Analisis Potensi Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Kota Tangerang Selatan

Admin
Analisis Potensi Pengembangan Peternakan Sapi Potong di Kota Tangerang Selatan

PENDAHULUAN 

Kota Tangerang Selatan merupakan daerah otonom baru yang sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Sebagai wilayah perkotaan dengan luas yang relatif kecil namun dengan jumlah penduduk yang besar, sektor tersier seperti sektor perdagangan dan jasa memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian. Sektor primer yang terdiri dari pertanian dalam arti luas dan pertambangan memberikan kontribusi yang paling kecil. Masuknya berbagai industri ke Kota Tangerang Selatan yang merupakan daerah penyangga DKI Jakarta, mengakibatkan peralihan mata pencaharian dari petani menjadi karyawan. Hal ini dibuktikan dengan data menurunnya rumah tangga pertanian di kota ini. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang Selatan, 2014), jumlah rumah tangga usaha pertanian mengalami penurunan sebanyak 16.496 rumah tangga (76,88%) selama 10 tahun, yakni dari 21 457 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 4.961 pada tahun 2013.Luas panen padi sawah berkurang dari 305 ha pada tahun 2012 menjadi 190 ha tahun 2013, artinya terjadi konversi lahan pertanian sebesar 37,7% dalam setahun. Penurunan luas areal pertanian tidak menurunkan antusiasme masyarakat yang memelihara ternak, terbukti dari jumlah usulan bantuan ternak sapi potong yang tinggi ke pemerintah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Masyarakat yang dahulu bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, terpaksa beralih profesi karena lahan pertanian telah banyak dikuasai pengembang properti. Beternak masih dapat dilakukan selama hijauan masih tersedia dan dapat dijangkau masyarakat, selain itu ternak dapat dijadikan sebagai tabungan bagi masyarakat. 

Peningkatan yang signifikan terjadi selama dua tahun terakhir, dari 16 dan 39 ekor pada tahun 2011 dan 2012 menjadi 304 dan 254 ekor pada tahun 2013 dan 2014 (DPKP 2014a). Jumlah kelompok ternak sapi potong juga mengalami peningkatan dari 3 kelompok pada tahun 2011 menjadi 12 kelompok pada tahun 2014 dengan rata-rata jumlah kelompok 10 orang (DPKP 2014b). Pembangunan sektor pertanian di Kota Tangerang Selatan berbeda dengan daerah lainnya yang masih memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Namun secara praktis, pengembangan peternakan dibatasi oleh aturan yang ada seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tangerang Selatan yang membatasi kawasan peternakan agar tidak berlokasi pada kawasan perumahan/permukiman (Maharisi et al. 2014). Praktek-praktek pertanian di wilayah perkotaan tentunya berbeda dengan pertanian secara umum. 

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, jumlah daging sapi yang dihasilkan dari rumah-rumah pemotongan hewan yang ada di wilayah ini sebesar 4.894 ton, sedangkan permintaan pasar mencapai 28.061 ton pada tahun 2014. Lokasi Kota Tangerang Selatan yang dekat dengan ibukota menyebabkan potensi pasar yang semakin besar lagi. Kebijakan pemerintah pusat yang membatasi impor sapi potong dan kebijakan dari pemerintah daerah yang merupakan lumbung penghasil sapi potong membatasi pengeluaran sapi potong dari daerah tersebut menyebabkan tersendatnya kontinuitas suplay sapi potong ke wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya. Hal-hal tersebut diatas yang menjadikan peluang bagi masyarakat Kota Tangerang Selatan untuk mengembangkan ternak sapi potong guna mengurangi ketergantungan dari daerah lain. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan dan potensi pengembangan usaha peternakan
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.