Pengaruh Personal Selling Terhadap Seni Penjualan Pada CV. National Opportunity Company (NOC) Group Cabang Malang

Admin
Pengaruh Personal Selling Terhadap Seni Penjualan Pada CV. National Opportunity Company (NOC) Group Cabang Malang (skripsi lengkap) 

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
 Pada saat sekarang ini perusahaan yang didirikan apapun bentuk dan sifatnya baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri maupun jasa akan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tentunya dalam mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah, karena begitu banyaknya tingkat persaingan yang ada. Apalagi di saat perkembangan teknologi dan kemajuan di bidang industri sangat pesat, tentunya terdapat berbagai halangan yang harus dihadapi. Dalam hal ini bagian manajemen yang harus mengelola sumber daya yang ada dalam perusahaan agar dapat berfungsi secara efektif dan efisien.

Tujuan seluruh usaha pemasaran pada umumnya adalah meningkatkan penjualan yang dapat menghasilkan laba dengan menawarkan kebutuhan yang memuaskan kepada pasar dalam jangka panjang. Personal selling merupakan salah satu metode promosi untuk mencapai tujuan tersebut dan usaha ini memerlukan banyak tenaga kerja atau tenaga penjualan.
Menurut Willian G. Nickels, dalam Swastha personal selling ini didefinisikan, bahwasannya personal selling adalah interaksi antar individu, saling berrtemu muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai, atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling mengutungkan dengan pihak lain. 
contoh skripsi
Skripsi Personal Selling


Personal selling merupakan komunikasi orang secara individual. Lain halnya dengan periklanan dan kegiatan promosi lainnya yang komunikasinya bersifat massal dan tidak bersifat pribadi. Dalam operasinya, personal selling lebih fleksibel dibandingkan dengan yang lain. Ini disebabkan karena tenaga-tenaga penjualan tersebut dapat secara langsung mengetahui keinginan, motif dan perilaku konsumen; dan sekaligus dapat melihat reaksi konsumen, sehingga mereka langsung dapat mengadakan penyesuaian seperlunya. (Swastha, 1984: 260

Penjualan tatap muka adalah komunikasi pribadi, dua arah antara wiraniaga dan pelanggan individual bisa bertatap muka, lewat telepon, lewat konfrensi video, atau cara lain. Penjualan tatap muka lebih efektif dari pada iklan dalam situasi penjualan yang lebih kompleks. Tenaga penjual dapat menanyai pelanggan untuk mengetahui lebih jauh mengenai masalah mereka. Mereka dapat menyesuaikan usaha pemasaran agar cocok dengan kebutuhan khusus setiap pelanggan dan dapat melakukan negoisasi persyaratan penjualan. Mereka dapat membina hubungan pribadi jangka panjang dengan pengambil keputusan kunci. (Kotler, dkk., 1997: 148).

Penjualan tatap muka dilakukan dengan komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli yang memungkinkan pesan-pesan penjualan disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi konsumen. Penjualan tatap muka sangat penting pada saat diperlukan demonstrasi atau penjelasan yang mendalam tentang produknya. Lebih penting lagi penjualan tatap muka ini dipandang lebih efektif dari periklanan dalam hal penciptaan penjualan dan realisasi penandatanganan formulir pesanan oleh konsumen. (Swastha, 1998: 30)

CV. NOC Group Cabang Malang ini berada di lokasi Sengkaling Dau Malang, perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 2003 Juni yang mana owner perusahaan ini adalah Bpk. Harin dan perusahaan ini bergerak di bidang pemasaran yang  menawarkan produknya dari rumah kerumah atau disebut dengan menggunkan metode personal selling, yang mana produknya perabotan rumah tangga, mulai dari magic rice com, blender. Barang ini mengambil dari luar negeri seperti di China, Jepang maupun Korea.

CV. NOC Group Cabang Malang, berdasarkan laporan data penjualan tiap bulan mulai dari januari sampai maret, pada bulan januari 497 unit sedangkan februari 425 unit bulan maret 440 unit.  Berdasarkan penjualan yang diperoleh, maka perlu dilakukan penelitian berdasarkan dengan judul:  “Pengaruh Personal Selling Terhadap Seni Penjualan pada CV. NOC Group Cabang Malang”


B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan secara spesifik sebagai berikut:
            Apakah personal selling berpengaruh terhadap seni penjualan CV. NOC Group Cabang Malang?

C. Tujuan Penelitian
            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah:
            Untuk mengetahui pengaruh personal selling terhadap seni penjualan CV. NOC Group Cabang Malang!

D. Manfaat Penelitian
1.      Bagi perusahaan
Digunakan sebagai bahan masukan perusahaan, dalam merencanakan dan melaksanakan program personal selling, sehingga pada akhirnya perusahaan dapat meningkatkan seni penjualan dimasa akan datang.
2.      Bagi Pihak Lain
     Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi yang selanjutnya dapat dijadikan dasar masukan bagi penelitian selanjutnya.

3.      Bagi Peneliti
     Digunakan sebagai langkah awal bagi peneliti untuk menerapkan pengetahuan berupa teori-teori di bidang pemasaran yang didapat di bangku perkuliahan khususnya berkaitan dengan masalah yang menjadi obyek penelitian dan penerapannya di lapangan.






BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.                Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Perbedaan Penelitian Terdahulu dengan Sekarang
Judul/peneliti
Tujuan
Metode analisa
Hasil
Saran
Analisis biaya personal selling terhadap peningkatan jumlah nasabah di PT. Bank Perkreditan Rakyat Gunung Ringgit Malang
Yunita Nur Aini (2005).
1.  Untuk menganalisis pengaruh biaya personal selling secara simultan terhadap peningkatan jumlah nasabah di PT. BPR Gunung Ringgit Malang
2.  Untuk mengetahui biaya personal selling (biaya gaji, biaya komisi, dan biaya perjalanan) yang secara parsial memiliki pengaruh paling dominan terhadap peningkatan jumlah nasabah di PT. BPR Gunung Ringgit Malang
Uji parsial (uji t) dan uji simultan (uji f)
Ketiga variabel biaya personal selling yaitu biaya gaji (X1), biaya kondisi (X2) dan biaya perjalanan (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan jumlah naasabah (Y)
1.   Mengevaluasi kembali pengalokasian dana (biaya-biaya) yang di anggarkan untuk pelaksanaan personal selling sehingga bisa lebih efektif dan efisien
2.   Pemberian training kepada personal selling agar lebih profesional
Pengaruh personal selling dan citra toko terhadap keputusan pembelian konsumen (Studi pada Bandung Sport) Slamet H Pradhana (2008)

1.Untuk mengetahui pelaksanaan personal selling dan citra toko, dan keputusan pembelian di Bandung Sport
2.Untuk mengetahui pengaruh personal selling terhadap keputusan pembelian konsumen di Bandung Sport
Uji asumsi klasik, uji normalitas, uji multikoliniritas dan uji heteroskedositas
1. Berdasarkan hasil analisis  statistic deskriptif dapat diketahui bahwa kondisi variable personal selling dan citra toko adalah baik
2. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda dapat diketahui tidak ada pengaruh positif yang signifikan antara personal selling terhadap keputusan pembelian konsumen di Bandung Sport
1. Dari hasil analisis statistika deskriptif dapat diketahui bahwa pelaksanaan kinerja personal selling dan pencitraan took yang dilakukan bandung sport adalah baik. Untuk itu dapat dijadikan bahan pertimbangan penentuan kebijakan manajemen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dari personal selling  dan pencitraan toko dengan cara selalu mengukur kinerja personal selling sehingga nantinya dapat dijadikan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan dari personal selling.
Pengaruh personal selling terhadap keputusan pembelian produk UFO (Survey PT. Shakato dan co Cabang Kediri)
Miftah Zuhriyah (2007)
1.   Untuk mengetahui pengaruh personal selling secara simultan terhadap keputusan pembelian produk
2.    Untuk mengetahui pengaruh personal selling secara parsial terhadap keputusan pembelian produk
Uji validitas dan uji realibitas dan uji asumsi klasik.
Hasil penelitian menunjukkan variable personal selling yang terdiri dari pendekatan (X1) presentasi (X2), menangani keberatan (X3), dan menutup penjualan (X4) secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable keputusan pembelian (Y).
1.    Pada saat menawarkan produk, hendaknya seseorang tenaga penjual perlu terus ditingkatkan, baik dengan memberikan training yang berkesinambungan maupun memperdalam penguasaaan produk.
Pengaruh personal selling terhadap seni  penjualan pada CV. Nasional opportunity company (NOC) Group Cabang Malang
Yusmiatul Hasania (2009)

Untuk mengetahui pengaruh personal selling terhadap seni Penjualan CV. NOC Group  Cabang Malang!
Uji f (Uji Simultan) dan uji t (Uji Parsial), dan uji Validitas dan Reliabilitas
Hasil penelitian menunjukkan variable personal selling yang terdiri dari pendekatan (X1) presentasi (X2), menangani keberatan (X3), dan menutup penjualan (X4) secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel  seni penjualan (Y). dan Variabel yang mempengaruhi personal selling terhadap  seni penjualan CV. NOC Group Cabang Malang secara parsial adalah menangani keberatan  (X3) dan menutup penjualan (X4)
Untuk item dari variabel personal selling yang mempunyai rata-rata terendah seperti: ketepatan waktu untuk menawarkan produk, keramahan kalimat pembuka yang diucapkan penjual, gaya bahasa yang disampaikan penjual, kerapian penampilan penjual harus lebih ditingkatkan agar lebih mempengaruhi  seni penjualan.

Sumber: Data Diolah 2009
            Dengan melihat tabel di atas, maka dapat terlihat perbedaaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang. Adapun perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu yaitu dalam hal obyek yang diteliti serta hal-hal yang terkait di dalamnya.


B. Kajian Teoritis
1. Personal Selling
1.      Pengertian Personal Selling
Penjualan selling  berkaitan dengan memperpanjang aktivitas promosional. Ada pepatah mengatakan bahwa tidak akan ada yang terjadi sampai seseorang menjual sesuatu, dan dalam banyak bisnis penjualan adalah bagian terpenting dari bauran komunikasi tanpa seluruh aktivitas promosinya terbuang. Penjualan adalah satu-satunya teknik persuasive yang melibatkan kontak personal individual langsung.  (Davey, dkk., 2000: 103)
Penjualan tatap muka adalah interaksi antar individu, saling bertatap muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai atau mempertahankan hubungan pertukaran yang saling menguntungkan dengan pihak lain. (Swashta, 1998:10)
Menurut Setiadi (2003:257) Penjualan tatap muka adalah satu-satunya alat promosi yang digunakan untuk berkomunikasi dengan konsumen potensial secara langsung, yang artinya penjualan tatap muka merupakan aktivitas komunikasi antara produsen yang diwakili oleh tenaga potensial yang melibatkan pikiran dan emosi, serta tentu saja berhadapan langsung dengan konsumen.
Penjualan tatap muka adalah komunikasi pribadi, dua arah antara wiraniaga dan pelanggan individual bisa bertatap muka, lewat telepon, lewat konfrensi video, atau cara lain. Penjualan tatap muka lebih efektif dari pada iklan dalam situasi penjualan yang lebih kompleks. Tenaga penjual dapat menanyai pelanggan untuk mengetahui lebih jauh mengenai masalah mereka. Mereka dapat menyesuaikan usaha pemasaran agar cocok dengan kebutuhan khusus setiap pelanggan dan dapat melakukan negoisasi persyaratan penjualan. Mereka dapat membina hubungan pribadi jangka panjang dengan pengambil keputusan kunci. (Kotler, dkk., 1997: 148).
Yang dimaksud dengan strategi penjualan adalah memindahkan posisi pelanggan ke tahap pembelian (dalam proses pengambilan keputusan) melalui penjualan tatap muka. (Tjiptono, 1997: 240).

2.      Tujuan Personal Selling
Perusahaan-perusahaan perlu mengidentifikasi tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai tenaga penjualannya. Antara lain tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:
1.      Mencari calon pelanggan: melakukan pencarian calon pembeli, atau petunjuk.
2.      Menetapkan sasaran: memutuskan bagaimana mengalokasikan waktu mereka diantara calon dan pelanggan.
3.      Berkomunikasi: mengomunikasikan informasi tentang produk dan jasa perusahaan tersebut.
4.      Menjual: mendekati, melakukan presentasi, menjawab keberatan-keberatan, dan menutup penjualan.
5.      Melayani: menyediakan berbagai layanan kepada pelanggan, memberikan konsultasi tentang masalah, memberikan bantuan teknis, merencanakan pembiayaan, dan melakukan pengiriman.
6.      Mengumpulkan informasi: melakukan riset pasar dan melakukan tugas intelejen.
7.      Mengalokasikan: memutuskan pelanggan mana akan memperoleh produk tidak mencukupi selama masa-masa kekurangan produk.  (Kotler, 2005: 331).

3.      Manfaat Personal Seling
Penjualan tatap muka dilakukan dengan komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli yang memungkinkan pesan-pesan penjualan disesuaikan dengan lingkungan dan kondisi konsumen. Penjualan tatap muka sangat penting pada saat diperlukan demonstrasi atau penjelasan yang mendalam tentang produknya. Disamping itu, beberapa manfaat lain dari penjualan tatap muka adalah:
1.     Penjualan tatap muka secara khusus dapat diarahkan kepada calon konsumen tertentu.
2.     Penjualan tatap muka adalah lebih fleksibel karena jumlah angkatan penjualan dapat bebas ditentukan, mulai dari satu samapai ribuan
3.     Mungkin manfaat yang paling penting dari penjualan tatap muka adalah bahwa penjualan tatap muka ini dipandang lebih efektif dari periklanan dalam hal penciptaan penjualan dan realisasi penandatanganan formulir pesanan oleh konsumen. (Swastha, 1998: 30).

4.      Motivasi Personal Selling
Menurut Tjiptono (1997:251) wiraniaga dapat dimotivasi dengan menggunakan penghargaan berbentuk financial maupun nonfinasial. motivasi finasial berwujud kompensasi uang, sedangkan motivasi nonfinansial dalam bentuk program evaluasi kerja.
Masalah motivasi personal selling telah dipelajari Churchill, Ford, dan Walker. Memotivasi personal selling, modal dasar mereka mengatakan bahwa makin tinggi motivasi wiraniaga, makin besar upayanya. Upaya yang makin besar akan menghasilkan kinerja yang lebih tinggi; kinerja yang lebih tinggi akan menghasilkan imbalan yang lebih besar; imbalan yang lebih besar akan menghasilkan kepuasan yang lebih besar; dan kepuasan yang lebih besar akan memperkuat motivasi.

Dengan demikian, model tersebut men isyaratkan hal-hal berikut:
1.     Manajer penjualan harus mampu meyakinkan wiraniaga bahwa mereka dapat menjual lebih banyak dengan bekerja lebih keras atau dilatih untuk bekerja lebih cerdas. Tetapi jika penjualan terutama ditentukan keadaan perekonomian atau tindakan-tindakan persaingan, hubungan ini akan terkikis.
2.     Manajer penjualan harus mampu meyakinkan wiraniaga bahwa imbalan untuk kinerja yang lebih tinggi akan setimpal dengan upaya ekstra. Tetapi jika imbalan tersebut tampak ditetapkan dengan sewenang-wenang  atau terlalu kecil atau sejenisnya salah, hubungan ini akan terkikis. (Kotler, 2005: 343).

5.      Langkah-langkah Utama dalam Mencari Penjualan yang Efektif
Program pelatihan penjualan sepakat mengenai langkah-langkah utama dalam setiap proses penjualan yang efektif yaitu:
  1. Mencari pelanggan dan melakukan kualifikasi, langkah pertama dalam penjualan adalah mengidentifikasi dan mengkualifikasi calon. Secara historis, kebanyakan perusahaan menyerahkan kepada wiraniaga untuk mencari calon pelanggan. Sekarang, makin banyak perusahaan mengambil tanggung jawab untuk mencari dan mengkualifikasi calon pelanggan sehingga wiraniaga tersebut dapat menggunakan waktu mereka yang mahal itu melakukan apa yang dapat mereka lakukan dengan paling baik: penjualan.
  2. Pendekatan pendahuluan, wiraniaga tersebut perlu belajar sebanyak mungkin tentang perusahaan calon pelanggan (apa yang dibutuhkannya, siapa yang terlibat dalam keputusan pembelian) dan pembelinya (karakteristik pribadi dan gaya pembelian mereka). Wiraniaga tersebut seharusnya menetapkan tujuan kunjungan: menentukan kualifikasi calon, mengumpulkan informasi, melakukan penjualan langsung. Tugas lainnya adalah memutuskan pendekatan hubungan terbaik, yang mungkin berupa kunjungan pribadi, telepon, atau surat. Waktu terbaik juga seharusnya dipertimbangkan karena banyak calon sibuk bekerja pada waktu-waktu tertentu. Akhirnya, wiraniaga tersebut seharusnya merencanakan seluruh strategi penjualan untuk pelanggan tersebut.
  3. Pendekatan, wiraniaga seharusnya mengetahui bagaimana menyapa pembeli untuk memulai hubungan tersebut dari titik awal yang baik. Langkah ini mencakup penampilan wiraniaga, kata-kata pembukaan, dan tindak lanjutan. Kata-kata pembukaan harus positif.
  4. Presentasi dan peragaan, wiraniaga sekarang menyampaikan “cerita” produk-produk tersebut kepada pembeli, dengan rumus AIDA untuk memperoleh perhatian (attention), mempertahankan (interest), membangkitkan keinginan (desire), dan menghasilkan tindakan (action). Atau wiraniaga tersebut menggunakan pendekatan fitur (feature), keuntungan  (advantege), manfaat (benefit), dan nilai (value) atau FABV. Presentasi penjualan dapat ditingkatkan dengan alat bantu peragaan seperti buklet, lembar kertas besar, slide, film, audiokasetdan videokaset, sampel produk, dan simulasi berbasis komputer.
  5. Mengatasi keberatan, pelanggan biasanya mengajukan keberatan-keberatan selama presentasi atau ketika melakukan pemesanan. Penolakan psikologis meliputi  penolakan untuk ikut campur sikap lebih menyukai sumber pasokan atau merek yang sudah mapan, apatisme, keengganan menghentikan sesuatu, asosiasi yang tidak menyenangkan yang diciptakan perwakilan penjualan tersebut, pengetahuan yang telah ditentukan sebelumnya, ketidaksukaan mengambil keputusan, dan sikap yang berlebihan terhadap uang. Penolakan logis meliputi keberatan atas harga, jadwal pengiriman, atau ciri-ciri produk atau perusahaan tertentu. Untuk menangani keberatan-keberatan ini, wiraniaga menggunakan pendekatan yang positif, meminta menjelaskan keberatan mereka, bertanya kepada pembeli dengan cara yang mengharuskan pembeli tersebut menjawab sendiri keberatan-keberatnya, menyangkal kebenaran  keberatan tersebut, atau mengubah keberatan menjadi alasan untuk membeli. Menangani dan mengatasi keberatan adalah bagian dari kemampuan negoisasi yang lebih luas.
  6. Menutup penjualan, langkah dalam proses penjualan ketika wiraniaga meminta pelanggan untuk memesan, wiraniaga tersebut menawarkan pancingan khusus kepada pembeli untuk menutup penjualan, seperti harga khusus, jumlah tambahan gratis, atau pemberian hadiah. 
  7. Tidak lanjut dan pemeliharaan, tidak lanjut dan diperlukan pemeliharaan jika wiraniaga tersebut ingin memastikan kepuasan pelanggan dan kelanjutan bisnis.  (Kotler, 2005: 349-352).

6.       Prinsip-prinsip Personal Selling
1.         Profesionalisme penjualan, pendekatan-pendekatan pelatihan penjualan berupaya mengubah seorang wiraniaga dari penerima pesanan yang pasif menjadi pencari pesanan yang aktif.
2.         Negoisasi, dalam pertukaran negoisasi, harga dan ketentuan-ketentuan lainnya ditetapkan melalui perilaku perundingan, dimana dua pihak atau lebih menegoisasikan kesepakatan-kesapakatan jangka panjang yang mengikat.
3.         Pemasaran hubungan, perusahaan-perusahaaan harus menilai segmen mana dan pelanggan tertentu mana yang akan menanggapi manajemen hubungan tersebut secara menguntungkan. (Kotler, 2005: 347-354).

7.      Faktor-faktor Personal Selling
Menurut Setiadi (2003: 258), Pemasar menggunakan penjualan tatap muka perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penjualan tatap muka antara lain:
1.        Sumberdaya peusahaan, tujuan dan strategi pemasaran
2.        Karakteristik pasar sasaran
3.        Karakteristik produk
4.        Kebijakan saluran distribusi
5.        Kebijkan harga

2. Penjualan
1.      Pengertian Penjualan
Penjualan adalah ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang dilakukan oleh penjual untuk mengajak orang lain agar bersedia membeli barang/jasa yang ditawarkannya. (Swastha, 1998: 8)
Jadi, adanya penjualan dapat tercipta suatu proses pertukaran barang/jasa antara penjual dengan pembeli. Dalam melakukan penjualannya, penjual dituntut untuk memiliki bakat seni serta keahlian untuk mempengaruhi orang lain.
2.      Tahap-tahap Penjualan
        Salah satu aspek yang ada dalm penjualan adalah penjualan dengan bertemu muka, dalam hal ini tahap-tahap yang perlu ditempuh oleh pihak penjual meliputi:
1.      Persiapan Penjualan, tahap pertama dalam penjualan tatap muka adalah mengadakan persiapan-persiapan sebelum melakukan penjualan.
2.      Penentuan Lokasi Pembeli Potensial, dengan menggunakan data pembeli yang lalu meupun sekarang, penjual dapat memutuskan karakteristik calon pembeli atau pembeli potensialnya.
3.      Pendekatan pendahuluan, sebelum melakukan penjualan, penjual harus mempelajari semua masalah tentang individu atau perusahaan yang dapat diharapkan sebagai pembelinya.
4.       Melakukan penjualan, penjualan yang dilakukan bermula dari suatu usaha untuk memikat perhatian calon konsumen, kemudian diusahakan untuk mengetahui daya tarik atau minat mereka.
5.      Pelayanan purana jual, sebenarnya kegiatan penjualan tidak berakhir pada saat pesanan dari pembeli telah dipenuhi, tetapi masih perlu dilanjutkan dengan memberikan pelayanan atau servis kepada mereka. (Swashta, 1998: 121-124)


3.     Manajemen Penjualan
                 Manajemen penjualan dibagi menjadi enam bidang, yaitu:
1.      Perencanaan: waktu perlu dipakai untuk merencanakan cakupan dan perluasan operasi penjualan, anggaranya, dan apa tujuan yang ingin diraih.
2.       Organisasi: jumlah penjual yang direkrut perlu dihitung (ini bukan hanya masalah apa yang dapat disanggupi, tetapi mengenai layanan dan peliputan pelanggan, walaupun keduanya berjalan beriringan), seperti juga bagaimana dan dimana mereka diatur.
3.      Pembentukan staf:  jika sumber penjualan ingin menjadi efektif, sumber itu harus mengenali bahwa rekrutmen dan seleksi perlu pendekatan profesional, dan tim terbaik yang memungkinkan harus ditunjuk.
4.      Pengembangan: ini adalah proses yang terus berlanjut jika tim ingin menjadi professional, pemikiran lebih lanjut diperlukan; rangkaian pengembangan lapangan yang terus berlanjut diperlukan.
Motivasi:  seperti pengembangan, motivasi tidak terjadi begitu saja (ini adalah kenyataan dalam manajemen), tetapi memerlukan waktu usaha, dan pertimbangan. penjual mengahabiskan waktu mereka sendiri, dan pertimbangan. Penjual menghabiskan waktu
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar