PENERAPAN FUNGSI PERENCANAAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI USAHA MEBEL

Admin

Penerapan Perencanaan untuk meningkatkan Produksi pada Usaha Mebel
 
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam dunia usaha sebuah perencanaan sangat dibutuhkan sekali, apalagi usaha yang berawal dari usaha kecil dan berkembang menjadi usaha besar. Kegiatan yang ada di dalam perusahaan secara otomatis akan berubah menjadi banyak. Dengan adanya perkembangan suatu usaha maka dalam melakukan segala sesuatunya perlu diadakan perencanaan terlebih dahulu.
Sebuah perencanaan harus difikirkan secara cermat oleh seorang manajer terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan produksi, apabila seorang manajer dalam mengambil keputusan untuk merencanakan kegiatan yang akan dilakukan dengan asal-asalan, maka akan berdampak  sekali terhadap kegiatan yang ada di dalam usaha. Dengan demikian, kegiatan  perencanaan dalam suatu usaha harus dilakukan sebaik-baiknya sehingga suatu usaha tersebut dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.
Menurut Hafidhuddin dan Tanjung (2003:77), perencanaan atau planning adalah kegiatan awal dalam sebuah pekerjaan dalam bentuk memikirkan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan itu, agar mendapat hasil yang optimal. Sedangkan perencanaan Menurut Handoko (1999:78), perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa. Jadi sebuah perencanaan sangat dibutuhkan sekali dalam melakukan kegiatan apalagi dalam usaha. Menurut Siswanto (2003:44) sebenarnya perencanaan memiliki fungsi yang harus diketahui oleh seorang manajer yaitu dapat menentukan peran yang dihadapkan dari organisasi di masa yang akan datang, dapat menghubungkan organisasi dengan berbagai macam sistem lingkungannya, mengevaluasi dan memperkiranan kebutuhan apa saja yang dapat dipenuhi oleh organisasi. Untuk itulah  seorang manajer harus terrlebih dahulu mengetahui fungsi perencanaan, karena fungsi perencanaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan pengambilan keputusan.
Langkah awal yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah harus merencanakan dan memperhitungkan dengan cermat biaya yang akan ditanggung. Dalam produksi tentunya tidak pernah lepas dari biaya yang tidak sedikit maka perlu adanya sebuah perencanaan, karena dengan perencanaan perusahaan dapat mengetahui jumlah yang diproduksikan  apakah terlalu besar atau terlalu kecil. Untuk memperoleh hasil produksi yang bagus dan tidak memerlukan biaya yang terlalu besar , maka sangat diperlukan perencanaan yang benar. Semakin baik perencanaan maka biaya produksi yang digunakan akan semakin efektif dan efisien.
Dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang perencanaan dan pengendalian produksi pada Usaha Mebel ” Karya” yang terletak di Jalan Kalimosodo RT 02 RW 06 Sawojajar Malang. Mebel merupakan kebutuhan primer yang harus dikonsumsi oleh masyarakat terutama dalam rumah tangga, perkantoran, hotel, terutama kos-kosan. Sebagai kebutuhan primer, manusia mau tidak mau mereka harus memenuhinya.  Dengan adanya permintaan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya yang semakin hari semakin berkembang, maka usaha mebel dituntut untuk mampu memproduksi dalam jumlah yang besar, tetapi dalam kenyataannya Usaha Mebel Karya selama kurun waktu tiga tahun yaitu pada tahun 2006 sampai tahun 2008 ada kecenderungan menurun. Dimana penurunan tersebut terjadi pada tahun 2007 sebesar 101 yang sebelumnya pada tahun 2006 sebesar 109, walaupun ditahun 2007 mengalami penurunan akan tetapi pada tahun 2008 meningkat lagi sebesar 111. Sebagaimana dapat dilihat dalam tabel penjualan Mebel Karya berikut ini:

Tabel 1.1
Hasil Penjualan Usaha Mebel Karya Malang
selama 3(tiga) Tahun Terakhir

No
Jenis Produksi
2006
2007
2008
1
2
3
4
5
6
7
Almari dengan Dua  Pintu
Almari dengan Tiga Pintu
Satu  Paket Kursi Ruang Tamu
Meja Belajar
Meja Rias
Meja Komputer
Dipan (ranjang tempat tidur)
61
35
48
15
10
20
31
56
20
45
10
5
13
25
60
25
51
10
8
16
29
Total

220
174
199
         Sumber Data: Usaha Industri Mebel Karya Malang.

Sehingga dengan adanya perencanaan yang tepat, diharapkan Usaha Mebel Karya untuk mampu terus meningkatkan jumlah produksinya. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul PENERAPAN FUNGSI  PERENCANAAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI USAHA MEBEL (Studi Kasus pada Usaha Mebel ” Karya” Malang).

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dari latar belakang dapat dirumuskan mengenai rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana  penerapan fungsi perencanaan  yang dilakukan oleh Usaha Mebel ” Karya” Malang dalam kapasitas meningkatkan produksi?

C.    TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah: Untuk mendikripsikan  penerapan fungsi perencanaan  yang dilakukan oleh Usaha Mebel ” Karya” Malang dalam usaha meningkatkan produksi mebel.

D.    MANFAAT PENELITIAN
  1. Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah di lapangan
  1. Bagi Perusahaan
Dapat dijadikan masukan dalam menentukan perencanaan dan pengendalian produksi secara integral pada dunia usaha terutama pada perusahaan
  1. Bagi Pihak Lain
Dapat memberikan sumbangan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang perencanaan dan pengendalian  produksi perusahaan.

E.     BATASAN PENELITIAN
Usaha Mebel Karya menghasilkan banyak produk, akan tetapi dalam penelitian ini peneliti membatasi hanya pada dua produk saja yaitu satu paket kursi ruang tamu dan almari dengan dua pintu. Dengan alasan berdasarkan hasil wawancara bahwa dua produk tersebut paling banyak diminati oleh pembeli atau konsumen.













BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Kajian Empiris
Afrida Ismiati dari Universitas Islam Negeri Malang (2006) melakukan penelitian berjudul ”Penerapan Anggaran Biaya Produksi Sebagai Alat Perencanaan Dan Penilaian Kinerja Manajer ”(studi kasus pada PT. Garam (Persero) Indonesia di Surabaya. Menyimpulkan bahwa PT. Garam (Persero) Indonesia di Surabaya, dalam menerapkan anggaran biaya produksinya telah sesuai dengan tujuan perusahaan, dan dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja manajer secara baik yaitu dengan cara menerapkan anggaran tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
Marlina dari Universitas Islam Negeri Malang (2005) melakukan penelitian berjudul ”Penerapan Anggaran Penjualan Sebagai Salah Satu Alat Pengendalian Dan Perencanaan Penjualan” (Studi Kasus Pabrik Kompor ”Kupu Mas” Malang). Menyimpulkan bahwa perusahaan kompor ”Kupu Mas” Malang belum melakukan penyusunan anggaran penjualan sesuai dengan prosedur atau langkah-langkah yang benar. Perusahaan hanya menyusun anggaran penjualan tiap tahun yang didasarkan pada hasil penjualan tahun lalu.


Tabel I
Penelitian Terdahulu
No
Peneliti
Judul
Jenis Penelitian
Metode Pengumpulan dan Analisis Data
Hasil Penelitian
0
1
2
3
4
5
1
  Marlina (2005)
Penerapan Anggaran Penjualan Sebagai Salah Satu Alat Pengendalian Dan Perencanaan Penjualan” (Studi  Kasus Pabrik Kompor ”Kupu Mas” Malang).
 Deskriptif Kuantitatif
Observasi, Wawancara, Dokumentasi. Metode Trend Least Square dan Analisis Varians
Perusahaan kompor ”Kupu Mas” Malang belum melakukan penyusunan anggaran penjualan sesuai dengan prosedur atau langkah-langkah yang benar. Perusahaan hanya menyusun anggaran penjualan tiap tahun yang didasarkan pada hasil penjualan tahun lalu.
2
Afrida Ismiati
(2006)
Penerapan Anggaran Biaya Produksi Sebagai Alat Perencanaan Dan Penilaian Kinerja Manajer ”(Studi Kasus pada PT. Garam (persero) Indonesia di Surabaya).
 Deskriptif   Kualitatif
Observasi, wawancara, dokumentasi.  Analisis data menggunakan metode Membandingkan anggaran fleksibel antara anggaran biaya dengan realisasi biaya produksi.
PT. Garam (persero) Indonesia di Surabaya, dalam menerapkan anggaran biaya produksinya telah sesuai dengan tujuan perusahaan, dan dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kinerja manajer secara baik yaitu dengan cara menerapkan anggaran tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.
3
Lina Esti   Ayuningtyas
(2009)
Penerapan Fungsi Perencanaan Untuk Meningkatkan Produksi Usaha Mebel (Studi Kasus pada Usaha Mebel Karya Malang)
Deskriptif Kualitatif
Observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis data menggunakan metode membandingkan rencana penjualan dengan realisasi penjualan. Kemudian di analisis dengan menggunakan tiga pendekatan yang berbeda yaitu: 
·   Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi,
·   Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat persediaan,
·   Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan tersebut diatas
Mebel ”Karya” Malang dalam hal berproduksi sudah melakukan perencanaan, terbukti dalam penjualan pada tahun 2006-2008 terjadi selisih yang tidak begitu banyak. Usaha Mebel Karya sebelum melakukan produksi terlebih dahulu melakukan perencanaan dengan memperkirakan penjualan pada tahun 2009 dengan menggunakan data penjualan tahun 2006-2008 sebagai acuan perkiraan. Dari perencanaan penjualan tahun 2009 yang sudah ditetapkan, maka dilakukan analisis anggaran produksi, dimana dengan anggaran produksi agar Usaha Mebel Karya masih tetap terjadi keseimbangan yang optimum antara tingkat produksi dengan  tingkat persediaan barang.
Sumber: Data Diolah, 2008
Apabila ditinjau dari penelitian terdahulu, ada beberapa persamaan dan perbedaan dengan penelitian kali ini. Persamaan  penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini adalah
1)            Jenis  pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif.
2)            Pengumpulan data penelitian dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Adapun perbedaannya adalah pada penelitian yang dilakukan oleh Marlina dan Afrida Ismiayati ini, perencanaan dan pengendalian diterapkan oleh perusahaan yang benar-benar sudah besar sedangkan dalam penelitian yang penulis lakukan ini berawal dari sebuah usaha rumah tangga yang dirintis sendiri oleh pemiliknya.  Disamping itu juga dilihat dari subjek yang diproduksi, kalau perusahaan kompor dan garam bisa memproduksi setiap hari dengan jumlah yang besar sedangkan untuk usaha mebel mereka tidak bisa memproduksi dalam jumlah yang besar setiap harinya karena harus sesuai dengan jumlah pesanan.

B.     Kajian Teori
1.      Perencanaan
a.      Pengertian Perencanaan
Menurut Handoko (1999:77-78), perencanaan adalah proses dasar di mana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa.
Menurut Hafidhuddin dan Tanjung (2003:77), perencanaan atau planning adalah kegiatan awal dalam sebuah pekerjaan dalam bentuk memikirkan hal-hal yang terkait dengan pekerjaan itu agar mendapat hasil yang optimal. Oleh karena itu, perencanaan merupakan sebuah keniscayaan, sebuah keharusan di samping sebuah kebutuhan. Segala sesuatu memerlukan perencanaan. Dalam suatu hadits Rasululluh saw bersabda:
{اذا أردت ان تفعل أمرا فتد بّر عا قبته فإن كان خير فا مض وإن كان شرّا فانته} رواه ابن المبارك
     “Jika engkau ingin mengerjakan sesuatu pekerjaan maka pikirkanlah akibatnya, maka jika perbuatan tersebut baik, ambillah dan jika perbuatan itu jelek, maka tinggalkanlah.” (HR Ibnul Mubarak) (Hafidhuddin dan Tanjung, 2003:77)

Sedangkan perencanaan menurut Hasibuan (2005:91) adalah fungsi dasar manajemen, karena organizing, staffin, directing  dan controlling pun   harus terlebih dahulu direncanakan. Perencanaan ditujukan pada masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, kerena adanya perubahan kondisi dan situasi.
Jadi  beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah perencanaan dapat digunakan untuk merancang atau mempersiapkan sebuah kegiatan  untuk masa yang akan datang.
Menurut Handoko (1999:78), salah satu aspek penting perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Keputusan-keputusan harus dibuat pada berbagai tahap dalam proses perencanaan.
Menurut Siswanto (2005: 42), sebuah perencanaan memiliki tiga karakteristik diantaranya yaitu:
1)      Perencanaan tersebut harus menyangkut masa yang akan datang.
2)      Terdapat suatu elemen identifikasi pribadi atau organisasi, yaitu serangkaian tindakan di masa yang akan datang dan akan diambil oleh perencana.
3)      Masa yang akan datang, tindakan dan identifikasi pribadi, serta organisasi merupakan unsur yang amat penting dalam setiap perencanaan.
     Dari karakteristik di atas dapat disimpulkan bahwa sebuah perencanaan sangatlah penting dilakukan,karena dengan adanya perencanaan dapat untuk menunjang masa yang akan datang.
Menurut Hafidhuddin dan Tanjung (2003:78-79), perencanaan merupakan sunnatullah. Dalam konsep manajemen Islam telah dijelaskan bahwa setiap manusia (bukan hanya organisasi) hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan apa yang akan dilakukan di hari esok. Dalam Al-Qur'an surah al-Hasyr: 18, Allah SWT. berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Hafidhuddin dan Tanjung , 2003:78-79)

Konsep ini menjelaskan bahwa perencanaan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta prediksi masa mendatang. Oleh karena itu, untuk melakukan segala perencanaan masa depan, diperlukan kajian-kajian masa kini.
Perencanaan berarti menentukan sebelumnya kegiatan yang mungkin dapat dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Perencanaan merupakan upaya tindakan berhati-hati sebelum melakukan sesuatu agar apa yang dilakukan dapat berhasil dengan baik.
Tujuan dari perencanaan menurut Hasibuan (2005: 95) adalah:
1)      Perencanaan bertujuan untuk menentukan tujuan, kebijakan-kebijakan, prosedur, dan program serta memberikan pedoman cara-cara pelaksanaan yang efektif dalam mencapai tujuan.
2)      Perencanaan bertujuan untuk menjadikan tindakan ekonomis, karena semua potensi yang dimiliki terarah dengan baik kepada tujuan.
3)      Perencanaan adalah satu usaha untuk memperkecil resiko yang dihadapi pada masa yang akan datang.
4)      Perencanaan menyebabkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara teratur dan bertujuan.
5)      Perencanaan memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang seluruh pekerjaan.
6)      Perencanaan membantu pengguna suatu alat pengukur hasil kerja.
7)      Perencanaan menjadi landasan untuk pengendalian.
8)      Perencanaan merupakan usaha untuk menghindari mismanagement dalam penempatan karyawan.
9)      Perencanaan membantu peningkatan daya guna dan hasil guna organisasi
     Dari pemaparan di atas dapat diketahui beberapa tujuan dari perencanaan sehingga seorang manajer dapat melakukan perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukan sebuah kegiatan dalam pekerjaan, agar hasil pekerjaan tersebut bisa lebih efektif dan efisien.
Di dalam konsep manajemen Islam dijelaskan bahwa setiap manusia (bukan hanya organisasi) hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan masa yang akan datang.
Hafidhuddin dan Tanjung (2003:90), mengemukakan bahwa sebuah perencanaan dikatakan baik, jika memenuhi persyaratan berikut:
1)      Didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah baik. Standar baik dalam agama Islam adalah yang sesuai dengan ajaran Islam.
2)      Dipastikan betul bahwa sesuatu yang dilakukan memiliki banyak manfaat. Manfaat ini bukan sekedar untuk orang yang melakukan perencanaan, tetapi juga untuk orang lain.
3)      Didasarkan pada ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan apa yang dilakukan. Untuk merencanakan bisnis, maka seorang pengusaha harus banyak mendengar dan membaca agar dapat mempertanggungjawabkan segala hal yang dilakukannya.
4)      Melakukan studi banding (benchmark). Benchmark adalah melakukan studi terhadap praktik terbaik dari perusahaan sejenis yang telah sukses menjalankan bisnisnya.
5)      Dipikirkan prosesnya. Seperti proses seperti apa yang akan dilakukan.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam manajemen Islam sangat menganjurkan adanya perencanaan, karena dengan perencanaan merupakan langkah hati-hati dalam bertindak, akan tetapi perencanaan yang bisa dikatakan baik jika sesuai dengan ajaran islam dan dapat bermanfaat bagi yang merencanakan maupun untuk orang lain.
Menurut Handoko (1999: 79-80), semua kegiatan perencanaan pada dasarnya harus melalui empat tahap perencanaan yaitu:
Tahap  1:   Menempatkan tujuan atau serangkaian tujuan.
Tahap  2:  Merumuskan keadaan saat ini.
Tahap  3:  Mengidentifikasikan segala kemudahan dan   hambatan.
Tahap 4: Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan  untuk mencapai tujuan
Empat tahap perencanaan di atas dapat digambarkan seperti di bawah ini:
 




Gambar  2.1
Perencanaan
Sumber: Handoko (1999: 80)

Dari pengertian gambar tahapan perencananaan dapat diambil kesimpulan bahwa seorang manajer dalam melakukan perencanaan harus ada tahapan seperti di atas agar yang apa direncanakan dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan perusahaan. Dengan adanya perencanaan manajer dapat mengambil keputusan secara benar. Karena dengan perencanaan suatu keputusan dapat diketahui tindakan apa yang akan dilakukan untuk perbaikan dimasa yang akan datang. 
b.     Manfaat dan Kelemahan Perencanaan
Menurut Kotler (1992:390) manfaat utama dari perencanaan adalah
1.      Mendorong pola berfikir ke depan yang sistematis bagi seluruh manajemen.
2.      Mengarah pada koordinasi seluruh kegiatan perusahaan yang lebih baik.
3.      Mendorong peningkatan standar prestasi untuk kepentingan pengendalian.
4.      Melatih para eksekutif dalam mempertajam formulasi tujuan dan kebijaksanaan perusahaan.
5.      membuat perusahaan lebih siap dalam menghadapi perkembangan yang tiba-tiba muncul.
6.      membuat para eksekutif memiliki rasa dan sikap yang lebih dinamis dalam mengemban tanggung jawab yang saling terkait.
Adapun menurut Handoko (1999: 81), perencanaan juga mempunyai banyak manfaat di antaranya adalah sebagai berikut:
1)      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
2)      Membantu dalam kristalisasi penyesuaian pada masalah-masalah utama.
3)      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas.
4)      Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.
5)      Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi
6)      Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi.
7)      Membuat tujuan lebih  khusus, terperinci dan lebih mudah di pahami.
8)      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti.
9)      Menghemat waktu, usaha dan dana.
Menurut Handoko (1999: 81), selain manfaat perencanaan juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain sebagai berikut:
1)      Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata.
2)      Perencanaan cenderung menunda kegiatan.
3)      Perencanaan  mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi.
4)      Kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penyelesaian situasi individu dan penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi.
5)      Ada rencana-rencana yang diikuti cara-cara yang tidak konsisten.
Dari pemaparan diatas dapat  disimpulkan   bahwa suatu perencanaan merupakan langkah awal yang harus dirancang oleh seorang pemimpin dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan. Dengan perencanaan seorang pemimpin dapat mempelajari masalah, keadaan situasi dan kondisi pada masa lampau, saat ini, serta bisa memprediksi pada masa mendatang. Dari situ sebuah perusahaan agar tidak akan pernah mengalami masalah yang pernah ada sebelumnya.

  1. Anggaran Sebagai Alat Manajemen
                     Menurut Munandar (2001:3), anggaran ialah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter  dan brlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
                     Menurut Gunawan Adisaputro dalam Haruman dan Rahayu (2007:3), anggaran adalah suatu pendekatan formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen di dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.
                     Menurut Glenn A Welsch dalam Haruman dan Rahayu (2007:3), mendefenisikan anggaran sebagai berikut:
         "comprehensive profit planning and control is defined as a systematic and formalized approach for performing significant phases of management planning, coordinating and control responsibility "
                     Dari pengertian di atas, anggaran dapat dikaitkan dengan fungsi-fungsi dasar manajemen yang meliputi fungsi perencanaan, koordinasi dan pengawasan.
                     Sedangkan manajemen menurut Welsch dan Hilton (2000:1), diartikan sebagai proses mendefinisikan tujuan perusahaan dan menerapkan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut dengan sumber daya manusia, bahan baku, dan modal secara efisien.
            Proses manajemen dapat digambarkan oleh Welsch dan Hilton (2000:1) seperti di bawah ini
        Gambar 2.2
                                                   Proses Manajemen


   UMPAN BALIK




                                   
Sumber Welsch dan Hilton (2000:1)

Dari pengertian gambar di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:
1)      Menyusun rencana untuk menjadikan sebagai pedoman kerja (planning).
2)      Menyusun struktur organisasi kerja yang merupakan pembagian wewenang dan pembagian tanggung jawab kepada para personil (karyawan) perusahaan (organizing) .
3)      Membimbing, memberi petunjuk dan mengarahkan para karyawan (directing).
4)      Menciptakan koordinasi dan kerja sama yang serasi diantara semua bagian-bagian yang ada dalam perusahaan (coordinating).
5)      Mengadakan pengawasan terhadap kerja para karyawan di dalam merealisasikan apa yang tertuang dalam rencana perusahaan yang telah ditetapkan (controling).
                     Adapun Hubungan antara anggaran dengan manajemen adalah anggaran dapat membantu manajemen dalam mengelola perusahaan. Manajemen harus mengambil keputusan-keputusan yang paling menguntungkan perusahaan, seperti memilih barang-barang atau jasa yang akan diproduksi dan dijual, memilih atau menyeleksi langganan, menentukan tingkat harga, metoda-metoda produksi, metoda-metoda distribusi, termin penjualan.
                     Dalam kaitan dan hubungan antara anggaran dan manajemen yang sangat erat dalam hal penyusunan perencanaan. Dalam hal ini anggaran bermanfaat untuk membantu manajemen meneliti, mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sebelum merencanakan kegiatan manajer mengadakan penelitian dan pengamatan-pengamatan terlebih dahulu. Kebiasaan membuat rencana-rencana akan menguntungkan semua kegiatan. Terutama kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan finansial, tingkat persediaan, fasilitas-fasilitas produksi, pembelian, pengiklanan, penjualan, pengembangan produk clan lain sebagainya.
                     Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi (kegunaan) budget yang pokok adalah sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkoordinasian kerja serta sebagai alat pengawasan kerja. Bilamana dibandingkan dengan fungsi-fungsi manajemen tersebut, nampaklah bahwa anggaran mempunyai kaitan yang sangat erat dengan manajemen, khususnya yang berhubungan dengan penyusunan rencana (planning), pengkoordinasian kerja (coordinating), dan pengawasan kerja (controling). Dengan demikian maka nampaklah bahwa anggaran adalah alat manajemen untuk membantu menjalankan fungsi-fungsinya.




  1. Anggaran Produksi
a.      Pengertian  Produksi
Menurut Putong (2005:203), yang dimaksud dengan produksi atau memproduksi adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menambah kegunaan (nilai guna) suatu barang. Dalam memproduksi dibutuhkan faktor-faktor produksi yaitu alat atau sarana untuk melakukan proses produksi. Di mana faktor-faktor produksi dalam ilmu ekonomi adalah manusia (tenaga kerja =TK), modal (uang atau alat modal seperti mesin =M), SDA (tanah =T), dan skill (teknologi= S).
Sedangkan menurut Reksohardiprodjo (2000:1), pada hakikatnya produksi itu merupakan penciptaan atau penambahan faedah bentuk, waktu, dan tempat atas faktor-faktor produksi sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.
Jadi dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan manajemen produksi adalah memproduksikan atau mengatur produksi barang-barang dan jasa-jasa dalam jumlah, kualitas, harga, waktu serta tempat tertentu sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Dalam sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Muslim
وحدثنا عبد بن حميدٍ حدثنا محمدُ بن الفضلِ لقبه عارمٌ وهو أبو النعمان السّدوس حدثنا مهديُّ بن ميمونٍ حدثنا مطرٌ الورًاق عن عطاء عن جابر ابن عبد الله قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم من كانت له أرضٌ فليزرعها أخاه
“Nabi bersabda: barang siapa yang mempunyai tanah maka tanamilah, jika tidak mampu maka supaya ditanami oleh saudaranya.” (Matan lain: Bukhori:2172, Nisa’i: 2814, Ahmad: 13751)

Dari hadits tersebut menunjukkan betapa pentingnya produksi dalam kehidupan manusia. Produksi dapat meningkatkan kesejahteraan manusia di muka bumi. Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan ekonomi diukur dengan uang, sedangkan dalam Islam (merujuk pada hadits tersebut) kesejahteraan ekonomi terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dan keikutsertaan sejumlah orang dalam proses produksi.
Di samping itu suatu anggaran sangat dibutuhkan dalam sebuah perusahaan, karena anggaran  produksi merupakan sebuah rencana perolehan dan pengkombinasian sumber daya yang dibutuhkan dalam melaksanakan operasi pemanufakturan yang memungkinkan perusahaan tersebut untuk mencapai tujuan penjualannya dan mempunyai sejumlah persediaan yang diharapkan pada akhir periode anggaran.
 Menurut Haruman dan Rahayu (2003:57) anggaran produksi adalah suatu perencanaan secara terpisah mengenai jumlah unit barang yang akan diproduksi oleh perusahaan selama periode yang akan datang, yang didalamnya meliputi rencana tentang jenis (kualitatif) barang yang akan diproduksi, jumlah (kuantitatif), serta waktu (kapan) produksi tersebut akan dilakukan.
Jadi suatu perusahaan harus melakukan penganggaran terlebih dahulu sebelum melakukan produksi agar bisa mengetahui jenis dan jumlah barang yang akan diproduksi.
b.     Manfaat Penyusunan Anggaran Produksi
Menurut Haruman dan Rahayu (2007:58), anggaran produksi merupakan suatu alat perencanaan, koordinasi dan pengendalian kegitan produksi, sehingga tujuan penyusunan anggaran produksi adalah:
1)      Menunjang kegiatan bagian penjualan, sehingga barang dapat tersedia sesuai dengan yang direncanakan
2)      Menjaga tingkat persediaan yang optimum
3)      Mengatur produksi sedemikian rupa sehingga biaya produksi menjadi minimum.
Sebenarnya dari manfaat produksi bagi seorang pengusaha/ pembisnis adalah untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang harus disiapkan terlebih dahulu sebelum mengadakan kegiatan penjualan. Disamping itu, biasanya seorang pengusaha dalam berproduksi lebih meminimalisir biaya yang akan dikeluarkan.
c.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anggaran Produksi
Menurut Haruman dan Rahayu (2007:58), perencanaan dan penjadwalan produksi adalah tugas pabrik yang menyangkut penentuan jumlah barang yang diproduksi dan penentuan waktu produksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya jumlah barang yang harus diprodukasi oleh perusahaan selama periode waktu tertentu adalah:
1)      Jumlah barang yang telah direncanakan untuk dijual, sebagaimana yang tercantum dalam anggaran penjualan
2)      Kapasitas mesin dan peralatan pabrik
3)      Tenaga kerja yang dimiliki yang terkait dengan kualitas maupun kuantitasnya
4)      Stabilitas bahan baku
5)      Modal kerja yang dimiliki
6)      Fasilitas gudang
Pada umumnya suatu penjualan dari tahun ketahun tidak selalu ajeg (tidak stabil), melainkan berubah-ubah. Bisa dilihat dalam 1 (satu) tahun, untuk 12 bulan saja selalu mengalami naik turun dalam penjualannya. Untuk menghadapi naik turunnya penjualan maka diperlukan perencanaan anggaran produksi dengan baik dan benar agar tidak terjadi pola penjualan yang bergelombang.
d.     Kebijakan Penyusunan Anggaran Produksi
Menurut Haruman dan Rahayu (2007:58), dalam pelaksanaannya pada kehidupan perusahaan sehari-hari terdapat kebijaksanaan tertentu tentang tingkat produksi dan tingkat persediaan barang. Masing-masing kebijaksanaan tersebut mengakibatkan adanya cara pendekatan yang berbeda dalam penyusunan anggaran produksi yaitu:
1.      Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi, yaitu menetapkan besarnya produksi untuk tiap-tiap waktu dengan jumlah yang tetap atau sama dengan tingkat persediaan barang yang dibiarkan mengambang.
2.      Kebijaksanaan yang mengutamakan stabilitas tingkat persediaan barang, yaitu menetapkan besarnya produksi untuk tiap-tiap waktu dengan mengusahakan jumlah persediaan yang selalu sama dengan tingkat produksi yang dibiarkan mengambang.
3.       Kebijaksanaan yang merupakan kombinasi dari kedua kebijaksanaan tersebut diatas. Menurut kebijaksanaan ini, baik tingkat produksi maupun tingkat persediaan sama-sama berfluktuasi dimana produksi tidak selalu sama dengan persediaanya, biasanya besarnya yang diproduksi disesuaikan dengan rencana penjualan.
Adapun batasan-batasannya yang harus diperhatikan manajemen dalam mengambil kebijaksanaan adalah sebagai berikut:
a)      Tingkat produksi tidak boleh berfluktuasi lebih dari 15 % diatas atau dibawah rata-rata bulanan (seperdua belas dari tingkat produksi per tahun)
b)     Tingkat persediaan tidak boleh lebih dari 10 buah  dan tidak boleh kurang dari separohnya persediaan maksimal.
c)      Untuk produksi bulan September dan Oktober boleh dikurangi 20% dari tingkat produksi normal.
Dari keterangan diatas tentang tingkat persediaan dan tingkat penjualan sama-sama berfluktuasi, meskipun tingkat produksi dengan tingkat persediaan mengalami fluktuasi akan tetapi  hasil produksi diusahakan harus tetap terjadi keseimbangan yang optimum antara tingkat penjualan, persediaan dan produksi.


e.      Langkah-Langkah dalam Menyusun Anggaran Produksi
Menurut Haruman dan Rahayu (2007:57), secara garis besar anggaran produksi disusun dengan menggunakan rumus umum sebagai berikut:
Tingkat penjualan (dari anggaran penjualan)           XXX
Tingkat persediaan akhir                                             XXX +
Tingkat kebutuhan                                                        XXX
Tingkat persediaan awal                                              XXX
Tingkat produksi                                                           XXX
Anggaran produksi merupakan dasar (basis) untuk penyusunan anggaran-anggaran lain seperti anggaran bahan mentah, anggaran tenaga kerja serta overhead pabrik.
Menurut Haruman dan Rahayu (2007:60), di samping itu dapat pula disusun langkah-langkah utama yang dilakukan dalam rangka menyusun anggaran produksi dan pelaksanaannya:
1)      Tahap perencanaan
a)      Menetukan periode waktu yang akan di pakai sebagai dasar dalam penyusunan bagian produksi
b)     Menentukan jumlah satuan fisik dari barang yang harus dihasilkan

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar