PENGARUH DIMENSI ETIK AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBIAYAAN QARD AL-HASAN DI KOPERASI BAITUL MAAL WAT TAMWIL MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH SIDOGIRI PASURUAN

Admin

PENGARUH DIMENSI ETIK AKUNTANSI MANAJEMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBIAYAAN QARD AL-HASAN DI KOPERASI BAITUL MAAL WAT TAMWIL MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH SIDOGIRI PASURUAN



Semua praktek akuntansi manajemen dikembangkan untuk membantu manajer memaksimumkan laba. Secara tradisional, kinerja ekonomi perusahaan menjadi suatu pertimbangan. Namun, manajer dan akuntan manajemen seharusnya tidak terlalu fokus pada laba sehingga mereka dapat membangun suatu keyakinan bahwa satu-satunya tujuan bisnis adalah memaksimumkan kekayaan bersih.
Tujuan memaksimumkan laba harus dibatasi dengan persyaratan bahwa laba dicapai melalui cara-cara yang sah dan etis. Meskipun hal ini selalu menjadi asumsi implisit dari akuntansi manajemen, namun asumsi tersebut seharusnya dibuat menjadi asumsi yang eksplisit (Hansen dan Mowen, 1997: 20).
 Perilaku etis sangat penting diperlukan untuk kesuksesan jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku pada semua lingkup makro ataupun mikro.
Perhatian atas keberlangsungan suatu praktik etika dalam bisnis dan profesi dewasa ini telah sedemikian berkembang. Situasi ini tidak terlapas dari kenyataan bahwa bisnis merupakan bidang kehidupan yang rentan atas pelanggaran-pelanggaran moral. Bidang bisnis yang melibatkan banyak kalangan profesional bahkan seringkali dianggap sebagai pemicu rusaknya berbagai tatanan kehidupan dalam suatu masyarakat. Maka yang perlu dikembangkan adalah kesadaran untuk selalu menjaga moralitas dalam bisnis. Bagaimana kesadaran ini dikembangkan adalah sebuah persoalan tersendiri, sehingga muncul berbagai upaya dengan berbagai perspektif pula (Ludigdo, 2005: 1).
Menurut (Hansen dan Mowen, 1997: 20-21) prilaku etis melibatkan tindakan-tindakan yang “benar,” “ sesuai,” serta “adil”. Tingkah laku kita mungkin benar atau salah; layak atau tidak layak; dan keputusan yang kita buat dapat adil atau berat sebelah. Meskipun orang sering berbeda pandangan terhadap arti istilah etis; tetapi tampaknya terdapat suatu perinsip umum yang mendasari semua sistem etika. Prinsip ini diekspresikan oleh keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab untuk kebaikan anggota lainnya. Keinginan untuk berkorban demi kebaikan kelompoknya merupakan inti dari tindakan etis.
      Pemikiran mengenai pengorbanan kepentingan seseorang untuk kebaikan orang lain menghasilkan beberapa nilai inti (core value)-nilai-nilai yang menjelaskan arti dari benar dan salah secara lebih konkret. Menurut James W. Brackner, penulis “Ethics Column” yang diperjelas oleh Michael Josephson dalam bukunya Hansen dan Mowen bahwa yang termasuk perilaku etis dalam akuntansi manajemen adalah sebagai berikut :
Pertama; Kejujuran (honesty), kedua; Integritas (integrity), ketiga; Pemenuhan janji (promise keeping), keempat; Kesetaiaan (fidelity), kelima; Keadilan (fairness), keenam; Kepedulian tehadap sesama (caring for others), ketujuh; Penghargaan kepada orang lain (respect for others), Kedelapan; Kewarganegaraan yang bertanggung jawab (responsible citizenship), kesembilan; Pencapaian kesempurnaan (pursuit of excellence), kesepuluh; Akuntabilitas (accountability).
Perusahaan dengan kode etik yang kuat dapat menciptakan loyalitas yang tinggi bagi konsumen dan pekerjanya. Meskipun kebohongan dan kecurangan kadang dapat menghasilkan kemenangan, namun kemenangan tersebut hanya bersifat sementara. Perusahaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang menemukan bahwa ada manfaat dari memperlakukan segala sesuatunya dengan jujur dan loyal.
Sejak terjadinya krisis moneter sampai sekarang ini, organisasi bisnis Islam yang berkembang pesat di Indonesia adalah bank Syariah. Menurut Zulkifli (2003: 3), di tengah maraknya penggunaan bunga oleh perbankan nasional, bank syariah tampil menunjukkan eksistensinya dan mengalami perkembangan yang cepat. Seperti layaknya efek bola salju yang menggerus tiap sisi jalan yang dilewatinya untuk memperbesar dirinya, sebagian perbankan nasional juga telah  ikut ambil bagian untuk turut menggunakan sistem syariah dalam pengoperasiannya. Di antaranya adalah bank umum, unit usaha syariah bank konvensional, dan bank perkreditan rakyat syariah.
Prinsip profit sharing merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional lembaga keuangan Syariah secara keseluruhan. Baitul Maal Wat Tamwil adalah sebuah lembaga keuangan yang dioperasionalkan dengan prinsip Syari’ah yang sangat menjunjung perilaku etis. BMT  bergerak dalam dua fungsi yakni sebagai Baitul Maal (lembaga sosial) dan Baitut Tamwil (lembaga bisnis). Sebagai lembaga keuangan syariah, BMT beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil.
BMT-MMU Sidogiri Pasuruan merupakan salah satu lembaga keuangan yang dilakukan dengan akad yang memiliki konsekuensi duniawi dan ukhrowi, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam (Syariah Islam). Maka dari itu diperlukan sikap profesional bagi semua elemen yang ada di dalamnya. Dalam hal etika misalnya, sifat amanah dan shiddiq, harus melandasi setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Disamping itu, karyawan yang dimiliki harus skillfull dan professional (fathanah) dan mampu melakukan tugas secara team work dimana informasi merata diseluruh fungsional organisasi (tabligh). Demikian pula dalam hal reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengan syariah.
Secara umum dilihat dari perkembangannya, BMT-MMU menunjukkan perkembangan yang pesat dan merupakan lembaga keuangan yang berbadan hukum Koperasi Simpan Pinjam yang memiliki predikat berprestasi tahun 2006 urutan keempat se-Indonesia. Di samping itu BMT-MMU juga merupakan koperasi kelompok simpan pinjam berprestasi peringkat ke-1 tahun 2006 tingkat provinsi Jawa Timur kelompok koperasi simpan pinjam (RAT BMT-MMU 2006:46).
Salah satu produk dari BMT-MMU yang bersifat ta’awun (sosial) adalah Qard. Qard sebagai produk pembiayaan (permodalan) bagi usaha mikro lebih dikenal dengan istilah Qard al–Hasan. Sifat Qard al-Hasan tidak memberikan keuntungan finansial bagi pihak yang meminjamkan, atau dengan kata lain tanpa margin. Adapun dana Qard al-Hasan dapat bersumber dari dana Zakat, Infak, Shadaqoh maupun Wakaf. Namun di BMT-MMU dana Qard al-Hasan bersumber dari dana (modal) produktif.
Perkembangan pembiayaan Qard al-Hasan di BMT-MMU dari tahun ke tahun sangat bagus. Pada tahun 2006 jumlah pembiayaannya Rp 152 331 667, pada tahun 2007 jumlah pembiayaannya dari keseluruhan 17 cabang sudah mencapai Rp 593 313 977. Sedangkan pada tahun 2008 dan jumlah kantor cabangnya sudah mencapai 20, jumlah pembiayaannya meningkat tajam yaitu sebesar Rp 1 063 443 050. Jumlah ini sangat besar untuk pembiayaan Qard al-Hasan, dimana pembiayaan ini mengandung resiko yang cukup besar karena  bersifat sosial dimana nasabah tidak memberikan keuntungan pada BMT-MMU ketika jatuh tempo dan tidak menggunakan jaminan atau agunan. Tapi bila dibandingkan dengan pembiayaan lainnya di BMT-MMU pembiayaan Qard al-Hasan merupakan salah satu pembiayaan yang jumlahya cukup kecil seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 1.1
Jumlah Produk-Produk  Pembiyaan di BMT-MMU 2007

No
PEMBIAYAAN
TAHUN 2007
1
PEMBIAYAAN BAI’ BISTAMANIL AJIL
Rp 8. 198. 291. 239,00
2
PEMBAIAYAAN MUSYAROKAH
-
3
PEMBIAYAAN MUDHOROBAH
Rp 5. 456. 807. 494,00
4
PEMBIAYAAN MUROBBAHAH
Rp     256. 408. 678,00
5
PEMBIAYAAN QARD AL-HASAN
Rp     593. 313. 977,00
Sumber : RAT BMT-MMU 2007 (15)  
      Pembiayaan Qard al-Hasan di BMT-MMU ini sangat menolong sekali pada usaha kecil untuk menambah modalnya, karena sebagian besar nasabahnya adalah para pedagang kecil yang ada di pasar-pasar tradisionl. Dari 17 cabang yang ada pada tahun 2007 dan menjadi 20 cabang pada tahun 2008 hampir semuanya sukses dalam menjalankan pembiayaan Qard al-Hasan, namun hanya ada satu cabang yang mengalami beberapa masalah (pembiayaan bermasalah), yaitu cabang Purwosari sehingga pembiayaan Qard al-Hasan di suspensi atau diberhentikan sementara operasionalnya pada 2006, yang diakibatkan karena kurangnya ketelitian dari pihak BMT-MMU cabang Purwosari (dalam hal ini kepala cabang dan account officer) dalam menilai, menentukan dan menyeleksi nasabah. Karena kepala cabang punya wewenang penuh untuk pembiayaan Qard al-Hasan, maka dibutuhkan sekali penilaian, pengawasan, keteletian dan keputusan yang tepat dari kepala cabang dan account officer terhadap nasabah agar kejadian di cabang Purwosari tidak terjadi pada cabang-cabang lainnya, dan supaya modal yang dipinjamkan kenasabah dijadikan modal yang produktif bukan konsumtif. Staf SPS (Simpan Pinjam Syariah) BMT-MMU Sidogiri Pasuruan Abdullah Shadiq mengatakan salah satu penyebab berhentinya pembiayaan Qard Al-Hasan tahun 2006 di cabang Purwosari adalah karena kurang jeli dan ketelitian kepala cabang dan account officer dalam menilai nasabah. 
      Dengan keputusan yang tepat dari kepala cabang dan account officer dalam menilai dan menyeleksi nasabah serta didukung dengan kode etik yang dipegang teguh oleh para karyawan maka akan mengurangi resiko pembiayaan bermasalah di BMT-MMU, terutama untuk  pembiayaan Qard al-Hasan. Kejujuran merupakan nilai moral kunci utama yang harus dipegang  oleh nasbah, sedangkan kode etik pembiayaan wajib dipegang teguh oleh karyawan agar tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi serta agar pembiayaan Qrad al-Hasan ini berjalan sesuai dengan tujuannya yaitu untuk menolong nasabah yang kekurangan modal serta untuk mengurangi paraktek riba (rentenir) yang telah merajalela. Dengan kejujuran dan kode etik pembiayaan yang kuat, maka akan sendirinya menciptakan rasa keadilan antara nasabah dengan BMT-MMU karena telah saling menolong sehingga akan terjalin rasa integritas yang tinggi.
      Kejujuran, keadilan, dan integritas merupakan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi dan dipegang sebagai prinsip hidup di lingkungan BMT-MMU dan kunci dari semua kesuksesan yang telah diraih baik dari segi omzet, jumlah kantor cabang dan jumlah dari pembiayaan Qard al-Hasan yang telah cukup berkembang di berbagai kantor cabang. Ketiga nilai moral tersebut termasuk dalam sepuluh perileku etis akuntansi manajemen yang terdapat dalam bukunya Hansen dan Mowen (1997: 20-21), kesepuluh nilai moral inilah yang akan dijadikan variabel dalam penelitian ini.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis tertarik mengambil judul: “PENGARUH DIMENSI ETIK AKUNTANSI MANAJEMAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBIAYAAN QARD AL-HASAN DI KOPERASI BAITUL MAAL WAT TAMWIL MASLAHAH MURSALAH LIL UMMAH SIDOGIRI PASURUAN”.
 

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar