ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KECUKUPAN MODAL KERJA (Studi Pada PT. Gudang Garam,Tbk)

Admin
ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI KECUKUPAN MODAL KERJA (Studi Pada PT. Gudang Garam,Tbk) Lengkap Sampai daftar Pustaka



Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara menganalisis laporan keuangan. Model yang sering digunakan dalam melakukan analisis tersebut adalah dalam bentuk rasio-rasio keuangan (Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi http://spicaalmilia.files.wordpress.com/2007/04/model-financial-distress.pdf).   
ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI  KECUKUPAN MODAL KERJA  (Studi Pada PT. Gudang Garam,Tbk)
ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MENILAI  KECUKUPAN MODAL KERJA  (Studi Pada PT. Gudang Garam,Tbk)

Kebenaran kegunaan rasio keuangan untuk memprediksikan kondisi suatu perusahaan telah dibuktikan oleh berbagai penelitian diantaranya adalah penelitian yang diilakukan oleh Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijadi yang menemukan bahwa rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksi financial Distress suatu perusahaan.
Analisis rasio keuangan sangat berguna bagi pihak manajemen untuk membantu manajer dalam mengevaluasi mengenai hasil operasi, memperbaiki penyimpangan atas rencana yang telah disusun dan menghindari hal-hal lain yang bersifat merugikan (Syahyunan, 2003: 06).Selain bagi pihak manajemen perhitungan rasio keuangan sangat penting juga bagi pihak luar (eksternal) yang ingin menilai laporan keuangan suatu perusahaan untuk mengetahui tingkat  likuiditas, profitabilitas,  prospek perusahaan di masa depan serta efisiensi penggunaan modal kerja yang merupakan fokus dalam penelitian ini (Syahyunan, 2003: 06).
Penelitian ini dilakukan disebabkan banyak perusahaan yang mengalami kesulitan karena pimpinan perusahaan kurang mengetahui pengertian modal kerja dan fungsinya dalam suatu perusahaan, yaitu modal kerja sering kali digunakan untuk membeli aktiva tetap sehingga akan menimbulkan kesulitan bagi perusahaan. Untuk menghindari hal demikian maka perlu memahami tentang modal kerja (Syahyunan, 2003: 01).
Dalam menganalisis modal kerja suatu perusahaan, memerlukan adanya suatu ukuran tertentu ukuran tersebut diperoleh dengan menggunakan analisis rasio yaitu suatu cara menganalisa hubungan-hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan. Hasil dari analisa ini merupakan dasar untuk dapat menginterpretasikan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan (Syahyunan, 2003: 06).
Menurut Riyanto (1991 : 28) untuk menilai perusahaan efisien dalam penggunaan modal kerjanya adalah dengan membandingkan modal kerja dengan hasil laba yang didapatkan. Jika dinaikkan modal kerjanya yang digunakan  sedangkan hasil laba yang didapatkan semakin atau semakin berkurang maka perusahaan tersebut penggunaan modal kerjanya tidak efisien begitu pula sebaliknya.
Kondisi tidak efisien dalam penggunaan modal kerja dimungkinkan terjadi pada perusahaan rokok terbesar di Indonesia yaitu PT. Gudang Garam Tbk, hal ini terlihat dari laporan keuangan  tahun 2006 mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. Perusahaan rokok raksasa ini hanya berhasil mencetak laba bersih bersih sebesar Rp 544,999 miliar. Angka itu jauh di bawah capaian laba bersih pada periode yang sama tahun 2005 yakni sebesar Rp 1,070 triliun. Sebenarnya, pada semester pertama 2006 ini, PT. Gudang Garam berhasil mencatat kenaikan penjualan atau pendapatan usaha, yaitu dari Rp 12,318 triliun pada periode tahun lalu, menjadi Rp 12,668 triliun. Namun perseroan mencatat kenaikan beban usaha yang cukup signifikan dari Rp 1,019 triliun pada periode tahun lalu menjadi Rp 1,254 triliun
Selain itu, perseroan juga mengalami kenaikan beban lain-lain, yaitu dari Rp 152,321 miliar pada semester pertama tahun 2005, menjadi Rp 306,020 miliar pada periode yang sama tahun ini.
Dengan kinerja seperti itu, laba usaha yang pada periode semester I-2005 mencapai Rp 1,688 triliun, akhirnya terpangkas menjadi Rp 1,141 triliun pada semester I-2006 (Hidayat, http://www.swa.co.id/primer/manajemen/operasi/details.php?cid=1&id=4648)
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti termotivasi untuk meneliti fokus pada modal kerja PT. Gudang Garam, Tbk dengan judul " Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kecukupan Modal Kerja (Studi Pada PT. Gudang Garam,Tbk).

A.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti menemukan permasalahan yaitu ”Bagaimana tingkat kecukupan modal kerja pada PT. Gudang Garam,Tbk ?




B.     TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan tingkat kecukupan  modal kerja pada PT. Gudang Garam,Tbk.

C.     BATASAN PENELITIAN
Untuk menjaga akurasi dan ketajaman analisis, maka diperlukan batasan batasan yang jelas dalam penelitian ini. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada analisis rasio keuangan dengan batasan obyek laporan keuangan periode 2003 sampai 2006 PT. Gudang Garam,Tbk.

D.    MANFAAT PENELITIAN
a.    Sebagai bahan masukan untuk mengevaluasi kinerja atau prestasi keuangan perusahaan.
b.   Sebagai bahan pertimbangan bagi para investor yang ingin berinvestasi pada saham PT. Gudang Garam,Tbk
c.    Dapat memperluas wawasan dan pengetahuan, khususnya analisa laporan keuangan dalam mengetahui kinerja perusahaan.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.      KAJIAN EMPIRIS HASIL-HASIL PENELITIAN TERDAHULU
1.         Luciana Spica Almilia dan Emanuel Kristijad (2003)
Judul Penelitian ini adalah analisis rasio keuangan untuk memprediksi kondisi financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek jakarta. konsep yang digunakan adalah bahwa rasio profit margin, rasio likuiditas, rasio efisiensi operasi, rasio profitabilitas, rasio financial leverage bisa memprediksikan financial distress. Adapun metode penelitian yang digunakan untuk menjawab konsep tersebut adalah metode kuantitatif.
Berdasarkan metode kuantitatif menunjukkan bahwa rasio keuangan rasio profit margin, rasio likuiditas, rasio efisiensi operasi, rasio profitabilitas, rasio financial leverage dapat digunakan untuk memprediksi finansial distress suatu perusahaan
2.      Ashlihah (2004)

 
Judul penelitian ini adalah pengaruh rasio keuangan bank terhadap keputusan pemberian kredit pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. Konsep yang digunakan adalah rasio keuangan yang terdiri dari CAR (Credit To Asset Ratio), LA (Loan To Assets Ratio), RLR (Rate of Return on Loan Ratio), AUR (Assets Utilization Ratio) yang mempengaruhi LDR (Loan To Deposit Ratio). Pada penelitian ini LDR dijadikan alat ukur pemberian kredit Pada Bank Negara Indonesia. Untuk menjawab konsep tersebut, maka digunakan metode kuantitif.

Berdasarkan metode kuantitatif maka ditemukan hasil penelitian Secara simultan bahwa semua variabel berpengaruh sebesar 92% terhadap Loan Deposit Ratio, secara Parsial LAR, AUR, LRR, CAR bepengaruh signifikan dengan variabel dominan LAR
3.      Umi Khulsum (2005)
Judul Penelitian ini adalah penilaian rasio keuangan dengan metode CAMEL sebagai alat pengukur tingkat kesehatan bank pada Bank Muamalat Indonesia,Tbk. Konsep yang digunakan adalah metode CAMEL yang terdiri dari CAR, RORA, ROA, BOPO, CM, LDR bisa menilai kesehatan Bank Muamalat Indonesia, Tbk. Untuk menjawab konsep tersebut digunakan metode diskriptif kuantitatif.
Berdasarkan diskriptif kuantitatif maka ditemukan hasil penelitian bahwa secara umum BMI berpredikat cukup sehat, tetapi untuk menajemen tidak berpredikat tidak sehat, rentabilitas berpredikat kurang sehat dan untuk likuiditas berpredikat cukup sehat.
Ketiga penelitian terdahulu tersebut dapat ditabulasikan dan di tela’ah persamaan dan perbedaannya lewat tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 2.1
Matrik Perbandingan Penelitian



NAMA PENELITI
JUDUL PENELITIAN
METODE PENELITIAN
VARIABEL PENELITIAN
HASIL PENELITIAN
Spica Almilia, Luciana dan Emanuel Kristijad
Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta
Kuantitaif
Rasio independen adalah Rasio Profit Margin, Rasio Likuiditas, Rasio Efisiensi Operasi, Rasio Profitabilitas, Rasio Financial Laverage, Rasio Posisi Kas, Rasio Pertumbuhan. Adapun Variabel Dependen adalah Financial Distress
Rasio keuangan dapat digunakan untuk memprediksi finansial distress suatu perusahaan
Ashlihah
Pengaruh Rasio Keuangan Bank Terhadap Keputusan Pemberian Kredit Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
Kuantitatif
Variabel Independen adalah CAR (Credit To Asset Ratio),
LA (Loan To Assets Ratio), Rate of Return on Loan Ratio (RLR), Assets Utilization Ratio (AUR)
Variabel dependen adalah Loan To Deposit Ratio
(LDR)
Secara simultan semua variabel mempengaruhi sebesar 92% terhadap Loan Deposit Ratio. Secara Parsial LAR, AUR, LRR, CAR bepengaruh signifikan. Dan variavel yang paling dominant adalah LAR
Khulsum, Umi
Penilaian Rasio Keuangan Dengan Metode CAMEL Sebagai Alat Pengukur Tingkat Kesehatan Bank Pada Bank Muamalat Indonesia, Tbk
Diskriptif Kuantitatif






CAR,
RORA,
ROA,
BOPO,
CM,
LDR
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa secara umum BMI berpredikat cukup sehat, tetapi tidak untuk menajemen tidak berpredikat tidak sehat, rentabilitas berpredikat kurang sehat, untuk likuiditas berpredikat cukup sehat
Sunarti
Analisis Rasio Keuangan Untuk menilai kecukupan Modal Kerja (Studi Pada PT. Gudang Garam, Tbk)
Kualitatif
Current Ratio, Quick Ratio, Inventory Turn Over, Total Asset Turn Over, Rate, Of Turn On Net Worth, Rate Of Return Total Asset
Dari hasil analisis rasio keuangan dapat diketahui bahwa kecukupan modal kerja pada PT Gudang Garam Tbk dikatakan kurang efisien karena berada dibawah standar. Hal ini apabila ditinjau dari standart yang biasa digunakan oleh perusahaan industri, ini terlihat dari rata-rata CR yang dibawah 200% yaitu 181,81% pertahunnya, dan QR yang dibawah 100% yaitu 35,98% tiap tahunnya. Sedangkan dari nilai ITO diketahui bahwa PT Gudang Garam Tbk perputaran persediaan sangat lambat hanya berputar kurang dari 2 kali pertahunnya dan kurang memberikan porsi yang bagus untuk pemilik saham, hal ini diketahui dari nilai ROE yang dimiliki selalu mengalami penurunan.


Sumber: UIN Malang dan diolah




B.       KAJIAN TEORITIS
1.    Laporan Keuangan
a.    Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan produk akhir dan proses akuntansi dan merupakan sumber informasi utama bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap suatu perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan, baik kekayaan, hutang-hutang, permodalan dan aktifitasnya serta perkembangan dan hasil operasinya.
Menurut Myer dalam Munawir (2002:5) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba/rugi.
Selain itu ada juga yang menyebutkan bahwa laporan keuangan merupakan bagian dari proses laporan keuangan yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan merupakan bagian integral dari laporan keuangan IAI (1999 : 2).
Dari berbagai definisi di atas maka laporan keuangan dapat diartikan sebagai daftar yang berisi laporan utama yang membuat tentang posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang disajikan pada akhir periode yang terdiri dari neraca, laporan rugi laba dan laporan perubahan posisi keuangan. Analisa laporan keuangan ini diperlukan untuk membantu kesenjangan tersebut yaitu dengan cara mengelolah kembali laporan perusahaan.
Laporan keuangan pada awalnya muncul sebagai pertanggungjawaban terhadap publik yang memiliki keterkaitan dengan informasi yang disampaikan oleh pembuat laporan keuangan tersebut. Sehingga pada talum 1970 laporan keuangan sebagai ilmu pengetahuan yang bebas dari nilai (value-free) sudah tidak semunya relevan dan pada saat era globalisasi akan membawa masyarakat pada apa yang terjadi akibat perubahan global pada seluruh tatanan masyarakat.
b.   Sifat Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2002:6-8) laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan (Progress Report) secara periodik yang dilakukan oleh pihak manajemen yang bersangkutan. Jadi laporan keuangan adalah bersifat historis serta menyeluruh dan sebagai suatu progress report laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari suatu kmbinasi antara:
1)   Fakta yang telah dicatat (recorded fact) yaitu laporan keuangan dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi, seperti jumlah kas dan lain-lain
2)   Prinsip-prinsip dan kebiasaan dalam akuntansi (Accounting convention and postulate), yaitu data yang dicatat itu didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim, hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan dan keseragaman.
3)   Pendapat pribadi (personal judgmet). Yang dimaksud di sini adalah walaupun pencatatan transaksi telah diatur oleh konvensi-konvesi atau dalil-dalil dasar yang sudah menjadi standart praktek pembukuan, namun penggunaan dari konvensi-konvensi dan dasar tersebut tergantung dari pada akuntan atau manajemen perusahaan yang bersangkutan. Misalnya menaksir hutang yang tidak dapat ditagih dan penentuan penyusutan.
c.    Keterbatasan laporan keuangan
Dengan mengingat sifat-sifat laporan keuangan tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan itu mempunyai keterbatasan yaitu sebagai berikut:
1)      Laporan keuangan yang diterbitkan secara periodik pada dasarnya merupakan interim report (laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan yang final, karena di dalamnya terkandung pendapat pribadi.
2)      Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatanya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunanya dengan standart nilai yang mungkin berbeda atau berubah-ubah.
3)      Laporan keuangan disusun didasarkan hasil pencatatan transaksi keuangan atau nilai rupiah dari berbagai waktu atau tanggal yang lalu, dimana daya beli uang tersebut semakin menurun.
4)      Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan, karena faktor tersebut tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang (Munawir, 2002: 9-10).
Menurut Baridwan (2004: 13-15) mengatakan bahwa keterbatasan laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1)   Materiality (Cukup Berarti)
Pada dasarnya akuntansi itu disusun di atas landasan teori yang akan diterapkan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu cara tertentu. Akan tetapi, dalam pelaksanaanya tidak semua transaksi diperlukan seuai dengan teori, tetapi untuk transaksi-transaksi yang  jumlahnya kecil dan tidak akan mempengaruhi pos-pos lain bisa diperlakukan menyimpang. yang bermasalah adalah berapakah jumlah yang dianggap cukup besar sehingga perlu dipertimbangkan. untuk memberi batasan yang cukup berarti jika karena adanya dan sifatnya akan mempengaruhi atau menyebabkan timbulnya perbedaan dalam pengambilan suatu keputusan, dengan pertimbangan keadaan-keadaan lain yang ada.
2)   Konservatif
Konservatif ini merupakan sikap yang diambil akuntan dalam menghadapi dua atau lebih alternatif dalam penyusunan laporan keuangan. Apabila lebih dari satu alternatif tersedia maka sikap konservatif ini cenderung memilih alternatif yang tidak akan membuat alternatif yang tidak membuat aktiva dan pendapatan terlalu besar. Masalah ini timbul timbul jika ada lebih dari satu alternatif atau bisa timbul dalam hal suatu jumlah itu belum dapat dipastikan.
3)   Sifat khusus suatu industri
Industri-industri yang mempunyai sifat khusus seperti perbankan, asuransi dan lain-lain yang sering kali memerlukan prinsip akuntansi yang berbeda dengan industri-industri lainnya. Juga karena ada peraturan dari pemerintah  terhadap industri-industri khusus ini akan mengakibatkan adanya prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda dengan umumnya digunakan.
d.   Bentuk Laporan Keuangan
Pada dasarnya laporan keuangan pada umumnya terdiri dari neraca, laporan laba rugi dan perubahan modal atau laba rugi ditahan.
1)   Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi tujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi suatu perusahaan pada suatu saat tertentu, biasanya pada waktu buku-buku ditutup dan tentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut balence sheet.
2)   Laporan Laba Rugi adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi-laba yang diperoleh oleh suatu perushaan selama periode tertentu. Walaupun belum ada keseragaman tentang laporan laba-rugi, namun prinsip-prinsip yang umumnya adalah sebagai berikut:
a)     Bagian Pertama menunjukkan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan (penjualan barang dagangan atau memberikan service), diikuti dengan harga pokok dari barang atau service yang dijual, sehingga diperoleh laba kotor.
b)     Bagian kedua menunjukkan biaya-biaya operasional yang terdiri dari biaya penjualan dan biaya umum atau administrasi
c)      Bagian ketiga menunjukkan hasil yang diperoleh diluar operasi pokok perusahaan, dan diikuti biaya yang terjadi diluar usaha pokok perusahaan
d)    Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi yang identik, sehingga akhirnya diperoleh laba bersih sebelum pajak pendapatan (Munawir,26)
3)   Laporan Laba yang ditahan adalah laporan perubahan modal akibat dari proses operasi baik akibat rugi maupun laba (Munawir, 2002:13)
Adapun menurut Baridwan (19-40) bentuk laporan keuangan ada empat yaitu:
1)   Neraca
Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada tangal tertentu. Keadaan keuangan ini ditujukan dengan jumlah harta yang dimiliki  yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut pasiva, atau sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut.
2)   Laporan Laba/Rugi.
Laporan laba rugi adalah laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita  suatu. perusahaan
3)   Laporan Perubahan Modal.
Laporan Perubahan Modal adalah laporan yang menunjukkan laba tidak dibagi awal periode, ditambah laba seperti yang tercantum di dalam laporan laba rugi dan dikurangi deviden yang diumumkan selama periode yang bersangkutan.
4)   Laporan Arus Kas.
Laporan Arus kas adalah laporan arus masuk dan keluar kas dan setara kas.
Jadi berdasarkan dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bentuk laporan keuangan ada empat yaitu laporan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas.
2.    Analisis Laporan Keuangan
a.   Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Tentang pengertian analisis laporan keuangan itu sendiri Menurut Prastowo (1995 :30) adalah suatu proses untuk membedakan laporan keuangan kedalam unsur-unsumya. Menelaah masing-masing unsur tersebut dan menelaah hubungan unsur-unsur tersebut dengan tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik dan tepat atas keuangan itu sendiri.
Menurut Sartoso (2000:61) mendefisikan bahwa yang dimaksud analisis rasio keuangan merupakan dasar untuk menilai dan menganalisa prestasi operasi perusahaan. Di samping itu, analisis rasio keuangan juga dapat dipergunakan sebagai kerangka kerja perencanaan dan pengendalian keuangan. 
Dari definisi diatas bahwa analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa datang.
b.   Tujuan Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi pengelolah perusahaan. Laporan ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi dan menginterpresentasikan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan di dalam kegiatan selama periode tersebut.
Informasi data dan keuangan tersebut akan berarti apabila data keuangan tersebut dibandingkan untuk dua periode atau lebih dan dianalisis lebih lanjut. Analisa laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan teknik analisa laporan keuangan dan data keuangan dalam rangka untuk memperoleh ukuran dan hubungan yang berarti dan berguna dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian fungsi yang utama dan terutama dari analisa laporan keuangan adalah untuk mengkonfirmasikan data menjadi informasi yang lebih terperinci atas hasil interprestasinya mengenai prestasi-prestasi dalam pengoperasian dan keadaan keuangan dari perusahaan tersebut.
Mengadakan interprestasi atau analisa terhadap laporan finansial suatu perusahaan akan sangat bermanfaat bagi penganalisa untuk dapat mengetahui keadaan dan perkembangan financial perusahaan yang bersangkutan, Riyanto (1991 : 251).
Laporan keuangan ini bersifat umum sehingga para pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perlu mengadakan interprestasi dan analisa terlebih dahulu. Dengan diadakannya interprestasi dan analisa terhadap laporan keuangan akan dapat diketahui kondisi keuangan perusahaan serta hasil dan perkembangan operasi yang telah dicapai dan sebagai petunjuk dalam menentukan likuiditas, aktifitas, profitabilitas dan potensi pertumbuhan dan perusahaan. Selain itu juga dapat mengurangi ketergantungan para pengambil keputusan pada dugaan mumi, terkaan intuisi, mengurangi dan mempersempit lingkup ketidakpastian yang tidak bisa dielakkan pada setiap proses pengambilan keputusan. Adapun hasil operasi perusahaan perlu diketahui untuk menilai tingkat efisiensi penggunaan modal kerja perusahaan.
c.    Analisa Rasio Keuangan
Untuk dapat menganalisis laporan keuangan diperlukan suatu ukuran. Ukuran tertentu yang disebut dengan rasio-rasio. Rasio ini merupakan alat yang dinyatakan dalam arti relative maupun absolut untuk menjelaskan hubungan antara angka yang satu dengan yang lain. Dan alat analisa yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan adalah Analisa Financial (Financial Ratio Analisys).
Pada dasarnya ada dua penggolongan angka rasio yaitu berdasarkan sumber datanya dan berdasarkan pada tujuan analisis.
Berdasarkan sumber datanya dibagi lagi menjadi tiga macam  angka rasio, yaitu:
1)        Rasio-rasio Neraca (Balance Sheet Ratio) yang tergolong dalam ketagori ini adalah semua rasio yang datanya diambil atau bersumber dari neraca,
2)        Rasio-rasio Laporan Laba Rugi (Income Statement Ratio) yaitu angka-angka yang dalam penyusunanya semua data diambil dari laporan laba rugi, misalnya Gross Profit Margin, Net Operting Margin, Operating Ratio.
3)        Rasio-rasio Antar Laporan (Interstatement Ratio) adalah semua angka rasio yang penyusunan datanya berasal dari laporan laba rugi, misalnya tingkat perputaran piutang (Account Receivable Turn Over). Munawir(1986: 19).
Adapun yang mengelompokkan rasio-rasio kedalam empat kelompok yang didasarkan pada tujuan dan penganalisaan, yaitu:
1)        Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan
2)        Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
Rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang
3)        Rasio Aktifitas (Aktifitas Ratio)
Rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mengerjakan sumber-sumber dananya
4)        Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)
Rasio-rasio yang menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebutuhan dana dan keputusan-keputusan Sofyan (2000 : 165).

3.    Modal Kerja
a.      Pengertian Modal Kerja
Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari, misalnya untuk memberikan Persekot, Pembelian bahan mentah, Upah buruh, Gaji pegawai dan lain sebagainya.
Menurut Riyanto (1991 : 51), bahwa pengertian Modal Kerja dikemukakan beberapa konsep yaitu
1)    Konsep Kuantitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kuantitas dana atau besamya jumlah dana yang tertanam dalam unsur-unsur aktiva lancar. Dana tersebut dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai dalam operasinya yang bersifat rutin, atau menunjukkan jumlah dana (Fund) yang tersedia dalam operasi jangka pendek. Dengan demikian modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan jumlah aktiva lancar dan sering disebut pula dengan modal kerja Bruto.
2)    Konsep Kualitatif
Konsep ini mengungkapkan pengertian modal kerja tidak hanya mengenai aktiva lancar saja, tetapi dikaitkan dengan kualitas atau sumber dana yaag digunakan untuk membayar aktiva lancar, yaitu hutang lancar atau hutang yang harus segera dibayar. modal kerja dalam pengertian ini adalah kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancar dan sering disebut modal kerja Netto (Net Working Capital).
Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dan hutang lancar dan menunjukkan pula margin of protection atau tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan operasi dimasa mendatang dan kemampuan perusahaan untuk jaminan aktiva lancarnya.
3)    Konsep Fungsional
Konsep ini menitik beratkan pada fungsi dari dan yang dimiliki perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba periode ini (Current Income) dan ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Misalnya bangunan, mesin-mesin pabrik, alat-alat kantor, dan aktiva tetap lainnya.
b.      Jenis-jenis Modal Kerja
Pada dasarnya modal kerja digolongkan ke dalam:
1)    Modal Kerja Permanen (Permanen Working Capital)
Modal kerja ini harus ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Modal kerja permanen ini dibedakan menjadi:
a)   Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
Jumlah kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelancaran operasi usahanya.
b)  Modal Kerja Normal (Normaly Working Capital)
Modal kerja ini harus tersedia untuk digunakan dalam menyelenggarakan dan memelihara luas produksi normal.
2)    Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital)
Modal kerja yang modalnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja variable ini dibedakan lagi menjadi:
a)   Modal kerja musiman (Seasional Working Capital). modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan adanya fluktuasi musim.
b)   Modal kerja siklis (Cyclical Working Capital). modal kerja ini jumlahnya berubah-ubah disebabkan adanya fluktuasi konjuktur.
c)   Modal kerja darurat. Modal Kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
c.       Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya Modal Kerja
Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi perusahaan, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu:
a)    Sifat umum atau tipe Perusahaan.
Untuk perusahaan jasa, modal kerja yang dibutuhkan relative kecil dibandingkan perusahaan dagang atau perusahaan manufaktur. Karena investasi dalam persediaan dana piutang pencairannya lebih cepat. Sedangkan untuk perusahaan industri harus melakukan investasi yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam operasi sehari-hari.
b)    Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan barang dan ongkos produksi perunit/harga beli perunit barang itu.
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang diperlukan untuk memperoleh barang yang akan dijual, bahan dasar yang akan diproduksi sampai barang tersebut dijual. Makin panjang waktu yang akan diperlukan untuk memproduksi barang, makin besar pula modal kerja yang dibutuhkan. Di samping itu harga pokok persatuan barang akan mempengaruhi besar kecilnya barang modal kerja yang dibutuhkan. Semakin besar harga pokok persatuan barang yang dijual, semakin besar pula kebutuhan akan modal kerjanya.
c)     Syarat penjualan kredit.
Syarat pembelian kredit yang menguntungkan  akan memperkecil kebutuhan uang kas yang akan ditanamkan dalam persediaan. Sedangkan syarat penjualan kredit semakin besar pula kebutuhan modal kerja yang harus ditanam dalam piutang. Untuk mengurangi kebutuhan modal kerja dan mengurangi kerugian, umumnya perusahaan akan memberikan potongan tunai.
d)    Tingkat Perputaran Persedian.
Tingkat perputaran persediaan menunjukkan beberapa kali persediaan tersebut akan diganti dalam arti jual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka kebutuhan kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan akan semakin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan efisien. Semakin cepat perputaran persediaan, semakin kecil resiko akan kerugian yang disebabkan penurunan harga atau selera konsumen. Disamping itu menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan barang tersebut
e)     Tingkat Perputaran Piutang.
Semakin cepat pencairan piutang menjadi uang kas, semakin kecil pula kebutuhan akan modal kerja.
f)      Perubahan konjuktor.
Jika aktifitas meningkat, perusahaan akan cenderung meningkat persediaan, hal ini tentu meningkatkan kebutuhan akan modal kerja. Sebaliknya jika terjadi penurunan penjualan maka perusahaan akan berusaha memperkecil jumlah persediaan.
g)    Derajat Resiko Kemungkinan Menurunnya Harga Jual Aktiva Jangka Pendek.
Menurunnya nilai riil dibandingkan nilai buku dari suatu surat berharga, persediaan barang dan piutang akan menurunkan modal kerja. Bila kerugian semakin besar maka diperlukan tambahan Modal Kerja untuk membayar bunga atau melunasi hutang jangka pendek yang sudah jatuh tempo.
Untuk melindungi perusahaan dari hal-hal yang tak terduga, maka dibutuhkan modal kerja yang relativ besar dalam bentuk kas atau surat-surat berharga.
d.      Pengguna Modal Kerja
Di dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari, perusahaan akan banyak menggunakan aktiva lancar yang nantinya akan berpengaruh pada Modal Kerja perusahaan. Penggunaan aktiva lancar akan menyebabkan naik turunnya modal kerja yaitu :
1)    Pembayaran biaya ongkos perusahaan.
Meliputi pembayaran upah dan gaji karyawan, pembeli bahan baku atau barang dagang, peralatan kantor atau pembayaran biaya lainnya.
2)   Kerugian karena penjualan surat berharga dan kerugian yang bersifat insidentil lainnya.
Penggunaan modal kerja karena kerugian diluar usaha pokoknya perusahaan harus dilaporkan tersendiri dalam laporan perubahan modal kerja.
3)   Adanya pembentukan dana khusus.
Pembentukan dana khusus atau pemisah aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka misalnya: dana pelunasan obligasi, dana pension pegawai, dana ekspansi atau dana lainnya.
4)   Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap atau aktiva tak lancar lainya.
Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya aktiva lancar atau bahkan mengakibatkan timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.
5)   Pembayaran hutang-hutang jangka panjang.
Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang obligasi, hutang hipotik, maupun hutang jangka panjang lainnya serta pembelian kembali untuk sementara atau seterusnya saham perusahaan, beredar atau adanya penurunan nilai hutang jangka panjang yang diimbangi dengan berkurangnya aktiva lancar.
e.      Persediaan
1.      Pengertian Persediaan
Persediaan merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan, yang selalu dalam keadaan berputar dan secara terus menerus mengalami perubahan.
Pengertian persediaan mencangkup pengertian yang cukup luas. Dalam standar akuntansi keuangan dijelaskan mengenai pengertian persediaan sebagai berikut: "persediaan adalah aktiva:
a)      Tersedia untuk dijual dalam keadaan usaha normal
b)     Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan atau
c)      Dalam bentuk bahan atau periengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atas pemberian rasa IAI (1999: 141).
Apabila ditinjau dari segi neraca (1996 :557), menjelaskan bahwa: "Persediaan adalah barang-barang atau bahan yang masih tersisa pada tanggal neraca atau barang yang akan dijual, digunakan atau diproses dalam priode normal perusahaan".
Dari kedua pendapat tersebut diketahui bahwa macam persediaan yang ada pada suatu perusahaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi yang pada berakhirnya periode belum sempat digunakan, diproses ataupun dijual.
2.      Persedian Barang Jadi
Seperti telah diketahui, persediaan merupakan suatu bentuk investasi karena terikatnya modal dalam persediaan sehingga tidak dapat digunakan untuk kepentingan-kepentingan lainnya, dan persediaan adalah faktor penting dalam kelancaran operasi perusahaan. Hampir 50% modal yang ada ditanamkam dalam persediaan karena persediaan merupakan kunci jalannya kehidupan perusahaan. Salah satu jenis persediaan yang dibahas disini adalah persediaan barang jadi. Pengertiaan dari persediaan barang jadi adalah : "Persediaan barang jadi adalah merupakan persediaan barang-barang yang telah selesai diproses oleh perusahaan tetapi masih belum terjual." Syamsuddin(1995 : 284)
Dalam perusahaan industri, persediaan barang jadi sangat ditentukan oleh ramalan atau etimasi penjualan, proses produksi dan investasi yang ditanamkan pada persediaan barang jadi tersebut.
Untuk dapat memenuhi estimasi penjualan dibuatlah suatu jadwal produksi yang baik. Apabila estimasi penjualan tinggi persediaan bertambah besar, demikian pula sebaliknya bila estimasi penjualan rendah maka persediaan akan kecil. Bila persediaan barang jadi cukup, maka akan dapat menjamin efektivitas kegiatan pemasaran, karena bila persediaan kurang, maka perusahaan akan kehilangan kesempatan merebut pasar.
Persediaan akan selalu mengalami perputaran. Tingkat perputaran persediaan (Inventory Turn Over) menunjukkan beberapa kali persediaan diganti. Tinggi rendahnya Inventory turn Over mempunyai dampak yang langsung terhadap modal kerja yang ada diperusahaan.

4.    Efisiensi
a.      Pengertian Efisiensi
Efisiensi merupakan bagaian yang sangat pentinga dalam pengelolaan suatu organisasi atau perusahaankarena berpengaruh pada kemampuan untuk memperlancar operasi perusahaan yang tanpa terlalu banyak dana yang menggangur.
Pengertian efisien sendiri ditafsirkan dengan berbagai macam versi. Soekarno (1979, 40) menjelaskan bahwa efisiensi dapat timbul dari berbagai macam perspektif dan dengan definisi yang berbeda beda. Namun inti dari efisiensi menurutnya adalah perbandingan terbaik antara masukan (input) dengan keluaran (output)
Dalam hal ini efisiensi ditafsirkan dengan perbandingan terbaik antara modal kerja sebagai input dan laba sebagai outputnya. Dalam hal modal kerja efisiensi lebih dipertajam dengan rasio terbaik antara turn over operating asset dengan return of i

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar