Analisa Bisnis Jaringan Multi Level Marketing (Mlm) Syari'ah Terhadap Kebebasan Finansial Distributor Pada Pt. Ahad Net Internasional (Ahad-Net) Malang ( Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki )

Admin
ANALISA BISNIS JARINGAN MULTI LEVEL MARKETING (MLM) SYARI'AH TERHADAP KEBEBASAN FINANSIAL DISTRIBUTOR PADA PT. AHAD NET INTERNASIONAL (AHAD-NET) MALANG ( Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki )
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Dalam banyak kasus, hidup kita ternyata lebih dimudahkan dengan adanya sistem jaringan, misalnya pada World Wide Web atau dikenal dengan Internet. Internet bekerja melalui sistem jaringan yang saling menghubungkan antar komputer diseluruh dunia. Komputer siapapun yang telah tersambung dengan jaringan ini, bisa saling berinteraksi. Mengirim surat, pemesanan dan pembayaran barang, akses informasi, dan lain sebagainnya. (Kuswara, 2005:3, Jaringan Silaturahmi, http://www.mqbiz.com/ ,2005). Walaupun terkadang kita direpotkan pula oleh adanya jaringan yang bercitra negatif, seperti jaringan teroris, jaringan mafia obat-obatan, dan lain sebagainnya. Jaringan ternyata dapat memudahkan dan di sisi lain dapat pula menyulitkan kehidupan kita.

Charles-Albert Poissant dalam bukunya “Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia” memberikan kesimpulan bahwa untuk menjadi seperti para jutawan terkemuka, kita harus mengembangkan jaringan. Tiada lain, karena jaringan akan membantu kita menaiki jenjang sukses jauh lebih cepat dari yang pernah kita bayangkan. (Kuswara, 2005:3). Jaringan adalah kata kunci yang harus benar-benar dipahami oleh siapa pun yang ingin sukses dalam hidup ini. Orang-orang sukses ternyata adalah mereka yang berhasil mencari dan membangun jaringan (Jaringan Silaturahmi, http://www.mqbiz.com/ ,2005).
Dalam khazanah Islam, kita mengenal istilah silaturahmi untuk maksud yang sama. Secara estimologis, silaturahmi berarti menghubungkan kekerabatan dan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang, sekaligus menghilangkan segala kedengkian, kebencian dan permusuhan diantara sesama. Bahkan silaturahmi menjadi salah satu dibukanya pintu rizki, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
عن أبى هريرة رضى الله عنه قل: قل رسول الله صلى عليه وسلم: من أحب ان يبسط له فى رزقه وأن ينسافى أثره فليصل رحمه (اخرجه البخرى)
"Barang siapa yang mempunyai keinginan untuk diluaskan rizkinya yang diakhirkan ajalnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi" (HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah).


Silaturahmi pada akhirnya akan melahirkan kekuatan jaringan yang sangat dahsyat. Dengan kekuatan silaturahmilah tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan. Tidak ada hal yang berat kecuali bisa diangkat. Dan tidak ada jalan buntu kecuali bisa ditembus. Kita bekerja keras mencari dan membangun jaringan berarti kita sedang mengembangkan silaturahmi. Silaturahmi dapat melipatgandakan rizki. Begitu juga bisnis pemasaran jaringan yang mampu membuat pertumbuhan rizki kita menjadi sangat eksponensial. Memadukan silaturahmi dalam kerangka bisnis berarti kita memadukan kebaikan-kebaikan (Kuswara, 2005:3). Adalah Network Marketing/Multi Level Marketing (MLM), salah satu bisnis yang memanfaatkan sistem pemasaran jaringan, yang oleh Robert T. Kiyosaki (2005:102-106) pengamat pemasaran jaringan asal Hawai, keturunan Amerika-Jepang menyebutnya sebagai Jaringan pribadi terwaralaba. Keunggulan sistem pemasaran jaringan ini adalah bahwa kekuatan hukum Metcalf dapat dimanfaatkan oleh orang rata-rata, orang-orang seperti kita, dengan syarat mematuhi hukum tersebut. Rumus ini dapat dilihat dalam kasus jaringan mesin faks. Jika hanya ada satu mesin faks di dunia ini, ia benar-benar tidak mempunyai nilai ekonomis. Tapi, ketika ada dua mesin faks, menurut Hukum Metcalf, nilai ekonomis mesin faks tersebut kini menjadi pangkat dua. Nilai ekonomis jaringan itu naik dari 0 menjadi 4. Tambahkan mesin faks ketiga, nilai ekonomis jaringan tersebut naik dari 4 menjadi 9. Jika jumlah mesin faks terus bertambah, nilai ekonomisnya berlipat pula. Dengan kata lain, nilai ekonomi sebuah jaringan naik menurut deret ukur, bukan deret hitung (Kuswara, 2005:6).            
Kalau kita mengikuti prinsip-prinsip hukum itu, bergabung dengan perusahaan pemasaran jaringan adalah permulaan yang baik, tetapi sekedar bergabung tidak memberi hak kepada kita untuk memanfaatkan kekuatan hukum ini, seperti halnya kita membeli telepon, tetapi kita adalah satu-satunya orang yang memiliki telepon (Network Marketing/ MLM, http://www.mlmindonesia.com).
Dan akhirnya, banyak yang menganggap MLM sebagai “terobosan baru” yang luar biasa, cara terbaik untuk mendapatkan uang (Benny Santoso, 2003:27), dan merupakan terobosan yang akan memberikan banyak “peluang” bagi yang menekuninya. Peluang yang dimaksud adalah peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar secara cepat, serta merupakan cara untuk “bebas secara finansial”. (Sopian, 2004:3).
Berbicara tentang bebas secara financial, Robert T. Kiyosaki menjelaskan dalam bukunya The CASHFLOW Quadrant : panduan ayah kaya menuju kebebasan finansial. Dalam buku ini mengisahkan cerita seorang Ayah Kaya yang membimbing menuju kekayaan besar dan kebebasan finansial.  Yaitu cara Ayah Kaya menjelaskan perbedaan antara sisi kiri The CASHFLOW Quadrant, kuadrant "E" dan "S", dengan yang kanan atau kuadrant "B" dan "I".
The CASHFLOW Quadrant mewakili berbagai metode yang berlainan, dengan mana penghasilan atau uang diperoleh. Sebagai contoh, seorang "E" mendapat uang dengan mempunyai pekerjaan dan bekerja untuk orang lain atau sebuah perusahaan. Orang "S" mendapat uang dengan bekerja untuk diri sendiri. Seorang "B" memiliki usaha yang menghasilkan uang, dan "I" mendapat uang dari berbagai investasi mereka –dengan kata lain, uang menghasilkan uang yang lebih banyak- (Robert T. Kiyosaki 2005:14). Jadi dengan berbisnis jaringan melalui MLM/Network Marketing berarti seseorang telah berpindah kuadrant dan berada di kuadrant I, sebelah kanan. Seseorang yang berada di kuadrant sebelah kanan menurut Robert T. Kiyosaki akan memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan yang tidak terbatas (Robert T. Kiyosaki, 2005:100-104).
Berkembangnya industri MLM di Indonesia belakangan ini merupakan suatu fenomena yang cukup menarik. Dalam waktu kurang dari dua dekade, bangsa ini telah memiliki sekitar 40-an lebih perusaaan MLM. Menurut data APLI (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia) tahun 2002, sekitar 4 juta orang telah terlibat dalam industri ini, dan di antaranya terdapat puluhan hingga ratusan ribu orang yang terpikat hatinya pada perusahaan MLM berbasis Syari'ah (Fachrur Rozi, 2005:65).
MLM Syari'ah pertama di Indonesia bahkan di dunia adalah Ahad-Net. Ahad-Net adalah perusahaan yang memasarkan produk-produk Syar'i (suci/thahhrir, halal dan thoyyib) yang diawasi oleh Dewan Syari'ah. Dengan konsep MLM. Ahad-Net didirikan pada tanggal 1 Januari 1996 di Masjid Al-ittihad, Tebet, Jakarta Selatan.
Dengan modal awal ratusan juta rupiah, H. Setyotomo bersama H. Muhammad Hidayat, KH Ma'ruf Amin, H. Atang Kustandi, H. Abdul Halim, dan H. Danny Ramdhani merintis usaha ini dengan pendekatan syariah. Usaha ini dirancang sebagai bisnis silaturrahim (MLM) dengan jaringan (Net) umat muslim yang berwawasan luas. Nama Ahad sendiri diambil dari singkatan Alquran, Hadits, Akhirat, dan Dunia (Mengejar Untung Dunia dan Akhirat, http://www Eksekutif.com, 2007).
Cara kerja perusahaan ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan MLM pada umumnya, yakni dengan melakukan pemasaran produk-produk tertentu dengan sistem berjenjang. Artinya setiap mitra/distributor memperoleh manfaat dengan mengembangkan jaringan (net) seluas-luasnya untuk memperoleh pendapatan yang dihitung berdasarkan keaktifan jaringannya. Semua penghargaan pada anggota diberikan berdasarkan kemapuan anggota memperluas jaringan dan besarnya nilai penjualan tiap bulan. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Komisaris Ahad-Net, H. Setyotomo dalam situs www.eksekutif.com.
"Ini (Ahad-Net) memang bisnis yang tidak sekadar mengerjar dunia semata, tetapi juga akhirat. Siapa saja bisa bergabung sebagai mitra salur dan jika dilakukan secara istiqomah, Insya Allah peluang memperoleh pendapatan yang besar akan bisa diraih".
Baik  Setyotomo bersama pengusaha Muslim yang lain dengan bisnis jaringan  MLM (syari'ah) Ahad-Net maupun kebebasan finansial Robert T. Kiyosaki dengan The Cashflow Quadrantnya adalah orang sukses. Keduanya mengajarkan suatu “nilai” yaitu pentingnya berusaha untuk meraih kejayaan dunia dengan berpindah kuadran ke arah seorang usahawan yang mandiri.
Berangkat dari ulasan diatas, maka penulis ingin menganalisis bisnis jaringan MLM (syari'ah) khususnya Ahad-Net sebagai praktek nyata dari kegiatan bisnis jariangan terwaralaba pribadi, terhadap kebebasan finansial anggotanya (distributor) ditinjau dari perspektif The Cashflow Quadrant milik Robert T. Kiyosaki. Yaitu ingin mendapat jawaban apakah bisnis jaringan MLM (syari'ah) Ahad-Net dapat memberikan kebebasan finansial (berpindah kuadran)di tinjau dari  The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) khususnya MLM Syari'ah ini. Adapun judul penelitian ini adalah  Analisa Bisnis Jaringan Multi Level Marketing (MLM) Syari’ah Terhadap Kebebasan Finansial Distributor Pada PT. Ahad Net Internasional (Ahad-Net) Malang (Perspektif The Qashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki).


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang di atas, tentang pengaruh bisnis jaringan Multi LevelMarketing (MLM) terhadap perubahan finansial yang didapat seseorang setelah masuk bisnis tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian adalah :
a.      Apakah bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) yang meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1), Sistem pendidikan dan pelatihan (X2),  Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4), berpengaruh terhadap kebebasan finansial Distributor (Y).
b.      Variable bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) yang meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1), Sistem pendidikan dan pelatihan (X2),  Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4) manakah yang memililki pengaruh dominan terhadap kebebasan finansial Distributor (Y).

C. Tujuan Penelitian
Berpijak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan penelitian ini adalah
a.      Untuk mengetahui hubungan dan pengaruh variabel bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) yang meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1), Sistem pelatihan (X2),  Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4), terhadap kebebasan finansial Distributor (Y) ditinjau dari Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki.
b.      Untuk mengetahui variabel bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) yang meliputi banyak perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1), Sistem pelatihan (X2),  Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4), yang memiliki pengaruh dominan terhadap kebebasan finansial Distributor (Y) ditinjau dari Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki.

D. Batasan Penelitian
Untuk menghindari bias dalam Penelitian ini, kiranya peneliti perlu memberikan batasan-batasan masalah dalam penelitian ini, yaitu hanya terbatas pada masalah-masalah sebagai berikut :
a.      Bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) yang dibahas adalah bisnis jaringan yang ada di bisnis Multi Level Marketing (MLM) Syari'ah PT. Ahad Net Internasional (Ahad-Net) di Malang
b.      Mengenai kebebasan finansial adalah kebebasan finansial pendapat  Robert T. Kiyosaki yang digambarkan dalam The Cashflow Quadrant yaitu perpindahan distributor dari kuadrant sisi kiri ke sisi kanan kuadran dalam diagram The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki.
c.       Variabel perekrutan anggota baru (jenjang atau level), berasal dari dua variabel yaitu variabel perekrutan anggota baru dan variabel banyak jenjang/level. Kemudian dijadikan satu karena memiliki pengertian yang saling berkaitan. Yaitu, dimana setiap distributor yang mampu merekrut anggota baru, secara otomatis peringkat/levelnya akan naik.

E. Manfaat Penelitian
1. Aspek Teoritis
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang pemasaran terutama tentang pemasaran langsung dan jaringan atau Multi Level Marketing (MLM) dan kebebasan finansial yang gambarkan Robert T. Kiyosaki dalam The Cashflow Quadrant. Serta dapat dijadikan sebagai acuan atau salah satu sumber informasi bagi semua pihak yang ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.
2. Aspek Praktis
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan sebagai bahan masukan yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi terutama masalah bisnis jaringan dan masalah finansial.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. PENELITIAN TERDAHULU
                  Penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik ini antara lain,
  1. Sulaiman (2002) melakukan penelitian Sistem Multi Level Marketing (MLM) Dalam Perspektif Etika Bisnis Islam. Yaitu ingin mengetahui bagaimana sistem penjualan dan sistem sponsor dalam sistem MLM dilihat dari perspektif etika bisnis Islam. Hasil penelitian ini dengan studi literatur diperoleh kesimpulan bahwa sistem penjualan produk dan sponsor dalam MLM dilihat dari etika bisnis Islam tergantung pada permasalahannya. Dalam hal ini peneliti masih belum menemukan jawaban yang tepat dari hasil penelitiannya. Disatu sisi peneliti mengungkapkan bahwa sistem MLM tidak sesuai dengan anjuran dan tuntutan dalam etika bisnis Islam, karena dianggap adanya gharar, kurangnya transparan serta merugikan level yang paling bawah (down liner) tetapi disisi lain peneliti tidak bisa menafikan adanya sistem dalam MLM yang dianjurkan oleh Islam karena mendorong orang untuk membina hubungan silaturahmi.
  2. Cholida, Nailil (2003) melakukan penelitian dengan judul Strategi Pengembangan Jaringan Bisnis Multi Level Marketing (MLM) Syari’ah AHAD NET sebagai Upaya Penentuan peringkat dan Insentif. Hasilnya adalah dengan terus memperbaiki sistem pelatihan yang dilakukan dalam suatu jaringan dan meningkatkan pertemuan antar jaringan mitra niaga, peningkatan training atau pelatihan akan meningkatkan kualitas mitraniaga dalam pengembangan jaringannya dan akan berdampak pada penentuan peringkat dan insentif yang didapatkan oleh mitra niaga itu sendiri.
                  Dari penelitian terdahulu diatas, menunjukkan bahwa sistem Multi Level Marketing (MLM) tidak bertentangan dengan Islam bahkan dianjurkan oleh Islam karena mendorong orang untuk membina hubungan silaturahmi. Selain itu sistem jaringan dalam MLM dampaknya sangat besar terhadap penentuan peringkat dan insentif. Beberapa hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu di atas adalah berkaitan dengan:
  1. Jenis penelitian terdahulu adalah penelitian kualitatif dan studi kasus dengan menggunakan pendekatan study pustaka (library Reaserch), sedangkan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan alat analisis regresi.
  2. Begitu juga dengan indikator dan permasalahan menunjukkan adanya beberapa perbedaan dengan penelitian terdahulu. Sulaiman misalnya, Dia hanya ingin mendapat jawaban apakah sistem multi level marketing (MLM) tidak bertentangan dengan etika bisnis Islam, sedangkan dalam penelitian ini sama sekali tidak mempertentangkan MLM dengan Islan tetapi ingin membuktikan apakah MLM khususnya MLM Syariah memiliki pengaruh terhadap kebebasan finansial. Adapun Cholida fokus pada pengaruh pengembangan jaringan Bisnis MLM terhadap 2 (dua) vaiabel saja yaitu pada peringkat dan insentif. Sedangkan dalam penelitian ini lebih luas lagi yaitu ada 4 (empat) variabel yang diteliti, yaitu meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level), Sistem pendidikan dan pelatihan, penjualan produk, serta komisi dan bonus, apakah berpengaruh terhadap kebebasan finansial Distributor.

B. TINJAUAN UMUM TENTANG BISNIS JARINGAN MULTI LEVEL MARKETING (MLM) 
      Pada akhir-akhir ini bisnis dengan sistem Multi Level Marketing (MLM) atau pemasaran dengan cara berjenjang, disebut juga Network Marketing atau pemasaran dengan menggunakan jaringan, begitu marak, apalagi dalam suasana krisis ekonomi yang sampai sekarang belum kunjung berhenti.
      Jaringan adalah kata kunci yang harus benar-benar dipahami oleh siapa pun yang ingin sukses dalam hidup ini. (Jaringan Silaturahmi, http://www.mqbiz.com/, 2005). Kita memerlukan teman, relasi, kolega, mitra atau orang-orang yang dapat mendukung pengembangan kehidupan pribadi maupun profesional kita. Dapat dikatakan, kualitas kehidupan kita sangat ditentukan oleh kualitas jaringan [network] orang-orang dalam kehidupan kita. Sehingga sangatlah penting bagi siapapun yang ingin sukses untuk dapat memahami dan menguasai keterampilan mencari dan membangun jaringan. Sehingga tercapailah cita-cita dan tujuan hidup kita di dunia dan juga akhirat nanti.
                        Network Marketing/Multi Level Marketing (MLM) adalah Jaringan pribadi terwaralaba. Keunggulan sistem pemasaran jaringan ini adalah bahwa kekuatan hukum Metcalf dapat dimanfaatkan oleh orang rata-rata, orang-orang seperti kita, dengan syarat mematuhi hukum tersebut. Kalau kita mengikuti prinsip-prinsip hukum itu, bergabung dengan perusahaan pemasaran jaringan adalah permulaan yang baik, tetapi sekedar bergabung tidak memberi hak kepada kita untuk memanfaatkan kekuatan hukum ini.



Hukum Metcalf
                        Kedasyatan sebuah jaringan dijelaskan dalam buku Rich Dad’s The Business School karya Robert T. Kiyosaki, dengan mengatakan bahwa secara sederhana nilai sebuah jaringan dapat dijelaskan dalam hukum Metcalf. Hukum ini diambil dari nama Robert Metcalf, warga Amerika Serikat, yang pertama kali mencetuskannya. Metcalf juga dikenal sebagai pendiri perusahaan 3 Com Corp, yang memproduksi Palm Pilot. Dia Juga dikenal sebagai pencipta ether-net (internet). Dan yang membuat ia lebih terkenal adalah rumusan Hukum Metcalf-nya itu, yaitu:
Nilai Ekonomis sebuah jaringan = Jumlah pengguna2
(Nilai ekonomis sebuah jaringan sama dengan jumlah pengguna dikuadratkan)

                        Rumus ini dapat dilihat dalam kasus jaringan mesin faks. Jika hanya ada satu mesin faks di dunia ini, ia benar-benar tidak mempunyai nilai ekonomis. Tapi, ketika ada dua mesin faks, menurut Hukum Metcalf, nilai ekonomis mesin faks tersebut kini menjadi pangkat dua. Nilai ekonomis jaringan itu naik dari 0 menjadi 4. Tambahkan mesin faks ketiga, nilai ekonomis jaringan tersebut naik dari 4 menjadi 9. Jika jumlah mesin faks terus bertambah, nilai ekonomisnya berlipat pula. Dengan kata lain, nilai ekonomi sebuah jaringan naik menurut derte ukur, bukan deret hitung (Kuswara, 2005:6). Penjelasan lebih sederhana, ketika kita mempunyai telepon. Tidak akan ada artinya jika tidak ada orang lain yang mempunyai telepon. Pesawat telepon meningkat nilainya setelah menjadi jaringan menjadi jaringan telepon yang menglobal di seluruh dunia. Kini, sebuah pesawat telepon bisa mengontak puluhan ribu nomor telepon lain di seluruh dunia setiap saat. Itulah kedahsyatan sebuah jaringan.

Linier vs Eksponensial
                        Kedahsyatan jaringan dapat pula dijelaskan lewat perbedaan antara pertumbuhan eksponensial dan pertumbuhan linier. Istilah linier kita temukan dalam matematika dasar yang merujuk pada beberapa fungsi. Contoh sederhana adalah fungsi persamaan, seperti 
5 + 5 = 10
                        Disebut linier karena pertumbuhannya berjalan pada satu garis lurus secara bertahap. Persamaan linier dinamakan juga sebagai perhitungan-perhitungan pada “kekuatan yang pertama saja”. Sedangkan yang disebut eksponensial adalah suatu sistem perkalian yang lebih canggih yang dikenal dengan sistem perpangkatan. Contoh persamaan eksponensial adalah  52 = 25
                        Persamaan ini disebut eksponensial karena pada persamaan ini ada sebuah angka yang berada disebelah kanan atas yang berfungsi untuk menunjukkan berapa kali angka akarnya itu harus dikalikan. Persamaan ini biasa disebut perhitungan “kekuatan kedua” atau “kekuatan ketiga” dan seterusnya. Pertumbuhan eksponensial inilah bagi mereka yang memiliki bisnis jaringan. Jaringan akan mampu melipatgandakan kemampuan kita untuk mencapai kesuksesan dalam mengarungi kehidupan ini.
                        Selain itu, dalam pemasaran jaringan yang harus dilakukan adalah melakukan pembinaan motivasi (silaturahmi) agar distributor (members) dapat terus terbangun dan kuat. Faktor motivasi dalam bisnis ini sangat penting. selanjutnya, menyampaikan visi dan misi kita. Sebuah bisnis berbasis jaringan yang hanya disandarkan pada motivasi sekedar uang, itu tidak akan kuat. Tetapi, yang harus diperkuat adalah mencampurkan visi misi spiritual dan visi misi bisnis (www.mqbiz.com, 2005).
                       
  1. Asal Mula Multi Level Marketing (MLM)             
      Bagian ini akan menjelaskan sejarah dari MLM. Diharapkan dengan mengetahui sejarahnya akan dapat memberikan pengertian yang lebih mendalam mengenai tujuan awal dari bisnis pemasaran (Multi Level Marketing). Sejarah MLM dalam tulisan ini banyak diambil dari situs http://www.amway.co.id/directsale.asp. Dimana akar dari MLM sendiri tidak bisa dipisahkan dengan beridirinya Amway Corporation.
      Multi Level Marketing (MLM) ditemukan oleh dua orang profesor pemasaran dari Universitas Chicago pada tahun 1940-an. Produk pertama yang dijual adalah vitamin dan makanan tambahan Nutrilite.
      Saat itu, Nutrilite Products Inc. yang sebelumnya bernama California Vitamin Corporation milik Carl Rehnborg (Benny Santoso, 2003:24) merupakan salah satu perusahaan di Amerika yang dikenal telah menggunakan metode penjualan secara bertingkat. Dengan modal awal yang relatif tidak besar, seorang tenaga penjual biasa mendapatkan penghasilan melalui dua cara. Pertama, keuntungan diperoleh dari setiap program makanan tambahan yang berhasil dijual ke konsumen. Kedua, dalam bentuk potongan harga dari jumlah produk yang berhasil dijual oleh distributor yang direkrut dan dilatih oleh seorang tenaga penjual dari perusahaan.
      Rancangan penjualan perusahaan itu menarik perhatian Rich DeVos dan Jay Van Andel. Dua pemuda dari Michigan ini kemudian memutuskan bergabung sebagai tenaga penjual. Hasilnya, dalam kurun waktu sembilan tahun mereka tidak hanya menikmati keuntungan dari menjual produk Nutrilite, tapi yang paling melekat dalam benak mereka adalah kehebatan konsep penjualannya. Suatu konsep yang merupakan dasar dari terbentuknya Amway Corporation di kemudian hari.
      Pada pertengahan tahun 1950, organisasi dalam perusahaan Nutrilite mengalami guncangan. Momentum ini merupakan awal berdirinya Amway pada tahun 1959. Amway didirikan oleh Rich DeVos dan Jay Van Andel, berdasarkan suatu keyakinan, bahwa kesuksesan memasarkan suatu produk adalah menjualnya secara langsung kepada pelanggan. Berdasarkan pengalaman berharga yang diperoleh dari Nutrilite, mereka memulai usaha yang sederhana dengan menempati sebuah gudang di kota Ada, Michigan, dengan produk awal LOC (Liquid Organic Cleaner), suatu cairan pembersih biodegradable yang aman untuk lingkungan. Usaha ini kemudian berkembang menjadi Amway Corporation, sebuah perusahaan yang berskala Internasional di 80 negara.
      MLM sendiri mulai tumbuh di luar Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Dan dalam waktu singkat, ia berkembang pesat sebagai bagian yang terpenting dari industri penjualan langsung. Selama puluhan tahun MLM terbukti merupakan cara yang sangat sukses memberikan penghasilan yang layak kepada pelanggan secara langsung. Kesukesan ini terlihat nyata ketika pada tahun 1972 Amway membeli Nutrilite Inc. yang memproduksi vitamin dan makanan tambahan bermutu. Seperti halnya semua bentuk penjualan langsung, metode ini membawa manfaat yang luar biasa bagi pasar dengan memberikan kesempatan kepada ribuan orang yang mungkin terabaikan atau tidak terserap di pasar tenaga kerja. MLM merupakan cara yang cukup sederhana dan tidak mahal bagi siapa saja yang ingin belajar tentang dasar bisnis dan manajemen penjualan.
      MLM memang memberikan kesempatan kepada setiap orang, yang semula tidak diperhitungkan di dunia perdagangan. Bisnis ini menawarkan kemudahan bagi setiap orang, dengan cara yang sederhana, untuk menambah penghasilan mereka. MLM memperbolehkan orang berbisnis dengan produk atau jasa yang unik dan inovatif, membawa mereka ke pasar tanpa mengeluarkan biaya iklan di media masa yang sangat besar, dan tanpa harus bersaing di toko-toko pengecer. Suatu metode distribusi eceran dengan sentuhan pribadi yang sudah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
      Dari sejarah munculnya MLM  ini, dapat diketahui bahwa MLM muncul dengan tujuan utama untuk menjual produk baru yang belum dikenal luas oleh umum. Hubungan dari teman yang satu ke teman yang lain digunakan untuk memperkenalkan produk baru tersebut.

  1. Definisi Multi Level Marketing (MLM)
      MLM adalah menjual/memasarkan langsung suatu produk baik berupa barang atau jasa kepada konsumen. Sehingga biaya distribusi barang sangat minim atau sampai ketitik nol. MLM juga menghilangkan biaya promosi karena distribusi dan promosi ditangani langsung oleh distributor dengan sistem berjenjang (pelevelan). Dalam MLM ada unsur jasa, artinya seorang distributor menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia mendapatkan upah dari prosentasi harga barang dan jika dapat menjual sesuai target dia mendapat bonus yang ditetapkan perusahaan (http://www.syari'ahOnline.com, 2005). Hal ini diperkuat Charmichael (1996:2) dengan berpendapat bahwa :
Multi Level Marketing adalah suatu cara efektif, baik produk ataupun jasa yang dipindahkan atau didistribusikan tanpa biaya yang biasanya, dihubungkan dengan biaya operasi reklame tertentu, promosi dan pemasaran."

      Jika dilihat dari akar katanya MLM adalah singkatan dari Multi Level Marketing. Multi dapat diartikan "banyak", Level sama dengan "berjenjang" atau "tingkat", sedangkan Marketing adalah "pemasaran". Jadi, Multi Level Marketing adalah pemasaran yang (banyak) berjenjang. Karena anggota dari bisnis ini semakin banyak sehingga menjadi sebuah jaringan kerja, maka MLM disebut juga network marketing. Dengan kata lain, network marketing yaitu sistem pemasaran dengan menggunakan jaringan (Sopian 2004:3).
      Menurut Kuswara (2005:17) Multi Level Marketing (Pemasaran Multi Tingkat), yaitu sistem pemasaran melalui jaringan distribusi yang dibangun secara berjenjang dengan memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran.
      Istilah Multi Level Marketing (MLM) menurut Moch. Fachrur Rozi (2005) adalah sistem pemasaran yang berpijak pada jaringan keanggotaan yang berhimpun dalam kegiatan perdagangan baik barang maupun jasa. Yaitu bisnis pemasaran yang menerapkan sistem 'keuntungan berjenjang' berdasarkan tingkatan keanggotaan (membering) di suatu organisasi dagang.
            Sedangkan menurut Benny Santoso (2003:28) MLM hanyalah suatu metode bisnis alternatif yang berhubungan dengan Pemasaran dan Distribusi. Perhatian utama dari MLM adalah menentukan cara terbaik untuk menjual produk dari suatu perusahaan melalui inovasi di bidang pemasaran dan distribusi. Artinya MLM sama sekali bukanlah suatu cara ajaib yang bisa mendatangkan uang dengan cepat dan mudah.
      Berdasarkan definisi diatas, Multi Level Marketing (MLM) merupakan salah satu metode  untuk memasarkan suatu produk. Jadi, MLM berhubungan dengan cara memasarkan suatu produk dengan menerapkan sistem 'keuntungan berjenjang' dan memanfaatkan sebuah jaringan kerja (keanggotaan). Dengan kata lain, MLM adalah sebuah metode pemasaran barang dan atau jasa dari sistem penjualan langsung melalui program pemasaran berbentuk lebih dari satu tingkat, dimana mitra usaha mendapatkan komisi penjualan dan bonus penjualan dari hasil penjualan barang dan atau jasa yang dilakukannya sendiri dan anggota jaringan di dalam kelompoknya.
     
  1. Konsep Bisnis Multi Level Marketing (MLM)
      Konsep sistem MLM dalam bukunya Benny Santoso (2003:28-29) adalah berusaha memperpendek jalur yang ada pada sistem penjualan konvensional dengan cara mempersingkat jarak antara produsen dan konsumen. Perbedaan antara MLM (sistem penjualan langsung) dan sistem Penjualan Konvensional dapat dilihat pada diagaram dibawah ini.









Tabel 2.1
Perbedaan konsep penjualan konvensional/tidak langsung
dan penjualan langsung

Penjualan Konvensional
Penjualan Langsung
Produsen

Distributor/agen tunggal

Grosir/sub agen
                                                 
Pengecer

Konsumen

Produsen

Distributor Independent

Konsumen
Sumber: Santoso, Benny (2003:29(

Andrias Harefa (1999:4) menyatakan bahwa MLM bisa memotong biaya pemasaran dan distribusi yang besarnya sekitar 60% dari harga jual dan memberikannya kepada distributor independen dari perusahaan MLM yang yang ditentukan dengan suatu sistem berjenjang. Dengan demikian, harga dari produk yang dijual melalui MLM seharusnya bisa bersaing dengan produk yang dijual melalui cara konvensional (Benny Santoso, 2003:28-29).
Selain itu bisnis jaringan MLM memiliki sistem yang menjadi ciri khusus dan membedakannya dengan sistem pemasaran lain, diantara ciri-ciri khusus tersebut (Kuswara, 2005:17) adalah:
a.      Melakukan perekrutan anggota baru,
Keunggulan sistem pemasaran jaringan adalah kekuatan Hukum Metcalf dapat dimanfaatkan oleh setiap orang dengan syarat mematuhi hukum tersebut. Yaitu, tugas kita adalah menduplikasi seseorang (sponsor kita) persis seperti kita.
Orang-orang yang menjadi bagian atau anggota jaringan disebut network  members. Network members biasanya ada pada anggota jaringan pemula atau anggota yang tidak aktif (down line tidur). Pada tahap ini pertama kali members dikenalkan dengan visi, misi dan segala informasi yang berkaitan dengan perkumpulan jaringan yang diikuti.
b.      Terdapatnya banyak jenjang atau level,
Sesuatu yang khas dari MLM adalah adanya sistem penjenjangan atau tingkatan untuk setiap distributor yang bergabung, sesuai dengan prestasinya. Setiap distributor yang mampu merekrut beberapa down line, secara otomatis peringkatnya akan naik. Jika dia mampu membina down line-nya untuk melakukan hal serupa, peringkatnya akan terus meranjak sesuai dengan bertambahnya jaringan. Inilah yang dimaksud dengan pertumbuhan eksponensial.


c.       Sistem pendidikan dan pelatihan,
Alasan nomor satu Robert T. Kiyosaki merekomendasikan sebuah bisnis jaringan adalah karena sistem pendidikannya. Yaitu pendidikan bisnis yang mengubah hidup, artinya pendidikan yang mempunyai kekuatan untuk membuat perbedaan besar dalam hidup.
Untuk berhasil dalam bisnis jaringan menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Business School for people who like helping people (2005:14) ada 12 pelajaran bisnis jaringan yang harus dikuasai yaitu:
1).          Sikap terhadap kesuksesan
2).          Keahlian memimpin
3).          Keahlian berkomunikasi
4).          Keahlian manusia
5).          Mengatasi ketakutan pribadi, kerugian, tidak percaya diri
6).          Mengatasi rasa takut terhadap penolakan
7).          Keahlian manajemen uang
8).          Keahlian investasi
9).          Keahlian pertanggungjawaban
10).      Keahlian manajemen waktu
11).      Penentuan tujuan/cita-cita
12).      Sistematisasi
d.      Penjualan produk,
MLM adalah salah satu cabang dari Direct Selling (penjualan langsung). Direct Selling (DS) bermakna sebagai metode penjualan barang (produk) dan atau jasa tertentu kepada konsumen, dengan cara tatap muka di luar lokasi eceran tetap oleh jaringan pemasaran yang dikembangkan oleh mitra usaha. Bekerja berdasarkan komisi penjualan, bonus penjualan, dan iuran keanggotaan yang wajar.
e.       Adanya komisi dan bonus untuk tiap jenjangnya
Komisi berkaitan dengan omzet penjualan secara pribadi atau kelompok. Sedangkan bonus merupakan hadiah apabila seorang distributor telah mencapai target-target tertentu. Komisi dan bonus sebenarnya sesuatu yang umum dan terdapat dalam setiap bisnis apapun. Dalam bisnis MLM, komisi dan bonus sangat terkait dengan prestasi dari distributor.
            Dari ciri-ciri atau sistem diatas, calon distributor semacam 'membeli' hak untuk merekrut anggot baru, menjual produk, dan mendapatkan kompensasi dari hasil penjualan mereka sendiri maupun dari hasil penjualan anggota yang direkrut (downline) di dalam organisasi jaringan.

           
  1. Multi Level Marketing (MLM) Syari'ah
K.H Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dalam situs www.mqbiz.com mengatakan: "MLM boleh saja berasal dari barat. Namun, dalam praktek dan implementasinya, bisnis ini penuh nuansa Islam, baik silaturahmi, tolong menolong dan tawakal dalam merubah nasib.
     Bisnis MLM, menurut Setiawan Budi Utomo dalam majalah Modal No 12/2003 berpendapat: Bisnis MLM, dalam literatur Islam termasuk kategori mu'malah. Dibahas dalam Bab al-Buyu' (jual-beli) yang hukum asalnya secara prinsip boleh berdasarkan kaidah fiqih (al-ashlu fil asya' al ibahah; hukum asal segala sesuatu termasuk mu'amulah adalah boleh) selama bisnis tersebut bebas dari unsur-unsur haram seperti riba, ghoror (tipuan) dharar (bahaya), dan jahalah (ketidakjelasan), dzulum (merugikan hak orang lain), disamping barang atau jasa yang dibisniskan adalah halal.
     Masih menurut Setiawan Budi Utomo, Bisnis MLM dalam kajian fiqih kontemporer dapat ditinjau dari dua aspek, yakni produk barang atau jasa yang dijual dan cara ataupun sistem penjualan (selling/marketing). Mengenai produk barang yang dijual, apakah halal atau haram tergantung kandungannya apakah terdapat sesuatu yang diharamkan Allah menurut kesepakatan (ijma') ulama atau tidak, begitu juga jasa yang dijual.
     Perusahaan MLM tidak hanya sekedar menjalankan penjualan produksi barang tetapi juga jasa yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus dan sebagainya. Jasa perantara penjualan ini dalam terminologi fiqih disebut "simsarah/simsar (makelar)" ialah perantara perdagangan (orang yang menjualkan barang atau mencarikan pembeli) atau perantara antara penjual dan pembeli untuk memudahkan jual beli. Pekerjaan samsarah/simsar berupa makelar, distributor, agen dan sebagainya dalam fiqih Islam adalah termasuk akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang dengan imbalan. Pada dasarnya, para ulama seperti Ibnu 'Abbas, Imam Bukhari, Ibnu Sirin, 'Atha, Ibrahim, memandang boleh jasa ini (Setiawan Budi Utomo, Majalah Modal No. 12/2003).
     Adapun, jika MLM diartikan sebagai bisnis jaringan, maka pada kata 'jaringan' terkandung nilai inti yang menjadi dasar kesuksesan seorang yang bergelut dalam sebuah bisnis berbasis 'networking'. Sehingga pemahaman atas kata ini menjadi suatu hal yang sangat penting. Dalam khazanah islam, kita mengenal istilah silaturahmi untuk maksud yang sama. Secara estimologis, silaturahmi berarti menghubungkan kekerabatan dan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang, sekaligus menghilangkan segala kedengkian, kebencian dan permusuhan diantara sesama.
     Silaturahmi pada akhirnya akan melahirkan kekuatan jaringan yang sangat dahsyat. Dengan kekuatan silaturahmilah sehingga tidak akan ada masalah, kecuali bisa dipecahkan. Tidak ada hal yang berat keuali bisa diangkat. Dan Tidak ada jalan buntu kecuali bisa ditembus. Inilah esensi penting dari silaturahmi.
     Kita bekerja keras mencari dan membangun jaringan (MLM) berarti kita sedang mengembangkan silaturahmi. Silaturahmi melipatgandakan rizki sebagaimana halnya bisnis pemasaran jaringan yang mampu membuat pertumbuhan rizki kita menjadi sangat eksponensial dahsyatnya (www.mqbiz.com, 2005).
     K.H Abdullah Gymnastiar, dalam tulisannya di harian Republika, rubrik Taushiyah, alat ukur keuntungan dalam berbisnis atau bekerja itu ada lima. Pertama, keuntungan amal shaleh. Kedua, keuntungan membangun nama baik. Ketiga, keuntungan menambah ilmu, pengalaman dan wawasan. Keempat, keuntungan membangun relasi atau silahturahmi. Kelima, keuntungan yang tidak sekadar mendapatkan manfaat bagi diri sendiri, melainkan bagi banyak orang dan memuaskan orang lain.
     Ternyata, dari lima alat ukur itu, semua terakomodir dalam bisnis MLM. Misalnya, keuntungan membangun relasi dan silaturahmi, merupakan hal pokok dalam bisnis MLM. Sebab, dalam bisnis MLM, dibangun atas dasar dua prinsip: menjual dan mensponsori orang lain ke dalam bisnis ini. Kedua hal tersebut, hanya dapat dilakukan dengan melakukan silaturahmi (dalam MLM disebut home sharing, home meeting).
Pada tahun 1990-2003 di Tanah Air mulai marak perusahaan MLM berbasis syari'ah. Kemudian, bagaimana kita menilai dan menempatkan bisnis MLM yang berlabel syari'ah ? Aa Gym sudah menjawabnya dengan keberadaan MQ-Net, bahkan Ahad-Net sudah lebih dahulu menjawab sebagai perusahaan MLM pertama di Indonesia yang "berlabelkan" syari'ah. Kehadiran beberap MLM Syari'ah menurut Sopian (2004) dalam bukunya "Kontroversi Bisnis AA Gym" sepertinya mencoba memberikan jawaban bahwa tidak semua bisnis MLM bertentangan dengan ajaran atau nilai-nilai syari'ah (Sopian, 2004:14).
Pengertian MLM Syari’ah sendiri menurut Kuswara (2005:86) adalah sebuah usaha MLM yang mendasarkan sistem operasionalnya pada prinsip-prinsip syari’ah. Dengan dimikian, sistem bisnis MLM konvensional yang berkembang saat ini dicuci, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan syari’ah. Aspek-aspek haram dan syubhat dihilangkan dan diganti dengan nilai-nilai ekonomi syari’ah yang berlandaskan taukhid, akhlak dan hukum muamalah.
Perusahaan MLM yang menetapkan landasan syari'ah sebagian mengacu pada sabda Rasulullah saw tentang pentingnya konsep berserikat dan berjamaah. Rasulullah saw bersabda,
قوله صلى الله عليه وسلم قال الله تعالى اناثالث الشّركين مالم يخُنْ احدهما صاحِبهُ فإذا خانه خرجت من بينهما (رواه ابوداود)
"Sesungguhnya Allah berfirman, Aku bersama orang-orang yang berserikat selama seorang diantara mereka tidak berkhianat kepada yang lain dan apabila telah berkhianat yang satu terhadap yang lain, maka Aku akan keluar dari mereka". (HR Imam Abu Daud)

Dalam ayat al-Quran, Allah Swt. Berfirman,
واعتصموا بحبل الله جميعا وّلاتفرّقوا, واذكروانعمت الله عليكم إذكنتم اعدآءً فالّف بين قلوبكم فاَصْبحتم بنعمتهِ إخوانا ﴿العمران : ۱۰۳﴾
            "Dan berpeganglah kamu kekalian kepada agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika dahulu kamu bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan hati kamu, lalu jadilah kamu orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran:103)
MLM Syari'ah baik secara ideologis maupun metologis merupakan bagian dari mata rantai yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan bisnis-bisnis berbasis syari'ah lain sebelumnya seperti perbankan syari'ah, asuransi syari'ah, reksadana syari'ah dan lain-lain. Dan pada gilirannya ialah MLM Syari'ah. Multi Level Marketing (MLM) Syari'ah menurut Fachrur Rozi (2005:72) merupakan sebuah sistem dimana secara formal-institusional bangunan metodologinya merujuk pada kerangka dan nilai-nilai Syari'ah dalam pengertian Fiqih Islam.
Selanjutnya, ada beberapa syarat menurut Sopian (2004:16-17) yang harus dipenuhi oleh sebuah MLM agar tidak menyalahi Syari'ah, yaitu:
1)      Adanya transaksi riil atas barang/produk yang diperjual belikan
2)      Tidak ada excessive mark up harga barang
3)      Harga barang diketahui dengan jelas pada saat transaksi
4)      Bonus yang diberikan harus jelas angka nisbahnya sejah awal
5)      Tidak ada eksploitasi dalam urutan pebagian bonus antara orang yang awal menjadi anggota dengan yang akhir
6)      Pembagian bonus semestinya mencerminkan usaha masing-masing anggota
7)      Barang atau jasa yang diperdagangkan bukan barang haram
8)      Sistem MLM tidak boleh mendorong pada pemborosan
9)      Tidak menitik beratkan pada barang-barang yang tersier ketika ummat masih bergelut dengan kebutuhan primer.




C.     PEMBAHASAN TENTANG THE CASFLOW QUADRANT ROBERT T. KIYOSAKI
1.      Penjelasan dari Masing-masing The Cashflow Quadrant
            The Cashflow Quadrant adalah tentang keempat jenis orang yang berbeda yang ada di dalam dunia bisnis, tentang siapa diri mereka dan apa yang membuat individu di masing-masing kuadran unik. Kita masing-masing menempati sedikitnya satu dari keempat kuadrant casflow quadrant, berikut adalah Cashflow Quadrant.
            Huruf dalam masing-masing kuadrant mewakili :
E   untuk employee (pegawai)
S    untuk self-employed (pekerja lepas)
B   untuk business owner (pemiliki usaha)
I    untuk Investor (penanam modal)
Kuadran 1 (Employee) 
“E” (pegawai), seseorang yang berasal dari kuadrant “E” atau pegawai, kemungkinan akan berkata “saya mencari pekerjaan yang aman dan menjamin, dengan bayaran tinggi dan tujuan bagus”. “Aman” atau “tunjangan” yang biasa mereka katakan. Golongan ini ingin rasa takutnya dipuaskan dengan beberapa derajat kepastian, itu sebabnya ia mencari keamanan dan perjanjian yang mengikat dalam hal pekerjaan.
Seorang pegawai (employee) adalah mereka yang bekerja kepada pihak lain (pengusaha). Mereka bias staff, manager sampai direktur pada suatu perusahaan. Golongan ini umumnya hanya mencari keamanan dalam bidang finansal/keuangan berupa gaji tetap tiap bulan dan segala macam jaminan termasuk pension. Yang terpenting bukanlah apa yang mereka lakukan, tapi perjanjian mengikat yang mereka miliki dengan orang atau organisasi yang mempekerjakannya.
Kuadran 2 (self-employed)
“S” (pekerja lepas/mandiri), seseorang yang berasal dari kuadran “S”, atau pekerja lepas/mandiri, kemungkinan akan berkata: “saya sepertinya tak bisa menemukan orang yang mau bekerja dan melakukan tugas ini dengan benar” atau “saya menggunakan 20 jam tenaga saya dalam proyek ini”. Kelompok ini oleh Robert T. Kiyosaki dinamakan “kelompok-melakukan-sendiri”. Kalau menyangkut rasa takut dan resiko finansial, mereka ingin “menaklukan benteng dengan memegang tanduknya”.
Kelompok “S” terdiri dari mereka yang mempunyai profesi relative mandiri (bekerja untuk dirinya sendiri), tidak tergantung sama orang lain. Dalam kelompok ini termasuk wiraniaga komisi langsung –agen real estate, misalnya- dan juga pemilik bisnis kecil seperti pemilik toko eceran, pemiliki restoran, konsultan, ahli terapi, pengacara, artis, dokter dan sebagainya. Uang dalam kelompok ini bukanlah yang terpenting; kemandirianlah yang terpenting. Intinya, pekerjaan yang secara prinsip tidak bisa dikerjakan oleh orang lain kecuali oleh dirinya sendiri dan atau di bantu orang lain.
Kuadran 3 (business owner)
“B” (pemilik usaha), adalah mereka yang mempunyai usaha sendiri, mereka tidak bekerja sendiri, melainkan di Bantu oleh pekerjanya (memperkerjakan orang lain). Moto sejati business owner adalah “mengapa melakukannya sendiri kalau kau bisa menyewa orang lain untuk melakukannya bagimu, dan mereka bisa melakukannya dengan lebih baik?”.  Kelompok ini nyaris bisa dikatakan sebagai lawan “S”. Untuk menjadi berhasil dalam bisnis, keterampilan teknis diperlukan seperti membaca laporan keuangan, pemasaran, penjualan, negoisasi dan sangat ditekankan pada belajar cara bekerja sama dan memimpin. “keterampilan teknis bisnis mudah dipelajari… yang sulit adalah bekerja sama dengan orang lain.
Untuk menjadi berhasil sebagai “B” diperlukan:
a.      kepemilikan atau pengendalian sistem
b.      kemampuan memimpin orang
Seseorang yang beroperasi dari kuadran “B” atau pemilik bisnis kemungkinan akan berkata: “saya mencari seseorang prisiden baru untuk menjalankan perusahaan saya”.
Kuadran 4 (Investor)
“I” (penanam modal/investor). Yaitu para pemegang saham yang menanamkan uangnya sehingga menghasilkan uang. Dalam kelompok ini mereka tidak bekerja untuk uang, tapi uang bekerja untuk mereka. Karena tanpa harus bekerja pun mereka sudah mendapatkan uang (passive income). Investor membuat uang dengan uang. Mereka tidak perlu bekerja karena uang mereka bekerja untuk mereka. Kuadran “I” adalah arena bermain golongan kaya. Di kuadran manapun orang menghasilkan uang, jika berharap suatu hari akan kaya, mereka pada akhirnya harus memasuki kuadran “I”.
            Jadi Cashflow Quadrant, adalah memaparkan perbedaan tentang cara memperoleh penghasilan, entah sebagai “E” (pegawai), “S” (pekerja lepas), “B” (pemilik bisnis) atau “I” penanam modal.




Gambar 2.1
Perpedaan masing-masing diagram The Casflow Quadrant
Robert T. Kiyosaki






Sumber: Kiyosaki, Robert T,

  1. Kebebasan Finansial
            Tempat kita dalam Cashflow Quadrant tersebut ditentukan oleh sumber pemasukan kita. Kebanyakan dari kita yang mengandalkan slip gaji dalam casflow quadrant termasuk employee, sementara yang lain self-employed. Kedua kelompok individu ini menempati sisi kiri Cashflow Quadrant. Sisi kanan Cashflow Quadrant untuk para individu yang menerima pemasukan dari bisnis atau investasi milik mereka.
            Sebagian besar dari kita pernah mendengar bahwa rahasia memperoleh kekayaan besar adalah
1).    OPT-Other People’s Time (Waktu Orang Lain).
2).    OPM- Other People’s Money (Uang Orang Lain).
OPT dan OPM ditemukan di sisi kanan Quadrant. Kebanyakan orang yang bekerja di sisi kiri Quadrant adalah OP (Other People) yang waktu dan uangnya dipergunakan. Dengan kata lain, pekerjaan yang bagus menghasilkan kerja yang lebih keras dan jam kerja yang lebih panjang. Sedangkan dalam Quadrant sebelah kanan berarti kita bekerja lebih sedikit, menghasilkan lebih banyak dan menikmati lebih banyak waktu luang.
            Orang yang berada disebelah kanan Cashflow Quadrant menurut Robert T. Kiyosaki telah mencapai “Kebebasan Finansial”, walaupun kebebasan finansial bisa ditemukan dalam keempat kuadrant ini. Akan tetapi, keterampilan “B” atau “I” akan membantu mencapai target finansial dengan lebih cepat. Seorang “E” yang berhasil seharusnya menjadi seorang “I” yang berhasil juga. 
“I” dan “B” merupakan tempat kebebasan finansial, karena dalam kuadrant “B”, orang-orang bekerja untuknya dan dalam kuadran “I”, uang bekerja untuk kita. Kita bebas untuk bekerja atau tidak bekerja. Dalam kedua kuadran ini memberi kita kebebasan fisik seutuhnya dari keharusan bekerja.
            Secara sederhana yang menunjukkan perbedaan antara sisi kiri ”E” /“S” dengan sisi kanan “B”/”I” yang merupakan tempat kebebasan finansial adalah, bahwa seseorang yang berada disebelah kiri kuadran bisa dikatakan seorang yang memiliki sebuah pekerjaan. Sedangkan disebelah kanan kuadran merupakan seorang yang memililki sebuah “sistem” dan kemudian menyewa orang-orang berkompeten untuk menjalankan sistem tersebut.
            Robert T. Kiyosaki menunjukkan bahwa di sisi kiri Kuadran, karyawan dan orang yang bekerja sendiri mewakili cara mendapatkan uang sendirian, sebagai pribadi. Artinya potensi penghasilannya terbatas, terbatas karena pada kemampuan mereka sendiri dan waktu pribadi mereka untuk bekerja. Namun orang-orang sukses di sisi kanan Kuadran bekerja dalam tim. Mereka membentuk jaringan sendiri untuk mencapai kesuksesan. Potensi penghasilannya tidak terbatas karena didasarkan pada waktu orang lain dan uang orang lain yang bekerja untuk mereka.
Gambar 2.2
Perpedaan sisi kiri dan sisi kanan
Diagram The Casflow Quadrant Robert T. Kiyosaki




)Sumber: Kiyosaki, Robert T, 2005:ix(
D.    HUBUNGAN ANTARA BISNIS JARINGAN DENGAN KEBEBASAN FINANSIAL
Orang - orang sukses mencari dan membangun jaringan, orang - orang lain mencari pekerjaan” Robert T. Kiyosaki
     
Orang-orang sukses ternyata adalah mereka yang berhasil mencari dan membangun jaringan. Kita boleh memiliki ide atau produk terhebat, tetapi hanya akan sukses kalau kita mempunyai jaringan untuk memberi tahu orang tentangnya dan jaringan distribusi untuk menjualnya.
Beberapa bisnis paling sukses yang kita ketahui ternyata disebabkan karena jaringan pelanggan, wiraniaga, pemasok dan sebagainya. Sebagai contoh, saat ini ada dua jenis bisnis yang memanfaatkan jaringan sebagai landasan operasionalnya. Yaitu, waralaba dan network marketing.
Waralaba adalah bentuk jaringan bisnis yang terdiri dari banyak pengusaha yang bekerja bersama dengan sistem yang sama. Restoran Ayam Bakar Wong Solo milik Puspo Wardoyo misalnya, restoran ini menawarkan sistem pengelolaanya kepada siapappun yang mau. Pemiliknya tinggal mengutip fee, baik dari initial, royalti, management, ataupun technical. Inilah bisnsi yang memanfaatkan kekuatan jaringan.
Sedangkan network marketing bukanlah jaringan bisnis terwaralaba, melainkan jaringan pribadi terwaralaba. Keunggulan sistem pemasaran jaringan ini  adalah kekuatan hukum Metcalf. Kunci menuju kesuksesan finansial adalah dengan menemukan dan membangun jaringan.
Orang-orang yang berada dalam bisnis jaringan adalah bekerja dalam tim. Dalam bisnis jaringan memiliki potensi penghasilan tidak terbatas (bebas finansial) karena didasarkan pada waktu orang lain dan uang orang lain yang bekerja untuk mereka.
Jaringan, beberap bisnis paling sukses yang kita ketahui kebanyakan disebabkan karena jaringan pelanggan, wiraniaga, pemasok dan sebagainya. Ide atau produk akan sukses kalau kita mempunyai jaringan untuk memberi tahu orang tentangnya dan jaringan distribusi untuk menjualnya.  Kunci menuju kesuksesan finansial adalah dengan menemukan dan membangun jaringan. Hal ini dinyatakan dalam sabda Nabi SAW,
عن أبى هريرة رضى الله عنه قل: قل رسول الله صلى عليه وسلم: من أحب ان يبسط له فى رزقه وأن ينسافى أثره فليصل رحمه
 (اخرجه البخرى)
"Barang siapa yang mempunyai keinginan untuk diluaskan rizkinya yang diakhirkan ajalnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi" (HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah).

E. KERANGKA KONSEPTUAL
       Dari teori-teori yang telah diuraikan, maka dapat dibuat sebuah kerangka pemikiran sehubungan dengan permasalahan yang ada kedalam suatu bentuk model konsepsi sebagai berikut :
Gambar 2.3
Model Konsepsi
Pengaruh Bisnis Jaringan Multi Level Marketing (MLM) Syari’ah Terhadap Kebebasan Finansial Distributor (Perspektif The Qashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki).








Bisnis Jaringan MLM Syari’ah
 

Kebebasan Finansial Distributor
 




 



     

D. HIPOTESIS
       Berdasarkan rumusan masalah serta landasan teori yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan adalah :
H0
:
Diduga bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) Syari'ah Ahad-Net yang meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1),  Sistem pendidikan dan pelatihan (X2), Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4) tidak ada pengaruh terhadap kebebasan finansial Distributor ditinjau dari Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki(Y).
H1
:
Diduga bisnis jaringan Multi Level Marketing (MLM) Syari'ah Ahad-Net yang meliputi perekrutan anggota baru (jenjang atau level) (X1),  Sistem pendidikan dan pelatihan (X2), Penjualan produk (X3), serta komisi dan bonus (X4) ada pengaruh terhadap kebebasan finansial Distributor ditinjau dari Perspektif The Cashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki(Y).

Gambar 2.4
Model Hipotesis
Pengaruh Bisnis Jaringan Multi Level Marketing (MLM) Syari’ah Terhadap Kebebasan Finansial Distributor (Perspektif The Qashflow Quadrant Robert T. Kiyosaki).






 









      Sumber : Data diolah

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Malang Raya, dan lokasi utama yang diambil adalah di Mitrasalur Ahad-Net Malang Jl. Raya Tlogo Mas No 28 Landung Sari, Malang. Karena tempat tersebut merupakan salah satu pusat kegiatan bisnis MLM Syari'ah Ahad-Net di daerah Malang Raya dan sekitarnya.

B. Jenis penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian survey, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang utama. Pada umumnya yang merupakan unit analisis dalam penelitian survey adalah individu (Singrimbun 1989). Oleh karena itu unit analisis dalam penelitian ini adalah distributor aktif pada Multi Level Marketing (MLM) Syari’ah Ahad-Net Malang, Jawa Timur.
Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu ingin menguji hubungan antara bisnis jaringan MLM Syari’ah terhadap kebebasan finansial perspektif Robert T. Kiyosaki, maka penelitian ini dikategorikan penelitian penjelasan atau explanatory reseach, dimana penelitian ini menurut Singarimbun dan Efendi (1995:5) adalah menjelaskan hubungan melalui pengujian hipotesis.

C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek-objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 1994). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh distributor aktif MLM Syari’ah Ahad-Net Malang.
Sampel adalah bagian populasi atau bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi, apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diperlakukan sebagai populasi, oleh karena itu sampel harus representatif (Sugiyono, 1994). Agar ukuran sampel yang diteliti dapat representatif maka dihitung dengan menggunakan rumus Slovin dalam Umar (1999) sebagai beriku:

                              N
n =
                         1 + Ne2

Dimana :   n           = ukuran sampel
                  N         = ukuran populasi
 e           = persentasi (%) kelonggaran ketidaktelitian (presisi)
 karena kesalahan pengambilan sampel yang masih ditolelir sebesar 10% atau 0,1
Dengan pertimbangan persentasi 10% atau 0,1 maka diperlukan sampel minimum sebesar 52 dengan perhitungan sebagai berikut:
     
Jadi sampel pada penelitian ini adalah 51,69 yang dibulatkan menjadi 52 orang dan sudah dianggap representatif dari keseluruhan responden.
Teknik sampling yang digunakan adalah proportional random sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak dengan jumlah yang proporsional.

D. Data dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.      Data primer, merupakan data yang diperoleh langsung dari obyeknya, melalui wawancara dan penyebaran kuesioner/angket kepada responden yang digunakan sebagai sampel penelitian.
b.      Data sekunder, merupakan data yang digunakan untuk menunjang dan melengkapi data primer, yang berasal dari cacatan-catatan, dokumentasi atau arsip dari lokasi penelitian.
E. Teknik  Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan:
  1. Kuesioner, yakni sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang mendasar dari subyek atau responden yang diteliti. Untuk mendapat data tersebut digunakan kuesioner yang bersifat tertutup yaitu pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa hingga responden dibatasi dalam memberi jawaban kepada beberapa alternatif saja atau pada satu jawaban saja (Nazir, 1988).
  2. Interview atau wawancara, merupakan suatu cara yang dilakukan dengan jalan mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pihak-pihak yang bersangkutan dengan tujuan penelitian.
  3. Dokumentasi, merupakan cara yang dilakukan untuk memperoleh informasi melalui dokumen-dokumen, publikasi dan literatur atau jurnal-jurnal yang relevan dengan tujuan penelitian.


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar