Implementasi Pemberian Jasa Kredit Cepat Aman (KCA) dalam meningkatkan keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang

Admin
Implementasi Pemberian Jasa Kredit Cepat Aman (KCA) dalam meningkatkan keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam menjalankan kegiatan perekonomian, kebutuhan akan uang tunai terkadang menjadi kebutuhan yang segera pada waktu-waktu tertentu. Namun demikian, kebutuhan-kebutuhan tersebut adakalanya tidak diimbangi dengan ketersediaan uang tunai yang dimiliki. Kalau sudah demikian maka mau tidak mau harus mengurangi berbagai kebutuhan yang dianggap tidak penting, namun untuk kebutuhan yang sangat penting terpaksa harus dipenuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbagai sumber pembiayaan yang ada.
1
 
Kondisi sistem perekonomian modern yang seperti ini dimanfaatkan oleh banyak lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang pembiayaan, yang keberadaannya menawarkan berbagai bentuk fasilitas pembiayaan. Lembaga pembiayaan merupakan sesuatu hal penting guna mendukung kegiatan perekonomian terutama melalui penyerahan sumber-sumber pembiayaan dan penyalurannya secara efektif dan efisien. Sejalan dengan itu, sejak tahun 1988 pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan untuk lebih memperkuat system lembaga keuangan nasional melalui pengembangan dan perluasan berbagai jenis lembaga keuangan.
Diantara lembaga keuangan tersebut yaitu Perum Pegadaian. Perum Pegadaian adalah suatu lembaga keuangan non perbankan yang memberikan jasa kredit kepada masyarakat yang  jasanya berorientasi pada jaminan. Perum Pegadaian merupakan salah satu lembaga formal di Indonesia yang berdasarkan hukum diperbolehkan melakukan pembiayaan dengan bentuk penyaluran kredit atas dasar hukum gadai.
Menurut Kitab Undang – Undang Hukum Perdata pasal 1150 dijelaskan, “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang berpiutang atas suatu barang yang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang – orang berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkannya untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya–biaya mana yang harus didahulukan”(Saliman, dkk. 2005: 38).
Kegiatan yang dilakukan oleh Perum Pegadaian adalah Pertama melakukan aktivitas pembiayaan, aktivitas pembiayaannya melalui penyaluran dana yang berasal dari modal perusahaan atau dana-dana yang berhasil dihimpun oleh perum pegadaian. Kedua menawarkan produk berupa sejumlah jasa non gadai(Arthesa dan Handiman, 2006: 272).
 Tugas pokok Perum Pegadaian ini untuk mengatasi masalah tanpa masalah dengan menjembatani kebutuhan masyarakat terhadap dana dengan pemberian uang pinjaman berdasarkan hukum gadai. Sedangkan secara umum, tugas atau tujuan ideal dari Perum Pegadaian adalah penyediaan dana dengan prosedur yang sederhana kepada nasabah terutama kalangan menengah ke bawah untuk berbagai tujuan, seperti konsumsi, produksi dan lain sebagainya. Tugas tersebut dimaksudkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dana, agar tidak terjerat atau jatuh dalam praktik-praktik tangan para pelepas uang atau tukang ijon atau tukang rentenir yang bunganya relatif tinggi, atau pelepas uang lainnya. Lembaga keuangan non formal tersebut cenderung memanfaatkan kebutuhan dana mendesak masyarakat, keterbatasan informasi masyarakat, dan keterisolasian suatu masyarakat di daerah tertentu untuk memperoleh tingkat keuntungan sangat tinggi secara tidak wajar.
Pelaksanakan penyaluran kredit di Perum Pegadaian telah berhasil dengan baik, terutama penyaluran kredit keusaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kepercayaan merupakan modal utama Perum Pegadaian untuk menaikkan citra perusahaan dilingkungan usaha mikro dan kecil. Langkah nyata Perum Pegadaian adalah dengan meluncurkan beberapa macam produk kredit yang bisa dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut:
Tabel 1.1
Nama-nama Produk  Perum Pegadaian dan Layanan Jasa Non Gadai

No
Produk – Produk Perum Pegadaian
Layanan Jasa Non Gadai
1
KCA (Kredit Cepat Aman)
Gadai Syariah
2
KREASI(Kredit Angsuran Sistem Fidusia)
Jasa Taksiran/Sertifikasi
3
KRASIDA(Kredit Angsuran Sistem Gadai)
Jasa Titipan
4
KRISTA(Kredit Usaha Rumah Tangga)
Gold Counter
     Sumber : Perum Pegadaian Kanwil Malang, Tahun 2006
Dari tabel diatas dapat dijelaskan pengertian dan tujuan dari beberapa produk kredit yang ada pada Perum Pegadaian yaitu: (1) KCA adalah kredit yang diberikan kepada masyarakat dengan sistem hukum gadai (jaminan barang bergerak). Tujuannya membantu pemerintah dalam bidang perekonomian agar masyarakat terhindar dari praktik ijon, gadai gelap, rentenir dan pinjaman tidak wajar lainnya, (2) KREASI adalah kredit yang berasal dari pemerintah (melalui surat utang pemerintah no. 05/sup 05) diberikan kepada pengusaha mikro/kecil dengan sistem fidusia (barang jaminan berada dipemilik dan dapat digunakan pemilik untuk kegiatan usaha). Nasabah hanya menyerahkan BPKB (Surat Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor). Tujuannya menguatkan permodalan usaha kecil/mikro dalam upaya meningkatkan produktivitas dan dayasaing, (3) KRASIDA adalah kredit yang berasal dari pemerintah melalui surat utang pemerintah no. 05 (sup 05) diberikan pengusaha mikro/kecil dengan sistem gadai (barang jaminan diserahkan). Tujuannya menguatkan permodalan usaha Kecil/mikro dalam upaya meningkatkan produktivitas dan dayasaing, (4) KRISTA adalah Pegadaian berusaha membantu perkembangan uasaha produktif, terutama bagi pengusaha Mikro dan sangat produktif, terutama bagi pengusaha mikro dan sangat mikro, melalui pemberian berbagai fasilitas kredit yang cepat, mudah, dan murah. Tujuannya membantu mengembangkan usaha mikro kecil dan sangat mikro serta mensejahterakan masyarakat.
Layanan jasa non gadai yang ada pada Perum Pegadaian dapat dijelaskan pengertian dan tujuannya sebagai berikut: (1) Gadai Syariah adalah penyaluran pinjaman kepada masyarakat yang sesuai syariah islam dan bebas dari unsur riba. Tujuannya menjawab kebutuhan sebagian konsumen muslim yang menghendaki transaksi pinjaman yang bebas dari unsur riba dan sesuai syariah islam, (2) Jasa Taksiran/Sertifikasi adalah unit layanan pegadaian kepada masyarakat yang ingin mengetahui nilai kadar/karatase perhiasan emas berlian miliknya. Tujuannya agar masyarakat mengetahui nilai harta kekayaannya dan untuk mencegah timbulnya penipuan, (3) Jasa Titipan adalah unit layanan pegadaian kepada masyarakat untuk menyimpan surat-surat/dokumen berharga seperti sertifikat rumah, BPKB, ijazah, perhiasan, sepeda motor, elektronik. Tujuannya membantu masyarakat dalam mengamankan/menyimpan surat-surat/dokumen dan barang-barang yang berharga yang dimiliki dari bahaya kehilangan, kebakaran & kebanjiran dengan biaya murah, (4) Gold Counter adalah sebagian simpanan berupa perhiasan dan emas tidak diambil kembali setelah jatuh tempo oleh pemiliknya karena alasan tertentu, maka Perum Pegadaian memiliki hak untuk menjual kembali kepada masyarakat (TIM OPP Kanwil Malang, 2006: 4). 
Produk kredit dan layanan jasa non gadai yang ada pada tabel diatas, hanya ada 2 produk kredit dan 2 layanan jasa non gadai di Perum Pegadaian Cabang Kepanjen yaitu KCA, KREASI, Jasa Titipan, dan Jasa Taksiran. Peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang produk kredit yang ada pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen yaitu produk KCA, karena KCA adalah produk kredit yang paling banyak diminati oleh masyarakat sekitar Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, selain itu KCA merupakan produk pertama dan paling lama di Perum Pegadaian. Hal ini dapat terbukti dengan lima tahun terakhir, terhitung sejak Juli 2003 sampai bulan Agustus 2008 terjadi perkembangan jumlah nasabah. Perkembangan jumlah nasabah Perum Pegadaian Cabang Kepanjen ini bisa dilihat pada tabel 1.2 sebagai berikut:
Tabel 1.2
Perkembangan jumlah nasabah KCA dan KREASI
pada bulan Juli 2003 sampai dengan Agustus 2008
pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen

Tahun
Jumlah Nasabah KCA
Jumlah Nasabah KREASI
2003
5.151
_
2004
7.798
_
2005
7.097
_
2006
7.177
_
2007
7.772
7 (mulai bulan Agustus)
31–8-2008
6.710
23
Sumber : Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, data yang sudah diolah, 2008
Dari tabel 1.2 diatas  dapat dilihat adanya kecenderungan yang meningkat dari perkembangan jumlah nasabah KCA, karena produk KCA melalui proses pemberian kreditnya (membawa barang jaminan) sangantlah mudah dibandingkan dengan lembaga - lembaga keuangan lainnya yang ada di sekitar Kepanjen. Selama bulan Juli 2003 sampai dengan Agustus 2008 jumlah nasabah KCA mengalami peningkatan, karena banyaknya masyarakat yang paham betul dengan produk KCA. Meskipun ditahun 2005 produk KCA mengalami penurunan jumlah nasabah, dimana pada tahun 2004 jumlah nasabah 7.798 turun sebesar 701 menjadi 7.097 pada tahun 2005. Karena pada tahun 2005 ada kebijakan yang baru dari kantor wilayah Perum Pegadaian untuk tidak menerima barang anggunan pakaian lagi.
KREASI jumlah nasabahnya masih sedikit meskipun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, dimana mulai dari bulan Agustus sammpai dengan Desember 2007 jumlah nasabahnya hanya 7 nasabah dan pada tahun 2008 sekarang meningkat menjadi 23 nasabah. KREASI merupakan produk yang baru dilaksanakan oleh Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, sehingga tidak semua masyarakat sekitar Perum Pegadaian Cabang Kepanjen paham akan produk KREASI yang memberikan pinjaman kredit untuk menguatkan permodalan UKMnya. Selain itu yang menjadi kendala bagi nasabah adalah tidak semua calon nasabah Perum Pegadaian Cabang Kepanjen memiliki UKM.
Keberadaan Perum Pegadaian Cabang Kepanjen semakin penting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan kebijaksanaan program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional. Dalam lima tahun terakhir ini, terhitung sejak bulan Juli 2003 terjadi trend perkembangan sejumlah pinjaman Kredit Cepat dan Aman (KCA). Perkembangan jumlah pinjaman KCA ini bisa dilihat pada tabel 1.3 sebagai berikut:


Tabel 1.3
Perkembangan jumlah pinjaman Kredit Cepat dan Aman (KCA) selama Bulan Juli 2003 sampai dengan Agustus 2008
pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen

Uraian
UP. GOL. A
UP. GOL. B
UP. GOL. C
UP. GOL. D
Jumlah
1-7-2003
586.172.400
1.094.568.000
2.275.059.000
6.860.000
3.962.659.400
2004
1.429.662.300
3.082.920.000
7.282.595.000
-
11.795.177.300
2005
1.125.801.000
3.043.465.000
9.149.020.000
58.100.000
13.376.386.000
2006
976.774.500
3.311.135.000
12.844.461.000
135.250.000
17.267.620.500
2007
662.401.500
3.456.418.000
18.778.235.000
553.350.000
23.450.404.500
31-8-08
342.900.500
2.241.757.000
19.214.110.000
863.600.000
22.662.367.500
  Sumber : Perum Pegadaian Cabang Kepanjen, data yang sudah diolah.
Dari tabel diatas  dapat dilihat adanya kecenderungan yang meningkat dari Perkembangan jumlah pinjaman Kredit Cepat dan Aman (KCA) selama bulan Juli 2003 sampai dengan Agustus 2008. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat serta UKM yang paham betul dengan keberadaan Perum Pegadaian Cabang Kepanjen yang mampu memberikan kontribusi yang baik lewat pemberian Kreditnya, dengan prosedur (membawa barang jaminan) yang mudah. Hal lain yang dapat mempengaruhi Perum Pedaian Cabang Kepanjen dalam meningkatkan pemberian jasa Kredit Cepat dan Aman (KCA) kepada masyarakat adalah dengan pemberian pembiayaan melalui kredit yang lebih cepat, dan aman dengan 10 menit cair.
Perum Pegadaian Cabang Kepanjen menyediakan pembiayaan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat disekitar Kepanjen, berupa penyalurkan kredit dengan jaminan barang-barang berharga. Perum Pegadaian Cabang Kepanjen membutuhkan suatu kebijakan operasional agar kredit yang disalurkan tersebut tepat pada sasarannya, yaitu untuk memenuhi kebutuhan calon nasabah baik yang bersifat produktif maupun bersifat konsumtif.
Sejak berdirinya, Perum pegadaian Cabang Kepanjen tetap berjuang untuk menunaikan misi, yakni “ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah kebawah melalui kegiatan utamanya berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang menguntungkan”. Untuk melaksanakan misi tersebut dicanangkan budaya perusahaan “mengatasi masalah tanpa masalah” yang diimplementasikan dalam etos dan budaya kerja “Si Intan” yakni inovatif, nilai moral tinggi, terampil, adi layanan dan nuansa citra dengan usaha utama gadai.
Perum pegadaian Cabang Kepanjen memainkan peranannya yang besar dalam memberikan kemudahan kepada masyarakat sekitarnya yang membutuhkan dana dengan menyediakan jasa kredit untuk kebutuhan pribadinya. Di dalam pemberian kredit Perum Pegadaian Cabang Kepanjen yang memiliki visi untuk membantu masyarakat dalam bidang keuangan dan menjadi perusahaan yang modern, dinamis dan inovatif dengan usaha utama gadai. Namun salah satu faktor yang tidak mungkin terlepas dari Perum Pegadaian Cabang Kepanjen adalah masalah keuangan yang berupa keuntungan yang didapat, dan yang paling penting adalah pelaksanaannya dalam pemberian kreditnya. Melihat berbagai latar belakang diatas, maka penulis perlu untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang pentingnya pelaksanaan pemberian kredit cepat dan aman (KCA) pada perum pegadaian cabang kepanjen. Sehingga peneliti tertarik untuk memilih judul Implementasi Pemberian Jasa Kredit Cepat Aman (KCA) dalam meningkatkan keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan ruang lingkup penelitian diatas maka perumusan masalah yang diajukan adalah:
1.      Bagaimana pelaksanaan pemberian jasa Kredit Cepat dan Aman (KCA) pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang?
2.      Bagaimana peranan pemberian jasa Kredit Cepat dan Aman (KCA) dalam meningkatkan keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang?




C.    Tujuan Penelitian
  1. Untuk menggambarkan bagaimana pelaksanaan pemberian jasa Kredit Cepat dan Aman (KCA) pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang?
  2. Untuk mengetahui bagaimana peranan pemberian jasa Kredit Cepat dan Aman (KCA) dalam meningkatkan keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang?

D.    Batasan Masalah
Bertolak pada rumusan masalah yang telah di gariskan dan mengingat begitu luasnya wilayah kerja pembiayaan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang, maka di rasa perlu adanya batasan masalah agar penelitian lebih terfokus dan terarah. Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
  1. Pelaksanaan pemberian jasa KCA yang dilakukan oleh Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.
  2. Data KCA dan laporan laba bersih sebelum PPH PS 25 pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.




E.     Manfaat Penelitian
1.      Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai alternative pembiayaan Kredit Cepat dan Aman (KCA) pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang.
2.      Mengetahui gambaran tentang kondisi perusahaan dalam kaitannya dengan pemberian Kredit Cepat dan Aman (KCA) pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang.
3.      Mempelajari dan memperoleh informasi serta menggabungkan teori dibangku kuliah tentang pemberian kredit dan dunia lembaga keuangan bukan bank pada Perum Pegadaian.
4.      Menyediakan bahan referensi sebagai acuan, khususnya bagi kalangan akademis untuk digunakan sebagai pertimbangan ataupun perbandingan dalam penelitian yang berkaitan dengan hasil penelitian ini.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Empiris Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan hasil penelitian terdahulu sebagai acuan dan bahan pertimbangan bagi peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini. Yang mana diantaranya adalah peneliti kutip dari :
Tabel 2.1.
Penelitian Terdahulu

No
Nama dan Tahun Penelitian
Judul  Penelitian
Jenis Penelitian
Hasil Analisis
1.
M. Fitri Rahmadana dan Hafniah Lumbanraja (2002)

Analisis pemakaian jasa kredit pada perum pegadaian kantor wilayah Medan
Kualitatif deskriptif
Hasil analisa data menunjukkan bahwa persepsi nasabah mengenai kebijaksanaan kredit yang dikenakan perum pegadaian kantor wilayah Medan sudah memuaskan.
14
 
2.
Irwantono (2006)
Evaluasi Sistem Pengendalian Intern Untuk Pemberian Dan Pelunasan Kredit (Studi Kasus Pada Perum Pegadaian Cabang Bojonegoro)
Kualitatif
deskriptif
Hasil analisa data masih belum adanya pemisahan tugas dan wewenang antara penaksir dan pencatatanadministrasi didalam menganalisa barang. Tidak adanya konfirmasi kepada manager yang dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan.

3.
Ana Zumrotul Mujayanah (2008)
Implementasi Pemberian Jasa Kredit Cepat Dan Aman (KCA) dalam Meningkatkan Keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen Malang
Kualitatif deskripsi
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pelaksanaan pemberian jasa KCA pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen diwujudkan dengan memberi kemudahan kepada nasabah, adapun peranan KCA dalam meningkatkan keuntungan adalah menaikkan jumlah uang pinjaman dan standar taksiran. Dan dengan laba bersih sebelum PPH PS 25 untuk mengetahui keuntungannya.
Sumber : Jurnal ilmiah, data diolah peneliti.
Untuk menghindari anggapan kesamaan pada penelitian sekarang ini, maka akan peneliti paparkan perbedaan antara peneliti terdahulu dengan peneliti yang sekarang, yaitu:
                                                          Tabel 2.2.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang
No
Keterangan
M. Fitri R dan Hafniah L
Irwantono
Ana Zumrotul Mujayanah
1.
Lokasi
Perum pegadaian kantor wilayah Medan.
Perum Pegadaian Cabang Bojonegoro.
Perum Pegadaian Kantor Cabang Kepanjen Malang.
2.
Obyek
Nasabah pada perum pegadaian kantor wilayah Medan.
Manager Cabang, penaksir, dan bagian administrasi.
Manager dan karyawan Perum Pegadaian Kantor Cabang Kepanjen Malang.
3.
Hasil
Memberikan kemudahan pembiayaan untuk masyarakat umum dalam bentuk kredit.
Belum ada pemisahan tugas dan wewenang antara penaksiran dan tugas pencatan atau administrasi.
Adanya kemudahan didalam memberikan kredit kepada nasabahnya, dan laba bersih sebelum PPH PS 25 digunakan untuk melihat keuntungan pada Perum Pegadaian Cabang Kepanjen.
Sumber : Jurnal ilmiah, data diolah peneliti.

B.     Kajian Teoritis
1.      Pengertian Pegadaian
Perum Pegadaian adalah salah satu badan usaha di Indonesia yang secara resmi mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana kepada masyarakat atas dasar hukum gadai seperti yang dimaksud dalam kitab Undang-undang hukum Perdata pasal 1150(Triandaru Sigit,Totok. 2006: 212).
Secara umum pengertian usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu, guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang dijaminkan akan ditebus kembali sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan lembaga gadai(Kasmir. 2004: 246
2.      Pengertian Kredit Gadai
Kredit gadai adalah pemberian pinjaman (kredit) dalam jangka waktu tertentu kepada nasabah atas dasar hukum gadai dan persyaratan tertentu yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Nasabah menyelesaikan pinjamannnya kepada perusahaan (Pegadaian) sebagai pinjaman (Kreditur), dengan cara mengembalikan uang pinjaman dan membayar sewa modalnya berdasarkan ketentuan yang berlaku (TIM OPP. Kanwil Malang. 1998)
3.      Pengertian Kredit
Dalam bahasa sehari-hari kata kredit sering diartikan memperoleh barang dengan membayar dengan cicilan atau angsuran dikemudian hari atau memperoleh pinjamaan uang yang pembayaranya dilakukan dikemudian hari dengan cicilan atau angsuran sesuai dengan perjanjian. Jadi dapat diartikan bahwa kredit dapat berbentuk barang dan uang. Menurut asal mulanya kata kredit berasal dari kata credere yang artinya adalah kepercayaan, maksudnya adalah apabila seseorang memperoleh kredit maka berarti memperoleh kepercayaan. Sedangkan bagi si pemberi kredit artinya memberikan kepercayaan kepada seorang bahwa uang yang dipinjamkan pasti kembali (Suyatno, dkk. 2003 : 12).
Istilah kredit, berasal dari perkataan latin credo yang berati I Believe, I Trust, saya percaya atau saya menaruh kepercayaan. Perkataan credo brasal dari kombinasi perkataan sansekerta cred yang berarti kepercayaan (trust) dan perkataan latin do, yang berat saya menaruh. Sesudah kombinasi tersebut menjadi bahasa latin, kata kerjanya dan kata bendanya masing-masing menjadi credere dan creditum. Meskipun banyak penulis mengemukakan bahwa credit berasal dari credere. Istilah yang merupakan  pasangan kredit merupakan utang (debt). Kredit dan utang merupakan istilah –istilah untuk satu perbuatan ekonomi (perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat ekomi) yang dilihat dari arah yang berlawanan. Oleh karena itu, tidak benar jika dikatakan bahwa kredit berguna bagi perekonomian, sebaliknya utang tidak berguna bagi perekonomian(Veitzal Rivai. 2007:3).
Kredit adalah  penyerahan barang, jasa, atau uang dari satu pihak (kreditor/atau peberi pinjaman) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau pengutang/borrower) dengan janji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang di sepakti kedua belah pihak(Veitzal Rivai. 2007:4).
4.      Perencanaan Kredit
Perencanaan kredit sangat dibutuhkan oleh manajemen perbankan untuk mencapai keberhasilan dalam aktivitas pemberian kredit kepada nasabah. Dengan perencanaan yang tepat, tujuan penyaluran kredit dapat tercapai(Arthesa Ade, Edia handiman. 2006:167). Tujuan pemberian kredit adalah:
1)      Pemberian keuntungan berupa pendapatan bunga sesuai dengan yang diharapkan.
2)      Meminimalisir kredit bermasalah.
3)      Mengupayakan agar pelunasan kredit sesuai dengan kesepakatan atau perjanjian.
Perencanaan juga bertujuan memberikan arah pertumbuhan kredit sehingga portofolio kredit tidak terkosentrasi pada jenis industri, grup, geografis, atau segmen bisnis tertentu. Selain itu, perencanaan juga bertujuan mengantisipasi agar kegiatan penyaluran kredit tidak melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan internasional. Perencanaan kredit meliputi:
1)      Penetapan pasar sasaran, adalah sekelompok nasabah dalam industri, segmen ekonomi, dan daerah geografis tertentu yang memiliki karakteristik tertentu yang dinilai perlu untuk dibiayai oleh pegadaian. Penetapan pasar sasaran dilakukan dengan tujuan mendapatkan nasabah-nasabah yang dinilai akan memberikan keuntungan kepada pegadaian.
2)      Kriteria risiko, dalam perencanan kredit harus ditetapkan kriteria risiko yang mungkin timbul di setiap pasar sasaran yang telah ditentukan. Tujuan penetapan kriteria risiko ini adalah menentukkan pedoman operasi bagi seluruh pegawai dalam melaksanakan pemberian kredit kenasabah.
3)      Kriteria nasabah yang dapat dilayani, dan tujuan penentuan kriteria nasabah adalah membatasi pembiayaan kenasabah yang dinilai tidak akan memberikan keuntungan pada pegadaian tersebut.
4)      Batasan-batasan dalam pemberian kredit. Pembatasan ini dilakukan agar pegadaian tidak melakukan aktivitas penyaluran kredit yang melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh Perum pegadaian pusat. Batasan-batasan tersebut umumnya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku dilingkungan perum pegadaian.
5.      Analisis Kredit
Analisis kredit adalah kajian yang dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatau permasalahan kredit. Melalui hasil analisis kreditnya, dapat diketahui apakah usaha nasabah layak (feasible) dan marketable (hasil usaha dapat dipasarkan), dan profitable (menguntungkan), serta dapat dilunasi tepat waktu.
Analisis kredit dilakukan oleh account officer dari suatu bank dan account officer tersebut dari sisi level jabatannya merupakan level seksi atau bagian, atau bahkan dapat pula berupa committee (tim) yang ditugaskan untuk menganalisis permohonan kredit. Analisis kredit ini dilakukan dengan tujuan agar kredit yang diberikan mencapai sasaran, yaitu aman. Artinya kredit tersebut harus diterima kembali pengembaliannya secara tertib, teratur, dan tepat waktu, sesuai dengan perjanjian antar bank dengan nasabah sebagai penerima dan pemakai kredit. Selain itu, dengan tujuan terarah, artinya kredit yang diberikan tersebut akan digunakan untuk tujuan seperti yang dimaksud dalam permohonan kredit dan sesuai dengan peraturan dan kesepakatan ketika disyaratkan dalam akad kredit.
 Untuk mewujudkan hal diatas, perlu dilakukan persiapan kredit, yaitu dengan mengumpulkan informasi dan data untuk bahan analisis. Kualitas hasil analisis tergantung pada kualitas SDM, data yang diperoleh, dan teknik analisis.
Kualitas data yang digunakan untuk menganalisis harus dijamin akurat, mutakhir dan dapat dipercaya. Untuk itu, account officer perlu melakukan penyidikan (investigasi) atau penelitian kelokasi atau pemeriksaan setempat atau dapat pula menggunakan bantuan konsultan yang ahli pada bidangnya sehingga diperoleh kesimpulan yang tepat dan mendalam.
Teknik analisis yang dilakukan secara cermat dan teliti dengan senantiasa meperhatikan atau berpedoman pada ketentuan yang berlaku yang mencakup analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Penilaian setiap permohonan kredit ada 3 macam konsep tentang prinsip-prinsip/syarat-syarat/azas-azas pemberian kredit kepada nasabah secara sehat sebagai berikut(Veitzal Rivai. 2007:287):
a.      Prinsip-prinsip 6C
1)      Character, adalah keadaan watak/sifat dari nasabah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana iktikad/kemauan nasabah untuk memenuhi kewajibannya (willingness to pay) sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.
2)      Capital, adalah jumlah dana/modal sendiri yang dimiliki oleh calon nasabah. Semakin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon nasabah dalam menjalankan usahanya dan lembaga pemberian kredit akan merasa lebih yakin dalam memberikan kreditnya. Kemampuan modal sendiri akan merupakan benteng yang kuat agar tidak mudah mendapat goncangan dari luar, misalnya jika terjadi kenaikan suku bunga , komposisi modal sendiri ini perlu ditingkatkan. Penilaian atas besarnya modal sendiri merupakan hal yang penting mengingat kredit hanya sebagai tambahan pembiayaan dan bukan untuk membiayai seluruh modal yang diperlukan.
3)      Capacity, adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan. Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui/mengukur sampai sejauh mana calon nasabah mampu untuk mengembalikan atau melunasi utang-utangnya (ability to pay) secara tepet waktu dari usaha yang diperolehnya.
4)      Collateral, adalah jaminan/barang-barang yang diserahkan nasabah sebagai agunan terhadap kredit yang diterimanya. Collatera tersebut harus dinilai oleh lembaga pembiayaan untuk mengetahui sejauh mana risiko kewajiban finansial nasabah kepada lembaga pembiayaan. Penilaian terhadap jaminan ini meliputijenis, lokasi, bukti pemilikan, dan status hukumnya.
5)      Condition of Economic, yaitu situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat yang kemungkinannya mempengaruhi kelancaran perusahaan calon debitur. Untuk mendapat gambaran mengenai hal tersebut, perlu diadakan suatu penelitian mengenai hal-hal antara lain:
a)      Keadaan konjungtor
b)     Peraturan-peraturan pemerintah
c)      Situasi, politik, dan perekonomian dunia
d)     Keadaan lain yang mempengaruhi pemasaran
6)      Constraint, adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, misalnya pendirian suatu usaha popma bensin yang disekitarnya banyak bengkel las atau pembakaran batu bata.
Dari keenam prinsip diatas, yang paling perlu mendapatkan perhatian account officer adalah character, dan apabila prinsip ini tidak terpenuhi, prinsip lainnya tidak berarti. Dengan kata lain, permohonannya harus ditolak(Veitzal Rivai. 2007:293).
b.     Prinsip-prinsip 5P
1)      Party (golongan), yang dimaksud dengan Party disini ialah mencoba menggolongkan calon peminjam ke dalam kelompok tertentu menurut carakcter, capacity dan capitalnya dengan  jalan penilaian atas ke 3 C tersebut.
2)      Purpose (tujuan), yang dimaksud dengan Purpose ini ialah tujuan penggunaan Kredit yang diajukan, apa tujuan yang sebenarnya (real Purpose) dari kredit tersebut, apakah mempunyai aspek-aspek social yang positif dan luas atau tidak, bagaimana backward lingkage (keterkaitan kehulu) dan forward (keterkaitan kehilir). Selanjutnya juga sebagai kreditur, maka pegadaian harus meneliti apakah kreditnya benar-benar dipergunakan sesuai dengan  tujuan semula.
3)      Payment (sumber pembayaran), setelah mengetahui real purpose dari kredit tersebut maka hendaknya diperkirakan dan dihitung kemungkinan-kemungkinan besarnya pendapatan yang akan dicapai.
4)      Profitability (kemampuan untuk mendapatkan keuntungan), yang dimaksud dengan Profitability disini bukanlah keuntungan yang dicapai oleh debitur semata-mata, melainkan pula dinilai dan dihitung keuntungan-keuntungan kredit terhadap debitur tertentu, dibandingkan dengan  kalau kepada debitur lain atau kalau tidak memberikan kredit sama sekali.
5)      Protection (perlindungan), proteksi yang dimaksud dengan untuk berjaga-jaga terhadap hal-hal yang tidak diduga sebelumnya, maka perlu untuk melindungi kredit yang diberikannya antara lain  dengan jalan meminta collateral/jaminan dari debiturnya bahkan mungkin pula baik jaminannya maupun kreditnya diasuransikan.  
Demikianlah uraian diatas menyangkut prinsip-prinsip persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur yang memungkinkan lembaga pembiayaan akan merasa aman dan lega dalam memberikan kreditnya(Rachmat Firdaus, Maya Ariyanti. 2004: 88).        

c.       Prinsip-prinsip 3R
Konsep lain yang menyangkut persyaratan pemberian kredit ialah apa yang disebut dengan 3R, yaitu:
1)      Return (hasil yang dicapai), dimaksudkan penilaian atas  hasil yang akan dicapai oleh perusahaan debitur setelah dibantu dengan kredit oleh pegadaian. Persoalannya adalah apakah hasil tersebut dapat menutup untuk pengembalian pinjamannya serta bersamaan dengan  itu memungkinkan pula usahanya untuk berkembang terus atau tidak.
2)      Repayment (pembayaran kembali), dalam hal ini pegadaian harus berapa lama perusahaan memohon kredit dapat membayar pinjamannya sesuai dengan kemampuan membayar kembali (repayment capacity) dan apakah kredit harus diangsur/dicicil/atau dilunasi sekaligus diakhir periode.
3)      Risk bearing ability (kemampuan untuk menanggung risiko), dalam hal ini pegdaian harus mengetahui dan menilai sampai sejauh manajemen perusahaan pemohon kredit mampu menanggung resiko kegagalan andaikata terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Demikian, uraian tentang 3R yang harus dilaksanakan oleh suatau lemabaga pem,biayaan dalam rangka memepertimbangkan pemberian kreditnya secara sehat (sound credit) (Rachmat Firdaus, Maya Ariyanti. 2004: 90).
6.      Tahap- Tahap Pemberian Kredit
Azas-azas perkreditan baik konsep 6 C, 5 P maupun 3 R dalam penerapannya harus di tuangkan ke dalam uraian-urain kualitatif yang pelaksanaan dan pengerjaannya memerlukan semacam keahlian dan keterampilan tertentu yang biasa di sebut analisis kredit dengan jalan membuat suatu study kelayakan (feasibility studi) tentang proyek atau perusahaan yang mengajukan permohonan kredit. Study kelayakan semacam ini pada dasarnya ada 2 macam yaitu secara makro dan mikro.
Studi kelayakan secara makro  pada umumnya berkisar tentang penelitian layak atau tidaknya suatu usaha yang menyangkut suatu jenis atau sektor tertentu. Misalnya apakah sektor industri tekstil disatu daerah tertentu layak untuk di biayai oleh kredit lembaga keuangan atau tidak. Yang biasa melakukan feasibillity study secara makro ini pada umumnya petugas-petugas riset/peneliti dari departemen/dinas seperti dari lembaga keuangan yang mempunyai petugas-petugas khusus untuk tujuan tersebut.
Sedangkan study kelayakan secara mikro yaitru penilaian dan pembahasan atas permohonan kredit tiap-tiap unit usaha. Dalam praktek sehari-sehari studi kelayakan secara mikro ini lazimnya disebut analisis atau penelitian kredit (credit analisis atau credit apprraisal). Analisis kredit itu sendiri merupakan salah satu tahapan-tahapan lainnya dalam proses pemberian kredit lembaga keuangan, yaitu(Rachmat Firdaus, Maya Ariyanti.2004:91):
a.      Persiapan kredit (credit preparation),
Adalah kegiatan tahap permulaan dengan maksud untuk saling mengetahui informasi dasar antara calon debitur dengan bank, terutama calon debitur yang baru pertama kali akan mengajukan kredit kepada bank yang bersangkutan, biasanya di lakukan melalui wawancara atau cara-cara lain.
b.     Tahap Analisis kredit (credit analysis credit),
Dalam tahap ini diadakan penilaian yang mendalam tentang keadaan usaha atau proyek permohonan kredit. Penilaian di sebut meliputi berbagai aspek, pada umumnya terdiri dari:
1)      Aspek Managemen dan Organisasi (management dan organisation), Pada dasarnya calon debitur hendaknya merupakan seorang yang berjiwa wiraswasta dan mempunyai keahlianyg cukup tentang bidang usahanya.Sturktur organisasi usahanyapun hendaknya cukup jelas dan effisien, terutama kalau usahanya sudah mulai membesar.
2)      Aspek pemasaran (marketing), Barang dan atau jasa yang dihasilkannya atau diperdagangkannya harus mempunyai prospek pemasaranyg baik, baik dilihat dari segi konsumen menurut jumlahnya maupun penebaran daerahnya.
3)      Aspek teknik (tehnikal), Peralatan atau teknology digunakan baik kapasitas maupun jenisnya serta proses produksinya, hendaknya efektif dan effisien dalam arti masih memberikan keuntungan yang cukup bagi perusahaannya.
4)      Aspek keuangan (financial), dari perhitungan keuangan perusahaan tercermin adanya kemampuan dari perusahaan calon debitur untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya,baik untuk mengembalikan pokok pinjaman maupun bunganya dalam waktu yang wajar bahkan perusahaanpun harus mampu mendapat laba yang wajar agar dapat berkembang terus.
5)      Aspek yuridis/hukum (legal), usaha yang akan diberi bantuan kredit harus memenuhi ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku termasuk bentuk hukum debitur, lengkapnya surat-surat izin dan surat-surat bukti jaminan yang di perlukan, serta cara-cara pengikatan jaminan/agunan.
6)      Aspek Sosial Ekonomi (social and economic), usaha yang akan dibayai oleh kredit bank tersebut hendaknya dapat menyerap tenaga kerja yang selama ini menganggur dan sedapat mungkin tidak merusak atau mengganggu keadaan  lingkungan hidup (pencemaran) ditinjau dari analisis mengenai dampak atas lingkungan  hidup (AMDAL).
c.       Tahap Keputusan Kredit
Atas dasar laporan hasil analisis kredit, maka pihak bank melalui pemutus kredit, baik berupa seorang pejabat yang ditunjuk atau pimpinan bank  tersebut maupun satu komite dengan anggota lebih dari satu orang pejabat sesuai dengan yang tertuang dalam Kebijakan Perkreditan Bank (KPB) masing-masing dapat memutuskan apakah permohonan kredit tersebut layak untuk diberi kredit atau tidak. Dalam hal tidak, maka permohonan tersebut harus di tolak, surat penolakan biasanya secara tertulis dengan disertai beberapa alasan secara diplomatis namun cukup jelas.
d.     Tahap pelaksanaan kredit 
Setelah calon peminjam mempelajari dan menyetujui isi keputusan kredit serta bank telah menerima dan meneliti semua persyaratan kredit dari calon peminjam terutama surat-surat asli bukti jaminan, photo kopi izin usaha dn tempat usaha, photo copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan bukti pembayaran pajak tahun terakhir (untuk kredit yang melebihi Rp. 10 juta) dan sebagainya, maka kedua belah pihak menanda-tangani perjanjian kredit serta syarat-syarat umum pemberian kredit, beserta lampiran–lampirannya. Lampiran-lampiran tersebut berupa pengikatan jaminan, baik berupa hak tanggungan atau Fiducia (F.E.O) dan sebagainya.
Pelaksanaan pemberian kredit dilakukan untuk persiapan pelaksanaan sebagai berikut (Veitzal Rivai. 2007: 178) :
1.       Persiapan Pelaksanaan
a.    Pelaksanaan dilakuakn oleh unit pemberian kredit, sedangkan pengerahan dana oleh unit pengerahan dana.
b.   Seluruh strategi perencanaan akan menjadi dasar ketentuan-ketentuan kebijaksaan perkreditan, seperti kebijaksanaan pengarahan sektor ekonomi, jenis kredit, bunga, prioritas nasabah yang akan memperoleh kredit, alokasi kekantor cabang, dan sebagainya.
c.    Persiapan-persiapan lain yang dilakukan adalah:
1)   Penyusunan kembali organisasi perkreditan.
2)   Penyusunan prosedur.
3)   Penyusunan formulir permohonan dan lain-lain.
4)   Penentuan wewenang memutus persetujuan pemberian kredit.
5)   Ketentuan jaminan.
Ketentuan penarikan dan pelunasan

KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar