Pengaruh Metode Bercerita Dengan Gambar Terhadap Kemampuan Prabaca

Admin

PENGARUH METODE BERCERITA DENGAN GAMBAR TERHADAP KEMAMPUAN PRABACA



PENDAHULUAN 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan sebagai suatu proses, baik berupa pemindahan maupun penyempurnaan akan melibatkan dan mengikut sertakan bermacam-macam komponen dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan dilakukan seumur hidup sejak usia dini sampai akhir hayat, pentingnya pendidikan diberikan pada anak usia dini terdapat di dalam Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Anak Usia Dini pasal 1 ayat 1, dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disebut PAUD, adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai berusia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 

Bagi anak usia dini, selain bermain sebagai bentuk kehidupan dalam kecakapan memperoleh keterampilannya, anak-anak juga sudah dapat menerima berbagai pengetahuan dalam pembelajaran secara akademis untuk persiapan mereka memasuki pendidikan dasar selanjutnya. Pada masa ini, anak-anak mengalami masa peka atau masa sensitif dalam menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang dimilikinya. Masa peka merupakan masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon rangsangan yang diberikan oleh lingkungan. Hal ini dinyatakan pula oleh Piere Duqueta children who does not draw is an anomally, and particulary so in the years between 6 an 0, which is outstandingly the golden age of creative expression. Pada rentang usia lahir sampai enam tahun, anak mulai peka untuk menerima berbagai upaya perkembangan potensi yang dimilikinya. 

Bahasa sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada usia dini merupakan media komunikasi agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya. Bahasa dapat berbentuk lisan, gambar, tulisan, isyarat, dan bilangan. Membaca merupakan bagian dari perkembangan bahasa yang dapat diartikan menterjemahkan simbol atau gambar ke dalam suara yang dikombinasikan dengan katakata, kata-kata disusun agar orang lain dapat memahaminya. Anak yang menyukai gambar, huruf, buku cerita dari sejak awal perkembangannya akan mempunyai keinginan membaca lebih besar karena mereka tahu bahwa membaca memberikan informasi baru dan menyenangkan. 

Dumile Johanes Ndita (NSAD: 2004) melakukan penelitian mengenai metode bercerita di Afrika Selatan karena mempunyai perbedaan ras yang sangat mencolok. Dumile mengajarkan pendekatan metode bercerita kepada muridnya yang bertujuan untuk mengilustrasikan bagaimana metode ini berfungsi bagi muridnya untuk mentransfer pengalaman hidupnya ke dalam gambar. Seorang guru di sekolahnya akan memberikan informasi berupa cerita yang mendasar tentang kebudayaan dalam suatu komunitas yang diberikan melalui metode bercerita, sedangkan setiap murid akan menggambarkan dan menceritakan kembali arti gambar yang sedang dibuatnya. 

Metode ini sangat berhasil dikenalkan di Afrika Selatan di mana murid dan guru dapat menggambarkan berbagai cerita yang dialaminya dan digunakan untuk salah satu komunikasi antar ras yang satu dengan lainnya. Dari penelitian Dumile dapat dilihat hubungan antara bahasa kata atau cerita dengan metode bercerita dengan gambar. Gambar dapat mengembangkan aspek bahasa dan menjadi salah satu media komunikasi. Tuntutan pendidikan yang semakin tinggi cenderung mengacu pada ‘pemaksaan’ dalam penerapan metode pembelajaran terhadap anak didik. 

Pendidikan awal di sekolah dasar mulai menuntut agar anak-anak sudah dapat membaca, sehingga di lembaga PAUD pun banyak yang menjanjikan lulusannya dapat membaca. Membaca pada anak yang biasa disebut prabaca boleh dilakukan melalui metode yang tepat dan sesuai dengan perkembangan usia anak.Pada kenyataannya, masih banyak guru di lembaga PAUD yang mengajarkan anak-anak membaca dengan cara memaksakan atau tidak mengikuti tahap perkembangan bahasa anak. Anak-anak langsung dikenalkan dan ‘terpaksa’ mengingat huruf-huruf yang diajarkan dan merangkai hurufhuruf tersebut menjadi kata ataupun kalimat yang tidak mereka pahami. 

Mengajar anak agar dapat memahami bahwa huruf merupakan simbol dan baru akan bermakna setelah terangkai menjadi beberapa huruf, misalnya “m-a-m-a” akan bermakna menjadi sebutan untuk ibunya setelah dirangkai utuh menjadi “mama”. Proses memberikan pemahaman itu merupakan tantangan bagi guru karena walaupun tampak sederhana, ternyata guru dituntut kembali untuk memahami apa hubungan antara bahasa kata (bahasa lisan) dengan bahasa gambar di tengah maraknya metode-metode cepat membaca yang ternyata tidak sesuai untuk anak usia dini. 

Bahasa sebagai salah satu aspek perkembangan yang harus dikembangkan pada usia dini merupakan media komunikasi agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya. Bahasa dapat berbentuk lisan, gambar, tulisan, isyarat, dan bilangan. Kemampuan berbahasa meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesiaedisi ke-3 (2005: 88) adalah “sistem lambang bunyi yang arbiter yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri”. Badudu (Dhieni et al, 2005: 1.8) menyatakan bahwa bahasa adalah ‘alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.