0.000 0.000 0.000 20 14/10/08 0.064 0.069 0.000 -0.100 0.019 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 21 t1 15/10/08 -0.023 -0.043 0.000 -0.086 0.037 0.000 -0.027 0.000 0.000 0.000 0.000 22 16/10/08 -0.038 -0.051 0.000 0.095 -0.018 0.000 0.000 0.000 -0.077 -0.100 0.000 23 17/10/08 -0.044 -0.046 0.000 -0.012 -0.018 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.074 0.000 24 20/10/08 0.020 0.010 0.000 0.050 0.037 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 25 21/10/08 0.009 0.031 0.000 -0.095 0.036 0.000 0.000 0.000 0.017 0.000 0.000 26 22/10/08 -0.042 -0.042 0.000 -0.079 -0.017 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 27 23/10/08 -0.031 -0.033 0.000 0.000 -0.035 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 28 24/10/08 -0.069 -0.074 0.000 0.000 -0.018 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.047 0.000 29 t2 27/10/08 -0.063 -0.071 0.000 0.000 -0.037 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.098 0.000 30 28/10/08 -0.047 -0.059 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.049 31 29/10/08 0.002 0.026 0.000 -0.100 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 32 30/10/08 0.054 0.064 0.000 -0.095 0.038 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 33 31/10/08 0.071 0.105 0.000 -0.088 0.037 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 34 t3 03/11/08 0.076 0.087 0.000 0.135 0.071 0.000 0.083 0.000 0.000 0.000 0.000 35 04/11/08 0.013 -0.010 0.000 -0.085 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 36 05/11/08 -0.003 0.018 0.000 -0.056 0.000 0.000 0.038 0.000 0.000 0.000 0.000 37 06/11/08 -0.043 -0.044 0.000 0.000 -0.033 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 38 07/11/08 0.023 0.019 0.000 0.020 0.034 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 39 t4 10/11/08 0.002 0.011 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Lampiran 4: Actual Return Saham-Saham Perbankan PERBANKAN No Pengamatan Tanggal BABP BACA BAEK BBCA BBKP BBNI BBNP BBRI BCIC BDMN BEKS BKSW BMRI 1 09/09/08 2 10/09/08 0.00 0.00 0.00 -0.01 -0.03 -0.02 0.00 -0.04 -0.11 0.02 -0.07 0.00 0.01 3 11/09/08 0.00 0.00 -0.07 -0.04 0.00 -0.01 0.00 -0.02 0.02 -0.05 0.00 0.00 -0.02 4 12/09/08 -0.30 0.02 -0.05 -0.05 -0.01 -0.04 0.00 -0.06 0.00 -0.04 -0.02 0.00 -0.07 5 t-4 15/09/08 0.00 -0.02 0.00 -0.03 -0.06 -0.12 0.00 -0.05 -0.05 -0.03 0.00 0.00 -0.08 6 16/09/08 0.00 -0.02 0.00 0.05 0.23 0.04 0.00 0.07 -0.04 0.11 0.02 0.00 0.08 7 17/09/08 0.00 0.01 -0.01 0.02 -0.10 0.00 0.00 0.03 0.04 -0.02 -0.02 0.00 0.05 8 18/09/08 0.00 0.00 0.00 0.08 -0.06 0.01 0.00 -0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.01 9 19/09/08 0.00 0.01 0.00 0.04 0.00 0.05 0.00 0.08 0.04 0.04 0.00 0.05 0.06 10 t-3 22/09/08 0.00 0.00 0.00 0.02 -0.01 -0.03 0.00 0.05 0.05 0.01 0.04 0.02 0.05 11 23/09/08 0.00 0.00 0.00 -0.03 0.01 -0.04 0.00 -0.06 -0.02 0.01 0.00 0.03 -0.01 12 24/09/08 0.00 0.00 0.00 0.02 0.03 0.01 0.00 0.01 0.00 0.02 0.00 0.00 -0.03 13 25/09/08 0.00 -0.01 0.02 0.01 -0.03 -0.01 0.00 -0.02 0.00 -0.05 0.00 0.00 -0.03 14 26/09/08 0.00 0.03 0.00 -0.02 -0.01 -0.03 0.00 -0.02 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 15 t-2 29/09/08 0.00 0.00 0.00 -0.01 0.00 -0.02 0.00 0.00 -0.05 -0.05 0.00 0.00 0.01 16 06/10/08 0.00 -0.02 -0.04 -0.03 -0.18 -0.24 0.00 -0.08 -0.10 -0.02 -0.04 0.00 -0.06 17 07/10/08 0.00 0.00 0.03 0.00 -0.02 0.03 0.00 -0.03 0.00 -0.03 0.00 0.00 0.00 18 t-1 08/10/08 0.00 -0.01 0.00 -0.06 -0.15 -0.16 0.00 -0.11 0.00 -0.21 0.00 0.00 -0.08 19 13/10/08 0.00 0.00 -0.01 0.01 0.02 -0.06 0.00 -0.01 0.00 -0.05 0.00 0.00 -0.05 20 14/10/08 0.00 0.01 0.04 0.09 0.09 0.10 0.00 0.09 0.04 0.10 0.00 0.00 0.08 21 t1 15/10/08 0.00 0.00 -0.05 -0.04 -0.02 0.03 0.00 -0.08 -0.06 -0.01 0.00 0.00 -0.07 22 16/10/08 0.00 0.00 0.03 -0.10 -0.04 -0.03 0.00 -0.03 0.00 -0.10 0.00 0.00 -0.05 23 17/10/08 0.00 0.00 0.08 -0.05 -0.06 -0.09 0.00 -0.10 0.00 -0.04 0.00 0.00 -0.10 24 20/10/08 0.00 0.00 0.10 0.03 0.02 -0.02 0.00 0.03 0.00 -0.08 0.00 0.00 0.02 25 21/10/08 0.00 0.03 0.10 0.05 -0.02 0.02 0.00 0.05 0.00 0.00 0.00 0.00 0.03 26 22/10/08 0.00 0.00 0.02 -0.05 -0.02 -0.05 0.00 -0.04 -0.02 -0.10 0.00 0.00 -0.10 27 23/10/08 0.00 -0.02 0.01 0.01 -0.07 -0.02 0.00 -0.07 0.00 -0.09 0.00 0.00 -0.08 28 24/10/08 0.00 -0.01 -0.09 -0.09 -0.10 -0.09 0.00 -0.10 0.00 -0.09 0.00 0.00 -0.10 29 t2 27/10/08 0.00 -0.01 -0.05 -0.09 -0.02 -0.10 0.00 -0.10 0.00 -0.10 0.00 0.00 -0.09 30 28/10/08 0.00 0.00 -0.01 -0.08 0.01 -0.07 0.00 -0.09 0.00 -0.10 0.00 0.00 -0.10 31 29/10/08 0.00 0.00 0.04 0.09 0.05 0.01 0.00 -0.01 0.00 0.10 0.00 0.00 -0.02 32 30/10/08 0.00 0.00 -0.03 0.09 0.06 0.09 0.00 0.09 0.00 0.10 0.00 0.00 0.09 33 31/10/08 -0.06 0.00 0.04 0.13 0.02 0.07 0.00 0.19 0.02 0.18 0.00 0.00 0.20 34 t3 03/11/08 0.00 0.00 -0.01 0.05 0.10 0.20 0.00 0.12 -0.02 0.12 0.00 0.00 0.20 35 04/11/08 0.20 0.00 -0.01 -0.03 0.00 -0.02 0.00 -0.08 0.00 0.06 0.00 0.00 0.01 36 05/11/08 0.00 0.00 0.04 0.04 -0.04 -0.08 0.00 0.04 0.00 0.04 0.00 0.00 0.01 37 06/11/08 0.00 -0.01 0.00 -0.03 -0.09 -0.09 0.00 -0.05 0.00 -0.09 0.00 0.00 -0.09 38 07/11/08 0.00 0.00 -0.01 0.04 0.03 0.08 0.00 0.01 0.00 -0.01 0.00 0.00 0.08 39 t4 10/11/08 0.00 0.01 -0.01 0.01 0.02 -0.02 0.00 0.04 0.00 0.02 0.00 0.00 0.03 Lampiran 4: Actual Return Saham-Saham Perbankan (Lanjutan) PERBANKAN No Pengamatan Tanggal BNBA BNGA BNII BNLI BSWD BTPN BVIC INPC MAYA MCOR MEGA NISP PNBN SDRA 1 09/09/08 2 10/09/08 -0.04 -0.06 0.00 -0.01 0.00 0.00 0.00 -0.02 0.00 -0.02 0.00 0.00 -0.01 -0.04 3 11/09/08 -0.19 0.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 4 12/09/08 -0.04 -0.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.07 0.00 -0.05 0.00 0.00 -0.07 0.00 5 t-4 15/09/08 -0.02 -0.06 0.00 -0.02 0.00 0.00 -0.01 -0.02 0.00 -0.08 0.00 0.00 -0.06 -0.05 6 16/09/08 0.04 -0.07 0.00 -0.03 0.00 0.01 -0.04 0.00 0.00 -0.13 -0.01 0.00 0.01 -0.05 7 17/09/08 0.18 0.06 0.00 0.00 0.00 -0.04 -0.09 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 -0.02 8 18/09/08 0.05 -0.03 -0.11 -0.02 0.00 0.00 0.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.05 0.02 9 19/09/08 0.25 0.10 0.07 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.24 0.00 0.00 0.07 0.00 10 t-3 22/09/08 -0.13 0.01 -0.05 0.00 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 0.05 0.00 0.00 -0.06 0.00 11 23/09/08 0.00 -0.09 -0.02 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.03 0.00 12 24/09/08 0.00 0.07 0.10 0.00 0.00 0.03 0.06 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.05 0.00 13 25/09/08 -0.17 -0.67 0.04 0.00 0.00 0.00 -0.01 -0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.03 -0.05 14 26/09/08 0.00 -0.02 -0.34 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.11 0.00 -0.04 0.00 15 t-2 29/09/08 0.00 1.94 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 16 06/10/08 0.00 -0.14 0.40 -0.11 0.00 0.13 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.11 -0.05 17 07/10/08 0.00 0.00 -0.02 -0.07 0.00 0.00 -0.03 0.00 0.00 -0.04 0.00 0.00 -0.04 -0.02 18 t-1 08/10/08 0.00 -0.08 0.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.12 0.00 0.00 -0.17 -0.15 19 13/10/08 0.00 -0.05 -0.05 0.00 0.00 -0.10 0.00 0.00 0.00 -0.09 0.00 0.00 0.02 0.00 20 14/10/08 -0.10 0.07 0.03 -0.10 0.00 0.00 -0.04 0.00 0.00 -0.10 0.09 0.00 0.09 0.00 21 t1 15/10/08 -0.07 -0.09 -0.01 -0.10 0.00 -0.01 0.00 0.00 0.00 0.06 0.00 0.00 -0.02 -0.05 22 16/10/08 0.06 -0.09 -0.01 0.00 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 -0.07 -0.01 23 17/10/08 -0.05 0.04 0.09 0.00 0.00 0.00 -0.05 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.04 0.03 24 20/10/08 0.00 -0.04 -0.02 0.00 0.00 0.00 -0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.06 0.06 -0.08 25 21/10/08 0.00 0.04 0.01 -0.02 0.00 -0.05 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 0.00 0.05 0.08 26 22/10/08 0.00 -0.06 0.01 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.07 27 23/10/08 -0.02 -0.09 -0.02 -0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.03 -0.02 28 24/10/08 0.06 0.01 -0.04 -0.09 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.10 0.00 0.00 -0.09 -0.08 29 t2 27/10/08 -0.06 -0.09 -0.02 0.00 0.00 -0.06 0.00 0.00 0.00 -0.05 0.00 0.00 -0.10 -0.17 30 28/10/08 0.00 -0.03 0.01 0.00 0.00 -0.02 -0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.10 0.00 31 29/10/08 0.00 0.04 0.02 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 32 30/10/08 0.08 0.10 0.03 0.00 0.00 -0.09 0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.09 0.00 33 31/10/08 0.00 0.07 -0.01 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.13 0.04 34 t3 03/11/08 0.09 0.11 0.02 0.02 0.00 0.08 0.07 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.20 0.00 35 04/11/08 0.00 -0.02 0.01 0.04 0.00 -0.06 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.05 0.14 0.02 36 05/11/08 0.00 0.08 0.01 0.04 0.00 -0.01 0.01 0.00 0.00 0.02 0.00 0.00 -0.07 0.00 37 06/11/08 0.00 -0.05 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.08 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 -0.07 0.00 38 07/11/08 -0.10 -0.04 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.01 0.00 0.00 -0.03 -0.06 39 t4 10/11/08 -0.07 0.00 0.01 0.00 0.00 0.00 0.03 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.08 0.00 Lampiran 5: Return of Risk Free Assets (Tingkat Bunga SBI) dan Varian Pasar Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 11.24% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 11.24% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 11.22% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 11.14% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 10.98% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 10.75% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 10.66% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 10.39% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 9.71% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 9.57% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 9.48% Jangka Waktu Suku Bunga 1 Bulan 9.36% Dikeluarkan Tanggal : 9/4/2008 Dikeluarkan Tanggal : 11/26/2008 Dikeluarkan Tanggal : 11/19/2008 Dikeluarkan Tanggal : 11/12/2008 Dikeluarkan Tanggal : 11/6/2008 Dikeluarkan Tanggal : 10/29/2008 Dikeluarkan Tanggal : 10/27/2008 Dikeluarkan Tanggal : 10/22/2008 Dikeluarkan Tanggal : 10/15/2008 Dikeluarkan Tanggal : 9/24/2008 Dikeluarkan Tanggal : 9/17/2008 Dikeluarkan Tanggal : 9/10/2008 Bulan SBI SBI/Days September 0.09530 0.0031 8 Oktober 0.1 0695 0.00357 November 0.1 1 21 0 0.00374 Risk Free of Assets 0.00349 -4 0.002 -3 0.002 -2 0.002 -1 0.002 1 0.002 2 0.002 3 0.002 4 0.002 Varian Pasar Keterangan Pengamatan IHSG Lampiran 6: Expected Return, Kovarian Saham, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Saham-Saham Sekuritas SEKURITAS Keterangan Pengamatan IHSG ISF AKSI HADE KREN OCAP PANS PEGE RELI TRIM YULE -4 -0.017 -0.011 0.006 -0.026 -0.007 0.000 -0.006 0.000 0.000 -0.015 -0.010 -3 -0.012 -0.005 0.007 -0.034 -0.003 0.000 -0.005 0.001 0.000 -0.018 -0.013 -2 -0.032 -0.023 0.000 -0.018 -0.016 0.000 -0.010 0.001 0.004 -0.010 0.000 -1 -0.074 -0.044 0.000 0.000 -0.030 0.000 -0.035 0.000 0.000 -0.061 0.000 1 -0.002 -0.014 0.000 -0.009 0.013 0.000 0.008 0.000 -0.013 -0.029 0.000 2 -0.019 -0.025 0.000 -0.021 0.000 0.000 0.004 0.000 -0.005 -0.029 0.000 3 -0.003 -0.003 0.000 -0.024 0.009 0.000 0.008 0.000 -0.004 -0.020 0.003 Expected Return 4 -0.003 -0.003 0.000 -0.024 0.007 0.000 0.008 0.000 -0.003 -0.015 0.002 -4 0.002 0.001 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 -0.001 -3 0.002 0.001 0.000 0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 -0.001 -2 0.002 0.001 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 0.000 -1 0.002 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.002 0.000 0.000 0.002 0.000 1 0.001 0.002 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 2 0.001 0.002 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 3 0.002 0.003 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 Kovarian Saham 4 0.002 0.002 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 -4 0.941 0.625 0.066 0.169 0.425 0.000 0.079 0.002 -0.082 0.504 -0.313 -3 0.923 0.763 0.068 0.331 0.498 0.000 0.070 0.001 -0.113 0.694 -0.390 Beta Saham -2 0.875 0.376 0.000 -0.156 0.217 0.000 -0.035 0.009 0.017 0.848 0.000 -1 0.667 0.440 0.000 0.000 0.176 0.000 -1.018 0.000 0.000 0.836 0.000 1 0.833 0.002 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 2 0.909 0.002 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 3 0.938 0.003 0.000 0.000 0.001 0.000 0.001 0.000 0.000 0.001 0.000 4 0.952 0.003 0.000 -0.001 0.002 0.000 0.001 0.000 0.000 0.001 0.000 -4 -0.015 -0.009 0.002 0.000 -0.005 0.003 0.002 0.003 0.005 -0.007 0.010 -3 -0.011 -0.008 0.002 -0.002 -0.004 0.003 0.002 0.003 0.005 -0.007 0.010 -2 -0.028 -0.010 0.003 0.009 -0.004 0.003 0.005 0.003 0.003 -0.027 0.003 -1 -0.048 -0.031 0.003 0.003 -0.010 0.003 0.082 0.003 0.003 -0.061 0.003 1 -0.001 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 2 -0.017 0.003 0.003 0.004 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 3 -0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 CAPM 4 -0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 -4 -0.001 -0.002 0.003 -0.026 -0.002 -0.003 -0.008 -0.003 -0.005 -0.008 -0.020 -3 -0.001 0.003 0.005 -0.032 0.002 -0.003 -0.007 -0.003 -0.005 -0.011 -0.023 -2 -0.004 -0.013 -0.003 -0.027 -0.011 -0.003 -0.014 -0.002 0.001 0.016 -0.003 -1 -0.026 -0.013 -0.003 -0.003 -0.020 -0.003 -0.117 -0.003 -0.003 0.001 -0.003 1 -0.001 -0.017 -0.003 -0.013 0.009 -0.003 0.004 -0.003 -0.016 -0.032 -0.003 2 -0.002 -0.028 -0.003 -0.024 -0.003 -0.003 0.001 -0.003 -0.009 -0.032 -0.003 3 0.000 -0.006 -0.003 -0.027 0.006 -0.003 0.005 -0.003 -0.007 -0.023 0.000 Alpha Jensen 4 0.000 -0.006 -0.003 -0.027 0.004 -0.003 0.004 -0.003 -0.006 -0.019 -0.001 Lampiran 7: Expected Return, Kovarian Saham, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Saham-Saham Perbankan PERBANKAN Keterangan Pengamatan BABP BACA BAEK BBCA BBKP BBNI BBNP BBRI BCIC BDMN BEKS BKSW BMRI -4 -0.018 0.000 -0.007 -0.002 -0.023 -0.034 0.000 -0.016 -0.012 -0.017 -0.005 0.005 -0.007 -3 0.000 -0.001 0.000 0.007 -0.022 -0.030 0.000 -0.007 -0.005 -0.014 0.000 0.007 0.003 -2 0.000 -0.001 0.001 -0.015 -0.043 -0.057 0.000 -0.039 -0.019 -0.040 -0.005 0.004 -0.024 -1 0.000 -0.010 -0.004 -0.030 -0.115 -0.123 0.000 -0.074 -0.034 -0.085 -0.013 0.000 -0.046 1 0.000 0.002 0.030 -0.010 0.001 -0.012 0.000 -0.015 -0.003 -0.031 0.000 0.000 -0.029 2 0.000 0.000 0.015 -0.022 -0.020 -0.028 0.000 -0.031 -0.003 -0.052 0.000 0.000 -0.046 3 -0.004 0.000 0.013 0.002 0.001 0.000 0.000 -0.002 -0.002 -0.011 0.000 0.000 -0.008 Expected Return 4 0.007 0.000 0.010 0.003 -0.003 -0.006 0.000 -0.004 -0.002 -0.007 0.000 0.000 -0.005 -4 0.000 0.000 0.000 0.001 0.002 0.003 0.000 0.002 0.001 0.002 0.000 0.000 0.001 -3 0.000 0.000 0.000 0.001 0.002 0.003 0.000 0.002 0.001 0.002 0.000 0.000 0.002 -2 0.000 0.000 0.000 0.001 0.003 0.003 0.000 0.001 0.001 0.002 0.000 0.000 0.001 -1 0.000 0.000 0.001 0.001 0.003 0.004 0.000 0.001 0.001 0.002 0.000 0.000 0.001 1 0.000 0.000 0.000 0.002 0.002 0.002 0.000 0.002 0.001 0.002 0.000 0.000 0.002 2 0.000 0.000 0.001 0.002 0.002 0.002 0.000 0.002 0.000 0.002 0.000 0.000 0.002 3 0.000 0.000 0.001 0.003 0.002 0.003 0.000 0.004 0.000 0.004 0.000 0.000 0.004 Kovarian Saham 4 0.000 0.000 0.001 0.002 0.002 0.003 0.000 0.003 0.000 0.003 0.000 0.000 0.004 -4 0.198 0.115 0.117 0.596 1.105 1.493 0.000 1.016 0.570 0.897 0.200 0.140 0.816 -3 0.000 0.150 0.145 0.719 1.454 1.895 0.000 1.249 0.606 1.229 0.183 0.170 0.949 Beta Saham -2 0.000 0.123 0.177 0.314 1.206 1.376 0.000 0.603 0.307 0.759 0.138 0.030 0.417 -1 0.000 0.139 0.422 0.444 1.416 2.176 0.000 0.655 0.476 0.923 0.177 0.000 0.676 1 0.000 0.000 0.000 0.002 0.002 0.002 0.000 0.002 0.001 0.002 0.000 0.000 0.002 2 0.000 0.000 0.001 0.002 0.002 0.002 0.000 0.002 0.000 0.002 0.000 0.000 0.002 3 0.000 0.000 0.001 0.004 0.002 0.004 0.000 0.004 0.000 0.004 0.000 0.000 0.005 4 0.000 0.000 0.001 0.004 0.003 0.004 0.000 0.005 0.000 0.005 0.000 0.000 0.005 -4 0.000 0.001 0.001 -0.009 -0.019 -0.027 0.003 -0.017 -0.008 -0.015 -0.001 0.001 -0.013 -3 0.003 0.001 0.001 -0.008 -0.019 -0.026 0.003 -0.016 -0.006 -0.016 0.001 0.001 -0.011 -2 0.003 -0.001 -0.003 -0.008 -0.039 -0.045 0.003 -0.018 -0.007 -0.023 -0.001 0.002 -0.011 -1 0.003 -0.007 -0.029 -0.031 -0.106 -0.165 0.003 -0.047 -0.033 -0.068 -0.010 0.003 -0.049 1 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 2 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 3 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 CAPM 4 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 -4 -0.017 -0.002 -0.008 0.006 -0.004 -0.008 -0.003 0.001 -0.004 -0.002 -0.005 0.005 0.006 -3 -0.003 -0.002 -0.001 0.015 -0.003 -0.004 -0.003 0.008 0.001 0.002 -0.001 0.006 0.014 -2 -0.003 0.000 0.004 -0.007 -0.004 -0.012 -0.003 -0.021 -0.012 -0.017 -0.003 0.001 -0.013 -1 -0.003 -0.002 0.025 0.001 -0.009 0.042 -0.003 -0.027 -0.001 -0.017 -0.003 -0.003 0.003 1 -0.003 -0.002 0.027 -0.013 -0.002 -0.015 -0.003 -0.019 -0.006 -0.034 -0.003 -0.003 -0.032 2 -0.003 -0.003 0.012 -0.026 -0.023 -0.031 -0.003 -0.035 -0.007 -0.055 -0.003 -0.003 -0.050 3 -0.007 -0.003 0.009 -0.002 -0.002 -0.003 -0.003 -0.006 -0.006 -0.014 -0.003 -0.003 -0.012 Alpha Jensen 4 0.003 -0.003 0.007 -0.001 -0.006 -0.010 -0.003 -0.007 -0.005 -0.011 -0.003 -0.003 -0.008 Lampiran 7: Expected Return, Kovarian Saham, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Saham-Saham Perbankan (Lanjutan) PERBANKAN Keterangan Pengamatan BNBA BNGA BNII BNLI BSWD BTPN BVIC INPC MAYA MCOR MEGA NISP PNBN SDRA -4 - 0.004 0.056 0.009 -0.014 0.000 0.007 - 0.008 - 0.005 0.000 -0.009 0.006 0.000 -0.027 -0.024 -3 0.016 0.084 0.012 -0.015 0.000 0.010 - 0.009 0.000 0.000 0.000 0.008 0.000 -0.025 -0.025 -2 -0.022 0.127 0.030 - 0.020 0.000 0.019 -0.001 0.000 0.000 -0.020 0.014 0.000 -0.038 -0.034 -1 0.000 -0.073 0.154 -0.058 0.000 0.042 - 0.008 0.000 0.000 -0.053 0.000 0.000 -0.106 -0.074 1 -0.028 -0.026 0.005 -0.033 0.000 -0.019 -0.022 0.000 0.000 -0.021 0.015 0.010 0.008 - 0.020 2 -0.016 -0.031 - 0.003 -0.029 0.000 - 0.020 -0.010 0.000 0.000 -0.025 0.008 0.005 -0.011 -0.034 3 -0.001 - 0.003 0.003 -0.019 0.000 -0.016 - 0.002 0.000 0.000 -0.018 0.006 0.004 0.013 -0.021 Expected Return 4 - 0.009 - 0.004 0.003 -0.011 0.000 -0.015 - 0.003 0.000 0.000 -0.014 0.004 0.000 0.004 -0.018 -4 0.001 0.003 - 0.002 0.001 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.002 0.000 0.000 0.002 0.001 -3 0.002 0.003 - 0.003 0.001 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.002 0.000 0.000 0.002 0.001 -2 -0.001 0.006 - 0.004 0.001 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.003 0.002 Kovarian Saham -1 0.000 0.002 - 0.005 0.000 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 0.002 1 -0.001 0.001 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.002 0.000 2 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.002 0.001 3 0.000 0.002 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.004 0.001 4 0.000 0.002 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.003 0.001 -4 0.821 1.547 -1.332 0.360 0.000 -0.382 -0.087 0.097 0.000 1.027 0.007 0.000 1.100 0.619 -3 1.058 1.628 -1.863 0.494 0.000 -0.553 -0.108 0.012 0.000 1.229 -0.013 0.000 1.420 0.812 -2 -0.226 2.468 -1.887 0.345 0.000 -0.397 0.044 0.014 0.000 0.401 0.110 0.000 1.057 0.662 -1 0.000 1.058 -2.507 -0.161 0.000 -0.575 -0.245 0.000 0.000 0.168 0.000 0.000 0.932 0.793 1 -0.001 0.001 0.000 -0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.002 0.000 2 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.002 0.001 3 0.000 0.003 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.004 0.001 Beta Saham 4 0.000 0.003 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.005 0.001 -4 -0.013 -0.028 0.030 - 0.004 0.003 0.011 0.005 0.002 0.003 -0.017 0.003 0.003 -0.019 - 0.009 -3 -0.013 -0.022 0.032 - 0.004 0.003 0.012 0.005 0.003 0.003 -0.016 0.004 0.003 -0.018 - 0.009 -2 0.012 - 0.084 0.071 - 0.009 0.003 0.018 0.002 0.003 0.003 -0.011 0.000 0.003 -0.034 - 0.020 -1 0.003 -0.078 0.197 0.016 0.003 0.048 0.022 0.003 0.003 -0.009 0.003 0.003 - 0.069 -0.058 1 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.004 0.003 0.003 0.003 0.003 2 0.004 0.003 0.003 0.004 0.003 0.003 0.004 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 CAPM 3 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 4 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 -4 0.009 0.084 -0.021 -0.010 - 0.003 - 0.004 -0.013 -0.007 -0.003 0.008 0.003 - 0.003 - 0.009 -0.015 -3 0.029 0.106 - 0.020 -0.011 - 0.003 - 0.002 -0.015 - 0.003 -0.003 0.015 0.004 - 0.003 - 0.006 -0.016 -2 -0.033 0.211 - 0.040 -0.011 - 0.003 0.001 - 0.003 - 0.003 -0.003 -0.009 0.014 - 0.003 - 0.004 -0.014 -1 - 0.003 0.005 -0.043 -0.074 - 0.003 - 0.006 -0.031 - 0.003 -0.003 -0.044 -0.003 - 0.003 -0.038 -0.016 1 -0.031 - 0.030 0.001 -0.036 - 0.003 -0.022 -0.026 - 0.003 -0.003 -0.025 0.012 0.006 0.004 -0.024 2 - 0.020 -0.034 -0.007 -0.033 - 0.003 -0.024 -0.013 - 0.003 -0.003 -0.028 0.005 0.002 -0.014 -0.038 3 - 0.004 -0.007 -0.001 -0.022 - 0.003 -0.019 - 0.006 - 0.003 -0.003 -0.021 0.002 0.000 0.010 -0.024 Alpha Jensen 4 -0.012 - 0.008 0.000 -0.014 - 0.003 -0.019 -0.007 - 0.003 -0.003 -0.017 0.001 - 0.003 0.001 -0.021 Lampiran 8: Rata-Rata Expected Return, Beta Saham, CAPM dan Alpha Jensen Sebelum dan Sesudah Pengamatan SEKURITAS Keterangan Pengamatan AKSI HADE KREN OCAP PANS PEGE RELI TRIM YULE Sebelum 0.003 -0.019 -0.014 0.000 -0.014 0.000 0.001 -0.026 -0.006 Expected Return Sesudah -0.007 -0.011 0.000 -0.019 0.007 0.000 0.007 0.000 -0.006 Sebelum 0.034 0.086 0.329 0.000 -0.226 0.003 -0.044 0.721 -0.176 Beta Saham Sesudah 0.000 -0.001 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.000 Sebelum 0.003 0.003 -0.006 0.003 0.023 0.003 0.004 -0.025 0.007 CAPM Sesudah 0.003 0.004 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 Sebelum 0.000 -0.022 -0.008 -0.003 -0.037 -0.003 -0.003 -0.001 -0.012 Alpha Jensen Sesudah -0.003 -0.023 0.004 -0.003 0.003 -0.003 -0.010 -0.027 -0.002 PERBANKAN Keterangan Pengamatan BABP BACA BAEK BBCA BBKP BBNI BBNP BBRI BCIC BDMN BEKS BKSW Sebelum -0.004 -0.003 -0.002 -0.010 -0.051 -0.061 0.000 -0.034 -0.018 -0.039 -0.006 0.004 Expected Return Sesudah -0.023 0.001 0.001 0.000 0.017 -0.007 -0.005 -0.011 0.000 -0.013 -0.003 -0.025 Sebelum 0.049 0.132 0.215 0.518 1.295 1.735 0.000 0.881 0.489 0.952 0.174 0.085 Beta Saham Sesudah 0.000 0.000 0.001 0.003 0.002 0.003 0.000 0.003 0.000 0.003 0.000 0.000 Sebelum 0.002 -0.001 -0.007 -0.014 -0.046 -0.066 0.003 -0.024 -0.014 -0.030 -0.003 0.002 CAPM Sesudah 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 Sebelum -0.007 -0.002 0.005 0.004 -0.005 0.005 -0.003 -0.010 -0.004 -0.008 -0.003 0.002 Alpha Jensen Sesudah -0.003 -0.003 0.014 -0.010 -0.009 -0.015 -0.003 -0.017 -0.006 -0.029 -0.003 -0.003 PERBANKAN Keterangan Pengamatan BMRI BNBA BNGA BNII BNLI BSWD BTPN BVIC INPC MAYA MCOR Sebelum -0.018 -0.003 0.048 0.051 -0.027 0.000 0.019 -0.007 -0.001 0.000 -0.020 Expected Return Sesudah 0.000 0.000 -0.022 -0.013 -0.016 0.002 -0.023 0.000 -0.017 -0.009 0.000 Sebelum 0.715 0.413 1.675 -1.897 0.260 0.000 -0.477 -0.099 0.031 0.000 0.706 Beta Saham Sesudah 0.004 0.000 0.002 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 Sebelum -0.021 -0.003 -0.053 0.083 0.000 0.003 0.022 0.009 0.003 0.003 -0.013 CAPM Sesudah 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 0.003 Sebelum 0.003 0.000 0.101 -0.031 -0.026 -0.003 -0.003 -0.015 -0.004 -0.003 -0.007 Alpha Jensen Sesudah -0.025 -0.017 -0.020 -0.002 -0.026 -0.003 -0.021 -0.013 -0.003 -0.003 -0.023 PERBANKAN Keterangan Pengamatan MEGA NISP PNBN SDRA Sebelum 0.007 0.000 -0.049 -0.039 Expected Return Sesudah 0.000 -0.019 0.008 0.005 Sebelum 0.026 0.000 1.127 0.721 Beta Saham Sesudah 0.001 0.000 0.003 0.001 Sebelum 0.003 0.003 -0.035 -0.024 CAPM Sesudah 0.003 0.003 0.003 0.003 Sebelum 0.004 -0.003 -0.014 -0.015 Alpha Jensen Sesudah 0.005 0.001 0.000 -0.027 Lampiran 9: Hasil Pengujian Actual Return t-Test: Paired Two Sample for Means (Sekuritas) Sebelum Sesudah Mean - 0.002642031 -0.003594517 Variance 0.000258564 0.0001 Observations 7 7 Pearson Correlation - 0.049029453 Hypothesized Mean Difference 0 df 6 t Stat 0.132110601 P(T<=t) one-tail 0.449607867 t Critical one-tail 1.943180274 P(T<=t) two-tail 0.899215734 t Critical two-tail 2.446911846 t-Test: Paired Two Sample for Means (Sekuritas) Sebelum Sesudah Mean - 0.007021638 - 0.005277083 Variance 0.000399251 6.47673E-05 Observations 14 14 Pearson Correlation - 0.097696946 Hypothesized Mean Difference 0 df 13 t Stat - 0.293260537 P(T<=t) one-tail 0.386976047 t Critical one-tail 1.770933383 P(T<=t) two-tail 0.773952093 t Critical two-tail 2.160368652 t-Test: Paired Two Sample for Means (Perbankan) Sebelum Sesudah Mean - 0.006560482 - 0.004294749 Variance 0.001401279 0.000294451 Observations 7 7 Pearson Correlation -0.63457179 Hypothesized Mean Difference 0 df 6 t Stat -0.119629429 P(T<=t) one-tail 0.454340899 t Critical one-tail 1.943180274 P(T<=t) two-tail 0.908681797 t Critical two-tail 2.446911846 t-Test: Paired Two Sample for Means (Perbankan) Sebelum Sesudah Mean - 0.002218886 - 0.009054522 Variance 0.00087131 0.000442286 Observations 14 14 Pearson Correlation -0.353267271 Hypothesized Mean Difference 0 df 13 t Stat 0.6110142 P(T<=t) one-tail 0.275862321 t Critical one-tail 1.770933383 P(T<=t) two-tail 0.551724641 t Critical two-tail 2.160368652 KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar