PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BMT DI TULUNGAGUNG

Admin

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BMT DI TULUNGAGUNG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 


Manusia adalah modal utama yang sangat penting dalam suatu organisasi. Ia bertindak selaku subjek yang diperhatikan oleh pengusaha dan pimpinan perusahaan. Manusia memang berjiwa kompleks dan sangat pelik untuk dipahami karena sangat berbeda dengan mesin dan peralatan kerja lainnya. Masalah yang berhubungan dengan mesin dengan mudah dapat diperbaiki, tetapi masalah yang berhubungan dengan manusia atau pegawai dituntut untuk mengatasinya.

Untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan kepegawaian dan sumberdaya manusia, perusahaan perlu menepatkan tenaga ahli dalam bidang hukum, manajemen dan psikologi.1 Sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang sangat vital untuk mencapai tujuan organisasi. Terdapat dua alasan mengenai hal ini, pertama, sumber daya manusia memenuhi efisiensi dan efektivitas organisasi sumber daya manusia memproduksi barang dan jasa, mengawasi kualitas, memasarkan produk, mengalokasikan sumber daya finansial, serta menentukan seluruh tujuan dan strategi organisasi. Kedua, sumber daya manusia merupakan pengeluaran utama organisasi dalam menjalakan bisnis.

Akan tetapi sumber daya manusia tidak bisa disamakan dengan mesin yang setiap harinya harus bekerja dan apabila sudah rusak mesin itu akan dibuang. Manusia mempunyai emosi yang apabila emosi itu tertuju kepada hal yang positif maka akan memberikan hasil yang baik, begitu juga sebaliknya, apabila emosi manusia tertuju kepada hal yang negatif maka hasil yang diperoleh juga buruk. Hal inilah yang disebut dengan kecerdasan emosional.

Dalam proses pembentukan dan perkembangannya, karakter seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan faktor bawaan (nature). Secara psikologi perilaku berkarakter merupakan perwujudan dari Intelegent Quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual, Emosional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional, Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual yang dimiliki seseorang. Kecerdasan emosional seseorang yang bagus akan memberikan dorongan yang baik untuk menyikapi pekerjaan yang dihadapinya, dan akan memberikan produktifitas yang baik untuk perusahaan.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan belajar berdasarkan pada kecerdasan emosional yang menghasilkan kinerja ditempat bekerja.3 Kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi dari pekerjaan hati manusia. Kecerdasan emosional bukan trik-trik penjualan atau cara menata sebuah ruangan. Emotional Quotient (EQ) merupakan kompetensi yang mendasar dari manusia, yang membuat seseorang berbeda dalam mencapai kesuksesan hidupnya. Berkembang pesatnya pengetahuan mengenai kecerdasan emosional, yang didukung oleh ratusan kajian riset dan laporan manajemen, mengajarkan kepada orang setiap hari bagaimana meningkatkan kapasitas penalaran dan sekaligus memanfaatkan dengan lebih baik emosi yang ada dalam diri, kebijakan intuisi dan kekuatan yang ada dalam kemampuan manusia untuk berhubungan pada tingkat dasar dengan dirimya sendiri dan orangorang disekitarnya.

Daniel Goleman menyimpulkan bahwa “pencapaian kinerja ditentukan hanya 20% dari IQ, sedangkan 80% lainnya ditentukan oleh kecerdasan emosi. Begitu pula disimpulkan oleh Joan Beck bahwa IQ sudah berkembang 50% sebelum usia 5 tahun, 80% berkembangnya sebelum 8 tahun, dan hanya berkembang 20% sampai akhir masa remaja, sedangkan kecerdasan emosi dapat dikembangkan tanpa batas waktu.

Di lembaga keuangan syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang berada pada wilayah kabupaten Tulungagung sebagian besar memiliki karyawan yang sedikit, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: kondisi lembaga yang masih dalam tahap merintis, kemampuan lembaga untuk memberikan upah/gaji kepada karyawan, strategi lembaga untuk mengoptimalkan sumberdaya yang ada dengan semaksimal mungkin agar lebih efisien.

Jika melihat dunia kerja saat ini, maka bisa dilihat bahwa seseorang itu tidak cukup hanya pintar di bidangnya saja. Dunia pekerjaan penuh dengan interaksi sosial di mana orang harus cakap dalam menangani diri sendiri maupun orang lain. Orang yang cerdas secara intelektual di bidangnya akan mampu bekerja dengan baik. Namun jika ingin melejit lebih jauh dia membutuhkan dukungan
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.