PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Admin
PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN


PENDAHULUAN

Pendidikan adalah kunci pokok dalam mengembangkan potensi diri melalui usaha yang terencana agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan anak usia dini sangat penting, mengingat potensi kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang terbentuk pada rentang usia ini. Sedemikian pentingnya masa ini, sehingga Montessori (Ecka W. Pramita, 2010: 16) masa kanak-kanak disebut sebagai periode emas pendidikan. 

Pada periode inilah semua kehidupan pribadi seseorang anak manusia dimulai, dibentuk, dan diarahkan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14 yang menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Salah satu aktivitas rutin yang dilakukan di Taman Kanak-kanak adalah mewarnai. Aktivitas mewarnai lazimnya sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak, bukan hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu kosong anak, tapi juga sebagai aktualisasi diri anak dalam bidang seni. Apalagi gambar yang diwarnai anak adalah hasilnya sendiri, maka akan lebih terlihat imajinasi dan pikiran anak. Menurut Hajar Pamadhi dan Evan Sukardi S. (2010: 7.4) 

“Kegiatan mewarnai akan mengajak kepada anak bagaimana mengarahkan kebiasaan-kebiasaan anak dalam mewarnai dengan spontan menjadi kebiasaan-kebiasaan menuangkan warna yang mempunyai nilai pendidikan”. Ada beberapa alat warna yang biasanya digunakan dalam mewarnai, seperti: pensil warna, spidol warna, cat air, cat minyak, dan crayon (pastel). Diantara beberapa alat tersebut, Philip Berril (2009: 8) “memilih crayon sebagai alat gambar yang lebih menyenangkan, karena selain murah, dan mudah digunakan”. Crayon terdiri atas crayon lunak, crayon keras, dan pensil crayon. Dari ketiga jenis crayon tersebut, yang banyak digunakan oleh anak usia dini adalah crayon keras, yang biasanya berbentuk kotak, dan terutama berbahan dasar kapur. 

PEMBELAJARAN MEWARNAI GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Dalam aktivitas mewarnai, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal mewarnai, ada anak yang dapat mewarnai dengan kombinasi warna yang bervarasi, ada pula yang mewarnai satu objek dengan satu warna saja. Hal tersebut peneliti temukan dalam aktivitas mengajar sehari-hari di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. Dari 14 anak di kelas B3, terdapat hanya 5 anak yang memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang menarik, dan 9 anak yang hanya memiliki kemampuan mewarnai dengan variasi yang kurang menarik. Hal tersebut diduga terjadi karena kurangnya pengajaran mewarnai yang bersifat variasi yang menarik, seperti: menggunakan efek gradasi warna, dan cenderung lebih membebaskan anak mewarnai secara mandiri. 

Melihat permasalahan diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Mewarnai Gambar Untuk Meningkatkan Motorik Halus Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak”. Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang: (a) Perencanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (b) Pelaksanaan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. (c) Peningkatan pembelajaran mewarnai gambar untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak usia 5-6 tahun di TKIT Al-Mumtaz Pontianak. 

METODE PENELITIAN 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang” (Sugiyono, 2008:65). Bentuk penelitian ini adalah bentuk penelitian tindakan kelas. “PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas” (Asmani, 2011: 18). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). 

Penelitian tindakan kelas berusaha mengkaji, merefleksi secara kritis dan kolaboratif suatu rencana pembelajaran terhadap kinerja guru, interaksi antara guru dengan anak, serta interaksi antar anak di dalam kelas. Metode penelitian tindakan kelas ini menekankan pada suatu kajian yang benar-benar dari situasi alamiah di kelas. Ini sejalan dengan pendapat Asmani (2011: 91) yang menyatakan bahwa “Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang sengaja dimunculkan, dan terjadi di dalam sebuah kelas”. 

Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus dan pada tiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Tiap siklus terdiri atas empat tahap kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Proses kegiatan tindakan kelas yang dilakukan adalah bertolak dari permasalahan yang akan dipecahkan, kemudian merencanakan suatu tindakan dan melaksanakannya.

Previous
Next Post »
0 Komentar

.