PENGEMBANGAN MEDIA KARTU KUARTET UNTUK MENGEMBANGKAN KOSAKATA PADA ANAK

Admin

PENGEMBANGAN MEDIA KARTU KUARTET UNTUK MENGEMBANGKAN KOSAKATA PADA ANAK (lengkap daftar pustaka, lampiran)


A. Latar Belakang 
Anak merupakan manusia kecil yang memiliki potensi dan karakteristik tertentu yang tidak sama dan akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya. Anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun atau sering disebut dengan anak usia dini (AUD) akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat dalam berbagai aspek (Hartati, 2005: 11). Oleh karena itu, pada masa ini anak membutuhkan stimulasi dari lingkungan, salah satunya yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Pendidikan Anak Usia Dini terutama pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan sebagai wadah untuk membina, menumbuhkan, dan mengembangan seluruh potensi anak secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangan agar anak memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya (Trianto, 2011: 24). Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah upaya pembinaan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan dan membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut.

Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang artinya bahwa tingkat perkembangan anak terjadi secara beraturan atau berurutan yang 2 bersifat maju, meningkat dan meluas. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.58 Tahun 2009 tentang standar pendidikan anak usia dini, disebutkan bahwa salah satu standar PAUD adalah standar tingkat pencapaian perkembangan yang berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun.

Terkait dari hal tersebut, pendidikan anak usia dini di Taman Kanak-Kanak berfungsi sebagai fasilitas dalam perkembangan dan pertumbuhan secara menyeluruh pada seluruh aspek perkembangan. Pendidikan untuk anak usia dini adalah upaya untuk menstimulasi anak dan membuatnya merasa nyaman dengan lingkungannya, serta menumbuhkan kebiasaan baik sejak dini secara konsisten untuk membantu anak tumbuh dan berkembang dalam segala aspek perkembangannya (Muhyidin, 2014: 4). Oleh karena itu pendidikan untuk anak usia dini haruslah dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan dan perkembangan anak yang mengembangkan berbagai aspek perkembangan yang meliputi aspek kognitif, bahasa, sosial emosional, fisik motorik dan nilai agama dan moral, dan seni. Perkembangan pada satu aspek akan mempengaruhi perkembangan pada aspek lainnya. Sebaliknya, terhambatnya perkembangan pada satu aspek akan menghambat aspek lainnya. Salah satu aspek perkembangan tersebut adalah aspek bahasa.

Bahasa merupakan salah satu aspek perkembangan yang paling penting, dikarenakan bahasa merupakan modal dasar bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan orang lain walaupun keseluruhan aspek tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Carol & Wasik (2008: 353) menjabarkan tujuan perkembangan bahasa 3 anak dalam kurikulum berfokus pada keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan berbahasa ini bertalian dengan pembentukan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan melalui kemampuan kebahasaan. Perkembangan kemampuan bahasa meliputi kemampuan percakapan, kemampuan verbal, kemampuan kosakata, dan interaksi kebahasaan.

Bahasa merupakan unsur penting untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. Berbagai macam ide, gagasan, dan pikiran diungkapkan dengan bahasa. Hurlock (1978: 178) mengatakan bahwa bahasa mencakup setiap sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain. Kualitas bahasa seseorang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas kosakata yang dimiliki. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, maka semakin baik pula kemampuan bahasa seseorang.


Kosakata tersebut akan terus-menerus bertambah seiring dengan bertambahnya usia, namun perbedaan individu mempengaruhi jumlah perolehan kosakata itu sendiri. Perbedaan kecerdasan, pengaruh lingkungan, kesempatan belajar, dan motivasi belajar menyebabkan perbedaan ukuran kosakata yang dimiliki anak. Musfiroh (2008: 7) juga menyatakan bahwa perkembangan bahasa terkait dengan perbedaan jumlah kosakata yang diperoleh anak tergantung pada kematangan sel korteks, dukungan lingkungan, dan keterdidikan lingkungan. Berdasarkan uraian di atas ditemukan banyak faktor yang mempengaruhi pemerolahan kosakata pada anak.

Penguasaan kosakata sangat berperan penting dalam mengembangkan aspek kemampuan bahasa. Semakin banyak kosakata yang dimiliki anak akan 4 mempermudah anak dalam membangun kemampuan bahasanya, perkembangan gagasan atau pikiran bahkan akan membangun struktur dan ide baru secara jelas. Anak yang memperlajari kosakata sejak dini akan tertanam berbagai macam kosakata dalam melatih bahasa sejak awal. Penguasaan kosakata pada anak nantinya akan mempermudah komunikasi dan interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.

Kegiatan pembelajaran di Taman Kanak-kanak hendaklah mengutamakan bermain yang menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bermain, maka kegiatan pun disajikan dalam suasana bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Bermain sambil belajar merupakan cara penyampaian suatu materi pembelajaran kepada anak dengan cara yang menyenangkan melalui sebuah aktivitas bermain. Melalui bermain, tanpa disadari anak akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman secara alami. Seperti yang diungkapkan Martuti (2012: 37) menyatakan bahwa bermain merupakan sarana untuk menggali pengalaman belajar yang sangat berguna bagi anak, misalnya menambah perbendaharaan kata dan menjalin hubungan dengan teman. Dengan permainan, anak akan lebih tertarik dan lebih antusias untuk belajar karena belajar menjadi lebih menyenangkan. Melalui permainan, anak akan berinteraksi dengan anak lain dan berpartisipasi aktif saat melakukan kegiatan.

Berdasarkan observasi dan wawancara yang telah dilakukan dibeberapa Taman Kanak-Kanak kecamatan Bambanglipuro, peneliti melihat dalam penyampaian materi dalam pengenalan kosakata pada anak belum secara individual, sehingga perkembangan anak tidak dapat difasilitasi. Penyampaian materi dalam pengenalan kosakata pada anak dilakukan dengan tulisan-tulisan berbentuk lembar kerja anak atau pendidik yang menulis di papan tulis tanpa menggunakan media pembelajaran. Ketidaktertarikan anak dalam pembelajaran ditunjukan melalui perilaku anak yang terlihat tidak fokus dan memperhatikan penjelasan guru. Selain itu, terlihat beberapa anak yang kurang mengikuti pembelajaran dengan mengeluh tidak bisa. Beberapa anak terlihat mengobrol dengan temannya dan ada juga yang bermain sendiri.

Ketika guru mengenalkan beberapa kata dengan menggunakan gambar di papan tulis, beberapa anak mulai meperhatikan apa yang akan digambar oeh guru. Selain itu saat guru sedang menggambar, anak juga terlihat penasaran dengan gambar apa yang akan dibuat oleh guru. Antusias anak pun terlihat saat guru meminta anak untuk menjawab apa yang digambar oleh guru. Meskipun tidak semua anak tetapi terlihat beberapa anak yang berebut menjawab dengan mengacungkan jari. Oleh karena itu, pembelajaran di Taman Kanak-Kanak hendaknya variatif dan mengajak anak untuk aktif. Kegiatan pembelajaran hendaknya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak sehingga anak tidak bosan dan tertarik untuk mengikuti pembelajaran.

Berangkat dari permasalahan ini peneliti ingin mencari solusi dalam menangani permasalahan pembelajaran yang dilakukan agar menarik perhatian anak dan tidak membosankan bagi anak. Perbaikan pembelajaran dengan mengoptimalkan penggunaan media dalam menyampaikan materi pembelajaran menjadi solusi untuk pemecahan masalah tersebut. Hal tersebut juga merujuk pada teori Piaget yang mengatakan bahwa anak belum dapat berfikir abstrak, melainkan masih berfikir pra operasional menuju konkret. Untuk itu dalam pengenalan kosakata yang bersifat abstrak maka peneliti lebih menekankan pada penggunakan media pembelajaran dua dimensi yaitu berbentuk kartu yang berisi gambar. Melalui penggunakan media pembelajaran, anak akan tertarik dengan apa yang akan dipelajari sehingga apa yang akan disampaikan akan mudah ditangkap oleh anak. Semua itu diperkuat dengan pendapat Suyanto (2005: 58) yang berpendapat bahwa untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, anak hendaknya mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tersebut tidak menjadi perhatian anak maka akan timbul kebosanan dan anak tidak lagi suka belajar.

Media pembelajaran menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dalam memusatkan perhatian anak. Media pembelajaran secara umum merupakan suatu alat bantu dalam proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, kemampuan dan bahkan dapat mendorong suksesnya proses pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak tersebut, peneliti berusaha mencari media pembelajaran efektif yang dapat digunakan untuk mengembangkan kosakata pada anak. Media yang akan dicobakan pada anak adalah media kartu kuartet.

Pemilihan kartu kuartet juga dilatar belakangi dengan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Dari hasil observasi dan wawancara yang pertama, di TK sudah ada kartu kuartet namun belum sesuai dengan unsur-unsur kartu kuaretet yaitu garis, adalah teks (tulisan), ilustrasi (gambar, photo), dan warna. Kedua, anak terlihat mempunyai ketertarikan pada gambar yang digambar guru. Hal ini juga merujuk pada pendapat Sulaiman (1985: 27) yang mengatakan bahwa gambar merupakan alat visual yang penting dan mudah didapat serta konkret dengan masalah yang digambarkannya. Gambar juga berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan apabila tidak digambarkan. Selain itu gambar merupakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Anak akan sangat tertarik saat melihat gambar entah itu dari komposisi warna atau bentuknya.

Menurut Sadiman (2005: 29-31) media gambar memiliki kelebihan antara lain bersifat konkrit, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita, dapat memperjelas suatu masalah, dan harganya lebih murah. Ditinjau dari keawetannya, kartu kuartet akan dapat bertahan lama karena terbuat dari kertas jenis ivory yang tebal. Dilihat dari desainnya, media kartu kuartet ini lebih menarik karena memadukan beberapa warna dan gambar yang disukai anak-anak.



KLIK INI UNTUK MEMBACA SELENGKAPNYA
Previous
Next Post »
0 Komentar

.