Analisis Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Net Income Perusahaan Pada Industri Farmasi Di Indonesia

Admin
ANALISIS PENGARUH VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP NET INCOME PERUSAHAAN PADA INDUSTRI FARMASI DI INDONESIA Periode 2003-2007 (Studi pada PT. Bursa Efek Indonesia) 

A.    Latar Belakang
Kondisi suatu perusahaan tidak saja ditentukan oleh kemampuan manajemen dalam mengelolanya, melainkan juga oleh kondisi makro ekonomi. Perubahan kondisi makro ekonomi berupa tingkat pertumbuhan, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah dan suku bunga, memiliki pengaruh tertentu terhadap perkembangan perusahaan.
Melihat perkembangan perekonomian Indonesia yaitu pada tahun 2005 laju inflasi mencapai 17,11 %. Pada tahun 2006 laju inflasi mencapai 6,60 % dan pada Tahun 2007 laju inflasi mencapai 6.59 %, Target inflasi di tahun 2007 tidak tepat sasaran, realisasinya diatas target APBN Perubahan 2007 yang dipatok 6%. Hal ini disebabkan adanya inflasi di bulan Desember 2007 terbang tinggi sehingga laju inflasi tahun 2007 meleset 6,59 persen. Yang mana disebabkan oleh salah satunya faktor melonjaknya harga berbagai komoditas. Selain itu juga dipengaruhi oleh tanah longsor dan pasang laut yang tinggi. Musibah di sejumlah tempat yang menghambat jalur distribusi mendorong inflasi karena kelangkaan barang atau bahan makanan. (Jawa Pos, Kamis 3  Januari 2008)
Dengan memperhatikan kondisi dan prospek perekonomian dalam negeri, kebijakan moneter yang akomodatif dan berhati - hati akan tetap diarahkan untuk menjaga kestabilan kondisi makro ekonomi. Penurunan suku bunga lebih lanjut akan dilakukan secara berhati-hati dengan laju penurunan yang melambat, serta memperhatikan sasaran inflasi jangka menengah. (www.jsx.co.id)
Variabel makro ekonomi merupakan faktor yang berada diluar perusahaan tetapi mempunyai pengaruh terhadap kenaikan atau penurunan kinerja suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung (Samsul, 2006:200). Oleh karena itu berbagai perusahaan baik yang bergerak di bidang industri maupun jasa sangat terpengaruh dengan kondisi ekonomi nasional. Hal ini berdampak pada pertumbuhan industri farmasi. Pertumbuhan industri farmasi hingga akhir tahun diperkirakan akan mengalami penurunan menjadi 8-10 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 15-17 persen. Penyebab penurunan diantaranya, pertama adanya peraturan baru, diantaranya labelisasi generik, penurunan harga obat dan labelisasi obat yang menyebabkan pembelian barang menjadi tertahan karena menunggu stok habis. Kedua, daya beli masyarakat yang menurun akibat kenaikan harga bahan bakar minyak tahun 2006 (www.tempointeraktif.com).
Maju mundurnya suatu perusahaan tercermin dari keuntungan yang diperoleh setiap tahun. Suatu perusahaan yang mampu meraih keuntungan setiap tahunnya mengindikasikan suatu kemajuan, sedangkan jika menderita kerugian setiap tahunnya mengindikasikan kebangkrutan. Setiap perusahaan berusaha memperoleh laba yang cukup atas setiap unit produk yang dijualnya. Kemampuan manajemen dalam menjalankan perusahaan dengan cukup berhasil, tidak hanya diperolehkannya kembali biaya-biaya dari barang dagangan atau jasa-jasa periode tertentu. Akan tetapi dapat menyisihkan suatu kelebihan sebagai kompensasi yang cukup wajar kepada pemilik perusahaan atau pemegang saham yang telah menyerahkan modalnya dengan suatu resiko. Laporan keuangan akan dapat menceritakan jumlah keuntungan atau tingkat keuntungan yang dicapai oleh manajemen dalam suatu periode, apakah cukup wajar sesuai dengan penggunaan sumber-sumber yang ada dalam perusahaan. (www.siaksoft.net)
Untuk menilai prestasi dan kondisi keuangan suatu perusahaan, seorang analisis keuangan melakukan ukuran tertentu. Ukuran yang sering kali digunakan adalah rasio atau indeks yang menunjukkan hubungan antara dua data keuangan. Ukuran yang biasanya dipakai yaitu rasio-rasio keuangan, akan tetapi dengan menggunakan rasio keuangan hanya akan mengetahui besarnya angka-angka rasio saja. Oleh sebab itu dibutuhkan interpretasi dari angka-angka rasio yang telah diperoleh serta memilih jenis-jenis rasio yang sesuai dengan tujuan analisis.
Berdasarkan realita di atas, peneliti mengambil judul “Pengaruh Variabel Makro Ekonomi Terhadap Net Income Perusahaan Pada Industri Farmasi Di Indonesia (Periode 2003-2007)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan, maka rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah variabel makro ekonomi (inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga (SBI)) berpengaruh secara simultan terhadap net income perusahaan pada industri farmasi di Indonesia pada tahun 2003-2007?
2.      Diantara variabel makro ekonomi (inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga (SBI)), mana yang lebih dominan berpengaruh terhadap net income perusahaan pada industri farmasi di Indonesia pada tahun 2003-2007?
C. Batasan Masalah
1.      Perusahaan yang menjadi obyek penelitian yaitu perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
2.      Net Income perusahaan farmasi yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007.
3.      Variabel makro ekonomi yang dijadikan indikator, sesuai dengan variabel makro Bank Indonesia.
a)      Laju inflasi pada periode 2003-2007.
b)     Tingkat Suku Bunga (SBI) pada periode 2003-2007.
c)Jumlah Uang Beredar pada periode 2003-2007.

D. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui pengaruh variabel makro ekonomi (inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga (SBI)) terhadap net income perusahaan pada industri farmasi di Indonesia pada tahun 2003-2007.
2.      Untuk mengetahui variabel makro ekonomi yang dominan berpengaruh terhadap net income perusahaan pada industri farmasi di Indonesia pada tahun 2003-2007.
E. Manfaat Penelitian
1.      Bagi Perusahaan
Dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan di bidang keuangan.
2.      Bagi Pembaca
Sebagai bahan kajian, informasi dan acuan untuk penelitian selanjutnya,  serta menambah referensi sebagai penunjang rekan mahasiswa khususnya.
3.      Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan yang luas tentang aplikasi kreativitas pemikiran terhadap masalah yang terjadi di perusahaan yang diteliti dengan kenyataan di lapangan yang dipertimbangkan terhadap teori yang didapat.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Tinjauan Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu, dalam penelitian ini digunakan untuk membantu mendapatkan gambaran dan menyusun kerangka pikir mengenai penelitian ini.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No
Nama Peneliti (tahun)
Judul
Tujuan Penelitian
Alat Analisis
Hasil
1.
R.A. Fitri Mariana, 2005
Pengaruh Krisis Moneter Pada Efisiensi Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Jakarta.
Menganalisa pengaruh krisis moneter pada kinerja  keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ).
Kolmogrof-Smirnov Goodness of Fit-Test dan Wilcoxon Signed Rank Test
Perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ telah terkena dampak dari krisis moneter.
2.
Sjofwan Haroen, 2007
analisis variabel-variabel internal (keuangan) dan eksternal (makro) yang mempengaruhi profitabilitas bank Tbk. Di Indonesia (2002:1-2006:1)
Mengetahui pengaruh internal (keuangan) dan eksternal (makro) yang mempengaruhi efisiensi bank dalam penciptaan profit.
Data panel dengan pendekatan random effect (estimasi General Least Square)
Faktor internal (keuangan) seperti deposit, CAR, Loan serta factor eksternal (makro) seperti inflasi berpengaruh terhadap profitabilitas bank, sedangkan untuk financial investment dan GDP tidak memiliki pengaruh yang berarti terhadap profitabilitas bank.

Perbedaan dan persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini yaitu:
1.      Perbedaan
 Pertama, pada penelitian sebelumnya variabel independent yang digunakan ialah nilai tukar mata uang asing (dollar US), deposit, CAR, Loan serta faktor eksternal (makro) yaitu financial investment dan GDP. Sedangkan pada penelitian ini, variabel independent yang digunakan yaitu laju inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kemudian perbedaan yang kedua terletak pada alat analisis, Pada penelitian sebelumnya menggunakan alat analisis Kolmogorof-Smirnov Goodness of Fit-Test, Wilcoxon Signed Rank Test dan Data panel dengan pendekatan random effect (Estimasi General Least Square). Sedangkan pada penelitian ini, menggunakan alat analisis regresi linier berganda dengan data panel dengan menggunakan analisis fixed effects. Perbedaan yang ketiga, terletak pada variabel dependentnya. Pada penelitian sebelumnya variabel dependentnya yaitu efisiensi perusahaan dalam bentuk profitabilitas, likuiditas dan operasi serta leverage perusahaan. Sedangkan pada penelitian ini variabel dependentnya yaitu net income perusahaan. Perbedaan yang keempat yaitu sampel penelitian. Penelitian sebelumnya berjumlah 101 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan 22 Bank yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sedangkan penelitian ini mempunyai sampel sebanyak 7 perusahaan yang mempunyai net income berturut-turut selama lima tahun.
2.      Persamaan
Persamaannya yaitu terletak pada tujuan penelitian. Yang mana penelitian sebelumnya  dengan penelitian ini sama-sama bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel makro ekonomi terhadap kinerja perusahaan.


B.     Kajian Teoritis
Kinerja perusahaan tercermin dari laba bersih serta laba bersih per saham serta beberapa rasio keuangan yang menggambarkan kekuatan manajemen dalam mengelolah perusahaan. Risiko perusahaan tercermin dari daya tahan perusahaan dalam menghadapi siklus ekonomi serta faktor makro ekonomi (Samsul, 2006:200). Dengan kata lain, kinerja perusahaan dan risiko yang dihadapi dipengaruhi oleh faktor makro ekonomi. Faktor makro ekonomi tersebut, diantaranya:
1. Inflasi
a) Definisi Inflasi
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa inflasi merupakan kemerosotan nilai uang karena banyaknya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Sedangkan dalam kamus lengkap ekonomi disebutkan bahwa inflasi, merupakan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung terus menerus. Sehingga jika kenaikan harga barang (meskipun dengan persentase kenaikannya sangat besar) hanya sekali saja bukan dikatakan sebagai inflasi.
Kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan indeks harga. Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain (Nopirin, 2000:25):

1.      Indeks Biaya Hidup (Consumer Price Index)
Adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam satu periode tertentu. Angka Indeks Harga Konsumen diperoleh dengan menghitung harga-harga barang dan jasa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode tertentu.
Dimana:
IHK = Indeks Harga Konsumen pada tahun yang peneliti teliti.
IHK-1 = Indeks Harga Konsumen pada tahun sebelumnya.
2.      Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholesaler Price Index)
Indeks Harga Perdagangan Besar melihat inflasi dari sisi produser. Indeks Harga Perdagangan Besar menunjukkan tingkat harga yang diterima produser pada berbagai tingkat produksi.
Dimana:
IHPB = Indeks Harga Perdagangan Besar pada tahun yang peneliti teliti.
IHPB-1 = Indeks Harga Perdagangan Besar pada tahun sebelumnya.
3.       GNP Deflator
Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan Indeks Harga Implisit.
Dimana:
GNP Nominal = Indeks Harga atas dasar harga berlaku
GNP Riil               = Indeks Harga atas dasar harga konstan
b) Macam – Macam Inflasi
Penggolongan laju inflasi dapat dibedakan dengan berbagai cara (Boediono, 2001:156). Bedasarkan sifatnya, inflasi dapat digolongkan menjadi empat yaitu: Inflasi ringan (<10% pertahun), inflasi sedang (10%-30% pertahun), inflasi berat (antara 30%-100%  pertahun), hiperinflasi (>100% pertahun). Atas dasar besarnya laju inflasi dapat digolongkan kedalam tiga kategori yaitu (Nopirin, 2000:27): Inflasi merayap (creeping inflation), inflasi menengah (galloping inflation), serta inflasi sangat tinggi (Hyper inflation).
Berdasarkan sebab terjadinya, inflasi dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1.      Demand-pull Inflation
Inflasi ini terjadi dimana permintaan masyarakat akan barang terlalu kuat. Gambar 1 menggambarkan suatu Demand Inflation, karena permintaan masyarakat akan barang atau aggregate demand bertambah (misalnya, karena bertambahnya pengeluaran pemerintah yang dibiayai dengan pencetakan uang, atau kenaikan permintaan luar negeri akan barang-barang ekspor atau bertambahnya pengeluaran investasi swasta karena kredit yang murah), maka dalam gambar 1 dibawah ini kurva permintaan masyarakat (aggregate demand) bergeser dar Z1 ke Z2. Akibatnya tingkat harga umum naik dari P1 ke P2 .
2.      Cost-push Inflation
Inflasi ini terjadi dikarenakan kenaikan harga atau biaya produksi serta turunnya produksi. Dalam gambar 2 menggambarkan bahwa jika biaya produksi naik dari P1 ke P2 (misalnya, karena kenaikan harga sarana produksi yang didatangkan dari luar negeri atau karena kenaikan bahan bakar minyak), maka dalam gambar 2 dibawah ini kurva penawaran masyarakat (aggregate supplay) akan bergeser dari S1 ke S2.


         Gambar 2.1                           Gambar 2.2
         Demand Inflation               Cost-Push Inflation
Sumber: Boediono, 2001:157
Sedangkan berdasarkan pada asal mula timbulnya, inflasi dapat dibagi menjadi dua yaitu: domestic inflation, dimana terjadinya defisit anggaran belanja sehingga menimbulkan inflasi sedang yang kedua yaitu imported inflation, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga di luar negeri atau negara langganan berdagang.
c) Efek Inflasi
Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan (equity effect), alokasi faktor produksi serta produk nasional (Nopirin, 2000:32):
1.      Equity Effect
Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang diuntungkan dengan adanya nilai inflasi. Seseorang yang memperoleh pendapatan tetap akan dirugikan oleh adanya inflasi. Begitu pula orang yang menumpuk kekayaannya dalam bentuk uang kas akan menderita kerugian akibat inflasi. Sedangkan pihak yang mendapat keuntungan dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dan nilainya naik dengan persentase lebih besar dari laju inflasi.
2.      Effciency Effect
Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang yang lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi barang ini pada gilirannya akan mengubah pola alokasi fakor produksi yang sudah ada. Mayoritas ahli ekonom berpendapat bahwa inflasi dapat mengakibatkan alokasi faktor produksi menjadi tidak efisien, meskipun tidak ada jaminan bahwa alokasi faktor produksi akan lebih efisien dalam keadaan tidak inflasi.
3.      Output Effect
Inflasi menyebabkan kenaikkan produksi, namun jika laju inflasi cukup tinggi (hiperinflasi) berakibat sebaliknya, penurunan output. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara inflasi dan output. Inflasi bisa dibarengi dengan kenaikkan output tapi juga bisa dibarengi dengan penurunan output.
d) Cara Mengatasi Inflasi
Dengan menggunakan persamaan Irving Fisher MV = PT, dapat dijelaskan bahwa inflasi timbul karena MV naik lebih cepat daripada T. faktor M dan V adalah faktor uang sedangkan T adalah faktor jumlah barang yang diperdagangkan.oleh karena itu untuk mencegah terjadinya inflasi maka salah satu variabel M atau V harus dikendalikan. Disamping ini, volume T ditingkatkan guna mencegah atau mengurangi inflasi (Nopirin, 2000:34). Cara mengatur variabel M, V dan T tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan tiga kebijaksanaan yang biasa ditempuh (Manulang, 1985:91):
1.      Kebijaksanaan Moneter
Cara mengatasi inflasi dengan kebijaksanaan moneter, untuk sebagian besar berhubungan dengan politik Bank Sentral:
a)      Menaikkan Cash Ratio
Cash Ratio adalah perbandingan antara uang tunai bank-bank ditambah dengan demand pada bank Sentral terhadap bank yang bersangkutan. Menaikkan Cash Ratio atau reserve requirements dari pada bank dagang, merupakan suatu tindakan anti inflasi oleh karena itu selain mengurangi reserve yang berlebihan dari pada bank, begitu pula dapat mengurangi kemungkinan memenuhi permintaan kredit dari pada anggota masyarakat.
b)     Politik Pasar Terbuka
Dengan politik pasar terbuka dimaksudkan suatu kebijaksanaan dari Bank Sentral untuk menjual surat-surat berharga kepada masyarakat, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakt berkurang.
c)Menaikkan Tingkat Bunga
Kenaikan tingkat bunga dari Bank Sentral akan mengurangi tingkat pinjaman.
2.      Kebijaksanaan Fiskal
a)      Penurunan Pengeluaran Pemerintah
Pada masa inflasi pengeluaran pemerintah haruslah dikurangi untuk bisa menetralisir kenaikan artikulir.
b)   Menaikkan Pajak
Dengan menambah pajak berarti penghasilan seseorang akan berkurang, karena sebagian penghasilannya dalam bentuk pajak diberikan kepada pemerintah. Penambahan pajak ini dapat dilakukan dengan menaikkan tarif pajak ataupun menambah jenis pajak yang harus dibayar oleh masyarakat.


c)    Mengadakan Pinjaman Pemerintah
Biasa disebut dengan pengadaan pinjaman paksa dimana sebagian gaji pegawai dan buruh dipotong untuk disimpan menjadi pinjman pemerintah selama jangka waktu yang ditentukan.
3.      Kebijaksanaan Non Moneter
a)    Penaikan Hasil Produksi
Salah satu cara untuk menaiiakn nilai uang adalah dengan menaikkan jumlah T dengan kata lain menaikkan produksi. Untuk mencapai hal tersebut dilakukan dengan mengerjakan faktor-faktor produksi dengan full capacity. Penaikan hasil produksi dapat pula dicapai dengan penaikan jam kerja buruh dengan sistem lembur. Selain itu peranan import untuk menaikan jumlah barang ang akan diperdagangkan tidak boleh diremehkan.
b)   Kebijaksanaan Upah
Untuk mengurangi disposable income dari anggota masyarakat dapat dilakukan dengan menstabilkan gaji.
c)    Pengawasan Harga dan Distribusi Barang-Barang
Kecendrungan naiknya harga barang-barang dapat pula diatasi dengan jalan penetapan dan pengawasan harga oleh pemerintah dengan sanksi yang amat berat. Selain itu pendistribusian barang-barang juga sebagian salah satu cara untuk mengatasi inflasi.
d)   Mengatasi Inflasi dengan Program yang Bersegi Banyak
Menurut Hansen, sistem serangan yang bersegi banyak itu meliputi:
- Pemakaian kebijaksanaan moneter yang bijaksana
- Kebijaksanaan fiskal
- Pengawasan-pengawasan langsung














2. Uang Yang Beredar
a) Definisi Uang
Ada beberapa definisi dari pada uang, masing-masing berbeda sesuai dengan tingkat likuiditasnya. Biasanya uang didefinisikan (Nopirin, 2000:120):
M1 adalah uang kertas dan logam ditambah simpanan dalam bentuk rekening koran (demand deposit).
M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) pada bank-bank umum.
M3 adalah M2 + tabungan + deposito berjangka pada lembaga –lembaga tabungan non bank.
Jumlah uang yang beredar yang dimaksud adalah nilai keseluruhan uang yang berada ditangan masyarakat. Jumlah uang beredar dalam arti sempit (narrow money) adalah jumlah uang beredar yang terdiri atas uang kartal dan uang giral.
Ms = K + D
Dimana: K = uang kartal (currency)
D = uang giral (demand deposit)
Dalam proses terjadinya uang giral dan kartal, terdapat satu konsep “uang” yang memegang peranan sangat penting yaitu uang inti atau reserve money. Uang inti merupakan “inti” dari proses penciptaan uang.
Berikut gambar yang menunjukaan bagaimana uang inti tercipta.
Gambar 2.3.
Uang Inti (reserve money)
Jumlah Uang Beredar
 
Sumber : Boediono, 2001:90


b) Peranan, Fungsi Uang dan Nilai Dari Uang
Uang tidak lain adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau diterima untuk melakukan pembayaran baik barang, jasa maupun utang. Dengan demikian uang dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang secara umum mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Sebagai satuan pengukur nilai
Dengan fungsi nilai ini maka nilai suatu barang dapat diukur dan diperbandingkan.
2.      Sebagai alat tukar-menukar
Fungsi ini memisahkan antara keputusan membeli dengan keputusan menjual. Adanya uang sebagai alat didalam tukar menukar dapat menghilangkan perlunya ada kesamaan keinginan sebelum terjadinya pertukaran.
3.      Sebagai alat penimbunan atau penyimpan kekayaan
Kekayaan seseorang dapat berupa barang atau uang. Dengan demikian seseorang dapat menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang kas.





c) Klasifikasi Uang
Menurut Nopirin (2000:123), Klasifikasi uang adalah sebagai berikut:
1.      Full Bodied Money
Full Bodied Money adalah uang dimana nilainya sebagai barang sama dengan nilainya sebagai uang. Biasanya Full Bodied Money dikeluarkan oleh pemerintah.
2.      Representative Full Bodied Money
Biasanya uang jenis ini terbuat dari kertas, dengan demikian nilainya sebagai barang tidak ada (nol). Sebenarnya uang jenis ini hanyalah mewakili dari sejumlah barang atau logam dimana nilai logam sebagai barang sama dengan nilainya uang.
3.      Credit Money
Credit Money adalah jenis uang yang mana nilainya sebagai uang lebih besar dari pada nilai sebagai barang. Credit money ini dapat berbentuk:
a)      Token Coints (Uang Tanda). Jenis uang ini berbentuk logam dengan nilai nominal lebih tinggi dari pada nilai sebagai barang (nilai intrinsik).
b)     Representative Token Money. Jenis uang logam dengan nilai nominal lebih rendah daripada nilai sebagai barang (nilai intrinsik).
c)      Uang Kertas yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Biasanya berbentuk uang kertas dan sering disebut fiat money.
d)     Uang Kertas yang dikeluarkan oleh Bank Sentral
Kebanyakan uang kertas yang beredar di masyarakat dewasa ini berupa uang kertas yang dikeluarkan bank sentral. Di Indonesia, kita lihat setiap uang kertas selalu ada tulisan Bank Indonesia.
e)      Demand Deposit (Uang Giral)
Bagian terbesar dari jumlah uang yang beredar merupakan uang giral.
d) Kebijaksanaan Moneter
Kebijaksanaan moneter adalah tindakan pemerintah atau bank sentral untuk mempengaruhi situasi makro yang dilaksanakan melalui pasar uang. Secara lebih khusus, kebijaksanaan moneter bisa diartikan sebagai tindakan makro pemerintah atau bank sentral dengan cara mempengaruhi proses penciptaan uang (Boediono, 2001:96).
Jumlah uang yang beredar Ms ditentukan oleh faktor- faktor yaitu:
1.      Besarnya jumlah uang inti (H) yang tersedia
2.      Besarnya koefisien pelipat uang
3.      Keadaan neraca pembayaran (surplus atau defisit)
4.      Keadaan APBN (surplus atau defisit)
5.      Perubahan kredit langsung BI
6.      Perubahan likuiditas BI
d) Permintaan Uang
Teori yang menjelaskan mengenai permintaan uang dapat dibedakan menjadi dua yaitu (P. Rahardja dan M. Manurung, 2004:281):
1.  Teori Permintaan Uang Klasik
Menurut pandangan ekonomi klasik, fungsi uang hanya sebagai alat tukar. Karena jumlah uang yang diminta berbanding proporsional dengan tingkat output atau pendapatan. Jumlah uang yang diminta masyarakat bukanlah semata-mata nilai nominalnya tetapi juga daya belinya, yaitu nilai nominal dibandingkan dengan tingkat harga (real money balances).
(M/P)d = k . Y
Dimana:
(M/P)d = Permintaan uang riil
M = Nilai nominal uang
P = Tingkat harga
Y = Pendapatan atau output
k = Proporsi permintaan uang terhadap pendapatan atau output.
Karena hanya berfungsi sebagai alat tukar, maka uang bersifat netral (money neutralitiy), dalam arti uang hanya mempengaruhi tingkat harga. Pendapat ini dinyatakan dalam persamaan kuantitas uang klasik (classical quantity of money) yang dikemukakan oleh Irving Fisher:
M V = PT
Dimana: M = Jumlah uang yang beredar
V = Velositas uang
P = Tingkat harga umum
T = Jumlah unit transaksi
Dengan demikian, Jumlah Uang x Velositas = Harga x Transaksi
Velositas merupakan konsep yang menunjukkan berapa kali dalam setahun uang berputar di dalam sebuah perekonomian.
2.   Teori Permintaan Uang Keynesian
Menurut teori Keynes ada tiga motivasi orang memegang uang, yaitu:
a)      Motivasi transaksi (transaction motive)
Masyarakat memegang uang (hoding money) dalam rangka mempermudah kegiatan transaksi sehari-hari. Permintan uang untuk transaksi berhubungan positif dengan tingkat pendapatan.

b)     Motivasi berjaga-jaga (precautionary motive)
Hal lain yang juga memotivasi orang memegang uang adalah persiapan untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak terduga. Permintaan uang untuk berjaga-jaga juga berhubungan positif dengan tingkat pendapatan.
c)      Motivasi memperoleh keuntungan (speculation motive)
Konsekuensinya dari fungsinya sebagai penyimpan nilai, uang dapat digunakan sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan. Teori ini berdasarkan asumsi bahwa uang adalah salah satu dari dua asset finansial yang dapat dimiliki masyarakat. Permintaan uang untuk mendapatkan keuntungan berhubungan negatif dengan tingkat bunga dan perkiraan inflasi.
3. Suku Bunga (Sertifikat Bank Indonesia)
a)      Definisi Suku Bunga
Menurut Boediono, (2001:75) tingkat suku bunga adalah harga yang disepakati dari penggunaan uang tersebut untuk jangka waktu yan telah ditentukan bersama dan harga ini dinyatakan dalam persen (%) per satuan waktu.
Faktor suku bunga ini penting untuk diperhatikan karena rata-rata semua orang termasuk investor saham selalu mengharapkan hasil investasi yang lebih besar.  Dengan adanya perubahan suku bunga, tingkat pengembalian hasil berbagai sarana investasi akan mengalami perubahan.
Yang dimaksud suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah suku bunga yang diberlakukan Bank Indonesia selaku bank sentral dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Adanya bunga yang tinggi dalam SBI membuat bank dan lembaga keuangan yang menikmatinya ini otomatis akan memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk produk-produknya. Tujuannya agar mampu menarik sebanyak mungkin dana dari masyarakat yang aka digunakan untuk membeli SBI. Jika ini terjadi berarti tujuan dari pemerintah telah tercapai.
Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah.
b)     Faktor-faktor yang menimbulkan tingkat bunga
1.      Teori Klasik tentang Tingkat Bunga
Menurut teori klasik, tingkat bunga merupakan hasil interaksi antara tabungan dan investasi. Makin tinggi tingkat bunga makin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Investasi juga tergantung atau merupakan fungsi dari tingkat bunga, makin tinggi tingkat bunga keinginan untuk melakukan investasi juga makin kecil. Selanjutnya menurut teori klasik, adanya tabungan masyarakat tersebut tidaklah berarti dana hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai oleh pengusaha untuk membiayai investasinya. (Nopirin, 2001:70).
Tingkat bunga dalam keseimbangan akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Secara grafik keseimbangan tingkat bunga dapat digambarkan dalam gambar berikut:






Gambar 2.4.
Teori Klasik tentang Tingkat Bunga
Sumber : Nopirin, 2001:71
2.      Teori Keynesian tentang Tingkat Bunga
Menurut Keynes, tingkat bunga merupakan suatu fenomena moneter. Artinya, tingkat bunga ditentukan oleh penawaran dan permintaan akan uang (ditentukan dalam pasar uang). Uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi (GNP), sepanjang uang ini mempengaruhi tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi dan dengan demikian akan mempengaruhi GNP. (Nopirin, 2001:90).
Permintaan akan uang, yang oleh Keynes disebut dengan “liquidity preference” (permintaan uang) tergantung daripada tingkat bunga. Secara grafik teori Keynes tentang tingkat bunga dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.5
Teori Keynes tentang Tingkat Bunga
Sumber : Nopirin, 2001:92
Permintaan akan uang mempunyai hubungan yang negatif dengan tingkat bunga, hal ini dijelaskan oleh Keynes bahwa (Nopirin, 2000:95):
a)          Masyarakat mempunyai keyakinan adanya suatu tingkat bunga yang normal.
b)         Ongkos memegang uang kas (opportunity cost of holding money). Semakin tinggi tingkat bunga semakin tinggi pula ongkos memegang uang kas, sehingga keinginan untuk memegang uang kas menurun. Sebaliknya jika tingkat bunga turun berarti ongkos memegang uang kas juga makin rendah sehingga permintaan akan uang kas naik.



4. Laporan Keuangan
Menurut Copeland (1995:24) laporan keuangan merupakan prestasi histories dari suatu perusahaan dan memberikan dasar, bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi untuk membuat proyeksi dan peramalan untuk masa depan.
Dalam pengertian yang sama Sofyan (1997:1), laporan keuangan adalah media informasi yang merangkum semua aktivitas perusahaan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.
Menurut Munawir (1988:2), laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pada umumnya laporan keuangan adalah suatu daftar keuangan yang disusun oleh suatu perusahaan pada akhir periode akuntansi, yang bermanfaat bagi mereka yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan tersebut.
Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan, yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara melakukan analisis laporan keuangan. Model yang sering digunakan dalam melakukan analisis tersebut adalah dalam bentuk rasio-rasio keuangan.
Jadi, melalui laporan keuangan akan dapat dinilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, struktur modal perusahaan, distribusi dan keefektifan daripada penggunaan aktivanya, hasil atau pendapatan yang telah dicapai, beban-beban tetap yang harus dibayar serta nilai-nilai buku tiap lembar saham perusahaan yang bersangkutan (Munawir, 1988:5).
Terdapat berbagai jenis laporan keuangan, namun laporan keuangan utama menurut Standar Akuntansi Keuangan yaitu (Sofyan, 2004:39):
a.      Neraca
b.      Laporan Laba Rugi
c.       Laporan Arus Kas
d.     Laporan Sumber dan Penggunaan dana
Laporan keuangan merupakan komoditi yang bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat, karena dapat memberikan informasi yang dibutuhkan para pemakainya dalam dunia bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan (Sofyan, 1997:120). Para pemakai laporan keuangan beserta kegunaannya adalah sebagai berikut:
a.      Pemilik Perusahaan, sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya terutama untuk perusahaan-perusahaan yang pimpinannya diserahkan kepada orang lain. Guna menilai sukses tidaknya manajer dalam memimpin perusahaannya, biasa diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan.
b.      Manajer, dengan mengetahui kondisi keuangan perusahaan dapat menyusun rencana yang lebih baik di periode akan datang.
c.       Investor, dengan mengetahui kondisi keuangan perusahaan dapat menentukan kebijaksanaan penanaman modalnya dan untuk mengetahui kemungkinan potensi keuntungan yang akan diperoleh dari perusahaan yang dilaporkan.
d.     Pemberi Dana atau Kreditur, untuk mengetahui informasi tentang situasi perusahaan baik sudah diberi pinjaman maupun yang akan diberi pinjaman.
e.      Pemerintah, sebagai penentuan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan, selain itu sangat diperlukan bagi Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja.
5. Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan, yang sangat berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan, data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara melakukan analisis laporan keuangan. Model yang sering digunakan dalam melakukan analisis tersebut adalah dalam bentuk rasio-rasio keuangan.
Analisis laporan keuangan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat (Sofyan, 1998:190).
Pengertian lain tentang analisis laporan keuangan menurut Bernstein (1983:3), analisis laporan keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analisis laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan. (Sofyan, 998:190).
Analisis laporan keuangan difokuskan pada hal-hal tertentu. Mulai dari kualitas laporan, pendapat akuntan, bonafiditas auditor yang memeriksa, praktik dan prinsip akuntansi yang digunakan, jenis dan kelengkapan laporan akuntan (Sofyan, 1998:194). Analisis laporan keuangan memiliki sifat-sifat berikut:
a)          Fokus laporan adalah laporan laba rugi, neraca, arus kas yang merupakan akumulasi transaksi dari kejadian historis dan penyebab terjadinya dalam suatu perusahaan.
b)         Prediksi, analisis harus mengkaji implikasi kejadian yang sudah berlalu terhadap dampak dan prospek perkembangan keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
c)          Dasar analisis adalah laporan keuangan yang memiliki sifat dan prinsip tersendiri sehingga hasil analisis sangat tergantung pada kualitas laporan keuangan. Penguasaan pada sifat akuntansi, prinsip akuntansi sangat diperlukan dalam menganalisis laporan keuangan.


Menurut Bernstein (1983), Tujuan analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut (Sofyan, 1998:197)
a.      Screening, Analisis dilakukan dengan melihat secara analitis laporan keuangan dengan tujuan untuk memilih kemungkinan investasi atau merger.
b.      Forcasting, Analisis digunakan untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
c.       Diagnosis, analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi baik dalam manajemen, operasi, keuangan, atau masalah lain.
d.     Evaluation, analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen, operasi, efisiensi dan lain-lain.
Dengan melakukan analisis laporan keuangan, informasi mentah yang dibaca dari laporan keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih dalam. Menurut Copeland (1995:237), ukuran kinerja mencerminkan keputusan-keputusan strategis, operasi dan pembiayaan. Strategi meliputi keputusan penting mengenai pemilihan daerah pemasaran, apakah akan menekankan penurunan biaya atau diferensiasi produk dan sebagainya. Ukuran kinerja terdiri dari tiga rasio yaitu:
1)      Rasio Profitabilitas (profitability ratio) mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi.
2)      Rasio Pertumbuhan (growth ratio) mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi ekonomisnya dalam pertumbuhan perekonomian dan industri atau pasar produk tempatnya beroperasi.
3)      Ukuran Penilaian (valuation measures) mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai nilai-nilai pasar yang melebihi pengeluaran kas.
6. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)
Penilaian kinerja merupakan suatu penilaian formal dan sistematis mengenai hasil kegiatan dan potensinya untuk pengembangan dimasa yang akan datang seperti pendapat Richard M. Hogest dan Donal FK (1990:438) yang menyatakan bahwa:
“Untuk menilai kinerja suatu perusahaan, manajemen terlebih dahulu harus menentukan suatu standar atau ukuran yang ingin dicapai, selanjutnya membandingkan antara standar dengan hasil yang telah dicapai. Dari hasil ini, jika terjadi penyimpangan harus dianalisisi penyebabnya, mengambil tindakan-tindakan perbaikan jika diperlukan dan mengambil keputusan-keputusan sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang”.

Rasio pertumbuhan, sebagai salah satu alat analisis keuangan, yang merupakan alat utama untuk mengetahui posisi keuangan dan prestasi kinerja perusahaan. Rasio pertumbuhan mengukur sebaik apa perusahaan mempertahankan posisi ekonomisnya di dalam industrinya Copeland (1995:243). Data yang dilaporkan adalah dalam angka-angka nominal sehingga tingkat pertumbuhan yang dihitung merupakan penjumlahan pertumbuhan nyata (riil) ditambah faktor kenaikan tingkat harga. Rasio pertumbuhan menggambarkan persentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun.
Rasio pertumbuhan yang menggambarkan persentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun meliputi: Copeland (1995:243).
1)      Penjualan (Net Sales)
Penjualan bersih (Net Sales) adalah pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk atau jasa setelah dikurangi retur dan penyisihan penjualan.
2)      Laba Operasi Bersih (Net Operating Income)
Laba operasi bersih (Net Operating Income) diperoleh dari penjualan produk atau jasa setelah dikurangi retur penjualan, penyisihan penjualan dan beban-beban usaha.
3)      Laba bersih (Net Income)
Laba bersih (Net Income) diperoleh dari penjualan produk atau jasa setelah dikurangi retur penjualan, penyisihan penjualan, beban-beban usaha dan beban pajak.

4)      Laba per saham (Earnings Per Share)
Laba per saham (Earnings Per Share) dihitung dengan membagi laba atau rugi dengan rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar pada tahun yang bersangkutan. Rasio adalah digunakan untuk mengukur suatu tingkat keuntungan dari perusahaan. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kwartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
5)      Deviden Per Lembar Saham (Deviden Per Share)
Deviden Per Lembar Saham (Deviden Per Share), diperoleh dengan membagi deviden saham biasa dengan jumlah saham yang beredar.
7. Net  Income (Laba Bersih)
Committee on Terminologi mendefinisikan laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi. Dalam income termasuk seluruh perubahan dalam equity selain dari pemilik dan pembayaran kepada pemilik. (Sofyan, 2004:49).
Menurut APB Statement mengartikan laba rugi sebagai kelebihan penghasilan diatas biaya selama satu periode akuntansi. FASB Statement mendefinisikan accounting income sebagai perubahan dalam equity (net assets) dari suatu entity selama suatu periode tertentu yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian atau peristiwa yang berasal bukan dari pemilik. -Sofyan, 2004:49).
Laba bersih (Net Income) diperoleh dari penjualan produk atau jasa setelah dikurangi retur penjualan, penyisihan penjualan, beban-beban usaha dan beban pajak. Dalam hal ini, Setiap perusahaan berusaha memperoleh laba yang cukup atas setiap unit produk yang dijualnya.
Dengan rasio pertumbuhan dapat dihitung tingkat pertumbuhan laba bersih yang perhitungannya adalah membandingkan antara laba bersih pada akhir periode dengan laba bersih yang dijadikan periode dasar. Apabila nilai perbandingannya makin besar, maka bisa dikatakan bahwa tingkat pertumbuhan laba bersih perusahaan makin baik.
8. Pasar Modal
Secara formal pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta (Husnan, 1998:3). Kalau pasar modal merupakan pasar untuk surat berharga jangka panjang, maka pasar uang (money market) pada sisi yang lain merupakan pasar surat berharga jangka pendek. Baik pasar modal maupun pasar uang merupakan bagian dari pasar keuangan (capital market) Fakhruddin dan Hadianto (2001:1).
                                                        Gambar 2.6      
Financial Market
Sumber: Fakhruddin, M dan Hadianto,M,Sopian. 2001. Hal 1
Undang-Undang Pasar Modal No.8 Tahun 1995 memberikan pengertian Pasar Modal yang lebih spesifik yaitu “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”. Sehingga yang lebih sempit dari pasar modal disini merupakan konsep yang lebih sempit dari pasar keuangan karena dalam pasar modal yang diperjual belikan hanya dana jangka panjang.
Pasar Modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fugsi sekaligus, fungsi ekonomi dan fungsi keuangan (Husnan, 1998:4). Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dan (issue). Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return) sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menuggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih. Dengan adanya pasar modal diharapkan aktivitas perekonomian menjadi meningkat karena pasar modal merupakan laternatif pendanaan bagi perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.
Pasar modal di Indonesia bisa mempunyai daya tarik yang kuat bagi masyarakat karena beberapa hal (Husnan, 1998:4). Pertama, diharapkan pasar modal ini akan bisa menjadi alternatif penghimpunan dana selain sistem perbankan. Kedua, pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi resiko mereka. Ketiga, dari sisi perusahaan yang memerlukan dana, seringkali pasar modal merupakan alternatif pendanaan ekstern dengan biaya yang lebih rendah daripada sistem perbankan.
Perkembangan suatu pasar modal dipengaruhi oleh partisipasi yang aktif, baik dari perusahaan yang akan menjual sahamnya (go public) maupun investor serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam kegiatan pasar modal (Anoraga, dan Pakarti, 2003:97). Untuk keberhasilan pembentukan pasar modal dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (Husnan,  1998:8):
1)      Supply sekuritas, faktor ini berarti harus banyak perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritas di pasar modal.
2)      Demand akan sekuritas, faktor ini berarti harus terdapat anggota masyarakat yang memiliki jumlah dana yang cukup besar untuk dipergunkan membeli sekuritas-sekuritas yang ditawarkan.
3)      Kondisi Poltik dan Ekonomi, kondisi politik yang stabil akan ikut membantu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya mempengaruhi supply dan demand akan sekuritas.
4)      Masalah hukum dan peraturan, pembeli sekuritas pada dasarnya mengandalkan diri pada infomasi yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan yang menerbitkan sekuritas. Kebenaran informasi tersebut menjadi sangat penting, disamping kecepatan dan kelengkapan informasi tersebut.
5)      Peran lembaga-lembaga pendukung pasar modal, untuk bekerja dengan professional dan bisa diandalkan sehingga kegiatan emisi dan transaksi di bursa efek bisa berlangsung dengan cepat, efisien dan bisa dipercaya. Lembaga ini antara lain: BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal), Bursa Efek (penyelenggara perdagangan sekuritas), Akuntan Publik (pemeriksa laporan keuangan dan memberikan pendapatnya terhadap laporan keuangan tersebut), Underwrite (Perusahaan penerbit sekuritas), Wali Amanat (mewakili kepentingan pembeli obligasi), Notaris (pembuat berita acara Rapat Umum Pemegang Saham dan menyusun pernyataan keputusan-keputusan rapat), Konsultan Hukum, Lembaga clearing (pengatur arus sekuritas).
Pasar modal mempunyai peranan penting dalam suatu negara, yang pada dasarnya bertujuan menciptakan fasilitas bagi keperluan industri dan keseluruhan entitas dalam memenuhi permintaan dan penawaran modal. Seberapa besar peranan pasar modal pada suatu negara dapat dilihat dari lima aspek yaitu (Siamat, 2005:3).
a)      Sebagai fasilitas melaukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjual belikan.
b)     Pasar Modal memberi kesempatan kepada para investor untuk memperoleh hasil atau return yang diharapkan.
c)      Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
d)     Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian.
e)      Pasar Modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga.
Kelima aspek diatas memperlihatkan aspek mikro yang ditinjau dari sisi kepentingan para pelaku pasar modal. Namun peranan pasar modal dalam perekonomian nasional (tinjauan secara makro ekonomi) adalah (Siamat, 2005:2): fungsi tabungan (saving function), fungsi kekayaan (wealth function), fungsi likuiditas (liquidity function), fungsi pembayaran (payment function), fungsi risiko (risk function), fungsi pinjaman (credit function) dan fungsi kebijakan (policy function).
9. Konsep Uang dalam Islam
Konsep uang dalam Islam berbeda dengan konsep uang dalm ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam konsep uang sangat jelas dan tegas bahwa uang adalah uang, uang bukan capital. Dalam Islam , capital is private goods (flow concept), sedangkan money is public goods. Uang yang ketika mengalir adalah public goods (flow concept), lalu mengendap ke dalam kepemilikan seseorang (stock concept), uang tersebut menjadi milik pribadi private goods. (Karim, 2006:78). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep uang dalam Islam adalah:
a.      Uang tidak identik dengan modal
b.      Uang adalah public goods
c.       Modal private goods
d.     Uang adalah flow concept
e.      Modal adalah stock concept
Dalam Islam, konsep ini sudah lama dikenal yaitu ketika Rosulullah mengatakan bahwa “Manusia mempunyai hak yang bersama dalam tiga hal; air, rumput dan api” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Ibn Majjah). Dengan demikian berserikat dalam hal public goods bukan merupakan hal yang baru dalam ekonomi Islam, bahkan konsep ini sudah terimplementasi baik dalam bentuk musyarakah, muzara’ah, musaqah dan lain-lain seperti tertuang dalam berbagai Hadits Nabi. Karim, 2006:79)
Menurut Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun, definisi uang adalah apa yang digunakan manusia sebagai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran dan media simpanan. (Karim, 2006:80). Merujuk pada Al-qur’an, Al-Ghazali mengecam orang yang menimbun uang, karena menimbun uang berarti menarik uang dari peredaran. Dalm konteks zaman ini, peredaran uang palsu sangat dikecam. Uang palsu adalah uang yang kandungan emas atau peraknya tidak sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Sehingga dalam hal ini menimbulkan pertanyaan “apakah uang harus selalu terbuat dari emas atau perak, bagaimana dengan uang logam atau kertas seperti sekarang?. Inipun dibahas oleh Al-Ghazali, beliau mem[erbolehkan peredaran uang yang sama sekali tidak mengandung emas dan perak asalkan pemerintah menyatakannya sebagai alat bayar resmi (Karim, 2001:53).
Dalam hal ini tercantum dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 34:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä ¨bÎ) #ZŽÏWŸ2 šÆÏiB Í$t6ômF{$# Èb$t7÷d9$#ur tbqè=ä.ù'us9 tAºuqøBr& Ĩ$¨Y9$# È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ šcrÝÁtƒur `tã È@Î6y «!$# 3 šúïÏ%©!$#ur šcrãÉ\õ3tƒ |=yd©%!$# spžÒÏÿø9$#ur Ÿwur $pktXqà)ÏÿZムÎû È@Î6y «!$# Nèd÷ŽÅe³t7sù A>#xyèÎ/ 5OŠÏ9r& ÇÌÍÈ
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS. At-Taubah 34)

Sejalan dengan pendapat Al-Gahzali, Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa kekayaan suatu negara tidak dapat ditentukan oleh banyaknya uang di negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dan neraca pembayaran yang positif (Karim, 2001:55)
10. Meraih Keuntungan Dalam Konsep Islam
Syari’ah Islamiyah adalah undang-undang yang komprehensif dan universal. Komprehensif berarti meliputi semua aspek dan bidang kehidupan yang secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi tiga sub-sistem yaitu : Aqidah, Syari'ah dan Akhlaq. Bisnis dan perdagangan termasuk dalam kegiatan manusia yang terpenting, dan manusia adalah makhluk yang memerlukan teman dan kelompok. Bisnis dan perdagangan diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup dengan sempurna, mampu menyediakan segala keperluan dan tuntutan hidupnya sendiri tanpa melibatkan orang lain. Oleh karena itu manusia saling memerlukan, bekerjasama dan saling tolong menolong. (www.pkes.com)
Islam mendorong ummatnya berusaha mencari rezeki supaya kehidupan mereka menjadi baik dan menyenangkan. Allah SWT menjadikan langit, bumi, laut dan apa saja untuk kepentingan dan manfaat manusia. Sehingga manusia hendaklah mencari rezeki yang halal. Sesuai dengan Firman Allah dalam surah An-Naba ayat 10-11:



$uZù=yèy_ur Ÿ@ø©9$# $U$t7Ï9 ÇÊÉÈ $uZù=yèy_ur u$pk¨]9$# $V©$yètB ÇÊÊÈ
Artinya:
Dan kami jadikan malam sebagai pakaian[1546]. Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan

Walaupun Islam mendorong ummatnya untuk berdagang, dan bahkan merupakan fardhu kifayah, bukan berarti dapat dilakukan sesuka dan sekehendak manusia. Adab dan etika bisnis dalam Islam harus dihormati dan dipatuhi. Ummat Islam dalam kiprahnya mencari kekayaan dan menjalankan usahanya hendaklah menjadikan Islam sebagai dasarnya dan keridhaan Allah sebagai tujuan akhir dan utama. Mencari keuntungan dalam melakukan perdagangan merupakan salah satu tujuan, tetapi jangan sampai mengalahkan tujuan utama. Dalam pandangan Islam bisnis merupakan sarana untuk beribadah kepada Allah dan merupakah fardlu kifayah, oleh karena itu bisnis dan perdagangan tidak boleh lepas dari peran Syari'ah Islamiyah.
Keberhasilan bisnis bukan hanya bagaimana kita dapat memaksimalkan keuntungan dengan modal yang minimal dalam jangka waktu singkat. Tetapi juga bagaimana bisnis ini menjadi ibadah yang diridhoi Allah dan dapat memberikan kemashlahatan kepada masyarakat banyak. Dengan demikian, bekerja atau berusaha untuk mencari rizki guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan salah satu perbuatan yang mulia, dan memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT. Allah SWT sendiri telah menjamin bahwa setiap orang akan mendapatkan rizkinya jika berusaha. Apa yang manusia hasilkan, merupakan buah kerjanya.
Adapun strategi-strategi supaya kita mendapat kesuksesan atau keuntungan dalam bekerja, berbisnis, atau dalam melakukan aktivitas apapun, diantaranya:
a)  Adil
Adil adalah pilar awal kesuksesan dalam hidup ini. Adil itu bukan sama rata, tetapi menempati hak dengan proporsional (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Adil berarti tidak ada yang terzalimi. Ketidakadilan adalah awal kehancuran keberkahan usaha kita dan akan menghancurkan tatanan ekonomi.
b) Jujur.  Sifat jujur, terbuka, dan transparan, akan membuat orang lain tidak akan pernah ada yang tertipu dan menjadi sukar berburuk sangka. Manajemen yang penuh dengan kejujuran maka tidak akan ada kecurigaan satu sama lain, sehingga aktivitas bisnisnya akan lebih bersinergi.
c)  Profesional, yaitu bisnis yang orientasinya membuat orang lain merasakan sigma kepuasan. Ini lebih tinggi daripada adil karena kalau adil itu hanya sampai haknya terpenuhi, tetapi kalau ihsan itu melampaui terpenuhinya hak karena mengupayakan orang lain mendapatkan kepuasan.
d) Bisnis yang kreatif dan inovatif, yaitu bisnis yang benar-benar menjunjung tinggi kualitas, bisa memberikan solusi dan memiliki orientasi untuk masa depan.
e)  Bisnis yang multi-manfaat, yaitu bisnis yang tidak hanya menguntungkan penjual, tetapi juga bisa menguntungkan banyak orang.
Karena itulah dalam Islam keuntungan yang dikejar dalam berekonomi bukan hanya keuntungan material, melainkan ada keuntungan-keuntungan lain yang bersifat lebih maknawi, karena dalam berniaga atau berekonomi  sebenarnya kita berada dalam beribadah kepada Allah. Berikut adalah keuntungan-keuntungan dalam perniagaan yang dijalankan betul-betul dengan niat karena Allah, yaitu:
a)      Dapat berkhidmat dan menyediakan khidmat kepada masyarakat, bukan sekadar untuk mendapatkan uang dari pelanggan. Yakni dengan menyediakan barang keperluan mereka. Kita dapat pahala karena menyediakan khidmat tersebut.
b)     Dapat menyediakan makan minum serta keperluan asas yang halal. Apalagi kalau kita jual dengan harga yang tidak menekan.
c)      Dapat menjalin hubungan persahabatan di antara penjual dan pembeli.
d)     Dapat bekerja sama dan bantu membantu di antara satu sama lain.
e)      Dapat belajar untuk bertolak ansur dan mengalah dengan orang.
f)       Ujian dalam berekonomi dapat melatih diri untuk sabar serta berharap pada Tuhan.
g)     Dapat melatih untuk berlapang dada dan memaafkan orang dalam menghadapi ragam pelanggan.
h)     Dapat menyediakan peluang pekerjaan kepada masyarakat.
i)       Dapat membantu memasarkan barang orang Islam yang lain melalui jaringan perniagaan yang telah diwujudkan.
j)        Dapat menegakkan syiar Islam melalui kemajuan yang dibangun melalui ekonomi.
k)     Dapat membantu fakir miskin serta orang yang memerlukan. Yakni membayar zakat sebagai salah satu dari rukun Islam.
l)       Menambah ilmu dan pengalaman. Ilmu praktis tentang manajemen, keuangan, pendidikan, melayan konsumen serta menghadapi tantangan.
Demikianlah keuntungan-keuntungan yang semestinya didapat oleh siapa saja yang berekonomi dengan niat karena Allah dan untuk menegakkan cara hidup Islam. Dengan begitu mereka mengumpulkan dua keuntungan sekaligus yaitu untuk dunia dan akhirat. Mereka dapat menyeimbangkan material dan spritual. Maka terwujudlah satu tamadun yang sempurna untuk masyarakat manusia. Itulah Islam, satu sistem hidup yang dapat menjadi pengganti sistem kapitalis, yang sedang di ambang maut. Sesungguhnya yang perlu diperhatikan dalam menetapkan margin keuntungan bukan pada angka prosentase keuntungannya, melainkan pada sisi penzaliman.



















C.    Kerangka Berpikir
Net Income Perusahaan Farmasi
 
Kesimpulan
 
Analisis

 
Hasil
 
Metode Penelitian: Regresi Berganda Dengan data Panel
 
Variabel Makro:
1.      Inflasi
2.      Jumlah Uang Beredar
3.      Suku Bunga (SBI)

 
Kondisi Perekonomian di Indonesia Tahun 2003-2007
 
Sumber: Data Diolah Penulis




D.    Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan mengenai sesuatu hal yang harus diuji kebenarannya (Djarwanto dan Subagya, 1996:183). Dalam penelitian ini, peneliti memberikan hipotesis:
1.      “Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga (SBI) terhadap net income perusahaan pada industri farmasi di Indonesia periode 2003-2007”.
2.      “Bahwa variabel suku bunga Sertifikat Bank Indonesia lebih dominan berpengaruh terhadap net income perusahaan pada industri farmasi periode 2003-2007.






















BAB III
METODE PENELITIAN

A.        Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Laboratorium Investasi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
B.         Jenis dan Pendekatan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inflasi, jumlah uang beredar dan tingkat suku bunga (SBI) terhadap net income (laba bersih) perusahaan pada industri farmasi di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2007. Sehingga dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif.
C.        Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Menurut Arikunto (2002:108) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan farmasi di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak sembilan perusahaan, yang masing-masing perusahaan lima periode
Previous
Next Post »
0 Komentar