Pengukuran Efektifitas Iklan Televisi Sepeda Motor Yamaha Versi Lagu Group Band Dewa “Yamaha Semakin Didepan” Dengan Pendekatan Epic Model (Lengkap Sampai Daftar Pustaka)

Admin
PENGUKURAN EFEKTIFITAS IKLAN TELEVISI SEPEDA MOTOR YAMAHA VERSI LAGU GROUP BAND DEWA “YAMAHA SEMAKIN DIDEPAN” DENGAN PENDEKATAN EPIC MODEL

Yamaha motor Co. Ltd adalah produsen sepeda motor Yamaha yang berasal dari jepang. Yamaha motor Ltd didirikan pada tanggal 1 juli 1955, saat ini Yamaha motor Ltd telah memiliki pabrik  untuk membuat sparepart sepeda Motor yaitu PT. Yamaha Indonesia motor Manufacturing. Sedangkan pemasar sepeda Motor Yamaha di Indonesia di pegang oleh PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI). Peluang Yamaha untuk mendominasi  pasar di masa depan terbentang luas, karena Yamaha mengutamakan kualitas, kesempurnaan produk, inovasi tanpa henti, termasuk aspek pelayanan pada konsumen (www.swa.co.id.).
Pada perkembangan manajemen pemasaran modern, sebuah perusahaan memerlukan lebih dari sekedar pengembangkan produk yang baik, menawarkan dengan harga yang menarik, dan membuatnya mudah di dapat oleh pelanggan sasaran. Perusahaan harus juga berkomunikasi dengan para pelanggan yang ada sekarang dan pelanggan potensial, pengecer, pemasok, pihak-pihak yang memiliki kepentingan pada perusahaan, dan masyarakat umum.
Untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan tidak terlepas dari kegiatan promosi. Keefektifan dan koefisien promosi yang dilakukan secara langsung maupun tidak langung akan mempengaruhi minat pembeli pada calon konsumen. Kegiatan promosi tidak hanya pada memperkenalkan produk pada konsumen saja tetapi harus dilanjutkan dengan upaya untuk mempengaruhi agar konsumen tersebut menjadi tertarik untuk membeli produk yang dipasarkan. Konsep bauran promosi adalah sebuah pendekatan yang lazim di ambil oleh perusahaan dalam usahanya untuk memberitahukan mengenai produk yang dihasilkannaya. Konsumen biasanya menunjukkan kelambanan atau keengganan dalam membeli dan harus dirangsang untuk memutuskan keputusan pembelian atau membeli lebih banyak. Untuk iti perusahaan perlu mempunyai peralatan promosi dan peralatan penjualan yang efektif untuk merangsang pembelian.
Perusahaan dalam memasarkan produknya harus membuat produk tersebut dapat diketahui, dikenal, dan dijangkau oleh konsumen. Untuk mencapai tujuan tersebut perusahaan melakukan suatu interaksi melalui komunikasi pemasaran yang disebut dengan Bauran Promosi (promotion mix). Periklanan merupakan salah satu komponen bauran promosi yang menjadi salah satu alternatif pilihan bagi para pemasar untuk mengkomunikasikan produknya kepada konsumen sasaran.
Dari fakta diatas dapat diketahui bahwa peran periklanan sangat penting dan berpengaruh sekali, tanpa adanya periklanan yang tepat, produk perusahaan kurang diminati oleh konsumen, Oleh karena itu dalam iklan harus mengandung empat masalah yang benar-benar harus diperhatikan diantaranya: apa yang akan dikatakan (isi pesan), bagaimana mengatakan secara simbolis (format pesan), dan siapa yang seharusnya mengatakan (sumber pesan) Kotler (2002:633).
Media periklanan dianggap paling efektif dan tepat adalah media televisi yang sekaligus dapat memberikan kombinasi antara suara dan gambar yang bergerak dan bisa dinikmati oleh siapa saja, sehingga sering kali digunakan oleh perusahaan untuk menginformasikan produknya. Dalam rangka promosi produk, iklan televisi merupakan media yang efektif dalam menanamkan isi pesan dibenak konsumen karena penyampaiannya dilakukan secara berulang-ulang. Kotler (2002:634).
Perusahaan melalui biro periklanan berusaha membuat iklan produknya semenarik mungkin, yaitu melalui pesan iklan yang dibuat secara singkat tapi sangat mudah diingat. Setelah konsumen melihat dan memperhatikan iklan ditelevisi diharapkan pemirsa dapat menangkap pesan yang disampaikan, sehingga dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk yang diiklankan tersebut. Keputusan pembelian merupakan suatu tahapan dalam proses pengambilan keputusan dimana konsumen benar-benar membeli suatu produk dan memutuskan merek apa yang akan dibeli (Kotler dan Amstrong,2001:196).
Iklan akan memberikan dampak terhadap pola konsumsi masyarakat pada umumnya dan para remaja pada khususnya dalam hal ini adalah anak-anak muda. Anak muda merupakan segmen pasar yang yang perlu mendapat perhatian serius dari perusahaan, karena mereka mempunyai wawasan yang luas dan inovatif dalam pengambilan keputusan pembelian terhadap produk. Mereka mempunyai keinginan untuk selalu mencoba produk baru, hal ini yang menjadi pertimbangan tersendiri bagi para perusahaan untuk mengiklankan produknya sesuai dengan segmen  pasar yang diinginkan
Iklan ditujukan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau merk. Tujuan ini bermuara pada  upaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli. Meskipun tidak secara langsung berdampak pada pembelian, iklan menjadi sarana untuk membantu pemasaran yang efektif dalam menjalin komunikasi antara perusahaan dan konsumen, dan sebagai upaya perusahaan dalam menghadapi pesaing.
Iklan sebagai bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non personal oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Fokus penelitian ini adalah periklanan khususnya melalui media telivisi. Kegiatan periklanan melalui media televisi dilakukan secara baik dan menarik yang memungkinkan akan membawa keuntungan yang luar biasa terhadap penjualan. Munculnya berbagai televisi swasta membawa pengaruh yang sangat luas bagi kehidupan masyarakat Indonesia, karena televisi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, muilai dari kelompok umur, kelas social dan gaya hidup(Kotler,2000:658).
Media periklanan yang dianggap paling tepat adalah media televisi yang  sekaligus dapat memberikan kombinasi antara suara dengan gambar yang bergerak dan dinikmati siapa saja, sehingga sering digunakan perusahaan untuk menginformasikan produknya. Dalam rangka promosi produk, iklan televisi merupakan media yang efektif dalam menanamkan isi pesan di benak konsumen karena penyampaiannya dilakukan berulang-ulang. Perusahaan melalui biro periklanan berusaha membuat iklan produknya  semenarik mungkin, yaitu melalui pesan iklan yang dibuat singkat dan mudah diingat. Pembuatan iklan dengan format yang baru perlu dilakukan dari waktu ke waktu untuk menjaga agar pemirsa tidak merasa bosan. Setelah konsumen melihat dan memperhatikan iklan di televisi daharapakan konsumen dapat menagkap pesan yang disampaikan, sehingga dapat mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk yang diiklankan tersebut.
Selama ini memang Yamaha hanya menempati posisi dua atau tiga pada pasar sepeda motor nasional, bersaing ketat dengan suzuki tetapi dengan adanya kegiatan promosi yang dilakukan oleh Yamaha lewat iklan sepeda motor Yamaha versi lagu group band Dewa ” Yamaha Semakin Didepan” sehingga membuat Yamaha lebih kompetitif lagi dalam bersaing untuk meningkatkan pangsa pasarnya pada sepeda motor nasional. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diberikan pada pihak Yamaha seperti penganugerahan Sertifikat ISO 9001 pada bulan agustus 2001, ICSA Award tahun 2004-2007, Marketing Award 2006, Marketing Award 2007 dan TV Ad Monitor 2006. Menapak usia 30 tahun, Yamaha Indonesia bertekad untuk memberikan yang terbaik kepada setiap dealer dan konsumen agar menjadi “selalu   Terdepan”.(www. Yamaha. com)







Grafik 1.1
Volume Penjualan Sepeda Motor Yamaha di Blitar
Periode Per 6 Bulan Selama Tahun 2007 dan Tahun 2008 Semester 1
Berdasarkan gambar grafik 1.1 dapat diperoleh informasi bahwa animo masyarakat di Blitar sangat besar terhadap keberadaan sepeda motor yamaha. Animo ini berhubungan dengan keputusan masyarakat di Blitar yang secara signifikan meningkatkan volume penjualan sepeda motor Yamaha periode 6 bulanan dapat dilihat terus mengalami peningkatan. Dengan demikian bentuk komunikasi pemasaran produk yamaha khususnya di Blitar melalui media iklan menumbuhkan minat konsumen dan tentunya ditindaklanjuti dengan melakukan pembelian.
Penjualan sepeda motor Yamaha dari produsen ke dealer sepanjang Juli lalu kembali menyalip Honda. Volume penjualan sepeda motor Yamaha yang mengungguli Honda mengulangi data penjualan penjualan Maret lalu. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia menunjukkan, penjualan sepeda motor sepanjang Juli sebesar 364.389 unit. Penjualan sepeda motor Yamaha unggul dengan 161 ribu unit, sedangkan Honda di posisi kedua dengan 143 ribu unit. Adapun Suzuki berada di posisi ketiga, sebanyak 53.500 unit (www. Tempo interaktif. com)
Menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) dan Dyonisius (2007). Sepanjang 2007, penjualan sepeda motor merek Honda turun 8,5 persen jika dibanding dengan penjualan pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2007 penjualan motor Honda tercatat 2.141.015 unit, sedangkan pada 2006 tercatat 2.234.168 unit, demikian data penjualan yang diterima dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Kamis (17-1). Turunnya penjualan sepeda motor Honda ini juga menyebabkan pangsa pasar sepeda motor PT Astra Internasional Tbk., turun dari 53 persen pada 2006 menjadi 46 persen pada 2007. Astra merupakan produsen sepeda motor merek Honda. Sebaliknya sepeda motor merek Yamaha sepanjang 2007 mencatat penjualan yang lumayan besar jika dibandingkan dengan 2006. Pada 2007, penjualan sepeda motor Yamaha tercatat 1.833.506 unit atau naik 25,7 persen jika dibanding dengan 2006 yang mencapai 1.458.561 unit. Begitu juga penjualan sepeda motor merek Suzuki sepanjang 2007 mencatat kenaikan 12,1 persen menjadi 637.031 unit. Naiknya penjualan sepeda motor Yamaha dan Suzuki menjadi salah satu penyebab turunnya pangsa pasar sepeda motor Honda. Sementara itu, secara nasional penjualan sepeda motor meningkat 5,9 persen dari 4.427.342 unit pada 2006 menjadi 4.688.263 unit pada 2007. (www.lampungpost.com)
Keberhasilan ini memang tidak lepas dari   iklan di televisi-televisi swasta yang sangat konsisten mengedepankan “ kecepatan dan kedinamisan”. Selain itu pemilihan endoser yang relatif dikenal kalangan luas menjadikan iklan Yamaha mudah diingat  dan digambarkan. Terlebih Yamaha dalam  iklan selain elegan, Yamaha juga mengusung konsep humor.
Jika diperhatikan saat Yamaha memperkenalkan produknya dipasar melalui iklan televisi seperti versi iklan lagu group band Dewa yang visualisasinya adalah sekelompok orang yang dalam kegiatanya masing-masing yang kemudian beranjak menggunakan motornya bermerk Yamaha untuk menggunakan motornya bermerk Yamaha untuk mengadakan suatu touring dan berkumpul dalam sebuah komunitas dan melakukan terjun payung dengan menggunakan sepeda motor Yamaha yang pada endingnya diakhiri dengan pengibaran bendera disebuah bukit yang bertuliskan”Yamaha semakin didepan”.
Iklan Yamaha versi lagu grup band Dewa” Yamaha Semakin Didepan”  tersebut dimungkinkan memiliki peran yang cukup besar dalam peningkatan penjualan yamaha karena iklan versi lagu band Dewa ini yang mulai tayang di telivisi pada triwulan pertama pada tahun 2007 ini  cukup familiar dibenak masyarakat terlebih backsound dari grup band Dewa.
Filosofi slogan Yamaha Semakin Didepan tidak hanya sekedar slogan. Yamaha Semakin di Depan menggantikan tagline lama Yamaha Indonesia untuk menginspirasi karyawan dan pengguna setia Yamaha untuk berbuat lebih baik. Perjuangan Yamaha begitu panjang untuk meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Prestasi yang mungkin bagi sebagian orang adalah tak mungkin, sukses dipatahkan oleh Yamaha. Yamaha membuktikan slogan tidak hanya slogan Tapi implementasi nyata dari penggemar Yamaha yang menginginkan model sepeda motor yang sporty, hi-tech, dan stylish. (http://www.liputan6.com/lainlain/?id=143835).
Pada produk sepeda motor Yamaha, strategi dan efektifitas periklanan televisi sepeda motor Yamaha patut untuk diperhitungkan mengingat efektifitas iklan televisi sepeda motor Yamaha dapat menjadi salah satu faktor penentu berhasil tidaknya produk tersebut di pasar. Begitu juga biaya yang harus dikeluarkan untuk iklan televisi tidak hanya sedikit.  Dalam pengukuran efektifitas iklan dilakukan dengan menggunakan EPIC Model.

Dalam EPIC Model memisahkan empat dimensi kritis sebuah iklan yaitu Empathy, Persuasion, Impact, dan Communication untuk kemudian dianalisa guna melihat efektifitas masing-masing dimensi tersebut secara terpisah  sehingga dapat diketahui pada dimensi yang manakah sebuah iklan memiliki kelemahan dalam pencapaian tujuannya, serta selanjutnya dibuat strategi baru untuk memperbaikinya.
Maka dari strategi dan efektivitas periklanan televisi sepeda motor Yamaha patut untuk diperhatikan mengingat efektivitas iklan televisi motor Yamaha dapat menjadi penentu berhasil tidaknya produk ini dipasar agar posisi Yamaha pada persaingan pasar sepeda motor nasional lebih meningkat.
            Pengukuran efektiktifitas iklan sepeda motor ini dilakukan pada konsumen yamaha pada dealer yamaha Timbul Jaya Motor Blitar sebagai obyek atau individu yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu dan cukup untuk menjadi populasi dan pertimbangan  bahwa konsumen sepeda motor Yamaha merupakan komunitas yang cukup berpotensi sebagai pengguna produk pada penelitian ini.
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai masalah periklanan yang saat ini lagi diterapkan oleh Yamaha motor Co. Ltd . Untuk itu pada penelitian ini penulis mengambil judul “Pengukuran Efektifitas Iklan Televisi Sepeda Motor Yamaha Versi Lagu Grup Band Dewa ”Yamaha Semakin Didepan” dengan Pendekatan EPIC Model (Pada Dealer Yamaha  Timbul Jaya motor Blitar)”.

B. Rumusan masalah
Perumusan masalah digunakan agar permasalahan lebih terarah sehingga dapat memberikan gambaran masalah yang akan dipecahkan dan mempermudah pada pembahasan selanjutnya.
Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah iklan televisi sepeda motor Yamaha versi lagu grup band Dewa” Yamaha Semakin Didepan” efektif jika diukur menggunakan dimensi EPIC (Emphaty, Persuasion, Impact, Comunication) pada Dealer Yamaha Timbul Jaya Motor Blitar?
2.      Diantara dimensi Emphaty, Persuasion, Impact, Comunication  manakah yang paling efektif untuk menilai iklan televisi sepeda motor Yamaha versi lagu group band Dewa” Yamaha Semakin Didepan” pada Dealer Yamaha Timbul Jaya Motor Blitar?

C. Tujuan penelitian
            Berdasarkan latar belakang penelitian dan rumusan masalah, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apakah iklan televisi sepeda motor Yamaha versi lagu grup band Dewa” Yamaha Semakin Didepan” efektif diukur menggunakan dimensi EPIC (Emphaty, Persuasion, Impact, Comunication) pada Dealer Yamaha Timbul Jaya Motor Blitar.
2.      Untuk  mengetahui dimensi EPIC yang paling efektif menilai iklan sepeda motor yamaha versi lagu grup band Dewa ” Yamaha Semakin Didepan” pada Dealer Yamaha Timbul Jaya Motor Blitar.

D. Batasan Penelitian
Penelititan ini hanya mengukur efektifitas periklanan dilihat dari kriteria persuasi dan pengingatan.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Bagi Peneliti
a.      Sebagai aplikasi dari ilmu yang telah diperoleh peneliti selama perkuliahan.
b.      Dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan pengalaman penulis untuk berfikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi permasalahan yang terjadi
2.      Bagi Lembaga
a.      Hasil ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan Sebagai bahan masukan bagi fakultas untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang diberikan mampu memenuhi tuntutan perkembangan dunia perekonomian dan pemasaran global pada saat ini.
b.      Hasil ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan referensi untuk pengembangan selanjutnya.
3.      Bagi Perusahaan
a.        Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna untuk menyusun kebijakan perusahaan yang bersangkutan.
b.       Sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi strategi pemasaran perusahaan yang selama ini diimplementasikan,  dalam hal ini strategi promosi khususnya periklanan.
c.   Sebagai bahan masukan untuk mengetahui apa yang menjadi bahan pertimbangan konsumen dalam membeli  produk sepeda motor Yamaha, yang selanjutnya akan dijadikan bahan evaluasi dan bahan pertimbangan kebijakan  terhadap program pemasarannya. Dan untuk mengetahui dimensi EPIC Model  manakah yang  dominan mempengaruhi pertimbangan konsumen untuk memilih produk sepeda motor Yamaha yang akan digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam menentukan kebijaksanaan di masa yang akan datang.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Empiris
            Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sangat penting untuk diungkapkan, karena dapat dipakai sebagai bahan informasi dan bahan acuan yang sangat berguna. Bachtiar (2006)dalam penelitian ” Analisa efektifitas iklan media televisi Djarum super Mezzo versi” Berlari dan Melayang”  menggunakan EPIC model pada mahasiswa S-I fakultas ekonomi Untuk mengambil gelar sarjana Unibraw . Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Konsentrasi Pemasaran 2006. Menjelaskan bahwa efektifitasnya dengan EPIC Model, dimensi Empaty jika diukur mendapat skor 4,437 dari rentang 1-7 yang berarti dimensi ini  efektif. Dimensi Persuation jika diukur efektifitasnya dengan epic model mendapat skor 3,891 dari rentang 1-7 yang berarti dimensi ini  cukup efektif. Dimensi Impact jika diukur efektifitasnya dengan epic model mendapat skor 3,613 dari rentang 1-7 yang berarti dimensi ini  tidak efektif. Dimensi Comunication jika diukur efektifitasnya dengan epic model mendapat skor 3,848 dari rentang 1-7 yang berarti dimensi ini  cukup efektif
            Angga (2006) dalam penelitian Pengukuran Efektifitas iklan televisi kartu seluler prabayar simpati jitu dengan menggunakan EPIC Model (studi kasus pada mahasiswa S-1 Universitas Brawijaya), dimensi Empaty jika diukur efektifitasnya dengan EPIC Model mendapat skor 3,375 dari rentang 0-6 yang berarti dimensi ini  cukup efektif. Dimensi Persuation jika diukur efektifitasnya dengan EPIC Model mendapat skor 2,53 dari rentang 0-6 yang berarti dimensi ini  tidak efektif. Dimensi impact jika diukur efektifitasnya dengan EPIC Model mendapat skor 2,81 dari rentang 0-6 yang berarti dimensi ini  tidak efektif. Dimensi comunication jika diukur efektifitasnya dengan EPIC Model mendapat skor 3,555 dari rentang 0-6 yang berarti dimensi ini  cukup efektif.
Tabel 2.1
Persamaan dan perbedaan dengan penelitian terdahulu

d

Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terdapat pada obyek yang diteliti, yaitu pada konsumen sepeda motor Yamaha pada dealer Yamaha Timbul Jaya Motor Blitar. Sedangkan pada penelitian sekarang pada produk  sepeda motor Yamaha versi”lagu group band Dewa”. Persamaannya terletak pada alat analisis yang digunakan yaitu tabulasi sederhana dan korelasi.
B. Kajian Teori
1. Periklanan (Advertising)
a. Pengertian Iklan
            Ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian iklan. Dalam Durianto (2003:2) Periklanan (advertising) adalah semua bentuk penyajian non personal,promosi, dan ide tentang barang atau jasa yang dibayar oleh suatu sponsor. Begitu juga menurut Tjiptono (1997:226) iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung, yang didasari pada informasi tentang keunggulan atas keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehigga menimbulkan rasa yang menyenangkan yang akan mengubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian.
Periklanan menurut Kotler (1997: 235) adalah segala bentuk penyajian non personal dan promosi ide, barang, atau jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Pengiklanan tidak mencakup perusahaan bisnis tetapi juga museum, organisasi I amal, dan lembaga pemerintah yang beriklan ke berbagai masyarakat sasaran. Iklan merupakan cara efektif biaya untuk menyebarkan pesan, baik itu untuk membangun preferensi merek untuk  Coca-Cola ataukah untuk mendidik penduduk suatu Negara untuk menghindari obat-obatan terlarang.
            Dalam membuat program periklanan, manajer pemasaran harus selalu mulai dengan mengidentifikasikan pasar sasaran dan motif pembeli. Kemudian membuat lima keputusan utama dalam pembuatan program periklanan, yang disebut lima M ;
  1. Mission (misi): apakah tujuan periklanan?
  2. Money (uang) : Berapa banyak yang dapat dibelanjakan?
  3. Message (pesan) : Pesan apa yang harus disampaikan?
  4. Media (media) : Media apa yang digunakan?
  5. Measurement (pengukuran): Bagaimana mengevaluasi hasilnya?
            Periklanan merupakan salah satu bentuk khusus komunikasi yang biasanya digunakan oleh perusahaan untuk mengarahkan komunikasi persuasi pada pembeli sasaran dan masyarakat. Periklanan juga salah satu usaha yang dilakukan untuk menyampaikan pesan dari produk yang dihasilkan perusahaan kepada pihak konsumen, sehingga konsumen dapat lebih dapat mengenal produk yang di tawarkan perusahaan.
            Dari beberapa pengertian dan teori tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa iklan merupakan pada hakikatnya merupakan media promosi yang menawarkan ide, barang atau jasa dengan menggunakan pembayaran yang dilakukan oleh sponsor tertentu atas suatu produk, dimana pelaksanaanya melalui suatu media periklanan dan tidak dilakukan oleh orang.

b. Tujuan Periklanan
            Tidak tepat jika periklanan ditujukan hanya untuk mempengaruhi penjualan, sebab banyak variabel  yang mempengaruhi penjualan termasuk iklan itu sendiri. Pendekatan yang lebih tepat adalah bila tujuan periklanan diarahkan pada tahap tahap-tahap kesiapan pembeli untuk membeli produk, yaitu mengubah pelanggan dari tidak tahu menjadi memahami, mengambil sikap, lalu membeli. Oleh karena itu pemasar harus menentukan tahap mana yang perlu digarap lewat iklan. Menurut  Tjiptono (1997: 240), ada beberapa cara untuk menentukan tujuan periklanan, yaitu:
1.   Inventory Approach
Dalam pendekatan ini, tujuan pengiklanan ditentukan atau diambil dari   kumpulan berbagai tujuan perusahaan dilihat dari seluruh sudut pandang pemasaran perusahaan.
2.   Hierarchy Approach
Pendekatan ini didasarkan pada dugaan bahwa sebelum membeli produk, pelanggan melewati tahapan-tahapan variabel psikologis.
 3.  Attitudinal Approach
      pendekatan ini menyarankan  agar sasaran tujuan periklanan adalah mempengaruhi struktur sikap. Tujuan-tujuan periklanan adalah mempengaruhi struktur sikap.
            Pendekatan ini adalah penyempurnaan dari hierarki, dimana pendekatan ini berupaya menghubungkan tujuan periklanan dengan tujuan pemasaran. Pendekatan sikap tidak hanya menunjkkan fungsi-fungsi yang dilaksanakan iklan, tetapi juga menunjukkan hasil-hasil tertentu yang akan dicapai. Tugas-tugas periklanan tersebut selanjutnya bisa dipakai untuk menentukan tujuan media.
Menurut Durianto (2003: 12) dalam Ninong (2005: 28) juga menyebutkan ada Sembilan (9) tujuan yang secara umum yang ingin dicapai perusahaan-perusahaan yang beriklan, yaitu:
1)        Menciptakan kesadaran pada suatu merk dibenak konsumen (creat awarenes). Brand awareness yang tinggi merupakan pembuka untuk tercapainya brand equity yang kuat. Pemasar seharusnya menyadari bahwa tanpa brand awareness yang tinggi sulit untuk mendapatkan pangsa pasar yang tinggi.
2)        Mengkomununikasikan informasi kepada konsumen mengenai atribut dan manfaat suatu merk (communicate information about atribut and benefits).
3)        Mengembangkan atau mengubah citra atau personalitas sebuah merk. sebuah merk terkadang mengalami dilusi sehingga perlu diperbaiki citranya, yang dapat dilakukan adalah melalui iklan.
4)        Mengasosiasikan suatu merk dengan perasaan serta emosi . Di sini dimaksudkan agar ada hubungan emosi antara konsumen dan suatu merk.
5)        Menciptakan norma-norma kelompok.
6)         Mengedapankan perilaku.
7)        Mengarahkan konsumen untuk membeli produknya  dan mempertahankan kekuatan pasar (market power) perusahaan . iklan sangat kuat dalam meningkatkan kekuatan suatu merk di pasaran. Meski iklan bukan segalanya, mengingat keberhasilan suatu merek di pasaran tidak tergantung pada iklannya.
8)        Menarik calon konsumen menjadi “konsumen yang loyal” dalam jangka waktu tertentu.
9)        Mengembangkan sikap calon positif calon konsumen yang diharapkan dapat menjadi pembeli potensial di masa yang akan datang. Berdasarkan pendapat-pendapat  di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari periklanan pada dasarnya adalah untuk menyampaikan informasi, membujuk (mempengaruhi) dan mengingatkan serta dapat pula untuk menciptakan kesan positif pada produk atau merek tersebut.

c. Strategi Pemiliahan Media
Pengukuran Efektifitas Iklan Televisi Sepeda Motor Yamaha Versi Lagu Group Band Dewa “Yamaha Semakin Didepan” Dengan Pendekatan Epic Model  (Lengkap Sampai Daftar Pustaka)
            Menurut Tjiptono(1997:240), Tujuan dari strategi ini ini adalah memilih media yang tepat untuk kampanye iklan dalam rangka membuat pelanggan menjadi tahu, paham, dan menentukan sikap, dan membeli produk yang dihasilkan perusahaan. Adapun yang dimaksud dengan media adalah saluran pesan komersiil kepada khalayak sasaran. Media tersebut berupa surat kabar, majalah, televise, radio, media luar ruang, iklan transit, dan direct mail. Pemilihan setiap media dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ciri produk, jenis pesan, pasar sasaran, luas dan jenis distribusi, anggaran, strategi iklan pesaing, serta keunggulan dan kekurangan media itu sendiri. Selain itu pemilihan media juga tergantung pada tujuan pengiklanan, yang merupakan pintu gerbang dari seluruh kegiatan dalam program pengiklanan.

d. Alternatif Media
            Menurut Tjiptono (1997: 243), secara umum media yang tersedia dapat dikelompokkan menjadi media cetak, media elektronik, media luar ruang, dan media lini bawah.
1.      Media cetak, yaitu media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan dengan sejumlah kata, gambar, atau foto, baik dalam tata warna maupun hitam putih.
2.      Media elektronik, yaitu media dengan teknologi elektronik dan hanya bisa digunakan bila ada jasa transmisi siaran. Bentuk-bentuk iklan dalam media elekronik biasanya berupa sponsorship, iklan partisipasi (dipersiapkan ditengah-tengah film atau acara) pengumuman acara/film, iklan layanan masyarakat, jingle, sandiwara, dan lain-lain.
a.       Televisi
            Keunggulan media televisi meliputi:
1)      Bersifat audio, visual, motion,
2)      Formatnya sangat fleksibel,
3)      Jangkaunnya sangat jauh,
4)      Prestisius,
5)      Sangat menarik perhatian,
6)      Menimbulkan dampak yang kuat,
7)      kemampuannya yang kuat mempengaruhi persepsi khalayak.
            Kelemahan penggunaan media televisi meliputi:
1)      Sangat mahal,
2)      Banyak gangguan,
3)      Penanyangan yang terlalu cepat,
4)      khalayak tidak selektif.
3.      Media luar ruang, yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang dipasang dtempat-tempat terbuka seperti dipinggir jalan, dipusat keramaian atau ditempat khusus lainnya, seperti didalam bis kota, gedung, pagar tembok dan tempat lainnya. Jenis-jenis media luar ruang meliputi billboard, baleho, poster, spanduk, umbul-umbul, transit (panel bis), balon raksasa, dan lain-lain.
4.      Media lini bawah, yaitu media-media minor yang digunakan untuk mengiklankan produk. Umumnya ada empat macam media yang digunakan lini bawah, yaitu: pameran, direct mail, point of purchase, merchandising schemes, dan kalender

e. Pesan Iklan Televisi
Lamb, Hair, Mc Daniel(2001:218) karena televisi adalah pesan audiovisual, ini memberikan para pemasang iklan dengan banyak kesempatan kreatif. Penyiaran televisi termasuk jaringan televisi, stasiun independen, televisi  kabel, dan pendatang yang relatif baru, televisi satelit siaran langsung. Pada masing-masing media yang digunakan untuk beriklan, ada keuntungan dan kelebihannya masing-masing, tetapi ada kelebihan dan kelemahan yang secara umum terjadi.
Menurut Shimp (2003:46), kelebihan dan kelemahan periklanan dengan menggunakan televisi, yaitu sebagai berikut:
a.      Kelebihan Media Televisi
1)   Di luar pertimbangan lainya, televisi mempunyai kemampuan yang unik untuk mendemontrasikan penggunaan produk.
2)   Iklan televisi mempunyai kemampuan untuk muncul tanpa diharapkan (intrusion value) yang tidak sejajar dengan iklan lainya.
3)   Iklan televisi mampu menjangku baik konsumen akhir maupun tenaga penjualan perusahaan..
4)   Iklan televisi mampu untuk mencapai dampak yang diinginkan. Dampak tersebut adalah mutu atau media priklanan yang mengaktifkan ingatanya untuk menerima pesan penjualan.
b.      Keterbatasan atau kelemahan media periklanan televisi
1)   Biaya periklanan yang meningkat dengan cepat. Biaya ini akan meningkat pada waktu-waktu prime time di mana banyak pemirsa menonton pada jam-jam tertentu tersebut.
2)   Terpecahnya penonton (audience fractionalization).  Para pengiklan tidak dapat mengharap untuk menarik penonton homogen yang luas ketika memasang iklan pada program tertentu karena sekarang tersedia banyak pilihan program bagi penonton televisi.
3)   Kebiasaan dari pemirsa yang suka meng-zipping dan zapping iklan. Zapping terjadi ketika para penonton beralih saluran lain ketika iklan ditampilkan. Suatu riset menunjukkan bahwa ada sekitar sepertiga penonton potensial iklan televisi yang hilang akibat tindakan zapping. Selain zapping ada zipping yaitu terjadi saat iklan yang telah direkam dengan VCR ditayangkan denga cepat ketika penonton menonton materi iklan yang pernah ditayangkan sebelumnya.
4)   Ketidak beraturan (clutter) mengacu kepada semakin banyaknya materi non program yaitu iklan, pesan layanan umum, dan pengumuman promosi stasiun dan program-program saluran yang bersangkutan. Clutter terjadi karena jaringan meningkat atau menambah pengumuman promosi untuk merangsang penonton untuk menonton program yang dipromosikan secara gencar dan karena pengiklan menmbah iklan-iklan pendeknya. Efektifitas periklanan televisi menjadi berkurang karena masalah clutter yang menciptakan kesan negativ dikalangan konsumen mengenai periklanan pada umumnya, menjauhkan para penonton dari pesawat televisi, dan mungkin mengurangi kemampuan untuk mengingat nama merek.
   Begitu juga dalam Lamb, Hair, Mc Daniel(2001:218) menyebutkan ada kelebihan dan kelemahan periklanan dengan menggunakan televisi, yaitu:
a.      Kelebihan Media Televisi
1.    Kemampuan jangkauan yang lebih luas .
2.    Pemirsa yang beragam.
3.    Rendah biaya perseribu.
4.    Peluang kreatif untuk demonstrasi.
5.    Pesan di sampaikan dengan cepat.
6.    Bersifat hiburan.
7.    Selektifitas demografis dengan stasiun kabel.
b.      Kelemahan Media Televisi
1)   Umur pesan pendek.
2)   Biaya kampanye tinggi.
3)   Selektifitas demografis yang kecil dengan jaringan stasiun.
4)   Komitmen jangka panjang dari pemasang iklan.
5)   Rentang waktu yang panjang untuk produksi.
6)   Kekacauan iklan.




f. Pengukuran Efektifitas Iklan.
Secara umum, menurut Durianto (2003:15) dalam Ninong (2005:40) dikenal tiga kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur efektifitas iklan, yaitu:
1)   Penjualan.
            Efektifitas periklanan yang berkaitan dengan penjualan dapat diketahui melalui riset tentang dampak penjualan, namun akan cukup sulit dilakukan karena banyaknya faktor-faktor di luar iklan yang berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Namun demikian, dengan alat analisis yang tepat dimungkinkan untuk melihat peran parsial iklan terhadap penjualan suatu produk.
2)   Persuasi.
       Pada kriteria kedua, yaitu persuasi lebih menekankan pada pengukuran dampak pemahaman konsumen terhadap suatu iklan, terhadap perubahan kepercayaan konsumen pada ciri atau konsekuensi produk, sikap terhadap merk, keinginan membeli. Apakah suatu iklan dapat menciptakan rantai akhir suatu pengetahuan produk sebagaiman yang diinginkan, yaitu menemukan apakah konsumen membentuk pengasosian yang tepat antara merk dengan pribadi konsumen.
3)   Pengingatan
       Dalam kriteria pengingatan, yang umum dipakai sebagai ukuran adalah kemampuan konsumen dalam mengingat iklan atau bagian dari iklan tersebut. Hal apa sajakah yang mereka tangkap dari iklan yang ditayangkan. Konsep ini menjadi penting untuk iklan yang ditujukan untuk memperkuat kesadaran akan merk (brand awarens). Misalnya, dalam suatu daya ingat konsumen pada hari setelah iklan ditayangkan, maka para peneliti dapat menggali informasi dari konsumen dengan mengajukan pertanyaan kepada pemirsa, apakah mereka mengingat adanya iklan yang ditayangkan, dan hal apa saja yang mereka ingat sehubungan dengan iklan yang ditayangkan.

2. EPIC MODEL
Duryanto (2003) dalam Ninong (2005:8) , menyebutkan bahwa terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk melihat efektifitas suatu iklan televisi berdasarkan dampak komunikasi yang ditimbulkan, yaitu:
1.    CRI (Customer Response Indeks)
Merupakan alat ukur efektifitas iklan yang di lakukan dengan cara mengalikan awarenes (kesadaran), comprehend (pemahaman konsumen), interest (ketertarikan), intention (maksud untuk membeli), dan action (tindakan membeli) yang kesemuanya dalam satu persen.
Meski demikian, dalam analisis ini tidak ada batasan yang mengenai berapa batas efektif tidaknya suatu iklan, namun dalam analisis ini  hanya mencoba untuk mengetahui berapa besar prosentase responden yang mengetahui tiap-tiap variabel yang ditanyakan sehingga dapat diketahui berapa persen responden yang belum mengetahui.
2.    DRM (Direct Rating Metode)
Metode ini dilakukan dengan memberikan beberapa iklan kepada sekelompok konsumen dan meminta mereka untuk memperingat masing-masing iklan tersebut. Dalam analisis ini diperhatikan aspek-aspek attention (perhatian), readthorougness (pembaca/pemahaman),  cognitive  (kognitif) affection (afeksi), behavior (perilaku). Dalam analisis hanya terdapat lima kategori iklan, yaitu Iklan buruk (0-20); Iklan kurang baik (20,01-40); Iklan rata-rata (40,01-60); Iklan baik (60,01-80); dan Iklan henat (80,01-100).
3.    EPIC Model (Consumer Dicition Model).
Dalam EPIC Model memisahkan empat dimensi kritis sebuah iklan yaitu Empathy, Persuation, Impact, dan Comunication untuk kemudian dianalisa guna melihat efektifitas masing-masing dimensi tersebut secara terpisah  sehingga dapat diketahui pada dimensi yang manakah sebuah iklan memiliki kelemahan dalam pencapaian tujuannya, serta selanjutnya dibuat strategi baru untuk memperbaikinya.
Dalam EPIC Model mempunyai batasan (range) yang dapat menempatkan suatu iklan yang diukur dengan model ini pada tujuh tingkatan, yaitu: Sangat tidak efektif sekali (0,000-0,857); Sangat tidak efektif (0,858-1,714); Tidak efektif (1,715-2,571); Cukup efektif (2,572-3,428); Sangat efektif (4,286-5,142); Sangat efektif sekali (5,143-6,000).
Dari ketiga alat ukur efektifitas iklan tersebut, dapat dilihat EPIC Model mempunyai ukuran efektifitas yang paling akurat (hingga mencapai tiga angka di belakang koma), selaian itu EPIC Model dapat memisahlan 4 dimensi kritis sebuah iklan yaitu: Empathy, Persuation, Impact, dan Comunication. Dengan demikian bisa di lihat apakah semua dimensi kritis iklan tersebut efektif ataukah tidak (hanya sebagian saja) misalnya dimensi empaty yang efektif dan lainya tidak efektif. Dengan melihat secara terpisah maka kita akan mengetahui  di mensi yang manakah iklan tersebut memiliki kelemahan dalam mencapai tujuanya, untuk selanjutnya di buat strategi baru untuk memperbaikinya.
EPIC MODEL menurut Durianto (2003: 86), dalam Ninong adalah salah satu alat ukur efektifitas iklan dengan pendekatan komunikasi yang dikembangkan oleh AC-Nielsen salah satu perusahaan peneliti pemasaran terkemuka didunia, yang mencangkup empat dimensi kritis, yaitu: empati, persuasi, dampak, dan komunikasi (Empathy, Persuation, Impact, and Comunication - EPIC). Berikut akan dipaparkan dimensi-dimensi tersebut yaitu:
1.    Dimensi Empati
Empati (Empathy) merupakan keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasikan dirinya atau merasa dirinya pada keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Dimensi empati menginformasikan, apakah konsumen menyukai suatu iklan dan menggambarkan bagaimana konsumen melihat hubungan antara suatu iklan dengan pribadi mereka. Dimensi empati memberikan informasi yang berharga tentang suatu merek.
Empati melibatkan afeksi dan kognisi konsumen. Dalam bahasa yang sederhana afeksi melibatkan perasaan sedangkan kognisi melibatkan pemikiran. Variasi tanggapan afektif dapat berupa penilaian yang positif ataupun negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Konsumen dapat merasakan empat jenis tanggapan afektif, yaitu: emosi, perasaan khusus, suasana hati, dan evaluasi yang berbeda dalam tingkat intensitas dan improvisasinya.
Kognisi mengacu pada proses mental dan struktur pengetahuan yang dilibatkan dalam tanggapan seseorang terhadap lingkungannya, termasuk juga pengetahuan yang diperoleh seseorang dari pengalaman serta yang tertanam dalam ingatan mereka. Proses psikologis berkaitan dengan pemberian perhatian pada aspek-aspek lingkungan, pemahaman terhadap aspek-aspek lingkungan, memori masa lalu, pembentukan evaluasi dan pembuatan keputusan pembelian. Sedangkan aspek kognisi meliputi proses berfikir sadar, tak sadar dan otomatis.
Dimensi empati menginformasikan, apakah konsumen menyukai suatu iklan dan menggambarkan bagaimana konsumen melihat hubungan antara suatu iklan dengan pribadi mereka. Dimensi empati memberikan informasi yang berharga tentang daya tarik suatu merk.
Empati melibatkan afeksi (affect) dan kognisi (cognition) konsumen. Menurut J.Paul Peter dan Jerry C. Olson menurut Durianto, et al (2003: 87) dalam Angga, afeksi dan kognsi mengacu pada dua tipe tanggapan internal psikologis yang dimiliki konsumen terhadap rangsangan lingkungandan kejadian yang berlangsung.
2.    Dimensi Persuasi
Persuasi (persuation) adalah perubahan kepercayaan, sikap, dan keinginan berperilaku yang disebabkan suatu komunikasi promosi. Proses persuasi yang akan dipakai ditentukan dengan tingkat keterlibatan konsumen dalam pesan produk. Dimensi persuasi menginformasikan apa yang dapat diberikan suatu iklan untuk peningkatan atau penguatan karakter suatu merek, sehingga pemasang iklan memperoleh pemahaman tentang dampak iklan tehadap keinginan konsumen untuk membeli serta memperoleh gambaran kemampuan suatu iklan dalam mengembangkan  daya tarik suatu merek.
Dimensi Persuasi menginformasikan apa yang dapat diberikan suatu iklan untuk peningkatan atau penguatan karakter suatu merek, sehingga pemasang iklan memperoleh pemahaman tentang dampak iklan terhadap keinginan konsumen untuk memberi serta memperoleh gambaran kemampuan suatu iklan dalam mengembangkan daya tarik suatu merek.
Persuasi merupakan perubahan kepercayaan sikap dan keinginan berperilaku yang disebabkan suatu komunikasi promosi. Komunikasi promosi seperti periklanan yang dapat mempengaruhi dapat menggunakan dua proses kognitif yaitu, jalur sentral dan jalur periferal menuju persuasi. Proses persuasi yang akan dipakai ditentukan dengan tingkat keterlibatan konsumen dalam pesan produk (Peter&Olson, 2000:197).
Model Kecenderungan Elaborasi (MKE) menjelaskan dua proses kognitif dimana komunikasi promosi seperti periklanan dapat mempengaruhi konsumen, yaitu jalur sentral dan peripheral. Jalur sentral dan periferal dalam persuasi promosi dapat digambarkan sebagai berikut. 
Gambar 2.1
dua jalur dalam MKE

sumber : Peter & Olson (2000: 198)
Dalam jalur sentral menuju persuasi, konsumen yang mengalami keterlibatan tinggi pada produk yang atau pesan promosi termotivasi untuk memperhatikan informasi sentral yang berkaitan dengan produk serta memahaminya dalam tingkat yang lebih mendalam dan terperinci. Pemahaman konsuman terhadap informasi yang berkaitan dengan produk diindikasikan oleh jenis tanggapan kognitif yang mereka memiliki terhadap pesan promosi yang diterima.
Dalam jalur periferal menuju persuasi cenderung muncul ketika keterlibatan konsumen lebih rendah. Dalam jalur periferal, konsumen tidak memfokuskan diri pada pesan produk dalam sebuah iklan tetapi pada perangsang periferal, seperti selebriti, atau musik yang populer dan menarik.
Argumen pendukung (support argument) adalah pikiran positif terhadap ciri-ciri produk. Argumen pendukung memperkuat persuasi dengan cara membawa konsumen pada kepercayaan produk yang positif, dan keinginan yang lebih kuat untuk membeli produk. Selama proses pemahaman belangsung, ada kemungkinan muncul pemikiran yang kurang menunjang terhadap produk yang di sebut contra argumen. Kontra argumen mengurangi persuasi dengan membawa konsumen pada kepercayaan produk yang kurang menunjang, sikap merek yang negativ, dan keinginan yang melemah atau tidak ada keinginan sama sekali untuk membeli produk.
Namun demikian konsumen ini dapat memberikan perhatian pada aspek-aspek periferal (non produk) dari sebuah komunikasi promosi seperti gambar iklan, aktor sebagai hiburan semata. Selanjutnya, jika konsumen ingin mengevaluasi suatu merek pada saat proses pengambilan keputusan, makna yang berkaitan dengan iklan ini dapat diaktifkan dan digunakan untuk membentuk sikap merek atau suatu keinginan untuk membeli. Dengan demikian jalur periferal dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli secara tidak langsung.
3.    Dimensi Impact
Dampak (Impact) yang diinginkan dari hasil iklan adalah jumlah pengetahuan produk (Product Knowledge) yang dicapai konsumen melalui tingkat keterlibatan (Involfement) konsumen dengan produk atau proses pemilihan. Konsumen mempunyai tingkat pengetahuan produk (level of product knowledge) yang berbeda-beda, yang dapat digunakan untuk menerjemahkan informasi baru dan membuat pilihan pembelian. Dimensi Impact menunjukkan, apakah suatu merek dapat terlihat  menonjol dibanding merek lain pada kategori yang serupa, dan apakah iklan mampu melibatkan konsumen dalam pesan yang disampaikan.
Dimensi Impact menunjukkan, apakah suatu merk yang dapat terlihat menonjol dibandingkan merk lain pada kategori yang serupa, dan apakah suatu iklan mampu melibatkan konsumen dalam pesan yang disampaikan. Dampak (impact) yang diinginkan dari hasil iklan adalah jumlah pengetahuan produk yang dicapai konsumen melali tingkat keterlibatan konsumen dengan produk dan atau proses pemilihan. Keterlibatan konsumen mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu objek, kejadian atau aktivitas.
Konsumen dapat memiliki empat tingkat pengetahuan produk, yaitu: kelas produk, bentuk produk, merek produk, dan model/cirri produk. Selain itu konsumen juga dapat memiliki tiga jenis pengetahuan produk yaitu pengetahuan, tentang ciri atau karakter produk,  konsekuensi atau manfaat positif menggunakan produk dan nilai yang akan dipuaskan atau dicapai suatu produk.  Keterlibatan ( involvement) mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya atau relevansi personal suatu sobyek, kejadian atau aktifitas.
Konsumen yang melihat bahwa suatu produk memiliki konsekuensi yang relevan secara pribadi, maka konsumen dikatakan terlibat dengan produk tersebut. Konsekuensi dengan suatu produk atau suatu merek memiliki aspek kognitif maupun pengaruh, secara kognitif, yang termasuk dalam ketrelibatan adalah pengetahuan arti akhir tentang konsekuensi penting yang disebabkan oleh penggunaan produk. Yang juga termasuk dalam keterlibatan adalah pengaruh, seperti evaluasi produk. Jika keterlibatan suatu produk tinggi, maka orang akan mengalami tanggapan pengaruh yang lebih besar, seperti emosi dan perasaan yang kuat.
Keterlibatan dapat berkisar dari tingkat yang rendahsedikit atau tidak ada relevansinya ke tingkat yang moderat-ada relevansi yang dirasakan hingga ke tingkat yang tinggirelevansinya sangat dirasakan. Keterlibatan adalah status motivasi yang menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen pada saat mereka membuat keputusan.
Tingkat keterlibatan yang tinggi terhadap iklan akan mempengaruhi konsumen untuk lebih memeperhatikan informasi yang berkaitan dengan produk sehingga akan menghasilkan pemahaman yanng lebih dalam akan ciri-ciri dan konsekuensi produk serta rincian yang lebih dalam.
Namun sebaliknya keterlibatan yang rendah pada iklan akan menghasilkan perhatian yang kurang seksama terhadap informasi yang berkaitan dengan produk sehinga pemahaman terhadap produk yang diiklankan sebatas pemikiran yang dangkal dan kurang terperinci (Peter dan Olson, 2000:195).
4.    Dimensi Komunikasi
Dimensi komunikasi memberikan informasi tentang kemampuan konsumen dalam mengingat pesan utama yang disampaikan, pemahaman konsumen, serta kekuatan pesan yang ditinggalkan pesan tersebut. Untuk berkomunikasi yang secara efektif, pemasar perlu memahami unsur-unsur fundamental yang mendasari komunikasi yang efektif. Dalam kotler (2002:627) model komunikasi yang efektif ada sembilan unsur, yaitu: dua unsur merupakan pihak utama dalam komunikasi yaitu: pengirim dan penerima. Dua unsur alat komunikasi utama yaitu: pesan dan media. Empat unsur yang merupakan fungsi komunikasi utama yaitu: pengkodean, penguraian kode, tanggapan dan gangguan.
Kata komunikasi berasal dari kata dalam bahasa Latin communis, yang berarti “sama” (dalam bahasa Inggris: common). Komunikasi kemudian dapat dianggap sebagai proses menciptakan suatu kesamaan (commonness) atau suatu kesatuan pemikiran antara pengirim dengan penerima.
Kunci utama dari definisi ini adalah diperlukan kesamaan pemikiran yang dikembangkan antara pengirim dan penerima jika diharapkan terjadi komunikasi. Kesamaan pemikiran ini membutuhkan adanya hubungan saling berbagi (sharing) antara pengirim (pengiklan, misalnya) dengan penerima pesan. (Shimp, 2003:162)
Model ini menekankan faktor-faktor penting dalam komunikasi efektif. Pengrim harus tahu pendengar apa yang ingin di capai dan tanggapan apa yang diinginkan. Mereka harus membuat kode pesan mereka dalam suatu cara yang mempertimbangkan bagaimana pendengar sasaran biasanya menguraikan kode pesan. Mereka juga harus mengirimkan pesan tersebut melalui suatu media yang efisien, yang mencapai pendengar sasaran dan membangun saluran umpan balik untuk memantau tanggapan penerima atas pesan tersebut.


Gambar 2.2
Proses komunikasi
 

Sumber:  Kotler, 2002: 627, diolah
Agar suatu pesan yang efektif, proses pengkodean dari pengirim harus berhubungan dengan proses penguraian kode oleh penerima. Artinya, pesan terbaik adalah pesan yang disampaikan dengan tanda-tanda yang dikenali oleh penerima. Apabila pengirim memiliki persamaan pengalaman dengan menerima pesan, maka komunikasi yang dilakukan akan lebih efektif.
Menurut Tjiptono dan Budiarto (1997:189) tujuan yang ingin dicapai dalam aktifitas komunikasi pemasaran adalah:



KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar