APLIKASI FITUR TABUNGAN INVESTA CENDEKIA BANK SYARIAH MANDIRI CABANG MALANG

Admin


APLIKASI FITUR TABUNGAN INVESTA CENDEKIA  BANK SYARIAH MANDIRI CABANG MALANG  

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perkembangan kehidupan manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu membawa konsekuensi perubahan tuntutan dalam kehidupan. Perubahan kehidupan manusia dapat terjadi karena perubahan umur, perubahan pendidikan, perubahan penghasilan, maupun perubahan sosial sehingga mau tidak mau juga harus merubah pola kehidupannya yang disesuaikan dengan kondisi yang melingkupinya. Tidak terlepas dari hubungannya dengan bank, maka tuntutan akan kebutuhan pelayanan bank juga terkait erat dengan tingkat perkembangan masyarakat sebagai konsumen jasa perbankan (Irsyad, 2008: 1)
Menurut Irsyad (2008: 2) menjelaskan bahwa setiap produk memiliki batas daur hidup, tidak terkecuali produk perbankan. Untuk itu perbankan senantiasa dituntut mampu menghasilakn produk sesuai dengan tuntutan kebutuhan nasabahnya. Dalam membangun produk baru, perbankan tidak dapat hanya dengan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya saja tetapi juga dapat dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di luar perusahaan dengan cara menjalin kerjasama dalam bentuk aliansi. Salah satu bentuk kerjasama yang sekarang ini sedang marak di Indonesia adalah bentuk aliansi  antara perusahaan perbankan dengan perusahaan asuransi. Kerjasama dalam menggabungkan produk perbankan dan produk asuransi ini kemudian dikenal dengan istilah bancassurance.
Kerjasama antara bank dan perusahaan asuransi tidak hanya berkembang dilingkup perbankan konvensional saja, akan tetapi juga berkembang pada bank-bank syariah. Adapun beberapa bank yang menjalin kerjasama dengan perusahaan asuransi adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1
Aliansi antara Bank dan Perusahaan Asuransi

Bank
Produk Bank
Produk Asuransi
Asuransi
Bank Bali
Si Jempol
Asuransi Jiwa
Prudential Bank Bali Life
Bank BNI
Taplus utama
Kartu kredit
Asuransi kecelakaan
Asuransi rawat inap, kecelakaan, kematian
Asuransi niaga cigna life
Asuransi niaga cigna life
Bank Bukopin
Tabungan siaga pendidikan
Asuransi kecelakaan
Asuransi jasindo
Bank Bumiputera
Bung hari
Asuransi rawat inap
Ajb bumiputera 1912
Citibank
Kartu kredit
Asuransi kecelakaan
Panin life, astra cmg life, aiu indonesia
Bank Danamon
Primadana
Tunjangan penghasil-an keluarga
Zurich life insurance indonesia
Bank Mega
Mega proteksi
Asuransi jiwa
Aetna life indonesia
Bank Niaga
Niaga dolar
Asuransi kecelakaan, asuransi perjalanan, asuransi kesehatan
Asuransi niaga cigna life
Standard Chartered
Savings plus
Asuransi jiwa, asu-ransi kecelakaan, tunjangan rawat inap
Asuransi niaga cigna life
Bank Syariah Mandiri
Tabungan Mabrur, TIC
Asuransi jiwa dan kecelakaan
Asuransi takaful Indonesia
Unibank
Unisavings
uniguard
Asuransi kecelakaan
asuransi jiwa
ace ina insurance
asuransi niaga cigna life
Sumber: Irsyad, data diolah (2008: 4)
Berdasarkan data dokumentasi dari brosur Bank Syariah Mandiri, bahwa ada beberapa produk yang diproteksi dengan asuransi yaitu Tabungan Mabrur dan Tabungan Investa Cendekia. Tabungan Mabrur adalah tabungan bagi umat Islam yang berencana menunaikan ibadah haji dan umrah, yang dikelola berdasarkan prinsip mudharabah. Adapun manfaat asuransi yang bisa diambil ketika menjadi nasabah tabungan mabrur adalah asuransi kecelakaan yang diberikan kepada setiap nasabah yang membuka tabungan dan pada saat nasabah terdaftar di siskohat, maka asuransinya diubah menjadi asuransi jiwa, dan nilai asuransi yang akan didapat nasabah adalah antara biaya perjalanan ibadah haji yang ditetapkan oleh pemerintah dengan saldo rata-rata pada bulan yang bersangkutan. Sedangkan Tabungan Investa Cendekia adalah tabungan investasi berjangka yang dibuat untuk perencanaan kebutuhan dana pendidikan. Adapun asuransi jiwa akan langsung diterima nasabah sejak dibukanya Tabungan BSM Investa Cendekia.
Walaupun ada fitur (keistimewaan) tambahan berupa asuransi, akan tetapi Tabungan Investa Cendekia Bank Syariah Mandiri tidak akan merubah fitur yang telah menjadi karakteristik dan landasan dasarnya sebagai lembaga keuangan Islam yakni bagi hasil.
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 25 Februari 2009 dengan Ibu Rima selaku customer service pada Bank Syariah Mandiri Cabang Malang menjelaskan bahwa prinsip bagi hasil pada Tabungan Investa Cendekia adalah dengan menggunakan sistem mudharabah muthlaqah, dimana pihak nasabah sebagai shahibul maal dan pihak bank sebagai mudharib. Adapun nisbah bagi hasil yang diperoleh nasabah Tabungan Investa Cendekia sebesar 52% hampir setara dengan deposito dan 48% untuk Bank.
Menurut Irsyad (2008: 4) menjelaskan bahwa dengan menambahkan fitur berupa jaminan asuransi maka bank telah melakukan pengembangan produk sehingga akan dapat meningkatkan kekuatan produk perbankan yang dihasilkannya sehingga akan dapat meningkatkan apresiasi nasabah dan calon nasabah terhadap produk yang ditawarkan.
Akan tetapi berbeda dengan yang dialami Bank Syariah Mandiri, khususnya pada produk Tabungan Investa Cendekia. Walaupun bagi hasil yang ditawarkan cukup tinggi dan terdapat fitur tambahan berupa perlindungan asuransi, Ibu Rima selaku Customer Service Bank Syariah Mandiri Cabang Malang menjelaskan dalam wawancara pada tanggal 13 Februari 2009 bahwa jumlah nasabah Tabungan Investa Cendekia lebih sedikit dibandingkan produk tabungan lain, adapun jumlah nasabah Tabungan Investa Cendekia Bank Syariah Mandiri Cabang Malang lima tahun terakhir adalah hanya berjumlah 260 nasabah.
Memandang banyak hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut mengenai bagaimana sistem asuransi dapat diterapkan dalam Tabungan Investa Cendekia, bagi hasil serta keunggulan dan kelemahan dari Tabungan Investa Cendekia, maka penulis mengambil judul ”APLIKASI FITUR TABUNGAN INVESTA CENDEKIA BANK SYARIAH MANDIRI CABANG MALANG”




B.      Rumusan Masalah
Melihat permasalahan yang timbul di Bank Syariah Mandiri Cabang Malang khususnya pada minimnya jumlah nasabah Tabungan Investa Cendekia, maka peneliti merumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Fitur apa saja yang terdapat pada Tabungan Investa Cendekia?
2.      Bagaimana penerapan sistem asuransi dan bagi hasil serta pola perhitungannya pada Tabungan Investa Cendekia?
3.      Apa keunggulan dan kelemahan dari Tabungan Investa Cendekia?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1.        Mengetahui aplikasi dari fitur Tabungan Investa Cendekia
2.        Mengetahui aplikasi dari sistem asuransi dan bagi hasil serta pola perhitungannya pada Tabungan Investa Cendekia
3.        Mengetahui aplikasi dari keunggulan dan kelemahan Tabungan Investa Cendekia


D.     Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1.        Secara teoritis
       Untuk mengembangkan konsep-konsep syari’ah serta teori-teori manajemen terutama dalam usaha menumbuhkan sistem perbankan dan asuransi syariah di Indonesia.
2.        Secara praktis
       Bagi masyarakat yang mempersiapkan masa depan anak cucunya  dalam bidang pendidikan akan memberikan alternatif pendanaan yang mudah dan aman dari riba.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu diambil dari jurnal dan skripsi yang membahas tentang bancassurance dan juga bagi hasil, misalnya:
Muhammad Irsyad (2008) dengan judul Bancassurance. Penelitian ini menjelaskan tentang keuntungan bank, perusahaan asuransi dan nasabah ketika produk bank digabungkan dengan asuransi. Obyek penelitian adalah beberapa bank yang menerapkan kerjasama dengan bentuk bancassurance. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperknalkan bancassurance kepada masyarakat sehingga mampu meningkatkan loyalitas nasabah. Penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif, dan hasil yang didapat adalah bancassurance  sebagai bentuk pengembangan produk bank dan asuransi akan mampu memberikan nilai tambah bagi bank dan asuransi sehingga mampu meningkatkan loyalitas nasabah dan akhirnya meningkatkan volume penjualan yang bermuara pada peningkatan keuntungan bank dan perusahaan asuransi. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah obyek pada penelitian sekarang lebih terfokus pada Bank Syariah Mandiri serta menjelaskan lebih detail tentang aplikasi dari bancassurance itu sendiri.
Emi Suhariati (2005), dengan judul ” Sistem Perhitungan Bagi Hasil pembiayaan Mudharabah pada PT Bank Syariah Mandiri Cabang Malang” dengan menggunakan metode penelitian kualitatif memberikan hasil bahwa Sistem perhitungan bagi hasil pembiayaan mudharabah yang diterapkan oleh PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Malang melelui beberapa tahapan:
1.        Penentuan besarnya pembiayaan, rencana penerimaan usaha, jangka waktu pembiayaan Expectasi rate (keuntungan yang di harapkan) Menghitung Expectasi bagi hasil, dengan cara jangka waktu pembiayaan dibagi 12 dikalikan ekspectasi bagi hasil dibagi rencana penerimaan usaha
2.        Menghitung nisbah bagi hasil dengan cara ekspectasi bagi hasil dibagi rencana penerimaan usaha
3.        Mendistribusikan pendapatan masing-masing sesuai dengan nisbah yang telah disepakati bersama. Metode distribusi yang diterapkan adalah revenue sharing (bagi untung) maupun profit loss sharing (bagi untung dan rugi)
Berbeda dengan penelitian sekarang, bahwa perhitungan bagi hasil pada produk pendanaan lebih sederhana yaitu hanya dengan membagi saldo nasabah dengan total  saldo semua penabung dikalikan laba bank dan dikalikan nisbah bagi hasil.
Esy Nur Aisyah (2008), dengan judul ” Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)”. Karena peneliti terdahulu meneliti bagi hasil pada produk tabungan, maka sistem yang digunakan hampir sama dengan penelitian saat ini, yang membedakan hanya obyek yang diteliti. Penelitian diatas dapat dilihat lebih lanjut dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

No
Nama
Judul
Metode Penelitian
Hasil

Pendekatan
Penggalian data
1
Muhammad Irsyad, 2008
Bancassurance
Kualitatif
Deskriptif
·   Observasi
·   dokumentasi
bancassurance  sebagai bentuk pengembangan produk bank dan asuransi akan mampu memberikan nilai tambah bagi bank dan asuransi sehingga mampu meningkatkan loyalitas nasabah dan akhirnya meningkatkan volume penjualan yang bermuara pada peningkatan keuntungan bank dan perusahaan asuransi.

2
Emi Suhariati, 2005
Sistem Perhitungan Bagi Hasil pembiayaan Mudharabah pada PT Bank Syariah Mandiri Cabang Malang
Kualitatif
·   Wawancara
·   Observasi
·   Dokumentasi
Sistem perhitungan bagi hasil pembiayaan mudharabah yang diterapkan oleh PT. Bank Syariah Mandiri Cabang Malang melelui beberapa tahapan:
1)     Penentuan besarnya pembiayaan, rencana penerimaan usaha, jangka waktu pembiayaan Expectasi rate (keuntungan yang di harapkan)
2)     Menghitung Expectasi bagi hasil, dengan cara jangka waktu pembiayaan dibagi 12 dikalikan ekspectasi bagi hasil dibagi rencana penerimaan usaha
3)     Menghitung nisbah bagi hasil dengan cara ekspectasi bagi hasil dibagi rencana penerimaan usaha
4)     Mendistribusikan pendapatan masing-masing sesuai dengan nisbah yang telah disepakati bersama.
Metode distribusi yang diterapkan adalah revenue sharing (bagi untung) maupun profit loss sharing (bagi untung dan rugi)
4
Esy Nur Aisyah, 2008
Penerapan Standar Operasional Prosedur dan Sistem Bagi Hasil pada Tabungan Mudharabah (Studi Pada BMT MMU Cabang Wonorejo Pasuruan)
Kualitatif dengan pendekatan deskriptif
·   Wawancara
·   Observasi
·   Dokumentasi
Penerapan standar operasional prosedur tabungan mudharabah di BMT MMU Cabang Wonorejo, secara teknis menggambarkan bahwa dalam prosedural menabung, BMT memberikan kemudahan kepada anggota koperasi. Kemudian sistem bagi hasil yang diterapkan adalah dengan prinsip profit sharing. Serta faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap besar kecilnya bagi hasil yaitu jumlah dana yang diinvestasikan oleh anggota, penetapan nisbah, pendapatan bersih, serta kebijakan accounting yang diterapkan oleh BMT.
5
Kurnia Dwi Meinarni, 2009
Analisis Fitur Tabungan Investa Cendekia Bank Syariah Mandiri Cabang Malang
Kualitatif
Deskriptif
·   Wawancara
·   Observasi
·   Dokumentasi
Fitur dari Tabungan Investa Cendekia adalah bagi hasil dan juga asuransi yang merupakan fitur tambahan hasil kerja sama dengan perusahaan Asuransi Takaful Indonesia. Dengan adanya fitur berupa bagi hasil dan juga asuransi, TIC mempunyai banyak keunggulan, seperti bagi hasil yang besar, perlindungan asuransi dan lain sebagainya. Adapun faktor yang mempengaruhi besarnya bagi hasil adalah saldo nasabah, total saldo semua nasabah, pendapatan bank yang dibagihasilkan dan penetapan nisbah. Bagian-bagian dari Asuransi yang ada di TIC meliputi klaim, premi, sertifikat asuransi dan lain sebagainya.        
Sumber: Data diolah dari hasil penelitian terdahulu



B.     Kajian Teori
1.       Tabungan
a.      Pengertian Tabungan
Berdasarkan Undang-undang nomor 10 tahun 1998 menyebutkan bahwa tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Dari pengertian diatas, maka tabungan dapat didefinisikan sebagai dana yang dititipkan oleh nasabah kepada bank yang penarikannya harus sesuai dengan syarat yang telah disepakati.
Menurut Antonio (2001: 157) bahwa tabungan dalam konsep perbankan syariah dibedakan menjadi dua akad, diantaranya adalah akad wadi’ah dan akad mudharabah.
b.     Ketentuan Umum Tabungan Berdasarkan Mudharabah
Menurut Fatwa DSN-MUI nomor: 02/DSN-MUI/IV/2000 menyebutkan bahwa ketentuan umum tabungan berdasarkan mudharabah adalah sebagai berikut:
1)     Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik  dana,  dan  bank  bertindak  sebagai  mudharib  atau pengelola dana.
2)     Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah  dan  mengembangkannya,  termasuk  di  dalamnya mudharabah dengan pihak lain.
3)     Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya, dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
4)     Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.
5)     Bank  sebagai  mudharib  menutup  biaya  operasional  tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.
c.       Ketentuan Umum Tabungan Berdasarkan Wadi’ah
Berdasarkan Fatwa DSN-MUI NO: 02/DSN-MUI/IV/2000 menyebutkan bahwa ketentuan umum tabungan berdasarkan wadi’ah adalah sebagai berikut:
1)        Bersifat simpanan.
2)        Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasar-kan kesepakatan.
3)        Tidak  ada  imbalan  yang  disyaratkan,  kecuali  dalam  bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

d.     Tabungan dalam Perspektif Islam
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 02/DSN-MUI/IV/2000 tentang tabungan, memberikan landasan syariah dan ketentuan tentang tabungan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, diantaranya adalah:
a)    Firman Allah
QS. Annisa’ (4): 29
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”

QS. Al-Baqarah (2): 283
÷bÎ*sù z`ÏBr& Nä3àÒ÷èt/ $VÒ÷èt/ ÏjŠxsãù=sù Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,­Guø9ur ©!$# ¼çm­/u 3

”…jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah tuhannya”


QS. al-Maidah (5): 1
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ÏŠqà)ãèø9$$Î/ 4

“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”            

QS. al-Maidah (5): 2
¢ (#qçRur$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur
Ÿ“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan “

b)   Hadis Nabi
Riwayat Ibnu Abbas

كاَنَ سَيِّدنَاالْعَبَّاسْ بْنُ عَبْدِالْمُطَملِّبْ اِذَادَفَعَ الْمَالَ مُضَارَبَةً اِشْتَََََََرَطَ عَلََى صَاحِبِهِ اَنْ لاَيَسْلُكَ بِهِ بَحْرًا وَلاَيَنْزِلَ بِهِ وَادِيًا  وَلاَ يَشْتَرِيَ بِهِ دَابَّةً ذَاتَ كَبِدٍرَطْبَةٍ   فَاِنْ فَعَلَ ذَلِكَ ضَمَنَ   فَبَلَغَ شَرْطُهُ رَسُوْلَ اللَّهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَاَجَازَهُ (  رواه الطبراني في الاوسط عن ابن عباس)

“Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi  lautan  dan  tidak  menuruni  lembah,  serta  tidak membeli  hewan  ternak.  Jika  persyaratan  itu  dilanggar,  ia (mudharib)  harus  menanggung  resikonya.  Ketika  persyaratan yang  ditetapkan  Abbas  itu  didengar  Rasulullah,  beliau membenarkannya” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

Riwayat Ibnu Majah

عَنْ صَالِحِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ ثَلاَثٌ فِيْهِنَّ الْبَرَكَةُ الْبَيْعُ اِلَى اَجَلٍ وَالْمُقَارَضَةُ وَاَخْلاَطُ الْبُرِّبِالشَّعِيْرِلِلْبَيْتِ لاَلِلْبَيْعِ


 “Nabi bersabda, ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli  tidak  secara  tunai,  muqaradhah  (mudharabah),  dan mencampur  gandum  dengan  jewawut  untuk  keperluan  rumah tangga, bukan untuk dijual.’” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).

Riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf

اَلصٍُّلْحُ جَائِزٌبَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ اِلاَّصُلْحًاحَرَّمَ حَلاَلاًاَوْاَحَلَّ حَرَامًاوَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَي شُرُوْطِهِمْ اِلاَّشَرْطًاحَرَّمَ حَلاَلاًاَوْاَحَلَّ حَرَامًا 
( رواه الترمذي عن عمروبن عوف)

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka  kecuali  syarat  yang  mengharamkan  yang  halal  atau menghalalkan yang haram” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).

c)     Ijma’
Diriwayatkan,  sejumlah  sahabat  menyerahkan  (kepada orang, mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada  seorang  pun  mengingkari  mereka.  Karenanya,  hal  itu dipandang sebagai ijma’ (Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1989, 4/838).
d)    Qiyas
Transaksi mudharabah yakni penyerahan sejumlah harta dari satu pihak ke pihak lain untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kesepakatan, di-qiyas-kan kepada transaksi musaqah.

e)    Kaidah Fiqh
“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya”
f)     Pendapat para ulama
Para ulama menyatakan, dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai  harta  namun  tidak  mempunyai kepandaian  dalam usaha  memproduktifkannya;  sementara  itu,  tidak  sedikit  pula orang  yang  tidak  memiliki  harta  namun  ia  mempunyai kemampuan  dalam  memproduktifkannya.  Oleh  karena  itu, diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. 
2.       Asuransi
a.      Pengertian Asuransi
Menurut Syakir Sula (2004: 30) asuransi adalah gabungan kesepakatan dari beberapa orang untuk saling menolong, dengan sistem yang sangat rapi yaitu dengan jalan memberikan sedikit derma dari masing-masing individu, dengan tujuan meringankan kerugian dari peristiwa-peristiwa yang terkadang menimpa salah satu dari mereka.
Praja dalam Syakir Sula (2004: 32) menjelaskan bahwa istilah lain yang sering digunakan untuk asuransi syariah adalah takaful. Kata takaful bersal dari kata takafala-yatakafalu yang secara etimologis berarti menjamin atau saling menanggung.
Dari definisi diatas tampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong-menolong (ta’awun). Yaitu prinsip hidup saling melindungi dan saling menolong atas dasar ukhuwah islamiah antara sesama anggota asuransi syariah dalam menghadapi malapetaka (resiko).
b.     Ketentuan Umum Asuransi Syariah
a)     Akad dalam Asuransi
Menurut Syakir Sula (2004: 43) Akad yang dilakukan dalam asuransi ada dua macam, diantaranya adalah akad tijarah dan akad tabarru’. Yang dimaksud akad tijarah adalah mudharabah dan akad tabarru’ adalah hibah.
(a)    Tabarru’ (Hibah/dana kebajikan)
Tabarru’ berasal dari kata tabarra’a-yatabarra’u-tabarru’an yang berarti sumbangan, hibah, dana kebaikan, derma. Tabarru’ merupakan pemberian sukarela seseorang kepada orang lain tanpa ganti rugi yang mengakibatkan berpindahnya kepemilikan harta dari pemberi kepada orang yang diberi (Syakir Sula, 2004: 35)
Akad tabarru’ adalah segala macam perjanjian yang menyangkut non-for profit transaction (transaksi nirlaba). Transaksi dengan akad tabarru’ bukan merupakan akad dengan tujuan bisnis dan mencari keuntungan komersil, akan tetapi akad tabarru’ dilakukan atas dasar tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan tanpa mensyaratkan apapun kepada pihak yang ditolong. Karena imbalan akad tabarru’ adalah dari Allah, bukan dari manusia (Adiwarman, 2004: 66)
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa, niat tabarru’ dalam asuransi adalah altenatif yang sah yang dibenarkan oleh syara’ dalam melepaskan diri dari praktik riba yang di haramkan oleh Allah. Karena dalam akad tabarru’ dilakukan atas dasar tolong-menolong dan tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali pahala dari Allah SWT.
(b)    Akad Tijarah
Berdasarkan fatwa DSN-MUI tentang pedoman umum asuransi syariah menyebutkan bahwa akad tijarah yang dimaksudkan diatas adalah mudharabah. Dalam akad mudharabah ini, perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul maal (pemegang polis). Adapun jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru’ bila pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya.
b)    Premi Asuransi
Pengertian premi yang tertulis dalam fatwa DSN-MUI tentang pedoman umum asuransi syariah adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai kesepakatan dalam akad.
Syakir Sula (2004: 311-313) menyebutkan bahwa unsur premi pada asuransi syariah terdiri dari unsur tabarru’ dan tabungan. Untuk menentukan besarnya premi, perusahaan asuransi dapat menggunakan rujukan tabel mortalita, dengan syarat tidak memasukkan unsur riba dalam perhitungannya.
Tabel mortalita adalah tabel kematian yang berguna untuk mengetahui besarnya klaim kemungkinan timbulnya kematian. Jadi semakin banyak usia dan semakin panjang masa perjanjian, maka semakin besar pula nilai tabarru’nya.
Dari definisi diatas d

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar