ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE

Admin
ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………….. i
HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………..iii
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………iv
HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………….v
SURAT PERNYATAAN…………………………………………………vi
KATA PENGANTAR……………………………………………………vii
DAFTAR ISI………………………………………………………………viii
DAFTAR TABEL…………………………………………………………xii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………...xiii
ABSTRAK…………………………………………………………………xiv
BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………….1
A. Latar Belakang…………………………………………...1
B. Rumusan Masalah……………………………………….5
C. Tujuan Penelitian……………………………………......6
D. Batasan Masalah…………………………………………7
E. Manfaat Penelitian………………………………………7
BAB II : KAJIAN PUSTAKA…………………………………………9
A. Penelitian Terdahulu……………………………………9
B. Kajian Teoritis…………………………………………...15
1. Kinerja Keuangan Perusahaan…………………….15
a. Pengertian Kinerja Keuangan Perusahaan…...15
b. Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan……17
c. Kinerja Keuangan Menurut Sudut Pemilik…20
d. Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan………….22
e. Kinerja Keuangan Pada Siklus Produk……..23
f. Perusahaan Manufaktur……………………...26
2. Hubungan Penjualan, Harga, Siklus Produk…..28
3. Teori Keuangan dalam Islam……………………30
4. Teori Siklus Produk………………………………36
5. Kerangka Konseptual Penelitian ……………….42
BAB III : METODE PENELITIAN……………………………....44
A. Lokasi Penelitian………………………………….44
B. Jenis dan Pendekatan Penelitian………………..44
C. Populasi dan Sample…………………………….44
D. Data dan Sumber Data…………………………...46
E. Teknik Pengumpulan Data……………………....46
F. Definisi Operasional Variable…………………...46
G. Model Analisis Data……………………………...47
BAB IV : HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN…………54
A. Gambaran Umum Perusahaan………………….54
B. Uji Asumsi Klasik………………………………...58
1. Uji Multikolinieritas………………………….58
2. Uji Autokorelasi………………………………60
3. Uji Normalitas………………………………...61
4. Estimasi Model………………………………..62
5. Uji Hipotesis…………………………………..64
a. Korelasi Berganda………………………..64
b. Uji F………………………………………..65
c. Uji t………………………………………...66
6. Implikasi Hasil Penelitian…………………..68
BAB V : PENUTUP………………………………………………71
A. KESIMPULAN……………………………………...71
B. SARAN………………………………………………72
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….73
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Perbandingan Penelitian Terdahulu ……………………………13
Tabel 2 : Ukuran Kinerja Keuangan ………………………………………20
Table 3 : Penjelasan masing-masing tahap siklus produk………………29
Table 4 : Daftar Populasi Penelitian……………………………………….45
Tabel 5 : Koefisien…………………………………………………………...59
Tabel 6 : Koefisien Korelasi………………………………………………...59
Tabel 7 : Model Summary…………………………………………………..60
Tabel 8 : Kolmogrov Smirnov Test ……………………………………….61
Tabel 9 : Koefisien …………………………………………………………..62
Tabel 10 : Estimasi Pertumbuhan Penjualan……………………………..63
Tabel 11 : Korelasi Antar Variable Untuk Semua Sample……………...64
Tabel 12 : ANOVA………………………………………………………….65
Tabel 13 : Koefisien ………………………………………………………..67
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Siklus Produk dan Penjelasan Masing-Masing Tahap…….28
Gambar 2 : Kerangka Konseptual Penelitian…………………………….43
Gambar 3 : Perkembangan Industri……. ………………………………..54



KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE PERIODE 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) S K R I P S I Oleh ALIEFIANSYAH NIM : 04610085 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE PERIODE 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) S K R I P S I Diajukan Kepada : Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Oleh ALIEFIANSYAH NIM : 04610085 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2009 LEMBAR PERSETUJUAN ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE PERIODE 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) S K R I P S I Oleh ALIEFIANSYAH NIM : 04610085 Telah Disetujui, 11 September 2009 Dosen Pembimbing, INDAH YULIANA SE.MM NIP 150327250 Mengetahui : Dekan Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 LEMBAR PENGESAHAN ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE PERIODE 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) S K R I P S I Oleh ALIEFIANSYAH NIM : 04610085 Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Syarat Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE) Pada 3 Oktober 2009 Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan 1. Ketua Drs. Agus Sucipto, MM : ( ) NIP 150327243 2. Sekretaris / Pembimbing Indah Yuliana, SE.MM : ( ) NIP 150327250 3. Penguji Utama Prof. Dr. H. Muhammad Djakfar, SH, M.Ag : ( ) NIP 150203742 Disahkan Oleh: Dekan, Drs. HA. MUHTADI RIDWAN, MA NIP 150231828 HALAMAN PERSEMBAHAN Tiada ungkapan kasih sayang yang lebih mulia selain ungkapan kasih sayang serta nasehat yang diberikan oleh kedua orang tua dalam membimbing hidup menuju suatu harapan yang didambakan yakni menjadi manusia yang dimanusiakan Rahmatan Lil’alamien Kupersembahkan Skripsi ini untuk Bapak dan Ibuku yang selalu mengiringi dengan doa dan memberikan segalanya untuk diriku. Serta kakak dan adikku yang telah mendorong dan memberikan semangat pada setiap usahaku. SURAT PERNYATAAN Yang bertandatangan di bawah ini saya : Nama : Aliefiansyah NIM : 04610085 Alamat : Jl. Kolonel Sugiono 3B/19 RT 8 RW 5 Malang Menyatakan bahwa “Skripsi” yang saya buat untuk memenuhi persyaratan kelulusan pada Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul : ANALISIS HUBUNGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PERTUMBUHAN PENJUALAN PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE PERIODE 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) Adalah hasil karya saya sendiri, bukan “Duplikasi” dari karya orang lain. Selanjutnya apabila di kemudian hari ada “Klaim” dari pihak lain, bukan menjadi tanggung jawab Dosen Pembimbing dan atau Pihak Fakultas Ekonomi, tetapi menjadi tanggungjawab saya sendiri. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan tanpa paksaan dari siapapun. Malang, 2 oktober 2009 Hormat saya, Materai 6000 Aliefiansyah KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr. wb. Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S-1) di fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan berupa pengarahan, bimbingan, dan kerja sama semua pihak yang telah turut membantu dalam proses menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2. Bapak Drs. HA. Muhtadi Ridwan, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 3. Ibu Indah Yuliana, SE, MM, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan petunjuk dan arahan sejak permulaan sampai dengan selesainya penyusunan skripsi ini. 4. Kedua orang tuaku tercinta bapak Hariyono dan ibu Lilik Indrawati, atas do’a, kasih sayang, dorongan, kepercayaan, nasehat, dan bantuan baik material maupun spiritual yang telah diberikan selama ini kepada saya. Semoga skripsi ini dapat menjadi tanda terima kasih dan bakti ananda atas segala apa yang kalian berikan demi kebaikan dan keberhasilan saya. 5. Kakak-kakakku Choirul Anam yang telah memberikan dukungan, semangat, spirit yang berlimpah selama hidupku 6. Teman-teman kampus, Tri Novi, Farida, dan Nanang C yang sudah banyak memberikan masukan-masukan buat skripsiku. 7. Serta teman yang selalu membantu awal hingga akhir penulisan skripsi ini Rieza Firdian R, Thanks Forever For You 8. Dan semua pihak yang tidak dapat ku sebutkan satu persatu yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amien Wassalamu’alaikum wr. wb. Malang, September 2009 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………….. i HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………..iii HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………iv HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………………….v SURAT PERNYATAAN…………………………………………………vi KATA PENGANTAR……………………………………………………vii DAFTAR ISI………………………………………………………………viii DAFTAR TABEL…………………………………………………………xii DAFTAR GAMBAR……………………………………………………...xiii ABSTRAK…………………………………………………………………xiv BAB I : PENDAHULUAN…………………………………………….1 A. Latar Belakang…………………………………………...1 B. Rumusan Masalah……………………………………….5 C. Tujuan Penelitian……………………………………......6 D. Batasan Masalah…………………………………………7 E. Manfaat Penelitian………………………………………7 BAB II : KAJIAN PUSTAKA…………………………………………9 A. Penelitian Terdahulu……………………………………9 B. Kajian Teoritis…………………………………………...15 1. Kinerja Keuangan Perusahaan…………………….15 a. Pengertian Kinerja Keuangan Perusahaan…...15 b. Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan……17 c. Kinerja Keuangan Menurut Sudut Pemilik…20 d. Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan………….22 e. Kinerja Keuangan Pada Siklus Produk……..23 f. Perusahaan Manufaktur……………………...26 2. Hubungan Penjualan, Harga, Siklus Produk…..28 3. Teori Keuangan dalam Islam……………………30 4. Teori Siklus Produk………………………………36 5. Kerangka Konseptual Penelitian ……………….42 BAB III : METODE PENELITIAN……………………………....44 A. Lokasi Penelitian………………………………….44 B. Jenis dan Pendekatan Penelitian………………..44 C. Populasi dan Sample…………………………….44 D. Data dan Sumber Data…………………………...46 E. Teknik Pengumpulan Data……………………....46 F. Definisi Operasional Variable…………………...46 G. Model Analisis Data……………………………...47 BAB IV : HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN…………54 A. Gambaran Umum Perusahaan………………….54 B. Uji Asumsi Klasik………………………………...58 1. Uji Multikolinieritas………………………….58 2. Uji Autokorelasi………………………………60 3. Uji Normalitas………………………………...61 4. Estimasi Model………………………………..62 5. Uji Hipotesis…………………………………..64 a. Korelasi Berganda………………………..64 b. Uji F………………………………………..65 c. Uji t………………………………………...66 6. Implikasi Hasil Penelitian…………………..68 BAB V : PENUTUP………………………………………………71 A. KESIMPULAN……………………………………...71 B. SARAN………………………………………………72 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….73 LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 1 : Perbandingan Penelitian Terdahulu ……………………………13 Tabel 2 : Ukuran Kinerja Keuangan ………………………………………20 Table 3 : Penjelasan masing-masing tahap siklus produk………………29 Table 4 : Daftar Populasi Penelitian……………………………………….45 Tabel 5 : Koefisien…………………………………………………………...59 Tabel 6 : Koefisien Korelasi………………………………………………...59 Tabel 7 : Model Summary…………………………………………………..60 Tabel 8 : Kolmogrov Smirnov Test ……………………………………….61 Tabel 9 : Koefisien …………………………………………………………..62 Tabel 10 : Estimasi Pertumbuhan Penjualan……………………………..63 Tabel 11 : Korelasi Antar Variable Untuk Semua Sample……………...64 Tabel 12 : ANOVA………………………………………………………….65 Tabel 13 : Koefisien ………………………………………………………..67 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Siklus Produk dan Penjelasan Masing-Masing Tahap…….28 Gambar 2 : Kerangka Konseptual Penelitian…………………………….43 Gambar 3 : Perkembangan Industri……. ………………………………..54 ABSTRAK Aliefiansyah , 2009 SKRIPSI. Judul: “Analisis Hubungan Kinerja Keuangan dengan Pertumbuhan Penjualan Perusahaan Food and Beverage Periode 2004-2008 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia)” Pembimbing : Indah Yuliana SE, MM Kata Kunci :Kinerja Keuangan, Pertumbuhan Penjualan, Perusahaan Food and Beverage Setiap produk penjualan akan melalui suatu siklus produk yang berdasarkan volume penjualan dan laba yang dihasilkan. Perilaku aliran kas pada masing-masing perusahaan akan berbeda, sehingga kinerja keuangan pada masing-masing perusahaan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan Food and Beverage di Bursa Efek Indonesia. Dengan sample 17 perusahaan dari 17 populasi yang ada. Sedangkan variabel yang digunakan adalah Price Earning Ratio, Dividen Payout Ratio, Price Book Value Ratio, Profit dan Sales Growth. Pengujian ini dilakukan menggunakan analisis korelasi berganda dengan mempertimbangkan uji F dan uji t, serta mempertimbangkan asumsi klasik yaitu autokorelasi, multikolinieritasdan normalitas. Dari hasil analisis korelasi berganda diketahui bahwa terdapat hubungan secara signifikan antara indikator kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan. Sedangkan dari hasil uji F dan uji t diketahui bahwa terdapat hubungan dan pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen. Adapun indikator yang paling dominan mempunyai hubungan dengan pertumbuhan penjualan adalah indikator Profit (laba), hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,855 pada tingkat signifikan α=0,01 dan mempunyai tanda yang menunjukkan arah positif yang berarti Profit (laba) mempunyai hubungan yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. ABSTRACT Aliefiansyah, 2009 SKRIPSI. Title: "An Analysis of the Relationship between Financial Performance and Sale Growth at Food and Beverage Company at 2004-2008 Period (A Study in PT. Stock Exchange Indonesia)" Advisor : Indah Yuliana SE, MM Keywords : Financial Performance, Sale Growth, Food and Beverage Company Each sale result will be through a product cycle based on sales volume and profit generated. The behavior of cash flow in each company is different, so the financial performance of each company is different, too. This study aims to determine and analyze the relationship between the financial performance and sale growth at Food and Beverage at the Indonesia Stock Exchange. This study has a sample consisting 17 companies taken from the population. The variables used are the Price Earning Ratio, Dividend Payout Ratio, Price Book Value Ratio, Profit and Sale Growth. The test used for doing correlation analysis are the F test and t test, and considering the classic assumption autocorrelation, multicolinierity and normality. From the results of the correlation analysis, it is found that there is a significant relationship between indicators of financial performance and sales growth. The results of F test and t test show that there is a relationship and significant influence of independent variables on the dependent variable. The most dominant indicator has a relationship with sales growth is an indicator of profit (earnings), it is shown by the coefficient value of 0.855 at significant level a = 0.01 and a mark indicating a positive direction which means Profit (earnings) have a positive relationship and significant sales growth. المستخلص ة و 􀑧 الي وتنمي 􀑧 ة الأداء الم 􀑧 ل علاق 􀑧 وان : "تحلي 􀑧 أليفينشة 2009 البحث الجامعي العن ة 􀑧 ي البورص 􀑧 2008 (دراسات ف – الشراء في الشرآة الغذ ائية سنة 2004 المالية الاندونيسيا)”. 9 المشرفة : إينداه يوليانا الماجستيره شروبات 􀑧􀑧 ة والم 􀑧􀑧 و ، والأغذي 􀑧􀑧 ات والنم 􀑧􀑧 الي ، والمبيع 􀑧􀑧 سية : الأداء الم 􀑧􀑧 ات الرئي 􀑧􀑧 الكلم الشرآة ات 􀑧 م المبيع 􀑧 اس حج 􀑧 ى أس 􀑧 تج عل 􀑧 آل مبيعات المنتجات سيتم خلال دورة المن ذلك 􀑧 ة، ل 􀑧 رآات مختلف 􀑧 ن ش 􀑧 رآة م 􀑧 ل ش 􀑧 ي آ 􀑧 دي ف 􀑧 والأرباح الناتجة . سلوك التدفق ا لنق د 􀑧􀑧 ى تحدي 􀑧􀑧 دف إل 􀑧􀑧 ة ته 􀑧􀑧 ذه الدراس 􀑧􀑧 ضا، ه 􀑧􀑧 ف أي 􀑧􀑧 و مختل 􀑧􀑧 رآة ه 􀑧􀑧 ل ش 􀑧􀑧 الي لك 􀑧􀑧 إن الأداء الم 􀑧􀑧 ف شروبات 􀑧 ة والم 􀑧 ي الأغذي 􀑧 شرآة ف 􀑧 ات ال 􀑧 و مبيع 􀑧 وتحليل الأداء المالي والعلاقة مع نم ين أن 􀑧 ي ح 􀑧 سكان . ف 􀑧 رآة 17 ال 􀑧 ن 17 ش 􀑧 ة م 􀑧 ع عين 􀑧 ة . م 􀑧 لأوراق المالي 􀑧 في اندونيسيا ل سعر 􀑧􀑧 سبة ال 􀑧􀑧 نوية ، ن 􀑧􀑧 اح س 􀑧􀑧 ع أرب 􀑧􀑧 ة، توزي 􀑧􀑧 سعر الربحي 􀑧􀑧 و ال 􀑧􀑧 ستخدمة ه 􀑧􀑧 رات الم 􀑧􀑧 المتغي للقيمة الدفترية والأرباح ونمو المبيعات ة 􀑧􀑧􀑧 ي التجرب 􀑧􀑧􀑧 ر ف 􀑧􀑧􀑧 لال النظ 􀑧􀑧􀑧 ن خ 􀑧􀑧􀑧 اط م 􀑧􀑧􀑧 ل الارتب 􀑧􀑧􀑧 ار تحلي 􀑧􀑧􀑧 ذا الاختب 􀑧􀑧􀑧 رى ه 􀑧􀑧􀑧 ويج و multikolinieritas وهو klasik والاختبار ر واو، والنظر في افتراض normalitas و autokorelasi رات 􀑧􀑧 ين مؤش 􀑧􀑧 رة ب 􀑧􀑧 ة آبي 􀑧􀑧 اك علاق 􀑧􀑧 أن هن 􀑧􀑧 ا ب 􀑧􀑧 اط ، علم 􀑧􀑧 ل الارتب 􀑧􀑧 ائج تحلي 􀑧􀑧 ن نت 􀑧􀑧 م ظ أن 􀑧􀑧 ار نلاح 􀑧􀑧 ار واو ور اختب 􀑧􀑧 ائج اختب 􀑧􀑧 ين أن نت 􀑧􀑧 ي ح 􀑧􀑧 ع ف 􀑧􀑧 و البي 􀑧􀑧 ع نم 􀑧􀑧 الي م 􀑧􀑧 الأداء الم رز 􀑧 ر الأب 􀑧 ابع . المؤش 􀑧 ر الت 􀑧 ستقلة والمتغي 􀑧 هناك علاقة وتأثير آبير من المتغيرات الم ة 􀑧􀑧 ن قيم 􀑧􀑧 ضح م 􀑧􀑧 ه يت 􀑧􀑧 ربح) ، فإن 􀑧􀑧 ربح (ال 􀑧􀑧 ر لل 􀑧􀑧 ي مؤش 􀑧􀑧 ات ه 􀑧􀑧 و المبيع 􀑧􀑧 ع نم 􀑧􀑧 ة م 􀑧􀑧 ه علاق 􀑧􀑧 لدي ابي 􀑧 اه إيج 􀑧 ى اتج 􀑧 0،01 وعلامة تشير إل = α معامل 0,855 آبيرة على المستوى وهو ما يعني الربح (أرباح) لها علاقة إيجابية وهاما في نمو المبيعات. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dewasa ini, perkembangan pasar modal Indonesia semakin pesat, dimana semakin banyak pihak, baik kalangan pengusaha, investor, kreditor, pemasok, pemerintah, ataupun masyarakat mulai tertarik untuk berinvestasi dalam saham. Hal tersebut mendorong pebisnis Indonesia yang perusahaannya tergabung dalam Bursa Efek Indonesia untuk senantiasa mengoptimalkan penciptaan nilai bagi para pemegang saham. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan pertumbuhan perusahaannya, baik pertumbuhan pada pendapatan, maupun penjualan. Hal tersebut didasarkan pada anggapan umum bahwa pertumbuhan adalah seiring dengan penciptaan nilai pemegang saham. Pada umumnya, produk yang dianggap paling sukses adalah produk yang mengalami siklus kehidupan produk (product life cycle) lebih panjang dengan tahap-tahap tertentu. Susanto (2003:71) menyatakan bahwa terdapat empat tahap siklus kehidupan yang umum terjadi. Tahap-tahap dimaksud adalah tahap perkenalan (Introduction stage), tahap pertumbuhan/ekspansi (Growth stage), tahap kedewasaan (Maturity stage) dan tahap penurunan (Decline stage). Pada tahap awal, kebijakan dan strategi yang ditempuh perusahaan adalah promosi yang agresif. Hal ini dilakukan untuk memperkenalkan atau mendorong calon pembeli untuk mencoba produknya. Dengan meningkatnya penjualan selama tahap pertumbuhan, titik beratnya beralih kepada usaha untuk membuka saluran distribusi baru. Jika produk tersebut sudah mencapai tahap kedewasaan, persaingan menjadi ketat dan manajer pemasaran lebih menekankan pada masalah harga untuk menarik perhatian pembeli pada produk perusahaan. Produk-produk pada tahap kemunduran perlu didesain kembali sehingga tetap dapat memberikan kontribusi pada perusahaan. Jika produk-produk tersebut sudah tidak menguntungkan lagi, perusahaan harus memutuskan apakah akan terus mempertahankan produk meskipun rugi atau meninggalkan produk tersebut dan menggantikan dengan produk lain yang lebih menguntungkan. Setiap produk akan melalui suatu siklus kehidupan yang didasarkan pada fakta yang dapat dilihat. Yaitu volume penjualan dan laba dari produk-produk tertentu. Tahapan yang dihadapi oleh masing-masing perusahaan tidak harus sama kapan akan dialami dan berapa lama masing-masing tahap tersebut akan dijalani. Misalnya untuk barang mode biasanya memiliki siklus yang lebih pendek daripada barang-barang lain seperti makanan olahan dan peralatan. Panjangnya waktu pada masing-masing tahap juga dapat berbeda-beda, tergantung pada faktor-faktor tingkat pangakuan/penerimaan pembeli dan jumlah pesaing baru. Perilaku aliran kas pada masing-masing tahap siklus kehidupan produk cenderung tidak sama. Demikian juga halnya risiko yang dihadapi. Walaupun demikian, khusus untuk perusahaan yang sudah tumbuh dan berkembang serta dewasa (mapan) pola aliran kas dan juga resiko relative lebih mudah diprediksi. Aliran kas perusahaan dalam tahap atau siklus ini menjadi besar dibandingkan nilai perusahaan dan risiko yang dihadapi mendekati rata-rata risiko perusahaan-perusahaan lain. Baik dan tidaknya pola dan kestabilan aliran kas akan sangat menentukan dalam pemenuhan dana investasi atau proyek baru. Apakah kebutuhan dana tersebut dipenuhi dari dalam (internal) atau dari luar (external) akan sangat ditentukan oleh kemapanan aliran kas. Seharusnya setiap perusahaan secara rutin melakukan analisis dengan membuat perbandingan dari data keuangan perusahaan dari waktu ke waktu untuk meneliti arah pergerakannya. Dengan demikian perusahaan akan dapat mengetahui perbedaan kinerja keuangan dari tahun-tahun dengan tujuan agar perusahaan lebih mapan dalam melaksanakan kegiatan operasional baik dalam masalah pendanaan maupun dalam penerapan strategi terhadap jenis-jenis produk yang ada di pasar, sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian dalam melewati tahap-tahap dalam siklus kehidupan baik tahap yang dijalani saat itu maupun yang masih akan dilalui. Menurut Helfert (1997:67) penilaian kinerja keuangan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang salah satunya adalah dari sudut pandang pemilik perusahaan yaitu investor. Kinerja keuangan dapat diukur pada tingkat profitabilitas, market value, dividen payout ratio, price book value ratio, dan price earning ratio, karena daya tarik utama bagi pemilik perusahaan adalah profitabilitas yaitu hasil yang diperoleh melalui usaha manajemen atas dana yang diinvestasikan, selain itu pemilik juga tertarik dengan pembagian laba yang menjadi haknya yaitu seberapa banyak yang diinvestasikan kembali dan seberapa banyak yang dibayarkan sebagai deviden kepada mereka dan pemilik juga berkepentingan dengan dampak hasil perusahaan terhadap nilai pasar investasi mereka, khususnya jika saham dijual kepada umum. Pendapat tentang manfaat pemahaman siklus hidup produk juga dinyatakan oleh Gup dan Agrrawal (1996:43) yang menyebutkan bahwa siklus hidup produk adalah sebuah alat teoritis yang dapat mengungkapkan perilaku keuangan perusahaan, termasuk pertumbuhan, risiko dan return. Menindaklanjuti penelitian Gup dan Agrrawal maka Fety (2004) melakukan penelitian pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan pada kinerja keuangan perusahaan antar tahapan dalam siklus kehidupan produk perusahaan manufaktur. Sehingga di rasa perlu untuk melakukan penelitian kembali pada perusahaan yang seragam yaitu perusahaan food and beverage yang sama-sama menghasilkan suatu produk dimana produk memiliki umur yang terbatas. Dipilih foods dan beverages karena industri tersebut cenderung intensif modal guna pengembangan produk dan ekspansi pangsa pasarnya. Selain itu tingkat konsumsi masyarakat terhadap barang yang dihasilkan dalam industri tersebut sudah menjadi kebutuhan relatif tidak berubah baik kondisi perekonomian membaik maupun memburuk. Hal tersebut berbeda dengan kondisi pada industri lain, misalnya : industri Dasar dan Kimia. Pola konsumsi masyarakat terhadap barang yang dihasilkan dalam industri ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian. Sehingga pada penelitian ini diambil judul “Analisis Hubungan Kinerja Keuangan dengan Pertumbuhan Penjualan Perusahaan food and beverage Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008” B. RUMUSAN MASALAH Dengan menganalisis kinerja keuangan pada tiap tahap siklus kehidupan produk melalui pertumbuhan penjualan maka perusahaan dapat mengetahui pengaruh kinerja keuangannya dengan tujuan agar perusahaan dapat menetapkan strategi yang tepat sehingga tidak mengalami kerugian dalam melewati tiap tahap siklus kehidupan produk. Berdasarkan hal tersebut dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Apakah terdapat hubungan antara kinerja keuangan perusahaan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008? 2. Di antara indicator kinerja keuangan mana yang berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008? C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: 1. Untuk menganalisis hubungan antara kinerja keuangan perusahaan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008. 2. Untuk mengetahui indikator kinerja keuangan yang dominan terhadap pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008 D. BATASAN MASALAH Dalam penelitian ini penulis memberikan batasan sebagai berikut: 1. Indicator kinerja keuangan yang digunakan berdasarkan Teori Helfert yaitu Deviden Payout Ratio (DPR), Price Earning Ratio, Price Book Value Ratio, Dan Profi (Net Income)t. Untuk mengukur faktor-faktor tersebut dengan menganalisis rasio keuangan perusahaan sehingga akan dapat diketahui kinerja dan prospek perusahaan di masa yang akan datang. 2. Periode pengamatan yang dipilih adalah 2004-2008 E. MANFAAT PENELITIAN Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1. Bagi Mahasiswa Sebagai sarana mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh penulis selama mengikuti perkuliahan manajemen keuangan, manajemen pemasaran dan manajemen strategi. 2. Bagi Investor Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi saham yang menguntungkan. 3. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan kebijakan manajemen yang akan datang dalam hal pendanaan dan penetapan strategi. 4. Bagi Pihak Lain Sebagai salah satu referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan manajemen keuangan dan manajemen pemasaran. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisis kehidupan produk dan kinerja keuangan perusahaan. Beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian tersebut antara lain: Gup dan Agrrawal (1996) Gup dan Agrrawaal melakukan penelitian tentang siklus kehidupan produk dengan menggunakan sampel 981 perusahaan Amerika yang datanya diambil dari Campustat Database selama tahun 1987-1992. Variabel-variabel yang digunakan adalah karakteristik keuangan yang diambil dari laporan keuangan perusahaan yang meliputi pertumbuhan penjualan, penjualan, nilai pasar, return pasar, beta, rasio harga saham terhadap nilai buku (price book value), dan rasio pembayaran deviden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik keuangan perusahaan yang menjadi variable penelitian merubah arah siklus kehidupan produknya dikarenakan perbedaan dalam strategi perusahaan yang mengakibatkan kebijakan keuangan yang berbeda antara satu siklus dan siklus kehidupan produk lainnya. Dalam penelitian tersebut Gup dan Agrrawal juga menemukan bahwa terdapat perbedaaan kinerja keuangan perusahaan pada tiap tahap siklus kehidupan produk. Fety Nurmayanti (2004) Fety melakukan “Analisis hubungan dan perbedaan kinerja keuangan pada tiap-tiap tahap siklus kehidupan produk perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa tidak ada hubungan antar kinerja keuangan yang konsisten pada tiap-tiap siklus kehidupan produk dan juga tidak adanya temuan analisis korelasi antara variable keuangan yang dianalisis menunjukkan bahwa perilaku kinerja keuangan pada masing-masing siklus kehidupan produk memang berbeda sehingga perusahaan memerlukan strategi keuangan yang berbeda pada tiap tahap siklus kehidupannya. Ardi Hamzah (2005) Dalam penelitiannya yang berjudul “Aِnalisis rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, solvabilitas dan Investment Opportunity Set dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ”, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas terhadap Investment Opportunity Set (IOS) dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ. Hasil pengujian dengan regresi berganda antara variabel-variabel independent berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas terhadap variable dependen berupa investment opportunity set (IOS) berpengaruh secara signifikan pada tahap pendirian (Start-up) dan ekspansi awal (Initial Expansion), sedangkan pada tahap ekspansi akhir (Final Expansion), kedewasaan (Mature), dan Decline tidak berpengaruh secara signifikan. Untuk pengujian regresi secara parsial pada tahap pendirian hanya rasio aktivitas dan solvabilitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS, sedangkan pada tahap ekspansi awal hanya rasio aktivitas yang berpengaruh secara signifikan pada IOS. Pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan decline tidak ada satu pun rasio keuangan dalam penelitian ini yang berpengaruh secara signifikan terhadap IOS. Dengan adanya hal itu, maka rasio-rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat analisis perusahaan manufaktur yang dijadikan sample penelitian ini pada tahap pendirian dan ekspansi awal, tetapi tidak pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan, dan decline Hadori Yunus (2007) Pada tahun 2007 Hadori Yunus melakukan penelitian tentang “Pengaruh Penjualan dan Pendapatan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Industri Manufaktur di Jawa Barat” pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan variabel tak bebas yang digunakan sebagai pengukuran terhadap kinerja keuangan perusahaan adalah variabel EVA, sedangkan variabel bebas yang digunakan adalah penjualan dan pendapatan. Dalam penelitiannya. Hadori Yunus, meneliti seberapa besar pengaruh dan perbedaan pengaruh tingkat penjualan dan pendapatan perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan-perusahaan terbuka yang bergerak pada industri manufaktur setiap tahunnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap kenaikan penjualan, maka nilai EVA akan berkurang. Tetapi untuk setiap kenaikan pendapatan, maka nilai EVA akan meningkat. Hal ini membuktikan bahwa variabel penjualan dan variabel pendapatan sama-sama sangat berpengaruh dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan. Dari tinjauan penelitian terdahulu diatas, maka dibawah ini peneliti menyusun perbandingan antara penelitian tersebut yang ditunjukkan pada tabel 1 di bawah ini: Table 1 Perbandingan Penelitian Terdahulu No. Peneliti (Tahun) Judul Rumusan Masalah Variable & Indikator Alat Analisis Metode Pengumpulan Data Populasi / Sampel Hasil 1. Gup danAgrawaal (1996) The Product Life Cycle: A Paradigm for Understanding Apakah terdapat perbedaaan kinerja keuangan perusahaan pada tiap-tiap tahap siklus kehidupan produk? Pertumbuhan penjualan, penjualan, nilai pasar, return pasar, beta, rasio harga saham, rasio pembayaran deviden Analisis regresi dan beda rata-rata Pengumpulan data dengan cara mencatat dari laporan keuangan perusahaan yang terdapat Campustat Database Perusahaan public diAmerika Terdapat perbedaaan kinerja keuangan perusahaan pada tiap-tiap tahap siklus kehidupan produk 2. ArdiHamzah (2005) Aِnalisis rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, solvabilitas dan investment opportunity set dalam tahapan siklus kehidupan Apakah rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas berpengaruh terhadap investment opportunity set (IOS) dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ pada periode 2001 – 2005. Rasio Likuiditas, Profitabilitas, aktivitas, dan Solvabilitas serta Investement Opportunity Set (IOS) Analisis Deskriptif dan Analisis Regresi. Pengumpulan data dengan cara mencatat dari laporan keuangan perusahaan yang terdapat di BEJ, Indonesian Capital Market Directory (ICMD), Pusat Pasar Modal PPA UGM Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ Variable dependent berupa rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan solvabilitas berpengaruh secara signifikan terhadap variable dependent berupa investment opportunity set (IOS) pada tahap pengenalan dan ekspansi awal sedang pada tahap ekspansi akhir, kedewasaan dan penurunan tidak berpengaruh No. Peneliti (Tahun) Judul Rumusan Masalah Variable & Indikator Alat Analisis Metode Pengumpulan Data Populasi / Sampel Hasil 3. Fety Nurmayanti (2004) Analisis hubungan dan perbedaan kinerja keuangan pada tiap-tiap tahap siklus kehidupan produk Apakah terdapat hubungan dan perbedaan ukuran kinerja keuangan pada masing-masing tahap siklus produk? Market value, Devident payout ratio, PER, Price book value ratio, Profit Korelasi pearson dan Analisis beda rata-rata Studi lapang dengan teknik dokumentasi, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan cara mencatat dari laporan keuangan perusahaan Perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta Tidak ada hubungan dan perbedaan antar kinerja keuangan yang konsisten pada tiap-tiap siklus kehidupan produk 4 Dr. Hadori Yunus, Ak (2007) Pengaruh penjualan dan pendapatanterhadap kinerja Seberapa besar pengaruh dan perbedaan tingkat penjualan dan tingkat pendapatan terhadap perusahaan terhadap kinerja keuangan perusahaan-perusahaan terbuka yang bergerak pada industri manufaktur setiap tahunnya Keuangan perusahaan industri manufaktur di jawa barat EVA (Economic Value Added), Penjualan dan Pendapatan perusahaan Analisis Regresi Linier Data mengenai laporan keuangan perusahaan tersebut diambil dari software JSXCIFTA, serta kumpulan data yang tersedia pada Kantor Pusat Data Pasar Modal Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ Setiap kenaikan penjualan maka nilai EVA akan berkurang. Namun setiap kenaikan pendapatan, nilai EVA akan meningkat. Hal ini membuktikan bahwa variabel penjualan dan variabel pendapatan sama-sama sangat berpengaruh dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan 5. Aliefinsyah (2009) Analisis hubungan kinerja keuangandengan pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage periode 2004-2008 Apakah terdapat hubungan kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage? Indicator kinerja keuangan apa yang paling dominan terhadap pertumbuhan penjualan? Devident payout ratio, PER, Price book value ratio, Profit Analisis korelasi berganda studi lapang dengan teknik dokumentasi, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan cara mencatat dari laporan keuangan perusahaan Perusahaan Food And Beverage di BEI Terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan dan variabel profit yang dominan mempunyai hubungan dengan pertumbuhan penjualan Dari tabel perbandingan di atas dapat diambil suatu kesimpulan mengenai persamaan dan perbedaan antara para peneliti sebagai berikut: Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Gup dan Agrawaal Fety Nurmayanti, Ardi Hamzah serta Hadori Yunus dapat diketahui dari permasalahan yang mereka bahas yaitu tentang siklus kehidupan produk, pendapatan, pertumbuhan penjualan dan kinerja keuangan pada perusahaan yang go public. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terdapat pada populasi atau sample yang digunakan oleh para peneliti. Di mana para peneliti terdahulu menggunakan populasi atau sample dalam lingkup global atau luas serta tidak ada keseragaman karakteristik perusahaan. Sedangkan pada penelitian ini populasi atau sample yang digunakan lebih spesifik dan memiliki karakteristik yang seragam yaitu perusahaan makanan dan minuman (food and beverage). B. Kajian Teoritis 1. Kinerja Keuangan Perusahaan a. Pengertian Kinerja Keuangan Perusahaan Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan dimanapun, karena kinerja merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber dayanya. Selain itu tujuan penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran. Helfert (1997:67) mengemukakan bahwa yang dimaksud kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat secara terus menerus oleh manajer perusahaan, oleh karena itu untuk menilai kinerja perusahaan perlu dilibatkan analisis dampak keuangan kumulatif dan ekonomi serta mempertimbangkan dengan menggunakan ukuran komparatif. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI, 1996) kinerja keuangan perusahaan dapat diukur dengan menganalisis dan mengevaluasi laporan keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan dimasa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai seperti pembayaran deviden, upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo. Dalam PSAK No. 1 paragraf 17 disebutkan bahwa informasi kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan utuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan. Informasi fluktuasi kinerja adalah penting dalam hubungan ini, informasi kinerja bermanfaat untuk memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan arus kas dari sumber daya yang ada. Disamping itu, informasi tersebut juga berguna dalam perumusan pertimbangan tentang efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada. b. Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Menurut Helfert (1994:67) terdapat berbagai teknik analisis keuangan yang dapat dipergunakan untuk melakukan penilaian kinerja keuangan sebuah perusahaan, salah satunya adalah rasio keuangan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa teknik yang berbeda akan sesuai untuk tujuan yang berbeda, untuk itu sebelum suatu analisis dilakukan, analisis harus mendefinisikan secara jelas unsur-unsur berikut ini: - Sudut pandang yang diambil - Tujuan analisis - Standar perbandingan yang potensial Berdasarkan sudut pandang yang diambil terdapat beberapa individu dan kelompok yang berbeda dan berkepentingan atas keberhasilan dan kegagalan suatu perusahaan tertentu. Beberapa kelompok paling utama adalah: - Pemilik (Investor) - Manajer - Pemberi pinjaman (kreditur) - Karyawan - Organisasi pekerja - Agen pemerintah - Masyarakat umum (public) Pihak yang paling dekat dengan perusahaan dari sudut pandang sehari-hari dan juga yang bertanggungjawab atas kinerja perusahaan adalah pihak manajemen, dimana manajer bertanggung jawab atas efisiensi operasi profitabilitas jangka pendek dan panjang, serta penggunaan yang efektif atas modal, upaya manusia dan sumber daya lainnya, karena manajemen mempunyai kepentingan ganda dalam analisis kinerja keuangan. Yang pertama menilai efisiensi dan profitabilitas operasi dan yang kedua adalah menimbang seberapa efektif penggunaaan sumber daya perusahaan. Menurut Lukman (1985:59) pengukuran terhadap profitabilitas di mana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total aktiva dan modal sendiri. Secara keseluruhan ketiga pengukuran ini akan memungkinkan seorang penganalisa untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya dengan volume penjualan, jumlah aktiva dan investasi tertentu dari pemilik perusahaan. Selanjutnya adalah pemilik perusahaan, khususnya yang berkepentingan dengan profitabilitas jangka pendek dan jangka panjang dari investasi modal yang mereka tanamkan. Mereka biasanya mengharapkan laba dan deviden yang meningkat, yang akan membawa pertumbuhan pada nilai ekonomi dari modal mereka. Berikutnya adalah pemberi pinjaman dan kreditur yang memberikan dana bagi perusahaan untuk berbagai jangka waktu yang berbeda. Mereka berkepentingan dengan kemampuan membayar bunga yang jatuh tempo, kemampuan perusahaan untuk membayar kembali pokok pinjaman dan ketersediaan nilai aktiva residual tertentu yang memberikan margin perlindungan terhadap resiko. Adapun ukuran kinerja keuangannya dapat dilihat pada table 2 di bawah ini : Tabel 2 Ukuran Kinerja Keuangan Menurut Sudut Pandang Manajemen, Pemilik dan Pemberi Pinjaman Manajemen Pemilik Pemberi Pinjaman Analisis Operasional Margin kotor Margin laba Analisis beban operasi Analisis kontribusi Leverage operasi Analisis komparatif Manajemen sumber daya Perputaran aktiva Manajemen modal kerja Efektifitas sumber daya manusia Profitabilitas Pengembalian atas aktiva Pengembalian sebelum bunga dan pajak Pengembalian atas dasr nilai berjalan Ekonomi proyek investasi Arus kas Pegembalian investasi Profitabilitas Pengembalian atas total kekayaan bersih Pengembalian atas ekuitas Laba per saham Arus kas per saham Apreisiasi harga saham Total pengembalian pemegang saham Analisis nilai pemegang saham Disposisi laba Dividen persaham Hasil dividen Pembayaran Kembali/penahanan Laba Cakupan deviden Deviden atas aktiva Indicator pasar Rasio harga/laba Perbaikan arus kas Nilai pasar terhadap nilai buku Pergerakan harga relatif Likuiditas Rasio lancar Rasio cepat Nilai penjualan cepat Pola arus kas Leverage keuangan Hutang terhadap aktiva Hutang terhadap kapitalisasi Hutang terhadap ekuitas Trade off resiko/imbalan Debt service Cakupan bunga Cakupan bunga dan pokok Analisis arus kas Sumber : Helfert (1997:69) c. Kinerja Keuangan Menurut Sudut Pandang Pemilik Ukuran kinerja keuangan menurut sudut pandang pemilik (Investor) menurut Helfert (1997:69) dapat dianalisis menggunakan beberapa rasio antara lain: 1. Deviden Payout Ratio (DPR) Suatu rasio yang biasanya digunakan dalam hubungannya dengan kebijakan deviden disebut deviden payout ratio (rasio pembayaran) yang merupakan proporsi laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk tunai dalam tahun tertentu. Rasio pembayaran (DPR) = Deviden tunai per saham Laba per saham Sumber : Helfert (1994:92) 2. Price Book Value Ratio (PBVR) Price book value ratio atau rasio nilai harga pasar terhadap nilai buku mengindikasikan bagaimana investor menilai suatu perusahaan. PBV = Harga pasar saham Nilai buku Sumber : Helfert (1994:94) Perusahaan yang tingkat pengembalian atas ekuitasnya relative tinggi biasanya menjual sahamnya dengan penggendaan nilai buku yang rendah. 3. Price Earning Ratio (PER) Price earning ratio adalah rasio harga per saham terhadap laba per saham. Rasio ini menunjukkan berapa rupiah yang harus dibayar investor untuk setiap rupiah laba periode berjalan. PER = Harga per saham EPS Sumber : Helfert (1994:93) d. Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan Menurut S. Munawir (2001:31) tujuan dari penilaian kinerja keuangan perusahaan adalah: 1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang harus segera dipenuhi atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih. 2. Untuk mengetahui solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangan jangka pendek dan jangka panjang. 3. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. 4. Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan usaha dengan stabil yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang-hutangnya termasuk membayar kembali pokok hutang tepat pada waktunya serta kemampuan membayar deviden secara teratur kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan. Bagi pihak manajemen perusahaan tujuan penilaian kinerja dapat digunakan untuk: 1. Memberikan dorongan dan motivasi kepada manajer puncak dalam menentukan kebijaksanaan perusahaan yang telah ditetapkan. 2. Sebagai penilaian terhadap mutu perusahaan dimana dana yang dipunyai diinvestasikan. 3. Sebagai penentu langkah selanjutnya dalam menginvestasikan dananya pada perusahaan yang lainnya. Dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja perusahaan berguna untuk mengevaluasi adanya perubahan-perubahan sumber daya yang dimiliki perusahaan, apakah menunjukkan kenaikan, statis ataukah penurunan. Selanjutnya dengan informasi mengenai perubahan yang terjadi, manajer dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan perusahaan yang dikelolanya, kelebihan perusahaan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, sedangkan kelemahannya harus segera diperbaiki agar kelangsungan hidup perusahaan dapat terjamin. e. Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Tiap Tahap Siklus Kehidupan Produk Beberapa kinerja keuangan perusahaan pada tiap tahap siklus kehidupan produk, antara lain: 1. Pertumbuhan Laba Porter (1980:161) menyatakan bahwa perusahaan berada pada tahap pertumbuhan mempunyai margin dan profit serta pertumbuhan penjualan yang relative lebih tinggi dibanding pada tahap kematangan dan tahap penurunan. Menurut Hambirk dalam Novaliya S.M (2005:14) kondisi pioneer yang selalu berusaha untuk menciptakan produk baru yang berbeda dengan produk-produk yang sudah ada, sehingga dengan adanya perbedaan tersebut calon konsumen menjadi tertarik untuk membeli. Kompetisi yang ada dipasar untuk produk baru masih belum ketat sehingga perusahaan bisa menawarkan produk dengan harga yang relative tinggi. Konsumen akan menerima harga yang ditawarkan oleh produsen karena pengetahuan mereka tentang produk masih kurang dan sensitivitas mereka terhadap harga masih rendah (Dess dan Lumpkin, 2003:180). 2. Price Earning Ratio (PER) Salah satu pengukuran kinerja keuangan adalah PER (price earning ratio) menunjukkan rasio dari harga saham terhadap laba perusahaan. Nilai PER dipengaruhi oleh tiga factor, yaitu devidend payout yang mencerminkan kebijakan deviden, tingkat pertumbuhan yang mencerminkan prospek perusahaan dalam pertumbuhan EPS-nya dan tingkat risiko. Umumnya perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan tinggi memiliki PER yang besar dan sebaliknya yang memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah memiliki PER yang kecil (Suad Husnan, 1994:279). Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah dalam siklus hidup industri pada tahap kematangan dan penurunan. Sedangkan perusahaan yang tingkat pertumbuhannya tinggi berada pada tahap petumbuhan. Resmi (2002) dalam Novaliya S.M. (2005:15) menyatakan bahwa pertumbuhan laba yang tinggi akan mengakibatkan nilai PER menjadi tinggi pula. Kisor dan Whitbeck dalam Anugerah (2001:16) juga menemukan bahwa PER berkorelasi positif dengan tingkat pertumbuhan. Dengan demkian perusahaan akan memiliki PER yang tinggi. Namun dari hasil penelitian Manurung (1997) dalam Anugerah (2001:16) menunjukkan bahwa PER perusahaan manufaktur go public yang ada di Indonesia berkorelasi negative terhadap pertumbuhannya. Hal tersebut berarti bahwa perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi akan memiliki PER yang kecil sedangkan perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah akan memiliki PER yang besar. Kondisi tersebut terjadi karena perusahaan yang tumbuh cenderung memiliki kebijakan deviden yang lebih kecil dari pada perusahaan yang tidak tumbuh. 3. Devident Payout Ratio (DPR) Kebanyakan dewan direktur cenderung memilih membayar deviden per saham yang cukup stabil dan penyesuaian hanya dilakukan secara bertahap, karenanya deviden payout ratio mungkin sangat berfluktuasi dalam jangka pendek sebagai tanggapan terhadap kinerja laba. Suatu perusahaan yang tumbuh cepat cenderung membayar proporsi laba yang relative rendah karena mereka memilih menginvestasikan kembali laba untuk mendukung pertumbuhan yang menguntungkan, sedangkan pada perusahaan yang stabil atau pertumbuhannya sedang-sedang saja cenderung membayar proporsi yang lebih besar (Helfert,1997:92). Perusahaan pada tahap pertumbuhan akan mempunyai deviden payout ratio yang rendah karena perusahaan pada tahap ini memerlukan pendanaan eksternal untuk membiayai ekspansinya, sedangkan pada tahap kematangan proporsi laba yang dibagikan sebagai deviden (deviden payout ratio) lebih besar daripada tahap pertumbuhan sebab pada tahap kematangan produksi sudah dalam jumlah yang cukup besar untuk memenuhi permintaan pasar sehingga laba yang diperoleh cukup untuk membiayai pertumbuhan usaha (Suad Husnan, 2001:330). f. Perusahaan Manufaktur Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang menghasilkan barang, dimana Daft (2002:304) mengatakan bahwa ciri-ciri perusahaan manufaktur adalah: 1. Memproduksi barang fisik 2. Barang bisa disimpan dalam persediaan untuk dikonsumsi kemudian 3. Kualitasnya diukur secara langsung 4. Outputnya terstandar 5. Proses produksi terpisah dari konsumen 6. Lokasi fasilitas cukup penting bagi kesuksesan bisnis Ada dua patokan utama yang digunakan dalam perusahaan manufacturing sebagai dasar pengendalian dan pengukuran prestasi. Pertama adalah waktu, yang umum digunakan dalam segala kegiatan manufacturing. Bauran produk dan volume produk, besar kapasitas, tingkat prestasi dari segi efisiensi, penggunaan mesin dan produktivitas semua ini biasanya menggunakan standar waktu. Patokan yang kedua adalah uang. Pada perusahaan tingkat kegiatan meramal, ukuran prestasi dan tingkat investasi menggunakan ukuran uang (Hill, 1994:201). Pendekatan untuk mengembangkan suatu strategi manufacturing salah satunya adalah tingkat investasi. Menurut Hill (1994:201) untuk memahami persoalan strategi manufacturing dalam kaitannya dengan keputusan investasi, eksekutif keuangan menggunakan beberapa pedoman salah satunya adalah mengaitkan investasi pada siklus kehidupan produk sehingga dapat mengurangi tingkat resiko 2. Hubungan Penjualan, Harga Per Unit Dan Siklus Kehidupan Produk Hubungan antara penjualan dan harga per unit serta kaitannya dengan siklus kehidupan produk di tunjukkan pada gambar 1 di bawah ini: Gambar 1 Siklus Kehidupan Produk dan Penjelasan Masing-Masing Tahap Sumber : Gup dan Agrrawal (1996:42) Selanjutnya penjelasan masing-masing tahap siklus kehidupan produk dalam hubungan dengan jumlah perusahaan, harga per unit, dan laba dijelaskan pada table 3 berikut: Table 3 Penjelasan masing-masing tahap siklus kehidupan produk Fase/Tahap Perkenalan Ekspansi Kedewasaan Penurunan Jumlah Perusahaan Sedikit Kompetisi meningkat Menurunnya jumlah perusahaan Hanya beberapa perusahaan yang bertahan Harga/unit Tinggi Menurunnya harga sejalan dengan produksinya dan meningkatnya kompetisi Harga semakin menurun sampai batas terendah Harga tetap pada level yang terendah Laba Keuntungan sedikit karena untuk biaya pengembangan dan pemasaran Laba meningkat sejalan dengan peningkatan penjualan dan laba akan turun jika penjualan bekurang Laba menurun Berkurang laba Sumber : Gup dan Agrawal (1996:42) 3. Teori Keuangan dalam Pandangan Islam Keuangan (akuntasi) pada hakekatnya adalah sistem informasi, penentuan laba, pencatatan transaksi yang sekaligus pertanggung- jawaban. Sedangkan Islam dalam konteks keuangan (akuntansi) ini dihubungkan dengan konsep nilai, sifat-sifat kebenaran, keadilan, kejujuran dan kesejahteraan yang dibawanya sesuai dengan ketentuan Ilahi.(Sofyan, 1992:3). Akuntansi dalam Islam dapat di rujuk melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang berfungsi sebagai pedoman suci umat Islam. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282 dapat dibaca maksudnya sebagai berikut: $y㕃r'¯≈tƒ š⎥⎪Ï%©!$# (#þθãΖtΒ#u™ #sOEÎ) Λä⎢Ζtƒ#y‰s? A⎦ø⎪y‰Î/ #’n<Î) 9≅y_r& ‘wΚ|¡•Β çνθç7çFò2$$sù 4 =çGõ3u‹ø9uρ öΝä3uΖ÷−/ 7=Ï?$Ÿ2 ÉΑô‰yèø9$$Î/ 4 Ÿωuρ z>ù'tƒ ë=Ï?%x. βr& |=çFõ3tƒ $yϑŸ2 çμyϑ¯=tã ª!$# 4 ó=çGò6u‹ù=sù È≅Î=ôϑãŠø9uρ “Ï%©!$# Ïμø‹n=tã ‘,ysø9$# È,−Gu‹ø9uρ ©!$# …çμ−/u‘ Ÿωuρ ó§y‚ö7tƒ çμ÷ΖÏΒ $\↔ø‹x© 4 βÎ*sù tβ%x. “Ï%©!$# Ïμø‹n=tã ‘,ysø9$# $·γŠÏy™ ÷ρr& $¸‹Ïè|Ê ÷ρr& Ÿω ßì‹ÏÜtGó¡o„ βr& ¨≅Ïϑムuθèδ ö≅Î=ôϑãŠù=sù …çμ•‹Ï9uρ ÉΑô‰yèø9$$Î/ 4 (#ρ߉Îηô±tFó™$#uρ È⎦ø⎪y‰‹Íκy− ⎯ÏΒ öΝà6Ï9%y`Íh‘ ( βÎ*sù öΝ©9 $tΡθä3tƒ È⎦÷⎫n=ã_u‘ ×≅ã_tsù Èβ$s?r&zöΔ$#uρ ⎯£ϑÏΒ tβöθ|Êös? z⎯ÏΒ Ï™!#y‰pκ’¶9$# βr& ¨≅ÅÒs? $yϑßγ1y‰÷nÎ) tÅe2x‹çFsù $yϑßγ1y‰÷nÎ) 3“t÷zW{$# 4 Ÿωuρ z>ù'tƒ â™!#y‰pκ’¶9$# #sOEÎ) $tΒ (#θããߊ 4 Ÿωuρ (#þθßϑt↔ó¡s? βr& çνθç7çFõ3s? #·Éó|¹ ÷ρr& #·Î7Ÿ2 #’n<Î) ⎯Ï&Î#y_r& 4 öΝä3Ï9≡sOE äÝ|¡ø%r& y‰ΖÏã «!$# ãΠuθø%r&uρ Íοy‰≈pꤶ=Ï9 #’oΤ÷Šr&uρ ωr& (#þθç/$s?ös? ( HωÎ) βr& šχθä3s? ¸οt≈yfÏ? ZοuÅÑ%tn $yγtΡρãƒÏ‰è? öΝà6oΨ÷t/ }§øŠn=sù ö/ä3ø‹n=tæ îy$uΖã_ ωr& $yδθç7çFõ3s? 3 (#ÿρ߉Îγô©r&uρ #sOEÎ) óΟçF÷ètƒ$t6s? 4 Ÿωuρ §‘!$ŸÒムÒ=Ï?%x. Ÿωuρ Ó‰‹Îγx© 4 βÎ)uρ (#θè=yèøs? …çμ¯ΡÎ*sù 8−θÝ¡èù öΝà6Î/ 3 (#θà)¨?$#uρ ©!$# ( ãΝà6ßϑÏk=yèãƒuρ ª!$# 3 ª!$#uρ Èe≅à6Î/ >™ó©x« ÒΟŠÎ=tæ ∩⊄∇⊄∪ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu “bermu'amalah” tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridoi, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” Motif keuntungan maksimal sendiri, sebagai tujuan dari teori keuangan dalam ekonomi konvensional, merupakan konsep yang absurd. Secara teoritis memang dapat dihitung pada keadaan bagaimana keuntungan maksimal dicapai. Dalam ekonomi konvensional pun diakui bahwa keadaan keseimbangan dalam pasar bebas dimana semua perusahaan berada dalam keadaan “Normal Profit” hanya tercapai dalam jangka panjang. Implikasi dari absurditas itu adalah ia hanya bisa dijadikan acuan teknis tetapi tidak dapat menjadi patokan perilaku. Bahkan acuan teknis pun masih belum sempurna akibat perbedaan ukuran kebenaran yang digunakan, yakni kebenaran logika dan bukan kebenaran Allah. Islam menawarkan kebenaran Allah dari Al-Qur’an dan Hadits sebagai ukuran dan patokan. Kebenaran logika adalah Sunnatullah (ketetapan hukum-hukum Allah), akan tetapi dalam kehidupan yang berdimensi dunia akhirat, hanya Sunnatullah lain yang berada di luar kebenaran menurut logika manusia. Prinsip dasar ekonomi Islam adalah keyakinan kepada Allah SWT sebagai Rabb dari semesta alam. Ikrar akan keyakinan ini menjadi pembuka kitab suci umat Islam, dalam Surat Al-Jaatsiyah ayat 13: tt¤‚y™uρ /ä3s9 $¨Β ’Îû ÏN≡uθ≈yϑ¡¡9$# $tΒuρ ’Îû ÇÚö‘F{$# $Yè‹ÏΗsd çμ÷ΖÏiΒ 4 ¨βÎ) ’Îû šÏ9≡sOE ;M≈tƒUψ 5Θöθs)Ïj9 šχρã©3xtGtƒ ∩⊇⊂∪ “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Al-Jaatsiyah:13) Dengan keyakinan akan peran dan kepemilikan absolute dari Allah rabb semeata alam, maka konsep produksi di dalam ekonomi Islam tidak semata-mata bermotif maksimalisasi keuntungan dunia, tetapi lebih penting untuk mencapai maksimalisasi keuntungan akhirat. Dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Qashash ayat 77 di bawah ini: ÆÆtGö/$#uρ !$yϑ‹Ïù š9t?#u™ ª!$# u‘#¤$!$# nοtÅzFψ$# ( Ÿωuρ š[Ψs? y7t7ŠÅÁtΡ š∅ÏΒ $u‹÷Ρ‘‰9$# ( ⎯Å¡ômr&uρ !$yϑŸ2 z⎯|¡ômr& ª!$# šø‹s9Î) ( Ÿωuρ Æö7s? yŠ$|¡xø9$# ’Îû ÇÚö‘F{$# ( ¨βÎ) ©!$# Ÿω =Ïtä† t⎦⎪ωšøßϑø9$# ∩∠∠∪ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dimana ayat diatas menjelaskan bahwa melupakan urusan dunia. Artinya, urusan dunia merupakan sarana untuk memperoleh kesejahteraan akhirat. Orang bisa berkompetisi dalam kebaikan untuk urusan dunia tetapi sejatinya mereka sedang berlomba-lomba mencapai kebaikan di akhirat. Islam pun sesungguhnya menerima motif-motif berproduksi seperti pola pikir konvensional. Hanya bedanya lebih jauh Islam menjelskan nilai-nilai moral disamping utilitas ekonomi. Bahkan sebelum itu, Islam menjelaskan mengapa produksi harus dilakukan. Menurut ajaran Islam, manusia adalah Khalifatullah atau wakil Allah di muka bumi dan berkewajiban untuk memakmurkan bumi dengan jalan beribadah kepada-Nya. Dalam QS. Al-An’am (6) ayat 165 Allah berfirman: öΝs9r& (#÷ρttƒ öΝx. $uΖõ3n=÷δr& ⎯ÏΒ ΟÎγÎ=ö7s% ⎯ÏiΒ 5βös% öΝßγ≈¨Ψ©3¨Β ’Îû Ä⇓ö‘F{$# $tΒ óΟs9 ⎯Åj3yϑçΡ ö/ä3©9 $uΖù=y™ö‘r&uρ u™!$yϑ¡¡9$# ΝÍκön=tã #Y‘#u‘ô‰ÏiΒ $uΖù=yèy_uρ t≈yγ÷ΡF{$# “ÌøgrB ⎯ÏΒ öΝÍκÉJøtrB Νßγ≈uΖõ3n=÷δr'sù öΝÍκÍ5θçΡä‹Î/ $tΡù't±Σr&uρ .⎯ÏΒ öΝÏδω÷èt/ $ºΡös% t⎦⎪Ìyz#u™ ∩∉∪ “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sepat siksa-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. Bagi Islam, memproduksi sesuatu bukanlah sekadar untuk di konsumsi atau di jual ke pasar. Dua motivasi itu belum cukup, karena masih terbatas pada fungsi ekonomi. Islam secara khas menekankan bahwa setiap kegiatan produksi harus pula mewujudkan fungsi social. Ini tercermin dalam QS. Al-Hadiid (57) ayat 7: (((#θãΖÏΒ#u™ «!$$Î/ ⎯Ï&Î!θß™u‘uρ (#θà)ÏΡr&uρ $£ϑÏΒ /ä3n=yèy_ t⎦⎫Ïn=ø⇐tGó¡•Β ÏμŠÏù ( t⎦⎪Ï%©!$$sù (#θãΖtΒ#u™ óΟä3ΖÏΒ (#θà)xΡr&uρ öΝçλm; Öô_r& ×Î7x. ∩∠∪ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” Melalui konsep inilah , kegiatan produksi harus bergerak diatas dua garis optimalisasi. Tingkatan optimal pertama adalah mengupayakan berfungsinya sumberdaya insani kearah pencapaian kondisi full employment, dimana setiap orang bekerja dan menghasilkan suatu karya kecuali merekan yang ‘udzur syar’i seperti sakit dan lumpuh. Optimalisasi berikutnya adalah dalam hal memproduksi kebutuhan primer (dharuriyyat) secara proporsional. Tentu saja Islam harus memastikan hanya memproduksi sesuatu yang halal dan bermanfaat bagi masyarakat (thayyib). Pada prinsipnya Islam juga lebih menekankan berproduksi demi untuk kebutuhan orang banyak, bukan hanya sekadar memenuhi segelintir orang yang memiliki uang, sehingga memiliki daya beli yang lebih baik. Karena itu bagi Islam, produksi yang surplus dan berkembang baik secara kuantitatif dan kualitatif, tidak dengan sendirinya mengindikasikan kesejahteraan masyarakat. Menurut Mustafa (2007:110) Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW memberikan arahan mengenai prinsip-prinsip produksi sebagai berikut: a. Tugas manusia di muka bumi sebagai Khalifah Allah adalah memakmurkan bumi dengan ilmu dan amalnya. Allah menciptakan bumi dan langit beserta segala apa yang ada di antara keduanya karena sifat Rahman dan Rahiim-Nya. b. Islam selalu mendorong kemajuan di bidang produksi. Akan tetapi Islam tidak membenarkan penuhanan terhaap hasil karya ilmu pengetahuan dalam arti melepaskan dirinya dari Al-Qur’an dan Hadits. c. Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia. Nabi bersabda:”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” d. Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam menyukai kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat. Dalam Islam tidak terdapat ajaran yang memerintahkan membiarkan segala urusan berjalan dalam kesulitannya, karena pasrah kepada keberuntungan atau kesialan, karena berdalih dengan ketetapan dan ketentuan Allah atau karena Tawakkal kepada-Nya, sebagaimana keyakinan yang terdapat di dalam agama-agama selain Islam. Sesungguhnya Islam mengingkari itu semua dan menyuruh bekerja dan berbuat, bersikap hati-hati dan melaksanakan selama persyaratan. Tawakkal dan sabar adalah konsep penyerahan hasil kepada Allah SWT, sebagai pemilik hak prerogratif yang menentukan segala sesuatu setelah segala usaha dan persyaratan dipenuhi dengan optimal. 4. Teori Siklus Kehidupan Produk Konsep dasar dari analisis siklus kehidupan produk adalah bahwa suatu produk melalui siklus kehidupan produk (product life cycle) lebih panjang dengan tahap-tahap tertentu. Susanto (2003:71) menyatakan bahwa terdapat empat tahap siklus kehidupan yang umum terjadi. Tahap-tahap dimaksud adalah tahap perkenalan (Introduction stage), tahap pertumbuhan/ekspansi (Growth stage), tahap kedewasaan (Maturity stage) dan tahap penurunan (Decline stage). Tiap tahap akan memiliki strategi, tujuan, aktivitas penciptaan nilai (Value Creating Activities) dan area fungsional yang berbeda-beda (Amirullah dan Sri B. 2002:124). Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Porter (1980:156) yang menyatakan bahwa tiap tahap evolusi akan berpengaruh pada kinerja, strategi dan kompetisi. Karena setiap siklus produk memiliki implikasi-implikasi strategi yang berbeda. Maka pada setiap tahap produk manajemen perlu mempertimbangkan strategi apa yang harus dipilih, pada saat kapan strategi generic tersebut dipilih dan bentuk kerjasama lainnya. Kotler (2002:347) mengatakan bahwa sebuah produk memiliki siklus hidup berarti menegaskan empat hal yaitu: 1. Produk memiliki umur yang terbatas 2. Penjualan produk melalui berbagai tahap yang berbeda, masing-masing memberikan tantangan, peluang dan masalah yang berbeda bagi penjual. 3. Laba naik dan turun pada berbagai tahap yang berbeda selama siklus hidup produk 4. Produk memerlukan strategi pemasaran, keuangan, manufaktur, pembelian, dan SDM yang berbeda dalam tiap siklus hidupnya. a. Tahap Perkenalan (Introduction) Tahap pertama dalam siklus kehidupan produk industri adalah perkenalan. Menurut Dess dan lumpkin (2003:173), perusahaan- perusahaan dalam tahap ini akan menggunakan strategi diferensiasi. Porter (1980:37) memaparkan bahwa strategi diferensiasi dilaksanakan dengan jalan menciptakan suatu produk yang dianggap unik oleh pasar sehingga dapat menarik pembeli. Diferensiasi tersebut dapat diperoleh dari desain produk, teknologi, fitur produk, layanan pelanggan atau jaringan distribusi dari produk. Dess dan Lumpkin (2003:178) menambahkan bahwa tingkat pertumbuhan pasar pada tahap perkenalan rendah dan segmen pasarnya kecil. Kompetisi dalam pasar juga masih jarang karena industri masih baru. Selain itu,, implementasi strategi diferensiasi oleh perusahaan juga dapat menjadi penghalang bagi pesaing untuk memasuki industri. Halangan tersebut menurut Porter (1980:38) disebabkan oleh sensitivitas harga yang rendah, sehingga konsumen akan bersedia membayar berapapun untuk mendapat produk tersebut. Sensitivitas yang rendah tersebut juga dikarenakan rendahnya pengetahuan konsumen tentang produk atau layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Area fungsional yang berperan besar pada tahap perkenalan adalah Research and Development (R&D) karena perusahaan akan selalu berusaha menciptakan produk atau layanan baru yang dapat menarik minat konsumen. Perhatian perusahaan lebih besar ditujukan pada product design dari pada proses design. Tujuan perusahaan pada tiap tahap umumnya adalah meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk mereka. Porter (1980:161) menyebutkan laba pada tahap perkenalan relative kecil. b. Tahap Pertumbuhan (growth) Pertumbuhan merupakan tahap kedua dalam siklus kehidupan produk. Menurut Dess dan Lumpkin (2003:178) perusahaan pada tahap ini juga menggunakan strategi diferensiasi. Karakteristik utama yang dimiliki oleh tahap ini adalah peningkatan penjualan yang sangat tajam. Kondisi tersebut diikuti oleh tingkat pertumbuhan pasar yang tinggi serta sudah memiliki beberapa segmen pasar. Pada tahap ini persaingan semakin meningkat karena masuknya perusahaan-perusahaan lain dalam pasar. Kunci sukses dari tahap pertumbuhan adalah keberhasilan perusahaan untuk membangun preferensi konsumen terhdap suatu merek tertentu sehingga tercipta loyalitas konsumen. Pada tahap pertumbuhan, penekanan pada product design masih tinggi, sedangkan proses design sudah mulai diperhatikan secara seksama. Area fungsional yang sangat berperan adalah penjualan dan pemasaran. Tujuan dari tahap ini adalah menciptakan customer demand. Menurut Porter (1980:161), laba pada tahap ini meningkat dengan pesat, sehingga perusahaan dapat menikmati laba yang tinggi. Peningkatan laba tersebut menurut Dess dan Lumpkin (2003:180) diperoleh dari pembelian oleh: 1) Konsumen baru yang ingin mencoba produk perusahaan 2) Konsumen yang sudah menggunakan produk dan puas dengan produk tersebut sehingga memutuskan untuk membeli lagi produk tersebut. c. Tahap Kematangan (Maturity) Tahap kematangan (Maturity) terjadi bila penjualan industri mulai mendatar dan persaingan semakin sengit. Banyak pesaing agresif masuk pasar untuk ikut berebut laba, kecuali dalam situasi oligopoly. Laba industri menurun di sepanjang tahap kejenuhan pasar karena biaya promosi meningkat dan beberapa peserta persaingan menurunkan harga untuk memperoleh bisnis. Perusahaan yang kurang efisien tidak mampu mengatasi tekanan ini dan akan terlempar dari pasar. Perusahaan-perusahaan baru mungkin masih masuk pasar pada tahap kematangan ini, yang berarti menambah sengitnya persaingan. Perusahaan-perusahaan yang baru masuk ini melompati tahap-tahap siklus kehidupan industri terdahulu, termasuk tahap pertumbuhan pasar yang menguntungkan. Promosi yang persuasive menjadi lebih penting selama tahap kejenuhan pasar. Produk-produk yang ada mungkin hanya berbeda sedikit kalaupun ada. Kebanyakan peserta persaingan telah menemukan daya tarik yang paling efektif atau meniru pemimpin pasar. Berbagai merek menjadi nyaris sama menurut pandangan konsumen potensial (Agus Maulana 1993:298). d. Tahap Penurunan (Decline) Pada tahap penurunan (Declining) produk baru menggantikan produk lama. Persaingan harga dari produk lama menjadi lebih tajam, tetapi perusahaan-perusahaan yang berhasil mendiferensikan produk mereka dapat memperoleh laba sampai saat terakhir. Mereka dapat mempertahankan sebagian penjualan dengan memikat pelanggan. Pelanggan yang setia atau mereka yang lamban dalam mencoba gagasan-gagasan baru. Pembeli-pembeli ini mungkin beralih pilihan paling akhir melandaikan penurunan penjualan. Ciri tahap ini adalah berkurangnya penjualan dan keuntungan perusahaan. Dalam paparannya Dess dan Lumpkin (2003:178) menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang berada pada tahap ini menjalankan strategi cost leadership, perusahaan pada tahap penurunan tidak mengalami lagi bahkan pertumbuhannya negative. Jumlah segmen pasar yang memiliki juga sedikit. Perusahaan juga tidak lagi memberi perhatian khusus pada process design dan product design. Area fungsional berperan dalam tahap ini adalah manajemen dan keuangan. Tujuan dari fase penurunan adalah mengambil manfaat dari bisnis apabila masih memungkinkan. Namun bila hal itu tidak dapat dilakukan perusahaan akan keluar dari bisnis. 5. Kerangka Konseptual Penelitian Perusahaan food and beverage adalah perusahaan yang menghasilkan suatu produk, pada umumnya produk yang paling sukses adalah produk yang mengalami siklus kehidupan produk dengan tahap-tahap tertentu dimana terdapat lima tahap yaitu: tahap perkenalan, tahap ekspansi awal, tahap ekspansi akhir, tahap kedewasaan dan tahap penurunan. Pada masing-masing tahap, kebijakan dan strategi yang ditempuh perusahaan berbeda-beda. Siklus kehidupan produk dapat dimanfaatkan sebagai alat teoritis yang dapat mengungkapkan perilaku keuangan perusahaan, termasuk pertumbuhan, risiko, dan return untuk mengetahui hubungan antar kinerja keuangan pada pertumbuhan penjualan produk dan adanya perbedaaan ukuran kinerja keuangan perusahaan terhadap pertumbuhan penjualan. Dari uraian tersebut dapat dibuat kerangka konseptual penelitian sebagai berikut: Gambar 2 KERANGKA KONSEPTUAL Pertumbuhan Penjualan (Y) INDIKATOR KINERJA KEUANGAN . Price Earning Ratio (PER)(X 1) Price Book Value Ratio (PBVR) ( X 2) Devident Payout Ratio (DPR) (X 3) .Profit(Net Income) (X 4) BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan Manufaktur yang bergerak di sector Food And Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. B. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kuantitatif yaitu suatu model penelitian yang banyak menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dari hasil analisis data. C. Populasi dan Sampel Menurut Hasan (2002:58) Populasi adalah totalitas dari semua obyek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan Food And Beverage berdasarkan pengklasifikasian Indonesian Capital Market Directory tahun 2008 yang berjumlah 17 perusahaan. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi (Hasan, 2002:58). Teknik pemilihan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sample (Sugiyono, 2004:16). Jumlah perusahaan makanan dan minuman sebanyak 17 perusahaan. Oleh karena itu penulis mengambil 17 perusahaan tersebut untuk dijadikan sampel. Unit observasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang bergerak pada sektor industri food and beverage yang telah go public atau sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2008, maka sample penelitian ini ditunjukkan pada table 4 berikut ini: Tabel 4 Daftar Populasi Penelitian No. Perusahaan Food and beverage 1. PT. Ades Waters Indonesia 2. PT. Aqua Golden Missisipi 3. PT. Cahaya Kalbar 4. PT. Davomas Abadi 5. PT. Delta Jakarta 6. PT. Fast food Indonesia 7. PT. Indofood Sukses Makmur 8. PT. Mayora Indah 9. PT. Multi Bintang Indonesia 10. PT. Pionerindo Gourmet International 11. PT. Prasidha Aneka Niaga 12. PT. Sekar Laut 13. PT. Siantar Top 14. PT. Sierad Produce 15. PT. SMART 16. PT. Tunas Baru Lampung 17. PT. Ultra Jaya Milk Sumber :The Indonesian Capital Market Directory 2008 Dari table diatas didapatkan 17 perusahaan sebagai sampel dari populasi sebanyak 17 perusahaan. D. Data Dan Sumber Data Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder berupa Deviden Payout Ratio (DPR), Price Earning Ratio, Price Book Value Ratio, Market Value, Profit, penjualan dan pertumbuhan penjualan. Sumber data diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan Bursa Efek Indonesia. E. Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang sama dengan masalah yang akan dianalisa, maka pengumpulan data yang digunakan adalah studi lapang dengan teknik dokumentasi, yaitu suatu cara pengumpulan data dengan cara mencatat dari laporan keuangan perusahaan yang terdapat di BEI yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. F. Definisi Operasional Variabel 1. Devident Payout Ratio Devident Payout Ratio adalah presentase laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen atau rasio antara laba yang di bayarkan dalam bentuk dividen dengan total laba yang tersedia bagi pemegang saham. (Agus, 2001:73) 2. Price Book Value Ratio Price book value ratio atau rasio nilai harga pasar terhadap nilai buku mengindikasikan bagaimana investor menilai suatu perusahaan. (Helfert 1994:94) 3. Price Earning Ratio Price earning ratio adalah rasio harga per saham terhadap laba per saham. Rasio ini menunjukkan berapa rupiah yang harus dibayar investor untuk setiap rupiah laba periode berjalan. (Helfert 1994:93) 4. Profit Laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba bersih setelah pajak. Dimana laba bersih sesudah pajak penghasilan (Net Income) diperoleh dengan mengurangkan laba atau penghasilan sebelum kena pajak dengan pajak penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan. (Budi, 2005:52) G. Model Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah 1. Analisis Korelasi Ganda Analisis korelasi ganda merupakan teknik analisis untuk mengetahui hubungan dua variable/lebih yang bersifat linear dan data dalam bentuk rasio. Model yang digunakan untuk memenuhi tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut : Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 Keterangan : Y = Pertumbuhan Penjualan α = Intersep X1 = Price Earning Ratio X2 = Price Book Value Ratio X3 = Deviden Payout Ratio X4 = Profit β1, β2, β3, β4, = Koefisien Variabel Bebas 2. Uji Asumsi Klasik Model regresi yang baik adalah model yang memenuhi asumsi-asumsi dasar agar hasilnya tidak bias. Oleh karena itu digunakan uji asumsi klasik sebagai berikut : A. Uji Multikolinieritas Multikolinieritas berarti antara variabel independen yang satu dengan variabel independen yang lain dalam model regresi saling berkorelasi linier, biasanya korelasi mendekati sempurna atau sempurna (koefisien korelasinya tinggi atau mendekati 1). Akibat adanya multikolinieritas dalam model ini menyebabkan pengaruh masing-masing variabel sulit dideteksi atau sulit dibedakan. Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dalam penelitian ini adalah (Santoso, 2001 :206-207) : 1) Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance Pedoman suatu model regresi bebas multiko adalah : • Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 • Mempunyai angka tolerance mendekati 1 2) Besaran korelasi antar variabel independen haruslah lemah (dibawah 0,5) B. Uji Autokorelasi Uji Autikorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Adanya gejala ini menyebabkan model yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan untuk menduga nilai variabel dependen dari variabel independen tertentu. Untuk mendeteksi autokorelasi adalah dengan melihat besaran Durbin-Watson dengan kriteria sebagai berikut (santoso, 2001 :219) : 1) Angka Durbin-Watson dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif 2) Angka Durbin-Watson diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokoralasi 3) Angka Durbin-Watson diatas +2 berarti ada autokorelasi negatif C. Uji normalitas Jarque-Bera adalah suatu tes statistik untuk menguji apakah suatu data series berdistribusi normal atau tidak. Uji statistik untuk mengukur perbedaaan skewnes dan kurtosis dari suatu distribusi normal. Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis distribusi normal maka digunakan pengujian Kolmogrov-Smirnov Goodness Of Fit Test terhadap masing-masing variabel. Langkah-langkah pengambilan keputusan adalah sebagai berikut : • Jika probabilitas > 0,05, Maka H0 diterima • Jika probabilitas < 0,05, Maka H0 ditolak 3. Uji Hipotesis A. Uji Hipotesis Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi berganda. Pada penelitian ini analisis dilakukan dengan cara sebagai berikut: • Menghitung korelasi antar variable untuk semua sample Analisis ini menggunakan program SPSS 10.0 dengan tingkat signifikansi 5% dan 1% dan hipotesis sebagai berikut: H0 = Tidak ada hubungan antar kinerja keuangan H1 = Ada hubungan antar kinerja keuangan Dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut : - Jika probabilitas > 0,05/0.01. Maka H0 diterima, H1 ditolak - Jika probabilitas < 0,05/0.01. Maka H0 ditolak, H1 diterima B. Uji F Untuk menguji hipotesis II dlakukan dengan menggunakan analisa varians (Uji F). pengujian ini dilakukan untuk menguji semua variable independent terhadap variable dependent. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1) Menentukan Hipotesis Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan variable bebas (kiberja keuangan) terhadap variable terikat (pertumbuhan penjualan) H1 : Ada hubungan yang signifikan antara variable bebas (kinerja keuangan) terhadap variable terikat (pertumbuhan penjualan) 2) Menghitung F table = F(0.05;df1;df2) maka : F table = F (0.05;4;12) = 3,26 3) Menghitung F hitung , yang mana pada penelitian ini dalam menghitung Fhitung peneliti menggunakan bantuan windows SPSS 10.0 4) Ketentuan penolakan atau penerimaan Hipotesis adalah sebagai berikut a) Berdasarkan perbandingan F-hitung dengan F-tabel • F hitung > F table, maka Ho ditolak H1 diterima • F hitung < F table, maka Ho diterima H1 ditolak b) Berdasarkan nilai probability • Jika Probability > 0,05, maka Ho diterima • Jika Probability < 0,05, maka Ho ditolak C. Uji t Uji parsial (uji t) merupakan parameter yang digunakan untuk menguji hipoyesis komparatif rata-rata dua bila datanya berbentuk interval atau ratio. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variable independent terhadap variable dependent. Langkah-langkanya adalah sebagai berikut : 1) Menentukan Hipotesis Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan variable bebas (kiberja keuangan) terhadap variable terikat (pertumbuhan penjualan) H1 : Ada pengaruh yang signifikan antara variable bebas (kinerja keuangan) terhadap variable terikat (pertumbuhan penjualan) 2) Menghitung t table = t(0.05;df) maka : t table = t (0.05;16) = 1,74 3) Menghitung t hitung , yang mana pada penelitian ini dalam menghitung t hitung peneliti menggunakan bantuan windows SPSS 10.0 4) Ketentuan penolakan atau penerimaan Hipotesis adalah sebagai berikut a) Berdasarkan perbandingan t-hitung dengan t-tabel • t hitung > t table, maka Ho ditolak H1 diterima • t hitung < t table, maka Ho diterima H1 ditolak b) Berdasarkan nilai probability • Jika Probability > 0,05, maka Ho diterima • Jika Probability < 0,05, maka Ho ditolak BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Industri Food and Beverage Perkembangan industri Food and beverage tidak lepas dari kebijakan-kebijakan yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Harus diakui, di masa pemerintahan SBY-JK, ketidakstabilan makroekonomi dan ketidakpastian kebijakan ekonomi makro sudah jauh menurun dibanding masa lalu. Angka-angka indikator makro ekonomi pun boleh dikata berada dalam kondisi "aman dan terkendali". Namun, banyak industri masih "terseok-seok", dengan laju pertumbuhan rendah, daya saing rendah, dan pangsa pasar yang menurun. Hal ini menimbulkan pertumbuhan menjadi tidak stabil, dapat di lihat pada gambar 3 berikut: Gambar 3 Perkembangan Industri Food and Beverage -2024682004200520062007200820042005200620072008 Karakteristik utama kegiatan industri manufaktur adalah mengolah sumberdaya menjadi barang jadi melalui suatu proses pabrikasi. Oleh karena itu, aktivitas perusahaan yang tergolong dalam kelompok industri manufaktur sekurang-kurangnya mempunyai tiga kegiatan utama yaitu: 1. Kegiatan untuk memperoleh atau menyimpan input atau bahan baku. 2. Kegiatan pengolahan/pabrikasi/perakitan atas bahan baku menjadi barang jadi. 3. Kegiatan menyimpan atau memasarkan barang jadi. Ketiga kegiatan utama tersebut harus tercermin dalam laporan keuangan perusahaan pada industri manufaktur. Ada dua patokan utama yang digunakan dalam perusahaan manufacturing sebagai dasar pengendalian dan pengukuran prestasi. Pertama adalah waktu, yang umum digunakan dalam segala kegiatan manufacturing. Bauran produk dan volume produk, besar kapasitas, tingkat prestasi dari segi efisiensi, penggunaan mesin dan produktivitas semua ini biasanya menggunakan standar waktu. Patokan yang kedua adalah uang. Pada perusahaan tingkat kegiatan meramal, ukuran prestasi dan tingkat investasi menggunakan ukuran uang. Risiko yang melekat pada perusahaan dalam kelompok industri manufaktur tidak terlepas dari karakteristik utama kegiatan perusahaan yaitu kegiatan memperoleh sumberdaya, mengolah sumberdaya menjadi barang jadi serta menyimpan dan mendistribusikan barang jadi. Oleh karena itu, risiko-risiko yang melekat pada industri manufaktur adalah sebagai berikut: 1. Risiko sulitnya memperoleh bahan baku, yang dapat disebabkan oleh: a. kelangkaan bahan baku b. ketergantungan yang tinggi terhadap impor atau pemasok tertentu. 2. Risiko berfluktuasinya nilai tukar rupiah. Berfluktuasinya nilai tukar rupiah dapat dilihat dari dua sisi yaitu: a. Depresiasi rupiah berakibat buruk bagi perusahaan yang penjualannya mengandalkan pasar lokal dan tergantung pada bahan baku impor. Meningkatnya harga jual produk jadi yang melebihi daya beli masyarakat akan berakibat menurunnya penjualan perusahaan. Pada sisi lain, depresiasi rupiah menguntungkan perusahaan yang mengandalkan pasar ekspor dan tergantung pada bahan baku yang pengadaannya dalam nilai tukar rupiah. b. Apresiasi rupiah pada sisi sebaliknya, berpengaruh negatif terhadap perusahaan yang mengandalkan penjualannya pada pasar ekspor. 3. Risiko kapasitas produksi tidak terpakai (idle capacity) yang terjadi karena kurangnya daya serap pasar terhadap produk, kompetisi, perubahan teknologi, adanya restriksi pemerintah terhadap produksi barang tertentu, dll. 4. Risiko terjadinya pemogokan atau kerusuhan (riot) yang antara lain dapat terjadi karena ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi yang diterima, kondisi perekonomian atau kondisi politik yang tidak stabil. 5. Risiko kekakuan investasi yaitu karena adanya restriksi/pembatasan Pemerintah terhadap investasi pada bidang tertentu. 6. Putusnya hak patent (patent right) atas formula produksi bagi perusahaan yang produknya terkait erat pada hak paten atas formula tertentu akan sangat mempengaruhi pendapatannya. 7. Risiko leverage (leverage risk) yaitu risiko-risiko yang terkait pada kewajiban perusahaan karena pendanaan yang berasal dari luar perusahaan (external financing). 8. Risiko pemasaran meliputi, antara lain tak terjualnya barang jadi, kerusakan dan kehilangan pada jalur distribusi dan pemasaran, habisnya daur hidup produk. 9. Risiko penelitian dan pengembangan produk meliputi, antara lain biaya penelitian dan pengembangan yang gagal menghasilkan produk baru. 10. Risiko dampak usaha terhadap lingkungan yang tercermin dari peringkat analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang diberikan oleh Bapedal dan unjuk rasa ketidakpuasan penduduk di lingkungan setempat. B. Uji Asumsi Klasik (Uji Asumsi Diagnostik) 1. Uji Multikolinieritas. Multikolinieritas berarti antara variabel independen yang satu dengan variabel independen yang lain dalam model regresi saling berkorelasi linier, biasanya korelasi mendekati sempurna atau sempurna (koefisien korelasinya tinggi atau mendekati 1). Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dalam penelitian ini adalah (Santoso, 2001 :206-207) : 1. Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance Pedoman suatu model regresi bebas multiko adalah : • Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1 • Mempunyai angka tolerance mendekati 1 2. Besaran korelasi antar variabel independen haruslah lemah (dibawah 0,5) Table 5 Coeeffients Collinerity Statistic Model Tolerance VIF 1 (Constan) LN_X1 .633 1.581 LN_X2 .938 1.066 LN_X3 .613 1.632 LN_X4 .927 1.079 a. Dependent Variabel : Pertumbuhan Penjualan Sumber : Lampiran 12 Table 6 Sumber : Lampiran 13 Coefficient Correlationsa1.000.070.105-.225.0701.000.145-.576.105.1451.000.041-.225-.576.0411.00021.57910736.3269653.462-49479.010736.3261.1E+099.5E+07-9.0E+089653.4629.5E+074.0E+083.8E+07-49479.0-9.0E+083.8E+072.2E+09LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3CorrelationsCovariancesModel1LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3Dependent Variable: LN_Ya. Pada table 5 bagian koefisien terlihat bahwa nilai VIF untuk X1, X2, X3 maupun X4 berada pada kisaran angka 1 dan nilai Tolerance mendekati angka 1. Hal ini menunjukkan bahwa pada model ini tidak terdapat masalah multikolinieritas. Keadaan yang sama juga ditunjukkan pada table 6 bagian koefisien korelasi yang mana memiliki nilai dibawah 0,5 yang menunjukkan koefisien korelasi antar varabel independent sangat lemah sehingga dapat disimpulkan bahwa model ini bebas multikolinieritas. 2. Uji Autokorelasi. Menurut Arief (1993:15), untuk menguji ada tidaknya autokorelasi diantaranya adalah dengan melihat nilai Durbin Watson (DW) statistik. Uji Autikorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi adalah dengan melihat besaran Durbin-Watson dengan kriteria sebagai berikut (santoso, 2001 :219) : 4) Angka Durbin-Watson dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif 5) Angka Durbin-Watson diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokoralasi 6) Angka Durbin-Watson diatas +2 berarti ada autokorelasi negatif Table 7 Model Summary b Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the estimate Durbin-Watson 1 .857a .734 .645 3559344.73 2.299 a. Predictors: (Constant). LN_X4, LN_X1, LN_X2, LN_X3 b. Dependent Variable : LN_Y Sumber : Lampiran 11 Pada tampilan output diatas, bagian model summary terlihat angka DW = 2.297, berdasarkan kriteria besaran nilai Durbin-Watson, (DW) maka dapat diketahui bahwa nilai tersebut terletak pada range antara -2 sampai +2 yang artinya bahwa pada model regresi ini tidak ada masalah Autokorelasi. 3. Uji Normalitas Untuk mendeteksi bahwa dalam model tersebut berdistribusi normal adalah dengan membandingkan nilai probalibitas dengan level of signifikan 5%, jika P > 0,05 maka menerima hipotesisi nol yang mengatakan bahwa model berdisribusi normal begitu pula sebaliknya. Tabel 8 Sumber : Lampiran 14 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test1717171717282415617.470613.080617.7182102950.9597785934.115846.197424.0433198996.2.413.320.515.231.314.413.320.515.211.314-.326-.229-.394-.231-.1841.7051.3192.123.9511.295.006.062.000.327.070NMeanStd. DeviationNormal Parameters1,2AbsolutePositiveNegativeMost ExtremeDifferencesKolmogorov-Smirnov ZAsymp. Sig. (2-tailed)LN_YLN_X1LN_X2LN_V3LN_X4Test distribution is Normal.1. Calculated from data.2. Berdasarkan pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai P adalah 0,006 (lebih kecil dari pada 0,05) yang artinya adalah bahwa dalam model ini menolak hipotesisi null atau dalam model penelitian ini tidak berdistribusi normal. 4. Estimasi Model Studi empiric mengenai hubungan kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan food and beverage (PER, PBV, DPR dan Profit) menggunakan model regresi berganda dimaksudkan untuk mendapatkan ilustrasi mengenai pengaruh dinamika dari masing-masing independent terhadap pertumbuhan penjualan. Adapun hasil estimasi model dari persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut : Tabel 9 Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah membuat persamaan serta membaca atau menginterpretasikan apa yang terdapat dalam table 9 tersebut. Berdasarkan pengolahan regresi berganda pada table 9 Maka didapat persamaan dari model regresi berganda sebagai berikut: Coefficientsa88486.1561209602.073.943-8924.30032873.930-.051-.271.791187.48219885.736.001.009.99315466.23647284.710.062.327.74925.3954.645.8455.467.000(Constant)LN_X1LN_X2LN_X3LN_X4Model1BStd. ErrorUnstandardizedCoefficientsBetaStandardizedCoefficientstSig.Dependent Variable: LN_Ya. Tabel 10 Estimasi Pertumbuhan Penjualan (Y) Berdasarkan hasil perhitungan dari regresi linier diatas, maka dapat diketahui nilai Xn yaitu variable yang menunjukkan keseimbangan dari pertumbuhan penjualan. Setelah kita mendapatkan persamaan dan telah mengetahui kesahihan model regresi dalam penelitian ini, maka langkah selanjutnya melakukan serangkaian uji yaitu uji apriori. Adapun uji apriori dari regresi berganda adalah sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 Y = 88486.15587353 - 8924.299904289 X1 + 187.4822698048 X2 + (0.073) (-0.271) (0.009) 15466.23635228 X3 + 25.39530876029 X4 (0.327) (5.46) R2 = 0.7341050587473 DW = 2.298742947587 F Statistic = 8.282651658831 • Konstanta mempunyai niali positif dengan nilai 88486,156 berarti bila variable lain dianggap konstan atau dengan asumsi ceteris paribus maka pertumbuhan penjualan berada 88486,156 pont • Koefisien LN_X1 (PER) terhadap pertumbuhan penjualan adalah negatif sebesar -8924,300 hal ini berarti ketika terjadi penurunan PER 1%,- maka akan menurunkan pertumbuhan penjualan sebesar 8924,300%. • Koefisien regresi LN_X2 (PBV) terhadap pertumbuhan penjualan mempunyai nilai positif sebesar 187,482 menyatakan bahwa setiap penambahan 1%,- maka PBV akan meningkat sebesar 187,482 %. • Koefisien regresi LN_X3 (DPR) sebesar 15466,236 memiliki tanda positif, berarti setiap kenaikan Devident akan direspon positif oleh pertumbuhan penjualan sebesar 15466,236 %. • Koefisien regresi LN_X4 (Profit) sebesar 25,395 mempunyai tanda positif berarti ketika ada kenaikan profit 1% maka pertumbuhan penjualan akan meningkat sebesar Rp. 25,395. 5. Uji Hipotesis a. Hipotesis (korelasi berganda) Pengujian Hipotesis I dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi berganda untuk mengetahui hubungan atau korelasi antar variable untuk semua sample. Hasil analisis ini dapat dilihat pada table 8 berikut ini : Tabel 11 Korelasi Antar Variabel untuk Semua Sampel Variabel LN_Y LN_X1 LN_X2 LN_X3 LN_X4 LN_Y 1 LN_X1 0.072 1 LN_X2 -0.113 -0.217 1 LN_X3 0.239 0.593* -0.181 1 LN_X4 0.855** 0.102 -0.136 0.245 1 Keterangan *. Signifikan pada  = 5%. ** signifikan pada  = 1% Sumber : Lampiran 8 Pada table 8 menyajikan hasil korelasi untuk semua sample penelitian. Dimana pada table tersebut diketahui bahwa variable yang memiliki hubungan yang positif dan signifikan pada =0,01 adalah variable sales growth dengan variable profit sebesar 0,855. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan sales growth yang tinggi cenderung akan menghasilkan profit/laba yang tinggi pula. Hal ini berarti hipotesis yang menduga bahwa terdapat hubungan antara kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan dapat terbukti yang ditunjukkan oleh table 8 diatas. b. Uji F Uji F untuk melihat pengaruh/hubungan variable-variabel independent secara keseluruhan terhadap variable dependent. Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F table. Selain untuk melihat pengaruh/hubungan antar variable, uji F juga untuk menentukan diterima atau tidaknya hipotesis. Metode pengujian yang digunakan adalah analisa varians (ANOVA). Table 9 berikut ini menyajikan hasil analisa varians (ANOVA) yaitu: Table 12 ANOVA Model Sum of Square df Mean Square F Sig. 1 Regression 4.20E+14 4 1.049E+14 8.288 .002 a Residual Total 1.52E+14 5.72E+14 12 16 1.266E+13 a predictors : (constant), Profit, PER, PBV, DPR b Dependent Variabel : Pertumbuhan Penjualan. Hasil proses menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 8.288 dengan nilai probabilitas sebesar 0,002. Karena nilai probabilitas lebih kecil dari nilai alpha maka dapat diambil keputusan bahwa Ho ditolak, artinya persamaan regresi yang diperoleh adalah signifikan dalam menjelaskan adanya hubungan antara variable X dan variable Y. Persamaan regresi berganda ini adalah valid artinya variabel-variabel independen merupakan factor penjelas nyata bagi variasi dalam variabel dependen karena memiliki nilai F sebesar 8.2888 yang signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen secara bersama-sama mempunyai hubungan dengan variabel dependen. Selain itu besarnya nilai R Square adalah sebesar 73,4% memberikan makna bahwa proporsi hubungan dalam variable pertumbuhan penjualan yang dijelaskan oleh keempat variable bebas di dalam model regresi adalah sebesar 73,4%. c. Uji t Uji parsial (uji t) merupakan parameter yang digunakan untuk menguji hipoyesis komparatif rata-rata dua bila datanya berbentuk interval atau ratio. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variable independent terhadap variable dependent. Table di bawah menyajikan hasil uji t sebagai berikut : Table 13 Sumber : Lampiran 12 Coefficientsa88549.2491209983.8.073.943-8791.65032832.073-.050-.268.793188.85919891.142.001.009.99315388.85147343.366.062.325.75125.3914.647.8455.464.000(Constant)LN_X1LN_X2LN_X3LN_X4Model1BStd. ErrorUnstandardized CoefficientsBetaStandardizedCoefficientstSig.Dependent Variable: LN_Ya. Hasil proses menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 0.073 lebih kecil dari t table sebesar 1,74. Selain itu dapat diperkuat dengan nilai probabilitas yang lebih kecil dari alpha adalah variable LN_X4 (Profit/Net Income). Sehingga diambil keputusan bahwa peningkatan pada LN_X4(Profit/Net Income) memberikan pengaruh hubungan yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. Sedangkan perubahan pada variable LN_X1 (PER), LN_X2 (PBV), dan LN_X3 (DPR). Memberikan pengaruh hubungan yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. Secara umum , bahwa hasil korelasi semua variable yang disajikan pada table 8 menunjukkan bahwa ada bukti yang konsisten mengenai hubungan antara variable X (kinerja keuangan) dan variable Y (pertumbuhan penjualan). Hal ini sesuai dengan dugaan hipotesis yang menduga terdapat hubungan antara kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan. 6. Implikasi Hasil Penelitian Berikut akan dijabarkan mengenai Implikasi hasil penelitian dari hasil pengolahan data yang menggunakan periode penelitian 4 tahun (2004-2008) dengan mengambil sampel sebanyak 17 perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan minuman. Penelitian tentang hubungan kinerja keuangan perusahaan dengan pertumbuhan penjualan secara umum menghasilkan suatu pendapat yang sama. Dari beberapa hasil penelitian terdahulu menunjukkan terdapat hubungan penjualan dengan tingkat pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan perusahaan Food And Beverage. Berdasarkan hasil korelasi , diketahui bahwa terdapat hubungan indicator kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan. Dimana pada hasil korelasi antar kinerja keuangan dengan pertumbuhan diketahui bahwa variable sales growth dengan variable profit (net income) memliki korelasi positif dan signifikan pada tingkat signifikan =0.01% sebesar 0,855. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan sales growth yang tinggi cenderung akan menghasilkan profit/laba yang tinggi pula. Uji F (table ANOVA) menunjukkan secara bersama-sama variabel independen mempunyai hubungan dengan variabel dependen. Selain itu besarnya nilai R Square adalah sebesar 73,4% memberikan makna bahwa proporsi hubungan dalam variable pertumbuhan penjualan yang dijelaskan oleh keempat variable bebas di dalam model regresi adalah sebesar 73,4%. Uji t (tabel Coefficient) yang dipakai dalam pengujian hipotesis ini menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.000 untuk variabel Profit (Net Income) Sehingga dapat dikatakan bahwa variabel Profit (Net Income) mempunyai pengaruh yang berarti (siginifikan) secara statistik terhadap pertumbuhan penjualan (sales growth). Secara kajian Islam dapat disimpulkan bahwa motif keuntungan maksimal sendiri, sebagai tujuan dari teori produksi dalam ekonomi konvensional, merupakan konsep yang absurd. Secara teoritis memang dapat dihitung pada keadaan bagaimana keuntungan maksimal dicapai. Dalam ekonomi konvensional pun diakui bahwa keadaan keseimbangan dalam pasar bebas dimana semua perusahaan berada dalam keadaan “Normal Profit” hanya tercapai dalam jangka panjang. Implikasi dari absurditas itu adalah ia hanya bisa dijadikan acuan teknis tetapi tidak dapat menjadi patokan perilaku. Bahkan acuan teknis pun masih belum sempurna akibat perbedaan ukuran kebenaran yang digunakan, yakni kebenaran logika dan bukan kebenaran Allah. Islam menawarkan kebenaran Allah dari Al-Qur’an dan Hadits sebagai ukuran dan patokan. Kebenaran logika adalah Sunnatullah (ketetapan hukum-hukum Allah) akan tetapi, dalam kehidupan yang berdimensi dunia akhirat, hanya Sunnatullah lain yang berada di luar kebenaran menurut logika manusia. Dengan keyakinan akan peran dan kepemilikan absolute dari Allah rabb semeata alam, maka konsep produksi di dalam ekonomi Islam tidak semata-mata bermotif maksimalisasi keuntungan dunia, tetapi lebih penting untuk mencapai maksimalisasi keuntungan akhirat. Dijelaskan dalam firman Allah surat Al-Qashash ayat 77 di bawah ini: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Dimana ayat diatas menjelaskan bahwa melupakan urusan dunia. Artinya, urusan dunia merupakan sarana untuk memperoleh kesejahteraan akhirat. BAB V PENUTUP Bab ini bertujuan untuk mengetengahkan kesimpulan dan saran yang disarikan dari analisis hubungan kinerja keuangan dengan pertumbuhan penjualan pada perusahaan Food And Beverage di Bursa efek indonesia selama periode 2004-2008. A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, beberapa kesimpulan yang bias diambil dari penelitian ini adalah : 1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap hipotesis, penelitian ini mampu membuktikan bahwa terdapat hubungan antara kinerja keuangan yang signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. Hal ini berarti terdapat hubungan kinerja keuangan terhadap pertumbuhan penjualan. 2. Dari empat variabel di atas dalam hal ini adalah Price Earning ratio, Deviden Payout Ratio, Price Book Value Ratio, dan Profit. Variable Profit (Net Income) merupakan variabel yang dominan mempengaruhi secara positif terhadap pertumbuhan penjualan dengan nilai koefiseb sebesar 0,855 dan hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh hadori bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi terhadap kinerja keuangan perusahaan. B. SARAN Dengan adanya keterbatasan pada penelitian ini, maka saran bagi penelitian selanjutnya adalah: 1. Bagi pihak yang akan melakukan penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan sample dan populasi yang lebih banyak agar hasil analisis lebih akurat. Serta menggunakan periode pengamatan lebih lama sehingga tahap peetumbuhan penjualan dapat diketahui dengan tepat 2. Bagi pihak perusahaan food and beverage sebagai pemegang kebijakan keuangan harus lebih sering menganalisis kinerja keuangan perusahaan. Untuk meningkatkan tingkat pendapatan perusahaan dan tingkat kepercayaan konsumsi masyarakat, sebaiknya perusahaan lebih bervariasi dan inovasi dalam memproduksi barang yang akan di produksi. DAFTAR PUSTAKA Amirullah dan Sri B. 2002. Manajemen Strategi, Graha Ilmu: Yogyakarta. Agrrawal P dan Gup B E, 1996. The Product Life Cycle A Paradigm For Understanding Financial Management. Financial Practice and Education Fall Winter, 41-48 Boedijoewono, Noegroho, 2007. Pengantar Statistika : Ekonomi Dan Bisnis, Jilid 1, Edisi Kelima, Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN, Yogyakarta Erich A, Helfert. 1994. Teknik Analisis Keuangan: Petunjuk Praktis Untuk Mengelola Dan Mengukur Kinerja Keuangan, Herman Wibowo (Penterjemah), 1997, Erlangga, Jakarta. Husnan, Suad, 2001. Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Handayani, Susanto, dkk. 2003. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit UPFE UMY, Yogyakarta. Hasan, Iqbal. 2002, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Ghalia Indonesia, Jakarta. Harahap, Sofyan. 1992. Akuntansi: Pengawasan dan Manajemen dalam Perspektif Islam, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta Ikatan Akuntan Indonesia. 2002, Standar Akuntansi Keuangan, Buku Satu, Salemba Empat, Jakarta. Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran, Edisi Millennium,Jilid 2, PT Indeks, Jakarta. Lumpkin, Dess. 2003. Strategi Management: Creating Competitive Advantage, McGraw Hill Inc, New York. Maulana, Agus. 1995. Intisari Pemasaran. Binarupa Aksara, Jakarta. Munawir S. 2001. Analisa Laporan Keuangan, Edisi Keempat, Liberty, Yogyakarta Nasution E, Mustafa, dkk. 2007. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Prenada Media Grup, Jakarta. Porter, Michael E. 1980. Competitive Strategi: Techniques For Analysis Industries Competitors, New York. Free Press. Richard L, Daft. 2001. Manajemen, Emil S & Imam K (Penterjemah), 2002, Erlangga, Jakarta. Rahardjo, Budi. 2005. Laporan Keuangan Perusahaan, Cetakan Kedua, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. S.M Novaliya. 2005. Studi Tehadap Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan Propector Dan Defended An Hubungan Dengan Harga Saham: Analisis Dengan Pendekatan Life Cycle Theory, Skripsi, Program Studi Manajemen, Universitas Brawijaya, Malang. Syamsuddin, Lukman. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan: Konsep Aplikasi Dalam : Perencanaan, Pengawasan, Dan Pengambilan Keputusan, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Sadewo, Dede. 2008. Aplikasi Komputer Statistika: Dengan Perangkat Lunak Olah Data SPSS, Ar-Roudho, Malang. Supranto J. 2009. Statitik : Teori Dan Aplikasi, Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta. Lampiran 1 : Data Asli NO Y X1 X2 X3 X4 1 133,088 -15.16 4.044 0 -110,512 2 1,769,121 16.806 2.57 10.178 70,606 3 715,131 5.856 0.748 5.622 4,400 4 1,492,941 11.314 2.08 0 137,155 5 763,625 6.874 0.782 19.426 53,896 6 1,361,303 12.294 2.654 16.622 75,068 7 25,056,464 28.122 2.234 42.36 637,378 8 2,358,387 10.906 1.026 23.184 112,446 9 951,757 12.802 4.49 81.128 110,717 10 162,759 -10.906 192.3 0 -2,736 11 498,168 8.108 0.608 0 29,831 12 209,827 10.946 2.4 0 12,729 13 606,839 17.806 0.858 7.142 -35,746 14 1,570,845 3.71 0.974 0 -35,746 15 7,562,726 7.14 1.796 4.498 571,916 16 1,881,139 26.582 1.226 27.26 47,224 17 916,538 142.616 1.584 63.794 71,540 Lampiran 2: Data Log Data Log NO Y X1 X2 X3 X4 Total 1 133,088 -15 4.04 0 -110,512 22564.88 2 1,769,121 17 2.57 10.18 70,606 1839757 3 715,131 6 0.75 5.62 4,400 719543.2 4 1,492,941 11 2.08 0 137,155 1630109 5 763,625 7 0.78 19.43 53,896 817548.1 6 1,361,303 12 2.65 16.62 75,068 1436403 7 25,056,464 28 2.23 42.36 637,378 25693915 8 2,358,387 11 1.03 23.18 112,446 2470868 9 951,757 13 4.49 81.13 110,717 1062572 10 162,759 -11 192.3 0 -2,736 160204.4 11 498,168 8 0.61 0 29,831 528007.7 12 209,827 11 2.4 0 12,729 222569.3 13 606,839 18 0.86 7.14 -35,746 571118.8 14 1,570,845 4 0.97 0 -35,746 1535104 15 7,562,726 7 1.8 4.5 571,916 8134655 16 1,881,139 27 1.23 27.26 47,224 1928418 17 916,538 143 1.58 63.79 71,540 988286 Lampiran 3 : Nilai Pertumbuhan Penjualan Nilai PERTUMBUHAN No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 1 PT. Ades Waters Indonesia 125,554 143,751 135,043 131,549 129,542 2 PT. Aqua Golden Missisipi 1,333,147 1,563,156 1,665,614 1,952,156 2,331,532 3 PT. Cahaya Kalbar 167,611 240,713 391,061 812,635 1,963,637 4 PT. Davomas Abadi 854,966 1,032,178 1,120,893 1,656,584 2,800,084 5 PT. Delta Jakarta 634,588 773,557 396,732 836,185 1,177,061 6 PT. Fast food Indonesia 889,432 1,028,392 1,276,416 1,589,642 2,022,633 7 PT. Indofood Sukses Makmur 17,918,528 18,764,650 21,941,558 27,858,304 38,799,279 8 PT. Mayora Indah 1,378,126 1,706,184 1,971,513 2,828,440 3,907,674 9 PT. Multi Bintang Indonesia 710,911 852,613 891,001 978,600 1,325,661 10 PT. Pionerindo Gourmet International 158,614 149,345 142,149 159,883 203,805 11 PT. Prasidha Aneka Niaga 269,990 387,829 519,849 600,060 713,113 12 PT. Sekar Laut 137,753 167,282 193,927 237,050 313,125 13 PT. Siantar Top 712,558 541,698 555,207 600,330 624,400 14 PT. Sierad Produce 1,353,621 1,425,222 1,111,242 1,632,453 2,331,686 15 PT. SMART 4,274,568 4,656,674 4,708,250 8,079,714 16,094,424 16 PT. Tunas Baru Lampung 1,191,009 1,220,635 1,193,998 1,844,208 3,955,846 17 PT. Ultra Jaya Milk 546,325 711,731 835,229 1,126,799 1,362,606 Lampiran 4 : Nilai PER No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 1 PT. Ades Waters Indonesia -2.3 -2.08 -1.29 -3.98 -66.15 2 PT. Aqua Golden Missisipi 10.14 6.89 12.89 29.64 24.47 3 PT. Cahaya Kalbar 21.08 -3.85 -8.27 11.48 8.84 4 PT. Davomas Abadi 12.53 5.51 18.64 14.88 5.01 5 PT. Delta Jakarta 3.65 6 10.22 8.43 6.07 6 PT. Fast food Indonesia 11.38 13.07 12.97 11.78 12.27 7 PT. Indofood Sukses Makmur 19.95 69.3 19.28 26.69 5.39 8 PT. Mayora Indah 7.99 10.81 13.75 13.27 8.71 9 PT. Multi Bintang Indonesia 7.47 10.38 12.11 15.75 18.3 10 PT. Pionerindo Gourmet International -10.68 -4.22 18.96 -47.72 -10.87 11 PT. Prasidha Aneka Niaga 0.05 40.7 0.97 12.15 -13.33 12 PT. Sekar Laut 2.48 -0.8 0.33 42.45 10.27 13 PT. Siantar Top 7.56 8.24 18.47 19.07 35.69 14 PT. Sierad Produce -2.71 -0.49 -6.9 11.47 17.18 15 PT. SMART -8.54 8.97 16.69 15.99 2.59 16 PT. Tunas Baru Lampung 22.58 51.95 18.72 37.48 2.18 17 PT. Ultra Jaya Milk 115.77 278.09 197.76 85.29 36.17 Lampiran 5 : Nilai PBV No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 1 PT. Ades Waters Indonesia 19.49 -2.83 -0.77 -1.45 5.78 2 PT. Aqua Golden Missisipi 2.32 1.78 2.05 3.24 3.46 3 PT. Cahaya Kalbar 0.29 0.44 1 0.9 1.11 4 PT. Davomas Abadi 1.8 0.64 3.75 2.62 1.59 5 PT. Delta Jakarta 0.43 0.66 1.42 0.83 0.57 6 PT. Fast food Indonesia 2.49 2.41 2.35 2.82 3.2 7 PT. Indofood Sukses Makmur 1.78 1.99 2.59 3.84 0.97 8 PT. Mayora Indah 0.82 1.06 0.7 1.28 1.27 9 PT. Multi Bintang Indonesia 2.51 3.39 4.62 5.84 6.09 10 PT. Pionerindo Gourmet International 4.39 -74.58 42.04 1,032.85 -43.2 11 PT. Prasidha Aneka Niaga -0.4 -0.38 1.43 1.56 0.83 12 PT. Sekar Laut -0.08 -0.09 1.46 8.36 2.35 13 PT. Siantar Top 0.78 0.74 0.6 0.8 1.37 14 PT. Sierad Produce 1.41 1.46 0.9 0.48 0.62 15 PT. SMART -2.64 1.41 4.07 5.15 0.99 16 PT. Tunas Baru Lampung 0.73 0.63 1.15 2.9 0.72 17 PT. Ultra Jaya Milk 1.55 1.52 1.1 1.54 2.21 Lampiran 6 : Nilai DPR No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 1 PT. Ades Waters Indonesia 0 0 0 0 0 2 PT. Aqua Golden Missisipi 16.96 16.95 16.98 0 0 3 PT. Cahaya Kalbar 28.11 0 0 0 0 4 PT. Davomas Abadi 0 0 0 0 0 5 PT. Delta Jakarta 14.69 14.48 19.87 48.09 0 6 PT. Fast food Indonesia 19.68 22.4 21.61 19.42 0 7 PT. Indofood Sukses Makmur 43.72 38.08 88.58 41.42 0 8 PT. Mayora Indah 22.82 22.52 41.91 28.67 0 9 PT. Multi Bintang Indonesia 78.05 23.03 166.84 75.6 62.12 10 PT. Pionerindo Gourmet International 0 0 0 0 0 11 PT. Prasidha Aneka Niaga 0 0 0 0 0 12 PT. Sekar Laut 0 0 0 0 0 13 PT. Siantar Top 35.71 0 0 0 0 14 PT. Sierad Produce 0 0 0 0 0 15 PT. SMART 0 0 21.04 1.45 0 16 PT. Tunas Baru Lampung 29.45 20.52 29.81 29.97 26.55 17 PT. Ultra Jaya Milk 0 0 318.97 0 0 Lampiran 7 : Nilai Profit No. Perusahaan 2004 2005 2006 2007 2008 1 PT. Ades Waters Indonesia -134,452 -119,256 -128,794 -154,851 -15,208 2 PT. Aqua Golden Missisipi 91,582 64,349 48,853 65,912 82,336 3 PT. Cahaya Kalbar -24,238 -21,594 15,291 24,676 27,867 4 PT. Davomas Abadi 92,015 98,957 90,069 196,277 208,455 5 PT. Delta Jakarta 38,707 56,405 43,284 47,330 83,754 6 PT. Fast food Indonesia 37,315 41,291 68,928 102,537 125,267 7 PT. Indofood Sukses Makmur 386,918 124,017 661,210 980,357 1,034,389 8 PT. Mayora Indah 85,106 45,730 93,575 141,589 196,230 9 PT. Multi Bintang Indonesia 86,297 87,014 73,581 84,385 222,307 10 PT. Pionerindo Gourmet International -20,939 4,658 -1,850 163 4,287 11 PT. Prasidha Aneka Niaga 783 118,433 11,846 8,645 9,448 12 PT. Sekar Laut -42,606 91,601 4,637 5,741 4,271 13 PT. Siantar Top 28,599 10,636 14,426 15,594 4,816 14 PT. Sierad Produce -154,346 -122,479 49,646 21,196 27,253 15 PT. SMART -107,960 304,203 628,005 988,943 1,046,389 16 PT. Tunas Baru Lampung 16,454 6,218 52,884 97,227 63,336 17 PT. Ultra Jaya Milk 4,414 4,527 14,731 30,316 303,711 Lampiran 8 : Nilai Korelasi Correlations1.000.072-.113.239.855**1.000**..784.665.355.000.0005.72E+142.34E+08-5.0E+085.50E+081.63E+135.88E+143.57E+1314612485-3.1E+07343872731.02E+123.68E+13171717171717.0721.000-.217.593*.102.073.784..402.012.697.7802.34E+0818531.382-5466.0367765.102110298822.45E+08146124851158.211-341.627485.319689367.615303154171717171717-.113-.2171.000-.181-.136-.115.665.402..487.604.661-5.0E+08-5466.03634147.211-3219.098-2.0E+07-5.2E+08-3.1E+07-341.6272134.201-201.194-1246080-3.3E+07171717171717.239.593*-.1811.000.245.241.355.012.487..342.3525.50E+087765.102-3219.0989249.450187847225.69E+0834387273485.319-201.194578.091117404535562180171717171717.855**.102-.136.2451.000.864**.000.697.604.342..0001.63E+1311029882-2.0E+07187847226.34E+111.69E+131.02E+12689367.6-124608011740453.96E+101.06E+121717171717171.000**.073-.115.241.864**1.000.000.780.661.352.000.5.88E+142.45E+08-5.2E+085.69E+081.69E+136.05E+143.68E+1315303154-3.3E+07355621801.06E+123.78E+13171717171717Pearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNPearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNPearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNPearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNPearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNPearson CorrelationSig. (2-tailed)Sum of Squares andCross-productsCovarianceNLN_YLN_X1LN_X2LN_X3LN_X4TOTALLN_YLN_X1LN_X2LN_X3LN_X4TOTALCorrelation is significant at the 0.01 level (2-tailed).**. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).*. Lampiran 9 : Non Parametik Korelasi Correlations1.000.309-.015.382*.613**.985**..084.934.039.001.000171717171717.3091.000.059.522**.347.324.084..742.005.053.070171717171717-.015.0591.000.055.125.000.934.742..768.4831.000171717171717.382*.522**.0551.000.391*.382*.039.005.768..035.039171717171717.613**.347.125.391*1.000.627**.001.053.483.035..000171717171717.985**.324.000.382*.627**1.000.000.0701.000.039.000.1717171717171.000.439-.071.487*.737**.998**..078.786.047.001.000171717171717.4391.000.037.691**.484*.456.078..889.002.049.066171717171717-.071.0371.000.023.146-.059.786.889..932.576.823171717171717.487*.691**.0231.000.521*.487*.047.002.932..032.047171717171717.737**.484*.146.521*1.000.768**.001.049.576.032..000171717171717.998**.456-.059.487*.768**1.000.000.066.823.047.000.171717171717Correlation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NLN_YLN_X1LN_X2LN_X3LN_X4TOTALLN_YLN_X1LN_X2LN_X3LN_X4TOTALKendall's tau_bSpearman's rhoLN_YLN_X1LN_X2LN_X3LN_X4TOTALCorrelation is significant at the .05 level (2-tailed).*. Correlation is significant at the .01 level (2-tailed).**. Lampiran 10 : ANOVA ANOVAb4.20E+1441.049E+148.283.002a1.52E+14121.267E+135.72E+1416RegressionResidualTotalModel1Sum ofSquaresdfMean SquareFSig.Predictors: (Constant), LN_X4, LN_X1, LN_X2, LN_X3a. Dependent Variable: LN_Yb. Lampiran 11 : Model Summary Model Summaryb.857a.734.645559344.73.7348.283412.0022.299Mode1RR SquareAdjustedR SquareStd. Error ofhe EstimateR SquareChangeF Changedf1df2Sig. F ChangeChange StatisticsDurbin-WatsonPredictors: (Constant), LN_X4, LN_X1, LN_X2, LN_X3a. Dependent Variable: LN_Yb. Lampiran 12 : Koefisien Coefficientsa88486.1561209602.073.943-2547010.3312723982.643-8924.30032873.930-.051-.271.791-80550.43562701.835.072187.48219885.736.001.009.993-43139.81143514.775-.11315466.23647284.710.062.327.749-87558.288118490.761.23925.3954.645.8455.467.00015.27435.517.855(Constant)LN_X1LN_X2LN_X3LN_X4Model1BStd. ErrorUnstandardizedCoefficientsBetaStandardizedCoefficientstSig.Lower BoundUpper Bound95% Confidence Interval for BZero-orderPaCorrelDependent Variable: LN_Ya. Lampiran 13 : Koefisen Korelasi Coefficient Correlationsa1.000.070.105-.225.0701.000.145-.576.105.1451.000.041-.225-.576.0411.00021.5790736.3269653.462-49479.00736.3261.1E+099.5E+07-9.0E+089653.4629.5E+074.0E+083.8E+07-49479.0-9.0E+083.8E+072.2E+09LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3CorrelationsCovariancesModel1LN_X4LN_X1LN_X2LN_X3Dependent Variable: LN_Ya. Lampiran 14 : Kolmogrov Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test1717171717282415617.470613.080617.7182102950.9597785934.115846.197424.0433198996.2.413.320.515.231.314.413.320.515.211.314-.326-.229-.394-.231-.1841.7051.3192.123.9511.295.006.062.000.327.070NMeanStd. DeviationNormal Parameters1,2AbsolutePositiveNegativeMost ExtremeDifferencesKolmogorov-Smirnov ZAsymp. Sig. (2-tailed)LN_YLN_X1LN_X2LN_V3LN_X4Test distribution is Normal.1. Calculated from data.2. KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar