Analisis EVA (Economic Value Added) Sebagai Alat Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan

Admin
ANALISIS EVA (ECONOMIC VALUE ADDED) SEBAGAI ALAT UNTUK MENGUKUR KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN (Studi Komparatif Pada PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk)



PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 1998 terjadi pergantian kepemimpinan pemerintahan di Negara Indonesia. Pergantian kepemimpinan tersebut berimbas pada kondisi perekonomian di Negara kita, perekonomian mengalami kondisi yang tidak menentu. Karena keadaan ekonomi yang tidak menentu tersebut mengakibatkan persaingan di dalam dunia usaha semakin meningkat. Banyak pengusaha yang gulung tikar namun malah ada pula yang meningkat usahanya akibat krisis ekonomi yang terjadi sekarang ini. Setiap perusahaan berusaha untuk terus dapat hidup dan jangan sampai gulung tikar. Oleh karena itu setiap perusahaan harus bisa memperbaiki kinerja keuangannya.
            Laporan keuangan perusahaan dapat digunakan sebagai suatu informasi untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan pokok meliputi neraca, laporan laba-rugi dan laporan perubahan posisi keuangan. Neraca atau sering disebut juga laporan posisi keuangan adalah daftar yang menggambarkan aktiva (harta kekayaan) kewajiban dan modal yang dimiliki oleh suatu perusahaan pada suatu periode tertentu. Sedangkan laporan laba rugi merupakan laporan yang disusun dengan maksud untuk menggambarkan hasil operasi perusahaan selama suatu periode tertentu. Dengan kata lain, laporan laba-rugi menggambarkan keberhasilan atau kegagalan operasi perusahaan dalam upaya mencapai tujuan, (Haryono, 2001:21-24). Dengan demikian tujuan laporan keuangan yaitu untuk menyajikan informasi mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan bagi pihak intern dan ekstern perusahaan yang digunakan sebagai bahan perhitungan untuk pengambilan keputusan ekonomi.
      Laporan keuangan perusahaan belum dapat memberikan informasi yang berarti, karena laporan keuangan bersifat historis yaitu menyajikan data atau informasi yang telah terjadi. Sehingga diperlukan pengolahan kembali laporan keuangan untuk dapat menginterprestasikan informasi yang terdapat dalam laporan keuangan dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangan tersebut, sehingga dapat memberikan suatu informasi yang lebih sistematis dan akurat.
Adapun alat yang dapat dipakai untuk menilai suatu kinerja keuangan perusahaan adalah analisis rasio keuangan. Hasil analisis rasio keuangan ini dinyatakan dalam suatu besaran yang merupakan perbandingan antara nilai suatu rekening tertentu dalam laporan keuangan dengan nilai rekening lainnya. Dalam penerapannya, analisis rasio keuangan memiliki beberapa kelemahan dan keterbatasan. Keterbatasan tersebut yaitu, hanya digunakannya data nilai keuangan historis yang hanya berdasarkan nilai buku dan tanpa mempertimbangkan nilai pasar dari assets yang dimiliki. Akibatnya data yang digunakan terkadang tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya atau realistis, (Warsono, 2002: 46 dalam Vifin, 2008). Sedangkan kelemahannya adalah belum dapat memuaskan keinginan pihak manajemen khususnya bagi para penyandang dana yaitu kreditur dan pemegang saham. Bagi pihak manajemen dengan analisis rasio finansial tersebut belum cukup untuk mengetahui apakah telah terjadi nilai tambah bagi perusahaan. Sedangkan bagi para penyandang dana belum mempunyai keyakinan apakah modal yang telah ditanamkan di masa yang akan datang memberikan tingkat hasil yang diharapkan.
Dari kelemahan dan keterbatasan itulah yang mendorong para ahli yang bergerak dibidang manajemen keuangan mencoba memikirkan suatu cara untuk mengukur kinerja operasional perusahaan secara tepat yang memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan para penyandang dana. Adapun alat yang berhasil dikembangkan para ahli dalam kajian investasi perusahaan yaitu EVA (Economic Value Added)) yang dapat dipergunakan sebagai alat pengukur kinerja keuangan perusahaan.
PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. adalah dua perusahaan yang telah listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dua perusahaan tersebut adalah perusahaan yang menjadi pemimpin pasar di bidangnya (perusahaan makanan dan minuman).
Sementara itu kondisi aktiva PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. senantiasa mengalami kenaikan. Sama halnya dengan kondisi aktiva kondisi kewajiban PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. pun mengalami kenaikan. Selain itu untuk laba sebelum pajak pun mengalami kenaikan pula dari tahun ke tahun.
Tabel 1.1
Kondisi Keuangan PT. Aqua Golden Missisipi Tbk.
Keterangan
2003
2004
2005
2006
2007
- Aktiva
- Kewajiban Jangka Panjang
- Laba Sebelum Pajak
523.302
247.497


93.328
671.109
309.461


133.477
732.354
318.127


91.363
795.244
342.896


79.794
891.529
377.577


95.821
Sumber: Data diolah

Tabel 1.2
Kondisi Keuangan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
Keterangan
2003
2004
2005
2006
2007
- Aktiva
- Kewajiban Jangka Panjang
- Laba Sebelum Pajak
15.309.854
10.552.329


1.031.135
15.669.008
10.653.750


852.380
14.859.203
10.059.357


424.321
16.267.483
11.598.070


1.221.206
29.527.466
18.675.908


2.065.229
Sumber: Data diolah


Oleh karena itu penting sekali untuk menganalisis nilai tambah ekonomi perusahaan, serta perkembangan dan peningkatan kinerja pada kedua perusahaan tersebut. Dan perlu adanya perbandingan untuk memberikan informasi sehingga menambah wawasan dan keilmuan penulis.
Atas dasar pemikiran di atas, maka dalam penelitian ini peneliti mengambil judul ” Analisis EVA (Economic Value Added) Sebagai Alat  Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.)”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana kinerja keuangan perusahaan PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. 2003-2007, jika diukur dengan menggunakan analisis EVA?
  2. Bagaimana perbandingan besarnya nilai tambah ekonomi PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. 2003-2007?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.   Untuk mendiskripsikan besarnya nilai tambah ekonomi PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. sebelum dan sesudah diakuisisi oleh Philip Morris pada tahun 2003-2007.
2.   Untuk mendiskripsikan kinerja keuangan perusahaan PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.  sebelum dan sesudah diakuisisi pada periode 2003-2007, jika diukur dengan menggunakan analisis EVA.

D. Batasan Masalah
            Untuk menghindari agar dalam pembahasan masalah tidak terjadi penyimpangan, maka permasalahan dibatasi sebagai berikut: Laporan yang digunakan hanya laporan laba rugi dan neraca dari tahun 2003-2007 yang sudah dipublikasikan, dengan tidak memperhitungkan adanya perubahan penggunaan metode lainnya.


E. Manfaat Penelitian
1.                  Bagi Peneliti
     Sebagai sarana untuk mengaplikasikan teori manajemen keuangan yang diperoleh selama dalam bangku perkuliahan.
2.                  Bagi Investor
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan dalam menilai kinerja keuangan perusahaan sehingga investor dapat mengetahui laba perusahaan dan kemampuan perusahaan tersebut memberdayakan modalnya.
3.                  Bagi Perusahaan
Sebagai bahan masukan bagi perusahaan dalam menetapkan kebijakan di bidang keuangan perusahaan secara tepat, khususnya kebijakan struktur modal.











BAB II
KAJIAN PUSTAKA
  1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dilakukan oleh Masrusroh pada tahun 2005 yang mengambil judul  ”Laporan Nilai Tambah Sebagai Pengukur Kinerja Keuangan Di PT BPR NUSUMMA Kecamatan Balung Kabupaten Jember”. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa analisis rasio distribusi nilai tambah tahun 2004 dan 1003 terjadi peningkatan sebesar 61,76 %. Pada indeks efisiensi usaha menunjukkan peningkatan pada pegawai 14,28 % dan perusahaan 9,09 %. Tingkat produktivitas BPR NUSUMMA Kecamatan balung Kabupaten jember yang diukur dengan nilai tambah ,memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding dengan laporan laba rugi. Sedangkan untuk tingkat profitablitas menunjukkan hasil yang rendah. Ini berarti kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba bersih pada tahun 2003 sampai 2004 dinilai rendah.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Zainal Arifin tahun 2007 dengan judul ”Penilaian Kinerja Keuangan dengan Metode Economic Value Added pada Perusahaan Semen (Studi pada PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk Periode Analisis 2001-2005).” Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan pada tiap tahunnya berkinerja, hal ini ditunjukkan dengan nilai EVA yang selalu positif masing-masing sebesar Rp. 353.645.798.600 (2001) Rp. 825.556.326.600 (2002), Rp. 323.119.636.300 (2003), Rp. 251.321.171.200 (2004), dan Rp. 735.009.438.300 (2005).
Tabel 2.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu
No
Nama
Judul
Lokasi
Jenis Penelitian
Analisis
Hasil Analisis
1.
Uyun Masruroh (2005)
Laporan Nilai Tambah Sebagai Pengukur Kinerja Keuangan Di PT BPR NUSUMMA Kecamatan Balung Kabupaten Jember
PT BPR NUSUMMA Kecamatan Balung Kabupaten Jember
Kuantitatif Deskriptif
Analisis Data rasio keuangan dengan metode EVA pada Tahun 2003-2004
Bahwa kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dinilai masih rendah
2.
Zainul Arifin (2007)
Penilaian Kinerja Keuangan dengan Metode Economic Value Added pada Perusahaan Semen (Studi pada PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk Periode Analisis 2001-2005)
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Studi Kasus
Analisis data rasio keuangan dengan metode EVA pada tahun 2001-2005
Kinerja perusahaan pada tiap tahunnya dalam kondisi berkinerja, hal ini ditunjukkan dengan nilai EVA yang selalu positif.
3.
Peneliti
Analisis EVA (Economic Value Added) Sebagai Alat  Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Komperatif Pada PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk)
PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Ades Waters Indonesia Tbk.
Deskriptif Kualitatif
Analisis data rasio keuangan dengan metode EVA pada tahun 2003-2007
Kinerja keuangan perusahaan yang lebih baik adalah pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., karena secara berturut-turut mengalami kinerja keuangan yang lebih baik dari pada kinerja keuangan dari PT. Aqua Golden Missisipi Tbk., yaitu pada tahun 2004-2006. Namun pada tahun 2003 dan 2007 PT. Aqua Golden Missisipi Tbk.lah yang lebih baik.
Sumber: Data Diolah

Hasil penelitian yang peneliti lakukan dengan data selama 5 tahun (tahun 2003 sampai tahun 2007) bahwa kinerja keuangan perusahaan berdasarkan konsep EVA yang lebih baik adalah pada PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., karena secara berturut-turut mengalami kinerja keuangan yang lebih baik dari pada kinerja keuangan dari PT. Aqua Golden Missisipi Tbk., yaitu pada tahun 2004-2006. Namun pada tahun 2003 dan 2007 PT. Aqua Golden Missisipi Tbk.lah yang lebih baik.
Persamaan yang tersirat dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah dalam menganalisa data sama-sama menggunakan metode EVA. Dan yang membedakan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu jenis penelitian, obyek penelitian, tujuan penelitian dan tahun yang diteliti.
B. Kajian Teoritis
1.      Laporan Keuangan
a.      Pengertian Laporan Keuangan
Laporan Keuangan adalah beberapa lembar kertas dengan angka-angka yang tertulis  di atasnya, tetapi juga untuk memikirkan aset-aset nyata yang mendasari angka-angka tersebut. Laporan keuangan merupakan kartu angka untuk mencatat dan mengevaluasi kinerja suatu organisasi. Laporan keuangan penting bagi manajemen organisasi yang efisien. Laporan keuangan memberikan dasar untuk memberikan kompensasi kepada para partisipan atau pemegang andil. Bagi pemilik perusahaan, bagian yang penting dari kompensasi adalah peningkatan nilai perusahaan.
Menurut Weston dan Copeland (1995: 25) laporan keuangan perusahaan didasarkan pada aturan-aturan dan konvensi-konvensi akuntansi. Untuk mencapai konsistensi dan komparabilitas, penggunaan pertimbangan-pertimbangan yang subyektif diminimalkan. Tetapi penilaian suatu perusahaan didasarkan pada proyeksi atau prakiraan kinerjanya di masa depan. Hal ini melibatkan pemakaian pertimbangan-pertimbangan yang subjektif. Jadi laporan-laporan akuntansi tidak mencatat nilai-nilai ekonomis. Sebaliknya, laporan-laporan itu memberikan informasi historis kuantitatif dasar yang merupakan sekumpulan input yang penting yang digunakan dalam menghitung nilai-nilai ekonomis.
Sedangkan menurut Islam  Laporan keuangan adalah merupakan produk atau hasil akhir dan suatu proses akuntansi. Inilah yang merupakan wujud jasa dari profesi akuntan. Laporan keuangan inilah yang menjadi bahan informasi bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan atau sebagai laporan pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan perusahaan, (Harahap, 1997: 38).
Dewasa ini masyarakat menganggap bahwa akuntasi atau pembukuan muncul dari peradaban barat, dan menurut sejarahnya kita mengetahui bahwa sistem pembukuan muncul di Italia pada abad ke-13. Sedangkan pada kenyataannya pembukuan telah dianjurkan sejak zaman Rasulullah masih hidup.
Dapat kita lihat dalam Al Qur’an landasan tentang akuntasi dalam Islam, yaitu Surat al Baqarah ayat 282 yaitu:
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang muslim diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis” (Al-Baqarah: 282).

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa sejak zaman Rasulullah SAW telah diperintahkan untuk senantiasa melakukan pencatatan untuk mencapai tujuan menjaga kebenaran, keadilan antara dua pihak yang mempunyai hubungan muamalah. Sehingga Islam mengharuskan pencatatan untuk mencapai tujuan keadilan dan kebenaran. Sedangkan pencatatan untuk tujuan lain seperti data untuk pengambilan keputusan tidak diharuskan. Karena ini sudah dianggap merupakan urusan yang sifatnya tidak perlu diatur oleh suatu kitab suci.
Adapun tekanan Islam dalam kewajiban melakukan pencatatan adalah:
a)      Menjadi bukti melakukannya transaksi (muamalah) yang menjadi dasar nantinya dalam menyelesaikan persoalan selanjutnya.
b)     Menjaga agar tidak terjadi manipulasi, atau penipuan baik dalam transaksi maupun hasil dari transaksi itu (laba), (Harahap, 1992: 4).
Sehingga dapat diketahui bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan keuangan, yang merupakan alat bagi bagian keuangan dalam suatu perusahaan untuk mempertanggungjawabkan masalah keuangan yang telah dilaksanakan atau telah terjadi, sehubungan dengan kegiatan operasional perusahaan bagi pihak pimpinan dan pihak lain yang membutuhkan.

b.     Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Ikatan Akutansi Indonesia (Jumingan, 2006: 5), laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban kepada pihak ekstern (luiar perusahaan) harus disusun sedemikian rupa sehingga:
a)      Memenuhi keperluan untuk:
1)      Memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan tertentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi,
2)      Menyajikan informasi yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan dan perubahan kekayaan bersih perusahaan,
3)      Menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam menaksir lemampuan memperoleh laba dari perusahaan,
4)      Menyajikan informasi lain yang dipewrlukan mengenai perubahan dalam harta kewajiban, serta mengungkapkan informasi lain yang sesuai dengan keprluan para pemakai.

b)      Mencapai mutu sebagai berikut:
1)      Relevan,
2)      Jelas dan dapat dimengerti,
3)      Dapat diuji kebenarannya,
4)      Mencerminkan keadaan perusahaan menurut waknya secara tepat,
5)      Dapat dibandingkan,
6)      Lengkap, dan
7)      Netral.

Adapun dalam Islam pembukuan/ pencatatan dikenal dengan Muhasabah, dijelaskan dalam Muhammad (2002,55) Islam memberikan perhatian besar terhadap masalah Hisab. Hisab adalah salah satu proses perhitungan amal selama hidup manusia didunia oleh Allah. Sebagai khalifah, manusia diberikan amanah oleh Allah untuk mengelola bumi yang kemudian hasilnya dipertanggungjawabkan kepadanya. Oleh karena itu, setiap manusia dalam hidupnya harus selalu dalam keadaan amanah, jujur dan komitmen tinggi terhadap janji yang telah diucapkan kepada Allah. Hal demikian ini merupakan bagian dari perilaku manusia yang Islami.
Oleh karena itu, kaum Muslimin harus kembali kepada Allah, mengoreksi diri mereka, menerapkan perilaku Islami dalam seluruh segi kehidupan, senantiasa jujur, iman, dan qanaah, agar kemuliaan dapat diraih kembali.
Masih dalam bukunya Muhammad (2002,56) Berkaitan dengan kata muhasaba, menurut Atiya dalam kitabnya Acounting of Company and the Bank for the Islamic Organization (Muhasaba Sharikat wa Musarif Al-Mizan Al-Islami) (1984,32) dinyatakan bahwakata Arab yang berarti akutansi dalam adalah muhasabah (hisab). Kata ini muncul 48 kali dalam Al-Qur’an. Sementara Muhammad Khoir dalam Harahap disebutkan bahwa ”istilah hisab ditemukan 109 kali dalam Al-Qur’an”. Akar kata muhasabah adala h.s.b. (dengan) bentuk verbalnya hasaba dan bentuk lainnya yahsaba yang berarti menghitung (to compute) atau mengukur (to measure). Lebih jauh perubahan kata hisabmenjadi muhasaba adalah sebagai berikut Al-Muhasaba berasal dari perubahan kata ”Al-hisab”, yaitu perhitungan. Dari segi bahasa, munculnya kata Al-Muhasabah terjadi karena adanya perubahan isim, yaitu hisab/hisaban atau hasaba sebagai isim masdar termasuk isim madli, kemudian yuhasibu sebagai isim masdar mim termasuk dalam fiil mudhari’.
Penggunaan kata hisab akan mengalami perubahan sesuai dengn konteks dan bentuk kalimat. Sehingga hisab akan berubah menjadi hasaba, jika kelimat yang dibentuk berarti ”selesaikan tanggung jawab” atau ”agar netral”. Kemudian akan berubah menjadi tahasaba yang berarti ”mengharapkan pahala di akhirat dengan diterimanya kitab seseorang dari Tuhan”, juga berarti ”menjadikannya perhatian ” atau ”mempertanggungjawabkannya”. Akhirnya dalam perkembangan selanjutnya, peristilahan kata bahasa Inggris berkembang secara etimologis, istilah Arab justru berkembang fonetis (suara), kata muhasabah (Akutansi) berkaitan terus menerus sampaipada pengadilan akhiratdan melalui timbangan akhirat (mizan) sebagai alat dan Tuhan sebagai akuntan.

2.      Kinerja keuangan
Menurut Jumingan (2006,239) Kinerja Bank merupakan bagian dari kinerja keuangan bank secara keseluruhan. Kinerja (performance) bank secara keseluruhan merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam operasionalnya, daik menyangkut aspek keuangan pemasaran, penghimpunan dan penyaluran dana, tekhnologi maupun sumbger daya manusia.
            Berkaitan dengan analisis kinerja keuangan bank mengandung beberapa tujuan (Jumingan 2006,239), antara lain:
a.      Untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan bank terutama kondisi likuiditas, kecukupan modal dan profitabilitas yang dicapai dalam tahun berjalan maupun tahun sebelumnya.
b.      Untuk mengetahui kemampuan bank dalam mendayagunakan semua aset yang dimiliki dalam menghasilkan profit secara efisien.



3.      Struktur modal
a.      Pengertian Struktur Modal
Struktur modal merupakan bauran dari segenap sumber pembelanjaan jangka panjang yang digunakan perusahaan (Warsono, 2002: 233). Struktur keuangan merupakan kombinasi atau bauran dari segenap pos yang termasuk dalam sisi kanan neraca keuangan perusahaan (sisi pasiva). Struktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan. Adapun hubungan antara struktur modal dengan struktur keuangan dapat digambarkan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
Struktur modal = struktur keuangan – kewajiban lancar

b.     Komponen Struktur Modal
            Struktur modal secara umum terdiri dari tiga komponen (Warsono, 2002: 234), antara lain:
            a)      Utang jangka panjang (long term debt), yaitu utang yang masa jatuh tempo pelunasannya lebih dari 1 tahun. Komponen modal jangka panjang yang berasal dari utang biasanya terdiri dari: utang hipotek (mortgage), obligasi (bona), dan bentuk utang jangka panjang lainnya, seperti pinjaman jangka panjang dari bank.
           b)      Saham prefern (preferred stock), yaitu bentuk komponen modal jangka panjang yang merupakan kombinasi antara modal sendiri (saham biasa) dengan utang jangka panjang. Dengan karakteristik inilah saham preferen sering disebut dengan sekuritas hibrida (hybrid security).
            c)      Ekuitas saham biasa (common stock equity), yaitu bentuk komponen modal jangka panjang yang ditanamkan oleh para investor, yang pemegangnya memiliki klaim residual atas laba dan kekayaan perusahaan.

c.        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
            Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal (Warsono, 2002: 234) adalah sebagai berikut:
            a)      Laju pertumbuhan dan kemantapan penjualan dimasa yang akan datang.
           b)      Struktur kompetitif dalam industri
            c)      Susunan asset dari perusahaan sendiri
           d)      Resiko bisnis yang dihadapi perusahaan
            e)      Status kendali dari para pemilik dan manajemen
             f)      Sikap para kreditor modal terhadap industri dan perusahaan
           g)      Posisi pajak perusahaan
           h)      Fleksibilitas keuangan atau kemampuan untuk menerbitkan modal dalam kondisi yang tidak baik
             i)      Konservatisme atau agresivisme manajerial.

4.      Biaya Modal
a.      Pengertian Biaya Modal
            Menurut Warsono (2002: 134), biaya modal sering disamakan dengan istilah tingkat pengembalian yang disyaratkan perusahaan (the firm’s required rate of return), tingkat ambang (the hurdle rate), tingkat diskonto (the discount rate), dan biaya kesempatan dana perusahaan (the firm’s opportunity codt of funds). Biaya modal dapat didefinisikan sebagai biaya peluang atas penggunaan dana investasi untuk diinvestasikan dalam proyek-proyek baru.
            Biaya modal dibedakan menjadi dua macam (Warsono, 2002: 134), yaitu:
a)      Biaya modal perusahaan (the firm’s cost of capital), yaitu suatu tingkat diskonto (discount rate) yang dikembangakan untuk mendiskonto atas arus kas rata-rata perusahaan.
b)      Biaya modal proyek khusus (spesific project’s cost of capital).

b.     Faktor yang Berpengaruh Terhadap Biaya Modal
            Besar kecilnya modal baik untuk perusahaan maupun proyek khusus dipengaruhi oleh 4 faktor (Warsono, 2002: 135), yaitu:
            a)      Kondisi ekonomi umum (general economic condition)
           b)      Kondisi pasar (market condition)
            c)      Keputusan operasi dan pembelanjaan (operating and financing decisions)
           d)      Jumlah pembelanjaan (amount of financing)

c.       Komponen Biaya Modal
            Biaya modal yang digunakan, baik untuk perusahaan maupun proyek khusus, adalah biaya modal rata-rata tertimbang. Biaya modal rata-rata tertimbang dapat dihitung dengan menggunakan WACC (Weigted Average Cost of Capital). Adapun komponen dari biaya rata-rata tertimbang (Warsono, 2002: 136) antara lain:
      a)      Biaya utang (cost of debt)
     b)      Biaya saham prefern (cost of preffered stock)
      c)      Biaya ekuitas biasa (cost of common equity)
Adapun untuk konsep biaya utang itu sendiri ada dua macam, yaitu biaya utang sebelum pajak dan biaya utang setelah pajak. Biaya utang sebelum pajak dapat ditentukan dengan menghitung tingkat hasil internal atas arus kas surat-surat obligasi. Sedangkan untuk biaya utang setelah pajak dapat dihitung dengan mengalikan biaya utang sebelum pajak dengan tingkat pajak marginal. Adapun  besarnya tingkat pajak yang berlaku di Indonesia saat ini menurut Sumitro, dalam Warsono (2002: 138) menggunakan tarif progresive berlapis, dengan ketentuan sebagai berikut:
a)      Laba sebelum Pajak < Rp. 25, 00 juta = 10%
b)     Kelebihan laba sebelum pajak antara Rp. 25, 00 juta – Rp. 50, 00 juta = 15%
c)Kelebihan laba sebelum pajak > Rp. 50, 00 juta = 30%.

5.      EVA (Economic Value Added)
a.      Pengertian EVA
Untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan dilakukan dengan mengkaji secara kritis terhadap keuangan perusahaan, yang dilakukan dengan mereview data, menghitung, mengukur, menginterpretasi, dan memberi solusi terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu. Untuk menganalisis kinerja keuangan perusahaan, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Economic Value Added (EVA) atau nilai tambah ekonomi (NITAMI).
Pendekatan model EVA diperkenalkan pertama kali pada tahun 1993 di sebuah perusahaan konsultan USS yaitu Stern Steward Management Service (SSMS). Model EVA menawarkan parameter yang cukup obyektif karena berangkat dari konsep biaya modal (cost of capital) yakni mengurangi laba dengan biaya modal, dimana beban biaya modal ini mencerminkan tingkat resiko perusahaan. Selain itu, beban biaya modal juga mencerminkan tingkat kompensasi atau return yang diharapkan investor atas sejumlah investasi yang di tanamkan di perusahaan (Abdullah, 2004: 141).
Secara konseptual perhitungan EVA adalah laba operasi bersih sesudah pajak dikurangi biaya modal. Selain itu, biaya modal juga mencerminkan tingkat kompensasi atau return yang diharapkan investor atas sejumlah investasi yang ditanamkan diperusahaan. sehingga dari perhitungan tersebut dapat digambarkan bahwa apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan (laba) lebih besar dari biaya modal yang dituntut investor atas investasinya, maka akan menghasilkan EVA positif. Kondisi ini menunjukan bahwa manajemen perusahaan berhasil menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Sementara EVA = 0 menunjukkan posisi impas perusahaan. Dan  sebaliknya, apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan (laba) lebih kecil dari biaya modal yang dituntut investor atas investasinya, maka akan menghasilkan EVA yang negatif artinya, nilai perusahaan berkurang. Jadi dengan melihat besarnya EVA suatu perusahaan, investor dapat mengetahui laba perusahaan dan kemampuan perusahaan tersebut memberdayakan modalnya.
Dari definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa nilai tambah ekonomi menunjukkan pendapatan suatu perusahaan sebagai kesatuan usaha yang dilakukan bersama dari beberapa kelompok antara lain perusahaan, karyawan, penyedia modal dan pemerintah.
Menurut Harahap (2002: 449), mengatakan bahwa dalam konsep ekonomi Islam laporan pertambahan nilai (Value Added Reporting) sesuai karena konsep bisnis dalam Islam didasarkan pada kerja sama (musyarakah atau mudharabah) yang adil, transparan dan saling menguntungkan bahwa yang satu mengeksploitasi yang lain.
Pengertian mudharabah menurut istilah yaitu pemilik harta (modal) menyerahkan modal kepada pengusaha untuk berdagang dengan modal tersebut, dan laba dibagi diantara keduanya berdasarkan persyaratan yang disepakati. Apabila rugi, hal itu ditanggung oleh pemilik modal sedangkan pekerja tidak bertanggung jawab atas kerugiannya. Kerugian perusahaan hanyalah dari segi kesungguhan dan pekerjaannya yang tidak akan mendapat imbalan jika rugi (Syafe’i, 2001 dalam Masruroh, 2005: 31). Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Muzammil: 20



 
 











Artinya: ”Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa mengerjakan perintah fardhu atau wajib tidak boleh melebihi dari batas ukuran yang ditentukan agar tidak memberatkan diri dan melakukannya karena terpaksa.
Begitu pula dengan pekerjaan atau bisnis hendaklah dalam mengerjakan selalu mengambil kemudahan dan tidak terlalu memaksakan kehendak bahwa kita bisa mengerjakan semua itu sendiri, sehingga lupa kalau kita juga butuh bantuan orang lain. Dalam hal ini kerja sama antara pemilik modal dapat dilakukan dengan yang tidak mempunyai modal sehingga terjadi interaksi dan saling tolong atau membantu. Pemilik modal untung karena merasa tidak terbebani oleh pekerjaannya. Namun, dia juga tetap mendapatkan laba yang dibagi menurut kesepakatan diantara mereka. Sedangkan orang yang tidak punya modal bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa harus mengeluarkan modal yang banyak.

b.     Tujuan EVA
            Menurut Abdullah (2003: 142) tujuan penerapan model EVA diantaranya adalah:
1)      Dengan perhitungan EVA diharapkan akan mendapatkan hasil perhitungan nilai ekonomis perusahaan yang lebih realistis. Hal ini disebabkan oleh EVA dihitung berdasarkan perhitungan biaya modal (cost of capital) yang menggunakan nilai pasar berdasar kepentingan kreditur terutama para pemegang saham dan bukan berdasar pada nilai buku yang bersifat historis.
2)        Perhitungan EVA juga diharapkan dapat mendukung penyajian laporan keuangan sehingga akan mempermudah bagi para pengguna laporan keuangan diantaranya para investor, kreditur, karyawan, pemerintah, pelanggan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

c.       Manfaat EVA
            Manfaat yang diperoleh dari penerapan model EVA di dalam suatu perusahaan menurut Abdullah (2003: 142) meliputi:
1)      Penerapan model EVA sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai pengukur kinerja perusahaan dimana fokus penilaian kinerja adalah penciptaan nilai (value creation).
2)        Penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan pendekatan EVA menyebabkan perhatian manajemen sesuai dengan kepentingan pemegang saham. Dengan EVA para manajer akan berfikir dan bertindak seperti halnya pemegang saham yaitu memilih investasi yang memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat dimaksimumkan.
3)        EVA mendorong perusahaan untuk lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya.
4)        EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasikan proyek atau kegiatan yang memberikan pengembalian yang lebih tinggi daripada biaya modalnya. Kegiatan atau proyek yang memberikan nilai sekarang dari total EVA yang positif menunjukkan adanya penciptaan nilai dari proyek tesebut dan dengan demikian sebaiknya diambil, begitu pula sebaliknya.
Selain itu, manfaat utama EVA menurut Warsono (2002: 47) adalah untuk mengatasi kesulitan dalam pengukuran kinerja eksekutif perusahaan. Dengan hasil analisis EVA ini dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi bagi eksekutif dalam bentuk insentif-insentif tertentu.

d.     Kelebihan dan Kekurangan EVA 
Kelebihan yang dimiliki model EVA ini menurut Abdullah (2003: 142) diantaranya adalah:
a)      EVA merupakan alat ukur yang dapat berdiri sendiri tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri dan tidak perlu pula membuat suatu analisis kecenderungan dengan tahun-tahun sebelumnya.
b)       EVA adalah alat pengukur kinerja perusahaan yang melihat segi ekonomis dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan-harapan para pemilik modal (kreditur dan pemegang saham) secara adil. Dimana derajat keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan nilai buku.
c)        Model EVA dapat dipakai sebagai tolak ukur dalam pemberian bonus kepada karyawan. EVA merupakan tolak ukur yang tepat untuk menjalankan stockholders atisfaction concept yakni memperhatikan karyawan, pelanggan dan pemilik modal.
Kriteria penentuan anggaran bonus dengan model EVA  adalah:
a)        EVA < 0, maka karyawan tidak mendapatkan bonus hanya gaji.
b)          EVA = 0, maka karyawan tidak mendapatkan bonus hanya gaji.
c)        EVA > 0, maka karyawan berhak mendapatkan bonus disamping gaji.
Adapun kekurangannya (Abdullah, 2003: 143) diantaranya adalah:
a)      Secara konseptual EVA memegang lebih unggul daripada pengukur tradisional akuntansi, namun secara praktis belum tentu dapat diterapkan dengan mudah. Penentuan biaya modal saham cukup rumit sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam tentang teknik-teknik menaksir biaya modal saham.
b)     EVA adalah alat ukur semata dan tidak bisa berfungsi sebagai cara untuk mencapai sasaran perusahaan sehingga diperlukan suatu cara bisnis tertentu untuk mencapai sasaran perusahaan.
c)      Masih mengandung unsur keberuntungan (tinggi rendahnya EVA dapat dipengaruhi oleh gejolak pasar modal).
d)     EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu.
e)      EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya memiliki resiko yang kecil sehingga secara tidak langsung EVA mendorong perusahaan untuk menghindari resiko padahal sebagian besar inovasi-inovasi dalam bisnis memiliki resiko yang sangat tinggi terutama dalam era pasar bebas yang penuh dengan ketidakpastian.









e.      Langkah-langkah Perhitungan EVA
Tabel 2.2
Langkah-langkah menentukan EVA
No.
Langkah
Dalam
Keterangan
1.
Biaya Modal Hutang (Kd)
a.     Biaya Bunga
b.     Jumlah hutang jangka panjang
c.      Suku bunga
d.    Tingkat pajak
e.     Faktor koreksi (1-T)
f.       Biaya modal hutang

Rp
Rp
%
%
%
%

Lap. L/R
Neraca
(1a) / (1b)
Lap. L/R
1-(1d)
(1e)x(1c)
2.
Biaya Modal Saham (Ke)
a.     Tingkat bunga bebas resiko (Rf)
b.     Ukuran resiko saham perusahaan (b)
c.      Tingkat bunga investasi pasar (Rm)
d.    Biaya modal saham (Ke)

%
%
%
%

Bunga bank pemerintah
Hasil Perhitungan
Bursa efek
(2a)+[(2b)x{(2c)-(2a)}]
3.
Struktur Modal
a.      Hutang jangka panjang
b.      Modal saham
c.       Jumlah modal
d.     Komposisi hutang jangka panjang
e.      Komposisi modal saham

Rp
Rp
Rp
%
%

Neraca
Neraca
(3a)+(3b)
(3a)/(3c)
(3b)/(3c)
4.
WACC
a.      Biaya modal rata-rata tertimbang

%

{(3d)x(1f)}+{(3e)x(2d)}
5.
EVA
a.      EBT
b.      Beban pajak
c.       EAT
d.     WACC
e.      EVA

Rp
Rp
Rp
Rp
Rp

Lap. L/R
(1d)x(5a)
(5a)-(5b)
(4a)x(3c)
(5c)-(5d)
Sumber: Wijayanto (1993) dalam Vivin (2008:).

 
                                                                                    







                                                         
6.                  KerangkaBerfikir

BAB III
METODE PENELITIAN
A.          Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di pojok Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang berlokasi di Universitas Islam Negeri Malang Jalan Gajayana 50 Malang. Penentuan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa di pojok BEJ Universitas Islam Negeri Malang terdapat data-data yang cukup lengkap tentang permasalahan yang diteliti, yaitu PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

B.     Jenis Penelitian
            Jenis penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan komparatif. Penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan. Untuk penelitian komparatif sampel lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda. (Sugiono, 1999: 11).


C.    Sumber Data dan Metode Pengumpulan Data
Menurut Indriantoro dan Supomo (1999: 146), sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data. Berdasarkan sumbernya, data dapat diklasifikasikan menjadi data primer dan data sekunder.
            Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa metode dokumentasi. Data sekunder yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung, melalui media perantara (diperoleh dan dicatat orang lain).
Data sekunder biasanya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data komputer) yang dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Data sekunder dalam penelitian bisnis dapat diperoleh dari perusahaan yang diteliti atau data yang dipublikasikan untuk umum.
Dan metode dokumentasi yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pencatatan arsip-arsip atau data-data yang berkaitan dengan objek penelitian. 


D.    Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah data tersebut diperoleh dari penelitian. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diambil kesimpulan dan pemecahan terhadap masalah yang berhubungan dengan nilai tambah ekonomi dan kinerja keuangan perusahaan.
            Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode analisis kuantitatif, yaitu metode analisis data yang dilakukan dengan cara melakukan perhitungan, menganalisis, membandingkan dan mengintepretasikan data yang berupa angka-angka, dengan menggunakan aturan sebagai berikut:
1.      Biaya Modal Hutang (cost of debt)
Biaya modal hutang (cost of debt) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Dimana:
Kd = Biaya hutang setelah pajak

Kb = Beban hutang
             Hutang
T = Tarif pajak
d  = jumlah hutang jangka panjang
i   = besarnya bunga yang dibayar
2.  Biaya Modal Saham (cost of equity)
Biaya modal saham diperoleh dari prosentase atau tingkat pengembalian hasil yang diharapkan dari modal yang diinvestasikan pada suatu perusahaan. Metode yang digunakan untuk menghitung biaya modal saham adalah dengan menggunakan pendekatan CAPM, yaitu suatu metode yang menghubungkan resiko dengan harapan keuntungan suatu proyek.rumus yang digunakan adalah:
Dimana:
E(Ri) = tingkat pengembalian yang diharapkan investor
Rf = tingkat bunga investasi yang diperoleh tanpa resiko
Rm = tingkat bunga investasi rata-rata dari seluruh pasar
b = tingkat resiko saham perusahaan
            Adapun untuk mencari b adalah :
Dimana:
n = banyaknya periode pengamatan
X = tingkat keyntungan rata-rata pasar
Y = tingkat keuntungan saham i pada periode t
3. Struktur Modal
4. Biaya rata-rata tertimbang (WACC)
Dimana:
Wd = bobot dari hutang
Kd = tingkat biaya modal hutang sebelum pajak
T = tingkat pajak yang berlaku
Ws = bobot dari modal saham
Ks = biaya modal saham
5. Nilai tambah ekonomi (EVA)
Untuk menghitung EVA digunakan rumus sebagai berikut:


BAB IV
PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
A.    Paparan Data Hasil Penelitian
1.      Sejarah Perusahaan
a.         PT. Aqua Golden Missisipi Tbk.
            PT AQUA Golden Mississippi didirikan pada tahun 1973 oleh Bapak Tirto Utomo, sebagai produsen pelopor air minum dalam kemasan di Indonesia. Pabrik pertama didirikan di Bekasi. Setelah beroperasi selama 30 tahun, kini AQUA memiliki 14 pabrik di seluruh Indonesia.
Pada tahun 1998, AQUA (yang berada di bawah naungan PT Tirta Investama) melakukan langkah strategis untuk bergabung dengan Group DANONE, yang merupakan salah satu kelompok perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di dunia dan ahli dalam nutrisi. Langkah ini berdampak pada peningkatan kualitas produk, market share, dan penerapan teknologi pengemasan air terkini. Di bawah bendera DANONE-AQUA, kini AQUA memiliki lebih dari 1.000.000 titik distribusi yang dapat diakses oleh pelanggannya di seluruh Indonesia .


b.        PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
Berawal dari sebuah perusahaan mi instan yang sederhana, Indofood telah menjelma menjadi sebuah perusahaan “Total Food Solutions,” dengan kegiatan usaha yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para peritel. Sebagai perusahaan terkemuka dalam industri makanan olahan di Indonesia, kegiatan operasional Indofood didukung oleh sistem distribusi yang ekstensif sehingga memungkinkan produk-produknya dikenal di seluruh penjuru Nusantara.
Saat ini kegiatan usaha Indofood terdiri dari empat Kelompok Usaha Strategis (Grup) yang saling melengkapi :
a)   Grup Produk Konsumen Bermerek (CBP), menghasilkan berbagai macam produk makanan dalam kemasan yang tercakup dalam divisi Mi Instan, Penyedap Makanan, Makanan Ringan dan Nutrisi & Makanan Khusus. Kegiatan Grup CBP didukung oleh divisi Bumbu, Kemasan dan Internasional
b)  Grup Bogasari, dengan kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta, serta didukung oleh unit perkapalan
c)    Grup Agribisnis, aktifitas utama kelompok usaha ini meliputi penelitian dan pengembangan, pembibitan kelapa sawit, pemuliaan, termasuk juga penyulingan serta branding dan pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening. Setelah akuisisi saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum), kegiatan usaha grup ini juga meliputi perkebunan karet, teh dan kakao.
d)  Grup Distribusi, memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Kelompok usaha ini mendistribusikan hampir seluruh produk Indofood, dan juga mendistribusikan produk-produk pihak ketiga.
Warisan Indofood terbesar saat ini adalah kekuatan merek-merek yang dimilikinya, bahkan banyak di antara merek tersebut melekat di hati masyarakat Indonesia selama lebih dua dekade. Ini termasuk beberapa merek mi instan (Indomie, Supermi dan Sarimi), tepung terigu (Segitiga Biru, Kunci Biru dan Cakra Kembar), minyak goreng (Bimoli), margarin (Simas) dan shortening (Palmia). Meskipun menghadapi kompetisi ketat, merek-merek ini tetap merupakan pemimpin pasar di masing-masing segmennya, dikenal atas produknya yang berkualitas dengan harga terjangkau.



B.     Pembahasan Hasil Penelitian
Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan dan dijelaskan langkah-langkah yang diperlukan dalam perhitungan EVA ini adalah sebagai berikut:
1.      Menghitung biaya modal hutang (cost of debt = Kd)
2.      Menghitung biaya modal saham (cost of equity = Ke)
3.      Menghitung struktur modal
4.      Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)
5.      Menghitung EVA
Adapun perhitungan dari langkah-langkah tersebut diatas adalah:
1.      Menghitung biaya modal hutang (cost of debt = Kd)
Dalam menjalankan operasionalnya suatu perusahaan akan dibiayai dengan modal, dimana modal tersebut berasal dari pihak ketiga. Modal dari pihak ketiga tersebut berupa dana pinjaman baik jangka panjang maupun dana yang diinvestasikan ke dalam perusahaan. Perhitungan biaya modal ini, menghitung beban yang ditanggung oleh perusahaan dalam penggunaan dan pinjaman dari debitur. Dana pinjaman yang dimaksud antara lain sewa guna usaha pinjaman dari bank, obligasi, wesel bayar, hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun. Komponen-komponen yang dipakai dalam perhitungan biaya modal hutang adalah jumlah hutang jangka panjang, beban bunga dan pajak yang dibebankan kepada perusahaan. Untuk menghitung biaya modal hutang ini, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah mencari biaya hutang sebelum pajak (Kb) dengan rumus:
Adapun perhitungan biaya hutang sebelum pajak (Kb)  PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk adalah sebagai berikut:
Table 4.1
Perhitungan Biaya Hutang Sebelum Pajak (Kb)
PT. Aqua Golden Missisipi Tbk.
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Beban bunga
Jumlah hutang
Kb
2003
173
223.539
0,08
2004
159
205.963
0,08
2005
254
318.127
0,08
2006
248
342.896
0,07
2007
254
377.577
0,07



Sumber : Data diolah
            Sehingga dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan biaya hutang sebelum pajak (Kb) untuk PT. Aqua Golden Missisipi Tbk pada tahun 2003 adalah 0,08 %, pada tahun 2004 adalah 0,08 %, pada tahun 2005 adalah 0,08%, pada tahun 2006 adalah 0,07% dan pada tahun 2007 adalah0,07 %
           
Tabel 4.2
Perhitungan Biaya Hutang Sebelum Pajak (Kb) 
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Beban Bunga
Jumlah Hutang
Kb
2003
943.854
10.552.329
8,94
2004
966.233
10.653.750
9,07
2005
827.870
10.059.357
8,23
2006
816.402
11.598.070
7,04
2007
710.045
18.675.909
3,80


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan biaya hutang sebelum pajak (Kb) untuk PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. pada tahun 2003 adalah 8,94 %, pada tahun 2004 adalah 9,07 %, pada tahun 2005 adalah  8,23 %, pada tahun 2006 adalah 7,40 % dan pada tahun 2007 adalah 3,80%
Sedangkan untuk tarif pajak perusahaan dalam penelitian ini dihitung dengan cara sebagai berikut:
Adapun perhitungan tarif pajak (T) PT Aqua Golden Missisipi Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Perhitungan Tarif Pajak (T)
PT Aqua Golden Missisipi Tbk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Pajak penghasilan
Laba Sblm Pajak penghasilan
T
2003
29.206
93.328
31,29
2004
41.114
133.477
30,80
2005
25.553
91.363
27,97
2006
30.529
79.794
38,26
2007
28.953
95.821
30,21
Sumber: Bank Indonesia (2007)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan tarif pajak (T) untuk PT. Aqua Golden Missisipi Tbk. pada tahun 2003 adalah 31,29 %, pada tahun 2004 adalah 30,80 %, pada tahun 2005 adalah 27,97%, pada tahun 2006 adalah 38,26% dan pada tahun 2007 adalah 30,21 %
Tabel 4.4
Perhitungan Tarif Pajak (T)
PT Indofood Sukses Makmur Tbk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Pajak penghasilan
Laba Sblm Pajak Penghasilan
T
2003
310.203
852.380
37,61
2004
320.601
1.031.135
31,09
2005
188.426
4.24.321
44,41
2006
472.029
1.221.206
38,65
2007
696.842
2.065.229
33,74
Sumber: Bank Indonesia (2007)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa tarif pajak (T) untuk PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. pada tahun 2003 adalah 37,61 %, pada tahun 2004 adalah 31,09 %, pada tahun 2005 adalah 44,41%, pada tahun 2006 adalah 38,65% dan pada tahun 2007 adalah 33,74 %
            Setelah menghitung tarif pajak, selanjutnya adalah menentukan faktor dalam perhitungan biaya modal hutang, yang diperoleh dengan cara:
Tabel 4.5
Perhitungan Biaya Modal Hutang (Kd )
PT Aqua Golden Missisipi Tbk
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Kb
T
Kd
2003
0,08
31,29
0,05
2004
0,08
30,80
0,05
2005
0,08
27,97
0,06
2006
0,07
38,26
0,04
2007
0,07
30,21
0,05
Sumber: Bank Indonesia (2007)
Berdasarkan tabel 4.5 diatas, hasil perhitungan biaya modal hutang biaya modal hutang perusahaan tidak banyak mendalami perubahan hanya berkisar pada angka 0,04 % sampai 0,06 %
Tabel 4.6
Perhitungan Biaya Modal Hutang (Kd )
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk.
(Dalam Jutaan Rupiah)
Tahun
Kb
T
Kd
2003
8,94
37,61
5,58
2004
9,07
31,09
6,25
2005
8,23
44,41
4,57
2006
7,04
38,65
4,31
2007
3,80
33,74
2,52
Sumber: Bank Indonesia (2007)
PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., selama lima tahun terakhir ini menunjukkan keadaan yang relatif tetap. Besarnya biaya modal hutang perusahaan tahun 2003 adalah 5,58%, sementara pada tahun 2004 besarnya biaya modal hutang mengalami peningkatan menjadi 6,28 %. Pada tahun 2005,  mengalami panurunan menjadi 4,57%. Dan pada tahun 2006 mengalami penurunaan kembali sebesar 4,31 % Sedangkan pada tahun 2007 menurun kembali menjadi 2,52 %. Biaya hutang sebelum pajak pada PT Aqua Golden Missisipi Tbk. memiliki nilai prosentase yang sangat kecil hal ini terjadi karena kecilnya nilai beban bunga dibandingkan dengan hutang jangka panjang, sehingga mengakibatkan kecilnya nilai Kb. Untuk tahun 2003-2004. Biaya modal mengalami peningkatani. Namun pada tahun 200-2007 biaya modal hutang yang ditanggung perusahaan semakin kecil yaitu 4,57 untuk tahun 2005, 4,31 untuk tahum 2006 dan 2,52 untuk tahun 2007. Hal ini terjadi karena pada tahun 2005 laba sebelum pajak perusahaan menurun dan ditambah dengan meningkatnya nilai hutang jangka panjang perusahan.

 


KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar