Analisis Abnormal Return Dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham Di Seputar Pengumuman Deviden (Study Pada Industri Manufaktur Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia)

Admin
Analisis Abnormal Return Dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham Di Seputar Pengumuman Deviden (Study Pada Industri Manufaktur Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia) 

Pasar modal merupakan tempat di mana para investor menanamkan dananya dalam berbagai bentuk investasi. Selain itu pasar modal juga merupakan tempat di mana pihak-pihak yang membutuhkan  dana dan dapat memperoleh dana yang dibutuhkan  dari pihak yang kelebihan dana.  Pasar modal sebagai  salah satu alternatif sumber pendanaan jangka panjang yang telah mengalami perkembangan sangat cepat. Maraknya perkembangan pasar modal saat ini tidak terlepas dari peran investor dalam melakukan transaksi di pasar modal.
            Sebagai instrumen ekonomi, pasar modal tidak terlepas dari berbagai pengaruh ekonomi. Adanya pengaruh tersebut akan mempengaruhi perubahan harga dari suatu sekuritas yang ada di pasar modal. Pengaruh ini terdiri dari pengaruh lingkungan ekonomi mikro seperti kinerja perusahaan, perubahan strategi perusahaan, pengumuman laporan keuangan, laporan deviden perusahaan, dan pengumuman pendanaan yang  berhubungan dengan pemecahan saham, pembelian saham, dan pengumuman joint venture (Jogiyanto, 2003: 373). Pengaruh yang kedua yaitu lingkungan ekonomi makro  seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah juga turut berpengaruh pada fluktuasi harga dan volume perdagangan di pasar modal (Suryawijaya dan Setiawan, 1998 : 137).
            Perkembangan aktivitas pasar modal yang pesat ini membawa perubahan besar terhadap tuntunan kualitas informasi. Informasi ini sangat diperlukan oleh investor untuk mengurangi ketidakpastian dalam pengambilan keputusan informasinya. Dengan adanya informasi yang relevan dan yang dipublikasikan, maka hal ini dapat mempengaruhi harga-harga sekuritas yang ada di pasar modal. Pengujian terhadap kandungan informasi dimaksudkan untuk melihat reaksi pasar dari saat pengumuman jika pengumuman mengandung informasi maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima pasar.
Salah satu informasi yang dapat mempengaruhi harga dari sekuritas yaitu adanya pengumuman deviden. Pada perusahaan yang telah go public pembayaran deviden, merupakan cara klasik memberikan imbalan dalam bentuk pemberian aset keuangan (financial asset) perusahaan kepada para pemegang saham. Deviden merupakan salah satu bentuk informasi publik dalam pasar modal yang dianggap sebagai suatu signal dari perusahaan untuk menunjukkan kinerja dan prospek perusahaan di masa depan. Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran deviden, hal ini dapat ditafsirkan sebagai harapan manajemen  akan membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Lebih jauh lagi, perusahaan membayar deviden untuk mendorong investor lain untuk membeli saham baru dengan harga yang lebih tinggi (Sawitri, 2007: 248).     
            Dividend Signaling Theory menyatakan bahwa pengumuman perubahan deviden merupakan pertanda bagi perkiraan manajemen atas laba perusahaan. Bird-in-the-Hand Theory menyatakan bahwa investor lebih menyukai deviden dari pada kenaikan nilai modal (capital gains) di masa depan, sehingga perusahaan mempertimbangkan reaksi pasar setelah pengumuman deviden tersebut (Weston dan Brigham, 1990:199). Pada umumnya suatu perusahaan  membayarkan deviden yang relatif stabil dan terdapat sebuah kecenderungan bahwa perusahaan enggan menurunkan pembayaran deviden meskipun perusahaan tersebut telah mengalami penurunan laba. Dengan kata lain keputusan deviden merupakan sebuah keputusan yang aktif dan bukan keputusan yang pasif. Hal ini disebabkan karena deviden mempunyai isi informasi (informational content of dividend).
            Beberapa kemungkinan dapat digunakan untuk mendeteksi apakah pasar secara individu merespon pengumuman deviden sebagai informasi untuk membuat keputusan investasi. Volume perdagangan saham dan abnormal return sebagai variabel indikator transaksi perdagangan efek di bursa efek yang dapat diamati dan diteliti untuk melihat reaksi pasar modal terhadap pengumuman deviden yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah go public. Fluktuasi volume perdagangan saham  merupakan suatu indikator yang penting untuk mempelajari tingkah laku pasar dalam melakukan aksi jual beli di pasar modal. Adanya keberadaan sebuah informasi tersebut akan mempengaruhi investor dalam melakukan transaksi jual beli saham. Semakin sering saham tersebut diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut (Anoraga dan Pakarti, 2006: 87).
Pengujian kandungan informasi terhadap pengumuman deviden dapat digunakan untuk menguji efisiensi pasar dalam bentuk setengah kuat. Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga dari sekuritas tercermin secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available information ) termasuk informasi yang berada di laporan keuangan perusahaan emiten. Pasar dikatakan efisien bentuk setengah kuat jika investor bereaksi dengan cepat (quickly) untuk menyerap abnormal return untuk menuju ke harga keseimbangan yang baru. Jika investor menyerap abnormal return dengan lambat, maka pasar dikatakan tidak efisien bentuk setengak kuat secara informasi (Jogiyanto, 2003:412).
Apabila pengumuman deviden tersebut mengandung sebuah informasi maka akan terjadi reaksi pasar yang ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dari suatu sekuritas. Adanya reaksi ini dapat diukur dengan menggunakan abnormal return. Jika pengumuman tersebut mempunyai kandungan informasi maka akan memberikan abnormal return kepada pasar (Jogiyanto, 2003: 411).
Beberapa kemungkinan dapat digunakan untuk mendeteksi apakah pasar secara individu merespon pengumuman deviden sebagai informasi untuk membuat keputusan investasi. Volume perdagangan saham dan abnormal return sebagai variabel indikator transaksi perdagangan efek di bursa efek yang dapat diamati dan diteliti untuk melihat reaksi pasar modal terhadap pengumuman deviden yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah go public.
Penelitian yang membahas tentang abnormal return, volume perdagangan saham dan pengumuman deviden telah banyak dilakukan Afif Jaenuri (2006) melakukan penelitian tentang pengumuman deviden terhadap volume perdagangan  saham, return dan abnormal return. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara return, aktivitas volume perdagangan saham perusahaan dan abnormal return saham perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman deviden.
Penelitian yang dilakukan oleh Agus Sucipto (2006) yang mengkaji tentang likuiditas saham yang dikaitkan dengan pengumuman stock split Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas volume perdagangan saham perusahaan sesudah pengumuman stock split. Hasil pengujian terhadap bid-ask spread saham untuk periode sebelum dengan sesudah pengumuman stock split menunjukkan tidak terdapat perbedaan. Sedangkan pengujian terhadap bid-ask spread saham periode sebelum dengan saat pengumuman stock split dan periode saat dan sesudah pengumuman stock split menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada bid-ask spread.
Nurul Ilmasari (2007) pernah melakukan penelitian mengenai publikasi Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang dikaitkan dengan abnormal return, kinerja perusahaan  dan volume perdagangan saham yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return antara sebelum dan sesudah publikasi CGPI. Hal ini juga berlaku pada volume perdagangan saham dan kinerja perusahaan yang tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah publikasi CGPI.
Penelitian yang dilakukan Sawitri (2007) dengan judul “Studi Empiris  Reaksi Pasar terhadap Publikasi Pembayaran Deviden”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investor bereaksi positif terhadap publikasi perusahaan yang memutuskan untuk membayar deviden.
Dari uraian yang telah dikemukakan di atas mendorong peneliti untuk mengamati dampak pengumuman deviden terhadap beberapa  indikator yang biasa digunakan untuk melihat reaksi pasar. Pada tahun 2007 Bursa Efek Indonesia kembali mengumumkan perusahaan yang akan membagikan deviden. Industri manufaktur salah satu industri yang akan membagikan deviden pada tahun 2007. Pada tahun 2007, industri manufaktur mengalami perkembangan yang pesat yaitu sebesar 5-15% seiring dengan meningkatnya PDB dari 6,3 persen pada tahun 2006 menjadi 6,5 persen pada tahun 2007. Dari uraian di atas mendorong peneliti untuk kembali meneliti pengumuman deviden sehingga judul dari penelitian “Analisis Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham di Seputar Pengumuman Deviden ( Event Study pada Industri Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Indonesia)”.

A.    Rumusan Masalah
  1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada abnormal return saham sebelum, saat dan sesudah pengumuman deviden?
  2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada volume perdagangan saham sebelum, saat, dan sesudah pengumuman deviden?






B.     Tujuan Penelitian
  1. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan  pada abnormal return saham sebelum, saat dan sesudah pengumuman deviden
  2. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pada volume perdagangan saham sebelum, saat dan sesudah pengumuman deviden.

C.    Batasan Penelitian
Batasan penelitian berguna sebagai batasan terhadap suatu obyek penelitian agar obyek tidak meluas. Penelitian ini dibatasi pada industri manufaktur yang telah go public di Bursa Efek Indonesia yang telah mengumumkan deviden pada tahun 2007.

D.    Manfaat Penelitian
  1. Bagi investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dari Bursa Efek sehingga seorang investor dapat memperoleh keuntungan yang berlebihan.



  1. Bagi Emiten
Bagi penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang diharapkan oleh pemegang saham untuk menentukan tingkat return.
  1. Bagi Penulis
Untuk mengaplikasikan pengetahuan yang selama diperoleh serta melatih dalam menganalisa masalah dengan berfikir secara sistematis dan rasional.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hasil Penelitian Terdahulu    

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
Peneliti
Judul
Metode
Variabel
1
Afif Jaenuri (2006)
Analisis Return, Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham atas Pengumuman Deviden pada Saham LQ 45 yang Tercatat di BEJ Tahun 2005.
Kolmogrow smirnov test dan paired sample t-test
Return, Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham dan Pengumuman Deviden.
2
Agus Sucipto (2006)
Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat dan Sesudah Pengumuman Stock Split (Study pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Jakarta).
Paired two sample for means test dan uji t
Stock Split, Bid –Ask Spread dan Volume Perdagangan Saham.
3
Nurul Ilmasari (2007)
Perbedaan Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham dan Kinerja Perusahaan Sebelum dan Sesudah Publikasi Corporate Governance Perception Index.
Paired two sample for means test.
Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham, Kinerja Perusahaan dan Publikasi Corporate Governance Perception Index
4
Sawitri (2007)
Studi Empiris  Reaksi Pasar terhadap Publikasi Pembayaran Deviden
Uji t
Harga Saham, Abnormal Return, Cumulative Abnormal Return dan Pengumuman Deviden
5.
Devita (2008)
Analisis Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham di Seputar Pengumuman Deviden (Study pada Industri Manufaktur yang Telah Go Public di Bursa Efek Indonesia).
Paired two sample for means test dan uji t.
Abnormal Return, Volume Perdagangan Saham dan Pengumuman Deviden
Sumber: Data diolah oleh peneliti, 2008

Penelitian yang telah dilakukan oleh Afif Jaenuri (2006) dengan judul “Analisis Return, Abnormal Return dan Aktivitas Volume Perdagangan Saham atas Pengumuman Deviden pada Saham LQ 45 yang Tercatat di BEJ Tahun 2005”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara return, aktivitas volume perdagangan saham perusahaan dan abnormal return saham perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman deviden 2005. Hal ini terjadi karena nilai signifikan t masing-masing emiten lebih besar dari tarif signifikan 0,05 sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.
Penelitian yang dilakukan oleh Agus Sucipto (2006) dengan judul “Analisis Likuiditas Saham Sebelum, Saat dan Sesudah Pengumuman Stock Split (Study pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Jakarta)”. Penelitian ini diteliti dengan memakai pendekatan studi peristiwa dan  menghitung aktivitas volume perdagangan saham dan bid ask spread sebagai metode penelitiannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas volume perdagangan saham perusahaan sesudah pengumuman stock split. Sedangkan untuk pengamatan yang diperpanjang yaitu pada periode sebelum dan sesudah  diperoleh hasil terdapat perbedaan yang signifikan. Dari hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa pada periode sebelum sampai dengan sesudah terdapat ketidaksamaan informasi yang diterima oleh investor, sehingga menyebabkan adanya ketidaksamaan ekspektasi diantara investor. Hasil pengujian terhadap bid-ask spread saham untuk periode sebelum dengan sesudah pengumuman stock split menunjukkan tidak terdapat perbedaan. Sedangkan pengujian terhadap bid-ask spread saham periode sebelum dengan saat pengumuman stock split dan periode saat dan sesudah pengumuman stock split menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada bid-ask spread.
Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Ilmasari (2007) mengenai publikasi Corporate Governance Perception Index (CGPI) yang dikaitkan dengan abnormal return, volume perdagangan saham dan kinerja perusahaan yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return antara sebelum dan sesudah publikasi CGPI. Hal ini juga berlaku pada volume perdagangan saham dan kinerja perusahaan yang tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah publikasi CGPI.
Penelitian yang dilakukan Sawitri dengan judul “Studi Empiris  Reaksi Pasar terhadap Publikasi Pembayaran Deviden”. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan  yang terdaftar di BEJ dari 40 hari sebelum publikasi deviden sampai sehari sesudah publikasi dilihat dari abnormal return  perusahaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investor bereaksi positif terhadap publikasi perusahaan yang memutuskan untuk membayar deviden dan investor bereaksi negatif terhadap publikasi perusahaan yang memutuskan untuk tidak membayar deviden.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu terletak pada industri yang diamati yaitu pada industri manufaktur serta periode pengamatan pengumuman deviden yaitu pada tahun 2007 dan uji yang dilakukan yaitu dengan menggunakan Paired two sample for means test dan uji t.

B.     Kajian Teori
1.      Pasar Modal
a.      Pengertian Pasar Modal
Di Indonesia pengertian pasar modal adalah sebagaimana tertuang dalam keputusan presiden (Kepres) No. 52 Tahun 1976 tentang pasar modal Bab 1 Pasal 1 dimana disebutkan “Pasar Modal adalah Bursa Efek seperti yang dimaksud dalam Undang- undang No 15 Tahun 1952 (Lembaran Negara, Tahun 1952 No 67)”. Jadi Pasar Modal adalah bursa - bursa perdagangan di Indonesia yang didirikan untuk perdagangan uang dan efek. Sedangkan bursa adalah gedung atau ruang yang ditetapkan sebagai kantor dan tempat kegiatan perdagangan efek. Lebih lanjut ditegaskan bahwa pengertian efek disini adalah setiap saham, obligasi, atau bukti lainnya termasuk sertifikat atau surat pengganti surat bukti sementara dari surat-surat tersebut, opsi, obligasi, bukti penyertaan dalam modal atau pinjaman lainnya.
Menurut keputusan Menteri Keuangan RI No. 1548/KMK/90 tentang peraturan pasar modal, pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang keuangan serta keseluruhan surat-surat yang berharga yang beredar (Sunaryah, 2006: 4).
b.     Manfaat Pasar Modal        
Pasar modal memiliki manfaat yang sangat besar, baik dari sisi  investor, emiten, pemerintah, maupun lembaga penunjang (Anoraga dan Pakarti, 2006: 12-13).
Manfaat pasar modal bagi emiten yaitu:
1)      Jumlah dana yang dapat dihimpun bisa berjumlah besar.
2)      Dana tersebut dapat diterima sekaligus pada saat pasar perdana selesai
3)      Cash flow hasil penjualan saham biasanya lebih besar dari harga nominal perusahaan.
Manfaat pasar modal bagi investor yaitu:
a)      Nilai investasi berkembang mengikuti pertumbuhan  ekonomi.  Peningkatan tersebut tercermin pada meningkatnya harga saham yang mencapai capital gain.
b)     Mempunyai hak suara dalam RUPS bagi pemegang saham, mempunyai hak suara dalam RUPO bila diadakan bagi pemegang obligasi.
c)      Dapat dengan mudah mengganti instrumen investasi, misalnya dari saham A ke saham B sehingga dapat menigkatkan keuntungan atau mengurangi resiko.
d)     Dapat sekaligus melakukan investasi dalam beberapa instrumen yang mengurangi resiko.
Manfaat pasar modal bagi lembaga penunjang yaitu:
                     (1)      Menuju arah yang profesional di dalam memberikan pelayanannya sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
                     (2)      Sebagai pembentuk harga dalam bursa pararel.
                     (3)      Semakin memberi variasi pada jenis lembaga penunjang.
                     (4)      Likuiditas efek semakin tinggi.
Sedangkan manfaat pasar modal bagi pemerintah yaitu:
(a)   Mendorong laju pembangunan serta menciptakan lapangan pekerjaan.
(b)   Mendorong investasi .
(c)    Mengurangi  beban anggaran bagi BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

           
2.      Saham
a.      Pengertian Saham
Saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu maupun institusi dalam suatu  perusahaan (Anoraga dan Pakarti, 2001: 58).
Suatu perusahaan dapat menjual hak kepemilikannya dalam bentuk saham (stock) jika perusahaan hanya mengeluarkan satu saham saja, saham ini disebut dengan saham biasa (common stock). Untuk menarik investor potensial lainnya, suatu perusahaan mungkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu yang disebut dengan saham preferent (preferent stock) (Jogiyanto, 2003: 67)
b.     Jenis Jenis Saham
Berdasarkan  atas cara peralihan, saham menurut Rusdin (2005: 69) dibedakan menjadi dua yaitu:
1)      Saham atas unjuk (Bearer Stock), adalah saham yang tidak ditulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahkan dari satu investor ke investor lain.
2)      Saham atas nama (Registered Stock), adalah saham yang ditulis dengan jelas siapa pemiliknya.


Berdasarkan manfaat yang diperoleh pemegang saham, saham dibedakan menjadi :
a)      Saham biasa (common stock)
Saham biasa (common stock) merupakan salah satu jenis efek yang paling banyak diperdagangkan di pasar modal. Saham biasa ada dua jenis, yaitu saham atas nama dan saham atas unjuk. Untuk saham atas nama, nama pemilik tertera diantara saham tersebut, sedangkan saham atas unjuk yaitu nama pemilik saham tidak tertera diatas saham, tetapi pemilik saham adalah yang memegang saham tersebut.
b)     Saham preferen (preferred stock)
Saham preferen merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa hak yaitu hak atas deviden tetap dan hak untuk mendapatkan terlebih dahulu aktiva perusahaan dibandingkan dengan saham biasa pada terjadi likuidasi.





3.      Efisiensi Pasar
a.      Bentuk-Bentuk Efisiensi Pasar
Pasar modal yang efisien didefinisikan pasar modal yang harga-harga sekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relefan (Husnan, 1998: 269). Pada umumnya situasi pasar modal efisien menunjukkan hubungan antara harga pasar dan bentuk pasar. Pengertian harga pasar dalam hal ini adalah harga saham yang ditentukan dan dibentuk oleh mekanisme pasar modal. Efisiensi pasar modal ditentukan oleh seberapa besar pengaruh informasi yang relefan, yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi (Sunariyah, 2006: 184).
Bentuk efisiensi pasar dapat ditinjau dari segi ketersediaanya informasi (informationally efficient market) dan  kecanggihan pelaku pasar dalam pengambilan keputusan informasi berdasarkan  analisis dari informasi yang tersedia (decisionally  efficient market). Fama (1970)  dalam Jogiyanto (2003: 271) mengklasifikasikan informasi menjadi tiga tipe  yaitu informasi masa lalu, informasi sekarang yang sedang dipublikasikan, dan informasi privat sebagai berikut ini:
1)      Efisiensi pasar bentuk lemah ( weak form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga dari sekuritas tercermin secara penuh informasi masa lalu. Jika pasar efisien dalam bentuk lemah, maka nilai-nilai masa lalu tidak dapat digunakan untuk memprediksi harga sekarang artinya investor tidak dapat menggunakan informasi masa lalu untuk mendapatkan keuntungan yang tidak normal.
2)      Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga dari sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang dipublikasikan (all publicly available information ) termasuk informasi yang berada di laporan keuangan perusahaan emiten.
Informasi yang dipublikasikan dapat berupa sebagai berikut :
a)      Informasi yang dipublikasikan yang hanya mempengaruhi harga dari sekuritas  dari perusahaan yang mempublikasikan informasi tersebut.  Informasi ini berhubungan dengan peristiwa yang terjadi di perusahaan emiten (corporate event). Contoh dari informasi ini adalah pengumuman laba, pembagian deviden, merjer atau akuisisi, dan lain-lain.
b)     Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga dari sekuritas  sejumlah perusahaan.  Informasi yang dipublikasikan ini berupa peraturan pemerintah  atau peraturan dari regulator yang hanya berdampak pada harga sekuritas perusahaan yang terkena regulasi tersebut. 
c)      Informasi yang dipublikasikan yang mempengaruhi harga dari sekuritas  semua perusahaan yang tedaftar di pasar saham. Informasi yang dipublikasikan ini berupa peraturan pemerintah  atau peraturan dari regulator yang berdampak pada semua harga sekuritas perusahaan. Contoh dari informasi ini adalah peraturan akuntansi  untuk mencantumkan laporan arus kas yang harus dilakukan oleh semua perusahaan.
3)      Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)
Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang tersedia termasuk informasi yang privat. Jika pasar efisien dalam bentuk ini, maka tidak ada individual  investor atau grup dari investor yang dapat memperoleh keuntungan tidak normal (abnormal return) karena  mempunyai informasi privat.
b.     Karakteristik Pasar Efisien
Menurut kualifikasi pasar modal efisien, efisien pasar menunjukkan suatu tingkatan.  Menurut Sunariyah ( 2006: 189) tingkatan-tingkatan karakteristik suatu pasar efisien juga akan bervariasi dari suatu pasar modal ke pasar modal yang lain. Berikut ini adalah karakteristik pasar modal efisien secara umum:
1)      Harga saham akan merefleksikan secara cepat dan akurat terhadap semua bentuk informasi baru.
2)       Harga saham bersifat random, jadi harga tidak mengikuti beberapa kecenderungan dan informasi masa lalu dan tidak digunakan untuk menentukan kecenderungan harga.
3)      Saham-saham yang menguntungkan (profitable) tidak mudah untuk diprediksi. Jadi, para analisis dan investor mempunyai kesiapan informasi penting dalam menentukan harga saham.

4.      Likuiditas Saham
Likuiditas saham menunjukkan seberapa mudah suatu saham dikonversikan menjadi kas di pasar. Jika terdapat banyak penjual dan pembeli dalam aktivitas perdagangan di dalam pasar, maka dapat dikatakan bahwa saham tersebut memiliki tingkat likuiditas yang cukup tinggi.  Semakin sering diperdagangkan maka semakin likuid saham tersebut. Dengan demikian kita dapat dengan mudah melakukan transaksi jual beli saham tersebut. Likuiditas saham di bursa sangat erat kaitannya dengan volume perdagangan saham.
Beberapa indikator pasar saham yang likuid menurut Darmadji dan Fakhrudin  (2001: 17) yaitu :
  1. Transaksi dapat dilakukan dengan mudah dan cepat
  2. Perbedaan harga permintaan dan penawaran sangat tipis.
  3. Transaksi dapat dilakukan dalam jumlah besar tanpa mempengaruhi harga secara mendatar.
  4. Kedalaman dan keluasan pasar serta pergerakan harga merupakan reaksi yang cepat terhadap informasi.
Likuiditas mengakibatkan sekuritas yang diperdagangkan cenderung memiliiki resiko yang rendah  dan kecepatan perdagangan yang tinggi. Hal ini menimbulkan keterkaitan investor karena mereka dapat memaksimalkan profit dengan tidak harus menyimpan persediaan sekuritas tersebut. Dalam jangka waktu yang lama. Berinvestasi dalam saham dengan tingkat likuiditas yang rendah dapat beresiko, karena terdapat kemungkinan investasi tersebut tidak dapat dicairkan kembali. Tinggi rendahnya frekuensi perdagangan saham  terkait dengan seberapa besar volume saham yang diperdagangkan pada saat tertentu.

5.      Deviden
a.      Pengertian Deviden
Deviden adalah bagian laba atau pendapatan perusahaan yang ditetapkan oleh direksi (dan disahkan oleh rapat pemegang saham) untuk dibagikan kepada pemegang saham (Halim, 2005: 21). Pembayarannya diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada jenis saham yang ada.
Dalam proses pembayaran deviden diperlukan daftar para pemegang saham yang telah menerima deviden. Daftar pemegang saham ini dapat berubah karena adanya transaksi jual beli saham. Darmadji dan Fakhruddin (2006: 181) menjelaskan tentang prosedur pembagian deviden. Berikut ini merupakan prosedur pembagian deviden :
1)      Tanggal pengumuman  (declaration date)
Tanggal pengumuman adalah tanggal pada saat direksi perusahaan mengumumkan rencana pembagian deviden.
2)      Cum-dividend date
Cum-dividend date merupakan tanggal terakhir perdagangan saham yang masih mengandung hak untuk mendapatkan deviden (baik tunai maupun saham).
3)      Ex-dividend date
Ex-dividend date merupakan tanggal dimana perdagangan saham tidak mempunyai hak untuk mendapatkan deviden. Apabila membeli pada tanggal ini atau sesudahnya, maka saham tersebut sudah tidak  lagi memberikan deviden. Sebaliknya jika seseorang ingin menjual saham dan masih ingin masih ingin mendapatkan hak deviden, maka ia harus menjual pada ex-dividend atau sesudahnya.



4)      Tanggal pencatatan pemegang saham (recording date).
Tanggal pencatatan pemegang saham adalah hari terakhir untuk mendaftarkan diri sebagai pemegang saham agar berhak menerima deviden yang akan dibagikan perusahaan.
5)      Tanggal pembayaran deviden (payment date)
Tanggal pembayaran deviden adalah tanggal pada saat perusahaan mengirimkan cek deviden.
b.     Kebijakan Pemberian Deviden
Kebijakan deviden menyangkut masalah penggunaan laba  yang menjadi hak pemegang saham. Pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi  sebagai deviden dan laba ditahan untuk diinvestasikan kembali. Ada beberapa bentuk pemberian deviden secara tunai atau cash dividend yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham.  Sutrisno (2001: 305) menjelaskan bentuk kebijakan deviden tersebut adalah :
1)      Kebijakan pemberian deviden stabil
2)      Deviden akan diberikan secara tetap per lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh perusahaan mengalami fluktuasi. Kebijakan pemberian deviden yang stabil ini banyak dilakukan oleh perusahaan karena dapat meningkatkan harga saham, sebab deviden yang stabil dan dapat diprediksi dianggap mempunyai resiko yang kecil.
3)      Kebijakan deviden meningkat
4)      Perusahaan akan memberikan deviden kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
5)      Kebijakan deviden dengan rasio konstan.
6)      Kebijakan ini memberikan deviden yang besarnya mengikuti besarnya laba yang diperoleh perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh perusahaan maka semakin besar pula deviden yang dibayarkan kepada para pemegang saham.
7)      Kebijakan pemberian deviden regular yang rendah ditambah ekstra.
8)      Kebijakan pemberian deviden dengan cara ini perusahaan menentukan jumlah pembayaran deviden per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan ekstra deviden bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.
Menurut  Weston dan Brigham (1990:198) Teori Kebijakan Deviden :
a)      Teori Ketidakrelevanan Deviden
Teori ini dikemukakan oleh Merton Miller dan Franco Modigliani. Teori ini menyatakan bahwa kebijakan deviden perusahaan tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan atau biaya modalnya. Jadi, nilai suatu perusahaan hanya tergantung pada pendapatan yang dihasilkan aktivanya bukan pada bagaimana pendapatan tersebut di bagi diantara deviden dan laba yang ditahan.
b)     Teori Bird-in-the Hand
Teori ini dikemukakan oleh Gordon dan Lintner. Teori ini menyatakan bahwa nilai perusahaan akan dimaksimumkan oleh rasio pembagian deviden yang tinggi, karena investor menganggap bahwa deviden aktual lebih kecil resikonya dibanding dengan kenaikan nilai modal yang mungkin akan dicapai.
c.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Deviden,
Dalam melakukan pembayaran deviden diperlukan beberapa pertimbangan yang harus dilakukan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut harus disesuaikan dengan konsep teori pembayaran deviden dan penilaian perusahaan. Van Horne dan Machowich (1999: 501) menjelaskan faktor-faktor dalam yang dianalisis perusahaan dalam memutuskan kebijakan deviden, adalah :
1)      Peraturan Hukum
Peraturan hukum ini penting dilakukan untuk menetapkan batasan-batasan hukum di mana kebijakan deviden perusahaan dapat digunakan. Peraturan hukum ini berhubungan dengan penurunan modal, ketidaksolvabilitas, dan laba ditahan yang tidak semestinya.
2)      Kebutuhan Pendanaan Perusahaan
Kebutuhan pendanaan perusahaan meliputi anggaran kas, proyeksi laporan sumber dan penggunaan dana, dan proyeksi laporan arus kas. Tujuan utamanya adalah menentukan arus kas dan posisi kas perusahaan yang mungkin terjadi tanpa adanya perubahan kebijakan deviden.
3)      Likuiditas
Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam keputuasan deviden. Karena deviden merupakan arus keluar kas, semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan, semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar deviden.
4)      Kemampuan untuk Meminjam
Suatu perusahaan yang mampu memperoleh pinjaman dalam waktu singkat, perusahaan dapat dikatakan memiliki fleksibilitas keuangan yang relatif baik. Fleksibilitas keuangan dapat berasal dari kemampuan perusahaan untuk menebus pasar modal dengan menerbitkan obligasi. Semakin besar kemampuan meminjam perusahaan, semakin besar fleksibilitas keuangan dan semakin besar kemampuan untuk membayar deviden.
5)      Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Jika perusahaan ingin diakuisisi oleh perusahaan lain, pembayaran deviden yang rendah merupakan keuntungan bagi pihak luar yang ingin memiliki kendali atas perusahaan.

6.      Abnormal Return
Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi  yaitu return yang diharapkan oleh investor (Jogiyanto, 2003: 433). Abnormal return ini nantinya akan berperan dalam menguji kandungan informasi dari peristiwa pengumuman deviden. Abnormal return ini merupakan cerminan dari reaksi pasar terhadap suatu pengumuman. Jika terjadi abnormal return positif maka pasar menganggap bahwa peristiwa pengumuman deviden tersebut sebagai good news namun apabila abnormal return tersebut bernilai negatif maka pasar tidak merespon terhadap informasi tersebut sehingga pasar dalam keadaan bad news.
Abnormal return  dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok (Samsul, 2006: 276), yaitu :
a.      Abnormal Return (AR)  
Abnormal return terjadi setiap hari pada setiap jenis saham, yaitu selisih antara return aktual dan return ekspektasi. Karena dihitung secara harian, maka dalam suatu window period dapat diketahui abnormal return tertinggi atau terendah dan dapat pula diketahui pada hari keberapa reaksi paling kuat terjadi pada masing-masing jenis saham.
b.      Average Abnormal Return  (AAR)
Average abnormal return  merupakan rata-rata abnormal return dari semua jenis saham yang sedang dianalisis secara harian. AAR  dapat menunjukkan reaksi paling kuat, baik positif maupun negatif, dari keseluruhan jenis saham pada hari-hari tertentu selama window period.
c.       Commulative Abnormal Return  (CAR)
Commulative abnormal return  merupakan komulatif harian AR dari hari pertama sampai hari berikutnya.
d.     Commulative Average Abnormal Return  (CAAR)
Commulative average abnormal return  merupakan komulatif harian AAR mulai dari hari pertama sampai dengan hari-hari berikutnya.

7. Volume Perdagangan Saham
Volume perdagangan merupakan suatu penjumlahan dari setiap transaksi yang terjadi di bursa saham pada waktu tertentu dan saham tertentu. Volume Perdagangan Saham merupakan merupakan salah satu faktor yang juga memberi pengaruh terhadap pergerakan saham. Zamroni (2003: 32) menyatakan bahwa “volume perdagangan merupakan unsur kunci dalam melakukan prediksi terhadap pergerakan harga saham”. Ia meyakini bahwa ketika volume perdagangan cenderung mengalami kenaikan saat harga turun, maka pasar diindikasikan dalam keadaan bearish. Sedangkan ketika volume perdagangan cenderung meningkat selama harga naik maka pasar diindikasikan dalam keadaan bullish, dan ketika volume cenderung mengalami penurunan selama harga mengalami kenaikan maka pasar dalam keadaan bearish.
Fluktuasi aktivitas perdagangan saham  dapat dianggap sebagai indikator  bahwa trend harga yang sedang berlaku akan berubah. Menurut Sugianto (2003: 28) ada beberapa aturan dasar mengenai trading volume activity yang meliputi :
a.      Blowoffs An Selling Climaxes
Tindakan pasar berurutan yang biasanya terjadi market tops dan market bottoms yang disebut sebagai blowoffs an selling climaxes. Blowoffs terjadi pada puncak pasar (market tops) dimana harga saham bergerak lebih tinggi selama periode yang diperpanjang. Pada akhir kenaikan harga, harga saham akan terus bergerak naik  secara tajam yang diikuti dengan kenaikan yang tajam pada volume perdagangan. Selling climaxes adalah kebalikan dari blowoffs yaitu terjadi pada market bottoms setelah harga saham turun selama periode yang panjang.

b.      On-Balance Volume
On-Balance Volume merupakan salah satu teknik analisis aktivitas perdagangan yang dihitung dengan langkah; Pertama, total volume perdagangan harian yang ditentukan positif atau negativ berdasarkan apakah harga penutupan (closing price) lebih tinggi atau lebih rendah dibandngkan hari kemarin. Jika harga penutupan lebih tinggi maka total volume adalah positif, jika harga penutupan lebih rendah maka total volume adalah negatif. Kedua, nilai (arah) positif atau negatif  harian merupakan total komulatif tekanan jual beli di pasar.
c.       Volume Reversal
Metode ini berdasarkan pada konsep yang mengatakan bahwa perubahan trading volume activity  mengindikasikan perubahan trend harga saham seringkali ditandai dengan peningkatan dan penurunan volume perdagangan saham.

8. Event Study
Studi peristiwa (event study)  merupakan  studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap studi peristiwa (event) yang informasinya dipublikasikan sebagai suatu pengumuman. Event study dapat digunakan untuk menguji kandungan informasi (information content) dari suatu pengumuman dan dapat juga digunakan untuk menguji efisiensi pasar bentuk setengah kuat (Jogiyanto, 2003: 410). Event Study adalah penelitian yang mengamati dampak pengumuman informasi terhadap harga sekuritas. (Tandelilin, 2001: 126) 
Dari pengetian tersebut nampak bahwa event study dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar modal (dengan pendekatan pergerakan harga saham) terhadap suatu peristiwa tertentu. Event study pertama kali diperkenalkan oleh Fama, Fisher,  Jensen dan Roll (1969) yang digunakan untuk menguji dampak dari pengumuman pemecahan saham (stock split) terhadap return atau perubahan harga saham perusahaan yang mengumumkan pemecahan saham tersebut. Hasil penelitian Fama tersebut menunjukkan bahwa tingkat return disekitar  pengumuman stock split relatif stabil sehingga hasil tersebut mendukung adanya efisiensi pasar.

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar