MENGANALISIS PENGARUH KREATIF TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR INDIVIDU PADA DISTRIBUTOR MULTILEVEL MARKETING

Admin
MENGANALISIS PENGARUH KREATIF TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR INDIVIDU PADA DISTRIBUTOR MULTILEVEL MARKETING


Krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia sejak tahun 1996 tidak saja melumpuhkan dunia usaha, tetapi juga menggoyahkan sendi-sendi kesejahteraan masyarakat luas. Dunia kerja menjadi kian sempit, sementara masyarakat yang membutuhkan kerja terus meningkat. Adanya penganguran dalam anggota keluarga berarti masalah bagi anggota keluarga yang lain. Sebab, mereka terpaksa menanggung beban hidup anggota keluarga yang menganggur. Secara luas, ini juga berarti pengangguran yang disebabkan ketiadaan lapangan kerja akhirnya menjadi beban tanggungan masyarakat juga. Pengangguran ini bukanlah hasil sebuah pilihan untuk tidak bekerja, tetapi akibat dari semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan, terutama dikota-kota besar. Masyarakat yang tinggal di perkotaan sering mengharapkan mendapat pekerjaan formal di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta. Namun, justru sektor seperti itulah yang pada masa –masa ini paling merasakan dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan. Konsekwensinya adalah efisiensi tenaga kerja dengan sedikit menyerap tenaga kerja baru.

 



KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
 
Pengolahan OLAH SKRIPSI Penelitian, Pengolahan DAFTAR CONTOH SKRIPSI Statistik, Olah SKRIPSI SARJANA, JASA Pengolahan SKRISPI LENGKAP Statistik, Jasa Pengolahan SKRIPSI EKONOMI Skripsi, Jasa Pengolahan SPSS CONTOH SKRIPSI , Analisis JASA SKRIPSI 11 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Wirausaha Kata wirausaha atau “pengusaha” diambil dari bahasa Perancis “entrepreneur” yang pada mulanya berarti pemimpin musik atau pertunjukan (Jhingan, 1999: 425). Dalam ekonomi, seorang pengusaha berarti orang yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan peluang secara berhasil. Pengusaha bisa jadi seorang yang berpendidikan tinggi, terlatih dan terampil atau mungkin seorang buta huruf yang memiliki keahlian yang tinggi di antara orang-orang yang tidak demikian. Menurut Jhingan pengusaha mempunyai kreteria kualitas sebagai berikut, (1) energik, banyak akal, siap siaga terhadap peluang baru, mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi yang berubah dan mau menanggung resiko dalam perubahan dan perkembangan; (2) memperkenalkan perubahan tehnologi dan memperbaiki kualitas produknya; (3) mengembangkan skala operasi dan melakukan persekutuan, mengejar dan menginvestasikan kembali labanya. (Jhingan, 1999 : 426) Ekonom Perancis, J.B. Say, menciptakan kata entrepreneur (wirausahawan) sekitar tahun 1800 “ Wirausahawan menggeser sumber daya ekonomi dari bidang produktifitas yang lebih rendah ke bidang yang lebih tinggi dan hasil yang lebih besar” ( Armstrong, 2003 :149). 12 George Gilder dalam The Spirit of Enterprise, mengatakan “ Para wirausahawan adalah para inovator yang membangkitkan permintaan.” Mereka adalah pembuat pasar, pencipta modal, pengembang peluang dan penghasilan tehnologi baru. Istilah kewirausahaan banyak dijumpai dalam uraian yang merupakan kata dasar wirausaha yang berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan kata wirausaha. Terdapat berbagai macam penggolongan mengenai wirausaha. Winarto (2003), menggolongan dua kategori aktivitas kewirausahaan. Pertama, berwirausaha karena melihat adanya peluang usaha (entrepreneur activity by opportunity). Kedua, kewirausahaan karena terpaksa tidak ada alternatif lain untuk ke masa depan kecuali dengan melakukan kegiatan usaha tertentu. Sehingga wirausaha dapat dipandang dari (1) tujuan wirausaha, dan (2) proses berusaha. Dalam proses berusaha apakah keputusan untuk berusaha berjalan lambat atau cepat, dan pada waktu masuk dalam bisnis apakah ia sebagai pendiri, atau mendapat usaha dari proses membeli atau melalui franchising atau, (3) konteks industri dan tehnologi, (4) struktur kepemilikan, yaitu pemilik tunggal, kongsi, kelompok. Namun perlu diingat kewirausahaan itu bukan untuk sekedar menghasilkan uang, tetapi menghasilkan sesuatu yang diperlukan masyarakat yaitu gagasan inovatif, semangat untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat 13 Seorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki visi bisnis atau harapan dan mengubahnya menjadi realita bisnis. Wirausaha adalah seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas. Sebagian besar pendorong perubahan inovasi, dan kemajuan di perekonomian, sehingga wiarausaha adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengambil resiko dan mempercepat pertumbuha ekonomi. Wirausaha bukan karena memahami yang ada dalam semua kompleksitasnya, tetapi dengan menciptakan situasi baru yang harus dicoba untuk dipahami oleh orang lain. Para wirausahwan berada di dunia yang terakhir menjadi yang pertama, tempat penawaran menciptakan permintaan, tempat keyakinan mendahului pengetahuan Kets De Vries (1997 : 268) mengolongkan wirausaha berdasarkan dari lingkungan mereka berasal, yaitu : a. Wirausaha craftsmans, berasal dari pekerja kasar dengan pengalaman dalam tehnologi rendah, mekanik yang genius dan mempunyai reputasi dalam industri. b. Wirausaha opportunistic, berasal dari golongan kelas menengah sampai Chief Excecutives, c. Wirausaha dengan bekal pengalaman tehnologi, ia memiliki pendidikan formal. d. Kewirausahaan ditandai dengan keanekaragaman, yaitu adanya pergantian besar pada masyarakat dan perusahaan yang berterminologi wirausaha. Sehingga karakteristik khusus wirausaha dapat digolongkan menjadi : a. Berorientasi pada tindakan, “Mereka melakukan, membetul kannya, mencoba”. 14 b. Memiliki kemampuan untuk menvisualisasikan langkah-langkah dari gagasan sampai aktualisasi. c. Menjadi pemikir dan pelaku, perencana dan pekerja. d. Terlibat, menerapkan langsung e. Dapat mentolerir ambiguitas f. Menerima resiko tetapi memahami dan mengelolahnya g. Mengatasi, bukan menghindari, kekeliruan, mereka tidak mengakui mereka di kalahkan. h. Memandang diri sendiri sebagai seorang yang bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri. i. Percaya pada penciptaan pasar untuk gagasan mereka, bukan sekedar menanggapi permintaan pasar yang ada. Keberhasilan seorang wirausaha untuk mengembangkan bisnisnya tergantung pada kecerdasan, imajinasi, dan kekuatan keinginan individu yang bersangkutan. Sedikit keberuntungan diperlukan, tetapi dapat diargumentasikan bahwa tidak ada keberuntungan mengubah visi menjadi realita lebih berupa kerja keras, di samping imajinasi dan kemampuan yang mampu merubah karir individu menjadi sukses. (Rachbini, 2001 :100) Kaum entrepereneur (wirausaha) sangat besar artinya bagi kemajuan perekonomian, para wirausaha mempunyai katalisator dan menunjang 15 perkembangan arus investasi sehingga ikut memperkuat pembangunan ekonomi yang tengah berlangsung. Dalam proses pembentukan wirausaha tersebut memerlukan pengembangan sumber daya manusia, meliputi bagaimana orang melakukan aktifitas wirausaha dalam hal ini distributor MLM, tujuan berwirausaha, proses pengambilan keputusan terjun ke MLM. Di dalam MLM distributor disebut knowledge walker, orang-orang ini selalu belajar dan belajar dengan cepat, sehingga dapat bertahan dan maju dalam karirnya. Pilihan menjadi wirausaha lewat MLM diperlukan kreativ, inovatif keberanian mengambil resiko, mendorong perubahan dalam pengembangan karirnya. ( Riyanti D, 2002) Bird memberikan beberapa pendapat yakni pertama, dipandang dari segi energi dan dorongan serta daya fisik yang kuat sehingga ingin berkarir sebagai wirausaha ( distributor) MLM. Kedua, wirausaha (distributor), yang memulai pada usia tua, tidak memiliki masa karier yang panjang sebagaimana orang muda, walaupun mungkin lebih cepat berhasil karena faktor pengalaman. (Bird, 1989 : 271) 2.2. Pengertian Karir Pengertian karir ditafsirkan beragam oleh para ahli sesuai disiplin ilmunya. Menurut Simamora (2001:505) karir adalah “ Urutan ak tifitas-aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dan perilaku-perilaku, nilai-nilai, dan aspirasi seseorang 16 selama rentang hidup orang tersebut”. Perencanaan karir merupakan proses yang disengaja di mana dengan melaluinya seseorang menjadi sadar akan atribut-atribut yang berhubungan dengan karir personal dan serangkaian langkah sepanjang hidup memberikan sumbangan pemenuhan karir. Pendapat Ekaningrum (2002 : 256). Karir tidak lagi diartikan sebagai adanya penghargaan institusional dengan meningkatkan kedudukan dalam hirarki formal yang sudah ditetapkan dalam organisasi. Dalam paradigma tradisional, pengembangan karir sering dianggap sinonim dengan persiapan untuk mobilitas ke jenjang lebih tinggi, sehingga karir akan mendukung efektifitas individu dan organisasi dalam mencapai tujuannya. Menurut Dalil S (2002 : 277) “ karir merupakan suatu proses yang sengaja diciptakan perusahaan untuk membantu karyawan agar membantu partisipasi ditempat kerja. Sementara itu Glueck (1997 :134) menyatakan karir individual adalah urutan pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan yang dialami seseorang selama masa kerjanya. Sehingga karir individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai kesempatan, tapi dari sudut pandang organisasi karir merupakan proses regenerasi tugas yang baru. Sedangkan pendapat Ekaningrum (2002:258) karir digunakan untuk menjelaskan orang-orang pada masing-masing peran atau status. Karir adalah semua jabatan (pekerjaan) yang mempunyai tanggung jawab individu. 17 Sehingga dapat disimpulkan bahwa karir adalah suatu rangkaian atau pekerjaan yang dicapai seseorang dalam kurun waktu tertentu yang berkaitan dengan sikap, nilai, perilaku dan motivasi dalam individu. Hal –hal yang mendorong seseorang memilih karir sebagai wirausaha distributor MLM, dapat diketahui melalui penilaian kepribadian khususnya pengalaman dan latar belakangnya. Menurut Sumitro (2001 : 271) Pengalaman, seperti yang dapat dilihat dari biografi seseorang, bermanfaat untuk melihat keterampilan, dan kompetensi untuk meningkatkan kewirausahaan, pengembangan nilai-nilai kewirausahaan, dan mendorong untuk mencetuskan ide-ide kewirausahaan. 2.2.1. Pegembangan Karir Pengembangan karir (career development) meliputi manajemen karir (career management) dan perencanaan karir (career planning). Sebagaimana gambar 2.1 dijelaskan sebagai berikut Pengembangan karir organisasional Individulal Perencanaan karir Institusional Manajemen karir Gambar 2.1. Pengembangan karir organisasional Sumber Simamora, Manajemen Sumber Daya Manusia,Edisi 2,cet 3, 2001,h 505 18 Gambar 2.1 menjelaskan bahwa pengembangan karir organisasional merupakan hasil-hasil yang muncul dari interaksi antara perencanaan karir individu dengan manajemen karir secara institusional. Pengembangan karir (career development) adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya peningkatan jenjang atau status seseorang dalam pekerjaannya Hal –hal yang mendorong seseorang memilih pengembangan karir sebagai wirausaha, dapat diketahui melalui penilaian kepribadian khususnya pengalaman dan latar belakangnya. Sumitro (2001 : 272) Pengalaman, seperti yang dapat dilihat dari biografi seseorang, bermanfaat untuk melihat keterampilan, dan kompentensi untuk meningkatkan kewirausahaan, pengembangan nilai-nilai kewirausahaan, dan mendorong untuk mencetuskan ide- ide kewirausahaan. Pilihan pengembangan karir melalui wirausaha sebagai distributor MLM diperlukan kreatif, inovatif. Seorang wirausaha dituntut keberanian mengambil resiko, mendorong perubahan dalam pengembangan karirnya. memberikan beberapa pendapat yakni pertama, dipandang dari segi energi dan dorongan serta daya fisik yang kuat sehingga ingin berkarir sebagai wirausaha ( distributor) MLM. Kedua, wirausaha (distributor), yang memulai pada usia tua, tidak memiliki masa karir yang panjang sebagaimana orang muda, walaupun mungkin lebih cepat berhasil karena faktor pengalaman. 19 2.3. Pengertian Multi Level Marketing Multi Level Marketing (MLM), Menurut Clothier (1996: 33) adalah “ Suatu cara atau metode menjual barang secara langsung kepada pelanggan melalui jaringan yang dikembangkan oleh para distributor lepas yang memperkenalkan para distributor berikutnya; pendapatan yang dihasilkan terdiri dari laba eceran dan laba grosir ditambah dengan pembayaran-pembayaran berdasarkan penjualan total kelompok yang dibentuk oleh sebuah distributor “. Atau yang dikenal pula dengan nama Network Marketing (pemasaran secara jaringan), yaitu pemasaran produk atau jasa oleh seseorang atau sekelompok orang independen yang membentuk jaringan kerja secara bertingkat. Multi Level Marketing, istilah ini merujuk kepada sebuah sistem bisnis, di mana pemasaran produk atau jasa dilakukan oleh individu (distributor) yang independen (artinya tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan pengelola bisnisnya). Distributor ini lalu membentuk sebuah jaringan kerja untuk memasarkan produk atau jasa. Dari hasil penjualan pribadi dan jaringannya, setiap bulan perusahaan akan memperhitungkan bonus atau komisi sebagai hasil usahanya (Harefa, 1998 a :11) . MLM merupakan sebuah konsep pemasaran yang lugas dan sering tidak dipahami dengan tepat serta kurang dihargai sebagai sebuah peluang bisnis yang serius ( Clothier,1996: 6). Struktur jaringan MLM prinsipnya tidaklah berbeda dengan sistem distribusi barang lainnya. Masing- masing orang dalam jaringan itu membeli barang-barang yang harganya tergantung kepada jumlah yang dibeli dan menerima 20 suatu persentase harga eceran sebagai labanya. Dalam MLM setiap distributor secara pribadi telah diperkenalkan dengan bisnis ini oleh perusahaanya atau, yang lebih sering terjadi, oleh distributor yang telah ada. Dalam usaha konvensional, para tenaga penjual lazimnya dipekerjakan sebagai pegawai. Dalam MLM, para distributorlah yang menjadi tenaga-tenaga penjualnya, dan mereka mempekerjakan sendiri. Gambar 2.2. Produsen konsumen Produsen pengecer konsumen Produsen grosir pengecer konsumen Sumber Philip Kotler, 1990, jilid 2, 175, Manajemen Pemasaran” analisis, perencanaan dan pengendalian” Gambar 2.2 menjelaskan beberapa saluran pemasaran dengan berbagai panjangnya. Saluran nol tingkat (disebut pula saluran pemasaran langsung) terdiri seorang produsen yang langsung menjual pada konsumen, saluran satu tingkat yaitu saluran yang melibatkan pengecer baru ke konsumen, saluran dua tingkat yaitu saluran yang melibatkan grosir dan pengecer. 21 produsen distributor/konsumen Gambar 2.3 Sistem distribusi MLM Gambar 2.3. Sistem MLM ini memangkas jalur distribusi dalam penjualan konvensional karena tidak lagi melibatkan grosir, pengecer tetapi langsung kepada distributor yang sekaligus sebagai konsumen. Saluran ini yang dipakai oleh sistem MLM. Penghematan perusahaan MLM boleh jadi juga memungkinkan perusahaan tersebut untuk mengunakan lebih banyak uang guna penelitian dan pengembangan. Oleh karena itu, produk-produk yang terkait biasanya mempunyai mutu unggul. Semua penjualan MLM dilakukan melalui penjualan langsung (direct selling). (Harefa, 1998 a : 4) Menurut Direct Sales Agents, MLM adalah sebuah asosiasi wiraswastaan bebas dalam penjualan langsung dengan tujuan untuk menciptakan “ sebuah lembaga yang cukup kuat untuk mewakili kepentingan –kepetingan para anggotanya dalam semua situasi di mana untuk bertindak untuk bertindak sendiri tidak mencukupi. MLM menawarkan peluang untuk membangun bisnis bagi orang biasa yang tidak mempunyai modal dan pengalaman. Dalam perspektip yang lain Mahatir Muhammad menjelaskan “ MLM is the way to survive in the global market “ . (Harefa, 1998 b : 13) Sekalipun karir sebagai distributor MLM sangat menjanjikan, namun meraih keberhasilan lewat jalur MLM bukanlah hal yang mudah sebagaimana membalik telapak tangan 22 BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN 3.1. Kerangka Konseptual Berdasarkan kajian teoritis yang telah dijabarkan pada BAB 2, kerangka konseptual penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Faktor-faktor internal maka • • • • Wirausaha o Kreatif (X• ) o I novatif (X ô ) o Berani (Xç ) Usia *) Jenis Kelamin *) Pendidikan *) Pengembagan Karir Individu (Y) Faktor-faktor Eksternal o o o Keluarga Ekonomi Sosial- budaya Keterangan : Diteliti : Tidak diteliti : *) Gambar 3.1. Kerangka konseptual 23 Berdasarkan kerangka konseptual tersebut dapat dijelaskan, bahwa Pengembangan karir individu distributor MLM dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah Wirausaha yang meliputi tiga komponen yaitu K reatif (X ý), Inovatif (X ô), Berani (X ç), serta usia, jenis kelamin, pendidikan, tetapi ketiga hal tersebut tidak diteliti. Faktor ekternal, termasuk dalam faktor yang tidak diteliti karena jangkauannya terlalu luas, seperti keluarga, ekonomi, sosial-budaya. Variabel X secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap variabel Y, Wirausaha adalah variabel bebas (independent variable /IV) yang berpengaruh terhadap pengembangan karir individu, merupakan variabel terikat / tergantung (dependent Variable / DV) 24 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, yaitu peneliti melakukan pengamatan langsung kepada responden dengan melakukan penyebaran kuisioner untuk dianalisis. Pemilihan sampel berkaitan dengan bagaimana memilih respoden yang dapat memberikan informasi yang mantap dan terpercaya untuk mendapatkan data yang diperlukan. 4.2. Populasi Dan Sampel 4.2.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah distributor yang telah bergabung secara aktif pada MLM di Malang. Sebagaimana pendapat Singarimbun (1989:149-152) bahwa, untuk dapat memberikan gambaran yang lebih representatif dan mengurangi tingkat kesalahan (error) terhadap nilai populasinya, maka total populasi atau sensus lengkap dapat memberikan gambaran yang representatif atau lebih mendekati nilai sesungguhnya. Mengingat populasi yang ada masuk kategori infinite, maka peneliti mengunakan sampel dalam rancangan penelitian ini. 25 4.2.2. Sampel Pemilihan sampel berkaitan dengan bagaimana memilih respoden yang dapat memberikan informasi yang mantap dan terpercaya untuk mendapatkan data yang diperlukan (Sanapiah, 1990: 25), untuk mendapat sampel tersebut peneliti memilih distributor yang aktif pada MLM di Malang. Maka sampel pada penelitian ini berdasarkan rumus sebanyak 96 orang. Sebagaimana dikemukakan oleh Kerlinger (1992 :205), menyarankan pengunaan sampel besar, karena makin besar ukuran sampel maka semakin kecil probabilitas terpilihnya sampel yang menyimpang. 4.2.3. Tehnik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel secara non probability dengan metode purposive sampling. Besar sampel pada penelitian ini diperoleh berdasarkan rumus (Zainuddin, 2002 :58) N = Z á² - p. q d² = (1,96)² x 0,5 x0,5 = 96.04 (0,1) ² N p q Z á² d² adalah jumlah sampel adalah estimator adalah 1-P adalah kurvanormal padaá = 0,05 kurva normal pada 0,1 26 4.3. Variabel Penelitian 4.3.1. Identifikasi Variabel Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini diklasifikasi sebagai berikut : 1. Variabel tergantung (DV/ dependent variable/Y) adalah pengembangan karir individu. 2. Variabel bebas (IV/ independent variable/X) adalah aktifitas wirausaha yang meliputi K reatif (X ý), Inovatif (X ô), dan berani (X ç) 3. Variabel luar (ekstraneus variables) adalah variabel-variabel yang di luar hubungan yang tidak diteliti atau variabel yang ikut mempengaruhi pengembangan karir individu adalah keluarga, ekonomi, sosial budaya. 4.3.2. Definisi Operasional variabel 1. Wirausaha (W) adalah aktifitas yang dilakukan distributor MLM yang meliputi kreatif, inovatif, berani mengambil resiko. a. K reatif (X ý) merupakan kemampuan untuk melakukan dengan lebih baik (to do things better). b. Inovatif (X ô) kemampuan melahirkan ide-ide yang mengabungkan dan melalukan dengan cara berbeda (doing things differently). 27 c. Berani (X ç) kemampuan mengabungkan proses-proses baru yang belum pernah dilakukan “orang yang suka mengambil resiko” (risk- taker). Berdasarkan penjelasan definisi operasional semua variabel dalam penelitian ini berskala pengukuran ordinal 2. Pengembangan karir individu (Y) dalam penelitian ini adalah karir atau tidak ada pengembangan karir. Berdasarkan penjelasan definisi operasional variabel Y berskala pengukuran nominal.. Berdasarkan penjelasan difinisi operasional semua variabel dalam penelitian ini, maka jenis variabel bebas berskala pengukuran ordinal dan untuk variabel terikat berskala pengukuran nominal. Oleh karena itu pada variabel bebas skala pengukuran nominal ada dua kategori maka untuk metode analisa statistik yang digunakan adalah regresi logistik. 4.4. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ilmu sosial menurut Sugiyono (2001 :96) dikenal 3 jenis Instrumen penelitian yaitu kuisioner, observasi dan wawancara. Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini adalah mengunakan kuisioner tertutup. Kuesioner tertutup dipergunakan untuk mendapatkan data tentang variabel – variabel yang akan diteliti. Dalam kuesioner tertutup penelitian mengunakan skala likert, karena dalam pengunaan skala ini mempunyai keuntungan sebagai berikut : 28 1. Penggunaan dan pengolahan datanya lebih sederhana. 2. Waktu yang dipergunakan untuk menjawab kuesioner sangat singkat. Adapun alasan digunakan kuisioner dalam penelitian ini adalah : a. Subyek adalah orang yang paling mengetahui dirinya sendiri. b. Apa yang diungkap oleh subyek kepada peneliti dapat dipercaya. c. Interpretasi subyek tentang pertanyaan yang diajukan adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. (Hadi, 1994 :157) 4.4.1. Penentuan skor Indikator – indikator dari semua variabel dalam penelitian ini dijabarkan dalam pertanyaan, di mana setiap pertanyaan diberi skor antara 1 - 3. Dengan penilaian 75 % < baik, 50 – 74,9 % cukup, < 50 % kurang (Arikunto, 2000). Hal ini sesuai untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang, di mana skala ini responden memilih jawaban dari 19 – 25 katagori baik, 10 – 18 katagori cukup, dan kurang dari 10 katagori kurang. Pada angket tentang memilih karir atau tidak karir dibeikan skor antara 0 dan 1. Skor tertinggi 1 menunjukkan bahwa responden sangat tertarik dalam pengembangan karir, skor terendah 0 menunjukkan bahwa responden tidak memiliki target terhadap pengembangan karir. 29 4.5. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan pada distributor MLM di Malang. Penelitian dilakukan pada bulan Juli 2003 selama 3 minggu, yaitu mulai tanggal 7 - 27 Juli 2003. Pada penelitian ini untuk keperluan penyebaran dan pengumpulan kembali kuisioner, peneliti dibantu oleh tiga stockist (tempat pengambilan barang), dan distributor yang telah memiliki jaringan (network) aktif yang ada di Malang. Selanjutnya para distributor tersebut membantu peneliti untuk menyampaikan maksud dari penelitian tersebut. Disamping itu peneliti juga menghadiri setiap pertemuan yang dilaksanakan stockist untuk mendapatkan responden. 4.6. Prosedur Pengumpulan data 4.6.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari dua sumber, yaitu 1. Data primer Adalah data yang diperoleh langsung dengan para distributor melalui kuesioner. 2. Data sekunder Adalah data yang diperoleh dari berbagai informasi yang berkaitan dengan topik yang akan diteliti. Untuk memperoleh fakta dari informasi yang dibutuhkan dilakukan cara penelusuran data dengan pengkajian kepustakaan. 30 4.6.2. Cara Pengumpulan Data Cara Pengumpulan data yang digunakan dengan kuestioner terbagi terbagi dalam dua topik untuk mengukur wirausaha dan pengembangan karir. 4.7. Cara Pengelolaan Data Cara yang digunakan untuk pengolahan data pada penelitian ini melalui berbagai macam, yaitu : a. Editing, adalah kegiatan memeriksa data yang sudah terkumpul dalam penyebaran kuisioner, apakah sudah lengkap atau tidak. Kuisioner yang disebarkan sebanyak 120 lembar dan sebagian data tidak kembali, sebanyak 17 lembar dan tidak lengkap 5 lembar, dan 2 cadangan. b. Coding, adalah kegiatan mengklasifikasi kode tertentu kepada masing- masing kategori. c. Tabulasi, adalah memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah jawaban dalam berbagai kategori 4.8. Cara Analisis Data Analisis data yang dilakukan menggunakan bantuan program SPSS ( Statistical Program for Social Science) Versi 10. Untuk keperluan pengelolaan 31 dan analisis data, peneliti dibantu oleh satu orang tenaga profesional yang menguasai program SPSS 10. Setelah dilakukan pengelolaan data, maka selanjutnya dilakukan untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel tergantung dengan menggunakan model analisis regresi logistik yang diolah dengan program SPSS 10. Model ini dipilih karena ingin mengetahui besarnya kontribusi pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung. Serta faktor resiko variabel bebas terhadap variabel terikat. Adapun formula dari model regresi logistik sebagai berikut : Y= 1 a + e • (bixi + b2x2 + b3x3) Keterangan : Y X• Xô Xç b1 b2 a e adalah adalah adalah adalah adalah adalah adalah Variabel tergantung, yaitu pengembangan karir individu. Variabel kreatif. Variabel Inovatif. Variabel Berani. koefisien regresi Konstanta. 2,718 ( bilangan eksposional ). BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Proses Penelitian Pengumpulan data dilakukan pada distributor MLM di Malang, mengingat sulitnya menemui responden, maka hampir setiap ada pertemuan group meeting yang dilaksanakan stokist peneliti meminta diberi kesempatan waktu sekitar 15 menit untuk menjelaskan kuesioner dan menyebarkan. Sehingga jumlah responden yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Berdasarkan uraian dan rencana penelitian yang dijelaskan pada Bab 4 mengenai sampel penelitian, maka peneliti mengumpulkan dan menganalisa data dari 96 distributor yang aktif pada MLM di Malang. Waktu penyebaran kuisioner dilakukan selama 3 minggu mulai tanggal 7 – 27 Juli di Malang. 5.2. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah distributor MLM di Malang. Jumlah responden adalah 96 yang terdiri dari 44 orang laki-laki, 53 orang perempuan dan sebagian besar adalah usia produktif sebagaimana tabel dibawah. 32 Tabel 5.1 Distribusi Usia Responden tahun 2003 Sumber data primer yang diolah Tabel 5.2 Distribusi Usia Responden tahun 2003 Sumber data primer yang diolah Berdasarkan Tabel 5.2. dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki usia antara 20 – 25 tahun, yaitu sebesar 46,7 % responden. Sedangkan usia yang sudah tidak produktif yaitu di atas 41 tahun ke atas adalah 2,9 %. Melalui distribusi usia tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki usia yang tergolong produktif. Responden penelitian dilihat dari strata pendidikan sebagian besar mahasiswa yang ingin memiliki penghasilan tambahan guna menunjang kuliah. Tabel 5.3 Distribusi Pendidikan Responden tahun 2003 Sumber data primer yang diolah 33 Tabel 5.3 menunjukan bahwa sebagia besar responden memiliki pendidikan SLTA. Data tersebut menunjukkan bahwa responden yang rata-rata mahasiswa pendatang dituntut untuk mandiri dan memiliki penghasilan tambahan diluar bantuan dari orang tua . 5.3. Deskripsi Variabel Penelitian Deskripsi variabe sebagai variabel Y. Skor tiap butir dalam variabel pada setiap variabel Wirausaha terdiri atas 1 – 5. Sedangkan untuk variabel Y mengunakan skor 0 mewakili distributor yang tidak berorientasi pengembangan karir dan skor 1 untuk distributor yang berorientasi pengembangan karir. 5.3.1. Variabel Wirausaha ( X) Skor variabel wirausaha terbagi atas 3 tingkat yaitu baik, cukup, kurang. Skor Wirausaha selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.4 dibawah : Tabel 5.4 Distribusi Kreatif Pada Distributor MLM di Malang Th. 2003 Sumber data primer yang diolah 34 Tabel 5.5 Distribusi Inovatif Pada Distributor MLM di Malang Th. 2003 Sumber data primer yang diolah Tabel 5.6 Distribusi Berani Pada Distributor MLM di Malang Th. 2003 Sumber data primer yang diolah Ketiga tabel di atas menunjukan bahwa sebagian besar skor tingkat wirausaha terletak pada skor baik. Jumlah responden rata – rata pada kelas baik berkisar 58,0 %, sedangkan yang berada di kelas kurang berkisar 11,1 %. 5.3.2. Variabel Orientasi Karir Variabel Y pada penelitian ini adalah pengembangan karir atau tidak pengembangan karir. Data tentang variabel Y selengkapnya terdapat di bawah ini: Tabel 5.7 Distribusi Variabel Pengembangan Karir Pada Distributor MLM di Malang Th. 2003 Sumber data primer yang diolah 35 5.4. Hasil Uji Regresi Logistik Tabulasi silang antara distribusi kreatif, inovatif dan berani terhadap pengembangan karir dapat di lihat pada tabel di bawah : Tabel 5.8 Distribusi Kreatif Terhadap Pengembangan Karir Pada Distributor MLM di Mala ng Th. 2003 Tabel 5.8 di atas menunjukan, bahwa pada kelompok tidak karir sebagian besar responden adalah mempunyai kategori kreatif cukup sebesar 22 orang (78,6 %). Sedangkan pada kelompok karir sebagian besar adalah pada kategori baik sebesar 53 orang (81,5 %). Dari persentase diatas juga dapat di lihat bahwa semakin tidak berorientasi pengembangan karir malah semakin mempunyai kreatifitas yang kurang, sebaliknya berorientasi pengembangan karir malah kreatifitasnya semakin baik. 36 Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Inovatif Terhadap Pengembangan Karir Pada Distri butor MLM di Malang Th. 2003 Tabel 5.9 di atas menunjukan, bahwa pada kelompok karir sebagian besar responden adalah mempunyai kategori inovasi baik sebesar 49 orang (77,8 %). Sedangkan pada kelompok tidak karir sebagian besar adalah pada kategori baik sebesar 14 orang (22,2 %). Dari persentase diatas juga dapat di lihat bahwa semakin tidak berorientasi pengembangan karir malah semakin mempunyai inovasi yang baik, sebaliknya berorientasi pengembangan karir malah inovasinya juga baik. Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Berani Terhadap Pengembangan Karir Pada Distrib utor MLM di Malang Th. 2003 37 Tabel 5.10 di atas menunjukan, bahwa pada kelompok tidak karir sebagian besar responden adalah mempunyai kategori berani cukup sebesar 15 orang (60,0 %). Sedangkan pada kelompok karir sebagian besar adalah pada kategori baik sebesar 49 orang (84,5 %). Dari persentase diatas juga dapat di lihat bahwa semakin tidak berorientasi pengembangan karir malah semakin mempunyai keberanian yang cukup, sebaliknya berorientasi pengembangan karir malah keberaniannya semakin baik. Untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap pengembangan karir dilakukan pengujian regresi logistik berganda. Hasil dari pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah : Tabel 5.11 Hasil Uji Regresi Logistik Bergandang Antara Variabel Bebas Terhadap Pengembangan Karir Pada Distributor MLM di Malang Th. 2003 Berdasarkan Tabel di atas dapat di lihat bahwa variabel Kreatif berpengaruh terhadap pengembangan karir dengan tingkat signifikan 0,004 0,05). Variabel Inovatif tidak berpengaruh terhadap pengembangan karir karena 38 berpengaruh terhadap pengembangan karir dengan nilai signifikan 0,001 ( pada < Untuk melihat pengaruh yang dominan dapat dilihat dari nilai signifikansinya. Tabel diatas menunjukan bahwa variabel berani merupakan variabel dominan dengan nilai signifikan yang paling kecil yaitu 0,001 (p > 0,05) KUNTA, 
widget by : http://www.rajakelambu.com
Previous
Next Post »
0 Komentar