ANALISIS SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING DAN MARKETING MIX PADA PT.MURNI JAYA

Admin

ANALISIS SEGMENTING, TARGETING, POSITIONING DAN MARKETING MIX PADA PT.MURNI JAYA
I. PENDAHULUAN 


Pada dasarnya, setiap perusahaan mempunyai strategi dalam berbisnis, baik perusahaan berskala kecil, menengah, ataupun besar. Di era globalisasi saat ini, perusahaan harus mampu untuk mengaplikasikan strategi analisis yang efektif guna mengindentifikasi apakah harus mengembangkan, mempertahankan, atau malah menarik diri dari pasar. Hal ini terjadi karena persaingan bisnis yang kian ketat di berbagai jenis industri, tak terkecuali industri makanan dan minuman yang ada di Indonesia. Berdasarkan siaran pers bulan Agustus 2015 (sumber: www.kemenperin.go.id) yang dilakukan di Cikarang dengan ijin penyebarluasan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, industri makanan dan minuman di Indonesia diakui turut menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Salah satu sub sektor yang terus bergeliat adalah industri produksi kecap dan bumbu. Dalam siarannya di tahun 2015, terdapat 94 unit usaha industri kecap dan 56 unit usaha bumbu masak skala menengah-besar. Selama enam tahun terakhir ini, nilai bisnis kecap di Indonesia juga mengalami peningkatan dari Rp. 3,21 triliun pada tahun 2008 hingga bernilai Rp. 7,14 triliun pada tahun 2013. Persaingan bisnis kecap di pasar domestik yang semakin kompetitif merupakan dampak dari banyaknya pemain baru yang sudah concern ikut ambil bagian di industri ini, dan mulai menjadi follower mencoba besarnya business value di industri ini. Namun, faktanya tidak sedikit perusahaan yang masih baru sukses meng-create pasarnya secara brilian, bahkan menggeser pemain lama. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran dari pemain lama untuk mempertahankan bisnisnya maupun mencoba mengembangkan bisnisnya. Jika dilihat dari pertumbuhan industri yang meningkat, untuk dapat bertahan dalam pasar, maka perusahaan harus semakin kompetitif dalam persaingan bisnis. Menurut Frumkin dan Sosa (2014), analisis kompetitif memiliki tiga tujuan utama yang pertama adalah untuk mengukur risiko yang terkait dengan kondisi pasar saat ini dan kemungkinan keberhasilan, yang kedua adalah untuk mengungkap wawasan penting dalam hal kualitas dan kelayakan inovasi organisasi, dan yang terakhir adalah untuk menggunakan kesimpulan dari kedua tujuan sebelumnya untuk mengembangkan strategi organisasi yang memaksimalkan dampak. Dalam artikelnya, Kokemuller (2016) menyatakan bahwa positioning analysis adalah sebuah proses dari analisis bagaimana sebuah brand perusahaan saat ini diterima oleh pasar. Ketika mengidentifikasi peluang pangsa pasar, sebuah perusahaan perlu untuk membandingkan apakah brand tersebut dapat sesuai dengan kebutuhan pasar. Terutama untuk bisnis kecil menginginkan pangsa pasar yang menawarkan sebuah peluang bagus untuk kesuksesan. Dengan ini, perusahaan akan mampu untuk lebih tepat menentukan strategi yang akan dipakai nantinya. 

Nazarpoori et al. dalam Journal of Asian Scientific Reseach (2014) menyatakan bahwa posisi kompetitif adalah konsep yang sangat umum dimana pengukurannya memerlukan analisis dan pengakuan dari komponen organisasi, masing-masing dianggap sebagai konsep yang luas yang menekankan pada sejumlah elemen. Definisi dari komponen model terpilih termasuk pangsa pasar, kepuasan pelanggan, kualitas produk, dan daya saing. Komponen ini yang nantinya menjadi faktor untuk memetakan posisi kompetitif perusahaan di pasar saat ini yang mana competitive positioning akan berpengaruh pada kinerja perusahaan. Posisi kompetitif dalam sebuah industri menarik perhatian sebagai penentu utama dari profitabilitas perusahaan (Korkmaz dan Messner, 2008). Berdasarkan asumsi dasar penelitian yang dilakukan oleh Karol Sledzik (2014), perusahaan yang paling berinovasi mempunyai posisi kompetitif di pasar. Hal itu memungkinkan karena perusahaan yang paling berinovasi harus mengkomersilkan inovasi yang menghasilkan level tinggi dalam penjualan, keuntungan, cash flow, dan lain-lain. Dengan kata lain, banyak sekali komponen yang dapat dijadikan sebagai faktor pemetaan strategi dari suatu perusahaan. 

Sebuah positioning yang efektif membantu untuk memandu strategi pemasaran dengan mengklarifikasi esensi / inti brand, apakah tujuan itu membantu pencapaian konsumen, dan bagaimana itu bekerja dalam cara yang unik. (Kotler & Keller, 2009). Pernyataan ini didukung oleh penelitian dari Sotiriadis dan Varvaressos (2015), dimana semua rencana, perencana, manajer, dan pemasaran harus menanggung isu-isu dan tantangan untuk mencapai sebuah posisi kompetitif yang berkelanjutan dalam industri. Oleh karenanya, perusahaan butuh untuk merumuskan dan menerapkan strategi positioning yang efektif untuk mengembangkan beberapa keuntungan kompetitif supaya berhasil di pasar (Chowdhury, 2013). 

Salah satu bisnis industri kecap yang ada yaitu PT. Murni Jaya. PT. Murni Jaya bergerak dalam produksi kecap lokal, di mana lokasi produksinya terdapat di Kediri, Jawa Timur. Persaingan penjualan dinilai pemilik PT.Murni Jaya sangatlah ketat yang tampak dalam dua tahun terakhir, volume penjualan kecap terus menurun. Saat ini, usaha yang diwariskan secara turun-temurun ini, dari segi proses pengelolaan usaha masih sederhana, di mana hampir secara keseluruhan proses operasionalnya yaitu produksinya menggunakan tenaga manusia. PT. Murni Jaya memproduksi jenis kecap, cap “Menco” kuning dan putih, di mana ukuran kecap yang dijual hanya 1 ukuran besar yaitu 600ml. Sampai saat ini, PT.Murni Jaya mempekerjakan total 50 orang dalam aktivitas baik operasional maupun produksi. Dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana segmentasi,target, dan posisi pasar, serta bauran pemasaran dari PT.Murni Jaya dalam mengembangkan bisnisnya dan memberikan rekomendasi dengan melakukan studi analisis segmenting, targeting, positioning dan marketing mix yang ada di Perusahaan Murni Jaya.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.