Gaya Kepemimpinan dan Perilaku Komunikasi GPPT dengan Kapasitas Kelembagaan Sekolah Peternakan Rakyat di Kabupaten Muara Enim

Admin
Gaya Kepemimpinan dan Perilaku Komunikasi GPPT dengan Kapasitas Kelembagaan Sekolah Peternakan Rakyat di Kabupaten Muara Enim

Pendahuluan 

Perkembangan peternakan sapi di Indonesia secara umum masih sangat memprihatinkan. Sebagian besar produksi daging sapi di Indonesia hampir seluruhnya diperoleh dari peternakan rakyat (78%). Sisanya dari impor, sekitar lima % berupa daging sapi dan 17% ternak hidup (Soehadji, 2000 dalam Saleh et al. 2014). Pola pemeliharaan ternak di Indonesia akan tetap didominasi oleh usaha peternakan berskala kecil dengan karakteristik sebagai berikut: (1) Rata-rata kepemilikan ternak rendah; (2) Ternak digunakan sebagai tabungan hidup; (3) Ternak dipelihara dalam pemukiman padat penduduk dan dikandangkan di belakang rumah; (4) Terbatas lahan pemeliharaan sehingga pakan harus dicari di kawasan yang seringkali jauh dari rumah; (5) Usaha beternak dilakukan secara turun temurun; (6) Jika tidak ada modal untuk membeli, peternak menggaduh dengan pola bagi hasil (LPPM 2015).

Salah satu upaya untuk meningkatkan usaha ternak di Indonesia adalah dibentuknya Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Program SPR diharapkan dapat menjadi media transfer ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kesadaran peternak dalam menjalankan usaha ternak untuk meningkatkan dan mengembangkan wawasan, pengetahuan, berpikir kreatif dan inovatif serta mendorong tindakan kolektif dengan didampingi oleh pakar dan akademisi yang berkompeten dari berbagai disiplin ilmu. 


Program SPR di dalamnya terdapat Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT). GPPT adalah orang-orang pilihan yang mewakili peternak untuk melaksanakan program SPR sehingga program SPR dapat terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan, perilaku komunikasi dan kapasitas kelembagaan menjadi sangat penting demi keberlanjutan program tersebut. Menurut Wahyuni (2015), gaya kepemimpinan merupakan kunci di dalam organisasi karena seorang pemimpin dituntut untuk mampu membawa dan memaksimalkan organisasi yang dipimpinnya demi mencapai tujuan organisasi. 

Roscahyo (2013), menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang terdiri dari otokrasi, demokratik dan kendali bebas masing-masing berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan yang bertugas pada bagian rawat inap pada Rumah Sakit Siti Khodijah. Ng’ethe (2012), menyatakan bahwa gaya kepemimpinan mempengaruhi retensi staf akademi di Universitas Umum di Kenya. 

Perilaku komunikasi menurut Rogers (2003) merupakan suatu kebiasaan dari individu atau kelompok didalam menerima atau menyampaikan pesan yang diindikasikan dengan adanya partisipasi, hubungan dengan sistem sosial, hubungan dengan agen pembaru, keterdedahan media `massa, keaktifan mencari informasi, dan pengetahuan mengenai hal-hal baru. Menurut Fuady et al. (2012), perilaku komunikasi petani memiliki hubungan yang nyata terhadap praktek usaha tani pertanian organik, komunikasi interpersonal terhadap penyuluh, LSM, dosen, dan peneliti memiliki peran yang besar dalam mengubah pola pertanian menuju pertanian organik, sementara itu keterdedahan terhadap media lebih bersifat menambah wawasan. 

Pambudi (1999), mengungkapkan bahwa partisipasi sosial dengan kontak sesama peternak, kontak dengan penyuluh, kontak dengan media massa dan kontak dengan kelompok memiliki hubungan yang kuat terhadap perilaku komunikasi peternak didalam menerapkan wirausaha ternak. Kelembagaan adalah keseluruhan polapola ideal, organisasi, dan aktivitas yang berpusat di sekeliling kebutuhan dasar. Suatu lembaga dibentuk selalu bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia sehingga lembaga mempunyai fungsi. Selain itu, lembaga mempunyai konsep yang berpadu dengan struktur, artinya tidak hanya melibatkan pola aktifitas yang lahir dari segi sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga pola organisasi untuk melaksanakannya (Roucek & Warren (1984) dalam Anantanyu (2011)). 

Kapasitas kelembagaan SPR diharapkan bisa menjadi acuan bagaimana visi program akan dicapai kedepannya. Hal inilah yang menarik peneliti untuk melakukan penelitiam ini. Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui karakteristik, gaya kepemimpinan, perilaku komunikasi GPPT SPR di Kabupaten Muara Enim. (2) Menganalisis hubungan gaya kepemimpinan GPPT dengan kapasitas kelembagaan SPR di Kabupaten Muara Enim. (3) Menganalisis hubungan perilaku komunikasi GPPT dengan kapasitas kelembagaan SPR di Kabupaten Muara Enim.
KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.