Analisis Dampak isu Pemanasan Global (Global Warming) Terhadap Keputusan Pembelian Produk Lemari Es Ramah Lingkungan (Studi pada masyarakat Perumahan Istana Gajayana, Malang)

Admin
Analisis Dampak isu Pemanasan Global (Global Warming) Terhadap Keputusan Pembelian Produk Lemari Es Ramah Lingkungan (Studi pada masyarakat Perumahan Istana Gajayana, Malang)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Penelitian ini di latar belakangi oleh perkembangan tuntutan dan kebutuhan kehidupan menuju kearah semakin canggih, yang ditandai dengan semakin pentingnya informasi dalam banyak aspek kehidupan manusia. Dengan tersedianya berbagai bentuk media informasi yang semakin modern, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Dengan menggunakan berbagai media, dan peralatan telekomunikasi yang canggih, teknologi informasi akan terus berkembang dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia di seluruh dunia.  Saat ini sangat dibutuhkan berbagai bentuk informasi yang dapat menunjang dalam pengambilan keputusan secara cepat. Informasi yang dibutuhkan haruslah akurat dan dapat diandalkan sehingga dapat memberikan nilai lebih bagi pengguna informasi (Kumorotomo, 1994: 1).  
Kemajuan peradaban manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi abad ini telah memudahkan manusia untuk  berkomunikasi satu sama lain. Setiap informasi penting dari negara manapun akan dapat diakses masyarakat di seluruh dunia. Menghadapi hal semacam ini setiap orang harus dapat menentukan sikap dan mengambil keputusan  agar dapat memilih informasi yang tepat bagi dirinya.
Pada dasarnya informasi yang ada baik atau buruk, benar atau salah pada hakekatnya bersifat netral. Artinya akibat dan efek informasi bagi masyarakat tergantung pada kepandaian dan kepiawaian masyarakat untuk menggunakan informasi tersebut. Saat ini Sumber Informasi sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Sangat sulit untuk membatasi suatu informasi untuk tidak sampai pada masyarakat. Kita tidak mungkin menghalangi adanya informasi, tindakan yang tepat adalah menyiapkan masyarakat untuk bisa menangani, menerima, menilai, memutuskan dan memilih informasi yang tersedia. Penyiapan kondisi psikologis bagi masyarakat untuk menerima, menilai, memutuskan dan memilih informasi bagi diri mereka sendiri akan lebih efektif dan mendewasakan masyarakat untuk bisa mengelola informasi dengan baik. Informasi yang benar akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi pengguna informasi. Sehingga informasi yang bernilai, kaya dan bermutu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi
Saat ini di tengah masyarakat kita sedang maraknya isu tentang Pemanasan Global (Global Warming). Sebagian besar dari kita sudah tahu mengenai pemanasan global dari berbagai macam media informasi. Pemanasan global sendiri adalah meningkatnya temperatur suhu rata-rata diatmospher, laut dan daratan di bumi. Penyebab dari peningkatan yang cukup drastis ini adalah pembakaran bahan bakar fosil terutama di sektor industri, kebutuhan bahan baku dari sumber daya alam, dan pemanfaatan teknologi yang tidak ramah lingkungan (Rusbiantoro, 2008: 6). Dampak yang ditimbulkan adalah perubahan iklim dan cuaca serta naiknya permukaan air laut, sehingga menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor diberbagai daerah. Gejala pemanasan global  merupakan suatu konsekuensi dari kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang semakin pesat. Jadi cepat atau lambat, kita akan terkena imbasnya yang menimbulkan pengaruh negatif yang dahsyat dalam jangka waktu yang panjang terhadap kehidupan manusia di bumi. Dalam menghadapi situasi yang sedemikian rupa, yang kita butuhkan adalah resolusi gaya hidup. Sebab dengan demikian akan mengurangi penggunaan energi yang dakibat gaya hidup masyarakat yang konsumtif.
Pemanasan global telah menjadi sorotan utama masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Memang tidak banyak yang memahami dan peduli terhadap isu perubahan iklim, sebab banyak yang mengatakan bahwa dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan.
Adanya informasi mengenai dampak pemanasan global seharusnya menggugah kesadaran kita untuk peduli  lingkungan untuk menahan laju dampak pemanasan global dan menyelamatkan keberlanjutan kehidupan Permasalahan lingkungan dewasa ini mendapat perhatian yang sangat besar dari masyarakat dunia. Masalah tersebut timbul karena perubahan lingkungan menyebabkan lingkungan itu tidak sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia (degradasi lingkungan). Sebagaimana diketahui bahwa masalah lingkungan yang kita hadapi diantaranya berkaitan dengan persoalan produksi barang dan jasa yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dan kurang memperhatikan dampak yang ditimbulkan terhadap kerusakan lingkungan, terlihat masih banyak dalam memproduksi barang dan jasa hanya mempertimbangkan faktor ekonomi (Indrianti, 2007: 6).
Masyarakat semakin menyadari pentingnya kelestarian lingkungan, dan konsumen menginginkan produk yang tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Kenyataan tersebut menyadarkan produsen agar dapat mengubah orientasinya dalam menghasilkan produk yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi semata, melainkan juga mempertimbangkan masalah lingkungan sebagaimana yang dituntut konsumen. Tuntutan konsumen terhadap produk yang ramah lingkungan tersebut konsekuensinya adalah membuat para produsen terus berupaya melakukan terobosan-terobosan baru yang lebih inovatif dalam memproduksi barang-barang yang ramah lingkungan.
Mulai akhir tahun 2007, pemerintah memberikan informasi peraturan baru yaitu larangan untuk memperjual-belikan  produk yang mengandung bahan CFC (Cloro Fluoro Carbon). CFC dituduh sebagai biang kerok kerusakan lingkungan, yaitu merusak lapisan ozon terutama di atmosfer kedua kutub bumi. Bahan CFC salah satunya terdapat pada produk lemari es. Bahan media pendingin yang biasa disebut dengan freon atau CFC dilarang beredar, termasuk di Indonesia. Sebab CFC telah dikategorikan sebagai BPO (Bahan Perusak Ozon).  Hal ini dilakukan dalam upaya melindungi lapisan ozon yang tingkat kerusakannya sangat parah. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi pidana atau denda. Produk lama yang masih ada, hanya boleh diperdagangkan dan dipergunakan hingga 31 Desember 2007 (Jawa Pos, 02 Mei  2007).
Adanya informasi tentang larangan pemerintah tersebut tidak membuat para produsen lemari es gentar, mereka berusaha agar produknya tetap diterima di seluruh dunia. Sekarang banyak produsen yang sudah beralih menggunakan bahan pendingin HFC (Hydro Fluoro Carbon) bahan yang jauh lebih ramah lingkungan yang terdapat pada produk lemari es. Dengan bahan yang mampu mempertahankan kesejukan yang lebih lama, ditambah dengan pengembangan kompresor yang makin efisien, akan lebih menghemat pemakaian tenaga listrik dan lebih ramah lingkungan.
Memiliki sebuah kulkas canggih dan modern memang sudah bukan hanya sekedar impian. Lemari es kini menjadi kebutuhan utama di setiap rumah tangga, yang di pakai sehari-hari. Akan tetapi juga merupakan suatu gaya hidup (life style), konsumen dalam rangka mengekspresikan dirinya. Sehingga penggunaan akan lamari es fungsinya menjadi jauh lebih luas lagi.
 Banyak energi yang mengalir ke rumah digunakan untuk menggerakkan peralatan rumah tangga. Hal itu menghasilkan 20% emisi karbon dunia (Indrianti, 2007: 6). Menanggapi hal tersebut, sebagian masyarakat menyadari pentingnya menggunakan peralatan rumah tangga yang ramah lingkungan dan hemat energi. Sehingga selain mereka ikut menjaga, melindungi dan peduli lingkungan, tagihan listrik mereka menjadi jauh lebih murah di bandingkan bila mereka memakai produk elektronik lama yang tidak ramah lingkungan. Sekarang banyak kita jumpai produk ramah lingkungan yang pemakaiannya akan membantu mengurangi Dampak Global Warming. Dan diharapkan masyarakat ikut berpartisipasi dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh Global Warming dengan menggunakan produk ramah lingkungan.
Sebagaimana konsumen di berbagai belahan dunia lain, konsumen sangat beragam. Mereka berbeda dalam hal adat istiadat dan budaya, usia, pendidikan, pekerjaan, gaya hidup. Mereka memiliki kegiatan dan hobi yang berbeda. Setiap individu adalah seorang konsumen, karena ia melakukan kegiatan konsumsi baik pangan, nonpangan maupun jasa. Konsumen yang beragam memiliki kebebasan untuk memilih ratusan produk yang akan dibelinya. Keputusan membeli ada pada diri konsumen. Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam membeli produk tertentu. Konsumen akan membeli produk yang sesuai dengan kebutuhannya, seleranya, dan daya belinya (Sumarwan, 2002: 24).
Dalam pembelian produk, konsumen juga dihadapkan dengan berbagai masalah.  Konsumen mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sebelum membeli sebuah produk, baik itu berupa barang ataupun jasa. Banyak sekali pertimbangan yang mereka lakukan karena adanya pengaruh-pengaruh, baik secara internal dan eksternal. Hal-hal seperti yang disebutkan diatas adalah sebagian hal yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Dalam penelitian ini obyek yang diteliti ialah masyarakat Perumahan Istana Gajayana, Malang. Dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Informasi Pemanasan Global berpengaruh terhadap keputusan pembelian lemari es ramah lingkungan.
Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul: Analisis Dampak isu Pemanasan Global (Global Warming) Terhadap Keputusan Pembelian Produk Lemari Es Ramah Lingkungan (Studi pada masyarakat Perumahan Istana Gajayana, Malang)
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, secara spesifik dapat dirumuskan,
1.      Apakah dampak isu Pemanasan Global (Global Warming) berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk lemari es ramah lingkungan?
2.      Faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen?

C.    TUJUAN PENELITIAN
1.      Mengetahui dampak isu Pemanasan Global (Global Warming) terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk lemari es ramah lingkungan.
2.      Mengetahui faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

D.    BATASAN PENELITIAN
Batasan masalah pada penelitian ini adalah pada ruang lingkup keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk lemari es ramah lingkungan semua jenis yang disebabkan oleh adanya isu Pemanasan Global (Global Warming) dan faktor yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.

E.     MANFAAT PENELITIAN
Adapun kontribusi yang di harapkan dari penelitian ini adalah:
1.      Bagi peneliti
Dapat memperluas wawasan, pengetahuan dan pengalaman penulis untuk berfikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi permasalahan yang terjadi dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh peneliti selama masa perkuliahan
2.      Bagi lembaga pendidikan
Hasil ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan sebagai bahan masukan bagi fakultas untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang diberikan mampu memenuhi tuntutan perkembangan dunia perekonomian dan pemasaran global saat ini. Dan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk pengembangan selanjutnya.
3.      Bagi masyarakat umum
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna, menambah pengetahuan mengenai bagaimana konsumen melakukan keputusan pembelian terhadap suatu barang yang sesuai dengan kebutuhan dan meningkatkan keprihatinan serta kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dalam memenuhi kebutuhannya yang di dasari dengan etika dan tanggung jawab sosial

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    PENELITIAN TERDAHULU
1.      Rizal Fathoni (2007) dengan judul: Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Hand Phone Nokia (surver di distribusor Nokia PT Bima sakti Usindo Persada (BUP) cabang Malang). Alat analisis yang digunakan adalahregresi linear berganda. Karakter konsumen pada distributor Nokia PT. Bimasakti Usindo Persada (BUP) cabang malang memiliki perilaku dalam keputusan pembelian terhadap produk Nokia dalam kuantitas yang cukup tinggi. Konsumen terpengaruh dalam pembelian terhadap ekuitas merek produk Nokia, dan faktor yang paling dominan adalah variabel persepsi.
2.      Winanis Indrias Tutik (2003) dengan judul: "Pengaruh Kemasan Produk Kosmetik Sari Ayu terhadap Keputusan Pembelian Mahasiswi S1- Ekstensi Fakultas Ilmu Administrasi Jurusan Niaga Universitas Brawijaya, Malang". Alat analisis data yang digunakan adalah korelasi linear berganda, dan regresi linear berganda. Populasinya adalah pemakai bedak kosmetik Sari Ayu di kalangan mahasiswi S1-Ekstensi Fakultas Ilmu Administrasi Jurusan Niaga Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitiannya menunjukkan terdapat pengaruh signifikan pada variabel tersebut, tetapi bahan dan model kemasan mempunyai pengaruh yang lebih dominan.



Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
Perbandingan Penelitian Terdahulu dengan Sekarang
1
Nama
Rizal fathoni (2007)
Judul
Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Hand Phone Nokia (surver di distributor Nokia PT Bima sakti Usindo Persada (BUP) cabang Malang).
Tujuan
Mengetahui pengaruh ekuitas merek Hand Phone Nokia secara simultan dan parsial terhadap keputusan pembelian.
Analisis
Regresi Linear Berganda
Hasil
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan analisis regresi parsial dan simultan, terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel ekuitas merek (X) terhadap variabel keputusan pembelian (Y)
2
Nama
Winanis Indrias Tutik (2003)
Judul
Pengaruh Kemasan Produk Kosmetik Sari Ayu Terhadap Keputusan Pembelian Mahasiswi S1- Ekstensi Fakultas Ilmu Administrasi Jurusan Niaga Universitas Brawijaya, Malang".
Tujuan
Mengetahui pengaruh kemasan produk secara simultan dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen serta faktor yang paling dominan.
Analisis
Korelasi Linear Berganda, Regresi Linear Berganda.
Hasil
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel-variabel tersebut, tetapi bahan kemasan dan model kemasan mempunyai pengaruh yang lebih dominan.
3
Nama
Rina Rahmawati (2008)
Judul
Analisis Dampak Isu Pemanasan Global (Global Warming) terhadap Keputusan Pembelian Lemari Es Ramah Lingkungan (Studi pada Masyarakat Perumahan Istana Gajayana, Malang)
Tujuan
Mengetahui dampak Isu Pemanasan Global (Global Warming) terhadap keputusan pembelian konsumen dan faktor apakah yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen.
Analisis
Regressi Linear Berganda
Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan pada variabel-variabel tersebut. Dan secara parsial, variabel Isi Informasi dengan item dampak Global Warming memiliki pengaruh yang lebih dominan bila dibandingkan dengan item yang lain meskipun semua item memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian lemari es ramah lingkungan.



B.     KAJIAN TEORI
1.      Informasi
a.      Pengertian Informasi
Ada banyak arti dan makna informasi. Oleh karena itu perlu didefinisikan pengertian informasi agar dapat dijadikan sebagai acuan dalam memahami informasi. Dalam bukunya Jeffrey A Hoffer informasi dijelaskan sebagai ”Information as data that has been processed in such a way that it can increase the knowledge of the person who uses it. Informasi adalah data yang diproses sedemikian rupa sehingga informasi ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi orang yang menggunakan informasi tersebut. Untuk menjadi informasi harus melalui proses pengolahan dari sejumlah data yang ada.
Setiap informasi yang berguna bagi orang yang memerlukan pada saat dan tempat yang tepat. Oleh karena itu penyedia informasi pada pusat-pusat informasi seharusnya dapat memahami dan mengetahui apa sesungguhnya yang dicari oleh pengguna dan pencari informasi. Menurut Pawit M. Yusuf (1995: 7-8). Informasi merupakan catatan atau rekaman suatu fenomena yang dapat diamati atau berupa keputusan-keputusan penting. Informasi adalah sesuatu yang berupa pengetahuan lisan atau tertulis. Di masa sekarang dan masa yang akan datang informasi tertulis atau informasi rekaman akan mempunyai nilai yang tinggi dan berguna bagi kehidupan masyarakat. Jadi informasi yang dihasilkan merupakan sesuatu yang bermakna bagi pengguna informasi, bagi penyedia informasi, dan juga bagi suatu sistem pengetahuan dalam masyarakat. Jadi informasi adalah suatu data, pengetahuan, suara, gambar, dari yang sederhana sampai yang kompleks yang dapat digunakan oleh pemakai informasi dan hal-hal tersebut mempunyai nilai dan arti dalam arus lalu lintas informasi.
Secara umum dapat dikatakan bahwa informasi adalah suatu data, keterangan, pengetahuan, berita yang bermakna dan berguna baik bagi penyedia informasi maupun bagi pengguna informasi. Sebuah informasi dapat dikomunikasikan, dapat ditransfer atau dapat diakses oleh para pengguna informasi. informasi yang benar akan menghasilkan keuntungan yang besar bagi para pengguna informasi. Dengan melihat kenyataan itu, suatu informasi yang bernilai, kaya dan bermutu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. 
b.      Konsep Dasar  dan Sumber Informasi
Informasi adalah data yang telah diorganisir dengan baik sehingga akan memiliki makna dan nilai bagi penerimanya. Penerima akan menginterpretasikan makna yang disampaikan dan dapat mengambil kesimpulan darinya (www.kutaitimur.go.id)
Informasi menurut Gordon (1999: 28) adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau menadatang.
Menurut Tugiman (1990: 32) Informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya. Sumber dari informasi adalah data , yang dapat berbentuk simbol, huruf, alfabet,  angka, suara sinyal, gambar-gambar sebagainya. Data adalah kenyataan yang menggambarkan suat kejadian kesatuan nyata.
Sebagaimana diketahui, peradaban masa depan adalah masyarakat informasi (information society), yaitu peradaban dimana informasi sudah menjadi komoditas utama, dan interaksi antar manusia sudah berbasis teknologi informasi. Selain itu, perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan elife, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik (Wardiana, 2002).
Seperti telah diungkapkan di atas, eletronik secara tidak langsung mempunyai peran strategis dalam mengembangkan masyarakat informasi. Karena elektronik bertindak sebagai perantara atau media yang membawa atau menyuarakan informasi dari pengirim ke penerima. Jadi, tidaklah mengherankan jika saat ini pertumbuhan informasi berbanding lurus dengan keberadaan media yang berkembang di masyarakat.
Antara media dan informasi bagai 2 sisi mata uang yang saling berdekatan dan mempunyai hubungan simbiosis mutualisme (saling menguntungkan). Informasi akan mudah dan cepat tersampaikan dengan adanya campur tangan media. Mediapun akan sedikit kehilangan giginya bila tidak ada yang disuarakannya. Jadi bisa dikatakan, media hadir untuk mempermudah dan mempercepat lajunya informasi sampai ke sasaran, sebaliknya informasi ada untuk mengisi media. Media juga terbagi menjadi dua, yaitu:
1)      Media Elektronik
2)      Media non Elektronik
Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dikerjakan secara rapi, benar-benar teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik dan tidak dilakukan dengan asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Dalam ilmu manajemen, pelakasanaan sistem yang konsisten akan melahirkan sebuah tatanan yang rapi, sebuah tatanan yang disebut dengan manajemen rapi. Sebagaimana Allah menjelaskan dalam Q.S An-Nahl ayat 97;
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ
Artinya:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (QS. An-Nahl: 97)
Sedangkan dalam sistem informasi yang kompleks dan global, telah menjadi sebuah kebutuhan yang sangat vital. Kevalidan dalam suatu informasi, keakuratan informasi dalam komunikasi massa bisa dilihat dari sejauh mana informasi tersebut telah diteliti dengan cermat dan seksama. Sehingga informasi yang disajikan telah mencapai ketepatan. Menyampaikan informasi secara tepat merupakan landasan pokok untuk tidak mengakibatkan masyarakat pembaca, pendengar, dan pemirsa mengalami kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh sasaran informasi media massa maupun media elektronik, tentu bisa diperkirakan betapa besar bahaya dan kerugian yang diderita masyarakat.
Dari hal itu semua, sebuah informasi yang tidak akurat dan valid, serta memberikan informasi atau berita tanpa adanya etika akurasi informasi dalam ajaran Islam merupakan sebuah perbuatan dosa, karena apa sebab telah menyampaikan berita kebohongan atau kedustaan, dan berita itu telah dilaknat oleh Allah. Seharusnya kita bersikap tabayyun yang artinya harus teliti, malakukan klarifikasi. Dan dalam ajaran Islam sendiri telah dijelaskan di dalam Q. S. Al-Hujurat:  6,
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBÏ»tR ÇÏÈ
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui kebenarannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" (QS.Al-Hujurat: 6)
Berdasarkan ayat di atas, begitu dijelaskan kedudukan informasi dalam ajaran Islam, yang mana memiliki suatu fungsi sebagai wahana atau instrumen untuk menuju suatu kemaslahatan serta terhindarnya suatu kesesatan informasi dan kerugian bagi masyarakat secara universal (Amir, 1999: 97).
Untuk menghindari kesesatan sebuah informasi, maka hal itu dapat diartikan untuk mencari informasi lain atau pengimbang informasi. Bukan hanya dari satu sumber, tetapi beberapa sumber lainnya.
Kita tahu bahwa abad sekarang merupakan abad informasi, bukan sekedar ilmu pengetahuan dan teknologi. Ternyata Al-Qur'an telah memperingatkan bahwa akan datang suatu masa yang pada saat itu informasi akan menguasai pikiran dan pandangan manausia.  Sikap terbaik saat itu adalah tabayun. Namun masalahnya adalah kita tidak akan bisa melakukan tabayun jika kita tidak memiliki Sumber Informasi. Untuk itulah umat Islam perlu memiliki surat kabar, majalah, televisi yang dikelola oleh orang Islam. Agar informasi yang diterima jelas dan juga sebagai pengimbang berita, jika Sumber Informasi selalu di kuasai oleh orang lain. Maka kemungkinan kita dapat melakukan perkembangan informasi (Hafidhuddin, 2003: 185).
Menurut pandangan Al-Maroghi, bahwasannya informasi itu harus menandung muatan faedah yang besar, yang faedah itu bisa memperoleh ilmu pengetahuan dan meghilangkan ketidaktahuan. Karena itu diperlukan sikap hati-hati dan direnungkan terlebih dahulu sembari betul-betul melacak kejelasannya, serta mendalami substansi informasi tersebut. Al-Maroghi mengatakan kepada seseorang kalau menerima informasi jangan di telan mentah-mentah, lalu langsung membenarkan dan menyebarkannya kepada orang lain. Sehingga mengundang  buruk pada umat. Dalam Al-Qur'an juga ditegaskan, kalau ada persoalan yang memerlukan jawaban yang benar, maka bertanyalah kepada ahlinya. Allah mengingatkan dalam Q.S. An-Nahl ayat 43, yaitu:
!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
Artinya:
"Dan kami mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui" (QS.An-Nahl: 43)
Hal itu berarti jika seseorang menginginkan suatu informasi, maka hendaklah memikirkan terlebih dahulu siapa yang akan dijadikan sumbernya sebagai Sumber Informasi.
c.       Nilai Informasi
Manfaat informasi adalah mambantu memberi kejelasan dari suatu ketidakpastian atau untuk mengurangi ketidakpastian tersebut, sehingga manusia dapat mebuat suatu keputusan dengan kepastian yang lebih baik dan menguntungkan.
Dapat dikatakan bahwa informasi adalah alat bantu untuk mengurangi ketidakpastian. Makin besar bantuannya untuk mengurangi ketidakpastian makin tinggi nilai informasi tersebut. Sebagaimana kita ketahui, ledakan informasi merupakan problem nyata pada era komputerisasi yang berkembang cepat ini. Keperluan akan informasi sudah dikenal benar, dan bukan jumlah informasi yang penting tetapi nilainya (Zulkifli, 2005: 315).
Syarat-syarat tentang informasi yang baik yang lebih lengkap dan bernilai, diuraikan oleh Parker (1989: 151) dalam Wahyudi (1994: 11). Berikut ini adalah syarat-syarat yang dimaksud:
1)      Ketersediaan (Availability): sudah barang tentu syarat yang mendasar bagi suatu informasi adalah tersedianya informasi itu sendiri. Informasi harus dapat diperoleh (accessible) bagi orang yang hendak memanfaatkannya.
2)      Mudah difahami (Comprehensibility): informasi harus mudah difahami oleh pembuat keputusan. Informasi yang rumit dan berbelit-belit hanya akan membuat kurang efektifnya keputusan
3)      Relevan: informasi yang diperlukan adalah informasi yan benar-benar relevan dengan permasalahan misi dan tujuan.
4)      Bermafaat: sebagai konsekuensi dari syarat relevansi , informasi harus bermanfaat bagi pembuat keputusan. Karena itu informasi juga harus dapat tersaji ke dalam bentuk-bentuk yang memungkinkan pemanfaatan bagi pembuat keputusan yang bersangkutan.
5)      Tepat waktu: informasi harus tersedia tepat pada waktunya. Syarat ini tertama sangat penting pada saat pembuat keputusan membutuhkan informasi ketika hendak membuat keputusan-keputusan yang krusial.
6)      Keandalan (Reliability): informasi harus diperoleh dari sumber-sumber yang dapat diandalkan kebenarannya. Pemberi informasi harus dapat menjamin tingkat kepercayaan yang tinggi atas informasi yang disajikannya.
7)      Akurat: syarat ini mengharuskan bahwa informasi bersih dari kesalahan dan kekeliruan. Ini juga berarti bahwa informasi harus jelas dan secara akurat mencerminkan makna yang terkandung dari data pendukungnya.
8)      Konsisten: informasi tidak boleh mengandung kontradiksi di dalam penyajiaannya karena konsistensi merupakan syarat penting bagi dasar pengambilan keputusan.
2.      Pemanasan Global (Global Warming)
a.      Pengertian Global Warming
Menurut Rusbiantoro (2008: 6), Pemanasan global (global warming) adalah meningkatnya temperature suhu rata-rata di atmosphere, laut dan daratan di bumi, yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah emisi karbon di atmosphere.
Global Warming akan diikuti dengan perubahan iklim di bumi ini, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga terjadi menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan akibat naiknya suhu di bumi.
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Saat ini, bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer (http.//id.wikipedia.org diakses 16 Mei 2008)
Pemanasan global terjadi karena menumpuknya gas hasil pembakaran bahan bakar fosil, yang biasa disebut gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), di atmosfer bumi. Gas-gas hasil kegiatan industri dan aktivitas lain manusia itu menyebabkan terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari yang dipancarkan kembali oleh permukaan bumi.
Kondisi ini diperparah oleh penipisan lapisan ozon (O3) di atmosfer, yang selama ini menjadi payung bumi terhadap radiasi negatif sinar matahari, juga akibat aktivitas manusia. Semakin tipis lapisan ozon, semakin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk sinar ultraviolet) memasuki bumi. Akibatnya, terjadi kondisi seperti di dalam rumah kaca. Suhu permukaan bumi makin tinggi, mencairkan gunung es di kedua kutub, sehingga menaikkan permukaan laut dan mengubah pola iklim dunia (Sukendar: 2007)
Manusia adalah makhluk yang paling bertanggung jawab terhadap perubahan drastis dan perusakan yang terjadi di setiap mili permukaan bumi. Banyak dampak yang terjadi akibat ulah tangan-tangan jahil manusia yang merusak alam. Bencana alam (murni akibat proses alamiah) dan bencana lingkungan (perubahan lingkungan akibat ulah manusia) semakin sering terjadi. Hal ini tertera dalam firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41, yang berbunyi:
tygsß ßŠ$|¡xÿø9$# Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur $yJÎ/ ôMt6|¡x. Ï÷ƒr& Ĩ$¨Z9$# Nßgs)ƒÉãÏ9 uÙ÷èt/ Ï%©!$# (#qè=ÏHxå öNßg¯=yès9 tbqãèÅ_ötƒ ÇÍÊÈ
Artinya:
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-Rum: 41).
Setiap aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya pasti mempengaruhi lingkungan. Manusia sejak lahir memerlukan dukungan alam seperti selimut, kain, makanan, perabotan dan sebagainya, sehingga keberadaan manusia dimuka bumi akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Semakin banyak jumlah manusia maka kecenderungan kerusakan lingkungan semakin besar. Semakin banyak kebutuhan manusia, semakin cepat terdegradasi lingkungan di sekitarnya. Beberapa ilmuwan menyatakan pemanasan global terjadi karena faktor alam. Namun sebagian besar lagi menyatakan hal itu terjadi karena ulah manusia (Zulkifli: 2007).
Sebagai agama yang relevan dengan kemajuan, sejak 14 abad yang lalu  telah memberikan konsep kepada manusia modern dalam menangani masalah Global Warming. Konsep yang didasarkan pada pesan-pesan robbani yang lebih nyata kebenaranya dari  pada konsep dalam Protocol Kyoto yang dicetuskan pada 11 Desember 1997  di Kyoto-Jepang mengenai pemecahan permasalahan penanganan dampak pemanasan global yang merupakan buah pemikiran manusia ('Arobi: 2007).
Pada prinsipnya, setiap individu dalam syari'at Islam bebas untuk menikmati berbagai karunia kehidupan dunia dengan cara mengkonsumsi rizki yang baik dan dihalalkan oleh Allah SWT. Akan tetapi, Islam membatasi pembolehan didalam melakukan konsumsi yaitu dengan tidak melampaui batas kewajaran dan tidak membahayakan kepentingan umum. Sikap yang melampaui batas dapat menyababkan Global Warming. Selain itu, Allah SWT tidak menyukai sikap yang berlebih-lebihan dan melampaui batas. Hal tersebut tertera dalam firman Allah yaitu QS. Al-A'raf ayat  31 yang berbunyi:
* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#räè{ ö/ä3tGt^ƒÎ yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÌÊÈ
Artinya:
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makanlah dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang suka berlebihan" (QS.Al A'rof : 31)
b.      Penyebab Global Warming
Penyebab Global Warming jelas, yaitu konsentrasi emisi gas rumah kaca di atmosfer oleh gas karbon (CO2) yang menyebabkan lapisan ozon menipis sehingga kemampuan menyerap panas berkurang. Karbon dioksida berasal terutama dari gas buang industri maupun kendaraan bermotor yang menggunakan energi yang berasal dari fosil seperti minyak bumi dan batu bara.
Penyebab utama dari Global Warming itu sendiri adalah meningkatnya jumlah emisi karbon akibat penggunaan energi fosil, terutama di sektor industri. Negara industri seperti Amerika Serikat, China, Australia, Jepang dan Rusia menjadi aktor utama sebagai penyebabnya. Hal ini disebabkan oleh pola konsumtif dan gaya hidup masyarakat negara-negara maju tersebut. Aktivitas tersebut meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang semakin beragam. Pembakaran bahan bakar fosil umumnya disebabkan aktivitas industri, transportasi, dan rumah tangga. Penyebab lainnya adalah rusaknya hutan sebagai paru-paru bumi dan sebagai media penyerap karbon terbesar. Pembalakan liar, kebakaran hutan, menyebabkan deforestasi besar-besaran karena tidak diimbangi dengan pelestarian dan penanaman kembali hutan tersebut. Karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan tersebut juga mendukung terjadinya Global Warming, dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karbon terbesar dari kebakaran hutan. Seperti yang kita ketahui, kebakaran hutan merupakan masalah rutin bagi negara kita (Wanjaya, 2007).
Lingkungan dapat kembali ke keadaan keseimbangan apabila terjadi intervensi, namun tingkat pengembaliannya memerlukan banyak waktu. Kecepatan intervensi manusia sendiri tergantung dari tingkat kebutuhan dan keinginannya. Allah berfirman dalam QS. Al-A'rof ayat 56 yang berbunyi:
Ÿwur (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# y÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ
Artinya:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya…." (QS. Al A’rof : 56)
Pandangan Islam mengenai pertambahan penduduk dan keinginan masyarakat modern yang makin beragam adalah mengingatkan agar tindakan dan kebutuhan manusia tidak berlebihan.
Kebutuhan manusia dapat diperhitungkan dan dipenuhi oleh sumber alam yang ada di muka bumi, akan tetapi keinginan manusia sangatlah banyak. Memenuhi semua keinginan manusia hanya akan memperburuk keadaan.
Berbagai macam solusi telah ditawarkan untuk mengurangi Dampak Global Warming seperti menanam pohon untuk menyerap gas karbon dioksida yang ada di udara, mengurangi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC, dan sebagainya. Al-Quran lebih jauh membahas solusi permasalahan tersebut dari sikap preventif yaitu dengan tidak berlebih-lebihan atau tidak bersikap boros (Zulkifli: 2007). Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 27, yang berbunyi:
¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ
 Artinya:
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya"(QS. Al-Isra ayat 27).
Oleh karena itu kita sebagai masyarakat yang berpandangan hidup Islam, berkewajiban untuk meyakinkan mayarakat dunia bahwa segala kerusakan yang terjadi di alam, apapun bentuknya,   yang akan mengancam kelangsungan hidup manusia dan juga makhluk lainya, satu-satunya solusi adalah kembali ke konsep robbani. Artinya kita harus menataati segala konsep yang telah digariskan Sang Pencipta di dalam Quran dan Sunnah ('Arobi: 2007)
c.       Dampak Global Warming
Para ilmuwan saat ini telah mendapatkan beberapa perkiraan mengenai efek pemanasan global (Global Warming). Pemanasan global memberikan dampak negatif terhadap berbagai sektor kehidupan manusia yaitu; menurunnya produksi pangan karena curah hujan yang menurun, naiknya permukaan air laut, perubahan pola musim, terganggunya ketersediaan air, penyebaran hama dan penyakit, dan rusaknya terumbu karang.
Sebagai Negara kepulauan, Indonesia sangat rentan akan dampak perubahan iklim. Naiknya permukaan laut, tenggelamnya pulau-pulau kecil, kemarau yang berkepanjangan, turunnya produksi pangan, terganggunya kesediaan air dan punahnya keanekaragaman hayati merupakan dampak dari perubahan iklim. Apabila tidak ada upaya penanganan, maka dampak berskala tsunami dapat terjadi.
Dalam beberapa dekade terakhir ini dunia telah benar-benar merasakan dampak terjadinya perubahan iklim. Dalam skala yang paling mikro dampak perubahan iklim tersebut secara langsung sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia sebagai negara kepulauan utamanya petani, nelayan, dan masyarakat adat. Demikian pula bencana ekologis yang datang silih berganti juga merupakan dampak langsung perubahan iklim (climate change) (Suhada: 2007). Upaya pengurangan efek pemanasan global harus dilakukan demi generasi mendatang. Potensi kerusakan yang begitu dahsyat akibat pemanasan global memerlukan strategi untuk mereduksi secara global pula.
Pemerintah, dunia industri, dan masyarakat secara bersama-sama melakukan upaya penyelamatan lingkungan. menghentikan semua aktivitas yang mencemari udara, mencemari lingkungan dan gaya hidup yang boros energi. Menggunakan listrik seperlunya, hemat bahan bakar, memelihara pohon dan menjalani pola hidup sederhana. Perlu gerakan kolektif untuk menyelamatkan bumi agar terhindar dari bencana yang lebih dahsyat.
Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang banyaknya musibah dan bencana yang terjadi diberbagai belahan dunia dalam berbagai bentuk dan skala. Musibah dan bencana yang menimpa disebabkan karena kesalahan kita. Seperti diisyaratkan dalam firman Allah dalam QS. Asy-Syura ayat 30, yang berbunyi:
!$tBur Nà6t7»|¹r& `ÏiB 7pt6ŠÅÁB $yJÎ6sù ôMt6|¡x. ö/ä3ƒÏ÷ƒr& (#qàÿ÷ètƒur `tã 9ŽÏWx. ÇÌÉÈ
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30).
d.     Produk Ramah Lingkungan
Pencantuman label ramah lingkungan pada suatu produk adalah suatu keharusan yang harus dijalankan oleh pelaku usaha untuk lebih memperhatikan hak konsumen. Seperti halnya label pangan, label Ramah Lingkungan juga harus dicantumkan hal-hal yang bersifat esensial pada bagian utama label, seperti adanya larangan tentang penulisan label ramah lingkungan 'e' di tulis dalam bentuk tulisan yang sulit dilihat, diamati atau dibaca, yang hal itu akan berdampak pada pelanggaran hak-hak konsumen.
Label ramah lingkungan adalah jaminan yang diberikan oleh suatu lembaga yang berwenang seperti LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia). Produk ramah lingkungan harus dinilai dari hulu hingga hilir, dari proses hingga kemasan (daur hidup). Produsen yang mengklaim produknya sudah ramah lingkungan harus melalui uji laboratorium yang sudah disertifikasi.
Konsumen berhak untuk mengetahui kandungan suatu produk, dan kebenaran klaim suatu produk.  Hak ini dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) pasal 4 yaitu hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur.  Dalam rangka membantu konsumen untuk lebih kritis dan memahami apa yang diklaim oleh produsen, dan juga memacu produsen agar dapat mengklaim produknya dengan penuh tanggung jawab.
Produk yang ramah lingkungan kini sangat mudah diketahui oleh konsumen. Cukup melihat ada atau tidaknya logo ramah lingkungan (ekolabel)  yang berbentuk huruf 'e'. Label Ramah Lingkungan ini hanya diberikan pada barang yang benar-benar ramah lingkungan dengan mempertimbangkan berbagai aspek lingkungan secara menyeluruh menyangkut daur hidup produk mulai bahan baku hingga setelah habis masa pakai, dengan standar kriteria yang sudah ditetapkan tanpa menurunkan tingkat kualitas produk yang diinginkan. Hal ini dilakukan agar memacu produsen manghasilkan produknya dengan penuh tanggung jawab, serta membantu konsumen untuk memahami produk ramah lingkungan tersebut.
Salah satu perangkat pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan sebagai dasar untuk pencapaian klaim produk ramah lingkungan adalah penerapan Produksi Bersih. Perangkat Produksi Bersih menawarkan konsep dan strategi antara lain  berpikir ulang (rethink) mengenai aspek-aspek lingkungan sebelum suatu produk dihasilkan, penggunaan teknologi bersih, meminimalisasi limbah (reduction), pemanfaatan dan atau daur ulang (reuse/ recycle/ recovery). Keberhasilan penerapan Produksi Bersih harus didukung oleh komitmen produsen secara kontinue dan konsisten (www.menlh.go.id/ekolabel-sml 7/9 2005 dikases 4 Maret 2008)
Dalam pencantuman peraturan label dimaksudkan agar konsumen mendapatkan perlindungan hukum yang jelas dan pelaku usaha lebih memperhatikan produk yang akan disebarluaskan ke masyarakat luas.
Banyak pemalsuan label yang beredar di pasaran sering memperdaya dan menyesatkan konsumen, dimana juga akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat sesama produsen, mendorong terbentuknya suatu badan hukum yang mengatur tentang syarat pengemasan dan pemberian label yang benar. Dimana dalam label harus ada kejelasan yang dapat menunjang kenyamanan konsumen dalam pemakaian suatu produk.
Dalam Islam juga mengajarkan kita untuk menjauhkan diri kita dari hal-hal yang membahayakan, termasuk produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Allah menjelaskan dalam QS. Al-Baqoroh ayat 195 yang berbunyi:
Ÿwur (#qà)ù=è? ö/ä3ƒÏ÷ƒr'Î/ n<Î) Ïps3è=ök­J9$# ¡ (#þqãZÅ¡ômr&ur ….¡ ÇÊÒÎÈ
Artinya:
“...Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu kepada hal yang akan membinasakanmu....” (QS. Al-Baqoroh: 195).
3.      Keputusan Pembelian
a. Pengertian Perilaku Konsumen
Kita tidak banyak mengetahui tentang apa yang ada dalam pikiran seseorang pembeli. Kadang-kadang penjelasan tentang perilaku membeli tidak di ketahui oleh pembeli itu sendiri.
Perilaku pembelian konsumen adalah perilaku pembeli konsumen akhir, mereka yang membeli produk untuk penggunakan pribadi atau keluarga bukan untuk tujuan bisnis (Pride, 1995: 182)
Sedangkan menurut Engel (1995: 9) pengertian perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan dari individual-individual secara langsung terlibat dalam mendapatkan serta menggunakan barang-barang dan jasa ekonomis termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Kotler (2002: 182), mengungkapkan definisi perilaku konsumen sebagai tindakan mempelajari bagaimana individu, kelompok dan organisasi, memilih, membeli, memakai serta memanfaatkan barang, jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen menyoroti perilaku individu dan rumah tangga dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, mengkonsumsi, menghabiskan barang-barang dan jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
b.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian
Setiap konsumen melakukan keputusan pembelian tentu selalu di dasari oleh faktor-faktor yang sangat penting, baik dari dalam maupun dari luar pribadinya untuk memastikan keputusan pebelian itu. Menurut Kotler (2002: 182),  ada 4 faktor utama yang mempengaruhi proses keputusan pembelian konsumen, yaitu:
1)      Faktor Budaya, Faktor kebudayaan mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling dalam terhadap perilaku konsumen. Pemasar harus memahami peran yang di mainkan oleh kultur, sub kultur, dan kelas sosial pembeli.
2)      Faktor Sosial, Perilaku konsumen juga akan di pengaruhi oleh faktor sosial seperti kelompok kecil, keluarga, peran dan status sosial dari konsumen. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi tanggapan konsumen, oleh karena itu pemasar harus benar-benar memperhitungkannya untuk menyusun strategi pemasaran.
3)      Faktor Pribadi, Keputusan seorang pembeli juga di pengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur-hidup pembeli, jabatan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri pembeli yang bersangkutan.
4)      Faktor Psikologis, Pada suatu saat tertentu seseorang mempunyai banyak kebutuhan baik yang bersifat biogenic maupun biologis. Kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu seperti rasa lapar, haus, dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan yang bersifat psikologis adalah kebutuhan yang timbul dari keadaan fisiologis tertentu seperti kebutuhan untuk di akui, harga diri, atau kebutuhan untuk diterima oleh lingkungannya. Pilihan pembelian seseorang juga di pengaruhi oleh faktor psikologis yang utama, yaitu motivasi, persepsi, proses belajar, serta kepercayaan, dan sikap.
Konsumen mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sebelum membeli sebuah produk baik itu berupa barang ataupun jasa. Banyak sekali pertimbangan yang mereka lakukan karena adanya pengaruh-pengaruh baik secara budaya, sosial, pribadi, dan psikologi. Dari faktor-faktor inilah, maka konsumen akan melakukan penilaian terhadap berbagai alternatif yang diperlukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Hal-hal diatas adalah sebagian hal yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian.
c.       Perilaku Pembelian
Perilaku pembelian merupakan hal yang sangat penting untuk di pelajari oleh pemasar, karena ini menyangkut keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk. Perilaku pembelian akan banyak melibatkan pertimbangan-pertimbangan konsumen mulai dari harga, merek, maupun atribut lain yang melekat pada produk. Hal ini menunjukkan bahwa setiap konsumen diberi kesempatan untuk memilah dan memilih produk dan harganya sebagai pertimbangan untuk membuat keputusan pembelian.
اَنْتَ بِالْخِيَارِ فِيْ كُلِّّ سِلْعَةٍ ابْتَعْتَهَا ثَلاَثَ لَيَالٍ (رواه تيهقي و ابن ماجه)
Artinya:
"Engkau boleh khiyar pada segala barang yang telah engkau beli selama 3 hari 3 malam" (Riwayat Baihaqi dan Ibnu Majjah).
Dari hadis tersebut jelas bahwa, setiap konsumen yang telah melakukan keputusan pembelian diperbolehkan khiyar kepada pihak penjual agar dalam keputusannya tidak ada salah satu pihak yang menyesal dikemudian hari. Khiyar ini merupakan suatu faktor yang menjadi pertimbangan dalam melakukan keputusan pembelian konsumen walaupun hal ini berlaku setelah pembelian dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian diatas maka setiap konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk harus benar-benar selektif dalam memilih agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari. Dalam hukum Islam sendiri di sunnahkan membatalkan akad jual beli antara keduanya karena barangnya cacat, atau ada penyesalan dipihak pembeli. Hal ini sebagaimana sabda Nabi:
َعنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ النَّبِى صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَقَالَ نَادِمًا اَقَالَ الله عَثْرَتَهُ (رواه البزار)
Artinya:
"Abu Hurairah telah menceritakan hadist berikut, bahwa Nabi SAW telah bersabda, "Barang siapa mencabut jual belinya terhadap orang yang menyesal, maka Allah akan mencabut kejatuhannya (kerugian dagangannya)".
d.     Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian dan pemilihan dari berbagai alternatif sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling menguntungkan.
Dalam melakukan keputusan pembelian, konsumen banyak di pengaruhi oleh beberapa faktor. Pihak produsen maupun pemasar sebaiknya lebih jeli dalam mengidentifikasi siapa yang membuat keputusan pembelian, jenis keputusan yang terlibat dalam langkah-langkah proses pembelian.
Dalam konteks perilaku konsumen, maka pengambilan keputusan konsumen dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana konsumen melakukan penilaian terhadap berbagai alternatif pilihan, dan memilih salah satu atau lebih alternatif yang diperlukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Definisi ini ingin menegaskan bahwa suatu keputusan tidak harus memilih satu dari sejumlah alternatif, akan tetapi keputusan harus didasarkan pada relevansi antara masalah dan tujuannya (Amirullah, 2002: 61-62)
Dalam konsep Islam,  kebutuhan adalah yang membentuk pola konsumsi seorang muslim. Dimana batas-batas fisik merefleksikan pola yang digunakan seorang muslim untuk melakukan aktifitas konsumsi, bukan dikarenakan pengaruh preferensi semata. Islam juga mengatur jalan kehidupan manusia lewat Al-Qur'an dan Hadist, supaya manusia dijauhkan dari sifat hina karena perilaku konsumsinya. Keadaan ini akan menghindari pola hidup yang berlebih-lebihan, sehingga stabilitas ekonomi dapat terjaga konsistensinya dalam jangka panjang. Sebab pola konsumsi yang didasarkan atas kebutuhan akan menghindari dari pengaruh-pengaruh pola konsumsi yang tidak perlu (Sudarsono, 2002: 168).
Islam sangat memerangi sikap boros dan mubadzir, karena Al-Qur'an melarang kita membelanjakan harta dan menikmati kehidupan ini dengan boros. Lebih dari itu, Allah SWT sendiri tidak menyukai para pemboros. Boros hampir sama dengan mubadzir. Arti mubadzir adalah menghambur-hamburkan uang tanpa ada kemaslahatan atau tanpa mendapatkan ganjaran pahala (Qardhawi, 1997: 155). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra' ayat 26-27, yang berbunyi:
ÏN#uäur #sŒ 4n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# Ÿwur öÉjt7è? #·ƒÉö7s? ÇËÏÈ ¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ
Artinya:
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesunggunya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan, dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya" (QS. A-Isra':  26-27)
e.      Komponen dan Proses Keputusan
Ada 5 tahap proses keputusan pembelian menurut Kotler (2002: 204), yaitu:


 


Sumber: Kotler, 2000: 208
Simamora (2004: 15) membagi lima tahap yang dilalui konsumen dalam proses pembelian yaitu:
1)      Pengenalan Masalah
Proses dimulai saat pembeli menyadari adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan antara yang nyata dan yang diinginkan. Kebutuhan ini di sebabkan karena adanya rangsangan internal maupun eksternal. Dari pengalaman sebelumnya orang telah belajar bagaimana mengatasi dorongan ini dan dimotivasi ke arah produk yang diketahuinya akan memuaskan dorongan ini.
2)      Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang terdorong kebutuhannya mungkin, atau mungkin juga tidak, mencari informasi lebih lanjut. Jika dorongan konsumen kuat dan produk itu berada di dekanya, mungkin konsumen akan langsung membelinya. Jika tidak, kebutuhan konsumen  hanya akan menjadi ingatan saja.
Pencarian informasi terdiri dari dua jenis menurut tingkatannya. Pertama adalah perhatian yang meningkat, yang ditandai dengan pencarian informasi secara aktif yang dilakukan dengan mencari informasi dari segala sumber.
3)      Evaluasi Alternatif
Konsumen memproses informasi tentang pilihan merek untuk membuat keputusan terakhir. Pertama, kita melihat bahwa konsumen mempunyai kebutuhan. Konsumen akan mencari manfaat tertentu dan selanjutnya melihat pada atribut produk. Konsumen akan memberikan bobot yang berbeda untuk setiap atribut produk sesuai dengan kepentingannya. Kemudian konsumen mungkin akan mengembangkan himpunan kepercayaan merek. Konsumen juga di anggap memiliki fungsi utilitas, yaitu bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan produk bervariasi menurut tingkat alternatif tiap ciri. Dan akhirnya konsumen akan tiba pada sikap ke arah alternatif merek.
4)      Keputusan Pembelian
Setelah melalui beberapa tahap, dilakukan pembelian yang nyata terhadap alternatif yang dipilih. Suatu proses pembelian berkaitan dengan keputusan merek, penjualan, waktu pembelian, dan acara pembayaran.
5)      Perilaku Purna beli
Sesudah pembelian dilakukan, konsumen juga akan melakukan beberapa kegiatan setelah membeli. Jika konsumen rasa puas dengan manfaat produk tersebut, maka ada kecenderungan untuk melakukan pembelian ulang, namun jika tidak ada kemungkinan itu mereka akan meninggalkan produk tersebut atau beralih ke produk pesaing.
f.        Tingkat Pengambilan Keputusan
Tidak semua situasi pengambilan keputusan konsumen berada dalam tingkatan yang sama. Jika semua keputusan pembelian memerlukan usaha yang lebih luas, kemudian konsumen mengambil keputusan itu walaupun dengan proses yang cukup melelahkan, maka keputusan harus tetap diambil. Sebaliknya, ada sebagian konsumen yang begitu mudah untuk mengambil keputusan. Kondisi ini terjadi karena konsumen sudah menganggap bahwa proses itu merupakan proses yang biasa atau berulang-ulang.
Menurut Amirullah (2002: 62-63), berdasarkan pola hubungan antara jenis usaha (masalah) yang paling tinggi dan usaha yang paling rendah, tingkatan pangambilan keputusan konsumen dapat dibedakan menjadi tiga:
1)      Extensive Problem Solving
Pada tingkat ini konsumen sangat membutuhkan banyak informasi untuk lebih meyakinkan keputusan yang akan diambilnya. Konsumen dalam hal ini telah memiliki kriteria-kriteria khusus teradap barang yang akan dipilihnya. Pengambilan putusan extensive juga melibatkan keputusan multi pilihan dan upaya kognitif serta perilaku yang cukup besar. Akhirnya, pengambilan keputusan ini cenderung membutuhkan waktu yang cukup lama.
2)      Limited Problem Solving
Pada tingkat ini konsumen tidak begitu banyak memerlukan informasi, akan tetapi konsumen tetap perlu mencari-cari informasi untuk lebih memberikan keyakinannya. Biasanya konsumen yang berada pada tingkat  ini selalu membanding-bandingkan merek atau barang dengan menggali terus informasi–informasi. Disini lebih sedikit alternatif yang dipertimbangkan dan demikian pula dengan proses integrasi yang dibutuhkan. Pilihan yang melibatkan pengambilan keputusan terbatas biasanya cukup cepat, dengan tingkat upaya kognitif dan perilaku yang sedang.
3)      Routinized Response Behavior
Dalam hal ini konsumen telah memiliki banyak pengalaman membeli, maka informasi biasanya tidak diperlukan lagi. Informasi yang dicari hanyalah untuk  membandingkan saja, walaupun keputusan itu sudah terpikirkan oleh mereka. Dibandingkan dengan tingkat yang lain, perilaku pilihan rutin membutuhkan sangat sedikit kontrol sadar. Pada dasarnya, rencana keputusan yang telah dipelajari konsumen  diaktifkan kembali dari ingatan dan dilakukan secara otomatis untuk mengasilkan perilaku konsumen.
Semakin masalah yang akan diputuskan itu dirasa berada pada tingkat yang sulit, maka pencarian informasi akan menjadi sangat menentukan efektifitas keputusan. Juga sebaliknya, jika masalah itu sifatnya rutin atau terjadi berulang-ulang, maka informasi itu hanya berperan sebagai pembanding karena pengetahuan tentang masalah tersebut telah dimiliki.  Atau dengan kata lain, jumlah upaya yang digunakan dalam pemecahan masalah cenderung menurun sejalan dengan semakin dikenalnya produk dan semakin berpengalamannya seseorang dalam mengambil keputusan.
4.      Persepsi Konsumen
a.      Persepsi Konsumen
Persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya sensasi, dimana sensasi adalah aktivitas merasakan atau penyebab keadaan emosi yang menggembirakan.
Menurut William J. Stanton: Persepsi adalah makna yang kita pertalian berdasarkan pengalaman masa lalu, stimuli yang kiita terima melalui lima indra.
Sedangkan menurut Webster (1993): Persepsi adalah proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi, diorganisasi dan diinterpretasikan.
Jadi persepsi setiap orang terhaap suatu obyek berbeda-beda, oleh karena itu persepsi mempunyai sifat subyektif.
Persepsi seseorang dipengaruhi oleh beberapa karakteristik. Beberapa karakteristik konsumen yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut:
1)      Membedakan Stimulus
Satu hal yang sangat penting bagi pemasar adalah mengetahui bagaimana konsumen bisa membedakan merk berdasarkan rasa, perabaan, harga dan bentuk kemasan produk.
2)      Tingkat Ambang Batas
Kemampuan konsumen untuk mendeteksi perbedaan dalam suara, cahaya, bau, atau stimuli yang lainnya, ditentukan oleh tingkat ambang batasnya. Ada 2 jenis tingkat ambang batas, yaitu:
Absolute thereshold yaitu merupakan rangsangan minimum yang terdapat dideteksi oleh chanel panca indra.
Differential thereshold yaitu kemampuan sistem panca indra untuk mendeteksi atau membedakan antara dua stimuli.
3)      Subliminal Perception (Persepsi Bawah Sadar)
Usaha-usaha para pemasar sampai saat ini selalu menekankan pada penciptaan iklan atau pesan yang bisa dideteksi atau bisa disadari oleh konsumen. Artinya pemasar selalu berusaha menciptakan iklan atau pesan ditingkat ambang batas kesadaran konsumen. Dan kemampuan konsumen memberikan tanggapan terhadap stimulus yang berada dibawah kesadaran atau berada dibawah ambang batas kesadaran disebut persepsi subliminal.
4)      Tingkat Adaptasi
Tingkat adaptasi ini merupakan salah satu konsep yang berkaitan erat dengan ambang batas absolut (absolute thereshold). Dimana konsumen sudah terbiasa dan tidak memperhatikan stimulus, maka ketika itu pula absolute thereshold nya berubah.
5)      Generalisasi Stimulus
Proses persepsi yang terjadi pada konsumen sebenarnya tidak hanya membedakan satu stimulus dengan stimulus yang lainnya, tetapi konsumen juga berusaha menggeneralisasikan stimulus. Konsumen yang berusaha melihat kesamaan-kesamaan dari stimulus yang diterima berarti konsumen sedang melakukan generalisasi. Jadi, generalisasi terjadi ketika konsumen melihat dua stimulus atau lebih mempunyai kesamaan (mempunyai hubungan yang dekat), dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu dapat disubstitusikan.
b.      Peran Ekspektasi atau Harapan pada Persepsi
Selain informasi yang tersimpan dalam long term memory, apa yang diharapkan konsumen juga mempengaruhi bagaimana suatu stimulus diinterpretasikan. Harapan atau expectation adalah keyakinan, kepercayaan individual sebelumnya mengenai apa yang seharusnya terjadi pada situasi tertentu. Persepsi yang timbul disebabkan oleh ekspektasi konsumen, yaitu jika merk atau label diubah.
Pemahaman ekspektasi konsumen dapat mempunyai dampak yang penting apada strategi harga. Secara umum, harga yang lebih tinggi kurang mempunyai kemungkinan untuk dibeli oleh konsumen. Bagaimana pun dalam beberapa kondisi, konsumen mempunyai ekspektasi atas hubungan harga dan kualitas. Dalam rentang harga tertentu untuk suatu produk, konsumen mungkin mempunyai ekspektasi bahwa harga yang lebih mahal mencerminkan kualitas yang lebih baik. Jadi kesimpulan dari fakta-fakta atas hubungan harga dan kualitas, yaitu ketika harga digunakan sebagai dedikasi produk berkualitas:
1)      Konsumen mempunyai beberapa keyakinan dan kepercayaan bahwa dalam situasi tertentu harga menunjukkan kualitas.
2)      Terjadi perbedaan kualitas yang dirasakan atau yang sebenarnya dinatara merk-merk yang ada.
3)      Kualitas aktual sulit untuk dinilai melalui cara yang objektif atau melalui nama merk atau citra toko.
4)      Perbedaan harga yang besar mempunyai dampak pada perbedaan kualitas yang dirasakan daripada perbedaan yang lebih kecil.
5)      Merk yang sudah dikenal, harga dapat digunakan lebih baik sebagai indikator kualitas.
c.       Persepsi dan Stimulus
Stimuli atau stimulus merupakan bentuk fisik, visual, atau komunikasi yang dapat mempengaruhi individu. Stimuli terdiri dari 2 bentuk, yaitu:
Pertama adalah Stimuli pemasaran: setiap komunikasi atau stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi konsumen. Produk dan komponen-komponennya adalah stimuli utama (primary stimulus). Komunikasi yang didesain untuk mempengaruhi konsumen adalah stimuli tambahan (secondary stimulus) yang mempresentasikan produk seperti kata-kata, gambar, dan simbol atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk seperti harga, toko tempat produk dijual, dan pengaruh sales.
Pemaparan yang konstan dari secondary stimulus terhadap konsumen akan sangat dibutuhkan untuk tetap ikut dalam persaingan pasar. Iklan yang ditayangkan terus-menerus bukan bertujuan untuk memperoleh keuntungan secara langsung, melainkan untuk membujuk agar konsumen bersedia melakukan pembelian kembali. Oleh karena itu, penentu akhir pada tindakan konsumen dimasa datang adalah pengalaman dengan menggunakan produk (primary stimulus).
Persyaratan kunci yang diperlukan dalam komunikasi stimuli sekunder (secondary stimulus) pada konsumen adalah pengembangan konsep produk. Konsep produk adalah himpunan manfaat produk yang dapat diarahkan pada kebutuhan yang didefinisikan pada kelompok konsumen melalui pesan, simbol, dan citra. Konsep produk mempresentasikan pengelolaan stimuli sekunder ke dalam posisi produk yangh dikoordinasikan dan dikomunikasikan kepada konsumen.
Yang kedua adalah stimuli lingkungan (sosial dan budaya) yaitu: stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi keadaan lingkungan. Ada 2 faktor kinci yang menentukan stimuli akan dirasakan dan bagaimana stimuli itu dipersepsi, yaitu:
1)      Karakteristik stimulus yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu elemen indrawi dan elemen struktural
2)      Kemampuan konsumen untuk mendeteksi perbedaan dalam suara, cahaya, bau, atau stimuli yang lainnya ditentukan oleh tingkat ambang batasnya (thereshold level).
d.     Persepsi Dalam Pengertian Masa Lalu
Konsumen mengembangkan inferensi atau kesimpulan mengenai merk, harga, toko dan perusahaan. Kesimpulan-kesimpulan itu merupakan kepercayaan mengenai suatu obyek dari asosiasi masa lalu. Terdapat tiga tipe inferensi, yaitu:
1)      Inferensi yang didasarkan pada evaluasi (evaluation based)
Adalah inferensi penilaian yang menimbulkan evaluasi positif atau negatif secara kinsisten pada suatu merk.
2)      Inferensi yang didasarkan pada kesamaan (similarity based)
Adalah kepercayaan atas suatu obyek yang didasarkan pada kesamaan dengan obyek yang lain. Konsumen mengembangkan inferensi terhadap merk yang tidak diketahuinya dengan menghubungkan dengan merk yang telah dikenalnya.
3)      Inferensi yang didasarkan pada korelasional (corelation based)
Inferensi korelasional ini didasarkan pada asosiasi dari hal yng umum kepada hal yang spesifik. Secara umum, konsumen percaya bahwa harga yang lebih mahal menunjukkan kualitas yang lebih baik. Ketika konsumen melakukan pembelian produk tertentu yang harganya mahal, maka pada saat ini konsumen akan mengambil kesimpulan bahwa produk itu berkualitas.
e.      Implikasi Pemasaran dari Inferensi Perceptual
Konsumen cenderung untuk membentuk citra terhadap merk, toko, dan perusahaan didasarkan pada inferensi mereka yang diperoleh dari stimuli pemasaran dan lingkungan. Citra adalah total persepsi terhadap suatu obyek yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu. Sasaran penting dari strategi pemasaran adalah untuk mempengaruhi persepsi terhadap merk, toko, atau perusahaan. Jadi, pemasar harus secara konstan mencoba mempengaruhi citra konsumen. Citra tersebut terdiri dari:


1)      Citra Merk
Citra merk mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merk dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merk itu. Kotler dan Fox mendefinisikan citra sebagai jumlah dari gambaran-gambaran, kesan-kesan, dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh seseoranng terhadap suatu obyek. Citra terhadap merk berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merk. Konsumen dengan citra yang positif terhadap suatu merk lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian, oleh karena itu kegunaan utama dari iklan di antaranya adalah untuk membangun citra positif terhadap merk.
2)      Citra Toko
Konsumen sering mengembagkan citra toko didasarkan pada iklan, kelengkapan di dalam toko, pendapat teman dan kerabat, dan juga pengalaman belanja. Citra toko yang ada dibenak konsumen akan mempengaruhi citra merk. Oleh karena itu, penempatan produk pada rantai toko-toko pengecer merupakan sarana untuk membentuk citra.
3)      Citra Korporasi
Selain mengembangkan citra terhadap merk dan toko, konsumen juga memperhatikan berbagai informasi mengenai perusahaan atau korporasi, dan bagaimana pengalamannya atas penggunaan produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Ketika konsumen mempunyai pengalaman (yang baik atas penggunaan berbagai merk produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan), maka konsumen akan mempunyai citra yang positif atas perusahaan tersebut. Pada saat itulah terbentuk apa yang disebut citra korporasi.
Citra adalah realitas, oleh karena itu jika komunikasi pasar tidak cocok dengan realitas, secara normal realitas akan menang. Komunikasi yang tidak disadari pada realitas hanya akan menciptakan harapan yang lebih tinggi daripada kenyataan yang dirasakan. Akibatnya ketidakpuasan akan muncul dan akhirnya konsumen mempunyai persepsi yang buruk terhadap citra organisasi.
Jika masalah citra adalah problem yang nyata, hanya tindakan nyata pula yang akan menolong. Masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan kinerja organisasi yaitu kualitas teknis atau fungsional yang sebenarnya menyebabkan masalah citra. Tindakan internal yang memperbaiki kinerja organisasi dibutuhkan jika citra yang buruk ingin diperbaiki. Jika citra tidak diketahui, berarti terdapat masalah komunikasi.

C.    KERANGKA BERFIKIR
Kerangka berfikir yang di jadikan acuan adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Berfikir Penelitian
 












D.    MODEL KONSEPTUAL
Gambar 2.2
Kerangka Berfikir Penelitian


 



E.     MODEL HIPOTESIS
Hipotesis menurut Burhan (2006: 75) adalah kesimpulan yang belum sempurna, sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis itu melalui penelitian. Pembuktian itu hnaya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis dimaksud dengan data di lapangan. Pada penelitian ini hipotesis yang akan di uji adalah sebagai berikut:
Gambar 2.3
Kerangka Berfikir Penelitian

 








Berdasarkan tujuan dari penelitian ini, maka hipotesis penelitian ini adalah:
1.      Bahwa dampak Isu Pemanasan Global (Global Warming) berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli produk lemari es ramah lingkungan.
2.      Terdapat faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk lemari es ramah lingkungan.

 



 

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar