Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas Dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Harga Saham Awal Dan Akhir Tahun Perusahaan Transportasi Di Indonesia (lengkap sampai daftar pustaka)

Admin
ANALISIS PENGARUH RASIO LIKUIDITAS  DAN PROFITABILITAS PERUSAHAAN TERHADAP HARGA SAHAM AWAL DAN AKHIR TAHUN PERUSAHAAN TRANSPORTASI DI INDONESIA

Secara umum transportasi di Indonesia masih berfluktuasi dan cenderung berorientasi ke pasaran luar negeri. Berdasarkan audit teknologi pada tahun 2003 yang dilakukan oleh Pusat Audit Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), transportasi Indonesia belum efisien dengan tingkat teknologi menengah ( http://www.bisnis.com/pls/portal30/url/01-05-07).
Perlu digambarkan fenomena perusahaan transportasi di Indonesia kasus adam air, kereta api, kapal laut terjadi kecelakaan sehingga memunculkan opini atau stigma bahwa perusahaan jasa transportasi di Indonesia belum sepenuhnya memperhatikan safety, hanya berorientasi pada profit–laporan audit standart keamanan transportasi dan juga listing dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia  (http://www.berpolitik.com/about_us.pls/05-06-08).
Persaingan akan memacu semua perusahaan yang ada di dalam negeri untuk semakin meningkatkan mutu produk yang mereka hasilkan untuk memenangkan suatu persaingan diperlukan suatu strategi yang tepat dan dapat diterima secara rasional serta dalam mengambil kebijakan tentang strategi tersebut pihak manajemen harus memperhatikan kondisi perusahaan. Kondisi perusahaan yang baik merupakan kekuatan perusahaan untuk dapat bertahan dan berkembang untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditentukan (http://www.etrading.co.id/newtrading/01-05-07).
Kinerja keuangan perusahaan dapat mempengaruhi harga saham perusahaan di pasar modal. Harga saham merupakan ukuran indeks prestasi perusahaan, yaitu seberapa jauh manajemen perusahaan telah berhasil mengelola perusahaan atas para pemegang saham sehingga kekuatan pasar dibursa ditunjukkan dengan adanya transaksi jual beli saham perusahaan tersebut di pasar modal. Terjadinya transaksi jual beli tersebut didasarkan pada pengamatan para investor terhadap kinerja perusahaan sehingga pada umumnya perusahaan yang diketahui mempunyai kinerja yang bagus akan mempunyai prospek kenaikan harga saham dengan cepat. Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat investor untuk menentukan pilihan dalam membeli saham, yang tercermin dalam analisis laporan keuangan (Kompas, 18 Mei 2006).
Salah satu alat untuk menganalisis laporan keuangan adalah dengan menggunakan rasio keuangan menganalisa hubungan dari berbagai pos dalam suatu laporan keuangan adalah merupakan dasar untuk menginterprestasikan kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan. Kondisi keuangan perusahaan disajikan dalam laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi, laporan keuangan memiliki banyak manfaat, antara lain dengan laporan keuangan dapat diketahui kinerja perusahaan. Analisis ini melibatkan penilaian terhadap laporan keuangan dimasa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Rasio keuangan yang menunjukkan perbandingan antar rasio-rasio finansial perusahaan dari satu periode ke periode lain untuk perusahaan yang sama (Time Series Analysis) rasio keuangan juga melibatkan rasio satu perusahaan lain yang sejenis (Cross Sectional Approach). Rasio keuangan ini juga bisa merupakan gabungan antara time series analysis dan cross sectional approach di mana perbandingan rasio ini dilakukan dengan melibatkan rasio dalam perusahaan dan juga melibatkan perusahaan yang sejenis (Syamsuddin, 1998:39).
Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standart (Munawir, 2002:64).
Rasio likuiditas merupakan suatu kemampuan untuk mengukur perusahaan dalam membayar kewajibannya. Sedangkan rasio profitabilitas dipergunakan berhubungan dengan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Sebagai pengukuran dalam kinerja perusahaan rasio ini memberikan informasi yang sangat penting bagi lajunya perusahaan  jangka pendek. Kalau perusahaan sudah menunjukkan ketidakmampuannya dalam jangka pendek, maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan yang lebih besar dalam jangka panjang. Rasio keuangan sebagai alat pengukuran kinerja ini mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan utamanya adalah bahwa rasio keuangan tersebut mengabaikan adanya biaya modal sehingga sulit untuk mengetahui apakah perusahaan telah menciptakan nilai atau tidak. Selain itu, dalam menganalisis setiap rasio diatas, angka-angka yang diperoleh dari perhitungan tidak bisa berdiri sendiri (Syamsuddin, 2007:40).
Pengaruh rasio keuangan dengan harga saham adalah laporan keuangan yang diterbitkan setelah dianalisis akan bisa diperoleh rasio keuangan yang berguna untuk mengungkapkan kekuatan dan kelemahan relatif suatu perusahaan, serta untuk menunjukkan apakah posisi keuangan membaik atau memburuk selama suatu waktu. Hal ini akan membantu bagi investor, kreditor, dan pemakai lainnya yang potensial, dalam menilai ketidakpastian penerimaan dari dividen dan bunga dimasa yang akan datang (Brigham, 2001:42).

      Mengingat pentingnya pengaruh rasio keuangan dengan harga saham, maka peneliti menjadikan hal ini sebagai topik dalam penelitian dengan judul:
“Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Harga Saham Awal dan Akhir Tahun Perusahaan Transportasi di Indonesia.”

B.   Rumusan Masalah
1.        Berapakah tingkat rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan transportasi di Indonesia?
2.        Adakah pengaruh rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan secara simultan terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia?
3.        Diantara rasio likuiditas dan profitabilitas mana yang dominan pengaruhnya terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia?

C.   Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui tingkat rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan transportasi di Indonesia.
  1. Untuk menganalisis pengaruh rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan secara simultan terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia
  2. Untuk menganalisis rasio likuiditas dan profitabilitas yang dominan pengaruhnya terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia.

D. Batasan Masalah :
Untuk menghindari agar dalam pembahasan masalah tidak terjadi penyimpangan maka permasalahan di batasi sbb:
1.    Peneliti hanya memfokuskan obyek penelitian ini pada perusahaan transportasi yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu PT. Centris Persada P. Tbk. (CMPP), PT. Samudera Indonesia Tbk. (SMDR), PT. Mitra Rajasa Tbk. (MIRA), PT. Humpuss Intermoda Transp Tbk.  (HITS), PT. Rig Tenders Tbk.  (RIGS).
2.    Periode tahun yang diteliti pada perusahaan transportasi di Indonesia adalah 2003-2007.

3.    Yang digunakan adalah harga saham awal dan akhir tahun (1 Januari dan 31 Desember).
4.    Menurut teori Abdullah (2001:40) rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas pada penelitian ini adalah:
a.    Current Ratio (Rasio Lancar)
b.   Quick Ratio (Rasio Cepat)
c.    Cash Ratio (Rasio Kas)
5.    Menurut teori Abdullah (2001:50-52) rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas pada penelitian ini adalah:
a.    Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
b.   Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
c.    Rasio Total Assets Turn Over
d.   Rasio Return On Investment (ROI)


E.   Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah sbb:
1.    Bagi Peneliti
Diharapkan dengan penelitian ini peneliti memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang intern suatu perusahaan dari aspek keuangannya dan sebagai pembanding antara teori perkuliahan dengan kondisi di lapangan.
2.        Bagi Akademis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan dan dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
3.        Bagi Manajemen
Digunakan sebagai landasan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dibidang keuangan untuk mencapai kinerja yang lebih baik dimasa yang akan datang.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu dalam penelitian ini digunakan untuk membantu mendapatkan gambaran. Adapun penelitian terdahulu yang dikaji yaitu:
1.    Rieza Fahrani (2004)
    Melakukan penelitian berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham” (Studi pada Perusahaan Food and Baverage yang Listing di BEI tahun 2000-2002). Hasil penelitiannya adalah:
a.    Variabel bebas Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE) secara bersama-sama (serentak) mampu menjelaskan uji F, diperoleh hasil yang signifikan (dengan nilai signifikansi 0,00).
b.   Dari uji T yang dilakukan diperoleh variabel bebas yang berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (harga) adalah PER dengan probabilitas 0,00 (di bawah 0,05), sedangkan variabel Earning Per Share (EPS) dan ROE tidak berpengaruh secara parsial terhadap harga dalam penilaian saham.
c.    Dari koefisien beta standar diperoleh angka yang terbesar terdapat pada variabel PER yaitu 0,805. Jadi pengaruh variabel PER terhadap harga saham cukup besar.
2.    Munifatur Rosyidah (2005)
               Melakukan penelitian berjudul “Analisis Pengaruh Variabel Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Assets (ROA), dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham” (Studi pada Saham Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang Listing di BEI tahun 2000-2004). Hasil penelitiannya adalah:
a.    Secara serempak variabel bebas (EPS, PER, ROA, dan ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (harga saham). Hal ini dengan dibuktikan dengan besarnya nilai Fhitung lebih besar dari pada variabel Ftabel yaitu sebesar 31.328 > 5.91 dengan tingkat signifikan 0,00 atau lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa variabel bebas (EPS, PER, ROA, dan ROE) mampu menjelaskan variabel terikat (harga saham) sebesar 0.877 atau 87.7% dan sisanya sebesar 0.123 atau 12.3%.
b.   Berdasarkan uji t sebesar 7.883 dengan tingkat signifikan 0.00 menunjukkan dominasi variabel EPS terhadap harga saham. karena EPS mengindikasikan keuntungan yang diterima investor sehingga dapat meningkatkan taraf kemakmuran yang mendorong bertambahnya modal yang ditanamkan pada saham perusahaan indutri barang konsumsi.
3.    Dyah Kumala Trisnaini (2007)
               Melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham” (Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI). Hasil penelitiannya adalah:
a.    Rasio keuangan yang terdiri dari rasio EPS, PER, DER, ROI, ROE tidak berpengaruh secara serentak terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
b.    Rasio keuangan yang berpengaruh secara parsial terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah rasio PER sehingga secara langsung rasio ini dominan mempengaruhi perubahan return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
c.    Pengaruh Besarnya nilai pengaruh rasio keuangan ditunjukkan oleh nilai Adj R2 = 0,008 yaitu persentase pengaruh rasio EPS, DER, PER, ROI, ROE terhadap return saham perusahaan manufaktur adalah sebesar 0,8%. Variabel lain diluar rasio tersebut yang menjelaskan variasi perubahan return saham perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta secara menyeluruh adalah sebesar 99,2%.


Tabel 1.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

No
Peneliti
Judul Penelitian
Variabel Bebas
Variabel Terikat
Alat
Analisis
Hasil Penelitian
1.
Rieza Fahrani (2004)
Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas dan Profitabilitas Terhadap Harga Saham (Studi pada Perusahaan Food and Baverage yang Listing di BEI tahun 2000-2002)
Variabel Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE), Return On Equity (ROA)
Harga Saham
Regresi Linier Berganda, Uji F, uji t, uji Determinasi dan Koefisien Beta
Dari uji t yang dilakukan diperoleh variabel bebas yang berpengaruh secara parsial terhadap variabel terikat (harga) adalah PER dengan probabilitas 0,00 (di bawah 0,05), sedangkan variabel Earning Per Share (EPS) dan ROE tidak berpengaruh secara parsial terhadap harga dalam penilaian saham. Dari koefisien beta standar diperoleh angka yang terbesar terdapat pada variabel PER yaitu 0,805. Jadi pengaruh variabel PER terhadap harga saham cukup besar.
a.                                    

2.
Munifatur Rosyidah (2005)
Analisis Pengaruh Variabel Earning Per Share (Eps), Price Earning Ratio (PER), Return On Assets (ROA), dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham (Studi pada Saham Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang Listimg di BEI tahun 2000-2004)
Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Assets (ROA), dan Return On Equity (ROE)
Harga Saham
Regresi linier berganda, koefisien determinasi (R2), Uji F, Uji T
Secara serempak variabel bebas (EPS, PER, ROA, dan ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat (harga saham). Hal ini dengan dibuktikan dengan besarnya nilai Fhitung lebih besar dari pada variabel Ftabel yaitu sebesar 31.328 > 5.91 dengan tingkat signifikan 0,00 atau lebih kecil dari 0,05.
3.
Dyah Kumala Trisnaini (2007)
Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham” (Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI).
Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio  (PER), DER, (ROI), Return On Equity (ROE)
Return Saham
Uji Asumsi Klasik meliputi: Uji Multikolinieritas, Heterokedastisitas, Autokorelasi dan Analisis Regersi Liniear Berganda, Uji F, Uji T
Rasio keuangan yang terdiri dari rasio EPS, PER, DER, ROI, ROE tidak berpengaruh secara serentak terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sumber Data: Di olah oleh peneliti


Adapun persamaan dan perbedaan antara penelitian terdahulu  dengan penelitian sekarang adalah:
Persamaannya adalah:
1.      Sama-sama menggunakan variabel terikat harga saham
2.      Sama-sama menggunakan alat analisis regresi
3.      Sama-sama menggunakan obyek penelitian perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Perbedaannya adalah:
1.      Peneliti meneliti pengaruh rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan terhadap harga saham awal dan akhir tahun perusahaan transportasi di Indonesia
2.      Peneliti menggunakan variabel penelitian yaitu Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio, Gross Profit Margin, Net Profit Margin, Total Assets Turn Over, Return On Investment (ROI). Sedangkan penelitian terdahulu menggunakan Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), Interest Rate Risk (IRR), Credit Risk (CR) dan Capital Adequency Ratio (CAR)
3.      Peneliti menggunakan metode time series analysis dan cross sectional approach



B.  Kajian Teori
1.     Kinerja Perusahaan
Perusahan sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan tertentu yang merupakan pedoman dalam menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam memenuhi kepentingan anggotanya. Untuk menilai apakah tujuan tersebut telah tercapai adalah sulit dilakukan, karena menyangkut banyak aspek manajemen yang harus dipertimbangkan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu perusahaan dalam operasinya telah sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang telah ditetapkan, adalah dengan meningkatkan kinerja. Meningkatkan kinerja perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat proses pengambilan keputusan manajemen, merupakan persoalan yang kompleks karena menyangkut persoalan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan modal.
 Kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen perusahaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Dengan demikian, kinerja berarti kinerja perusahaan yang melibatkan faktor-faktor keuangan, dimana hasil yang ingin dicapai melalui efisiensi dan kinerja yang dilakukan perusahaan adalah tingkat laba serta kemakmuran pemilik yang maksimal. Untuk menigkatkan kinerja perusahaan perlu dilibatkan analisis laporan keuangan dan ekonomi dari keputusan-keputusan tersebut, kemudian hasilnya dianalisis melalui penggunaan ukuran komparatif  (Copelad, 1995:246).

2.    Analisis Laporan Keuangan
a.  Laporan Keuangan
Dalam bukunya Manajemen Keuangan, Brigham (2001:38) mengemukakan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang diterbitkan setiap tahun oleh perusahaan kepada para pemegang saham.  Laporan keuangan berisi laporan keuangan dasar dan opini manajemen atas operasi perusahaan dimasa depan.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Brigham, Weston dan Copelad (1995:24) mendefinisikan laporan keuangan sebagai informasi yang melaporkan prestasi historis dari suatu perusahaan dan memberikan dasar bersama analisis bisnis dan ekonomi untuk membuat proyeksi dan peramalan untuk masa depan.
Media yang dipakai untuk meneliti kondisi kesehatan perusahaan adalah laporan keuangan yag terdiri dari neraca, perhitungan laba rugi, ikhtisar laba yang ditahan, dan laporan posisi keuangan. Laporan keuangan merupakan informasi historis berguna untuk melengkapi analisis proyeksi untuk masa depan perusahaan (Sawir, 2005:2).
Dalam PSAK (IAI, 2000) juga menjelaskan tentang tujuan laporan keuangan, dimana tujuan dari laporan keuangan itu sendiri adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah pemakai informasi dalam mengambil keputusan.
Sedangkan menurut Ismail Yusanto dan Karebet Widjajakusuma (2002:176), manfaat dari laporan keuangan itu sendiri adalah:
1)   Memberikan informasi mengenai seluruh transaksi bisnis yang telah dilakukan dan dampak keuangan yang dihasilkan.
2)   Memberikan informasi tentang perkembangan uang dialami perusahaan.
3)   Menjadi dasar analisis kondisi keuangan dan operasional perusahaan.
4)   Menjadi dasar pembuatan laporan keuangan dalam rangka pengajuan pinjaman, penawaran investasi, atau penggabungan kerjasama usaha.
5)   Menjadi dasar pemenuhan hak dari pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan secara adil sehingga terhindar dari tindakan zalim.

Dari penjelasan diatas menunjukkan betapa pentingnya laporan keuangan dalam aktivitas ekonomi dimasyarakat dewasa ini, sehingga banyak para ahli yang mencoba untuk memaparkan arti tujuan dan manfaat laporan keuangan secara jelas agar dapat memberikan pemahaman yang baik bagi masyarakat luas.
Islam sebagai agama yang universal, dalam hal ini juga banyak membahas dalam hukum muamalahnya, dimana Islam sangat menganjurkan penulisan dalam setiap transaksi terutama transaksi tangguh, sebagai upaya mencegah persengketaan dimasa yang akan datang. Adapun ayat yang menegaskan hal tersebut adalah  QS. Al-Baqarah: 282 sebagai berikut:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4 =çGõ3uø9ur öNä3uZ÷­/ 7=Ï?$Ÿ2 ÉAôyèø9$$Î/ 4 Ÿwur z>ù'tƒ ë=Ï?%x. br& |=çFõ3tƒ $yJŸ2 çmyJ¯=tã ª!$# 4 ó=çGò6uù=sù È@Î=ôJãŠø9ur Ï%©!$# Ïmøn=tã ,ysø9$# È,­Guø9ur ©!$# ¼çm­/u Ÿwur ó§yö7tƒ çm÷ZÏB $\«øx© 4 bÎ*sù tb%x. Ï%©!$# Ïmøn=tã ,ysø9$# $·gŠÏÿy ÷rr& $¸ÿÏè|Ê ÷rr& Ÿw ßìÏÜtGó¡o br& ¨@ÏJムuqèd ö@Î=ôJãŠù=sù ¼çmÏ9ur ÉAôyèø9$$Î/ 4 (#rßÎhô±tFó$#ur ÈûøïyÍky­ `ÏB öNà6Ï9%y`Íh ( bÎ*sù öN©9 $tRqä3tƒ Èû÷ün=ã_u ×@ã_tsù Èb$s?r&zöD$#ur `£JÏB tböq|Êös? z`ÏB Ïä!#ypk9$# br& ¨@ÅÒs? $yJßg1y÷nÎ) tÅe2xçFsù $yJßg1y÷nÎ) 3t÷zW{$# 4 Ÿwur z>ù'tƒ âä!#ypk9$# #sŒÎ) $tB (#qããߊ 4 Ÿwur (#þqßJt«ó¡s? br& çnqç7çFõ3s? #·ŽÉó|¹ ÷rr& #·ŽÎ7Ÿ2 #n<Î) ¾Ï&Î#y_r& 4 öNä3Ï9ºsŒ äÝ|¡ø%r& yZÏã «!$# ãPuqø%r&ur Íoy»pk¤=Ï9 #oT÷Šr&ur žwr& (#þqç/$s?ös? ( HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»yfÏ? ZouŽÅÑ%tn $ygtRr㍃Ïè? öNà6oY÷t/ }§øŠn=sù ö/ä3øn=tæ îy$uZã_ žwr& $ydqç7çFõ3s? 3 (#ÿrßÎgô©r&ur #sŒÎ) óOçF÷ètƒ$t6s? 4 Ÿwur §!$ŸÒムÒ=Ï?%x. Ÿwur ÓÎgx© 4 bÎ)ur (#qè=yèøÿs? ¼çm¯RÎ*sù 8-qÝ¡èù öNà6Î/ 3 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ãNà6ßJÏk=yèãƒur ª!$# 3 ª!$#ur Èe@à6Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇËÑËÈ  
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.







b. Sumber Informasi Rasio Keuangan
Menurut Husnan (1998:65) ada lima sumber informasi rasio keuangan yaitu:
1)   Neraca (Balance Sheet) adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Keadaan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki (aktiva) serta jumlah kewajiban perusahaan (pasiva). Atau dengan kata lain aktiva adalah investasi yang tertanam didalam perusahaan, yang terdiri atas pos-pos aktiva lancar, aktiva tetap, dan pasiva merupakan sumber-sumbernya, yang terdiri atas pos-pos hutang dan modal.
2)   Laporan laba rugi (Income Statement) adalah laporan laba rugi menunjukkan hasil usaha dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama periode akutansi. Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang ditanggung oleh perusahaan.
3)   Laporan perubahan modal adalah laporan perubahan modal menunjukkan sebab-sebab perubahan-perubahan modal pada tiap akhir periode. Perusahaan dengan bentuk perseroan, perubahan modalnya ditunjukkan di dalam laporan laba ditahan (Retained Earning).
4)   Laporan perubahan posisi keuangan (Statement Of Changes In Financial Position) adalah laporan ini menunjukkan arus dana dan perusahaan-perusahaan dalam posisi keuangan selama tahun buku yang bersangkutan.
5)   Laporan aliran kas (Statement Of Cash Flow) adalah laporan arus kas dibuat sebagai pengganti laporan perusahaan posisi keuangan, laporan arus kas menentukan adanya penerimaan dan pengeluaran selama periode akutansi. Untuk mencapai tujuan ini aliran kas diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang berbeda yaitu penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi, pembelanjaan (financing), dan kegiatan usaha.







c.  Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan
Dalam prinsip-prinsip Akutansi Indonesia (Ikatan Akuntan Indonesia Jakarta, 2002:14) secara terperinci menjelaskan tentang sifat dan keterbatasan laporan keuangan sebagai berikut:
1)      Laporan keuangan ialah laporan yang bersifat sejarah, yang tidak lain merupakan laporan atas kejadian-kejadian yang telah lewat, maka terdapat keterbatasan dalam kegunaannya.
2)   Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan untuk memenuhi keperluan tiap-tiap pemakai. Data-data yang disajikan dalam laporan keuangan itu berkaitan satu sama lain secara fundamental.
3)   Laporan keuangan itu bersifat hasil dari pemakaian stelsel timbulnya hak dan kewajiban dalam akuntansi. Dalam proses penyusunannya tidak dapat dilepaskan dari penaksiran dan pertimbangan namun demikian hal-hal yang dinyatakan dalam laporan dapat diuji melalui bukti-bukti ataupun cara perhitungan yang masuk akal.
4)   Laporan keuangan itu bersifat konservatif dalam sikapnya menghadapi kepastian, peristiwa yang tidak menguntungkan segera diperhitungkan kerugiannya, harta, kekayaan bersih, dan pendapatan bersih selalu di hitung dalam nilainya yang paling rendah.
5)   Laporan keuangan itu lebih menekankan bagaimana keadaan sebenarnya peristiwa-peristiwa itu dilihat dari sudut ekonomi dari pada berpegang pada formilnya.
6)   Laporan keuangan itu menggunakan istilah-istilah teknis, dalam hubungan ini sering kedapatan istilah-istilah yang umum dipakai dan diberikan pengertian yang khusus, dilain pihak laporan keuangan itu mengikuti kelaziman dan perkembangan dunia usaha.





3.    Analisis Rasio Keuangan
a.    Pengertian Rasio
Rasio adalah menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (Mathematical Relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standart (Munawir, 2002:64).
b.   Penggolongan Angka Rasio
Menurut Syamsuddin (2002:68) berdasarkan sumber data maka angka rasio dapat dibedakan menjadi:
1)   Rasio-rasio neraca (Balance Sheet Rations) yaitu merupakan rasio-rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada neraca saja, misalnya: Current Rations, Debt Rations.
2)   Rasio-rasio laporan laba rugi (Income Statement Rations) yaitu merupakan rasio-rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada dalam laporan laba rugi saja, misalnya: Operating Profit Margin, Net Profit Margin, Gross Profit Margin.
3)   Rasio-rasio laporan (Interstatement Rations) yaitu merupakan rasio-rasio yang menghubungkan elemen-elemen yang ada pada neraca dan laporan laba rugi, misalnya: Return On Investment, Total Assets Turnover, Account Receivable Turn Over, Sales Turn Over, Sales To Fixed Acced.



c.    Metode Pembanding dan Pihak Yang Berkepentingan Terhadap Rasio Keuangan
Menurut Syamsuddin (1998:39) pada umumnya ada dua metode untuk membandingkan atau menafsirkan rasio keuangan yaitu:
1)   Time Series Analysis yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dalam satu periode dengan periode lainnya. Dengan membandingkan rasio-rasio dimasa lalu dan masa kini dapat memperlihatkan apakah perusahaan yang bersangkutan mengalami kemajuan atau kemunduran. Perkembangan perusahaan dapat dilihat melalui trend atau kecenderungan dari tahun ke tahun, dan dengan melihat perkembangan ini maka perusahaan akan dapat membuat rencana untuk masa depannya.
2)   Cross Sectional Approach yaitu cara mengevaluasi dengan jalan membandingkan rasio-rasio keuangan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain yang sejenis pada saat bersamaan. Dengan cara ini dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan berada lebih tinggi, atau lebih rendah dari pada rata-rata industri.

Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan hasil analisis rasio keuangan perusahaan meliputi ( Abdullah, 2001:32-33) yaitu:
1)   Pihak pemilik perusahaan
Pihak pemilik berkepentingan terhadap hasil analisa keuangan guna mengetahui sejauh mana keberhasilan maupun kegagalan manajer perusahaan dalam memenej perusahaan yang terlihat melalui kinerja keuangan yang dicapai. Keberhasilan manajer dapat diukur berdasarkan pencapaian laba perusahaan secara efisien.
2)   Pihak kreditur
Kreditur dalam hal ini bank dan institusi pembiayaan lainnya berkepentingan terhadap hasil analisa keuangan guna mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar hutang-hutang, baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian bagi kreditur hasil analisa keuangan dijadikan dasar pertimbangan kebijakan kredit apabila perusahaan membutuhkan kredit.
3)   Pihak investor
Investor sebagai pihak-pihak yang menanamkan modalnya pada perusahaan. Maka investor mengharapkan adanya kemampuan perusahaan dalam hal tingkat pengendalian dari sejumlah investasi yang ditanamkan. Hasil analisa keuangan akan memberi gambaran kondisi kemampuan keuangan perusahaan dalam memberi pengembalian (return) dari sejumlah investasi.
4)   Pihak pekerja
Hasil analisa keuangan perusahaan memberi informasi keuangan yang mencerminkan keuangan perusahaan dalam membayar kewajiban internal maupun bersifat eksternal. Termasuk kewajiban internal adalah berhubungan dengan pembiayaan rutin, termasuk kemampuan membayar gaji para pekerja.
5)   Pihak pemerintah
Kebutuhan pemerintah terhadap hasil analisa keuangan berkaitan dengan kewenangan menetapkan pajak penghasilan badan (perusahaan). Hasil analisis keuangan memberi gambaran besarnya pajak yang akan dibayarkan oleh perusahaan.

4.    Likuiditas
a.    Pengertian Likuiditas
Rasio Likuiditas adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajbannya yang harus segera dipenuhi. Kewajiban yang segera dipenuhi adalah hutang jangka pendeknya, sehingga rasio ini yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan kreditur jangka pendek, serta mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila kewajiban jangka pendek ini harus segera dibayar. Suatu aktiva dinyatakan likuid jika aktiva tersebut dapat segera diubah menjadi kas, sedangkan suatu kewajiban dinyatakan likuid jika kewajiban tersebut harus segera dibayarkan dalam waktu kurang dari satu tahun (Sawir, 2005:8).
b.   Pengukuran Likuiditas
Rasio yang biasa digunakan untuk mengukur likuiditas aktiva sehubungan dengan kewajibannya adalah:
1)   Current Ratio (Rasio Lancar)
Yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang yang harus dipenuhi dengan aktiva lancar (Abdullah, 2001:40).
Current Ratio = Aktiva Lancar   X 100%
                                         Hutang lancar

   Current Ratio membandingkan aktiva lancar yang akan berubah menjadi kas dan kewajiban yang harus dibayar dalam waktu satu tahun. Perusahan dengan current ratio yang rendah berarti tidak dapat mengurangi investasi dalam aktiva lancar untuk menyediakan kas guna membayar kewajiban yang jatuh tempo. Tidak terdapat ketentuan yang pasti mengenai berapa tingkat Current Ratio yang sehat yang harus dipertahankan oleh perusahaan, namun pada umumnya para ahli berpendapat bahwa angka Current Ratio 200% merupakan tingkat yang cukup baik. Current Ratio sebesar 200% atau 2,0 mempunyai arti bahwa Rp 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp 2,00 aktiva lancar. Besarnya Current Ratio yang sehat tergantung kepada jenis manjemen dari masing-masing perusahaan (Munawir, 1998:72).
2)   Quick Ratio (Rasio Cepat)
Yaitu rasio yang menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dengan aktiva lancar yang likuid.
Quick Ratio = Aktiva Lancar - Persediaan    X 100%
                                                   Hutang Lancar

   Rasio ini hampir sama dengan Current Ratio, hanya saja jumlah persediaan atau Inventory tidak diikut sertakan. Hal ini disebabkan karena persediaan atau Inventory dianggap sebagai aktiva lancar yang paling tidak likuid atau paling sulit dicairkan dengan segera. Tingkat Quick Ratio yang dianggap cukup baik adalah 100%. Tingkat rasio sebesar 100% ini mempunyai arti bahwa setiap Rp 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp 1,00 aktiva lancar yang lebih likuid (aktiva lancar yang sudah dikurangi dengan persediaan) (Munawir, 2002:72).
3)   Cash Ratio (Rasio Kas)
Yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban dengan kas yang tersedia dan efek yang segera dicairkan (Sawir, 2005:30).
Cash Ratio = Cash & Efek       X 100%
                                            Hutang Lancar     

   Cash Ratio adalah rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang paling likuid dengan hutang lancar. Aktiva lancar yang dianggap paling likuid adalah kas dan surat-surat berharga (Marketable Securities). Surat-surat berharga dianggap lebih likuid dari pada piutang dan persediaan, karena surat-surat berharga dapat diuangkan dengan segera.

5.    Profitabilitas
a.    Pengertian Profitabilitas
        Rasio-rasio profitabilitas dipergunakan berhubungan dengan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba. Terdapat beberapa pengukuran terhadap profitabilitas suatu perusahaan yang masing-masing dihubungkan dengan aktiva, modal sendiri maupun nilai penjualan yang dicapai. Kondisi kemampuan menghasilkan laba perusahaan merupakan informasi penting bagi berbagai pihak (Abdullah, 2001:49).
b.   Pengukuran Profitabilitas
Menurut Abdullah (2001:50-52) ada lima rasio pengukuran laba (Profitabilitas) yang berhubungan dengan penjualan yang dihasilkan sebagaimana bersumber dari laporan rugi laba perusahaan yaitu:
1)        Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Dipergunakan untuk mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibanding dengan total nilai penjualan bersih perusahaan. Semakin besar rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menekan kenaikan harga pokok penjualan pada persentase di bawah kenaikan penjualan:
Gross Profit Margin =   Laba Kotor     X 100%
                                           Penjualan   

2)        Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)
Rasio laba bersih untuk mengukur besarnya laba bersih yang dicapai dari sejumlah penjualan tertentu. Rasio inilah umumya digunakan dibandingkan dengan dua rasio terdahulu mengingat laba yang dihasilkan merupakan laba bersih perusahaan.

Net Profit Margin =   Laba Bersih Setelah Pajak   X 100%
                                                   Penjualan

3)        Rasio Total Assets Turn Over
Rasio perputaran total aktiva dipergunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan keseluruhan aktiva yang dimiliki guna menghasilkan penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio perputaran aktiva menunjukkan perusahaan semakin efisien dalam menggunakan aktiva guna menghasilkan sejumlah penjualan.
Total Assets Turn Over =   Penjualan    X 100%
                                                       Total Aktiva

4)        Rasio Return On Investment (ROI)
Rasio ini sering juga di sebut Return On Total Assets dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan yang dimiliki.
Return On Investment = Laba Bersih Setelah Pajak    X 100%
                                                                 Total Aktiva

6.    Saham
a.    Pengertian Saham
Menurut Rusdin (2006:68) Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak atas penghasilan dari aktiva perusahaan. Dalam prakteknya terdapat beberapa saham yang diperdagangkan dibedakan menurut cara peralihan dan manfaat yang diperoleh bagi pemegang saham. Nilai saham terbagi atas tiga jenis, yaitu:
1)   Nilai nominal (Nilai Pari)
Merupakan nilai yang tercantum dalam sertifikat saham yang bersangkutan, di Indonesia saham yang diterbitkan harus memiliki nilai nominal dan untuk satu jenis nilai nominal.
2)   Nilai dasar
Pada prisip harga dasar saham ditentukan dari harga perdana saat saham tersebut diterbitkan, harga dasar ini akan berubah sejalan dengan dilakukannya berbagai tindakan emiten yang berhubungan dengan saham, antara lain: Right Issue, Stock Split, Waran, dll.
3)   Nilai pasar
Merupakan harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung, jika bursa sudah tutup maka harga pasar saham tersebut adalah harga penutupannya.

b.   Jenis-Jenis Saham
Menurut Rusdin (2006:69) saham dibedakan menjadi dua, yaitu:
1)   Saham atas unjuk (Bearer Stock), adalah saham yang tidak ditulis nama pemiliknya, agar mudah dipindah tangankan dari satu investor ke investor lain.
2)   Saham atas nama (Registered Stocks), adalah saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya. Dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu, yaitu dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemiliknya dicatat dalam buku perusahaan yang khusus membuat daftar nama pemegang saham. Apabila terjadi kehilangan, pemegang saham tersebut dengan mudah mendapat pengantiannya.







Berdasarkan manfaat yang diperoleh pemegang saham dibedakan menjadi:
1)   Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa merupakan jenis efek yang paling sering dipergunakan oleh emiten untuk memperoleh dana dari masyarakat dan juga merupakan jenis yang paling popular di pasar modal.
2)   Saham Preferen (Prefern Stock)
Adalah yang berbentuk gabungan antara obligasi dan saham biasa. Jenis saham ini sering disebut dengan sekuritas campuran. Saham preferen sama dengan saham biasa karena tidak memiliki jatuh tempo dan juga mewakili kepemilikan dari modal.

c.     Pengaruh Kinerja Dengan Harga Saham
Menurut Arifin (2001:43) nilai saham adalah penyertaan seseorang dalam suatu perusahaan. Sedangkan harga saham adalah harga jual dari investor yang satu dengan yang lain. Sedangkan harga pasar terjadi setelah saham tersebut dicatatkan ke bursa efek pada pasar sekunder, jadi harga saham yang diterbikan setiap harinya adalah harga pasar.
Dalam penelitian suatu efek sangat dipengaruhi dan tidak terlepas dari kondisi kinerja perusahaan penerbitnya (emiten). Penilaian efek dapat dilakukan dengan pendekatan fundamental (fundamental approach), menurut fundamentalis yaitu penganut analisis fundamental bahwa harga saham merupakan refleksi dari nilai perusahaan yang bersangkutan oleh karena itu dalam melakukan penilaian terhadap suatu saham menurut pendekatan fundamentalis dapat digunakan analisis rasio.
Bahwa naik turunya harga saham yang diperdagangkan dilantai bursa ditentukan oleh kekuatan pasar. Jika pasar menilai bahwa perusahaan penerbit saham dalam kondisi baik, maka biasanya harga saham perusahaan yang  bersangkutan akan naik, demikian sebaliknya jika perusahaan dinilai rendah oleh pasar, maka harga saham perusahaan juga akan ikut turun bahkan bisa lebih rendah dari harga di pasar perdana. Dengan demikian, kekuatan tawar menawar di pasar sekunder antara investor yang satu dengan investor yang lain sangat menentukan harga saham perusahaan.
d.   Saham Dalam Perspektif Islam
Pada umumnya, risiko dalam transaksi saham di pasar modal diukur dengan beta saham, tetapi besaran tersebut tidak mampu memberikan petunjuk mana transaksi yang gharar dan mana transaksi yang bukan gharar. Dengan demikian, menjadi catatan penting bahwa kesediaan menanggung risiko merupakan hal yang tidak dapat terhindarkan, tetapi risiko yang boleh dihadapi adalah risiko yang melibatkan pengetahuan dan kejelasan informasi, adanya objek yang jelas dan dapat dikontrol, serta sebagai game of skill dan bukannya game of change. Sebagai konsekuensi logisnya adanya keharusan penguasaan manajemen risiko bagi pihak yang akan melakukan transaksi jual beli, khususnya transaksi saham di pasar modal. Oleh karena itu, upaya pengelolaan risiko dalam manajemen investasi melalui diversifikasi dan pemanfaatan instrumen-instrumen pasar modal, seperti sekuritas saham (stock), obligasi (bond), dan derivatives, dapat diteliti lebih lanjut untuk pencegahan praktik riba, maysir, dan gharar (risiko tidak kepastian).
Landasan hukum prinsip keuangan prinsip Islam tersebut akan memberikan jalan bagi para investor yang ingin secara konsisten menggunakan prinsip-prinsip Islam dalam menilai secara kritis instrumen-istrumen investasi keuangan yang tersedia di pasar. Dengan penilaian kritis tersebut mereka tidak lantas menolak seluruh yang ada karena anggapan semuanya tidak Islam, tetapi sebaliknya juga tidak lantas pula menerima begitu saja modifikasi-modifikasi yang dilakukan tanpa melalui analisis substantif yang kritis dan mendalam. Meskipun demikian, tetap terbuka peluang untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan inovasi yang memberikan tawaran-tawaran baru demi kesejahteraan dan kemanfaatan yang lebih luas.
Terkait dengan perjudian (maysir), orang Arab Jahiliah mempunyai kebiasaan menyimpan tiga buah anak panah di dalam Kakbah yang dibalut kertas atau kain bertuliskan lakukan, jangan lakukan, dan kosong. Biasanya sebelum melakukan perjalanan jauh, mereka menemui juri kunci Kakbah minta diambilkan salah satu anak panah. Bila yang terambil anak panah bertuliskan lakukan, mereka akan melakukan perjalanan jauh dan menganggap perjalanan mereka akan mendapat keselamatan. Ini merupakan game of change yang dilakukan tanpa usaha (Huda, dkk 2007:42-43).
Terhadap hal yang dilakukan Arab Jahiliah tersebut Allah memberi peringatan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah: 90-91 yang artinya:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ãôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9øF{$#ur Ó§ô_Í ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ   $yJ¯RÎ) ߃̍ムß`»sÜø¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷t/ nourºyyèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur Îû ̍÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷yJø9$#ur öNä.£ÝÁtƒur `tã ̍ø.ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZB ÇÒÊÈ  
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Al-Maidah: 90)”.
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) (Al-Maidah: 91).”

Secara praktis, instrumen saham belum didapati pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat. Pada masa Rasulullah SAW dan sahabat yang dikenal hanyalah perdagangan komoditas barang riil seperti layaknya yang terjadi pada pasar biasa. Pengakuan kepemilikan sebuah perusahaan (syirkah) pada masa itu belum direpresentasikan dalam bentuk saham seperti layaknya sekarang. Dengan demikian, pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, bukti kepemilikan atau jual beli atas sebuah asset hanya melalui mekanisme jual beli biasa dan belum melalui Initial Public Offering dengan saham sebagai instrumenya. Pada saat itu yang berbentuk hanyalah pasar riil biasa yang mengadakan pertukaran barang dengan uang (jual beli) dan pertukaran barang dengan barang atau barter.
Dikarenakan belum adanya nash atau teks Al-Qur’an maupun Al-Hadis yang menghukumi secara jelas atau pasti tentang keberadaan saham, maka para ulama dan fuqaha kontemporer berusaha untuk menemukan rumusan kesimpulan hukum tersendiri untuk saham. usaha tersebut lebih dikenal dengan istilah Ijtihad, yaitu sebuah usaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan dan mengeluarkan hukum syari’ah yang belum dikemukakan secara jelas (Al-Qur’an dan Al-Hadis) dengan mengacu kepada sandaran dan dasar hukum yang diakui keabsahannya (Huda, dkk 2007:63-64).

Para fuqaha kontemporer saling berselisih pendapat dalam memperlakukan saham dari aspek hukum (tahkim) khususnya dalam jual beli. Ada sebagaian mereka yang membolehkan transaksi jual beli saham dan ada juga yang tidak membolehkan. Para fuqaha yang tidak membolehkan transaksi jual beli saham memberikan beberapa argumentasi (Ushaimi dalam Satrio, 2005) yang di antaranya sebagai berikut:
1)   Saham dipahami sebagaimana layaknya obligasi, dimana saham juga merupakan utang perusahaan terhadap para investor yang harus dikembalikan, maka dari itu memperjualbelikannya juga sama hukumnya dengan jual beli utang yang dilarang syari’ah.
2)   Banyaknya praktik jual beli najasy di bursa efek.
3)   Para investor pembeli saham keluar dan masuk tanpa diketahui oleh seluruh pemegang saham.
4)   Harga saham yang diberlakukan ditentukan senilai dengan ketentuan perusahaan, yaitu pada saat penerbitan tidak mencerminkan modal awal pada waktu pendirian.
5)   Harta atau modal perusahaan penerbit saham tercampur dan mengandung unsur haram sehingga menjadi haram semuanya.
6)   Transaksi jual beli saham dianggap batal secara hukum, karena dalam transaksi tersebut tidak mengimplementasikan prinsip pertukaran (sharf), jual beli saham adalah pertukaran uang dan barang, maka prinsip saling menyerahkan (taqabudh) dan persamaan nilai (tamatsul) harus diaplikasikan. Dikatakan kedua prinsip tersebut tidak terpenuhi dalam transaksi jual beli saham.
7)   Adanya unsur ketidaktahuan (jahalah) dalam jual beli saham dikarenakan pembeli tidak mengetahui secara persis spesifikasi barang yang akan dibeli yang terefleksikan dalam lembaran saham. Sedangkan salah satu syarat sahnya jual beli adalah diketahuinya barang (ma’luumu almabi’).
8)   Nilai saham pada setiap tahunnya tidak bisa ditetapkan pada satu harga tertentu, harga saham selalu berubah-berubah mengikuti kondisi pasar bursa saham, untuk itu saham tidak dapat dikatakan sebagai pembayaran nilai pada saat pendirian perusahaan.

Berbeda dengan pendapat pertama, maka para fuqaha yang membolehkan jual beli saham mengatakan bahwa saham sesuai dengan terminologi yang melekat padanya, maka saham yang dimiliki oleh seseorang yang menunjukkan sebuah bukti kepemilikan atas perusahaan tertentu yang berbentuk aset, sehingga saham merupakan cerminan kepemilikan atas aset tertentu. Logika tersebut dijadikan dasar pemikiran saham dapat diperjualbelikan sebagaimana layaknya barang. Para ulama kontemporer yang merekomendasikan perihal tersebut diantaranya Abu Zahrah, Abdurrahman Hasan, dan Khalaf sebagaimana dituangkan oleh Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Fiqhu Zakah halaman 527. Singkatnya bahwa jual beli saham dibolehkan secara syari’ah dalam hukum positif yang berlaku.
Aturan dan norma jual beli saham tetap mengacu kepada pedoman jual beli barang pada umumnya, yaitu terpenuhinya rukun, syarat, aspek ‘an-taradin, serta terhindar dari unsur maisir, gharar, riba, haram, dhulm, ghisy, dan najasy. Praktik forward contract, short selling, option, insider traiding, “penggorengan”saham merupakan transaksi yang dilarang secara syari’ah dalam dunia pasar modal. Selain hal-hal tersebut, konsep preferred stock atau saham istimewa juga cenderung tidak diperbolehkan secara syari’ah karena dua alasan yang dapat diterima secara konsep syari’ah dua alasan tersebut adalah:
1)   Adanya keuntungan tetap (prederminant revenue), yang dikategorikan oleh kalangan ulama sebagai riba.
2)   Pemilik saham preferen mendapatkan hak istimewa terutama pada saat perusahaan dilikuidasi. Hal tersebut dianggap mengandung unsur ketidakadilan.

Adanya fatwa-fatwa ulama kontemporer tentang jual beli saham semakin memperkuat landasan akan bolehnya jual beli saham. Dalam kumpulan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Saudi Arabia yang diketuai oleh Syekh Abdul Azis Ibn Addillah Ibn Baz jilid 13 (tiga belas) bab jual beli ((JH9) halaman 320-321 fatwa nomor 4016 dan 5149 (dalam Satrio, 2005) tentang hukum jual beli saham dinyatakan sebagai berikut:
ااذ ا كانت الاسم لا تمثل نقودا تمثلا كليا او غالبا, وانما تمثل ارضااوسيارات اعما رات او نحو ذالك, جازابيعها وشراؤهابثمنحال اومؤجل على دفعة او دفعات,لعموم اد لة جواز البيع والشراء.
Artinya:
“ Jika saham yang diperjualbelikan tidak serupa dengan uang secara utuh apa adanya, akan tetapi hanya representasi dari sebuah aset seperti tanah, mobil, pabrik, dan yang sejenisnya, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang telah diketahui oleh penjual dan pembeli, maka dibolehkan hukumnya untuk diperjualbelikan dengan harga tunai ataupun tangguh, yang dibayarkan secara kontan ataupun beberapa kali pembayaran, berdasarkan keumuman dalil tentang bolehnya jual beli.”
Selain fatwa tersebut, Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Indonesia juga telah memutuskan akan bolehnya jual beli saham. (fatwa DSN-MUI NO 40/DSN-MUI/2003).
7.    Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir merupakan konsep pemikiran dalam pelaksanaan penelitian. Teknik analisis laporan keuangan yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan seperti yang berkenaan dengan tujuan penelitian adalah menggunakan teknik analisis rasio likuiditas dan profitabilitas perusahaan terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia dengan menggunakan metode time series analysis dan cross sectional approach, yaitu dengan mengadakan perbandingan laporan keuangan untuk beberapa periode untuk perusahaan yang sama dan perusahaan yang sejenis, sehingga akan diketahui perkembangannya. Dengan menggunakan metode ini akan dapat diketahui kinerja keuangan perusahaan selama beberapa tahun yang diinginkan.
Berikut tahapan yang merupakan konsep pemikiran penelitian ini adalah sebagai berikut:







Gambar 2.1
Kerangka Berfikir


 







                                                           






 



                                                  

HARGA SAHAM
 
                                  
                                  
     ANALISIS REGRESI

 
                                                


 
                                  
KESIMPULAN
 
                                          



 










8.    Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
a.    Rasio likuiditas berpengaruh terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia.
b.   Rasio profitabilitas berpengaruh terhadap harga saham awal dan akhir tahun pada perusahaan transportasi di Indonesia.




















BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang tergabung dalam perusahaan transportasi di Indonesia yang go public di BEI yang terdiri dari:
Tabel 3.2
Perusahaan Transportasi di Indonesia

Nama Emiten
 Tanggal Berdiri
Tanggal Listing
PT. Centris Persada P. Tbk.  (CMPP)
25 Juli 1989
8 Desember 1994
PT. Samudera Indonesia Tbk. (SMDR)
13 november 1964
05 juli 1999
PT. Mitra Rajasa Tbk.  (MIRA)
24 april 1979
30 januari 1997
PT. Rig Tenders Tbk.  (RIGS)
22 Januari 1974
5 Maret 1990
PT. Humpuss Intermoda Transp Tbk.  (HITS)
21 Desember 1992
15 Desember 1997
Sumber Data: http://202.155.2.90/link.asp. BEI/Online 12-12-07              
Pengambilan datanya diperoleh dari pojok Bursa Efek Indonesia (BEI) penentuan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa di BEI terdapat data-data yang cukup lengkap tentang permasalahan yang diteliti.




B.  Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif deskriptif untuk mengukur keuangan perusahaan yaitu dengan melakukan perhitungan dengan menggunakan rasio likuiditas dan profitabilitas yang selanjutnya dilakukan suatu analisis pada lima tahun terakhir yaitu mulai 2003 sampai dengan 2007, dengan menggunakan time series analysis dan cross sectional approach.
C.  Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. yang berupa:
1.      Company profile
2.      Laporan laba rugi.
3.      Neraca.
4.      Harga saham awal dan akhir tahun (1 Januari dan 31 Desember).
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Arikunto (2002:212) teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini antara lain:
1.      Teknik observasi yaitu dengan melakukan pengamatan lansung terhadap laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi) yang diterbitkan perusahaan.
2.      Teknik perpustakaan yaitu dengan menggunakan media yang ada baik itu buku, media cetak, elektronik, dan internet.
E.   Definisi Operasional Variabel
1.         Variabel terikat (variabel dependen)
Variabel terikat (variabel dependen) dalam penelitian ini adalah harga saham  awal dan akhir  (Y1 & Y2)
2.         Variabel bebas (variabel independen)
Dalam penelitian ini adalah kinerja kuangan perusahaan yang digambarkan dalam bentuk rasio keuangan yaitu likuiditas dan profitabilitas yang di rumuskan sebagi berikut:
a.    Current Ratio (X1)
Yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang yang harus dipenuhi dengan aktiva lancar (Abdullah, 2001:40).
Current Ratio = Aktiva Lancar X 100%
                    Hutang lancar

b.   Quick Ratio (X2)
Yaitu Rasio yang menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dengan aktiva lancar yang likuid.
Quick Ratio = Aktiva Lancar - Persediaan    X 100%
                              Hutang Lancar






c.    Cash Ratio (X3)
Yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan untuk membayar kewajiban dengan kas yang tersedia dan efek yang segera dicairkan (Sawir, 2005:30).
Cash Ratio = Cash & Efek     X 100%
              Hutang Lancar
    
d.   Gross Profit Margin (X4)
Di pergunakan untuk mengukur berapa besar laba kotor yang dihasilkan dibanding dengan total nilai penjualan bersih perusahaan. Semakin besar rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menekan kenaikan harga pokok penjualan pada persentase di bawah kenaikan penjualan:
Gross Profit Margin =   Laba Kotor     X 100%
                                  Penjualan   


e.    Net Profit Margin (X5)
Rasio laba bersih untuk mengukur besarnya laba bersih yang dicapai dari sejumlah penjualan tertentu. Rasio inilah umumya digunakan dibandingkan dengan dua rasio terdahulu mengingat laba yang dihasilkan merupakan laba bersih perusahaan.
Net Profit Margin =   Laba Bersih Setelah Pajak    X 100%
                                        Penjualan




f. Rasio Total Assets Turn Over (X6)
Rasio perputaran total aktiva dipergunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam menggunakan keseluruhan aktiva yang dimiliki guna menghasilkan penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio perputaran aktiva menunjukkan perusahaan semakin efisien dalam menggunakan aktiva guna menghasilkan sejumlah penjualan.
Total Assets Turn Over =   Penjualan    X 100%
                                              Total Aktiva

g.   Rasio Return On Investment /ROI (X7)
Rasio ini sering juga di sebut Return On Total Assets dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan yang dimiliki.
Return On Investment = Laba Bersih Setelah Pajak     X 100%
                                                               Total Aktiva














F.   Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini analisis data yang digunakan dengan tahapan sebagai berikut:
1.    Uji Asumsi Klasik
Agar dapat diperoleh nilai pemerkiraan yang tidak biasa dan efisien dari persamaan regresi, maka dalam pelaksanaan analisis data harus memenuhi beberapa asumsi klasik sebagai berikut (pengolahan data dengan komputerasi menggunakan program SPSS)
a.    Uji Multikolinieritas
        Menurut Santoso (2002:30), tujuan dari non-multikolinieritas adalah untuk menguji apakah pada model regresi di temukan adanya korelasi antara variabel independent, jika tejadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem Multikolinieritas (multiko). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara independent variabel.
        Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinieritas dapat dideteksi dari besarnya VIF (Variance Inflation Factor). Bila nilai VIF lebih kecil dari 5 maka tidak terjadi non-multikolinieritas.



b.   Uji Heteroskedastisitas
     Menurut Santoso (2002:208), tujuan uji non- Heteroskedastisitas untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi , terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas. Dan jika varians berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi Heteroskedastisitas.
     Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji koefisien korelasi Rank Spearman yaitu mengkorelasikan antara absolute residual hasil regresi dengan semua variabel bebas. Apabila probabilitas hasil korelasi lebih kecil dari 0,05 (5%), maka persamaan regresi tersebut mengandung Heteroskedastisitas dan sebaliknya berarti non-heteroskedastisitas atau homoskedastisitas.






c.    Uji Normalitas    
                 Menurut Santoso (2002:212), tujuan uji normalitas adalah untuk menguji apakah dalam sebuah regresi, variabel bebas, variabel terikat atau keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.
     Metode yang digunakan untuk menguji normalitas adalah dengan menggunakan uji chi square terdapat nilai standar residual 0,05 (5%) maka terdistribusi normal dan sebaliknya terdistribusi tidak nomal.
     Selain itu deteksi normalitas dapat dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik normalitas. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Namun jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.





2.    Analisis Regresi Linier Berganda
Regresi yang akan digunakan untuk mengestimasi suatu variabel yang melibatkan lebih dari dua variabel independen (Algifari, 2002:224). Bentuk umum persamaan regresi yang menggunakan lebih dari dua variabel independen adalah sbb:
Y= a + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4 + b5 x5 + b6 x6 + b7 x7
Keterangan:
Y= Variabel terikat (Harga Saham awal)
Y2=Variabel terikat (Harga Saham Akhir)
  X1= Variabel bebas (Current Ratio)
X2= Variabel bebas (Quick Ratio)
X3= Variabel bebas (Cash Ratio)
X4= Variabel bebas (Gross Profit Margin)
X5= Variabel bebas (Net Profit Margin)
X6= Variabel bebas (Total Assets Turn Over)
X7= Variabel bebas (ROI)
                 a= Konstanta
     b1….b7= Koefisien Regresi
+/- = Tanda yang menunjukkan arah /pengaruh antara Y dengan X1 atau X2….X7



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Perkembangan Industri Transportasi di Indonesia
Sebagai negara kepulauan terluas di dunia dengan total luas 1,9 juta kilo meter persegi, Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi perpindahan barang dan orang terbesar di dunia. Dengan besarnya potensi tersebut, wajar bila pertumbuhan sektor transportasi di Indonesia cukup menggembirakan beberapa tahun terakhir ini. Untuk angkutan barang, pada tahun 2007 total kiriman barang domestik melalui laut, udara dan kereta api telah mencapai 301 juta ton atau meningkat 21,77 persen dari tahun sebelumnya. Dari total jumlah kargo domestik ini, 94 persen merupakan kargo domestik yang diangkut melalui kapal laut, 5 persen melalui kereta dan sisanya melalui pesawat.
Meskipun terdapat banyak kendala, industri transportasi barang diperkirakan akan semakin meningkat seiring dengan pulihnya ekonomi Indonesia. Industri transportasi kargo domestik akan semakin menggeliat dengan berlakunya Inpres No. 5 tahun 2005 yang menerapkan azas cabottage. Inpres ini mewajibkan pengangkutan 13 komoditi utama di wilayah Indonesia harus menggunakan kapal berbendera Indonesia. Sementara itu untuk angkutan penumpang, terjadi fenomena yang cukup menarik dengan adanya pergeseran yang signifikan dari angkutan kereta api ke angkutan udara. Jika di 1996, angkutan penumpang pesawat hanya merupakan 7,55 persen dari total angkutan penumpang maka di 2007 angka ini bergeser menjadi 15,28 persen atau mencapai 34 juta orang dari total angkutan penumpang sebanyak 222 juta orang. Pergeseran ini terlihat signifikan sejak 2001, yaitu saat beroperasinya perusahaan penerbangan swasta yang memberlakukan low cost carrier (LCC) sebagai strategi penetrasi pasar. Angkutan penumpang diperkirakan akan semakin meningkat meskipun beberapa waktu yang lalu terdapat banyak kejadian yang bisa mempengaruhi transportasi penumpang, seperti kecelakaan pesawat, rusaknya jalan dan pencurian rel kereta api.
1.    Angkutan Laut
Meskipun secara geografis potensi angkutan laut Indonesia sangat besar, hingga 2006 jumlah pengangkutan kargo melalui laut, baik domestik maupun internasional, hanya tumbuh sebesar 5,24 persen dari tahun sebelumnya dengan rata-rata pertumbuhan selama periode 2002-2006 hanya sebesar 6 persen.



Gambar 4.1
Grafik Pertumbuhan Kargo dan Internasional
*Posisi agustus 2007
Sumber : Direktoral Jenderal Perhubungan Laut

Sepanjang 2005, pangsa kapal nasional untuk angkutan dalam negeri terhadap 13 komoditi utama hanya sebesar 55,47 persen dari total muatan sebesar 206 juta ton. Sementara untuk pengangkutan internasional, kapal nasional tidak dapat berbuat banyak karena pangsa pasarnya sebesar 94,95 persen dikuasai oleh kapal asing.
Untuk mengurangi ketimpangan ini, Pemerintah melalui Inpres No. 5 tahun 2005 memberlakukan azas cabottage yang mewajibkan pengangkutan kargo 13 komoditi dalam negeri harus dilakukan oleh kapal berbendera Indonesia. Kondisi ini mewajibkan kantor agensi untuk memiliki kapal dengan berat tertentu untuk dapat beroperasi di Indonesia.


2.    Angkutan Udara
Angkutan udara Indonesia memulai babak baru di tahun 1999 setelah pemerintah membuka izin seluas-luasnya kepada pihak swasta untuk mendirikan perusahaan penerbangan. Penumpang pesawat udara domestik secara signifikan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 22 persen per tahun sejak 2000. Jika pada tahun 1996 sebelum krisis jumlah penumpang pesawat udara mencapai 13,5 juta orang maka pada November 2007 angka ini sudah jauh terlampaui dengan total penumpang pesawat mencapai 36,13 juta orang. Begitu pula dengan penerbangan internasional yang mencatat kenaikan tajam sebesar 11,91 persen dari tahun sebelumnya menjadi 13,93 juta penumpang per November 2007.
Gambar 4.2
Grafik Jumlah Penumpang Pesawat dan Kapal Laut 2000-2007
Sumber: BPS, Dephub                      *Data hingga November 2007


3.    Angkutan Darat
Berbeda dengan angkutan yang lain, angkutan darat menggunakan berbagai jenis moda dengan pergerakan yang sangat intens yang meliputi kendaraan bermotor, kereta api dan angkutan sungai, danau dan penyeberangan. Hingga 2007, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia total mencapai 63,8 juta unit dengan komposisi terbesar disumbang oleh sepeda motor yang mencapai 82,46 persen.
Gambar 4.3
Grafik Pertumbuhan Kendaraan Bermotor
Sumber: POLRI, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI)

Dilihat dari rata-rata pertumbuhan, jumlah bus memiliki rata-rata kenaikan tertinggi selama lima tahun terakhir. Pertumbuhan jumlah bus ini ditunjang oleh maraknya perkembangan industri pariwisata dan kebutuhan sewa bus untuk antar jemput anak sekolah atau pekerja kantor. Dari total 3,3 juta bus di 2007, 19.446 merupakan bus antarkota antarprovinsi (AKAP), 8.224 bus pariwisata, 215 merupakan bus perintis sedangkan sisanya merupakan bus kota.
Namun kenaikan jumlah kendaraan ini tidak diikuti dengan pertambahan sarana jalan. Sebagai perbandingan jika total kendaraan selama 2002-2006 tumbuh sebesar 24,41 persen maka total jalan hanya tumbuh 1,98 persen dalam kurun waktu yang sama atau tumbuh sebesar 3,98 persen dalam kurun waktu 1987-2006. Total panjang jalan nasional, jalan propinsi, jalan kabupaten dan jalan tol hingga 2006 hanya sepanjang 333.033 km.
4.    Angkutan Kereta Api
Sebaliknya terjadi fenomena yang sedikit berbeda terjadi pada angkutan kereta api. Meskipun merupakan angkutan penumpang dengan komposisi lebih besar dibandingkan dengan angkutan penumpang melalui kapal laut dan pesawat, jumlah penumpang kereta api turun signifikan sejak perusahaan-perusahaan penerbangan swasta memberlakukan low cost carrier. Secara kontinyu, jumlah penumpang kereta api turun sejak 2001 hingga 2004 dan mulai naik kembali pada 2005. Jika di 2000 jumlah penumpang kereta api mencapai 192 juta penumpang maka pada 2001 turun menjadi 187 juta penumpang dan menjadi 150 juta penumpang saja pada 2004. Penumpang kereta mulai naik secara signifikan setelah terjadi kecelakaan pesawat secara beruntun sejak 2004. Meski belum melampaui penumpang kereta api tahun 2000, tercatat kenaikan proporsional sebesar 10 persen pada 2007 atau mencapai 175 juta penumpang.
Gambar 4.4
Grafik Perbandingan Jumlah Penumpang Kereta Api dan Pesawat

Sumber: BPS, Dephub

5.    Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP)
Angkutan sungai, danau dan penyeberangan mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebagai indikasi tumbuhnya perdagangan antarpulau. Hingga Oktober 2007, kargo melalui angkutan PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) mencapai 25 juta ton atau meningkat sebesar 21,1% dibanding periode sebelumnya. Sementara penyeberangan penumpang juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 27,3%
dibanding periode sebelumnya atau mencapai 29,5 juta orang. Gambaran selengkapnya tertuang di Grafik 5.
Gambar 4.5
Grafik Angkutan ASDP Penumpang dan Kargo

Sumber: Dephub
*) Oktober 2007

Peningkatan tersebut ditunjang oleh jumlah dermaga sebanyak 140 unit, dengan 75 di antaranya merupakan dermaga perintis. Total kapal yang melayani penyeberangan sebanyak 190 unit, dengan perincian 90 kapal milik PT ASDP, 98 milik swasta dan 2 merupakan kerja sama operasi (KSO) pemerintah dengan pihak swasta (http://www.adobe.com/rdrmessage_create4_ENU/5-27-08).

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar